Anda di halaman 1dari 23

PROGRAM PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR

PENYAKIT RABIES (RHABDOVIRUS)

Dosen Pembimbing : dr. Fauziah Elytha, MSc

OLEH:

Nama

: Roma Yuliana

No BP : 1311211109

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas
Tahun 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridha-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul Program Penanggulangan Penyakit Rabies
dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi
tugas mata kuliah Program Penanggulangan Penyakit Menular.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen mata kuliah Program
Penanggulangan Penyakit Menular, ibu dr. Fauziah Elytha, MSc serta semua pihak yang
telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan yang disebabkan
oleh kemampuan penulis, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
konstruktif sehingga dapat menyempurnakan makalah ini.

Padang,

September 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah......................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan..........................................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan........................................................................................................2
BAB 2 : PEMBAHASAN......................................................................................................3
2.1 Definisi.........................................................................................................................3
2.2 Sejarah..........................................................................................................................3
2.3 Etiologi.........................................................................................................................4
2.4 Epidemiologi................................................................................................................5
2.5 Gejala Klinis.................................................................................................................7
2.5.1 Pada Hewan...........................................................................................................7
2.5.2 Pada Manusia........................................................................................................7
2.6 Perjalanan Penyakit......................................................................................................8
2.7 Diagnosis....................................................................................................................10
2.8 Pengobatan dan Tatalaksana Kasus............................................................................10
2.9 Penanggulangan dan Pencegahan...............................................................................12
BAB 3 : PENUTUP..............................................................................................................18
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................18
3.2 Saran...........................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................19
LAMPIRAN GAMBAR.......................................................................................................20

ii

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Rabies merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang
disebabkan oleh virus rabies. Penyakit anjing gila ini mempunyai sifat zoonotik yaitu
penyakit yang dapat ditularkan dari hewan pada manusia. Penyakit anjing gila atau rabies
ini bisa menular kepada manusia melalui gigitan. Rabies berasal dari kata latin rabere
yang berarti gila, di Indonesia dikenal sebagai penyakit anjing gila. Rabies merupakan
suatu penyakit hewan menular akut yang bersifat zoonosis (dapat menular ke manusia).
Penyakit ini tidak saja dampak kematian manusia yang ditimbulkannya tetapi juga dampak
psikologis (kepanikan, kegelisahan, kekhawatiran, kesakitan dan ketidaknyamanan) pada
orang-orang yang terpapar serta kerugian ekonomi pada daerah yang tertular seperti biaya
pendidikan, pengendalian yang harus dibelanjakan pemerintah serta pendapatan negara dan
masyarakat yang hilang akibat pembatalan kunjungan wisatawan.
Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat dicegah dengan vaksin
yang terjadi di lebih dari 150 negara dan wilayah. Infeksi menyebabkan puluhan ribu
kematian setiap tahun, terutama di Asia dan Afrika. 40% dari orang-orang yang digigit oleh
hewan rabies adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun. Anjing adalah sumber dari
sebagian besar kematian rabies pada manusia. Segera bersihkan luka dan lakukan
imunisasi dalam beberapa jam setelah kontak dengan hewan rabies dapat mencegah
timbulnya rabies dan kematian.
Rabies pertama kali dilaporkan di Indonesia oleh Schoorl (1884) di Jakarta pada
seekor kuda, kemudian oleh JW Esser (1889) di Bekasi pada seekor Kerbau. Setelah
Penning (1890) menemukan rabies pada anjing, rabies ini menjadi penyakit yang popular
di Indonesia (Hindia Belanda saat itu). Rabies pada manusia dilaporkan lebih belakangan
yaitu oelh de Haan pada tahun 1894. Campur tangan (intervensi) pemerintah terhadap
pengendalian rabies secara formal telah dilakukan sejak era 1920-an, terbukti dengan
penetapan ordonansi rabies Hondsdolheids (Staatsblad 1926 No. 451 yo Staatblad 1926
No. 452) oleh pemerintah colonial Belanda.
Dalam sejarah pengendalian dan pemberantasan rabies di Indonesia, walaupun ada
wilayah yang berhasil dibebaskan, namun Indonesia tidak berhasil menghentikan perluasan
daerah tertular rabies di Indonesia. Daerah tertular rabies yang semula hanya beberapa 4.
provinsi saja sebelum Perang Dunia II, telah meluas ke daerah lain yang semula bebas
1

yaitu: Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara dan Sulawesi
Utara (1956), Sulawesi Selatan (1958), Sumatera Selatan (1959), Lampung (1969), Aceh
(1970), Jambi dan DI yogyakarta (1971), Bengkulu, DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah
(1972), Kalimantan Timur (1974) dan Riau (1975).
Pada dekade 1990-an dan 2000-an Rabies masih terus menjalar ke wilayah yang
sebelumnya bebas hitoris menjadi tertular yaitu Pulau Flores (1998) Pulau Ambon dan
Pulau Seram (2003), Halmahera dan Morotai (2005) Ketapang (2005) serta Pulau Buru
(2006) kemudian Pulau Bali, Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat di Provinsi Riau (2009).
Saat ini provinsi yang bebas rabies Provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Nusa
Tenggara Barat, Papua dan Papua Barat.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, adapun beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apakah definisi penyakit rabies?


Bagaimana sejarah penyakit rabies?
Apakah etiologi penyakit rabies?
Bagaimana epidemiologi penyakit rabies?
Apa gejala-gejala penyakit rabies?
Bagaimana perjalanan penyakit rabies?
Bagaimana pengobatan penyakit rabies?
Bagaimana penangulangan dan pencegahan rabies?

1.3 Tujuan Penulisan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengetahui definisi penyakit rabies?


Mengetahui sejarah penyakit rabies
Mengetahui etiologi penyakit rabies?
Mengetahui dan memahami epidemiologi penyakit rabies?
Mengetahui gejala-gejala penyakit rabies?
Mengetahui dan memahami perjalanan penyakit rabies?
Mengetahui pengobatan penyakit rabies?
Mengetahui penangulangan dan pencegahan rabies?

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar khususnya mahasiswa di bidang
ilmu kesehatan masyarakat dapat memahami epidemiologi penyakit rabies serta program
penanggulangan penyakit rabies.
BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Rabies adalah suatu penyakit yang menyerang susunan saraf pusat. Rabies
disebabkan oleh virus rabies dari genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae. Virus rabies di
2

keluarkan bersama air liur hewan terinfeksi dan ditularkan melalui luka gigitan atau
jilatan. Di Indonesia virus rabies ditularkan kepada manusia melalui gigitan hewan
misalnya anjing, kucing, kera dan kelelawar. Karena gejalanya yang khas, yaitu penderita
menjadi takut air, penyakit rabies sering kali disebut hidrofobia. Rabies sebenarnya
merupakan penyakit hewan berdarah panas yang ditularkan kepada manusia. Meskipun
angka kesakitannya relatif rendah, penyakit ini menjadi perhatian dunia karena
kefatalannya yang sangat tinggi (hampir 100%). Hal ini menyebabkan kejadian rabies
merupakan teror bagi penderita dan dokter.
Rabies adalah penyakit menular khas pada hewan tertentu khusunya anjing dan
serigala yang disebabkan oleh virus dapat ditularkan kepada manusia melalui gigitan
hewan yang tertular (Kamus Kedokteran : 295)
Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang dapat menular ke
manusia (bersifat zoonosis) (WHO, 2010). Rabies sangat penting artinya bagi kesehatan
masyarakat, karena apabila penyakit tersebut menyerang manusia dan tidak

sempat

mendapat perawatan medis akan mengakibatkan kematian dengan gejala klinis yang
mengharukan dan bersifat fatal.
2.2 Sejarah
Rabies merupakan penyakit hewan yang sangat terkenal, bahkan sudah dikenal
sejak ribuan tahun sebelum masehi. Prasasti rabies yang berisikan aturan denda bagi
pemilik anjing, yang positif rabies menggigit manusia hingga mati telah dibuat pada zaman
kekuasaan raja Hamurabi (2300 SM). Rabies pada anjing dan kucing telah digambarkan
oleh Democritus (500 SM) dan Aristoteles (322 SM), Celcus (100 tahun sesudah
masehi) untuk pertama kalinya memperkenalkan hubungan antara gejala takut air
(hidrofobia) pada manusia dengan rabies pada hewan.
Di Indonesia rabies pertama kali dilaporkan pada kerbau oleh Esser (1884),
kemudian oleh Penning pada anjing (1889) dan oleh E.V. De Haan pada manusia (1894),
selanjutnya selama pendudukan Jepang situasi daerah tertular rabies tidak diketahui
dengan pasti, namun setelah Perang Dunia II peta rabies di Indonesia berubah. Secara
kronologis tahun kejadian penyakit rabies mulai di Jawa Barat (1948), Sumatera
Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sulawesi Selatan
dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), D.I. Aceh (1970), Jambi dan
Yogyakarta (1971), Bengkulu, DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara (1972), Kalimantan
Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983) dan P.
Flores (1997).
3

Pada akhir tahun 1997, KLB (Kejadian Luar Biasa) rabies muncul di Kab. Flores
Timur-NTT sebagai akibat pemasukan secara ilegal anjing dari pulau Buton- Sulawesi
Tenggara yang merupakan daerah endemik rabies. Sampai dengan saat ini selain beberapa
provinsi di kawasan Timur Indonesia yang tersebut diatas pulau- pulau kecil di sekeliling
Pulau Sumatera masih dinyatakan bebas rabies.
2.3 Etiologi
Penyebab rabies adalah virus rabies yang termasuk famili Rhabdovirus. Bentuknya
menyerupai peluru, berukuran 180 nm dengan diameter 75 nm, dan pada permukaannya
terlihat struktur seperti paku dengan panjang 9 nm. Virus ini tersusundari protein, lemak,
RNA, dan karbohidrat.Virus rabies tidak dapat bertahan lama di luar jaringan hidup.Virus
mudah mati oleh sinar matahari dan sinar ultraviolet. Dengan pemanasan 60C selama 5
menit, virus rabies akan mati. Virus ini tahan terhadap suhu dingin, bahkan dapat bertahan
beberapa bulan pada suhu 4C.
Pada suhu kamar, virus dapat bertahan hidup sampai beberapa minggu pada larutan
gliserin pekat. Bila konsentrasi gliserinnya hanya 10%, maka virus akan cepat mati. Virus
tidak bertahan hidup lama pada pelarut lemak seperti air sabun, detergen, kloroform, atau
eter.

Gambar 1. Virus rabies


2.4 Epidemiologi
Penyakit rabies tersebar di seluruh dunia antara lain Rusia, Argentina, Brasilia,
Australia, Israel, Spanyol, Afghanistan, Amerika Serikat, Indonesia dan lain sebagainya
dengan frekuensi kasus dan spesifikasi vektor penular yang berbeda-beda. Di Amerika
Serikat ada beberapa kota yang bebas rabies (New York dan Philadelphia), tetapi sebagian
4

besar negara bagian melaporkan kasus rabies pada binatang. Pada tahun 1975 dilaporkan
terjadi 25 kasus rabies pada anjing. Vektor utama di Amerika Utara adalah rubah, racoon,
dan kelelawar. Di Amerika Tengah den Latin, kelelawar penghisap darah ternak (vampire
bat) adalah vektor utama penyakit selain anjing. Rubah juga merupakan hewan penular
terpenting di Eropa, sedangkan di Asia dan Afrika.anjing merupakan vektor terbanyak
yang ditemukan.
Rabies ditemukan di Indonesia pada tahun 1889 pada seekor kerbau di Bekasi,
sementara rabies pada manusia pertama kali dilaporkan pada tahun 1894 oleh E.V. de
Haan. Di daerah tropis.vektor utama rabies adalah hewau karnivora. Dari hasil penelitian
pada bewan peliharaan seperti anjing.kucing. dan kera, didapatkan data bahwa dari 12.581
gigitan hewan tersangka rabies, sebanyak 1112 hewan positif rabies, 120 orang meninggal,
dengan kasus tertinggi di NTT, Sumatera Barat, dan Riau. Di Jawa Tengah sejak tahun
1995 tidak terdapat lagi kasus rabies. Sasaran pengobatan adalah pasien yang tergigit
hewan tersangka dan anjing.
Di Indonesia sampai Agustus 2010 sudah 113 orang positif terinfeksi penyakit
rabies. Penyebaran virus rabies sulit dihentikan. Kecepatan penyebarannya tiga milimeter
perjam. Tidak mengherankan bila angka kematian akibat penyakit ini mencapai 100%.
Ciri-ciri yang terkena rabies korban akan merasa sakit di luka gigitan, setelah itu sakit
kepala, takut cahaya, takut air dan sesak napas.
Penyakit ini, seperti dilansir dalam siaran pers Kementerian Kesehatan, juga kerap
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Tahun 2005 KLB terjadi di provinsi Maluku,
Maluku Utara dan Kalimantan Barat, akhir tahun 2007, KLB terjadi di Banten. November
2008, KLB terjadi di Kab. Badung, Bali.Di Pulau Nias, Sumatera Utara sampai dengan Juli
2010 terjadi 857 gigitan hewan penular rabies (GHPR), sekitar 815 diberi vaksin anti
rabies, dan 23 diantaranya meninggal dunia. Di Bali, sejak kasus ini menyebar tahun 2008
di Kab. Badung, sampai bulan Agustus 2010 terdata 53.418 kasus GPHR, 83 diantaranya
meninggal (4 orang tahun 2008, 26 orang tahun 2009, dan 53 orang tahun 2010).
Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan rata-rata di Asia ada 50.000
kasus kematian akibat rabies pertahun. Kasus di negara Asia terbanyak ditemukan di India
(20.000-30.000 kasus pertahun), Vietnam (rata-rata 9.000 kasus pertahun), China (rata-rata
2.500 kasus pertahun), Filipina (200-300 kasus pertahun) dan Indonesia (rata-rata 125
kasus pertahun). Di Indonesia rabies sebagian besar disebabkan gigitan anjing (98%)
sementara sebagian kecil diebabkan oleh gigitan kera dan kucing (2%).

Forum Regional Zoonotic Meeting SEARO yang berlangsung di Jakarta pada


November 2007, menetapkan rabies sebagai penyakit prioritas kedua setelah Avian
Influenza. Penyakit Rabies atau anjing gila merupakan penyakit mematikan yang
ditularkan lewat gigitan anjing. Untuk menghindari kematian, bila seseorang digigit hewan
yang menderita rabies, tindakan pertama yang dilakukan adalah cuci luka secepatnya
dengan air mengalir dan sabun atau deterjen selama 10-15 menit. Kemudian luka diberi
antiseptik/ alkohol 70%, setelah itu segera bawa ke Rabies Center (Puskesmas atau Rumah
Sakit) atau ke dokter untuk mendapatkan pengobatan selanjutnya.
Data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
Kementerian Kesehatan menyebutkan, Indonesia merupakan negara terbesar ke lima di
Asia yang menjadi negara dengan jumlah korban rabies. Posisi Indonesia terbesar setelah
India, China, Filipina dan Vietnam.
Data kasus kematian yang disebabkan rabies (lyssa) di Indonesia tercatat sekitar
125 kasus per tahun. Wilayah di Indonesia yang terinfeksi rabies juga tidak main-main.
Sejak tahun 2004 hingga Desember 2009 lalu, penyebaran rabies tersebar di 24 Provinsi.
Berarti hanya 9 Provinsi saja yang bebas rabies, yaitu Jawa Tengah, DI Yogjakarta, Jawa
Timur, Bali, NTT, Papua, Kalimantan Barat dan Maluku Utara. Selain sembilan Provinsi
tersebut, semua terkena penyebaran rabies dan berpotensi menambah jumlah korban
meninggal akibat gigitan ataupun liur anjing liar yang tertular rabies.
Kejadian penyakit rabies di Indonesia pada tahun 2004 (1308 kasus), 2005 (889
kasus), 2006 (1708 kasus), dan pada tahun 2007 (1936 kasus).
Rita

Kusriastuti,

Direktur

Pengendalian

Penyakit

Bersumber

Binatang,

Kementerian Kesehatan menyebutkan, sembilan Provinsi yang saat ini masih bebas dari
ancaman rabies tersebut adalah Bangka Belitung, Kepri, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa
Timur, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, dan Papua. Sementara hingga
Juli 2010 , tercatat sekitar 24 provinsi yang telah melaporkan terjadinya kasus rabies
berujung pada kematian. Sebanyak 24 Provinsi tersebut adalah Sumut, Sumbar, Riau,
Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Banten, Jabar, Bali, NTT, Sulut, Gorontalo, Sulteng,
Sultra, Sulsel, Sulbar, Kalsel, Kaltim, Maluku, Malut dan Kalteng. Provinsi Bali
merupakan yang paling tinggi dan mengkhawatirkan.
2.5 Gejala Klinis
2.5.1 Pada Hewan
Gejala klinis pada hewan dibagi menjadi tiga stadium, yaitu:
a. Stadium Prodromal
6

Keadaan ini merupakan tahapan awal gejala klinis yang dapat berlangsung antara
2-3 hari. Pada tahap ini akan terlihat adanya perubahan temperamen yang masih
ringan. Hewan mulai mencari tempat-tempat yang dingin/gelap, menyendiri, reflek
kornea berkurang, pupil melebar dan hewan terlihat acuh terhadap tuannya. Hewan
menjadi sangat perasa, mudah terkejut dan cepat berontak bila ada provokasi.
Dalam keadaan ini perubahan perilaku mulai diikuti oleh kenaikan suhu badan.
b. Stadium Eksitasi
Tahap eksitasi berlangsung lebih lama daripada tahap prodromal, bahkan dapat
berlangsung selama 3-7 hari. Hewan mulai garang, menyerang hewan lain ataupun
manusia yang dijumpai dan hipersalivasi. Dalam keadaan tidak ada provokasi
hewan menjadi murung terkesan lelah dan selalu tampak seperti ketakutan. Hewan
mengalami fotopobi atau takut melihat sinar sehingga bila ada cahaya akan bereaksi
secara berlebihan dan tampak ketakutan.
c. Stadium Paralisis.
Tahap paralisis ini dapat berlangsung secara singkat, sehingga sulit untuk dikenali
atau bahkan tidak terjadi dan langsung berlanjut pada kematian. Hewan mengalami
kesulitan menelan, suara parau, sempoyongan, akhirnya lumpuh dan mati.
2.5.2 Pada Manusia
Gejala klinis pada manusia dibagi menjadi empat stadium, yaitu:
a. Stadium Prodromal
Gejala awal yang terjadi sewaktu virus menyerang susunan saraf pusat adalah
perasaan gelisah, demam, malaise, mual, sakit kepala, gatal, merasa seperti
terbakar, kedinginan, kondisi tubuh lemah dan rasa nyeri di tenggorokan selama
beberapa hari.
b. Stadium Sensoris
Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka
kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap
ransangan sensoris.

c. Stadium Eksitasi
Tonus otot-otot akan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala berupa
eksitasi atau ketakutan berlebihan, rasa haus, ketakutan terhadap rangsangan
cahaya, tiupan angin atau suara keras. Umumnya selalu merintih sebelum
7

kesadaran hilang. Penderita menjadi bingung, gelisah, rasa tidak nyaman dan
ketidak beraturan. Kebingungan menjadi semakin hebat dan berkembang menjadi
argresif, halusinasi, dan selalu ketakutan. Tubuh gemetar atau kaku kejang.
d. Stadium Paralis
Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadangkadang
ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang
bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang
memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.
2.6 Perjalanan Penyakit
Cara penularan melalui gigitan dan non gigitan (aerogen, transplantasi,
kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa).
Cakaran oleh kuku hewan penular rabies adalah berbahaya karena binatang menjilati
kuku-kukunya. Saliva yang ditempatkan pada permukaan mukosa seperti konjungtiva
mungkin infeksius. Ekskreta kelelawar yang mengandung virus rabies cukup untuk
menimbulkan bahaya rabies pada mereka yang masuk gua yang terinfeksi dan
menghirup aerosol yang diciptakan oleh kelelawar. Penularan rabies melalui
transplan kornea dari penderita dengan ensefalitis rabies yang tidak didiagnosis pada
resipen/penerima sehat telah direkam dengan cukup sering. Penularan dari orang ke
orang secara teoritis mungkin tetapi kurang terdokumentasi dan jarang terjadi.
Luka gigitan biasanya merupakan tempat masuk virus melalui saliva, virus
tidak bisa masuk melalui kulit utuh. Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan,
maka selama 2 minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk dan didekatnya,
kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan
perubahan-perubahan

fungsinya. Bagian

otak

yang

terserang

adalah

medulla

oblongata dan annons hoorn.


Masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi, mulai dari 7 hari sampai lebih dari 1
tahun, rata-rata 1-2 bulan, tergantung jumlah virus yang masuk, berat dan luasnya
kerusakan jaringan tempat gigitan, jauh dekatnya lokasi gigitan ke sistem saraf pusat,
persarafan daerah luka gigitan dan sistem kekebalan tubuh. Pada gigitan di kepala, muka
dan leher 30 hari,gigitan di lengan, tangan, jari tangan 40 hari, gigitan di tungkai, kaki,
jari kaki 60 hari, gigitan di badan rata-rata 45 hari. Asumsi lain menyatakan bahwa masa
inkubasi tidak ditentukan dari jarak saraf yang ditempuh , melainkan tergantung dari
8

luasnya persarafan pada tiap bagian tubuh, contohnya gigitan pada jari dan alat kelamin
akan mempunyai masa inkubasi yang lebih cepat.
Sesampainya di otak virus kemudian memperbanyak diri dan menyebar luas
dalam semua bagian neuron, terutama mempunyai predileksi khusus terhadap sel-sel
sistem limbik, hipotalamus dan batang otak. Setelah memperbanyak diri dalam
neuron-neuron sentral, virus kemudian ke arah perifer dalam serabut saraf eferen dan
pada saraf volunter maupun saraf otonom. Dengan demikian virus ini menyerang hampir
tiap organ dan jaringan didalam tubuh dan berkembang biak dalam jaringan- jaringan
seperti kelenjar ludah, ginjal dan sebagainya. Gambaran yang paling menonjol
dalam infeksi rabies adalah terdapatnya badan negri yang khas yang terdapat dalam
sitoplasma sel ganglion besar.

Gambar 3. Skema patogenesis infeksi virus rabies.


2.7 Diagnosis
Diagnosis rabies pada manusia ditegakkan berdasarkan dua cara, yaitu:
1. Klinis, terbagi meniadi 3 stadium, meliputi:
9

a. Prodromal,

dengan

gejala

nyeri

kepala,

demam,

hipersalivasi,

dan fotofobia.
b. Eksitasi, di mana refleks mulai meningkat, sulit menelan, agresif,
dan hidrofobia.
c. Paralitik, dimulai dengan munculnya kelumpuhan flasid di tempat gigitan,
kelumpuhan yang dimulai dari ujung anggota gerak terus ke arah pangkal, dan
bisa sampai terjadi kelumpuhan otot-otot pernapasan.
2. Pemeriksaan Laboratorium, melalui:
a. Isolasi virus rabies yang didapatkan dari spesimen air liur, cairan serebrospinal,
air mata, jaringan mukosa mulut atau urin panderita
b. FAT (fluorescent antibody test) adalah pemeriksaan berdasarkan antigen virus
pada spesimen tersebut di atas, hasilnya bisa negatif bila antibodi sudah
terbentuk.
c. Mikroskopis Seller, adalah pemeriksaan mikroskopis untuk menemukan negri
body di mana negri body adalah tanda khas infeksi virus rabies pada sel tubuh.
d. Biologis, adalah inokulasi spesimen ke dalam jaringan otak tikus putih. Setelah
tikus mati, dilanjutkan pemeriksaaan ulang dengan metode FAT dan
mikroskopis Seller.
2.8 Pengobatan dan Tatalaksana Kasus
a. Identifikasi luka
1. Luka risiko rendah, adalah jilatan pada luka kecil di kulit badan dan anggota
gerak atau jilatan pada luka lecet akibat garukan.
2. Luka risiko tinggi, adalah jilatan pada mukosa (selaput lendir) utuh; jilatan pada
luka leher, muka dan kepala, luka gigitan pada leher, muka luka gigitan yang
dalam, lebar, atau banyak.dan kepala; luka gigitan pada jari tangan dan kaki;
luka gigitan pada daerah genitalia dan luka gigitan yang dalam, lebar, atau
banyak.

b. Tata laksana luka


1. Pencucian luka: Karena virus rabies masih akan menetap pada luka gigitan
selama 2 minggu sebelum kemudian bergerak ke ujung saraf posterior, maka
pencucian sangat penting untuk mencegah infeksi. Pencucian dilakukan dengan
air mengalir, memakai sabun/detergen selama 15 menit.
10

2. Pemberian antiseptik: Seteiah dicuci, luka diberi antiseptik seperti alkohol 70%,
povidon iodin, obat merah, dsb.
3. Tindakan penunjang: Dilakukan jahit situasi pada luka yang dalam dan lebar
untuk menghentikan perdarahan. Sebelum dijahit harus diberikan suntikan SAR
terlebih dahulu.
c. Pemberian VAR (vaksin anti-rabies), atau VAR dan SAR (serum anti- rabies)
1. Pada luka risiko rendah: VAR diberikan pada semua penderita kasus gigitan
HPR yang belum pemah mendapatkan VAR. Sejumlah 0,5 mL VAR disuntikkan
1M pada regio deltoideus anak kanan dan kiri sedangkan pada bayi disuntikkan
di pangkal paha. Penyuntikkan diberikan 4 kali (hari ke-0 2x pada pangkal
lengan kanan kiri, hari ke-7 1x, dan hari ke-21 1x); sedangkan pada penderita
yang sudah pernah mendapat VAR lengkap sebelum 3 bulan tidak perlu diberi
VAR, bila sudah berusia 3 bulan sampai 1 tahun maka perlu diberikan VAR 1x,
dan bila sudah berusia lebih dari 1 tahun maka perlu diberikan VAR lengkap
karena dianggap sebagai penderita baru.
2. Pada luka risiko tinggi: Perlu diberikan VAR dan SAR. VAR disuntikkan
sebagaimana pada luka risiko rendah ditambah ulangan 1x pada hari ke-90.
SAR disuntikkan di sekitar luka gigitan dan sisanya secara IM dengan dosis 0,1
mL/kgBB pada hari ke-0, bersamaan dengan pemberian VAR.
d. Perawatan kasus
Penderita yang menunjukkan gejala rabies harus dirawat di rumah sakit di ruang
isolasi.Ruangan sebaiknya gelap dan tenang, Pengobatan dan perawatan ditujukan
untuk mempertahankan hidup penderita. Petugas kesehatan (dokter dan perawat)
yang menangani seharusnya memakai alat perlindungan diri dari kemungkinan
tertular seperti: kacamata plastik, sarung tangan karet, masker, dan jas laboratorium
lengan panjang. Apabila diperlukan, vaksinasi pencegahan dapat diberikan untuk
petugas kesehatan dengan VAR 2x (hari ke-0 dan hari ke-28) dengan dosis dan cara
pemberian yang sama dengan pemberian VAR pada luka. Ulangan dapat diberikan
1 tahun setelah pemberian 1 dan setiap 3 tahun.
e. Penanganan jenazah
Dalam menangani jenazah penderita rabies, petugas harus tetap memperhatikan
norma agama, budaya, dan peraturan perundangan yang berlaku. Petugas sebaiknya
menggunakan alat pedindungan diri saat memandikan jenazah dan mencuci tangan
dengan sabun/detergensetelah selesai.
11

Gambar 4. Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Tersangka Rabies


2.9 Penanggulangan dan Pencegahan
1) Pencegahan
Vaksinasi anjing peliharaan dan eliminasi aniing liar perlu dilakukan.Orang dengan
.risiko tinggi seperti dokter hewan, pekerja laboratorium, dan anak-anak (yang
dianggap sering berhubungan dengan hewan peliharaan) juga perlu diimunisasi. Pada
daerah endemik rabies.gigitan anjing tanpa provokasi (anjing tidak diganggu) harus
dianggap menularkan rabies. Dokter mengelola pasien yang tergigit, sedangkan hewan
yang menggigit akan ditangani oleh petugas dari dinas peternakan.
a. Pencegahan Primer
1. Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing,
kucing, kera dan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies.
2. Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang masuk
tanpa izin ke daerah bebas rabies.
12

3. Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerahdaerah bebas rabies.
4. Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70%
populasi yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.
5. Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap kera, anjing, kucing yang
telah divaksinasi.
6. Mengurangi jumlah populasi anjing liar atan anjing tak bertuan dengan jalan
pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan.
7. Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus
didaftarkan ke Kantor Kepala Desa/Kelurahan atau Petugas Dinas
Peternakan setempat.
8. Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari2
meter. Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan
rantai tidak lebih dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan
berangus (beronsong).
9. Menangkap dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita
rabies, selama 10 sampai 14 hari, terhadap hewan yang mati selama
observasi atau yang dibunuh, maka harus diambil spesimen untuk
dikirimkan ke laboratorium terdekat untuk diagnosa.
10. Mengawasi dengan ketat lalu lintas anjing, kucing, kera dan hewan
sebangsanya yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka rabies.
11. Membakar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies
sekurang-kurangnya 1 meter.
b. Pencegahan Sekunder
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko
tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan
deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Kemudian luka
diberi alkohol 70% atau Yodium tincture. Setelah itu pergi secepatnya ke
Puskesmas atau Dokter yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan
sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan.
Resiko yang dihadapi oleh orang yang mengidap rabies sangat besar. Oleh
karena itu, setiap orang digigit oleh hewan tersangka rabies atau digigit oleh
anjing di daerah endemic rabies harus sedini mungkin mendapat pertolongan

13

setelah terjadinya gigitan sampai dapat dibuktikan bahwa tidak benar adanya
infeksi rabies.
c. Pencegahan Tertier
Tujuan dari tiga tahapan pencegahan adalah membatasi atau menghalangi
perkembangan ketidakmampuan, kondisi, atau gangguan sehingga tidak
berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan intensif yang
mencakup pembatasan terhadap ketidakmampuan dengan menyediakan
rehabilitasi. Apabila hewan yang dimaksud ternyata menderita rabies
berdasarkan

pemeriksaan

klinis

atau

laboratorium

dari

Dinas

Perternakan, maka orang yang digigit atau dijilat tersebut harus segera
mendapatkan pengobatan khusus (Pasteur Treatment) di Unit Kesehatan yang
mempunyai fasilitas pengobatan Anti Rabies dengan lengkap.
2) Pengendalian
a. Aturan Perundangan
Upaya pencegaan dan pengendalian rabies telah dilakukan sejak lama, di Indonesia
dilaksanakan melalui kegiatan terpadu secara lintas sektoral antara lain dengan
adanya Surat Keputusan Bersama 3 Menteri yaitu Menteri Kesehatan, Menteri
Pertanian, dan Menteri Dalam Negeri No: 279A/MenKes/SK/VIII/1978; No:
522/Kpts/Um/8/78; dan No: 143/tahun1978.7. Penerapan aturan perundangan ini
perlu ditegakkan, agar pelaksanaan di lapangan lebih efektif dan secara tegas
memberikan otoritas kepada pelaksana untuk melakukan kewajibannya sesuai
dengan aturan perundangan yang ada, baik tingkat nasional, tingkat kawasaan,
maupun tingkat lokal.
b. Surveilans
Pelaksanaan surveilans untuk rabies merupakan dasar dari semua program dalam
rangka pengendalian penyakit ini. Data epidemiologi harus dikumpulkan sebaik
mungkin, dianalisis, dipetakan, dan bila mungkin segera didistribusikan secepat
mungkin. Informasi ini juga penting untuk dasar perencanaan, pengorganisasian,
dan pelaksanaan program pengendalian.
c. Vaksinasi Rabies
Untuk mencegah terjadinya penularan rabies, maka anjing, kucing, atau kera
dapat diberi vaksin inaktif atau yang dilemahkan (attenuated). Untuk memperoleh
kualitas vaksin yang efektif dan efisien, ada beberapa persyaratan yang harus
dipenui, baik vaksin yang digunakan bagi hewan maupun bagi manusia, yakni :
14

Vaksin harus dijamin aman dalam pemakaian.

Vaksin harus memiliki potensi daya lindung yang tinggi.

Vaksin harus mampu memberikan perlindungan kekebalan yang lama.

Vaksin arus mudah dalam cara aplikasinya.

Vaksin harus stabil dan menghasilkan waktu kadaluwarsa yang lama.

Vaksin harus selalu tersedia dan mudah didapat sewaktu-waktu dibutuhkan

3) Program Pemberantasan
1. Tujuan
Tujuan pengendalian rabies adalah membebaskan bewan dan manusia dari peyakit
rabies pada tahun 2015.
2. Target/sasaran
a. Menjaga daerah bebas rabies tetap bebas.
b. Tata Iaksana kasus gigitan hewan penular rabies (HPR).
c. Pencegahan dan penanggulangan KLB rabies.
d. Membebaskan rabies dengan pendekatan pulau per pulau.
3. Strategi
a. Koordinasi Iintas sektor terutama sektor peternakan.
b. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
c.

Secara prioritas membebaskan daerah dari rabies secara bertahap.

4. Kegiatan
Langkah-Iangkah kegiatan pengendalian rabies dibagi menurut kriteria daerah
sebagai berikut:
a. Daerah bebas rabies terdiri dari dua, yaitu daerah bebas historis rabies dan
daerah yang dibebaskan dari rabies. Daerah bebas historis adalah daerah yang
secara historis belum pernah ditemukan kasus rabies, sedangkan daerah yang
dibebaskan adalah daerah tertular rabies yang seiama dua tahun terakhir tidak
ada kasus rabies secara klinis, epidemiologis, dan sudah dengan konfirmasi
laboratorium.
Kegiatan daerah bebas historis adalah sebagai berikut:
-

Pengawasan lalu lintas hewan, adalah larangan memasukkan anjing, kucing,


kera, dan satwa liar penular rabies lain ke provinsi-provinsi di Jawa.
Pengawasan dilakukan oleh petugas karantina hewan dinas peternakan di
check point pada perbatasan provinsi.
15

Tindakan kewaspadaan, adalah kegiatan penyuluhan. kampanye, dan


sosialisasi Iainnya untuk mempertahankan daerah tetap bebas rabies.

Kegiatan daerah yang dibebaskan adalah:


-

Kegiatan pada daerah bebas historis ditambah

Tindakan pengendalian, adalah pembuatan barier untuk menciptakan daerah


penyangga (immune belt) pada kabupaten/ kota perbatasan pulau Jawa
dengan Sumatera dan Bali, melalui vaksinasi rabies massal hewan dan
eliminasi massal anjing liar.

b. Daerah tersangka rabies


Adalah daerah yang telah ditemukan kasus rabies secara klinis dan
epidemiologis.tetapi belum dikonfirmasi laboratorium dalam dua tahun
terakhir, serta daerah yang berbatasan langsung dalam satu pulau dengan
daerah tertular.
Kegiatan di daerah ini sama dengan daerah yang dibebaskan
dengan kegiatan pemantauan dan penyelidikan yang lebih intensif.
c. Daerah tertular rabies
Kegiatan di daerah ini selain kampanye dan tata laksana program
umum adalah:
-

Registrasi dan pengawasan HPR, dilaksanakan dengan penandaan


kalung leher pada HPR terutama anjing, kucing, dan kera, di mana
pemilik mengerti dan bertanggung jawab atas peliharaannya.

Vaksinasi HPR, dengan target 100% populasi anjing peliharaan. Pada


kecamatan positif rabies, vaksinasi dilaksanakan pada ring vaksinasi
dengan luas radius 10 km.

Eliminasi/depopulasi HPR; targetnya adalah 100% anjing liar/ tanpa


pemilik yang jumlahnya diperkirakan sebesar 20% dari total populasi
anjing.

Observasi HPR, adalah kegiatan pengawasan HPR yang menggigit


tanpa provokasi harus ditangkap dan diamati selama 14 hari oleh
petugas dinas peternakan. Apabila dalam masa pengamatan tersebut
anjingnya mati, maka harus diambil spesimen otaknya dalam larutan
bufer gliserin 50% untuk segera dikirim dan diperiksa oleh Balai Besar
Veteriner (BBVet) atau laboratorium yang ditunjuk; sedangkan bila

16

hewannya masih hidup, maka dapat diserahkan kepada pemiliknya


setelah divaksinasi atau dimusnahkan bila tidak ada pemiliknya.
-

Pengawasan lalu lintas hewan, setiap HPR yang mau memasuki suatu
daerah harus divaksinasi dahulu paling sedikit sebulan sebelumnya dan
paling lama satu tahun di daerah tujuan.

Pengawasan dan penertiban pemeliharaan HPR, di mana setiap HPR


peliharaan harus divaksinasi teratur 3 tahun sekali dan setiap tahun di
daerah tertular. bagi yang tidak bersedia harus dieliminasi. Sesudah
vaksinasi, anjing ditandai dan didaftarkan ke ketua RT setempat.Anjing
dipelihara di halaman dam tidak boleh berkeliaran.Apabila halaman
rumah tidak berpagar, anjing harus diikat dangan rantai yang
panjangnya maksimal dua meter. Anjing yang mau dibawa keluar
rumah, anjing harus diikat dan moncongnya ditutup mamakai brangus

Koordinasi antar daerah, daerah tertular baru yang sebelumnya bebas


dinyatakan tertutup bagi lalu lintas keluar masuknya HPR 301mm: 6
bulan dari kasus rabies terakhir.

5. Monitoring dan evaluasi


a. lndikator pada hewan:
-

jumlah hewan positif rabies

Cakupan vaksinasi anjing

Cakupan eliminasi anjing

b. lndikator pada manusia:


-

Input: Jumlah VAR/BAR yang tersedia.

Indikator proses: % kasus gigitan HPR yang sesuai SOP.

Indikator output: % jumlah kasus gigitan yang ditangani.

Jumlah rabies center yang tersedia.

lndikator outcome: jumlah lyssa,

BAB 3 : PENUTUP

17

3.1 Kesimpulan
Rabies adalah suatu penyakit yang menyerang susunan saraf pusat yang disebabkan
oleh virus rabies, yang termasuk dalam famili Rhabdovirus. Penyakit anjing gila ini
mempunyai sifat zoonotik yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan pada manusia
melalui gigitan. Di Indonesia virus rabies ditularkan kepada manusia melalui gigitan
hewan misalnya anjing, kucing, kera dan kelelawar.
Penyakit rabies tersebar di seluruh dunia antara lain Rusia, Argentina, Brasilia,
Australia, Israel, Spanyol, Afghanistan, Amerika Serikat, Indonesia dan lain sebagainya
dengan frekuensi kasus dan spesifikasi vektor penular yang berbeda-beda. Negara endemis
rabies adalah India, Srilangka, Bangladesh dan Indonesia. Data Badan Kesehatan Dunia
(WHO) menunjukkan rata-rata di Asia ada 50.000 kasus kematian akibat rabies pertahun.
Penyakit rabies ditularkan melalui gigitan binatang. Kuman yang terdapat dalam air
liur binatang ini akan masuk ke aliran darah dan menginfeksi tubuh manusia.Masa
inkubasi adalah waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala penyakit .Masa
inkubasi penyakit Rabies pada anjing dan kucing kurang lebih 2 minggu (10 hari- 14 hari).
Pada manusia 2-3 minggu dan paling lama 1 tahun. Gejala Klinis rabies pada manusia
memiliki empat tahap yaitu tahap prodromal, sensoris, eksitasi dan tahap paralitik.
Pencegahan dan pengobatan penyakit rabies yaitu melakukan pemeriksaan hewan
peliharaan, pemberian vaksin, dan pengobatan dengan pemberian antibiotik, VAR dan
SAR.
3.2 Saran
Saran penulis terhadap pembaca khususnya yang memiliki hewan peliharaan yakni
kucing, anjing, kera dan hewan lainnya yang rentan terkena virus rabies agar dapat menjadi
seorang pemelihara yang baik dengan selalu melakukan pemeriksakan hewan peliharaan
dan memberikan vaksin secara teratur. Selain itu apabila terdapat kasus gigitan dari hewan
yang diduga terjangkit rabies, secepatnya di laporkan ke dinas kesehatan atau pihak terkait
agar dapat meminimalisir terjadinya wabah dari penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

18

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.
Zulkhoni, Akhsin. 2011. Parasitologi Untuk Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, dan
Teknik Lingkungan.Yogjakarta : Nuha Medika.
Soeharsono. 2002. Zoonosis Penyakit Menular Dari Hewan Ke Manusia Volume 1.
Yogakarta : Kanisius.
Atmawinata, Edi.2006. Mengenal Beberapa Penyakit Menular Dari Hewan Kepada
Manusia. Bandung : Yrama Widya.
Tanzil, Kunadi. 2014. Penyakit Rabies Dan Penatalaksanaannya. Bagian Mikrobiologi
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Vol.1, No.1. ISSN 2338-7793.
Departemen Kesehatan RI. Petunjuk Perencanaan dan Penatalaksanaan Kasus Gigitan
Hewan Tersangka Rabies di Indonesia. 4th ed. Departemen Kesehatan RI Direktorat
Jendral PPM & PL. Jakarta . 2000.
Chin, James. 2006. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta : Invromedika.
Chandra, Budiman. 2011. Kontrol Penyakit Menular Pada Manusia. Jakarta : EGC
Kedokteran.
Sudoyo, Aru W, dkk. 2007. Buku Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rampengan. 2008. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Manado : EGC Kedokteran.
Nasronuddin. 2007. Penyakit Infeksi di Indonesia Solusi dan Kini Mendatang. Surabaya:
Airlangga University Press.

LAMPIRAN GAMBAR

19

Gejala Rabies Pada Manusia

Struktur Virus Rabies

Masa Inkubasi Virus Rabies

Anjing Tekena Rabies

Cara Pengobatan Tradisional Jika Digigit Anjing

20