Anda di halaman 1dari 22

1

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan limpahan kenikmatan kesehatan baik jasmani maupun rohani
sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas
referat yang berjudul “Ketuban Pecah Dini”. Penulis mengharapkan saran dan
kritik yang dapat membangun dari berbagai pihak agar dikesempatan yang akan
datang penulis dapat membuatnya lebih baik lagi.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar – besarnya
kepada dr. Ahmad Khuwailid, Sp.OG serta berbagai pihak yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan penulisan refrat ini.
Semoga refrat ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Medan, September 2014

Penulis

2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................................
Daftar isi............................................................................................................................
BAB I Pendahuluan
LatarBelakang....................................................................................................................
BAB II Pembahasan
1. Definisi...........................................................................................................................
2 Etiologi............................................................................................................................
3. Epidemiologi..................................................................................................................
4.faktor risiko.....................................................................................................................
5. Patofisiologi....................................................................................................................
6. Diagnosis........................................................................................................................
7. Tanda dan Gejala..........................................................................................................
8. Tatalaksana ..................................................................................................................
9. Komplikasi ..................................................................................................................
10.Pencegahan .................................................................................................................
11. Prognosis ...................................................................................................................
BAB III Kesimpulan
Kesimpulan.......................................................................................................................
DaftarPustaka ................................................................................................................

sehingga masa tunggu akan memanjang.3 BAB I PENDAHULUAN Pecah ketuban secara spontan paling sering terjadi sewaktu-waktu pada persalinan aktif. hampir tidak berwarna dengan jumlah yang bervariasi. Selaput ketuban yang masih utuh sampai bayi lahir lebih jarang ditemukan. janin yang dibungkus oleh selaput ketuban ini dan bagian yang membungkus kepala bayi yang baru lahir kadangkala disebut sebagai caul. Sifat konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup. Jika kebetulan selaput ketuban masih utuh sampai kelahiran. Pecah ketuban secara khas tampak jelas sebagai semburan cairan yang normalnya jernih atau sedikit keruh. . Pecah ketuban sebelum persalinan mulai pada tahapan kehamilan manapun disebut sebagai ketuban pecah dini (1). adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin adanya tanda-tanda persalinan. Ketuban pecah dini merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas perinatal serta berhubungan dengan infeksi perinatal dan kompresi umbilical cord akibat oligohidramnion. Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan atau harus menunggu sampai terjadinya proses persalinan. Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi. Infeksi koriodesidual memiliki peranan penting dalam etiologi terjadinya ketuban pecah dini terutama pada usia gestasi awal.

yang memungkinkan perkembangan sistem musculoskeletal dan melindungi janin dari trauma luar. .4 BAB II PEMBAHASAN 1. Ingesti cairan ketuban ke dalam paru dan saluran cerna mungkin meningkatkan pertumbuhan dan diferensiasi jaringan-jaringan ini melalui gerakan inspirasi dan menelan cairan ketuban. Definisi Ketuban Pecah Dini atau premature rupture of the membrane (PROM) adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (1). Cairan ini juga mempertahankan suhu dan memiliki fungsi nutrisi yang minimal. dan kemudian berkurang secara bertahap hingga minggu ke 33. Volume cairan ketuban pada setiap minggu gestasi cukup berbeda-beda. Cairan ketuban berfungsi sebagai bantalan bagi janin. Dengan demikian volume cairan ketuban biasanya meningkat dari 50 ml pada minggu 12 menjadi 400 ml pada pertengahan kehamilan dan 1000 ml pada kehamilan aterm (1). Namun fungsi yang paling penting adalah mendorong pertumbuhan serta perkembangan normal paru dan saluran cerna dan melindungi suhu tubuh janin. Secara umum volume meningkat 10 ml per minggu pada minggu ke 8 dan meningkat sampai 60 ml per minggu pada minggu 21. Ketuban Pecah Dini (KPD) atau premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum in partu (2).

curetage). kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan. . Serviks yang inkompetensia. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD. dengan izin (1) 2. ETIOLOGI Walaupun banyak publikasi tentang KPD. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah: 1. 2. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD. namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. namun faktorfaktor mana yang lebih berperan sulit diketahui.5 Volume cairan ketuban yang lazim Minggu gestasi Janin (g) Plasenta (g) Cairan amnion (ml) Persen caian 16 100 100 200 50 28 1000 200 1000 45 36 2500 400 900 24 40 3300 500 800 17 Dari Queenan (1991).

gemelli.738 orang.68 %).000 kelahiran. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual. adapun persalinan dengan Ketuban Pecah Dini sebanyak 101 orang (3.6 3. Merokok selama kehamilan 3. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2010. pemeriksaan dalam. hidramnion. yang . Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma. Epidemiologi Menurut data yang diperoleh dari Medical Record Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa dengan jumlah persalinan pada tahun 2011 sebanyak 2. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. memperkirakan angka kematian ibu lebih dari 300-400/100. vitamin C rendah) 5. Sedangkan kejadian Ketuban Pecah Dini pada tahun 2012 mengalami peningkatan yaitu sebanyak 248 orang dari 1930 persalinan. 4. maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi. Faktor Nutrisi (ion Cu serum rendah.

12) Trauma. abortus 13%.) flora vagina abnormal. 5. 6. Patofisiologi Ketuban pecah dini berhubungan dengan kelemahan menyeluruh membran fetal akibat kontraksi uteri dan peregangan berulang.5. eklampsia 12%. dan penyebab lainnya 2%. Daerah dekat tempat pecahnya membran yang ditandai dengan adanya pembengkakan dan kerusakan jaringan kolagen fibrilar pada lapisan kompakta. 14) infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis.7 disebabkan oleh perdarahan 28%. Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam membran sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien risiko tinggi. 5) kelainan atau kerusakan selaput ketuban. partus lama 18%. Daerah ini akan muncul sebelum ketuban pecah dini dan merupakan daerah breakpoint awal. Membran yang mengalami ruptur premature ini tampak memiliki defek fokal dibanding kelemahan menyeluruh. ketuban pecah dini 20%. 6. Serviks yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu. 13) servix tipis / kurang dari 39 mm. 3) perdarahan pervaginam. Faktor Risiko Faktor risiko ketuban pecah dini persalinan preterm : 1) kehamilan multipel : kembar dua (50%) atau kembar tiga (90%). 10) Polihidramnion (cairan ketuban berlebih). 11) Riwayat KPD sebelumya. 4. 9) Inkompetensi serviks (leher rahim). Diagnosis . 8) kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis dapat menjadi stimulasi persalinan preterm. 4) pH vagina di atas 4. fibroblast maupun spongiosa. 2) riwayat persalinan preterm sebelumnya.

8 Diagnosis dapat ditegakan dari anamnesis. Inspeksi Pengamatan biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina. Kertas lakmus akan berubah menjadi biru jika PH 6 – 6. yang dinilai adalah  Keadaan umum dari serviks. semen atau vaginisis trichomiasis. Melakukan perasat valsava atau menyuruh pasien  untuk batuk untuk memudahkan melihat pooling Cairan amnion di konfirmasikan dengan menggunakan nitrazine test. Pemeriksaan Inspekulo Merupakan langkah pertama untuk mendiagnosis KPD karena pemeriksaan dalam seperti vaginal toucher dapat meningkatkan resiko infeksi. pemeriksaan fisik. Kertas nitrazin ini dapat memberikan positif palsu jika tersamarkan dengan darah. Anamnesis Dari anamnesis dapat menegakkan 90% dari diagnosis. 4. bila ketuban baru pecah. juga dinilai dilatasi dan perdarahan dari serviks. Dilihat juga prolapsus tali pusat atau ekstremitas janin. bau. Bau  dari amnion yang khas juga harus diperhatikan. Sekret vagina ibu memiliki PH 4 – 5. 1. Mikroskopis (tes pakis). Penderita merasa basah dari vaginanya atau mengeluarkan cairan banyak dari jalan lahir.5. cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna. 3. . dan PH nya. dan pemeriksaan laboratorium. Pooling pada cairan amnion dari forniks posterior mendukung diangnosis KPD. pemeriksaan ini akan makin jelas. Kadang kala cairan seperti urin dan vaginal discharge bisa dianggap cairan amnion. dengan kerta nitrazin ini tidak terjadi perubahan warna. 2. dan jumlah airnya masih banyak.

9 Jika terdapat pooling dan tes nitrazin masih samar dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis dari cairan yang diambil dari forniks posterior. khususnya bila persalinan sedang berlangsung juga. dan usia janin. Jika usia gestasi kurang dari 34 minggu dan tidak ada indikasi ibu dan janin untuk melakukan pelahiran. Ibu demam (suhu intrapartum> 100. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban sedikit (Oligohidramnion atau anhidramnion). dan stretococcus group B Pemeriksaan Lab 1. Tetapi jika usia gestasi di atas 34 minggu lengkap dan bila persalinan belum mulai setelah pemeriksaan secukupnya. Cairan diswab dan dikeringkan diatas gelas objek dan dilihat dengan mikroskop. Dilakukan juga kultur dari swab untuk chlamydia. Kalau induksi gagal segera dilakukan seksio sesarea. Selain itu dinilai amniotic fluid index (AFI). Pemeriksaan alpha – fetoprotein (AFP). Gambaran “ferning” menandakan cairan amnion 5.8 ° C): Paling sering . Tanda dan Gejala Tanda-tanda klinis yang khas dan gejala korioamnionitis meliputi: 1. Tes lakmus 2. persalinan diinduksi dengan oksitosin intravena bila tidak ada kontra indikasi. gonnorhea. berat janin. Tes pakis 3. Pemeriksaan darah lengkap dan kultur Pemeriksaan USG Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. 7. presentasi janin. Oligohidramnion ditambah dengan hasil anamnesis dapat membantu diagnosis tetapi bukan untuk menegakkan diagnosis rupturnya membran fetal. konsentrasinya tinggi didalam cairan amnion tetapi tidak dicairan semen dan urin 4. ibu tersebut harus diamati ketat dan harus dipantau frekuensi denyut jantung janin untuk mencari bukti kompresi tali pusat.4 ° F atau> 37.

Takikardia janin (> 160-180 denyut / menit) 4. Purulen atau berbau cairan ketuban atau cairan vagina 5.000 sel / uL) . Leukositosis ibu (jumlah leukosit darah hitung> 15.000-18. Nyeri tekan pada uterus 6. Takikardia ibu yang signifikan (> 120 denyut / menit) 3.10 2.

 Antibiotik : Pemberian antibiotik pada pasien ketuban pecah dini dapat menekan infeksi neonatal dan memperpanjang periode latensi. enterokolitis nekrotikans ( 0.11 8. Sejumlah antibiotik yang digunakan meliputi ampisilin 2 gram dengan kombinasi eritromisin 250 mg setiap 6 jam selama 48 jam. .  Kortikosteroid : Pemberian kortikosteroid dapat menekan morbiditas dan mortalitas perinatal pasca ketuban pecah dini preterm. Penatalaksanaan Penatalaksanaan kehamilan dengan komplikasi ketuban pecah dini perlu mempertimbangkan morbiditas dan mortalitas immaturitas neonatal yang berhubungan dengan persalinan dan risiko infeksi terhadap ibu dan janin.  Tokolitik : Pemberian agent tokolitik diharapkan dapat memperpanjang periode latensi namun tidak memperbaiki luaran neonatal.6% ). National Institute of Health merekomendasikan pemberian kortikosteroid sebelum masa gestasi 30 – 23 minggu. TIdak banyak data yang tersedia mengenai pemakaian agen tokolitik untuk ketuban pecah dini. Pasien yang mendapat kombinasi ini dimungkinkan dapat mempertahankna kandungan selama 3 minggu setelah penghentian pemberian antibiotik setelah 7 hari.8 – 4. Pemberian kortikosteroid setelah masa gestasi 34 minggu masih kontroversial dan tidak direkomendasikan kecuali ada bukti immaturitas paru melalui pemeriksaan amniosentesis.5 – 15. dengan asumsi viabilitas fetus dan tidak ada infeksi intra amniotik. diikuti pemberian amoxicilin 250 mg dan eritromisin 333 mg setiap 8 jam untuk lima hari.9% ). Kortikosteroid juga menekan risiko terjadinya sindrom distress pernafasan ( 20 -35. hemoragi intraventrikular ( 7. Rekomendasi sebagian besar menggunakan betamethason ( celestone ) intramuscular 12 mg setiap 24 jam selama 2 hari.4% ).

Prognosa  Usia kehamilan  Adanya infeksi / sepsis  Factor resiko / penyebab  Ketepatan Diagnosis awal dan penatalaksanaan Bila jarak pecahnya ketuban dengan partus :  24 jam -> kematian perinatal 2x . Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada ketuban pecah dini yaitu: 1) ketuban pecah dini merupakan penyebab pentingnya persalinan prematur dan prematuritas janin. 11. 10. diskusikan tentang pengaruh merokok selama kehamilan usaha untuk menghentikan. 4) pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour atau persalinan kering. khususnya pada kasus oligohidramnion. Pencegahan Pada pasien perokok. 2) resiko terjadinya ascending infection akan lebih tinggi jika persalinan dilakukan setelah 24 jam onset. 3) insiden prolaps tali pusat ( cord prolapse ) akan meningkat bila dijumpai adanya malpresentasi. motivasi untuk menambah berat badan yang cukup selama hamil.12 9. anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trimester akhir. Komplikasi Morbiditas ketuban pecah dini menjadi kurang serius bila terjadi pada kehamilan yang mendekati aterm dibandingkan kehamilan yang lebih awal. Pada kasus ketuban pecah dini biasanya 80-90% akan mengalami partus dalam kurun waktu 24 jam. 5) hipoplasia pulmonal janin sangat mengancam janin.

13  48 jam -> kematian perrinatal meningkat 3x .

selalu berubah. Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yangdapat untuk semua kasus KPD.68 %). Sedangkan kejadian Ketuban Pecah Dini pada tahun 2012 mengalami peningkatan yaitu sebanyak 248 orang dari 1930 persalinan.14 BAB III Kesimpulan Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetrik berkaitandengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada. Protokol pengelolaan yang optimal harus mempertimbangkan adanya infeksi dan usia gestasi serta faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang kurang bulan. Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan.yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu. yangdapat mengurangi mortalitas perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak maup . tetapi harus ada panduan pengelolaan yang strategis. Adapun persalinan dengan Ketuban Pecah Dini sebanyak 101 orang (3.

Cetakan Kedua.G.15 DAFTAR PUSTAKA 1. STATUS ORANG SAKIT .B. 7.(eds) Pengantar Kuliah Obstertri. Persalinan.A. Saifuddin. Abdul B 2010.G. Manuaba. Vol 41. EGC.tums. Nifas dan Bayi Baru Lahir. Ketuban Pecah Dini. 3. hal 677-82. Edisi Keempat.B. Neonatal Complications Of Premature Rupture Of Membranes. 2001. 2. Cunningham Gary F. Nili F. Bloom L Steven . Ketuban Pecah Dini. 2007. 4. [Online] 2003. hal : 221 – 225. No. 2002. Bab 6: Komplikasi Umum Pada Kehamilan. Ketuban Pecah Dini dalam Kapita Selekta Penatalaksanaan Obstetri Ginekologi dan KB. Saifudin. Fajar Manuaba I. Cetakan Pertama.G. Chandranita Manuaba I. Abdul B. Ansaari A. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Penerbit EGC. 2009. Jakarta.I. Acta Medica Iranica. Williams Obstetrics Edisi 22. 5. Jakarta. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal..S.B. Jakarta. Ilmu Kebidanan.2005 . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.ac.pdf. Pp 456-60.ir/upload_files/pdf/59. III Gilstrap Larry .A. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Dalam Prawirohardjo S. Manuaba I. Leveno J Kenneth . Diunduh dari http://journals.3. Wenstrom D Katharine . Soewarto S. Hauth C John . Ilmu Kebidanan. Bagian Ketiga: Patologi Kehamilan. 6.

HAJI MINA MEDAN Identitas pasien Nama : Ny. BAK (+) normal. riwayat terjatuh terbentur di daerah perut (-)pada . . Sicanang. M. Riwayat keputihan selama kehamilan (-). riwayat demam kahamilan (-). Air berbau amis.00WIB Ny. istri dari Tn I.00 WIB. 29 tahun datang ke RS Haji Medan pada tanggal 24-09-2014 pukul wib dengan: KU : Keluar air dari kemaluan Telaah :Hal ini dialami pasien sejak tanggal 23-09-2014 pukul 21. Riwayat keluar lendir darah dari kemaluan (-). BAB (+) normal. M Umur : 22 tahun Agama : Islam Suku : Aceh Pekerjaan : IRT Pendidikan : SMA Nama suami : Tn. dan tidak dapat ditahan. Medan Belawan No RM : 22-09-09 Tanggal masuk : 23-09-2014 Pukul : 24. warna putih jernih.I Umur : 29 Tahun Agama : Islam Suku : Aceh Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan : SMK Alamat : Lingkungan IX. riwayat mules-mules (-). G2P1A0. Os mengatakan merasa ada yg keluar mengalir dari celana os dan membasahi semua celana os.16 SMF ILMUKEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN RS. 22 tahun.

2.01 .60 C Oedem : (-) TB BB : 157 cm : 75 kg Status Generalisata Mata : anemis -/-. edema (-/-) . aterm. Perempuan.17 riwayat berhubungan dengan suami pada saat kehamilan (-). RPT/RPO : - HPHT : 07 .10 – 2014 Perkiraan usia kehamilan : 36-37 minggu ANC : Ke dokter Sp. riwayat merokok (-). Hamil ini Riwayat KB :- Riwayat Operasi :- Status present Sens : CM Anemis : (-/-) TD : 120/80 mmHg Ikterik : (-/-) HR : 94 x/i Dyspnoe : (-) RR : 20 x/i Sianosis : (-) T : 36. ikterus -/- Leher : KGB tidak teraba. hepar tidak teraba. SC.2014 TTP : 14 . suara tambahan (-) Abdomen : distensi (-). dr.OG 2.OG 4 kali Riwayat persalinan : 1.6 tahun. bunyi tambahan (-) Pulmo : Suara pernapasan vesikuler. lien tidak teraba Ekstremitas : akral hangat (+). JVP tidak meningkat Thorax : Cor : Bunyi jantung normal. reguler. 4000gr.Sp.

asimetris Palpasi Leopold I: 4 jari dibawah proc.18 Status Obstetri Abdomen : membesar. kiri teraba punggung. 3/5 Gerak janin : (+) HIS : (-) DJJ : 144 x/i. Xypoideus (35 cm) Leopold II: Kanan teraba bagian kecil. sel ket (-). UUK (SDN) ST : Lendir darah (-). Kepala H 1.2 Nilai Rujukan satuan 12 – 16 g/dl . dimana kertas lakmus merah : Tampak air menggenang di fornix posterior vagina berubah menjadi biru. Air Ketuban (+) Hasil laboratorium tanggal 21-09-2014 Hematologi Darah rutin Nilai Hemoglobin 10. bagian bawah kepala Leopold IV: Divergen. teregang ke kiri Leopold III: Teraba bulat keras. Kesan : nitrazin tes (+) Air Ketuban (+) VT : Cx sakral. melenting. reguler EBW : 2790 gr Inspeculo :  Inspeksi  Dilakukan pemeriksaan nitrazin tes. ɸ 1cm.

11.1 Diagnosa Sementara Ketuban Pecah Dini + SG +Prev SC 1x + KDR 36-37 minggu) + PK + AH Rencana Operasi : SC CITO a/i Ketuban Pecah Dini ( 27-09-2014 pukul 10. identifikasi SBR dan lig.Stab N. Peritonium dijepit dengan klem.1 282.8 31.46 mg/dl mg/dl 20-42 0.19 Hitung eritrosit Hitung leukosit Hematokrit Hitung trombosit Index eritrosit MCV MCH MCHC Hitung jenis leukosit Eosinofil Basofil N.3 9. fascia digunting kekanan - dan kekiri.9 .2 23. hingga tampak fascia. Tampak uterus gravidarum. Dibawah spinal anastesi dilakukan insisi pfannenstiel mulai dari kutis.7 80 – 96 27 – 31 30 – 34 fL pg % 1 0 0 72 20 7 55 1–3 0–1 2– 6 53–75 20–45 4–8 0-20 % % % % % % % : 83 mg/dL < 140 15 0. Lalu plica vesicouterina digunting kekiri dan kekanan dan disisihkan kebawah arah blast secukupnya.500 32.000 36-47 150.5. - subkutis.000-450.000 3. otot dikuakkan secara tumpul. . Dilakukan tindakan aseptik dengan larutan betadin dan alkohol 70% pada - dinding abdomen lalu ditutup dengan duck steril kecuali lapangan operasi.00 WIB - Ibu dibaringkan di meja operasi dengan infus dan kateter terpasang dengan - baik.6 4. Rotundum. Seg Limfosit Monosit LED Kimia Klinik Glukosa Darah Sewaktu Fungsi Ginjal Ureum Kreatinin 4.00 ) Laporan SC a/i Ketuban Pecah Dini tgl 27-09-2014 Pukul 10.000. diangkat lalu digunting keatas dan kebawah - kemudian dipasang hack blast.6-1.000 10*5/µl /µl % /µl 75. Dengan menyisipkan pinset anatomis dibawahnya.

anus (+) Tali pusat diklem pada 2 tempat dan digunting diantaranya.Keadaan umum ibu post operasi : stabil Instruksi : Awasi vital sign. Liang vagina dibersihkan dari sisa sisa darah dengan kapas sublimat hingga bersih. Dilakukan penjahitan hemostasis figure of eight pada kedua ujung robekan uterus dengan chromic catgut no. PB 51 cm.00 Kutis dijahit secara subkutikuler dengan vycril 2/0. lalu dijahit secara jelujur dengan - vycril no. Plasenta dilahirkan dengan traksi pada tali pusat dan penekanan pada fundus. Follow Up tanggal 28 September 2014 pukul 06. Evaluasi tidak ada perdarahan. Kedua sudut kiri dan kanan tepi luka insisi dijepit dengan oval klem Kavum uteri dibersihkan dari sisa sisa selaput ketuban dengan kassa steril terbuka sampai tidak ada sisa selaput atau plasenta yang tertinggal. lalu kavum abdomen dibersihkan dari bekuan - darah dan cairan ketuban. air ketuban jernih. - apgar score 9-10. Ketorolac 30mg/8jam Inj. kontraksi dan tanda – tanda perdarahan Terapi : IVFD RL+oksitosin 10-10-5-5 20gtt/menit Inj. kesan : normal. Cefotaxime 1gr/12jam Inj.0 Klem peritonium dipasang. Ranitidin 50mg/12jam Inj.2/0. Kesan : bersih Evaluasi tuba dan ovarium kanan kiri. Gentamisin 80mg/8jam Inj.2.00 WIB . kemudian dilakukan jahitan aproksimal otot dinding abdomen dengan plain cat gut no. .1.20 - Selanjutnya dinding uterus diinsisi secara konkaf sampai menembus subendometrium.0.dinding uterus dijahit lapis demi lapis jelujur terkunci overhecting. Kemudian endometrium ditembus secara tumpul dan diperlebar sesuai arah sayatan.00 secara - simple / continous Kedua ujung fascia dijepit dengan kocher. Lalu peritoneum dijahit dengan plain catgut no. Luka operasi ditutup dengan kasa steril + betadin solusio. Selaput ketuban dipecahkan. lahir bayi laki-laki. 3400gr. Ditranex 500 mg/8jam R/ Menunggu hasil darah rutin Post SC. Reperitonealisasi - dengan plain catgut no. Dengan meluksir kepala.00. Kesan : - bersih. - kesan lengkap. Subkutis dijahit secara simple sutura dengan plain cat gut no.

kontraksi baik L/O : Tertutup perban.00 WIB . kontraksi baik : Tertutup perban.6ºC SL : Abd P/V TFU L/O BAK BAB Flatus ASI Diagnosa Terapi Anemis Ikterik Dyspnoe Sianosis Oedem : -/: -/:::- : Soepel. Ketorolac 30 mg/8jam Inj. Gentamicin 80mg/8jam Inj. peristaltik (+) Lemah : Lochia rubra (+) : 2 jari di bawah pusat. Ranitidin 30mg/12jam Follow Up tanggal 29 September 2014 pukul 06. peristaltik (+) P/V : Lochia rubra (+) TFU : 1 jari di bawah pusat. warna kuning jernih : (+) : (-) :+ /+ : Post SC a/i Prev SC 1x+ Ketuban Pecah Dini+ NH1 : IVFD RL 20gtt/menit Inj. Gentamicin 80mg/8jam Antasida syrup 30x C1 Asam Mefenamat 3x500mg Ranitidin Tablet 2x1 R/ Aff Kateter Follow Up tanggal 30 September 2014 pukul 06. Cefotaxime 1gr/12jam Inj.21 S : Nyeri luka operasi O : Sensorium : Compos Mentis TD : 110/70 mmHg HR : 88x/menit RR : 20x/menit T : 36. kesan kering BAK : Via kateter 80cc/jam BAB : (-) Flatus : (+) ASI : (+) Diagnosa Terapi : Post SC a/i Prev SC 1x+ Ketuban Pecah Dini+ NH2 : Three way Inj. kesan kering : Via kateter 70cc/jam.4ºC Oedem :SL : Abd : Soepel.00 WIB S :O : Sensorium : Compos Mentis Anemis : TD : 110/60 mmHg Ikterik : -/HR : 84x/menit Dyspnoe :RR : 20x/menit Sianosis :T : 36. Cefotaxime 1gr/12jam Inj.

kesan kering BAK : Via kateter 80cc/jam BAB : (-) Flatus : (+) ASI : (+) Diagnosa : Post SC a/i Prev SC 1x+ Ketuban Pecah Dini+ NH3 Terapi : Three way Inj. kontraksi baik L/O : Tertutup perban. Gentamicin 80mg/8jam Antasida syrup 30x C1 Asam Mefenamat 3x500mg Ranitidin Tablet 2x1 .2ºC Oedem :SL : Abd : Soepel. Cefotaxime 1gr/12jam Inj.22 S :O : Sensorium : Compos Mentis Anemis : TD : 120/80 mmHg Ikterik : -/HR : 88x/menit Dyspnoe :RR : 20x/menit Sianosis :T : 36. peristaltik (+) P/V : Lochia rubra (+) TFU : 1 jari di bawah pusat.