Anda di halaman 1dari 61

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) salah satu negara dunia yang
dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan alam melimpah, namun
kehidupan masyarakatnya sampai saat ini masih dalam kondisi terpuruk.
Meskipun perjuangan bangsa Indonesia sejak awal pendiriannya bertujuan untuk
terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila ke kelima,
Pancasila).
Hal ini dapat dilihat dari ketentuan pada Pasal 3 ayat 1 Perda 28 Tahun
2009. IMB tersebut melegalkan suatu bangunan yang direncanakan sesuai dengan
Tata Ruang yang telah ditentukan dan rencana kostruksi bangunan tersebut juga
dapat di pertanggungjawabkan dengan maksud untuk kepentingan bersama.
Sehingga jelas bahwa IMB itu penting. izin mendirikan bagunan dan pelayanan
perizinan mendirikan bagunan dipelihara oleh negara”.
Ketentuan pada Pasal 5 ayat 1 Perda 7 Tahun 2009. IMB tersebut
melegalkan suatu bangunan yang direncanakan sesuai dengan Tata Ruang yang
telah ditentukan dan rencana kostruksi bangunan tersebut juga dapat di
pertanggungjawabkan dengan maksud untuk kepentingan bersama. Sehingga
jelas bahwa IMB itu penting.
Hal ini membuktikan bahwa kondisi rata-rata masyarakat Kota Medan
masih dalam tingkat ekonomi yang masih harus ditingkatkan dan sumberdaya
manusia juga masih memerlukan perbaikan lagi. Banyak Fakta yang menunjukkan
bahwa tingkat perizinan yang dan rendahnya sumberdaya manusia di Kota Medan

2

menjadi faktor bagi para pegawai yang bersangkutan dan

untuk melakukan

aktifitasnya sebagai yang akan berimplikasi terhadap kehidupannya. Maraknya
aktifitas ilegal di Kota Medan seharusnya menjadi perhatian bagi para pemerintah
daerah kita dalam mengambil kebijakan, sebagaimana mana yang telah tertera
dalam visi dan misi pemerintah kita pada masa ini, akan tetapi hal ini belum
terwujud dalam penanganan izin mendirikan bangunan dan pelayanan mendirikan
banggunan di kota medan.
Namun faktanya, sampai saat ini pelayana perizinana atau masyarakat ini
masih sekedar konsep yang sulit terwujud, di mana masih banyak ditemukan, Mal,
rumah, terutama di kota-kota seakan sebagai penghias jalan, pertokoan dll,
termasuk di Kota Medan. Data atau materi pokok dalam penelitian ini diperoleh
langsung dari para responden melalui penelitian lapangan atau field research yaitu
Masyarakat warga Kota Medan serta aparat Pemerintah Kota Medan mulai dari
Kepala Lingkungan, Lurah, Camat serta Staf Bidang Perizinan IMB pada Dinas
Tata Kota dan Tata Bangunan Kota Meda.
Untuk meningkatkan akuntabilitas dan keleluasaan dalam pembelanjaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sumber-sumber penerimaan
daerah yang potensial harus digali secara maksimal di dalam koridor peraturan
perundang-undangan yang berlaku, termasuk diantaranya adalah pajak daerah dan
retribusi daerah yang sudah sejak lama menjadi salah satu unsur Pendapatan Asli
Daerah (PAD) yang utama. Semakin tinggi kewenangan keuangan yang dimiliki
daerah, maka semakin tinggi peranan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam
struktur keuangan daerah, begitu pula sebaliknya.

3

Salah satu pos Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah pelayanan dan perizinan adalah
iuran wajib yang dibayarkan oleh orang pribadi atau suatu badan ke pemerintah
daerah tanpa imbalan langsung yang nantinya iuran tersebut digunakan untuk
membiayai pelaksanaan pemerintah daerah, sebagaimana yang diutarakan Kesit),
pajak daerah adalah pungutan wajib atas orang pribadi atau badan yang dilakukan
oleh pemerintah daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat
dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
digunakan

untuk

membiayai

penyelenggaraan

pemerintah

daerah

dan

pembangunan daerah.
Pelayanan perizinan merupakan alternatif yang paling potensial dalam
meningkatkan pendapatan negara. Hal ini dikarenakan pajak memiliki jumlah
yang relatif stabil. Selain itu pajak daerah merupakan cerminan partisipasi aktif
masyarakat

dalam

membiayai

pelaksanaan

pemerintahan

daerah.

Jenis

pemungutan pajak di Indonesia terdiri dari pajak negara (pajak pusat), pajak
daerah, retribusi daerah, bea dan cukai, dan penerimaan negara bukan pajak.
Salah satu komponen perizinan dan pelayanan tersebut berupa penerimaan
dalam sektor pajak daerah. Pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan
daerah yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan
pembangunan daerah untuk memantapkan otonomi daerah yang luas, nyata, dan
bertanggung jawab. Menurut pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002
tentang pelayanan dan perizinan. disebutkan bahwa jenis pajak Kabupaten/Kota
terdiri dari hotel, restoran, hiburan, reklame, , mineral bukan logam dan batuan,
dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.

Hal ini diimbangi dengan sumbangan penerimaan IMB kota Medan yang telah menjadi andalan diantara banyak sumber perizinan dan pelayanan Kota Medan dalam setiap tahun APBD. mal memenuhi kewajiban. maka pemerintah daerah Kota Medan mengambil kebijakan dengan . Merupakan suatu mutualisme apabila wajib mempunyai perizinan untuk membagun IMB hotel. Hal tersebut merupakan fungsi budgetair dari pajak yaitu sebagai sumber dana pemerintah daerah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya dalam rangka mengantisipasi perkembangan dan dinamika kegiatan masyarakat seirama dengan tuntutan era globalisasi dan otonomi daerah. Conventions and Exhibitions (MICE). kota Medan memerlukan peningkatan pelayanan dan perizinan untuk pengembangan hotel sebagai penunjang daya tarik kepariwisataan tersebut diharapkan dapat mendukung perekonomian daerah dengan salah satunya pengembangan sektor hotel. Incentives. hal ini dikarenakan penerimaan pelayanan tersebut nantinya sebagian akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang dapat menunjang peningkatan potensi-potensi pelayanaan dan perizinan penerimaan hotel itu sendiri walaupun hotel tidak akan menerima kontraprestasi secara langsung dari pembayaran pajak.4 Kota Medan sebagai salah satu kota yang menuju ke arah Metropolitan. sekaligus pusat layanan perizinan di wilayah sekitarnya. dalam perkembangannya dituntut untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang baik dalam upaya untuk pelayanan dan perizainan (IMB) di Kota Medan juga berupaya untuk mengembangkan pelayanan perizinan memerlukan tempat dilaksanakannya Meeting. Dalam upaya untuk memaksimalkan sumber IMB dari sektor hotel tersebut.

nilai-nilai yang dilakukan melalui tindakan-tindakan yang terarah. dengan demikian dapat dikatakan bahwa implementasi kebijakan adalah tahapan yang paling penting dalam proses kebijakan bahkan jauh lebih penting daripada proses pembuatan kebijakan. Apabila program atau kebijakan sudah dibuat maka program tersebut harus dilakukan oleh para mobiliastor atau para aparat yang berkepentingan. Suatu Kebijakan yang telah dirumuskan tentunya memiliki tujuan-tujuan atau target-target yang ingin dicapai. Implementasi merupakan tahap yang sangat menentukan dalam proses kebijakan karena tanpa implementasi yang efektif maka keputusan pembuat kebijakan tidak akan berhasil dilaksanakan. Proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan. Pencapaian target baru akan terealisasi jika kebijakan tersebut telah diimplementasikan.5 mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2012 Tentang Izin Mendrikan Bagunan Terhadap Pelayanan Perizinan Mendirikan Bagunan disini adalah setiap pelayanan yang disediakan hotel. Kebijakan biasanya berisi suatu program untuk mencapai tujuan. pemikiman yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan termasuk jasa penunjang lainnya. Implementasi kebijakan merupakan aktivitas yang terlihat setelah adanya pengarahan yang sah dari suatu kebijakan yang meliputi upaya mengelola input untuk menghasilkan output atau outcomes bagi masyarakat. Dinas Tata Ruang dan Tata kota Kota Medan memiliki pelayanan dan perizinan menghadapi tantangan bagaimana mengimplementasikan kebijakan Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2012 tentang Hotel tersebut kepada wajib . kemudian program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap untuk proses pelaksanaanya dan telah disalurkan untuk mencapai sasaran atau tujuan kebijakan yang diinginkan. mal.

kesenjangan sosial antara warga di inti dan warga pinggiran kota. namun PAD yang dianggarkan tidak terealisasi.333. tidak sedikit pula dampak pembangunan yang dirasa oleh masyarakat. Mengingat pajak hotel merupakan penyumbang pajak terbesar. sehingga sangat tidak sebanding pembangunan kota dengan nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Medan yang pada tahun 2004 saja sudah mencapai Rp 1.00 atau sekitar 93. Pada tahun 2013 kontribusi pajak hotel sebesar Rp 77. Pembangunan yang terfokus di pusat kota hanya akan memperluas. Minimnya perencanaan Pemko kota Medan untuk membangun kota yang berkesinambungan akan menimbulkan persoalan di kemudian hari. Kalau paradigma pembangunan Medan tidak segera diubah.25% yang dilaporkan pada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan.407. Namun secara umum diketahui pula bahwa di balik hasil pembangunan fisik kota yang menunjang kesejahteraan masyarakat. apa yang menjadi persoalan di Jakarta sekarang pasti akan segera terjadi di Medan. Berbagai macam usaha pembangunan di kota telah dilaksanakan di Indonesia selama ini.946.6 pajak.537. Pemerintahan Kota Medan tampaknya memang lebih senang membangun pusat kota dengan berbagai fasilitas modern yang tidak berdampak langsung pada masyarakat di pinggiran kota.13 triliun.500.24 dari target Rp 83. .105. Untuk itu Dinas Pendapatan Kota Medan dituntut untuk melakukan langkah-langkah atau upaya guna mengimplementasikan Peraturan Daerah tersebut sehingga penerimaan pajak hotel di Kota Medan menjadi penyumbang pajak terbesar di Kota Medan.

Upaya pemerintah untuk melakukan penanganan pelayanan perizinan mendirikan bagunan. PERDA Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 yang dimiliki sebagai bentuk tentangan izin mendirikan bangunan dan pelayanan perizinan mendirikan bagunan.. lengkap dan sistematis mengenai pelaksanaan pemberian izin mendirikan bangunan di kota Medan yang di kaitkan dengan pemeliharaan Tata Ruang Kota Medan.Peraturan Daerah Kota Medan No. 5 tahun 2012 tentang Izin Mendirikan Bangunan. yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh. Peraturan Daerah Kota Medan No. jika dilihat dengan keadaan sekarang ini masih jauh dari konsep dan visi misi pemerintah. akan terjawab kesimpulan yang sesuai dengan permasalahan yang terdapat di dalam penelitian ini. 35 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Medan No. sehingga dengan demikian. di atas maka penulis mempunyai minat untuk meneliti lebih dalam tentang Izin Mendirikan Bangunan yang berkaitan dengan Tata Ruang Kota Medan dengan judul ” IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN MENDIRIKAN DAERAH NOMOR BANGUNAN 5 tahun TERHADAP 2012 TENTANG PELAYANAN IZIN PERIZINAN MENDIRIKAN BANGUNAN PADA DINAS TATA RUANG DAN KOTA MEDAN. masih banyak ditemukan di jalanan. 4 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Kota Medan. Izin di yang ada di Kota Medan. untuk mengkaji keabsahannya secara hukum. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis. Pelaksanaan Perda tersebut diatur melalui Keputusan . Ini tentunya menjadi sebuah ironi dari fakta yang belum mampu diupayakan pemerintah untuk menanganinya secara maksimal.7 Berdasarkan hal tersebut.

62 Tahun 2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan No.8 Walikota Medan No. Hal ini membuktikan bahwa kondisi rata-rata masyarakat Kota Medan masih dalam tingkat ekonomi yang masih harus ditingkatkan dan sumberdaya manusia juga masih memerlukan perbaikan lagi. Maraknya aktifitas ilegal di Kota Medan seharusnya menjadi perhatian bagi para pemerintah daerah kita dalam mengambil kebijakan. Banyak Fakta yang menunjukkan bahwa tingkat perizinan yang dan rendahnya sumberdaya manusia di Kota Medan menjadi faktor bagi para pegawai yang bersangkutan dan untuk melakukan aktifitasnya sebagai yang akan berimplikasi terhadap kehidupannya. 5 tahun 2012. 9/2002 dan Keputusan Walikota Medan No. 34 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Perda No. akan tetapi hal ini belum terwujud dalam penanganan izin mendirikan bangunan dan pelayanan mendirikan banggunan di kota medan. Berdasarkan hal tersebut di atas. Karena bagaimanapun Negara dan pemerintah memiliki tanggung jawab terkait dengan persoalan izin membangun tidak secara illegal dimasyarakat sebagaimana yang terteradalam undang-undang dasar 1945. . sebagaimana mana yang telah tertera dalam visi dan misi pemerintah kita pada masa ini. maka peneliti mengangkat tema atau judul penelitian: IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 5 tahun 2012 TENTANG IZIN MENDIRIKAN BAGUNAN TERHADAP PELAYANAN PERIZINAN MENDIRIKAN BAGUNAN KEPADA DINAS TATA RUANG DAN KOTA MEDAN.

Untuk mengetahui Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang izin mendirikan bagunan Dan pelayanan mendirikan bagunan Serta Praktek illegal Di Dinas Tata Ruang Kota Medan. Manfaat Penelitian Peneliti berharap agar penelitian yang dilakukan dapat memiliki manfaat. Untuk memperkaya refrensi studi-studi Ilmu Administrasi Negara. . C. Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang izin mendirikan bagunan dan pelayanan perizinan di Dinas Tata Ruang Kota Medan. Tujuan Penelitian Tujuan diadakan penelitian ini adalah sebagai berikut: a. yaitu: a.9 B. khususnya mengenai Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang Izin Mendirikan bagunan Dan Pelayanan Perizinan Mendirikan Bagunan Serta Praktek ilega Dalam Rangka izin Dan Pelayan Perizinan Mendirikan Bagunan Di Dinas Tata Ruang Kota Medan. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Untuk mengetahui apa yang dilakukan pemerintah daerah dalam pembinaan izin dan pelayana Dinas Tata Ruang Kota Medan. 2. b.

Untuk melatih dan menguji kemampuan berfikir penulis secara terfokus melaui pemikiran ilmiah. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintahan Kotamadya Medan dan Instansi yang terkait tentang Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang Izin Mendirikan Bangunan Terhadap Pelayanan Perizinan Mendirikan Baguana Kepada Dinas Tata Ruang Kota Medan c. dan berusaha mengaplikasikan teoriteori yang telah dipelajari dan diperoleh selama pelaksanaan perkuliahan tehadap praktek di lapangan .10 b.

Implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas. Defenisi tersebut menjelaskan bahwa implementasi kebijakan merupakan pelaksanaan kegiatan administrasi yang legitimasi hukumnya ada. Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan . Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman. 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”.11 BAB II URAIAN TEORITIS A.Defenisi Implementasi Implementasi kebijakan merupakan alat administrasi hukum dimana berbagai aktor. 2004:34). 2005:101). Artinya yang dilaksanakan dan diterapkan adalah kurikulum yang telah dirancang/didesain untuk kemudian dijalankan sepenuhnya. 2002:75) diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Pelaksanaan kebijakan melibatkan berbagai unsur dan diharapkan dapat bekerjasama guna mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. organisasi. Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaaan sudah dianggap fix. Impelentasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. prosedur dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan (Winarno.

12 Usman. Dalam mengartikan implementasi ini tentunya memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Kata proses dalam pendekatan ini lebih . Oleh karena itu. Sesuatu tersebut dilakukan untuk menimbulkan dampak atau akibat itu dapat berupa undang-undang. adanya aksi. Pendekatan kedua. Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman. implementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh obyek berikutnya yaitu hasil yang akan dicapai. tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguhsungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. mendeskripsikan sumber-sumber baru dan mendemonstrasikan metode pengajaran yang digunakan. keputusan peradilan dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan. Implementasi berasal dari bahasa Inggris yaitu to implement yang berarti mengimplementasikan. Implementasi merupakan penyediaan sarana untuk melaksanakan sesuatu yang menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu. menggambarkan implementasi itu dilakukan sebelum penyebaran (desiminasi) kurikulum desain. atau mekanisme suatu sistem. menurut Nurdin dan Usman (2002) menyatakan menekankan pada fase penyempurnaan.” Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas. tetapi dapat diketahui secara sederhana bahwa implementasi adalah pelaksanaan aturan atau ketetapan yang memiliki kekuatan hukum yang sah. peraturan pemerintah. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas. tindakan. 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa. Kata proses dalam pendekatan ini adalah aktivitas yang berkaitan dengan penjelasan tujuan program. Nurdin dan Usman (2004) menjelaskan bahwa pendekatan pertama. 2004:34). Berkaitan dengan pendekatan yang dimaksud.

Jika hukum dapat memaksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan). dan memasukan isi/materi baru ke program yang sudah ada berdasarkan hasil uji coba di lapangan dan pengalaman-pengalaman guru. pengembang mengadakan lokakarya atau diskusi-diskusi dengan guruguru untuk memperoleh masukan. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan. termasuk identifikasi berbagai alternatif seperti prioritas program atau pengeluaran. dan pemilihannya . dan cara bertindak. Implementasi dianggap selesai manakala proses penyempurnaan program baru dipandang sudah lengkap. Pengembang melakukan pemeriksaan pada program baru yang direncanakan. kepemimpinan.Pengertian Kebijakan Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Sedangkan pendekatan ketiga. sumber-sumber baru. organisasi dan kelompok sektor swasta. Nurdin dan Usman (2004) menyatakan memandang implementasi sebagai bagian dari program kurikulum. Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keputusan-keputusan penting organisasi. B. Proses implementasi dilakukan dengan mengikuti perkembangan dan megadopsi program-program yang sudah direncanakan dan sudah diorganisasikan dalam bentuk kurikulum desain (dokumentasi). serta individu.13 menekankan pada interaksi antara pengembang dan guru (praktisi pendidikan). Interaksi antara pengembang dan guru terjadi dalam rangka penyempurnaan program. kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang diinginkan.

Contoh di atas juga memberi pengetahuan pada kita semua bahwa izin mendirikan bagunanan dan pelayanan perizinan mendirikan bagunan dapat tercapai kebijakan dapat bersifat makro.. kebijakan lebih bersifat adaptif dan intepratatif. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai mekanisme politis. Kebijakan harus memberi peluang diintepretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. (6) Keputusan Bupati. Menurut Dunn (1999:23) Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi. (2) Peraturan Pemerintah. sedangkan kebijakan adalah aturan tertulis hasil keputusan formal organisasi. yang bersifat mengikat. dan (7) Keputusan Direktur. Istilah kebijaksanaan adalah kearifan yang dimiliki oleh seseorang. finansial. meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh. Beberapa orang menyebut policy dalam sebutan ”kebijaksanaan”. Setiap kebijakan yang dicontohkan di sini adalah bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh obyek kebijakan. atau administratif untuk mencapai suatu tujuan eksplisit. yang maknanya sangat berbeda dengan kebijakan. . dan mikro. Contoh kebijakan adalah: (1) Undang-Undang. (4) Kepmen. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation). Masih banyak kesalahan pemahaman maupun kesalahan konsepsi tentang kebijakan. meso. yang mengatur perilaku dengan tujuan untuk menciptakan tatanilai baru dalam masyarakat. (3) Keppres. manajemen. Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif.14 berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berperilaku. (5) Perda. dan apa yang tidak boleh”.

Teori Kebijakan Publik Berdasarkan berbagai definisi para ahli kebijakan publik. Dalam proses inilah memiliki ruang untuk memaknai apa yang disebut sebagai masalah publik dan prioritas dalam agenda publik dipertarungkan. Proses analisis kebijakan terdiri atas tiga tahap utama yang saling terkait. dan mendapatkan prioritas dalam agenda publik. Issue kebijakan (policy issues) sering disebut juga sebagai masalah kebijakan (policy problem). Dalam agenda setting juga sangat penting untuk menentukan suatu isu publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah.15 Analisis kebijakan adalah suatu aktivitas intelektual dan praktis yang ditujukan untuk menciptakan. Penyusunan Agenda Agenda setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam realitas kebijakan publik.1998:24). Jika sebuah isu berhasil mendapatkan status sebagai masalah publik. dan mengkomunikasikan substansi kebijakan. adalah sebagai berikut: 1). kebijakan publik adalah kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu di masyarakat di mana dalam penyusunannya melalui berbagai tahapan (Dunn. secara kritis menilai. yang secara bersama-sama membentuk siklus aktivitas yang komplek dan tidak linear C. Policy issues biasanya muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh. Tahap-tahap kebijakan publik menurut William Dunn. maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih daripada isu lain. . menerapkan. atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan tersebut.

Penyusunan agenda kebijakan seyogianya dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan esensi kebijakan. 2) Formulasi kebijakan Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. 1980. Sebuah kebijakan tidak boleh mengaburkan tingkat urgensi. 1974. Salesbury 1976.16 Menurut William Dunn (1998:24). menyangkut emosi tertentu dari sudut kepentingan orang banyak (umat manusia) dan mendapat dukungan media massa. Hogwood dan Gunn. juga keterlibatan stakeholder. Karakteristik : Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. menyangkut suatu persoalan yang fasionable (sulit dijelaskan. Rancangan berhenti di komite dan tidak terpilih. telah mencapai tingkat partikularitas tertentu berdampak dramatis. akan menjadi ancaman yang serius. Banyak masalah tidak disentuh sama sekali. penjelasan maupun penilaian atas suatu masalah tertentu. tetapi mudah dirasakan kehadirannya). Sama halnya dengan . esensi. Ilustrasi : Legislator negara dan kosponsornya menyiapkan rancangan undang-undang mengirimkan ke Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan untuk dipelajari dan disetujui. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. menjangkau dampak yang amat luas. 1986) diantaranya: telah mencapai titik kritis tertentu jika diabaikan. Ada beberapa Kriteria isu yang bisa dijadikan agenda kebijakan publik (Kimber. Sandbach. mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan dalam masyarakat. dan keterlibatan stakeholder. rincian. Namun tidak semua isu bisa masuk menjadi suatu agenda kebijakan. isu kebijakan merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik tentang rumusan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah yang terbaik. sementara lainnya ditunda untuk waktu lama.

Dalam hal ini . maupun tahap dampak kebijakan. evaluasi dipandang sebagai suatu kegiatan fungsional. evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja. warga negara akan mengikuti arahan pemerintah. implementasi dan dampak. Di mana melalui proses ini orang belajar untuk mendukung pemerintah. 4) Penilaian/ Evaluasi Kebijakan Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi. melainkan dilakukan dalam seluruh proses kebijakan. program-program yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah kebijakan. 3) Adopsi/ Legitimasi Kebijakan Tujuan legitimasi adalah untuk memberikan otorisasi pada proses dasar pemerintahan. Dengan demikian.Namun warga negara harus percaya bahwa tindakan pemerintah yang sah. dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing slternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah.Mendukung. Artinya. yakni dilaksanakan oleh badan-badan .17 perjuangan suatu masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan. implementasi. Program kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan. Dukungan untuk rezim cenderung berdifusi .Legitimasi dapat dikelola melalui manipulasi simbolsimbol tertentu.Jika tindakan legitimasi dalam suatu masyarakat diatur oleh kedaulatan rakyat. evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap perumusan masalh-masalah kebijakan.cadangan dari sikap baik dan niat baik terhadap tindakan pemerintah yang membantu anggota mentolerir pemerintahan disonansi.

Implementasi dan Evaluasi. yaitu langsung . implementasi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan untuk merealisasikan program. Tangkilisan mengutip pengertian implementasi menurut Patton dan Sawicki dalam buku yang berjudul Kebijakan Publik yang Membumi bahwa: Implementasi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan untuk merealisasikan program. Dunn mengistilahkan implementasi dengan lebih khusus dengan menyebutnya implementasi kebijakan (policy implemtation) adalah pelaksanaan pengendalian aksi-aksi kebijakan di dalam kurun waktu tertentu (Dunn. dalam bukunya yang berjudul Kebijakan Publik Formulasi. 2003:132). Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan merupakan pelaksanaan dari pengendalian aksi kebijakan dalam kurun waktu tertentu. Tidak lebih dan tidak kurang. Berdasarkan pengertian di atas. dan petunjuk yang dapat diikuti dengan mudah bagi relisasi program yang dilaksanakan. Untuk mengimplemntasikan kebijakan publik. Pendapat Riant Nugroho D. menginterpretasikan dan menerapkan kebijakan yang telah diseleksi” (Dalam Tangkilisan.18 administrasi maupun agen-agen pemerintah di tingkat bawah. dimana pada posisi ini eksekutif mengatur cara untuk mengorganisir. 2003:9). Seorang eksekutif mampu mengatur secara efektif dan efisien sumber daya. Hersel Nogi S. Ia mengemukakan bahwa: Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. serta melakukan interpretasi terhadap perencanaan yang telah dibuat. dimana pada posisi ini eksekutif mengatur cara untuk mengorganisir. maka ada dua pilihan langkah yang ada. unit-unit dan teknik yang dapat mendukung pelaksanaan program.

Shabbir Cheema dan Dennis A. Implementasi kebijakan menurut pendapat di atas. Rondinelli dalam bukunya yang berjudul Analisis Kebijakan Publik (Konsep. Kebijakan publik tersebut diimplementasikan melalui bentuk program-program serta melalui turunan. Menurut Darwin terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan proses implementasi yang perlu dilakukan. Teori dan Aplikasi). dan penyediaan layanan dan manfaat pada publik (Widodo. pelibatan orang atau sekelompok orang dalam implementasi. interpretasi. yaitu pendayagunaan sumber. melibatkan orang atau sekelompok orang dalam implementasi. 2004:158). setidaknya terdapat empat hal penting dalam proses implementasi kebijakan. program yang dilaksanakan harus direncanakan dengan manajemen yang baik. Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan suatu program. dan menyediakan layanan dan manfaat pada masyarakat. menginterprestasikan kebijakan. tidak lain berkaitan dengan cara agar kebijakan dapat mencapai tujuan.19 mengimplementasikan dalam bentuk program-program atau melalui formulasi kebijakan derivate atau turunan dari kebijakan publik tersebut” (Nugroho. Turunan yang dimaksud adalah dengan melalui proyek intervensi dan kegiatan intervensi. mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan program-program pemerintah yang bersifat desentralistis. manajemen program. 2001:194). Subarsono mengutip pendapat G. Persiapan proses implementasi kebijakan agar suatu kebijakan dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan harus mendayagunakan sumber yang ada. Faktor-faktor tersebut adalah: .

Lingkungan sangat mempengaruhi implementasi kebijakan. Sehingga faktor-faktor tersebut menghasilkan kinerja dan dampak dari suatu program yaitu sejauh mana program tersebut dapat mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan faktor di atas.20 1. Maksudnya adalah mencakup struktur birokrasi. Untuk itu diperlukan koordinasi dan kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu program. 3. baik sumberdaya manusia (human resources) maupun sumberdaya non-manusia (non human resources). Kondisi lingkungan. 4. norma-norma dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi dimana semua itu akan mempengaruhi implementasi suatu program(Dalam Subarsono. 2005:101). sumberdaya organisasi untuk mengimplementasi program. Implementasi sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain. Hubungan antar organisasi. Sumberdaya organisasi untuk implementasi program. lingkungan tersebut mencakup lingkungan sosial cultural serta keterlibatan penerima program. Implementasi kebijakan perlu disukung sumberdaya. karakteristik dan kemampuan agen pelaksana merupakan hal penting dalam mempengaruhi suatu implementasi program. 2. yaitu kondisi lingkungan. Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana. Dalam Peraturan Daerah Kota Medan Nomor : 5 tahun 2012 disebutkan bahwa izin mendirikan bagunan dan pelayanan perizinan mendirikan bagunan adalah IMB adalah Surat Izin Mendirikan Bangunan yang diterbitkan oleh Dinas . hubungan antar organisasi.

memperbaiki/renovasi dan menambah bangunan. meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan.Skala gambar . Mendirikan bangunan adalah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian termasuk menggali.Alamat persil .Peruntukan tanah diatas persil . Izin Mendirikan Bangunan diberikan dengan tujuan penataan bangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang kota. Izin Mendirikan Bangunan diberikan dengan tujuan penataan bangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang kota. IMB dibuat berdasarkan rencana kota dan memuat penjelasan mengenai: . menimbun.Jalan dan rencana jalan di sekeliling persil .Tanah yang dikosongkan untuk rencana jalan dan sarana utilitas umum lainnya .Bentuk dan ukuran persil .Penggunaan bangunan dan jumlah lantai .21 Tata Kota dan Tata Bangunan yang wajib dimiliki oleh pemohon untuk mendirikan bangunan didalam wilayah administratif Kota Medan.Biaya retribusi KRP .Arah mata angin . Secara umum perizinan IMB adalah Surat Izin Mendirikan Bangunan yang diterbitkan oleh Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan yang wajib dimiliki oleh pemohon untuk mendirikan bangunan didalam wilayah administratif Kota Medan.Garis-garis sempadan .

Faktor Penghambat yakni: pelayanan. Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 adalah suatu kegiatan dari dinas Tata Ruang yang memiliki: a. 9/2002 dan Keputusan Walikota Medan No. 4 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Kota Medan. Sumber Daya yang Memadai. 5 tahun 2012 tentang Izin Mendirikan Bangunan. 34 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Perda No. 5 tahun 2012. Adanya Kerja Sama Pemkot dengan Pihak Swasta.Penanggulangan Izin Mendirikan dan Pelayanan Mendirikan Bagunan Berbagai macam usaha pembangunan di kota telah dilaksanakan di Indonesia selama ini.perizinan mendirikan bagunan di Kpta Medana. Sarana Dan Prasarana. Dalam Peraturan Daerah Kota Medan Nomor : 5 tahun 2012 disebutkan Peraturan Daerah Kota Medan No. Pelaksanaan Perda tersebut diatur melalui Keputusan Walikota Medan No. Anggran b. 1. Faktor Pendukung yakni: Tersedianya regulasi. tidak sedikit pula dampak pembangunan yang dirasa merugikan kehidupan fisik dan psikhis masyarakat. 35 Tahun2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Medan No. Namun secara umum diketahui pula bahwa di balik hasil pembangunan fisik kota yang menunjang kesejahteraan masyarakat. 62 Tahun 2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan No.22 Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor : 5 tahun 2012 disebutkan Peraturan Daerah Kota Medan No. Pemerintahan Kota Medan tampaknya memang lebih senang .

lengkap dan sistematis mengenai pelaksanaan pemberian izin mendirikan bangunan di kota Medan yang di kaitkan dengan pemeliharaan Tata Ruang Kota Medan. Kalau paradigma pembangunan Medan tidak segera diubah. Berdasarkan hal tersebut. untuk mengkaji keabsahannya secara hukum. Minimnya perencanaan Pemkot Medan untuk membangun kota yang berkesinambungan akan menimbulkan persoalan di kemudian hari. akan terjawab kesimpulan yang sesuai dengan permasalahan yang terdapat di dalam penelitian ini. Pembangunan yang terfokus di pusat kota hanya akan memperluas. sehingga sangat tidak sebanding pembangunan kota dengan nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Medan yang pada tahun 2004 saja sudah mencapai Rp 1. yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh.23 membangun pusat kota dengan berbagai fasilitas modern yang tidak berdampak langsung pada masyarakat di pinggiran kota. apa yang menjadi persoalan di Jakarta sekarang pasti akan segera terjadi di Medan. kesenjangan sosial antara warga di inti dan warga pinggiran kota. di atas maka penulis mempunyai minat untuk meneliti lebih dalam tentang Izin Mendirikan Bangunan yang berkaitan dengan Tata Ruang Kota Medan dengan judul ” Pelaksanaan Pemberian Izin Mendirikan Bangunan Dalam Rangka Pemeliharaan Tata Ruang Kota Medan”. sehingga dengan demikian. Bersifat analisis karena gejala dan fakta yang dinyatakan oleh responden kemudian akan dianalisa terhadap berbagai aspek hukum baik dari segi hukum Pertanahan Nasional maupun hukum politik dan hukum Administrasi Negara: .13 triliun. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis.

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) . 2. Pelaksanaan Perda tersebut diatur melalui Keputusan Walikota Medan Nomor 34 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Perda Nomor 9/2002 dan Keputusan Walikota Medan Nomor 62 Tahun 2002 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012. pemberian pendidikan dan pelatihan kerja. Data atau materi pokok dalam penelitian ini diperoleh langsung dari para responden melalui penelitian lapangan atau field research yaitu Masyarakat warga Kota Medan serta aparat Pemerintah Kota Medan mulai dari Kepala Lingkungan. sehingga dengan demikian pada gelandangan dan pengemis kembali memiliki kemampuan untuk hidup lebih layak sesuai dengan martabat manusia sebagai warganegara Republik Indonesia. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan yuridis empiris yaitu suatu penelitian yang meneliti peraturan-peraturan hukum yang kemudian dihubungkan dengan data dan perilaku pejabat pemerintah dalam pelaksanaan pemberian izin mendirikan bangunan di kota Medan yang di kaitkan dengan pemeliharaan Tata Ruang Kota Medan.24 a. pemulihan kemampuan dan penyaluran kembali baik ke daerah-daerah pemukiman baru melalui transmigrasi maupun ke tengah-tengah masyarakat. dilakukan dengan mengacu kepada Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 tentang Izin Mendirikan Bangunan. pengawasan serta pembinaan lanjut. Camat serta Staf Bidang Perizinan IMB pada Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan Kota Meda. Lurah. Usaha rehabilitatif adalah usaha-usaha yang terorganisir meliputi usahausaha penyantunan. Pemberian Izin Mendirikan Bangunan Dalam Rangka Pemeliharaan Tata Ruang Kota Medan. b.

memperluas. IMB tersebut melegalkan suatu bangunan yang direncanakan sesuai dengan Tata Ruang yang telah ditentukan dan rencana kostruksi bangunan tersebut juga dapat di pertanggungjawabkan dengan maksud untuk kepentingan bersama. sekaligus kepastian hukum. 3. mengubah. kenyamanan. keselamatan. Peningkatan Status Tanah 4. yakni : 1. keamanan. Sehingga jelas bahwa IMB itu penting. Informasi Peruntukan dan Rencana Jalan Izin mendirikan bagunan dan Pelayana perizinan mendirikan bagunan bertujuan untuk mencapai tujuan yang di harapkan : .Nilai lebih jika memiliki bangunan yang telah ber-IMB Selain hal tersebut memiliki bangunan yang telah ber-IMB juga memiliki kelebihan dibandingan dengan bangunan yang tidak ber-IMB. mengurangi. IMB merupakan salah satu produk hukum untuk mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban. Bangunan memiliki nilai jual yang tinggi 2. Jaminan Kredit Bank 3.Kewajiban setiap orang atau badan yang akan mendirikan bangunan memiliki Izin Mendirikan Bangunan terdapat pada Pasal 5 ayat 1 Perda 7 Tahun 2009. dan/atau merawat bangunan sesuai dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku.25 Izin Mendirikan Bangunan atau biasa dikenal dengan IMB adalah perizinan yang diberikan oleh Kepala Daerah kepada pemilik bangunan untuk membangun baru.

. peningkatan wawasan dan pengetahuan agar Pelayanan perizinan dan mendirikan bagunan memiliki .Bertentangan dengan ketentuan perundangan yang berlaku. pertumbuhan dan perkembangan jasmani perizina dan Pelayana perizinan Bagunan b.Bangunan yang direncakan tidak sesuai dengan peruntukan tanah pada lokasi dimaksud. . keserasian dan keseimbangan lingkungan.26 -. yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh. Bimbingan sosial adalah kegiatan pemberian arah. a.Bertentangan dengan rencana kota.Diatas persil dimohon terdapat rencana jalan / pelebaran sehingga sisa luas tanah tidak dapat dibangun sesuai dengan persyaratan peruntukan.Mengganggu dan mengakibatkan kerusakan terhadap kelestarian. lengkap dan sistematis mengenai pelaksanaan pemberian izin mendirikan bangunan di kota Medan yang di kaitkan dengan pemeliharaan Tata Ruang Kota Medan. . . Bersifat analisis karena gejala dan fakta yang dinyatakan oleh responden kemudian akan dianalisa terhadap berbagai aspek hukum baik dari segi hukum Pertanahan Nasional maupun hukum politik dan hukum Administrasi Negara. . . Tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan. Bimbingan mental serangkaian kegiatan spiritual keagamaan yang menumbuhkan dan mengembangkan rasa percaya diri dan harga diri Perizinan dan Pelayanan perizinan mendirikan Bagunan c.Bangunan yang dimohon tidak sesuai ketentuan teknis lainnya. Usaha Rehabilitatif meliputi : Penelitian ini bersifat deskriptif analisis. Bimbingan fisik adalah rangkaian kegiatan pemeliharaan.

Dengan demikian. 4. sosiologis maupun yuridis. Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Peraturan Daerah (Perda) adalah produk hukum yang penting dan strategis berkenaan penyelenggaraan dengan penerapan Pemerintahan Daerah otonomi daerah berdasarkan dalam sistem Undang-undang Pemerintahan Daerah. . Perda. d.perda yang ada sesungguhnya telah menunjukkan landasan yang benar. Perda tidak semata-mata hanya menjustifikasi Kekuasaan Pemerintah Daerah untuk bertindak dan mengatur warganya. Akan tetapi dalam kenyataannya. Dalam batas ini. Perda menjadi instrumen hukum bagi Pemerintah Daerah dalam mengelola jalannya Pemerintahan Daerah berdasarkan asas desentralisasi dan tugas pembantuan. Perda seakan tidak “dekat” dengan masyarakat. baik secara filosofis. Dekat dalam pengertian dikenal secara baik oleh masyarakat. Sebagai instrumen hukum utama di tingkat Daerah.27 kemauan dan kemampuan untuk berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bimbingan ketrampilan serangkaian kegiatan untuk menumbuhkembangkan keterampilan hidup (life skill) baik teknis maupun manegerial bagi izinan mendirikan bagunan dan pelayanan perizinan mendirikan bagunan agar mampu memenuhi kebutuhannya dan lingkungannya. Perda mengatur berbagai hal berkaitan dengan berbagai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah yang didasarkan atas dinamika dan aspirasi masyarakat. tetapi juga memberikan perlindungan terhadap hak-hak dan kepentingan Masyarakat luas.

2.Definisi Konsep . Adanya pelayan dari pemerintah dalam memberikan perizinan untuk 3. tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa (Singarimbun. masyarak memberikan perizinan untuk mendirikan bagunan. 2005:5). Adanya program yang dilakukan oleh dinas Tata ruang Kota Medan. Diberikannya Pelayanan yang sesuai program pemerintah. 2.28 Dari penjelasan yang dikemukakan dapat ditarik kesimpulan terhadap implementasi kebijakan peraturan daerah Nomor 5 tahun 2012: 1. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis penelitian Metode penelitian yang dilakukan penulis adalah menggunakan metode deskriptif analisis. yaitu menggunakan teori penelitian penjelasan dengan maksud untuk menafsirkan fenomena yang terjadi mengenai Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Tentang izin mendirikan bagunan dan pelayanan perizinan mendirikan baguanan Serta Peneliti mengembangkan konsep dan menghimpun fakta.

3. Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang izin mendirikan bagunan dan pelayanan perizinan mendirikan baguanan Serta 1. Dari uraian di atas digunakan konsep pemikiran untuk mempersempit penelitian yang akan diteliti. 2. Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2012 Tentang izin mendirikan bagunan dan pelayanan perizinan mendirikan baguanan adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah daerah kota medan untuk izin mendirikan bagunanan kota medan.Kerangka Konsep Konsep yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang izin mendirikan bagunan terhadap pelayanan perizinan mendirikan bagunan Di Dinas Tata Ruang Kota Medan. 3. keadaan kelompok atau individu yang menjadi pusat penelitian ilmu sosial.29 Konsep adalah istilah atau definisi yang akan digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian. Impelementasi kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang izin mendirikan bagunan dan pelayanan perizinan mendirikan baguanan adalah cara menyampaikan atau mensosialisasikan peraturan nomor 5 tahun 2012 tersebut kepada masyarakat untuk mendapatkan izin bangunan (IMB). Implementasi adalah sebuah proses untuk mendapat sumber daya tambahan sehingga dapat diukur apa – apa yang telah dikerjakan. Agar konsep tersebut dapat dijelaskan .

perekonomian yang akan di jalankan). PROGRAM 2. Sumber daya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsure tertentu dalam kehidupan. Program adalah rancagan megenai asas serta usaha ( dalam ketatanegaraan. b. 4.Kategorisasi Kategorisasi menunjukkan bagaimana caranya mengukur suatu variabel penelitian sehingga dapat diketahui apa yang menjadi tolak ukur dalam menganalisis data dari suatu penelitian. Kategorisasi dalam penelitian ini adalah Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 tahun 2012 Tentang Izin Mendirikan Bagunan dan Pelayanan Perizinan Mendirikan Bagunan Di Dinas Tata Ruang Kota Medan yaitu: a. NOMOR 28 PERDA NOMOR 9 IMB 1. . SDA 3. KOMUNITAS TUJUAN -PENINGKATAN KUALITAS -FASILITAS IMB.30 maka kerangka konsep dirangkum dalam sebuah gambar yang mewakili pola pemikiran sebagai berikut: UU.

Teknik pengumpulan Data Untuk kelancaran dalam pelaksanaan kegiatan penelitian. Pegawai Dinas Tata Ruang Kota Medan : 3 orang Ibu Yusra Chairiah staff di dinas Tata Ruang kota medan Affandi lubiss staff di dinas Tata Ruang kota medan Rousdri Helmi staff di dinas Tata Ruang kota medan c.31 c. Khomaini . 1. Fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah upaya dan mempelancar keja dalam rangka mencapai suatu tujuan 1. Aripin Ahmad . Lokasi Penelitian dilaksanakan di Dinas Tata Ruang dan Kota. Key Informan/Narasumber terdiri dari: a. organisasi. Sumber data penelitian ini didapatkan melalui data primer dan data sekunder. S. dan masyarakat menciptakan.H selaku Kepala Dinas Tata Ruang kota Medan b. Kota Medan. Firdaus. S. dan mengunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.Data Primer Data primer yaitu data yang berdasarkan pada pemilihan langsung pada objek yang diteliti untuk memperoleh data primer dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: . d. 5. Masyarakat : 3 orang Andri Nasution. Komunikasi adalah suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang. peneliti merasa perlu memperoleh data-data yang dapat memudahkan peneliti melakukan penelitian. kelompok.

artikel dan berbagai tulisan lainnya yang menyangkut dengan penulisan ini. b. Wawancara yang mendalam (Deep Interview) yakni metode untuk mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan yang sudah disusun kepada informan-informan.32 a. Data dikelompokkan dalam kelas-kelas tidak menurut angka-angka (Mikkelsen. Kemudian hasil jawaban yang diperoleh dari informan tersebut dikemas dalam tulisan yang tidak merubah makna dari inti jawaban dari setiap informan. makalah. 6. Melalui . kategori dan satuan uraian dasar dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Kriyantono. jurnal.Data Sekunder Data sekunder merupakan bahan-bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan-bahan berupa: Dokumen. buku-buku. Maleong mendefinisikan analisis data sebagai proses pengorganisasian dan mengurutkan data kedalam pola.Teknik Analisa Data Data dalam metode Kualitatif mencerminkan interpretasi yang dalam dan menyeluruh atas fenomena tertentu. Penelitian ini menggunakan teknik analisa data kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategori sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. 2007:163). yaitu pengumpulan data-data. 2. 2003:318). Dokumentasi. berupa dokumendokumen yang ada pada instansi yang bersangkutan.

Implementasi Kebijakan. 17 . identifikasi masalah.Lokasi Penelitian Suatu penelitian harus mempunyai lokasi penelitian yang jelas. perumusan masalah. data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum kemudian disajikan dalam bentuk narasi. - BAB II URAIAN TEORITIS Pada bab ini peneliti menguraikan teori-teori yang relevan tentang Implementasi.Sistematika Penulisan Pada penulisan skripsi ini peneliti membuat suatu sistematika dengan membagi tulisan menjadi 5 (lima) bab yaitu: - BAB I PENDAHULUAN: Pada bab ini peneliti menguraikan latar belakang masalah. 7. . izin mendirikan bagunan dan terhadap Pelayana perizinan mendirikan baguana di dinas tata ruang dan kota medan. 2002:5). F. Dinas Tata Ruang Dan Kota Medan yang terletak di jalan Abdul Haris Nasution No. Metode kualitatif memungkinkan kita menyelidiki konsep-konsep yang dalam pendekatan lainnya akan hilang (Bogdan. Medan Johor.33 pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini penulis menentukan bahwa objek penelitian adalah. tujuan dan manfaat penelitian dan pembatasan masalah.

maka diperoleh berbagai data tentang keadaan responden dalam kaitannya implementasi kebijakan peraturan daerah kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 tentang penerbitan izin mendirikan bangunan di Kota Medan Dan Pelayanan Perizinan Mendirikan Bagunan Serta Praktek ilega Dalam Rangka izin Dan Pelayan Perizinan Mendirikan Bagunan Di Dinas Tata Ruang Kota Medan Dinas tata ruanga kota Medan memiliki tujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan dan mewujudkan ibu kota yang bersih rapi dan indah.34 - BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini peneliti menguraikan tentang deskripsi lokasi penelitian. Dinas tata ruang kota medan mengimplementasikan kebijakan peraturan daerah tentang izin mendirikan bangunan dalam rangka izin dan pelayan perizinan . - BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini peneliti menguraikan tentang analisis data. Ilustrasi Penelitian Setelah diadakan penelitian dan pengumpulan data di lapangan. - BAB V PENUTUP Pada bab ini peneliti menguraikan kesimpulan peneliti BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA A. proses pengumpulan data dan pengolahan data. metodologi penelitian serta analisi data.

B. jelas. . Tujuan Kebijakan Peraturan Daerah No. penerangan jalan umum. pengagkutan dan peralatan. terukur. 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan Di Kota Medan Berdasarkan kesimpulan hasil wawancara dengan Kepala Bidang Tata Bangunan Pada Dinas Tata Ruang Kota Medan tujuan kebijakan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 tentang penerbitan izin mendirikan bangunan adalah untuk Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara. dan legitimate sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna.35 mendirikan bagunan di dinas tata ruang kota medan. Dalam rangka itu diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat. Hasil Penelitian a. Dalam mencinpatakn Kabupaten Langkat yang bersih Dinas kebersihan berkordinasi atau bekerja sama dengan bagian pertamanan kota.

Informan juga menambahkan bahwa pelayanan izin mendirikan bangunan diberikan dengan sasaran untuk pembinaan penyelenggaraan bangunan dan administrasi perizinan bangunan serta memberikan sanksi bagi masyarakat yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan atau melanggar peruntukan bangunan. Serta pihak yang menjadi sasaran didalam kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di . Lebih lanjut beliau mengatakan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan juga memiliki Standar dan sasaran yang ingin dicapai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan yaitu tertuang pada Juklat dan Juknis untuk menata. penerbitan Izin Mendirikan Bangunan sangatlah mutlak diperlukan bagi masyarakat yang mau mendirikan bangunan dengan aman tanpa ada gangguan. Sehingga. informan menyatakan bahwa para pelaksana kebijakan memahami mengenai isi dari kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan agar dapat mampu melaksanakannya di lapangan. mengendalikan dan mengawasi kegiatan mendirikan bangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang Kota Medan yang disertai dengan pemungutan retribusi daerah atas pelayanan Izin Mendirikan Bangunan.36 Hasil wawancara peneliti dengan informan kunci. Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan sebagai organisasi pelaksana penerbitan izin mendirikan bangunan mengerti apa yang menjadi standar dan sasaran dari kebijakan tersebut.

Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu dinas-dinas yang memiliki tugas dalam mempertimbangkan sumber daya yang sudah tersedia sebelumnya. finansial dan fasilitas. finansial dan fasilitas. baik sumber daya manusia. Sumber daya yang dibutuhkan dalam Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan ini dibedakan menjadi tiga yaitu sumber daya manusia.37 Kota Medan adalah seluruh masyarakat untuk mematuhi kebijakan ini dan memiliki izin mendirikan bangunan. Selain itu terdapat setiap tugas pengawai yang dikerahkan serta jumlah personil yang dikerahkan dalam melaksanakan implementasi kebijakan penerbitan izin mendirikan bangunan di Kota Medan. Sumber daya menunjukkan setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai. Ketersediaan sumber daya mempengaruhi efektifitas implementasi suatu program kebijakan. . Didalam proses implementasi kebijakan dalam penerbitan izin mendirikan bangunan terdapat pendidikan dari setiap pengawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dalam melaksanakan setiap kebijakan Peraturan Daerah No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan ini.

Secara umum jumlah Pengawai pada bidang Pengawasan masih kurang memadai.38 Menurut keterangan informan mengatakan bahwa sumber daya manusia yang dimiliki oleh Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan belum cukup memadai dan belum mampu untuk melaksanakan kebijakan tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang ada. Walaupun masih ada beberapa pengawai yang tidak sesuai bidang pedidikannya dengan keahlian yang dikerjakan. Berdasarkan data sekunder yang ada pada Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dapat dilihat pegawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan yang ada berjumlah 129 orang di dominasi oleh lulusan sarjana yaitu berjumlah 53 orang yang dari segi kapasitas diharapkan mampu untuk mengimplementasian kebijakan penerbitan izin mendirikan bangunan tersebut Informan juga menambahkan bahwa pengawai pada Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan sudah mempunyai keahlian dan keterampilan untuk melaksanakan kebijakan Perda No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan tersebut. dimana Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan menerapkan sistem right man and right place (pengawainya memiliki pendidikan dan pengetahuan sesuai dengan keahlian dibidang masing-masing) Serta adanya pelatihan ISO 9001:2008 bagi seluruh pengawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan. sebab Bidang Pengawasan pada saat ini hanya memiliki pengawai sebanyak 43 orang dimana pasti pengawai Bidang Pengawasan tidak .

39

akan maksimal untuk mengawasi setiap bangunan gedung dan kegiatannya di
Kota Medan. Sehingga target penambahan pengawai pada Bidang Pengawasan itu
diperlukan sebanyak 20 orang.
Disposisi implementor adalah kecenderungan sikap maupun pemahaman
yang dimiliki oleh implementor yang akan mempengaruhi pencapaian tujuan dari
implementasi kebijakan. Pemahaman serta dukungan terhadap kebijakan
Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan izin
mendirikan bangunan ini sangat ditunjukan oleh para pegawai Dinas Tata Ruang
dan Tata Bangunan Kota Medan.
Menurut informan kunci, pemahaman implementor terhadap hadirnya
kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan izin
mendirikan bangunan adalah bahwa respon atau sikap implementor terhadap
Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 ini adalah baik dan sangat
mendukung. Informan menambahkan dengan adanya Perda No 5 Tahun 2012
dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan maka diharapkan
tercipta kegiatan pendirian bangunan dalam daerah yang disertai dengan
pemungutan retribusi daerah atas pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
yang sesuai dengan rencana tata ruang Kota Medan.
Struktur birokrasi merupakan hal yang sangat penting dalam proses
implementasi kebijakan penerbitan izin mendirikan bangunan. Salah satu aspek
penting dari struktur birokrasi adalah adanya Standard Operating Procedur (SOP)

40

Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan
Kota Medan, adanya struktur organisasi di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan
dalam setiap kebijakan Standard Operating Procedur (SOP) Menurut informan
kunci, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dalam pelaksanaan
tugas dan fungsinya memiliki Standard Operating Procedur (SOP) Penerbitan Izin
Mendirikan Bangunan. Standard Operating Procedur (SOP) Penerbitan Izin
Mendirikan Bangunan dilihat melalui bagan ini :

Dari bagan diatas maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah pertama-tama
Pemohon melengkapi persyaratan teknis dan administrasi sesuai ketentuan Perda
No 5 Tahun 2012 dan Perwal No 41 Tahun 2012. Kemudian, berkas pemohonan
diterima dan dibeli Nomor agenda di Loket 2 oleh petugas setelah semua
persyaratan dinyatakan lengkap. Setelah itu, Kasubbag Umum melakukan
Verifikasi kelengkapan persyaratan berkas pemohonan, kemudian diteruskan

41

kebidang pemetaan dengan disposisi sekretaris dinas, ini akan diproses selama 1
hari. Pemohon turut serta mendampingi petugas pengukuran untuk menunjukkan
lokasi dan batas persil, setelah itu berkas diterima pada bidang pemetan, kemudian
petugas pengukuran melaksanakan pengukuran lapangan, dan Kasi Pengukuran
memeriksa ketelitian gambar situasi lapangan, dan diteruskan kepada Kasi
Pemetaan untuk diplotkan pada database peta skala 1:100, selanjutkan Kabid
Pengukuran dan Pemetaan mendisposisikan berkas untuk diteruskan pada bidang
tata ruang ini diproses selama 4 hari kerja. Selanjutnya, pemohon melampirkan
gambar bangunan bila terdapat koreksi agar sesuai dengan ketentuan rencana kota,
ini akan diproses berkas terima pada Bidang Tata Ruang, kemudian petugas
penelitian menggambarkan pola rencana kota pada gambar situasi lapangan dan
diplotkan pada peta 1:1000 setelah diperiksa oleh Kasi Penelitian/Evaluasi.
Setelah itu, petugas gambar membuat konsep gambar keterangan situasi bangunan
dan melakukan koreksi terhadap gambar bangunan dari pemohon dan kasih tata
letak memeriksa ketelitian GKSB dan mendisposisikan untuk perhitungan
retribusi pada bidang tata tata bangunan, ini aka diproses selama 5 hari kerja,
setelah itu berkas diterima oleh Ajudan, kemudian Kepala Dinas TRTB
memberikan persetujuan pada GKSB dan mendisiposisikan untuk perhitungan
retribusi pada bidang tata bangunan yang dikerjakan slama 1 hari. Berkas diterima
pada Bidang Tata Bangunan, kemudian petugas menghitung retribusi setelah itu

Yang terakhir pemohon membayar retribusi IMB dan menerima dokumen IMB serta Plank IMB serta diberikan sertifikat IMB. selanjutnya petugas mengoreksi gambar konstruksi kemudian diperiksa oleh Kasi Konstruksi dan Kasih Konservasi menyiapkan Draf Sertifikat IMB. dokumen IMB yang dilegalisasikan sebagai pengganti dokumen IMB yang hilang atau rusak (salinan IMB). dalam hal ini akan diproses selama 3 hari kerja. setelah itu berkas diterima pada bagian Sekretariat dan Surat Tagihan Pembayaran Retribusi dikirimkan kepada pemohon. pemuktahiran data dan/ atau perubahan non teknis lainnya atas permohonan pemilik bangunan gedung. Jenis pelayanan Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan yang diberikan sudah jelas tertera pada pasal 5 yakni pelayanan pembinaan penyelenggaraan bangunan untuk kegiatan pembangunan baru. kemudian Kabid Tata bangunan memberikan disposisi dan diteruskan kepada Kepala Dinas TRTB untuk ditandatanganin. pembuatan duplikat/copy. Kepala Dinas TRTB menandatangani Sertifikat IMB dan Surat Tagihan Pembayaran Retribusi dan Berkas diteruskan Bagian Sekretariat hanya 1 hari kerja.42 diperiksa oleh Kasi Perencanaan Bangunan. setelah itu Petugas Gudang mengarsipkan dokumen IMB yang telah selesai dibayar selama 1 hari kerja. Pelayanan penerbitan ini . rehabilitas/renovasi dan pelestarian/pemugaran serta pelayanan administrasi perizinan bangunan untuk pemecahan dokumen IMB. dan Bendahara Penerimaan menerima pembayaran retribusi IMB dan menyerahkan dokumen IMB.

Selain itu. b.43 telah kami laksanakan dengan baik dan sesuai dengan Standard Operating Procedur (SOP) Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan yang ditetapkan Lebih lanjut informan kunci menambahkan bahwa adanya standar waktu dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan tersebut. Untuk . Mekanisme Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Tentang Pemberian Izin Mendirikan Bangunan Suatu kebijakan yang telah ditetapkan. mengecek peruntukan tanah dll bahkan ada sampai kerja malam untuk menyelesaikan ini. pada bangunan hotel dan bangunan pabrik bisa selesai selama 30 hari karena kalau hotel dan pabrik harus diukur luas tanah. Dari data yang telah didapat oleh peneliti dari lapangan. Standar waktu yang dilakukan dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan tergantung pada luas bangunan yang dimohon. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dilampiran. sedangkan untuk bangunan yang luasnya lebih dari 400 m2 membutuhkan persetujuan walikota yang paling lama 16. untuk bangunan yang luasnya kurang dari 400 m2 hanya membutuhkan persetujuan dari kepala Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan membutuhkan waktu paling lama 14 hari. mengecek konstruksi bangunan tinggi. dilaksanakan oleh pelaksana teknis yaitu pejabat yang bertanggungjawab dan berhak dalam menjalankan kebijakan tersebut yang biasanya diturunkan dalam bentuk program-program. Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan telah memiliki struktur organisasi yang jelas yang disesuaikan dengan Perwal Kota Medan No 19 Tahun 2010.

Perda Nomor 5 Tahun 2012 merupakan Juplak (petunjuk pelaksanaan) dan Perwalnya itu Juknisnya (petunjuk teknis). peneliti menemukan data mengenai bagaimana pemahaman para agen pelaksana kebijakan terhadap Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan.44 melaksanakan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan maka diberikan wewenang dan tanggungjawab kepada Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan supaya dapat melaksanakan kebijakan dan mencapai sasaran pencapaian realisasi target retribusi izin mendirikan bangunan seperti yang diharapkan. Kepala Bidang Bangunan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan mengatakan bahwa Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 ini Dengan adanya Perda No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan izin mendirikan bangunan maka tercapai target pemungutan retribusi Izin Mendirikan Bangunan. Peneliti juga menanyakan tentang latar belakang dibentuknya Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan kepada Kepala Seksi Perancangan Bangunan Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan. beliau mengatakan bahwa Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan ini adalah bentuk jawaban terhadap semakin meningkatnya masyarakat mengurus .. Dari hasil wawancara di lapangan.

peneliti juga menanyakan hal yang sama kepada masyarakat tentang bagaimana pemahaman mereka mengenai peraturan tersebut. mengendalikan. mayoritas masyarakat yang sudah mengurus dan memiliki izin mendirikan bangunan. Izin mendirikan bangunan diberikan agar penataan bangunan sesuai dengan rencana tata ruang kota serta untuk menjaga keandalan bangunan yang memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan. Berdasarkan data kuesioner yang diperoleh.45 izin mendirikan bangunan sehingga bertujuan untuk mengatur. Motto Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan yaitu memberikan pelayanan dan penataan ruang yang berkualitas & transparan. Sebagian besar informan tersebut menyatakan mengetahui tentang adanya kebijakan tersebut adalah informan memahami tujuan dari peraturan daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam proses penerbitan Izin Mendirikan Bangunan. pada Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan mengetahui tentang adanya kebijakan penerbitan tersebut. dan mengawasi kegiatan mendirikan bangunan dalam daerah yang disertai dengan pemungutan retribusi daerah atas pelayanan penerbitan Izin mendirikan Bangunan. dapat dilihat bahwa dari 30 responden. menata. Selain melakukan wawancara tentang pemahaman informan kunci mengenai latar belakang dan maksud dari pembentukan peraturan penerbitan izin mendirikan bangunan. tujuannya supaya pendiri bangunan lebih teratur dan menolak pemohon yang tidak memiliki Izin .

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci. suatu program kebijakan akan berhasil jika kebijakan tersebut juga didukung oleh masyarakat sebagai penerima layanan. Dari hasil penelitian tentang pemahaman informan akan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan dapat dilihat bahwa sebenarnya secara garis besar para informan sudah cukup memahami dan mengetahui maksud tujuan serta pentingnya Peraturan tentang Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan tersebut. yaitu komunikasi dan koordinasi di lingkungan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan. maupun melalui website resmi Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan. Karena pada hakekatnya. Pihak koramil. tetapi perlu ditingkatkan lagi sosialisasi dan pemberian arahan langsung kepada masyarakat agar mereka semakin memahami apa yang menjadi maksud dan tujuan dari peraturan tersebut serta mau melaksanakannya. Selain itu.46 Mendirikan Bangunan. sosialisasi di tempat Mall. maupun komunikasi dan koordinasi dengan instansi lainnya seperti Satpol PP. sosialisasi sudah dilakukan oleh pihak pengawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan pada saat peraturan ini muncul. komunikasi dan koordinasi yang dilakukan dibagi atas dua. Pihak kelurahan. Pihak kecamatan. Pihak Pamong Praja Kota Medan guna mendukung pelaksanaan tujuan . sosialisasi tersebut dilakukan seperti pembagian brosur. baik secara vertikal maupun horizontal. Polisi.

47 dari peraturan walikota tersebut. Menurut informan juga menambahkan komunikasi sangat penting bagi masyarakat seperti melakukan kegiatan sosialisasi setiaap hari di setiap 6 lokasi hanya saja jadwal sosialisasinya juga mau berubahubah sehingga seluruh pengawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan terlibat melakukan sosialisasi ke masyarakat. pengawasan dan pengendalian ruang yang bertugas untuk mengawasi bangunanbangunan yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan atau melanggar ketetntuan peruntukkan bangunan. Sehingga. . masalah pembongkaran bangunan pada tahun 2013 semakin meningkat sebanyak 2660 unit yang jumlah pembongkarannya sebanyak 564 lokasi. yaitu 2657 bangunanbangunan yang memiliki izin mendirikan pada tahun 2013. pengawasan dan pembongkaran bangunan bermasalah. membentuk tim pembinaan. Mulai dari proses sosialisasi. Hal itu berdampak dengan semakin bertambahnya bangunan-bangunan sudah memiliki izin mendirikan bangunan di Kota Medan. hal ini dapat dilihat dari ada beberapa pemilik bangunan yang mendirikan bangunan yang besar/luas bangunannya tidak sesuai dengan izin mendirikan bangunan yang didaftarkannya. Sehingga kegiatan sosiasisasi seperti pemberian arahan maupun pengawasan perlu lebih ditingkatkan melalui dengan memberikan arahan maupun teguran langsung kepada masyarakat hingga kedaerah-daerah yang jauh. Namun komunikasi dengan masyarakat masih belum maksimal. Selain itu.

48 Dilihat dari data sekunder Tim pembinaan. Hermes. maka mereka akan . serta melakukan program pelayanan IMB Keliling. Namun komunikasi dengan masyarakat masih belum maksimal dikarenakan kurangnya jumlah sumber daya manusia atau pegawai yang dimiliki sehingga perlu lebih ditingkatkan lagi. Thamrin.yaitu melakukan seminar dengan mengundang para tokoh masyarakat ke kantor camat untuk membahas masalah IMB supaya mereka bisa memberitahu kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. melakukan sosialisasi kelapangan misalnya dikawasan Mall seperti Paladium. Dan dengan ditingkatannya kegiatan sosialisasi pembinaan dan pengawasan kepada masyarakat. pengawasan dan pengendalian ruang ini dikerahkan oleh personil disetiap 3 kecamatan dan selama 3 bulan sekali personilnya mau berubah-ubah atau diganti. baik komunikasi di lingkungan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan maupun koordinasi dengan instansi lainnya. Sosialisasi ini kami lakukan setiap hari karena ini sudah menjadi kewajiban kami untuk mensosialisasikan kepada masyarakat Berdasarkan hasil analisis keseluruhan dapat dilihat bahwa indikator komunikasi dan koordinasi sudah dilakukan dan berjalan cukup baik. disana kami membagi-bagikan brosur dan menceritakan izin mendirikan bangunan. Sosialisasi yang sudah dilakukan kepada masyarakat. Hal itu berdampak dengan semakin bertambahnya jumlah bangunan-bangunan yang sudah mengurus IMB di Kota Medan.

Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisasikan. mengendalikan dan mengawasi kegiatan mendirikan bangunan yang sesuai dengan rencana tata . Ketika standar dan sasaran kebijakan terlalu ideal maka akan sulit direalisasikan. Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan sudah memenuhi indikator kejelasan isi kebijakan. Selain itu. Lebih lanjut beliau mengatakan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan juga memiliki Standar dan sasaran yang ingin dicapai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan yaitu tertuang pada Juklat dan Juknis untuk menata. Kejelasan isi kebijakan terdapat statement atau dasar dari sebuah undang-undang dari setiap masing dinas. Informan menyatakan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan sebagai organisasi pelaksana pemungutan retribusi pada pelayanan penetbitan izin mendirikan bangunan mengerti apa yang menjadi standar dan sasaran dari kebijakan tersebut. Sehingga seluruh bangunan di Kota Medan digunakan sesuai dengan fungsinya c. Standar dan sasaran kebijakan merupakan sesuatu yang diterapkan dalam setiap proses implementasi sebuah kebijakan.49 menyadari tanggung jawabnya untuk mematuhi kebijakan tersebut. adanya standar dan sasaran dalam implementasi suatu kebijakan. Standar dan sasaran kebijakan tersebut juga harus dipahami dengan baik oleh para pelaksanapelaksana kebijakan (implementor). ketidakjelasan isi kebijakan merupakan potensi lahirnya distorsi dalam implementasi kebijakan. Hal ini didasarkan pada penjelasan para informan. Menurut analisis peneliti. Sebaliknya. Kejelasan Isi Kebijakan Kejelasan isi kebijakan berarti semakin jelas dan rinci isi sebuah kebijakan akan mudah dilaksanakan karena pelaksana mudah memahami dan menterjemahkan dalam tindakan nyata.

Wujud penerimaan implementor tersebut dapat dilihat dari keseriusan pegawai Dinas TRTB dalam menangani proses penerbitan izin mendirikan bangunan kepada masyarakat sangat baik. . maka diharapkan tercipta kegiatan pendirian bangunan dalam daerah yang disertai dengan pemungutan retribusi daerah atas pelayanan penerbitan izin mendirikan bangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang Kota Medan yang akan meningkatkan pendapatan asli daerah setiap tahunnya. Selain itu. pelayanan penerbitan izin mendirikan bangunan diberikan dengan sasaran untuk pembinaan penyelenggaraan bangunan dan administrasi perizinan bangunan serta memberikan sanksi bagi masyarakat yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan atau melanggar peruntukan bangunan. Serta pihak yang menjadi sasaran didalam kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan adalah seluruh masyarakat untuk mematuhi kebijakan ini dan untuk memiliki izin mendirikan bangunan C. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis secara keseluruhan dapat diketahui bahwa sikap pengawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan sangat memahami dan mendukung terlaksananya Perda Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan sehingga dengan adanya peraturan daerah Kota Medan tentang Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan ini.50 ruang Kota Medan yang disertai dengan pemungutan retribusi daerah atas pelayanan IMB.

kendala yang dihadapi oleh masyarakat adalah kurang lengkap memenuhi persyaratan teknis sehingga waktu yang dibutuhkan akan lama dalam mengurus izin mendirikan bangunan. Selain itu. Menurut informan kunci. peneliti juga menanyakan salah seorang informan tentang proses penerbitan izin mendirikan bangunan.luas tanah. dll. Informan menambahkan Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan diberikan wewenang kepada Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan untuk melaksanakan kebijakan dilapangan. Beliau mengatakan Standard Operating Procedur (SOP) Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan dilaksanakan sesuai dengan bagan yang diatas baik. saya lupa bagian apa pengawainya. Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan. surat pemberitahuan pajak bumi dan bangunan tahun terakhir. mereka mengecek dan melakukan pengukuran bangunan dan menelitinya serta melakukan pemetahan gambar. GS.ketinggian bangunan dan sebagai.51 Sebagian besar informan mengatakan proses penerbitan izin mendirikan bangunan sudah terorganisir dengan baik. Kemudian diserahkan kepada para pengawai setelah itu beberapa pengawai datang kerumah saya untuk mengukur luas bangunan. membawa Sertifikat SKPT dari Kantor Badan Pertanahan Nasional. dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sudah memiliki Standard Operating Procedur (SOP) yang jelas dalam penerbitan izin mendirikan bangunan. . beliau mengatakan untuk mengurus izin mendirikan bangunan harus melengkapi berkas-berkas persyaratan sesuai pada Perda Kota Medan No 5. berkas-berkas itu antara lain.

Lebih lanjut informan kunci menambahkan bahwa adanya standar waktu dalam penerbitan izin mendirikan bangunan tersebut. dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang dilegalisasikan sebagai pengganti dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang hilang atau rusak (salinan IMB). Kepala Bidang Tata Bangunan menyebutkan juga bahwa dalam pengimplementasian Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan dalam jenis pelayanan penerbitan izin mendirikan bangunan yang diberikan sudah jelas tertera pada pasal 5 yakni pelayanan pembinaan penyelenggaraan bangunan untuk kegiatan pembangunan baru. Sehingga masyarakat dapat melihat bagan proses penerbitan izin mendirikan bangunan yang tertera di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan atau dilihat melalui formulir izin mendirikan bangunan kepada pemohon. serta kendala yang dihadapi oleh masyarakat itu adalah kurang lengkap memenuhi persyaratan teknis sehingga waktu yang dibutuhkan akan lama dalam mengurus izin mendirikan bangunan. pembuatan duplikat/copy. Pelayanan ini telah kami laksanakan dengan baik dan sesuai dengan Standard Operating Procedur (SOP) Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan yang ditetapkan. rehabilitas/renovasi dan pelestarian/pemugaran serta pelayanan administrasi perizinan bangunan untuk pemecahan dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Standar waktu yang . pemuktahiran data dan/ atau perubahan non teknis lainnya atas permohonan pemilik bangunan gedung.52 Berdasarkan hasil analisis secara keseluruhan dapat diketahui bahwa Standard Operating Procedur (SOP) Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dengan masyarakat telah berjalan dengan maksimal.

bangunan hotel dan bangunan pabrik bisa selesai selama 30 hari karena kalau hotel dan pabrik harus diukur luas tanah. Dari data yang telah didapat oleh peneliti dari lapangan. mengecek peruntukan tanah dll bahkan ada sampai kerja malam untuk menyelesaikan ini.53 dilakukan dalam penerbitan izin mendirikan bangunan di Kota Medan tergantung pada luas bangunan yang dimohon. Sarana dan prasarana dalam proses implementasi kebijakan Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan sudah memadai. untuk bangunan yang luasnya kurang dari 400 m 2 hanya membutuhkan persetujuan dari kepala Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan membutuhkan waktu paling lama 14 hari. Hal ini terwujud jika masyarakat apat melengkapi persyaratan administrasi dan persyaratan teknis dengan lengkap dan benar. Berdasarkan keterangan dari informan kunci. Informan menambahkan terdapat mobil pelayanan IMB Keliling guna mempermudah . Berdasarkan hasil analisis keseluruhan dapat disimpulkan bahwa struktur birokrasi yang ada pada Tata Ruang dan Tata Bangunan sudah cukup jelas dan sesuai kepada Peraturan Walikota No 19 Tahun 2010. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dilampiran. Adapun tata cara atau Standard Operating Procedur (SOP) dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan diselenggarakan secara mudah dan dapat dipahami serta dilaksanakan oleh masyarakat jelas. mengecek konstruksi bangunan tinggi. Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan telah memiliki struktur organisasi yang jelas yang disesuaikan dengan Perwal Kota Medan No 19 Tahun 2010. sedangkan untuk bangunan yang luasnya lebih dari 400 m2 membutuhkan persetujuan walikota yang paling lama 16. Selain itu.

adanya ruangan tunggu bagi masyarakat yang dilengkapi dengan kursi dan AC. tersedianya gambar rencana hasil studi penataan geometrik pada 10 lokasi persimpangan ruas jalan di Kota Medan guna mempermudah informasi kepada masyarakat. adanya mesin cetak. tersedianya buku panduan bangunan izin mendirikan bangunan bagi masyarakat. Selain itu. pembatasan waktu yang dikerjakan dalam proses penerbitan izin mendirikan bangunan harus efektif dikerjakan sesuai dengan batas . Sedangkan sarana dan prasarana untuk pembongkaran bangunan terdapat martil. adanya peningkatan kualitas data dan informasi perencanaan kota melalui website resmi Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan yang mudah diakses oleh masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fasilitas/ sarana dan prasarana di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dalam mendukung implementasi kebijakan penerbitan izin mendirikan bangunan belum memadai. mobil patrol untuk bidang pengawasan. seperti pada Bidang Pengawasan seperti alat-alat berat untuk pembongkaran bangunan.54 melakukan proses penerbitan izin mendirikan bangunan untuk masyarakat. mesin pemotong. dan ekskavator. Tetapi jumlahnya masih sedikit dikarenakan alat-alat tersebut tidak selamanya digunakan dikarenakan belum ada alat transportasi untuk mengangkut eksvakator tersebut kelokasi yang bermasalah. Berdasarkan hasil analisis secara keseluruhan diketahui bahwah pegawai Dinas TRTB Kota Medan dilihat dari segi pendidikan dan kapasitasnya sudah cukup mampu untuk melaksanakan Perda Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan sesuai dengan tupoksi masing-masing dan didominasi oleh lulusan sarjana dan adanya pelatihan ISO 9001:2008 untuk meningkatkan kemampuan dari pegawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pegawai pada dinas TRTB belum memadai untuk melaksanakan Perda Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan IMB dengan maksimal BAB V PENUTUP Berdasarkan hasil penyajian dan analisa data pada bab sebelumnya. hanya saja masih ada terdapat beberapa kekurangan seperti belum maksimalnya fasilitas seperti alat-alat berat untuk kegiatan pembongkaran bangunan di lapangan dan sumber daya manusia khususnya pada personil bidang pengawasan hanya 43 orang sehingga pengawasan tidak maksimal untuk mengawasi setiap bangunan gedung dan kegiatannya di Kota Medan Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di . maka dapat disimpulkan bahwa Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan Di Kota Medan secara umum sudah berjalan dengan baik. sebab Bidang Pengawasan pada saat ini hanya memiliki pengawai sebanyak 43 orang dimana pasti pengawai Bidang Pengawasan tidak akan maksimal untuk mengawasi setiap bangunan gedung dan kegiatannya di Kota Medan. Sedangkan dari segi jumlah. Pengawai pada bidang Pengawasan masih kurang memadai.55 waktu yang ditetapkan pada kebijakan tersebut.

Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan dilihat dari indikator kejelasan isi kebijakan dapat dikatakan sudah baik. hingga standar dan sasaran yang mudah dimengerti/dipahami oleh pelaksana kebijakan maupun masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada rincian isi kebijakan yang cukup jelas. dan struktur birokrasi. siapa pelaksanaan kebijakan. Sumber daya dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu sumber daya manusia. sebab Bidang Pengawasan pada saat ini hanya memiliki pengawai sebanyak 43 orang . Sumber daya manusia/personil pada Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dilihat dari segi pendidikan dan kapasitasnya sudah cukup mampu untuk melaksanakan Peraturan Daerah Kota Medan No 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan. 2. komunikasi dan koordinasi. sumber daya. Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan dilihat dari indikator sumber daya secara umum belum memadai. syarat-syarat penerbitan izin mendirikan bangunan. dan fasilitas. Secara lengkap kesimpulan dari penelitian dapat dijelaskan antara lain sebagai berikut : A. disposisi implementor.56 Kota Medan dapat dilihat dari beberapa variabel implementasi yaitu kejelasan isi kebijakan. khususnya Pengawai pada bidang Pengawasan masih kurang memadai. sumber daya finansial. Sedangkan dari segi jumlah. Kesimpulan 1. Bangunan di Kota Medan sesuai dengan tupoksi masing-masing dan didominasi oleh lulusan sarjana serta adanya pelatihan ISO 9001:2008 untuk mengingkatkan kemampuan dari pegawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan.

Untuk itu. akan tetapi komunikasi kepada masyarakat masih belum maksimal. komunikasi dan koordinasi sudah terjalin selama implementasi kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan. Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan dilihat dari indikator disposisi implementor atau sikap dan karakteristik pelaksana kebijakan secara umum baik dan sangat mendukung. baik komunikasi dan koordinasi dalam lingkungan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan maupun komunikasi dan koordinasi kepada instansi lain. hal ini dapat dilihat dari ada beberapa pemilik bangunan yang mendirikan bangunan yang besar/luas bangunannya tidak sesuai dengan izin mendirikan bangunan yang didaftarkannya. Dengan adanya kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penertiban Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan ini maka diharapkan tercipta kegiatan pendirian bangunan dalam daerah yang disertai dengan . Bidang Pengawasan perlu manambah jumlah pengawai pada Bidang Pengawasan berjumlah 20 orang.57 sehingga pengawai Bidang Pengawasan tidak akan maksimal untuk mengawasi setiap bangunan gedung dan kegiatannya di Kota Medan. 4. Serta Fasilitas yang ada juga belum memadai untuk mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut. sedangkan sumber dana didapat dari APBD Kota Medan setiap tahunnya 3. Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan dilihat dari indikator komunikasi dan koordinasi secara umum sudah cukup baik.

Manfaat dari kebijakan tersebut adalah Menghasilkan rumusan kebijakan untuk mewujudkan kondisi "aparatur negara" yang diharapkan. 5.58 pemungutan retribusi daerah atas pelayanan izin mendirikan bangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang Kota Medan yang akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah setiap tahunnya. Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Dalam Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan dilihat dari indikator struktur birokrasi Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan sudah cukup jelas dan sesuai kepada Peraturan Walikota No 19 Tahun 2010. serta kompetensi Pegawai Negeri Sipil yang sesuai dengan kebutuhan. . Sedangkan tata cara pelayanan yang dilakukan pada Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan kepada masyarakat sudah cukup baik dan berjalan dengan maksimal. yang secara keseluruhan terarah pada terselenggaranya kepemerintahan yang baik (good governance) serta terwujudnya cita-cita dan tujuan bernegara. Sehingga pada tahun 2013 masyarakat sudah mulai tertib mengurus izin mendirikan bangunan. karena telah memiliki Standard Operating Procedur (SOP) Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan yang sesuai dengan Peraturan Walikota Medan No 41 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Atas Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 5 Tahun 2012 Tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan. 6. Wujud penerimaan implementor tersebut dapat dilihat dari keseriusan pegawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dalam menangani proses penerbitan izin mendirikan bangunan kepada masyarakat sangat baik.

Sebaiknya pegawai negeri sipil di Dinas Kebersihan Kabupaten Langkat bertanggung jawab atas pekerjaannya sesuai dengan jabatan dan fungsionalnya sebagai seorang pegawai.59 Meningkatnya kualitas pendidikan dan pelatihan serta pendidikan tinggi kedinasan di bidang ilmu administrasi negara yang didukung oleh kurikulum yang relevan dan sumber daya yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan nasional sesuai posisi. 5. dan peningkatan produktivitas dan daya saing nasional serta mampu menjawab tantangan global B. Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan kedepannya harus meningkatkan komunikasi seperti penyuluhan kepada masyarakat dengan maksimal agar masyarakat tertib dalam mengurus dan memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). 4. tuntutan kompetensi jabatan. 6.peran dan kewenangan aparatur. Perlu dilakukan penambahan personil pada bidang pengawasan berjumlah 20 orang agar agar pengawasan dalam pembongkaran bangunan dapat maksimal dijalankan 3. disini penulis memberikan saran-saran sebagai berikut : 1. Masyarakat juga harus lebih teliti melengkapi persyaratan teknis dalam penerbitan izin mendirikan bangunan tersebut. 2. kedepannya para agen pelaksana lebih ditingkatkan lagi kegiatan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat paham dengan kebijakan peraturan tentang penerbitan izin mendirikan bangunan ini. Saran Dari hasil analisa yang telah dikemukakan. Para implementor dalam melaksanakan kebijakan Perda ini baik pengawai maupun masyarakat agar lebih memahami dan mendukung .

2002.2006. Bandung: CV Alfabeta Sugiono. H. Marihot Pahala.Metodeologi Penelitian Kualitatif.2009.2010. Hesel Nogi. Depdiknas.Said Zainal. 2008.Tehnik Analisis Marketing. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Safi’i.G. Jakarta: Pustaka Pelajar Sugiyono. A.Jakarta:LP3ES Subarsono. 2003.M.Jakarta:Salemba Empat Data Life Time dalam Riset . Kebijakan Publik. 2009.60 terlaksananya Perda Kota Medan No 5 Tahun 2012 dalam penerbitan Izin Mendirikan Bangunan di Kota Medan. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek.Burhan.Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.Masri. Jakarta : Yayasan Pancur Siwah. Arikunto. Fadillah. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah.2004. Analisis Kebijakan Publik. Malang : Averroes Pres Siahaan. Penelitian Kualitatif. Memahami Penelitian Kualitatif.Jakarta: Rajawali Press Singarimbun. Memahami Penelitian Kualitatif.Metode Perizinan mendirikan bagunan Survei.Suharsimi.Lexy. Kebijakan Publik yang Membumi.Jakarta.Effendi. DAFTAR PUSTAKA Abidin. 2003.Hardius.2007. Bandung: PT. Bungin. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: PT Rieneka Cipta.Sofian. 2007. 2002 Kamus Besar Bahasa Indonesia.Remaja Rosdakarya Putra. 2007. Paradigma Kritis dalam Studi Kebijakan Publik. Jakarta: Balai Pustaka Moleong. Bandung: CV Alfabeta Tangkilisan. Yogyakarta: YPAPI Usman. 2005.

Yogyakarta: Gadjah Mada University . 2005. 2002. 2006. 2004. Ahmad. A.Jakarta:Rajawali Zuriah. Budi... Jakarta. Teori dan Proses Kebijakan izin pelayana mendirikan bagunan. Nurul. Winarno.. Bumi Aksara. Evaluasi Kebijakan Publik. Solichin.. Jakarta: Bumi Aksara Wibawa. Teori Administerasi. Pengantar Analisis pelayanan perizinan. .61 Wahab. Jakarta: Med Press. 1994... Jakarta: Med Press Yani.. 2005... Jakarta: Bumi Aksara Nawawi.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Winarno. Budi. Mandar. 1999. Samudra. Hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia.2002. Bandung. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Dunn. 2002... Usman. Pengantar Analisis pelayanan perizinan.Defenisi Administerasi. Pendekatan Implementasi Kebijakan. Analisa Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara Edisi Kedua. 2005.