Anda di halaman 1dari 10

PROFESIONALISME DALAM ISLAM

Seorang dikatakan profesional jika ia mahir dalam bidang pekerjaannya dimana ia


mendapatkan penghasilan dari sana. Kemahiran ini didukung dengan beberapa indikator dan kriteria,
antara lain sebagai berikut :
1. Kualifikasi akademik atau latar belakang pendidikan
2. Ketrampilan yang mumpuni dan pengalaman di bidang tersebut
3. Menghasilkan karya dan produk dibidang yang ditekuninya
4. Mempunyai dedikasi dan etika kerja yang sungguh-sungguh
Dalam Islam, profesionalitas semakna dengan ihsan dan itqon yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Ajaran Islam memotivasi umat Islam untuk kerja yang professional dalam berbagai sisi kehidupan dan
berbagai sarana kerja. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah mencintai seseorang jika melakukan sesuatu dengan cara professional.
Seorang pekerja yang ikhlas dan profesional adalah ciri insan yang cerdas dan ahli dalam melakukan
sesuatu dan ahli dalam pekerjaannya, mampu menunaikan tugas yang diberikan kepadanya secara
professional dan sempurna, dan diiringi adanya perasaan selalu diawasi oleh Allah dalam setiap
pekerjaannya, semangat yang penuh dalam meraih keridhaan Allah dibalik pekerjaannya. Model
pegawai atau buruh seperti tidak membutuhkan adanya pengawasan dari manusia; berbeda dengan
orang yang melakukan pekerjaan karena takut manusia, sehingga akan menghilangkan berbagai
sarana yang ada, melakukan penipuan terhadap apa yang dapat dilakukan. Adapun pegawai yang
mukhlis, yang bekerja dibawah perasaan adanya pengawasan oleh Dzat yang tidak pernah lengah
sedikitpun, dan tidak ada yang tersembunyi atas apa yang tersembunyi di dalam bumi dan di langit!!
Islam tidak hanya melahirkan manusia yang sukses dari sudut pengamalan agama saja tetapi Juga
Ingin melahirkan kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Diantara etika kerja menurut
Islam yang apabila diterapkan maka akan menghasilkan kinerja yang baik, yakni Kerja adalah Ibadah.
orang yang mampu menjaga kehormatannya dalam bekerja terutama secara moral dan profesional,
akan diberi kehormatan lebih tinggi lagi dalam bcntuk jabatan dan pangkat yang lebih tinggi, disegani
dan statusnya dalam masyarakat sangat dihormati.
Masalah profesionalisme ini juga sangat terkait dengan hak-hak pegawai dalam Islam. Jika Allah telah
mewajibkan kepada pegawai untuk bekerja dengan cara yang itqon (professional) dan cakap di
dalamnya; maka baginya memiliki hak, sehingga menjadikan dirinya memiliki kehidupan yang mulia,
kokoh dan kuat. Dan diantara hak-haknya adalah: Tidak membebani pegawai dengan sesuatu yang
tidak mampu dilakukan.. dan tidak memposisikannya pada pekerjaan yang berat yang tidak mampu
dilaksanakan; dan jika kita ingin memberikan pekerjaan yang berat maka hendaknya kita
membantunya dengan diri kita atau mencarikan orang lain untuk dapat membantunya; Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Dan janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mereka tidak sanggup, namun jika kalian
terpaksa membebaninya maka bantulah mereka. (HR. Bukhari)
Dalam menyikapi beragam musibah dan problem kemasyarakatan, umat Islam juga bukanlah umat
yang melakukan arogansi penyelesaian, sehingga menghadapi kondisi dengan melakukan
pengrusakan atau berdiam diri; sebagai reaksi terhadap apa yang terjadi, namun kita adalah kaum
yang memandang permasalahan dengan pandangan yang komprehensif dan mendalam serta cermat,
lalu mengembalikannya pada dasar yang kokoh untuk bisa jadikan sandaran dan terfokus, dan hal
tersebut tidak terwujud kecuali dari Nizham Islam yang menyeluruh dan mendetail, yang
didalamnya terdapat kebaikan yang banyak.
Memang demikianlah dalam semua hal saat ini harus diserahkan ke orang-orang yang kompeten.
Tidak hanya kompeten secara teknis tapi juga punya kemampuan memilih orang-orang yang
kompeten sehingga keselamatan masyarakat terjaga. Mampu memilih the man behind the gun.
Aspek profesionalisme ini amat penting bagi seorang pekerja. Maksudnya adalah kemampuan untuk
memahami dan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prinsipnya (keahlian). Pekerja tidak cukup
hanya dengan memegang teguh sifat-sifat amanah, kuat, berakhlaq dan bertakwa, namun dia harus
pula mengerti dan menguasai benar pekerjaannnya.

Umar radhiyallahu anhu sendiri pernah mempekerjakan orang dan beliau memilih dari mereka
orang-orang yang profesional dalam bidangnya. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
mengingatkan:
Bila suatu pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. (HR.
Bukhari).
Jadi tanpa adanya profesionalisme atau keahlian, suatu usaha akan mengalami kerusakan dan
kebangkrutan. Juga menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas produksi, bahkan sampai pada
kesemrawutan manajemen, serta kerusakan alat-alat produktivitas. Hal-hal ini tentunya jelas akan
menyebabkan juga terjadinya kebangkrutan total yang tidak diinginkan.
Takwa dalam melakukan pekerjaan
Al-Quran banyak sekali mengajarkan kita agar takwa dalam setiap perkara dan pekerjaan. Jika Allah
Subhanahu wa Taala ingin menyeru kepada orang-orang mukmin dengan nada panggilan seperti
Wahai orang-orang yang beriman, biasanya diikuti oleh ayat yang berorientasi pada kerja dengan
muatan ketakwaan. Di antaranya, keluarkanlah sebahagian dari apa yang telah Kami anugerahkan
kepadamu. Janganlah kamu ikuti/ rusak sedekah-sedekah (yang telah kamu keluarkan) dengan
olokan-olokan dan kata-kata yang menyakitkan. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kamu kepada Allah.
. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai
orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah [2] : 197).
Kerja mempunyai etika yang harus selalu diikutsertakan didalamnya, oleh karena kerja merupakan
bukti adanya iman dan parameter bagi pahala dan siksa. Hendaknya para pekerja dapat meningkatkan
tujuan akhirat dari pekerjaan yang mereka lakukan, dalam arti bukan sekedar memperoleh upah dan
imbalan, karena tujuan utama kerja adalah demi memperoleh keridhaan Allah Subhanahu wa Taala
sekaligus berkhidmat kepada umat. Etika bekerja yang disertai dengan ketakwaan merupakan
tuntunan Islam.
Setelah itu Tawakkal
Sebagai manusia, kita dibatasi untuk tidak bisa mengintip masa depan, kita hanya bisa mengambil
ibroh dari kejadian yang sudah berlalu. Namun hebatnya, kita bisa meminta petunjuk kepada Yang
Menguasai peta masa depan, dan ini kadang di lupakan oleh sebagian besar manusia. kepercayaan diri
yang berlebihan membuat kita secara berani menentukan pilihan hidup tanpa konsultasi dulu kepada
yang menguasai masa depan. Ketika akhirnya kita gagal barulah kita tersadar, ternyata kita salah,
barulah kita menangisi kebodohan dan kesombongan kita.
Sertakan selalu Allah dalam setiap pengambilan keputusan, pasrahkan kepada-Nya, mintalah
petunjuk, langkah terbaik yang harus kita ambil, setelah itu marilah kita lihat hasil ketawakalan kita.
Sebagaimana yang kita katakan tadi bahwa bukan berarti tawakal kalau kita hanya meminta tanpa
ikhtiar yang profesional.Ingat bagaimana Rasulullah menegur sahabatnya yang meninggalkan
kudanya tanpa di ikat?, sang sahabat menjawab bahwa dia tawakal, lalu Rasulullah menjawab,
ikatlah dulu kudamu itu barulah engkau tawakal kepada Allah.
Jangan Lupa Berdoa
ud uuni astajib lakum, artinya mintalah kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. setelah kita
mengerjakan semua mau-Nya, kemudian kita secara maksimal berusaha, lalu tinggal satu lagi yang
harus kita lakukan, yaitu berdoa.
Berdoa berarti kita menggantungkan asa kita kepada yang Maha Mengatur, mau bagaimana akhir dari
ikhtiar, bisnis atau apapun urusan kita terserah kepada Dia saja.
Kalau memang Dia memberikan seperti harap kita, maka bersyukurlah, namun jika tidak sesuai
dengan keinginan, maka bersabarlah biasanya hanya masalah waktu saja, kalau memang tidak juga
kesampaian maka ingatlah bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Allah, dan
kadangkala apa yang kita anggap tidak baik, menurut pandangan Allah itu baik.

Segala sesuatu yang hubungan nya dengan kebaikan jangan ragu-ragu


melakukannya ingat 3 hal
1. Mulai dari diri sendiri
2. Mulai dari hal yang kecil
3. Mulai dari sekarang

Profesionalitas Dalam Berprofesi


Digg Digg



#
Aku masih curiga terhadap nasihat uban yang putih di kepalaku # Padahal kedatangan uban
itu sepatutnya sudah tidak perlu dicurigai
(Qasidah burdah Imam al-Bushiri)
Hari-hari ini masalah yang timbul dalam mencukupi kebutuhan hidup (pangan, sandang,
dan papan) tidak hanya identik dengan jenis pekerjaan dan seberapa besar gaji yang
didapatkan darinya. Ada satu hal yang lebih penting, yakni jalan yang ditempuh untuk
mendapatkan rezeki Allh tersebut. Sebagus apa pun profesi yang kita kerjakan hari ini,
namun apabila cara yang dipakai tidak benar, jelas itu menjadi permasalahan.
Demi menempatkan sebuah keluarga dengan nafkah yang layak, terkadang apa yang
dikerjakan tidak menjadi pusat perhatian. Orientasi sebuah profesi hanya hasil akhir berupa
uang. Maka seringkali harta menjadi pemicu runtuhnya nilai kejujuran, kebaikan, dan
kemaslahatan dalam hal bekerja. Bahkan ada saja pemain-pemain nakal yang berkelakuan
tidak sepatutnya menurut Islam.
Di mata masyarakat, jenis profesi dapat dikategorikan sebagai definisi diri dan latar
belakang seseorang. Sebut saja pengacara, pastilah ia ahli hukum. Dokter, ahli mengobati.
Guru, ahli mengajar. Sebagai seorang ahli, tentu ia harus paham dengan nilai sebuah etika.
Jika etika bekerja itu dikesampingkan, maka gugurlah esensi profesi.
Esensi profesi bukan hanya semata-mata untuk mengejar harta. Bukan pula mengejar
jabatan. Harta dan jabatan hanyalah sebuah bingkai barang yang mudah hilang dan lapuk di
telan zaman. Profesi yang dijadikan lahan untuk menumpuk harta kekayaan hanya akan
membuat manusia menjadi tamak dan rakus. Bukankah telah kita saksikan riwayat Qarun
umat Nabi Musa as? Setelah menjadi kaya, mendadak sikap sombong muncul dalam lakunya.
Akhirnya Allh menghukumnya, ia tertimbun di dalam tanah beserta seluruh harta bendanya.
Ironis!
Ironi semacam ini, seperti banyak dimengerti, sering membuat buta nalar dan alpa etika.
Karena telah melumpuhkan nalar, maka tak jarang seseorang bekerja dengan berbagai
kecurangan. Sebab telah dililit kebutuhan hidup serba kekurangan, seseorang melakukan
pekerjaan yang tak pantas untuk dikerjakan. Entah itu, memanipulasi data yang menyebabkan
kebangkrutan atau mengurangi berat timbangan untuk memperoleh keuntungan.
Dalam praktik dunia kerja, apa pun itu ragam jenisnya sudah sepatutnya kita mengacu
pada prinsip dasar Islam. Wa tawan alal birri wat taqw. Wa l tawan alal itsmi wal
udwn. Wat taqullha, innallha syaddul iqb. Tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan

pelanggaran. Bertakwalah kepada Allh, sesungguhnya sangat berat siksa-Nya (QS alBaqarah [5]: 2).
Selain itu Dr. Yusuf Qardhawi dalam Halal wal Haram fil Islam mengingatkan bahwa,
Semua jalan untuk berusaha mencari uang yang tidak menghasilkan manfaat kepada
seseorang kecuali menjatuhkan orang lain, adalah tidak dibenarkan. Semua jalan yang saling
mendatangkan manfaat antara individu-individu dengan saling rela-merelakan dan adil adalah
dibenarkan.
Sampai di sini kita pasti sepakat jika mengambil kesimpulan bahwa sejumlah rezeki
yang dipergunakan untuk kebutuhan hidup kita pasti akan ada dampaknya. Jika dipergunakan
di jalan kebaikan, maka lahirlah kesejahteraan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika
dipergunakan di jalan kemungkaran, pastilah kesengsaraan yang merugikan yang akan kita
petik.
Maka, jangan pernah merasa heran jikalau ditemui hal-hal yang janggal dari kehidupan
kita. Dalam berbagai peristiwa, ada beberapa anak yang tidak patuh kepada orangtuanya,
bertindak onar, menjahili teman-temannya, tidak mau belajar dan seterusnya. Mungkin kita
perlu berinstropeksi diri. Apakah makanan yang dimakan dan pakaian yang dipakai oleh
anak-anak kita didapatkan dengan jalan yang benar, halal menurut Islam?
Bersyukurlah, jikalau hari ini kita menemui anak-anak yang selalu mematuhi setiap kata
orangtua dengan penuh takdzim, sholeh, rajin belajar dan beribadah. Hampir setiap orangtua
mengidam-idamkan seorang anak yang memenuhi kriteria tersebut. Itu artinya, jika ingin
mencapai cita-cita tersebut etika dan nilai-nilai dalam bekerja harus dipenuhi. Bukankah kita
sama-sama mengetahui bahwa anak soleh yang mendoakan orangtuanya yang dapat
membatunya kelak di akhirat?
Sekurang-kurangnya ada dua rute yang bisa ditempuh agar profesi yang kita jalani bisa
mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri beserta keluarga dan melahirkan kemaslahatan
manusia. Rute pertama ada di tingkat kemampuan untuk bekerja, yaitu profesionalitas. Rute
kedua ada di tingkat kewajiban yang harus dibayar berupa zakat profesi.
Profesionalitas
Pada tingkatan yang pertama ini kebanyakan orang salah persepsi dalam menerjemahkan
arti kata profesional. Di benak masyarakat, ada dua jenis kriteria suatu profesi. Profesi yang
diketegorikan profesional dan remeh-temeh. Jika menyebut kata profesional tentulah
kita langsung merujuk kepada, misalnya, dokter, manager, direktur perusahaan, dan
seterusnya. Berbeda halnya dengan profesi petani, yang terkesan remeh-temeh. Bahkan
terkesan, petani bukanlah profesi. Bukankah jarang kita mendengar ada istilah petani
profesional?
Di sini terasa dilema makna yang terkandung dari kata profesional. Seolah-olah hanya
diperuntukkan khusus bagi golongan tertentu. Profesi (apapun jenisnya) hanya bisa dikatakan

bersifat profesional apabila jalan yang ditempuh untuk menyelesaikannya secara benar dan
hasil yang dicapai sama seperti tujuan pekerjaan itu.
Itulah sebabnya profesional adalah proses. Dalam bahasa Indonesia kata sifat kadangkadang bisa berfungsi menjadi kata kerja: daun adalah hijau itu juga berarti daun menghijau.
Maka Dokter profesional dapat berarti kesempurnaan dalam bekerja, tapi bisa juga
berarti, Dokter menjalankan profesinya dengan baik seperti kata menghijau kerja itu masih
terus-menerus berlangsung.
Pernah ada lelucon pahit. Seseorang yang sudah 20 tahun bekerja nasibnya tak jadi lebih
baik bahkan memburuk, bertanya: kapan saya menjadi profesional? Jika kita lihat
profesional adalah sebuah laku, maka pertanyaan itu tak akan pernah terucap. Sebab laku
yang berlangsung dalam kerja adalah prosestak punya titik di depan untuk berhenti.
Sehingga, bisakah kita menyebut golongan tua yang sudah pensiun sebagai pekerja
profesional? Tentu bisa, asalkan ia masih bisa menyelesaikan tugas yang diberikan dengan
hasil yang bagus dan memuaskan.
Ada sebuah adagium yang menarik untuk disimak Work is where you play, artinya
bekerja adalah tempat dimana kamu bermain. Dengan kata lain, ritual kerja yang dilakukan
menjadi enak, nyaman, dan tiada beban jika seseorang mengerjakannya seperti halnya saat
sedang bermain. Tentu hal ini menjadi impian setiap orang. Betapa tidak, beratnya beban
menjadi tidak terasa di kala rasa suka terhadap pekerjaan yang sedang dijalankan.
Namun, yang harus digarisbahawi di sini bukan hanya perasaan suka semata. Prinsip
bekerja di dalam Islam tidak bisa dilandaskan pada perasaan sesuka hatinya dan dengan jalan
apapun yang ditempuh dalam mencari rezeki. Alangkah lebih baiknya jika rasa suka terhadap
pekerjaan itu juga ditambah aplikasi nilai dari, Work is the road to help others person,
bekerja juga jalan untuk membantu orang lain. Inilah dasar yang menjadi lahirnya rute kedua,
yakni zakat profesi.
Zakat Profesi
Pada rute kedua ini, ada baiknya kita sama-sama berefleksi sejenak. Uang dan harta yang
kita peroleh sebagai kompensasi dari kerja, kita gunakan untuk apa saja? Sudahkah kita
membantu meringankan beban orang dhif (lemah) dengan hasil usaha kita?
Di barat, istilah hasil profesi yang dipergunakan untuk membantu orang yang
membutuhkan dikenal dengan charity (amal/derma). Namun, Islam juga mengenalkan hal
serupa, yakni zakat, infaq dan shadaqah. Dan hal inilah yang terkadang dilupakan oleh
sebagian orang. Padahal fungsi dari zakat itu sendiri adalah untuk menyucikan harta yang
telah kita peroleh.
Apakah kita bisa menjamin bahwa uang dan harta yang kita terima merupakan harta yang
halal menurut Islam? Apakah kita mengetahui jikalau ada unsur ke-shubhat-an pada harta itu?
Pasti kita tidak menginginkan adanya unsur nila setitik, rusak susu sebelanga, karena

keburukan sedikit, maka rusak semuanya. Maka, salah satunya jalan yang bisa diambil adalah
berikanlah sedikit harta bendamu untuk orang yang membutuhkan.
Akumulasi rute pertama dan kedua ini sesungguhnya adalah sebagian dari harta-harta tak
terlihat (intangible) yang menjadikan sosok seperti Nabi Muhammad saw dipercaya dalam
profesi perdagangan. Kemampuan manusia untuk mengolah harta-harta tak terlihat inilah
(kepercayaan, pengetahuan, charity, pembelajaran, dan etika) yang masih harus terus
menerus dipupuk oleh para pemegang profesi untuk menjaga amanah yang telah diberikan
Allh swt. Wallhu alam bi ash-shawb. []
Ahmad Said
Mahasiswa Ilmu Kimia UII

PROFESIONALISME MENURUT ISLAM

Segala puji bagi Allah SWT karena nikmat-Nya kita bisa diberi kesempatan untuk beribadah kpd Nya,
dan semoga kita selalu diberi keberkahan oleh Allah swt dalam kehidupan kita sehari-hari. Islam
mensyariatkan agar umatnya selalu bekerja di setiap waktu, bertebaran di muka bumi untuk mencari
karunia dan rezeki yang telah disiapkan-Nya. Allah berfirman dalam dalam surat Al Mulk : 15
Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan
makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada mahluknya untuk mencari rejeki, Karena
sesungguhnya Allah telah memudahkan bumi ini bagi manusia untuk mencari sumber-sumber
kehidupan. Sungguh amat besar kesalahan seseorang jika mempersepsikan rejeki dengan hanya
bertawakal tanpa ada usaha untuk mendapatkannya dengan menunggu-nunggu datangnya keajaiban
dari langit. Pasrah pada Allah tidak berarti meninggalkan amal berupa bekerja. Seperti yang pernah
rasul katakan : Semaikanlah benih, kemudian mohonkanlah buah dari Rabbmu. Allah memang telah
berjanji akan memberikan rizki kepada semua makhluq-Nya. Akan tetapi janji ini tidak dengan cek
kosong, seseorang akan mendapatkan rizki kalau ia mau berusaha, berjalan dan bertebaran di
penjuru-penjuru bumi. Karena Allah menciptakan bumi dan seisinya untuk kemakmuran manusia.
Siapa yang mau berusaha dan bekerja ialah yang akan mendapat rizki dan rahmat dari Allah. Di ayat
lain Allah berfirman :
Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah
dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumah : 10)

Jadi niatkanlah bekerja itu hanya untuk mencari ridha Allah semata, dengan selalu mengingat-ingat
Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Subhanallah, Allah pemilik kekayaan yang ada di
bumi dan langit ini mintalah maka Allah akan mengabulkan permintaanmu. Bekerjalah
sesungguhnya Allah, rasul dan umat muslim melihat hasil .pekerjaanmu. Rasulullah bersabda :
Pekerjaan terbaik adalah usahanya seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual-beli itu
baik. (HR. Ahmad, Baihaqi dll)
Kita telah mengatahui bagaimana kekasih-kekasih Allah rasul, nabi, sahabat para ulama. Bekerja
keras dengan tangannya sendiri. Kita melihat Rasul menggembala kambing, nabi daud bekerja
sebagai pandai besi, sahabat Abdurrahman Bin Auf berdagang di pasar. Dan tidak sedikit ulamaulama besar kita menjadi kuli panggul di pasar. Apakah kita tidak malu jika dibandingkan dengan
mereka yang jauh-jauh lebih mulia lebih luas ilmunya jika kita tidak memanfaatkan waktu yang kita
miliki untuk bekerja. Apakah kita tidak malu kepada burung-burung yang berterbangan di waktu pagi
untuk mencari makanan. Dan pulang pada sore harinya dengan perut kenyang. Seperti rasul
sampaikan :
Burung berangkat pagi hari dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut penuh
makanan. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Islam mensyariahkan kita untuk Menjaga Amanah, Disiplin serta Profesional dalam Bekerja Seorang
yang dapat menjaga amanah, disiplin dan profesional dalam bekerja akan memberikan kontribusi
yang signifikan. Untuk itulah As-Syahid Hasan Al-Banna mengungkapkan hal ini dalam kewajiban AlAkh pada no. 17 dan 18. 1. Menjaga Amanah Allah telah mewajibkan amanah dalam Al-Quran :
sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(QS. An-Nisaa : 58).
[1]Menjaga dan menepati amanah adalah kewajiban syariat. Terlebih lagi amanah yang diberikan
adalah yang berhubungan dengan pekerjaan. Yang dimaksud dengan amanah adalah mengembalikan
hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak megurangi hak
orang lain. Orang yang tidak amanah dalam bekerja menurut Rasul tergolong kedalam orang yang
munafik (dalam Hadits sahihaini)
b) Profesionalisme dalam Kerja Allah berfirman,
tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya (keahliannya) masing-masing. Maka Tuhanmu lebih
mngetahui siapa yang lebih benar (profesional) jalannya.(QS. Al-Isra : 84).
Sejarah Islam telah membuktikan bahwa sahabat-sahabat Rasulilah berhasil dalam berdakwah dan
bekerja tidak lepas pula dari keberjasilannya dalam bekerja. 9 dari 10 dari generasi pertama adalah
para saudagar kaya. Profesionalitas yang ditunjukan oleh para saudagar Islam telah menjadi bukti
bahwa engan profesional kita akan sukses menggapai cita-cita yang kita inginkan.
c). Disiplin Disiplin adalah kata kunci ketiga dalam keberhasilan sebuah kerja. Tanpa kedisiplinan
tidak mungkin sebuah pekerjaan akan seleai dengan baik justru jika tidak disiplin maka amanah yang
kita jalankan akan berhenti di tengah jalan. Kasus yang nyata adalah kurang disiplinnya sahabat saat
perang Uhud, sehingga kekalahan justru melanda kaum muslimin. Padahal selama ini pasukan

muslimin selalu menang dalam setiap pertempuran. Disiplin akan membuat hidup seseorang
bermakna dan berguna. Hendaklah kita dalam melakukan pekerjaan diniatkan untuk Allah SWT,
jangan terlalu memperhatikan hasil, karena hasil itu mutlak kekuasaan Allah. Berusahalah dan
senantiasa mengisi waktu dengan hal-hal posititif dan bermanfaat. Bukan bekerja keras karena belum
tentu kerja keras itu menghasilkan hasil maksimal tetapi bekerjalah secara cerdas sesuai dengan
kemampuan kita masing-masing. Dari Allah lah kebaikan dan hikmah

Ciri Profesional Unggul dalam Al-Quran


April 21st, 2010 in Aqidah, Harta Kekayaan | 4 Comments

Setiap individu dewasa tentu memiliki profesi hidup sesuai kadar keahlian,
pengalaman dan latar belakang pendidikan. Dalam menekuni profesi ini
tentunya menginginkan kesuksesan, agar memperoleh kehidupan yang lebih baik . Al-Quran
sebagai pegangan hidup setiap muslim, memberikan kiat agar menjadi profesional unggul di
bidangnya masing-masing. Jaminannya, tidak hanya sukses di dunia namun juga di
akhirat.
Alloh SWT menceritakan ciri-ciri pekerja (profesional) yang baik dalam beberapa ayat alQuran, salah satunya dalam QS al-Qashas 26. Dikisahkan dalam ayat ini, salah seorang putri
Syuaib menasehati ayahnya agar menjadikan nabi Musa as sebagai pegawai penggembala
kambingnya.
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang
bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk
bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.
Dalam ayat ini, Alloh SWT memberikan penjelasan bahwa pekerja yang baik (penggembala
kambing) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.
Dalam ayat lain, Alloh SWT menceritakan dalam QS Yusuf 55 mengenai permintaan nabi
Yusuf as kepada raja, agar ia dijadikan sebagai staff keuangan negara.
Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah
orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kriteria pekerja yang baik (staff keuangan negara) adalah
yang pandai menjaga dan berpengetahuan.
Selanjutnya dalam ayat lain, Alloh SWT menceritakan dalam QS al-Baqoroh 247 tentang raja
Thalut. Bani Israil meminta diberikan pemimpin perang untuk mengalahkan Djalut. Mereka
memiliki paradigma bahwa seorang pemimpin haruslah seorang yang kaya. Namun
paradigma itu dibantah nabi.
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mengangkat thalut
menjadi rajamu. Mereka menjawab: bagaimana thalut memerintah kami, padahal kami
lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi
kekayaan yang banyak? (nabi mereka) berkata: Sesungguhnya Allah telah memilihnya
menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kriteria pemimpin perang yang baik adalah memiliki ilmu
yang luas dan tubuh yang perkasa.
Dari penjelasan ketiga ayat diatas, kita bisa mengambil benang merah bahwa profesional
yang unggul yang dijelaskan dalam al-Quran haruslah memiliki 3 kekuatan yakni
kekuaran fisik, kekuatan pengetahuan (knowledge) dan kekuatan attitude
(amanah). Ketiga sifat ini haruslah dimiliki secara terintegrasi bukan parsial. Apalah artinya
memiliki kecerdasan dan fisik yang baik jika tidak diimbangi dengan sifat amanah. Yang ada,
akan mendapatkan kehancuran bagi diri dan lingkungan sekitarnya.
Lalu, bagaimana agar kita bisa memperoleh ketiga kekuatan tersebut??
Nabi Muhammad saw pernah bersabda Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin
yang lemah. Dalam hal ini Nabi memuji seorang mukmin yang kuat dibandingkan mukmin
yang lemah. Para ahli menafsirkan bahwa kuat yang dimaksud di sini tidak hanya kuat
secara fisik namun yang terpenting adalah kuat dalam keyakinan.
Ternyata, inilah sifat utama yang harus kita miliki agar bisa menggapai kesuksesan dalam
meniti karir profesional. Langkah pertama, pelajarilah keyakinan ajaran islam dengan
sungguh-sungguh, agar memiliki Way of Thingking aqidah Islam yang benar. Karena dengan
keyakinan yang kuat dan kokoh, secara otomatis akan mendorong kemauan yang kuat untuk
berbuat sesuatu yang positif. Akhirnya, kekuatan yang lainnya pun akan diperoleh.
Fenomena ini sudah dibuktikan sendiri oleh nabi Muhammad selama beliau membina para
sahabat. Dengan kekuatan keyakinan, Rosululloh telah mencetak para sahabat yang asalnya
gerombolan yang tidak teratur di tengah padang pasir, berubah menjadi umat manusia
terbaik sepanjang sejarah. Jadilah meraka sebagai komunitas dengan budaya agung yang
menguasai sepertiga dunia dalam waktu relatif singkat.
Demikianlah al-Quran dan Hadits Nabi memberikan petunjuk bagi mereka yang
menginginkan kesuksesan profesional yang hakiki, dunia dan akhirat