Anda di halaman 1dari 8

HUKUM ADALAH KUMPULAN PERATURAN-PERATURAN

ATAU KAEDAH-KAEDAH DALAM SUATU KEHIDUPAN


BERSAMA : KESELURUHAN PERATURAN TENTANG
TINGKAH LAKU YANG BERLAKU DALAM SUATU
KEHIDUPAN BERSAMA, YANG DAPAT DIPAKSAKAN
DENGAN SUATU SANKSI. (Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo,
SH)
Senin, 03 Januari 2011
Teori Perundang-undangan (Pembentukan Peraturan Perundangundangan)

URGENSI PARTISIPASI PUBLIK DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN


DAERAH (#4)
Teori Perundang-undangan (Pembentukan Peraturan Perundang-undangan)
Sebelum terbentuknya Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004, menurut Maria Farida
Indrati. S, pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia dilakukan dengan
berbagai landasan, yaitu:
1. Aglemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie (Stb. 1847: 23)
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan Tentang Jenis dan
bentuk Peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat.
3. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-undang
Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan
Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan,
Mengumumkan, dan Mulai Berlakunya Undang-undang Federal dan Peraturan
Pemerintah sebagai Undang-undang Federal.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai


Berlakunya Undang-undang dan Peraturan Pemerintah.
5. Keputusan Presiden Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi
Pengundangan Lembaran Negara dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat
Negara.
6. Instruksi Presiden Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan
Rancangan Undang-undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah.
7. Keputusan Presiden Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan
Rancangan Undang-undang.
8. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan
Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang,
Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Keputusan Presiden.
Tata cara pembentukan peraturan perundang-undangan di tingkat daerah sebelum Undangundang Nomor 10 Tahun 2004, diberlakukan beberapa Keputusan Menteri, antara lain:
1. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 21 Tahun 2001
tentang Teknik Penyusunan dan Materi Muatan Produk-produk Hukum Daerah.
2. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001
tentang Bentuk Produk-produk Hukum Daerah.
3. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001
tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah.
4. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 24 Tahun 2001
tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah.
Keempat Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tersebut diberlakukan
sambil menunggu Peraturan Presiden sebagai pelaksanaan dari Pasal 27 Undang-undang
Nomor 10 Tahun 2004. Oleh karena Peraturan Presiden yang diperintahkan tersebut sampai
saat ini masih belum ada, Menteri Dalam Negeri telah menetapkan 3 (tiga) Peraturan Menteri
sebagai pengganti Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tersebut, yaitu:
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 tahun 2006 tentang Jenis dan
Bentuk Produk Hukum Daerah.
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 tahun 2006 tentang Prosedur
Penyusunan Produk Hukum Daerah.
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2006 tentang Lembaran
Daerah dan Berita Daerah.

Pembahasan setiap rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat diatur dalam


Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat, dan peraturan perundang-undangan
ditingkat daerah diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi,
Kabupaten atau Kota. Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pada tanggal 1 November 2004, maka
pembentukan peraturan perundang-undangan baik ditingkat Pusat maupun Daerah berlaku
ketentuan dalam undang-undang tersebut.
Landasan hukum pembentukan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menurut Maria Farida Indrati. S, terdapat
dalam konsiderans yaitu dalam dasar hukum Mengingat hanya dimuat Pasal 20, Pasal 20A
ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Pasal-pasal tersebut memberikan kewenangan pembentukan suatu undang-undang.
Walaupun dalam dasar Mengingat Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tersebut hanya
merumuskan pasal-pasal dalam UUD 1945 yang memberikan kewenangan pembentukan
suatu undang-undang, namun demikian sebenarnya terdapat beberapa ketentuan yang
merupakan landasan hukum yang tegas bagi pembentukan undang-undang tersebut. Landasan
hukum tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pasal 22A Perubahan UUD 1945 yang merumuskan bahwa Ketentuan lebih lanjut
tentang tata cara pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang.
2. Pasal 6 Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan
Peraturan Perundang-undangan, yang merumuskan bahwa: Tata cara pembuatan
undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah dan pengujian peraturan
perundang-undangan oleh Mahkamah Agung serta pengaturan ruang lingkup
keputusan presiden diatur denganundang-undang.
3. Aturan Tambahan Pasal I Perubahan (Keempat) UUD 1945, yang menetapkan Majelis
Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan terhadap meteri dan
status hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan
Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk diambil putusan pada sidang Ketetapan
Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 2000.
4. Pasal 4 angka 4 Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 tentang Peninjauan terhadap
Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 sampai dengan
Tahun 2002, yang menyatakan bahwa, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundangundangan tetap berlaku sampai terbentuknya undang-undang.

Berdasarkan beberapa ketentuan diatas, maka diajukanlah rancangan undang-undang Usul


Inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundangundangan (RUU TCP3), yang akhirnya menjadi Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Pembentukan peraturan Perundang-undangan didefinisikan dalam Pasal 1 angka
1 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004, yaitu Pembentukan Peraturan Perundangundangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang pada dasarya
dimulai

dari

perencanaan,

persiapan,

teknik

penyusunan, perumusan,

pembahasan,

pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.Legislative drafting menurut Jazim


Hamidi, adalah sebuah ilmu pengetahuan yang merupakan aturan-aturan tertentu yang dapat
diletakkan sebagai aplikasi umum terhadap semua tindakan-tindakan/langkah-langkah yang
muncul dalam Perencanaan Undang-undang (drafting) dan juga sebagai satu perangkat
(set) aturan tertentu yang selalu diobservasi oleh semua pembuat undang-undang untuk
tujuan (dari) pemakai metode yang terjamin aman dalam draft mereka.
Langkah-langkah pembentukan perundang-undangan menurut Jazim Hamidi dalam
makalahnya dijelaskan, susunan pembentukan perundang-undangan terdiri dari:
1. Pengkajian (Interdisipliner)
a. Sudah mendesak untuk diatur undang-undang.
b. Kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan timbul dibidang politik, ekonomi,
sosial dan budaya.
2. Melakukan Penelitian
a. Penelitian hukum/hasil penelitian.
b. Hukum nasional/hukum negara lain yang mengatur materi yang bersangkutan.
c. Penyusunan naskah akademik.
d. Penyusunan rancangan undang-undang.
e. Penyusunan peraturan pemerintah dan seterusnya.
Adapun yang menjadi pokok-pokok penelitian adalah:
1. Asas-asas hukum.
2. Kaidah-kaidah hukum.
3. Lembaga-lembaga hukum.
4. Cara/proses pelaksanaan.

Sedangkan tahap-tahap pembentukan peraturan perundang-undangan menurut Maria


Farida Indrati. S, pada umumnya dilakukan sebagai berikut:
1. Perencanaan penyusunan undang-undang.
Proses pembentukan undang-undang menurut Pasal 15 ayat (1), dan Pasal 16 Undangundang Nomor 10 Tahun 2004 dilaksanakan sesuai dengan Program Legislasi Nasional
(Prolegnas), yang merupakan perencanaan penyusunan undang-undang terpadu antara
Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah Republik Indonesia.
(Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan
undang-undang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (Pasal 1 ayat
(9) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan).
2. Persiapan pembentukan undang-undang.
Rancangan undang-undang dapat berasal dari (Anggota) Dewan Perwakilan Rakyat,
Presiden, maupun dari Dewan Perwakilan Daerah yang disusun berdasarkan Prolegnas.
Dalam hal tertentu Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan
rancangan undang-undang diluar Prolegnas.
3. Pengajuan rancangan undang-undang.
Pengajuan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden, Dewan Perwakilan
Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah diatur dalam Pasal 18 dan Pasal 19 Undangundang Nomor 10 Tahun 2004.
Selanjutnya yang menjadi pokok kajian adalah mengenai pembentukan peraturan daerah.
Pembentukan peraturan daerah adalah proses pembuatan peraturan daerah yang pada
dasarnya dimulai perencanaan, pembahasan, teknik penyusunan, perumusan, pengesahan,
pengundangan dan penyebarluasan. Dalam mempersiapkan pembahasan pengesahan
rancangan peraturan daerah, harus perpedoman kepada peraturan perundang-undangan.
Disamping itu, peraturan daerah akan lebih oprasional lagi jika dalam pembentukkannya
tidak hanya terikat pada asas legalitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 sampai
dengan Pasal 147 Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, tetapi perlu dilengkapi dengan hasil
penelitian yang mendalam terhadap subyek dan obyek hukum yang akan diaturnya.
Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari DPRD, Gubernur atau Bupti/Walikota, hal ini
diatur dalam Pasal 26 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 jo. Pasal 140 Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2004.
Proses pembentukan produk hukum daerah yang bersifat pengaturan (peraturan daerah
termasuk didalamnya) didasarkan pada Pasal 4 Permendagri Nomor 16 Tahun 2006, yang

dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah (Prolegda) (Program Legislasi Daerah


yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrument perencanaan pembentukan produk
hukum daerah yang disusun secara terencana, terpadu dan sistematis (Pasal 1
ayat (5) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Prosedur
Penyusunan Produk Hukum Daerah). Untuk selanjutnya secara teknis diatur pada Pasal 5
sampai dengan Pasal 13. Pasal 5 ayat (1) sampai dengan ayat (4) Permendagri Nomor 16
Tahun 2006 menerangkan bahwa rancangan produk hukum daerah yang bersifat pengaturan
(peraturan daerah termasuk didalamnya) dapat disusun oleh pimpinan satuan kerja perangkat
daerah yang dapat didelegasikan kepada biro hukum atau bagian hukum, dimana dalam
proses penyusunan produk hukum daerah tersebut dibentuk tim antar satuan kerja perangkat
daerah yang diketuai oleh pimpinan satuan kerja perangkat daerah pemrakarsa atau pejabat
yang ditunjuk oleh kepala daerah dan kepala biro hukum atau kepala bagian hukum
berkedudukan sebagai sekretaris.
Selanjutnya, seperti yang dijelaskan dalam Pasal 6 Permendagri Nomor 16 Tahun
2006, bahwa rancangan produk hukum daerah tadi dilakukan pembahasan dengan biro
hukum atau bagian hukum dan satuan kerja perangkat daerah terkait dengan materi
pembahasan menitikberatkan permasalahan yang bersifat prinsip mengenai objek yang diatur,
jangkauan, dan arah pengaturan. Sesudah melakukan pembahasan, rancangan produk hukum
daerah yang telah dibahas harus mendapatkan paraf koordinasi kepala biro hukum dan kepala
bagian hukum dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah terkait untuk kemudian diajukan
kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah, dimana sekretaris daerah dapat melakukan
perubahan dan/atau penyempurnaan terhadap rancangan produk hukum daerah tadi.
Selanjutnya, rancangan produk hukum daerah berupa rancangan peraturan daerah atau
sebutan lainnya yang diprakarsai oleh kepala daerah disampaikan kepada dewan perwakilan
rakyat daerah untuk dilakukan pembahasan serta dibentuk tim asistensi yang diketuai oleh
sekretaris daerah atau pejabat yang ditunjuk oleh kepala daerah. Kemudian untuk
pembahasan rancangan peraturan daerah atau sebutan lainnya atas inisiatif dewan perwakilan
rakyat daerah dikoordinasikan oleh sekretaris daerah atau pimpinan satuan kerja perangkat
daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya. Adapun dalam pembahasan rancangan peraturan
daerah di dewan perwakilan rakyat daerah, baik atas inisiatif pemerintah maupun atas inisiatif
dewan perwakilan rakyat daerah, dibentuk tim asistensi dengan sekretariat berada pada biro
hukum atau bagian hukum.
Pembahasan rancangan peraturan daerah antara DPRD bersama kepala daerah biasanya
dilakukan melalui 4 (empat) tingkatan pembicaraan, yaitu:

1. Pembicaraan tingkat pertama, meliputi:


a. Penjelasan kepala daerah dalam rapat peripurna tentang penyampaian Raperda yang
berasal dari usul prakarsa kepala daerah.
b. Penjelasan dalam rapat paripurna oleh komisi/gabungan komisi atau pimpinan
panitia khusus terhadap Raperda dan/atau perubahan Raperda yang berasal dari
usul prakarsa DPRD.
2. Pembicaraan tingkat kedua, meliputi:
a. Pemandangan umum dari fraksi-fraksi terhadap Raperda yang berasal dari kepala
daerah
1) Pemandangan umum dari fraksi-fraksi terhadap Raperda yang berasal dari
kepala daerah.
2) Jawaban kepala daerah terhadap pemandangan umum fraksi-fraksi.
b. Dalam hal raperda yang berasal dari usul prakarsa DPRD
1) Pendapat kepala daerah terhadap Raperda atas usul DPRD.
2) Jawaban dari fraksi-fraksi terhadap pendapat kepala daerah.
3. Pembicaraan tingkat ketiga, meliputi pembahasan dalam rapat komisi/gabungan komisi
atau rapat panitia khusus dilakukan bersama-sama dengan kepala daerah atau pejabat
yang ditunjuk.
4. Pembicaraan tingkat keempat, meliputi:
a. Pengambilan keputusa dalam rapat paripurna yang didahului dengan:
1) Laporan hasil pembicaraan tahap ketiga
2) Pendapat akhir fraksi
3) Pengambilan keputusan
b. Penyampaian sambutan kepala daerah
c. Rapat fraksi diadakan sebelum dilakukan pembicaraan tentang laporan hasil
pembicaraan tahap ketiga, pendapat akhir fraksi dan pegambilan keputusan.
d. Apabila dipandang perlu panitia musyawarah dapat menentukan bahwa pembicaraan
tahap ketiga dilakukan dalam rapat gabungan atau dalam rapat panitia khusus.
Mengenai teknis, tata cara dan waktu dari sebuah Raperda yang telah disetujui bersama
lembaga legislatif dan lembaga eksekutif diatur dalam Pasal 144 Undang-undang Nomor 32
Tahun 2004. Dijelaskan dalam pasal ini bahwa Raperda yang telah disetujui bersama oleh
DPRD dan kepala daerah disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada kepala daerah untuk
ditetapkan menjadi peraturan daerah. Penyampaian Raperda tersebut paling lambat 7 (tujuh)
hari sejak tanggal persetujuan bersama. Selanjutnya Raperda tersebut ditetapkan oleh kepala
daerah dengan jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak Raperda tersebut

disetujui bersama. Jika dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari Raperda yang telah disetujui
tidak ditandatangani kepala daerah, maka Raperda tersebut sah menjadi peraturan daerah dan
diundangkan.
Seperti halnya sebuah peraturan perundang-undangan yang diundangkan dalam lembaran
negara, setelah diberikan penomoran selanjutnya peraturan daerah diundangkan dalam
peraturan daerah. Pasal 142 ayat (2) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 jo. Pasal 19 ayat
(1) dan (2) Permendagri Nomor 16 Tahun 2006, menjelaskan bahwa pengundangan ini
dilakukan oleh sekretaris daerah atau dapat didelegasikan kepada kepala biro hukum atau
kepala bagian hukumuntuk kemudian pemerintah wajib menyebarluaskan peraturan daerah
yang telah diundangkan tersebut setelah dilakukan autentifikasi olehkepala biro hukum atau
kepala bagian hukum.
Literatur:
- Maria Farida

Indrati.

S, Ilmu

Perundang-undangan;

Dasar-dasar

Pembentukannya, Kanisius, Yogyakarta, 2007.


- Maria Farida

Indrati.

S, Ilmu

Perundang-undangan;

Proses

dan

Teknik

Pembentukannya, Kanisius, Yogyakarta, 2007.


- Mahendra Putra Kurnia, dkk, Pedoman Naskah Akademik PERDA Partisipatif,
Kreasi Total Media, Yogyakarta, 2007.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Peraturan Perundang-Undangan.
- Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentangProsedur
Penyusunan Produk Hukum Daerah.

Diposkan oleh MUHAMMAD IKHWAN di 08.45