Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PEMBAHASAN
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang
mengenai parenkim paru dimana asinus terisi dengan cairan radang, dengan atau
tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam interstitium. Bronkopneumoni
merupakan Infeksi akut bronkhus dan parenkim paru yang meliputi alveoli dan
jaringan interstisial. Diagnosis Bronkopneumoni berdasarkan Anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada Anamnesis gejala yang
timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan infeksi saluran nafas
akut bagian atas. Gejalanya antara lain batuk, demam tinggi terus-menerus, sesak,
kebiruan sekitar mulut, menggigil (pada anak), kejang (pada bayi), dan nyeri
dada. Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit. Pada bayi muda
sering menunjukkan gejala non spesifik seperti hipotermi, penurunan kesadaran,
kejang atau kembung. Anak besar kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri abdomen
disertai muntah.3,4 pada Pemeriksaan fisik didapatkan takipneu, retraksi dinding
dada, grunting, dan sianosis. Pada bayi-bayi yang lebih besar jarang ditemukan
grunting. Gejala yang sering terlihat adalah takipneu, retraksi, sianosis, batuk,
panas, dan iritabel.3 pada pemeriksaan laboratorium: Darah Lengkap didapatkan
Lekositosis. Pada Pemeriksaan Radiologi Foto toraks (AP/lateral) ditemukan
Infiltrat tersebar paling sering dijumpai, terutama pada pasien bayi. Pada
bronkopneumonia bercak-bercak infiltrat didapatkan pada satu atau beberapa
lobus. Jika difus (merata) biasanya disebabkan oleh Staphylokokus pneumonia.11
Pada pasien ini pada Anamnesis didapatkan sesak napas sejak 1 hari
sebelum MRS. Sesak dikarenakan batuk grok grok yang disertai dahak tapi tidak
bisa keluar yang dideritanya sejak 5 hari sebelum MRS yg makin lama semakin
memberat. Sesak tidak berhubungan dengan aktivitas seperti menangis atau pada
saat minum dan tidak disertai dengan biru di ujung jari dan mulut serta tidak
berbunyi ngik-ngik (mengi). Selain itu ibu pasien mengaku anaknya menderita
Demam summer yang dirasakan sejak 3 hari sebelum MRS dan tidak naik turun.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan retraksi suprasternal dan subcostal (+), ronkhi
(+/+), wheezing (+). Dari pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis.
Dari foto thoraks Tampak Infiltrat pada kedua lapang paru, airbronchogram (+),

Corakan bronkovaskuler dalam batas normal kesan Pneumonia. Sehingga dari


data tersebut dapat disimpulkan pasien menderita Bronkopneumonia yang sesuai
dengan teori sebelumnya.
Untuk penatalaksanaan Bronkopneumonia di berikan Pemberian oksigen
2-4 L/menit melalui kateter hidung atau nasofaring, pemberian cairan dan nutrisi
yang adekuat, Pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer bukan merupakan tata
laksana rutin yang harus diberikan.3 Tatalaksana pneumonia sesuai dengan kuman
penyebabnya. Namun karena berbagai kendala diagnostik etiologi, untuk semua
pasien pneumonia diberikan antibiotik secara empiris. Walaupun sebenarnya
pneumonia viral tidak memerlukan antibiotik, tapi pasien tetap diberi antibiotik
karena kesulitan membedakan infeksi virus dengan bakteri
Pada pasien ini diberikan infus NS 7 tpm, Injeksi Cefotaxim 2x200 mg
iv, Injeksi Metamizol 3x40 mg iv, Nebul PZ+Ventolin R tiap 8 jam, Puyer batuk
3x1

(PO).

Terapi

Bronkopneumonia.

tersebut

sesuai

dengan

teori

diatas

untuk

terapi