Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Keselamatan pada saat bekerja merupakan prioritas utama dalam menjalankan sebuah
pekerjaan karena dengan ini setiap orang akan mampu mengerjakan pekerjaannya dangan
efektif. Tetapi, pada kenyataannya hal ini sangat sulit untuk dicapai terkait dengan
pengetahuan para pekerja yang minim tentang penyakit akibat kerja.
Penyakit akibat kerja merupakan risiko yang dihadapai oleh pekerja dalam
melaksanakan tugas pekerjaannya sehari-hari. Berbagai risiko yang dihadapi, mengancam
timbulnya penyakit akibat kerja dikalangan para pekerja. Karena itu sesuai peraturan
perundangan, pengusaha wajib melindungi pekerjanya dari berbagai risiko tersebut, sehingga
pekerjanya tidak menderita penyakit akibat kerja yang sebenarnya akan berdampak negatif
bagi pengusaha tersebut. Selain itu, para pekerja diharapkan tetap sehat dalam melaksanakan
tugasnya dengan tingkat produktifitas yang tinggi.
Upaya mendeteksi penyakit akibat kerja dikalangan para pekerja merupakan tugas
para praktisi kesehatan khususnya mereka yang berperan sebagai dokter perusahaan. Tugas
ini dimulai secara menyeluruh dimulai dari identifikasi faktor risiko yang mungkin ada dan
mengancam ksehatan dan keselamatan pekerja, sampai medeteksi secara dini kemungkinan
adanya penyakit akibat kerja, serta penegakan diagnosa dan pengangan kasusnya, agar
terhindar dari keparahan dan kecacatan, serta mengembangkan upaya pencegahan serta
melakukan penghitungan kecacatan dalam upaya memberikan kompensasi kepada pekerja
yang terlanjur menderita cacat.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi
pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahay akibat kecelakaan
kerja.Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan.K3
bertujuan mencegah, mengurangi bahkan menihilkan resiko kecelakaan kerja (zero
accident).Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya. Melainkan harus dianggap
sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberikan keuntungan yang berlimpah pada
masa yang akan datang.
K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja, misalnya
kebisingan, pencahayaan (sinar), getran, kelembaban udara, dan hal-hal lain yang
menyebabkan kerusakan pada pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru,
kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar UV, percikan benda panas ,dan lain-lain. K3
1

dalam konteks kerja berkaitan dengan waktu dan shift dalam bekerja, waktu rekreasi dan
libur dan waktu pergantian dalam shift bekerja.
Maka dari mahasiswa kedokteran perlu diberikan bekal dalam memahami dan
menerapkan kedokteran kerja sehingga para pekerja dapat terproteksi dari penyakit akibat
kerja. Dalam hal ini tugas pengamatan perlu dilakukan sehingga dapat melihat secara
langsung pekerja yang sudah atau belum memakai alat pelindung diri saat bekerja.
Dalam merealisasikan hal ini, saya melakukan pengamatan terhadap Beautician yang
berkerja di klinik kecantikan Wijaya Platinum Cabang BSD Tangerang.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profil Perusahaan

Wijaya Platinum skincare pertama kali berdiri pada tahun 2005. Cabang Pertama
didirikan di Pamulang.Cabang ini didirikan oleh dr Hery widjaja. Sebelum menekuni
Bisnis ini Beliau lebih dahulu bergelut di industry Pharmasi, dengan membuka jaringan
Apotik. Skincare ini berawal dengan 6 orang karyawan dan kini sudah mempunyai lebih
dari 200 karyawan, memiliki lebih dari 28 dokter Aesthetic. Berawal dari total pasien 300
pasien/bulan, kini sudah mencapai lebih dari 15000-18.000 pasien/bulan. Dengan 11
cabang dan lebih dari 15 patner dibeberapa daerah seperti : Manado - jakarta - Bandung Lombok - Kupang - Serang - Bandung - Kalimantan - Palembang dll.
Wijaya Platinum skincare telah dipatenkan dan memiliki kekuatan hukum dan Bernaung di
bawah bendera CV Winner Karisma Abadi . Kedepan perusahaan akan membentuk unit
baru sebagai Distributor peralatan skincare berupa peralatan laser-Produk skincare yg
diimport dari beberapa Negara seperti Korea-eropa (akan mulai berjalan pertengahan th
2012) dan Unit Skincare akan terus berkembang dengan target pembukaan skincare baru
sebanyak 3-5 cabang/tahun. Dan memcapai 20 cabang pada th 2013.
Sesuai dengan visi dan misi perusahaan , Perusahan akan terus mengembangkan Penemuan
Produk racikan terbaru dengan mengikuti berbagai excebition ingredient internasional (Incosmetic) , serta mengikuti berkembangan peralatan dan produk skincare dibeberapa
negara seperti Vietnam-malaysia-Bangkok-cina dan eropa. Kita juga memiliki Perusahaan
manufacture yg memasok beberapa produk kita , dibeberapa Negara seperti : Germany
( munic)- korea Taiwan-malaysia dll. Kita memiliki rekanan di Taiwan Malaysia-Korea
untuk melakukan uji klinis beberapa produk kita . Wijaya skincare telah berpatner dengan
Dr Spiller ( Germany) dan satu satunya skincare di indonesia yg mendapatkan referensi
dari Germany melalui perwakilan Distributor Dr Spiller Indonesia dan menjadi sole agent
produk Korea (chamos, Minus zero, dll)
Wijaya skincare juga memberikan pelatihan2 kepada Tenaga Medis ( dokter) untuk selalu
3

di update. Tidak seperti kebanyakan skincare lain dimana kemampuan SDM tidak terlalu di
update Setiap tahun kita mengikuti berbagai training berskala internasional, menjadi
anggota perkumpulan Aestehtic kelas Dunia seperti : American Academy off Aestehtic
Medicine- Asia pacific Aestetic medicine-Dermatological Society of Malaysia dll. Wijaya
skincare juga di support oleh konsultan Bisnis, untuk membenahi management dan
pembukuan . Setiap manager mendapatkan Pendidikan khusus selama 1-2 th dibidang
bisnis dan marketing.

MARKET WIJAYA PLATINUM SKINCARE


Market yg di bidik meliputi usia produktif . 70 % usia ( 25-45 th) dan 90% wanita , karena
jasa kita sangat spesifik dibidang perawatan kulit wajah dan pelangsingan tubuh.
Meliputi : kalangan mahasiswa-Ibu rumah tangga-karyawan Bank, Pramugari, bumn dll.
Dan kita melakukan survey berkala untuk selalu melihat profile konsumen.

2.2 Status Kesehatan Penderita

Status Kesehatan Penderita


(diagnosis penyakit akibat kerja)

I.

Identitas Penderita
Nama
Umur
Alamat

: Nn. Yeni
: 24 tahun
: Mess klinik kecantikan wijaya platinum

cabang BSD Tangerang


Kedudukan dalam keluarga
Jenis kelamin
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Perusahaan

: Anak
: Perempuan
: Islam
: SLTA
: Beautician
: klinik kecantikan Wijaya Platinum Skincare
4

Status perkawinan
Tanggal kunjungan

Riwayat Pekerjaan
Keluhan utama: Nyeri punggung
Riwayat perjalanan penyakit sekarang: Nyeri punggung, badan pegal-pegal dan

berkurang saat beristirahat.


Riwayat penyakit dahulu: Diabetes mellitus, hipertensi, sakit jantung, kolesterol,

asma dan alergi disangkal


Riwayat penyakit dalam keluarga: Diabetes mellitus, hipertensi, sakit jantung,

II.

: Belum menikah
: 15 Januari 2016

kolesterol, asma dan alergi disangkal


III.

Riwayat pekerjaan
Jenis pekerjaan
Jenis

Bahan yang digunakan

Tempat

Lama kerja

pekerjaan
Beautician

Tempat tidur klien,

kerja
klinik

2 tahun 6

bangku, masker,

kecantikan

bulan (1 hari

ekstraktor komedo,

wijaya

bekerja

cairan pembersih

platinum

selama 8

wajah, probe sterilisasi,

jam)

lampu meja, tissue,


kapas, alkohol 70%

Uraian tugas/pekerjaan
(1) Pemeriksaan awal : memeriksakan keadaan kulit wajah pasien (sekitar 1-2
menit)
(2) Cleansing : membersihkan wajah dari debu dan sisa make up, menggunakan
cleansing milk dan sabun pembersih muka. Alat yang digunakan: busa/spons
pembersih, cairan pembersih dan air bersih. Selama 5-10 menit
(3) Penguapan wajah : wajah diberikan cream lalu mata di tutup dengan kapas
basah dan kemudian wajah diberikan uap untuk membuka pori-pori wajah,
menggunakan alat penguap wajah selama 15-20 menit.
(4) Ekstraksi : proses mengeluarkan komedo dari pori-pori wajah menggunakan
ekstraktor, penerangan yang cukup, dan tissue. Selama 30 menit.
(5) Pemberian cream anti-iritasi : setelah proses pengeluaran komedo, wajah di
berikan cream anti-iritasi untuk memcegah terjadinya iritasi. Selama 1-2 menit
5

(6) Masker: pemasangan masker sebanyak 2 kali. Masker yang pertama untuk
pencerah wajah dan masker yang kedua untuk mengecilkan pori-pori wajah.
Alat yang digunakan: kuas, mangkuk melamin dan masker wajah. Selama 45
menit.
(7) Pemberian suncream: mengoleskan suncream ke wajah pasien. Selama 1-2
menit

Bahaya potensial
(1) Urutan kegiatan :
(a) Pukul 05.00
: Bangun dan melaksanakan sholat subuh
(b) Pukul 05.30
: Persiapan bekerja
(c) Pukul 06.00
: Sarapan Pagi
(d) Pukul 07.00
: Mempersiapkan ruangan untuk bekerja
(e) Pukul 09.00
: Bekerja
(f) Pukul 12.00
: Istirahat makan siang dan sholat zuhur
(g) Pukul 13.00
: Bekerja kembali
(h) Pukul 15.00
: Istirahat dan sholat ashar
(i) Pukul 16.00
: Bekerja kembali
(j) Pukul 18.00
: Selesai bekerja
(2) Alat pelindung diri : masker
(3) Bahaya potensial :
(a) Fisik : tidak ada
(b) Kimia : cairan pembersih muka, alkohol 70%, cream wajah, masker wajah
(c) Biologis : bakteri/virus/toksik
(d) Ergonomi : posisi duduk(leher membungkuk) dan statis, tidak bisa
berputar secara leluasa, pekerjaan tangan yang berulang
(e) Psikososial : Kebosanan
(4) Gangguan kesehatan yang mungkin timbul:
Alergi, infeksi, keracunan bahan pemberih wajah, gangguan musculoskeletal,
low back pain, stress.
(5) Risiko kecelakaan kerja:
Air dan cairan pembersih muka tumpah sehingga terpeleset dan bisa sebabkan
fraktur. Air dan cairan pembersih muka tumpah juga bisa mengenai aliran
listrik sekitar sehingga terjadi sengatan listrik. Terkena cipratan komedo,
bakteri atau darah saat ekstraksi komedo sehingga bisa infeksi.

IV.

Pemeriksaan :
a. Pemeriksaan Fisik
(1) Keadaan umum : Baik
(2) Tanda vital: TD: 120/80 mmhg, nadi: normal, suhu: normal, pernapasan:
normal
(3) Keadaan gizi:
Berat Badan
Tinggi Badan
BMI

: 49 kg
: 155 cm
: 20.41
6

Kesan
b. Pemeriksaan klinis
Tidak ada

: gizi baik

V.

Saran Pemeriksaan laboratorium


(1) Laboratorium rutin: Darah Rutin
(2) Laboratorium khusus :
(3) Pemeriksaan radiologis : Foto polos sakral

VI.

Analisis hubungan pekerjaan dengan penyakit yang diderita


1. Pengamatan tempat kerja:
Tempat tidur klien tidak dapat diubah tinggi rendahnya dan bangku kerja
cenderung tinggi relatif kurang sesuai pasien bekerja dengan kondisi yang
tidak ergonomis yaitu membungkuk khususnya daerah leher .
2. Pembuktian hubungan penyakit dengan pekerjaan:
Pasien bekerja memeriksa wajah klien, cleansing, chemical peeling, ekstraksi,
sterilisasi, massage, dan masker. Semuanya menggunakan bahan kimia. APD
yang digunakan cukup memadai. Akan tetapi pasien sering kali melakukan
gerakan memutar pada pinggang dan seringkali bulak balik penyimpana untuk
mengambil peralatan yang dibutuhkan.
3. Pembuktian tidak adanya hubungan penyakit dengan penyebab di luar
pekerjaan:
Tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan selain pekerjaan ini

VII.

Menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja


1. Diagnosis kerja : Low Back Pain
2. Diagnosis diferensial : ischialgia
3. Diagnosis okupasi : -

VIII. Katagori kesehatan:


Kesehatan cukup baik dangen kelianan yang dapat dipulihkan.
IX.

Prognosa :
Quo Ad Vitam: ad Bonam
Qou Ad Sanationam: ad Bonam
Quo Ad Fungsionam: ad Bonam

X.
No
1

Permasalahan pasien dan rencana penatalaksanaannya : Jenis Permasalahan

Nyeri punggung

Rencana Tindakan

Target Waktu &

Edukasi dan

Evaluasi
2 minggu setelah

tatalaksana

pengobatan

Keterangan
-

2.3 Hasil Pengamatan


Hasil pengamatan yang saya dapatkan adalah dimana beautician ini tidak menggunakan
APD yang seharusnya digunakan, sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, dan
posisi saat melakukan facial yang membungkuk tidak ergonomis sehingga dapat berbahaya
bagi kesehatan jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan repetitif

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Penyakit Akibat Kerja (PAK) merupakan risiko yang dihadapi pekerja dalam
mengerjakan tugasnya sehari-hari. Dalam hal ini, Beautician tersebut dapat terkena
berbagai penyakit seperti Low Back Pain, gangguan muskuloskeletal, kanker,
keracunan bahan kimia dan infeksi. Maka dari itu, perlu dilakukan usaha preventif
dalam menanggulangi masalah Penyakit Akibat Kerja yang sering terjadi dengan
memberikan edukasi yang baik tentang posisi tubuh yang ergonomis saat bekerja juga
memberikan pekerja alat pelindung diri yang lengkap, dan tentu saja hal ini tidak
lepas dari peranan para pemilik perusahaan, praktisi kesehatan dan kepatuhan pasien
dalam mengatasi masalah Penyakit Akibat Kerja.
3.2 Saran
1. Alat Pelindung Diri harus selalu digunakan dalam keadaan apapun saat bekerja.
2. Perlu dukungan para pemilik suatu perusahaan serta praktisi kesehatan untuk
mengatasi Penyakit Akibat Kerja.
3. Perlu kedisiplinan para pekerja dalam menggunakan alat pelindung diri juga posisi
tubuh yang ergonomis.

LAMPIRAN KEGIATAN
Foto-foto kegiatan

Kunjungan ke Wijaya Platinum Skincare

Alat dan bahan untuk perawatan

Ruang dan alat perawatan

Posisi beautician saat ekstraksi


10

Masker pertama

Pengangkatan masker

Masker kedua

Foto bersama beautician

11