Anda di halaman 1dari 31

PENGELOLAAN

TERUMBU
KARANG
Coral Reef
Management

Hildayani
P03 03
213 417

OUTLINE
Terumbu Karang
Manfaat Terumbu Karang
Terumbu Karang Indonesia
Faktor Pengancam Kelestarian Terumbu
Karang
Peraturan yang berkaitan dengan
Terumbu Karang
Pengelolaan Terumbu Karang

Terumbu Karang
Terumbu karang adalah struktur
di dasar laut berupa deposit
kalsium karbonat di laut yang
dihasilkan terutama oleh hewan
karang

Pertumbuhan karang
bercabang seperti
Acropora mempunyai
kecepatan tumbuh
antara
10-15 cm per tahun

Karang masif
umumnya
pertumbuhannya
sangat lambat yakni
sekitar
0,8-1,0 cm per
tahun

Manfaat Ekologi Terumbu Karang


Habitat Biota Laut
Gudang keanekaragaman
hayati laut
Melindungi pantai dan
ekosistem pesisir
Ekosistem laut tropis yang
paling kompleks dan
produktif.
Peran fungsional penting
dalam siklus biogeokimia
global
Sumber bermacam-macam
bahan makanan

Manfaat Ekonomi Terumbu Karang


Sumber Makanan
Sumber Bahan Dasar Untuk
Obat-obatan dan Kosmetika
Sebagai Objek Wisata
Berdasarkan Riopelle (1995),
yang mengkalkulasi nilai
Dari 1 km2 terumbu karang yang
2
ekonomi dari 1 km terumbu
sehat dapat diperoleh sekitar 20 ton
karang di wilayah Lombok
ikan yang cukup untuk memberi
Barat, di mana terumbu
makan sekitar 1.200 orang setiap
karangnya dimanfaatkan
tahunnya (Burke dkk., 2002).
secara optimal (tidak saja
Cesar (1996) menyebutkan 5 10 %
hasil perikanan laut berasal dari
untuk sumber perikanan dan
terumbu karang.
pelindung pantai, namun
juga untuk kegiatan wisata),
2

Terumbu Karang Indonesia


Terumbu karang di dunia diperkirakan mencapai 284,300
km2.
Wilayah Indonesia mempunyai sekitar 18% terumbu
karang dunia, dengan keanekaragaman hayati tertinggi di
dunia
(lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari
2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis
Moluska, dan 1500 jenis udang-udangan).

Terumbu Karang Indonesia

Faktor Pengancam Kelestarian Terumbu Karang


AKTIVITAS
MANUSIA
Secara
Langsung

Penangkapan Ikan Dan


Biota Laut Lainnya
Dengan Cara Yang
Merusak
Pengambilan Biota
Laut Untuk
Diperdagangkan
Pembuangan Sampah
Ke Laut
Kegiatan Wisata Yang

Secara Tidak
Langsung

Pencemaran Dari Darat


Ke Laut
Sedimentasi Dari Darat
Pembuangan Sampah
Ke Laut
Pembangunan Di
Wilayah Pesisir (Tepi
Pantai)

Kerusakan Terumbu Karang

Penangkapan Ikan Dan Biota Laut Lainnya Dengan


Cara Yang Merusak
(bomb ikan)

Kerusakan Terumbu Karang


Data 2011 pengamatan oleh Pusat
Penelitian Oseanografi Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
dari 1.076 stasiun.
Kondisi Terumbu Karang Indonesia
40
30
20
10
0

Kegiatan Wisata Yang


Tidak Memperdulikan
Lingkungan

5,58 % kondisi
sangat baik
26,95 % baik
36,90 % berkondisi

REEFS AT RISK SUMMARY BY COUNTRY (OR


AREA)

SOURCE:
Reefs at Risk in Southeast Asia, WRI,
2002.

REEFS AT RISK IN WESTERN

REEFS AT RISK IN EASTERN INDONESIA

REEFS AT RISK IN INDONESIA

Peraturan yang berkaitan dengan Terumbu Karang


a. Undang-Undang Lingkungan Hidup
Pengelolaan terumbu karang, sebagai sebuah
lingkungan hidup atau ekosistem, diatur dalam
Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 32
tahun 2009. Ditetapkan bahwa setiap orang
secara
pasif
wajib
mencegah
dan
menanggulangi pencemaran dan perusakan; dan
secara aktif wajib memelihara kelestarian fungsi
b. Undang-Undang Perikanan
lingkungan hidup.
Undang-Undang No.31 Tahun 2004 tentang
Perikanan telah menetapkan berbagai upaya
dalam menjaga keberlanjutan sumberdaya
perikanan. Terumbu karang adalah salah satu
sumberdaya perikanan di Indonesia.

Peraturan yang berkaitan dengan Terumbu Karang


c. Pedoman Umum Pengelolaan
Terumbu Karang
Oleh karena Undang-Undang Perikanan tidak secara
khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu
karang, maka diterbitkan Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan No 38/Men/2004
tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu
Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini
diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan
secara
seimbang
antara
pemanfaatan
dan
pelestarian.
Demikian
pula
secara
sinergis
direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat,
pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga
non-pemerintah.

Pengelolaan Terumbu Karang


Pengelolaan
terumbu karang
adalah upaya yang
dilakukan untuk
mengatur terumbu
karang melalui
proses perencanaan,
pengorganisasian,
pelaksanaan,
pemantauan atau
pengawasan,
evaluasi dan
penegakan hukum.

Kebijakan
nasional
pengelolaan
terumbu
karang
9 Strategi

Kebijakan nasional pengelolaan terumbu karang


Strategi 1.
Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara
langsung maupun tidak langsung bergantung pada
pengelolaan ekosistem terumbu karang.
Strategi 2.
Mengurangi laju degradasi terumbu karang.
Strategi 3.
Mengelola terumbu karang berdasarkan karakteristik
ekosistem, potensi, tata ruang wilayah,
pemanfaatan, status hukum dan kearifan masyarakat
pesisir.

Kebijakan nasional pengelolaan terumbu karang


Strategi 4.
Merumuskan dan mengkoordinasikan program-program
instansi Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten/Kota, pihak swasta, dan masyarakat yang
diperlukan dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang
berbasis masyarakat.
Strategi 5.
Menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas dan
kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem
terumbu karang.
Strategi 6.
Mengembangkan, menjaga serta meningkatkan dukungan
masyarakat luas dalam upayaupaya pengelolaan ekosistem
terumbu karang secara nasional dengan meningkatkan
kesadaran seluruh lapisan masyarakat mengenai arti
penting nilai ekonomis dan ekologis dari ekosistem terumbu
karang.

Kebijakan nasional pengelolaan terumbu karang


Strategi 7.
Menyempurnakan berbagai peraturan perundang-undangan
serta
mendefinisikan
kembali
kriteria
keberhasilan
pembangunan suatu wilayah agar lebih relevan dengan
upaya pelestarian lingkungan ekosistem terumbu karang.
Strategi 8.
Meningkatkan
dan
memperluas
kemitraan
antara
Pemerintah,
Pemerintah
Provinsi,
Pemerintah
Kabupaten/Kota, swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan
masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang
ramah lingkungan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya
terumbu karang secara berkelanjutan.
Strategi 9.
Meningkatkan dan mempertegas komitmen Pemerintah,
Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan
masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan
luar negeri dalam penyediaan dana untuk mengelola
ekosistem terumbu karang.

Belum berhasilnya pengelolaan terumbu karang yang


dilakukan oleh pemerintah selama ini disebabkan oleh
beberapa hal, yaitu :
Minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai yang tidak tampak dan total
nilai ekonomis yang sebenarnya dari ekosistem terumbu karang
Rendahnya upaya koordinasi diantara berbagai instansi pemerintah baik
secara
horizontal maupun vertikal
Lemahnya pendekatan metode dan strategi maupun lobi yang dilakukan
oleh
berbagai kelompok pemerhati masalah lingkungan dalam pengelolaan
Terumbu karang belum menjadi isu utama dalam agenda politik para
terumbu
pemimpin bangsa
Kurangnya pengalokasian dana bagi pengelolaan terumbu karang
Program pengelolaan yang hanya mengandalkan satu jenis pendekatan,
yaitu
pengelolaan daerah konservasi (taman nasional, dll)
Kurangnya konsistensi dan lemahnya penegakan hukum
Belum menempatkan masyarakat pesisir dalam pengelolaan terumbu
karang

Upaya Pelestarian Terumbu Karang


Taman Nasional
Laut
Pembentukan taman nasional laut sebagai kawasan konservasi,
untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.

Taman Nasional Laut Wakatobi

Taman Nasional Laut Bunaken

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Upaya Pelestarian Terumbu Karang


Daerah Perlindungan Laut (DPL) / Marine
Sanctuary

Suatu kawasan laut yang terdiri atas berbagai habitat, seperti terumbu
karang, lamun, dan hutan bakau, dan lainnya baik sebagian atau
seluruhnya, yang dikelola dan dilindungi secara hukum yang bertujuan
untuk melindungi keunikan, keindahan, dan produktivitas atau rehabilitasi
suatu kawasan atau kedua-duanya. Kawasan ini dilindungi secara
tetap/permanen dari berbagai kegiatan pemanfaatan, kecuali kegiatan
penelitian, pendidikan, dan wisata terbatas (snorkle dan menyelam)

Upaya Pelestarian Terumbu Karang


Rehabilitasi Terumbu Karang
Upaya rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi
karang. Transplantasi karang ialah sebuah upaya
perbanyakan karang dengan menggunakan kemampuan
regenerasi karang secara aseksual

COREMAP (Coral Reef Rehabilitation


and Management Program), atau
Program Rehabilitasi dan Pengelolaan
Terumbu Karang, adalah program jangka
panjang yang diprakarsai oleh
Pemerintah Indonesia dengan tujuan
untuk melindungi, merehabilitasi, dan
mengelola pemanfaatan secara lestari
terumbu karang serta ekosistem terkait
di Indonesia, yang pada gilirannya akan
menunjang kesejahteraan masyarakat
pesisir.

Save coral reefs


today!
Selamatkan
Terumbu Karang,

TERIMA
KASIH