Anda di halaman 1dari 100

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini derajat kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia masih belum memuaskan.Hal ini
ditandai dengan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)
yang menjadi salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan khususnya di bidang
kesehatan. Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih lambat terlihat dari
penurunan hanya 25% dari 450/100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 yang hanya
menurun menjadi 334/100.000 kelahiran hidup. (Hadijono, 2003).
Tidak semua kehamilan berakhir dengan persalinan yang berlangsung normal, 30,7%
persalinan disertai dengan komplikasi, dimana bila tidak ditangani dengan cepat dan baik
dapat meningkatkan kematian ibu (Depkes. RI., 2000). Yang menjadi penyebab kematian ibu
di negara berkembang yang berhubungan dengan kehamilan adalah 1) Perdarahan 40 60%,
2) Toksemia Gravidarum 20 30% dan 3) Infeksi 20 30%. Oleh sebab itu diharapkan dapat
menerapkan lima aspek dasar atau Lima Benang Merah yang penting dan saling terkait
dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Dengan demikian diharapkan dapat
mengurangi dan menangani dengan segera morbiditas dan mortalitas ibu bersalin. (Hartanto,
2002).
Masa nifas adalah dimulai setelah melahirkan plasenta berakhir ketika alat-alat kandungan
berakhir seperti keadaan sebelum hamil. Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini
karena merupakan massa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian
ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam
24 jam pertama (Saifuddin, 2002).
Di Indonesia angka kematian bayi dan ibu melahirkan masih tergolong tinggi yaitu mencapai
194/100.000 kelahiran hidup untuk angka kematian bayi pada tahun 1997. penelitian telah
menunjukkan bahwa lebih dari 50% kemtian bayi terjadi dalam perode neonatal yaitu dalam
bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan
menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, kematian.
Misalnya sebagai akibat hipotermi pada bayi baru lahir dapat terjadi cold stress yang
selanjutnya dapat terjadi hipoksemia atau hipoglikemia dan mengakibatkan kerusakan otak.

Ditinjau dari perkembangan dan pertumbuhan bayi periode neonatal merupakan periode yang
paling kritis. Pencegahan asfiksia, menjaga suhu tubuh bayi, terutama pada bayi dengan berat
badan lahir rendah, pemberian air susu ibu (ASI) dalam rangka menurunkan angka kematian
oleh karena diare. Pencegahan terhadap infeksi, pemantauan kenaikan berat badan dan
stimulasi psikologis merupakan tugas pokok bagi pemantau kesehatan bayi dan anak.
Seiring meningkatnya angka kelahiran bayi hidup di Indonesia, membuat angka pertumbuhan
penduduk semakin meningkat. Oleh sebab itu, pemerintah membuat program Keluarga
Berencana (KB) untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Esensi tugas
program Keluarga Berencana (KB) dalam hal ini jelas yaitu menurunkan fertilitas agar dapat
mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi
rakyat dan bangsa Indonesia. Prevalensi KB menurut alat atau cara KB berdasarkan hasil
mini survey peserta aktif tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi KB di Indonesia adalah
66,2%. Alat atau cara KB yang dominan dipakai adalah suntikan (34%), pil (17%) IUD (7%),
implan (4%), MOW (2,6%), MOP (0,3%) Kondom (0,6 ).
1.2 Rumusan Masalah
Jelaskan bagaimana memberikan asuhan kebidanan terhadap pasien dengan kehamilan
normal, persalinan normal, nifas normal, bayi baru lahir normal, dan pelayanan KB normal
dengan pendokumentasian menggunakan SOAP !
1.3 Tujuan
Tujuan Umum
Dapat melakukan asuhan kebidanan pada kehamilan normal, persalinan normal, nifas
normal, bayi baru lahir normal, dan pelayanan KB normal dengan pendokumentasian
menggunakan SOAP secara komprehensif.
Tujuan Khusus
1. Dapat melakukan pengkajian data subjektif terhadap pasien pada kehamilan normal,
persalinan normal, nifas normal, bayi baru lahir normal, dan pelayanan KB normal di
BPM Ny.Sri Indrayani, SST.
2. Dapat melakukan pengkajian data objektif terhadap pasien pada kehamilan normal,
persalinan normal, nifas normal, bayi baru lahir normal, dan pelayanan KB normal di
BPM Ny.Sri Indrayani, SST.
2

3. Dapat menentukan diagnosa terhadap pasien pada kehamilan normal, persalinan normal,
nifas normal, bayi baru lahir normal, dan pelayanan KB normal di BPM Ny.Sri Indrayani,
SST
4. Dapat melakukan rencana tindakan dan evaluasi terhadap pasien pada kehamilan normal,
persalinan normal, nifas normal, bayi baru lahir normal, dan pelayanan KB normal di
BPM Ny.Sri Indrayani, SST
1.4 Manfaat
1. Bagi Institusi
Laporan ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi dalam perpustakaan dan menjadi
sumber informasi bagi mahasiswa akademi kebidanan Universitas Batam.
2. Bagi penulis
Laporan ini sangat berguna untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam penulisan
laporan serta sebagai ilmu dalam mata kuliah yang telah diberikan.
3. Bagi mahasiswa
Laporan ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan para mahasiswa
kebidanan Universitas Batam.

BAB II
LANDASAN TEORI
( ANC,INC,PNC,BBL dan KB )

2.1 ANTENATAL CARE (ANC)


2.1.1 Pengertian ANC
Antenatal care adalah pemeriksaan, perawatan, serta pengawasan selama kehamilan
2.1.2

terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.


Tujuan ANC
1. Tujuan Umum
Menyiapkan seoptimalmungkin fisik dan mental untuk menyelamatkan ibu dan
anak selama kehamilan,persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan bayi
sehat.
2. Tujuan khusus
a. Memantau tujuan kehamilan untuk memastikan keselamatan ibu dan
tumbuh kembang bayi.
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesahatan fisik, mental, dan sosial
ibu dan bayi.
c. Mengenali cara dini adanya ketidaknormakan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termaksud riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat,ibu
maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI

2.1.3

eksklusif.
Jadwal Kunjungan ANC
Kunjungan antenatal sebaliknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.Satu
kali pada trimester pertama (sebelum 14 minggu), Satu kali pada trimester kedua (antara
minggu 14-15 minggu), Dua kali pada triwulan ketiga ( antara minggu 28-36 dan sesudah

2.1.4

2.1.5

minggu ke 36).
Pelayanan / asuhan standar minimal 10 T
Dalam melakukan pemeriksaan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan 10 T :
a. Timbang berat badan
b. Ukur tekanan darah
c. Ukur tinggi fundus uteri
d. Pemberian imunisasi TT lengkap
e. Pemberian tablet zat besi
f. Tes terhadap penyakit menular seksual
g. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
h. Tentukan persentasi janin dan hitung DJJ
i. Tetapkan status gizi
j. Tatalaksana kasus
Standar Pelayanan Ante Natal Care (ANC)
4

Standar 1 : Metode Asuhan


Asuahan kebidanan dilakukan dengan metode manajamen, kebidanan dengan langkah :
Pengumpulan data dan analisis data, penentuan diagnosa perencananevaluasi dan
dokumentasi.
Standar 2: Pengkajian
Pengumpulan data tentang status kesehatan klien di lakukan sacara sistematis
berkesinambungan. Data yang dioeroleh dicatat dan dianalisis.
Standar 3 : Identifikasi ibu hamil
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berintraksi dengan masyarakat secara berkala
untuk memberikan penyuluhan dan memotipasi ibu , suami dan anggota keluarganya agar
mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan teratur.

Standar 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal


Bidan memberi sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan
pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah pembengkakan
berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risti/ kelainan, khususnya
anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS, (Penyakit Menular Seksual) / infeksi HIV (Human
Imumuno Deficiency Virus), memberikan pelayanan imunisasi , nasehat dan penyuluhan
kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas, mereka harus
mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus
mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan
selanjutnya.
Standar 5 : Palpasi Abdomenal
Bidan melakukan pemeriksaan abdomenal secara seksama dan melakukan abdominal
secara seksama dan melakukan palpasi untuk pemeriksaan usia kehamilan, serta bila

umur kehamilan bertambah memeriksa posisi, bagian terendah janin kedalam rongga
panggul, untuk mencari kelainan, serta melakukan rujukan tetap waktu.
Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan
Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan / atau rujukan semua
khasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan
mengenali tanda serta gejala preeklamsi lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat
dan merujuknya.
Standar 8 : Pemeriksaan Persalinan
Bidan memberikan saran yang tepat pada ibu hamil, suami serta keluarganya pada
trimester ketiga, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman
suasana yang menyengkan akan direncanakan dengan baik, disamping persiapan
transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat, bidan
hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hal ini.
2.1.6

Penatalaksanaa Ante Natal Care (ANC)


1. Timbang berat badan
Ukuran berat badan kg tanpa sepatu dan memakai yang seringan-ringannya. Berat
badan kurang dari 45 kg pada trimester III dinyatakan ibu kurus kemungkinan
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Ukur tekanan darah.
2. Ukur (Tinggi) Fundus Uteri
Pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk
memperkirakan usia kehamilanserta bila umur kehamilan bertambah, memeriksa
posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin kedalam rongga panggul,
untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.Pemberian imunisasi
TT lengkap untuk mencegah tetanus neonatorium

2.1.7

Kriteria Keteraturan ANC


Pemeriksaan kehamilan dilakukan berulang-ulang dengan ketentuan sebagai berikut:
6

a. Pemeriksaan pertama kali yang ideal sedini mungkin ketika haidnya terlambat
satu bulan. Periksa ulang 1 x sebelum sampai kehamilan 7 bulan Periksa ulang 2 x
sebulan sampai kehamilan 9 bulan. Pemeriksa ulang setiap minggu sesudah
kehamilan 9 bulan. Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan
b. Berdasarkan keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa, ibu hamil secara ideal
melaksanakan perawatan kehamilan maksimal 13-15 kali. Dan minimal 4 kali,
yaitu 1 kali pada trimester 1, 1 kali pada trimester II dan dua kali pada trimester
III, Namun jika terdapatt kelainana dalam kehamilannya, maka frekuensi
pemeriksaan di sesuaikan menurut kebutuhan masing-masing sehingga dapat di
simpulkan bahwa dikatakan teratur juka ibu hamil melakukan pemeriksaan
kehamilan >4 kali kunjungan, kurang teratur : pemeriksaan kehamilan 2-3 kali
kunjungan dan tidak teratur jika ibu hamil hanya melakukan pemeriksaan
kehamilan < 2 kali kinjungan.
2.1.8

2.1.9

Dampak Ibu Hamil Tidak ANC


a. Meningkatkan angka mortalitas dan mortabilitas ibu
b. Tidak terdeteksinya kelainan-kelainan kehamilan
c. Kelaianan fisik yang terjadi pada saat persalaman tidak dapat dideteksi secara
dini.
Kehamilan
1. Definisi
Pada umumnya kehamilan berkembang secara normal dan mengshasilkan
kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun ini tidak sesuai
dengan yang diinginkan. Sulit sekali diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan
menjadi masalah, oleh karena itu asuhan antenatal merupakan cara penting untuk
memperhatikan ibu dan kehamilannya.
Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah (normal) dan bukan
patologis. Tetapi kondisi normal dapat menjadi patologis/abnormal. Masa hamil
berlangsung 280 hari atau 40 minggu. Setiap perempuan berkepribadian unik dan
kehamilan unik pula, dimana terdiri atas Bio, Psikologis, Social, yang berbeda
pula, sehingga dalam memperlakukan pasien satu dengan yang lainnya juga
berbeda dan tidak boleh disamakan. Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan
dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a. Kehamilan trismester pertama (antara 0 sampai 12 minggu).
b. Kehamilan trismester kedua (antara 12 sampai 28 minggu).
7

c. Kehamilan trismester ketiga/terakhir (antara 28 sampai 40 minggu).


Dimana setiap trimester memiliki ciri khas tertentu. Dikatakan masa kehamilan
dimulai dari masa konsepsi, pertemuan sel sperma dan sel telur, pembuahan,
nidasi, sampai membentuk janin dan terbentuknya seluruh tubuh janin sehingga
saatnya melahirkan.
Pada masa hamil lah terjadinya banyak perubahan pada tubuh ibu misalnya, rahim
membesar karna pertumbuhan janin yang semakin berkembang. Dinding perut
semakin melebar mengikuti pertumbuhan janin, payudara membesar dan tegang
karena produksi ASI.Kehamilan yang sehat akan menghasilkan bayi yang sehat,
dan ibu melahirkan selamat.
2. Fisiologi Kehamilan
Proses kehamilan
Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari
:
a. Ovulasi
Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh system
hormonal yang kompleks. Proses pembuahan ovum (oogenesis) asalnya
dari Epital germinal,oogenium, folikel primer, lalu mengalami proses
pematangan.

Dengan

pengaruh

FSH,

folikel

primer

mengalami

pembuahan dan terjadi folikel degraaf menuju ke permukaan ovarium


disertai pembentukan cairan liquir folikuli.
Desakan folikel degraaf ke permukaan menyebabkan penipisan dan
disertai devaskularisasi. Selama pertumbuhan menjadi folikel degraaf
ovarium mengeluarkan hormon yang dapat mempengaruhi gerakan tuba
yang makin mendekati ovarium, gerakan sel rambut tuba yang semakin
tinggi, peristaltic tuba yang makin aktif. Ketiga faktor ini menyebabkan
aliran cairan dalam tuba makin deras menuju uterus. Dengan pengeruh LH
yang makin besar dan fliktuasi yang mendadak, terjadi proses pelepasan
ovum yang disebut ovulasi. Dengan gerakan aktif gerak tuba yang
mempunyai umbai (fimbriae) maka ovum yang telah dilepaskan segera
ditangkap oleh fimbriae tuba. Proses penangkapan ini disebut ovum pick
8

up mechanism. Ovum yang tertangkap terus berjalan mengikuti tuba


menuju uetrus, dalam bentuk pematangan pertama telah siap untuk
dibuahi.
b. Spermatozoa
Proses pembentukan spermatozoa merupakan proses yang kompleks :

Spermatogenium berasal dari sel primitive tubulus


Menjadi spermatosit pertama
Menjadi spermatosit kedua
Menjadi spermatid
Akhirnya spermatozoa

Bentuk spermatozoa seperti kecebong, yang terdiri atas kepala, leher dan
ekor. Sebagian besar spermatozoa mengalami kematian dan hanya
beberapa ratus yang dapat mencapai tuba fallopi. spermatozoa yang masuk
kedalam alat ganitalia wanita dapat hidup selama 3 hari, sehingga cukup
waktu untuk mengadakan konsepsi.
c. Konsepsi
Pertemuan antara sel ovum dan inti spermatozoa disebut konsepsi atau
fertilisasi dan membentuk zigot.
d. Proses nidasi atau implantasi
Proses penanam blastula disebut nidasi atau implantasi terjadi pada hari
ke-6 sampai hari ke-7 setelah konsepsi. Pada saat tertanamnya blastula
kedalam endometrium, mungkin tejadi perdarahan yang disebut tanda
hartman.
e. Pembentukan Plasenta
Nidasi atau implantasi terjadi pada bagian fundus uteri dinding depan
maupun belakang. Pada bastula penyebarab sel trofoblas mendestruksi
endometrium sampai terjadi pembentukan plasenta yang berasal dari
primer vili korealis.
3. Diagnosa Kehamilan
Kehamilan ditegakkan berdasarkan : gejala dan tanda tertentu yang diperoleh
melalui riwayat dan ditemukan pada pemeriksaan serta hasil laboratorium.
4. Tanda Dugaan Hamil
Amenorea (tidak datng haid).
9

Payudara tegang
Mengidam (ingin makanan khusus)
Mual muntah pagi hari (morning sickness)
Hipersalivasi
Konstipasi
Pigmentasi kulit
5. Tanda Kemungkinan Hamil
a. Pembesaran rahim dan perut,
b. Pada pemeriksaan dijumpai
Tanda hegar
Tanda chadwik
Tanda discasek
Teraba ballottement
c. Reaksi pemeriksaan kehamilan positif
6. Tanda Pasti Hamil
a. Gerakan janin dalam rahim terasa, dan teraba bagian janin.
b. Pemeriksaan USG
c. Terdengar denyut jantung janin.
7. Tahap Perubahan dan Perkembangan Janin, Serta Perubahan Terhadap
Maternal
1) Perubahan dan Perkembangan Janin
0-4 Minggu
Pada minggu-minggu awal ini, janin memiliki panjang tubuh
kurang lebih 2 mm. Perkembangannya juga ditandai dengan
munculnya cikal bakal otak, sum sum tulanh belakang yang masih
sederhana, dan tanda- tanda wajah yang akan terbentuk.
4-8 Minggu
Ketika usia kehamilan mulai mencapai usia 4 minggu, jantung
janin mulai berdetak, dan semua organ tubuh lainnya mulai
terbentuk. Muncul tulang-tulang belakang wajah, mata, kaki dan
tangan.
8-12 Minggu
Saat memasuki minggu-minggu ini, organ-organ tubuh utama janin
telah terbentuk. Kepalanya berukuran lebih besar daripada
badannya,

sehingga

dapat

menampung

otak

yang

terus

berkembang dengan pesat. Dan memilliki dagu, hidung, dan


kelopak mata yang jelas. Di dalam rahim, janin mulai diliputi
cairan ketuban dan dapt melakukan aktifitas seperti menendang
dengan lembut. Organ-organ utama janin kini telah terbentuk.
10

12-16 Minggu
Paru-paru janin mulai berkembang dan detak jantungnya apat
didengarkan melalui ultrasonografi (USG). Wajahnya mulai dapat
menunjukan ekspresi tertentu dan mulai tumbuh alis dan bulu
mata. Kemudia janin sudah mulai dapat memutar kepalanya dan
membuka mulut. Rambutnya mulai tumbuh kasar dan berwarna.
16-20 Minggu
Janin mulai bereaksi terhadap suara ibunya. Akar-akar gigi tetap
telah muncul dibelakang gigi susu. Tubuhnya ditumbuhi rambut
halus yang disebut lanugo. Janin bisa menghisap jempol dan
bereaksi terhadap suara ibunya. Ujung-ujung indra pengecap mulai
berkembang dan bisa membedakan rasa manis dan pahit dan sidik
jari mulai tampak.
20-24 Minggu
Pada sat ini ternyata besar tubuh janin mulai sebanding dengan
badanya. Alat kelaminnya mulai terbentuk, cuping hidungnya muli
terbuka, dan mulai melakukan gerakan pernafassan. Pusat-pusat
tulangntya pun mulai mengeras. Selain itu, Kini ia mulai memiliki
waktu-waktu tertentu untuk tidur.
24-28 Minngu
Di bawah kulit, lemak sudah mulai menumpuk, sedangkan dikulit
kepalanya rambut mulai bertumbuhan, kelompok matanya
membuka, dan otaknya mulai aktif. Janin dapat mendengar, baik
suara dari dalam maupun dari luar (lingkungan). Janin dapat
menegnali suara ibunya dan detak jantungnya bertambah cepat jika
ibunya berbicara. Atau boleh dikatakan pada masa ini merupakan
masa-mas bagi sang janin mempersiapkan dirimenghadapi hari
kelahirannya
28-36 Minggu
Walaupun gerakannya sudah mulai terbatas karna beratnya yang
semakin bertambah, namun matanya sudah mulai bisa berkedip
bila melihat cahaya melalui dinding perut ibunya, kepalanya sudah
mulai mengarah ke bawah. Paru-parunya belum sempurna.
38 Minggu
11

Kepalanya sudah berada pada rongga panggul, seolah-olah


mempersiapkan diri bagi kelahirannya kedunia. Ia kerap berlatih
bernapas, menghisap dan menelan. Rambut-rambut halus di
sekujur tubuhnya mulai menghilang. Ususnya terisi mekonium
(tinja pada bayi baru lahir) yang biasanya akan dikeluarkan dua
hari setelah lahir. Sat ini persalinan sudah amat dekat dan bisa
terjadi kapan saja.
2) Perubahan Terhadap Maternal
Suatu kehamilan normal biasanya berlangsung 280 hari, selama ini terjadi
perubahan yang menakjubkan baik pada ibu maupun janin. Janin
berkembang dari 2 sel ke satu bentuk yang akan mampu hidup di luar
uterus.Adapun perubahan yang terjaid ada 3 bagian, yaitu :
Trimester pertama minggu ke 1-14/ bulan 1-3
Ibu terlambat menstruasi, payudara menjadi nyeri dan membesar,
kelelahan, dan ibu akan mengalami dua gejala terakhir selama 3
bulan berikutnya yaitu morning sickness atau mual muntah yang
biasanya dimulai sekitar 8 minggu dan mungkin berkhir sampai 12
minggu.
Trimester kedua minggu 16-24/ bulan 4-6
Fundus berada ditengah antara simpisis dan pusat, sekris vagina
meningkat tetapi tetap normal juka tidak gatal, iritasi dan berbau,
bulan ke 5 TFU 3 jari dibawah pusat, payudara melai sekresi
kolostrum, kantungketuban menampung 400 ml cairan. Bulan ke 6
fundus sudah diatas pusat, sakit punggung dan kram pada kaki
mungkin melai terjadi, mengalami gatal-gatal pada abdomen
karrena uterus dan kulit merenggang.
Trimester keiga minngu ke 28-36/ bulan 7-9
Fundus berada di pertengahan antara pusat dan PX, hemoroid
mungkin terjadi, pernapasan dada berganti menjadi penapasan
perut, mungkin ibu lelah menjalani kehamilannya dan ingin sekali
menjadi ibu, ibu juga sulit tidur. Bulan kesembilan, penurunan
kepala ke panggul ibu/kepala masuk PAP, sakit punggung dan
12

sering kencing, barxton Hik meningkat karna serviks dan segmen


bawah rahim disiapkan.
8. Perubahan Psikologis Pada ibu hamil
a. Trimester Pertama
Segera setelah, konsepsi kadar hormon progesteron dan estrogen dalam
tubuh akan meningkat dan ini menyebabkan timbulkan mual muntah pada
pagi hari, lemah, lelah dan besarnya payudara, bu merasa tiak sehat dan
sering kali membenci kehamilannya, pada trimester pertama seorang ibu
akan selalu mencari tanda-tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya
memang hamil.
b. Trimester Kedua
Pada trimester kedua biasanya adalah saat ibu merasa sehat, ibu sudah
terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman
karena hamil sudah berkurang, perut ibu belum teralu besar sehingga
belum dirasakan sebagai beban, ibu sudah menerima kehamilannya dan
mulai dapat merasakan gerakan bayinya, dan ibu mulai merasakan
kehadiran bayinya, banyak ibu terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak
nyaman seperti yang dirasakannya pada trimester pertama.
c. Trimester ketiga
Trimester ketiga sering kali disebut periode menggu atau waspada sebab
pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Gerakan
bayi dan membesarnya perut merupakan 2 hal yang mengingatkan ibu
akan bayinya. Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan
lahir sewaktu-waktu, ini menyebabkan ibu meningkatkankewaspadaan
akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadi persalinan, ibu sering kali
merasa khawatir atau kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal.
9. Nasihat-nasihat Untuk Ibu Hamil
a. Diet dan Pengawasan Berat Badan
Wanita hamil dan menyusui harus betul-betul mendapat perhatian susunan
dietnya, terutama mengenai jumlah kalori, ptotein yang berguna untuk
pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat
menyebabkan anemia, abortus, perdarahan pasca persalinan dan
sebagainya. Sedangkan makanan berlebihan karna dianggap untuk 2 orang
13

(ibu dan janin), dapat mengakibatkan komplikasi-komplikasi seperti


gemuk, pre-eklamsi, janin besar dan sebagainya. Anjurkan wanita tersebut
makan secukupnya saja. Bahan makanan tak perlu mahal, akan tetapi
cupup mengandung protein baik hewani maupun nabati. Seperti diketahui,
kebutuhan akan gizi selama kehaminan meningkat. Adapun kebutuhan ini
dipergunakan untuk pertumbuhan plasenta, perumbuhan voluma darah,
mamae membesar dan metabolisme basal yang meningkat. Sebagai
pengawasan akan kecukupan gizi ini dapat dipai kenaikan berat badan
wanita himil tersebut. Kenaikan berat badan wanita hamil rata-rata 6.5 kg
sampai 16 kg.
b. Merokok
Merokok adalah kebiasaan yang dilarang keras, baik pada saat hamil
maupun tidak hamil dan baik merokok secara katif maupun pasif. Adalah
kenyataan bahwa wanita-wanita yang terlalu banyak merokok melahirkan
anak yang lebih kecil, atau mudah mengalami abortus dan partus
prematurus. Maka dari itu, sebaiknya wanita hamil dilarang merokok.
c. Obat-obatan
Jangan memberikan obat yang tidak perku benar, terutama pada trimester
pertama dan kedua kehamilan. Ada obat yang teratogenik sehingga dapat
meenimbulkan kelainan teratogenik pada janin, misalnya thalidomid, yang
sekarang telah dicabut dalam peredaran.
d. Kebersihan dan Pakaian
Kebersihan harus selalu dijaga pada masa kehamilan. Mandi diperlukan
untuk kebersihan atau hygiene terutama perawatan kulit, karena fungsi
ekskresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun yang
lembut/ringan. Mandi berendam tidak dianjurkan. Baju hendaknya yang
longgar dan mudah dipakai. Sepatu atau alas kaki lain dengan tumit tinggi
hendaknya jangan dipakai, oleh karena itu tempat titik berat wanita hamil
berubah, sehingga mudah tergelincir dan terjatuh.
e. Koitus
Bila dalam anamnesa ada abortus sebelum kehamilan yang sekarang,
sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. Pada waktu itu
plasenta sudah terbentuk, serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil.
14

Pada umumnya koitus memang diperbolehkan pada kehamilan jika


dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir kehamilan, jika kepala sudah
masuk PAP, koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan
perasaan sakit dan perdarahan
f. Perawatan Gigi
ada trimester pertama wanita hamil mengalami enek dan muntah (morning
sickness). Keadaan ini menyebabkan perawatan gigi tidak diperhatikan
dengan baik, sehingga tumbuh karies, ginggivitis, dan sebagainya. Bila
kerusakan gigi ini tidak diperhatikan dengan baik, hal itu dapat
mengakibatkan komplikasi, seperti nefritis oleh karena rongga mulut.
Misalnya, pulpitis, yang telah menahun, dapat menjadi sarang infeksi yang
dapat

menyebar

kemana-mana.

Maka

dari

itu

bila

keadaan

memungkinkan, tiap hamil harus memeriksakan gignya secara teratur


sewaktu hamil.
g. Imunisasi
Tiap wanita hamil yang akan berpergian keluar negri dan di dalam negri
dibolehkan mengambil vaksinasi ulangan terhadap cacar, colera dan tifus.
Dahulu di indonesia pencacaran merupakan suatu keharusan, maka untuk
wanita hamil opencacaran merupakan pencacaran ulang yang tidak
membahayakan. Tapi bila ada wabah, maka pencacaran walaupun untuk
pertama kali tetap dilkukan untuk melindungi ibu dan janin. Virus vaksin
dapat melewati plasenta dan dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan
pada macam-macam alat dan plasenta. Biasanya infeksi transplasenta
hanya terjadi pada wanita hamil yang baru pertama kali dicacar. Maka dari
itu dianjurkan untuk pencacaran pertama sebaiknya dilakukan sebelum tua
kehamilan melewati 20 minggu. Untuk melindungi janin yang akan
dilahirkan terhadap tetanus neonatorium dewas ini dianjurkan untuk
diberikan toxoid tetanus pada ibu hamil.
h. Perawatan Payudara
Perawatan payudara merupakan sumber air susu yang akan menjadi
makanan utama bagi bayi, karena itu, jauh sebelumnya harus sudah
dirawat. BH yang dipakai harus sesuai dengan besarnya payudara, yang
sifatnya harus menyokong payudara dari bawah, bukan menekan dari
15

depan. Dua bulan sekali dilakukan massage, kolostrum dikeluarkan untuk


mencegah puting susu kering dan mudah pecah, maka putting susu dan
aerola payudara dirawat baik-baik dengan cara dibersihkan menggunakan
air sabun atau biocream bila puting susu masuk kedalam perbaiki dengan
cara menarik-narik keluar.
i. Posisi Meneran
Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin atau melahirkan
memilih posisi melahirkan yang diinginkan dan bukan berdasarkan
keinginkan bidanya sendiri. Dengan kebebasan untuk menentukan posisi
yang dipilihnya, ibu akan merasa aman. Berdasarkan penelitian pilihan
posisi berdasarkan keinginan ibu :
Memberi banyak manfaat
Sedikit rasa sakit dan ketidaknyamanan
Kala II persalinan dapat menjadi lebih sedikit
Lebih membantu dalam meneran
Nilai APGAR lebih baik.
Posisi untuk meneran :
Posisi berjongkok, berlutut, merangkak
Posisi jongkok/ setengah jongkok
Posisi merangkak
Posisi mereng ke samping
Posisi berdiri
j. Cara Mengedan
Mengedan baru boleh dilakukan setelah pembukaan lengkap, yaitu mulut
rahim sudah membuka kira-kira 10 cm. Jika para calon ibu mengedan
sebelum pembukaan lengkap, bisa-bisa mulut rahim pembengkakan dan
bisa menghambat proses pembukaan dan berujung pada lamanya proses
persalinan. Juga agar ibu tidak tidak kehabisan tenaga karena tidak
kelelahan pada waktu tiba sebenarnya untuk waktu para ibu harus menarik
nafas panjang untuk menghindari rasa ingin mengedan dan mengurangi
rasa nyeri kontraksi
10. Perubahan Fisiologi Pada Saat Kehamilan
Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genetalia wanita mengalami
perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan
pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan
16

hormon somato mammatropin, estrogen dan progesterone yang menyebabkan


perubahan pada :
a. Rahim atau uterus
Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan
mengalami hipertropi dan hyperplasia, sehingga menjadi seberat 1000
gram saat akhir kehamilan otot rahim mengalami hyperplasia dan
hipertropi menjadi lebih besar, lunak dan dapat mengikuti pembesaran
rahim karena pertumbuhan janin.
b. Vagina (liang senggama)
Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena
pengaruh estrogen sehingga tampak makin merah dan kebiru- biruan
(tanda chadwiks).
c. Ovarium (indung telur)
Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung korpus
luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya
plasenta yang sempurna pada umur kehamilan 16 minggu.Kejadian ini
tidak dapat lepas dari kemampuan vili korealis yang mengeluarkan
hormon korionik gonadotropin yang mirip dengan hormon luteotropik
hipofisis anterior.
d. Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan
memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat di
lepaskan dari pengaruh hormon saat kehamilan yaitu estrogen, progesteron
dan somatomammatropin.
e. Sirkulasi darah ibu
Peredaran darah ibu di pengaruhi oleh beberapa faktor:
Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi
kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
Terjadinya hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi
retroplasenter.
Pengaruh hormon estrogen dan progesteron makin meningkat
akibat dari faktor tersebut di jumpai beberapa perubahan peredaran
darah.
Volume darah semakin meningkat dimana jumlah serum darah
lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam
pengenceran.
17

11. Menentukan Umur Hamil


Umur hamil dapat ditentukan dengan:
a. Rumus Naegle
Rumus Naegle untuk menentukan hari perkiraan lahir (HPL, EDC=
Expected

Date

of

Confinement).

Rumus

ini

terutama

berlaku

untuk wanita dengan siklus 28 hari sehingga ovulasi terjadi pada hari ke
14. Rumus Naegle memperhitungkan umur kehamilan berlangsung selama
288 hari.Perhitungan kasarnya dapat dipakai dengan menentukan hari
pertam haid dan ditambah 288 hari, sehingga perkiraan kelahiran dapat
ditetapkan. Rumus Naegle dapat dihitung hari haid pertama ditambah 7
(tujuh) dan bulannya dikurang 3 (tiga) dan tahun ditambah 1 (satu).
b. Gerakan pertama fetus
Gerakan pertama fetus dapat dirasakan pada umur kehamilan 16 minggu.
1. Palpasi abdomen dapat menggunakan :
Rumus Bartholomew
Antara simpisis pubis dan pusat dibagi menjadi 4 bagian yang
sama,

maka

bulan. Fundus

tiap

bagian

uteri teraba

menunjukkan

tepat

penambahan

di simpisis umur kehamilan 2

bulan (8 minggu). Antara pusat sampai prosesus xifoideus dibagi


menjadi 4 bagian dan tiap bagian menunjukkan kenaikan 1 bulan.
Tinggi fundus uteri pada umur kehamilan 40 minggu (bulan ke-10)
kurang lebih sama dengan umur kehamilan 32 minggu (bulan ke8).
Rumus Mc Donald
Fundus uteri diukur dengan pita. Tinggi fundus dikalikan 2 dan
dibagi 7 memberikan umur kehamilan dalam bulan obstetrik dan
bila dikalikan 8 dan dibagi 7 memberikan umur kehamilan dalam
minggu.
Palpasi Leopold
c. Palpasi abdomen
Merupakan teknik pemeriksaan pada perut ibu bayi untuk
posisi

dan

letak janin dengan

menentukan

melakukan palpasi abdomen.

Palpasi leopold terdiri dari 4 langkah yaitu :


Leopold I : Leopold I bertujuan untuk mengetahui letak fundus
uteri dan bagian lain yang terdapat pada bagian fundus uteri.
18

Leopold II : Leopold II bertujuan untuk menentukan punggung dan


bagian kecil janin di sepanjang sisi maternal.
Leopold III : Leopold III bertujuan untuk membedakan bagian
persentasi dari janin dan sudah masuk dalam pintu panggul.
Leopold IV : Leopold IV bertujuan untuk meyakinkan hasil yang
ditemukan pada pemeriksaanleopold III dan untuk mengetahui
sejauh

mana

bagian

presentasi

sudah

masuk pintu

atas

panggul memberikan informasi tentang bagian presentasi: bokong


atau kepala,

sikap/attitude

(fleksi

atau

ekstensi),dan station (penurunan bagian presentasi).


d. Perkiraan tinggi fundus uteri
Taksiran ini hanya berlaku untuk janin dengan presentasi kepala.
Rumusnya adalah sebagai berikut:
Tinggi fundus uteri (dalam cm-n) x 155 = berat (gram)
Bila kepala belum masuk panggul maka n-12,
jika kepala sudah masuk panggul maka n-11.
Perkiraan Tinggi Fundus Uteri
Cara menentukan kehamilan dengan perkiraan tinggi fundus uteri:
Mempergunakan tinggi fundus uteri
Umur Kehamilan
12 minggu
16 minggu
20 minggu
24 minggu
28 minggu
34 minggu
36 minggu
40 minggu

Tinggi Fundus Uteri


1/3 di atas simpisis
simpisis-pusat
2/3di atas simpisis
Setinggi pusat
1/3 di atas pusat
pusat-prosessus xifoideus
Setinggi prosessus xifoideus
2 jari di bawah prosessus
xifoideus

19

Menggunakan alat ukur caliper


Caliper digunakan dengan meletakkan satu ujung pada tepi atas
simfisis pubis dan ujung yang lain pada puncak fundus. Kedua
ujung diletakkan pada garis tengah abdominal. Ukuran kemudian
dibaca pada skala cm (centimeter) yang terletak ketika 2 ujung
caliper

bertemu.

Ukuran

diperkirakan

sama

dengan

minggu kehamilan setelah sekitar 22-24 minggu.


Menggunakan pita ukur
Pita ukur merupakan metode akurat kedua dalam pengukuran TFU
setelah 22-24 minggukehamilan.Titik nol pita pengukur diletakkan
pada tepi atas simfisis pubis dan pita pengukur ditarik melewati
garis tengah abdomen sampai puncak. Hasil dibaca dalam skala
cm, ukuran yang terukur sebaiknya diperkirakan sama dengan
jumlah minggu kehamilan setelah 22-24 minggu kehamilan.
Menggunakan pita ukur dengan metode berbeda
12. Tingkat Kesadaran
a Compos mentis, yaitu sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya
maupun terhadap lingkungannya. Pasien dapat menjawab pertanyaan
pemeriksa dengan baik.

20

Apatis, yaitu keadaan di mana pasien tampak segan dan acuk tak acuh

terhadap lingkungannya.
Delirium, yaitu penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan
siklus tidur bangun yang terganggu.Pasien tampak gaduh gelisah,

kacau, disorientasi dan meronta-ronta.


Somnolen(letergia, obtundasi, hipersomnia),

yaitu

keadaan

mengantuk yang masih dapat pulih bila dirangsang, tetapi bila


e

rangsang berhenti, pasien akan tertidur kembali.


Sopor (stupor), yaitu keadaan mengantuk yang dalam, Pasien masih
dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat, misalnya rangsang
nyeri, tetapi pasien tidak terbangun sempurna dan tidak dapat

memberikan jawaban verbal yang baik.


Semi-koma (koma ringan), yaitu penurunan kesadaran yang tidak
memberikan respons terhadap rangsang verbal, dan tidak dapat
dibangunkan sama sekali, tetapi refleks (kornea, pupil) masih baik.

Respons terhadap rangsang nyeri tidak adekuat.


Koma, yaitu penurunan kesadaran yang sangat dalam, tidak ada
gerakan spontan dan tidak ada respons terhadap rangsang

2.2 INC ( INTRA NATAL CARE )


2.2.1

PENGERTIAN
persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan
lahir (Saifudin, abdul bari.2002)
Persalinan adalah proses pengluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus
melelui vagina ke dunia luar (Wiknjosastro, 2006)
Persalinan normal adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan ibu
sendiri, tanpa bantuan alat alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya
berlangsung kurang dari 24 jam (mochtar, rustam.1998)

2.2.2

Sebab-sebab Persalinan
Sebab terjadinya persalinan sampai kini masih merupakan teori teori yang kompleks.
Faktor faktor humoral, pengaruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus,
21

pengaruh syaraf dan nutrisi di sebut sebagai faktor faktor yang mengakibatkan
persalinan mulai.
Menurut Wiknjosastro (2006) mulai dan berlangsungnya persalinan, antara lain :
a. Teori penurunan hormon
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron yang terjadi kira kira 1 2
minggu sebelum partus dimulai. Progesterone bekerja sebagai penenang bagi otot
otot uterus dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul
his bila kadar progesterone turun.
b. Teori plasenta menjadi tua
Villi korialis mengalami perubahan perubahan, sehingga kadar estrogen dan
progesterone menurun yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini
akan menimbulkan kontraksi rahim.
c.

Teori berkurangnya nutrisi pada janin


Jika nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera di keluarkan.

d. Teori distensi rahim


Keadaan uterus yang

terus

menerus

membesar

dan

menjadi

tegang

mengakibatkan iskemia otot otot uterus. Hal ini mungkin merupakan faktor
yang dapat menggangu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta menjadi
degenerasi.
e. Teori iritasi mekanik
Tekanan pada ganglio servikale dari pleksus frankenhauser yang terletak di
belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus akan timbul.
f. Induksi partus (induction of labour)
Parus dapat di timbulkan dengan jalan :
Gagang laminaria : beberapa laminaria di masukkan dalam kanalis

2.2.3

servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser.


Amniotomi : pemecahan ketuban.
Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan infuse.
Patofisiologi Persalinan
a. Tanda tanda permulaan persalinan
Menurut Manuaba (1998), tanda tanda permulaan peralinan :
Lightening atau settling atau dropping
Yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada
primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
Perut kelihatan lebih melebar, fundus uterus turun.
22

Perasaan sering sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung


kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
Perasaan sakit di perut dan di pegang oleh adanya kontraksi. Kontraksi
lemah di uterus, kadang kadag di sebut traise labor pains.
Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah juga

bercampur darah (bloody show)


Tanda tanda inpartu.
Menurut Mochtar (1998), tanda tanda inpartu :
- Rasa sakit oleh adanya his yang dating lebih kuat, sering dan
-

teratur
Keluar lender bercampur darah (show) yang lebih banyak karena

Robekan-robekan kecil pada serviks


Kadang kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah
ada

2.2.4

Pembagian Tahap Persalinan


a. Kala I (Pembukaan)
Menurut azwar (2004), persalinan kala I adalah pembukaan yang berlangsung
antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Dengan ditandai dengan :
Penipisan dan pembukaan serviks.
Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi
minimal 2 kali dalam 10 menit).
Keluarnya lendir bercampur darah.
Menurut wiknjosasto, kala pembukaan di bagi atas 2 fase yaitu :
a) Fase laten
Pembukaan serviks berlangsung lambat, di mulai dari pembukaan 0
sampai pembukaan 3 cm, berlangsung kira kira 8 jam.
b) Fase aktif
c) Dari pembukaan 3 cm sampai pembukaan 10 cm, belangsung kira kira 7
cm. Di bagi atas :
Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 cm menjadi 4.
Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung sangat cepat, dari pembukaan 4 cm menjadi 9 cm
Fase deselarasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam
pembukaan jadi 10 cm.

23

Kontraksi menjadi lebih kuat dan sering pada fase aktif. Keadaan tersebut dapat
dijumpai pada primigravida maupun multigravida, tetapi pada multigravida fase
laten, fase aktif das fase deselerasi terjadi lebih pendek.
Primigravida
Osteum uteri internum akan membuka terlebih dahulu sehingga
serviks akan mendatar dan menipis. Keadaan osteum uteri
eksternal membuka, berlangsung kira kira 13 14 jam.
Multigravida
Osteu uteri internum sudah membuka sedikit sehingga osteum uteri
internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks
terjadi dalam waktu yang bersama.
b. Kala II (pengluaran)
Menurut winkjosastro (2002), di mulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai
bayi lahir. Pada primigravida berlangsung 2 jam dan pada multigravida
berlangsung 1 jam.
Pada kala pengluaran, his terkoordinir, kuat, cepat dan lebih lama, kira kira 2 -3
menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi
tekanan pada otot otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa
mengedan. Karena tekanan pada rectum, ibu merasa seperti mau buang air bersih,
dengan tanda anus terbuka.
Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum
meregang. Dengan his mengedan maksimal kepala janin di lahirkan dengan
suboksiput di bawah simpisis dan dahi, muka, dagu melewati perineum. Setelah
his istriadat sebentar, maka his akan mulai lagi untuk meneluarkan anggota badan
bayi.
c. Kala III (pelepasan uri)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengluaran uri (mochtar, 1998). Di
mulai segera setelah bayi baru lahir samapi lahirnya plasenta ysng berlangsung
tidak lebih dari 30 menit (saifudin, 2001)
1. Tanda dan gejala kala III
Menurut depkes RI (2004) tanda dan gejala kala III adalah : perubahan
bentuk dan

tinggi fundus uteri, tali pusat memanjang, semburan darah

tiba tiba.
2. Fase fase dalam pengluaran uri (kala III)
Menurut Mochtar (1998) fase fase dalam pengluaran uri meliputi :
24

Fase pelepasan uri


Cara lepasnya uri ada beberapa macam, yaitu :
o Schultze : lepasnya seperti kita menutup payung , cara ini
paling sering terjadi (80%). Yang lepas duluan adalah
bagian tengah, kemudian seluruhnya.
o Duncan : lepasnya uri mulai dari pinggir, uri lahir akan
mengalir keluar antara selaput ketuban pinggir plasenta.
Fase pengeluaran uri
Perasat perasat untuk mengetahui lepasnya uri, antara lain :
o Kustner, dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada
atas simfisis, tali pusat di tegangkan maka bila tali pusat
masuk (belum lepas), jika diam atau maju ( sudah lepas).
o Klein, saat ada his, rahim kita dorong sedikit, bila tali
pusat kembali ( belum lepas), diam atau turun ( sudah
lepas).
o Strassman, tegangkan tali pusat dan ketok fundus bila tali
pusat bergetar (belum lepas), tidak bergetar (sudah lepas),
rahim menonjol di atas simfisis, tali pusat bertambah
panjang, rahim bundar dan keras, keluar darah secara tiba
tiba.
d. Kala IV ( obsevasi )
Menurut saifudin (2002), kala IV dimulai dari saat lahirnya plasena sampai 2 jam
pertama post partum. Observasi yang di lkukan pada kala IV adalah :
Tingkatk kesadaran
Pemeriksaan tanda tanda vital, tekanan darah, nadi dan
pernafasan
Kontraksi uterus
Perdarahan : dikatakan normal jika tidak melebihi 500 cc.

2.2.5

Mekanisme Persalinan Normal


Menurut Manuaba (1999) gerakan gerakan janin dalam persalinan adalah sebagai
berikut :
a. Engagement ( masuknya kepala ) : kepala janin berfiksir pada pintu atas panggul.
b. Descent ( penurunan )
Penurunan di laksanakan oleh satu / lebih.
25

Tekanan cairan amnion


Tekanan langsung fundus pada bokong kontraksi otot abdomen.
Ekstensi dan penelusuran badan janin.
Kekuatan mengejan.
c. Fleksion (fleksi)
Fleksi di sebabkan karena anak di dorong maju dan ada tekanan pada PAP,
serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Pada fleksi ukuran kepala yang
melalui jalan lahir kecil, karena diameter fronto occopito di gantikan diameter sub
occipito.
d. Internal rotation ( rotasi dalam)
Pada waktu terjadi pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian
terendah dari janin memutar ke depan ke bawah simfisis ( UUK berputar ke depan
sehingga dari dasar panggul UUK di bawah simfisis)
e. Extensition ( ekstensi )
Ubun ubun kecil (UUK) di bawah simfisis maka sub occiput sebagai
hipomoklion, kepala mengadakan gerakan defleksi ( ekstensi ).
f. External rotation (rotasi luar)
Gerakan sesudah defleksi untuk menyesuaikan kedudukan kapala denga
punggung anak.
g. Expulsion ( ekspusi ) : terjadi kelahiran bayi seluruhnya.
2.2.6

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan


Menurut mochtar ( 1998 ) faktor fakor yang berperan dalam persalinan antara lain :
a) Jalan lahir (passage)
Jalan lahir di bagi atas :
o Bagian keras tulang tulang panggul ( rangka panggul ).
o Bagian lunak panggul.
Anatomi jalan lahir
o Jalan lahir keras : pelvis/panggul
Terdiri dari 4 buah tulang, yaitu :
- Os.coxae, terdiri dari : os. Illium, os. Ischium, os.pubis
- Os.sacrum : promontorium
- Os.coccygis.
Tulang panggul di pisahkan oleh pintu atas panggul menjadi 2
bagian :
-

Pelvis major : bagian di atas pintu atas panggul dan tidak

berkaitan dengan persalinan.


Pelvis minor : menyerupai suatu saluran yang menyerupai
sumbu melengkung ke depan.
26

o Jalan lahir lunak : segmen bawah rahim, serviks, vagina, introitus


vagina, dan vagina, muskulus dan ligamentum yang menyelubungi
dinding dalam dan bawah panggul.
Bidang bidang Hodge
Adalah bidang semu sebagai pedoman untuk menentukan kemajuan
persalinan, yaitu seberapa jauh penurunan kepala melalui pemeriksaan
dalam. Bidang hodge :
o Hodge I
: promontorium pinggir atas simfisis
o Hodge II
: hodge I sejajar pinggir bawah simfisis
o Hodge III
: hodge I sejajar ischiadika
o Hodge IV
: hodge I sejajar ujung coccygeus
Ukuran ukuran panggul :
o
o
o
o
o

Distansia spinarium (24 26 cm)


Distansia cristarium (28 30 cm)
Conjugate externa (18 20 cm)
Lingkar panggul (80-90 cm)
Conjugate diagonalis (12,5 cm)

b) Passenger ( janin dan plasenta )


Janin
Persalinan normal terjadi bila kondisi janin adalah letak bujur, presentasi
belakang kepala, sikap fleksi dan tafsiran berat janin <4000 gram.
Plasenta
Plasenta berada di segmen atas rahim (tidak menhalangi jalan rahim).
Dengan tuanya plasenta pada kehamilan yang bertambah tua maka
menyebabkan

turunya

kadar

estrogen

dan

progesterone

sehinga

menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan


kontraksi.
Power (kekuatan)
Yaitu faktor kekuatan ibu yang mendorong janin keluar dalam persalinan
terdiri dari :
o His (kontraksi otot rahim)
His yang normal mempunyai sifat :
- Kontraksi dimulai dari salah satu tanduk rahim.
- Fundal dominan, menjalar ke seluruh otot rahim.
Kekuatannya seperti memeras isi rahim dan otot rahim
yang berkontraksi tidak kembali ke panjang semula

27

sehinnga terjadi refleksi dan pembentukan segmen bawah


rahim.
o Kontraksi otot dinding perut.
o Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
o Ketegangan dan kontraksi ligamentum
2.2.7

Perubahan Perubahan Fisiologis Dalam Persalinan


Menurut pusdiknakes 2003, perubahan fisiologis dalam persalinan meliputi :
a. Tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan kenaikan
sistolik rata rata 10 20 mmHg dan kenaikan diastolic rata rata 5-10
mmHg. Diantara kontraksi uterus, tekanan darah kembali normal pada
level sebelum persalinan. Rasa sakit, takut dan cemas juga akan
meningkatkan tekanan darah.
b. Metabolism
Selama persalinan metabolism karbohidrat aerobic maupun metabolism
anaerobic akan naik secara berangsur disebabkan karena kecemasan serta
aktifitas otot skeletal. Peningkatan inni ditandai dengan kenaikan suhu
badan, denyut nadi, pernafasan, kardiak output, dan kehilangan cairan.
c. Suhu badan
Suhu badan akan sedikit meningkat selam persalinan, terutama selam
persalinan dan segera setelah kelahiran. Kenaikan suhu di anggap normal
jika tidak melebihi 0.5 1 C.
d. Denyut jantung
Berhubungan dengan peningkatan metabolisme, detak jantung secara
dramatis naik selama kontraksi. Antara kontraksi, detak jantung sedikit
meningkat di bandingkan sebelum persalinan.
e. Pernafasan
Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka terjadi peningkatan laju
pernafasan yang di anggap normal. Hiperventilasi yang lama di anggap
tidak normal dan bias menyebabkan alkalosis.
f. Perubahan pada ginjal
Poliuri sering terjadi selama persalinan, mungkin di sebabkan oleh
peningkatan filtrasi glomerulus dan peningkatan aliran plasma ginjal.
Proteinuria yang sedikit di anggap biasa dalam persalinan.
g. Perubahan gastrointestinal
28

Motilitas lambung dan absorpsi makan padat secara substansial berkurang


banyak sekali selama persalinan. Selai itu, pengeluaran getah lambung
berkurang, menyebabkan aktivitas pencernaan hamper berhenti, dan
pengosongan lambung menjadi sangat lamban. Cairan tidak berpengaruh
dan meninggalkan perut dalam tempo yang biasa. Mual atau muntah biasa
terjadi samapai mencapai akhir kala I
h. Perubahan hematologi
Hematologi meningkat sampai 1,2 garam/100 ml selama persalinan dan
akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah pasca
persalinan kecuali ada perdarahan post partum.
2.2.8

Perubahan Psikologi Pada Ibu Bersalinan Menurut Varney (2006) :


1.

Pengalaman sebelumnya
Fokus wanita adalah pada dirinya sendiri dan fokus pada dirinya sendiri
ini timbul ambivalensi mengenai kehamilan seiring usahanya menghadapi
pengalaman yang buruk yang pernah ia alami sebelumnya, efek kehamilan
terhadap kehidupannya kelak, tanggung jawab ,yang baru atau tambahan
yang akan di tanggungnya, kecemasan yang berhubungan dengan
kemampuannya untuk nenjadi seorang ibu.

2.

Kesiapan emosi
Tingkat emosi pada ibu bersalin cenderung kurang bias terkendali yang di
akibatkan oleh perubahan perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri
serta pengaruh dari orang orang terdekatnya, ibu bersalin biasanya lebih
sensitive terhadap semua hal. Untuk dapat lebih tenang dan terkendali
biasanya lebih sering bersosialisasi dengan sesame ibu ibu hamil lainnya
untuk saling tukar pengalaman dan pendapat.

3.

Persiapan menghadapi persalinan ( fisik, mental,materi dsb)


Biasanya ibu bersalin cenderung mengalami kekhawatiran menghadapi
persalinan, antara lain dari segi materi apakah sudah siap untuk
menghadapi kebutuhan dan penambahan tanggung jawab yang baru
dengan adnya calon bayi yang akan lahir. Dari segi fisik dan mental yang

29

berhubungan dengan risiko keselamtan ibu itu sendiri maupun bayi yang
di kandungnya.
4.

Support system
Peran serta orang orang terdekat dan di cintai sangat besar pengaruhnya
terhadap psikologi ibu bersalin biasanya sangat akan membutuhkan
dorongan dan kasih saying yang le bih dari seseorang yang di cintai untuk
membantu kelancaran dan jiwa ibu itu sendiri.

2.2.9

Penatalaksanaan Ibu Bersalin Normal


Penatalaksanaan ibu bersalin normal kala I sampai dengan kala IV
a. Asuhan kala I
Menurut depkes RI (2004), asuhan kala I yaitu :
Melakukan pengawasan menggunakan partograf mulai pembukaan 410 cm
Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai
pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam .
Menilai dan mencatat kondisi ibu dan bayi yaitu :
o DJJ setiap 30 menit
o Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus tiap 30 menit
o Nadi setiap 30 menit
o Pembukaan serviks tiap 4 jam
o Penurunan kepala tiap 4 jam
o Tekanan darah tiap 4 jam
o Temperature tubuh timpat 2 jam
o Produksi urin, aseton, dan protein setiap 2 jam.
Pengawasan 10, menurut saifudin (2002) meliputi :
o Keadaan umum
o Tekanan darah
o Nadi
o Respirasi
o Temperature
o His/ kontraksi
o DJJ
o Pengluaran pevaginam
o Bandle ring
o Tanda tanda kala II :
Menurut Azwar (2007), tanda tanda kala II :
-

Ibu mempunyai untuk meneran


30

Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada

rectum dan vaginanya


Perineum menonjol
Vulva, vagina spingter anal membuka

Menurut saifudin ( 2002 ), asuhan kala I adalah :


Bantulah ibu dalam poersalinan jika ibu tampak gelisah, ketakutan dan
kesakitan :
o Berikan dukungan dan yakinkan dirinya.
o Berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinannya.
o Dengarkanlah keluhannya
o Dan cobalah untuk lebih sensitive
Jika ibu tersebut tampak kesakitan, dukungan atau asuhan yang dapat
diberikan :
o Lakukan berubahan posisi
o Posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika ibu ingin di tempat
tidur sebaiknya di anjurkan tidur miring ke kiri
o Sarankan ibu untuk berjalan
o Ajaklah orang untuk menemaninnya ( suami/ ibunya ) untuk
memijat dan menggosok punggungnya atau membasuh mukenya di
antara kontraksi.
o Ibu di perbolehkan

melakukan

aktivitas

sesuai

dengan

kesanggupannya.
o Ajarkan kepadanya teknik bernafas : ibu di minta untuk menarik
nafas panjang, menahan nafasnya sebentar kemudian di lepaskan
dengan cara meniup udara keluar sewaktu terasa kontraksi.
o Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan, antara
lain menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang
lain tanpa sepengetahuan dan seijin pasien/ibu.
o Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta
prosedur yang akan di laksanakan dan hasil2 pemeriksaan.
o Memperbolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar
kemaluannya setelah BAK/BAB
o Ibu bersalin biasanya merasa panas dan bnyak keringat, atasi
dengan cara :
- Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar.
- Menggunakan kipas biasa.
- Menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya.
31

o Untuk memenuhi kebutuhan energy dan mencegah dehidrasi,


berikan cukup minum.
o Sarankan ibu untuk berkemih sesegera mungkin.
b. Partograf
Partograf adalah alat untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas
kesehatan dalam menentukan keputusan dalam penatalaksanaan.( saifudin, abdul bari.
2002). Partograf adalah alat bantu yang di gunakan selama fase aktif persalinan ( depkes
RI, 2004).
Menurut depkes RI (2004), tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk :
Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai serviks
melalui pemeriksaan dalam.
Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan dengan normal. Dengan
demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan
terjadinya partus lama
Menurut depkes RI (2004) partograf harus digunakan :
Untuk semua ibu dalam fase aktif kala I persalinan sebagai elmen penting
asuhan

persalinan. partograf harus di gunakan, baik ataupun adanya

penyulit.
Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau,
menevaluasi dan membuat keputusan klinik baik persalinan normal
maupun yang disertai dengan penyulit.
Selama persalinan dan kelahiran di

semua

tempat

rumah,

puskesmas,klinik bidan swasta, rumah sakit,DLL).


Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan
kepada ibu sekama pesalinan dan kelahiran ( dr. spesialis obstetric
ginekologi, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteron).
Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinnya mendapatkan
asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu juga mecegah terjadinya penyulit yang
dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.
Mencatat temuan pada partograf :
1.

Informasi tentang ibu

32

Lengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan
persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai : jam pada partograf) dan
perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan catat waktu
terjadinya pecah ketuban.
2.

Kesehatan dan kenyamanan janin


Kolom,lajur dan skala pada partograf adalah untuk pencatatn DJJ, air ketuban dan
penyusupan ( kepala janin ).
a) DJJ
Dengan menggunakan metode seperti yang di urauikan pada bagian
pemeriksaan fisik, nilai dan catat DJJ setiap 30 menit ( lebih sering jika
ada tanda tanda gawat janin).
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal 180.
b)

Tetapi,penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di


Warna dan adanya air ketuban
Nilai air ketuban setiap kali di lakukan pemeriksaan dalam, dan nilai
warna air ketuban pecah. Catat temuan temuan dalam kotak yang sesuai
di bawah lajur DJJ.
Gunakan gunakan lambang berikut ini :
U
J
M

: ketuban utuh (belum pecah)


: ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
: ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur

mekonium
D

: ketuban sudah pecah dan air ketuan bercampur

darah
K

: ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban

(kering)
Molase (penyusupan kepala janin)
Penyusupan adalah indicator penting tentang seberapa jauh kepala bayi
dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala
yang saling menyusup atau tumpang tindih, menunjujkan kemungkinan
adanya

Chepalo Pelvic Disporportion (CPD). Ketidakmampuan

akomodasi akan benar benar terjadi jika tulang kepala yang saling
menyusup tidak dapat di pusahkan. Apabila ada dugaan disproporsi tulang
panggul, penting sekali untuk tetap memantau kondisi janin dan kemajuan
33

persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu
tangan tanda tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan
yang memadai.
3.

Kemajuan persalinan
Menurut Depkes (2004), kolom dan lajr kedua pada partograf adalah untuk
pencatatan kemajuan persalinan.
Pembukaan serviks
Dengan menggunakan metode yang di jelaskan di bagian pemeriksaan
fisik dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih
sering di lakukan jika ada tanda tanda penyulit). Saat ibu berada dalam
fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil temuan dari setiap
pemeriksaan. Tanda X harus di tulis digaris waktu yang sesuai dengan
jalur besarnya pembukaan serviks. Beri tanda untuk temuan temuan dari
pemeriksaan dalam yang di lakukakn pertama kali selama fase aktif
persalinan di garis waspada. Hubungkan tanda X dari setiap
pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus).
Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin
Dengan menggunakan metode yang di jelaskan di bagian fisik bab ini.
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam(setiap 4 jam), atau lebih sering
jika ada tanda tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian terbawah
atau presentasi janin. Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan
serviks umumnya di ikuti dengan turunnya bagian terbawah/presentasi
janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar & cm.
Garis waspada dan garis bertindak
Garis waspada di mulai pada pembukaan serviks 4 jam cm dan berakhir
pada titik dimana pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase aktif
persalinan harus di mulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks
mengarah ke sebelah kanan garis waspada. Jika pembukaan serviks
mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm
per jam), Maka harus di pertimbangkan adanya penyulit (misalnya fase
aktif yang memanjang, macet, dll). Pertimbangkan pula adanya tindakan
intervensi

yang

di

perlukan,

misalnya

persiapan

rujukan

ke

fasilitaskesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang mampu


34

menangani penyulit dan kegawat daruratan obsetetri. Garis bertindak


tertera sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 lajur
ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan bertindak,
maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. Ibu harus
tiba di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampui.
4.

Jam dan waktu


Waktu mulainya fase aktif persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera
kotak

kotak yang di beri angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu

satu jam sejak dimulainnya fase aktif persalinan.


Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan
Di bawah lajur kotak untuk waktu misalnya fase aktif, tertera kotak
kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap
kotak menyebabkan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu
30 menit pada lajur kotak di atasnya atau lajur kontraksi di bawahnya.
Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan waktu aktual
pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai.
5. Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan
kontraksi per 10 menit di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi
dalam 10 menit dengan mengisi angka pada kotak yang sesuai.
6. Obat obatan dan cairan yang di berikan
Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat
oksitosin, obat obat lainnya dan cairan IV.
Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah di mulai, dokumentasikan setiap 30
menit jumlah unit oksitosin yang di berikan per volume cairan IV dan
dalam satuan tetesan per menit.
Obat obatan lain dan cairan IV
catat semua pemberian obat obatan tambahan dan atau cairan IV dalam
kotak yang sesuai dengan kolom waktunya.
35

7. Kesehatan dan kenyamanan ibu


Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan keehatan dan
kenyamanan.
a.
Nadi, tekanan darah, dan temperature tubuh.
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan
darah ibu.
Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan
Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif
persalinan.
Nilai dan catat temperature tubuh ibu (lebih sering jika meningkat,
atau di anggap adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperature
tubuh dalam kotak yang sesuai.
b.

Volume urine, protein atau aseton


Ukur dan catat jumlah produksi urine ibu sedikitnya setiap 2 jam ( setiap kali
ibu berkemih).

8. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya


Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik disisi luar kolom
partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan
juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.
Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik mencakup :
a.
Jumlah cairan peroral yang di berikan.
b.
Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur.
c.
Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (dokter obsgyn, bidan,
dokter umum).
d.
Persiapan sebelum melakukan rujukan.
e.
Upaya rujukan.
Pencatatan pada lembar belakang partograf :
Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal hal yang
terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan tindakan yang di
lakukan sejak pesalinan kala I hingga IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah
sebabnya bagian ini di sebut sebagai catatn persalinan. Nilai dan catatkan asuhan
yang di berikan pada ib u dalam masa nifas terutama selama persalinan kala IV
untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan
membuat keputusan klinik yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting untuk
36

membuat keputusan klinik, terutamam pada pemantaun kala IV (mencegah


terjadinya perdarahan pasca persalinan). Selain itu, catatan persalinan( yang sudah
di isi dengan lengkap dan tepat) dapat pula di gunakan untuk menilai atau
memantau sejauh mana telah di lakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang
bersih dan aman.
b.

Asuhan kala II
Menurut depkes RI ( 2008) asuhan persalinan normal (58 langkah) adalah sebagai berikut:
1.

Mengamati tanda dan gejala kala II


a)
b)

Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.


Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rectum dan atau

vaginanya.
c)
Perineum menonjol.
d) Vulva, vagina dan spingter anal membuka.
2.

Menyiapkan pertongan persalianan


a)

Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat obatan esensial untuk


menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir.
Untuk asfiksia tempat dan datar dan keras, 2 kain dan 1 handuk bersih dan
kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.
Meletakkan kain diatas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu
bayi.
Menyiapkan antitoksin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam
partus set.

b)
c)

Memakai celemek plastic


Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang di pakai, cuci tangan
dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tisu

d)

atau handuk pribadi yang bersih dan kering.


Memakai sarung tangan DTT pada tahun yang akan di gunakan untuk periksa

dalam.
e)
Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai
sarung tangan DTT dan steril, pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alt suntik).
3.

Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik


a)

Membesihkan vulva dan perineum, dengan hati hati dari depan ke belakang
dengan menggunakan kapas atau kassa yang di basahi air DTT.
37

Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan


dengan seksama dari arah depan kebelakang.
Ambil kapas atau kasa pembersih ( terkontaminasi ) dalam wada yang
tersedia.
Ganti sarung tangan jika terkontaminasi ( dekontaminasi, lepaskan dan
rendam dalam larutan klorin, 0,5 % langkah #9).
b)

Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap.


Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan

amniotomi.
c) Dekontaminasi sarung tangan dengan cara menyelupkan tangan yang masih
menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5 % kemudian lepaskan
dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan 0,5 % selama 10 menit. Cuci
kedua tangan setelah sarung tangan di lepaskan.
d) Memeriksa DJJ setelah kontraksi atau saat relaksasi uterus untuk memastikan
bahwa DJJ dalam batas normal ( 120 160 x/menit ).
Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
Mendokumentasikan hasil hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil
hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
4. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan
meneran
a)

Memberitahukan bahwa pembukaan sudah lengkap an keadaan janin baik dan


bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan
keinginannya.
Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan kondisi
dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase
aktif) da dokumentasika semua temuan yang ada.
Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana pern mereka untuk
mendukung dan member semanat pada ibu untuk meneran secara benar.

b)

Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran (bila ada rasa ingin
meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, dan ibu ke posisi setengah duduk atau

c)

posisisi lain yang di inginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).


Melaksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat
untuk meneran :
38

Membimbing ibu agar dapat meneran seara benar dan efektif.


Mendukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara
meneran apabila caranya tidak sesuai
Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesui pilihannya ( kecuali

posisi berbaring, terlentang dalam waktu yang lama).


Menganjurkan ibu untuk istirahat di antara kontraksi.
Menganjurkan keluarga member dukunga dan semangat untuk ibu
Memberikan cukup asupan cairan peroral ( minum).
Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.
Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120
menit (2 j2m) menean (primigravida) atau 60 menit ( 1 jam) meneran
(multigravida).

d)

Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau me gambil possisi yang


nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.

5. Menyiapkan pertongan kelahiran bayi


a)

Meletakkan handuk bersih ( untuk meneringkan bayi ) di perut ibu, jika kepala

b)
c)
d)
e)

bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.


Meletakkan kain bersih yang di lipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.
Membuka tutup parus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.
Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka
lindungi perinem dengan 1 tanagan yang di lapisi dengan kain bersih dan kering.
Tangan yang lain menahahn kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan
membantu lahirnya kepal. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernafas

f)

cepat dan dangkal.


Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan yang
sesui jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi.
Jika tali pusat meliliti leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas
kepala bayi.
Jika tali pusat meliliti leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat dan
potong di antara 2 klem tersebut.

g)
h)

Menunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.


Melahirkan bahu
Setelah kepalka melakukan putaran paksi luar, pegang secara bipareintal.
Anjurkan ibu untuk meneran saat berkontraksi. Dengan lenbut gerakan kepala ke

39

arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan
kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
i)
Melahirkan badan dan tungkai
Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah kea rah perineum ibu untuk
menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas
untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas.
Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke
punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki (masukan
telunjuk antara kaki dan pegang masing masing mata kaki dengan ibu
jari dan jari jari lainnya).
6. Penanganan bayi baru lahir
Melakukan penilaian ( sepintas ) :
o Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan ?
o Apakah bayi bergerak dengan aktif ?
Mengeringkan tubuh bayi
Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali
bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
handuk atau kain yang kering. Biarkan bayi di atas perut ibu.
Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam
uterus
Memberitahu ibu bahwa ia akan di suntik oksitosin agar uterus berkontraksi
baik
Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosi 10 unit im (intra
muskuler) di 1/3 paha atas bagian distal laterl (lakukan aspirasi sebelum
menyuntikan oksitosin).
Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira kaira 3
cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit
kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
Memotong dan mengikat tali pusat.
o Dengan 1 tangan, pegang tali pusat yang telah di jepit (lindungi perut
bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat di antara 2 klem tersebut.
o Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi
kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya
denan simoul kunci pada sisi lainnya.
o Melepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah di sediakan.
40

Meletakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi.


Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi sehinng bayi
menempel di dada atau perut ibu. Usahakan kepala bayi berada di antara
payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari putting payudara ibu.
Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi.
d. Asuhan kala III
Menurut depkes RI ( 2008 ) melekukan manajmen aktif kala III meliputi :
1. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 - 10 cm dari
vulva
2. Meletakkan 1 tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk
mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
3. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kea rah bawah sambil tangan yang
lain mendorong uterus kearah belakang-atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk
mencegah inversion uteri) jika plasenta tidal lahir setelah 30-40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontrksi berikutnya dan ulangi
prosedur di atas. Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota
keluarga untuk melekukan stimulasi putting susu.
4. Mengeluarkan plasenta
a) Melakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas,
minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai
dan kemudian kea rah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetaplakukan tekanan
dorso-kranial).
ika tali pusat bertambah panjanng, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 510cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
b)
Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudaian
c)

lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah di sediakan.


Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakuakan masase uterus,
letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar

dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras).


5. Menilai perdarahan
a)
Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan
selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke dalam kantong plastik
atau tempat khusus.
41

b)

Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan

bila laserasi menyebabkan perdarahan.


Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan.
6. Melakukan prosedur pasca persalinan
a)
Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
b)

pervaginam.
Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling
sedikit 1 jam.
o Sebagian besar bayi akn berhasil melekukan insiasi menyusu dini
dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama basanya berlangsung
sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu payudara.
o Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah
berhasil menyusu.

c)

Setelah 1 jam, lakukan penimbangan atau pengukuran bayi, beri tetes mata anti

d)

biotic profilaksis, dan vitamin K1, 1 mg im dip aha kiri anterolateral.


Setelah 1 jam pemberian vit. K1, berikan suntikan imunisasi Hepatitis B dipaha

kanan anterolateral.
e) Meletakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu waktu bisa di susukan.
Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi beleum berhasil menyusu di dalam
1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu.
7. Evaluasi
a)
Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perarahan pervaginam.

2 sampai 3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.


Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan.
Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan.
Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan s=asuhan yang sesuai
untuk menatalaksana atonia uteri.

b)

Mengajarkan ibu atau keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai

kontraksi.
c)
Evaluasi dan estimasi jmlah kehilangan darah.
d) Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam
pertama pasca persalinan dan setiap 30 mnit selama jam ke-2 pasca persalian.
Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selema 2 jam pertrama
pasca persalinan.
Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

42

e)

Memeriksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-60

x/menit) serta suhu tubuh normal ( 36,5-37,5 ).


8. Kebersihan dan keamanan
a) Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk
b)
c)

dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dkontaminasi.


Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan

d)

ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
Memastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan keluarga

e)
f)

unntuk member ibu minuman dan makanan yang di inginkannya.


Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klotin 0,5 %.
Celupkan kain tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%. balikkan bagian

dalam ke luar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
g)
Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air yang mengalir.
9. Dokumentasi
Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital dan asuhan kala
IV.
e. Asuhan kala IV
Menurut depkes RI (2008) pemantauan pada kala IV meliputi :
1.

1 jam pertama setip 15 menit yang di nilai yaitu :

2.

Tekanan darah
Nadi
Suhu
Tinggi fundus uteri
Kontraksi uterus
Kandungan kemih
Perdarahan

1 jam kedua setiap 30 menit yang di nilai yaitu :

Tekanan darah
Nadi
Suhu
Tinggi fundus uteri
Kontraksi uterus
Kandungan kemih
Perdarahan

2.3

POST NATAL CARE ( NIFAS)

2.3.1

Pengertian masa nifas


43

Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali
seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
Wanita yang melalui periode peurperium disebut peurpura. Puerperium berlangsung
selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat
kandungan pada keadaan yang normal.
Masa nifas adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampat alat-alat
kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas ini 6-8 minggu
Batasan waktu nifas yang paling singkat tidak ada batas waktunya, bahkan bisa jadi
dalam waktu yang relatif pendek darah keluar sedangkan batasan maksimunnya adalah
40 hari
Jadi masa nifaa adalah masa setelah keluarnya plasenta sampai alat-alat reproduksi pulih
kembali seperti sebelum hamil dan secara normal mas anifas berlangsung selama 6
minggu atau 40 hari
2.3.2

Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas


Peranan dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas adalah:
1. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan
2. Memberikan konseling untuk ubu dan keluarganya mengenai cara mencegah
perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta
mempraktekkan kebersihan yang aman
3. Memfasilitasi hubungan dan ikatan batin antara ibu dan bayi
4. Memulai dan mendorong pemberian asi

2.3.3

Tahapan masa nifas


Nifas dibagi menjadi 3 tahap :
1. Puerperium dini, kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalanjalan dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja selama 40 hari.
2. Puerperium intemedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu
Kunjungan

waktu

Asuhan

44

6-8 jam pp

a. Mencegah perdarahan masa nifas karena


atonia uteri
b. Pemantauan keadaan umum ibu
c. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
d. Asi eksklusif

II

6 hari pp

a. Memastiakn involusi uteri berjalan normal,


uterus

berkontraksi,

umbilicus

dan

fundus

tidak

ada

dibawah
tanda-tanda

perdarahan abnormal
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi
dan perdarahan abnormal
c. Memastikan ibu mendapatkan makanan yang
bergizi
d. Memastikan ibu mendapatkan istirahat yang
III

minggu

pp

cukup
e. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
a. Memastiakn involusi uteri berjalan
normal,

uterus

berkontraksi,

fundus

dibawah umbilicus dan tidak ada tandatanda perdarahan abnormal


b. Menilai adanya tanda-tanda

demam,

infeksi dan perdarahan abnormal


c. Memastikan ibu mendapatkan makanan
IV

yang bergizi
d. Memastikan ibu mendapatkan istirahat
6
pp

minggu

yang cukup
e. Memastikan ibu menyusui dengan baik
dan tidak memperlihatkan tanda-tanda
penyulit
a. Menanyakan pada ibu tentang penyulitpenyulit yang ia alami
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini,
imunisasi, senam nifas dan tanda-tanda

45

bahaya yang dialami oleh ibu dan bayinya

3. Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempuran terutama bila selama
hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna
bisa berminggu minggu, berbulan bulan dan bertahun tahun
2.3.4

Fisiologi Nifas
Menurut Mochtar (1998) pada ibu nifas akan mengalami sebagai berikut:
1. Involusio
Adalah pulihnya kembali alat-alat genetalia dan jalan lahir setelah plasenta lahir
sampai mencapai keadaan seperti prahamil.
a. Involusio rahim
Pengertian rahim, karena :
Isi darah dalam rahim telah keluar
Otot otot dinding rahim mengecil oleh proses autolysis (penghancuran
jaringan otot) dimana zat protein dinding rahim dipecah, diabsorbsi dan
kemudian dibuang dengan air kencing.
b. Involusio tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar,
tidak rata, kira-kira sebesar telapak tangan dengan tepat luka ini mengecil dan
sembuh kembali setelah 6 minggu post partum.
c. Luka jalan lahir
Luka-luka pada jalan lahir bila tidak ada infeksi, akan sembuh dalam waktu 7-10
hari.
d. Perubahan pembuluh darah rahim
46

Dalam kehamilan uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang


besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang
banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas.
e. Perubahan pada servik dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan, ostium-eksternum dapat dilalui oleh 2 jari
pinggir-pinggirnya tidak rata, retak-retak karena robekan dalam persalinan.
Vagina yang sangat diregangkan waktu persalinan lambat laun mencapai ukuranukuran normal. Pada minggu ke 3 post partum rugae mulai tampak kembali.
f. Dinding perut dan peritoneum
Setelah persalinan dinding perut longgar karena di regang begitu lama, tetapi
biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.
g. Rasa sakit
After paints karena kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2 4 hari post partum.
2. Lochea
Adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina pada masa nifas normal,
bau anyir dan tidak busuk.
a. Lochea Rubra
Berisi darah segar dan sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernix kaseosa,
lanugo dan mekoneum selama 2 hari post partum
b. Lochea Sanguilenta
Berwarna merah kecoklatan berisi darah dan lendir hari ke 3-7 post partum
c. Lochea Serosa
Berwarna kuning, cair dan berdarah pada hari ke 7-14 post partum
d. Lochea Alba
Cairan putih setelah 2 minggu
e. Lochea Purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f. Locheastatis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.
3. Laktasi

47

Masing masing buah dada terdiri dari 15-24 labus yang terletak radiar dan terpisah
satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap labus terdiri dari lobula yang terdiri pula dari
acini. Acini ini menghasilkan air susu, tiap lobulus mempunyai cairan halus untuk
menghasilkan dan mengalirkan air susu. Tiap lobulus mempunyai saluran halus untuk
mengalurkan air susu, pembentukan ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin yang
berasal dari bagian depan kelenjar umbi. Selama terbentuk zat ini hormon esterogen
oleh uri pembentukan prolaktin terlambat. Dengan terhentinya pengaruh esterogen
selama persalinan, maka produksi prolaktin meningkat keadaan ini menyebabkan
kelenjar mammae membentuk ASI. Pembentuk ASI dimulai 3-4 jam post partum.
Hormon oksitosin memegang peranan penting dalam mekanisme pengeluaran ASI dari
seluruh kelenjar. (Sarwono, 2010)
2.3.5

Perubahan Psikologi
Gangguan psikologis yang sering terjadi pada masa nifas yaitu:
a.

Post partum blues, merupakan gangguan psikologis yang ditandaI


dengan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya
muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak
kelahiran bayi ditandai dengan gejalagejala: cemas tanpa sebab, menangis
tanpa sebab, tidak percaya diri, sensitif, mudah tersinggung dan merasa
kurang menyayangi bayinya;

b.

Post partum syndrome (pps), merupakan gangguan psikologis yang


ditandai dengan kesedihan dan kemurungan yang biasa bertahan satu
sampai dua tahun;

c.

Depresi post partum, ibu yang merasakan kesedihan, kebebasan, interaksi


sosial, dan kemandiriannya berkurang. Gejalanya : sulit tidur, nafsu makan
hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control.

Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase sebagai berikut :
a. Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama
sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama
pada dirinya sendiri. Pengalaman secara persalinan sering berulangkali diceritakan.

48

b. Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara 3 10 hari setelah
melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa
tanggung jawab dalam merawat bayinya. Selain itu, perasaan ibu sangat sensitif
sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang dijaga. Oleh sebab itu, ibu
memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik menerima
berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya
diri.
c. Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang
berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri
dengan ketergantungan bayinya. Pada fase ini sudah ada keinginan tinggi untuk
merawat bayinya.
2.3.6

Nasehat Nasehat Pasca Ibu Melahirkan


1. Early Ambulation (Mobilisasi Dini)
Adalah tindakan membimbing pasien keluar dari tempat tidur dan membimbing
selekas mungkin berjalan.
Keuntungan:
Pasien merasa lebih sehat dan kuat
Fungsi usus dan kemih baik
Mengajarkan kepada ibu untuk memelihara bayinya sendiri.
2. Diet
Makanan harus bergizi cakupan kalori, protein, banyak sayuran, dan buah untuk
memulihkan tenaga, pembentukan dan pengeluaran ASI.
3. Miksi dan defekasi
Miksi harus ada 6 jam post partum
Defekasi harus ada 3 jam post partum
4. Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kuning, terutama putting susu
Menggunakan BH yang menyokong payudara
Apabila putting susu lecet oleskan colostrum atau ASI yang keluar pada
sekitar putting susu
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selam 24 jam, ASI dapat
diminumkan dengan sendok.
5. Pemeriksaan pasca persalinan
Pemeriksaan umum
Keadaan umun
49

Payudara
Dinding perut
Secret yang keluar
Keadaan alat kandungan
6. Senam nifas
Tujuan :
Mengurangi rasa sakit pada otot-otot
Mengencangkan otot-otot perut
Memperbaiki perdarahan
Melancarkan pengeluaran lochea
Mempercepat involusio
Menghindari kelainan
7. Nasehat ibu post partum
Follow up
Susukan bayi anda sesegera mungkin
Mengajarkan senam nifas
Untuk kesehatan ibu bayi dan keluarga maka ber-KB lah
Imunisasikan bayi anda
2.3.7

Seksualitas Post Partum


1. Secara fisik aman melalui hubungan hubungan suai istri begitu darah merah
berhenti, dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jari ke dalam vagina tanpa rasa
sakit. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasa nyeri maka aman untuk
melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
2. banyak budaya yang memiliki tradisi menunda masa hubungan suami istri sampai
masa waktu tertentu. Misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan
tergantung pada pasangan yang bersangkutan.

2.4

BAYI BARU LAHIR

2.4.1

Definisi
Bayi Baru Lahir Normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42
minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram dan harus
menyelesaikan

diri

dari

kehidupan

(Pusdinaskes,1993).
2.4.2

Ciri-ciri bayi normal


a. Berat badan 2500-4000 gram.
50

intra

uteri

ke

kehidupan

Ekstra

Uteri

b.
c.
d.
e.

Panjang badan lahir 48-52 cm.


Lingkar dada 30-35 cm.
Lingkar kepala 33-35 cm.
Bayi jantung dalam menit-menit pertama kira-kira 180x/menit, kemudian

menurun sampai 120-140 x/menit.


f. Pernapasan pada menit-menit pertama cepat kira-kira 80 x/menit, kemudian
menurun setelah tenang kira-kira 40 x/menit.
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subeutan cukup terbentuk dan
diliputi Venii Caseosa.
h. Rambut lanugo telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna.
i. Kuku telah agak panjang dan lemas.
j. Genetalia, labia minora sudah menutupi labia mayona (perempuan), testis sudah
turun ( pada anak laki-laki)
k. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
l. Reflek moro sudah baik, bayi bila dikagetkan akan memperlihatkan gerakan
seperti memeluk.
m. Gerak reflek sudah baik, apabila diletakan suatu benda diatas telapak tangan , bayi
akan mengenggam/ adanyanya gerakan reflek.
n. Eliminasi Bayi, urin dan Mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama.
Mekonium berwarna hitam kecoklatan (Pusdiknas,1993).
2.4.3

Perubahan-perubahan yang terjadi pada Bayi Baru Lahir.


Menurut Syahlan (1993) perubahan-perubahan yang terjadi pada Bayi Baru Lahir yaitu :
1. Perubahan metabolisme karbohidrat.
Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan gula darah untuk menambah
Energi pada jam-jam pertama setelah diambil dari metabolisme asam lemak.
2. Perubahan Suhu Tubuh
Ketika bayi lahir berada pada suhu lingkungan yang lebih rendah dari suhu yang
berada didalam rahim ibu. Apabila bila bayi dibiarkan dalam suhu kamar 25 oC, maka
bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, evaporasi sebanyak 200 kal/kg
BB/menit.
3. Perubahan selama dalam uterus, janin mendapatkan O 2 dari pertukaran gas melalui
plasenta setelah Bayi Lahir pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi.
Rangsangan untuk gerakan pertama adalah :
1. Tekanan Mekanis dari toraks sewaktu melalui jalan lahir.
Penurunan PaO2 dan kenaikan CO2 merangsang kemareseptor yang terletak di
sinus kuratis.
51

2. Rangsangan Dingin didaerah muka dapat merangsangkan permukaan gerakan


pernapasan.
3. Reflek Deflasi Hering Breur
Pernapasan pertama pada bayi baru lahir terjadi normal dalam waktu 30 detik
setelah persalinan.
4. Perubahan Sirkulasi
Dengan perkembangan paru-paru mengakibatkan tekanan O2 meningkatkan dan
tekanan CO2 menurun, hal ini mengakibatkan menurunnya Refleksi pembuluh
darah paru sehingga aliran darah kealat tersebut meningkat. Hal ini menyebabkan
darah dari arteri pulmonalis mengalir keparu-paru dan Duktus arteriosus menutup.
5. Perubahan Alat pencernaan, hati, ginjal, dan alat lainnya mulai berfungsi.
2.4.4

Penanganan Bayi Baru Lahir


a. Membersihkan jalan nafas
Bila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas
dengan cara sebagai berikut :
Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi
lebih lurus dan kepala tidak menekuk.
Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan
yang dibungkus dengan kassa steril.
Tepuk kedua kaki bayi sebanyak 2 3 kali atau gosok kulit bayi denga
kain kering dan kasar.
Memebersihkan jalan nafas dengan cara :
o Alat penghisap lendir mulut ( De Lee) atau alat penghisap lainnya
yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus telah siap di
tempat.
o Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
o Petugas harus mencatat dan memantau usaha nafas yang pertama.
o Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau
mulut harus diperhatikan.
b. Memotong dan merawat Tali Pusat
Sebelum memotong tali pusat, pastikan tali pusat telah di klem dengan baik untuk
mencegah terjadinya perdarahan.
c. Mempertahankan Suhu tubuh Bayi

52

Bayi baru lahir harus dibungkus hangat, suhu tubuh bayi merupakan tolak ukur
kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil.
d. Memberikan injeksi vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal
dan cukup bulan perlu diberi vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari
sedangkan bayi resiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 1 mg
secara IM.
e. Memberi obat/salep mata, untuk mencegah infeksi
Yang lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atau neosporin dan langsung
diteteskan pada mata bayi segera stetelah lahir.
f. Identifikasi Bayi
Sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada setiap bayi lahir dan
harus tetap di tempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
Alat yan digunakan hendaknya kebal air dengan tepi yang halus, tidak mudah
melukai, tidak mudah sobek.
Pada alat / gelang identifikasi harus tercantum
a.

Nama ( bayi, Nyonya)

b.

Tanggal lahir

c.

Nomor bayi

d.

Jenis kelamin

e.

Nama lengkap ibu

(saifudin.A.B. 2002)
Pembersihan jalan nafas, perawatan tali pusat, perawatan mata, dan identifikasi
adalah rutin segera dilakukan, kecuali bayi dalam keadaan krisis, dan dokter
memberi intruksi khusus. (Depkes RI, 1993)
2.4.5

Pengkajian Bayi Baru Lahir


Fisik

Nilai Apgar

Denyut jantung

0
Tidak ada

1
Kurang
100/menit
53

2
dari Lebih
100/menit

dari

Upaya respirasi

Tidak ada

Nafas lambat dan Baik menangis


tidak teratur

Tonus otot

Lemah

Fleksi

Normal

dengan

gerakan
Respon terhadap Tidak ada respon

Wajah

Respon

stimulus

menyeringai

dengan mengangis

Biru

Merah muda

Warna tubuh
2.4.6

Putih

baik

Macam-macam Reflek Pada Bayi Baru Lahir


1.

Refleks Moro
Jika bayi di kagetkan oleh suara keras, gerakan mendadak atau memeluk bila ada
rangsangan, seluruh tubuhnya bereaksi dengan gerakan kaget, terjadi pada usia 12 minggu dan akan menghilang ketika berusia 6 bulan

2.

Refleks Rooting
Jika sesorang mengusap sesuatu di pipi bayi, ia akan memutar kepala kearah
benda itu dan membuka mulutnya, refleks ini berlangsung selama bayi menyusui.
Refleks mengisap (sucking)

3.

Refleks swallowing
Muncul ketika benda-benda yang dimasukkan kedalam mulut, seperti puting susu
ibu dan bayi akan berusaha mengisap lalu menelan, reflek ini tidak akan
menghilang

4.

Refleks berkedip atau refleks corneal


Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba tiba atau pada pandel
atau obyek kearah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada
maka menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.

5.

Reflekspupil
Pupil kontriksi bila sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus sepanjang
hidup.

6.

Reflek

Glabela

Ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan mata
7.

menutup dengan rapat


Refleks tonic neck
54

Ketika kedua tangan bayi diangkat, bayi berusa mengangkat kepalanya. Jika bayi
baru lahir tidak mampu melakukan posisi ini atau jika refleks ini terus menetap
8.

hingga bayi berusia 6 bulan


Refleks tonic labyrinthine/labirin
Pada posisi telentang, reflek ini dapat diamati dengan mengangkat tungkai bayi
beberapa saat lalu di lepaskan. Tungkai yang diangkat akan bertahan sesaat,
kemudian jatuh, reflek ini akan menghilang ketika berusia 6 bulan

9.

Refleks palmar grasping


Bayi baru lahirmenggenggam atau merenggut jari ibu jika ibu menyentuh telapak
tangannya. Gerakan reflek ini juga terdapa pada telapak kaki yang melengkung
saat disentuh. Refleks ini menghilang setelah beberapa bulan, bayi harus belajar
menggenggam dengan sengaja

10.

Refleks crawling
Jika ibu atau seseorang menelungkupkan bayi baru lahir, bayi membentuk posisi
merangkak karena saat didalam rahim kakinya tertekuk kearah tubuh

11.

Refleks stepping
Jika ibu atau seseorang menggendong bayi dengan berdiri dan telapak kakinya
menyentuh permukaan yang keras, ibu/orang tersebut akan melihat refleks
berjalan yaitu gerakan kaki seperti melangkah kedepan. Refleks berjalan ini akan
hilang dan berbeda dengan gerakan normal. Menurun setelah 1 minggu dan akan
lenyap sekitar 2 bulan

12.

Refleks babinski
Jari-jari mencengkram/hiperekstensi ketika bagian bawah kaki di usa, indikasi syaraf
berkembang engan pesat. Hilang diusia 4 bulan

13.

refleks blinking
Jika bayi terkena sina atau hembusan angin, matanya akan menutup atau dia akan
mengerjapkan matanya

14.

Refleks yawning
Yakni refleks menjerit ketika saat lapar, biasanya disertai dengan tangisan

15.

Refleks Plantar

55

Muncul sejak lahir dan berlangsung hingga sekitar 1 tahun kelahiran, seperti jika
ibu atau seseorang menggosokkan sesuatu ditelapak kakinya maka jari-jarinya
akan melengkung secara erat
2.4.7

Penatalaksanaan pada Bayi Baru Lahir


1.

Bayi bernafas atau menangis, warna merah muda, denyut jantung . 100/menit,
serahkan bayi langsung ke abdomen ibu dan keringkan dengan handuk kering.
Tindakan ini meningkatkan bounding dan mempertahankan suhu karena kontak

langsung kulit dengan kulit.


2. Bayi apneu atau terengah-engah, warna kulit biru dan denyut jantung . 100 stimulasi
dengan menggosok punggung menggunakan sebuah handuk atau tepuk-tepuk kaki
dengan lembut. Buka dan bersihakn jalan nafasdengan melakukan penghisapan pada
mulut kemudian hidung dengan lembut. Berikan oksigen fasial. Jika tidak ada respon
pada usia satu menit denyut jantung menurun atau tetap biru, maka ventilasi ambu
bag dan masker harus dimulai, jika tidak ada peningkatan dalam 2 menit denyut
jantung tidak meningkat pertimbangkan untuk mempertimbangkan intubasi pada
bayi.
3. Bayi apnea atau biru pucat denyut jantung , 100/ menit, ventilasi ambu bag dan
masker harus segera dimulai. Jika tidak ada respon dalam 2 menit maka intubasi
bayi.
4. Bayi apnea warna kulit putih, denyut jantun , 60 x/menit, resusitasi jantung paru
penuh perlu dilakukan, l;akukan intubasi segera dan mulai berikan ventilasi tekanan
positif intermiten.
2.4.8

Yang Perlu Dipantau Pada Bayi Baru Lahir


Suhu badan dan lingkungan, tanda-tanda vital, berat bdan, mandi dan perawatan kulit,
pakaian, perawatan tali pusat.

2.4.9

Tanda-tanda Bahaya Yang Harus Diwaspadai Pada Bayi Baru Lahir


1.
2.
3.
4.
5.

Pernapasan : sulit atau lebih dari 60 kali permenit.


Kehangatan : terlalu panas (> 38OC / terlalu dingin < 36OC)
Warna kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat memar.
Pemberian makan hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah.
Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan (nanah), bau busuk, pernapasan sulit.
56

6. Tinja / kemih tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering hijau tua, ada
lender atau darah dalam tinja.
7. Aktifitas menggigil, atau tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung, lemas,
terlalu mengantuk, lunglai, kejang halus, tidak bisa tenang, menangis terusmenerus. (Syaifuddin, 2002 : N-36).
2.4.10 Perawatan Bayi Baru Lahir Sehari-hari
1. Mata bayi harus selalu diperiksa untuk melihat tanda-tanda infeksi.
2. Mulut diperiksa untuk melihat kemungkinan infeksi dengan Candida (Oral
Thrush).
3. Kulit, terutama pada lipatan-lipatan (paha, leher, belakang telinga, ketiak) harus
selalu bersih dan kering.
4. Tali pusat, ada infeksi atau tidak dan puput apa belum.
5. Kain popok harus segera diganti setiap kali basah karena air kencing atau tinja.
6. Sebelum tali pusat lepas, sebaiknya bayi diseka saja dengan air steril atau air
matang.
2.5

KELUARGA BERENCANA

2.5.1

Pengertian
Kontrasepsi hadir dalam berbagai metode dan efektivitas. Meskipun berbeda, tujuan
mereka satu: mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa jenis kontrasepsi juga
melindungi terhadap penyakit menular seksual (PMS).

2.5.2

JENIS-JENIS KONTRASEPSI
1. Kondom
Kata kondom berasal dari kata Latin condus yang berarti baki atau nampan
penampung. Kondom adalah semacam kantung yang Anda sarungkan ke penis
ereksi sebelum melakukan hubungan seksual. Kondom dijual dalam berbagai
ukuran dan bentuk. Kondom memiliki kelebihan melindungi dari PMS dan tidak
memengaruhi hormon. Kekurangannya adalah efektivitasnya. Sekitar 2-15%
wanita masih hamil meskipun pasangannya menggunakan kondom. Selain itu,
banyak pria merasakan berkurangnya sensasi seksual dengan pemakaian kondom.
2. Kondom wanita
Kondom wanita adalah sebuah kantung berlubrikasi dengan dua cincin fleksibel
di ujung-ujungnya. Sebuah cincin lunak yang dapat dilepas memudahkan
57

pemasangannya dan menjaga kondom di tempat. Sebuah cincin fleksibel yang


besar tetap berada di luar vagina, yang meliputi pembukaan vagina (vulva) dan
memberikan perlindungan tambahan.
Kondom wanita sangat efektif bila digunakan dengan benar.
Kondom wanita memiliki keuntungan melindungi dari PMS, tidak mudah slip
atau bocor, tidak memengaruhi hormon dan tidak menimbulkan alergi (karena
terbuat dari polyurethane, bukan lateks). Kondom ini juga dapat dipasang jauh
sebelum melakukan hubungan seksual (sampai 8 jam sebelumnya) sehingga
tidak perlu jeda selama bermesraan. Kerugiannya adalah beberapa orang
merasakan kurang nyaman, tidak efektif untuk semua posisi, dan harganya mahal.
Kondom wanita tidak dapat digunakan bersamaan dengan kondom pria karena
dapat menyebabkan posisinya bergerak keluar.
3. Diafragma
Diafragma adalah topi karet lunak yang dipakai di dalam vagina untuk menutupi
leher rahim (pintu masuk ke rahim). Fungsinya adalah mencegah sperma
memasuki rahim. Agar diafragma bekerja dengan benar, penempatan diafragma
harus tepat. Diafragma seefektif kondom, namun dapat dicuci dan digunakan lagi
selama

satu

sampai

dua

tahun.

Kekurangannya,

Anda

harus

menempatkan diafragma sebelum berhubungan seks (sampai 24 jam sebelumnya)


dan mencopotnya setelah enam jam. Beberapa wanita mungkin kesulitan
menyisipkankannya dan memiliki reaksi alergi (karena terbuat dari lateks).
4. Pil KB
Pil KB atau kontrasepsi oral berisi bentuk sintetis dua hormon yang diproduksi
secara alami dalam tubuh: estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut
mengatur siklus menstruasi wanita. Pil KB bekerja dengan dua cara.
Pertama, menghentikan ovulasi (mencegah ovarium mengeluarkan sel telur).
Kedua, mengentalkan cairan (mucus) serviks sehingga menghambat pergerakan
sperma ke rahim.
Pil KB sangat bisa diandalkan (efektivitasnya mencapai 99%). Pil KB juga
memberikan kendali di tangan wanita untuk mencegah kehamilan. Kekurangan
Pil KB adalah tidak melindungi terhadap PMS, harus diambil setiap hari sesuai
jadwal (tidak boleh terlewatkan barang sehari pun agar efektif), dan menambah
hormon sehingga meningkatkan risiko trombosis, penambahan berat badan, sakit

58

kepala, mual dan efek samping lainnya. Pil KB tidak boleh diambil oleh wanita
dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes, penyakit liver, dan penyakit
jantung.
5. Susuk (Implan)
Susuk KB adalah batang kecil berisi hormon yang ditempatkan di bawah kulit di
bagian lengan wanita. Batang itu terbuat dari plastik lentur dan hanya seukuran
korek api. Susuk KB terus-menerus melepaskan sejumlah kecil hormon seperti
pada pil KB selama tiga tahun. Selama jangka waktu itu Anda tidak perlu
memikirkan kontrasepsi.
Bila Anda menginginkan anak, susuk KB dapat dicopot kapan pun dan Anda pun
akan kembali subur setelah satu bulan. Biaya murah dan pemakaian yang tidak
merepotkan adalah keunggulan lain susuk KB. Kekurangannya, menyebabkan
sakit kepala dan jerawat pada beberapa wanita, tidak melindungi terhadap PMS
dan sekitar 20% wanita tidak lagi mendapatkan haid atau haidnya menjadi tidak
teratur.
6. Kontrasepsi suntik
Kontrasepsi suntik atau injeksi adalah suntikan hormon yang mencegah
kehamilan. Setiap tiga bulan sekali Anda mendapatkan suntikan baru. Selama
periode tersebut, menstruasi Anda normal. Keunggulan kontrasepsi suntik adalah
keandalannya yang setara dengan pil KB atau susuk dan Anda hanya perlu
memikirkan

kontrasepsi

setiap

bulan

sekali.

Kelemahannya,

Anda

tidak terlindungi terhadap PMS dan mendapatkan hormon. Anda juga tidak bisa
menghentikannya tiba-tiba karena hormon selama tiga bulan tetap aktif di dalam
tubuh. Anda mungkin perlu waktu lama untuk subur kembali.
7. AKDR (IUD)
ADKR (alat kontrasepsi dalam rahim/Intrauterine divice) atau dalam bahasa
populernya disebut spiral adalah alat kontrasepsi kecil yang ditempatkan dalam
rahim wanita. Ada dua jenis AKDR: AKDR tembaga yang terbuat dari plastik
kecil dengan tembaga meliliti batangnya dan AKDR progestogen yang berbentuk
T kecil dengan silinder berisi progestogen di sekeliling batangnya.
Walaupun telah digunakan lebih dari 30 tahun untuk mencegah kehamilan, cara
kerja AKDR masih belum sepenuhnya dipahami. AKDR memengaruhi gerakan
dan kelangsungan hidup sperma dalam rahim sehingga mereka tidak dapat
mencapai sel telur untuk membuahi. AKDR juga mengubah lapisan rahim
59

(endometrium) sehingga tidak cocok untuk kehamilan dan perkembangan embrio


janin. Efektivitas AKDR adalah 98%, hampir sama dengan pil KB.
Keunggulan AKDR adalah berjangka panjang (minimal lima tahun), mudah
mempertahankan (Anda tidak mungkin lupa menggunakannya), lebih murah
dibandingkan kontrasepsi lain (lebih mahal pada awalnya, tetapi lebih murah
dalam jangka panjang) dan jika Anda ingin hamil, kesuburan Anda dapat
dikembalikan dengan cepat setelah Anda melepaskannya. AKDR progestogen
memiliki manfaat tambahan mengurangi perdarahan haid. Kekurangan AKDR
adalah bila gagal dan wanita menjadi hamil, perangkat ini harus dibuang sesegera
mungkin karena meningkatkan risiko keguguran. Selain itu, ada risiko kecil
infeksi setelah pemasangan AKDR, kehamilan ektopik dan berbagai efek samping
seperti menstruasi tidak teratur, vagina kering, sakit kepala, mual dan jerawat.
8. Sterilisasi
Sterilisasi adalah kontrasepsi yang paling efektif. Pada sterilisasi pria (vasektomi),
vas deferens ditutup sehingga tidak ada sperma yang keluar, meskipun tetap
ejakulasi. Pada sterilisasi wanita (tubektomi), saluran tuba falopi ditutup sehingga
sel telur tidak keluar.
Tubektomi
Keuntungan :
tidak ada efek samping jangka panjang, tidak menggangu senggama, tidak
menggangu produksi ASI, mengurangi resiko kanker payudara,menggunakan
teknik pembedahan sederhana
Kerugian :
permanen, rekanalisasi tidak menjamin pulihnya kesuburan, tidak melindungin
terhadap PMS, resiko KET
Kontraindikasi:
Infeksi panggul akut, anemia,trombosis vena dalam, perdarahan pervaginam tanpa
sebab yang jelas, kenker ginekologik
Vasektomi
Keuntungan :
tidak menggangu proses ASI, tidak menggangu produksi hormon pria
Kerugian :
Permanen, tidak melindungi dari pms
Kontaindikasi :
PMS, anemia, verikokel besar, parut skrotum

60

Keuntungan sterilisasi adalah Anda tidak akan perlu memikirkan kontrasepsi


selamanya. Kekurangannya, sifatnya permanen (tidak bisa dibatalkan), tidak
memberikan perlindungan terhadap PMS, dan memerlukan operasi mayor. Perlu
diingat bahwa tidak ada kontrasepsi yang 100% efektif. Masih ada 1%
kemungkinan kehamilan pasca sterilisasi, bahkan bertahun-tahun setelah operasi
dilakukan.

BAB III
TINJAUAN KASUS ANC, INC,PNC,BBL DAN KB

3.1

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TERHADAP


NY.M, 25 TAHUN
DI BPM MARISTA NAPITUPULU,TANJUNG PIAYU
NAMA MAHASISWA

: HERIAH SYAFITHRI

NPM

: 41213038

TEMPAT PRAKTEK

: BPM. MARISTA NAPITUPULU Amd.Keb

HARI/ TANGGAL

: SABTU, 04 JULI 2015

WAKTU PENGKAJIAN

: 19:30 WIB

DATA SUBJEKTIF ( S )
61

1.

Identitas
Nama klien
Umur
Suku
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat

2.

: Ny.M
: 25 tahun
: Batak
: Kristen
: SMA
: IRT
: Tanjung piayu

Nama Suami
Umur
Suku
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat

: Tn. R
: 36 tahun
: Batak
: Kristen
: SMA
: Wiraswasta
: Tanjung piayu

Keluhan utama
Ibu mengeluh pusing, mual disertai muntah

3.

4.

Riwayat kehamilan sekarang


G PA
: G2 P1 A0
HPHT
: 25-01-2015
TP
: 03-11-2015
Usia kehamilan
: 22 Minggu
Siklus Haid
: 28 hari
Lamanya
: 7 hari
Pergerakan Janin yang pertama kali
: tidak ada
Pergerakan janin yang dirasa dalam 24 jam terakhir
Tanda-tanda bahaya/penyulit
Obat-obat yang dikonsumsi (termasuk jamu)
Imunisasi TT1
Imunisasi TT2
Kekhawatiran kekhawatiran khusus

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
::: tidak ada

Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu


No

Tgl/Th
n
Kelahir

Usia
kehamila
n

Persalinan

Anak

Jenis

JK

an
1-02-

39

Norm

2013

minggu

al

penol

Keadaa
BB/

ong

PB

Bidan Lk

3,2

Nifas

n
Anak

Baik

Normal

kg/
46c

62

m
I

5.

6.

Riwayat kesehatan/penyakit
Riwayat penyakit yang diderita sekarang/dulu
Riwayat keturunan
Riwayat penyakit keluarga

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

Riwayat psikososial
Status perkawinan
Suami yang ke
:1
Istri yang ke
:1
Lamanya pernikahan
Respon ibu / keluarga terhadap kehamilan
Jenis kelamin yang diharapakan
Bentuk dukungan keluarga

: 2 tahun
: bahagia
: laki-laki
: memberi semangat kepada

ibu
Adat yang berhubungan dengan ibu hamil
: tidak ada
Pengambilan keputusan dalam keluarga
: suami
Rencana persalinan
Tempat
: Rumah bersalin
Penolong persalinan
: Bidan
Pendamping persalinan
: Suami
Persiapan persalinan
: Kebutuhan ibu dan bayi
Riwayat KB terakhir
: tidak ada
Jenis kontrasepsi
: tidak ada
Lama penggunaan
: tidak ada
7.

Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari


Nutrisi
Makan (frekuensi)
: 4 /hari
Minum
: 8 gelas / hari
Jenis makanan yang dikonsumsi
: nasi, buah, sayur, lauk pauk
Jenis makanan yang tidak disukai
: tidak ada
Perubahan porsi makan
: bertambah
Alergi terhadap makanan
: tidak ada

8.

Eliminasi
BAB :Frekuensi
Konsistensinya
BAK : Frekuensi
Warna

9.

10.

: 1 sehari
: lunak
: 4-6 sehari
: kuning jernih

Pola Istirahat dan Tidur


Tidur siang
Tidur malam
Masalah

: 1 jam
: 6-7 jam
: tidak ada

Kebiasaan Hidup Sehari-hari


63

11.

12.

Obat-obatan/ jamu
Alergi terhadap obat
Merokok
Minuman berakohol
Napza
Aktivitas sehari-hari

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: masak, nyapu, nyetrika, nyuci

Hubungan seksual
Pola Seksual
Keluhan

: 1x /minggu
: tidak ada

Personal hygiene
Mandi
Ganti pakaian dalam dan luar
Iritasi vagina

: 2 sehari
: 2 sehari
: tidak ada (-)

DATA OBJEKTIF ( O )
Keadaan Umum
Kesadaran
Keadaan emosional
Tanda-tanda vital
Tekanan darah
Denyut nadi
Suhu tubuh
Pernafasan
Antropometri
Tinggi badan
Berat badan sebelum hamil
Berat badan sekarang
Kenaikan BB selama hamil
Pemeriksaan fisik
a Inspeksi
Kepala
Muka
Mata
Hidung
Telinga
Mulut/gigi

: Baik
: CM( Compos Metris )
: Stabil (baik)
: 110/70 mmhg
: 80 /menit
: 36,4C
: 24 /menit
: 159 cm
: 60 kg
: 5 kg
: 5 kg

: Rambut : hitam, bersih, tidak ada ketombe


: tidak ada cloasma, tidak ada oedema
: konjungtivatidak anemis, Scleratidakikterik
: tidak ada polip
: tidak ada pengeluaran serumen
: stomatitis
: tidak ada
gusi
: baik
caries
: tidak ada caries gigi

Leher
Pemeriksaan kelenjar tiroid : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
Dada
64

Retraksi dinding dada : normal


Payudara
Bentuk
: simetris
Putting susu
: menonjol, bersih
Areola
: hiperpigmentasi
Pengeluaran
: ASI (-)
Benjolan
: tidak ada benjolan
Tanda-tanda retraksi : tidak ada
Kebersihan
: bersih
Lain-lain
: (-)
Abdomen
Bekas luka operasi
: tidak ada
Bentuk perut
: sesuai usia kehamilan
Kontraksi
: tidak ada
Ekstremitas atas
: tidak ada oedema
Ekstremitas bawah : tidak ada oedema
Palpasi
Leopold I
Leopold II
Leopold III
Leopold IV
b

Auskultasi
Djj

: tidak dilakukan

Pemeriksaan genetalia

: tidak dilakukan

Perkusi
Reflek Patella

: belum teraba
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

: tidak dilakukan

Pemeriksaan penunjang
Laboraturium
Urine
USG

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

ANALISA ( A )
Diagnosa
: G2 P1 A0 hamil 11 minggu 5 hari dengan mual-mual
disertai muntah
Dasar
: G2 P1 A0
: Ibu mengatakan ini hamil yang kedua,
tidak pernah keguguran
Kebutuhan
: Kebutuhan nutrisi, seperti : sayur, buah, lauk pauk ,Susu
a. Fe , Calcium Lactat
65

b. Istirahat dan tidur


PENATALAKSANAAN ( P )
1.
Memberitahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yang dilakukan
TD
: 110/80 N: 80x/menit RR: 24x/menit S: 36,4C
Rasional
: Agar ibu dan keluarga mengetahui keadaan ibu dan janin saat ini dalam
Evaluasi
Sumber
2.

keadaan baik
: Ibu dan keluarga mengerti dengan hasil pemeriksaan
: Data subjektif dan objektif

Beritahu ibu tanda-tanda bahaya kehamilan


Memberitahu ibu tentang tanda-tanda bahaya pada kehamilan,yaitu : perdarahan, demam
tinggi, keluar air ketuban sebelum waktunya, muntah terus menerus dan tidak mau
makan, sakit kepala yang hebat dan disertai penglihatan yang kabur, nyeri dibagian perut
dan uluh hati, bengkak pada bagian wajah.
Rasional
: Agar ibu mengetahui tanda tanda bahaya pada kehamilan.
Evaluasi
: Ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran bidan
Sumber
: Buku APN 2008

3.

Berikan ibu vitamin tablet besi dan kalsium


Memberikan ibu tablet besi dan kalsium laktat untuk dikonsumsi ibu 1x sehari sesudah
makan.
Rasional

: Untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan zat besi yang penting untuk

perkembangan dan kesehatan ibu dan janin.


Evaluasi
: Ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran bidan
Sumber
: Buku APN 2008 hal 3

4.

Anjurkan ibu untuk menjaga personal Hygiene


Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri, dengan mandi 2x sehari, menggunakan
pakaian longgar dan bersih.
Rasional
Evaluasi
Sumber

5.

: Agar kebersihan ibu terjaga dan ibu merasa nyaman


: Ibu mau melakukan anjuran bidan
: Buku APN 2008

Anjurkan ibu untuk cukup nutrisi dan istirahat

66

Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup,
minum yang cukup, dan mengurangi minum air putih pada malam hari, agar waktu
istirahat ibu tidak terganggu.
Rasional
Evaluasi
Sumber
6.

: Agar asupan gizi ibu dan janin terpenuhi


: Ibu mengerti dengan penjelasan bidan
: Buku APN 2008

Anjurkan ibu untuk datang kunjungan ulang 2 minggu lagi


Memberitahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu lagi
Rasional

: Untuk memantau kondisi ibu dan janin selama trimester


Ke III
: Ibu mengerti dan bersedia untuk datang melakukan
Kunjungan ulang
: Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal

Evaluasi
Sumber

3.2

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN


TERHADAP Ny.S, 29 Tahun
DI BPM MARISTA NAPITUPULU, TANJUNG PIAYU
Nama mahasiswa

: Heriah Syafithri

NPM

: 41213038

Hari/tanggal

: Sabtu, 27 Juni 2015

Waktu Pengkajian

: 02.30 WIB

67

A. Pengkajian
DATA SUBJEKTIF
a. Biodata
Nama klien : Ny.S
Umur
: 36 tahun
Suku
: Batak
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: IRT
Alamat
: Tanjung piayu

Nama Suami
Umur
Suku
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat

: Tn. F
: 37 tahun
: Batak
: Islam
: SMA
: Wiraswasta
: Tanjung piayu

Anamnesa pada tanggal 27 juni 2015


1. Keluhan Utama
Ibu mengatakan adanya keluar lender bercampur darah dan merasakan nyeri
perut yang menjalar kepinggang sejak pukul 20.00 WIB
2. Riwayat kehamilan sekarang :
HPHT
: 15-09-2015
TP
: 24-06-2015
UK
: 41 minggu
ANC
: tidak ada
Kelainan/gangguan
Riwayat merokok

: tidak ada
: tidak ada

3. Riwayat Imunisasi :
TT1 : usia kehamilan 20 minggu
TT2 : usia kehamilan 24 minggu
4. Riwayat Kesehatan :
Sedang diderita
Diderita keluarga
Riwayat Keturunan

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

5. Makan dan minum terakhir


Makan : 3x/hari
Minum : 8 gelas/hari
6. BAK/BAB terakhir :
BAB : 1x/hari
BAK : 7 x/hari
7. Istirahat/Tidur : 7 jam/hari
68

8. Keadaan Psikososial Spiritual / Kesiapan menghadapi persalinan


Pengetahuan terhadap persalinan
Persiapan Persalinan
Tanggapan ibu/keluarga terhadap persalinan
DATA OBJEKTIF
a. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran
Keadaan emosional
b. Tanda Vital

:Belum terlalu mengetahui


: Telah menyiapkan
: Sangat bahagia

: Compos Mentis
: Stabil

TD

: 130/80 mmHg

Temp

: 37,5c

Nadi

: 84 x/m

R/R

: 22 x/m

c. Antopometri
BB sebelum hamil

: 53 kg

BB sekarang

: 63 kg

Kenaikan BB

: 10 kg

Tinggi Badan

: 155 cm

Lila

: 24 cm

d. Muka
e. Mata
- Konjungtiva
- Sklera

: Tidak Odema dan tidak ada cloasma


: Tidak pucat
: Jernih / tidak ikterik

f. Payudara

: Simetris, Papila : Menonjol

g. Abdomen
Bekas Luka Operasi
Pembesaran
His
TFU

: Tidak ada
: sesuai usia kehamilan
: 3 x dalam 10 menit durasi 20 detik
: 36cm

Palpasi
69

Leopold I
Leopold II

Leopold III

: Bagian teratas janin teraba bulat,lunak tidak


: - Bagian perut sebelah kanan teraba keras
memanjang (punggung)
- Bagian perut sebelah kiri teraba bagian-bagian
kecil (ekstremitas)
: Bagian terbawah janin teraba bulat,keras,melenting

(kepala)
Leopold IV :Bagian terbawah janin sudah masuk PAP
TBJ
: (36-11) x 155 = 3875 gr.
DJJ
: (+) 138 x/m

h. Genetalia Eksterna
Vulva
Vagina
Perineum

: Varises (-) , Edema (-)


: Pengeluaran Lendir
: Bersih, Tidak ada Luka

i. Genetalia Interna
Dinding Vagina
Portio
Pembukaan
Selaput ketuban
Presentasi
Penurunan

: Tidak ada Varises, Benjolan tidak ada.


: Lunak. Tebal
: 4 cm, pukul 23.30 WIB
: (-)
: Kepala
: H-II

j. Ekstremitas
Reflek patela
Edema

: kanan (+), Kiri (+)


: Tidak ada

ASSESMENT
Diagnosa : G6 P5 A0 hamil 41 minggu,inpartu kala I fase aktif, janin
tunggal hidup intra uteri, presentasi kepala.
Dasar
: 1. G6 P5 A0 ;ibu mengatakan hamil ke enam dan tidak
pernah keguguran.
2. kala 1 fase aktif ;pada pemeriksaan dalam pembukaan 4cm
3. janin tunggal hidup;pada pemeriksaan auskultasi DJJ (+)
138 x/i.
Masalah

: Ibu mengatakan merasa sakit dan tegang pada perut sampai menjalar ke
Pinggang

Kebutuhan : beritahu ibnu dan suami hasil pemeriksaan


ajarkan ibu untuk berelaksasi dan ajarkan suami untuk mengusap
punggung dan posisi miring dapat mengurangi rasa sakit

70

PLANNING
1. Beritahu pada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yang di lakukan. Hasil
pemeriksaan yaitu keadaan ibu baik, presentasi kepala, pembukaan 4 cm, DJJ : 138
x/I, TD : 130/80 mmHg, N : 84 x/m, RR: 22 x/m
Rasional
: Agar ibu dan keluarga paham dan mengerti tentang kondisi ibu
dan janinnya saat ini.
Evaluasi
: Ibu sudah mengerti dengan keadaannya saat ini.
Sumber
: Data subjektif dan objektif
2. Menyiapkan alat alat dan obat-obatan yang di perlukan dalam proses persalinan.
Rasional : Agar kelengkapan alat-alat dan obat-obatan yang di butuhkan lengkap
sehingga tidak menghambat dalam proses persalinan
- Alat-alat yang di persiapkan meliputi :
Partus set :
kocher
- Nierbeken
Arteri klem
- Tempat plasenta
Gunting tali pusat
- Slem
Gunting episiotomi
- Spuit 3cc
Benang/klem penjepit tali pusat - Spuit 1 cc
Pinset cirugis
- Kateter
Handscoon
- Kasa secukupnya
hecting set :
Nald
Nald fowder
Gunting benang
Pinset anatomis
Kasa secukupnya
Benang zyde/slik

Obat-obatan :
- Lidokain
- Obat tetes mata
- Vit k
- Oksitosin

Perlengkapan:
Perlengkapan bayi :
Handuk bayi
Kain
Popok,bedong,baju,topi,sarung tangan dan kaki bayi
Perlengkapan ibu :
Baju bersih untuk ibu
Pembalut dan pakaian dalam ibu.
Evaluasi : Persiapan alat, obat-obatan dan kelengkapan ibu dan bayi sudah disiapkan
Sumber : APN 2012 hal 95

71

3. Anjurkan suami dan keluarga untuk memberikan dorongan emosional/suport kepada


ibu.
Rasional : Agar suami/keluarga dapat berperan aktif dalam mendukung dan
mengenali berbagai upaya yang mungkin sangat membantu kenyamanan ibu.
Evaluasi : Keluarga sudah memberikan dukungan kepada ibu.
Sumber : APN 2012, Hal 92
4. Anjurkan pada ibu untuk makan dan minum.
Rasional : Agar ibu mendapatkan cukup energi untuk persiapan persalinan dan untuk
mencegah dehidrasi sehingga pada proses persalinan kala II tidak terhambat.
Asupan cairan dan nutrisi selama proses persalinan,ibu di berikanmakanan yang
mengandung karbohidrat (mis:nasi atau roti) dan minuman pengganti cairan yang
hilang (mis:teh manis,madu,air putih).
Evaluasi : Ibu sudah makan nasi dan minum madu.
Sumber : Sarwono hal 286
5. Anjurkan ibu untuk berkemih jika ada rangsangan
Rasional : Kandung kemih penuh akan menghambat penurunan kepala, sebaliknya
jika kandung kemih kosong akan membantu mempercepat penurunan kepala.
Evaluasi : Ibu sudah mengosongkan kandung kemih.
Sumber : APN 2012 hal 93
6. Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri
Rasional : untuk mempercepat proses persalinan kepala
Evaluasi

: Ibu bersedia melakukan anjuran bidan

Sumber

:Asuhan persalinan normal

7. Pantau proses kemajuan persalinan.


Melakukan pemantauan proses kemajuan persalinan dengan patograf agar dapat
menilai kemajuan persalinan dan guna menegakkan diagnosa. Agar ibu tahu hasil
pemeriksaan dan menilai kemajuan persalinan serta bidan bisa menegakkan diagnosa
Hasil pemantauan yaitu:
Pukul 03.30 WIB, DJJ 138 x/i, Kontraksi 3x dalam 10 menit selama 20 detik, Nadi 84
x/I, TD : 130/80 mmHg, VT : 4cm
Pukul 04.00 WIB, DJJ 136 x/i, Kontraksi 3x dalam 10 menit selama 40 detik, Nadi
88 x/i
Pukul 04.30 WIB, DJJ 140 x/i, Kontraksi 3x dalam 10 menit selama 40 detik, Nadi 89
x/i, VT : 8 cm
72

Pukul 05.00 WIB, DJJ 140x/i, Kontraksi 4x dalam 10 menit selama 40 detik, Nadi 88
x/i
Pukul 05.30 WIB, DJJ 145 x/i, Kontraksi 4 x dalam 10 menit selama 40 detik, Nadi
89 x/i
Pukul 06.00 WIB, DJJ 140x/I, Kontraksi 5 x dalam 10 menit selama 45 detik, Nadi
88 x/i
Pukul 06.30 WIB, DJJ 140 x/i, Kontraksi 5 x dalam 10 menit selama 45 detik, Nadi
89 x/i
Pemantauan sudah dilakukan
Sarwono 2009 hal 319
KALA II (03.00 WIB)
S
O

:
:

ibu mengatakan sakit luar biasa dari perut menjalar ke pinggang dan rasa ingin
mengeran.
Kesadaran
Keadaan emosional
TD
Temp
Nadi
R/R
HIS
DJJ
VT

: Compos Mentis
: stabil
: 130/70 mmHg
: 37,3c
: 85 x/m
: 24 x/m

: 5x dalam 10 menit durasi 45 detik


: teratur 141 x/m
:portio sudah tidak teraba, pembukaan lengkap, presentasi kepala

H IV, ketuban (-)


G6 P5 A0 hamil 41 mingguinpartu kala II, janin hidup tunggal intra uterin, presentasi
kepala.
Dasar

Masalah
:
Kebutuhan :

G6 P5 A0 : ibu mengatakan kehamilan yang pertama, tidak pernah


keguguran.
Hamil 41 minggu : ibu mengatakan HPHT 15-09-2015
Janin tunggal : DJJ +
Inpartu kala II : periksa dalam portio sudah tak teraba, pembukaan
Lengkap
Presentasi kepala : Leopold IV sudah masuk PAP
ibu merasa nyeri pinggang dan ingin meneran seperti ingin BAB
bantu ibu mengambil posisi yang nyaman

PLANNING:
1. Beritahukan pada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan.

73

Hasil pemeriksaan yaitu : TTV : 130/70mmhg, N : 85x/i, RR : 24x/i, S : 373C, VT :


Pembukaan Lengkap (10cm), Preskep H IV, Ketuban (-).
Rasional
: Agar ibu dan keluarga mengerti dengan keadaanya saat ini.
Evaluasi
: Ibu sudah mengerti keadaannya saat ini.
Sumber
: Dari hasil pemeriksaan data subjektif dan objektif

2. Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalinan


- Minta pada keluarga untuk membantu memberikan minum (teh manis, madu, air
putih) pada saat tidak ada kontraksi.
Rasional
: Untuk mencegah dehidrasi dan menambah energi.
Evaluasi
: Kebutuhan cairan ibu sudah terpenuhi.
Sumber
: APN 2012, Hal 92
3. Anjurkan keluarga untuk menemani ibu selama proses persalinan.
- Keluarga dapat menentramkan hati ibu selama persalinan dan dapat membantu
mengganti posisi ibu pada saat ibu menginginkan.
Untuk memberikan dukungan semangat dan supaya ibu lebih rileks.
Keluarga sudah menemani.
APN 2012, Hal 92
4. Dekatkan alat-alat dan obat-obatan yang diperlukan pada saat pertolongan persalinan.
Penolong mendekatkan alat-alat dan obat-obatan sambil mengecek apakah semua sudah
lengkap baik alat-alat steril maupun non steril dan memastikan bahwa semua alat dan
sediaan dapat berfungsi dengan baik.
Rasional
: Untuk memudahkan bidan dalam menolong persalinan, sehingga
penolong dapat bekerja secara efektif tanpa terkendala.
Evaluasi
: Penolong sudah mendekatkan alat-alat pertolongan persalinan.
Sumber
: APN 2012, hal 95
5. Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman dan mengajarkan cara meneran yang
efektif.
- Menganjurkan ibu untuk memilih posisi seperti :
Posisi duduk ataupun setengah duduk dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu

dan
memberikan kemudahan untuk beristirahat diantara kontraksi,keuntungan posisi

ini adanya gaya gravitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya.


Atau dengan posisi litotomi, ibu dianjurkan merangkul kedua paha pada saat his

dan pandangan kedepan kearah perut.


Cara meneran yang efektif :

74

o Anjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama


kontraksi.
o Tidak bersuara terlalu kencang dan menahan nafas saat meneran.
o Minta ibu untuk berhenti meneran dan beristirahat di antara kontraksi.
Rasional
: Posisi yang nyaman dan meneran secara efektif akan membantu
melancarkan proses persalinan.
Evaluasi
: Ibu sudah memilih posisi yang nyaman
Sumber
: APN 2012 hal 93 dan Sarwono hal 342
6. Lakukan pertolongan persalinan.
- Pada saat ada tanda gejala persalinan yaitu doran, teknus, perjol, vulka pasang alas
bokong dan kain diatas perut ibu, apabila kepala sudah tampak 5-6cm di depan
vulva kemudian melakukan stenen dengan cara tangan kanan menahan perineum dan
tangan kiri menahan kepala untuk mencegah terjadinya defleksi yang terlalu cepat,
kemudian lahirlah berturut turut ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar,dahi,
mata,hidung, mulut dan dagu bayi maka lahirlah seluruh kepala, tidak ada lilitan tali
pusat, tunggu sampai kepala bayi melakukan putaran paksi luar. Pegang secara
biparietal, anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Kemudian gerakkan kepala ke
arah bawah untuk mengeluarkan bahu depan dan ke atas untuk mengeluarkan bahu
belakang, sanggah, susur, untuk mengeluarkan badan, tungkai, dan kaki maka
lahirlah bayi seluruhnya.Lalu keringkan badan bayi dengan menggunakan handuk
kering dan bersihkan jalan nafas,setelah itu bayi diletakkan diatas perut ibu dan IMD
( inisiasi menyusu dini )
Bayi lahir jam 06.30 WIB jenis kelamin : laki-laki., spontan belakang kepala, bayi
segera menangis.
APN 2008 Hal 85-89
KALA III (06.35 WIB)
S

: Ibu senang dengan kelahiran bayinya dan perut ibu masih tersa mules.

:-

Kesadaran
: Compos Mentis
Keadaan emosional
: stabil
TFU
: setinggi pusat
Kontraksi
Kandung kemih
TTV :TD
: 130/80mmhg
N
: 83 x/i
RR
: 24 x/i
75

: baik
:dalam batas normal

S
A

: 36,5C

: P6 A0, Post Partum kala III


Dasar : - Ibu sudah melahirkan pukul 06.30 wib, bayi laki-laki langsung menangis,
-

BB : 3400 gr.
Ibu tidak pernah keguguran dan melahirkan 6x.

PLANNING :
1. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan.
Rasional : Hasil pemeriksaan Kontraksi Uterus baik, kandung kemih tidak penuh
Agar Ibu dan keluarga mengerti dengan keadaannya saat ini.
Evaluasi : Ibu sudah mengerti dengan keadaannya saat ini.
Sumber : dari hasil pemeriksaan objektif
2. Pastikan tidak ada lagi janin ke dua dalam uterus.
Rasional : Penolong melakukan palpasi untuk memastikan tidak ada lagi janin
kedua.
Evaluasi : Untuk memastikan bahwa janin tunggal.
Sumber : Penolong sudah melakukan pemeriksaan.
APN 2008 Hal 97
3. Lakukan management aktif kala III
a. Berikan suntikan oksitosin
Untuk merangsang fundus uteri berkontraksi dengan baik, sehingga dapat
membantu pelepasan plasenta.
Oksitosi di suntikkan 2 menit setelah bayi lahir sebanyak 10 unit pada 1/3 paha
luar.
b. Pemotongan tali pusat
- Pasang klem tali pusat pertama dengan jarak 3 cm dari dinding perut bayi.
Tekan tali pusat dengan dua jari, urut kearah plasenta, pasang klem II dengan
jarak 2 cm dari klem pertama. letakkan ke 2 klem dengan tangan kiriuntuk
melindungi perut bayi.
- Potong tali pusat diantara ke 2 klem menggunakan gunting tali pusat
- Ganti kain yang basah dengan kain yang kering dan selimuti bayi
- Lakukan inisiasi menyusu dini
c. Lakukan peregangan tali pusat terkendali
- Penolong memindahkan klem tali pusat 5-10cm didepan vulva, tangan kanan
menegangkan tali pusat dan tangan kiri diatas simpisis melakukan dorso
kranial. Kemudian ada tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu tali pusat
bertambah panjang, uterus membundar, dan semburan darah dari vulva

76

secara tiba-tiba. Pada saat plasenta terlihat di vulva pegang plasenta dan putar
Evaluasi

searah jarum jam sampai selaput plasenta lahir.


: Ibu sudah disuntik oksitosin,pemotongan tali pusat dan Peregangan tali

pusat terkendali sudah dilakukan, plasenta lahir lengkap pada pukul 06.35 wib,
perdarahan 250 cc, dan ibu sedang melakukan IMD
Sumber
: APN 2008 Hal 97
4. Melakukan masase fundus uteri
Rasional

: Agar uterus berkontraksi dengan baik

Evaluasi

: Dengan cara gerakkan tangan memutar pada fundus sebanyak 15 kali

dalam 15 detik uterus berkontraksi dengan baik


Sumber

: APN 2008 hal 102

5. Memeriksa ruptur perineum / laserasi jalan lahir dan lakukan heacting


Terdapat laserasi perineum derajat 2
Rasional

: Kemudian dilakukan penyuntikan lidokain dan dilakukan heacting

Evaluasi

: Penjahitan perineum telah dilakukan

Sumber

: APN 2008 hal 177

6. Bersihkan ibu dan tempat tidur serta pastikan ibu merasa nyaman setelah persalinan
Rasional
: Agar ibu bersih dan tidak terkena infeksi
Evaluasi
: Ibu sudah merasa nyaman
Sumber
: Asuhan Persalinan Normal
7. Melakukan Dekontaminasi Tingkat Tinggi alat alat partus set
Rasional
: Agar alat alat bersih dari bakteri setelah persalinan dan mensterilkannya
kembali
Evaluasi
Sumber

: Semua alat sudah disterilkan


: APN 2008 hal 16
KALA IV (pengawasan 2 jam post partum)

: ibu merasa lega dan senang atas kelahiran bayinya

:
Keadaan umum
Kesadaran
TTV

: Baik
: Compos metis
: - TD : 130/80mmHg, N : 82x/i, RR : 24x/i,
77

S : 37,2oc
TFU
: 3 jari di bawah pusat
Kandung kemih : kosong
Kontarksi uterus : Baik
Perdarahan
: 50 cc

: P1 A0 post partum kala IV


Dasar

: ibu telah melahirkan bayinya pukul 06.30 wib pada tanggal 27


Juni 2015, plasenta lahir 06.35 wib

Masalah
Kebutuhan

: ibu merasa lemas dan perut ibu masih terasa mules


: Mengajarka keluarga untuk memasase perut ibu

PLANNING
1.

Memberitahu ibu dan keluarga mengenai hasil pemeriksaan bahwa kondisi ibu dan
bayinya lahir
Hasil pemeriksaan
Keadaan umum
Kesadaran umum
TTV

: Baik dan stabil


: Compos mentis ( CM )
: TD : 110/80 mmHg, Suhu : 36,5oC, Nadi : 80 x /
menit, RR : 24 x/menit.
TFU
: 2 jari dibawah pusat
Kandung kemih
: Tidak penuh
Kontraksi uterus
: baik
Perdarahan
: 50 cc
Rasional
: Agar ibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan nya saat
Ini.
Evaluasi
: Ibu dan suami mengetahui hasil pemeriksaan
Sumber
: subjektif dan objektif
2. Bersihkan ibu dan tempat tidur serta pasikan ibu merasa nyaman setelah

bersalin,

dekontaminasi alas plastik, tempat tidur dan matras dengan larutan klorin 0,5% kemudian
cuci dengan detergen dan bilas hingga bersih. Jika sudah bersih, keringkan dengan kain
bersih, supaya ibu tidak berbaring diatas matras yang basah
Rasional

: agar ibu merasa lebih nyaman

Evaluasi : ibu telah dibersihkan dan ibu merasa lebih nyaman


Sumber : buku asuhan persalinan normal 2008

78

3. Anjurkan ibu untuk istirahat ibu bias miring kiri, kanan dan duduk
Rasional

: agar ibu merasa nyaman dengan posisinya

Evaluasi

: ibu sudah istirahat untuk memulikkan kondisi agar tidak lemas

Sumber

: buku asuhan persalinan normal 2008

4, Anjurkan ibu untuk makan dan minum

5.

Rasional

: untuk memulihkan tenaga ibu agar tidak lemas

Evaluasi

: ibu sudah makan dan minum

Sumber

: buku asuhan persalinan normal 2008

Anjurkan

ibu

untuk

melakukan

IMD

terhadap

bayinya

dengan

cara

telungkupkan bayi diatas perut ibu tanpa alas secara skin ti skin, kemudian
selimuti ibu dan bayinya biarkan bayi mencari putting susu ibu,IMD 1 jam.
Rasional : untuk menciptakan ikatan batin antara ibu dan bayinya dan
Mendapatkan kekebalan imun dari kolostrum
Evaluasi

: ibu sudah melakukan IMD terhadap bayinya

Sumber

: asuhan persalinan normal 2008

6. Anjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene, seperti :


1 Menggunakan pakaian yang longgar dan menyerap keringat
2 Mandi 2x sehari dan mengganti pakaina 2x sehari
3 Mencuci tangan tiap selesai membersihkan daerah kewanitaan
4 Merawat luka bekas hacting
Rasional
: untuk menjaga kebersihan ibu dan mencegah dari infeksi post
Partum.
Evaluasi

: ibu mengerti dan bersedia melakukan apa yang dianjurkan

Sumber

: asuhan persalinan normal 2008

7. Jelaskan pada ibu manfaat asi buat bayi dan ibu


79

Rasional

: Agar ibu mengetahui manfaat asi untuk bayi akan mepengaruhi

Evaluasi
Sumber

Pertumbuhan dan perkembangan bayi serta untuk daya tahan


Tubuh bayi terhadap infeksi manfaat untuk ibu supaya
Mengembalikan alat-alat reproduksi cepat pulih kembali
Dan sebagai alat kontrasepsi
: ibu sudah mengetahui pentingnya asi untuk ibu dan bayi
: buku asuhan kebidanan pada ibu nifas 2009

8. Rencanakan ibu pulang kerumah jika keadaan ibu sudah membaik


Rasional
: agar ibu dapat beristirahat dirumah dan menyesuaikan diri
dengan keadaan habis melahirkan
Evaluasi
: tanggal 27 juni 2015 pukul 11.30 wib ibu pulang kerumah dalam
keadaan baik.
Sumber
: asuhan kebidanan pada ibu nifas
9. Dokumentasikan hasil pemeriksaan
Rasional
: sebagai dokumentasi dan bukti tindakan yang telah dilakukan
Evaluasi
: hasil pemeriksaan telah didokumentasikan dan patograf telah
dilengkapi
Sumber
: buku asuhan perslainan normal
HASIL OBSERVASI

Ja
m
Ke
1.

Waktu
(Wib)

TD

Nad
i

Suhu

TFU

Kontraksi

Kan-

Perda-

dung

rahan

Kemih

110/8
07.00

0
mmh

80x/i

37oC

80x/i

3jari
pusat

Baik

100CC

Baik

50 CC

g
110/8
07.15

07.30

0
mmh
g
100/7
0

83 x/i -

1jari
pusat

2jari Baik
pusat

mmh
g
80

100/7
07.45

0
mmh

82 x/i -

2Jari
pusat

Baik

Baik

50CC

Baik

g
100/7
0
08.15

mmh

78 x/i

36,7

3jari

pusat

2.
110/7
08.45

0
Mmh

80 x/i

3jari
pusat

81

3.3

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TERHADAP


NY. S, 36 TAHUN
DI BPM MARISTA NAPITUPULU, TANJUNG PIAYU

NAMA MAHASISWA

: HERIAH SYAFITHRI

NPM

: 41213038

TEMPAT PRAKTEK

: BPM. MARISTA NAPITUPULU Amd.Keb

HARI/ TANGGAL

: 27 Juni 2015

WAKTU PENGKAJIAN

: 07.00 WIB

DATA SUBJEKTIF
A. IDENTITAS
Nama klien

: Ny.S

Nama Suami : Tn. F

Umur

: 36 tahun

Umur

: 37 tahun

Suku

: Batak

Suku

: Batak

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Tanjung piayu

Alamat

: Tanjung piayu

B. ANAMNESA
82

Tanggal 27 juni 2014 pukul 07.00 wib


a. Keluhan utama

: ibu mengatakan merasa sedikit sakit di bagian bekas jahitan

perineum
b. Riwayat Perkawinan
Status pernikahan
: 1 (satu) kali
Pertama kali menikah umur : 25 tahun
Suami sekarang umur
: 34 tahun
c. Riwayat menstruasi
Menarche
Siklus menstruasi
Lamanya
Sifat darah dan bau
Disminorhea

: 15 tahun
: 28 hari
: 6 hari
: sedikit
: ( + ) nyeri, tetapi tidak mengganggu aktivitas

d. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu


Tidak ada
e. Antenatal
Tempat pemeriksaan

: tidak ada

Kelainan atau komplikasi

: tidak ada

Usia kehamilan

: 41 minggu

f. Persalinan
Tanggal Persalinan

: 27-06-2015 Jam

Jenis kelamin

: laki-laki

BB

: 3400 gram

TB

: 50cm

LK

: 35 cm

LD

: 36 cm

Jenis persalinan

: spontan

Plasenta

: lahir jam 06.35, spontan, lahir lengkap

Perineum

: tidak ruptur

Jahitan

: tidak ada

Perdarahan kala III

: 250ml
83

: 06.30 wib

g. Keadaan bayi baru lahir


BB dan PB

: 3400gr, 50cm

APGAR

:8

Cacat

:(-)

Rawat gabung : di lakukan


h. Riwayat kontrasepsi
Jenis kontrasepsi

: ( - ) belum pernah menggunakan alat kontrasepsi

Lama penggunaan

:(-)

Keluhan

:(-)

Alasan berhenti

:(-)

Berhenti

:(-)

i. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan yang

: tidak ada

Riwayat keluarga

: tidak ada

DATA OBJEKTIF
Pemeriksaan umum
1. Kesadaran

: Compos metis

2. Keadaan emosional

: stabil

3. Tanda Vital

: Tekanan darah

: 120/ 70 mmHg

Denyut nadi

: 80 x/i

Pernapasan

: 24 x/i

Suhu

: 36,2o C

Pemeriksaan sistematis
a. Kepala : Muka
: tidak ada oedem dan cloasma
Mata
: Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik
Mulut/ Gigi : tidak ada stomatitis, tidak ada caries, gusi tidak berdarah

84

b. Leher

: tidak ada pembengkakan kelenjar thyroid

c. Dada dan axilla


mammae

: membesar

areola
putting susu
pengeluaran
axilla
d. Abdomen

:(+)

benjolan

:(-)

simetris
:(+)
: hyperpigmentasi
: menonjol
: ada coloatrum
: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
: TFU
Kontraksi
Kandung kemih

e. Ekstremitas
Tungkai
: tidak ada edema
Reflek patella : ( + )
Kuku
: pendek, bersih

: 3 Jari di bawah pusat


: baik
: kosong
nyeri : ( - ) merah : ( - )

f. Ano-genital
Lochea
: rubra
Edema
: tidak ada
Varices
: tidak ada
Perineum
: luka jahitan masih basah
Penyembuhan luka : dalam proses
Anus
: tidak ada hemoroid
g. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan

ASSESMENT
P6 Ao post partum 2 jam
Dasar : ibu telah melahirkan anak pertamanya pukul 06.30 wib pada tanggal 27-06-2015
Masalah : ibu merasa lemes dan masih mules
Kebutuhan : penjelasan tentang keluhan ibu
PLANNING
1. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan.
-

agar ibu dan keluarga mengerti tentang keadaannya.

Hasil pemeriksaan yaitu TD 120/80 mmHg N : 80 x/i S: 36,1 R : 24x/i


85

Rasional

:Agar ibu dan keluarga tahu kondisi ibu pasca melahirkan

Evaluasi

:Ibu dan keluarga sudah mengetahui hasil pemeriksaan

Sumber

:Data subjektif dan objektif

2. Anjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene.


- Menganjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene yaitu dengan membersihkan alat
kelamin setelah BAK/BAB dengancebok yang benar dari arah depan dan belakang.
- Mandi 2 x sehari, mengganti pakaian dalam 3 x sehari
Rasional
:Agar ibu bersih dan mencegah infeksi
Evaluasi
:Ibu mau mengikuti anjuran bidan
Sumber
:APN 2012 hal 97
3. Beritahu ibu untuk pemberian ASI Eksklusif dan cara menyusui yang benar
-

agar meningkatkan hubungan ibu dan bayinya

memenuhi nutrisi pada bayinya dan merangsang produksi ASI memperkuat refleks
menghisap bayi.

Mengajarkan ibu teknik menyusui yang benar posisi badan ibu dan badan bayi.

Posisi menyusui :
-

Ibu harus duduk dan berbaring dengan santai

Pegang bayi pada belakang bahunya, tidak pada dasar kepala

Putar seluruh badan bayi agar menghadap ke ibu

Rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah payudara ibu

Temple dagu bayi pada payudara ibu

Dengan ini maka telinga bayi akan berada dalam satu gari dengan leher dan lengan
bayi

Jauhkan hidung bayi dengan payudara ibu dengan cara menekan pantat bayi dengan
lengan ibu bagian dalam

Posisi mulut bayi saat menyusui :


-

Keluarkan ASI sedikit oleskan pada areola

Pegang payudara dengan pegangan seperti membentuk huruf c yaitu payudara di


pegang dengan ibu jari di bagian atas dan jari yang lain menopang di bawah atau
dengan pegangan seperti gunting (putting susu dan aerola di jepit oleh jari telunjuk
dan jari tengah seperti gunting) di belakang areola
86

Sentuh pipi bayi/bibir bayi untuk merangsang rooting reflex (reflex menghisap)

Tunggu sampai mulut bayi terbuka lebar, dan lidah menjulur kebawah

Dengan cepat dekat kan bayi kepayudara ibu dengan menekan bahu belakangan bayi
bukan belakang kepala

Posisikan putting susu di atas bayi dan berhadap-hadapan dengan hidung bayi

Kemudian arahkan putting susu keatas menyusuri langit-langit


Mulut bayi

Rasional

: Supaya bayi nyaman menyusui

Evaluasi

: Ibu bersedia dan tau cara pemberian ASI yang benar

Sumber

: Asuhan persalinan normal 2008,hal 131

4. Anjurkan ibu untuk selalu bersama bayinya dan menjaga bayinya untuk tetap hangat agar
ibu dapat melakukan kontak langsung dengan bayinya seperti menyusui
Rasional

: Agar bayi tidak hiportermi dan suhu tubuhnya tetap stabil

Evaluasi

: Ibu bersedia untuk selalu dekat dengan bayinya

Sumber

: Asuhan Persalinan Normal. 2008 hal 128-129

5. Memenuhi kebutuhan nutrisi ibu, menganjurkan ibu untuk makan-makan yang bergizi
agar ASInya lancar dan istirahat yang cukup
Rasional
: Agar ibu tidak kekurangan nutrisi
Evaluasi
: Ibu mau mengikuti anjuran yang telah diberikan oleh bidan, dan ibu mau
menyusui bayi nya
Sumber
: APN 2008 hal 127
6. Anjurkan ibu untuk istirahat atau tidur.
Rasional

: Untuk memulihkan kondisi ibu setelah kelelahan

Dan kekurangan tidur saat proses persalinan


Evaluasi

: Ibu sudah istirahat.

Sumber

: APN 2008 hal 127

7. Menjelaskan tanda bahaya masa nifas, yaitu :


- Perdarahan atau keluar cairan berbau dari jalan lahir
- sakit kepala yang hebat
- kejang
87

- payudara bengkak merah dan nyeri.


Rasional
: Agar ibu tahu tanda-tanda bahaya masa nifas, dan segera
Diatasi oleh tenaga kesehatan
Evaluasi
: Ibu mengerti dengan penjelasan bidan.
Sumber
: APN 2008 hal 97
8. Pendokumentasi
Agar mengetahui asuhan apa saja yang telah diberikan dan membuat analisa data yang
telah dilakukan dan dapat lebih efektif dalam merumuskan diagnosa dan rencana asuhan
berikutnya
Dokumentasi telah dilakukan
APN 2008 hal 32

3.5

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR


NY. S, 36 TAHUN
DI BPM MARISTA NAPITUPULU, TANJUNG PIAYU
NAMA MAHASISWA

: HERIAH SYAFITHRI

NPM

: 41213038

TEMPAT PRAKTEK

: BPM. MARISTA NAPITUPULU Amd.Keb

HARI/ TANGGAL

: 27 Juni 2015

WAKTU PENGKAJIAN

: 07.00 WIB

DATA SUBJEKTIF
IDENTITAS
Nama Bayi

: By Ny. S

Tgl/ jam/ lahir : 27 Juni 2015. Pukul 06.30, lahir normal


Jenis Kelamin : laki- laki
88

Nama klien

: Ny.S

Nama Suami : Tn. F

Umur

: 36 tahun

Umur

: 37 tahun

Suku

: Batak

Suku

: Batak

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Tanjung piayu

Alamat

: Tanjung piayu

PENGKAJIAN
Anamnesa pada tanggal 12 07 - 2014, pukul 03.25/ 2 jam pasca melahirkan/ post
partum
1. Riwayat Kehamilan Ibu sekarang
a. Pemeriksaan antenatal
Keluhan

: Trimester I

: mual, pusing, muntah

Trimester II : tidak ada


Trimester III : nyeri pada bagian bawah perut dan sakit pinggang
Imunisasi

: TT 1 : usia kehamilan 20 minggu


TT 2 : usia kehamilan 24 minggu

b. Riwayat penyakit yang diderita dalam kehamilan


No
1
2
3
4
5
6
7

Penyakit
Kardiovaskuler
Diabetes mellitus
TBC
Malaria
PMS
HIV/ AIDS
Asma

Ya
89

Tidak
V
V
V
V
V
V
V

c. Riwayat Komplikasi Kehamilan


Perdarahan

: tidak ada

Pre eklampsia : tidak ada


Eklampsia

: tidak ada

Lain-lain

: tidak ada

2. Riwayat Persalinan Ibu sekarang


Jenis persalinan

: normal

Di tolong oleh

: Bidan

Lama persalinan : Kala I

: 3 jam, 30 menit

Kala II

: 2 jam, 10 menit

Kala III

: - jam, 10 menit

Keadaan bayi saat lahir

: segera menangis, kulit merah muda, tonus baik

Komplikasi Persalinan

: tidak ada

DATA OBJEKTIF
PEMERIKSAAN KHUSUS
1. Apgar Score
Yang

Nilai

dinilai

Warna

Badan

Anggota

kulit
Denyut

pucat/ biri
Tak

badan biru

jantung

teraba

Tonus otot

Terkulai

Reaksi
Pengisapa

Tak ada

n
Pernafasan Tak

Jumlah
2
Merah jambu

< 100/ menit

>100/ menit

Sikap anggota Menggerakkan


di tekuk

anggota

Muka

Batuk

menyeringai

bersin

Lambat
90

tak Teratur

dan

bernafas

teratur

menangis

Jumlah

2. Resusitasi
Rangsangan

: tidak di lakukan

Penghisapan lendir

: di lakukan

Ambu bag

: tidak di lakukan

Massage jantung

: tidak di lakukan

Inkubasi Enditrakheal

: tidak di lakukan

KEADAAN UMUM
Kesadaran

: Compos metis

Suhu

: 36,5C

Pernafasan

: 38 x/i

Nadi

: 120 x/i

Keaktifan

: ( + ) aktif

Tangisan

: ( + ) kuat

PEMERIKSAAN FISIK

Kepala
: ada caput
Muka
: tidak oedem, tidak biru
Mata
: tidak ikterik
Hidung
: simetris, tidak ada polip
Mulut
: tidak labio shizis atau palate shizis
Telinga: simetris, lubang telinga ( + )
Leher
: tidak ada pembengkakan kelenjar thyroid
Dada & axilla : bunyi nafas teratur, bunyi jantung teratur
Abdomen
: tidak ada jaringan yang keluar
Tali pusat
: segar
Punggung
: simetris, tidak ada pembengkakan
Ekstremitas : lengkap, tidak cacat
Genitalia
: sempurna
Anus
:(+)

REFLEK
1. Reflek moro

: ( + ) saat diberi sentuhan timbul gerakan


91

2. Reflek rooting
3. Reflek sucking

tangan.
: ( + ) bayi dapat menghisap dan menelan
saat disusui.
: ( + ) saat pipi di sentuh bayi mencari arah
sentuhan.

4. Reflek swalowing

: ( + ) saat diberi susu bayi dapat menelan


susu.
5. Reflek plantar/ grafis
: ( + ) saat tangan dan kaki di sentuh timbul
gerakan menggenggam.
ANTOPOMETRI
1.
2.
3.
4.

Lingkar kepala
Lingkar dada
Berat badan
Panjang badan

: 35 cm
: 36 cm
: 3000 gram
: 50 cm

ELIMINASI
1. Miksi
2. Mekonium

: ( + ) sedikit
: ( + ) warna hijau, kental

ASSESMENT
Diagnosa

: Neonatus lebih bulan masa kehamilan usia 2 jam post partum

Masalah

: tidak ada

Kebutuhan

: perawatan bayi segera setelah lahir

PLANNING
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga,
Keadaan umum bayi baik, bayi menangis kuat, bayi bergerak aktif dan warna kulit
kemerah-merahan
Rasional

:Agar keluarga mengetahui keadaan bayinya baik

Evaluasi

:Ibu sudah mengetahui keadaan bayi nya

Sumber

:Data objektif dan subjektif

2. Memberitahu ibu agar selalu menjaga bayinya dalam keadaan tetap hangat tidak
mengalami hipotermi dan suhu tubuhnya tetap normal.
92

Dengan meletakan bayi di samping ibu atau di peluk diatas dada ibu saat menyusui

Pakaian yang dipakai bayi (baju,celana,sarung kaki dan tangan), serta di bedong, dan
selimuti bayi

Pakaikan topi untuk kepala bayi

Rasional

:Supaya keadaan bayi baik-baik saja

Evaluasi

:Ibu bersedia menjaga kehangatan bayinya

Sumber

:Asuhan Persalinan Normal 2008 hal 124

3. Beritahu ibu untuk memberikan ASI sesering mungkin dan memberikan ASI eksklusif
saja selama 6 bulan.
-

agar merangsang produksi air susu

meningkatkan hubungan ibu dan bayinya

untuk tumbuh kembang bayi.

Rasional

:Agar kebutuhan gizi dan nutrisi bayi terpenuhi

Evaluasi

:Ibu bersedia memberikan ASI eksklusif dan memberikan ASI sesering

mungkin
Sumber

:APN 2008 hal 131

4. Menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan tali pusat agar tidak infeksi dan cepat
lepas. Dengan cara :
-

Membungkus dengan kassa steril tanpa memberi obat apapun dan harus dalam
keadaan kering

Rasional

:Agar tidak terjadi infeksi pada bayi

Evaluasi

:Ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran bidan

Sumber

:APN 2008 Hal 126

5. Mengajarkan ibu untuk menjaga bayi dalam keadaan tetap bersih.


-

agar selalu dalam keadaan bersih dan terhindar dari kuman pathogen.

Rasional

:Agar bayi merasa nyaman

Evaluasi

:Ibu bersedia memandikan bayinya dan menjaga bayinya dalam keadaa

tetap bersih
93

Sumber

:Buku Sarwono hal 353

6. Memberitahu ibu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir seperti :
-

bayi tidak dapat menyusu

kejang

mengantuk/ tidak sadar

nafas cepat > 60 x/i

Rasional

:Untuk mencegah Angka Kematian Bayi

Evaluasi

:Ibu mengerti tanda-tanda bahaya pada BBL

Sumber

:Sarwono hal 131

7. Beritahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang tanggal 04 Juli 2015


Rasional

:Agar memantau tumbuh kembang bayi

Evaluasi

:Ibu bersedia untuk kunjungan ulang

Sumber

:Buku KIA hal 30

8. Melakukan pendokumentasian hasil pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan


Sebagai pembuktian tindakan yang telah dilakukan
Pendokumentasian telah dilakukan
Hasil pemeriksaan bidan

94

3.5

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BERENCANA


TERHADAP NY. S
DI BPM MARISTA NAPITUPULU, TANJUNG PIAYU
Nama Mahasiswa

: HERIAH SYAFITHRI

NPM

: 41213038

Tempat Praktek

: BPS. MARISTA NAPITUPULU

Hari/ Tanggal

: Selasa, 07 Juli 2015

Waktu Pengkajian

: 20.15 wib

DATA SUBJEKTIF
IDENTITAS
Nama klien

: Ny. S

Nama suami : Tn. H

Umur

: 24 Tahun

Umur

: 26 Tahun

Suku

: Jawa

Suku

: Jawa

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Tanjung piayu

Alamat

: Tanjung piayu

Agama

ALASAN DATANG KE BPS


Klien datang ke BPS ingin melakukan kunjungan ulang KB
95

: Islam

RIWAYAT MENSTRUASI
Menarche

: 15 tahun

Dismenore

:(+)tidak mengganggu

Siklus

: 28 hari

flour albus

: ada, sebelum haid,

Lama

: 7 hari

Konsistensi

: cair

banyaknya

: sedikit- sedikit

RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


Normal, tidak ada penyakit yang di derita
RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
Tidak ada penyakit terdahulu
RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA/ GENETIK
Tidak ada penyakit keturunan
STATUS PERNIKAHAN
Umur saat menikah
Jumlah
Jumlah pasangan
Lama pernikahan

: 23 tahun
: 1 ( satu ) kali
: 1 ( satu ) orang
: 2 tahun

RIWAYAT OBSTETRI

96

kasi kompli

KB

laktasi

BB/ PB

Nifas
umur

Jenis
kelamin

Anak
kasi kompli

ng Penolo

Persalinan
Jenis

Kehamilan
Kompli
kasi

Umur

1.

40
mg

Tidk ada

gu

Bida

Tidak

ada

3
bln

3000
grm

(+)

50
cm

RIWAYAT KB
Jenis KB

: Suntik 3 bulan

kapan berhenti : -

Lama

: 3bulan

alasan berhenti : -

Mulai KB

: 3 bulan setelah nifas

KEADAAN PSIKOLOGIS
Baik, stabil
POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
1. Nutrisi

: makan: 3x1 sehari

Komposisi makanan

minum :8 gelas air putih sehari


: nasi, lauk pauk, sayuran dan buahbuahan

Perubahan porsi makan

: sedikit lebih banyak

Alergi terhadap makanan

: tidak ada

2. Eliminasi : BAB : 1X sehari, konsistensi padat, warna kuning


kecoklatan
BAK : 8x sehari, warna jernih
3. Pola istirahat dan tidur : tidur malam : 7 jam
Tidur siang : 2 jam

97

(-)

4. Kebiasaan hidup sehari-hari

: tidak mengkonsumsi obat-obatan/ jamu, rokok,

minuman beralkohol, NAPZA, dan tidak ada alergi terhadap obat.


5. Aktivitas sehari- hari

: mengerjakan pekerjaan rumah

6. Personal hygiene : mandi

: 2x sehari

Ganti pakaian dalam dan luar

: 3x sehari

Iritasi vagina

: tidak ada

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Kebutuhan sehari- hari tercukupi, Pendapatan perbulan Rp. 2.000.000,DATA OBJEKTIF
A. KEADAAN UMUM
Kesadaran

: Compos metis

Keadaan emosional

: stabil

Tanda Vital

: Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Denyut nadi

: 78 x/i

Pernapasan

: 20 x/i

Suhu

: 36,5o C

Tinggi Badan

: 155 cm

Berat badan

: 50 kg

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Kepala
: Rambut hitam, tidak rontok, bersih
2. Mata
: Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik
3. Hidung
: pengeluaran tidak ada, tidak ada polip
4. Telinga
: bersih, simetris, pendengaran baik
5. Mulut/ Gigi
: tidak ada stomatitis, tidak ada caries, gusi tidak
bengkak
6. Leher
: tidak ada pembengkakan kelenjar thyroid
7. Dada
: bunyi nafas teratur, bunyi jantung teratur
8. Perut
: konsistensi lunak, tidak ada pembesaran
9. Ekstremitas
: tidak ada varices dan oedem, reflek patella ( + )
C. PEMERIKSAAN ANOGENITAL
98

Tidak dilakukan pemeriksaan


D. PEMERIKSAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan
ASSESMENT
Ny.S usia 24 tahun P1A0 akseptor KB suntik 3 bulan
Dasar

: 1. Ibu mengatakan bahwa sekarang usia nya 24 tahun


2. Ibu mengatakan sudah punya 1 anak dan tidak pernah keguguran
3. Ibu mengatakan sudah 4 tahun menggunakan KB suntik 3 bulan

Masalah

: ibu mengatakan haid tidak lancar dan sedikit-sedikit

Kebutuhan

: memberikan konseling pada ibu tentang keuntungan dan kerugia pemakaian KB

PLANNING
1. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan,
TD : 120/80 mmHg N : 78 x/i S : 36,5 R : 20 x/i TB : 155 BB : 50 kg
Agar ibu tahu kondisi ibu saat ini sehat
Ibu sudah mengetahui keadaanya
data subjektif dan objektif
2. Ibu menggunakan kontrasepsi jenis suntik 3 bulan (Depo) secara Intramuskular (IM)
Agar tidak terjadi kehamilan
Ibu sudah disuntikkan
KB dan Kontrasepsi, dr.Hanafi hartanto, 2010
3. Beritahu ibu untuk kunjungan ulang agar ibu tau kapan tanggal ibu harus datang kembali
yaitu tanggal 24 09 2014
Agar ibu mengetahui tanggal kunjungan berikutnya
Kemudian ibu sudah mengetahui kapan harus datang kembali untuk melakukan suntik kb
3 bulan
KB dan Kontrasepsi, dr. Hanafi Hartanto,2010
99

BAB IV
PENUTUP
4.1

KESIMPULAN
Setelah melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru
lahir, dan keluarga berencana, yang telah dilakukan dalam praktek selama 3 minggu
(tahun 2014) maka dapat menarik kesimpulan :
Untuk pembuatan asuhan kebidanan diperlukan landasan teori.
Dalam melakukan pengkajian diperlukan kerjasama yang baik antara bidan dan
klien serta petugas lain guna memperoleh data yang akurat.
Dalam merencanakan suatu Asuhan Kebidanan diperlukan konsultasi / kolaborasi
dengan dokter / dokter spesialis.

4.2

SARAN
Utuk ibu hamil
Agar ibu menjaga kehamilannya, menjaga kesehatan diri, janinnya serta
melaporkan dan memeriksa diri jika dicurigai terjadinya kelainan pada kehamilan.
Untuk petugas kesehatan
Untuk meningkatkan taraf kesehatan khususnya kebidanan serta meningkatkan
ilmu pengetahuan dan wawasan tentang kesehatan khususnya kebidanan
Untuk Mahasiswa
Meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan tentang kesehatan khususnya
kebidanan.

100