Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH

SEPULUH TAHUN REFORMASI DALAM UPAYA


PERWUJUDAN CLEAN GOVERNANCE
MENUJU TERCIPTANYA GOOD GOVERNANCE
DI INDONESIA

Disusun oleh:
Kelompok 1
1. Indah Pravitasari (05711011)
2. Efanrani Stiawan
(05711043)
3. Gita Diah Prasasti (05711049)
4. Resa Budi Deskianditya (05711050)
5. Rikha Liemiyah (05711064)
6. Astrid Dentisia (05711067)
7. Annisa Ainur R.A.F (05711068)
8. Yunita Sari (05711073)
9. Putri Novianti (05711080)
10.Rahma Indah Pratiwi (05711088)
11.Puspita Sari (05711090)
12.Uke Inestesia M. (05711106)
13.Amarilis Nurmatin (05711107)
14.Ary Amijaya (05711113)
15.Johny (05711114)

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat
dan ridhlo-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam
tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita
dari masa kegelapan ke masa yang terang benderang seperti sekarang ini, juga kepada
keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang tetap istiqomah hingga akhir jaman.
Makalah ini berjudul “Sepuluh Tahun Reformasi dalam Upaya Perwujudan Clean
Governance Menuju Terciptanya Good Governance di Indonesia.” Makalah ini disusun
sebagai pemenuhan nilai tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Penyusunan makalah ini bukan semata-mata hasil dari penyusun sendiri, melainkan
berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. dr. H. Rusdi Lamsudin, M.Med.Sc, Sp.S(K), selaku dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Indonesia.
2. Bapak Bagya Agung Prabowo, selaku dosen mata kuliah Kewarganegaraan Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Indonesia.
3. Kedua orang tua dan keluarga penyusun, yang telah memberikan banyak hal demi
kemajuan penyusun.
4. Rekan-rekan FK UII angkatan 2005, yang telah banyak memberikan masukan,
bantuan, kritik, dan saran kepada penyusun.
5. dan pihak-pihak lain yang telah membantu penyusun, yang tidak dapat penyusun
sebutkan satu-persatu.
Penyusun menyadari bahwa penulisan laporan kegiatan ini masih jauh dari
kesempurnaan, dan belum memenuhi harapan berbagai pihak. Oleh karena itu penyusun
sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian untuk kemajuan penyusun
di masa-masa kedepan. penyusun mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam
penulisan laporan ini. Harapan penyusun, laporan ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.

Yogyakarta, November 2008


Penyusun
I. PENDAHULUAN

Reformasi yang dimulai pada tahun 1998 memperjuangkan adanya good governance
dan clean governance. Tuntutan yang diajukan ini merupakan reaksi terhadap keadaan
pemerintah pada era Orde Baru dengan berbagai permasalahan yang terutama meliputi
pemusatan kekuasaan pada Presiden, baik akibat konstitusi (UUD 1945) maupun tidak
berfungsinya lembaga teringgi dan tinggi negara dengan baik, serta tersumbatnya saluran
partisipasi masyarakat dalam memberikan kontrol sosial.
Lima Tahun setelah dimulainya reformasi, keinginan untuk memperoleh good
governace dan clean governance masih jauh daripada dipenuhi. Berbagai kendala
menampakkan diri dalam bentuk gejolak politik, ekonomi, sosial budaya, hukum,
pemerintahan, yang simpang siur dan menimbulkan ketidakpastian yang bermuara pada
keresahan dan letupan-letupan yang membahayakan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut, secara konseptual telah berkembang prinsip
pembangunan berkelanjutan yang mewarnai perkembangan dunia sejak KTT di Rio de
Janeiropada tahun 1992. Prinsip tersebut telah dicantumkan baik dalam berbagai konvensi
pada tingkat global, maupun dalam berbagai kesepakatan regional, kebijakan nasional, dan
kebijakan lokal. Hubungan antara good governance dan pembangunan berkelanjutan dapat
dilihat dari sudut kelembagaan dan dari sudut sikap sumber daya manusianya.
Pemerintahan yang bersih dan baik (clean and good governance) yang menjadi
idaman telah semakin populer dalam dua dekade ini. Clean and good governance semakin
menjadi tuntutan, dalam kondisi dimana korupsi, kolusi, nepotisme dan penyalahgunaan
wewenang (abuse of power) lainnya begitu menggejala di berbagai belahan dunia.
Kekecewaan terhadap performance pemerintahan di berbagai negara, baik di negara dunia
ketiga maupun di negara maju, telah mendorong berkembangnya tuntutan akan kehadiran
pemerintahan yang baik dan bersih.
Pemerintahan yang bersih umumnya berlangsung di negara yang masyarakatnya
menghormati hukum. Pemerintahan yang seperti ini juga disebut sebagai pemerintahan yang
baik (good governance). Pemerintahan yang baik itu hanya bisa dibangun melalui
pemerintahan yang bersih (clean government) dengan aparatur birokrasinya yang terbebas
dari KKN.
Governance, yang diterjemahkan menjadi tata pemerintahan, adalah penggunaan
wewenang ekonomi, politik dan administrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada
semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-
lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan
mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi kewajiban dan menjembatani perbedaan-
perbedaan diantara mereka. Definisi lain menyebutkan governance adalah mekanisme
pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan pengaruh sektor negara dan
sektor non-pemerintah dalam suatu usaha kolektif.
Definisi ini mengasumsikan banyak aktor yang terlibat dimana tidak ada yang sangat
dominan yang menentukan gerak aktor lain. Pesan pertama dari terminologi governance
membantah pemahaman formal tentang bekerjanya institusi-institusi negara. Governance
mengakui bahwa didalam masyarakat terdapat banyak pusat pengambilan keputusan yang
bekerja pada tingkat yang berbeda.
II. CLEAN GOVERNANCE

Pemerintahan yang bersih dan baik, dengan kata lain, birokrasi yang bersih dan baik,
haruslah dibangun secara sistematis dan terus menerus. Pola pikir yang dikotomis, yang
menghadapkan upaya membangun pribadi yang baik dengan upaya membangun sistem yang
baik, ibarat memilih telur atau ayam yang harus didahulukan. Pola pikir yang demikian ini
tidaklah tepat, karena memang tidak bisa memisahkan antara kedua sisi ini. Individu yang
baik tidak mungkin muncul dari sebuah sistem yang buruk, demikian pula sistem yang baik,
tidak akan berarti banyak bila dijalankan oleh orang-orang yang korup. Yang harus dilakukan
adalah membina masyarakat secara terus menerus agar menjadi individu yang baik, yang
menyadari bahwa pemerintahan yang baik hanya dapat dibangun oleh orang yang baik dan
sistem yang baik. Masyarakat juga terus menerus disadarkan, bahwa hanya sistem terbaiklah,
yang bisa memberi harapan bagi mereka, menjamin keadilan, melayani dengan keikhlasan
dan melindungi rakyatnya. Rakyat juga harus disadarkan, bahwa para pemimpin haruslah
orang yang baik, jujur, amanah, cerdas, profesional serta pembela kebenaran dan keadilan.
Masyarakat juga perlu didasarkan bahwa sistem yang baik dan pemimpin yang baik tidak
bisa dibiarkan menjalankan pemerintahan sendiri, mereka harus terus dijaga, dinasehati,
diingatkan dengan cara yang baik.
Ada tiga pilar pokok yang mendukung kemampuan suatu bangsa dalam
melaksanakan good governance, yakni: pemerintah (the state), civil society (masyarakat
adab, masyarakat madani, masyarakat sipil), dan pasar atau dunia usaha. Penyelenggaraan
pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab baru tercapai bila dalam penerapan otoritas
politik ekonomi dan administrasi ketiga unsur tersebut memiliki jaringan dan interaksi yang
setara dan sinerjik. Interaksi dan kemitraan seperti itu biasanya baru dapat berkembang subur
bila ada kepercayaan (trust), transparansi, partisipasi, serta tata aturan yang jelas dan pasti,
Good governance yang sehat juga akan berkembang sehat dibawah kepemimpinan yang
berwibawa dan memiliki visi yang jelas.
Abad 21 menghadapkan lingkungan strategis nasional dan internasional yang berbeda
dengan tantangan strategis yang dihadapi pada Abad 20. Di akhir Abad 20 dan dalam dekade-
dekade awal Abad 21, Indonesia menghadapi tantangan-tantangan berat di segala bidang;
krisis multi dimensi, ancaman desintegrasi, dan keterpurukan ekonomi. Indikator-indikator
pembangunan menunjukan bahwa posisi Indonesia berada dalam kelompok terendah dalam
peta kemajuan pembangunan bangsa-bangsa, baik dilihat dari indeks pembangunan manusia,
ketahanan ekonomi, struktur industri, perkembangan pertanian, sistem hukum dan peradilan,
penyelenggaraan clean governance, dan penyelenggaraan good governance baik pada sektor
publik maupun bisnis. Selain itu, Indonesia masih dipandang sebagai negara dengan resiko
tinggi, dengan tingkat korupsi termasuk tertinggi, demikian pula dari besarnya hutang luar
negeri. Dan perkembangan politik di Indonesia yang ditandai dengan kekasaran politik dan
jumlah partai politik terbesar di dunia, menunjukan kultur politik dan kehidupan demokrasi
yang belum mantap, merupakan fenomena yang memerlukan perhatian sungguh-sungguh dari
setiap pemimpin bangsa.
Kunci utama memahami good governance, adalah pemahaman atas prinsip-prinsip
yang mendasarinya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini didapat tolok ukur kinerja suatu
pemerintah. Prinsip-prinsip tersebut meliputi:
a. Partisipasi masyarakat: semua warga masyarakat mempunyai suara dalam
pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga
perwakilan yang sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh
tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat,
serta kepastian untuk berpartisipasi secara konstruktif.
b. Tegaknya supremasi hukum: kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa
pandang bulu, termasuk didalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi
manusia.
c. Transparasi: transparansi dibangun atas dasar informasi yang bebas. Seluruh proses
pemerintah, lembaga-lembaga, dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak
yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat
dimengerti dan dipantau.
d. Peduli dan stakeholder: lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintah harus
berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan.
e. Berorientas pada consensus: tata pemerintahan yang baik menjembatani kepentingan-
kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal
apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok masyarakat, dan bila mungkin, konsensus
dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur
f. Kesetaraan: semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau
mempertahankan kesejahteraan mereka.
g. Efektifitas dan efisiensi: proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga
membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan
sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin.
h. Akuntabilitas: para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta, dan organisasi
masyarakat bertanggungjawab, baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-
lembaga yang berkepentingan.
i. Visi strategis: para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh
ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan
akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu
mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya, dan
sosial yang menjadi dasar bagiperspektif tersebut.
Good governace hanya bermakna bila keberadaannya ditopang oleh lembaga yang
melibatkan kepentingan publik. Jenis lembaga tersebut adalah sebagai berikut:
a. Negara
1. menciptakan kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang stabil;
2. membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan;
3. menyediakan public service yang efektif dan accountable;
4. menegakkan HAM;
5. melindungi lingkungan hidup;
6. mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan publik
b. Sektor swasta:
1. Menjalankan industri;
2. Menciptakan lapangan kerja;
3. Menyediakan insentif bagi karyawan;
4. Meningkatkan standar kehidupan masyarakat;
5. Memelihara lingkungan hidup;
6. Menaati peraturan;
7. Melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi pada masyarakat;
8. Menyediakan kredit bagi pengembangan UKM
c. Masyarakat madani:
1. Manjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi;
2. Mempengaruhi kebijakan;
3. Berfungsi sebagai sarana checks and balances pemerintah;
4. Mengawasi penyalahgunaan kewenangan sosial pemerintah;
5. Mengembangkan SDM;
6. Berfungsi sebagai sarana berkomunikasi antar anggota masyarakat.

Pembangunan Masyarakat Madani


Pembangunan Masyarakat Madani (MM) merupakan opsi dari ketidak pastian
paradigma yang ditempuh bangsa Indonesia dalam menghadapi permasalahan-permasalahan
besar dan mendasar yang dihadapinya di Abad 21 ini. Bangsa yang menderita krisis multi
dimensi berkepanjangan sejak tahun-tahun terakhir Abad 20 dengan berbagai dampaknya
yang luas dalam kehidupan masyarakat, memerlukan kejelasan, konsensus, dan komitmen
bersama mengenai paradigma, sistem, dan strategi yang harus ditempuh dalam
menghadapinya, dalam menghadapi krisis multi dimensi, tantangan pemulihan ekonomi, dan
dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bangsa dewasa ini dan di masa
datang.
MM sebagai “paradigma dan sistem peradaban” yang memberi ruang secara seimbang
kepada masyarakat dan pemerintah dalam kehidupan bernegara, telah menarik cukup
perhatian sebagai opsi pendekatan dalam menghadapi permasalahan bangsa tersebut, dalam
diskursus mengenai resolusi permasalahan sistem penyelenggaraan negara dan pembangunan
bangsa dalam negara hukum yang demokratis. Dalam hubungan itu, kepemerintahan yang
baik atau good governance (GG) menawarkan alternatif pendekatan dalam pengembangan
kebijakan pembangunan untuk lebih membumikan nilai-nilai MM dalam sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan bangsa.
Penataan Ulang Sistem Birokrasi Nasional Dalam Rangka Pencapaian GG,
mengindikasikan pandangan: (1) birokrasi disadari merupakan kunci bagi terselenggaranya
GG, (2) G (governement) merupakan salah satu pilar pendukung MM di samping dua
lainnya, yaitu masyarakat (society) dan dunia usaha (business sector); dan (3) GG dan MM
merupakan dua sisi dari suatu mata uang yang akan utuh nilainya apabila tidak dipecah,
bahkan nilainya akan semakin tinggi apabila keduanya dikembangkan saling mengisi dan
memperkuat.

A. MM Dan GG Sebagai Paradigma Dan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Dan


Pembangunan Bangsa
Dalam pemikiran mengenai “penyelenggaraan negara” (secara demokratis dan
berdasarkan hukum) seiring dengan gerakan reformasi nasional menuju Indonesia Baru di
masa depan, teridentifikasi konsep MM dan GG yang telah berkembang sebagai alternatif
pendekatan dalam pengkajian dan pengembangan sistem penyelenggaraan negara dan
pembangunan bangsa.
Pada tahap perkembangannya dewasa ini, uraian mengenai MM pada umumnya
masih terbatas pada nilai-nilai dasar dan konsep-konsep pokok dalam rangka
penyelenggaraan negara untuk lebih menyeimbangkan posisi dan peran pemerintah dan
masyarakat dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan, belum secara utuh terjalin
sebagai kerangka pemikiran yang terarah pada pengembangan sistem peradaban dan
perwujudan cita-cita dan tujuan bangsa bernegara sebagaimana diamanatkan UUD 1945.
Demikian pula pengembangan GG, masih sangat memerlukan komitmen politik yang
kuat dan kompetensi tinggi untuk membumikannya, serta menginstitusionalisasikannya
secara efektip dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada
umumnya dan manajemen pemerintahan pada khususnya.
Adapun nilai-nilai dan prinsip dasar yang menandai MM, antara lain adalah
ketuhanan, kemerdekaan, etika, hak asasi dan martabat manusia, supremasi hukum,
kebangsaan, demokrasi, sistem checks and balances, kemajemukan, perbedaan pendapat,
kebersamaan, persatuan dan kesatuan, kemitraan, kesejahteraan bersama, dan keadilan.
Sedangkan nilai dan prinsip dasar yang menandai GG secara universal antara lain adalah
kepastian hukum, transparansi, partisipasi, profesionalitas, dan pertanggung jawaban
(akuntabilitas); yang dalam konteks nasional perlu ditambahkan dengan nilai dan prinsip
daya guna, hasil guna, bersih (clean government), desentralisasi, kebijakan yang serasi
dan tepat, serta daya saing.
Secara konseptual MM dan GG merupakan paradigma dan sistem peradaban yang
luhur dalam penyelenggaraan negara, dan untuk mewujudkannya sebagai sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan bangsa diperlukan persyaratan
tertentu yang harus dipenuhi oleh setiap unsur penyelenggara negara, baik warga negara
maupun aparatur pemerintahan negara, atau oleh keseluruhan pilar pendukung MM dan
GG yaitu masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Persyaratan tersebut pada essensinya
adalah konsensus, kompetensi, komitmen dan konsistensi dalam mewujudkan dan
memelihara nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan individu dan kehidupan bersama,
dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yang didasarkan pada keimanan dan
ketaqwaan. Artinya, MM dan GG dapat menduduki posisi dan peran yang aktual dan
efektif sebagai paradigma dan sistem penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa,
apabila ada kesepakatan nasional untuk mengekspresikan nilai dan prinsip yang menjadi
ciri dasar keduanya dalam keseluruhan dimensi dan aktivitas kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara; dan berkembang komitmen, kompetensi, dan konsistensi untuk
pengamalannya oleh warga negara dan aparatur negara, dalam upaya atau perjuangan
mewujudkan harapan dan cita-cita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagaimana
diamanatkan para founding fathers negara bangsa ini dalam Pembukaan UUD 1945.
Dalam kajian penginstitusionalisasian paradigma MM dan GG tersebut khususnya
dalam Manajemen Pemerintahan RI perlu dipertanyakan validitas keduanya dengan nilai
dan prinsip dasar yang telah ditetapkan dalam Konstitusi Negara sebagai landasan Sistem
Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia kita. Sebagai wahana perjuangan
mewujudkan cita-cita dan tujuan suatu bangsa dalam bernegara, pengembangan setiap
sistem administrasi negara didasarkan pada konstitusi negara bangsa bersangkutan.
Demikian pula Indonesia. Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(SANKRI) didasarkan pada dan merupakan penjabaran dari UUD 1945. Pada Pembukaan
UUD 1945 terdapat ungkapan yang mendeklarasikan “the Spiritual Dimensions of the
Indonesian Public Administration” yang sangat mendasar. Makna spiritual dalam konteks
Indonesia ini mengandung makna “psiko religius dan kultural” yang kental dengan
dimensi ketuhanan dan pengakuan bangsa Indonesia akan keberadaan dan peran Allah
Yang Maha Kuasa dalam perjuangan mewujudkan cita-cita dan tujuan luhur bangsa dan
negara, yang sepenuhnya merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan yang fitri atau murni dan
universal. Pembukaan UUD 1945 menegaskan dimensi spiritual dari sistem administrasi
negara kita, berupa pernyataan keimanan dan pengakuaan kemaha kekuasaan Allah SWT
dalam perjuangan bangsa (pada alinea tiga); serta cita-cita dan tujuan bernegara, dan
sistem pemerintahan negara (alinea empat). Dimensi-dimensi spiritual SANKRI tersebut
sepenuhnya merefleksikan komitmen terhadap nilai dan prinsip MM dan GG.

B. Reformasi Birokrasi Guna Mewujudkan GG Dan MM


MM sebagai paradigma dan alternatif pendekatan untuk menata ulang sistem
penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa, mendeterminasikan keimanan,
ketaqwaan, dan keseimbangan posisi dan peran pemerintah dan masyarakat, serta
konsistensi dalam mewujudkan nilai dan prinsip MM; termasuk penegakan hukum,
penerapan prinsip dan sendi-sendi kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan negara,
menghormati oposisi dan perbedaan pendapat, serta menjunjung tinggi HAM dan hak-
hak warga negara seluruh lapisan masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Dalam rangka itu, GG sebagai sistem organisasi dan
manajemen pemerintahan, diharapkan tampil dengan susunan organisasi pemerintahan
yang sederhana, agenda kebijakan yang tepat, pembagian tugas kelembagaan yang jelas,
kewenangan yang seimbang, personnel yang professional, prosedur pelayanaan publik
yang efisien, kelembagaan pengawasan yang mantap, dan sistem pertanggung jawaban
yang tegas. Sedangkan manajemen pemerintahan harus dapat secara sistematis
mengembangkan dan menerapkan nilai dan prinsip GG, serta memiliki visi, misi, strategi,
dan kebijakan yang tepat dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa.
SDM di dalam organisasi pemerintahan, baik para birokrat karier mau pun
political appointees, diharapkan menjiwai perannya dalam mengemban misi perjuangan
bangsa, dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai abdi masyarakat dan abdi negara
yang bertanggung jawab, bijak, efektif, efisien, adil, dan santun, baik dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat secara langsung, maupun dalam pengelolaan berbagai
kebijakan dalam menghadapi permasalahan bangsa dan dalam perjuangan mewujudkan
cita-cita dan tujuan bangsa bernegara. Sejalan dengan itu, setiap warga negara dan
masyarakat pun diharapkan lebih menyadari hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam perjuangan mewujudkan cita-cita dan
tujuan bersama dalam bernegara.
Dengan demikian, reformasi sistem birokrasi dalam rangka perwujudan GG dan
MM harus menyentuh keseluruhan pilar pendukungnya dan secara substansial meliputi
unsur organisasi, manajemen, dan sumber daya manusia yang didasarkan dan terarah
pada nilai dan prinsip MM dan GG. Dalam rangka penyelenggaraan negara dan
pembangunan bangsa kita, semua itu merupakan manifestasi dari dimensi-dimensi
spiritual SANKRI yang harus diamalkan secara konsisten dalam penyelenggaraan negara
dan pembangunan bangsa baik oleh aparatur negara mau pun warga masyarakat bangsa.
Nilai dan prinsip MM dan GG harus merupakan komitmen dan melekat pada
setiap individu dan institusi sesuai posisi dan peran masing-masing dalam kehidupan
bernegara. Dalam pembangunan birokrasi, fungsi dari nilai-nilai tersebut adalah menjadi
pedoman perilaku dalam bersikap, berpikir, dan bertindak, baik secara individual maupun
secara institusional, yang dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi kepemerintahan
dapat dijabarkan antara lain dalam format pengelolaan pelayanan dan kebijakan prima
(excellent management of public services and policies) yang memungkinkan karya dan
kinerja keseluruhan pilar dan unsur MM mencapai tingkat optimalitas sosial. Tanpa
consensus, kompetensi, dan komitmen bersama, MM dan GG tidak mungkin dapat
terwujud sebagai sistem penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa.

Issues Aktual Dan Implikasi-implikasi Kebijakan


Permasalahan birokrasi (= kantor penyelenggara kewenangan tugas kepeme-rintahan)
yang mengemuka dalam rangka penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa dewasa
ini antaranya adalah tatanan organisasi dan manajemen pemerintah pusat yang belum mantap,
desentralisasi yang menyulitkan koordinasi, format perangkat pemerintahan di daerah yang
duplikatif, kompetensi aparatur yang memperihatinkan, dan agenda kebijakan yang tidak
efektif dalam menghadapi permasalahan dan tantangan pembangunan bangsa. Selain itu,
lemahnya pelaksanaan pelayanan prima dan disiplin aparatur, termasuk dalam penegakan
hukum.
Semua itu mengindikasikan diperlukannya suatu “grand strategy” dalam penataan
birokrasi secara sistemik, yang mempertimbangkan bukan saja keseluruhan kondisi internal
birokrasi tetapi juga permasalahan dan tantangan stratejik yang dihadapkan lingkungannya.
Dalam konteks perubahan internal tersebut, reformasi birokrasi nasional perlu diarahkanan
pada (1) penyesuaian visi, misi, dan strategi, (2) perampingan organisasi dan penyederhanaan
tata kerja, (3) pemantapan sistem manajemen, dan (4) peningkatan kompetensi sumber daya
manusia; secara keseluruhan semua itu disesuaikan dengan dimensi-dimensi spiritual
SANKRI, nilai dan prinsip GG dan MM, dan tantangan lingkungan stratejik yang dihadapi.
Birokrasi Pemerintah Pusat dan Daerah (=organisasi dan manajemen, dan SDMnya)
perlu memiliki visi, misi, strategi, agenda kebijakan, kompetensi, dan komitmen
pembangunan dan pelayanan yang jelas dilandasi dimensi-dimensi spiritual SANKRI dan
tegas terfokus pada permasalahan yang mendesak perlu di atasi, dan terarah pada perwujudan
cita-cita dan tujuan bangsa bernegara. Dengan visi, misi, strategi yang didasarkan pada
paradigma pembangunan dan agenda kebijakan yang tepat, didukung dengan sistem
manajemen yang berorientasi pada penerapan nilai dan prinsip MM dan GG, disertai
kompetensi dan komitmen yang kuat dalam keseluruhan tatanan organisasinya yang tersusun
secara tepat disertai pelimpahan kewenangan yang seimbang, pemerintah akan dapat
mencapai kinerja yang optimal dalam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan
dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa. Selain itu, tantangan lingkungan
stratejik mengharuskan pula pilihan-pilihan kritis terhadap paradigma pembangunan yang
harus dipilih sebagai landasaan strategi dan kebijakan pembangunan bangsa. Hal ini juga
mensyaratkan manajemen pemerintahan yang canggih dan kompetensi SDM yang teruji.
Penataan Organisasi dan Tata Kerja. Penataan organisasi pemerintah baik pusat
maupun daerah didasarkan pada visi, misi, sasaran, strategi, agenda kebijakan, program, dan
kinerja kegiatan yang terencana; dan diarahkan pada terbangunnya sosok birokrasi yang
ramping, desentralistik, efisien, efektif, bertanggungjawab, terbuka, dan aksesif; serta terjalin
dengan jelas satu sama lain sebagai satu kesatuan birokrasi nasional dalam SANKRI. Seiring
dengan itu, penyederhanaan tata kerja dalam hubungan intra dan antar aparatur, serta antara
aparatur dan masyarakat dikembangkan terarah pada penerapan pelayanan prima yang
efektip, dan mendorong peningkatan produktivitas kegiatan pelayanan aparatur dan
masyarakat.
Pemantapan Sistem Manajemen. Dengan makin meningkatnya dinamika masyarakat
dalam penyelengaraan negara dan pembangunan bangsa, pengembangan sistem manajemen
pemerintahan diprioritaskan pada revitalisasi pelaksanaan fungsi-fungsi pengelolaan
kebijakan dan pelayanan publik yang kondusif, transparan, dan akuntabel, disertai dukungan
sistem informatika yang sudah terarah pada pengembangan e-government. Peran birokrasi
lebih difokuskan sebagai agen pembaharuan, sebagai motivator dan fasilitator bagi tumbuh
dan berkembangnya swakarsa dan swadaya serta meningkatnya kompetensi masyarakat dan
dunia usaha. Dengan demikian, dunia usaha dan masyarakat dapat menjadi bagian dari
masyarakat yang terus belajar (learning community), mengacu kepada terwujudnya MM yang
berdaya saing tinggi.
Peningkatan Kompetensi SDM Aparatur. Mengantisipasi tantangan global,
pembinaan sumber daya manusia aparatur negara perlu mengacu pada standar kompetensi
internasional (world class). Sosok aparatur masa depan penampilannya harus profesional
sekaligus taat hukum, rasional, inovatif, memiliki integritas yang tinggi serta menjunjung
tinggi etika administrasi publik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Peningkatan profesionalisme aparatur harus ditunjang dengan integritas yang tinggi, dengan
mengupayakan terlembagakannya karakteristik sebagai berikut: (a) mempunyai komitmen
yang tinggi terhadap perjuangan mencapai cita-cita dan tujuan bernegara, (b) memiliki
kompetensi yang dipersyaratkan dalam mengemban tugas pengelolaan pelayanan dan
kebijakan publik, (c) berkemamapuan melaksanakan tugas dengan terampil, kreatif, dan
inovatif, (d) disiplin dalam bekerja berdasarkan sifat dan etika profesional, (e) memiliki daya
tanggap dan sikap bertanggung gugat (akuntabilitas), (f) memiliki derajat otonomi yang
penuh rasa tanggung jawab dalam membuat dan melaksanakan berbagai keputusan sesuai
kewenangan, dan (g) memaksimalkan efisiensi, kualitas, dan produktivitas.
Sementara itu, untuk mengaktualisasikan potensi masyarakat, dan untuk mengatasi
berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi bangsa, perlu dijamin perkembangnya
kreativitas dan oto-aktivitas masyarakat bangsa yang terarah pada pemberdayaan,
peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta ketahanan dan daya saing perekonomian bangsa.
Dalam rangka itu, reformasi sistem birokrasi dalam penyelenggaraan negara dan
pembangunan baik di pusat maupun di daerah-daerah, juga perlu diperhatikan antara lain
prinsip-prinsip pelayanan, pemberdayaan, `partisipasi, kemitraan, desentralisasi, transparansi,
konsistensi kebijakan, kepastian hukum, dan akuntabilitas.
Dalam rangka peningkatan kehidupan demokrasi, pemberdayaan, perluasan
partisipasi, peningkatan pembangunan daerah dan pemberian pelayanan guna meningkatkan
kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat di daerah, sekaligus juga terpeliharanya kesatuan
dan persatuan bangsa, negara, dan tanah air, diperlukan pengembangan sistem dan kebijakan
penyelenggaraan otonomi daerah yang mantap, berfokus pada desentralisasi kewenangan
tertentu dalam pengelolaan kebijakan dan penyelenggaraan tugas pelayanan pemerintah
kepada masyarakat, berdasarkan pedoman berisikan norma, standar, dan prosedur nasional.
Pedoman nasional dalam pengelolaan kebijakan yang berorietasi pada meningkatnya
kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat daerah tersebut harus dapat memperlancar aparatur
daerah dalam melakukan pengelolaan kebijakan dan pelayanan prima kepada masyarakat di
daerah.
Pemberdayaan masyarakat menyentuh nilai-nilai kemanusian dan pengakuan terhadap
hak dan kewajiban masyarakat dalam negara hukum yang demokratis. Hidupnya demokrasi
dalam suatu negara bangsa, dicerminkan oleh adanya pengakuan dan penghormatan negara
atas hak dan kewajiban warga negara, termasuk kebebasan untuk menentukan pilihan dan
mengekspresikan diri secara rasional sebagai wujud rasa tanggung jawabnya dalam
penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa, serta terbukanya peluang untuk
berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan. Dalam upaya memberdayakan masyarakat
dalam memikul tanggung jawab pembangunan, reformasi birokrasi pemerintah perlu
diarahkan antara lain pada (a) pengurangan hambatan dan kendala-kendala bagi kreativitas
dan partisipasi masyarakat, (b) perluasan akses pelayanan untuk menunjang berbagai
kegiatan sosial ekonomi masyarakat, dan (c) pengembangan program untuk lebih
meningkatkan keamampuan dan memberikan kesempatan kepada masyarakat berperan aktif
dalam memanfaatkan dan mendayagunakan sumber daya produktif yang tersedia sehingga
memiliki nilai tambah tinggi guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Upaya pemberdayaan masyarakat memerlukan semangat untuk melayani masyarakat
(a spirit to serve public), dan menjadi mitra masyarakat (partner of society); atau melakukan
kerja sama dengan masyarakat (co production). Dalam pada itu pelayanan mempunyai makna
pengabdian atau pengelolaan pemberian bantuan yang mengutamakan efisiensi dan
keberhasilan bangsa dalam membangun, yang dimanifestasikan antara lain dalam perilaku
”melayani, bukan dilayani”, "mendorong, bukan menghambat", "mempermudah, bukan
mempersulit", "sederhana, bukan berbelit-belit", "terbuka untuk setiap orang, bukan hanya
untuk segelintir orang". Makna administrasi publik sebagai wahana penyelenggaraan
pemerintahan negara, yang esensinya "melayani publik", harus benar-benar dihayati para
penyelenggara pemerintahan negara.
Desentralisasi, merupakan wujud nyata pelaksanaan otonomi daerah dalam SANKRI.
Perbedaan perkembangan antar daerah mempunyai implikasi yang berbeda pada macam dan
intensitas peranan pemerintah, namun pada umumnya masyarakat dan dunia usaha
memerlukan (a) desentralisasi dalam pemberian perizinan, dan efisiensi pelayanan birokrasi
bagi kegiatan-kegiatan dunia usaha di bidang sosial ekonomi, (b) penyesuaian kebijakan
pajak dan perkreditan yang lebih nyata bagi pembangunan di kawasan-kawasan tertinggal,
dan sistem perimbangan keuangan pusat dan daerah yang sesuai dengan kontribusi dan
potensi pembangunan daerah, serta (c) ketersediaan dan kemudahan mendapatkan informasi
mengenai potensi dan peluang bisnis di daerah dan di wilayah lainnya kepada daerah di
dalam upaya peningkatan pembangunan daerah.
Tegaknya hukum, yang berkeadilan merupakan jasa pemerintahan yang terasa teramat
sulit diwujudkan, namun mutlak diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan, justru di tengah kemajemukan, berbagai ketidak pastian perkembangan
lingkungan, dan menajamnya persaingan. Peningkatan dan efisiensi nasional membutuhkan
penyesuaian kebijakan dan perangkat perundang-undangan, namun tidak berarti harus
mengabaikan kepastian hukum. Adanya kepastian hukum merupakan indikator
professionalisme dan syarat bagi kredibilitas pemerintahan, sebab bersifat vital dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, serta dalam pengembangan hubungan
internasional. Tegaknya kepastian hukum juga mensyaratkan kecermatan dalam penyusunan
berbagai kebijaksanaan pembangu-nan. Sebab berbagai kebijak-sanaan publik tersebut pada
akhirnya harus ditungkan dalam sistem perundang-undangan untuk memiliki kekuatan
hukum, dan harus mengandung kepastian hukum.
Dalam era globalisasi, dalam ekonomi yang makin terbuka, meskipun untuk
meningkatkan efisiensi perekonomian harus makin diarahkan kepada ekonomi pasar, namun
intervensi pemerintah harus menjamin bahwa persaingan berjalan dengan berimbang, dan
pemerataan terpelihara. Yang terutama harus dicegah terjadinya proses kesenjangan yang
makin melebar, karena kesempatan yang muncul dari ekonomi yang terbuka hanya dapat
dimanfaatkan oleh wilayah, sektor, atau golongan ekonomi yang lebih maju. Peranan
pemerintah makin dituntut untuk lebih dicurahkan pada upaya pemerataan dan
pemberdayaan. Penyelenggara pemerintahan negara harus mempunyai komitmen yang kuat
kepada kepentingan rakyat, kepada cita-cita keadilan sosial.
Untuk itu, keserasian dan keterpaduan antar berbagai kebijaksanaan pemba-ngunan
harus diupayakan baik pada tingkat nasional maupun daerah. Pengentasan kemiskinan,
kesenjangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia pembangunan, dan
pemeliharaan prasarana dasar, serta peningkatan kuantitas, kualitas, dan diversifikasi
produksi yang berorientasi ekspor ataupun yang dapat mengurangi impor harus pula
dijadikan prioritas dalam agenda kebijakan pembangunan nasional dan daerah. Upaya
mendasar di bidang industri dan perdagangan perlu mendapatkan perhatian khusus, dan
diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi dan daya saing, agar memberikan dampak positif
dalam persaingan global yang juga berlangsung di tengah kehidupan masyarakat kita di
seluruh wilayah tanah air.
Pemerintah melalui berbagai perangkat kebijakan makro ekonomi yang tepat, dan
berbagai kebijakan lainnya di sektor riil, disertai pembenahan kelembagaan yang mantap
akan dapat mendorong peningkatan efisiensi, produktivitas, pemerataan alokasi dan
pemanfaatan sumber daya ekonomi. Selain itu, melalui kebijakan anggaran, aparatur
pemerintah harus dapat mengarahkan dan memperlancar aliran sumber daya untuk
mendorong pemberdayaan, pemerataan dan pertumbuhan, penguasaan iptek, dan
pengembangan sistem manajemen modern seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya
manusia dan kesejahteraan masyarakat.
Kemudian masyarakat dan dunia usaha termasuk perbankan perlu didorong dalam
pengembangan sumber dan sistem pembiayaan alternatif yang aksesif dan kondusif bagi
perkembangan perekonomian rakyat, serta pengembangan kemitraan stratejik dengan dunia
usaha nasional dan inetrnasional. Hal ini menjadi sangat penting untuk digalakkan, sebab
agaknya bangsa ini tidak akan dapat mengatasi permasalahan dan tantangan-tantangan yang
dihadapi dewasa ini dan di masa datang dengan paradigma pembangunan lama yang
berorientasi pada ketergantungan.
Selanjutnya berbagai upaya perlu dilakukan secara mantap untuk memperkuat daya
saing ekonomi nasional, mendorong demokratisasi kehidupan perekonomian, memantapkan
stabilitas nasional yang dinamis, memperkokoh posisi neraca pembayaran, meningkatkan
ketahanan nasional dan daya saing perekonomian bangsa dalam arena persaingan dunia.
Yang tak boleh diabaikan dalam hubungan semuanya itu adalah konsensus dan
komitmen bahwa semua itu adalah merupakan bagian dan kelanjutan dari keseluruhan
tahapan perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan bangsa dan negara,
yang telah berlangsung puluhan dekade lamanya, dan sepenuhnya memanifestasikan dimensi-
dimensi spiritual SANKRI sebagaimana diamanatkan para founding fathers negara bangsa ini
dalam Pembukaan UUD 1945.

Pandangan Islam
Islam juga mengatur mengenai pemerintahan yang bersih. Upaya
mewujudkan clean governance berdasarkan syariat Islam:
1. Kesempurnaan Sistem.
Kesempurnaan sistem Islam terlihat dari aturan yang jelas tentang penggajian,
larangan suap menyuap, kewajiban menghitung dan melaporkan kekayaan, kewajiban
pemimpin untuk menjadi teladan, sistem hukum yang sempurna. Sistem penggajian yang
layak adalah keharusan. Para pejabat adalah pengemban amanah yang berkewajiban
melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya.
Untuk menjamin profesionalitas aparat negara, maka mereka sesudah diberi
penghasilan yang cukup, sekaligus dilarang untuk mengambil kekayaan negara yang lain.
Guna mencegah terjadinya abuse of power, Khalifah Umar bin Khattab misalnya,
melarang para pejabat berdagang. Umar memerintahkan kepada semua pejabat agar
berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya, dan sekaligus menjamin seluruh kebutuhan
hidup aparat negara dan keluarganya. Seorang guru anak-anak, diberi gaji 15 dinar (63,75
gram emas) tiap bulannya oleh Umar. Artinya, misal harga emas Rp. 75.000/gram, sang
guru bisa mendapat gaji Rp. 4.781.250 perbulan pada masa sekarang ini. Padahal gaji
guru anak-anak (TK-SD) dinegeri kita saat ini berkisar antara tiga ratus ribu sampai satu
juta. Dan ini terjadi lebih dari 14 abad yang lalu.
Sistem Islam juga melarang aparat negara menerima suap dan hadiah/hibah. Suap
adalah harta yang diberikan kepada seorang penguasa, hakim, atau aparat pemerintah
lainnya dengan maksud untuk memperoleh keputusan mengenai suatu kepentingan yang
semestinya wajib diputuskan olehnya tanpa pembayaran dalam bentuk apapun. Setiap
bentuk suap, berapun nilainya dan dengan jalan apapun diberikannya atau menerimanya,
haram hukumnya. Allah SWT SWT berfirman:
“Dan janganlah ada sebagian kalian makan harta benda sebagian yang lain
dengan jalan batil, dan janganlah menggunakannya sebagai umpan (untuk menyuap) para
hakim dengan maksud agar kalian dapat makan harta orang lain dengan jalan dosa,
padahal kalian mengetahui (hal itu).” (QS. Al Baqarah [2]; 188)
Rasulullah SAW juga melarang praktek suap ini.
“Rasulullah SAW melaknat penyuap, penerima suap dan orang yang
menyaksikan penyuapan.” (HR. Ahmad, Thabrani, Al-Bazar dan Al-Hakim)
Adakalanya suap diberikan dengan maksud agar pejabat yang bersangkutan tidak
menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya. Suap jenis inipun amat dihindari oleh
para Sahabat nabi SAW. Rasulullah SAW pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke
daerah Khaibar (daerah Yahudi yang baru ditaklukkan kaum muslimin) untuk menaksir
hasil panen kebun kurma daerah itu. Sesuai dengan perjanjian, hasil panen akan dibagi
dua dengan orang-orang Yahudi Khaibar. Tatkala Abdullah bin Rawahah tengah
bertugas, datang orang-orang Yahudi kepadanya dengan membawa perhiasan yang
mereka kumpulkan dari istri-istri mereka, seraya berkata; “perhiasan itu untuk anda,
tetapi ringankanlah kami dan berikan kepada kami bagian lebih dari separuh”. Abdullah
bin Rawahah menjawab ; “Hai kaum Yahudi, demi Allah SWT, kalian memang manusia-
manusia hamba Allah SWT yang paling kubenci. Apa yang kalian lakukan ini justru
mendorong diriku lebih merendahkan kalian. Suap yang kalian tawarkan itu adalah
barang haram dan kaum muslimin tidak memakannya!” Mendengar jawaban itu mereka
serentak menyahut ; “karena itulah langit dan bumi tetap tegak”
Hadiah atau hibah adalah harta yang diberikan kepada penguasa atau aparatnya
sebagi pemberian. Perbedaannya dengan suap, bahwa hadiah itu diberikan bukan sebagai
imbalan atas suatu kepentingan, karena si pemberi hadiah telah terpenuhi keinginannya,
baik secara langsung maupun melalui perantara. Hadiah atau hibah diberikan atas dasar
pamrih tertentu, agar pada suatu ketika ia dapat memperoleh kepentingannya dari
penerima hadiah/hibah. Hadiah semacam ini diharamkan dalam sistem Islam. Rasulullah
SAW bersabda:
“Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah suht (haram) dan suap yang
diterima hakim adalah kufur.” (HR. Imam Ahmad).
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Amma ba’du,
aku telah mempekerjakan beberapa orang di antara kalian untuk melaksanakan tugas
yang dipercayakan Allah SWT kepadaku. Kemudian salah seorang dari mereka itu datang
dan berkata; “ini kuserahkan kepada Anda, sedangkan ini adalah hadiah yang diberikan
orang kepadaku.” Jika apa yang dikatakannya itu benar, apakah tidak lebih baik kalau ia
duduk saja di rumah ayah atau ibunya sampai hadiah itu datang kepadanya? Demi Allah
SWT, siapapun diantara kalian yang mengambil sesuatu dari zakat itu tanpa haq, maka
pada hari kiamat kelak akan menghadap Allah SWT sambil membawa apa yang
diambilnya itu.”
Hadits diatas menunjukan, bahwa hadiah pada umumnya diberikan orang kepada
pejabat tertentu karena jabatannya. Seandainya ia tidak menduduki jabatan itu, tentulah
hadiah itu tidak akan datang kepadanya.
Penghitungan Kekayaan. Untuk menjaga dari perbuatan curang, Khalifah Umar
menghitung kekeyaan seseorang di awal jabatannya sebagai pejabat negara, kemudian
menghitung ulang di akhir jabatan. Bila terdapat kenaikan yang tidak wajar, Umar
memerintahkan agar menyerahkan kelebihan itu kepada Baitul mal, atau membagi dua
kekayaan tersebut, separo untuk Baitul mal dan sisa separonya diserahkan kepada yang
bersangkutan. Muhammad bin Maslamah ditugasi Khalifah Umar membagi dua kekayaan
penguasa Bahrain, Abu Hurairah; penguasa Mesir, Amr bin Ash; penguasa Kufah, saad
bin Abi Waqqash. Jadi, Umar telah berhasil mengatasi secara mendasar sebab-sebab yang
menimbulkan kerusakan mental para birokrat. Upaya penghitungan kekayaan tidaklah
sulit dilakukan bila semua sistem mendukung, apalagi bila masyarakat turut berperan
mengawasi perilaku birokrat.
Keteladanan pemimpin adalah langkah selanjutnya yang diharuskan sistem Islam.
Dalam sistem Islam, kemunculan seorang pemimpin mengkuti proses seleksi yang sangat
ketat dan panjang. Seseorang, tidak mungkin menjadi pemimpin di sebuah propinsi, tanpa
melalui proses seleksi alamiah ditingkat bawahnya. Pola dasar yang memunculkan
seorang pemimpin mengikuti pola penentuan seorang imam shalat. Seorang imam shalat
adalah orang yang paling berilmu, shaleh, paling baik bacaan shalatnya, paling bijaksana.
Seorang imam shalat adalah orang terbaik dilingkungan jamaahnya. Dari sinilah sumber
kepemimpinan itu berasal. Pola ini secara alamiah, sadar atau tidak sadar, akan diikuti
dalam penentuan kepemimpinan tingkat atasnya. Seorang khalifah (kepala negara)
tentulah bersumber dari imam-imam terbaik yang ada di negara tersebut. Oleh karena
setiap pemimpin merupakan orang terbaik di lingkungannya, maka dapat dipastikan
mereka adalah orang yang kuat keimanannya, tinggi kapabilitas dan sekaligus
akseptabilitasnya. Pemimpin seperti inilah yang akan menjadi teladan, baik bagi para
birokrat bawahannya, maupun bagi rakyatnya.
Penegakan hukum merupakan aspek penting lainnya yang harus dijalankan dalam
sistem Islam. Hukuman dalam Islam mempunyai fungsi sebagai pencegah. Para koruptor
akan mendapat hukuman yang setimpal dengan tindak kejahatannya. Para koruptor kelas
kakap, yang dengan tindakannya itu bisa mengganggu perekonomian negara, apalagi bisa
memperbesar angka kemiskinan, dapat diancam dengan hukuman mati, disamping
hukuman kurungan. Dengan begitu, para koruptor atau calon koruptor akan berpikir
berulang kali untuk melakukan aksinya. Apalagi, dalam Islam, seorang koruptor dapat
dihukum tasyir, yaitu berupa pewartaan atas diri koruptor. Pada zaman dahulu mereka
diarak keliling kota, tapi pada masa kini bisa menggunakan media massa.

2. Kualitas Sumber Daya Manusia.


Sistem Islam menanamkan iman kepada seluruh warga negara, terutama para
pejabat negara. Dengan iman, setiap pegawai merasa wajib untuk taat kepada aturan
Allah SWT. Orang beriman sadar akan konsekuensi dari ketaatan atau pelanggaran yang
dilakukannya, karena tidak ada satupun perbuatan manusia yang tidak akan dihisab.
Segenap anggota atau bagian tubuh akan bersaksi atas segala perbuatan kita. Allah SWT
berfirman:
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pedengaran, penglihatan dan kulit
mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan” (QS.
Fushshilat [41]; 20)
Manusia memang menyangka bahwa Allah SWT tidak tahu apa yang mereka
lakukan, termasuk tindakan korupsi yang disembunyikan. Hanya orang yang beriman saja
yang yakin bahwa perbuatan seperti itu diketahui Allah SWT dan disaksikan oleh
anggota/bagian tubuh kita yang akan melaporkannya kepada Allah SWT. Inilah
pengawasan melekat yang sungguh-sungguh melekat.
“kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran,
penglihatan dan kulitmu terhadapmu. Bahkan kamu mengira bahwa Allah SWT tidak
mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah
prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, Dia telah membinasakan
kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS Fushshilat [41]; 22-
23)
Dengan iman akan tercipta mekanisme pengendalian diri yang andal. Dengan
iman pula para birokrat, juga semua rakyat, akan berusaha keras mencari rizki secara
halal dan memanfaatkannya hanya di jalan yang diridhai Allah SWT. Rasulullah SAW
menegaskan, bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya untuk apa ia manfaatkan,
tentang masa mudanya kemana ia lewatkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan
untuk apa, serta tentang ilmunya untuk apa ia gunakan. Bagi birokrat sejati, lebih baik
memakan tanah daripada menikmati rizki haram.
Motivasi positif ini kemudian akan mendorong mereka untuk secara sungguh-
sungguh meningkatkan kualitas, kapasitas dan profesionalismenya. Karena hanya dengan
kemampuan yang semakin tinggilah mereka bisa semakin mengoptimalkan pelaksanaan
tugas mulianya sebagai aparat pemerintah. Mereka menyadari bahwa tugas utama mereka
adalah melayani rakyat. Wajib atas mereka melaksanakan amanah itu dengan jujur, adil,
ikhlas dan taat kepada aturan negara, yang tidak lain adalah syariat Islam.

3. Sistem Kontrol yang Kuat.


Kontrol merupakan satu instrumen penting yang harus ada dalam membangun
pemerintahan yang bersih dan baik. Kontrol bukan saja dilakukan secara internal, oleh
pemimpin kepada bawahannya, melainkan juga oleh rakyat kepada aparat negaranya.
Kesadaran dan pemahaman akan pentingnya kontrol ini, haruslah dimiliki oleh segenap
pemimpin pemerintahan, para aparat di bawahnya dan oleh segenap rakyat. Semua orang
harus menyadari bahwa keinginan untuk membangun pemerintahan yang baik hanya
dapat dicapai dengan bersama-sama melakukan fungsi kontrolnya. Dalam sejarah
kepemimpinan pemerintahan Islam, tercatat, bagaimana Khalifah Umar bin Kattab telah
mengambil inisiatif dan sekaligus mendorong rakyatnya untuk melakukan kewajibannya
mengontrol pemerintah. Khalifah Umar di awal kepemimpinannya berkata: “apabila
kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam, maka luruskanlah aku walaupun dengan
pedang” Lalu seorang laki-laki menyambut dengan lantang “kalau begitu, demi Allah
SWT, aku akan meluruskanmu dengan pedang ini.” Melihat itu Umar bergembira, bukan
menangkap atau menuduhnya menghina kepala negara.
Pengawasan oleh masyarakat akan tumbuh apabila masyarakat hidup dalam
sebuah sistem yang menempatkan aktifitas pengawasan (baik kepada penguasa maupun
sesama warga) adalah sebuah aktifitas wajib lagi mulia. Melakukan pengawasan dan
koreksi terhadap penguasa hukumnya adalah wajib. Ketaatan kepada penguasa tidak
berarti harus mendiamkan mereka. “Allah SWT telah mewajibkan kepada kaum
muslimin untuk melakukan koreksi kepada penguasa mereka. Dan sifat perintah kepada
mereka agar merubah para penguasa tersebut bersifat tegas; apabila mereka merampas
hak-hak rakyat, mengabaikan kewajiban-kewajiban rakyat, melalaikan salah satu urusan
rakyat, menyimpang dari hukum-hukum Islam, atau memerintah dengan selain hukum
yang diturunkan oleh Allah SWT”. (Taqiyuddin An-Nabhani; Sistem Pemerintahan
Islam, Al-Izzah, 1996)
Allah SWT berfirman;
“Hendaknya ada di antara kalian, sekelompok umat yang mengajak kepada
kebaikan serta menyeru pada kema’rufan dan mencegah dari kemunkaran” (QS Ali Imran
[3]; 104).
Dari Abi sa’id Al Khudri yang menyatakan Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia
merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila
tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)
Dari Ummu ‘Atiyah dari Abi Sa’id yang menyatakan Rasululah SAW bersabda:
“Sebaik-baik jihad adalah (menyatakan) kata-kata yang haq di depan penguasa
yang dlalim” (HR. Ahmad)
“Penghulu para syuhada adalah Hamzah, serta orang yang berdiri dihadapan
seorang penguasa yang dzalim, lalu memerintahkannya (berbuat makruf) dan
mencegahnya (berbuat munkar), lalu penguasa itu membunuhnya” (HR. Hakim dari
Jabir).
Hadits ini merupakan bentuk pengungkapan yang paling tegas, yang mendorong
agar berani menanggung semua resiko, sekalipun resiko mati, dalam rangka melakukan
koreksi terhadap para penguasa, serta menentang mereka yang dzalim itu.

Faktor Penyebab Kerusakan Birokrasi


Apakah yang menyebabkan rusaknya birokrasi? Bila korupsi merupakan penyakit
utama birokrasi, maka dapat ditelusuri sebab-sebabnya. Bagi mereka yang berpandangan
bahwa korupsi adalah sebuah budaya, dan budaya adalah sesuatu yang sulit dirubah, maka
sikap yang dilahirkan adalah menerima korupsi sebagai sebuah keharusan. Pandangan seperti
ini sangat dipengaruhi oleh paham paternalistik, dimana pemberian hadiah dan upeti dari
rakyat kepada pemimpin (pemerintah) adalah sesuatu yang baik. Oleh karena itu, bagi mereka
praktek korupsi tidak dipandang sebagai hal negatif yang harus dimusnahkan. Korupsi
dengan berbagai istilah dan spesifikasinya adalah bentuk penghormatan, rasa terima kasih,
minta perlindungan dan kasih sayang kepada penguasa atau pejabat negara. Pada masyarakat
yang seperti ini, korupsi, dengan istilah lain “hadiah” atau “buah tangan”, adalah sebuah
instrumen yang menjaga keseimbangan dan keberlangsungan sistem. Masalahnya, apakah
budaya itu merupakan sesuatu yang hadir secara tiba-tiba dan harus diterima begitu saja, atau
justru merupakan buah dari dipakainya sebuah sistem? Melihat kenyataan, banyaknya negara
yang berubah, semakin tidak korup, maka dapat dikatakan bahwa budaya itu bukanlah
sesuatu yang tidak bisa dirubah. Sehingga, pada dasarnya sistem-lah yang akan membentuk
budaya.
Tentu permasalahannya tidak sesederhana itu. Faktor penyebab suburnya korupsi
bukan faktor tunggal, dia merupakan multi faktor yang kompleks dan saling bertautan. Syed
Hussein Alatas (Sosiologi Korupsi, LP3ES, 1986) mencoba mendiskripsikan faktor-faktor
yang menyebabkan suburnya korupsi sebagai berikut :
1. Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi
kunci yang mampu memerikan ilham dan mempengaruhi tingkah
laku yang menjinakkan korupsi.
2. Kelemahan pengajaran-pengajaran agama dan etika.
3. Kolonialisme. Suatu pemerintahan asing tidaklah menggugah
kesetiaan dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung
korupsi.
4. Kurangnya pendidikan.
5. Kemiskinan.
6. Tiadanya tindak hukuman yang keras.
7. Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti korupsi.
Paling tidak ada dua faktor utama penyebab korupsi, yaitu:
1. Faktor Individu
Orientasi dan pemahaman manusia tentang kebahagiaan mengalami pergeseran
paradigma yang kemudiaan menentukan perubahan sikap. Pergeseran ini bukanlah
sesuatu yang alamiah, tetapi merupakan sebuah perubahan yang terjadi akibat dari
perubahan ideologi yang dianut bangsa tersebut. Dalam masyarakat yang menjunjung
tinggi materialisme, maka kebahagiaan diukur dari berapa banyak materi (uang) yang
dapat dikumpulkan dan dimiliki. Dalam masyarakat seperti ini, segala sesuatu diukur
dengan uang. Maka kebahagiaan, kehormatan, status sosial, intelektualitas, kesejahteraan,
dan segala nilai kebaikan, diukur dengan materi (uang). Maka segala cara dihalalkan
untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, tidak terlalu penting, apakah uang itu
diperoleh dengan cara yang halal atau haram.
Meluasnya paham materialisme ini, juga mempengaruhi karakter individu
masyarakat, bukan saja pejabat pemerintah. Mereka tidak lagi mempunyai rasa malu, rasa
bersalah sekaligus pengendalian diri, menghadapi fenomena korupsi. Bahkan pada
tingkatan tertentu, korupsi dipandang cara yang sah untuk “bagi-bagi” rejeki, menjaga
stabilitas masyarakat, serta alat untuk mengendalikan dukungan dan kesetiaan (politik).
Pola rekrutmen pejabat negara (PNS) akan menentukan kualitas aparat birokrasi.
Kondisi, dimana birokrasi diserahi tugas untuk menyediakan lapangan kerja, sebagai
salah satu bentuk memperluas dukungan politik bagi penguasa, maka rekrutmen PNS
tidak dijalankan dengan mengedepankan kapabilitas profesional. Tindakan KKN juga
memperburuk kualitas aparat birokrasi. Maka yang paling mungkin menjadi PNS adalah
anak pejabat, kerabatnya pimpinan pemerintahan, atau orang-orang yang mempunyai
cukup banyak uang untuk me-mulus-kan jalannya menjadi PNS. Kualitas SDM yang
jelek, kemudian menyebabkan birokrasi tidak mampu menjalankan fungsinya. Lihatlah,
betapa banyak petugas penyuluh lapangan (pertanian, perikanan, kehutanan) yang tidak
mempunyai kemampuan dasar penyuluh, misalnya berpidato di depan massa (komunikasi
massa). Sehingga, tanpa kemampuan dasar tersebut, maka tugas utama mereka, memberi
penyuluhan kepada masyarakat, tidak bisa dijalankan.
Tentu saja sumbangan faktor individu dalam kerusakan birokrasi, tidaklah berdiri
sendiri. Karena pada saat kita menfokuskan perhatian pada aspek individu, pada dasarnya
kita sedang berbicara “buah” dari sebuah sistem. Sebuah sistem secara sistematis
merancang pembangunan karakter pribadi individual masyarakatnya. Dalam masyarakat
kapitalis, yang menjunjung tinggi individualisme, memang “seolah-olah”, karakter
pribadi dari warganya, seperti tidak dibangun secara formal. Namun pola pendidikan, tata
nilai (sosial, kemasyarakatan, keluarga), sistem ekonomi, sistem sosial yang dipakai
secara sistematis akan membentuk individu-individu yang mengagungkan kebebasan
individu sebagai puncak kebahagiaan. Maka lahirlah sebuah masyarakat yang
individualistik sekaligus materialistik. Dalam masyarakat yang materialistis ini sekarang
kita hidup, sehingga sanggat wajar bila kemudian kita menghadapi kenyataan, tingginya
tingkat korupsi.
2. Faktor Sistem
Sistem yang dimaksud meliputi segenap sistem kenegaraan, pemerintahan,
hukum, birokrasi, dan sosial. Secara internal, birokrasi membentuk sistemnya sendiri.
Namun kinerja birokrasi tidak ditentukan oleh faktor tunggal, dia sangat dipengaruhi oleh
sistem-sistem lain yang dipakai di negara bersangkutan. Mohtar Mas’oed (Politik,
Birokrasi dan Pembangunan, Pustaka Pelajar, 1997) mengatakan. Pertama; birokrasi tidak
pernah beroperasi dalam “ruang-hampa politik” dan bukan aktor netral dalam politik.
Kedua, negara-negara dunia ketiga lebih sering dipengaruhi oleh sistem internasional,
daripada sebaliknya. Artinya, birokrasi, dalam hidupnya dipengaruhi dan mempengaruhi
sistem-sistem lain yang ada di lingkungannya, bahkan termasuk lingkungan internasional.
Besar kecilnya birokrasi dan wewenangnya, ditentukan oleh fungsi pemerintahan
yang didefinisikan oleh sistem politik dan pemerintahan yang dipakai negara tersebut.
Sebuah negara, yang menempatkan fungsi pembangunan sebagai salah satu tugas utama
pemerintah (agent of development), seperti Indonesia, akan membentuk sebuah birokrasi
yang besar. Birokrasi yang demikian, kemudiaan juga akan memiliki wewenang yang
super besar dan penggelolaan anggaran yang besar juga. Hampir semua sektor kehidupan
akan dirambah oleh birokrasi pembangunan itu. Sejalan dengan wewenang dan anggaran
yang besar, maka peluang untuk terjadinya korupsi juga membesar. Birokrasi yang
gemuk seperti itu juga tidak akan bisa bergerak cepat dan lincah, walau hanya sekedar
mengikuti perubahan tuntutan kebutuhan masyarakatnya. Fenomena maraknya korupsi di
birokrasi Indonesia yang super gemuk itu (4-5 juta PNS) juga dapat kita telusuri dari
penggunaan istilah departemen/direktorat/ bagian/unit “basah”, terutama di departemen
keuangan, dirjen pajak, bea cukai, bagian keuangan, dinas pendapatan, badan
perencanaan, dan lain-lain.
Sistem hukum yang lemah. Sistem hukum yang kita pakai bukan saja tidak bisa
menjalankan fungsinya guna mencegah terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme dan
penyalahgunaan jabatan lainnya. Namun juga tidak mampu menjadi pembuat jera bagi
penjahat berdasi yang dihukuminya. Ironisnya lagi, begitu banyak kasus korupsi yang
tidak bisa dihukumi dengan sistem hukum yang ada. Sistem hukum yang ada juga tidak
mampu menyediakan aparat penegak hukum yang handal. Para hakim, jaksa, polisi dan
penasehat hukum lebih tunduk pada tekanan politik dan publik daripada mentaati aturan
hukum baku yang ditetapkan. Penasehat hukum yang diduga kuat melakukan
“penyuapan” terhadap saksi kasus korupsi dan pembunuhan, tidak bisa digugat, hanya
karena ketidakjelasan hukum. Yang terjadi kemudiaan perdebatan diantara aparat
penegak hukum dalam menafsirkan sebuah ketentuan hukum.
Penegakan hukum yang setengah hati atas kasus-kasus korupsi bukan saja tidak
membuat para koruptor takut, tapi juga sekaligus membuat penghormatan terhadap
hukum menjadi sangat rendah. Hukum, kalaupun terpaksa tidak bisa dihindari, masih bisa
dibeli. Bahkan, kalaupun putusan hakim telah dijatuhkan, masih tersedia instrumen lain
(banding, kasasi, peninjauan kembali) yang bisa juga dibeli dari hasil korupsi. Kalaupun
para koruptor itu tetap saja kalah dan dijebloskan ke “hotel prodeo”, maka masih ada
banyak kesempatan untuk melenggang keluar, menikmati kebebasan dan menghabiskan
dana korupsi yang masih tetap dikuasai. Cukup dengan uang ratusan ribu rupiah, sang
terpidana bisa menikmati week end bersama keluarga di rumah. Atau, kalau mau keluar
selamanya, bayar saja petugas penjara yang berpenghasilan kecil itu, sejuta atau dua juta
cukup untuk membuat pintu penjara terbuka lebar.
Sistem Penggajian yang rendah. Sudah menjadi argumentasi yang diterima secara
umum, bahwa korupsi terjadi didorong oleh rendahnya gaji yang diberikan negara kepada
PNS. Walaupun, dari fakta yang kita saksikan, korupsi itu lebih besar dan intens
dilakukan oleh pejabat tinggi, yang notabene menerima gaji dan penghasilan lebih tinggi,
namun tetap saja rendahnya gaji menjadi alasan pembenar terjadinya korupsi disemua lini
pemerintahan.
Rendahnya gaji PNS disebabkan oleh besarnya jumlah PNS yang harus dihidupi
oleh negara. Pada massa Orde Baru, termasuk sampai kini, birokrasi dijadikan salah satu
pihak yang bertugas menyediakan lapangan kerja. Hal ini menyebabkan besarnya jumlah
PNS. Rendahnya gaji PNS juga disebabkan tingkat perkembangan ekonomi negara yang
tidak terlalu menggembirakan. Kalupun Indonesia pernah dijagokan sebagai salah satu
Macan Asia dalam pembangunan ekonomi, namun pertumbuhan ekonomi itu lebih
banyak dipacu oleh hutang luar negeri yang masuk. Kalaupun terjadi pertumbuhan
ekonomi yang signifikan, tetap saja kekayaan itu tidak terdistribusikan secara baik,
sehingga yang terjadi kemudiaan adalah angka kesejangan ekonomi yang tinggi. Dengan
demikian, tingkat kemampuan negara menggaji PNS ditentukan oleh sistem ekonomi
yang dipakai. Negara yang menggunakan sistem ekonomi yang sangat produktif dan pola
distribusi kekayaan yang baik, niscaya akan mampu mengumpulkan dana yang cukup
untuk menggaji PNS-nya secara layak. Begitu pula sistem politik yang tidak membebani
birokrasi dengan tugas menampung limpahan tenaga kerja, niscaya akan membentuk
birokrasi yang ramping dengan jumlah PNS yang rasional, sehingga dana yang dimiliki
negara untuk gaji akan proporsional dengan jumlah PNS.
Sistem Sosial. Bukan menjadi rahasia umum lagi, bahwa kerusakan birokrasi
sangat ditentukan oleh prilaku aparat yang korup. Tapi perilaku yang korup itu tidak
mungkin akan subur, bila sistem sosial yang dipakai di masyarakat tidak kondusif untuk
itu. Dalam masyarakat yang menghormati kejujuran, kebenaran dan keamanahan, korupsi
adalah tindakan yang paling dibenci dan dicaci. Perbuatan korupsi akan dihindari sebisa
mungkin. Kalaupun terjadi, maka para pejabat akan berusaha menutup-nutupinya. Dalam
masyarakat seperti itu, para koruptor tidak akan dihormati, mereka akan dihinakan, tidak
digauli, bahkan mungkin juga diasingkan dari masyarakatnya.
Sebaliknya, di masyarakat yang sangat mengagungkan materi, sekaligus tidak
terlalu peduli dari mana materi diperoleh, korupsi justru terjadi dengan dukungan dan
kerjasama dengan masyarakat. Seorang koruptor yang “baik hati”, yang suka melakukan
kegiatan sosial, memberi sumbangan bagi pembangunan rumah ibadah, menyantuni panti
jompo, adalah “malaikat” yang dipuja-puja. Bahkan, koruptor yang rajin membantu
pesantren, akan lebih dihormati daripada pemimpin pesantrennya sendiri. Dalam
masyarakat yang tidak peduli seperti itu, jangan harap terjadi proses kontrol sosial. Apa
yang disebut dengan amar ma’ruf nahyi munkar-pun tinggal di kitab-kitab kuning yang
dihapalkan para santri. Sementara sang Kyai lebih asyik masyuk bercengkerama dengan
para koruptor yang baik hati, daripada menasehati atau malah memperingatkan sang
koruptor.

Dampak Buruk Kerusakan Birokrasi


Birokrasi yang korup mempunyai dampak negatif yang sangat luas, bukan saja
merusak birokrasi itu sendiri, tapi juga menjadi sebab dari tidak efisiennya sektor bisnis, high
cost economy, merendahkan minat untuk berinvestasi, menjadi sebab dri ketimpangan dan
kemiskinan, merusak kualitas pribadi masyarakat, merusak tatanan luhur dalam masyarakat,
memperburuk pelayanan kesehatan, pendidikan dan sekaligus merusak kehormatan
pemerintah dan hukum.
Birokrasi yang korup jelas tidak efisien dan tidak bisa bekerja secara efektif.
Birokrasi yang seperti ini, lebih banyak mengurus dirinya sendiri, daripada menjalankan
fungsinya untuk melayani dan menfasilitasi masyarakat serta menegakkan hukum ditengah-
tengah masyarakat. Anggaran yang besar, lebih banyak digunakan untuk mengurus aparat
birokrasi, daripada meningkatkan kinerja birokrasi. Birokrasi yang korup dalam waktu yang
panjang akan melahirkan budaya korup di lingkungan birokrasi. Dalam lingkungan yang
seperti ini, maka profesionalisme tinggal slogan. Yang terpenting bukan menjadi aparat yang
produktif dan efektif, tapi yang penting adalah bagaimana bisa menyesuaikan diri atau
bahkan sekaligus terlibat aktif dalam praktek korupsi yang menggurita itu. Dalam lingkungan
yang demikian, tidak ada tempat bagi mereka yang ‘sok suci’, menolak korupsi. Orang-orang
jujur menjadi ter-alienasi di lingkungannya, mereka menjadi orang yang aneh, tidak gaul dan
mungkin seperti ‘pesakitan’ yang patut dikasihani.
Salah satu dampak wabah korupsi yang adalah High Cost Economy. Korupsi yang
meluas di semua sektor publik, telah menaikkan ongkos produksi. Biaya perizinan yang
membengkak mendorong tingginya biaya produksi. Akibatnya rakyat biasa, yang menjadi
konsumen akhir suatu produk yang harus membayar mahal. Tingginya korupsi dari proyek-
proyek pemerintah, mengakibatkan jalan, jembatan, pelabuhan, dan fasilitas publik lainnya
cepat rusak dan membutuhkan biaya perawatan yang tinggi. Bila dugaan begawan ekonomi
Indonesia Soemitro Djoyohadikusumo, bahwa korupsi di Indonesia, menggerogoti 30 %
anggaran, maka dapat dibayangkan kualitas proyek yang dijalankan. Maka wajar saja bila
sebagian besar anggaran pembangunan, termasuk pinjaman luar negeri, dialokasikan guna
merehabilitasi dan memaintenance fasilitas publik dan kantor-kantor pemerintahan. Artinya,
biaya yang seyogyanya bisa digunakan untuk menambah fasilitas, tapi justru hanya
dihabiskan guna merawat fasilitas yang tidak berkualitas. Belum lagi, proyek perawatan itu
juga sangat rentan untuk dikorupsi.
Korupsi juga merendahkan minat orang untuk berinvestasi. Para pemilik modal malas
berurusan dengan birokrasi yang berbelit-belit dan mahal. Padahal usaha yang dijalankan
belum tentu menguntungkan, tapi mereka telah lebih dulu dipungli. Maka, para investor lebih
memilih menginvestasikan dananya di bank dalam bentuk tabungan atau deposito yang tidak
beresiko dan tidak harus berhadapan dengan pejabat yang korup. “Kira-kira 35 % dari usaha
bisnis melaporkan alasan utama untuk tidak berinvestasi adalah karena biaya tinggi berkaitan
dengan korupsi” (Media Indonesia, 19/11/2001)
Angka kemiskinan yang begitu tinggi disinyalir turut diperparah oleh praktek
birokrasi. Birokrasi yang korup, bukan saja tidak mendorong kondisi yang sehat untuk bisnis
dan perputaran ekonomi, tapi juga telah menyedot sebagian besar kapital dan didistribusikan
di lingkungannya. Maka kemiskinan itu terjadi akibat dikuasainya sebagian besar kapital oleh
segelintir orang, yaitu penguasa dan pengusaha yang berkolusi dengan penguasa. Rendahnya
investasi, akibat langsung dari maraknya korupsi, menyebabkan sedikitnya lapangan kerja
yang tersedia, pengangguran meningkat, dan itu artinya, semakin banyak orang yang miskin.
Korupsi yang demikian meluas dan membudaya juga berakibat pada rusaknya
karakter kepribadian aparat dan masyarakat. Nilai-nilai kebaikan berupa penghormatan yang
tinggi pada kejujuran, kebenaran, amanah dan keikhlasan tidak lagi digunakan. Yang
dihormati adalah kedudukan, pangkat dan materi yang banyak. Semakin kaya seseorang,
maka semakin dihormati orang tersebut. Kepribadian yang luhur dan baik tidak lagi menjadi
anutan. Para pejabat yang korup, dan bisa menyembunyikan perilakunya di mata publik,
menjadi anutan. Maka masyarakat tidak lagi ingin menjadi orang baik (yang miskin), mereka
ingin menjadi orang kaya yang serba “wah”, tidak penting apakah dia korup, penipu dan
maling berdasi.
Oleh karena hukum tidak mampu mengendalikan korupsi, bahkan juga terlibat dalam
praktek korupsi, maka hukum tidak lagi menjadi institusi yang dihormati. Rendahnya
penghormatan terhadap hukum, sekaligus menghilangkan harapan masyarakat untuk mencari
keadilan didepan hukum. Hilangnya kepercayaan terhadap hukum, juga telah mendorong
perilaku main hakim sendiri. Maraknya perilaku anarkhis dalam lima tahun terakhir,
menunjukkan betapa hukum tidak mampu menjalankan fungsinya. Maling ayam yang
tertangkap tangan oleh massa, biasanya tidak diserahkan kepada polisi, tapi langsung
diinterogasi, dipukuli dan dibakar beramai-ramai oleh masyarakat. Begitu pula pengemudi
kendaraan yang mengalami kecelakaan, menabrak seorang anak kecil yang bermain di jalan,
juga harus merenggang nyawa, disirami bensin dan dibakar bersama mobilnya.
Korupsi yang merambah sektor pendidikan dan kesehatan tidak kalah hebatnya. SD
Inpres yang baru dibangun, ambruk diterjak angin. Anak-anak harus bersekolah ditempat
penampungan sementara. Pendidikan yang baik, menjadi sangat mahal. Bisnis pendidikan
sudah kehilangan hati nurani dan idealismenya. Kualitas pendidikan menjadi sangat rendah,
dan lembaga pendidikan tidak lagi berorientasi pada peningkatan kualitas manusia, tapi lebih
menjadi sebuah lembaga bisnis yang rakus. Sektor kesehatan demikian pula. Korupsi tidak
saja membuat kualitas fasilitas kesehatan masyarakat buruk, tapi juga merusak perilaku
pelayanan aparat birokrasi kesehatan. Rumah sakit milik pemerintah, dikelola seadanya, tidak
mempunyai jiwa melayani, tidak ramah dan sekaligus mahal. Rakyat miskin, yang
seyogyanya mendapat pelayanan kesehatan gratis, justru harus membayar mhal untuk
pelayanan yang buruk itu. Wajar, bila kemudian kualitas kesehatan masyarakat dari hari ke
hari makin buruk. 3)

III. REALITA DI INDONESIA

Krisis ekonomi dan politik yang menghantam mulai pertengahan tahun 1997,
mengharuskan bangsa Indonesia menelaah kembali konsep-konsep, metode-metode dan
praktek-praktek penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara yang diterapkan
selama tiga dekade terakhir yang diyakini berperan besar dalam menyumbang terjadinya
krisis tersebut. Pemerintahan yang sentralistis dan birokrasi yang patrimonialistik,
penyelenggaraan negara yang terlepas dari kontrol sosial dan kontrol politik suprastruktur
dan infrastruktur politik, serta ideologi pembangunanisme yang tidak berbasis pada ekonomi
kerakyatan, berimplikasi luas pada praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di
dalam tubuh pemerintahan Indonesia di bawah rezim Orde Baru.
Orientasi untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktek KKN
sebenarnya telah menjadi diskursus sejak awal berdirinya Orde Baru. Berbagai instrumen
hukum dan lembaga telah dibentuk dalam upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa. Dikeluarkannya UU No. 3 tahun 1971 tentang Tindak Pidana Korupsi, UU No.
11 tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap, dan Keppres No. 33 tahun 1986 tentang
Kewajiban Pelaporan Pajak Pribadi bagi Pejabat Negara, PNS, ABRI, BUMD dan BUMN
menunjukkan hal tersebut.Namun ternyata upaya-upaya tersebut hanya berhenti sampai
tataran normatif dan tidak berlanjut ke tataran yang kongkret dan operasional.
Tuntutan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN kembali
marak setelah terjadinya krisis ekonomi mulai pertengahan tahun 1997. Sidang Umum MPR
pada bulan Maret 1998 ramai membahas tentang perlu-tidaknya seseorang melaporkan dan
mengumumkan harta kekayaan yang dimiliki sebelum dan sesudah menduduki suatu jabatan
negara. Perdebatan sidang umum tersebut terjawab pada Sidang Kabinet Pembangunan VII
tanggal 17 Maret 1998 yang memutuskan agar pejabat tinggi negara dan pejabat negara
lainnya melaporkan seluruh harta kekayaan pribadi, termasuk harta istri maupun suami, baik
yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Laporan ini bersifat tertutup hanya kepada
Presiden dan tidak dilaporkan kepada masyarakat dengan alasan etika. Pelaksanaan hasil
sidang kabinet tersebut -sekali lagi- tidak pernah terealisir.
Perdebatan mengenai upaya menciptakan clean governance di Indonesia terulang
kembali pada Sidang Istimewa MPR yang diadakan pada bulan November 1998. Perdebatan
tersebut menghasilkan Tap MPR-RI No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Materi utama dari Tap MPR tersebut
adalah mengenai; keharusan seorang pejabat negara untuk mengumumkan harta kekayaannya
sebelum dan sesudah menjabat; perintah kepada Kepala Negara RI untuk membentuk suatu
lembaga dalam rangka melaksanakan pemeriksaan kekayaan pejabat tersebut; dan
tercantumnya nama mantan Presiden Soeharto dalam upaya pemberantasan KKN oleh
pemerintah.
Berdasarkan arahan dari Tap MPR-RI No. XI/MPR/1998, pemerintah membentuk
RUU tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme. RUU ini diharapkan dapat dijadikan landasan utama dari pemerintah yang
sekarang dan di masa depan dalam rangka menciptakan penyelenggaran kehidupan berbangsa
dan bernegara yang bersih, berwibawa, dan profesional serta mengabdi pada kepentingan
masyarakat luas.
MPR yang telah mengeluarkan Tap No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan
Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN, ditindaklanjuti dengan keluarnya UU No 28/1999
tentang Pemberantasan KKN, UU No 30/2002 tentang Pembentukan Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi, dan UU No 17/ 2003 tentang Keuangan Negara.
Beberapa perangkat hukum lain yang mengatur pemberantasan korupsi dan
menciptakan aparat pemerintahan yang bersih juga pernah dikeluarkan pada masa
pemerintahan Presiden Habibie, seperti Inpres No.30/1998 tentang Pembentukan Komisi
Pemeriksa Harta Pejabat, serta pembentukan badan baru lainnya. Namun, Habibie
menghadapi kendala politik, ia tidak berhasil memperadilankan mantan presiden Soeharto.
Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid juga dikeluarkan Keppres No 44/2000,
dengan membentuk lembaga Ombudsman, yang mempunyai wewenang melakukan
klarifikasi, monitoring atau pemeriksaan atas laporan masyarakat mengenai penyelenggaraan
negara. Gus Dur juga memfasilitasi terbentuknya Komisi Pemeriksaan Kekayaan
Penyelenggara Negara. Namun sejak awal, komisi ini mengundang kontroversi, terutama
prosedur fit and proper test calon anggotanya oleh Komisi II DPR, dinilai tidak transparan.
Presiden juga membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, namun
melalui judicial review Mahkamah Agung, tim terpaksa dibubarkan.
Pada tahun 2003, bersama Kenya dan enam negara lainnya, Indonesia menjadi negara
yang paling korup di dunia. Di antara 133 negara, Indonesia menduduki peringkat keenam
sebagai negara terkorup, setelah Angola, Azerbaijan, Kamerun, Georgia, Tajikistan.

Birokrasi yang Buruk


Pemerintahan yang baik dan bersih diukur dari performance birokrasinya.
Pengalaman dan kinerja birokrasi di berbagai negara telah melahirkan dua pandangan yang
saling bertentangan terhadap birokrasi. Pandangan pertama melihat birokrasi sebagai
kebutuhan, yang akan meng-efisien-kan dan meng-efektif-kan pekerjaan pemerintahan.
Pandangan kedua, melihat birokrasi sebagai “musuh” bersama, yang kerjanya hanya
mempersulit hidup rakyat, sarangnya korupsi, tidak melayani, cenderung kaku dan
formalistis, penuh dengan arogansi (yang bersembunyi di balik hukum), dan sebagainya.
Padahal secara konseptual, birokrasi, sebagai sebuah organisasi pelaksana
pemerintahan, adalah sebuah badan yang netral. Faktor diluar birokrasilah yang akan
menentukan wajah birokrasi menjadi baik atapun jahat, yaitu manusia yang menjalankan
birokrasi dan sistem yang dipakai, dimana birokrasi itu hidup dan bekerja. Artinya, bila
sistem (politik, pemerintahan dan sosial budaya) yang dipakai oleh suatu negara adalah baik
dan para pejabat birokrasi juga orang-orang yang baik, maka birokrasi menjadi sebuah badan
yang baik, lagi efektif. Sebaliknya, bila birokrasi itu hidup didalam sebuah sistem yang jelek,
hukumnya lemah, serta ditunggangi oleh para pejabat yang tidak jujur, maka birokrasi akan
menjadi buruk dan menakutkan bagi rakyatnya.
Indikator buruknya kerja birokrasi pada umumnya berfokus pada terjadinya korupsi
di dalam birokrasi tersebut. Indonesia dari waktu ke waktu terkenal dengan tingkat korupsi
yang tinggi. Pada tahun 1998, siaran pers Tranparansi Internasional, sebuah organisasi
internasional anti korupsi yang bermarkas di Berlin, melaporkan, Indonesia merupakan
negara korup keenam terbesar di dunia setelah lima negara gurem, yakni; Kamerun,
Paraguay, Honduras, Tanzania dan Nigeria. (Kompas, 24/09/1998). Tiga tahun kemudian,
2001, Transparansi Internasional telah memasukkan Indonesia sebagai bangsa yang terkorup
keempat dimuka bumi. Sebuah identifikasi yang membuat bangsa kita tidak lagi punya hak
untuk berjalan tanpa harus menunduk malu (Hamid Awaludin, Korupsi Semakin Ganas,
Kompas, 16/08/2001). Dan, ditahun 2002, hasil survey Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) yang bermarkas di Hongkong, menempatkan Indonesia sebagai negara
terkorup di Asia, dikuntit India dan Vietnam (Teten Masduki, Korupsi dan Reformasi “Good
Governance”, Kompas, 15/04/2002).
Survey Nasional Korupsi yang dilakukan oleh Partnership for Governance Reform
melaporkan bahwa hampir setengahnya (48 %) dari pejabat pemerintah diperkirakan
menerima pembayaran tidak resmi (Media Indonesia, 19/11/2001). Artinya, setengah dari
pejabat birokrasi melakukan praktek korupsi (uang). Belum lagi terhitung korupsi dalam
bentuk penggunaan waktu kerja yang tidak semestinya, pemanfaatan fasilitas negara untuk
kepentingan selain itu. Maka hanya tinggal segelintir kecil saja aparat birokrasi yang
mempertahankan ke-suci- an dirinya, dilingkungan yang demikian kotor. Dengan begitu,
ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas KKN, hanya manis di mulut tanpa political will yang memadai.
Praktek korupsi di Indonesia, sebenarnya bukan saja terjadi pada dua-tiga dekade
terakhir. Di era pemerintahan Soekarno, misalnya, Bung Hatta sudah mulai berteriak bahwa
korupsi adalah budaya bangsa. Malah, pada tahun 1950-an, pemerintah sudah membentuk tim
khusus untuk menangani masalah korupsi. Pada era Soekarno itulah kita kenal bahwa salah
satu departemen yang kotor, justru Departemen Agama dengan skandal kain kafan. Saat itu,
kain untuk membungkus mayat (kain kaci), masih harus diimpor. Peran departemen ini
sangat dominan untuk urusan tersebut (Hamid Awaludin, Korupsi Semakin Ganas, Kompas,
16/08/2001).
Dewasa ini, spektrum korupsi di Indonesia sudah merasuk di hampir semua sisi
kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan. Mulai dari pembuatan KTP, IMB, tender proyek-
proyek BUMN, penjualan asset negara oleh BPPN, penggerogotan dana Bulog, bahkan
sampai tukang parkir dan penjual tiket kereta api-pun sudah terbiasa melakukan tindak
korupsi. Korupsi yang demikian subur ini, kemudian dijadikan argumentasi, bahwa korupsi
adalah budaya kita. Oleh karena merupakan budaya, maka sulit untuk dirubah, demikianlah
kesimpulan sementara orang. Maka gerakan anti korupsi dipandang usaha yang sia-sia.
Urusan korupsi, hanya dapat kita serahkan pada “kebaikan hati” rakyat saja. Sebuah
kesimpulan yang dangkal dan tergesa-gesa.
Buruknya kinerja birokrasi bukan saja menggerogoti uang negara. Birokrasi yang
buruk juga akan menyebabkan pelayanan yang jelek, sehingga menimbulkan high cost
economy disemua lini kehidupan. Harga BBM yang terus menerus naik, bukan saja
disebabkan oleh harga minyak di pasaran dunia, tapi juga disebabkan oleh tidak efisiennya
kerja Pertamina. Drs. Gandhi, (Tenaga Ahli BPK) dalam sebuah diskusi yang
diselenggarakan oleh CIDES berkerjasama dengan HU. Republika pada tanggal 26 Maret
1998 memberi catatan beberapa contoh korupsi yang ditemui dalam pemeriksaan BPK.
1. Korupsi yang dilakukan oleh pemegang kebijaksanaan, misalnya ;
a. Menentukan dibangunnya suatu proyek yang sebenarnya tidak perlu atau mungkin
perlu tapi ditempat lain. Akibatnya, proyek yang dibangun mubazir atau
penggunaannya tidak optimal.
b. Menentukan kepada siapa proyek harus jatuh. Akibatnya, harga proyek menjadi lebih
tinggi dengan kualitas yang rendah.
c. Menentukan jenis investasi, misalnya memutuskan agar suatu BUMN membeli saham
perusahaan tertentu. Perusahaan yang dibeli sahamnya itu sebenarnya sudah hampir
bangkrut atau sudah tidak layak usaha karena tidak ekonomis. Perusahaan yang
hampir bangkrut ini adalah milik pejabat sendiri atau saudaranya atau kawannya.
Akibatnya, uang negara menjadi hilang karena perusahaan tidak pernah untung
bahkan benar-benar ambruk.
d. Mengharuskan BUMN bekerja sama dengan perusahaan swasta tertentu tanpa
memperhatikan faktor ekonomis. Korupsi jenis ini mudah dideteksi akan tetapi
karena pemegang kebijaksanaan biasanya berkedudukan tinggi, tidak pernah ada
tindakan. Akibatnya, BUMN terus menerus memikul kerugian dari kerjasama
tersebut.
2. Korupsi pada pengelolaan uang negara;
a. Uang yang belum/sementara tidak dipakai sering diinvestasikan dalam
bentuk deposito. Disamping bunga yang resmi (yang tercantum dalam
sertifikat deposito atau surat perjanjian lainnya) bank biasanya
memberikan premi (bunga ekstra). Bunga ekstra ini sebenarnya
merupakan jasa uang negara yang didepositokan itu, sehingga seharusnya
menambah penerimaan investasi dalam bentuk deposito tadi. Tapi sering
dalam kenyataannya, bunga ekstra ini tidak tampak dalam pembukuan
instansi yang mendepositokannya. Bunga ekstra ini bisa lebih besar
apabila uang negara itu disimpan dalam bentuk giro. Kemana perginya
bunga ekstra ini dapat kita perkirakan.
b. BUMN pengelola uang pensiunan atau asuransi harus menginvestasikan
uangnya agar dapat membayar pensiun dan kewajiban asuransinya pada
yang berhak. Disamping investasi dalam bentuk deposito, bisa juga
diinvestasikan dalam perusahaan-perusahaan swasta. Sering terjadi
investasi dilakukan pada perusahaan milik pribadi atau grup dari pejabat
BUMN yang bersangkutan. Biasanya investasi pada perusahaan tersebut
hanya memberikan hasil yang sangat kecil atau bahkan sama sekali tidak
memberikan keuntungan.
3. Korupsi pada Pengadaan;
a. Membeli barang yang sebenarnya tidak perlu. Pembelian hanya
dilakukan untuk menghabiskan anggaran, untuk memperoleh
komisi, untuk menghabiskan barang persediaan perusahaan
pribadi atau grupnya yang kadang-kadang telah out of date.
b. Membeli dengan harga lebih tinggi dengan jalan mengatur tender,
yaitu yang mengikuti tender hanyalah perusahaan-perusahaan
grupnya atau yang bisa diatur olehnya, sehingga yang menang
adalah perusahaan pribadi atau grupnya atau perusahaan yang
memberikan komisi yang lebih besar, dan perusahaan yang sesuai
dengan petunjuk pejabat pemegang kebijaksanaan tersebut atau
perusahaan yang dititipkan oleh orang-orang yang dekat dengan
kekuasaan.
c. Membeli barang dengan kualitas dan harga tertentu, tetapi barang
yang diterima kualitasnya lebih rendah. Sebagian atau seluruh
selisih harga diterima oleh pejabat yang bersangkutan.
d. Barang dan jasa yang dibeli tidak diterima seluruhnya. Sebagian
atau seluruh harga barang dan jasa yang tidak diserahkan,
diterima oleh pejabat.
4. Korupsi pada Penjualan Barang dan jasa;
a. Barang/jasa dijual dengan hrga lebih rendah dari harga
yang wajar. Pejabat mendapat komisi atau sebenarnya
pejabat sendiri yang membelinya dengan nama orang lain.
b. Transaksi penjualan yang “ngetren” akhir-akhir ini adalah
“ruitslag” yaitu suatu asset negara yang diserahkan kepada
pihak ketiga, sedang negara menerima asset lain dari pihak
ketiga tersebut. Kerugian negara dapat berupa ; asset
negara dinilai terlalu rendah (murah), asset yang diterima
negara dinilai terlalu tinggi atau kombinasi keduanya.
c. Asset diserahkan kepada pihak ketiga lebih banyak dari
yang diperjanjikan. Pejabat mendapat keuntungan dari
transaksi ini.
5. Korupsi pada pengeluaran;
a. Bentuk pengeluaran uang harus dilandasi dengan berita
acara prestasi, yaitu suatu keterangan barang/jasa telah
diterima dalam kualitas dan kuantitas yang
diperjanjikan. Sering terjadi sebenarnya barang/jasa
tidak pernah diterima, tetapi dalam berita acara
disebutkan bahwa barang/jasa telah diterima lengkap
(berita acara fiktif), sehingga dilakukan pembayaran.
Seluruh atau sebagian uang pembayaran diterima oleh
pejabat. Berita acara fiktif ini banyak dilakukan dalam
penyerahan jasa.
b. Pada biaya perjalanan dinas sering juga terjadi yang
berjalan hanyalah Surat Perintah Perjalanan Dinas,
yaitu untuk ditandatangani oleh pejabat ditempat
tujuan. Pejabatnya sendiri tidak berjalan, ia hanya
menerima uang biaya perjalanan dinas. Korupsi ini
memang kecil-kecilan akan tetapi karena banyak orang
yang melakukan secara agregat jumlahnya besar.
6. Korupsi pada Penerimaan.
a. Pembayar pajak sering membayar pajaknya lebih kecil dari
yang seharusnya. Dari pemeriksaan petugas pajak dapat
diketahui besarnya kekurangan pajak yang kekurangan pajak
yang harus dibayar oleh wajib pajak. Petugas pajak tidak
melaporkan adanya kekurangan pajak tersebut keatasannya,
akan tetapi merundingkan dengan wajib pajak. Petugas pajak
akan menetapkan jumlah setoran tambahan yang lebih kecil
dari yang seharusnya, apabila sebagian dari selisihnya
dibayarkan kepadanya.
b. Petugas bea dan cukai kadang-kadang mengetahui bahwa
suatu Pemberitahuan Barang Masuk tidak sesuai dengan
kenyataannya, tetapi ia tidak mengadakan koreksi seperti
yang seharusnya, melainkan ia menerima sogokan sejumlah
uang dari pemilik barang untuk meloloskan barang tersebut.
Tidak jarang terjadi, seorang petugas bea dan cukai
memperlambat pemeriksaan barang dengan jalan mengada-
ada masalah. Walaupun pemilik barang telah melaporkan apa
adanya, ia terpaksa memberikan sogokan kepada petugas agar
barangnya dapat segera keluar dari pelabuhan.
c. Petugas penerima pendapatan bukan pajak tidak membukukan
dan menyetorkan seluruh penerimaan negara. Sebagian masuk
ke kantong sendiri. (Drs. Gandhi, Membentuk Aparatur
Pemerintahan Yang Bersih dan Berwibawa, Makalah Seri
Dialog Pembangunan CIDES-Republika, 26 Maret 1998)
IV. PENUTUP

Membangun pemerintahan yang bersih dan baik (clean and good governance)
bukanlah pekerjaan yang mudah. Dia akan menggerakkan segenap aspek kehidupan
kenegaraan dan kemasyarakatan. Dia juga membutuhkan dukungan dari segenap aparat
pemerintahan, masyarakat dan sistem yang baik. Hanya dengan pemilihan akan sistem yang
terbaiklah, maka upaya membangun pemerintahan yang baik itu akan menemukan jalan yang
jelas.
Membangun pemerintahan yang baik merupakan pekerjaan besar yang harus diawali
dari pemahaman dasar atas visi dan misi pemerintahan. Oleh karena itu, pilihan utama atas
ideologi apa yang akan dijadikan landasan pembangunan pemerintahan, akan menentukan
terbuka atau tidaknya harapan, bagi upaya penciptaan pemerintahan yang baik itu.
Pemerintahan yang baik hanya bisa dicapai, bila ideologi yang menjadi pilihan adalah
ideologi yang paling benar. Diatas ideoligi yang paling benar itulah, akan dibangun sistem
yang baik dan individu-individu yang tangguh.
Untuk mewujudkan clean governance diperlukan manajemen penyelenggaraan
pemerintahan yang transparan, akuntabel, kondusif dan komprehensif serta peningkatan
kapasitas institusi dan pejabat pengawas pemerintah untuk memperkuat kemampuan dan
kompetensi dalam melakukan kontrol yang efektif, efisien, dan ekonomis serta komprohensif
terhadap penyelenggaraan pembangunan. Dengan adanya pengawasan, diharapkan tidak ada
lagi kebijakan multitafsir, serta menjadi lebih jelas, tegas, rinci, mudah dipahami dan dapat
dilakukan dengan tertib.
Hukum diperlukan untuk menata sebuah pemerintahan yang bersih, dan sebaliknya
pemerintahan yang bersih merupakan pemerintahan yang menegakan supermasi hukum
sebagai pedoman dalam menjalankan amanat dan kehendak rakyat yang berlangsung secara
konstitusional. Oleh sebab itu reformasi hukum yang sedang berjalan saat ini hanya akan
berhasil dan memiliki efektifitas bagi kesehjahteraan rakyat bila pemerintahan yang akan
datang merupakan pemerintahan yang bersih.
Sistem Islam (syariat Islam) telah menunjukkan kemampuannya yang luar biasa.
Kemampuannya bertahan hidup dalam rentang waktu yang demikian panjang (lebih 12 abad),
dengan berbagai macam penyimpangan dan pengkhianatan oleh para penyelenggaranya, telah
menegaskan kapabilitas sistem yang belum ada tandingannya sampai saat ini, dan hingga
akhir jaman. Dengan begitu jawaban atas kebutuhan akan hadirnya pemerintahan yang baik
itu adalah dengan menjadikan Islam sebagai Ideologi dan syariat Islam sebagai aturan
kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatan. Dengan syariat Islam itulah kita membangun
pemerintahan yang bersih dan baik, sekaligus mencetak aparat pemerintahan yang handal. 3)
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Sofian. Membangun Good Governance.


http://sofian.staff.ugm.ac.id/artikel/membangun-good-governance.pdf

Masyarakat Transparansi Indonesia. Kajian RUU Tentang Penyelenggara Negara Yang


Bersih dan Bebas Dari Korupsi Kolusi daan Nepotisme. www.googlesearch.com

Mustopadidjaja AR. 2001. Reformasi Birokrasi, Perwujudan Good Governance dan


Pembangunan Masyarakat Madani. www.googlesearch.com

Safitri, Indra. Hukum dan Pemerintahan yang Bersih (Law and Clean Government).
www.googlesearch.com

Supriyanto. 2004. Syariat Islam dalam Mewujudkan Clean Governance dan Good
Government . www.jurnal-ekonomi.org