Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru, adalah unsur penting yang menentukan berhasil tidaknya pendidikan. Jika
guru berkualitas baik, maka pendidikanpun akan baik. jikalau tindakan para guru dari
hari ke hari bertambah baik, maka akan menjadi lebih baik pulalah keadaan dunia
pendidikan kita. Sebaliknya, kalau tindakan dari hari ke hari makin memburuk, maka
makin parahlah dunia pendidikan kita. Guru-guru kita dapat disamakan dengan
pasukan tempur yang menentukan kemenangan atau kekalahan dalam perang.
Dari berbagai studi yang telah dilakukan, tingkat kesejahteraan merupakan penentu
yang amat penting bagi kinerja guru dalam menjalankan tugasnya. Dilaporkan bahwa
negara-negara yang memberikan perhatian khusus pada gaji guru, lebih baik mutu
pendidikannya. Dan langkah-langkah ke arah lebih meningkatkan kesejahteraan guru
untuk meningkatkan mutu pendidikan telah banyak dilakukan oleh banyak negara.
Tema-tema kesejahteraan guru dalam arti luas meliputi gaji, tunjangan, dan rasa
aman dalam menjalankan tugasnya perlu dikedepankan mengingat kesejahteraan guru
di Indonesia masih memprihatinkan. Lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor
14 Tahun 2005 merupakan legalitas formal yang menjamin perlindungan hukum bagi
para guru untuk dapat bekerja secara aman, kreatif, profesional, dan menyenangkan.
Implementasi Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 telah
menuntut guru untuk memenuhi kualifikasi akademik yaitu S1 atau D/Akta IV, memiliki
seperangkat kompetensi secara integral holistik yaitu kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Kualifikasi
akademik dan seperangkat kompetensi tersebutlah yang akan mengantarkan guru
untuk mengikuti sertifikasi guna memperoleh tunjangan profesi dari pemerintah.
B. Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini, yang menjadi fokus dan rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana latar belakang lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14
Tahun 2005?
2. Apakah pengertian Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005?
3. Apakah Isi Undang-Undang Guru dan Dosen nomor 14 Tahun 2005?
4. Bagaimana Analisis SWOT Terhadap Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor
14 Tahun 2005?

BAB II
1

PEMBAHASAN
ANALISIS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 14 TAHUN 2005
TENTANG
GURU DAN DOSEN
A. Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005
Ketika mutu pendidikan di Indonesia dipertanyakan, guru dianggap menjadi salah
satu faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, karena
merekalah yang berada di garda depan dalam dunia pendidikan. Kualitas guru-guru
Indonesia dianggap rendah. Hal ini didasarkan pada realitas, bahwa banyak guru yang
tidak memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan.
Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan tingkat kesejahteraan guru yang sangat
rendah. Bagaimana guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sementara mereka
masih bingung harus memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin tidak dapat
dicukupi dengan penghasilan atau gaji yang diterimanya? Berdasarkan realitas itu,
kualitas dan kesejahteraan guru menjadi salah satu solusi dalam menyelesaikan
masalah rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
Dalam hubungan dengan hal tersebut, berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia memang telah dilakukan, namun hal itu tampaknya belum
memberikan

hasil

yang

signifikan

dengan

yang

diharapkan.

Ketika

MPR

mengamanatkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, hal ini memberikan
secercah harapan bagi dunia pendidikan Indonesia.
Dengan pendanaan yang memadai, diharapkan dapat meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia. Untuk merealisasikan hal itu kemudian disahkan Undangundang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 yang diikuti dengan terbitnya Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional tahun 2007 yang antara lain tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru (Nomor 16), dan Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan
(Nomor 18). Selain itu, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (3)
yang berbunyi:
"Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam
2

rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," dan ayat (5) yang berbunyi:


"Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta
kesejahteraan umat manusia."
Undang-undang Guru dan Dosen juga lahir bertujuan untuk memperbaiki
pendidikan nasional, baik secara kualitas maupun kuantitas, agar sumber daya
manusia Indonesia bisa lebih beriman, kreatif, inovatif, produktif, serta berilmu
pengetahuan luas demi meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa. Perbaikan mutu
pendidikan nasional yang dimaksud meliputi, Sistem Pendidikan Nasional, Kualifikasi
serta Kompetensi Guru dan Dosen, Standar Kurikulum yang digunakan, serta hal
lainnya.
Dalam kaitannya dengan Guru sebagai pendidik, maka pentingnya guru
professional yang memenuhi standar kualifikasi diatur dalam pasal 8 Undang-undang
No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen (UUGD) yang menyebutkan bahwa Guru
wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan
rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Lebih dalam lagi pada pasal 10 ayat (1) UUGD dan Pasal 28 ayat 3 PP 19 tahun 2005
tentang SNP dijelaskan bahwa kompetensi guru yang dimaksud meliputi:
a.
b.
c.
d.

Kompetensi Pedagogik;
Kompetensi Kepribadian;
Kompetensi Profesional; dan
Kompetensi Sosial.
Selain mengatur hal-hal penting diatas, UUGD juga mengatur hal lain yang tak

kalah pentingnya bagi kemajuan dan kesejahteraan para guru. Ada lima implikasi yang
sekaligus menjadi latar belakang diundangkannya Undang-Undang Guru dan Dosen
Nomor 14 Tahun 2005, antara lain :
a. Pemerintah menganggap pendidikan mempunyai peran yang strategis dalam
rangka pembangunan sumber daya manusia;
b. Penerbitan legalitas formal Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun
2005 merupakan upaya untuk mengakui dan mengembangkan guru sebagai
profesi;
c. Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 dalam dataran realitas
apabila diimplementasikan akan meningkatkan martabat dan kesejahteraan guru;
d. Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 juga akan memberikan
arah pengembangan profesi guru agar mampu menghadapi tantangan sesuai
dengan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global yang perlu dilakukan

pemberdayaan dan peningkatan mutu guru secara terencana, terarah dan


berkesinambungan;
e. Aturan formal yang rinci di dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14
Tahun 2005 juga akan meningkatkan komitmen guru untuk meningkatkan diri
sendiri, pemerintah untuk memfasilitasi, dan masyarakat untuk mendukung
profesionalitas guru.
Guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis
dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan
sebagai profesi yang bermartabat. Adapun tujuan pembuatan Undang-Undang Guru:

1. mengangkat harkat, citra, dan martabat guru


2. meningkatkan tanggung jawab profesi guru sebagai pengajar, pendidik, pelatih,
pembimbing, dan manajer pembelajaran
3. memberdayakan dan mendayagunakan profesi guru
4. memberikan jaminan kesejahteraan dan perlindungan terhadap profesi guru
5. meningkatkan mutu pelayanan dan hasil pendidikan
6. mendorong peran serta masyarakat dan kepedulian terhadap guru.
UU guru memberikan perlindungan hukum dalam: profesi kesejahteraan jaminan
sosial hak dan kewajiban, yang berdasarkan Landasan Hukum sebagai berikut :
1. UUD 1945 Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1) dan (2), dan Pasal 31 UU No 8/1978
Jo
2. Undang-undang No 43/1999 Tentang Pokok-pokok Kepegawaian
3. UU Nomor 13/2003 Tentang Ketenagakerjaan
4. UU Nomor 20/2003 Tentang Sisdiknas
5. UU Nomor 32/2004 Tentang Pemerintah Daerah
B. Pengertian Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005
Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 adalah sebuah legalitas
formal yang menjamin perlindungan hukum bagi para guru untuk dapat bekerja secara
aman, kreatif, profesional, dan menyenangkan, serta merupakan pengakuan guru
sebagai profesi yang perlu diperhatikan kesejahteraannya.
Tentunya kita mengetahui beberapa profesi yang telah lama kita kenal oleh
masyarakat, misalnya profesi arsitektur, advokat, psikolog, akuntan, dokter, notaris, dan
lainnya. Diimplementasikannya Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun
2005 telah menjadikan guru sebagai sebuah jabatan profesional, yang menjadikan guru
mempunyai

tugas

dan

kewajiban

tertentu

sehingga

perlu

diperhatikan
4

kesejahteraannya dalam arti luas, meliputi gaji, tunjangan, dan rasa aman dalam
menjalankan tugasnya. Kesejahteraan tersebut diperoleh melalui kualifikasi akademik,
kompetensi, dan sertifikasi guru.
Pada pasal 1 ayat 9 disebutkan bahwa kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang
pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis,
jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan. Pada pasal 8 disebutkan
bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, dimana pada pasal 9 dijelaskan bahwa
kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud diperoleh melalui pendidikan tinggi
program sarjana atau diploma empat. Dengan demikian jelaslah bahwa guru harus
memenuhi kualifikasi akademik S1 atau D/Akta IV baik guru yang mengajar di TK/RA,
SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA/SMK/MAK.
C. Isi dari Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005
UU Guru dan Dosen terdiri dari 84 pasal. Secara garis besar, isi dari UU ini dapat
dibagi dalam beberapa bagian.
Pertama, pasal-pasal yang membahas tentang penjelasan umum (7 pasal) yang terdiri
dari:
1) Ketentuan Umum,
2) Kedudukan, Fungsi, dan Tujuan, dan
3) Prinsip Profesionalitas.
Kedua, pasal-pasal yang membahas tentang guru (37 pasal) yang terdiri dari:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Guru: Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi (pasal 8-13),


Hak dan Kewajiban (pasal 14-20),
Wajib Kerja dan Ikatan Dinas (pasal 21-23),
Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan Pemberhentian (pasal 24-31),
Pembinaan dan Pengembangan (pasa 32-35)
Penghargaan (pasal 36-38),
Perlindungan (pasal 39),
Cuti, (pasal 40) dan,
Organisasi Profesi dan Kode Etik (pasal 41-44).

Ketiga, pasal-pasal yang membahas tentang dosen (32 pasal) yang terdiri dari:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Kualifikasi, Kompetensi, Sertifikasi, dan Jabatan Akademik (pasal 45-50),


Hak dan Kewajiban Dosen (pasal 51-60),
Wajib Kerja dan Ikatan Dinas (pasal 61 dan 62),
Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan Pemberhentian (pasal 63-68),
Pembinaan dan Pengembangan (pasal 69-72),
Penghargaan(pasal 73 dan 74),
Perlindungan (pasal 75), dan
Cuti (pasal 76.
5

Keempat, pasal-pasal yang membahas tentang sanksi (3 pasal yaitu 77-79).


Kelima, bagian akhir yang terdiri dari 5 pasal yaitu Ketentuan Peralihan (pasal 80 dan
81) dan Ketentuan Penutup (Pasal 82-84).
Dari seluruh pasal tersebut diatas pada umumnya mengacu pada penciptaan Guru
dan Dosen Profesional dengan kesejahteraan yang lebih baik tanpa melupakan hak
dan kewajibannya.
Selain itu Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 ini juga menjelaskan mengenai
ketentuan-ketentuan guru dan dosen dan kaitannya dalam kependidikan di Indonesia.
Dalam UU ini dijelaskan bahwa Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional
bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan
pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab.
Profesi guru dan profesi dosen harus memenuhi prinsip profesionalitas dalam
menjalankan profesi tersebut. Salah satu dari prinsip tersebut adalah memiliki
kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas. Kaitannya dengan prinsip ini,
termasuk juga adalah kualitas dan sertifikasi. Mengenai hal ini, pemerintah telah
mengdakan program-program pemberdayaan untuk meningkatkan aspek-aspek
tersebut, yang diantaranya adalah Pembinaan dan pengembangan guru meliputi
pembinaan dan pengembangan profesi dan karier, meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.
Dalam

pelaksanaan

tugas

keprofesionalannya,

seorang

guru

mempunyai

kewajiban diantaranya adalah:


a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu,
serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara
berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni.
Guru yang belum memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan fungsional dan
memperoleh maslahat tambahan paling lama 10 (sepuluh) tahun, atau guru yang
bersangkutan telah memenuhi kewajiban memiliki sertifikat pendidik. Pemerintah mulai
melaksanakan program sertifikasi pendidik paling lama dalam waktu 12 (dua belas)
bulan terhitung sejak berlakunya Undang-Undang ini. Guru yang belum memiliki
6

kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada UndangUndang ini wajib memenuhi kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik paling lama 10
(sepuluh) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini.
Pada dasarnya pemerintah mengadakan program pemberdayaan guru melalui jalur
sertifikasi guru, dimana tujuannya adalah:
a. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas
pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b. Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan.
c. Meningkatkan martabat guru.
d. Meningkatkan profesionalitas guru.

sebagai

agen

Dari tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa Sertifikasi merupakan sarana atau
instrumen untuk mencapai suatu tujuan. Perlu ada kesadaran dan pemahaman dari
semua pihak bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas. Kesadaran dan
pemahaman ini akan melahirkan aktivitas yang benar, bahwa apapun yang dilakukan
adalah untuk mencapai kualitas.
Tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk
dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana
disyaratkan dalam standar kompetensi guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi
logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud. Dengan menyadari hal ini
maka guru tidak akan mencari jalan lain guna memperoleh sertifikat profesi kecuali
mempersiapkan diri dengan belajar yang benar untuk menghadapi sertifikasi.
Berdasarkan hal tersebut, maka sertifikasi akan membawa dampak positif, yaitu
meningkatnya kualitas guru.
Dari statement diatas, ironisnya adalah setelah dikaji dan dievaluasi tujuan
tersebut belum tercapai maksimal. Banyak guru yang mengikuti program sertifikasi guru
hanya bertujuan untuk mendapatkan tunjangan profesi ataupun tambahan gaji.
Sehingga tujuan awal dari program sertifikasi guru belum bisa diaplikasikan secara
tanggungjawab.
D. Analisis SWOT Terhadap Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005
Meskipun UU tersebut banyak disebut orang sebagai terobosan jitu dalam rangka
menciptakan tenaga pendidik yang berkualitas, namun ternyata ada beberapa hal yang
tidak terlepas dari kekurangan dan kiranya perlu segera dibenahi (baik dari segi konsep
maupun pelaksanaan). Dengan menggunakan Analisis SWOT (Strength, Weakness,
7

Opportunity, Treathment) berikut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi


sejauhmana penerapan UUGD tersebut berikut penerimaannya di masyarakat.
Sehingga dalam pelaksanaannya ke depan diharapkan akan dapat lebih memuaskan
semua pihak terkait. Berikut akan disajikan penjabarannya:
1. Kekuatan (Strength)
a. Adanya kebijakan yang menopang kesejahteraan guru antara lain: tunjangan
profesi dan tunjangan khusus serta lainnya. Sehingga ini akan sangat
membantu meningkatkan taraf hidup seorang Guru.
b. Adanya pasal yang mengatur tentang perlindungan bagi guru dalam
menjalankan tugas profesinya. Sehingga dalam melaksanakan fungsinya guru
diharapkan tidak ragu lagi dalam berbuat dan mengambil keputusan/tindakan
yang dianggap perlu dilakukan selama hal tersebut tidak keluar dari jalur
hukum.
c. UU Guru & Dosen memberikan stimulus dan motivasi kepada guru untuk
meningkatkan kualifikasi akademik, kompetensi, serta kemampuan dan hal lain
yang dipersyaratkan dalam rangka menjadi Guru Profesional.
d. Dengan lahirnya UU ini maka profesi Guru dan dan Dosen tidak bisa dipandang
sebelah mata lagi, karena profesi ini sama derajat, harkat dan martabatnya
dengan profesi lain.
2. Kelemahan (Weakness)
a. Minimnya anggaran dana untuk pelaksanaan sertifikasi menyebabkan proses
sertifikasi sering mengalami masalah teknis, seperti terbatasnya dana bagi
assessor atau penundaan pelaksanaan sertifikasi.
b. Dalam rangka sertifikasi pendidik, masih banyak ditemukan kesulitan-kesulitan
dalam segi teknis pelaksanaan baik bagi guru maupun pelaksana sertifikasi
sendiri. Antara lain:
1) Para guru saat ini banyak kesulitan mengumpulkan bukti-bukti Dokumen
Portofolio yang dipersyaratkan, ini dikarenakan beberapa hal diantaranya
adalah banyak yang tidak disiplin menyimpan arsip-arsip SK, pengalaman
organisasi termasuk piagam-piagam penghargaan (sertifikat).
2) Penilaian yang bersifat subjektif, yang hanya disandarkan pada penilaian
portfolio bukan pada keadaan sebenarnya.
c. Tidak dimuatnya pasal yang mengatur eksistensi Guru swasta sehingga UU ini
seperti

memperlihatkan

perbedaan

kedudukan

dan

hak

mendapatkan

kesejahteraan antara Guru swasta dan Guru PNS, sebagaimana dijelaskan


dalam Pasal 15 ayat (2) yang berbunyi:
"Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
Pemerintah atau Pemerintah Daerah diberi gaji sesuai dengan peraturan
perundang-undangan ini."

3. Peluang (Opportunity)
a. UU ini memberikan peluang bagi setiap guru untuk meningkatkan kompetensi
serta kualifikasi yang dipersyaratkan sehingga dapat memenuhi standar
kualifikasi seorang guru.
b. Dengan adanya UU ini maka membuka peluang bagi Pemerintah Daerah untuk
meningkatkan mutu guru dengan mengadakan berbagai diklat Guru. Hal ini
dilakukan demi membantu percepatan pencapaian kualifikasi dan kompetensi
Guru.
c. Undang-undang ini memberikan motivasi bagi Perguruan Tinggi/Universitas
untuk meningkatkan kualitas SDM dan pengajaran pada peserta didik yang
sedang menempuh kuliah pada Fakultas Pendidikan dan berminat menjadi
Guru.
d. Undang-undang ini dapat melahirkan Guru yang professional, berkualitas dan
kompeten dalam bidangnya, jadi profesi guru bukanlah dijadikan hanya
sekedar batu loncatan yang sesaat saja.
4. Tantangan/Ancaman (Threatment)
a. Tantangan yang utama bagi semua pihak adalah bagaimana sama-sama
memberikan kepada masyarkat luas tentang arti pentingnya pendidikan
sebagai investasi kemajuan bangsa.
b. Tantangan lainnya adalah pembenahan mental korup di setiap institusi agar
apa yang akan dilakukan sesuai dengan jalurnya dan memenuhi rasa keadilan.
Apalagi pada awal tahun depan pemerintah teklah memprogramkan anggaran
20% bagi pendidikan.
c. Seperti yang disebutkan dalam UU Guru dan Dosen (pasal 82 ayat 2)
mewajibkan guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat
pendidik untuk memenuhinya paling lama 10 tahun sejak berlakunya undangundang ini. Maka tantangan selanjutnya adalah apakah setiap guru yang kini
belum memenuhi kualifikasi akademik mampu untuk membiayai pendidikannya
ke jenjang minimal (S1) sementara taraf kesejahtereaannya sendiri belum
terpenuhi.
d. Dalam hal sertifikasi tenaga pendidik, mungkin akan muncul persoalan dengan
pelaksanaan Program Akta IV yang dilaksanakan dalam rangka mendapatkan
sertifikat guru. Jika Program Akta IV tidak disamakan dengan Sertifikat Pendidik
maka tantangan terbesar adalah bagaimana nasib guru yang sudah memiliki
sertifikat Akta 4. Apakah diharuskan mengikuti program baru atau diadakan
penyetaraan.
e. Tantangan bagi Guru untuk dapat aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan di
sekolah, kepanitiaan, seminar dan lingkungan masyarakat demi memenuhi
persyaratan portfolio bagi Guru untuk dapat lulus dalam sertifikasi.
9

f. Tantangan bagi pemerintah untuk dapat mengangkat guru honorer, kontrak dan
guru bantu yang telah mengabdi bertahun-tahun untuk dapat diangkat menjadi
PNS.
g. Tantangan lainnya bagi pemerintah adalah membuat UU/PP dalam rangka
mengatur hak, kedudukan, kewajiban, kesejahteraan, keikutsertaaan Guru
swasta dalam sertifikasi.

10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai sebuah profesi, guru memang sudah selayaknya memiliki payung hukum
tersendiri sehingga mendapatkan perlakuan yang layak dari berbagai pihak. UU Guru
dan Dosen yang diberlakukan kini, memiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri. Dari
analisis SWOT yang ditampilkan sederhana diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
ternyata dalam teknis pelaksanaanya beberapa pasal yang mengatur tersebut diatas
mengalami hambatan dan kendala baik teknis maupun teoritis.
Dengan melihat kekuatan yang dimiliki diharapkan UU ini dapat memotivasi dan
memberikan nilai lebih bagi perbaikan pendidikan di Indonesia. Selanjutnya dengan
menangkap peluang dengan cermat dan menganggap bahwa hambatan yang
mengancam dapat dijadikan pelajaran dan sumbangsih untuk tetap melangkah
tentunya dengan memperhatikan rambu-rambu yang ada.
Sebagai tenaga profesional guru dituntut mampu melaksanakan sistem pendidikan
nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif. Peningkatan kualifikasi guru
disamping untuk meningkatkan kompetensinya, sehingga layak untuk menjadi guru
yang profesional.
Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen, kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi
oleh karena itu guru jangan hanya disibukkan dengan mengajar saja agar profesional
harus dituntut mengembangkan profesinya dengan penelitian (research).
B. Saran
Pemerintah mensosialisasikan tentang UNDANG-UNDANG NO. 14 BAGI GURU
DAN DOSEN keseluruh daerah agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik.
Sehingga dapat diminimalisilir beberapa kekurangan yang telah dipaparkan di atas,
diantaranya adalah UU Guru dan Dosen lemah implementasiannya, masih banyak
Guru-Dosen tak tahu esensi UU No 14 2005, terjadinya diskriminatif, banyak aturan
yang menyebabkan sebagian guru tidak memperoleh haknya karena aturan tersebut
hanya mengatur guru-guru dalam jabatan struktural dan UU No 14 2005 hanya sebagai
pepesan kosong belaka.

11

DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa E, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Jakarta: PT Rosda Karya, 2008.
Muslich, Masnur, KTSP:Dasar Pemahaman dan Pengembangan, Jakarta: Bumi
Aksara,2007
Kunandar, Guru professional Implementasi Tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru. rajawali Press.2007
Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Jakarta
http://www.slideshare.net/srijadi/uu-no-14-2005-guru-dan-dosen
http://danhid.blogspot.com/2009/01/analisis-swot-terhadap-uu-no.html
http://munasabahli.blogspot.com/2012/03/implementasi-uu-guru-ri-no-14-thn-2005.html
http://asmawln.blogspot.com/2010/05/makalah-uu-guru-dan-dosen.html
http://staff.undip.ac.id/sastra/dhanang/2009/07/23/peningkatan-kompetensi-danprofesionalisme-guru-sejarah/
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU14-2005GuruDosen.pdf
Pedoman Sertifikasi Guru dalam Jabatan Tahun 2007 (Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2007).
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No: 12 13 15 16 17 18 19
dan 20 Tahun 2007 (BP Pustaka Citra Mandiri, 2007).

12