Anda di halaman 1dari 35

SPEKTROFOTOMETRI 2

RICHARD RAYNER MULYADI 073 13


089
BREEFORD THEO KARNOVA ZEBUA
073 13 123

Tujuan
1. Menjelaskan prinsip dasar AAS
2. Menjelaskan Aplikasi dan syarat
syarat sampel yang dapat dianalisa
dengan AAS
3. Menjelaskan bagan alat AAS
4. Menjelaskan cara analisis sampel
dengan AAS

SPEKTROSK
OPI

SPEK.
MOLEKULER

Spesi
molekuler

SPEK.
ATOMIK

Spesi
atomik

Spektroskopi Molekuler

Spektroskopi Atomik

Spesi: molekul
Spesi: atom
Metode: Spektroskopi Metode: flame AAS,
UV/visible dan
flame AFS, flame AES,
Spektroskopi inframerah. elektrotermal AAS,
elektrotermal AFS, dll.
Suhu rendah
Suhu tinggi karena
Fase padat, gas, cair
diperlukan untuk
proses atomasi
(pelepasan ikatan
kimia)
Fase gas

Spektroskopi atom

Sp
e
se ktr
r o
at ap sko
om an pi

i
s
en
r
o

flu
o
tr f
k
e
sp

Spektroskopi
emisi atom

AAS

PRINSIP DASAR AAS

Interaksi antara sinar REM (biasanya sinar UV


atau Vis) dengan materi (yaitu logam dalam
bentuk atom dan fasa gas)
Atom akan menyerap sinar UV/VIS pada
panjang gelombang tertentu dan karakteristik
tergantung pada sifat unsurnya. Mis :
Na = 589 nm, K = 766,5 nm
Sinar pada panjang gelombang ini mempunyai
energi yang cukup untuk menyebabkan ter
eksitasinya elektron dari atom pada keadaan
dasar ke keadaan tereksitasi
Banyaknya sinar yang diserap sebanding
dengan konsentrasi atom dalam sampel

Aplikasi dan Sampel AAS


Analisis Kuantitatif kadar total unsur logam
dalam sampel tidak bergantung pada
bentuk ion dalam larutan, mis: Fe2+ dan
Fe3+

INSTRUMENTASI

BAGAN ALAT

AAS terdiri dari 5 komponen utama.


Komponen-komponen ini dikontrol oleh piranti lunak
komputer.

Hollow Cathode Lamp

Tabung kaca
tertutup yg terdiri
dari katoda dan
anoda

Tungsten Anode

Analyte Hollow Cathode

Glass shield

Katoda berbentuk silinder


berongga yg pemukaannya
dilapisi dengan unsur yg sama
dgn unsur yg akan dianalisa

Ne or Ar

Tabung lampu diisi


dengan gas mulia

Katoda berbentuk silinder berongga yg


pemukaannya dilapisi dengan unsur yg sama
dgn unsur yg akan dianalisa

Gas mulia Ne atau Argon dengan tekanan rendah


(10-15 torr). Diantara katoda dan anoda dipasang
tegangan listrik yg tinggi (sampai 600 volt).
Atom2 unsur bahan katoda mengalami eksitasi
dan memancarkan sinar. Sinar dari hollow katoda
memancarkan garis pancaran yg panjang
gelombangnya tepat sama dengan panjang garis
serapan atom sehingga terjadi serapan optimum

Sampel yang akan dianalisis Harus


diuraikan menjadi atom atom netral yang
masih dalam keadaan dasar

Atomization
Flame
Electrothermal
Graphite furnace

Plasma
Hydride
As, Sb, Sn, Se, Bi, and Pb

Cold-vapor
Hg (ambient temperature vapor pressure)

FLAME ATOMIZATION (Nyala)

FLAME ATOMIZATION
Burner head : tetesan tetesan
larutan cuplikan yg sangat halus
masuk melalui burner head dan
terjadi penguapan pelarut (air) dan
terjadi butir butir halus padat dari
zat
Primary combustion zone : terjadi
penguapan pelarut lebih lanjut dan
penguapan cuplikan menjadi atom2
dan terjadi proses penyerapan sinar
oleh atom2 zat yg dianalisa
Interzonal region : dalam daerah ini
unsur bereaksi dengan oksigen
menjadi oksida2
Secondary combustion zone :
Oksida oksida logam memasuki
lapisan luar dan keluar melalui nyala

FLAME
ATOMIZATION

Nebulization - Conversion of the liquid sample


to a fine spray.
Desolvation - Solid atoms are mixed with the
gaseous fuel.
Volatilization - Solid atoms are converted to a
vapor in the flame.
There are three types of
particles that exist in the
flame:
1) Atoms
2) Ions
3) Molecules

FLAME ATOMIZATION
Suhu yang dicapai oleh nyala tergantung pada
gas gas yang digunakan
Gas
Bahan
bakar

Gas
Pengoksid
asi

Temperatur
(C)

Kegunaan

Propana

Udara

1800

Untuk unsur unsur yg mudah


diatomkan (Na, K)

Asetilena

Udara

2300

Yang paling banyak digunakan


untuk analisa kebanyakan unsur
logam

Asetilena

N2 O

3000

Untuk analisa : Al, Si, V, Ti dan


unsur unsur lantanida

Pemilihan jenis nyala bergantung pada


temperatur penguapan atom yang
dianalisis.

ELECTROTHERMAL ATOMIZATION (ETA)


Graphite Furnace
Sampel cair dialirkan pada tabung
silindris grafit yang dilapisi bahan yang
mencegah sampel terserap pada tabung.

Step
Time
Drying
~ 60 s
Ashing
~ 60 s
Atomization

Temperature
50 - 150C
150 - 600C
2000 - 3000C

ELECTROTHERMAL ATOMIZATION (ETA)


Hydride Generation AAS (HGAAS)

PERBANDINGAN FLAME DAN FURNACE AAS

Flame lebih sederhana


Furnace lebih sensitif
Furnace memiliki lebih banyak interferensi
Furnace lebih sedikit membutuhkan
sampel
Perangkat Furnace lebih mahal

PERBANDINGAN FLAME DAN FURNACE AAS

Limit deteksi (ng/mL)


Element

AAS Flame

AAS Electrothermal

Al

30

0.005

As

100

0.02

Ca

0.02

Cd

0.0001

Cr

0.01

Cu

0.002

Fe

0.005

Hg

500

0.1

Mg

0.1

0.00002

Mn

0.0002

Mo

30

0.005

Na

0.0002

Ni

0.02

Pb

10

0.002

Sn

20

0.1

20

0.1

0.00005

Zn

Accuracy:
Relative error of flame AA
is ~12%
Can be lowered with
special precautions
Electrothermal atomization
has 510 times higher
error than flame AA

INSTRUMENTASI

Monokromator

Dengan mengubah sudut grating akan menghasilkan fokus pada


panjang gelombang yang berbeda.

Spektrum emisi dari lampu katoda berongga, selain dari garis emisi untuk analit
juga mengandung garis emisi dari pengotor yang ada pada logam katoda dan gas
pengisi. Oleh karena itu, dibutuhkan monokromator untuk mengeliminasi sinar
yang tidak diharapkan dan meneruskan hanya sinar yang dibutuhkan untuk
analisis.

INSTRUMENTASI
Pemilihan panjang gelombang bergantung pada:
- Unsur yang dianalisis
- Sensitivitas
- Limit deteksi

INSTRUMENTASI

Cara kerja detektor


photomultiplier tube
Detektor yang biasa digunakan ialah tabung
pengganda foton
(photomultiplier tube), terdiri dari katoda yang
dilapisi senyawa yang bersifat peka cahaya dan
suatu anoda yang mampu mengumpulkan elektron.
Ketika foton menumbuk katoda maka elektron akan
dipancarkan, dan bergerak menuju anoda. Antara
katoda dan anoda terdapat dinoda-dinoda yang
mampu menggandakan elektron. Sehingga
intensitas elektron yang sampai menuju anoda
besar dan akhirnya dapat dibaca sebagai sinyal
listrik.

INSTRUMENTASI

CARA PENGUKURAN SAMPEL

ANALISA KUANTITATIF DENGAN AAS


Metode kurva kalibrasi
Metode perbandingan langsung
Metode standar adisi