Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN RESMI

TUGAS PERANCANGAN SISTEM PENCEGAHAN


DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN
Integrated System pada Gedung CNC dan Uji Bahan

Disusun oleh:
Andronikus Nuari Siregar (6512040056)
Tiya Erliana Andriani
(6512040064)
K3-5B

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pencegahan kebakaran adalah usaha menyadari/ mewaspadai akan faktor


faktor yang menjadi sebab muculnya atau terjadinya kebakaran dan mengambil
langkah untuk mencegah kemungkinan tersebut menjadi kenyataan. Pencegahan
kebakaran membutuhkan suatu program pendidikan dan pengawasan beserta
pengawasan karyawan, suatu rencana pemeliharaan yang cermat dan teratur atas
bangunan dan kelengkapannya, inspeksi/ pemeliharaan, penyediaan dan
penempatan

yang

baik

dari

peralatan

pemadam

kebakaran

termasuk

memeliharanya baik dari segi siap pakainya maupun dari segi mudah dicapainya.
Kebakaran merupakan suatu bencana yang disebabkan oleh api yang tidak
terkendali. Kebakaran dapat menyebabkan kerusakan harta benda dan jatuhnya
korban jiwa. Api kecil hanya membutuhkan waktu 4-10 menit untuk terjadainya
flash over dan tumbuh menjadi api dewasa. Usaha pemadaman kebakaran dapat
dilakukan sebelum api mencapai flash over dan tumbuh menjadi dewasa, karena
apabila api sudah mencapai dewasa kita hanya bisa melakukan pengontrolan saja
agar api tidak menyebar ke tempat lain dan menyebabkan kebakaran yang lebih
besar. Pada gedung uji bahan dan CNC yang sebagian besar berisikan mesin
mesin dan komputer yang digunakan sebagai penunjang praktikum, hal ini
menjadi pertimbangan penting untuk melindungi terhadap kebakaran yang dalam
waktu sekejap dapat menimbulkan kerugian besar berupa korban jiwa, kerugian
materi, dan kerugian lainnya. Tidak tersedianya integrated system pada gedung
tersebut dapat menyebabkan meluasnya kebakaran dengan cepat, dimana
integrated system merupakan suatu sistem yang bekerja secara otomatis dengan
memancarkan CO2 ke segala arah untuk memadamkan kebakaran atau setidaknya
dapat mencegah meluasnya kebakaran.
Berdasarkan NFPA 12 tahun 2005, Undang undang No. 1 tahun 1970
tentang keselamatan kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja Per 02/Men/1983, dan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 04/Men/1988, maka penyediaan dan
pemasangan peralatan kebakaran secara terencana terutama yang tepsang secara
mutlak diperlukan, mengingat penyediaan pemadam kebakaran berupa integrated
system masih belum tersedia pada gedung uji bahan dan CNC di Politeknik
Perkapalan Negeri Surabaya. Pada penelitian ini sistem kerja dari integrated
system digambarkan melalui gambaran 2D dan atau 3D dengan bantuan software
Autocad.

1.2 Perumusan Masalah


Permasalahan yang terjadi adalah :
a. Bagaimana desain penempatan Integrated system yang sesuai dengan NFPA
12 tahun 2005 ?
b. Bagaimana Integrated system yang digambarkan menggunakan software
Autocad?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk menjamin agar Integrated system dapat digunakan sebagai media
pemadam kebakaran dini yang secara efektif dan efisien dapat mencegah
terjadinya kebakaran yang lebih luas sesuai dengan peraturan yang ada.
b. Mengetahui sistem pemadam Integrated system yang digambarkan melalui
gambar 2D dan atau 3D.
1.4 Manfaat penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
a.

Untuk

mengembangkan

ilmu

pengetahuan

mengenai

pemadaman

b.

kebakaran otomatis.
Untuk mengembangkan ilmu khususnya mengenai Integrated system
dengan menggunakan software Autocad.

1.5 Batasan Masalah


Ruang lingkup dan batasan masalah pada penelitian ini adalah :
a. Penelitian ini hanya dilakukan pada gedung uji bahan dan CNC.
b. Menggunakan media pemadaman dengan CO2.
c. Memperhitungkan estimasi biaya yang di keluarkan untuk perancangan
Integrated System serta besarnya keuntungan yang didapat.
d. Menggunakan standard NFPA 12 tahun 2005.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Integrated System
Integrated System adalah suatu sistem yang terdiri dari sistem deteksi,
sistem alarm, dan sistem pemadam secara otomatis. Sistem tersebut digabung
atau diintegrasikan menjadi 1 sistem secara utuh. Aplikasi dari sistem
tersebut dibagi menjadi dua metode yakni, Total Floading System dan Local
Protection System.
a. Total floading system adalah sistem yang didesign bekerja serentak
memancarkan media pemadam memalui seluruh nozzle kedalam ruangan
dengan konsentrasi tertentu.
b. Lokal protection system adalah sistem pemadam yang didesign dengan
mengarahkan pancaran pada objek yang dilindungi.

Komponen integrated sistem adalah sistem deteksi, kontrol panel alarm,


storage system, media pemadam, dan sistem distribusi yang terdiri dari
perpipaan, katup, dan nozzle yang dipilih berdasarkan tekanannya.
Media pemadam hendaknya mempertimbangkan hal-hal berikut, yaitu :
1. Efektifitasnya
2. Pengaruh fisik terahadap material yang dilindungi, merusak atau tidak
merusak
3. Pengaruh kimia terhadap barang yang dilindungi
4. Pengaruh kadar racun dan perusakan terhadap lingkungan
5. Bentuk bangunan (Depnaker, 2001)

Gambar 2.1. Skematik Diagram Integrated Sistem


(Sumber : Depnaker, 2000)
2.2 Komponen Sistem
Perlengkapan sistem instalasi pemadam otomatik integrated sistem terdiri dari
bagian pokok yaitu :
1. Sistem Deteksi, biasanya menggunakan 2 kelompok alarm (cross zone) dengan
menggunakan jenis detektor yang berbeda. Misalnya detektor yang digunakan
adalah Detektor asap (smoke detector), detektor panas dan lain-lain.
2. Kontrol Panel, berfungsi sebagai peralatan pengendali untuk memproses sinyal
yang datang dari detektor dan meneruskan / mengaktifkan alarm 1 dan panel
pemadam.
3. Panel Pemadam, berfungsi mengaktifkan alarm 2 (discharge alarm). Dan
mengaktifkan katup pemadam setelah mengalami penundaan waktu tertentu.
Panel pemadam akan bekerja bila dua kelompok alarm telah aktif atau
kebakaran benar benar terjadi.
4. Storage System, yaitu persedian media pemadam yang dikemas dalam

silinder baja bertekanan.


5. Media Pemadam yaitu bahan yang digunakan dan dipilih paling cocok
berdasarkan pertimbangan pertimbangan antara lain :
Efektivitasnya

Pengaruh fisik terhadap material yang dilindungi, merusak atau tidak.


Pengaruh kimia terhadap bahan dan peralatan yang dilindungi.
Pengaruh kadar racun dan perusakan terhadap lingkungan.
Bentuk bangunan
6. Sistem distribusi yang terdiri pemipaan, katup-katup dan nozle-nozle yang
dipilih berdasarkan tekanannya.
2.3 Jenis Instalasi Pemadam Kebakaran Otomatik Integrated Sistem
Pada dasarnya bahan yang bersifat non flammable dapat digunakan
sebagai media pemadam. Secara spesifik media pemadam dibagi menjadi 3
jenis yaitu cair, gas dan padat.
2.3.1 Media Pemadam Jenis CO2
Karbondioksida adalah gas yang berwarna, tidak berbau, elektrik
nonconductive

gas

yang

lembam

yang

cocok

untuk

media

memadamkan api. Gas karbondioksida 1,5 kali lebih berat daripada


udara.

Karbondioksida

memadamkan

api

dengan

mengurangi

konsentrasi oksigen. Aplikasi Penerapan sistem pemadam CO2


dipergunakan untuk pengamanan bengkel, ruangan telekomunikasi,
garasi, ruang trafo, pabrik, dan lain-lain. Sifat CO2 sebagai media
pemadam yaitu :
Tidak terjadi perubahan secara kimiawi terhadap minyak, logam,
instalasi listrik
Bersifat mendinginkan dan mengisolasi / memisahkan dengan udara
bebas.
CO2 dapat memasuki celah-celah sempit / pori-pori hingga mampu
untuk pemadaman api sampai bagian dalam atau api sekam.
Tidak merusak dan menimbulkan kotoran sehingga peralatan yang
diamankan dapat langsung digunakan.
Merupakan bahan isolator yang baik untuk kebakaran listrik,
sehingga mampu mencegah terjadinya percikan api listrik.
Mampu digunakan dalam kondisi suhu rendah dan tinggi.
2.3.1.1. Penerapan Metode Pemadaman
(a) Sistem Pembanjiran Total (Total Floading System)
Adalah sistem pemadaman dengan cara menyemprotkan gas
CO2 melalui kepala pemancar memasuki ruangan tertutup
yang dilengkapi dengan peralatan otomatik yang dapat
mentutup lubang lubang yaitu pintu masuk dan jendela
jendela. Sistem ini dibagi menjadi dua bagian yaitu, pada

kebakaran permukaan (bahan padat dan cair), dan api sekam


(misal kertas, buku, karton, dan lain-lain).
(b) Sistem Pemadaman Setempat (Local Protection System)
CO2 disemprotkan langsung pada sasaran yang terbakar ,
biasanya di ruangan yang besar atau banyak lubanglubangnya. Pemadaman setempat dibagi menjadi beberapa
pertimbangan, yaitu berdasarkan luas permukaan dan
berdasarkan isi barang dalam suatu ruangan.

Gambar 2.2. pengoperasian carbon dioxide total flooding


(Sumber : Ginting, 2010)
Penjelasan Komponen Sistem :
a. Unit Tabung CO2 adalah kumpulan tabung-tabung, pipa koneksi, pipa
penghubung, peralatan pembuka otomatis, kerangka, klam pemegang tabung,
dsb.
Kapasitas Tabung Karbondioksida = 45.5 Kg
Tekanan Uji = 155 bar pada suhu 550C
Klem valve Menahan karbondioksida tidak release dari Tabung
Tekanan untuk mendorong piston pada klem valve = 23 bar

Gambar 2.3.

Klem Valve

(Sumber :

Ginting, 2010)

Gambar 2.4. Valve Actuator Pada Klem Valve


(Sumber : Ginting, 2010)
b. Starter Solenoid yaitu kompnen elektrik yang mendapat isyarat dari panel
pengontrol CO2 akan langsung memecahkan alat penutup pengeluaran air dari
c.

tabung starter CO2 secara otomatis.


Tabung CO2 memilki startet yang membuka kran kran pemilih dan rangkaian
tabung-tabung CO2.

Gambar 2.5. Ukuran Tabung CO2


(Sumber : Ginting, 2010)
d. Kran keselamatan berfungsi mambuang tekanan gas yang mungkin masih ada
karena kebocoran atau bekas pakai.

Gambar 2.6. Actuator (Safety & Reset Pin, Solenoid Actuator, dll)
(Sumber : Ginting, 2010)

e. Box operasi yang terpasang di tembok beserta pengaman dan lampu yang
menyala sebagai tanda adanya arus listrik atau baterei dan lampu
penyemprotan CO2 yang sedang berlangsung. Di dalamnya terdapat tombol
tekan starter manual dan tombol tekan stop yang berfungsi untuk
menghentikan sistem secara darurat bila ada alarm yang salah dalam 20 detik.
f. Lampu Tanda Bahaya yaitu berupa sensor yang dipasang diatas pintu ruangan
yang diberi pengamanan bila sistem CO2 bekerja lampu akan menyala
sehingga orang orang di luar akan mengetahui dan tidak memasuki ruangan
tersebut.

Gambar 2.7. Visual Alarm Dengan Audible Sound


(Sumber : Andrew Furness & Martin Muckett, 2007)

g. Panel Kontrol CO2 yaitu panel yang menunjukkan adanya perubahan sinyal
yang diberikan detektor api melalui panel kontrol alarm. Memberi tanda
bahaya dengan lampu , sirine atau bell yang kemudian akan mematikan AC
dan ventilasi kemudian menyemprotkan gas CO2 ke ruangan yang terbakar.
Dilengkapi dengan penunjuk zone (lokasi) dengan lampu. Penunjuk
penyemprotan (dengan lampu) tanda adanya arus sumber tenaga (listrik atau
baterei) voltmeter. Switch untuk meriset kembali. Switch untuk merubah
otomatik menjadi normal atau sebaliknya, timer otomatik, starter solenoid,
tanda bahaya penyemprotan, sistem otomatik interlooking untul pintu, AC,
penutup pintu dan lain sebagainya.
Gambar 2.8 Fire Alarm Panel

(Sumber: Andrew Furness & Martin Muckett, 2007)


h. Sumber tenaga listrik darurat yang berfungsi bilamana ada listrik mati , maka

sumber tenaga akan langsung berganti secara otomatik ke sumber listrik baterei
yang senantiasa siaga penuh karena dilengkapi sistem pengisian (charging)
otomatis, dan bila sumber listrik hidup lagi, maka secara otomatis akan kembali
i.

ke sumber listrik, hal ini dikerjakan dengan sistem solenoid.


Pipa-pipa dan sambungan jenis galvanized steel sch 80, sambungan sambungan
dari carbon steel forings dan pipa tembaga.

Gambar 2.9. Pipa Manifold Yang menggunakan Flexible Loop & Pilot Loop
(Sumber : Ginting, 2010)

Gambar 2.10. Flexible Loop


(Sumber : Ginting, 2010)

Volume

Faktor Isi
Faktor
Jumlah CO2
Adanya
(Kg CO2/m2)
Lubang

Ruangan
(m3)

< 3,96
3,97 4,15
14,16 45,28
45,29

1,15
1,07
1,01
0,90

127,35
127,36 1415 0,8
>1415
0,77

Terbuka
(Kg CO2/m2)
5
5
5
5
5
5

Perhitungan
Tidak
Kurang Dari
(Kg)

Gambar 2.11. Pilot

0
4,5
15,1
45,1

(Sumber : Ginting,

113,5
1135

Loop
2010)
j.

Kran

pemilih

yang bergungsi
untuk membagi
arah aliran isi

media pemadam CO2 apabila sistem pemadaman dipergunakan untuk lebih dari 1
ruangan yang diberi pengamanan. Peralatan ini bekerja secara otomatik maupun
manual.
k. Switch tekanan yang aktif secara otomatis jika tekanan dalam pipa melebihi 1,1
kg/m2 sewaktu gas CO2 dipancarkan dan switch akan menyalakan tanda lampu
bahaya pada ruangan yang terbakar. Alat ini dilengkapi tombol tekan untuk
meriset kembali.

3. Dasar-dasar untuk perencanaan


Sistem Pemadaman CO2 untuk kebakaran permukaan
Faktor Isi
Dipergunakan untuk dasar perhitungan jumlah gas CO2 yang diperlukan
untuk mengamankan sebuah objek kebakaran dengan konsentrasi gas
sampai dengan 34%, harus mengikuti standar tabel dibawah ini :
Tabel 2.1. Faktor Pembanjiran CO2

(Sumber : Depnaker, 2000)

Faktor Konversi Material


Bila material atau bahan bakar diperlukan konsentrasi gas CO2 > 34%,
maka dasar perhitungann untuk jumlah gas CO2 yang diperlukan
mengikuti jumlah perkalian dari nilai tabel faktor isi dikalikan dengan
faktor konversi.

Gambar 2.12. Convertion Factor CO2


(Sumber : Ginting, 2010)
Tabel 2.2. Floading Factor CO2

(Sumber : Ginting, 2010)

Keadaan Khusus
Penambahan jumlah CO2 harus diadakan untuk mengadakan kompensaasi
terhadap keadaan khusus yang berpengaruh terhadap efisiensi pemadaman.
Contohnya, lubang yang tidak dapat ditutup harus diberikan kompensasi
dengan jumlah CO2 yang diperkirakan akan hilang terbuang selama waktu
1 menit. Untuk saluran ventilasi yang tidak dapat ditutup jumlah CO2
harus ditambahkan untuk isi, ruangan ducting.

CO2 untuk pemadaman api sekam

Faktor Isi
Faktor pembanjiran adalah dijabarkan sesuai dengan hasil hasil percobaan,
seperti tabel di bawah ini, untuk ruangan, kamar, dan gudang-gudang.
Tabel 2.3. Faktor Pembanjiran CO2 untuk bahaya Khusus
(Sumber : Depnaker, 2000)

Keadaan Khusus
Penambahan jumlah CO2 diperlukan untuk kompensasi terhadap keadaan
khusus yang mungkin mempengaruhi efektifitas pemadaman. Semua
lubang yang tidak tertutup waktu pemadaman harus diberi kompensasi
dengan cara menambah jumlah CO2 sama dengan isi yang mungkin
terbuang keluar. Tambahan CO2 untuk lubang lubang dapat diambil dari
tabel yang ada.

Desain pemipaan harus dipertimbangkan berdasarkan kapasistas aliran

yang masuk di tiap-tiap jenis pipa tertentu.


Desain Kepala Pemancar
Tabel dibawah menunjukkan kapasitas dari pancaran CO2 melalui
beberapa ukuran kepala pemancar.
Tabel 2.4. Desain Kepala Pemancar CO2 Pada Tekanan 25 Kg/m2

Kapasitas
Ukuran Kepala Pemancar
(Kg/menit)
4 mm 6 3/8

1
1
mm
5,0
17,0
40,0
85,0
155,0
300,0
(Sumber : Depnaker, 2000)
Perancangan Media Pemadam CO2 Fire Integrated System
Melalui langkah-langkah dibawah ini :
Hazard Volume = Volume kosong ruangan Total volume peralatan
Kebutuhan CO2 = Hazard Volume / Floading Factor
Total kebutuhan CO2 (Melalui Tabel Material Convertion Factor)
Jumlah Tabung CO2 = Total kebutuhan CO2 / Kapasitas tabung CO2
Flow rate Karbondioksida (Qf) = Total kebutuhan CO 2 / 1,4 . Discharge
Duration

Gambar 2.13. Instalasi Integrated System CO2 pada Suatu Ruangan

(Sumber : Ginting, 2010)

2.4 Definisi Detektor Kebakaran


Detektor kebakaran adalah suatu alat yang berfungsi mendeteksi secara
dini kebakaran, agar kebakaran yang terjadi tidak berkembang menjadi lebih

besar. Dengan terdeteksinya cikal bakal kebakaran, maka intervensi untuk


mematikan api dapat segera dilakukan. Sehingga dapat meminimalisasi
kerugian sejak awal.
Jika dianalogikan detektor kebakaran adalah alat bantu seperti panca
indera kita. Untuk merasakan bau kita memiliki hidung, kalau untuk
merasakan adanya kebakaran digunakanlah detektor kebakaran. Deteksi
kebakaran dilakukan pada kemunculan asap, kemunculan panas, dan adanya
kobaran api.
2.4.1 Detektor panas (heat detector)
Detektor panas merupakan jenis alat pendeteksian api otomatis
yang paling lama, paling murah dan mempunyai tingkat tanda bahaya
palsu yang paling rendah dari semua pendeteksi otomatis, tetapi
juga yang paling lambat di dalam merespon adanya kebakaran.
Detektor panas dirancang untuk merasakan suatu perubahan suhu
yang ditentukan oleh suatu material ketika timbul panas. Detektor
panas tidak akan memulai suatu alarm sampai suhu udara melebihi
suhu operasi yang dirancang. Detektor ini memiliki 2 tipe, yaitu:
( a ) Pengindera panas Tipe Pengembangan suhu ( Rate of Rise Heat
Detector )
Prinsip Kerja deteksi ini bila di suatu ruangan terjadi
kebakaran sehingga terjadi perubahan suhu yang cepat maka
udara di dalam ruang diteksi memuai dan pemuian udara di
ruang tertutup tersebut mengakibatkan membran terdorong naik
dan dengan terdorongnya membran sekaligus mendorong
mechanical contac menjadi aktif, dengan demikian alarm
berbunyi.
( b ) Pengindera panas Suhu Tetap ( Fixed Temperatur)
Prinsip kerja

diteksi ini bila terjadi kebakaran

elemen peka menerima panas dengan derajat suhu yang


ditentukan

oleh

kepekaan

diteksi

maka

sensor

bimetal

mendorong mechanical contact menjadi aktif dengan demikian


alarm berbunyi.

Alat diteksi ini dapat juga dikombinasikan dengan


tipe Rate Of rise, dengan demikian dapat bekerja secara Fixed
Temperatur dan dapat bekerja secara Rate of Rise.

2.14 Gambar Heat Detector

2.4.2

Penempatan dan Jarak Pemasangan Detector Panas

Heat Detector tidak boleh dipasang dalam jarak kurang dari 1,5

meter dari lubang udara masuk / AC.


Pada satu kelompok detector, tidak boleh di pasang lebih dari 40

buah Heat detector.


Untuk setiap ruangan dengan luas 46 m dan tinggi langit-langit 3

meter harus dipasang satu alat heat detector


Jarak antara heat detector tidak boleh lebih dari 7 meter untuk
ruangan efektif dan tidak boleh lebih dari 10 meter untuk ruang

sirkulasi
Jarak heat detector dengan dinding pembatas paling jauh 3 meter
pada ruang efektif dan 6 meter pada ruang sirkulasi serta paling
dekat 30 cm.

2.5 Klasifikasi Tingkat Risiko Bahaya Kebakaran


Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran yang diklasifikasikan
berdasarkan struktur bahan bangunan, banyaknya bahan yang disimpan di
dalamnya, serta sifat kemudahan terbakarnya, juga ditentukan oleh jumlah
dan sifat penghuninya.
Klasifikasi sifat hunian, yaitu :

a. Hunian Bahaya Kebakaran Ringan.


macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar rendah
dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah, sehingga
menjalarnya api lambat.
b. Hunian Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok I.
macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang,
penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari
2,5 m dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga
menjalarnya api sedang.
c. Hunian Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok II.
macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang,
penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4
m dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga
menjalarnya api sedang.
d. Hunian Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok III.
macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi
dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, sehingga
menjalarnya api cepat. Untuk bahaya kebakaran sedang kelompok III
jarak antar nozzle yaitu 3 m.
e. Hunian Bahaya Kebakaran Berat.
macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi
dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, penyimpanan
cairan yang mudah terbakar, sampah, serat, atau bahan lain yang apabila
terbakar apinya cepat menjadi besar dengan melepaskan panas tinggi
sehingga menjalarnya api cepat.
f. Hunian Khusus.
untuk hunian khusus seperti penyimpanan atau tempat dimana
penggunaan cairan yang mempunyai kemudahan terbakar tinggi dapat
digunakan

sistem

pancaran

serentak.

Karena

keadaan

yang

menguntungkan, beberapa macam hunian dapat memperoleh keringanan


satu kelas lebih rendah dengan persetujuan instansi yang berwenang.

BAB III
METODOLOGI PERANCANGAN
3.1 Metodologi Perancangan

MULAI
RUMUSAN MASALAH

STUDI LITERATUR

PENGUMPULAN DATA

DATA PRIMER
Melakukan Pengukuran Bangunan

Standard NFPA 12 tahun 2005


SNI 03-3985-2000
PERMENAKER
No.Per.04/MEN/1980

PERANCANGAN INTEGRATED SYSTEM


1. Penentuan Jenis Klasifikasi Bangunan
2. Pengukuran Luas Bangunan
3. Estimasi Biaya
ANALISA DAN PEMBAHASAN

Hasil Perancangan Berdasarkan NFPA 12 Tahun 2012 dan SNI 03-3985-2000

KESIMPULAN DAN SARAN


AKHIR

Gambar 3.1. Flowchart Metodologi Perancangan


BAB 1V
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Penentuan Jenis Bahan Pemadam dan Teknik Pemadaman
Perancangan Fire Integrated System ini menggunakan bahan pemadam
CO2,

berdasarkan

Klasifikasi

Kebakaran

Menurut

PERMENAKER

No.Per.04/MEN/1980 bahwa kebakaran untuk kelas C yaitu kebakaran instalasi


listrik bertegangan, sangat cocok menggunakan CO2. Pada gedung uji bahan dan
CNC, terdapat beberapa ruang yang memiliki potensi bahaya kebakaran instalasi
tegangan listrik yang besar. Ditinjau dari fungsi ruang dan jenis mesin yang ada
disana gedung uji bahan dan CNC tersebut memiliki potensi kebakaran yang
cukup besar. Pada gedung CNC terdapat beberapa mesin yang digunakan untuk
menunjang proses manufaktur, dan juga terdapat beberapa mesin las SMAW dan
FCAW, dan beberapa mesin lain yang menunjang proses tersebut. Di lantai 2
gedung tersebut terdapat ruang komputer yang juga digunakan untuk desain dari
produk yang akan diciptakan. Pada gedung uji bahan terdapat beberapa mesinmesin untuk menunjang proses praktikum mahasiswa PPNS, terdapar mesin untuk
menguji suatu bahan, dan juga terdapat mesin diesel pada ruang reparasi. Di lantai
2 gedung ini terdapat ruang komputer yang digunakan untuk menggambar dengan
menggunakan aplikasi autocad. Berdasarkan penjelasan diatas, menurut SNI 033985-2000 ruangan ini termasuk dalam klasifikasi bahaya kebakaran sedang III
karena terdapat beberapa peralatan mesin yang mudah terbakar dan ketika
terbakar mudah menjalar ke seluruh ruangan.
Teknik pemadaman yang digunakan yaitu Total Flooding System,
dimana Total Flooding System adalah system yang didesain bekerja serentak

memancarkan media pemadam melalui seluruh nozzle kedalam ruangan dengan


konsentrasi tertentu.

4.2 Perhitungan
4.2.1 Perhitungan dalam Menentukan Jumlah Konsentrasi Media
Pemadam yang Diperlukan untuk Instalasi Integrated Sistem
4.2.1.1 Gedung CNC Lantai 1
4.2.1.1.1 Ruang produksi dengan mesin CNC
a. Hazard Volume = p x l x t
=736 m2 x 5 m
=3680 m3
b. Kebutuhan CO2 =50% (Listrik-listrik dengan bahaya isolasi

c.

listrik > 90 kg).


Floading factor = 0,75m3/kgCO2
Hazard Volume
Kebutuhan CO 2=
Floading factor

3680 m3
0.75 m 3/ KgCO 2

= 4906,67 KgC02
Konsentrasi CO2 = 50%
Convertion factor = 1.6
d. Total kebutuhan CO2 = Kebutuhan CO2 x Convertion

e.

factor
= 4906,67 KgCO2 X 1,6
= 7850,67 KgCO2
Total kebutuhan CO 2
Jumlah tabungCO 2=
Kapasitastabung CO 2

7850,67 KgCO 2
45,5 Kg

f.

g.

= 172,54 tabung CO2


=173 tabung CO2
CO2 Quantity= Total Kebutuhan CO2 x

30% Consentration
= 7850,67KgCO2 X 0,688
= 5401,26 KgCO2
CO 2 Quantity
5401,26 KgCO 2
Minimal Flow R ate=

2 menit
2 menit
= 2700,63 KgCO2/menit

h.

Disc h arge Release=

k
MFR

181,45 Kg
2700,63 KgCO 2/ menit

= 0,067 menit
4.2.1.2 Gedung CNC Lantai 2
4.2.1.2.1 Ruang computer
a. Hazard Volume = p x l x t
=16 m x 5 m x 2 m
=160 m3
b. Kebutuhan CO2 =50% (Listrik-listrik dengan bahaya isolasi
listrik > 90 kg).
Floading factor = 0,75 m3/kgCO2
Hazard Volume
160 m3
Kebutuhan CO 2=

Floading factor
0.75 m 3/ KgCO 2

c.

= 213,33 KgC02
Konsentrasi CO2 = 50%
Convertion factor = 1.6
d. Total kebutuhan CO2 = Kebutuhan CO2 x Convertion

e.

factor
= 213,33 KgCO2 X 1,6
= 341,328 KgCO2
Total kebutuhan CO 2
341,328 KgCO 2
Jumlah tabungCO 2=

Kapasitastabung CO 2
45,5 Kg
= 7,5 tabung CO2
= 8 tabung CO2
f. CO2 Quantity= Total Kebutuhan CO2 x
30% Consentration
= 341,328 KgCO2 X 0,688
= 234,83 KgCO2
CO 2 Quantity
234,83 KgCO 2
Minimal Flow R ate=

2 menit
2 menit

g.

h.

k
Disc h arge Release=
MFR

= 117,415 KgCO2/menit
181,45 Kg

117,415 KgCO 2/menit


= 1,545 menit

4.2.1.3 Gedung Uji Bahan Lantai 1


4.2.1.3.1 Ruang mesin I
a. Hazard Volume = p x l x t
= 33m2 x 4m
=132 m3
b. Kebutuhan CO2 =50% (Listrik-listrik dengan bahaya isolasi
listrik > 90 kg).

c.

Floading factor = 0,75 m3/kgCO2


Hazard Volume
132 m3
Kebutuhan CO 2=

Floading factor
0.75 m 3/ KgCO 2
= 176 KgC02
Konsentrasi CO2 = 50%
Convertion factor = 1.6
d. Total kebutuhan CO2 = Kebutuhan CO2 x Convertion

e.

factor
= 176 KgCO2 X 1,6
= 281,6 KgCO2
Total kebutuhanCO 2
281,6 KgCO 2
Jumlah tabungCO 2=

Ka pasitas tabungCO 2
45,5 Kg
= 6,19 tabung CO2
=7 tabung CO2
f. CO2 Quantity= Total Kebutuhan CO2 x

g.

30% Consentration
= 281,6 KgCO2 X 0,688
= 193,74 KgCO2
CO 2 Quantit y
193,74 KgCO 2
Minimal Flow rate=

2menit
2 menit

h.

k
Disc h arge Release=
MFR

= 96,87 KgCO2/menit
181,45 Kg

96,87 KgCO 2/menit


= 1,87 menit

4.2.1.3.3 Ruang uji bahan I


a. Hazard Volume = p x l x t
= 67m3 x 4m
=268 m3
b. Kebutuhan CO2 =50% (Listrik-listrik dengan bahaya isolasi

c.

d.

listrik > 90 kg).


Floading factor = 0,75 m3/kgCO2
Hazard Volume
268 m3
Kebutuhan CO 2=

Floading factor
0.75 m 3/ KgCO 2
= 357,33 KgC02
Konsentrasi CO2 = 50%
Convertion factor = 1.6
Total kebutuhan CO2 = Kebutuhan CO2 x Convertion
factor

e.

= 357,33 KgCO2 X 1,6


= 571,728 KgCO2
Total kebutuhan CO 2
571,728 KgCO 2
Jumlah tabungCO 2=

Kapasitastabung CO 2
45,5 Kg
= 12,565 tabung CO2

=13 tabung CO2


f. CO2 Quantity= Total Kebutuhan CO2 x

g.

30% Consentration
= 571,728 KgCO2 X 0,688
= 393,35 KgCO2
CO 2 Quantity
393,35 KgCO 2
Minimal Flow rate=

2 menit
2 menit

h.

k
Disc h arge Release=
MFR

= 196,675 KgCO2/menit
181,45 Kg

196,675 KgCO 2/menit


= 0,92 menit

4.2.1.3.4 Ruang uji bahan II


a. Hazard Volume = p x l x t
= 5,5m x 6 m x 4m
=132 m3
b. Kebutuhan CO2 =50% (Listrik-listrik dengan bahaya isolasi

c.

listrik > 90 kg).


Floading factor = 0,75 m3/kgCO2
Hazard Volume
132 m3
Kebutuhan CO 2=

Floa ding factor


0.75 m 3/ KgCO 2

= 176 KgC02
Konsentrasi CO2 = 50%
Convertion factor = 1.6
d. Total kebutuhan CO2 = Kebutuhan CO2 x Convertion
factor

e.

= 176 KgCO2 X 1,6


= 281,6 KgCO2
Total kebutuhan CO 2
281,6 KgCO 2
Jumlah tabungCO 2=

Kapasitastabung CO 2
45,5 Kg
= 6.19 tabung CO2
= 7 tabung CO2
f. CO2 Quantity= Total Kebutuhan CO2 x

g.

30% Consentration
= 281,6 KgCO2 X 0,688
= 193.74 KgCO2
CO 2 Quantity
193,74 KgCO 2
Minimal Flow rate=

2 menit
2 menit

h.

k
Disc h arge Release=
MFR

= 96,87 KgCO2/menit
181,45 Kg

96,87 KgCO 2/menit


= 1,87 menit

4.2.1.4 Gedung Uji Bahan Lantai 2


4.2.1.4.1 Ruang Autocad
a. Hazard Volume = p x l x t
=10,4 m x 10 m x 2 m
=208 m3
b. Kebutuhan CO2 =50% (Listrik-listrik dengan bahaya isolasi

c.

listrik > 90 kg).


Floading factor = 0,75 m3/kgCO2
Hazard Volume
208 m3
Kebutuhan CO 2=

Floading factor
0.75 m 3/ KgCO 2
= 277,33 KgC02
Konsentrasi CO2 = 50%
Convertion factor = 1.6
d. Total kebutuhan CO2 = Kebutuhan CO2 x Convertion

e.

factor
= 277,33 KgCO2 X 1,6
= 443,73 KgCO2
Total kebutuhan CO 2
443,73 KgCO 2
Jumlah tabungCO 2=

Kapasitastabung CO 2
45,5 Kg
= 9,75 tabung CO2
= 10 tabung CO2
f. CO2 Quantity= Total Kebutuhan CO2 x

g.

30% Consentration
= 443,73 KgCO2 X 0,688
= 305,29 KgCO2
CO 2 Quantity
305,29 KgCO 2
Minimal Flow rate=

2 menit
2 menit

h.

k
Disc h arge Release=
MFR

= 152,645 KgCO2/menit
181,45 Kg

152,645 KgCO 2/menit


= 1,19 menit

4.2.2 Perhitungan Detektor dan Komponen Sistem Alarm


4.2.2.1 Gedung CNC Lantai 1
4.2.2.1.1 Ruang produksi dengan mesin CNC
S = 7m x faktor pengali
= 7m x 71 %
= 4,97 m

S
Jarak detector pada arah memanjang = 2
=

4,97 m
2

= 2,485m
S
Jarak detector pada arah melintang = 2
4,97 m
2

= 2,485m
Jumlah detector arah memanjang 1 =
=

Panjang
S
34 m
4,97

= 7 buah
Jumlah detector arah melintang 1 =
=

Lebar
S
10 m
4,97
= 3 buah

Total detector arah memanjang


Total detector arah melintang

= 7 buah
= 3 buah
Panjang
Jumlah detector arah memanjang 2 =
S
=

44 m
4,97
= 9 buah

Jumlah detector arah melintang 2 =

Lebar
S

9m
4,97
= 2 buah

Total detector arah memanjang


Total detector arah melintang
4.2.2.2 Gedung CNC Lantai 2
4.2.2.2.1 Ruang komputer

= 9 buah
= 2 buah

S = 7m x faktor pengali
= 7m x 100 %
=7m

S
Jarak detector pada arah memanjang = 2
=

7m
2
= 3,5 m

S
Jarak detector pada arah melintang = 2
=

7m
2
= 3,5 m

Panjang
=
S

Jumlah detector arah memanjang

16 m
7
= 3 buah

Jumlah detector arah melintang

Lebar
S

=
=

5m
7

= 1 buah

Total detector arah memanjang


Total detector arah melintang
4.2.2.3 Gedung Uji bahan Lantai 1
4.2.2.3.1 Ruang mesin I
S = 7m x faktor pengali
= 7m x 84 %
= 5,88 m

= 3 buah
= 1 buah

S
Jarak detector pada arah memanjang = 2

5,88 m
2

= 2,94 m
S
Jarak detector pada arah melintang = 2
5,88 m
2

= 2,94 m
Jumlah detector arah memanjang 1

Panjang
S
1m
5,88

= 1 buah
Jumlah detector arah melintang

Lebar
S

1m
5,88

= 1 buah
Total detector arah memanjang
Total detector arah melintang

= 1 buah
= 1 buah
Panjang
Jumlah detector arah memanjang 2 =
S
=

8m
5,88
= 2 buah

Jumlah detector arah melintang

Lebar
2 =
S
=

4m
5,88
= 1 buah

Total detector arah memanjang

= 2 buah

Total detector arah melintang

= 1 buah

4.2.2.3.3 Ruang Uji Bahan I


S = 7m x faktor pengali
= 7m x 84 %
= 5,88 m

S
Jarak detector pada arah memanjang = 2
=

5,88 m
2
= 2,94 m

S
Jarak detector pada arah melintang = 2
=

5,88 m
2
= 2,94 m

Panjang
Jumlah detector arah memanjang 1 =
S
=

8m
5,88
= 2 buah

Jumlah detector arah melintang

1 =
=

Lebar
S
2m
5,88

= 1 buah
Total detector arah memanjang
Total detector arah melintang

= 2 buah
= 1 buah
Panjang
Jumlah detector arah memanjang 2 =
S
=

11 m
5,88
= 2 buah

Jumlah detector arah melintang

Lebar
=
S
=

7m
5,88
= 2 buah

Total detector arah memanjang


Total detector arah melintang

= 2 buah
= 2 buah

4.2.2.3.4 Ruang uji bahan II


S = 7m x faktor pengali
= 7m x 84 %
= 5,88 m

S
Jarak detector pada arah memanjang = 2
=

5,88 m
2
= 2,94 m

S
Jarak detector pada arah melintang = 2
=

5,88 m
2
= 2,94 m

Jumlah detector arah memanjang

=
=

Panjang
S
6m
5,88
= 2 buah

Jumlah detector arah melintang

Lebar
S

5,5 m
5,88

= 1 buah
Total detector arah memanjang

= 2 buah

Total detector arah melintang

= 1 buah

4.2.2.4 Gedung Uji bahan Lantai 2


4.2.2.3.1 Ruang Autocad
S = 7m x faktor pengali
= 7m x 100 %
=7m

S
Jarak detector pada arah memanjang = 2
7m
2

= 3,5 m
S
Jarak detector pada arah melintang = 2
7m
2

= 3,5 m
Jumlah detector arah memanjang

Panjang
S

10,4 m
7
= 2 buah

Jumlah detector arah melintang

Lebar
S

10 m
7

= 2 buah
Total detector arah memanjang

= 2 buah

Total detector arah melintang

= 2 buah

Beberapa Komponen system alarm yang ada antara lain:


1. Kontrol Panel CO2
Box panel kontrol dipasang pada tembok dengan pengaman dan
lampu indicator yang menyala sebagai tanda adanya arus listrik atau

baterai dan lampu tanda penyemprotan CO2. Di dalam box tersebut


terdapat tombol tekan atau starter manual serta tombol stop guna
menghentikan system secara darurat jika ada alarm yang salah dalam
waktu 20 detik. (Berdasarkan SNI 03-3985-2000 Tentang Tata Cara
Perencanaan, Pemasangan dan Pengujian Sistem Deteksi dan Alarm
Kebakaran)
2. Titik Panggil Manual (TPM)
Titik Panggil Manual adalah alat seperti saklar yang berguna untuk
mengaktifkan alarm secara manual. Alat ini dipasang dengan jarak
1,4 meter dari lantai. Penempatannya pada tempat yang akan dilewati
saat evakuasi kebakaran, tidak mudah terkena gangguan, tidak
tersembunyi, mudah dilihat dan mudah dijangkau semua orang. Pada
luas 900 m2 terpasang 1 buah TPM dengan jarak TPM dari titik
sembarang 30m. Hal ini diatur dalam SNI 03-3985-2000 Tentang
Tata Cara Perencanaan, Pemasangan dan Pengujian Sistem Deteksi
dan Alarm Kebakaran.
Pada penelitian yang sudah dilakukan maka banyaknya TPM
yaitu:
Banyak TPM =

Luas Lantai 1Gedung CNC lantai 1


Luas untuk 1 buahTPM

893m 2
900 m2
= 0, 99
= I buah
Banyak TPM =

114 m 2
900 m2
= 0, 13
= I buah
Banyak TPM =

Luas Lantai 1Gedung CNC lantai 2


Luas untuk 1 buahTPM

1034 m2
900 m2
= 1,148

Luas Lantai 1Gedung Ujibahan lantai 1


Luas untuk 1 buahTPM

= 2 buah
Banyak TPM =

Luas Lantai 1Gedung Ujibahan lantai 2


Luas untuk 1 buahTPM

457,6 m2
900 m2
= 0, 5
= I buah

3. Alarm
Jenis alarm yang digunakan dalam perancangan ini adalah alarm
audio yang memiliki bunyi sangat keras dan khas sehingga dikenali
sebagai isyarat atau tanda bunyi alarm kebakaran dengan tingkat
kekerasan suara minimal 65 dB. Hal ini diatur dalam SNI 03-39852000 bab 12.2.4.1 poin a.dan b. Rumus untuk mencari banyaknya
alarm dalam suatu ruang tidak ada, namun cukup ditentukan bahwa 1
alarm untuk satu ruang, dan dapat menjangkau seluruh ruang
tersebut. Peletakan alarm adalah pada tempat yang strategis.
4.2.3 Perhitungan Jumlah Nozzle
Gedung CNC dan gedung Uji bahan termasuk hunian
kebakaran sedang III, berdasarkan fungsi dari ruangan yang
sebagian besar adalah peralatan mesin yang mudah terbakar, dan
ketika terbakar, mudah menjalar. Jenis hunian kebakaran sedang
III maka jarak antar sprinkler/nozzle yaitu 3 meter. Menurut
lampiran NFPA 12 2000 Klausul 1-10.4.4 nilai K yaitu 0,98
sedangkan nilai P yaitu 25 kg/m2 berdasarkan DISNAKER Buku
Training Material K3 Bidang Penanggulangan Kebakaran. P
dalam satuan Bar adalah 0,00245 bar, maka:
4.2.3.1 Gedung CNC Lantai 1
4.2.3.1.1 Ruang produksi dengan mesin CNC
Jarak antar nozzle = 3 m
Area jangkauan (X) = Daerah kerja max.
= 360 m2
Luas
Jumlah Nozzle =
X
=

736 m 2
360 m 2

=2,04
= 3 buah
Q nozzle = K P

0,00245

= 0,98

= 0,0485 Joule/menit
4.2.3.2 Gedung CNC Lantai 2
4.2.3.2.1 Ruang komputer
Jarak antar nozzle = 3 m
Area jangkauan (X) = Daerah kerja max.
= 360 m2
Luas
Jumlah Nozzle =
X
=

80 m 2
360 m 2

= 0,22
= 1 buah
Q nozzle = K P

0,00245

= 0,98

= 0,0485 Joule/menit
4.2.3.3 Gedung Uji bahan Lantai 1
4.2.3.3.1 Ruang mesin I
Jarak antar nozzle = 3 m
Area jangkauan (X) = Daerah kerja max.
= 360 m2
Luas
Jumlah Nozzle =
X
=

33 m 2
360 m 2

= 0,09
= 1 buah
Q nozzle = K P
= 0,98

0,00245

= 0,0485 Joule/menit
4.2.3.3.2 Ruang Uji Bahan I
Jarak antar nozzle = 3 m
Area jangkauan (X) = Daerah kerja max.
= 360 m2

Luas
Jumlah Nozzle =
X
=

67 m 2
360 m 2

=0,186
= 1 buah
Q nozzle = K P

0,00245

= 0,98

= 0,0485 Joule/menit
4.2.3.3.3 Ruang uji bahan II
Jarak antar nozzle = 3 m
Area jangkauan (X) = Daerah kerja max.
= 360 m2
Luas
Jumlah Nozzle =
X
=

33 m 2
360 m 2

= 0,09
= 1 buah
Q nozzle = K P

0,00245

= 0,98

= 0,0485 Joule/menit
4.2.3.4 Gedung Uji bahan Lantai 2
4.2.3.4.1 Ruang Autocad
Jarak antar nozzle = 3 m
Area jangkauan (X) = Daerah kerja max.
= 360 m2
Luas
Jumlah Nozzle =
X
=

104 m2
360 m2

=0,289
= 1 buah
Q nozzle = K P
= 0,98

0,00245

= 0,0485 Joule/menit

4.2.4 Perhitungan Sistem Perpipaan


Jenis pipa yang digunakan yaitu Galvanized Steel (ASTM A 53). Datadata yang diketahui untuk mengerjakan perhitungan pipa yaitu:
4.2.4.1 Gedung CNC Lantai 1
1. = 1977 kg/m3
2. Q atau MFR = 2700,63 KgCO2/menit x

1
1977 kg/m3

= 0,02276 m3/sekon
3
3. Nominal pipa = 4
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Diameter dalam pipa = 23,8 mm


Diameter luar pipa = 26,67 mm
P = 0,00245 bar
Panjang pipa atau L = 15,5 m
Terdapat 1 elbow 90o nilainya yaitu 30.
Berdasarkan data-data diatas, maka:
1
2
d
1. Luas Pipa atau A = 4

0,0238 m

1
x 3,14 x
4

0,0238 m

1
x 3,14 x
4

= 0,000445 m2
2. Spesifik Massa

=xg
= 1977 kg/m3 x 9,81 m/s2
= 19,394 Kn/m3
Q

3. Kecepatan Aliran
A
=
4.
5.

6.

0,02276 m3/ sekon


0,000445 m2

= 50,577 m/s
eGalvanized Iron = 0,15
e/D =0,0055
xv x D
Re =

1menit
60 sekon

1977
=

kg
m
x 50,577 x 0,0238 m
m3
s
kg
1,5 x 104
ms

= 1,586 x 107 (Turbulen)


7. Maka nilai f = 0,05
8. Head Loss Major = f x

L
D x

v2
2g

= 0,05 x

15,5 m
0,0238m

= 4245,5

m2
s2

9. Head Loss Minor = f x

L
D x

m
)2
s
m
2 x 9,81
s2

(50,577
x

v2
2g
m
)2
s
m
2 x 9,81
s2

(50,577
= 0,05 x 30 x

= 195,57

m2
s2

10. Head Loss Total = Head Loss Major + Head Loss Minor
m2
m2
= 4245,5 s 2
+ 195,57 s 2
=4441,07

m2
s2

4.2.4.2 Gedung CNC Lantai 2


1. = 1977 kg/m3
2. Q atau MFR = 117,415 KgCO2/menit x

1menit
60 sekon

1
1977 kg/m3

= 0,00099 m3/sekon
3
3. Nominal pipa = 4
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Diameter dalam pipa = 23,8 mm


Diameter luar pipa = 26,67 mm
P = 0,00245 bar
Panjang pipa atau L = 11 m
Terdapat 1 elbow 90o nilainya yaitu 30.
Berdasarkan data-data diatas, maka:
1
d2
1. Luas Pipa atau A = 4

0,0238 m

1
x 3,14 x
4

0,0238 m

1
x 3,14 x
4

= 0,000445 m2
2. Spesifik Massa

=xg
= 1977 kg/m3 x 9,81 m/s2
= 19,394 Kn/m3
Q

3. Kecepatan Aliran
A
=
4.
5.

6.

0,000 99m 3/sekon


0,000445 m2

= 2,225 m/s
eGalvanized Iron = 0,15
e/D =0,0055
xv x D
Re =

1977
=

kg
m
x 2,225 x 0,0238 m
m3
s
kg
1,5 x 104
ms

= 6,9 x 105 (Turbulen)


7.

Maka nilai f = 0,03

8.

Head Loss Major = f x

= 0,03 x

= 3,499

9.

Head Loss Minor = f x

L
D x

v2
2g

11 m
0,0238m

m
)2
s
m
2 x 9,81
s2

(2,225
x

m2
s2
L
D x

v2
2g
m
)2
s
m
2 x 9,81
s2

(0,3299
= 0,3 x 30 x

= 0,227
10.

m2
s2

Head Loss Total = Head Loss Major + Head Loss Minor


m2
m2
277
= 3,499 s 2
+ 0,
s2
=3,776

m2
s2

4.2.4.2 Gedung Uji Bahan pada Ruang Uji Bahan 1


10. = 1977 kg/m3
11. Q atau MFR = 196,675 KgCO2/menit x

1menit
60 sekon
= 0,00166 m3/sekon
3
12. Nominal pipa = 4
13. Diameter dalam pipa = 23,8 mm
14. Diameter luar pipa = 26,67 mm
15. P = 0,00245 bar
16. Panjang pipa atau L = 11 m

1
1977 kg/m3

17. Terdapat 1 elbow 90o nilainya yaitu 30.


18. Berdasarkan data-data diatas, maka:
1
d2
11. Luas Pipa atau A = 4

0,0238 m

1
x 3,14 x
4

0,0238 m

1
x 3,14 x
4

= 0,000445 m2
12. Spesifik Massa

=xg
= 1977 kg/m3 x 9,81 m/s2
= 19,394 Kn/m3
Q

13. Kecepatan Aliran


A
=
14.
15.

16.

0,0001468m 3/sekon
0,000445 m2

= 0,3299 m/s
eGalvanized Iron = 0,15
e/D =0,0055
xv x D
Re =

1977
=

kg
m
x 0,3299 x 0,0238 m
m3
s
kg
1,5 x 104
ms

= 10,35 x 104 (Turbulen)


17.

Maka nilai f = 0,048

18.

Head Loss Major = f x

= 0,048 x

L
D x

v2
2g

11 m
0,0238m

m
)2
s
m
2 x 9,81
s2

(0,3299
x

= 0,123

19.

Head Loss Minor = f x

m2
s2
L
D x

v2
2g
m
)2
s
m
2 x 9,81
s2

(0,3299
= 0,48 x 30 x

= 0,007988
20.

m2
s2

Head Loss Total = Head Loss Major + Head

Loss Minor
m2
= 0,123 s 2
=0,131

m2
s2

+ 0,007988

m2
s2