Anda di halaman 1dari 5

Undang-undang merupakan salah satu aturan yang di terapkan oleh

alat perlengkapan negara yang berwenang dan mengikat setiap orang selaku
wagar negara. UU dapat berlaku apabila telah memenuhi persayratan tertentu.
Menurut UU No. 10 tahun 2004 yang dimaksud dengan UU adalah peraturan
perundang-undangan yang dibentuk oleh DPR dengan persetujuan bersama
Presiden (pasal 1 angka 3).
Untuk mencapai mutu pendidikan yang ada di Indonesia pemerintah
telah menetapkan aturan-aturan yang telah di berlakukan untuk dijadiakan
sebagai acuan agar penyelenggara pendidikan dapat menerapkan untuk
mencapai mutu pendidikan yang telah di gariskan atau di tetapkan
berdasarkan undang-undang tersebut. Salah satu contoh Undang-undang No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalam undangundang tersebut dikatakan pada Bab II pasal 3 berbunyi:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka
mencerdaskan
kehidupan
bangsa,
bertujuan
untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Dari pasal tersebut sudah jelas mengatur pendidikan nasional untuk
mencapai peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Dari UU No. 20 Tahun 2003 tersebut menjabarkan fungsi pendidikan
harus betul-betul diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
nasional sebab tujuan tersebut berfungsi sebagai pemberi arah yang jelas
terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan sehingga penyelenggaraan
pendidikan harus diarahkan kepada (1) pendidikan diselenggarakan secara
demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung
tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan
bangsa, (2) pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik
dengan sistem terbuka dan multimakna, (3) pendidikan diselenggarakan
sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang

berlangsung sepanjang hayat, (4) pendidikan diselenggarakan dengan


memberi

keteladanan,

membangun

kemauan,

dan

mengembangkan

kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran, (5) pendidikan


diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan
berhitung bagi segenap warga masyarakat, (6) pendidikan diselenggarakan
dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta
dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh kesiapan sumber daya
manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Guru merupakan salah satu
faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan mempunyai posisi
strategis maka setiap usaha peningkatan mutu pendidikan perlu memberikan
perhatian besar kepada peningkatan guru baik dalam segi jumlah maupun
mutunya.
Guru dikondisikan pada posisi garda terdepan dan sangat sentral dalam
pelaksanaan proses pembelajaran termasuk proses ujian. Jika masyarakat
mengetahui lulusan sekolah tidak bermutu, sorotan utama akan bermuara pada
ketidakmampuan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Hitam
putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu
gurunya. Bagi sebagian besar orang tua, sosok guru masih dipandang sebagai
wakil orang tua ketika anaknya tidak berada di dalam keluarga. Oleh karena itu
sumber daya guru ini harus

dikembangkan baik melalui pendidikan

dan

pelatihan dan kegiatan lain agar kemampuan profesionalnya lebih meningkat.

Guru adalah jabatan profesi sehingga seorang guru harus mampu


melaksanakan tugasnya secara profesional. Seseorang dianggap profesional
apabila mampu mengerjakan tugas dengan selalu berpegang teguh pada
etika profesi,

independen, produktif, efektif, efisien dan inovatif serta

didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan prima yang didasarkan pada


unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis, kewenangan profesional,
pengakuan masyarakat, dan kode etik yang regulatif sesuai dengan UU
No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen.
Dengan jabatan profesi tersebut guru harus dapat bekerja secara
profesional dan proposional dalam menjalankan tugasnya menutut Prof. Dr.

Achmad Sanusi guru besar Pasca Sarjana UNINUS jabatan profesi memiliki
ciri sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Memiliki fungsi dan kepentingan sosial yang sangat penting (fungsional)


Untuk memiliki tingkat/drajat keterampilan untuk mewujudkan prestasi
Memiliki keterampilan secara rutin biarpun dalam menyelesaikan
masalah dengan teori dan metode ilmiah
Berdasarkan disiplin ilmu,sistematis,dan terperinci
Membutuhkan masa latihan dan pendidikan yang lama
Memasyrakatkan nilai-nilai professional dikalangan siswa dan
mahasiswa
Memeiliki dan berpegang teguh pada kode etik dalam materi layanan
kepada murid
Memiliki kebebasan dan memberi pertimbangan sendiri dan
menyelasaikan persoalan dalam lingkup kerjanya.
Tanggung jawab profesional dan otonomi serta komitmen pada profesi
dalm melayani murid dan masyarakat dengan sebaik-baiknya.
Pengakuan dan imbalan yang layak sehingga memiliki persentase
yang tinggi dimata masyarakat.
Selain ciri-ciri profesi tersebut guru harus memiliki enam nilai

kehidupan agar dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan norma-norma


keislaman seperti yang di kemukakan Prof. Dr. Achmad Sanusi berkaitan
dengan nila Kehidupan manusia anatara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nilai Teologi
Nilai Logik
Nilai Fisiologi
Nilai Etik
Nilai Estetika
Nilai Teleologi
Untuk mencapai tujuan nasioanal pendidikan maka dibutuhkan guru

yang profesional bukan sekedar pofesinya saja namun guru dituntun secara
profesional. Untuk mencapai itu semua pemerintah mengatur tentang
keberadaan guru diantaranya yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru

5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang


Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya;
7. Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan
Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010, Nomor 14 Tahun 2010
tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya;
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010 tentang
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit.
9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional.
Aturan-aturan tersebut salah satu upaya pemerintah untuk menjadikan
guru yang profesional namun bekan sekedar profesional pemerintah juga
mengupayakan agar guru mendapatkan hak-haknya agar dapat meningkatkan
kinerjanya lebih baik lagi.
Dari uraian diatas pada kenyataan dilapangan masih banyak sekali
penyimpangan-penyimpangan

ataupun

aturan-aturan

yang

belum

di

laksanakan secara utuh salah satu contohnya hak dan kewjiban seorang guru
profesional, guru yang sudah menyandang predikat profesional berdasarkan
ketentuan-ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah dalam kinerjanya atau
menjalankan kewajibanya masih rendah
Untuk mencapai itu semua dibutuhkan penyelenggara pendidikan yang
berkomitmen dan menerapkan UU No. 20 Tahun 2003 secara konsekwen,
salah satu konsekwensi penyelenggaran pendidikan untuk menerapkan UU
No. 20 Tahun 2003 adalah mencari guru yang profesional. Dalam hal ini guru
merupakan

Legislasi atau undang-undang adalah hukum yang telah disahkan oleh


badan legislatif atau unsur pemerintahan yang lainnya. Sebelum disahkan, undangundang disebut sebagai rancangan Undang-Undang. Undang-undang berfungsi
untuk digunakan sebagai otoritas, untuk mengatur, untuk menganjurkan, untuk

menyediakan (dana), untuk menghukum, untuk memberikan, untuk


mendeklarasikan, atau untuk membatasi sesuatu.
Suatu undang-undang biasanya diusulkan oleh anggota badan legislatif (misalnya
anggota DPR), eksekutif (misalnya presiden), dan selanjutnya dibahas di antara
anggota legislatif. Undang-undang sering kali diamandemen (diubah) sebelum
akhirnya disahkan atau mungkin juga ditolak.
Undang-undang dipandang sebagai salah satu dari tiga fungsi
utama pemerintahan yang berasal dari doktrin pemisahan kekuasaan. Kelompok
yang memiliki kekuasaan formal untuk membuat legislasi disebut sebagai legislator
(pembuat undang-undang), sedangkan badan yudikatif pemerintah memiliki
kekuasaan formal untuk menafsirkan legislasi, dan badan eksekutif pemerintahan
hanya dapat bertindak dalam batas-batas kekuasaan yang telah ditetapkan oleh
hukum perundang-undangan.

A.