Anda di halaman 1dari 44

 

 

BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penulis melakukan penelitian di Gendeng Rukun Warga (RW) XX.
Daerah ini merupakan bagian dari wilayah kelurahan Baciro sebelah timur.
1. Keadaan Geografis
Gendeng adalah salah satu daerah yang berada di wilayah
Kelurahan

Baciro,

Kecamatan

Gondokusuman,

Daerah

Istimewa

Yogyakarta. Daerah ini berbatasan dengan daerah-daerah sebagai berikut:1
a. Sebelah Barat

: Berbatasan dengan RW XIX daerah Gendeng
Tengah

b. Sebelah Timur

: Sungai Gajah wong

c. Sebelah Utara

: Rel Kereta api dan berbatasan dengan Kelurahan
Demangan Kecamatan Gondokusuman

d. Sebelah Selatan

: Kelurahan Muja Muju Kecamatan Umbularjo

Daerah Gendeng RW XX ini mempunyai luas kurang lebih 6 Ha.
Setelah melihat keadaan wilayahnya, dapat diketahui bahwa daerah
Gendeng ini tidak jauh dari pusat kota Yogyakarta sehingga bisa dijangkau
atau diakses oleh masyarakat.

                                                            
1

Hasil observasi pada hari Senin 15 Oktober di Gendeng RW XX wilayah Kelurahan
Baciro sebelah Timur. 

31

 
 

2. Keadaan Demografi
Jumlah penduduk Gendeng RW XX ini secara keselurahan 324
jiwa. Daerah Gendeng mengalami peningkatan setiap tahunnya, karena
daerah ini banyak ditempati masyarakat dari perantaun yang bertujuan
mencari nafkah dan mencari ilmu.2
Tabel 1
Jumlah penduduk Gendeng RW XX3
Jumlah Kepala
Keluarga
Yang
Terdata
155

Jenis Kelamin
Laki-laki

Perempuan

Jumlah

147

8

155

Tabel diatas diperoleh dari data monografi yang berasal dari
kelurahan Baciro. Data yang diperoleh dari data C1 yang dimiliki
penduduk Gendeng yang diserahkan

ke RT, RW dan di rekap oleh

kelurahan. Dari jumlah penduduk yang mendiami dusun tersebut terdapat
kepala keluarga sebanyak 155 Kepala Keluarga (KK) yang ada dan terdata
di database kelurahan Baciro. Dari data yang diperoleh terdapat 147
kepala keluarga yang berjenis kelamin laki-laki sedangkan 8 berjenis
kelamin perempuan.
Dilihat dari status pendidikan masyarakat Gendeng berdasarkan
kepala keluarga yang terdata dan terdaftar di RW XX ada sembilan orang
yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD), adapun tiga puluh delapan kepala
                                                            
2

Hasil wawancara dengan Bapak Kasmin selaku ketua RW XX pada hari Kamis tanggal
1 November 2012. 
3
Dokumentasi, dikutip dari arsip Kelurahan Baciro tentang kondisi demografi daerah
Gendeng RW XX tahun 2010, pada hari Senin tanggal 5 November 2012. 

32

 
 

keluarga yang tamat SD dan SMP Tamat SLTA ada lima puluh delapan
orang

sedangkan yang tamat perguruan tinggi ada limapuluh kepala

keluarga. Masyarakat ini kebanyakan masyarakat pendatang.Masyarakat
Gendeng RW XX ini berdekatan dengan kampus STPMD APMD
Yogyakarta yang sebagian besar mahasiswanya orang timur. Selain dari
mahasiswa terdapat juga warga pendatang yang berasal dari beberapa
daerah yang ada di sekitar Yogyakarta. Masyarakat pendatang tersebut
mencari pekerjaan di kota Yogyakarta.
Tabel 2
Jumlah Penduduk Gendeng RW XX berdasarkan kelompok umur4

Jumlah Jiwa Menurut Kelompok Umur
Bayi

Balita

(0-1)

(1-5)

5

19

5-6
Th
6

Tidak
Sekolah

Sekolah
L

P

J

L

P J

32

24

56

-

-

-

16-21
Th

22-59
Th

24

173

>60
Jml
Th
41

324

Masyarakat Gendeng RW XX ini memiliki 324 jiwa yang terdiri
dari 177 laki-laki dan 147 perempuan. Untuk warga pendatang yang
meliputi mahasiswa dan para perantau belum termasuk. Dilihat dari tabel
diatas masyarakat yang tinggal di Gendeng RW XX kebanyakan berusia
22-59 tahun dengan jumlah 173 jiwa.

                                                            
4

Dokumentasi, dikutip dari arsip Kelurahan Baciro tentang kondisi demografi Gendeng
RW XX, pada hari Senin tanggal 5 November 2012. 

33

 
 

3. Keadaan Sosial Ekonomi
Tabel 3
Jumlah penduduk Gendeng RW 20 berdasarkan Status Pekerjaan 5
Menurut Status Pekerjaan
Bekerja

131

Tidak Bekerja

24

Adapun dari data yang diperoleh dari lapangan berdasarkan status
pekerjaannya dari data yang masuk 131 mempunyai pekerjaaan dan 24
orang yang tidak bekerja. Masyarakat di RW XX Kelurahan Baciro adalah
masyarakat yang majemuk. Berbagai status sosial ada di RW XX ini. Di
wilayah ini tidak ada daerah pertanian, sehingga penduduknya pun tidak
ada yang bekerja sebagai petani.
Pekerjaan masyarakat mayoritas sebagai wiraswasta. Ada yang
bekerja sebagai buruh, punya kos-kosan, laundry pakaian, warung makan,
tukang becak, tukang parkir, dan lain sebagainya. Adapun yang menjadi
pegawai negeri sipil bekerja sebagai dosen, guru, dan hakim. Dapat dilihat
dari penjelasan diatas penduduk yang tinggal di daerah Gendeng ini
mempunyai dinamika tersendiri dalam hal pekerjaan. Ada yang membuka
lapangan pekerjaan buat penduduk sekitar misalnya warung makan
ataupun loundry pakaian yang membutuhkan karyawan.

Karyawan

tersebut diambil dari masyarakat yang ahli dibidang masak memasak atau
yang lain.
                                                            
5

Dokumentasi, dikutip dari arsip Kelurahan Baciro tentang kondisi demografi Gendeng
RW XX, pada hari Senin tanggal 5 November 2012. 

34

masyarakat Gendeng sebagian besar ramah tamah. dan memperbaiki saluran air.7 5. Walaupun ada juga masyarakat yang tidak bisa menyelesaiakan studi di Sekolah Dasar juga ada dengan berbagai alasan tertentu. saat bertemu dan berpapasan selalu menggukan kepala dan senyum.Desember 2012  35 .    4. Keadaan Sosial Budaya Masyarakat Tidak terlepas dari buadaya Indonesia. Karena penulis berinteraksi disana selama tiga tahun lebih sehingga penulis banyak berinteraksi dengan masyarakat Gendeng. Menurut status pendidikan yang ada di masyarakat ini banyak masyarakat yang tamat di SLTA dan Perguruan Tinggi. Biasaya dilaksanakan pada event-event tertentu seperti kegiatan sebelum Ramadhan dan bulan-bulan tertentu.                                                              6 7 Hasil pengamatan pada hari Senin tanggal 15 Oktober 2012 . membersihkan sarana ibadah. Itu bukti bahwa masyarakat Gendeng memperhatiakan sopan santun serta unggah ungguh yang ada. Keadaan Pendidikan Penduduk Gendeng RW XX merupakan daerah yang majemuk dengan berbagai lapisan masyarakat dan berbagai mata pencaharian yang ada. Kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat seperti memperbaiki jalan.6 Kondisi masyarakat dalam hal sosial budaya yaitu adanya kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat. Kegiatan ini walaupun tidak terjadwal tetapi rutin diadakan. Hal tersebut dapat penulis lihat jika penulis sedang berjalan di daerah Gendeng.  Hasil pengamatan beberapa bulan terakhir pada bulan Oktober.

Sedangkan kegiatan sosial yang diadakan masjid meliputi bakti sosial. Masjidnya bernama Masjid Anwar Rasyid. dikutip dari arsip Kelurahan Baciro tentang kondisi demografi Gendeng RW XX. pasar murah. Masjid Anwar Rasyid dibangun sejak tahun 1983. Kegiatan keagamaan meliputi pelatihan perawatan jenazah. pada hari Senin tanggal 5 November 2012. dan kunjungan panti asuhan.    Tabel 4 Jumlah penduduk Gendeng RW XX berdasarkan Status Pendidikan 8 Menurut Status Pendidikan Tidak Tamat SD Tamat SD-SLTP Tamat SLTA Tamat Perguruan Tinggi 9 38 58 50 6. pengajian Ibu-Ibu dan pengajian TPA. Masyarakat Gendeng ini menggunakan masjid untuk kegiatan keagamaan seperti pengajian hari besar Islam. kegiatan donor darah. Untuk menjalin kedekatan dengan masyarakat ada kegiatan                                                              8 Dokumentasi. Keadaan Agama dan Tempat Ibadah Penduduk Gendeng mayoritas beragama Islam. Adapun Susunan Takmir Masjid Anwar Rasyid STPMD APMD yang kebanyakan berasal dari Mahsiswa UIN bukan mahasiswa APMD. masjid ini milik kampus STPMD ”APMD” Yogyakarta yang dibangun di luar kampus.  36 . Adapun sarana peribadatanya terdiri dari satu masjid yang ada di daerah Gendeng ini. Kegiatan hari besar Islam selalu diadakan masjid ini sebagai salah satu bentuk siar Islam di tengah-tengah masyarakat. khatib jumat dan peelatihan membaca Al-Qur’an.

RT 84. 7. Pengajian rutin ini di isi oleh penceramah dari lokal Yogyakarta Adapun warga pendatang kebanyakan beragama non Islam yang terdiri dari berbagai mahasiswa dari luar jawa yang sedang menempuh kuliah di kampus STPMD APMD Yogyakarta. RT 83. dan seksi pengembangan. dan RT 85. sekretaris dan bendahara. seksi pemuda.    yang dilakukan oleh Ibu-Ibu pengajiaan “ Nurrosyidah” yaitu pengajian bulanan yang diadakan dalam satu bulan satu kali. Sistem Kepengurusan dan Organisasi RW Di daerah Gendeng RW XX terdapat pengurus RW antara lain ketua. dan pembagian sembako untuk jama’ah yang kurang mampu. Kegiatan ini di isi dengan berbagai ketrampilan dari ibu-ibu. pengajian umum.  37 . Adapun dalam memudahkan dalam bekerja pengurus RW membuat beberapa seksi diantaranya seksi pembangunan. Adapun Kepengurusan RW XX adalah sebagai berikut: Ketua : Kasmin Sekretaris : Sri Kartini Bendahara : Sumarsono Seksi Pembangunan : Suryadi Seksi Keamanan : Mujihartono Seksi Humas : Eko Aprilianto                                                              9 Wawancara dengan sekretaris RW Ibu Srikartini pada Sabtu tanggal 20 Oktober 2012.9 Untuk memudahkan koordinasi warga masyarakat Gendeng RW XX dibentuk 4 Rukun Tetangga (RT) yaitu RT 82.

Endang Suyono Seksi Pemuda : Yoga Sedangkan pengurus RT yang berada di desa Gendeng RW XX sebagai berikut: Ketua Rukun Tetangga (RT) 82 : Bambang Ketua Rukun Tetangga (RT) 83 : Tri Hartanto Ketua Rukun Tetangga (RT) 84 : Waluyo Ketua Rukun Tetangga (RT) 85 : Lasmono Hadi Dalam Kepengurusan RW dan RT ini telah membuat kesepakatan dan menetapkan tata tertib pemondok yang berada dilingkunan RW XX. Tidak melakukan judi dan minuman keras d.00 untuk malam minggu. ketentraman. Menerima tamu sampai jam 21. Melaporkan tamu yang menginap b. Tidak memasukkan tamu lawan jenis kedalam kamar pondokan kecuali suami istri/ Orangtuanya e. serta kebersihan lingkungan.00-21. Jam belajar masyarakat jam 19. Tidak menyimpan senjata tajam dalam kamar kost f.  didapatkan pada hari kamis tanggal 25 38 . c.00 WIB g.XX/06/2012 Oktober 2012. Adapun tata tertib pemondok selama berdomisili RW XX harys menaati tata tertib sebgaai berikut:10 a. Ikut berpartipasi dalam kegiatan kampung.00 untuk hari biasa dan jam 22.                                                              10 Surat Keputusan no 02/RW. Menjaga ketertiban.    Seksi PKK : Hj. h.

Karang Taruna. Para pendatang yang tinggal di Gendeng ini juga banyak.    i. Para pedagang soto ini ternyata masih 39 . 10. baik kegiatan RW. B. Kegiatan dengan yang dilakukan kebanyakan berpusat pada balai RW XX dan Masjid.00/ tahun k. Pedagang Soto Yang Berada Di Gendeng RW XX Banyak mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat Gendeng RW XX ini. Hal ini dapat di lihat dari berbagai kegiatan yang diadakan oleh RW XX. kegiatan Ramadhan dan kegiatan yang lain. Membayar iuran wajib Rp. Kegiatan ini terorganisir dengan baik karena bapak RW selalu melakukan koordinasi elemen tersebut. Semangat kegotongroyongan dan kebersamaan sangat dilestarikan di RW XX ini. Warga pendatang yang berasal dari luar kota Yogyakarta rata-rata bermata pencaharian menjadi pedagang soto. dan kegiatan masjid. Adapun kegiatan yang sudah berjalan antara lain: Lansia. PAUD. Ada Sembilan keluarga yang bermata pencaharian menjadi pedagang soto. Stuktur organisasi yang berada di Gendeng RW XX sudah berjalan dengan baik. PAUD. Menjalankan dan melaksanakan keputusan RT dan RW j. dan kegiatan yang biasanya terbentuk saat event tertentu seperti kegiatan tujuh belasan agustus.000. Semua elemen terorganisir dengan baik. RT. Bila hal-hal tersebut diatas dilanggar saya akan angkat kaki dari wilayah RW 20.

9. Bapak Sukarman hidup di daerah Gendeng sekitar 25 tahun. Mereka pergi ke Yogyakarta untuk mencari nafkah untuk keluarga. Bapak Sukarman pernah tinggal di Sapen. Kondisi                                                              11 Hasil Wawancara para pedagang soto dari tanggal 5 November -15 desember 2012. Dan mulai menjadi pedagang soto sekitar 20 tahun. 8.pindah kontrakan. Bapak Sukarman sebagai pelopor menjadi pedagang soto didaerah Gendeng ini. 3. Bapak Sukarman sekeluarga sebelum tinggal di RT 85 RW XX Gendeng. 6.    mempunyai ikatan saudara dan menurut wawancara dengan pedagang soto mereka berasal dari wilayah Gunungkidul Yogyakarta. Sukarman Sumarno Suparman Sujono Sukirman Suwarno Paijan Sukiya Suradal Winarti Nurwaheni Sudarmi Warni Suginem Nuryani Ngatini Sukatini Ngatinem Latarbelakang Pendidikan SD SD SMP SD SD SMP SMK SD SD SD SD SD SD SD SD SD SD SD Lama berdagang 20 tahun 10 tahun 5 tahun 5 tahun 20 tahun 10 tahun 10 tahun 20 tahun 12 tahun Pedagang soto merupakan salah satu mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat Gendeng RW XX. 4. 7. Keluarga ini tinggal di Yogyakarta dengan berpindah. Bapak Sukarman pergi ke Yogyakarta bersama keluarga dan beberapa teman-temanya dari desa. Bapak sukarman tinggal dengan seorang istri dan tiga orang anak. 2. Pekerjaan ini dilalui Bapak Sukarman dengan penuh keuletan. Tabel 5 Jumlah Pedagang Soto yang berada di RW XX11 No Nama Pedagang 1.  40 . 5.

Dan ketiga anaknya sudah lulus SMK semua dan sekarang sudah bekerja. Aktivitas yang dilakukan Bapak Sumarno selain berdagang soto adalah ternak burung. Bapak Sukarman mempunyai keinginan agar anak-anaknya dapat lebih baik dalam masalah pendidikan. Keluarga ini sudah mulai berdagang soto sejak 10 tahun yang lalu. Anak Bapak Sukarman berjumlah tiga orang dan telah bekerja semua. Bapak Suparman bertempat tinggal di RT 84 RW XX. Riwayat pendidikan Bapak Suparman lulusan Sekolah Dasar (SD) sedangkan istrinya lulusan Sekolah Menengah 41 .    kontrakan Bapak sukarman yang sederhana cukup untuk tinggal keluarganya. bapak Sumarno lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama) sedangkan istrinya lulusan SD (Sekolah Dasar). Di dalam kontrakannya terdapat satu televisi yang digunakan untuk melihat berita dan sarana hiburan keluarga. Dilihat dari latarbelakang pendidikan keluarga ini. Sebelum menjadi pedagang soto Bapak Sumarno buruh seperti teman-teman yang lain yang berasal dari Gunungkidul. Nama istrinya bernama Nurwaheni dan anakanya bernama Dias Prasetyo. Bapak Sumarno tinggal di Yogyakarta sekitar 10 tahun yang lalu. Adapun keluarga yang lain adalah Bapak Suparman yang bermatapencaharian sebagai pedagang soto keliling. Pedagang soto selanjutnya bernama Bapak Sumarno. Dilihat dari latar belakang pendidikan Bapak Sukarman dan Ibu Winarti lulusan Sekolah Dasar (SD) semua. Keluarga Bapak sumarno tinggal di Yogyakarta dan berdomisili di Gendeng RT 84 RW XX bersama istri dan anakanya.

Istrinya bernama Warni. Akan tetapi 3 tahun yang lalu Bapak sukirman membeli tanah di daerah Gendeng ini. 42 . Anak yang pertama tinggal bersama kakeknya di Gunungkidul sedangkan anak yang kedua ikut kedua orangtuanya. Keluarga selanjutnya adalah keluarga Bapak Sujono. Bapak Suparman tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Keluarga ini juga berasal dari Gunungkidul seperti keluarga pedagang soto yang lain. Bapak Sujono tinggal di Yogyakarta sudah 10 tahun yang lalu sedangkan lama berdagang soto 5 tahun. kedua anaknya bernama Supendi dan Doni. kemudian membangun rumah yang sederhana untuk tempat tinggal keluarga. kedua anaknya bernama Risa dan Danu Ramadhan. Latar belakang pendidikan keluarga ini. untuk Bapak Sujono lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sedangkan istrinya lulusan Sekolah Dasar (SD). Kemudian mulai sejak tahun 1989 bersama Bapak Suwarno dan Bapak Sukarman. Keluarga Bapak Sujono berasal dari Gunungkidul tepatnya desa grogol. Istrinya bernama Ibu Sudarmi. Bapak Sujono tinggal bersama istri dan anaknya. Istrinya bernama Suginem. kedua anaknya bernama Anisa Meilasari dan Rizki. Pedagang soto yang lain bernama Bapak Sukirman. Bapak Sukirman tinggal di Yogyakarta berdagang soto sejak tahun 1986. Keluarga ini tinggal di RT 85 RW XX berdampingan dengan keluarga Bapak Sukarman. Keluarga Bapak Sukirman juga berasal dari Gunungkidul. Keluarga ini tinggal di RT 84 RW XX bersama istri dan kedua anaknya.    Pertama (SMP).

Selain itu Bapak suwarno mahir dalam musik jawa. Rumahnya sebelah selatanya Bapak sukirman yang berada di RT 85 RW XX. Biasanya seminggu sekali Bapak Suwarno latihan bersama teman-temanya di Sapen. Keluarga selanjutnya Bapak Suwarno. untuk Bapak Sukirman dan istrinya sama-sama lulusan Sekolah Dasar (SD). Bapak Paijan bertempat tinggal dekat Bapak Sukirman. istrinya bernama Nuryani. Bapak Suwarno tinggal di Yogyakarta bersama istrinya. Aktifitas Bapak Suwarno selain berdagang soto keliling yaitu berkebun di dekat kontrakannya. Dan masyarakat sekitar sudah mengenal soto Bapak Sukirman dengan sebutan soto pak “genit”. Sudah hampir 6 tahun terakhir Bapak sukirman mulai menetap berdagang di dekat lapangan RW XX. Bapak Paijan tinggal di Yogyakarta sudah 20 tahun yang lalu sedangkan lama berdagang sotonya sekitar 10 tahun. Bapak Paijan tinggal bersama istri dan anaknya. Pada mulanya Bapak Sukirman seperti pedangsoto yang lain yaitu pedagang soto keliling.    Aktifitas yang dilakukan Bapak Sukirman fokus untuk berdagang soto. Istrinya bernama Ngatini. Berkebun bersama istrinya dengan menanam sayur-sayuran yang dapat dimanfaatkan untuk memasak. Pedagang soto yang lain bernama Bapak Paijan. Sebelum menjadi pedagang soto Bapak Paijan berdagang 43 . Untuk anak pertamanya sudah tinggal bersama keluarganya sedangkan Hesti masih tinggal bersama Bapak Paijan. Sekarang anak Bapak Suwarno ini bekerja di Bogor. kedua anaknya bernama Supriati dan Hesti. Bapak Suwarno mempunyai seorang anak bernama Fajar. Dilihat dari latar belakang pendidikan keluarga.

Bapak Suradal tinggal bersama istri dan anaknya. Pada waktu itu ada isu formalin sehingga Bapak paijan beralih profesi menjadi pedagang soto keliling. dan Fery Kuswoyo. Keluarga Bapak Sukiya tinggal di Yogyakarta sudah 20 tahun. Dari 9 (sembilan) keluarga pedagang soto tersebut setiap keluarga mempunyai anak. Istrinya bernama Sukatini. Bapak Suradal berada di Yogyakarta sudah 20 tahun. Suryanto. Dengan menggunakan teknik sampling ada 4 (empat) keluarga yang akan dijadikan subjek penelitian. Keluarga selanjutnya Bapak Sukiya. 44 . akan tetapi anak pedagang soto tersebut ada yang tinggal di Gunungkidul dan bekerja di luar kota. Pedagang soto yang terakhir adalah Bapak suradal. Sedangkan menjadi pedagang soto sudah 15 tahun. Sedangkan menekuni menjadi pedagang soto keliling sudah 12 tahun. Dari 9 (sembilan) keluarga pedagang soto tersebut di atas. Bapak Suradal bertempat tinggal satu kontrakan rumah dengan Bapak Suwarno.    bakso. Istrinya bernama Ngatinem dan anaknya bernama Nikita. Bapak Sukiya tinggal bersama istrinya di Yogyakarta. Anak yang akan dijadikan sampel adalah anak Sekolah Dasar kelas 1 (satu) sampai kelas 6 (enam) yang berada dalam keluarga tersebut. Ketiga anakanya bernama Endro. Sedangkan ketiga anakanya bekerja di Gunungkidul. Sehingga keluarga yang dijadikan subjek penelitian diatas adalah keluarga yang mempunyai anak yang tinggal bersama orangtuanya di Gendeng RW XX.

Suparman. Sumarno Empat SD 2. Keluarga Nama Anak Nurwaheni Dias Prasetyo Kelas 1. Sujono. Suparman Sudarmi Anisa Meilasari Tiga SD 3.                                                              12 Hasil wawancara dan observasi penulis pada 5 November. Suradal Ngatinem Nikita Enam SD Dari tabel di atas. Sujono Warni Danu Ramadhan Satu SD 4. dan Suradal. keluarga yang akan dijadikan sampel penelitian adalah keluarga Bapak Sumarno.15 Desember 2012  45 .    Tabel 6 Jumlah Pedagang Soto yang akan di jadikan Subjek12 No.

Untuk kegiatan kemasyarakatan keluarga ini berusaha ikut andil dalam kegiatan                                                              1 Hasil Observasi keluarga pedagang soto tanggal Senin 15 Oktober. Kegiatan ibadah yang dilaksanakan seperti menjalankan ibadah shalat wajib lima waktu. Untuk kegiatan ibadah yang lain seperti membaca Al Qur’an ataupun iqro’ jarang dilakukannya.    BAB III AKHLAK ANAK PADA KELUARGA PEDAGANG SOTO A. Keluarga pedagang soto ini berasal dari Gunungkidul. Keluarga ini merupakan keluarga muslim.10 November 2012  46   . Walaupun mempunyai latar belakang yang sama dalam kondisi etnografi asalnya. Biasanya Bapak Sumarno sering melaksanakan shalat Maghrib dan Isyak di masjid bersama anaknya. Sedangkan ibunya melaksanakan ibadah di rumah. keluarga ini mempunyai berbagai perbedaan dari segi keagamaannya. Dalam keluarga ini Bapak Sumarno mempunyai tanggung jawab secara penuh terhadap istri dan anaknya. Profil Keluarga Muslim Pedagang Soto Keadaan keluarga muslim pedagang soto yang berada di Gendeng RW XX merupakan keluarga yang berasal dari daerah yang sama dan masih mempunyai ikatan saudara.1 1. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai aktifitas ibadah yang dilakukan. Keluarga Bapak Sumarno Bapak Sumarno merupakan kepala rumah tangga keluarga ini.

Adapun keluarga ini mengajarkan kepada anaknya untuk berbuat baik terhadap sesama seperti memberi bantuan jika diperlukan. Dari ilmu agama Bapak Sumarno mengakui ilmu tentang keagamaan masih kurang. bukan akhlak melainkan tatakrama. Menurut Bapak Sumarno akhlak adalah perilaku seseorang yang berhubungan dengan agama.    kemasyarakatan seperti kegiatan ronda dan arisan. karena istilah tersebut kurang familiar. Sedangkan untuk istrinya belum begitu mengenal akhlak. Bapak Sumarno mengakui bahwa dirinya dan keluarganya merupakan warga pendatang maka dari itu keluarga ini ingin berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Sedangkan yang sering didengar. mendatangi undangan ketika yasinan. Agar masyarakat memperlakukan dirinya dan keluarganya seperti warga asli di Gendeng ini.  47   . Pada saat itu penulis dan Bapak Sumarno sedang membicarakan pengetahuan keagamaan yang berkenaan dengan akhlak. Pada waktu itu penulis bertamu ke rumah Bapak Sumarno untuk silaturahmi.2 Perilaku tersebut seperti ikut kegiatan mengaji di Taman Pendidikan Al Quran (TPA). dan melakukan ibadah shalat. Hal ini terlihat dari ungkapan yang disampaikan Ibu Nurwaheni. beliau mengatakan bahwa:                                                              2 Hasil wawancara dengan Bapak Sumarno pada hari Minggu tanggal 11 November 2012. berpartisipasi kegiatan keagamaan seperti mendatangi pengajian di masjid.

    “Kulo mboten mangertos menawi tentang akhlak mas. 1 Desember 2012. kulo mangertos namung babagan tatakrama mas. istrinya dan kedua anaknya. Terkadang Bapak Suparman mengajak untuk mengerjakan shalat di masjid di dekat rumahnya. Dari segi keagamaan dalam keluarga Bapak Suparman sangat memperhatikan. Dari pernyataan di atas akhlak menurut keluarga ini adalah tatakrama dan sesuatu yang berhubungan dengan agama. penulis menayakan tentang pengertian akhlak terhadap Bapak Suparman. Pakaian yang digunakan anggota keluarga putri di keluarga ini masih perlu diperhatikan karena istri Bapak Sumarno sendiri sering menggunakan pakaian yang belum menutupi aurat. terkadang masih memakai pakaian minim. Terutama dalam aspek peribadatan. saya hanya mengetahui tentang tata krama mas). beliau mengatakan:                                                              3 Hasil wawancara dengan Ibu Nurwaheni pada hari Sabtu.”3 (Saya tidak tahu tentang istilah akhlak mas. Keluarga Bapak Suparman Keluarga Bapak Suparman merupakan keluarga yang terdiri dari empat anggota keluarga dan sering kita sebut catur warga.  48   . Dari segi pengetahuan keagamaan. Keluarga Bapak Suparman terdiri dari Bapak Suparman. Dalam hal berpakaian agama Islampun mengaturnya. Bapak Suparman sering memberikan contoh kepada anaknya untuk mengerjakan shalat. 2.

Bapak Sujono dan Ibu Warni saling membantu dalam melakukan pendidikan dan pembinaan ini. 3. istrinya. Dari segi keagamaan keluarga ini sangat memperhatikan. Hal ini dibuktikan dalam pemberian pendidikan dan pembinaan yang dilakukan keluarga terhadap anaknya. Sebaliknya jika perilaku yang dilakukan tidak baik maka akan membentuk akhlak yang buruk. Hal ini dilakukan sebagai bentuk cintanya terhadap anaknya.                                                              4 Hasil wawancara dengan Bapak Suparman pada hari Selasa 13 November 2012. Keluarga ini sangat perhatian terhadap anaknya. Sehingga perilaku tersebut akan membentuk akhlak yang mulia. Terkadang masih belum menutup aurat dan pakaian ini terkadang di tirukan oleh anaknya. keluarga ini masih perlu diperhatikan karena keluarga muslim dapat dilihat dari segi berpakaiannya. Keluarga Bapak Sujono Kelurga Bapak Sujono terdiri dari empat anggota keluarga yang terdiri dari Bapak Sujono.  49   . Yang perlu diperhatikan adalah pakaian yang digunakan istri dari Bapak Suparman.    “Akhlak adalah perilaku yang mulia yang ada dalam diri seseorang. Dari segi pengetahuan keagamaan. dan kedua orang anaknya. Sedangkan yang ikut Bapak Sujono adalah anak yang kedua. Tetapi anak pertamanya yang bernama Risa tinggal bersama kakek dan neneknya di Gunungkidul.”4 Selanjutnya dari segi berpakaian. Keluarga ini sering melakukan shalat berjamaah di rumahnya. Hal ini dapat dilihat dari ibadah shalat yang dilakukan.

Keluarga ini masih kurang memperhatikan dari segi keagamaan. keluarga ini kebanyakan melimpahkan tanggungjawab kepada lembaga seperti sekolah dan TPA.  50   . sedangkan perilaku masyarakat seperti gotong-royong atau sering disebut gugur gunung. Perilaku pribadi meliputi kejujuran dan sopan santun. keluarga ini masih perlu diperhatikan terutama pakaian seorang Ibu karena masih berpakaian ala kadarnya. Bapak Suradal dan Ibu Ngatinem masih sering meninggalkan shalat. baik menyangkut perilaku pribadi maupun masyarakat. saling membantu atau menolong. Gugur gunung adalah istilah kedaerahan yang menunjukkan kegiatan gotong-royong. beliau mengatakan bahwa: “Akhlak merupakan sesuatu yang berhubungan dengan perilaku. Hal ini terlihat dari perilaku ibadah harian yang dilakukannya. Keluarga Bapak Suradal Keluarga Bapak Suradal ini merupakan keluarga yang mempunyai anak tunggal.”5 Dari segi berpakaian. meliputi tatakrama terhadap orang tua dan masyarakat. kurang memperhatikan masalah menutup aurat bagi seorang wanita. beliau mengatakan bahwa: “Akhlak merupakan sesuatu yang berhubungan dengan manusia.    penulis menyakan tentang pengertian akhlak terhadap Bapak Sujono. 4. Bagaimana                                                              5 Hasil wawancara dengan Bapak Sujono pada 12 November 2012. Dari segi pengetahuan keagamaan penulis menayakan tentang akhlak kepada Bapak Suradal. Dalam mendidik dan membina anaknya.

”6 Dari segi berpakaian keluarga ini masih perlu perhatian. bahwa akhlak itu secara umum dapat dikatakan sebuah budi pekerti yang menyeluruh yang meliputi perilaku pribadi dan masyarakat. dan lingkungan sekolah. Hal tersebut berpengaruh terhadap tingkah laku anak dalam menjalani kegiatan yang dilakukannya baik dalam keluarga. Karena akhlak sebagai dasar perilaku dan menyangkut perilaku manusia dalam kesehariannya.    orang yang lebih muda sopan dan hormat pada orang yang lebih tua baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. beliau mengatakan: “Setahu saya mas. Akhlak mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Beberapa pendapat keluarga muslim pedagang soto mengenai pengertian akhlak. adab berpakaian. Secara garis besar ada kesamaan persepsi mengenai                                                              6 7  Hasil wawancara dengan Bapak Suradal pada hari Senin tanggal 5 November 2012. Karena dampak dari pengaruh lingkungan sekitar akan berimbas pada perilaku anak dalam keluarga. Hal ini akan berdampak negatif jika ditiru oleh anaknya. Pada kesempatan yang lain penulis melakukan wawancara mengenai pengetahuan keagamaan yang berhubungan dengan akhlak kepada Ibu Ngatinem. Perilaku anak tersebut mengenai sopan santun yang berkaitan tentang adab berbicara.”7 Perilaku anak dalam keluarga menunjukan akhlak anak. lingkungan masyarakat. Istilah orang jawa dikenal dengan subosito atau unggah ungguh.  Hasil wawancara dengan Ibu Ngatinem pada hari Senin tanggal 5 November 2012.  51   . Pakaian yang digunakan Ibu Ngatinem terkadang masih menggunakan pakaian minim jika keluar rumah.

keluarga ini masih perlu perhatian dan pembinaan dari segi peribadatan. Pola Pembinaan Akhlak Keluarga Bapak Sumarno Keluarga Bapak Sumarno beserta Ibu Nurwaheni berupaya mendidik dan membina anaknya dengan sebaik-baiknya. pengetahuan keagamaan dan dari segi pakaian yang digunakan.    pengertian akhlak menurut pedagang soto dan landasan teori mengenai akhlak. Hal tersebut diungkapkan oleh istri Bapak Sumarno. Selain orangtua peran guru agama di sekolah juga diperlukan.  52   . B.                                                              8 Hasil Wawancara dengan Bapak Kasmin tokoh masyarakat pada 1 Desember 2012. Cara keluarga Bapak Sumarno membina akhlak anaknya dalam peribadatan dengan memasukkan anaknya ke TPA dan melatih kedisiplinan anak dalam mengerjakan shalat.8 Berikut ini penulis sajikan analisis pola pembinaan akhlak anak dalam keluarga: 1. Pola Pembinaan Akhlak Anak Pada Keluarga Pedagang Soto Pola yang digunakan dalam upaya pembinaan akhlak anak di dalam keluarga lebih mengutamakan asas keteladanan dan pembiasaan Dalam hal ini orang tua sebagai teladan bagi anaknya menampilkan perilaku akhlak yang baik pula. Hal ini dilakukan karena Bapak Sumarno mempunyai pandangan bahwa dirinya mempunyai tanggung jawab untuk mendidik dan membina anaknya. Dari profil keluarga muslim di atas.

Kalau Bapak malah jarang memarahi saya mas. Pada saat itu yang ada di rumah hanya Ibu Nurwaheni dan anaknya. Aku sok dijiwiti dadine kadang duwe perasaan wedi. Saya terkadang di cubit sehingga kadang ada perasaan takut. makanya saya butuh apa saja atau kalau meminta sesuatu kepada Bapak). dia mengatakan: “Aku sering diseneni mas karo mamak nek ra gelem ngaji utawa ngewangi mamak. Hal tersebut juga diakui Dias bahwa Ibunya sering memarahi dan memberikan hukuman jika tidak melaksanakan perintah atau tidak mau mengaji. Anaknya sedang melihat televisi dan Ibunya sedang menggoreng tempe untuk jualan Bapaknya esok hari. kadang lare kulo tak seneni mas”9 (Kalau tidak mau mengaji dan membantu orang tua terkadang anakku saya marahi mas). Menurut Ibu Nurwaheni. Bahwa Ibunya kadang mencubit dan memarahinya jika tidak mau menuruti perintah Ibunya untuk mengaji atau membantu orang tua.  10 53   . beliau mengatakan: “Menawi mboten purun ngaji lan bantu tiyang sepuh. Nek Bapak malah jarang nyeneni mas. Pada malam hari itu penulis sekadar lewat dan mampir ke rumah Bapak Sumarno.    Menurut pengakuan Dias anak dari Bapak Sumarno.                                                              9 Hasil Wawancara kepada Ibu Nurwaheni pada hari Selasa tanggal 6 Desember 2012.  Hasil Wawancara dengan Dias pada hari Selasa tanggal 11 Desember 2012. mangkane aku butuh opo wae utawa nek jaluk-jaluk yo karo Bapak”10(Saya sering dimarahi sama Ibu jika saya tidak mau mengaji atau membantu Ibu.

    Dari penuturan anaknya serta pengamatan yang dilakukan oleh penulis. kesopanan dan berpakaian yang Islami.  54   . beliau menerapkan pemberian hadiah kepada anakya jika anaknya dapat menyelesaikan tugas dengan baik. kedisiplinan.                                                              11   Hasil Wawancara kepada Bapak Sumarno pada hari Selasa tanggal 6 Desember 2012. Untuk masalah perilaku keseharian dan pengetahuan sedikit-sedikit diajarkan tentang kejujuran. Dengan pembinaan yang seperti itu kedekatan anak terhadap Ibunya sedikit berkurang. Misalnya anaknya rajin mengaji akan di belikan Al Qur’an. kedekatan anak terhadap kedua orang tua cenderung kepada bapaknya dibandingkan ibunya. Kedua orang tuanya mengakui bahwa dalam pengetahuan agama minim sehingga dalam masalah keagamaan kebanyakan diserahakan ke TPA dekat rumah kontrakanya dan guru agama di sekolah. Berbeda halnya dengan Bapak Sumarno.11 Pembinaan yang dilakukan keluarga Bapak Sumarno ini kebanyakan dengan perilaku yang dicontohkan orang tua dalam keseharianya. Sebab Ibu Nurwaheni sering memberikan hukuman karena anakanya tidak mau membantunya. Dengan pengetahuan yang diajarkan mampu menjadikan perilaku anak lebih baik. Hal ini dilakukan Bapak Sumarno agar anaknya semangat dalam mengerjakan sesuatu. Hukuman seperti cubitan yang dilakukan Ibunya terhadap Dias membawa pada kesediaan untuk melakukan perintah karena terpaksa.

                                                             12 Hasil wawancara dengan Anisa pada hari Rabu tanggal 5 Desember 2012  55   . Menurut wawancara dan observasi penulis. dia mengatakan bahwa: “Menawi Bapak. Penulis pada saat itu bertamu ke rumah Bapak Suparman setelah Maghrib. menawi mamak mboten ten masjid. keluarga ini dalam melakukan komuniksai terhadap anggota keluarga cukup baik. kalau Ibu tidak ke masjid). Hal ini dilakukan karena keluarga mempunyai tanggung jawab moral terhadap perilaku anaknya. melaksanakan shalat di masjid. Dan pada waktu itu semua anggota keluarga sedang berkumpul. Pola Pembinaan Akhlak Keluarga Bapak Suparman Keluarga Bapak Suparman dan Ibu Sudarmi membina akhlak anaknya secara bersama sama. Terbukti dengan ada agenda refresing untuk melepaskan kesibukan dalam keseharianya.    2. Menurut Bapak Suparman. Bapak ke masjid melaksanakan shalat Maghrib dan Isyak.”12(Kalau Bapak sering memberikan contoh mas. Menurut pengakuan Anisa anak pertama dari Bapak Suparman dengan Ibu Sudarmi saat penulis menanyakan mengenai komunikasi yang dilakukan dalam anggota keluarga. bahwa dalam melakukan pembinaan terhadap anaknya dilakukan secara bertahap. Pembinaan yang dilakukan melalui komunikasi lewat lisan dengan memerintahkan untuk menjalankan ibadah shalat dan membaca Al Qur’an. menehi conto sholat ten masjid. Bapak ten masjid niku ninda aken shalat Maghrib lan Isyak.

13 Pada tanggal 17 Desember 2012 penulis lewat depan rumah Anisa untuk melaksanakan shalat duhur di masjid. Terkadang Bapak Suparman juga mengingatkan anakya untuk segera melaksanakan shalat. Ibunya tidak menyuruh anaknya ke masjid untuk melaksanakan shalat Duhur akan tetapi masih berbincang bincang dengan tetangganya hingga penulis lewat lagi di depan rumahnya setelah melaksanakan shalat Duhur selesai. Ruangan untuk melaksanakan ibadah shalatpun terasa tidak ada ruangan tersendiri. Ibu Sudarmi dan Anisa sedang berbincang-bincang dengan tetangganya.    Hal yang dilakukan keluarga pada saat itu sedang melihat televisi.  Hasil wawancara dengan Bapak Suparman pada hari Rabu tanggal 13 November 2012. Namung Anisa tumutipun kadang-kadang mawon. Diantara ungkapan-ungkapan Bapak Suparman berkenaan pembinaan akhlak kepada anak-anaknya mengenai shalat dan membaca Al Quran. Sedang Anisa penulis ketahui sedang melihat televisi dengan asyik sampai sampai lupa untuk melakukan kewajibannya untuk shalat Maghrib. kulo contoh ke mas kadang kulo shalat Maghrib lan Isyak ten masjid mugi-mugi Anisa tumut. saya berikan contoh mas terkadang saya melaksanakan shalat Maghrib dan Isyak di masjid dengan harapan                                                              13 14 Hasil observasi pada hari Rabu tanggal 13 November 2012 di rumah Bapak Suparman. beliau mengatakan: “Menawi babagan shalat. Penulis mengamati perilaku keluarga tersebut dari Maghrib hingga menjelang Isyak. Menawi babagan maos Al Qur’an kulo tasih kirang mas malah pinter anak kulo niku”14 (Kalau masalah shalat.  56   .

Bapak Suparman pernah berpesan kepada anaknya. 3. Pola Pembinaan Akhlak Keluarga Bapak Sujono Keluarga Bapak Sujono dan Ibu Warni senantiasa membina akhlak anaknya secara bersama-sama. Penulis sengaja silaturahmi setelah shalat Maghrib dikarenakan anggota keluarga sering berkumpul pada saat sore hari. Kualitas keagamaan Bapak Suparman sudah terlihat bagus dibandingkan istrinya. sinau lan ngaji sing tenanan ben pinter dadi wong kang migunani. beliau mengatakan: “Anisa. Bapak Sujono dengan aktifitasnya bekerja jualan soto keliling sedangkan istrinya juga bekerja. Tetapi Anisa ikut ke masjidnya kadang-kadang. Pada tanggal 14 November 2012 penulis berkunjung di kediaman Bapak Sujono pertama kali. belajar dan mengaji yang serius biar menjadi orang pintar dan orang yang bermanfaat).” (Anisa. Kalau siang hari anggota keluarganya sedang beraktifitas sendiri-sendiri.    Anisa ikut. justru anak saya lebih pintar). Adapun pola pembinaan yang di gunakan oleh keluarga ini menggunakan pola pembinaan melalui nasehat seperti yang sering digunakan oleh Bapak Suparman. Pada waktu itu semua anggota keluarga sedang ada di rumah. Kalau masalah membaca Al Qur’an saya masih kurang. 57   . Danu Ramadhanpun pergi ke sekolah. ditandai dengan keterangan-keterangan di atas. Bapak Sujono sebagai kepala rumah tangga merasa mempunyai tanggung jawab lebih dibandingkan istrinya.

    Ketika melihat pertama kali keluarga Bapak Sujono begitu mengesankan. beliau mengatakan: “Anak kulo niku remen kalian babagan keagamaan mas. Benten menawi ajeng budal sekolah. Menurut pengakuan Bapak Sujono dalam melakukan pembinaan akhlak anaknya berdasarkan nilai-nilai Islam dan norma yang berlaku. lare kulo niku males. Ingkang sak sanesipun lare kulo latihan hemat menawi jajan.   Hasil wawancara dengan Bapak Sujono pada hari Rabu tanggal 14 November 2012.  58   . menawi bibar sinau babagan sekolah.15 Diantara ungkapan Bapak Sujono berkenaan tentang pembinaan akhlak anaknya dalam hal keagamaan. Penuturan Bapak Sujono: “Bentuk pembinaanipun lare kulo. Mamakipun Danu ngajari babagan doa lan surat pendek. Apalagi tutur katanya yang sopan membuat penulis nyaman dalam melakukan penelitian terhadap keluarga ini.”16 (Anak saya lebih suka bab keagamaan mas. Kesederhanaan yang dimilikinya membuat orang di sekitarnya nyaman.                                                              15 16 Pembinaan secara manual maksudnya pembinaan yang dilakukan secara tradisional. Pembinaan yang dilakukan juga dengan manual. Berbeda kalau berangkat sekolah. Kalau tidak disuruh berangkat sekolah anak saya itu malas) Selanjunya dalam kesempatan yang lain penulis menyakan tentang bentuk kegiatan keluarga dalam membina akhlak anak dalam keagamaan. Ketika berangkat TPA saja tidak saya perintah sudah berangkat duluan. Menawi mboten diperintah budal sekolah. Menawi mangkat TPA mawon mboten sah diprintah sampun budal piyambak.

kegiatan pembinaan yang lain seperti latihan hemat ketika jajan. Dari kecenderungan Bapaknya dalam memberikan contoh dalam segala tindakan baik keagamaan dan pengetahuan. Pada saat itu kondisi televisi juga mati mengingat keluarga tersebut baru mengajari anaknya. Pola pembinaan di keluarga ini penulis menemukan dua pola setelah dari hasil wawancara dan observasi. Saya juga mengajari anak saya tentang agama seperti gerakan shalat dan praktek shalat mas). Penulis melihat Bapak Sujono dan Ibu Warni sedang mengajari Danu mengerjakan tugas matematika. Sedangkan Ibunya lebih mengarahkan pembiasaan                                                              17  Hasil wawancara dengan Bapak Sujono pada Kamis tanggal 15 November 2012. Pernah penulis ke rumah Bapak Sujono hanya sekedar meminta dokumentasi kegiatan.17 (Bentuk kegiatan pembinaan anak saya ketika setelah selesai belajar pelajaran sekolah. Kebanyakan keluarga yang penulis kunjungi. Sedangkan menurut Ibu Warni pembinaanya dilakukan setelah belajar pelajaran sekolah. Untuk pembinaan dari Bapak Sujono baru memberikan arahan tentang gerakan-gerakan shalat. Ibunya Danu mengajari bab doa dan surat-surat Pendek.  59   . Kulo nggeh ngajari anak kulo babagan agama.    Sisanipun diengge nabung ten TPA. Sisanya buat menabung di TPA. namung ngajari babagan gerakan shalat lan praktek shalat mas. Bapak Sujono dan Ibu Warni dalam mengajari anaknya saling melengkapi. Kegiatan setelah Maghrib kebanyakan keluarga sedang menonton televisi. Kadang mengulang ngaji iqra’ yang diajarkan di TPA dan membiasakan untuk menghafalkan doa sehari hari sebelum anaknya tidur. Penulis ke tempat Bapak Sujono setelah Maghrib.

Sehingga suasana saat itu lumayan ramai karena dua keluarga sedang berkumpul. Penulis ke rumah keluarga Bapak Suradal dua kali pada waktu sore dan malam hari. Bapak Suradal mengatakan: 60   . Pernah penulis ke rumah Bapak Suradal setelah Maghrib. 4. Pola Pembinaan Akhlak Keluarga Bapak Suradal Keluarga Bapak Suradal merupakan keluarga terakhir yang penulis teliti.    mempraktekan doa sehari hari. saling melengkapi antara Bapak Sujono dengan Ibu warni. karena kalau waktu siang sama seperti keluarga pedagang yang lain. Sedangkan Bapaknya jarang memarahinya karena Bapaknya sering diam. Demikianlah pola pembinaan akhlak anak yang dilakukan keluarga ini. Dengan pembinaan yang dilakukan ini Bapak Sujono sekeluarga mempunyai harapan agar anaknya menjadi yang baik. Keluarga Bapak Suradal dan keluarga Bapak Suwarno menempati rumah kontrakan yang sama. pengakuan Menurut Nikita. Untuk menayakan kegiatan keagamaan yang dilakukan Bapak Suradal sekeluarga untuk menambah keimanan kepada Allah SWT. Pada waktu itu keluarga Bapak Suradal sedang berkumpul semua. bahwa Ibunya sering memarahinya ketika tidak melaksanakan perintah dari orang tuanya. Untuk Bapak Suradal sendiri berjualan soto keliling dari jam enam pagi sampai jam dua siang. Masih mempunyai kesibukan masing-masing. Keluarga Bapak Suradal dan Ibu Ngatinem membina akhlak anaknya semampunya.

sampun kasep ngoten mas.    Hasil pengamatan terhadap keluarga pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2012  61   . Pernyataan tersebut ditambahkan oleh Bapak Suwarno selaku tetangga Bapak Suradal.“18(Kegiatannya hanya memerintah Nikita belajar ke TPA saja. Kalau saya sendiri membaca Al Qur’an masih terbata-bata. Pola pembinaan terhadap anak lebih sering melakukan dengan perintah. Bapak ditandai dengan keterangan-keterangan diatas. Penuturan Ibu Ngatinem: “Bentukipun nggeh ngaken Nikita ngaji lan shalat ten masjid mawon mas.19                                                              18 19 Hasil wawancara dengan Bapak Suradal pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2012.(Bentuknya hanya memerintahkan Nikita untuk mengaji dan shalat di masjid saja mas). Selanjunya dalam kesempatan yang lain penulis menyakan tentang bentuk kegiatan keluarga dalam membina akhlak anak dalam keagamaan pada ibu Ngatinem. kalau untuk mengaji keluarga Bapak Suradal jarang melakukanya. Dengan keterbatasan pengetahuan umum dan agama keluarga Bapak Suradal jarangmemberikan contoh seperti mengajari membaca Al Qur’an atau mengajari shalat. sudah terlanjur tidak bisa mas). Yang dilakukan Bapak Suradal sekeluarga lebih kearah kesalehan sosial seperti menolong dan membantu sesama. Menawi kulo piyambak maos Quran tasih gratul gratul.    “Kegiatanipun kulo nggeh namung ngaken Nikita TPA mawon. Berdasarkan pengamatan penulis kualitas keagamaan Suradal masih minim. Aktifitas yang dilakukan lebih bersifat sosial seperti menolong tetangga.

pembiasaan. faktor yang membantu dalam melakukan pembinaan akhlak anak ini adalah faktor lingkungan rumah kontrakan yang baik dan dekat dengan masjid untuk belajar anak ke TPA sedangkan faktor penghambatnya adalah media televisi yang sering di tonton anak hingga tidak mengenal waktu. Adanya perkembangan teknologi dan berkembangnya arus globalisasi mengalami pergeseran pembinaan yang dahulu pusat 62   . Terakhir ada yang melakukan dengan pola nasihat saja. Pola keteladanan tersebut diikuti dengan nasihat-nasihat dalam melakukan pembinaan akhlak terhadap anak. Secara umum keluarga pedagang soto memberikan keteladanan dalam setiap aspek tertentu walaupun sebisa keluarga tersebut dalam mengajarinya.    Menurut Ibu Ngatinem. ada juga yang melakukan pembinaan melalui pola perintah. Adapun yang membedakan dalam melakukan pola pembinaan ada keluarga yang menggunakan pola pembinaan akhlak anak melaui contoh atau keteladanan yang dilakukan keluarga. hukuman. Persamaan dari empat keluarga tersebut adalah pola pembinaan yang dilakukan oleh keluarga pedagang soto berdasarkan ajaran agama Islam dan kesepakatan keluarga dengan memberikan hukuman terhadap anak jika anak berperilaku buruk. Dari keterangan di atas mengenai pola pembinaan akhlak anak yang dilakukan empat keluarga yang mempunyai latar belakang pekerjaan yang sama tetapi ada juga yang membedakan mengenai pola pembinaanya.

Menjadi anak dambaan keluarga. Agar perilaku anak lebih baik. Perilaku yang baik akan terbina dan ketaatan menjalankan perintah agama akan dilaksanakan. Adapun tujuan pembinaan akhlak anak berdasarkan hasil wawancara dengan keluarga para pedagang soto adalah sebagai berikut: 20 a. Agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Agar bermanfaat bagi masyarakat. c.                                                              20 Hasil wawancara keluarga pedagang soto pada tanggal 15-18 Desember 2012. Dengan adanya pembinaan akhlak ini. Dengan adanya pembinaan akhlak akan mengurangi keributan-keributan yang ada di masyarakat disebabkan karena perilaku yang kurang baik. Agar tidak membuat keributan di masyarakat. Dengan asumsi di sekolah sudah terbina dengan baik.    pembinaan yang dilakukan keluarga yang pertama dan utama sekarang dari keluarga melimpahkan pembinaannya ke sekolah. Agar taat dalam menjalankan perintah agama. Dengan adanya pembinaan ini semoga bisa meraih cita-cita yang didambakan. e. Dengan adanya pembinaan akhlak ini perilaku anak yang semula kurang baik menjadi baik dengan memperbaiki segala kekurangan yang menyebabkan perilaku tidak baik dilakukannya.  63   . d. b. Dengan adanya pembinaan akhlak ini diharapakan segala perilaku akan memberikan kemanfaatan kepada masyarakat sekitar.

menawi bacaan kulo pasrahaken ten TPA”21 (Aspek yang pertama kali diajarkan dalam melakukan pembinaan akhlak adalah bab gerakan shalat mas. kalau bacaannya shalat saya suruh belajar ke TPA). Wonten griyo kulo dereng saget ngajari bacaan-bacaanipun. Hal senada diungkapkan oleh Bapak Suparman mengenai shalat. beliau mengatakan: ”Aspek ingkang sepindah kulo ngajari wonten pembinaan akhlak meniko babagan gerakan sholat mas. seperti penuturan Bapak Sujono.    Akhlak seorang anak juga tidak terlepas dari akhlak orang tuanya. Wonten TPA anak                                                              21 Hasil wawancara dengan Bapak Sujono pada hari Senin tanggal 12 November 2012  64   . Secara langsung maupun tidak langsung ungkapan Bapak Sujono mengarahakan kepada pelaksanakan shalat walaupun tahapan yang pertama hanya dengan gerakan-gerakan shalat sebagai dasar contoh anak melakukannya. Penuturan Bapak Suparman: ”Kulo namung maringi contoh untuk berangkat ke masjid mawon mas menawi babagan shalat. Hal ini terbukti dari beberapa ungkapan yang dikemukakan oleh keluarga pedagang soto. Shalat lima waktu Kegiatan pembinaan yang pertama yang dilakukan keluarga adalah mengajak untuk melaksanakan shalat. maka pola pembinaan yang dilakukan keluarga terhadap anak haruslah dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan seperti: a.

Bahwa sebenarnya. b. Hal ini diungkapan Ibu Ngatinem selaku Ibu dari Nikita. tidak tahu kenapa. Tetapi untuk saat ini Nikita sudah tidak mau menagaji lagi. Di TPA anak saya sudah diajari). keluarga pedagang soto menginginkan anaknya bisa melaksanakan shalat. Dan berusaha memasukan ke TPA agar diajari dan bisa melaksanakanya. kulo gelo banget mas sampun kulo rih-rih mboten purun”23 (Saya sudah terlanjur kalau belajar mas. Penuturan Ibu Ngatinem mengenai membaca iqra’ dan Al Qur’an: ”Kulo mpun kasep menawi belajar mas. Malah sakniki mboten purun. Tapi dari keterbatasn ilmu yang dimiliknya kebanyakan keluarga mengajarinya sebisanya. Nikita saya suruh mengaji saja. Penulis dapat mengambil benang merah.    kulo sampun diajari”22 (Saya hanya memeberikan contoh saja mas untuk berangkat ke masjid saja mas kalau bab shalat. Membaca Iqra’ dan Al Qur’an Kegiatan selanjutnya adalah membaca iqra dan Al Qur’an. Malah sak niki sampun mboten purun ngaji. mboten ngertos niko. Menurut pengamatan dan wawancara yang dilakukan kepada keluarga pedagang soto. Keluarga senantiasa berusaha untuk mengajari membaca Iqra dan Al Qur’an. Dengan memasukan anak-anaknya ke TPA agar bisa mengaji. Kulo mboten saget ngajari maos iqra amargi bacaan kulo tasih gratul gratul.                                                              22 23 Hasil wawancara Bapak Suparman pada hari Selasa tanggal 13 November 2012  Hasil wawancara dengan Ibu Ngatinem pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2012. Saya tidak bisa mengajari untuk membaca Al Qur’an karena bacaan saya masih terbata-bata.  65   . Dulu saya sudah suka kalau Nikita mengaji di TPA. Di rumah saya belum bisa mengajari bacaan-bacaan shalatnya. Nikita kulo ken ngaji mawon. Ndek riyin kulo mpun remen menawi Nikita mpun ngaji wonten TPA.

Keluarga berusaha mengajari dan berusaha untuk membiasakanya dalam kegiatan sehari hari. beliau mengatakan:                                                              24 Hasil wawancara dengan Ibu Warni pada hari Jumat tanggal 14 Desember 2012  66   . sudah saya bujuk untuk mengaji lagi tidak mau). Ibunya mengakui bacaanya masih belum lancar.    Sekarang sudah tidak mau mengaji lagi.24 c. Menurut pengakuan Ibu Ngatinem. Walaupun anaknya masih jilid 1 tetapi Ibu Warni masih mempunyai harapan yang kuat agar anaknya menjadi anak yang sholeh. saya kecewa mas. Praktek Doa Harian dan Surat Pendek Doa merupakan sesuatu yang dipanjatkan hamba kepada Rabb Nya. Sehingga anaknya disuruh untuk mengaji di TPA. Dari pernyataan di atas Ibu Ngatinem merasa pesimis untuk mengajari anaknya untuk membaca dan mempelajari Al Qur’an. untuk akhir-akhir ini merasa kecewa karena anakya tidak mengaji lagi. Menurut pengakuan Bapak Sujono saat penulis mengkonfirmasi mengenai penerapan doa dan surat pendek kepada anaknya. Hal serupa juga diungkapan oleh Ibu Warni. Hal ini juga dilakukan keluarga sebagai upaya keluarga untuk membina akhlak anaknya. Ibu Ngatinem merasa pesimis dikarenakan dirinya dan keluarga belum bisa membaca Al Qur’an. bahwa setiap malam setelah belajar pelajaran sekolah beliau menyempatkan untuk menyimak bacaan iqra’ anaknya. Sehingga akhlak anak akan terbina dengan baik.

    “Untuk penerapan doa sehari-hari dan hafalan surat pendek yang sering membimbing adalah ibunya. Karena saya merasa masih minim pengetahuan agama maka saya mengajari doa dan surat yang dihafalkan sesuai kemampuan saya seperti doa mau makan. dan doa untuk kedua orang tua”25 Dalam kesempatan yang lain penulis mencoba bertanya kepada ibu Warni mengenai penerapan doa dan hafalan surat pendek kepada anaknya. Doa yang diajarkan oleh Ibunya hanya sebatas yang dihafalnya misalnya doa mau tidur.  67   . Menabung Sedikit sedikit lama lama menjadi bukit. doa mau makan. dan doa mau belajar”26 Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas jelaslah bahwa ada komunikasi yang baik anatar orang tua dan anak yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari melalui penerapan hafalan doa dan surat-surat pendek.surat pendek. doa mau tidur. Kegiatan menabung ini diikuti oleh anakanak yang mengikuti TPA di Masjid. d. beliau mengatakan: “Iya mas memang saya yang sering menagajari anak-anak saya untuk menghafalakn doa-doa dan surat. Biasanya saya lakukan pada malam hari sebelum tidur atau saat ada waktu senggang.  Hasil wawancara dengan Ibu Warni pada hari Jumat tanggal 14 Desember 2012. Anak-anak menabung di TPA                                                              25 26 Hasil wawancara dengan Bapak Sujono pada hari Jumat tanggal 14 Desember 2012. itulah prinsip keluarga dalam menanamkan kecintaan anak untuk rajin menyisihkan uang jajannya untuk menabung. Biasanya Ibunya melakukan itu setiap malam sebelum tidur.

Hal tersebut dilakukan Ibu Nurwaheni untuk melatih anaknya untuk mengetahui pentingnya menabung.27 e. Dalam kegiatan menabung ini anak bisa berlatih untuk memanajemen keuangan anak sendiri. Secara tidak langsung adab ini memberikan dampak baik terhadap keluarga.  68   .    seminggu dua kali yaitu hari Selasa dan Jumat Hal ini juga dilakukan keluarga pedagang soto untuk membiasakan diri anaknya untuk menyisihkan uang jajannya. Keluarga tidak akan kebingungan jika anaknya sudah minta izin untuk pergi ke suatu tempat. Uang yang diberikan orang tua apakah ditabung atau dibelikan jajan. Hal ini diungkapkan Bapak Suparman:                                                              27   Hasil wawancara dengan Ibu Nurwaheni pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2012. Meminta Izin Jika ingin Berpergian Adab minta izin jika mau pergi sekarang sudah hampir luntur. hal ini disebabkan karena kebiasaan tersebut jarang dipraktekan di tengah-tengah budaya yang semakin modern ini. Adab minta izin ini juga digunakan untuk melakukan pembinaan akhlak anak dalam keluarga pedagang soto. Hal ini juga melatih kejujuran anak untuk membawa uang. Menurut pengakuan dari Ibu Nurwaheni bahwa anaknya menabung seminggu dua kali di TPA walaupun seribu rupiah dalam setiap kali menabung. dengan siapa dia pergi. Adanya adab minta izin ini bertujuan agar perilaku anak dapat terkontrol mau kemana anaknya pergi.

Adanya rasa memiliki dalam diri keluarga untuk menjaga dan mengawasi perilaku anak. Mangke menawi madosi gampil. Dana hasil infak ini digunakan untuk kegiatan sosial dan juga untuk menyantuni jika ada santri yang sakit. Kegiatan ini dilakukan seminggu sekali yang dilaksanakan di TPA.    “Menawi ajeng ten pundi-pundi anak kulo. Hal senada diungkapkan oleh Bapak Sujono. saya suruh minta izin dahulu agar nanti carinya mudah).                                                              28 29 Hasil penuturan dengan Bapak Suparman pada hari Selasa tanggal 13 November 2012    Hasil penuturan dengan Bapak Sujono pada hari Rabu tanggaal 14 Desember 2012.”28 (Kalau mau kemana mana anak saya. Dana penggunaanpun jelas. kulo ken izin rumiyin.29 Budaya minta izin ini juga berdampak positif terhadap anak. beliau mengatakan: “Anaknya sebelum berangkat sekolah meminta izin terlebih dahulu dengan mencium tangan bapak ibunya.   69   . dimana memerlukan keikhlasn dan pengorbanan dalam melakukanya. Tujuan kegiatan ini melatih dan menamakan nilai kepedulian sosial anak terhadap orang-orang yang membutuhkan. f. Menurut Bapak Suparman bahwa program pembinaan infak ini dilakukan di TPA dekat rumah kontrakanya. Pembinaan Infak Seikhlasnya Infak merupakan bentuk ibadah yang memiliki nilai-nilai sosial yang tinggi. Karena tujuannya sangat mulia dan membantu sesama. Dari pihak keluarga sangat mendukung dengan program yang diadakan TPA tersebut.

Ya namanya orang hidup tidak bisa lepas dengan tetangga). Menurut pengamatan penulis. Karena hidup ini tidak sendiri maka harus mempunyai sikap tolong menolong ini. Memberi salam barti mendoakan orang lain dan orang lain nantinya akan menjawab salam yang berisi doa pula. walaupun aspek pengetahuan keluarga Bapak suradal dan Ibu Ngatinem ini kurang.  70   . Nggeh naminipun tiyang urip meniko mboten saget pisah kalih tonnggo tepalih mas”30 (saya hanya bisa membantu tetangga yang membutuhkan. Mengucap salam adalah suatau kebiasaan yang baik. Dari penuturan Ibu Ngatinem diatas. h. Oleh karena itu sikap tolong menolong sangat diperlukan.Beliau mengatakan: “ Kulo namung saget mbantu tonggo tepalih ingkang nyuwun pitulungan. Mengajari Kebiasaan Mengucap Salam Di dalam pergaulan. bahwa anaknya juga diajari sikap saling tolong menolong ini.    g. Mengajari Sikap Tolong Menolong Dalam interaksi sosialnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Menurut penuturan Ibu Ngatinem mengenai sikap saling tolong menolong . Di sisi lain keluarga ini mempunyai nilai lebih dari segi sosialnya. kebiasaan mengucap salam harus dibiasakan baik dalam keluarga dan masyarakat. Maka secara otomatis orang mengucapkan salam berarti                                                              30 Hasil wawancara dengan Ibu ngatinem pada hari Selasa tanggal 15 Desember 2012.

Kebiasaan mengucap salam dipraktekan Bapak Sujono apabila anak mau berangkat TPA maupun ke Sekolah. Baik dari segi keagamaan maupun pengetahuan secara umum. Hal ini juga dipraktekkan pada keluarga Bapak Sujono. Menurut Bapak Sujono kebiasaan mengucap salam ini diajarakan agar anak dapat bersikap hormat terhadap orang tua dan orang disekitarnya. Hal ini diakui dari beberapa keluarga terkait tentang pengetahuan agama maupun pengetahuan umum yang minim. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Pembinaan Akhlak Pada Keluarga Dalam melakukan proses pembinaan akhlak anak pada keluarga tentunya tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Faktor Pendidikan Keluarga Faktor pendidikan yang merupakan kendala pertama yang dirasakan keluarga dalam membina akhlak anakanya. faktor-faktor yang mempenagruhi antara lain: 1. Dengan pembiasaan tersebut Bapak Sujono mempunyai harapan agar pembiasaan mengucap salam ini dapat dipraktekan anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Latar belakang pendidikan dari keluarga yang rata-rata lulusan SD yang membuat pengetahuan keluarga kurang. Penuturan Bapak Suradal. C.    mendoakan dirinya sendiri. beliau mengatakan: 71   .

Keluarga pedagang soto berangkat pagi pulang sore. Sehingga ada waktu malam saja untuk melakukan pembinaan terhadap anaknya. Faktor Kesibukan Pekerjaan Adapun kesibukan pekerjaan dalam mencari nafkah merupakan faktor yang tidak bisa dikesampingkan. Sehingga terkadang tidak mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan pembinaan. Berangkat jualan jam tujuh pagi sampai habis dagangan                                                              31 32 Hasil wawancara dengan Bapak Suradal pada tanggal 15 Desember 2012. Mangkat nyambut gawe jam pitu nganti dodolan soto entek paling suwe jam setengah telu wis muleh”32 (Bangun tidur jam tiga pagi mas. dados wawasanipun sekdik babagan agomo. jadi wawasan dalam bidang keagamaan sedikit). Pengalaman-pengalaman yang minim dalam bidang pendidikan sedikit banyak mempengaruhi pembinaan yang dilakukan. dapat ditarik benang merah bahwa faktor pendidikan keluarga yang menyebabkan kesulitan keluarga dalam memberikan transfer ilmu maupun nilai dari kelurga ke anak. Penuturan dari Bapak suparman: “Tangi turu jam telu esuk mas langsung ngolah bumbu-bumbu soto.  Hasil wawancara dengan Bapak Suparman pada tanggal 13 November 2012  72   . setelah itu mengolah bumbu-bumbu soto.    “Kulo lan istri kulo tamatan SD mas. Dari hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan penulis. Dari pagi sampai sore para pedagang soto berkeliling demi menghidupi anak istrinya.” 31 (Saya dan istri saya tamatan SD mas. 2.

Dari penuturan Bapak suparman dan hasil wawancara yang diperoleh dari informan beberapa keluarga pedagang soto. 3. Dinamika sosialpun dirasakan didaerah ini.   73   . Menurut Ibu Ngatinem Ibu dari Nikita mengatakan bahwa keluarganya sangat bersyukur di lingkungan yang dapat dikatakan baik. Waktu yang tersedia bersama keluarga biasanya malam hari.    soto habis. Dijuluki kampung nusantara karena banyak pendatang yang tinggal didaerah tersebut. Sehingga kesIbukan pekerjaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pembinaan terhadap akhlak anak. tetangganya ramah tamah dan lingkungan rumah kontraknya dekat masjid. Semua ada di daerah gendeng ini untuk mencari ilmu dan nafkah. Berusaha untuk mengenal dan menghargai orang yang bukan satu daerah tidaklah mudah. Lingkungan Gendeng sangat beragam sehingga ada yang memberikan julukan “Kampung Nusantara”33. dari Sumatra hingga papua. hal ini juga dirasakan dari berbagai pedagang soto yang berada di daerah Gendeng RW XX ini. Faktor Lingkungan Sosial Lingkungan sosial yang baik dapat membantu pola pembinaan akhlak anak sebaliknya lingkungan sosial yang buruk dapat menghambat pola pembinaan akhlak. biasanya paling lama jam setengah tiga sore sudah balek).                                                              33 Kampung Nusantara merupakan julukan untuk dusun Gendeng ini. perlu tahapan dan proses dalam berinteraksi.

gaya rambut. Faktor Media Televisi Pengaruh media baik media cetak dan media elektronik dapat kita rasakan saat ini. Tidak hanya anak yang menjadi dampak dari televisi tersebut sebagian orang tua pun terkena imbasnya. Baik dari segi perkataan. Sehingga faktor media ini sangat berpengaruh pada pola pembinaan akhlak anak. Hal ini dapat dibuktikan dari gaya berpakain Ibu-Ibu pedagang soto. dan perilaku yang lainya. gaya berpakaian. Pengawasan dari keluarga sanagtlah diperlukan. Karena salah satu sifat anak-anak adalah suka menirukan sesuatu yang baru.    4. Dari beberapa keluarga menyebutkan bahwa media eletronik yang berupa televisi sedikit banyak juga mempengaruhi dalam perilaku anak. Yang sering menggunakan pakaian pendek jika keluar rumah. Karena acara-acara di televisi juga harus di filter di sesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.      74   . Hal ini dapat dilihat dari masyarakat yang setiap rumah hampir mempunyai televisi. Dan gaya bicara yang gaul yang kebanyakan menirukan iklan di televisi di tirukan anak-anak mereka. Menurut pengamatan yang dilakukan penulis terhadap keluarga pedagang soto.