Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air limbah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia baik itu
domestik maupun non domestik pada dasarnya mengandung banyak zat
pencemar. Zat pencemar tersebut dapat berupa zat pencemar yang
sifatnya fisis, biologis maupun kimiawi. Zat pencemar tersebut dapat
mengandung banyak zat berbahaya bagi makhluk hidup maupun
lingkungan di sekitarnya. Bahan-bahan yang terkandung di dalamnya
merupakan bahan-bahan yang sangat kompleks baik bersifat larut dalam
air ataupun tidak larut dalam air. Untuk meminimalisir tingkat bahaya yang
ditimbulkan dari air limbah, kita sebagai manusia seharusnya bisa berfikir
kritis untuk melakukan pengolahan pada air limbah tersebut. Adapun salah
satu cara untuk mengolah air limbah yang mengandung zat berbahaya
tersebut adalah dengan cara melakukan pengolahan air limbah secara
kimiawi. Pada pokok bahasan kali ini akan diabahas pengolahan air
limbah dengan memanfaatkan prinsip kimia reaksi asam-basa netralisasi.
1.2. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari makalah ini adalah:
1. Menjelaskan pengertian dari reaksi asam-basa dan netralisasi;
2. Memahami proses reaksi-reaksi asam basa dan reaksi netralisasi;
3. Memahami peran reaksi-reaksi asam basa dan reaksi netralisasi pada
pengolahan air buangan;
4. Memahami kembali perhitungan pH reaksi asam-basa dan reaksi netralisasi.

1.3 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Berisikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan penulisan, serta
dan sistematika penulisan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Berisikan tentang pengertian pengertian dari reaksi asam-basa dan


netralisasi serta proses reaksi-reaksi asam basa dan reaksi netralisasi.
BAB III

PEMBAHASAN
Berisikan tentang pembahasan dari reaksi asam-basa dan reaksi
netralisasi dalam pengolahan air buangan.

BAB IV

CONTOH SOAL
Berisikan contoh persoalan dari reaksi dari reaksi asam-basa dan
reaksi netralisasi dalam pengolahan air buangan .

BAB V

PENUTUP
Berisikan kesimpulan dan saran-saran untuk perbaikan pengelolaan
persampahan yang telah ataupun akan dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Reaksi Asam-Basa dan Netralisasi
Untuk menjelaskan penyebab sifat asam dan basa, sejarah perkembangan ilmu
kimia mencatat berbagai teori. Pada tahun 1777, Lavoisier mengemukakan
bahwa asam mengandung oksigen. Unsur itu yang dianggap bertanggung jawab
atas sifat-sifat asam (nama oksigen diberikan oleh Lavoisier yang berarti
pembentuk asam). Namun pada tahun 1810, Humphrey Davy menemukan
bahwa asam hidrogen klorida tidak mengandung oksigen. Davy kemudian
menyimpulkan bahwa hidrogenlah dan bukan oksigen yang merupakan unsur
dasar dari setiap asam. Kemudian pada tahun 1814, Gay Lussac menyimpulkan
bahwa asam adalah zat yang dapat menetralkan alkali dan kedua golongan
senyawa itu hanya dapat didefinisikan dalam kaitan satu dengan yang lain.
Konsep yang cukup memuaskan tentang asam dan basa, dan yang tetap
diterima hingga sekarang, dikemukakan oleh Arrhenius pada tahun 1884.
Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+
sedangkan basa melepaskan ion OH-. Jadi, pembawa sifat asam adalah ion H+
sedangkan pembawa sifat basa adalah OH-. Asam Arrhenius dirumuskan
sebagai HxZ yang dalam air mengalami ionisasi sebagai berikut (Anggraeni,
2008) :

HxZ(aq)xH+(aq)+ ZX-(aq)

Adapun sifat senyawa asam adalah sebagai berikut (Sukarman, 2004):


1. rasanya masam;
2. merusak/melarutkan logam (korosif);
3. memerahkan kertas lakmus biru;
4. pH kurang dari 7.
Sedangkan difat dari senyawa basa adalah (Sukarman, 2004):
1. rasanya pahit;
2. membakar (kaustik);
3. licin seperti sabun;
4. membirukan kertas lakmus merah;
5. pH lebih dari 7.

Berdasarkan contoh diatas, setiap molekul yang hanya dapat memberikan satu
ion H3O+ disebut asam monoprotik, sedangkan yang dapat memberikan dua ion
H3O+ disebut asam diprotik, dan tiga ion H 3O+ disebut asam triprotik. Atau dapat
dikatakan setiap molekul yang dapat memberikan lebih dari satu ion H 3O+
disebut asam poliprotik (Sukarman, 2004).

Berikut merupakan contoh senyawa Asam (Anggraeni, 2008):

Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh 1 molekul asam disebut valensi asam.
Sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepas ion H+ disebut
ion sisa asam. Nama asam sama dengan nama ion sisa asam dengan didahului
kata asam (Anggraeni, 2008).

Berikut merupakan contoh senyawa Basa (Anggraeni, 2008):

Larutan asam dan basa termasuk golongan larutan elektrolit. Larutan elektrolit
dapat menghantarkan listrik. Zat yang larutannya mempunyai daya hantar baik
walaupun konsentrasinya kecil, disebut elektrolit kuat. Zat yang larutannya
mempunyai daya hantar kurang baik walaupun konsentrasinya relatif besar,
disebut elektrolit lemah. Daya hantar listrik setiap larutan tergantung pada
besarnya konsentrasi ion-ion dalam larutan tersebut. Elektrolit kuat terionisasi
seluruhnya sehingga konsentrasi ion-ion dalam larutan relatif lebih besar.
Elektrolit lemah terionisasi sebagian kecil sehingga konsentrasi ion-ion
didalamnya relatif kecil. Banyak sedikitnya zat elektrolit yang terionisasi
dinyatakan dengan derajat ionisasi (), yaitu bilangan yang menunjukkan
perbandingan antara jumlah zat yang terion dan jumlah zat yang dilarutkan
(Anggraeni, 2008).
Harga derajat ionisasi berkisar antara 0 dan 1. Elektrolit kuat mempunyai = 1,
sedangkan

elektrolit

lemah

mempunyai

harga

yang

mendekati nol.

Berdasarkan sifat kuat lemahnya asam, kita mengenal adanya asam kuat dan
asam lemah. Kuat lemahnya suatu asam ditentukan oleh jumlah ion hydrogen
yang terionisasi dalam larutan. Asam kuat adalah asam yang banyak
menghasilkan air dalam larutannya (asam yang terionisasi sempurna dalam
larutannya), sedangkan asam lemah adalah asam yang sedikit menghasilkan ion
dalam larutannya (terionisasi sebagian dalam larutan). Contoh asam kuat dan
asam lemah adalah sebagai berikut (Anggraeni, 2008):

Contoh asam kuat: HCl, HI, HBr, H2SO4, HClO4;


Contoh asam lemah: CH3COOH, H2S, H2CO.
Seperti halnya asam, basa pun dapat dibagi menjadi basa lemah dan basa kuat.
Kekuatan basa sangat bergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan
ion OH- dalam larutan dan konsentrasi larutan basa tersebut. Basa kuat bersifat
korosif.

Ingatlah

jangan

menyentuh

basa

(murni

ataupun

larutannya)

sembarangan. Contoh senyawa yang tergolong basa kuat adalah natrium


hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH), dan kalsium hidroksida (Ca(OH) 2),
sedangkan ammonia (NH3) tergolong sebagai basa lemah.
Kaustik merupakan istilah yang digunakan untuk basa kuat. Jadi, kita
menggunakan nama kaustik soda untuk natrium hidroksida (NaOH) dan kalium
hidroksida (KOH). Contoh basa kuat dan basa lemah sebagai berikut (Anggraeni,
2008):
Contoh basa kuat: NaOH, KOH, Ca(OH)2, Ba(OH)2;
Contoh basa lemah: NH4OH.
Netralisasi merupakan proses penetralan asam dan basa yang dimana
menghasilkan air dan garam. Reaksi netralisasi terjadi antara ion hidrogen
sebagai asam dengan ion hidroksida sebagai basa dan membentuk air yang
bersifat netral. Berdasarkan konsep lain reaksi netralisasi dapat juga dikatakan
sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa)
(Sukarman, 2004).
Walaupun reaksi asam-basa disebut reaksi penetralan, tetapi hasil reaksi
(garam) tidak selalu bersifat netral. Sifat asam basa dari larutan garam
tergantung pada kekuatan relatif asam basa penyusunnya. Garam dari asam
kuat dan basa kuat bersifat netral. Garam dari asam kuat dan basa lemah
bersifat asam; sedangkan garam dari asam lemah dan basa kuat bersifat basa.
Contoh: NaCl bersifat netral, NH4Cl bersifat asam, dan CH3COONa bersifat basa.
Untuk mengetahui seberapa banyak asam atau basa yang diperlukan dalam
reaksi penggaraman, digunakan titrasi. Titrasi adalah cara analisis tentang
pengukuran jumlah larutan yang diperlukan untuk bereaksi secara tepat dengan
zat yang terdapat dalam larutan lain (Sukarman, 2004).
Berdasarkan sifatnya, garam dibedakan menjadi 3 macam, yaitu garam netral,
garam asam dan garam basa (Sukarman, 2004):

1. Garam Netral
Garam netral adalah garam yang terbentuk dari basa kuat dengan asam kuat.
Garam ini bersifat netral dan mempunyai pH=7. Contoh: NaCl, KCl, K2SO4,
NaNO3, MgSO4, KBr, NaBr, dan lain-lain;
2. Garam Asam
Garam asam adalah garam yang terbentuk dari basa lemah dan asam kuat.
Garam ini bersifat asam dan mempunyai pH<7. Contoh: NH4NO3, NH4Cl,
(NH4)2SO4 dan lain-lain;
3. Garam Basa
Garam basa adalah garam yang terbentuk dari basa kuat dengan asam lemah.
Garam ini bersifat basa dan mempunyai pH>7. Contoh: NaCN, CH3COONa,
K2CO3, KCN, KF, BaCO3 dan lain-lain.
Umumnya zat-zat dengan sifat yang berlawanan, seperti asam dan basa
cenderung bereaksi satu sama lain. Reaksi asam dan basa merupakan pusat
kimiawi sistem kehidupan, lingkungan, dan proses-proses industri yang penting.
Bila larutan asam direaksikan dengan larutan basa, maka sebagian dari ion H 3O+
asam akan bereaksi dengan sebagian ion OH- basa membentuk air (Sukarman,
2004).

H3O+(aq) + OH-(aq) 2H2O (l)


Karena air bersifat netral, maka reaksi asam dengan basa disebut reaksi
penetralan. Persamaan diatas hanya memperhitungkan sebagian ion-ion yang
ada dalam larutan. Apakah yang terjadi dengan ion negatif sisa asam dan ion
positif sisa basa? Ion-ion ini akan bergabung membentuk senyawa ion yang
disebut garam. Bila garam yang terbentuk itu mudah larut dalam air, maka ionionnya akan tetap ada dalam larutan. Tetapi jika garam itu sukar larut dalam air,
maka ion-ionnya akan bergabung membentuk endapan. Jadi reaksi asam
dengan basa disebut juga penggaraman, karena (Sukarman, 2004):

NaCl adalah garam yang mudah larut dalam air. Jadi ion-ion Na+ dan Cl- tetap
dalam larutan. Apabila larutan itu diuapkan akan di dapat kristal natrium klorida
(NaCl). Untuk melihat proses pembentukan NaCl perhatikan gambar berikut
(Sukarman, 2004):

Beberapa jenis garam yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari (Sukarman,


2004):

2.2 Konsep Ph Reaksi Asam Basa Netralisasi


2.2.1 Pengertian pH
Adanya ion H+ dan ion OH- telah memberikan pengertian asam dan basa
menurut Arrhenius. Ion H+ dan OH- selain dapat menjelaskan sifat asam dan
basa juga dapat menjelaskan derajat keasaman atau derajat kebasaan. Semakin
besar konsentrasi ion H+ semakin besar derajat keasamannya dan sebaliknya,
semakin besar konsentrasi ion Oh semakin besar pula derajat kebasaannya dan
sebaliknya (Chang, 2004).
Larutan-larutan yang sangat encer nilai konsentrasi H+ dan OH- itu sangat kecil,
sehingga menyulitkan dalam penghitungan derajat keasaman. Seorang ahli
biokimia dari Denmark pada tahun 1909 mengusulkan agar perhitungan

konsentrasi ion H+ dan OH- yang sangat kecil dan tak sederhana itu digunakan
dengan istilah pH yang menyatakan derajat atau tingkat keasaman larutan
tersebut. pH diperoleh sebagai hasil negatif logaritma 10 dari konsentrasi ion H+.
Jadi, bila ditulis dengan persamaan matematika adalah sebagai berikut (Chang,
2004):
pH = -log [H+]
Analog dengan cara perolehan pH untuk larutan asam maka pada larutan basa
berlaku (Chang, 2004):
pOH = -log [OH-]
Rumus tersebut dapat memberikan pengertian bahwa semakin besar [H+]
semakin kecil harga pH-nya dan semakin kecil [H+] semakin besar harga pHnya. Jadi semakin besar harga pH, semakin kecil derajat keasamannya, (pH
berbanding terbalik dengan derajat keasaman). Nilai derajat keasaman dan
kebasaan suatu zat tergantung pada jumlah ion H + dan OH- di dalam air.
Semakin asam suatu zat, semakin banyak ion H + dan semakin sedikit jumlah ion
OH- di dalam air. Sebaliknya semakin basa suatu zat, semakin sedikit jumlah ion
H+ dan semakin banyak ion OH- di dalam air. Jumlah ion H+ dan OH- di dalam air
dinyatakan dengan pH atau pOH (Chang, 2004).
Derajat keasaman atau kebasaan suatu zat hanya dinyatakan dengan skala pH.
Derajat keasaman suatu zat (pH) ditunjukkan dengan skala 0-14. Sifat asam atau
basa ditentukan oleh skala pH seperti berikut (Chang, 2004):

Larutan dengan pH < 7 bersifat asam.

Larutan dengan pH = 7 bersifat netral.

Larutan dengan pH > 7 bersifat basa.

2.2.2 Kesetimbangan air


Pada suhu 25C air yang netral itu memiliki pH = 7. Berarti besarnya [H+] = 10 -7
M artinya bahwa air itu walaupun hanya sedikit juga terionisasi sebagian
menghasilkan ion H+ dan tentunya juga ion OH-. Jika ditulis persamaan
reaksinya adalah (Goldberg, 2004):

H2O(l)

H+(aq) + OH-(aq)

Berdasarkan reaksi ionisasi tersebut banyaknya ion H+ sama dengan banyaknya


ion OH-. Jadi, banyaknya ion OH- juga sama yaitu 10-7 M. Reaksi ionisasi air

10

adalah

reaksi

kesetimbangan,

sehingga

air

memiliki

harga

tetapan

kesetimbangan yang dirumuskan (Chang, 2004):

Besarnya [H2O] hampir tak berubah karena tiap 1 liternya hanya terurai
(terionisasi) sebesar 10-7 mol pada suhu 25, sehingga persamaan tetapan
kesetimbangan air tersebut dapat disederhanakan menjadi (Chang, 2004):

Jika K [H2O] = KW

maka Kw = [H+] [OH-]


Kw = 10-7.10-7
Kw = 10-14

Harga Kw dipengaruhi oleh suhu, semakin besar suhunya semakin besar pula air
yang terionisasi, dengan demikian harga Kw juga besar. Sebagai perbandingan
harga Kw pada suhu 60C adalah 9,55.10 -14. Pada suhu 100C adalah 55,0 x 10 14

. Dalam perhitungan, jika besarnya suhu tidak disebutkan berarti dianggap pada

suhu 25C, sehingga harga Kw = 10-14 saja. Karena Kw pada suhu 25C = 10-14
maka (Sukarman, 2004):

Kw = [H+] [OH-]
10-14 = [H+] [OH-]
pKw = p[H+] [OH-]
-log10-14 = -log [H+] +(-log[OH-])
14 = pH + pOH
sehingga, harga pH dan pOH dapat dituliskan:

14 = pH + pOH
Selama pelarutnya air maka harga pH hanya sampai 14 dengan pembagian
sebagai berikut (Sukarman, 2004):
pH < 7 adalah larutan asam
pH > 7 adalah larutan basa
pH = 7 adalah larutan netral
Prinsipnya, dengan menggunakan pelarut apapun (Sukarman, 2004):
suatu larutan bersifat asam bila [H+] > [OH-]
suatu larutan bersifat basa bila [H+] < [OH-]
suatu larutan bersifat netral bila [H+] = [OH-]

11

Contoh:
1. pH air adalah sama dengan 7, [H+] = [OH-]
Jika dalam air ditambahkan HCl maka [H+] menjadi bertambah karena dari
hasil ionisasi HCl sehingga kesetimbangan air bergeser ke arah H2O yang
menyebabkan [H+] > [OH].
2. Begitu juga bila ke dalam air yang netral ditambahkan NaOH, NaOH tersebut
akan terionisasi menghasilkan ion OH- maka dalam air jumlah [OH-] menjadi
lebih banyak, sedang [H+] tetap, sehingga larutan menjadi basa.

2.2.3 Menentukan Ph Larutan Pada Asam Kuat dan Basa Kuat


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa banyaknya ion H+ dan ion OHmenunjukkan derajat keasaman dan atau derajat kebasaan larutan. Derajat
keasaman itu ditunjukkan berdasarkan harga pH.

Nilai pH = - log[H+] dan pOH = -log[OH-].


Dalam menentukan besarnya [H+] pada larutan asam dan [OH-] pada larutan
basa secara stoikiometri maka pH suatu larutan asam dan basa dapat ditentukan
atau dihitung dengan rumus (Sukarman, 2004):

[H+] = n.Ma dan [OH-] = n.Mb


Keterangan: n = banyaknya ion H+/OHMa
M = molaritas asam
Mb = molaritas basa

2.3 Larutan Penyangga


2.3.1 Pengertian Larutan Penyangga
Larutan penyangga adalah larutan yang bersifat mempertahankan pH-nya, jika
ditambahkan sedikit asam atau sedikit basa atau diencerkan. Larutan penyangga
merupakan campuran asam lemah dengan basa konjugasinya atau campuran
basa lemah dengan asam konjugasinya (Goldberg, 2004).

2.3.2 Larutan Penyangga Asam

12

Larutan penyangga asam dapat mempertahan-kan pH < 7, tersusun atas


campuran(Goldberg, 2004) :

1. Asam lemah dan garamnya


Contoh: CH3COOH dengan CH3COONa
2. Asam lemah dan basa konjugasinya
Contoh: CH3COOH dengan CH3COO
Larutan penyangga asam dapat dibuat dengan mereaksikan asam lemah dengan
basa kuat. Reaksi tersebut akan menghasilkan garam atau basa konjugasi,
menghabiskan basa kuat dan menyisakan asam lemah. Cara larutan penyangga
asam menjaga pH (Goldberg, 2004):
1. Pada penambahan asam (penambahan H+), kesetimbangan bergeser ke kiri,
asam bereaksi dengan basa membentuk asam lemah;
2. Pada penambahan basa (penambahan OH-), kesetimbangan bergeser ke
kanan, basa bereaksi dengan asam membentuk air.
Konsentrasi H+ dalam larutan penyangga asam (Goldberg, 2004):

2.3.3 Larutan Penyangga Basa


Larutan penyangga basa dapat mempertahan-kan pH > 7, tersusun atas
campuran (Goldberg, 2004):
1) Basa lemah dan garamnya
Contoh: NH3 dengan NH4Cl;
2) Basa lemah dan asam konjugasinya
Contoh: NH3 dengan NH4+

13

Larutan penyangga basa dapat dibuat dengan mereaksikan asam kuat dengan
basa lemah. Reaksi tersebut akan menghasilkan garam atau asam konjugasi,
menghabiskan asam kuat dan menyisakan basa lemah (Goldberg, 2004).
Cara larutan penyangga basa menjaga pH (Goldberg, 2004):
1) Pada penambahan asam (penambahan H+), kesetimbangan bergeser ke
kanan, asam be-reaksi dengan basa membentuk asam lemah.
2) Pada penambahan basa (penambahan OH-), kesetimbangan bergeser ke kiri,
basa bereaksi dengan asam membentuk air.
Konsentrasi OH- dalam larutan penyangga basa (Goldberg, 2004):

2.3.4 Fungsi Larutan Penyangga


Larutan penyangga digunakan dalam (Sukarman, 2004):
1) Analisis zat kimia dan biokimia;
2) Laboratorium bakteriologi;
3) Kultur jaringan;
4) Obat tablet dan cair;
5) Cocok tanam hidroponik.
Larutan penyangga terdapat dalam tubuh manusia yang berfungsi menjadi
keseimbangan pH tubuh, terdapat pada cairan intrasel dan cairan ekstrasel
(misalnya darah dan air liur). Macam-macam larutan penyangga dalam tubuh
(Sukarman, 2004):
1) Penyangga fosfat tersusun atas H2PO4- dan HPO42- dan berada pada
seluruh cairan tubuh.
Pada penurunan pH tubuh: HPO4-(aq) + H+(aq) d H2PO4-(aq)
Pada kenaikan pH tubuh : H2PO4-(aq) + OH-(aq) d HPO4-(aq) + H2O(l)
2) Penyangga karbonat tersusun atas H2CO3 dan HCO3- dan berada pada darah.

14

Pada penurunan pH tubuh : HCO3-(aq) + H+(aq) d H2CO3(aq)


Pada kenaikan pH tubuh :

H2CO3(aq) + OH-(aq) d HCO3-(aq) + H2O(l)

3) Penyangga hemoglobin tersusun atas HHb dan HbO2 dan berada pada darah.
Kesetimbangan hemoglobin : HHb(aq) + O2(aq) d HbO2(aq) + H+(aq)
Tanpa larutan penyangga, tubuh manusia dapat mengalami asidosis dan
alkalosis yang menyebabkan kerusakan jaringan dan organ. Asidosis adalah
penurunan pH darah yang disebabkan oleh metabolisme tubuh yang terlalu tinggi
karena diabetes mellitus, penyakit ginjal, diare, dan konsumsi makanan
berprotein berlebihan. Alkalosis adalah peningkatan pH darah yang disebabkan
hiperventilasi karena sedikitnya kadar oksigen di lingkungan, dan gas
karbondioksida yang dilepas terlalu banyak (Sukarman, 2004).

15

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Aplikasi Reaksi Asam Basa Dan Netralisasi Dalam Air Buangan
Limbah cair industri harus melalui proses pengolahan limbah cair sebelum dapat
dibuang ke perairan bebas. Salah satu unit operasi yang sangat penting adalah
unit netralisasi. Proses netralisasi limbah cair asam dilakukan dengan
penambahan base penetral dengan jumlah yang sesuai sehingga larutan
mempunyai pH yang diperbolehkan untuk penjagaan netralitas air limbah
diperlukan suatu strategi kontrol yang tepat (Sukardjo, 1984).
Sebagian besar limbah cair dari industri mengandung bahan bahan yang bersifat
asam (Acidic) ataupun Basa (alkaline) yang perlu dinetralkan sebelum dibuang
kebadan air maupun sebelum limbah masuk pada proses pengolahan, baik
pengolahan secara biologic maupun secara kimiawi, proses netralisasi tersebut
bisa dilakukan sebelum atau sesudah proses equalisasi (Goldberg,2004).
Untuk mengoptimalkan pertumbuhan microorganisme pada pengolahan secara
biologi pada air limbah, maka pH air limbah perlu dijaga pada kondisi antara pH
6,5-8,5, karena sebagian besar microb aktif atau hidup pada kondisi pH tersebut.
Proses koagulasi dan flokulasi juga akan lebih efisien dan efektif jika dilakukan
pada kondisi pH netral (Goldberg,2004).
Limbah dari beberapa industri dapat bersifat asam maupun basa, untuk itu
netralisasi sangat diperlukan agar air limbah dapat tetap diolah pada bangunan.
Selanjutnya, dan tidak mengganggu proses pengolahan selanjutnya. Untuk
pengolahan secara biologis pH yang dibutuhkan antara 6,5 - 8,5 agar aktivitas
pengolahan biologis tidak terganggu. Adapun macam-macam dari proses
netralisasi pada air buangan adalah (Chang, 2004):
1. Mengalirkan air limbah yang bersifat asam pada media batu kapur

16

Ini merupakan sistem aliran ke bawah atau ke atas. Dimana maximum kecepatan
hydrolik untuk sistem aliran ke bawah adalah 1 gal / (min, ft2) (4,07.10 -2 m3/min,
m2). Konsentrasi asam dibatasi hingga 0,6 % H2SO4 jika H2SO4 ada dan melapisi
butiran kapur dengan bahan CaSO4 & CO2. Kecepatan hydrolik loading dapat
bertambah dengan sistem aliran ke atas karena hasil dari reaksi dijaga sebelum
adanya pengendapan. Sistem ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Sistem Aliran Pada Bangunan Netralisasi Air Limbah

2. Mencampur air limbah yang bersifat asam dengan bahan-bahan yang


bersifat

basa

Jenis netralisasi ini tergantung dari macam-macam bahan basa yang digunakan
Magnesium adalah bahan basa yang sangat reaktif dalam asam kuat dan
digunakan pada pH di bawah 4,2. Netralisasi dengan menggunakan bahan basa
dapat didefinisikan berdasarkan faktor titrasi dalam 1 gram sampel dengan HCl
yang dididihkan selama 15 menit kemudian dititrasi lagi dengan 0,5 N NaOH
dengan menggunakan phenolpthalen sebagai buffer. Mencampurkan bahanbahan basa dapat dilakukan dengan pemanasan maupun pengadukan secara
fisik. Untuk bahan yang sangat reaktif, reaksi terjadi secara lengkap selama 10
menit. Bahan-bahan basa lainya yang dapat digunakan sebagai netralisasi
adalah NaOH, Na2CO3 atau NH4OH.
3. Air limbah yang bersifat basa
Banyak bahan asam kuat yang efektif digunakan untuk menetralkan air limbah
yang bersifat basa, biasanya yang digunakan adalah sulfaric atau hydrochloric
acid. Asap gas yang terdri dari 14 % CO 2 dapat digunakan untuk netralisasi
dengan melewatkan gelembung-gelembung gas melalui air limbah CO 2 ini
terbentuk dari carbonik acid yang mana dapat bereaksi dengan basa. Reaksi ini

17

lambat tapi cukup untuk mendapatkan pH antara 7 hingga 8. Cara lain yang
dapat digunakan adalah dengan menggunakan spray tower.
Adapun beberapa sistem yang digunakan untuk bangunan netralisasi ini adalah
(Sukardjo, 1984):
a.

Sistem Batch, yang digunakan untuk aliran air limbah hingga 380
3

m /hari;
b.

Sistem continouse, dengan pH control dimana dibutuhkan udara


untuk pengadukan dengan minimum aliran air 1-3 ft3/mm, ft2 atau 0,3-0,9
m3/mm, m2 pada kedalaman 9 ft (2,7 m);

c.

Sistem pengadukan mekanis, dimana daya yang digunakan 0,20,4 hp/thousand gal ( 0,04 - 0,08 kW/m3 ).

Untuk limbah yang mengandung minyak, reaksi asam basa netralisasi yang
dapat digunakan dalam proses netralisasi minyak, antara lain (Sukardjo, 1984):
1. Netralisasi dengan Natrium Karbonat (Na2CO3)
Keuntungan menggunakan persenyawaan karbonat adalah karena trigliserida
tidak ikut tersabunkan, sehingga nilai refining factor dapat diperkecil. Suatu
kelemahan dari pemakaian senyawa ini adalah karena sabun yng terbentuk
sukar dipisahkan. Hal ini disebabkan karena gas CO2 yang dibebaskan dari
karbonat akan menimbulkan busa dalam minyak. Namun, kelemahan ini dapat
diatasi karena gas CO2 yang dihasilkan dapat dihilangkan dengan cara
mengalirkan uap panas atau dengan menurunkan tekanan udara di atas
permukaan minyak dengan menggunakan pompa vakum.
2. Netralisasi minyak dalam bentuk miscella
Cara ini digunakan pada minyak yang diekstrak dengan menggunakan pelarut
menguap (solvent extraction). Hasil yang diperoleh merupakan campuran antara
pelarut dan minyak yang disebut dengan miscella. Asam lemak bebas dalam
micelle dapat dinetralkan dengan menggunakan kaustik soda atau natrium
karbonat. Sedangkan sabun yang terbentuk dapat dipisahkan dengan cara
menambahkan garam dan minyak netral dapat dipisahkan dari pelarut dengan
cara penguapan.
3. Netralisasi dengan Etanol Amin dan Amonia
Etanol Amin dan Amonia dapat digunakan untuk netralisasi asam lemak bebas.
Pada proses ini, asam lemak bebas dapat dinetralkan tanpa menyabunkan
trigliserida, sedangkan ammonia yang digunakan dapat diperoleh kembali dari
soap stock dengan cara penyulingan dalam ruangan vakum.
18

4. Pemisahan Asam (de-acidification) dengan Cara Penyulingan


Proses pemisahan asam dengan cara penyulingan adalah proses penguapan
asam lemak bebas, langsung dari minyak tanpa mereaksikannya dengan larutan
basa, sehingga asam lemak yang terpisah tetap utuh. Minyak kasar yang akan
disuling terlebih dahulu dipanaskan dalam alat penukar kalor (heat exchanger).
Untuk menghindari kerusakan minyak selama proses penyulingan karena suhu
yang terlalu tinggi, maka asam lemak bebas yang tertinggal dalam minyak
dengan kadar lebih rendah dari 1% harus dinetralkan dengan menggunakan
persenyawaan basa. Minyak kasar dengan kadar asam lemak bebas yang tinggi
umumnya mengandung fraksi mono dan digliserida yang terbentuk dari hasil
hidrolisa sebagian molekul trigliserida.
Pada umumnya, kadar asam lemak bebas dalam minyak setelah penyulingan
sekitar 0,1-0,2% , sedangkan hasil kondensasi masih mengandung sekitar 5%
trigliserida. Jadi, penggunaan uap pada proses penyulingan akan membawa
sejumlah kecil fraksi trigliserida. Pemisahan asam lemak bebas dengan cara
penyulingan digunakan untuk menetralkan minyak kasar yang mengandung
kadar asam lemak bebas relative tinggi, sedangkan minyak kasar yang
mengandung asam lemak bebas lebih keil dari 8% lebih baik dinetralkan dengan
penggunaan senyawa basa.
5. Pemisahan asam dengan menggunakan Pelarut Organik
Perbedaan kelarutan antara asam lemak bebas dan trigliserida dalam pelarut
organic digunakan sebagi dasar pemisahan asam lemak bebas dari minyak.
Pelarut yang paling baik digunakan utuk memisahan asalm lemak bebas adalah
furfual dan propane. Piridine merupakan pelarut minyak dan jika ditambahkan air
dalam jumlah kecil, maka trigliserida akan terpisah. Trigliserida tidak larut dalam
pyridine, sedangkan asam lemak bebas tetap larut sempurna. Minyak dapat
dipisahkan dari pelarut dengan cara dekantasi sedangkan pelarut dipisahkan dari
asam lemak bebas dengan cara penyulingan. Dengan menggunakan alcohol
sebagai pelarut, maka kelarutan trigliserida dalam alcohol akan bertambah besar
seiring dengan bertambahnya kadar asam lemak bebas, sehingga pemisahan
antara asam lemak bebas dari trigliserida lebih sukar dilakukan.

19

BAB IV
CONTOH SOAL
4.1 Contoh Soal Konsep pH
Tentukan pH beberapa kandungan sampel air limbah berikut dan urutkan
besarnya derajat ke asamannya dari yang terendah ke yang lebih tinggi.
1. Air Limbah yang mengandung HCl 0,01 M
2. Air Limbah yang mengandung H2SO4 0,01 M
3. Air Limbah yang mengandung NaOH 0,01 M
4. Air Limbah yang mengandung Ca(OH)2 0,01 M
Jawab:
Sepintas beberapa air limbah tersebut memiliki derajat keasaman sama karena
molaritasnya sama, tapi apa betul demikian, mari kita cermati bersama-sama:
1. Larutan HCl 0,01 M
HCl adalah asam kuat dalam air terionisasi sempurna menghasilkan
ion H+ dan ion Cl- ( = 1 )

Berdasarkan reaksi ionisasi besarnya ion H+ adalah


[H+] = [HCl-]
Jadi [H+] = 0,01 M = 10-2 M
pH = -log[H+]
= -log 10-2 = 2
2. Identik dengan cara penentuan ion H+ dalam HCl maka dalam

20

H2SO4, dapat ditulis:

Besarnya [H+] = 2 x [H2SO4]


M = 2 x 0,01
M = 0,02 M
Maka M = 2.10-2 M
Jadi pH = -log 2. 10-2 = 2-log 2
3. Air limbah yang mengandung NaOH adalah basa, dalam air menghasilkan ion
[OH-], maka [OH-] dapat ditentukan sebagai berikut:
NaOH Na+ + OH
Besarnya [OH-] = NaOH = 0,01 M= 10-2 M
maka pOH = -log 10-2 = 2
pH = 14 pOH
= 14 2 = 12
pH basa harus lebih besar dari 7
4. Identik dengan cara penentuan ion [OH-] dalam NaOH maka dalam Ca(OH) 2
dapat ditulis:
Besarnya [OH-] = 2 x [Ca(OH)2]
= 2 x 0,01 M
= 0,02 M
= 2.10-2 M
maka pOH

= -log [OH-]
= -log 2.10-2
= 2 log 2

pH

= 14 pOH
= 14 (2 log 2)
= 14 2 + log 2

21

= 12 + log 2
Jadi, derajat keasamannya:
Ca(OH)2 < NaOH < HCl < H2SO4 dalam molaritas yang sama

4.2 Contoh Soal Larutan Penyangga


1. Tentukan pH dari suatu air limbah jika 800 ml air limbah yang mengandung
CH3COOH 0,1M dicampur dengan 400ml larutan CH3COONa 0,1M (Ka
CH3COOH = 1,8x10-5) !
2. Tentukan pH suatu air limbah apabila 400 ml air limbah yang mengandung
NH4OH 0,5M dicampur dengan 100 ml larutan NH4Cl 0,5M
( Kb NH4OH = 1,8x10-5)
Penyelesaian:
1. mol CH3COOH = 800 x 0,1 = 80 mmol
mol CH3COONa = 400 x 0,1 = 40 mmol
[ H+ ] = Ka .na/nbk
= 1,8 x 10-5 x( 80/40)
= 3,6 x 10 -5
pH = -log 3,6 x 10 -5
= 5 log 3,6
2. mol NH3 = 400 x 0,5 = 200 mmol
mol NH4Cl = 100 x 0,5 = 50 mmol
[OH-] = 1,8 x10 -5 x(200/50)
= 7,2 x 10 -5
pOH = - log 7,2 x 10 -5
= 5 log 7,2
pH = 14 (5-log 7,2)

22

= 9 + log 7,2

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagian besar limbah cair
dari industri mengandung bahan bahan yang bersifat asam (Acidic)
ataupun Basa (alkaline) yang perlu dinetralkan sebelum dibuang kebadan
air maupun sebelum limbah masuk pada proses pengolahan, baik
pengolahan secara biologic maupun secara kimiawi, proses netralisasi
tersebut bisa dilakukan sebelum atau sesudah proses equalisasi untuk
mengoptimalkan pertumbuhan microorganisme pada pengolahan secara
biologi pada air limbah, maka pH air limbah perlu dijaga pada kondisi
antara pH 6,5-8,5, karena sebagian besar microb aktif atau hidup pada
kondisi pH tersebut. Proses koagulasi dan flokulasi juga akan lebih efisien
dan efektif jika dilakukan pada kondisi pH netral.

5.2 Saran
Sebagai seorang Calon Sarjana Teknik Lingkungan, maka mahasiswa
perlu memahami dengan benar reaksi asam basa netralisasi ini dalam
pengolahan air buangan agar dapat mengambil keputusan yang tepat
dalam pengelolaan lingkungan hidup.

23

DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, A. 2008. Kimia Dasar. Yogyakarta ; Universitas Negeri Yogyakarta
Chang Raymond. 2004. Kimia Dasar, Edisi Ketiga. Jakarta ; Erlangga.
Goldberg. David. 2004. Kimia Untuk Pemula. Jakarta ; Erlangga.
Sukardjo. 1984. Kimia Organik. Jakarta ; Rineka.
Sukarman. 2004. Larutan Asam Basa. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah
Kejuruan di Rektorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

24