Anda di halaman 1dari 9

Hak dan Kewajiban Guru Sebagai Tenaga Profesional

31 Oktober 20120
http://prismabekasi.blogspot.com/2012/10/hak-dan-kewajiban-guru-sebagai-tenaga.html

komentar Akhir-akhir ini banyak orang menggugat apa yang menjadi haknya, tetapi sangat
sedikit orang meempertanyakan pada dirinya apa yang menjadi kewajiban dan bagaimana
kewajiban itu dilaksanakan.Akibat besarnya tuntutan terhadap hak sering kali juga
mengabaikan hak-hak orang lain. Guru sebagai profesi yang diberi pridiket pahlawan tanpa
jasa, berdemo menuntut hak terasa sangat kontradiktif dengan pridiketnya itu, akan tetapi
itulah realitas yang akhir-akhir ini terjadi. Dalam ajaran Islam memang tidak dikenal
terminologi hak, kecuali dalam arti kewajiban, karena sesungguhnya yang disebut hak adalah
sesuatu yang menyertai kewajiban. Atau dengan kata lain ada kewajiban pasti ada hak, dan
tidak akan pernah ada hak tanpa kewajiban. Di dalam UU RI No.20 tahun 2003 Bab IV pasal
14 ayat 1 dan 2 dijelaskan sbb. (1)
berhak : a.

Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan nya guru

Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan

kesejahteraan sosial. Kebutuhan minimum itu seperti apa dan jika diukur dengan rupiah
berapa masih perlu dijelaskan lebih lanjut. Demikian pula jaminan kesejahteraan sosial
meliputi apa saja masih diperlukan penjelasan dan implementasi. Di dalam pasal 15 ayat 1
dijelaskan bahwa kebutuhan minimum sebagaimana dimaksud ps 14 meliputi gaji pokok,
tunjangan melekat, tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat
tambahan serta penghargaan atas dasar prestasi. b.

Mendapatkan promosi dan penghargaan

sesuai tugas dan prestasi kerja. Hak ini mencakup semua guru pada semua jenjang pendidikan
tanpa membedakan apakah ia PNS atau guru Swasta dan tanpa membedakan status sekolah
apakah ia mengajar di sekolah/madrasah swasta atau pun di sekolah/madrasah negeri. c.
Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual.
Sebagai tugas profesional guru harus mengembangkan keprofesionalannya, melalui karyakarya pengembangan akademik yang dia tulis, dan yang ia temukan. Karya tulis dan karya
penemuannya akan mendapatkan hak intelektual yang dilindungi secara perundangan. Karena
itu juga guru tidak boleh melakukan plagiat atas karya-karya orang lain. d.

Memperoleh

kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; Agar pengetahuan dan pengalaman guru


berkembang, maka ia berhak mengikuti kegiatan-kegiatan baik tingkat lokal nsional maupun
internasaional yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. e.
Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang
kelancaran tugas profesionalnya. Agar guru bisa mendapatkan layanan sebagaimana

diamanatkan undang-undang, maka BSNP menetapkan standar minimal sarana dan prasarana.
Bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan.Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang
kelas, ruang pimpinan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa,
tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, dan ruang lainnya
yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. f.
Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan,
penghargaan, dan/atau sangsi kepada peserta didik sesuai kaidah pendidikan, kode etik guru,
dan peraturan perundangan-undangan. Kewenangan ini belum sepenuhnya berjalan dimiliki
guru termasuk penentuan kelulusan. Mengapa demikian karena hak ini nampaknya tidak
secara otomatis melekat pada tiap guru, akan tetapi terkait dengan kemampuan pada masingmasing guru. g.

Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan

tugas. Hak ini juga tidak mudah dilaksanakan karena rasa aman seperti apa dan jaminan
keselamatan seperti apa? Secara tehnis harus ada patokan-patokan jika terjadi sesuatu pada
diri guru dalam menjalankan tugasnya apakah terasuransikan dan seperti apa proteksinya,
sehingga guru tidak perlu khawatir apapun dalam melaksanakan tugas profesinya. h.
Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi. Memang dalam rangka
mengembangkan kompetensi sosial guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengajar
tetapi juga harus mempunyai kemampuan berorganisasi. Akan tetapi persoalannya terkait
dengan waktu yang dipunyai memungkinkan untuk itu apa tidak? Dan apakah organisasi
profesi yangt ada dapat menanmpung dan dapat melakukan pembinaan secara intensif. i.
Memilki kesempatan untuk berperan dalam menentukan kebijakan pendidikan. Melalui hak
ini guru sebenarnya harus manusia yang serba bisa dan luar biasa, seba kebijakan pendidikan
itu terkait dengan sesuatu yang strategis, terkait dengan pikiran-pikiran genieus yang
menghasilkan kebijakan pendidikan yang berkeadilan. Kenyataan menunjukkan tidak semua
guru mempunyai pokok pikiran besar dan gagasan ideal yang kreatif dan inovatif. Karena itu
hak-hak seperti ini harus menjadi hak yang nyata terealisasi, dan ini memerlukan pelatihanpelatihan membuat workplan dan action plan. j.

Memperoleh kesempatan untuk

mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi. Hak ini penting
diberikan

sehubungan

bahwa

kualifikasi

akademik

baru

diberlakukan

setelah

diundangkannya sitem pendidikan nasional tahun 2003. Dan baru implementasi intensif

setelah diundangkannya UUGD tahun 2005. Padahal banyak guru dalam jabatan yang
kualifikasi akademiknya belum S 1. Terkait dengan hak ini juga pemerintah harus
menyiapkan dana pelaksanaan program kualifikasi. k.

Memperoleh pelatihan dan

pengembangan profesi dalam bidangnya. Hak ini terkait dengan penyelenggaraan pelatihanpelatihan yang harus difasilitasi oleh pusat maupun pemda agar SDM guru yang berada di
daerahnya memiliki kinerja yang unggul dan kompetitif. Adapun yang menjadi kewajiban
guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya adalah : 1.

merencanakan

pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan


mengevaluasi hasil pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran yang bermutu tentu terkait
dengan pemilihan metode, terkait dengan ketersediaan media, dan kesiapan si pembelajar
baik secara fisik maupun psikis. Karena itulah kini dikembangkan sebuah pendekatan
PAIKEM ( yaitu pendekatan pembelajaran aktif inovatif, kreatif efektif dan menyenangkan).
Agar pembelajaran bisa menyenangkan peserta didik harus mengetahui pentingnya apa yang
sedang dipelajari. 2.

meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan

kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi


dan seni. Poin ini ada pada hak guru dan ada pada kewajiban guru. Perlu dijelaskan
perbedaannya. 3.

bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis

kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial
ekonomi peserta didik dalam pembelajaran. Guru pada dasarnya wajib mengetahui dan
memahami perbedaan individu peserta didik, akan tetapi bukan untuk perlakuan
diskriminatif,

melainkan

untuk

kepentingan

pemberian

layanan

bagi

kesuksesan

pembelajaran. Undang-undang telah memberi jaminan bagi warga negaranya untuk mendapat
hak yang sama dalam pembelajaran, namun sering kali dalam praktek yang terjadi di
lapangan porsi terbanyak direbut oleh kelompok sosial tertentu. Karena itu praktek dari
ketentuan ini membutuhkan pengawasan dan penegakan hak asasi secara berkeadilan dan
pemerataan yang proporsional. 4.

menjunjung tinggi perundang-undangan, hukum dan

kode etik guru serta nilai-nilai agama dan etika. Kita sering kali mendengar adanya oknum
guru yang terlibat persoalan-persoalan kriminal, dan pelanggaran norma agama maupun
etika. Banyak faktor yang menjadi penyebab dan pemicunya. Kita bisa berdiskusi tentang ini
secara panjang lebar. 5.

memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Rasa

solidaritas kita dan nasinalisme kita pada era reformasi ini makin terasa renggang.
Persoalannya bisa karena kurang pembinaan, bisa juga karena tekanan-tekanan sosial yang
tidak tersalurkan sehingga melahirkan sikap-sikap apatis dan egois yang tinggi untuk
memperoleh pengakuan atas jati diri. Karena itu potensi keretakan antar suku, ras, bahasa,

agama dan budaya ini perpu ada wadah profesi pembinaan, untuk memupuk rasa
kebersamaan dalam membangun bangsa ke depan yang berprestasi dan berprestise. bersedia
berdedikasi tinggi dan melaksanakan tugas di manapun jika diperlukan demi pengabdian
kepada nusa dan bangsa. Itu sebabnya pemerintah mengatur perlunya ada tunjangan khusus
untuk guru-guru yang ditugaskan di daerah terpencil. Namun tidak mudah mendorong
seseorang bersedia ditempatkan mengajar di daerah terpencil, kecuali SDM dari daerah
setempat memadai dan memiliki kompetensi yang telah ditentukan. Karena itu selalu terjadi
adanya ketidak merataan dari komposisi guru antara di kota-kota dengan di daerah lebih-lebih
di daerah terpencil.

Copy and WIN : http://ow.ly/KfYkt

Syarat Guru sebagai Profesi, Hak dan Kewajiban Guru


http://gurusemesta.blogspot.com/2014/04/syarat-gurusebagai-profesi-hak-dan.html
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Di dalam dunia pendidikan selalu ada unsur pendidik dan peserta didik. Pendidik dalam
pendidikan jalur formal yaitu guru. Guru sebagai pemangku tanggung jawab dalam proses
pembelajaran harus mengerti dan memahami bagaimana berprilaku sebagai contoh untuk
anak didiknya. Oleh karena itu, guru yang diciptakan harus dari pendidikan keguruan
tertentu.
Pekerjaan menjadi seorang guru itu bukan hanya sekedar bekerja, namun guru itu
sebagai pekerjaan profesi. Untuk itu dibutuhkan syarat-syarat untuk guru sebagai profesi.
Para guru yang disebut sebagai guru profesional hendaknya berusaha untuk
membangun kinerja baru yang lebih berbobot dan bernilai. Makalah ini menyoroti hak dan
kewajiban seorang guru profesional dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai guru

profesional. Gambaran tentang jabatan guru telah bergeser ke arah profesi dan bukan pada
pekerjaan. Maka kita perlu memahami guru sebagai sebuah profesi yang merupakan tuntutan
yang harus diemban oleh seorang guru profesional.

1.
2.
3.
4.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah yakni:
Apa sajakah syarat guru?
Apa sajakah syarat guru sebagai profesi?
Apa saja kewajiban guru yang wajab dilaksanakan?
Apa hak yang didapatkan dari seorang guru?

1.
2.
3.
4.

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka diperoleh tujuan penulisan sebagai berikut:
Mengetahui apa saja syarat-syarat guru.
Mengetahui syarat guru sebagai profesi.
Mengetahui kewajiban guru yang wajab dilaksanakan.
Mengetahui hak yang didapatkan dari seorang guru.

BAB II
PEMBAHASAN
A.
Syarat Guru
1. Syarat Keguruan
Pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 42 ayat (1)
Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang

kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal ini sangat jelas dikatakan bahwa guru
di Indonesia harus memiliki kualifikasi minimum serta harus mengikuti sertifikasi untuk
meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru.
Kemudian dijelaskan lagi pada Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen pada pasal 8, pasal 9, dan pasal 10. Pasal 8 berbunyi Guru wajib memiliki kualifikasi
akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 9 berbunyi Kualifikasi
akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program
sarjana atau program diploma empat. Sedangkan pada pasal 10 tertulis Kompetensi guru
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui
pendidikan profesi.
a. Kualifikasi Akademik Guru
Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru lebih lanjut diatur dalam Peraturaan
Menteri Pendidikan Nasonal Nomor 16 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (1) Setiap guru wajib
memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional..
Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 kualifikasi akademik yang
harus dimiliki oleh guru meliputi:
1) Kualifikasi akademik Guru PAUD / TK / RA Guru pada PAUD, TK, RA harus memiliki
kualifikasi akademik minimum Diploma 4 ( D4 ) atau sarjana ( S1 ) dalam bidang pendidikan
anak usia dini atau psikologi yang diperolah dari program studi yang terakreditasi.
2) Kualifikasi akademik Guru SD / MI Guru pada SD dan MI harus memiliki kualifikasi
akademik minimum Diploma 4 ( D4 ) atau sarjana ( S1 ) dalam bidang pendidikan SD/MI
atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang ter akreditasi.
3) Kualifikasi akademik Guru SMP / MTS Guru pada SMP dan MTS harus memiliki kualifikasi
akademik minimum Diploma 4 ( D4 ) atau sarjana ( S1 ) program studi yang sesuai dengan
mata pelajaran yang di ajarkan serta diperoleh dari program studi yang ter akreditasi.
4) Kualifikasi akademik Guru SMA / MA Guru pada SMA dan MA harus memiliki kualifikasi
akademik minimum Diploma 4 ( D4 ) atau sarjana ( S1 ) program studi yang sesuai dengan
mata pelajaran yang di ajarkan serta diperoleh dari program studi yang ter akreditasi
5) Kualifikasi akademik Guru SDLB / SMPLB / SMALB Guru pada SDLB, SMPLB dan
SMALB harus memiliki kualifikasi akademik minimum Diploma 4 ( D4 ) atau sarjana ( S1 )
dalam bidang pendidikan khusus atau program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang
di ajarkan serta diperoleh dari program studi yang ter akreditasi.
6) Kualifikasi akademik Guru SMK / MAK Guru pada SMA dan MAK harus memiliki
kualifikasi akademik minimum Diploma 4 ( D4 ) atau sarjana ( S1 ) program studi yang
sesuai dengan mata pelajaran yang di ajarkan serta diperoleh dari program studi yang
terakreditasi.
b. Kompetensi Guru
Kompetensi guru yang dijelaskan pada Permendiknas No.16 Tahun 2007 dikembangkan
secara utuh dalam empat kompetensi utama yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial,
dan professional. Kompetensi inti guru meliputi:
1) Kompetensi Pedagogik
Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan
intelektual.

Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.


Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
Memafaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan
kegiatan pengembangan yang mendidik.
Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimiliki
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
2) Kompetensi Kepribadian
Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta
didik dan masyarakat
Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa
Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa
percaya diri.
Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
3) Kompetensi Sosial
Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis
kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki
keragaman sosial budaya.
Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan
atau bentuk lain.
4) Kompetensi Profesional
Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan
yang diampu.
Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan
reflektif.
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan
mengembangkan diri.
c. Sertifikat Pendidik
Diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan
dosen Pasal 11, yaitu:
1) Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diberikan kepada guru yang telah
memenuhi persyaratan.
2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program
pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah.
3) Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel.

4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bunyi Pasal 12 adalah setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki
kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.
2. Syarat Guru
Adapun persyaratan pengadaan tenaga pendidik di atur dalam PP 38 / 1992 pada pasal 9
ayat 1 yaitu :
a) Sehat jasmani dan rohani yang di nyatakan dengan tanda bukti dari yang berwenang, yang
meliputi : tidak menderita penyakit menahun (kronis) dan / atau yang menular, tidak memiliki
cacat tubuh yang dapat menghambat pelaksanaan tugas sebagai tenaga pendidik, dan tidak
menderita kelainan mental.
b) Berkepribadian, yang meliputi : beriman dan bertakwa kepeda tuhan yang maha esa, dan
berkepribadian pancasila.
Dalam PP diatas disebutkan bahwa setiap orang yang ingin menjadi guru atau tenaga
pendidik harus memiliki kesehatan jasmani dan rohani. Sehat jasmani dapat dilihat
dibuktikan dengan tidak pernah menderita penyakit kronis atau menular, tidak memiliki
cacat, dan tidak memiliki kelainan mental. PP 38/1992 juga menuliskan bahwa tenaga
pendidik harus memiliki kepribadian seperti beriman dan bertakwa pada tuhan yang maha
esa, dan berkeperibadian Pancasila.

1.
2.

3.

4.

5.

B.
Syarat Guru sebagai Profesi
Guru dapat disebut sebagai suatu pekerjaan. Akan tetapi, guru juga dapat dikatakan
sebagai suatu profesi jika memenuhi syarat-syarat sebagai profesi.Berikut merupakan ciri
guru yang memenuhi syarat profesi, yaitu:
Guru memiliki cakupan ranah kawasan pekerjaan atau pelayanan khas, definitif dan sangat
penting dan dibutuhkan masyarakat.
Para pengemban tugas pekerjaan atau pelayanan tersebut telah memiliki wawasan,
pemahaman, dan penguasaan pengetahuan serta perangkat teoritis yang relevan secara luas
dan mendalam; mengauasai perangkat kemahiran teknis kinerja pelayanan memadai
persayaratan standarnya; memiliki sikap profesi dan semangat pengabdian yang positif dan
tinggi; serta kepribadian yang mantap dan mandiri dalam menunaikan tugas yang
diembannya dengan selalu mempedomani dan mengindahkan kode etika yang digariskan
institusi (organinasi) profesinya.
Guru memiliki sistem pendidikan yang mantap yaitu lulusan D4/S1 dalam pendidikan dari
program yang sudah terakreditasi dan mapan berdasarkan ketentuan persyaratan standarnya
bagi penyiapan (preservice) mapun pengembangan (inservice, continuing, development)
tenaga pengemban tugas pekerjaan profesioanl yang bersangkutan, yang lazimnya
diselenggarakan pada jenjang pendidikan tinggi berikut lembaga lain dan organisasi
profesinya secara bersangkutan.
Memiliki peragkat kode etik profesional yang telah disepakati dan selau dipatuhi serta
dipedomani para anggota pengemban tugas pekerjaan atau pelayanan profesinal yang
bersangkutan.
Guru memiliki organisasi profesi bernama PGRI yang memiliki badan hukum. Organisasi
profesi berfungsi untuk menghimpun, membina, dan mengembangkan kemampuan

profesional, melindungi kepentingan profesional serta memajukan kesejahteraan anggotanya


dengan senantiasa mengindahkan kode etiknya dan ketentuan oraganisasinya.
6. Guru memiliki jurnal dan sarana publikasi profesional lainnya yang menyajikan berbagai
karya penelitian dan kegiatan ilmiah sebagai edia pembinaan dan pengembangan para
anggotanya serta pengabdian kepada masyarakat dan khazanah ilmu pengetahuan yang
menopang profesinya.
7. Guru memperoleh pengakuan dan penghargaan selayaknya baik secara sosial (dari
masyarakat) dan secara legal (dari pemerintah secara bersangkutan atau keberadaan dan
kemanfaatan profesi termaksud).

1.
2.
3.

4.
5.

C.
Kewajiban Guru
Kewajiban Guru Profesional termuat di dalam pasal 20 UU No.14 Tahun 2005, kami
akan mengemukakan semua kewajiban guru profesional ini sambil terus menyesuaikan
dengan kewajiban-kewajiban yang urgen sebagai guru di sekolah. Kewajiban-kewajiban guru
professional, meliputi:
Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai
dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara
berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama,
suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi
peserta didik dalam pembelajaran;
Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilainilai agama dan etika; dan
Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Hak Guru
Hak-hak guru profesional terdapat pada pasal 14 UU Guru dan Dosen No.14 Tahun
2005, meliputi :
1.
Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan
kesejahteraan sosial;
2.
Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
3.
Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan
intelektual;
4.
Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
5.
Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang
kelancaran tugas keprofesionalan;
6.
Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan,
penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode
etik guru dan peraturan perundang-undangan;
7.
Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
8.
Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi;
9.
Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan;
10.
Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi
akademik dan kompetensi; dan/atau
Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.
D.