Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH Undang-undang Guru dan Dosen dapat

Meningkatkan Kualitas Professional Guru


Oleh Muhammad Abdul Aziz
Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia merupakan cerminan rendahnya kualitas
sistem pendidikan nasional. Rendahnya kualitas dan kompetensi guru secara umum, semakin
membuat laju perkembangan pendidikan belum maksimal. Guru kita dianggap belum
memiliki profesionalitas yang baik untuk kemajuan pendidikan secara global. Salah satu
kambing yang paling hitam yang jadi penyebab semua ini adalah rendahnya kesejahteraan
Guru.
Pendidikan di Indonesia berada di bawah kualitas, ini dibuktikan bahwa indeks
pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Kualitas pendidikan di Indonesia berada
pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Indonesia memiliki daya saing yang rendah Dan
masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower
bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. Yang kita rasakan sekarang
adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun
informal. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya
manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat
meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber
daya manusia di negara-negara lain. Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang
serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan
di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah
yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya
menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa
di berbagai bidang. Maka dalam makalah ini, penulis dalam malakah ini ingin lebih
menyoroti tentang Undang-Undang guru dan dosen dapat meningkatkan kualitas professional
guru. Dalam pelaksanaan Undang-Undang guru dan dosen itu sudah terlaksana sesuai dengan
apa yang diinginkan oleh tujuan pendidikan nasional.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kondisi Pendidikan di Indoonesia?
2.
3.

Bagaimana hubungan kualitas profesional guru, kualitas produk pendidikan dengan Implementasi Undang-Undang guru
dan dosen?
Bagaimana cara meningkatkan kualitas profesional guru?

C. Tujuan
1. Mengetahui kondisi pendidikan di Indonesia.
2. Mengetahui hubungan kualitas profesional guru, kualitas produk pendidikan dengan
implementasi Undang-Undang guru dan dosen.
3. Mengetahui cara meningkatkan kualitas profesional guru.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Pendidikan di Indonesia

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan


antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia
(Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan,
kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan
manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati
urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).Memasuki abad ke21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh
kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan
bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal
yang
mendasar.
(http://meilanikasim.wordpress.com/2009/03/08/makalah-masalahpendidikan-di-Indonesia).
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan.
Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita
membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam
meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu,
kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah
bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.Setelah kita amati, nampak jelas
bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah
rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun
informal. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah
efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran. Adapun permasalahan khusus dalam dunia
pendidikan yaitu:(1). Rendahnya sarana fisik,(2). Rendahnya kualitas guru,(3). Rendahnya
kesejahteraan guru,(4). Rendahnya prestasi siswa,(5). Rendahnya kesempatan pemerataan
pendidikan,(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,(7). Mahalnya biaya
pendidikan.
Permasalahan-permasalahan yang muncul maka pemerintah mengeluarkan undangundang guru dan dosen dan melakukan perbaikan di berbagai hal pada masalah pendidikan
yaitu pemberian anggaran di APBN 20% untuk pendidikan. Yang berguna untuk memajukan
pendidikan nasional dan meningkatkan kualitas keprofesionala pengajar di Indonesia.
B. Hubungan Kualitas Profesional Guru, Kualitas Produk Pendidikan dengan
Implementasi Undang-Undang Guru dan Dosen
Produk pendidikan sebetulnya bukan hanya menjadi kebutuhan orang-orang
pendidikan saja, tetapi semua aspek kehidupan kita membutuhkan produk pendidikan
tersebut. Produk pendidikan itu berkaitan dengan tenaga pendidik yaitu guru. Sekarang ini
tentang profesionalisme guru sedang marak dibicarakan dan dicari solusinya. Pertanyaannya
mengapa sedemikian penting guru itu harus profesional? Apakah pengaruhnya dari
profesionalisme guru itu terhadap produk pendidikan? Inilah permasalahan-permasalahan
yang hendaknya dicari solusinya.
Sekarang ini kita hidup pada era globalisasi dengan menghadapi sejumlah tantangan.
Global atau globalisasi merupakan kata-kata klise yang sering diungkapkan di mana-mana.
Globalisasi merupakan fenomena tidak adanya batas-batas antara negara di dunia ini.
Peristiswa yang terjadi di suatu negara, maka dalam sekejap akan diketahui oleh orang-orang
di negara lainnya. Globalisasi pada awalnya hanya terjadi pada tiga aspek yaitu 3 F, food atau
makanan, fashion atau pakaian, dan fun atau hiburan. Namun sekarang ini globalisasi sudah
merambah ke berbagai kehidupan. Implikasinya berhubungan dengan persaingan,
perdagangan, bahkan produk, inilah yang menadi tantangan dunia global. Oleh karena itu kita
harus menguasai kunci-kunci untuk bisa bergaul secara global untuk merebut peluang dalam
persaingan-persaingan di era global ini. Dalam dunia yang yang sudah global ini perubahan
yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan berlangsung sangat cepat karena pengaruh

informasi yang datang silih berganti sehingga susah untuk dikendalikan. Tantangan lainnya
adalah terjadinya konflik dan krisis di mana-mana. Perubahan-perubahan itu ada pula yang
menunjukkan sejumlah kemajuan-kemajuan yang juga memberikan tantangan, seperti
kemajuan dalam bidang sains dan teknologi, revolusi teknologi informasi dan komunikasi,
bahkan bidang politik yaitu demokrasi pun berkembang dengan cepat, meskipun di kalangan
kita masih ada yang tidak demokratis. Di samping itu pun kita menghadapi berbagai macam
ancaman seperti adanya gap antara yang kuat dengan yang lemah maupun yang kaya dengan
yang miskin, dan sebagainya yang kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Persoalannya,
bahwa kita sudah mempunyai Undang-Undang yang di dalamnya ada standar-standar
pendidikan nasional yang harus dicapai.
Di dalam Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kecerdasan intelektual,
emosional, dan spiritual, mengembangkan kesehatan dan akhlak mulia dari peserta didik.
Selanjutnya membentuk peserta didik yang terampil, kreatif, dan mandiri. Tujuan ini
merupakan tantangan bagi para pendidik (guru), karena tujuan itu merupakan modal dasar
bagi peserta didik dalam mengarungi kehidupan abad sekarang dan masa datang yang sudah
mengglobal dan penuh tantangan. Peserta didik dituntut untuk terampil dan penuh dengan
keterampilan mengembangkan kreatifitasnya. Tantangan lainnya adalah efek negatif dari
perkembangan sains dan teknologi seperti berbagai tampilan atau tontonan dari alat-alat
teknologi informasi, meskipun efek positifnya lebih banyak. Untuk mencapai tujuan
pendidikan dan memecahkan permasalahan pendidikan diperlukan guru yang professional.
Profesionalisme guru berkorelasi dengan kualitas produk pendidikan. Guru yang
professional menjadikan pendidikan atau proses pembelajaran yang berkualitas, sehingga
peserta didik pun senang mengikuti proses pembelajaran tersebut, sehingga sumber manusia
yang dihasilkan dari lulusan sekolah berkualitas dan nantinya bisa bersaing di era globalisasi.
Sebaliknya guru yang tidak profesional bisa menjadikan pendidikan yang tidak berkualitas.
Peningkatan profesionalisme guru ini misinya yaitu terwujudnya penyelenggaraan pendidikan
atau pembelajaran sesuai denan prinsip-prinsip profesionalilitas, untuk memenuhi hak yang
sama bagi setiap warga negara memperoleh pendidikan yang bermutu. Berdasarkan berbagai
penelitian kualitas pendidikan ditentukan oleh 60% kualitas guru. Jika kualitas gurunya jelek,
maka 60% jelek pula kualitas pendidikan. Sebaliknya jika kualitas gurunya baik, maka 60%
kualitas pendidikan juga baik dan 40% lainnya dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya.
Artinya jika pendidikan ingin maju, maka harus dimulai dulu dari gurunya. Guru memang
benar-benar faktor kunci kalau ingin memajukan pendidikan. Itulah sebabnya lahirlah
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menyatakan bahwa guru
dan dosen adalah jabatan professional. Jabatan professional adalah jabatan yang memerlukan
kemampuan tertentu dan latar belakang pendidikan tertentu. Guru akan meningkat secara
professional dan meningkat pula kesejahteraannya. Jadi di samping penuh beban juga ada
kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan.
Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan
pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan
yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.Pendidikan
merupakan investasi sosial yang berguna untuk pengembangan kehidupan bangsa. Karena
generasi muda adalah penerus negeri ini, kalau generasi muda kita mengalami kebodohan
maka yang akan mundur adalah negaranya. Maka peningkatan keprofesionalan pengajar itu
perlu untuk peningkatan pendidikan Indonesia agar dapat memcapai cita-cita pendidikan
nasional.
Pengembangan profesioanl guru dan dosen guna menunjang penyelenggara-an
pendidikan bermutu tidak hanya bergatung pada kualitas tempat pendidikan yang pernah
ditempuhnya. Pengembangan profesionalisme guru dan dosen sesungguh-nya terletak pada

a.

b.

c.
d.
e.

kemauan dan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya ketika mereka sudah
menduduki jabatan guru dan dosen.
Undang-undang Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005 pasal 8,mengamanatkan
bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik,kompetensi,sertifikat pendidik,sehat
jasmani dan rohani,serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau
program diploma empat (pasal 9)dan masih 1.456,491 guru atau 63% yang harus ditingkatkan
kualifikasinya ( Ditjen Dikti,2010),untuk dosen minimal berkualifikasi S2 (PP 19 tahun
2005),sedangkan kompetensi yang wajib dimiliki guru dan dosen adalah kompetensi
pedagogik,kompetensi kepribadian,kompetensi sosial dan kompetensi profesiaonal (khusus
dosen wajib dipadukan dengan aktivitas Tri Darma Perguruan Tinggi).
Sebelum dan sesudah memperoleh sertifikat pendidik sebagai guru dan dosen
profesional,diharapkan minimal memiliki tujuh indikator yang harus melekat dan terus
menerus dibangun guru dan dosen dalam rangka mengembangkan kualitasnya. Kelima
indikator tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Indikator pertama yang harus terus dibangun guru dan dosen adalah ketrampilan mengajar
(Teachingskill). Guru dan dosen yang yang mempunyai kompetensi pedagogik tinggi adalah
guru dan dosen yang senantiasa memilih strategi,metode dan model pembelajaran yang tepat
sesuai dengan karakteristik materi (Komptensi Dasar) dan peserta didik (siswa/mahasiswa).
Melalui pemilihan strategi,metode dan model pembelajaran yang tepat,guru dan dosen lebih
jauh diharapkan mampu mengelola kelas sehingga suasana pembelajaran (kualitas
pembelajaran) baik dan tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai.
Indikator kedua adalah wawasan konten pengetahuan yang ia ajarkan. Kompetensi ini secara
umum dikenal dengan sebuatan kompetensi professional. Kualifikasi Akademik,sesuai
dengan UUGD No 14 tahun 2005 dan PP No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan bahwa kualifikasi pendidikan untuk guru minimal S1 dan untuk Dosen minimal
S2, Pendidikan dan Latian,Short Courses ,TOT ,kursus. Untuk pengembangan
profesionalitas guru dengan melalui KKG,MGMP,MKKS dan dosen untuk melalui melalui
Team teaching,General Studium,Program academic Recharging (PAR),Detasering dll.
Indikator ketiga yang harus dikembangkan oleh guru dan dosen adalah dinamis terhadap
perubahan kurikulum (Dynamic Currriculum). Kurikulum dapat berubah sesuai dengan
kebutuhan pengguna lulusan dan masukan dari para pakar.
Indikator keempat yang harus melekat pada guru dan dosen adalah penggunaan alat
pembelajaran/media pembelajaran yang baik (Good Using Learning Equipment/Media).
Indikator kelima adalah sikap professional guru dan dosen (Professional attitude). Guru dan
dosen adalah agent pembelajaran dan sekaligus sebagai agen pembentuk karakter bangsa.
Peranan guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan Untuk
itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses
pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan pendidikan. Guru
mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan bidang pendidikan,
dan oleh karena itu perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Undang-Undang
No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 4 menyiratkan bahwa guru sebagai agen
pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat
melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib untuk memiliki seperti diatas. Syarat
kompetensi tersebut ditinjau dari perspektif administratif, ditunjukkan dengan adanya
sertifikat. Namun dalam perspektif teknologi pendidikan kompetensi tersebut ditunjukkan
secara fungsional, yaitu kemampuannya mengelola kegiatan belajar dan pembelajaran.
Bertolak dari ketentuan perundangan (PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan), dapat dikatakan bahwa mutu pendidikan nasional dapat terwujud bila

ke delapan standar minimal, yaitu standar isi, standar proses, sandar kompetensi lulusan,
standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar
pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan dapat dipenuhi.
Hal yang akan terjadi jika UU Guru dan Dosen benar-benar diimplementasikan
adalah:
1. Guru dan dosen masa depan akan mempunyai kualitas dan kualifikasi (pasal 9) yang baik,
dan kesejahteraan (pasal 15) dengan gaji yang layak. Guru juga memiliki, kompetensi (pasal
10), sertifikasi (pasal 11), hak dan kewajiban jelas (pasal 14-20), pembinaan dan
pengembangan (pasal 32-35), penghargaan (pasal 36-37), perlindungan (pasal 39) dan
organisasi profesi (pasal 41) dan kode etik (pasal 43-44). mempunyai mempunyai kompetensi
optimal yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional Sehingga harkat,
citra dan martabat guru akan terangkat.
2. Tanggung jawab profesi guru dan dosen sebagai pengajar, pendidik, dan pelatih akan
meningkat. Karena kualitas dan mental guru yang membaik, mereka akan sungguh-sungguh,
bertanggung jawab dengan profesinya.
3. Dengan adanya kode etik profesi dan dosen memberikan pedoman bagi setiap anggota
profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan, merupakan sarana kontrol sosial bagi
masyarakat atas profesi yang bersangkutan, kode etik profesi mencegah campur tangan pihak
diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.
4. Guru dan dosen masa depan akan memiliki komitmen yang tinggi, pemikiran yang serius dan
cermat (smart thinking), koordinasi dan sinergi, Networking dan Support dari semua
komponen terkait.
5. Memberdayakan dan mendayagunakan profesi guru dan dosen.
6. Ada jaminan pasti tentang kesejahteraan dan perlindungan terhadap profesi guru dan dosen.
7. Mutu pelayanan dan hasil pendidikan meningkat, karena komponen penting yaitu guru
membaik.
8. Dengan adanya guru dan dosen yang berkualifikasi akademik baik, kompetensi, sertifikat
pendidik, sehat jasmani dan rohani, akan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
serta menjadi negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
9. Pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, (pasal 21). Dan pengangkatan,
penempatan, pemindahan, dan pemberhentian guru secara obyektif dan trasparan (pasal 63).
Dalam keadaan darurat, untuk daerah khusus pemerintah dapat melakukan wajib kerja untuk
guru dan dosen dan atau warga Indonesia lain yang memenuhi kualifikasi akademik dan
kompetensi, (pasal 61).
10. Sanksi pada guru dan dosen yang tidak berkompeten benar-benar diterapkan, sesuai dengan
perundangan, (pasal 77).
C. Peningkatan Kualitas dan Mutu Profesional Guru
Peningkatan kualitas dan mutu guru salah satunya adalah dengan sertifikasi guru. Sertifikasi adalah proses
pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan
konseling, dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan (PP No.11 Tahun 2011). Sertifikat
pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru/standar kompetensi guru. Sertifikat
pendidik adalah sebuah sertifikat yang ditandatangani oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi sebagai bukti
formal pengakuan profesionalitas guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional.
Dalam proses sertifikasi terdapat beberapa istilah yang penting untuk dimengerti dan dipahami
maksudnya,diantaranya adalah portofolio, guru dalam jabatan. Guru dalam jabatan adalah guru PNS dan Non PNS
yang sudah mengajar pada satuan pendidik, baik yang diselenggarakan pemerintah, pemerintah daerah, maupun
masyarakat, dan sudah mempunyai perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. Portofolio adalah bukti fisik

(dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi
sebagai guru dalam interval waktu tertentu.

a.
b.
c.
d.
a.
b.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Tujuan dilaksanakannya sertifikasi guru diantaranya adalah sebagai berikut :


Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan
mewujudkan tujuan pendidikan nasional
Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan
Meningkatkan martabat guru
Meningkatkan profesionalitas guru
Sedangkan manfaat diselenggarakannya sertifikasi guru adalah :
Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra
profesi guru.
Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak
profesional.
Dalam melaksanakan sertifikasi harus mengikuti urutsn-urutan prosedur yang
berlaku, diantaranya adalah sebagai berikut :
Guru dalam jabatan peserta sertifikasi, menyusun dokumen portofolio dengan mengacu
Pedoman Penyusunan Portofolio Guru.
Dokumen portofolio yang telah disusun kemudian diserahkan kepada Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota untuk diteruskan kepada Rayon LPTK Penyelengara sertifikasi untuk dinilai
oleh asesor dari Rayon LPTK tersebut.
Rayon LPTK Penyelengara Sertifikasi terdiri atas LPTK Induk dan sejumlah LPTK Mitra.
Apabila hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi dapat mencapai angka minimal
kelulusan, maka dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat pendidik.
Apabila hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi belum mencapai angka minimal
kelulusan, maka berdasarkan hasil penilaian (skor) portofolio, Rayon LPTK menetapkan
alternatif sebagai berikut.
Melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan profesi pendidik untuk melengkapi
kekurangan portofolio.
Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (Diklat Profesi Guru atau DPG) yang
diakhiri dengan ujian. Materi DPG mencakup empat kompetensi guru.
Lama pelaksanaan DPG diatur oleh LPTK penyelenggara dengan memperhatikan skor hasil
penilaian portofolio.
Apabila peserta lulus ujian DPG, maka peserta akan memperoleh Sertfikat Pendidik.
Bila tidak lulus, peserta diberi kesempatan ujian ulang dua kali (untuk materi yang belum
lulus), dengan tenggang waktu sekurang-kurangnya dua minggu. Apabila belum lulus juga,
maka peserta diserahkan kembali ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
Meningkatkan kesejahteraan guru
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru,
dinyatakan bahwasanya salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru adalah
kompetensi professional. Kompetensi profesional yang dimaksud dalam hal ini merupakan
kemampuan Guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.
Profesionalisme guru berkorelasi dengan kualitas produk pendidikan. Guru yang
professional menjadikan pendidikan atau proses pembelajaran yang berkualitas, sehingga
peserta didik pun senang mengikuti proses pembelajaran tersebut, sehingga sumber manusia

yang dihasilkan dari lulusan sekolah berkualitas dan nantinya bisa bersaing di era globalisasi.
Sebaliknya guru yang tidak profesional bisa menjadikan pendidikan yang tidak berkualitas.
Peningkatan profesionalisme guru ini misinya yaitu terwujudnya penyelenggaraan pendidikan
atau pembelajaran sesuai denan prinsip-prinsip profesionalilitas, untuk memenuhi hak yang
sama bagi setiap warga negara memperoleh pendidikan yang bermutu.
Peningkatan kualitas dan mutu guru salah satunya adalah dengan sertifikasi guru.
Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai
guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, dan guru yang diangkat
dalam jabatan pengawas satuan pendidikan (PP No.11 Tahun 2011). Sertifikat pendidik
diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru/standar kompetensi
guru.
B. Saran
Sebaiknya guru yang akan melakukan sertifikasi harus mempunya 4 kompetensi Guru
yaitu kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi
personal, agara dalam mengajar di kelas guru dapat mengajarkan materi pelajaran dengan
baik kepada siswanya, dan bisa menciptakan iklim belajar yang kondusif agar dapat
mencerdaskan siswanya demi tercapainya tujuan pendidikan.