Anda di halaman 1dari 42

KAJIAN UNDANG-UNDANG PENGELOLAAN DAN PEMODALAN INDUSTRI

MIGAS NASIONAL (HULU DAN HILIR) TENTANG CONTRACT PRODUCTION


SHARING DENGAN MULTINATIONAL CORPORATE (MNC)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selama puluhan tahun perekonomian Indonesia ditopang dari hasil pengerukan
Migas. Pertambangan Migas merupakan komoditas strategis yang menjadi salah satu
andalan pendapatan bagi Indonesia.
Migas merupakan sumber daya alam (energi) strategis yang tidak terbarukan 1
yang memegang peranan penting dalam penyediaan bahan baku industri, pemenuhan
kebutuhan energi dalam negeri, penghasil devisa negara serta dapat menyediakan
lapangan kerja yang besar, maka dalam era globalisasi pembentukan dan pelaksanaan
hukum migas di Indonesia tidak dapat terlepas dari Intervensi kekuatan politik dan
ekonomi.
Suyitno, mengatakan bahwa faktor politik, sosial, ekonomi dan lingkungan
bernegara sangat mempengaruhi perkembangan yang beragam dari pengelolaan sumber
daya alam migas sejak Indonesia merdeka hingga kini. 2
Hal ini dipertegas oleh kenyataan bahwa globalisasi ekonomi menyebabkan
sistem ekonomi nasional cenderung menjadi bagian dari sistem ekonomi global, dimana
1 Energi tak terbarukan adalah energi yang diperoleh dari sumber daya alam
yang waktu pembentukannya sampai jutaan tahun. Dikatakan tak terbarukan
karena, apabila sejumlah sumbernya dieksploitasikan, maka untuk mengganti
sumber sejenis dengan jumlah sama, baru mungkin atau belum pasti akan
terjadi jutaan tahun yang akan datang. Hal ini karena, disamping waktu
terbentuknya yang sangat lama, cara terbentuknya lingkungan tempat
terkumpulkan bahan dasar sumber energi inipun tergantung dari proses dan
keadaan geologi saat itu. https://id.wikipedia.org/wiki/Energi_tak_terbarukan
(visited: tanggal 17 september 2015)
2 Suyitno Patmosukismo, Migas Politik, Hukum dan Industri: Politik Hukum
Pengelolaan Industri Migas Indonesia dikaitkan dengan Kemandririan dan
Ketahanan Energi dalam Pembangunan Perekonomian Nasional, (Jakarta:
Fikahati Aneska, 2011), hal.156.
1

globalisasi ekonomi menuntut adanya transparansi dalam dunia usaha, berupa


keterbukaan dan pemberian kesempatan kepada setiap pelaksana usaha, berdasarkan
kemampuan berkompetisi.3
Globalisasi ekonomi juga mengakibatkan terjadinya globalisasi di bidang hukum
melalui usaha-usaha standarisasi hukum. Perjanjian-perjanjian internasional antara lain
seperti Perjanjian atas Tarif dan Perdagangan (GATT, General Agreement and Tariff and
Trade). Globalisasi hukum juga terjadi melalui kontrak-kontrak bisnis internasional yang
dibawa oleh investor dari negara-negara maju.4
Konsepsi dasar pengusahaan pertambangan migas di Indonesia adalah pasal 33
ayat 3 UUD 1945 menyatakan: Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat. Kewenangan Negara selanjutnya dinyatakan dalam pasal 2 ayat (2) UUPA No 5
tahun 1960, yang meliputi:
a) Mengatur dan menyelenggarakan peruntukkan, penggunaan, persediaan dan
pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut.
b) Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang
dengan bumi, air dan ruang angkasa.
c) Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang
danperbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Sedangkan pada pasal 2 ayat 3 UUPA No 5 tahun 1960, menyatakan bahwa
wewenang yang bersumber pada Hak Menguasai dari Negara pada ayat 2 pasal ini
digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan,
kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang
merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
Pasal 33 UUD 1945, menjadi dasar bagi eksploitasi sumber daya alam yang ada
di Indonesia. Konteks Hak Menguasai Negara menjadi dasar untuk negara memiliki
kekuasaan yang penuh untuk pengelolaan sumber daya Indonesia. Migas sebagai cabang
produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak termasuk
sumber daya alam yang dikuasai negara.
Penguasaan negara atas sumber daya Migas kembali ditegaskan dalam Pasal 4
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001, yaitu minyak dan gas bumi merupakan sumber
3 Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman
Modal, tepatnya pada Pasal 6 ayat (1) yang menyatakan: Pemerintah memberikan
perlakuan yang sama kepada semua penanam modal yang berasal dari negara mana
pun yang melakukan kegiatan penanaman modal diIndonesia sesuai dengan ketentuan
peraturanperundang-undangan.

4 Suyitno, Op.Cit, hal.12.


2

daya alam strategis tak terbarukan yang terkandung di dalam wilayah hukum
pertambangan Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara.
Penyelenggaraan kegiatan usaha Migas berdasarkan ketentuan Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2001, tepatnya pada Pasal 2, didasarkan pada ekonomi kerakyatan,
keterpaduan, manfaat, keadilan, keseimbangan, pemerataan, kemakmuran bersama dan
kesejahteraan rakyat banyak, keamanan, keselamatan dan kepastian hokum serta
berwawasan lingkungan.5
Konsekuensi dari diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 baik
untuk sektor hulu maupun sektor hilir, adalah dibentuknya badan yang khusus mengatur
dan melaksanakan kegiatan usaha minyak dan gas. Badan Pelaksana dan Badan Pengatur
ini diangkat dan bertanggung jawab kepada Presiden.
Dalam melaksanakan tugasnya, Badan Pelaksana dan Badan Pengatur dapat
membuat kontrak kerja sama dengan badan usaha lain, baik lokal, nasional, maupun
internasional. Hal ini tentu saja menghapus semua wewenang yang dimiliki oleh
Pertamina selama ini.
Pada sektor hulu pemerintah membentuk BP Migas (badan pelaksana kegiatan
usaha hulu minyak dan gas), sedangkan pada sektor hilir pemerintah membentuk BPH
Migas (badan pelaksana kegiatan usaha hilir minyak dan gas).6
5 Selanjutnya Pasal 2 dan 3 mengatur bahwa penguasaan oleh negara tersebut
diselenggarakan oleh pemerintah sebagai pemegang kuasa pertambangan
dengan membentuk Badan Pelaksana.
6 Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001, kuasa
pertambangan ada pada perusahaan negara, yaitu Pertamina, kontraktor
berkedudukan sebagai kontraktor Pertamina. Kuasa pertambangan kepada PN
Pertamina sebelum UU Nomor 22 Tahun 2001 ini sangat luas, meliputi semua
kegiatan usaha perminyakan: eksplorasi, eksploitasi, pemurnian/pengilangan,
pengangkutan, dan penjualan. Berdasarkan perundang-undnagan lana Pertamina
sebagai perusahaan negara memiliki peran ganda sebagai regulator dan juga
sebagai pemain. Dalam hal upstream business, Pertamina had an exclusive
authority to mine, di satu sisi sebagai pemain yang memiliki hak kepemilikan
atas wilayah kerja yang dikenal dengan own operation dan juga sebagai
upstream regulator (pemegang kuasa pertambangan) yang dipresentasikan
adanya Direktorat Management Production Sharing yang melakukan kerja sama
(risk and financing, economic return (profit), dan management) dengan
production sharing contractor dalam pengelolaan working area yang berada di
open area dengan bentuk production sharing contract. Kewenangan tersebut kini
dialihkan kepada BP Migas sebagai suatu Badan Hukum Milik Negara. Dengan
dialihkan fungsi had an exclusive authority to mine kepada BP Migas, maka
Pertamina sebagai perusahaan negara saat ini berperan sebagai contractor
production sharing, tetapi Pertamina dapat dikatakan sebagai lex specialis
3

Dasar pemikiran pengelolaan Migas di Indonesia sebenarnya sudah dirancang


dengan ide kontrak production sharring (KPS) atau bagi hasil.7 Pencetus ide kontrak bagi
hasil adalah Bung Karno. Ide tersebut berdasarkan praktek yang berlaku di pengelolaan
pertanian di Jawa. Kebanyakkan petani (Marhaen) adalah bukan pemilik sawah. Petani
mendapatkan penghasilan dari bagi hasil (paron). Pengelolaan adalah di tangan
pemilikannya.
Ibnu Sutowo juga menyatakan bahwa yang dibagi adalah minyaknya (hasilnya)
dan bukan uangnya. Beliau juga menyatakan mengenai Migas terserah pada kita sendiri,
apakah kita mau barter, mau dijual sendiri atau kita minta tolong kepada partner untuk
menjualkannya. Intinya kita harus menjadi tuan di rumah sendiri. Itulah sebabnya dalam
kontrak production sharing (KPS) manajemen ada di tangan pemerintah.8
Sayangnya ide Ibnu Sutowo dan ide Berdikari dari Bung Karno, lebih berhasil
dilaksanakan oleh Petronas Malaysia. Namun demikian kita punya Medco (Perusahaan
internasional yang dapat menyaingi perusahaan Multinasional). Pertamina pun
diharapkan dapat menjadi perusahaan Multinasional yang unggul.
Dalam pengelolaan dan pengusahaan migas, menurut Goldman Sacht Riset
Insititute seperti yang dikutip oleh Widjajono Partowidagdo, Indonesia termasuk negara
yang berkategori verry high risk.
Resiko ini ditentukan berdasarkan tinggi rendahnya korupsi, aturan hukum,
stabilitas politik, kualitas regulasi, dan indeks pembangunan sumber daya manusia.9
Sutedi menjelaskan beberapa macam jenis risiko di bidang pertambangan, yaitu risiko
contractor production sharing karena memiliki own operation yang
pengusahaannya ada yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga dalam bentuk
technical assistance contract dan joint operation body.Di-downstream menurut
perundang-undangan lama, hanya Pertamina sebagai perusahaan negara satusatunya yang berkewajiban menyediakan kebutuhan bahan bakar minyak di
dalam negeri (yang telah menjangkau sampai ke pelosok-pelosok wilayah
nusantara) dan juga produk-produk turunan dari minyak dan gas, seperti
(liquefied petroleum gas) LPG. Peran Pertamina dalam hal downstream business,
menurut prinsip management adalah planning, organizing, actuating, dan
controlling dari penyediaan dan pelayanan BBM di dalam negeri, sedangkan kini
kewenangan sebagai downstream regulator telah dialihkan kepada BPH Migas.
Adrian Sutedi, Hukum Pertambangan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hal.65-66.
7 Widjajono Partowidagdo, Pengantar Produksi Investasi dan Kemampuan Nasional
Hukum Migas. (Jakarta : CIDES, 2008) hal.1.

8 Ibnu Sutowo, Peranan Minyak Dalam Ketahanan Negara. (Jakarta : Pertamina, 1972),
hal.4.

geologi (eksplorasi) yang berhubungan dengan ketidakpastian penemuan cadangan


(produksi), risiko teknologi yang berhubungan dengan ketidakpastian biaya, risiko pasar
yang berhubungan dengan dengan perubahan harga dan risiko kebijakan pemerintah yang
berhubungan dengan perubahan pajak dan harga domestik.
Resiko-resiko tersebut berhubungan dengan besaran yang mempengaruhi
keuntungan usaha, yaitu produksi, harga, biaya, dan pajak. Usaha yang mempunyai risiko
lebih tinggi menuntut pengembalian keuntungan (rate of return) yang lebih tinggi.10
Dalam pengembangan industri minyak dan gas dalam negeri Indonesia
membutuhkan investor sebagai kontraktor untuk melakukan eksplorasi dan produksi atas
cadangan minyak dan gas yang tidak bisa dijalankan oleh Pertamina sendiri.
Adapun beberapa alasan yang mendasari perlunya investor sebagai kontraktor di
Indonesia:
a. Resiko
Pada tahap eksplorasi memiliki resiko sangat tinggi, karena profitabilitas
menemukan cadangan minyak atau gas pada tahap eksplorasi hanya sekitar
10%

hingga

20%

(berdasarkan

statistic).

Indonesia

tidak

ingin

mempertruhkan sumberdayanya pada bisnis yang beresiko tinggi.


b. Pendanaan
Indonesia belum memiliki kemampuan dari segi pendanaan untuk investasi
pada bisnis yang beresiko tinggi ini. Oleh karenanya Indonesia mengundang
investor untuk ambil bagian dalam bisnis ini sebagai kontraktor PSC. Hasil
dari minyak dan gas ini tidak diinvestasikan kembali pada industri minyak
dan gas, melainkan untuk mempercepat pengembangan industri non migas.
c. Teknologi

9 Widjajono Partowidagdo, Manejemen dan Ekonomi Migas. (Bandung : Program Pasca


Sarjana Sudi Pembangunan, 2004), hal.3.

10Adrian Sutedi, Op.Cit, hal. 43-44. Risiko eksplorasi dan tingkat kesulitan
teknologi eskploitasi pertambangan juga berbeda satu sama lain. Untuk migas
yang lokasi cadangannya jauh di bawah permukaan risiko eksplorasinya
tentunya besar, sehingga tidak mengherankan apabila sebagian besar migas kita
masih diproduksi oleh swasta asing. Dalam hal teknologi eksploitasi migas
walaupun tingkat kesulitannya cukup tinggi, terdapat keyakinan bahwa bangsa
Indonesia cukup mampu melakukan eksploitasi migas paling tidak untuk
penambangan di daratan maupun laut dangkal. Hal ini dibuktikan dengan
kenyataan bahwa di samping Pertamina ada beberapa swasta nasional yang
sudah mengoperasikan lapangan minyaknya berbekal pengalaman yang telah
ditekuninya selama bertahun-tahun di bidang tersebut, salah satunya adanya
Medco.
5

Indonesia belum menguasai teknologi dibidang minyak dan gas bumi ini, oleh
karena itu dibutuhkan tenaga ahli asing, terutama yang berpengalaman di
industri minyak dan gas bumi.
Kontrak bagi hasil (production sharing contract) di Indonesia mulai populer sejak
pertama kali diperkenalkan pada 1960 di Venezuela oleh Ibnu Sutowo. Ibnu Sutowo
memperkenalkan production sharing contract dengan pemikiran bahwa Indonesia pada
saat itu merupakan Negara yang memiliki kandungan minyak dan gas bumi yang
melimpah, tetapi Indonesia tidak memiliki kemampuan finansial yang kuat untuk
melakukan investasi dalam kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.
Selain itu Indonesia pada saat itu tidak memiliki teknologi yang memadai untuk
melakukan kegiatan usaha hulu minyak dan gas ini, dan yang terakhir Indonesia tidak
memiliki tenaga kerja yang kompeten untuk melakukan kegiatan usaha hulu ini.11
Pada 1966 Ibnu Sutowo menawarkan substansi production sharing contract
kepada kontraktor asing berupa:
(1) kendali manajemen dipegang oleh Perusahaan Negara; (2) kontrak didasarkan
pada pembagian produksi; (3) kontraktor menanggung risiko pra produksi, dan apabila
minyak ditemukan, penggantian biaya dibatasi sampai maksimum 40% per tahun dari
minyak yang dihasilkan; (4) sisa dari minyak dihasilkan setelah dikurangi biaya
penggantian akan dibagi komposisi 65% untuk perusahaan negara, dan 35% untuk
kontraktor; (5) hak atas semua peralatan yang dibeli kontraktor akan menjadi milik
Perusahaan Negara ketika peralatan tersebut masuk ke Indonesia, dan biayanya akan
ditutup dengan formula 40% tersebut dalam butir 3; (6) Pertamina membayar pajak
pendapatan kontraktor kepada Pemerintah; (7) Kontraktor wajib mempekerjakan tenaga
kerja Indonesia; (8). Kontraktor wajib memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak dalam
negeri secara proporsional, dengan jumlah maksimum 25% bagiannya.
Indonesia melalui perusahaan negaranya, yaitu PT Pertamina yang didirikan pada
1971 melakukan pengusahaan kegiatan usaha hulu secara mandiri, sehingga kekayaan
alam yang berhasil diproduksi dapat sepenuhnya masuk ke kas negara dan dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Dalam perkembangannya apa yang diharapkan oleh Ibnu Sutowo tidak dapat
terealisasi dengan baik. Hal ini disebabkan Pertamina lebih menempatkan diri sebagai
pihak pemerintah dalam menandatangani production sharing contract dengan kontraktor
dari pada menjalankan fungsinya sebagai Perusahaan Negara yang melakukan
11 Rudi M. Simamora, Hukum Minyak dan Gas Bumi, (Jakarta: Djambatan, 2000),
hlm. 9
6

pembangunan dan pengusahaan minyak dan gas bumi yang meliputi kegiatan usaha hulu
dan hilir.
Pertamina dalam melakukan pengusahaan kegiatan usaha hulu secara mandiri
tidak pernah terpenuhi. Hal ini yang menjadi rasio dari Undang-Undang Minyak dan Gas
memberikan kuasa pertambangan kepada Pemerintah.12
Implikasi selanjutnya dari perubahan tersebut adalah Pertamina tidak berhak lagi
menjadi pihak pemerintah dalam production sharing contract dengan kontraktor, karena
pemerintah sebagai Pemegang Kuasa Pertambangan membentuk Badan Pelaksana
sebagai penyelenggara kegiatan usaha hulu yang salah satu kewenangannya adalah
menandatangani kontrak kerja sama.
Kenyataan inilah yang menyebabkan diajukannya Undang-Undang Migas kepada
Mahkamah Konstitusi, dengan putusan yang mengatakan kedudukan BP Migas adalah
inskonstitusional.
Globalisasi hukum juga terjadi melalui kontrak-kontrak bisnis internasional yang
dibawa oleh investor dari negara-negara maju sebagaimana telah disinggung sebelumnya,
telah memengaruhi pembentukan undang-undang Migas. Hukum Migas telah menuai
permasalahan sejak pembahasan di lembaga legislatif, hingga tahap implementasinya.
Ditengarai oleh para ahli, membentuk perundang-undangan yang dipengaruhi oleh
kepentingan global, dengan sentuhan liberalisasi perdagangan pada industri Migas.
Hukum Migas lahir dengan desakan yang sangat kuat dari lembaga keuangan
internasional. Bersamaan dengan krisis keuangan yang dialami negara pada akhir tahun
1997, dan bersamaan dengan agenda pinjaman dana dari International Monetary Fund
(IMF), guna mengatasi kebangkrutan sistem keuangan dan perbankan nasional. 13 Undang-

12 Sebelum itu, dalam Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang
Pertamina dinyatakan bahwa kuasa pertambangan diberikan Negara kepada Pertamina/

13 Syaiful Bakhri, Migas Untuk Rakyat, Pergulatan Pemikiran dalam Peradilan


Mahkamah Konstitusi (Jakarta: Grafindo Khasanah Ilmu, 2013), hal. 13. Pada
tahun 1998, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 14 persen. Krisis
Indonesia menempatkan Indonesia sebagai pasien lembaga-lembaga kreditor
Internassional seperti, IMF, Word Bank, Asian Development Bank (ADB), yang
tergabung dalam Consultative Groups on Indonesia (CGI). Mereka datang dengan
sejumlah agenda liberalisasi sebagai persyaratan, untuk pencairan dana, agar
Indonesia segera menjalankan program-program liberalisasi dan deregulation
sektor keuangan, privatisasi asset negara, dan pengetatan fiscal dengan
mencabut subsidi publik di sektor pangan, pendidikan dan kesehatan. Lihat: M.
Kholid Syeirazi, Di Bawah Bendera Asing Liberalisasi Indistri Migas di Indonesia,
(Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2009), hal.1-2.
7

undang Migas jelas merupakan undang-undang yang menganut paham liberalisme yang
tidak dikehendaki oleh UUD 1945.
Liberalisasi yang menjadi nafas Undang-Undang Migas, telah mereduksi kontrol
negara terhadap cadangan dan produksi Migas nasional. Dengan merombak Pertamina
sebagai perseroan biasa.
Negara telah kehilangan alat untuk menguasai, mengatur, menyelenggarakan dan
mengawasi pendayagunaan sumber daya Migas untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat. Menyerahkan penguasaan sumber daya Migas kepada Badan Pelaksana (BP
Migas), yang bukan badan usaha tidak menjamin kontrol negara terhadap barang publik
(public utilities), yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Memberi wewenang kepada Badan Pengatur Hilir (BPH Migas), untuk mengatur
kegiatan hilir Migas, telah mengorbankan skala usaha vertikal terpadu (verticaly
integrated), yang terbukti dapat menjamin kepentingan nasional, sebagaimana
diamanatkan menurut Pasal 33 UUD 1945.
Setelah BP Migas di bubarkan melalui putusan Mahkamah Konstitusi 14, maka
menjadi persoalan pokok menyangkut tentang kedudukan Pertamina untuk masa-masa
selanjutnya.
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, sangat jelas bahwa
Mahkamah Konstitusi mengamanatkan agar pemerintah segera menata ulang pengelolaan
migas dengan berpijak pada penguasaan oleh negara yang berorientasi penuh pada
upaya manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.
Oleh sebab itu, penguasaan tersebut perlu dilakukan dengan organisasi yang
efisien dan di bawah kendali langsung Pemerintah. Dengan demikian sudah sangat jelas
apa yang kemudian harus dilakukan pemerintah untuk menjalankan secara utuh putusan
dan amanat Mahkamah Konstitusi, baik dalam masa transisi maupun untuk ke depannya.
Pemerintah harus membentuk struktur kelembagaan yang baru yang
mengkonstruksikan bentuk penguasaan negara atas migas pada tingkat pertama. Dengan
demikian, tidak ada halangan bagi Negara menunjuk secara langsung BUMN guna
mengelola dan menjalankan kegiatan hulu migas secara langsung. Negara memiliki
kewenangan untuk itu.
Mahkamah Konstitusi berpendirian bahwa UU Migas memiliki konstruksi
hubungan negara dan SDA Migas dilakukan oleh Pemerintah selaku pemegang Kuasa
Pertambangan yang dilaksanakan BP Migas sebagai Badan Hukum Milik Negara pada
kegiatan hulu (eksplorasi dan dan eksploitasi).

14 Lihat : Putusan Nomor 36/PUU-X/2012, tanggal 13 November 2012.


8

BP Migas sebatas melakukan pengendalian dan pengawasan pihak yang secara


langsung mengelola SDA Migas, yaitu Badan Usaha (BUMN, BUMD, koperasi serta
badan usaha swasta) dan Bentuk Usaha Tetap. Hubungan BP Migas dan Badan Hukum
atau Bentuk Usaha Tetap yang mengelola Migas dilakukan dalam bentuk Kontrak Kerja
Sama (KKS) atau kontrak kerja sama lainnya dengan syarat minimal tertentu.
Menurut Mahkamah Konstitusi dalam pendapatnya, bentuk penguasaan tingkat
pertama dan utama yang harus dilakukan negara adalah Pemerintah melakukan
pengelolaan secara langsung atas SDA Migas. BP Migas yang hanya melakukan fungsi
pengendalian dan pengawasan, dan tidak melakukan pengelolaan langsung, menurut
Mahkamah, model hubungan BP Migas sebagai representasi negara dengan Badan Usaha
atau Bentuk Usaha Tetap dalam pengelolaan Migas mendegradasi makna penguasaan
negara atas SDA Migas. Keberadaan BP Migas inkonstitusional yang menghendaki
penguasaan negara yang membawa manfaat sebesar-besar bagi rakyat.
BP Migas telah menyebabkan terjadinya inefisiensi sehingga migas sebagai
bagian dari sumber daya alam yang seharusnya dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat ternyata tak bisa dinikmati oleh rakyat.
Sering ditanyakan, apakah dengan pembubaran BP Migas dan megalihkannya
kepada kementerian ada jaminan bahwa inefisiensi takkan terjadi lagi? Jawabannya
sederhana, memang tidak ada jaminan, tetapi selama dalam pengelolaan BP Migas
inefisiensi sudah nyata terjadi, sedangkan pengalihan ini memang masih membuka
kemungkinan terjadi atau tidak terjadi inefisiensi. Makanya dengan putusan ini
Mahkamah memberi momentum kepada Pemerintah untuk menata kembali pengelolaan
migas agar menjadi efisien.15
Selanjutnya, menjadi penting untuk dilakukan pengkajian adalah menyangkut
tentang apakah politik hukum kelembagaan pengelolaan Migas yang berlaku saat ini,
khususnya pasca putusan Mahkamah Konstitusi yang membubarkan BP Migas, sudah
berdasarkan semangat dan jiwa Pasal 33 UUD 1945 secara konsisten dan konsekuen,
mengingat keberlakuan pasal inilah yang menjadi dasar dalam mencapai kemakmuran
bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pengalaman selama Era Orde Baru dengan politik hukum nasional, dimana
ekonomi menjadi panglima, hasil Migas telah mampu menopang pembangunan nasional,
15 Kemudian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menerbitkan Peraturan Presiden
Nomor 95 Tahun 2012 dengan membentuk Unit Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas
Bumi (UPKHM Migas). Tindakan cepat pemerintah untuk membentuk UPKHM ini untuk
mencegah kevakuman hukum dan terciptanya kepastian sebagai konsekuensi bubarnya
BP Migas. Menjadi pertanyaan, dengan adanya UPKHM Migas, apakah posisi negara lebih
baik sebelum BP Migas dibubarkan.

baik berupa hasil devisa, memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri, mendukung
industri yang memerlukan Migas baik sebagai energi maupun sebagai bahan baku
industri. Semua itu dilakukan oleh Pertamina yang ditugaskan sebagai satu-satunya
BUMN Migas untuk mengelola seluruh kegiatan Migas nasional dan telah berhasil
berperan sebagai agen pembangunan (agent of development).
Dalam Era Reformasi, politik hukum yang mendasarkan pada liberalisasi yang
dipicu oleg krisis ekonomi dan pengaruh globalisasi ekonomi, pengelolaan industri Migas
didasarkan pada Undang-Undang No.22 Tahun 2001 beserta peraturan pelaksanaannya
menggantikan seluruh peraturan perundang-undnagan yang berlaku sebelumnya, juga
belum memberikan harapan bahwa langkah kebijakan itu dapat mewujudkan
kemakmuran bagi rakyat Indonesia.
Kemudian, dipandang perlu untuk melakukan studi perbandingan pengelolaan
industri Migas pada berbagai negara dalam mengupayakan kesejahteraan rakyat melalui
pendayagunaan sumber daya Migas, untuk kemudian disesuaikan dengan sistem
perekonomian Indonesia sebagaimana dirumuskan dalam UUD 1945.
1.2 Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat disampaikan rumusan masalah dalam
makalah ini, yakni sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam
migas hulu dan hilir?
2. Bagaimana bentuk perjanjian kerja sama Production Sharing Contract (PSC) dalam kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi yang lebih menguntungkan dan tidak bertentangan dengan
konstitusi?
3. Apa pengaruh MNC/TNC (Multinational Corporation/Transnational Corporation) terhadap
pengelolan Migas hulu dan Hilir?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bentuk kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber
daya alam migas hulu dan hilir?
2. Untuk mengetahui bentuk perjanjian kerja sama Production Sharing Contract (PSC)
dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang lebih menguntungkan dan tidak
bertentangan dengan konstitusi?
3. Untuk Mengetahui pengaruh MNC/TNC (Multinational Corporation/Transnational
Corporation) terhadap pengelolan Migas hulu dan Hilir?
1.4 Manfaat penulisan
Manfaat penulisan makalah ini dapat dipisahkan menjadi :
10

1. Manfaat Teoretis, manfaat teoritis artinya hasil penelitian bermanfaat untuk


pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan obyek penelitian.
2. Manfaat Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi
kebijakan untuk mengembangkan hukum Migas nasional.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Undang-undang Pengelolaan Industri Migas Nasional
A. Kuasa Pertambangan
Kuasa Pertambangan adalah salah satu kewenangan untuk memberikan izin
usaha melakukan penambangan. Dengan lain kata, kuasa pertambangan adalah salah
satu bentuk perizinan atau dasar hukum untuk melakukan usaha pertambangan.16
Istilah kuasa pertambangan untuk pertama kalinya digunakan dalam UndangUndang Nomor 37 Prp. Tahun 1960 Tentang Pertambangan 17. Semula kuasa
pertambangan dimaksudkan sebagai pengganti konsesi (consessie) atau hak
pertambangan yang diatur dalam Indische Minjwet 1899 yang berlaku di Hindia
Belanda sejak tahun 1907 dan berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945
dinyatakan masih berlaku hingga tahun 1960.
Bermacam bentuk perizinan atau

dasar

hukum

melakukan

usaha

pertambangan menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang KetentuanKetentuan Pokok Pertambangan dan Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960.
Tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, adalah sebagai berikut:
1. Surat Keputusan Penugasan Pertambangan
2. Surat Keputusan (Izin) Pertambangan Rakyat
3. Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan
4. Surat (Izin) Pertambangan Daerah
5. Kontrak Karya (KK)
6. Kontrak Kerjasama (dengan BUMN) dan perjanjian Karya Penggunaan
Pertambangan Batu Bara (PKP2B)
16 Bentuk kuasa pertambangan diperjelas dalam Penjelasan Umum Angka 2a
Peraturan Pemerintah Nomor.32 Tahun 1969 Tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan. (PUSAT HUKUM DAN HUMAS BPN RI) Hal.19
17 Undang-Undang Nomor 37 Prp. Tahun 1960 Tentang Pertambangan. BAB I
Istilah-istilah, Pasal 1, huruf i. "kuasa pertambangan; wewenang yang diberikan
kepada badan atau perseorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan;".
Hal.2
11

7. Kontrak Production Sharing (Bagi Hasil)


Berdasarkan jenis-jenis dasar hukum dalam melakukan pengusahaan
pertambangan di atas, pada pokoknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu melalui
izin pertambangan dalam bentuk kuasa pertambangan dan melalui perjanjian /
kontrak kerja sama.
Dari ketujuh jenis dasar hukum pengusahaan pertambangan berdasarkan
pembagian tersebut, maka poin 1 sampai dengan poin 4 dikualifikasikan sebagai izin
usaha pertambangan dalam bentuk kuasa pertambangan dan poin 5 sampai poin 7
dikualifikasikan sebagai dasar hukum untuk melakukan usaha pertambangan yang
lahir dari perjanjian / kontrak kerja sama baik antara pemerintah dengan perusahaan
swasta asing dalam rangka PMA maupun antara pemegang kuasa pertambangan
dengan perusahaan swasta nasional/asing (PMA/PMDN). Pemberian kuasa
pertambangan merupakan kekuasaan negara dalam lingkup mengatur (relegeri),
sedangkan pengusahaan pertambangan berdasarkan kontrak kerja sama merupakan
kekuasaan negara dalam lingkup mengurus (bestureri).
B. Prinsip Hukum Pengelolaan Sumber Daya Alam (Migas)
Konstitusi UUD RI 1945 tidak mendefiniskan secara eksplisit tentang arti
sumberdaya alam, namun pada Pasal 33 ayat (3) secara garis besar mengidentifikasi
sumberdaya alam dengan rumusan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Artinya, sumberdaya alam dalam bentuk apapun yang
menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dengan catatan
mutlak, penggunaan dan pemanfaatannya harus demi kesejahteraan seluruh rakyat
Indonesia.
Dengan demikian, batasan sumberdaya alam hanya dapat ditemukan melalui
teori-teori yang dikembangkan oleh para ahli di bidangnya masing-masing dan
batasan-batasan yang dirumuskan melalui undang-undang organik, khususnya
undang-undang pengelolaan sumberdaya alam.
Rees yang dikutip oleh Marilang18 mengemukakan bahwa sesuatu untuk dapat
dikatakan sebagai sumberdaya harus : (1) ada pengetahuan, teknologi atau
keterampilan untuk memanfaatkannya; (2) harus ada permintaan (demand) terhadap
sumberdaya tersebut. Dengan kata lain sumberdaya alam adalah faktor produksi yang
digunakan untuk menyediakan barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi.
18 Marilang, Pengelolaan Sumber Daya Alam Tambang dalam al-Risalah Volume 11
Nomor 1 Mei 2011 dapat juga dilihat dalam http://www.uin-alauddin.ac.id.

12

Dengan demikian, secara umum sumberdaya alam dapat diklasifikasi ke dalam


dua kelompok, yaitu :
1. Kelompok Stok (non renewable). Jenis sumberdaya ini dianggap memiliki
cadangan yang terbatas, sehingga eksploitasinya terhadap sumberdaya
tersebut akan menghabiskan cadangan sumberdaya, sumber stok dikatakan
tidak dapat diperbaharui (non renewable) atau terhabiskan (exhaustible).
2. Kelompok Flow (renewable). Kelompok sumberdaya ini, jumlah dan
kualitas fisik sumberdaya berubah sepanjang waktu. Berapa jumlah yang
dimanfaatkan sekarang, bisa mempengaruhi atau tidak mempengaruhi
ketersediaan sumberdaya di masa mendatang. Sumberdaya ini dikatakan
dapat diperbaharui (renewable) yang regenerasinya ada yang tergantung
pada proses biologi dan ada yang tidak.19
Sumberdaya alam tidak dapat terbarukan atau sering juga disebut sebagai
sumberdaya terhabiskan adalah sumberdaya alam yang tidak memiliki kemampuan
regenerasi secara biologis. Sumberdaya alam ini terbentuk melalui proses geologi
yang memerlukan waktu sangat lama untuk dapat dijadikan sebagai sumberdaya alam
yang siap diolah atau siap pakai. Apabila dieksploitasi sebagian, maka jumlah yang
tinggal tidak akan pulih kembali seperti semula.
Salah satu yang termasuk dalam golongan sumberdaya tidak dapat terbarukan
adalah tambang minyak dan nikel, yang memerlukan waktu ribuan bahkan jutaan
tahun untuk terbentuk karena ketidakmampuan sumberdaya ini untuk melakukan
regenerasi, sehingga sumberdaya ini sering juga disebut sebagai sumberdaya yang
mempunyai stok yang tetap.
Sifat-sifat tersebut menyebabkan masalah eksploitasi sumberdaya alam tidak
terbarukan (non renewable) berbeda dengan ekstrasi sumberdaya terbarukan
(renewable). Pengusaha pertambangan harus memutuskan kombinasi yang tepat dari
berbagai faktor produksi untuk menentukan produksi yang optimal dan juga seberapa
cepat stok harus diekstrasi dengan kendala stok yang terbatas.
Dari sudut yuridis, pengertian sumberdaya alam telah dirumuskan dalam
Rancangan Undang-undang tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam, melalui Pasal 1
bahwa Sumberdaya alam adalah kesatuan tanah, air, dan ruang udara, termasuk
kekayaan alam yang ada di atas dan di dalamnya yang merupakan hasil proses

19 Loc. Cit.
13

alamiah baik hayati maupun nonhayati, terbarukan dan tidak terbarukan, sebagai
fungsi kehidupan yang meliputi fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan.20
Kemudian dalam penjelasan umum Rancangan undang-undang tersebut
dijelaskan bahwa Sumberdaya alam merupakan karunia dan amanah dari Tuhan
Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia sebagai kekayaan yang
tak ternilai harganya.
Oleh karena itu sumberdaya alam wajib dikelola secara bijaksana agar dapat
dimanfaatkan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berkelanjutan bagi sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan
datang. Ketersediaan sumberdaya alam baik hayati maupun nonhayati sangat
terbatas, oleh karena itu pemanfaatannya baik sebagai modal alam (stock resources)
maupun komoditas (product) harus dilakukan secara bijaksana sesuai dengan
karakteristiknya.21
Danusaputro22 mengemukakan bahwa prinsip hukum digunakan dalam
pengertian yang sama dengan asas hukum dan dasar hukum, sekalipun dalam suatu
prinsip terdapat prinsip yang lebih prinsip dari prinsip itu sendiri. Dengan demikian,
prinsip memiliki hirarki tertentu.
Ronal Dworkin23 mengemukakan bahwa dalam hukum, prinsip merupakan
pertimbangan moral tentang apa yang benar dan apa yang buruk yang meliputi
prinsip tentang political morality dan political organization yang membenarkan
pengaturan secara konstitusional, prinsip yang membenarkan metoda melakukan
interpretasi menurut undang-undang, dan prinsip tentang hak asasi manusia yang
substantif untuk membenarkan isi keputusan pengadilan.
Pandangan tersebut dapat membentuk pemahaman kita bahwa prinsip-prinsip
atau asas-asas keadilan atau dasar-dasar yang paling pundamental yang dapat
dijadikan pedoman dalam pengelolaan sumberdaya alam (khususnya tambang) dalam
20 Naskah Rancangan Undang-Undang Tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam.
21 Naskah Rancangan Undang-Undang Tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam.
22 St. Munadjat Danusaputro, Bina Mulia Hukum dan Lingkungan, (Bandung: Binacipta,
1984, h. 46-46. Lihat pula dalam bukunya yang berjudul Hukum Lingkungan : Buku I
Umum, (Bandung: Binacipta, 1985), hal. 122-130.
23 S.H.R. Otje Salman et. al., Teori Hukum : Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka
Kembali, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2004), hal. 93-94.

14

rangka upaya mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat atau kesejahteraan seluruh


anggota masyarakat dalam komunitas tertentu.
Dalam beberapa teori politik yang dikembangkan oleh pakar-pakar politik,
khususnya pakar keadilan sosial politik juga sering menggunakan istilah prinsip yang
dimaknai atau searti dengan asas sebagai perwujudan nilai-nilai tertentu yang
dijadikan pedoman, dasar, dan pondasi dalam membangun teorinya, seperti antara
lain John Rawls menggunakan istilah prinsip keadilan sebagai asas dalam
membangun teori keadilan sosialnya.24
Dalam konsiderans Rancangan

Undang-undang

tentang

Pengelolaan

Sumberdaya Alam, Bagian menimbang, huruf c ditegaskan bahwa Pengelolaan


sumberdaya

alam

seharusnya

didasarkan

pada

prinsip-prinsip

keadilan,

berkelanjutan, keterpaduan, demokratis. Landasan filosofi sebagaimana dalam


konsiderans RUU tersebut dipertegas kembali melalui Bab II tentang Prinsip dan
Tujuan, Pasal 2 dengan rumusan bahwa Pengelolaan sumberdaya alam
diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip keberlanjutan, keadilan, dan demokratis.
Prinsip-prinsip atau asas-asas hukum dalam rancangan undang-undang tentang
pengelolaan sumberdaya alam tersebut dijelaskan secara detil melalui penjelasan
Pasal 2 yang selengkapnya berbunyi :
a. Prinsip keberlanjutan meliputi aspek-aspek kelestarian, kehati-hatian,
perlindungan optimal keanekaragangam hayati, keseimbangan, dan
keterpaduan,
b.

Prinsip keadilan meliputi aspek-aspek kesejahteraan rakyat, pemerataan,


pengakuan kepemilikan masyarakat adat, pluralisme hukum, dan perusak
membayar.

c.

Prinsip demokrasi meliputi aspek-aspek transparansi, kebangsaan dan


kesatuan, HAM, dan akuntabilitas publik.

Kemudian,

dalam

Undang-undang

Nomor

Tahun

2009

tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara, melalui Pasal 2 ditegaskan tentang asas-asas


(prinsip-prinsip) pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, yaitu:
a.

Manfaat, keadilan, dan keseimbangan;

b.

Keberpihakan kepada kepentingan bangsa;

24 John Rawls, A Theory of Justice (Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk
Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Dalam Negara), Pustaka Pelajar, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006), hal. 72

15

c.

Partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas;

d.

Keberlanjutan dan berwawasan lingkungan.

Demikian juga dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak


dan Gas Bumi, melalui Pasal 2 ditegaskan bahwa Penyelenggaraan kegiatan usaha
Minyak dan Gas Bumi yang diatur dalam undang-undang ini berasaskan: Ekonomi
kerakyatan,

keterpaduan,

manfaat,

keadilan,

keseimbangan,

pemerataan,

kemakmuran, dan kepastian hukum serta berwawasan lingkungan.


Dari sekian banyak asas yang ditetapkan undang-undang dalam pengelolaan
sumberdaya

alam

dan/atau

tambang

tersebut,

namun

penulis

hendak

merampingkannya menjadi 5 (lima) asas atau prinsip hukum yang dapat dijadikan
pedoman pengelolaan sumberdaya alam (tambang) dalam rangka mewujudkan
kesejahteraan rakyat, yakni:
1. Asas tanggung jawab Negara dimaksudkan sebagai perwujudan dari
prinsip Negara sebagai organisasi kekuasaan (politik) yang berkewajiban
melindungi segenap warga negara atau penduduknya, territorial dan
semua kekayaan alam serta harta benda dari negara dan penduduknya.
Asas ini relevan dengan pendapat pakar politik Adolf Markel yang
mengatakan bahwa segala yang berbau kepentingan umum harus
dilindungi dan dijamin secara hukum oleh negara yang dalam Pasal 33
konstitusi UUD NRI 1945 ditegaskan dengan kalimat sumberdaya alam
(bumi, air, dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya) yang
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
2. Asas manfaat mengandung arti bahwa perwujudan kesejahteraan rakyat
melalui

pengelolaan

sumberdaya

alam

(tambang)

yang

merata

berdasarkan prinsip kebersamaan dan keseimbangan untuk mencegah


terjadinya kesenjangan ekonomi, konflik sosial, dan budaya.
3. Asas keadilan merupakan prinsip keadilan yang meliputi aspek-aspek
kesejahteraan rakyat, pemerataan, pengakuan kepemilikan masyarakat
adat, pluralisme hukum, dan perusak membayar. Asas keadilan ini
bertujuan untu mewujudkan penyelenggaraan pengelolaan sumberdaya
alam tambang yang menjamin keadilan antar dan inter-generasi. Di
samping itu, asas ini juga bertujuan untuk mewujudkan perlindungan
hukum bagi masyarakat adat dan masyarakat lainnya dalam pengelolaan
sumberdaya alam tambang.

16

4. Asas keseimbangan dimaksudkan sebagai asas pengelolaan sumberdaya


alam tambang berdasarkan prinsip pelestarian kemampuan lingkungan
yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang
berkesinambungan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Pengertian
pelestarian mengandung makna tercapainya kemampuan lingkungan yang
serasi dan seimbang dan peningkatan kemampuan tersebut.
5. Asas berkelanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajiban
dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap
sesamanya dalam satu generasi. Untuk terlaksananya kewajiban dan
tanggung jawab tersebut, maka pengelolaan sumberdaya alam tambang
harus didasarkan pada prinsip keseimbangan antara ketersediaan bahan
tambang dengan kebutuhan konsumen dan pasar.
C. Pasal 33 UUD 1945 dan Konsep Penguasaan Negara
Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal yang dikenal sebagai pasal ideologi dan
politik ekonomi Indonesia , karena di dalamnya memuat ketentuan tentang hak
penguasaan negara atas:
a. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak; dan
b. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang harus
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Salah satu hal yang masih menjadi perdebatan mengenai Pasal 33 UUD 1945
adalah mengenai pengertian hak penguasaan negaraatau ada yang menyebutnya
dengan hak menguasai negara. Sebenarnya ketentuan yang dirumuskan dalam ayat
(2) dan ayat (3) UUD 1945 tersebut sama persisnya dengan apa yang dirumuskan
dalam Pasal 38 ayat (2) dan ayat (3) UUDS 1950.
Berarti dalam hal ini, selama 60 tahun Indonesia Merdeka, selama itu pula
ruang perdebatan akan penafsiran Pasal 33 belum juga memperoleh tafsiran yang
seragam. Sebelum kita memasuki mengenai uraian tentang konsep penguasaan
negara, maka ada baiknya kita tinjau terlebih dahulu tentang beberapa teori kekuasaan
negara, diantaranya yaitu menurut Van Vollenhoven negara sebagai organisasi
tertinggi dari bangsa yang diberi kekuasaan untuk mengatur segala-galanya dan
negara berdasarkan kedudukannya memiliki kewenangan untuk peraturan hukum.25
25 Notonagoro, Politik Hukum dan Pembangunan Agraria, (Jakarta: Bina Aksara, 1984),
hal. 99.

17

Dalam hal ini kekuasaan negara selalu dihubungkan dengan teori kedaulatan
(sovereignty atau souverenitet). Sedangkan menurut J.J. Rousseau menyebutkan
bahwa kekuasaan negara sebagai suatu badan atau organisasi rakyat bersumber dari
hasil perjanjian masyarakat (contract soscial) yang esensinya merupakan suatu bentuk
kesatuan yang membela dan melindungi kekuasaan bersama, kekuasaan pribadi dan
milik setiap individu26.
Dalam hal ini pada hakikatnya kekuasaan bukan kedaulatan, namun kekuasaan
negara itu juga bukanlah kekuasaan tanpa batas, sebab ada beberapa ketentuan hukum
yang mengikat dirinya seperti hukum alam dan hukum Tuhan serta hukum yang
umum pada semua bangsa yang dinamakan leges imperii. 27
Sejalan dengan kedua teori di atas, maka secara toritik kekuasaan negara atas
sumber daya alam bersumber dari rakyat yang dikenal dengan hak bangsa. Negara
dalam hal ini, dipandang sebagai yang memiliki karakter sebagai suatu lembaga
masyarakat umum, sehingga kepadanya diberikan wewenang atau kekuasaan untuk
mengatur, mengurus dan memelihara (mengawasi) pemanfaatan seluruh potensi
sumber daya alam yang ada dalam wilayahnya secara intensif. Keterkaitan dengan
hak penguasaan negara dengan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat akan
mewujudkan kewajiban negara sebagai berikut:
a) Segala bentuk pemanfaatan (bumi dan air) serta hasil yang didapat
(kekayaan alam), harus secara nyata meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat.
b) Melindungi dan menjamin segala hak-hak rakyat yang terdapat di dalam
atau di atas bumi, air dan berbagai kekayaan alam tertentu yang dapat
dihasilkan secara langsung atau dinikmati langsung oleh rakyat.
c) Mencegah segala tindakan dari pihak manapun yang akan menyebabkan
rakyat tidak mempunyai kesempatan atau akan kehilangan haknya dalam
menikmati kekayaan alam.
Ketiga kewajiban di atas menjelaskan segala jaminan bagi tujuan hak
penguasaan negara atas sumber daya alam yang sekaligus memberikan pemahaman
bahwa

dalam

hak

penguasaan

itu,

negara

hanya

melakukan

pengurusan

(bestuursdaad) dan pengolahan (beheersdaad), tidak untuk melakukan eigensdaad.


26 R. Wiratno, dkk, Ahli-Ahli Pikir Besar tentang Negara dan Hukum (Jakarta: PT
Pembangunan, 1958), hal.176.
27 Undang-Undang Dasar Negara yang memuat ketentuan-ketentuan kepada siapa
kekuasaan itu diserahkan dan batas-batas pelaksanaannya.

18

Berikut ini adalah beberapa rumusan pengertian, makna, dan subtansi dikuasi
oleh negara sebagai dasar untuk mengkaji hak penguasaan negara antara lain yaitu:
Mohammad Hatta merumuskan tentang pengertian dikuasai oleh negara
adalah dikuasai oleh negara tidak berarti negara sendiri menjadi pengusaha, usahawan
atau ordernemer. Lebih tepat dikatakan bahwa kekuasaan negara terdapat pada
membuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi, peraturan yang melarang pula
penghisapan orang yang lemah oleh orang yang bermodal.28
Muhammad Yamin merumuskan pengertian dikuasai oleh negara termasuk
mengatur dan/atau menyelenggarakan terutama untuk memperbaiki dan mempertinggi
produksi dengan mengutamakan koperasi29.
Panitia Keuangan dan Perekonomian bentukan Badan Penyelidik UsahaUsaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diketuai oleh Mohammad
Hatta merumuskan pengertian dikuasai oleh negara sebagai berikut:
a) Pemerintah harus menjadi pengawas dan pengatur dengan berpedoman
keselamatan rakyat;
b) Semakin besarnya perusahaan dan semakin banyaknya jumlah orang yang
menggantungkan dasar hidupnya karena semakin besar mestinya persertaan
pemerintah;
c) Tanah ... haruslah di bawah kekuasaan negara; dan (4) Perusahaan tambang
yang besar ... dijalankan sebagai usaha negara.30
Bagir Manan merumuskan cakupan pengertian dikuasai oleh negara atau hak
penguasaan negara, sebagai berikut:
a) Penguasaan semacam pemilikan oleh negara, artinya negara melalui
Pemerintah adalah satu-satunya pemegang wewenang untuk menentukan
hak wewenang atasnya, termasuk di sini bumi, air, dan kekayaan yang
terkandung di dalamnya,
b) Mengatur dan mengawasi penggunaan dan pemanfaatan,
c) Penyertaan modal dan dalam bentuk perusahaan negara untuk usaha-usaha
tertentu.31
28 Mohammad Hatta, Penjabaran Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta:
Mutiara, 1977), hal. 28

29 Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi, (Jakarta: Djembatan, 1954), hal.42-43


30 Mohammad Hatta, Op.Cit, hal.28.
31 Bagir Manan, Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara, (Bandung:
Mandar Maju, 1995), hal. 12

19

Apabila kita kaitkan dengan konsep negara kesejahteraan dan fungsi negara
menurut W. Friedmann, maka dapat kita temukan kajian kritis sebagai berikut:32
Hak penguasaan negara yang dinyatakan dalam Pasal 33 Undang-Undang
Dasar 1945 memposisikan negara sebagai pengatur dan penjamin kesejahteraan
rakyat. Fungsi negara itu tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, artinya
melepaskan suatu bidang usaha atas sumber daya alam kepada koperasi, swasta harus
disertai dengan bentuk-bentuk pengaturan dan pengawasan yang bersifat khusus,
karena itu kewajiban mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat tetap dapat
dikendalikan oleh negara.
Hak penguasaan negara dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945,
membenarkan negara untuk mengusahakan sumber daya alam yang berkaitan dengan
public utilities dan public sevices. Atas dasar pertimbangan filosofis (semangat dasar
dari perekonomian ialah usaha bersama dan kekeluargaan), strategis (kepentingan
umum), politik (mencegah monopoli dan oligopoli yang merugikan perekonomian
negara), ekonomi (efesiensi dan efektifitas), dan demi kesejahteraan umum dan
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berdasarkan rumusan-rumusan di atas ternyata mengandung beberapa unsur
yang sama. Dari pemahaman berbagai persamaan itu, maka rumusan pengertian hak
penguasaan negara ialah Negara melalui pemerintah memiliki kewenangan untuk
menentukan penggunaan, pemanfaatan dan hak atas sumber daya alam dalam lingkup
mengatur, mengurus, mengelola, dan mengawasi pengelolaan dan pemanfaatan
sumber daya alam.
Oleh karena itu terhadap sumber daya alam yang penting bagi negara dan
menguasai hajat orang banyak, karena berkaitan dengan kemaslahtan umum (public
utilities) dan pelayanan umum (public services), harus dikuasai negara dan dijalankan
oleh pemerintah. Sebab sumber daya alam tersebut, harus dapat dinikmati oleh rakyat
secara berkeadilan, keterjangkauan, dalam suasana kemakmuran dan kesejahteraan
umum yang adil dan merata.

2.2 Kegiatan Pengelolaan Migas Sektor Hulu dan Hilir 33


Migas (minyak dan gas bumi) merupakan kebutuhan energi manusia yang
amat esensial. Dari segi ekonomi, migas ini pun merupakan suatu bahan yang
32 Tri Hayati, dkk, Konsep Penguasaan Negara di Sektor Sumber Daya Alam berdasarkan
Pasal 33 UUD 1945, (Jakarta : Sekretariat Jenderal MKRI dan CLGS FHUI, 2005), hal. 17.

20

strategis. Oleh karena itu perlu pengeloaan yang baik serta diatur dengan baik.
Mengingat pula bahwa kegiatan usahanya yang high risk dan high cost.
Kegiatan usaha migas di Indonesia semenjak berlakunya Undang-Undang
Republik Indonesia No. 22 Tahun 2001 telah terbagi secara jelas menjadi dua sektor,
yaitu kegiatan usaha hulu (upstream) dan hilir (downstream).
Kegiatan usaha hulu migas mencakup kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.
Sedangkan kegiatan usaha hilir migas mencakup kegiatan pengolahan, pengangkutan,
penyimpanan dan niaga. Kedua sektor ini diatur dan dilaksanakan oleh dua badan
hukum milik negara yaitu BP Migas (sektor hulu) dan BPH Migas (sektor hilir).
Yang dimaksud dengan eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan
memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh
perkiraan cadangan minyak dan gas bumi di wilayah kerja yang ditentukan
Sedangkan eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
menghasilkan minyak dan gas bumi dari wilayah kerja yang ditentukan, yang terdiri
dari pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan,
penyimpanan dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian minyak dan gas bumi
di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya.
Kegiatan usaha hulu dilaksanakan dan dikendalikan melalui Kontrak Kerja
Sama (KKS) antara Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap tetap dengan Badan
Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS), didalam KKS. tersebut paling sedikit
memenuhi persyaratan :
a.
kepemilikan sumberdaya alam tetap di tangan pemerintah sampai pada
b.
c.

titik penyerahan;
pengendalian manajemen operasi berada pada badan pelaksana;
modal dan resiko seluruhnya ditanggung Badan Usaha atau Bentuk Usaha
Tetap.
Adapun kegiatan usaha hulu dan hilir dapat dilakukan oleh :

a.
b.
c.
d.

Badan Usaha Milik Negara;


Badan usaha Milik daerah;
Koperasi; usaha kecil;
Badan usaha swasta.
Dengan ketentuan untuk bentuk usaha tetap hanya dapat melakukan kegiatan

usaha hulu saja, badan usaha dan bentuk usaha tetap yang telah melakukan kegiatan
usaha hulu tidak diperbolehkan melakukan kegiatan usaha hilir demikian sebaliknya.
Di dalam kegitan usaha hulu dan hilir tersebut pun terdapat kegiatan usaha
penunjang lainnya yang secara umum dapat dilihat dari bagan di bawah ini.
33 Roes Aryawijaya, Menyingkap tabir; Pengelolaan Migas Indonesia, 17 agsutus
2014, Hal10-36
21

Adapun untuk tahap-tahap pelaksanaan kegiatan usaha migas ini terbagi menjadi dua
sektor, yaitu :
A. Pengelolaan Migas Sektor Hulu
Tahapan-tahapan khususnya mengenai regulasi kegiatan usaha hulu migas di
Indonesia secara jelas telah diatur di Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2004 serta
perubahannya di PP No. 34 Tahun 2005. Atapun mengenai BP Migas sendiri diatur
pada PP No. 42 Tahun 2002.
Secara teknis sendiri, tidaklah mudah untuk memproduksikan migas tersebut
ke atas permukaan bumi. Dikarenakan migas merupakan campuran molekul karbon
dan hidrogen yang terbentuk dari sedimen sisa-sisa hewan dan tetumbuhan yang
terperangkap selama jutaan tahun. Akibat kombinasi efek temperatur dan tekanan di
dalam kerak bumi maka terbentuklah reservoir-reservoir minyak dan gas yang berada
jauh di bawah permukaan tanah.
Adapun setelah suatu perusahaan ditetapkan sebagai pemenang oleh
pemerintah Indonesia, tahapan-tahapan kegiatan usaha perusahaan tersebut yaitu:
a) Eksplorasi (GnG/geology and geophysics)
Kegiatan ekplorasi merupakan awal kegiatan dimana perusahaan melakukan
aktivitas untuk menemukan cadangan minyak atau gas bumi. Hal ini dimulai dari
survey untuk menemukan hidrokarbon sampai dengan pembuktian cadangan
migas yang ditemukan. Dalam tahap eksplorasi, perusahaan melakukan aktivitas
survei geologi, survei geofisika, survei seismik dan melakukan pemboran
eksplorasi.
1. Survei Geologi
Survei ini dilakukan untuk menentukan struktur batuan yang dapat menjebak
hidrokarbon dengan teknik pemetaan permukaan. Survei ini difokuskan pada
batuan yang ada pada permukaan bumi yang merupakan penyusun lapisan
atas kerak bumi. Batuan yang diduga mengandung hidrokarbon akan dikirim
ke laboratorium untuk diteliti lebih lanjut guna mengetahui kandungan
hidrokarbon yang terdapat pada batu tersebut.
2. Survei Geofisika
Merupakan kegiatan yang dilakukan guna mencari kandungan hidrokarbon
pada lapisan bumi dengan menggunakan peralatan gravimeter dan
magnetometer. Alat ini berfungsi untuk membaca besar gravitasi dan medan
magnet bumi.
3. Survei Seismik
Kegiatan ini dilakukan untuk mencari cekungan yang diduga memiliki
kandungan minyak dan gas bumi. Survei ini dilakukan dengan cara membuat
22

gelombang kejut dan kemudian radiasi gelombang tersebut akan direkam


dengan

seismometer.

Data

yang

dihasilkan

digunakan

untuk

menginterpretasikan struktur lapisan tanah, besarnya lokasi dan besarnya


reservoir migas yang ada.
4. Kegiatan Pemboran Sumur
Setelah dilakukan survei diatas, maka tahap selanjutnya adalah melakukan
pengeboran sumur eksplorasi dan well logging untuk mengetahui adanya
cadangan migas di daerah tersebut dan mengukur tingkat keekonomian
cadangan tersebut. Misalnya pemboran wild-cat, hasilnya adalah konfirmasi
adanya hidrokarbon (jenis, besar kandungan), sifat batuan (porositas,
permeabilitas, kekuatan), struktur dan keadaan (tekanan dan temperatur)
lapisan yang ditembus sumur / reservoir tersebut. Selain itu, kegiatan
pengeboran ini dapat menentukan luas daerah yang mengandung
hidrokarbon.
b) Pengembangan Lapangan Migas
Perusahaan akan membuat rencana pengembangan untuk lapangan yang
terbukti memiliki cadangan minyak yang ekonomis. Rencana pengembangan
lapangan migas tersebut diajukan ke BP Migas dengan menghitung jumlah
cadangan, jumlah sumur, produksi perhari dan berapa lama lapangan tersebut
berproduksi.
Perusahaan juga mengajukan biaya pengembangan lapangan yang terdiri dari
biaya kapital dan biaya operasional. Biaya kapital merupakan biaya yang
dikeluarkan untuk investasi yang memiliki manfaat jangka panjang, termasuk
biaya infrastruktur dan biaya eksplorasi. Biaya operasional merupakan biaya yang
dikeluarkan untuk kegiatan operasional dan pemeliharaan.
c) Kegiatan Produksi
Setelah rencana kegiatan pengembangan lapangan di setujui oleh BP Migas,
maka perusahaan akan melanjutkan ke tahap produksi. Tahap pertama adalah
menentukan koordinat sumur yang akan di bor dan kemudian melakukan
pengeboran. Biaya yang termasuk dalam aktivitas pengeboran ini, diantaranya
biaya sewa rig, mud, testing, cementing dan biaya pendukung lainnya. Supaya
efisien, dalam keberlangsungannya produksi memberikan data dan informasi
lebih lengkap sehingga peta cadangan dapat direvisi setiap tahun dengan tingkat
keakurasian makin tinggi. Adapun dalam proses produksi dapat terbagi menjadi:
1. Primary recovery

23

Berupa pengangkatan alami (natural flow) ataupun pengangkatan buatan


(artificial lift) dengan pompa angguk (sucker-rod), pompa listrik terendam
(ESP - electrical submersible pump), pompa hidrolik, dan gas-lift.
2. Secondary Recovery (SecRec)
Disebut SecRec apabila ada sumur produksi dan injeksi yang membentuk
pola pendesakan migas. Contoh : water flood.
3. Enhanced Oil Recovery (EOR)
Disebut EOR apabila terjadi reaksi kimiawi yang mengubah interaksi
batuan dan fluida reservoir. Contoh : injeksi polimer, injeksi soda kaustik.
SecRec dan EOR adalah proses meningkatkan perolehan setelah
primary recovery dilakukan. Produksi sudah tidak ekonomis lagi apabila untuk
jangka panjang diperkirakan pendapatan dari produksi tidak dapat lagi
menutupi biaya operasi. Untuk itu sumur harus ditutup (plugged), disemen.
B. Sektor Hilir
Tahapan-tahapan khususnya mengenai regulasi kegiatan usaha hilir migas di
Indonesia secara jelas telah diatur di Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2004 serta
perubahannya di PP No. 30 Tahun 2009. Atapun mengenai BPH Migas sendiri diatur
pada PP No. 67 Tahun 2002.
Migas / hidrokarbon yang telah diproduksi ada yang langsung diekspor ke luar
negeri ada pula yang diolah terlebih dahulu. Adapun secara umum, kegiatan usaha
hilir migas yaitu:
a) Pengolahan
Pengolahan adalah kegiatan memurnikan, memperoleh bagian-bagian,
mempertinggi mutu, dan mempertinggi nilai tambah minyak bumi dan/atau gas
bumi, tetapi tidak termasuk pengolahan lapangan.
Pengolahan migas dilakukan pada refineries atau kilang minyak. Adapun
pengolahan tersebut terdiri dari dua jenis proses utama, yaitu proses primer dan
proses sekunder. sebagian orang mendefinisikan proses primer sebagai proses
fisika, sedangkan proses sekunder adalah proses kimia. hal itu bisa dimengerti
karena pada proses primer biasanya komponen atau fraksi minyak bumi
dipisahkan berdasarkan salah satu sifat fisikanya, yaitu titik didih. Sementara
pemisahan dengan cara Proses Sekunder bekerja berdasarkan sifat kimia kimia,
seperti perengkahan atau pemecahan maupun konversi, dimana didalamnya
terjadi proses perubahan struktur kimia minyak bumi tersebut.
Tahap awal proses pengilangan berupa proses distilasi (penyulingan) yang
berlangsung di dalam Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Distilasi Vacuum.
24

Di kedua unit proses ini minyak mentah disuling menjadi fraksi-fraksinya, yaitu
gas, distilat ringan (seperti minyak bensin), distilat menengah (seperti minyak
tanah, minyak solar), minyak bakar (gas oil), dan residu. Pemisahan fraksi
tersebut didasarkan pada titik didihnya.
Kolom distilasi berupa bejana tekan silindris yang tinggi (sekitar 40 m) dan di
dalamnya terdapat tray-tray yang berfungsi memisahkan dan mengumpulkan
fluida panas yang menguap ke atas. Fraksi hidrokarbon berat mengumpul di
bagian bawah kolom, sementara fraksi-fraksi yang lebih ringan akan mengumpul
di bagian-bagian kolom yang lebih atas.
Fraksi-fraksi hidrokarbon yang diperoleh dari kolom distilasi ini akan diproses
lebih lanjut di unit-unit proses yang lain, seperti: Fluid Catalytic Cracker, dll.
Produk-produk utama kilang minyak adalah: Minyak bensin (gasoline).
Minyak bensin merupakan produk terpenting dan terbesar dari kilang minyak;
Minyak tanah (kerosene); LPG (Liquified Petroleum Gas); Minyak distilat
(distillate fuel); Minyak residu (residual fuel); Kokas (coke) dan aspal; Bahanbahan kimia pelarut (solvent); Bahan baku petrokimia; serta Minyak pelumas.
Di Indonesia terdapat sejumlah kilang minyak yang hampir seluruhnya
dioperasikan oleh Pertamina, antara lain: Pangkalan Brandan, Sumatera Utara;
Dumai/Sei Pakning, Riau;

Plaju, Sumatera Selatan;

Cilacap, Jawa Tengah;

Balikpapan, Kalimantan Timur; Balongan, Jawa Barat; Cepu, Jawa Tengah; dan
Sorong, Irian Jaya Barat.
b) Pengangkutan/ distribusi
Pengangkutan adalah kegiatan pemindahan minyak bumi, gas bumi, dan/atau
hasil olahannya dari wilayah kerja atau dari tempat penampungan dan
pengolahan, termasuk pengangkutan gas bumi melalui pipa transmisi dan
distribusi. Migas ataupun produk hasil olahannya dapat diangkut menuju user
langsung (industri), instalasi/depot, ataupun SPBU/SPBG menggunakan rail tank
wagon, pipeline, kapal tanker, maupun truk pengangkut.
Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan untuk penetuan cara
pengangkutan atau distribusi ini supaya ekonomis yaitu: jenis tangki muatan
(cargo containment), kapasitas dan jumlah tangki muatan, kondisi lingkungan,
jarak dari pemasok, kecepatan pengangkut, boil-off rate (kecepatan boil off dari
gas), keterbatasan operasi, peraturan yang ada, dll.
c) Penyimpanan
Penyimpanan adalah kegiatan penerimaan, pengumpulan, penampungan, dan
pengeluaran minyak bumi dan/atau gas bumi, BBM, bahan bakar gas dan atau

25

hasil olahan pada lokasi di atas atau di bawah tanah untuk tujuan komersial,
misalnya depot dan tangki timbun terapung (floating storage).
Usaha penyimpanan BBM maupun gas (LPG, LNG) di Indonesia telah
melibatkan peran swasta dan badan usaha milik negara dalam pembangunannya,
untuk mendukung kecukupan suplai kebutuhan BBM mapun gas di tiap wilayah.
d) Perniagaan
Niaga adalah kegiatan pembelian, penjualan, ekspor, impor minyak bumi
dan/atau hasil olahannya, termasuk niaga gas bumi melalui pipa.
Kegiatan usaha niaga terbagi 2 yaitu pertama, usaha niaga umum (wholesale)
yaitu suatu kegiatan pembelian, penjualan, ekspor dan impor BBM, bahan bakar
gas, bahan bakar lain dan hasil olahan dalam skala besar yang menguasai atau
memiliki fasilitas dan sarana niaga dan berhak menyalurkannya kepada semua
pengguna akhir dengan menggunakan merek tertentu.
Kedua, usaha niaga terbatas (trading) merupakan usaha penjualan produkproduk niaga migas, dalam hal ini adalah minyak bumi, BBM, bahan bakar gas,
bahan bakar lain, hasil olahan, niaga gas bumi yang tidak memiliki fasilitas dan
niaga terbatas LNG.
Badan usaha yang memiliki izin usaha niaga, dapat melakukan kegiatan
pengangkutan dan atau penyimpanan sebagai penunjang usaha niaganya
sepanjang tidak ada transaksi usaha pada rangkaian kegiatan usaha niaganya.
2.3 Bagi Hasil Kontrak Produksi (Contract Production Sharing)
A. Konsep Kontrak Production Sharing (KPS)
Kontrak bagi hasil merupakan terjemahan dari istilah production sharing
contract (PSC). Dalam Russias Law on Production-Sharing Agreement tahun 1995
dan The Petroleum Tax Code, 1997, istilah yang digunakan adalah production sharing
agreement (PSA), sedangkan di Suriname, istilah yang lazim digunakan adalah
production sharing service contract (PSSC).34
Kontrak bagi hasil (production sharing contract) merupakan model yang
dikembangkan dari konsep perjanjian bagi hasil yang dikenal dalam hukum adat
Indonesia. Konsep perjanjian bagi hasil yang dikenal dalam hukum adat tersebut
telah dikodifikasikan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960. Menurut undangundang tersebut pengertian perjanjian bagi hasil adalah perjanjian dengan nama
apapun juga yang diadakan antara pemilik pada satu pihak dan seseorang atau badan
hukum pada lain pihak yang dalam hal ini disebut penggarap, berdasarkan perjanjian
34 S.E.Jharap, The Journey of Staatsolie (The Acquisition of Technical and
Management Expertise), 1997, hal.5
26

mana diperkenankan oleh pemilik tersebut untuk menyelenggarakan usaha pertanian


di atas tanah pemilik, dengan pembagian hasil antara kedua belah pihak. Konsep
inilah yang kemudian dikembangkan menjadi kontrak bagi hasil (production sharing
contract) untuk usaha pertambangan minyak dan gas bumi.35
Di Indonesia, istilah kontrak production sharing ditemukan dalam Pasal 12
ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 Tentang Pertamina Jo UndangUndang Nomor 10 Tahun 1974 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1971 Tentang Pertamina. Sementara itu, dalam Pasal 1 angka 19 Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi, istilah yang digunakan adalah
dalam bentuk kontrak kerja sama. Kontrak kerja sama ini dapat dilakukan dalam
bentuk kontrak bagi hasil atau bentuk kerja sama lainnya. Di dalam Pasal ini
berbunyi bahwa kontrak kerja sama adalah: Kontrak bagi hasil atau bentuk kerja
sama lainnya dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang lebih menguntungkan
negara dan hasilnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.
Pasal ini tidak secara khusus menjelaskan pengertian kontrak production
sharing, tetapi difokuskan pada konsep teoritis kerja sama di bidang minyak dan gas
bumi. Kerja sama dalam bidang minyak dan gas bumi dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu kontrak production sharing dan kontrak-kontrak lainnya.36
Kontrak production sharing merupakan perjanjian bagi hasil di bidang minyak
dan gas bumi. Para pihaknya adalah Pertamina dan kontraktor. Menurut UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 para pihaknya adalah badan pelaksana dengan badan
usaha atau bentuk usaha tetap.
Pengertian production sharing contract menurut para ahli dapat disampaikan
sebagai berikut :
a. Sutadi menyatakan bahwa perjanjian bagi hasil merupakan bentuk kerjasama
dengan pihak asing di bidang minyak dan gas bumi yang harus menjabarkan

35 Rudi. M. Simamora, Op. Cit, hal.38.


36 Di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas
Bumi, tidak didapatkan pengertian kontrak production sharing, namun
pengertian kontrak production sharing dapat kita ketahui dalam Pasal 1 angka
(1) PP Nomor 35 Tahun 1994 Tentang Syarat-syarat dan Pedoman Kerja Sama
Kontrak Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi, disebutkan bahwa kontrak production
sharing adalah kerja sama antara Pertamina dan kontraktor untuk melaksanakan
usaha eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi berdasarkan prinsip
pembagian hasil produksi.
27

prinsip-prinsip pengusahaan minyak dan gas bumi sesuai dengan penggarisan


konstitusi dan peraturan perundangan-undangan yang ada.37
b. Sumantoro mendefenisikan production sharing contract sebagai kerjasama
dengan sistem bagi hasil antara perusahaan Negara dengan perusahaan asing
yang sifatnya kontrak. Apabila kontrak telah habis, maka mesin-mesin yang
dibawa pihak asing tetap tinggal di Indonesia. Kerjasama dalam bentuk ini
merupakan suatu kredit luar negeri dimana pembayarannya dilakukan dengan
cara bagi hasil terhadap produksi yang telah dihasilkan oleh perusahaan
tersebut.38
c. Menurut Salim, production sharing contract adalah perjanjian atau kontrak
yang dibuat antara badan pelaksana dengan badan usaha dan/atau bentuk usaha
tetap untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di bidang minyak
dan gas bumi dengan prinsip bagi hasil. 39 Unsur-unsur yang tercantum dalam
definisi ini adalah:40
1. Adanya perjanian atau kontrak;
2. Adanya subjek hukum, yaitu badan pelaksana dengan badan usaha atau
bentuk usaha tetap;
3. Adanya objek, yaitu eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi,
dimana eksplorasi bertjuan untuk memperoleh informasi mengenai
kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh

perkiraan

cadangan minyak dan gas bumi di wilayah kerja yang ditentukan,


sedangkan eksploitasi bertujuan untuk menghasilkan minyak dan gas
bumi;
4. Kegiatan di bidang minyak dan gas bumi; dan
5. Adanya prinsip bagi hasil.
Prinsip bagi hasil merupakan prinsip yang mengatur pembagian hasil
yang diperoleh dari eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi antara
badan pelaksana dengan badan usaha dan/atau badan usaha tetap. Pembagian
37 Sutadi Pudjo Utomo, Bentuk-bentuk Insentif dalam Contract Production Sharing,
Warta Caltex, No.21, tahun 1990, hal.11.

38 Sumantoro, Pengertian Pokok Hukum Perusahaan, (Jakarta: Rajawali Press,1990),


hal.21

39 Salim HS, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, (Jakarta :


Sinar Grafika, 2008), hal.39.
40 Ibid.
28

hasil ini dirundingkan antara kedua belah pihak dan biasanya dituangkan
dalam kontrak production sharing.41
Menurut Salim42 kontrak production sharing (KPS) telah mengalami beberapa
generasi, setidaknya bisa dibagi dalam 4 generasi sebagai berikut : (1) KPS Generasi I
(1964-1977); (2) KPS Generasi II (1978-1987); KPS Generasi III (1988-2002); dan
(4) Generasi IV (2002-sekarang). Yang membedakan antara generasi yang satu
dengan generasi yang lain adalah perbedaan pengaturan bagi hasilnya, cara
menghitung biaya produksinya, kewajiban pembayaran pajak, dan iuran lainnya, serta
kewajiban kontraktor untuk mendahulukan kebutuhan BBM dalam negeri.
Misalnya dalam PKS Generasi I, biaya operasi dibatasi maksimum 40 persen
dari produksi, namun dalam PKS Generasi berikutnya, biaya operasi tidak dibatasi.
Pada PKS Generasi I pembayaran pajak kontraktor asing melalui Pertamina, dalam
PKS Generasi berikutnya, pajak dibayarkan langsung ke pemerintah. Perubahan
fundamental terjadi pada PKS Generasi IV yang menggantik posisi Pertamina
sebagai wakil Negara/pemerintah dalam kontrak dengan para kontraktor asing,
dengan Badan Pelaksana (BP) Migas. Sementara pertamina berganti posisi sebagai
salah satu kontraktor yang bisa bekerjasama dengan BP Migas.
B. Kontrak Pengusahaan Pertambangan di Dunia
Menurut Simamora, perjanjian/kontrak pengusahaan pertambangan minyak
dan gas bumi yang ada didunia dengan memperhatikan struktur kontrak dan legal
terms yang melingkupinya dapat dibagi dalam 5 (lima) bentuk utama yaitu: 43
a. konsesi (concession)
b. kontrak production sharing (production sharing contract);
c. kontrak jasa resiko (risk service contract);
d. kontrak jasa (service contract);
e. usaha patungan (joint venture);

41 Ibid.
42 Ibid.
43 Rudi M. Simamora, Op.Cit, hal.37.
29

Berdasarkan aspek hubungan kontraktual dan kepemilikan sumber daya


mineral (termasuk minyak dan gas bumi) sebenarnya diantara bentuk-bentuk
perjanjian diatas hanya terdapat dua model, yaitu :44
1. Bersifat konsesioner, yang termasuk bentuk ini adalah konsesi. Konsesi
bersifat konsesioner artinya pemegang konsesi bukan merupakan
kontraktor dari negara dalam mengusahakan pertambangan minyak dan
gas bumi, tetapi menjalankan sendiri hak pertambangan minyak dan gas
bumi dan menguasai hasil produksinya berdasarkan konsesi (izin) yang
diperolehnya.
2. Bersifat kontraktual. Contract production sharing, risk service contract
dan service contract termasuk yang bersifat kontraktual, dimana
perusahaan penandatangan perjanjian merupakan kontraktor dari negara
atau perusahaan negara yang menjalankan usaha pertambangan minyak
dan gas bumi menurut perjanjian yang ditanda tangani di bawah kontrol
negara atau perusahaan negara. Status kontraktor membawa konsekuensi
bahwa hasil produksi tetap berada pada negara.
Sedangkan untuk perjanjian joint venture dan bentuk-bentuk perjanjian
modifikasi lainnya yang mungkin dibuat akan didasarkan pada salah satu bentuk di
atas, perjanjian konsensioner atau kontraktual.45
C. Teori Model Hubungan Pemerintah Dengan Pelaku Usaha Dalam Pengelolaan
Sumber Daya Alam
Dalam pengelolaan sumber daya alam terdapat tiga model hubungan
pemerintah dengan pelaku usaha dalam pengelolaan sumber daya alam, model
pertama, hubungan kontraktual antara pemerintah dan pelaku usaha (government to
business). Model ini dikembangkan di sektor mineral dan batubara dengan UndangUndang Nomor 11 Tahun 1967.
Contohnya kontrak karya antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia atau
pemerintah dan PT Newmont Nusa Tenggara. Hanya saja, rezim kontrak berdasarkan
UU No 11/1967 telah ditinggalkan dan diganti dengan rezim izin berdasarkan UU No
4/2009. Dalam hubungan kontraktual kedudukan pemerintah setara dengan pelaku

44 Ibid.
45 Ibid.
30

bisnis, sesuatu yang sebenarnya ingin dihindari oleh para pemohon uji materi atas
UU Migas, termasuk keinginan dari MK.
Model kedua adalah hubungan kontraktual antara lembaga usaha yang terpisah
dari negara tetapi berada dalam kendali negara. Dalam model kedua ini, lembaga
usaha yang ditunjuk oleh negara berkontrak dengan kontraktor. Pertamina sebelum
berlakunya UU Migas dan adanya BP Migas adalah perwujudan model ini.
Kelebihan dari Pertamina berdasarkan UU No 8/1971 dibandingkan dengan
BP Migas adalah Pertamina memiliki kewenangan sebagai regulator. Berdasarkan
UU Migas 2001, kewenangan sebagai regulator telah dikembalikan ke Direktorat
Jenderal Migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). BP Migas
hanya badan hukum yang didirikan oleh negara untuk berkontrak dengan kontraktor.
Dua model di atas merupakan model kontrak yang dianut di suatu negara atas
pengelolaan sumber daya alam.
Model terakhir adalah negara berkedudukan sebagai pemberi izin (konsesi)
kepada kontraktor dan pelaku usaha. Ini yang dikenal dengan rezim izin sebagaimana
dianut dalam UU Mineral dan Batubara. Dalam rezim izin, maka kedudukan negara
sebagai pemberi izin lebih tinggi daripada pelaku usaha. Negara dalam posisi vertikal
di atas, tidak horizontal. Dalam sistem kontrak, kesetaraan di antara para pihak,
termasuk

negara,

merupakan

prasyarat

mengingat

kontrak

membutuhkan

kesepakatan.
Pengusahaan minyak dan gas bumi terdiri dari 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan
usaha hulu yang mencakup eksplorasi dan eksploitasi, serta kegiatan usaha hilir yang
mencakup pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, dan niaga. 46 Menurut UU
Nomor 22 Tahun 2001, disebutkan bahwa kegiatan usaha hulu memakai rezim
kontrak, sedangkan kegiatan usaha hilir memakai rezim perizinan. Kegiatan usaha
hulu dilaksanakan dan dikendalikan melalui kontrak kerja sama yang merupakan
kontrak bagi hasil atau bentuk kontrak kerja sama lain dalam kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi yang lebih menguntungkan negara dan hasilnya dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.47
Kegiatan usaha hulu dilaksanakan dan dikendalikan melalui kontrak kerja
sama (KKS) antara badan usaha atau bentuk usaha tetap dengan badan pelaksana
46 Lihat: Pasal 5 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas
Bumi.
47 Pasal 1 Angka 19. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan
Gas Bumi.
31

minyak dan gas bumi (BP Migas), di dalam KKS tersebut paling sedikit memenuhi
persyaratan:
a. Kepemilikan sumber daya alam tetap di tangan pemerintah sampai pada titik
b.
c.
a.
b.
c.
d.

penyerahan;
Pengendalian manajemen operasi berada pada badan pelaksana;
Modal dan resiko selurunya ditanggung badan usaha atau bentuk usaha tetap;
Sedangkan untuk kegiatan usaha hulu dan hilir dapat dilakukan oleh:
Badan Usaha Milik Negara;
Badan Usaha Milik Daerah;
Koperasi, usaha kecil;
Badan Usaha Swasta.
Dengan ketentuan untuk bentuk usaha tetap hanya dapat melakukan kegiatan

usaha huku saja, badan usaha dan bentuk usaha teta yang telah melakukan kegiatan
usaha hulu tidak diperbolehkan melakukan kegiatan usaha hilir demikian sebaliknya.
3.3 MNC/TNC (Multinational Corporation/Transnational Corporation)
A. MNC sebagai perusahaan asing
Perusahaan multinasional (multinational corporation) atau lebih sering disebut
MNC telah tumbuh dan berkembang dalam skala besar dimana mereka sekarang
merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kehadiran dan artinya di kehidupan
masyarakat merupakan fakta tak terbantahkan.
Perusahaan multinasional (MNC) adalah sebuah perusahaan internasional atau
transnasional yang berkantor pusat dan memiliki kantor cabang di berbagai negara
maju dan berkembang. Contohnya termasuk General Motors, British Petroleum,
Exxon, ITT, Gulf Oil Company,dst.
PBB dalam laporan tahunan 1973 mendefinisikan Perusahaan Multinasional
sebagai

suatu

perusahaan

yang

kegiatan

pokoknya

meliputi

usaha-usaha

pengolahan/manufaktur atau pembrian jasa dalam sedikitnya dua negara.


Perusahaan Mutinasional merupakan sumber dari penanaman modal asing
langsung dan jumlahnya merupakan ukuran kegiatan perusahaan itu. Sebagian besar
dari penanaman modal asing di negara-negara sedang berkembang diusahakan di
bidang sumber daya alam, sisanya dibidang pengolahan, perdagangan, prasarana,
transport, perbankan, turisme, dan jasa-jasa lainya.
Saat ini banyak MNC yang merupakan institusi yang kuat dan memiliki
sumber daya lebih banyak dari kebanyakan negara di dunia. Ukuran dan sentralisasi
operasi merupakan dua hal yang membuat MNC sebagai kekuatan penting dalam
hubungan internasional saat ini.

32

MNC pada dasarnya adalah sebuah perusahaan yang menjual produk, dan
karena tidak semua perusahaan bisa dikatakan sebagai MNC maka para ahli
memberikan definisi untuk MNC tersebut.
Menurut Dunning, MNC adalah sebuah perusahaan yang melakukan investasi
asing langsung (Foreign Direct Investment / FDI) dan memiliki atau mengontrol
aktivitas yang menambahkan nilai di lebih dari satu negara. 48
Menurut Gooderham yang menjelaskan MNC sebagai sebagai investasi
langsung yang dikelola secara aktif yang dibuat oleh perusahaan yang memiliki
komitmen jangka panjang untuk beroperasi secara internasional.49
Dalam International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences di
sebutkan bahwa MNC adalah suatu organisasi bisnis yang aktivitasnya terlokasi di
lebih dari dua negara dan berbentuk organisasi yang menjalankan investasi asing
secara langsung. 50
Definisi ini hampir sama dengan penjelasan dalam Multinational Corporation
and Governments Business-Government Relations in an Interntional Context tentang
MNC yaitu sebuah perusahaan yang memiliki markas besar atau pusat operasinya di
satu Negara dan memiliki serta mengoperasikan perusahaan lain atau anak
perusahaannya di negara lain. Perusahaan lain atau anak perusahaan ini biasa disebut
sebagai cabang (subsidiary). 51
Sebuah MNC kemudian persis seperti namanya yaitu mengidikasikan sebuah
perusahaan yang beroperasi di berbagai lingkungan nasional. Melihat perkembangan
MNC yang pesat sejak Perang Dunia ke II dan memiliki andil yang cukup besar
dalam masyarakat global, maka di tahun 1973 Departemen ECOSOC PBB membuat
sebuah laporan mengenai MNC. Laporan ini menjelaskan bahwa MNC adalah
48 John H. Dunning, (1991), Governments and Multinational Enterprises: From
Confrontation to Co-operation. Berkshire: University of Reading, Department of
Economics United Kingdom.,hal. 59
49 Gooderham Paul, (2003), International Management : Cross Boundary
Challenges. Malden MA: Blackwell Publishing, hal. 16
50 Neil J Smelser, Paul B Baltes, (2001), International Encyclopedia of the Social
& Behavioral Sciences, New York : Elsevier. hal. 10197
51 Patrick M. Boarman and Hans Schollhammer (eds.), (1980), Mutinational
Corporations and Governments: Business-Government Relations in an
International Context, New York :Pergamon., hal.75
33

perusahaan yang menguasai asset berupa pabrik-pabrik, pertambangan, penjualan


dan pemasaran serta kantor-kantor lainnya di lebih dari dua negara.
Perumusan ini cukup luas sehingga dapat meliputi hampir semua investasi
langsung dari luar negeri. Padahal dalam kenyataannya hanya sebagian kecil yang
merupakan MNC besar.
Sehingga dirumuskan kembali bahwa MNC pada umumnya merupakan suatu
usaha yang large-size, oligopolistic (dikuasai oleh beberapa perusahaan besar),
jumlah penjualannya melebihi beberapa ratus juta US dollar dan mempunyai cabang
tersebar di berbagai negara.52
MNC sangatlah besar jika dilihat dari cabang-cabangnya yang tersebar di
berbagai negara. Mereka memiliki pengalokasian sumber daya yang terkordinasi
secara global dalam suatu manajemen terpusat tunggal. Selain menguasai sumber
daya alam, MNC juga memiliki modal yang sangat besar.
Menurut laporan Departemen ECOSOC PBB, di negara yang sedang
berkembang, jumlah modal yang berasal dari MNC lebih besar daripada modal yang
datang dari negara maju dan modal domestik. Pada umumnya modal ini mengarah ke
sektor manufacturing dan pertambangan. Sebagaimana Amerika Serikat tertarik pada
bidang pertambangan di Indonesia dan memberikan modal yang sangat besar.
MNC merupakan entitas ekonomi yang memiliki kekuatan di berbagai bidang
seperti pasar, keuangan, organisasi, penyebaran dan tingkat pertumbuhan pesat.
Bahkan pertumbuhan ekonomi MNC seringkali melebihi rata-rata pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Dengan kekuatan tersebut tentu terdapat dampak yang
dirasakan di berbagai level dan bagian dari masyarakat global.53
Dalam buku yang berjudul Multinational Corporation and Governments
Business-Government Relations in an Interntional Context dijelaskan bahwa Pihak
MNC mengklaim diri mereka memiliki keahlian dan sumber daya untuk membangun
sebuah dunia yang lebih efisien secara produktif, dan oleh karena itu meningkatkan
standar kehidupan global. Pihak MNC juga berpendapat bahwa mereka membantu
negara kurang berkembang untuk memodernisasi dan mengindustriliasisasi dengan
mengenalkan teknologi, kesempatan kerja dan keahlian untuk menghadapi ekonomi
yang terbelakang. MNC juga secara alami membuat perang tak lagi terpakai atau
kuno. Karena dalam dunia masa depan dimana semua negara bangsa dan regional
52 op.cit., Department of Economic and Social Affairs United Nation, hal.33-34
53 George Modelski (ed.), (1979),Transnational Corporations and World Order.
San Fransisco: W.H Freeman and Company, hal.90
34

saling ketergantungan satu sama lain, tak akan ada orang ataupun pemerintahan
yang waras yang akan memulai perang.54
B. Dampak Positif kehadiran MNC
Menurut Nopirin, dikatakan bahwa terdapat keuntungan potensial dari
kehadiran MNC dalam suatu negara. Keuntungan tersebut antara lain MNC dapat
menyediakan dana investasi, pekerjaan, teknologi tinggi dan jasa pendidikan.55
Terkait dana investasi, kehadiran sebuah MNC dikatakan dapat menambah
stock nasional jika modal berasal dari negara induk dan dapat apabila pengusaha
local terdorong untuk melakukan investasi.
Selain kehadiran MNC dapat menambah lapangan pekerjaan, terdapat pula
pelatihan ataupun pendidikan lanjutan bagi tenaga kerja untuk mempertinggi
skillnya. Bersamaan dengan adanya transfer teknologi dan tenaga kerja local yang
telah terlatih dan berpengalaman, diharapkan dalam jangka panjang Negara penerima
dapat merubah struktur perekonomiannya meskipun MNC telah pergi.56
Secara ringkas, dampak positif dari kehadiran MNC adalah sebagai berikut :
1. Peranannya dalam mengisi kekosongan atau kekurangan sumber daya antara
tingkat investasi yang ditargetkan dengan jumlah aktual tabungan domestik
yang dapat dimobilisasikan.
2. Memobilisasikan sumber-sumber financial dalam rangka membiayai proyekproyek pembangunan secara lebih baik.
3. Dengan memungut pajak atas keuntungan perusahaan multinasional dan ikut serta
secara financial dalam kegiatan-kegiatan mereka di dalam negeri, pemerintah
negara-negara

berkembang

berharap

bahwa

mereka

tidak

hanya

akan

menyediakan sumber-sumber financial dan pabrik-pabrik baru saja kepada negaranegara miskin yang bertindak sebagai tuan rumah, akan tetapi mereka juga
menyediakan suatu paket sumber daya yang dibutuhkan bagi proses
pembangunan secara keseluruhan, termasuk juga pengalaman dan kecakapan
manajerial, kemampuan kewirausahaan, yang pada akhirnya nanti dapat
dimanifestasikan dan diajarkan kepada pengusaha-pengusaha domestik.
4. Perusahaan multinasional juga berguna untuk mendidik para manajer lokal agar
mengetahui strategi dalam rangka membuat relasi dengan bank-bank luar negeri,
54 Op. cit. Patrick M. Boarman. hal.89
55 Nopirin. (1999). Ekonomi internasional. Yogyakarta: BPFE Yogykarta, hal. 56
56 Ibid., hal. 58
35

mencari alternative pasokan sumber daya, serta memperluas jaringan-jaringan


pemasaran sampai ke tingkat internasional.
5. Perusahaan multinasional akan membawa pengetahuan dan teknologi yang tentu
saja dinilai sangat maju dan maju oleh negara berkembang mengenai proses
produksi sekaligus memperkenalkan mesin-mesin dan peralatan modern kepada
negara-negara dunia ketiga.
C. Dampak Negatif
Walaupun begitu, menurut ECOSOC PBB, masuknya MNC ke suatu negara
belum tentu positif terhadap masalah kesempatan kerja, karena harus dilihat tipe
investasi yang masuk. Jika berbentuk padat modal dan bukan padat kerja maka hal ini
mungkin dapat melumpuhkan industri nasional sehingga justru menimbulkan
penyiutan kesempatan kerja.57
Pendapat ini kembali ditekankan oleh Richard J. Barnet and Ronald E.Muller
dalam bukunya yang berjudul Global Reach: The Power of the Multinational
Corporation. Mereka melihat MNC memiliki kemampuan produksi dengan modal
intensif yang besar, hal ini dianggap mampu membuat saingan lokal di pasar
domestik tersingkir dari bisnis yang tentu saja meningkatkan pengangguran di negara
penerima.58
Selain itu, menurut Nopirin, MNC dilihat tidak banyak melakukan kegiatan
riset dan pengembangan di negara penerima sehingga mengakibatkan negara
penerima selalu tergantung pada negara induk. Ditambah lagi, untuk memiliki
teknologi dan pengetahuan yang dimiliki oleh MNC, negara penerima harus
memberikan harga untuk transfer pricing dan royalty. Oleh karena itu negara
berkembang

susah

untuk

bisa

lepas

MNC

dan

mandiri

mengelola

perekonomiannya.59
Menurut Yusuf Panglaykim, Hubungan antara MNC dengan nation states
dapat menimbulkan ketegangan dan konflik. Fakta yang tak dapat di elakkan adalah
bahwa ukuran yang sangat besar dari MNC bermakna bahwa mereka memiliki
dampak ekonomi maupun politis di negara penerima, baik secara langsung ataupun
57 Op.cit. Department of Economic and Social Affairs United Nation, hal, 39
58 Richard J. Barnet and Ronald E.Muller, (1974), Global Reach: The Power of the
Multinational Corporation. New York: Simon &Schuster, Inc. hal. 45
59 Op.cit. Nopirin, hal. 56
36

tidak langsung. Jika operasi ekonomi dari MNC itu kritikal terhadap ketahanan suatu
politik di negara penerima, maka pemerintahan tersebut tak bisa dihindari akan
tertekan. Hal ini tentu membuat negara berada dalam posisi ketergantungan terhadap
MNC baik itu secara ekonomi maupun politik.60
Penguasaan MNC akan sumber daya alam di suatu negara dalam jumlah yang
tidak sedikit menimbulkan pertanyaan mengenai kedaulatan permanen atas sumber
daya alam tersebut. Disebutkan pula dalam laporan ECOSOC PBB bahwa
penguasaan MNC pada sektor kunci (sektor yang melibatkan hajat hidup orang
banyak) dilihat sebagai suatu pelanggaran terhadap negara-negara yang merdeka.
Namun, tetap terdapat banyak negara yang menganjurkan masuknya investasi
langsung ke negaranya. Hal ini merupakan suatu kompromi untung rugi (cost and
benefits) yang bersifat politis, ekonomis, dan sosio kulutural.61
Dalam prakteknya terdapat suatu perbedaan tujuan dan scope kegiatan antara
negara dan MNC. MNC jelas berorientasi laba sedangkan negara memiliki tujuan
mensejahterahkan rakyatnya. MNC memiliki kekuatan ekonomis dan nation state
memiliki sovereign power. Sovereign power ini sebenarnya dapat digunakan untuk
menentukan aturan masuknya MNC ke suatu negara. Dan dengan menerima
kekuatan MNC, Negara dapat bekerjasama dengan MNC dalam area ekonomi untuk
memperoleh national interest.
Secara eksplisit dampak negatifnya dari hadirnya perusahaan-perusahaan
MNC di Indonesia dapat diringkas dalam dua kelompok sebagai berikut :
a. Dampak Negatif secara Ekonomis :
1. Negara-negara berkembang menjadi sasaran dari perusahaan multinasional
karena negara-negara ini menghadapi dilema di mana sebagian besar negara
terlalu lemah untuk menerapkan prinsip aturan hukum, dan juga perusahaanperusahaan raksasa ini sangat kuat menjalankan kepentingan ekonomi untuk
keuntungan mereka sendiri.
2. Perusahaan-perusahaan mutinasional ini tidak tertarik untuk menunjang usaha
pembangunan suatu negara. Didalam kenyataanya sangat jarang perusahaan
multinasional bersedia menanamkan kembali keuntungan yang diperolehnya
di Negara-negara berkembang.
3. Memberi pengaruh negative terhadap tingkat upah rata-rata, karena mereka
biasanya memberikan gaji dan aneka tunjangan kesejahteraan yang jauh lebih
60 op.cit., Yusuf Panglaykim, hal. 38
61 op.cit. Department of Economic and Social Affairs United Nation hal. 44
37

tinggi ketimbang gaji rata-rata kepada para karyawannya, baik itu yang berasal
dari negara setempat atau yang didatangkan dari negara-negara lain.
4. Perusahaan multinasional juga merusak perekonomian tuan rumah dengan
cara merusak semangat dari pengusaha-pengusaha lokal.
5. Jika dilihat dari kepentingan neraca pembayaran, perusahaan-perusahaan
multinasional dapat menyebabkan berkurangnya penerimaan Devisa Negara,
baik melalui neraca berjalan, maupun melalui neraca lalu lintas modalnya.
6. Meskipun perusahaan multinasional turut ikut dalam membayar pajak kepada
negara, namun mereka sering mendapatkan keringanan pajak dari pemerintah,
serta perlindungan perlindungan lainnya.
7. Tidak jarang tujuan transfer teknologi tidak dapat berjalan dengan lancar.
Disamping karena kesempatan tenaga kerja pribumi yang masih sulit untuk
menduduki posisi posisi kunci dalam perusahaan.
b. Dampak Non Ekonomis, diantaranya adalah :
1. Perusahaan multinasional sering memiliki kedudukan sebagai perusahaan
monopolis.
2. Perusahaan multinasional tidak jarang hanya memproduksi komoditi untuk
kalangan tertentu saja.
3. Perusahaan multinasional dapat mempertajam kesenjangan sosial.
4. Perusahaan multinasional dapat menggunakan kekuatan ekonomi untuk
menekan pemerintah.
5. Perusahaan multinasional dapat menekan kebijakan pajak local dengan
transfer pricing.

BAB III
KESIMPULAN & SARAN
3.1 Kesimpulan
1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Migas telah mengubah peraturan
perundang-undangan tentang Migas dimana seluruh sektor kegiatan Migas nasional
baik hulu maupun hilir terbuka bagi semua badan usaha baik nasional maupun
asing. Menyebabkan terbukanya peluang eksploitasi migas secara penuh oleh
perusahaan-perusahan asing (MNC).

38

2. Kebijakan liberalisasi ekonomi yang memengaruhi pembentukan undang-undang


Migas maupun berbagai undang-undang di bidang sumber daya alam lainnya, tidak
sesuai dengan semangat dan jiwa Pasal 33 UUD 1945. Kebijakan ini mengakibatkan
Indonesia tidak dapat mandiri dan selamanya akan tergantung dari perusahaan minyak
asing (international oil companies, IOC). Pasal 33 UUD 1945 tidaklah anti capital,
namun juga bukan berarti mengakui paham kapitalisme. Indonesia memerlukan
investasi asing dalam pengelolaan Migas, namun kerja sama dengan investor asing
(kontraktor) harus lebih mengedepankan kepentingan nasional dan berdasarkan
konstitusi UUD 1945, yakni demokrasi ekonomi yang berbasiskan ekonomi
kerakyatan.
3. Komponen penting yang menjadi fondasi pembangunan landasan hukum dan politik
pengelolaan sumber daya alam Migas, terdiri dari: a). kepemilikan kekayaan alam; b).
penguasaan oleh Negara, dan c). kewenangan perusahaan Negara dalam pengusahaan
Migas sampai kepada prinsip kerja sama dengan pihak ketiga (utamanya dengan
pihak asing) termasuk batas kewenangan yang diberikan kepada pihak asing.62
3.2 Saran
1. Langkah kebijakan pengelolaan industri Migas di Indonesia serta hasil yang dicapai
sejak Proklamasi sampai berakhirnya Orde Lama (1945-1966), dilanjutkan dengan
Orde Baru (1966-1998) dan kemudian selama Era Reformasi (1998-sampai sekarang)
perlu dikaji ulang dari aspek politik hukum apakah menempatkan pembangunan
perekonomian sesuai dengan semangat dan jiwa Pasal 33 UUD 1945 yang
menempatkan konsep kesejahteraan sebagai perekonomian nasional, karena konsep
kesejahteraan sebagai jiwa dari Demokrasi Ekonomi atau Ekonomi Pancasila.63
2. Perlu adanya suatu model pengelolaan migas nasional yang berlandaskan kedaulatan
penuh atas sumber daya alam Migas dan pengelolaannya berdasarkan pula pada
kemandirian dan ketahanan energi nasional untuk mewujudkan kesejahteraan
masyarakat sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
3. Kebijakan pengelolaan Migas yang sesuai dengan semangat dan jiwa Pasal 33 UUD
1945 dengan asas hak menguasai negara atas sumber daya alam Migas sebagai
kekayaan nasional merupakan bagian integral dari konsep kedaulatan rakyat di bidang
ekonomi. Dengan kedaulatan ini, diharapkan Migas dapat berfungsi sebagaimana
62 Ibid, hal.41.
63 Suyitno Patmosukismo, Op.Cit, hal.156-157
39

diharapkan yakni membangun kemandirian Migas guna mendukung pembangunan


berkelanjutan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat. Berdasarkan kriteria
ini, maka pengelolaan Migas setidaknya harus didasarkan kepada asas hak menguasai
negara dan dilakukan dengan sistem kerja sama dengan pihak kontraktor melalui
model business to business (BtoB), sebagaimana lazim dipraktekkan oleh
berbagai negara.

DAFTAR PUSTAKA
Adrian Sutedi, Hukum Pertambangan, Jakarta: Sinar Grafika, 2012.
Bagir Manan, Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara, Bandung: Mandar
Maju, 1995.
Ibnu Sutowo, Peranan Minyak Dalam Ketahanan Negara. Jakarta : Pertamina, 1972.
Jharap, S.E. The Journey of Staatsolie (The Acquisition of Technical and Management
Expertise), 1997.
M. Kholid Syeirazi, Di Bawah Bendera Asing Liberalisasi Indistri Migas di Indonesia,
Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2009.
Mohammad Hatta, Penjabaran Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, Jakarta: Mutiara,
1977.
Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi, Jakarta: Djembatan, 1954.
Notonagoro, Politik Hukum dan Pembangunan Agraria, Jakarta: Bina Aksara, 1984.
Rawls, A John, Theory of Justice (Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik Untuk
Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Dalam Negara), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2006.
Rudi M. Simamora, Hukum Minyak dan Gas Bumi, Jakarta: Djambatan, 2000.
Roes Aryawijaya, Menyingkap tabir; Pengelolaan Migas. Indonesia, 2014.
R. Wiratno, dkk, Ahli-Ahli Pikir Besar tentang Negara dan Hukum, Jakarta: PT
Pembangunan, 1958.

40

Salim HS, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika,
2008.
S.H.R. Otje Salman et. al., Teori Hukum : Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka
Kembali, Bandung: PT. Refika Aditama, 2004.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif-Suatu Tinjauan Singkat,
Jakarta: Rajawali, 2010..
Sumantoro, Pengertian Pokok Hukum Perusahaan, Jakarta: Rajawali Press,1990.
Suyitno Patmosukismo, Migas Politik, Hukum dan Industri: Politik Hukum Pengelolaan
Industri Migas Indonesia dikaitkan dengan Kemandririan dan Ketahanan Energi
dalam Pembangunan Perekonomian Nasional, Jakarta: Fikahati Aneska, 2011.
Syaiful Bakhri, Migas Untuk Rakyat, Pergulatan Pemikiran dalam Peradilan Mahkamah
Konstitusi, Jakarta: Grafindo Khasanah Ilmu, 2013.
St. Munadjat Danusaputro, Bina Mulia Hukum dan Lingkungan, Bandung: Binacipta, 1984.
______________. Hukum Lingkungan : Buku I Umum, Bandung: Binacipta, 1985.
Tri Hayati, dkk, Konsep Penguasaan Negara di Sektor Sumber Daya Alam berdasarkan
Pasal 33 UUD 1945, Jakarta : Sekretariat Jenderal MKRI dan CLGS FHUI, 2005.
Widjajono Partowidagdo, Pengantar Produksi Investasi dan Kemampuan Nasional Hukum
Migas. Jakarta : CIDES, 2008.
____________. Manejemen dan Ekonomi Migas. Bandung : Program Pasca Sarjana Sudi
Pembangunan, 2004.
Marilang, Pengelolaan Sumber Daya Alam Tambang dalam al-Risalah Volume 11 Nomor 1
Mei 2011
Sutadi Pudjo Utomo, Bentuk-bentuk Insentif dalam Contract Production Sharing, Warta
Caltex, No.21, tahun 1990.
John H. Dunning, (1991), Governments and Multinational Enterprises: From Confrontation
to Co-operation. Berkshire: University of Reading, Department of Economics United
Kingdom.
Gooderham Paul, (2003), International Management : Cross Boundary Challenges. Malden
MA: Blackwell Publishing,
Neil J Smelser, Paul B Baltes, (2001), International Encyclopedia of the Social & Behavioral
Sciences, New York : Elsevier.
Patrick M. Boarman and Hans Schollhammer (eds.), (1980), Mutinational Corporations and
Governments: Business-Government Relations in an International Context, New York
:Pergamon.,
41

Department of Economic and Social Affairs United Nation,


George Modelski (ed.), (1979),Transnational Corporations and World Order. San Fransisco:
W.H Freeman and Company, h
Nopirin. (1999). Ekonomi internasional. Yogyakarta: BPFE Yogykarta.
Richard J. Barnet and Ronald E.Muller, (1974), Global Reach: The Power of the
Multinational Corporation. New York: Simon &Schuster, Inc.
Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 Tentang Pertamina
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1994 Tentang Syarat-syarat dan
Pedoman Kerja Sama Kontrak Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 Tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Prp. Tahun 1960 Tentang Pertambangan.
BAB I Istilah-istilah, Pasal 1, huruf i.

42