Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Thalassemia adalah kelainan bawaan dari sintesis hemoglobin. Presentasi klinisnya
bervariasi dari asimtomatik sampai berat hingga mengancam jiwa. Dahulu dinamakan sebagai
Mediterannian anemia, diusulkan oleh Whipple, namun kurang tepat karena sebenarnya kondisi
ini dapat ditemukan di mana saja di seluruh dunia..
Thalassemia juga merupakan sindroma kelainan dara herediter yang paling sering terjadi
didunia, sangat umum dijumpai pada daerah endemis malaria. Heterogenitas molecular penyakit
tersebut baik carrier thalassemia-a maupun carrier thalassemia –β sangat bervariasi dan berkaitan
erat dengan pengelompokan populasi sehingga dapat dijadikan petanda genetic populasi tertentu.
Penyebab anemia yang terdapat pada penderita thalassemia bersifat primer dan sekunder.
Penyakit thalassemia ini tersebar luas didaerah Mediterania, Timur Tengah, India sampai
Asia Tenggara termasuk Indonesia, daerah ini dikenal sebagai kawasan thalassemia dikarenakan
letak geografis dan iklim yang tropis. Secara umum thalassemia terdiri dari thalassemia mayor,
minor, intermedia. Gejala yang ditimbulkan pada thalassemia bervariasi terutama infeksi dan
gagal jantung merupakan penyumbang kematian paling besar bagi penderita thalassemia,
sehingga membutuhkan penaganan dan diagnosa yang tepat salah satunya dengan dilakukan
skrining premarital dengan menggunakan pedigree. Atau bisa juga dilakukan pemeriksaan
terhadap setiap wanita hamil berdasar ras, melalui ukuran eritrosit, kadar Hb A2 (meningkat pada
thalassemia-β). Bila kadarnya normal, pasien dikirim ke pusat yang bisa menganalisis rantai α.

BAB II
PEMBAHASAN
1. DEFINISI
Thalassemia adalah sekelompok heterogen anemia hipokromik herediter dengan berbagai
derajat keparahan. Defek genetik yang mendasari meliputi delesi total atau parsial gen globin dan
1

substitusi, delesi, atau insersi nukleotida. Akibat dari berbagai perubahan ini adalah penurunan
atau tidak adanya mRNA bagi satu atau lebih rantai globin atau pembentukan mRNA yang cacat
secara fungsional. Akibatnya adalah penurunan dan supresi total sintesis rantai polipeptida Hb.
Kira-kira 100 mutasi yang berbeda telah ditemukan mengakibatkan fenotip thalassemia; banyak
di antara mutasi ini adalah unik untuk daerah geografi setempat. Pada umumnya, rantai globin
yang disintesis dalam eritrosit thalassemia secara struktural adalah normal. Pada bentuk
thalassemia-α yang berat, terbentuk hemoglobin hemotetramer abnormal (β 4 atau γ4) tetapi
komponen polipeptida globin mempunyai struktur normal. Sebaliknya, sejumlah Hb abnormal
juga menyebabkan perubahan hemotologi mirip thalassemia.
2. EPIDEMIOLOGI
Di seluruh dunia, 15 juta orang memiliki presentasi klinis dari thalassemia. Fakta ini
mendukung thalassemia sebagai salah satu penyakit turunan yang terbanyak; menyerang hampir
semua golongan etnik dan terdapat pada hampir seluruh negara di dunia. (2) Beberapa tipe
thalassemia lebih umum terdapat pada area tertentu di dunia. Talasemia o ditemukan terutama di
Asia Tenggara dan kepulauan Mediterania, talasemia + tersebar di Afrika, Mediterania, Timor
Tengah, India dan Asia Tenggara. Angka kariernya mencapai 40-80%. Thalassemia  memiliki
distribusi sama dengan thalassemia  Dengan kekecualian di beberapa negara, frekuensinya
rendah di Afrika, tinggi di mediterania dan bervariasi di Timor Tengah, India dan Asia Tenggara.
HbE yang merupakan varian thalassemia sangat banyak dijumpai di India, Birma dan beberapa
negara Asia Tenggara. Adanya interaksi HbE dan thalassemia   menyebabkan thalassemia HbE
sangat tinggi di wilayah ini.
Yayasan Thalassemia Indonesia menyebutkan bahwa setidaknya 100.000 anak lahir di
dunia dengan Thalassemia mayor. Di Indonesia sendiri, tidak kurang dari 1.000 anak kecil
menderita penyakit ini. Sedang mereka yang tergolong thalassemia trait jumlahnya mencapai
sekitar 200.000 orang. Di RSCM sampai dengan akhir tahun 2003 terdapat 1060 pasien
thalassemia mayor yang berobat jalan di Pusat Thalassemia Departemen Anak FKUI-RSCM
yang terdiri dari 52,5 % pasien thalassemia β homozigot, 46,2 % pasien thalassemia HbE, serta
thalassemia α 1,3%. Sekitar 70-80 pasien baru, datang tiap tahunnya. (4)

2

Gambar 1. Daerah Penyebaran Thalassemia/Sabuk Thalassemia.(2)

Mortalitas dan Morbiditas(2)
Thalassemia-α mayor adalah penyakit yang mematikan, dan semua janin yang terkena
akan lahir dalam keadaan hydrops fetalis akibat anemia berat. Beberapa laporan pernah
mendeskripsikan adanya neonatus dengan thalassemia-α mayor yang bertahan setelah mendapat
transfusi intrauterin. Penderita seperti ini membutuhkan perawatan medis yang ekstensif
setelahnya, termasuk transfusi darah teratur dan terapi khelasi, sama dengan penderita
thalassemia-β mayor. Terdapat juga laporan kasus yang lebih jarang mengenai neonatus dengan
thalassemia-α mayor yang lahir tanpa hydrops fetalis yang bertahan tanpa transfusi intrauterin.
Pada kasus ini, tingginya level Hb Portland, yang merupakan Hb fungsional embrionik,
diperkirakan sebagai penyebab kondisi klinis yang jarang tersebut.
Pada pasien dengan berbagai tipe thalassemia-β, mortalitas dan morbiditas bervariasi
sesuai tingkat keparahan dan kualitas perawatan. Thalassemia-β mayor yang berat akan berakibat
fatal bila tidak diterapi. Gagal jantung akibat anemia berat atau iron overload adalah penyebab
tersering kematian pada penderita. Penyakit hati, infeksi fulminan, atau komplikasi lainnya yang
dicetuskan oleh penyakit ini atau terapinya termasuk merupakan penyebab mortalitas dan
morbiditas pada bentuk thalassemia yang berat.
Mortalitas dan morbiditas tidak terbatas hanya pada penderita yang tidak diterapi; mereka
yang mendapat terapi yang dirancang dengan baik tetap berisiko mengalami bermacam-macam
komplikasi. Kerusakan organ akibat iron overload, infeksi berat yang kronis yang dicetuskan
transfusi darah, atau komplikasi dari terapi khelasi, seperti katarak, tuli, atau infeksi, merupakan
komplikasi yang potensial.
Ras (2)
3

sangat mendukung diagnosis. α thalassemia trait di Afrika is biasanya bukan dari cis-delesi dari kromosom 16. hydops fetalis tidak beresiko tinggi oada rang Afrika tetapi beresiko tinggi pada Asia Tenggara. Timur Tengah. meskipun juga ditemukan di bagian dunia yang lain. India. Dalam talasemia. 4 . usia saat timbulnya gejala bervariasi secara signifikan. produksi rantai globin γ dan penggabungannya ke Hb Fetal dapat menutupi gejala untuk sementara. berbeda dengan di Asia Tenggara.keduanya memiliki kemungkinan yang sama Usia (2) Meskipun thalassemia merupakan penyakit turunan (genetik). pada thalassemia-β berat. Mutasi spesifik pada thalassemia sudah dapat discrenning dan didiagnostik kelainannya. dimana terjadi komplit absence dari α gene pada salah satu chromosome. β thalassemia biasa ditemukan di Eropa Selatan. Karena alasan ini. digambarkan di bawah ini. α thalassemia biasa ditemukan di Asia Tenggara. Ditemukannya hipokromia dan mikrositosis yang tidak jelas penyebabnya pada neonatus. sampai waktu itu. Sapuan apus darah tepi Penyakit Hb H pada neonatus Namun. Pada kedua orang tua yang memiliki cis-delesi.Meskipun thalassemia ditemukan pada semua ras dan etnik grup. ada beberapa tipe thalassemia yang sering ditemukan pada grup tertentu dibanding dengan yang lain. dan Africa. bayinya bias saja mengalami hydrps fetalis. gejala mungkin tidak jelas sampai paruh kedua tahun pertama kehidupan. kelainan klinis pada pasien dengan kasus-kasus yang parah dan temuan hematologik pada pembawa (carrier) tampak jelas pada saat lahir. Sex (2) Baik pria maupun wanita. Gambar 2.

trombosit dan eritrosit. Colony forming unit (CFU) sebagai pelopor yang selanjutnya berkembang dan berdiferensiasi dalam memproduksi sel.Hematopoitik membutuhkan perangsang untuk pertumbuhan koloni granulosit dan makrofag yang disebut "Colony Stimulating Factor" (CSF) yang merupakan glikoprotein. 3. Sistem hematopoitik mempunyai karakteristik berupa pergantian sel yang konstan untuk mempertahankan populasi leukosit. 3. mieloid serta megakariosit. Situasi ini biasanya terjadi jika pasien mengalami mutasi yang lebih ringan. Sel Stem merupakan satu sel induk (klonal) yang mempunyai kemampuan berdiferensiasi menjadi beberapa turunan. mikrositosis. Dalam proses selanjutnya diketahui regulasi hematopoisis sangat kompleks dan factor pertumbuhan yang berfungsi tumpang tindih serta banyak tempat untuk memproduksi factorfaktor tersebut. Hal ini kemudian dikembangkan oleh Downey (1938) yang membuat hipotesa dengan konsep hirarki dari sel pluripoten dan selanjutnya Till dan Mc Culloch (1961) menyimpulkan bahwa satu sel induk merupakan koloni yang memperlihatkan diferensiasi multilineage atau pluripoten menjadi eritroid. Banyak pasien dengan kondisi thalassemia-β homozigot yang jelas (yaitu. (3) 5 . membelah diri dan memperbaharui populasi sel stem sendiri di bawah pengaruh faktor pertumbuhan hematopoitik. atau gabungan dengan heterozygote yang lain. 2. Faktor regulator yang mengatur agar Sistem berlangsung beraturan. FISIOLOGI HEMATOPOESIS Maximow (1924) mengemukakan suatu dalil bahwa sel darah berasal dari satu sel induk.Bentuk thalassemia ringan sering ditemukan secara kebetulan pada berbagai usia. yaitu: 1. Hampir semua pasien dengan kondisi tersebut dikategorikan sebagai thalassemia-β intermedia. elektroforesis negatif untuk Hb A.(3) Sistem hematopoitik dibagi menjadi 3. Dari penelitian-penelitian tersebut ditetapkan bahwa sel stem ada pada hematopoisis. yaitu gabungan heterozygote for B+ dan B -0 thalssemia. termasuk organ hematopoitik. hipokromasia. bukti bahwa kedua orang tua terpengaruh) mungkin tidak menunjukkan gejala atau anemia yang signifikan selama beberapa tahun. Sel Stem (progenitor awal) yang menyokong hematopoiesis.

leukemia IL-3 monosit Granulosit.Dikenal sejumlah sitokin yang mempunyai peranan dalam meningkatkan aktifitas hematopoitik (Tabel 1. BFU-E Ginjal.sel stem. T Sel T 5q31 IL-5 Sel B. Makrofag 7q11-22 CFU-GEMM. hepatosit epitel IL-7 Sel B Leukosit 8q-12-13 IL-8 Sel T. leukosit. 5q33-1 monosit. BFU-E. 7p15 sel sel sel saraf. neutrofil Leukosit 4 IL-9 BFU-E. T. CFU-GEMM Limfosit 5q31 IL=11 Sel B. 17q11-22 endotelial.1 Faktor pertumbuhan hematopoiesis serta karakterisitiknya) Faktor Sel Stimulasi CS1 (M-CSF) Monosit Sumber Lokasi Produksi Kromosom Sel endotel. GM. blas plasenta. fibroblast GM-CSF Granulosit. CFU-GEMM. hepar 7q11-22 c-kit Progenitor primitif NI NI figand 6 . Makrofag Eritropoietin CFU-E. CFU Fibroblas. CFU-Eo Sel T 5q31 IL-6 Sel B. fibroblast Granulosit. fibroblas. leukemik G-CSF T. sel Sel endotel. makrofag. sel progenitor. makrofag. sel 5q23-31 blas endotel. megakariosit Sel eritrosit. eritroid Sel T 5q23-31 multipoten. blas leukemia IL-4 Sel B.

erythrocyte. Secara garis besar perkembangan hematopoisis dibagi dalam 3 periode: 1."stem cell factor" GM-CSF = granulocyte macrophage colony stimulating factor. CFU-GEMM= colony forming unit granulocyte. Hematopoisis medular 7 . macrophage monocyte. Hematopoisis yolk sac (mesoblastik atau primitif ) 2. G-CSF= granulocyte colony stimulating factor. CFU-GM= colony forming unit netrophil-macrophage(3) Pembentukan dan asal darah (3) Perkembangan sistem vaskuler dan hematopoisis dimulai pada awal kehidupan embrio dan berlangsung secara paralel / bersamaan sampai masa dewasa mempunyai hubungan dengan lokasi anatomi yang menyokong hematopoisis tersebut. Hematopoisis hati (definitif ) 3. BFU-E=burst forming unit erithrocyte. IL=interleukin. CFU -E= colony forming unit erythrocyte.

Sel induk primitif hematopoisis berasal dari mesoderm mempunyai respons terhadap faktor pertumbuhan antara lain eritropoetin. thymus. Pada masa pertengahan kehamilan. Mula-mula terbentuk dalam blood island yang merupakan pelopor dari sistem vaskuler dan hematopoisis.Gambar 3. Perubahan empat hematopoisis dari yolk sac ke hati dan kemudian sumsum tulang mempunyai hubungan dengan regulasi perkembangan oleh lingkungan mikro. tampak pelopor hematopoetik terdapat di limpa.1985) Hematopoisis Yolk Sac (mesoblastik atau primitif) Sel darah dibuat dari jaringan mesenkim 2-3 minggu selelah fertilisasi. hematopoisis sudah terbentuk dalam hati. IL-3. kelenjar limfe dan ginjal. IL-6 dan faktor sel stem. Hematopoisis hati mencapai puncaknya pada masa gestasi 45 bulan kemudian mengalami regresi perlahan-lahan. Hematopoiesis prenatal dan postnatal (dikutip dari Hasan R. Sel induk hematopoisis mulai berkelompok dalam hati janin pada masa gestasi 5-6 minggu dan pada masa gestasi 8 minggu blood island mengalami regresi. (3) Hematopoisis hati (Definitif) Hematopoisis hati berasal dari sel stem pluripoten yang berpindah dari yolk sac. Selanjutnya eritrosit dan megakariosit dapat diidentifikasi dalam yolk sac pada masa gestasi 16 hari. Hematopoisis dalam hati yang terutama adalah eritropoisis. walaupun masih ditemukan sirkulasi granulosit dan trombosit. (3) 8 . Pada masa gestasi 9 minggu. produksi sitokin dan komponen merangsang adhesi dari matrik ekstraseluler dan ekspresi pada reseptor.

semua rongga sumsum tulang diisi jaringan hematopoitik yang aktif dan sumsum tulang penuh berisi sel darah.Gambar 4. skull (tulang tengkorak kepala) dan jarang yang berlokasi pada humerus dan femur. tulang iga. (3) Sel mesenkim yang mempunyai kemampuan untuk membentuk sel darah menjadi kurang. talasemia. hati. Pada bayi dan anak. Secara umum hematopoisis ekstra medular terutama pada organ perut. nickel cell anemia. anemia pernisiosa. tulang dada (sternum). terjadi akibat penyakit yang menyebabkan gangguan produksi satu atau lebih tipe sel darah. 1985) Hematopoisis medular Merupakan periode terakhir pembentukan sistem hematopoisis dan dimulai sejak masa gestasi ulan. limpa. Ruang medular terbentuk dalam tulang rawan dan tulang panjang dengan proses reabsorpsi. pelvis. (3) 9 . sedangkan hepar tidak berfungsi membuat sel darah lagi. seperti eritroblastosis fetalis. hematopoisis terdapat pada tulang (skeletal) dan ekstraskeletal dan pada waktu lahir hematopoisis terutama pada skeletal. Perpindahan lokasi anatomi hematopoisis disertai perpindahan populasi sel sampai ini belum dapat diketahui mekanismenya. dikenal sebagai sistem retikuloendotelial. Perkembangan embrional dan fetal serta ontogeni hematopoesis ( dikutip dari Hasan. sferositosis herediter dan variasi leukemia. skapula. tetapi tetap ada dalam sumsum tulang. hematopoisis yang aktif terutama pada sumsum tulang termasuk bagian distal tulang panjang. Hal ini berbeda dengan dewasa normal di mana hematopoisis terbatas pada vertebra (tulang belakang). Selama masa intra uterin. kelenjar getah bening dan dinding sus. Pada masa gestasi 32 minggu sampai lahir. Dalam perkembangan selanjutnya fungsi pembuatan sel darah diambil alih oleh sumsum tulang.

anak dan dewasa sel darah merah mempunyai 6 hemoglobin antara lain: Hemoglobin embrional : Gower-1. yang akan membentuk Hb-Portland (Z2γ2) dan Gower-2 (α22) Hemoglobin yang ditemukan terutama pada masa gestasi 4-8 minggu adalah Hb-Gower-1 dan Gower-2 yaitu kira-kira 75% dan merupakan hemoglobin yang disintesis di yolk sac. Selanjutnya mulai sintesis rantai α mengganti rantai zeta. limpa. Pembentukan sel darah Hemoglobin(4) Merupakan kompleks protein yang terdiri dari heme yang mengandung besi dan globin dengan interaksi dianatar heme dan globin menyebabkan hemoglobin (Hb) merupakan perangkat yang ireversibel untuk mengangkut oksigen. Gower-2. Portland Hemoglobin fetal : Hb-F Hemoglobin dewasa : Hb-A1 dan Hb-A2 Hemoglobin embrional(4) Selama masa gestasi 2 minggu pertama. Hemoglobin fetal(4) 10 . Sejak masa embrio. rantai γ mengganti rantai  di yolk sac. Sesuai dengan rangkaian hematopoisis yang dimulai dari yolk sac.Gambar 5. tetapi akan menghilang pada masa gestasi 3 bulan. eritroblas priomitif dalam yolk sac membentuk rantai globin-epsilon () dan zeta (Z) yang akan membentuk hemoglobin primitive Gower-1 (Z22). hati dan sumsum tulang diikuti juga dengan variasi sintesis hemoglobin. janin.

Perubahan hemoglobin janin ke dewasa merupakan proses biologi berupa diferensiasi sel induk eritroid. Globulin terdiri atas 2 pasang rantai polipeptida. Kombinasi rantai polipeptida tersebut akan menentukan jenis 11 . dengan rasio normal antara HbA dan HbA2 adalah 30:1. sel stem pluripoten. diikuti dengan sintesis hemoglobin fetal dan awal sintesis rantai β.masa gestasi 6 bulan ditemukan 5-10% HbA. pada waktu lahir mencapai 30% dan pada usia 6-12 bulan sudah memperlihatkan gambaran hemoglobin dewasa. kemudian berkurang bertahap dan pada saat lahir ditemukan kira-kira 70% Hb-F. sintesis Hb-F menuurun secara cepat setelah bayi lahir dan setelah usia 6-12 bulan hanya sedikit ditemukan. Satu molekul hemoglobin mengandung 4 sub-unit. fetal dan pascanatal dalam hubungannya dengan perubahan tempat eritropoisis. 4.δ). yaitu sepasang rantai α dan sepasang rantai non alpha (β. Setelah masa gestasi 8 minggu Hb-F paling dominan dan setelah janin berusai 6 bulan merupakan 90% dari keseluruhan hemoglobin. gen dan reseptor yang mempengaruhi eritroid dan dikontrol oleh factor humoral. Hemoglobin dewasa minor (HbA2) ditemukan kira-kira 1% pada saat lahir dan pada usia 12 bulan mencapai 2-3. Gambar 6. Sintesis rantai globin primitive dan definitive selama periode embrional.4%.Migrasi pluripoten stem cell dari yolk sac ke hati. Hemoglobin dewasa(4) Pada masa embrio telah dapat dideteksi HbA (α2β2) karena telah terjadi perubahan sintesis rantai γ menjadi β dan selanjutnya globin β meningkat pada .γ. Masing-masing sub-unit tersusun atas satu molekul globin dan satu molekul heme. PATOFISIOLOGI Hemoglobin (Hb) tersusun atas heme yang merupakan cincin porfirin dalam ikatan dengan Fe dan globulin yang merupakan protein pendukung.

Thalassemia akan terjadi bila sintesis salah satu rantai polipeptida menurun. Hb A (2α2β) merupakan lebih dari 96 % Hb total. Hemoglobin memiliki struktur kuartener empat rantai polipeptida. Hemoglobin yang merupakan suatu protein. sedangkan gen yang mensintesis rantai β. Pada orang normal sintesis rantai α sama dengan rantai non alpha. masing-masing dengan satu tempat pegikatan oksigen. sedangkan rantai non α tersusun atas 146 asam amino.hemoglobin. Hb F (2α2γ) kurang dari 2% dan Hb A2 (2α2δ) kurang dari 3%. Sintesis rantai α disandi oleh gen α1 dan gen α2 di kromosom 16. 12 . rantai γ dan rantai δ terletak di kromosom 11. Struktur kimia hemoglobin memungkinkan molekul hemoglobin memiliki kemampuan untuk mengikat oksigen secara reversible. Zat besi dalam molekul heme secara langsung berfungsi sebagai pengikat oksigen. Sehingga satu molekul hemoglobin dapat mengikat 4 molekul oksigen. Gambar 7. Pada janin trisemester III kehamilan hampir 100% Hb adalah Hb F. sintesis globin γ makin menurun digantikan oleh globin δ. Setelah lahir. Struktur hemoglobin Rantai polipeptida α tersusun atas 141 asam amino.

sehingga terjadi ketidak seimbangan jumlah rantai globin yang terbentuk. Talasemia merupakan salah satu bentuk kelainan genetik hemoglobin yang ditandai dengan kurangnya atau tidak adanya sintesis satu rantai globin atau lebih. sedangkan β dan δ hanya memilki satu lokus gen.disintesis berdasarkan informasi genetik. Sintesis rantai γ bersama dengan sintesi rantai menonjol selama masa kehidupan janin. gangguan pembentukan protein globin dapat disebabkan karena kerusakan gen yang terdapat pada kromosom 11 atau 16 yang ditempati lokus gen globin. Masing-masing polipeptida penyusun Hb berbeda dalam urutan asam aminonya. Lokus gen untuk α terletak pada kromosom 16 sedangkan lainnya (β.δ) terletak pada kromosom 11.γ. Secara genetik. Dengan demikian ada beberapa lokus gen terpisah dalam kromosom yang mengatur sintesis rantai polipeptida dari hemoglobin. Rantai α akan terus disintesis sampai usia dewasa sedangkan rantai γ mulai menurun pada trisemester akhir dan dengan cepat menurun setelah kelahiran. 13 . (2) Lokus α β γ δ Genotip α/α β/β γ/γ Polipetida yang terbentuk Hb yang terbentuk α δ/δ β α2β2 γ α2γ2 δ α2δ2 Untuk pembentukan α dan γ sebenarnya terdapat 2 lokus gen untuk masing-masing.

maka sintesis rantai γ menjadi teraktifasi sehingga hemoglobin pasien mengandung proporsi Hb F yang meningkat. Namun sintesis rantai γ ini tidak efektif dan secara kuantitas tidak mencukupi. dan perubahan kode genetic akan diteruskan pada penurunan genetic berikutnya. khususnya kekurangan sintesis rantai β akan menyebabkan kurangnya pembentukan Hb. sedangkan kerusakan pada kedua kromosom homolog menimbulkan keadaan homozigot. sebagai hasil akhir peristiwa tadi akan terjjadi apa yang disebut duplikasi. Pada thalassemia homozigot sintesis rantai menurun atau tidak ada sintesis sama sekali. Mereka 14 . maka orang tersebut hanya menjadi pembawa tetapi tidak menunjukkan gejala-gejala dari penyakit ini. sintesis rantai α tidak mengalami perubahan. sintesis β globin dapat mencapai nol.delesi. Bila terjadi crossing over pada kesalahan berpasangan itu. Ketidakseimbangan dalam rantai protein globin alfa dan beta. Pada thalasemia β homozigot. sintesis β globin kurang lebih separuh dari nilai normalnya. (2) Secara biokimia kelainan yang paling mendasar adalah menurunnya biosintesis dari unit  globin pada Hb A. sintesis Hb A total menurun dengan sangat jelas atau bahkan tidak ada. disebabkan oleh sebuah gen cacat yang diturunkan. Mutasi ini dapat memperpendek rantai asam amino maupun memperpanjangnya. Karena adanya defisiensi yang berat pada rantai β. Jika hanya 1 gen yang diturunkan. Kelainan mutasi dapat pula terjadi pada keselahan berpasangan kromosom pada proses meiosis yang mengakibatkan perubahan susunan material genetic. pada thalasemia β heterozigot. Ketidakseimbangan sintesis rantai alpha atau rantai non alpha. (7) Pada thalasemia β homozigot. Sebagai respon kompensasi. Rantai α bebas ini mudah teroksidasi.Sebagian besar kelainan hemoglobin dan jenis thalassemia merupakan hasil kelaianan mutasi pada gamet yang terjadi pada replikasi DNA. Untuk menderita penyakit ini. seseorang harus memiliki 2 gen dari kedua orang tuanya. Ketidakseimbangan sintesis dari rantai polipeptida ini mengakibatkan kelebihan adanya rantai α bebas di dalam sel darah merah yang berinti dan retikulosit. translokasi dan iversi. Pada replikasi DNA dapat terjadi pergantian urutan asam basa dalam DNA. Kerusakan pada salah satu kromosom homolog menimbulkan terjadinya keadaan heterozigot. sehingga pasien dengan thalasemia β homozigot mengalami anemia berat. yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin.

dan kematian di usia muda tanpa adanya terapi transfusi. mengalihkan sumber-sumber biokimia yang vital dari tempattempat yang membutuhkannya dan menempatkan suatu stress yang sangat besar pada jantung. menyebabkan kerusakan membran pada sel darah merah dan destruksi dari sel darah merah imatur dalam sumsum tulang sehingga jumlah sel darah merah matur yang diproduksi menjadi berkurang. kegagalan jantung high output. dan sumsum tulang. kerentanan terhadap infeksi. dan terjadi peningkatan jumlah hormon hepcidin. hal ini tidak terjadi pada penderita thalassemia-β berat karena diduga faktor plasma menggantikan mekanisme tersebut dan mencegah terjadinya 15 . (8) Dengan pemberian transfusi darah. Hasilnya adalah suatu ekspansi sumsum tulang yang masif yang memproduksi sel darah merah baru. deformitas dari tulang. Hal yang telah disebutkan diatas adalah gambaran dari Anemia Cooley: hipokromik. Sumsum tulang mengalami ekspansi secara masif. sehingga penyerapan besi akan berkurang dan makrofag akan mempertahankan kadar besi. mikrosisitk dan poikilositik. menghabiskan sumber kalori yang sangat besar pada umur-umur yang kritis pada pertumbuhan dan perkembangan.dapat beragregasi menjadi suatu inklusi protein (haeinz bodys). Sel darah merah yang beredar kecil. menggambarkan komponen hemolitik dari penyakit ini. hepar. Namun. absorpsi besi menurun akibat meningkatnya jumlah hepsidin. Secara klinis terlihat sebagai kegalan dari pertumbuhan dan perkembangan. Pada pasien dengan iron overload (misalnya hemokromatosis). fraktur patologis. dan mengandung komplemen hemoglobin yang menurun. Eritropoetin meningkat sebagai respon adanya anemia. eritropoesis yang inefektif dapat diperbaiki. menginvasi bagian kortikal dari tulang. terdistorsi. Namun mekanisme kompensasi ini tidak efektif karena adanya kematian yang prematur dari eritroblas. Sel darah merah yang mengandung jumlah Hb F yang lebih tinggi mempunyai umur yang lebih panjang. Sel darah merah yang sudah rusak tersebut akan dihancurkan oleh limpa. dipenuhi oleh inklusi α globin. Anemia yang berat terjadi akibat adanya penurunan oksigen carrying capacity dari setiap eritrosit dan tendensi dari sel darah merah matur (yang jumlahnya sedikit) mengalami hemolisa secara prematur. sehingga sumsum-sumsum tulang dipacu untuk memproduksi eritroid prekusor yang lebih banyak.

Besi ini cukup berbahaya karena memiliki material untuk memproduksi hidroksil radikal dan akhirnya akan terakumulasi pada organ-organ. transferrin tersaturasi. Sebagaimana telah disebutkan di atas. seperti pada thalassemia berat. secara garis besar terdapat dua tipe utama thalassemia yaitu α thalassemia dan β thalassemia. Ferroportin diregulasi oleh jumlah penyimpanan besi dan jumlah hepsidin. Selain itu juga terdapat tipe thalassemia lain seperti thalassemia intermediate. penderita thalassemia-β intermedia yang tidak mendapatkan transfusi darah memiliki jumlah ferritin yang lebih rendah dibandngkan dengan penderita yang mendapatkan transfusi darah secara teratur. meskipun keduanya memiliki jumlah besi yang sama. transferrin. dan hati.penyakit Hb H Anemia hemolitik 16 . kelenjar endokrin. KLASIFIKASI Talasemia adalah grup kelainan sintesis hemoglobin yang heterogen akibat pengurangan produksi satu atau lebih rantai globin. (2) 5. dan besi bebas ditemukan di plasma. Pada keadaan iron overload.produksi hepsidin sehingga absorpsi besi terus berlangsung meskipun penderita dalam keadaan iron overload. Hubungan ini juga menjelaskan mengapa penderita dengan thalassemia-β yang memiliki jumlah besi yang sama memiliki jumlah ferritin yang berbeda sesuai dengan apakah mereka mendapat transfusi darah teratur atau tidak. Sebagai contoh. seperti jantung. Efek hepsidin terhadap siklus besi dilakukan melalui kerja hormon lain bernama ferroportin. Kebanyakan besi non-heme pada individu yang sehat berikatan kuat dengan protein pembawanya. Abnormalitas genetic Sindroma klinik Thalassemia α Penghapusan 4 gen.hydrops fetalis Kematian in utero Penghapusan 3 gen. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan produksi rantai globin. yang mentransportasikan besi dari enterosit dan makrofag menuju plasma dan menghantarkan besi dari plasenta menuju fetus. mengakibatkan terjadinya kerusakan pada organorgan tersebut (organ damage).

Delesi gen globin-α menyebabkan sebagian besar kelainan ini.(2) Thalassemia-α(7) Anemia mikrositik yang disebabkan oleh defisiensi sintesis globin-α banyak ditemukan di Afrika.trait thalassemia Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya dengan atau tanpa anemia Thalassemia intermediate Sindroma klinik yang disebabkan oleh Anemia hipokrom mikrositik. Heterozigot biasanya tanpa gejala homozigot atau gabungan heterozigot gejalanya lebih berat dari talasemia  atau . negara di daerah Mediterania. Thalassemia-α Genotip Jumlah gen α αα/αα 4 Presentasi Klinis Hemoglobin Elektroforesis Saat Lahir > 6 bulan Normal N N 17 . Talasemia diturunkan berdasarkan hukum Mendel. Tabel 1. dan empat bentuk thalassemia-α yang berbeda telah diketahui sesuai dengan delesi satu. hepatosejenis lesi genetik splenomegali. resesif atau ko-dominan. Terdapat empat gen globin-α pada individu normal. dua. dan sebagian besar Asia. dan semua empat gen ini.Penghapusan 2 gen ( trait thalasemia α° ) Penghapusan 1 gen ( trait thalasemia α+ ) Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya tanpa anemia Thalassemia β Homozigot – thalassemia mayor Anemia berat perlu transfusi darah Heterzigot. kelebihan beban besi. tiga.

Pada tipe silent carrier. diagnosis tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan elektroforesis Hb. sehingga harus dilakukan tes lain yang lebih canggih. Hb Bart’s = γ4. Lewat umur satu bulan. HbH = β4 N N Hb H - a. seringnya pada etnik Afro-Amerika. Pada bayi baru lahir yang terkena. Penderita sehat secara hematologis. biasanya ditemukan secara kebetulan diantara populasi. dan Timur Tengah. - subbenua India. Kelainan ini sering ditemukan di Asia Tenggara. Bisa juga dicari akan adanya kelainan hematologi pada anggota keluarga (misalnya orangtua) untuk mendukung diagnosis. Seperti telah dijelaskan - sebelumnya. Trait thalassemia-α . Hb Barts tidak terlihat lagi. Pemeriksaan darah lengkap pada salah satu orangtua yang menunjukkan adanya hipokromia dan mikrositosis tanpa penyebab yang jelas merupakan bukti yang cukup kuat menuju diagnosis thalasemia. (7) b. dan kadar Hb A 2 dan HbF secara khas normal.Trait ini dikarakterisasi dengan anemia ringan dan jumlah sel darah merah yang rendah. menyisakan hanya 3 dari 4 gen tersebut. Pada tipe ini.-α/αα 3 --/αα atau 2 Silent carrier Trait thal-α 0-3 % Hb Barts 2-10% Hb Barts –α/-α --/-α 1 Penyakit Hb H 15-30% Hb Bart --/-0 Hydrops fetalis >75% Hb Bart Ket : N = hasil normal. sejumlah kecil Hb Barts (γ 4) dapat ditemukan pada elektroforesis Hb. Silent carrier thalassemia-α . hanya ditemukan adanya - jumlah eritrosit (sel darah merah) yang rendah dalam beberapa pemeriksaan. Kondisi ini disebabkan oleh hilangnya 2 gen α pada satu kromosom 16 atau satu gen α pada masing-masing kromosom.Merupakan tipe thalassemia subklinik yang paling umum. salah satu gen α pada kromosom 16 menghilang. Hb = hemoglobin. (7) 18 . terdapat 2 gen α yang terletak pada kromosom 16.

splenomegali. Pada sediaan apus darah tepi yang diwarnai dengan pewarnaan supravital akan tampak sel-sel darah merah yang diinklusi oleh rantai tetramer β (Hb H) yang tidak stabil dan terpresipitasi di dalam eritrosit. Thalassemia alpha menurut hukum Mendel (6) c. ikterus. merepresentasikan thalassemia-α intermedia. Thalassemia-α mayor 19 . Penyakit Hb H Kelainan disebabkan oleh hilangnya 3 gen globin α. Badan inklusi ini dinamakan sebagai Heinz bodies.Gambar 7. Pewarnaan supravital pada sapuan apus darah tepi Penyakit Hb H yang menunjukkan Heinz-Bodies d. (7) Gambar 8. dengan anemia sedang sampai berat. sehingga menampilkan gambaran golf ball. dan jumlah sel darah merah yang abnormal.

4%-7%). atau keduanya. Hb F. Bayi ini sangat hidropik. disebabkan oleh delesi semua gen globin-α. sekitar 2-6%. yang mewakili thalassemia tipe δβ. Hb A. yang benar-benar khas. Trait thalassemia-β+ heterozigot (Thalassemia minor) - Penderita mengalami anemia ringan. dikenal beberapa bentuk klinis dari thalassemia-β. (8) 20 . maka bayi-bayi itu mengalami hipoksia berat.- Bentuk thalassemia yang paling berat. Lebih dari 90% individu dengan trait thalassemia-β mempunyai peningkatan Hb-A2 yang berarti (3. Eritrositnya juga mengandung sejumlah kecil Hb embrional normal (Hb Portland = ζ 2γ2). dan Hb A2 semuanya mengandung rantai α. yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. dan elektroforesis Hb - abnormal dimana didapatkan peningkatan jumlah Hb A2. dijumpai Hb A2 normal dengan kadar HbF berkisar dari 5% sampai 15%. Yang dapat hidup dengan manajemen neonatus agresif juga nantinya akan sangat bergantung dengan transfusi. disertai dengan tidak ada sintesis rantai α sama sekali. dan karena γ4 memiliki afinitas oksigen yang tinggi. Individu dengan ciri (trait) thalassemia sering didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi besi dan mungkin diberi terapi yang tidak tepat dengan preparat besi selama waktu yang panjang. antara lain : a. Pada sekelompok kecil kasus. Kira-kira 50% individu ini juga mempunyai sedikit kenaikan HbF. dengan gagal jantung kongestif dan edema anasarka berat. nilai eritrosit abnormal. dan kebanyakan dari bayi yang lahir hidup meninggal dalam waktu beberapa jam. - Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati. Hb Barts (γ4) mendominasi pada bayi yang menderita. maka tidak satupun dari Hb ini terbentuk. - Karena Hb F. (7) Thalassemia-β (8) Sama dengan thalassemia-α.

80% penderita meninggal pada 5 tahun pertama kehidupan.Gambar 9. terjadi hipertrofi jaringan eritropoetik disumsum tulang maupun di luar sumsum tulang. Tanpa - transfusi. 21 . Transfusi darah yang reguler diperlukan pada penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang disebabkan oleh anemia. Sapuan darah tepi tampak sel target b.Bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6 bulan kedua kehidupan. Thalassemia beta menurut Hukum Mendel Gambar 10. Tulang-tulang menjadi tipis dan fraktur patologis mungkin terjadi. Ekspansi masif sumsum tulang di wajah dan tengkorak menghasilkan bentuk wajah yang khas. Thalassemia-β° homozigot (Anemia Cooley. Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang jarang menerima transfusi pada waktu anemia berat. Thalassemia Mayor) .

Deformitas tulang pada thalassemia beta mayor (Facies Cooley) - Pucat. Limpa dan hati membesar karena hematopoesis ekstrameduler dan hemosiderosis. pubertas terlambat atau tidak terjadi karena kelainan endokrin sekunder. Komplikasi jantung. dan ikterus sama-sama memberi kesan coklat kekuningan. Splenomegali pada thalassemia - Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua. Pada penderita yang lebih tua. limpa mungkin sedemikian besarnya sehingga menimbulkan ketidaknyamanan mekanis dan hipersplenisme sekunder.Gambar 11. hemosiderosis. 22 . termasuk aritmia dan gagal jantung kongestif kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium sering merupakan kejadian terminal. Diabetes mellitus yang disebabkan oleh siderosis pankreas mungkin terjadi. Gambar 12.

lesu. Sejumlah besar eritrosit yang berinti ada di darah tepi. yaitu : 1. Kadar serum besi tinggi dengan saturasi kapasitas pengikat besi (iron binding capacity).letih. Dapat ditemukan pulsasi atrial dan ventrikular abnormal pada EKG dalam 24 jam. Pada ECG ditemukan penebalan dan dilatasi pada dinding ventrikel kiri. yang merupakan presipitasi kelebihan rantai α. juga terlihat pasca splenektomi. GEJALA KLINIS (STADIUM THALASSEMIA) (9) Gejala klinis pada thalassemia hampir semua sama. dari ringan (asimptomatik) sampai parahnya gejala. banyak ditemukan poikilosit yang terfragmentasi. yang membedakan adalah tingkat keparahannya. Gambaran biokimiawi yang nyata adalah adanya kadar HbF yang sangat tinggi dalam eritrosit. pada echokardiogram (ECG) hanya ditemukan sedikit penebalan pada dinding ventrikel kiri. Inklusi intraeritrositik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley. Stadium III Gejala berkisar dari palpitasi hingga gagal jantung kongestif. menurunnya fraksi ejeksi pada ECG. lemah. 3. Penderita biasanya asimtomatik. terutama setelah splenektomi. pasien dibagi menjadi tiga kelompok. pembesarah lien dan atau hepar. sering pula disertai dengan kesulitan makan.- Kelainan morfologi eritrosit pada penderita thalassemia-β° homozigot yang tidak ditransfusi adalah ekstrem. conjungtiva anemis. 2. tidak aktif beraktifitas atau jarang bermain dengan teman seusianya. infeksi berulang dan perubahan tulang. Pada sistem ini. aneh (sel bizarre) dan sel target. Gejala klinis biasa berupa tanda-tanda anemia seperti pucat. gagal tumbuh. dan elektrokardiogram (EKG) dalam 24 jam normal. 23 . Kadar Hb turun secara cepat menjadi < 5 gr/dL kecuali mendapat transfusi. (8) 6. Stadium I Merupakan mereka yang mendapat transfusi kurang dari 100 unit Packed Red Cells (PRC). Stadium II Merupakan mereka yang mendapat transfusi antara 100-400 unit PRC dan memiliki keluhan lemah-lesu. sesak nafas kurang konsentrasi. Disamping hipokromia dan mikrositosis berat. Terdapat suatu sistem pembagian stadium thalassemia berdasarkan jumlah kumulatif transfusi darah yang diberikan pada penderita untuk menentukan tingkat gejala yang melibatkan kardiovaskuler dan untuk memutuskan kapan untuk memulai terapi khelasi pada pasien dengan thalassemia-β mayor atau intermedia. bentuk tulang yang abnormal. Pada EKG dalam 24 jam ditemukan pulsasi prematur dari atrial dan ventrikular..

Namun pada pemeriksaan elektroforesis hemoglobin dapat diketahui 24 . DIAGNOSIS BANDING Thalassemia sering kali didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi Fe. Thalassemia juga didiagnosis banding dengan jenis thalassemia lainnya. Dapat dibedakan dengan thalassemia dengan gambaran apusan darah tepi dimana pada defisiensi G6PD nomositik-normokrom dan pemeriksaan enzim G6PD. dimana enzim ini bekerja untuk mencegah kerusakan eritrosit akibat oksidasi. Apusan darah tepi defisiensi besi Anemia sideroblastik dimana didaptkan pula gambaran apusan darah tepi mikrositik hipokrom dan gejala-gejala anemia. Merupakan salah satu anemia hemolitik juga. dan gambaran eritrosit mikrositik hipokrom. kadar TIBC (Total Iron Binding Capacity) normal atau meningkat sedangkan pada thalassemia kadar besi dan TIBC normal. Dapat juga dibandingkan dengan anemia defisiensi G6PD. karena pada anemia defisiensi Fe didapatkan : (8) - Pucat tanpa organomegali - SI rendah - IBC meningkat - Tidak tedapat besi dalam sumsum tulang - Bereaksi baik dengan pengobatan dengan preparat besi Gambar 13. yang membedakan dengan thalassemia adalah kadar besi dalam darah tinggi.7. hal ini disebabkan oleh karena kemiripan gejala yang ditimbulkan. Namun kedua penyakit ini dapat dibedakan. yang memberi gambaran klinis yang sama.

- Gambaran darah tepi Anemia pada thalassemia mayor mempunyai sifat mikrositik hipokrom.jenis thalassemia α atau thalassemia β. poikilositosis. Gambar 13. Bila terjadi hipersplenisme akan terjadi penurunan dari jumlah trombosit. Dapat ditemukan penurunan jumlah eritrosit. - Hitung retikulosit Hitung retikulosit meningkat antara 2-8 %. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium yang perlu untuk menegakkan diagnosis thalassemia ialah: 1. Pada gambaran sediaan darah tepi akan ditemukan retikulosit. tear drops sel dan target sel. ditemukan pula peningkatan dari sel PMN. (9) 8. Sapuan darah tepi pada thalassemia - Serum Iron & Total Iron Binding Capacity 25 . Pada thalassemia α dengan HbH ditemukan jaundice dan splenomegali. Darah (2) Pemeriksaan darah yang dilakukan pada pasien yang dicurigai menderita thalasemia adalah : - Darah rutin Kadar hemoglobin menurun. peningkatan jumlah lekosit.

Pada anemia defisiensi besi SI akan menurun. Elektroforesis Hb (2) Diagnosis definitif ditegakkan dengan pemeriksaan eleltroforesis hemoglobin. sedangkan TIBC akan meningkat. pada keadaan normal biasanya nilai perbandingannya 10 : 3. obstruksi batu empedu dan cholangitis. dan saudara sekandung jika ada. Pemeriksaan ini untuk melihat jenis hemoglobin dan kadar HbA2. 2. Akibat dari kerusakan ini akan berakibat juga terjadi kelainan dalam faktor pembekuan darah. bila angka tersebut sudah terlampaui maka harus dipikir adanya kemungkinan hepatitis. Petunjuk adanya thalassemia α adalah ditemukannya Hb Barts dan Hb H. 3. Sapuan sumsum tulang May-Giemsa stain.Kedua pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan anemia terjadi karena defisiensi besi. Serum SGOT dan SGPT akan meningkat dan menandakan adanya kerusakan hepar. Pemeriksaan sumsum tulang (2) Pada sumsum tulang akan tampak suatu proses eritropoesis yang sangat aktif sekali. Gambar 14.8. Ratio rata-rata antara myeloid dan eritroid adalah 0. sedangkan dalam keadaan normal kadarnya tidak melebihi 1%. - Tes Fungsi Hepar Kadar unconjugated bilirubin akan meningkat sampai 2-4 mg%. namun juga pada orang tua. x1000 26 . Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan pada penderita thalassemia saja. Pada thalassemia β kadar Hb F bervariasi antara 10-90%.

Gambar 15. HLA typing untuk pasien yang akan di transplantasi sumsum tulang. Bila tidak mendapat tranfusi dijumpai osteopeni. mineralisasi berkurang. EKG dan echocardiography untuk mengetahui dan memonitor keadaan jantungnya. Apabila tranfusi tidak optimal terjadi ekspansi rongga sumsum dan penipisan dari korteknya. 5. KOMPLIKASI - Splenomegali karena penimbunan besi dan eritrosit abnormal. Trabekulasi memberi gambaran mozaik pada tulang.4. 6. Tulang terngkorak memberikan gambaran yang khas. disebut dengan “hair on end” yaitu menyerupai rambut berdiri potongan pendek pada anak besar. Pemeriksaan rontgen (5) Ada hubungan erat antara metabolisme tulang dan eritropoesis. Gmabar rontgen kepala “Hair on end” dan tulang panjang yang terjadi penipisan korteks. resorbsi tulang meningkat. (9) 9. leukosit dan trombosit. pendengaran. Pemeriksaan mata. fungsi ginjal dan test darah rutin untuk memonitor efek terapi deferoxamine (DFO) dan shelating agent. 7. Kadang ditemukan jantung yang kardiomegali akibat anemianya. dan dapat diperbaiki dengan pemberian tranfusi darah secara berkala. 27 .

Diperlukan konseling pada semua penderita dengan kelainan genetik. hepatosplenomegali. - Congestive heart failure dan cardiac aritmia pada transfusi tanpa chelating agent. Transfusi darah harus dimulai pada usia dini ketika anak mulai mengalami gejala dan setelah periode pengamatan awal untuk menilai apakah anak dapat mempertahankan nilai Hb dalam batas normal tanpa transfusi. (10) 10. penipisan cortex tulang dan mudah fraktur.5 gr/dL sepanjang waktu.thalassemia meningkatkan komplikasi pada kehamilan karena toksikemia dan peradarahan post partum. khususnya mereka yang memiliki anggota keluarga yang berisiko untuk terkena penyakit thalassemia berat. - Thrombosis dan septikemia pada splenektomi - Wanita dengan fetus α.- Anak dengan β thalassemia mayor dengan transfuse yang tidak adekuat dapat menyebabkan pertumbuhan kurang dan mudah terinfeksi. 28 . a. sehingga kadar serum besi yang berlebihan. Transfusi Darah (4) - Transfusi darah bertujuan untuk mempertahankan nilai Hb tetap pada level 9-9. TERAPI Penderita trait thalassemia tidak memerlukan terapi ataupun perawatan lanjut setelah diagnosis awal dibuat. - Kerusakan hepar yang disebabkan oleh besi yang berhubungan dengan komplikasi sekunder dari transfuse dan infeksi hepatitis C merupakan penyebab tersering hepatitis pada anak dengan thalassemia. Penderita thalassemia berat membutuhkan terapi medis. Terapi preparat besi sebaiknya tidak diberikan kecuali memang dipastikan terdapat defisiensi besi dan harus segera dihentikan apabila nilai Hb yang potensial pada penderita tersebut telah tercapai. dan regimen transfusi darah merupakan terapi awal untuk memperpanjang masa hidup. - Hemosdierosis akibat pemberian transfuse.

Demam yang tidak jelas penyebabnya. khususnya mereka yang mendapat terapi khelasi dengan Deferoksamin (DFO). Komplikasi Transfusi Darah (4) Komplikasi utama dari transfusi adalah yang berkaitan dengan transmisi bahan infeksius ataupun terjadinya iron overload. - vaksinasi hepatitis B (bila perlu). sebaiknya diterapi dengan Gentamisin dan TrimetoprimSulfametoksazol. dengan adanya imunisasi. pada beberapa pasien. Rute pemberiannya sangat penting untuk mencapai tujuan terapi. yaitu untuk mencapai keseimbangan besi negatif (lebih banyak diekskresi dibanding yang diserap). b. dan pemeriksaan hepatitis. Pemeriksaan tersebut meliputi fenotip sel darah merah. 29 . intramuskular. terapi khelasi dapat menunda onset dari kelainan jantung dan. insidens tersebut sudah jauh berkurang.- Pada pasien yang membutuhkan transfusi darah reguler. 10-15 mL/kg PRC dengan kecepatan 5 mL/kg/jam setiap 3-5 minggu biasanya merupakan regimen yang adekuat untuk - mempertahankan nilai Hb yang diinginkan. Beberapa tahun lalu. 25% pasien yang menerima transfusi terekspose virus hepatitis B. Dosis total yang diberikan adalah 30-40mg/kg/hari diinfuskan selama 8-12 jam saat pasien tidur selama 5 hari/minggu. bahkan tanpa diberikan transfusi. maka dibutuhkan suatu studi lengkap untuk keperluan pretransfusi. Pertimbangkan pemberikan asetaminofen dan difenhidramin sebelum transfusi untuk mencegah demam dan reaksi alergi. atau subkutan). Penderita thalassemia mayor biasanya lebih mudah untuk terkena infeksi dibanding anak normal. Darah yang akan ditransfusikan harus rendah leukosit. Karena DFO tidak diserap di usus. Infeksi oleh organisme opurtunistik dapat menyebabkan demam dan enteriris pada penderita dengan iron overload. Chelating agent yang biasa dipakai adalah DFO yang merupakan kompleks hidroksilamin dengan afinitas tinggi terhadap besi. Virus Hepatitis C (HCV) merupakan penyebab utama hepatitis pada remaja usia di atas 15 tahun dengan thalassemia. Saat ini. Terapi Khelasi (Pengikat Besi) (4) - Apabila diberikan sebagai kombinasi dengan transfusi. maka rute pemberiannya harus - melalui parenteral (intravena. bahkan dapat mencegah kelainan jantung - tersebut.

sedangkan pada penderita yang tidak memiliki ketiganya adalah 90%. Prognosis yang buruk pasca TSSH berhubungan dengan adanya hepatomegali. Splenektomi dapat bermanfaat pada pasien yang membutuhkan lebih dari 200-250 mL / kg PRC per tahun untuk mempertahankan tingkat Hb 10 gr / dL karena dapat menurunkan kebutuhan sel darah merah sampai 30%. Prognosis bagi penderita yang memiliki ketiga karakteristik ini adalah 59%. Limpa diketahui mengandung sejumlah besar besi nontoksik (yaitu. termasuk fertilitas. individu tertentu perlu terus mendapat terapi khelasi untuk menghilangkan zat besi yang berlebihan. Pengangkatan limpa yang terlalu dini dapat membahayakan. Kemungkinan kanker setelah TSSH juga harus dipertimbangkan. Limpa berfungsi sebagai penyimpanan untuk besi nontoksik. Meskipun transfusi darah tidak diperlukan setelah transplantasi sukses dilakukan. Sebaliknya. Prognosis jangka panjang pasca transplantasi . Terapi Bedah(4) Splenektomi merupakan prosedur pembedahan utama yang digunakan pada pasien dengan thalassemia.c. Transplantasi Sel Stem Hematopoetik (TSSH) (4) TSSH merupakan satu-satunya yang terapi kuratif untuk thalassemia yang saat ini diketahui. fungsi penyimpanan). Biaya jangka panjang terapi standar diketahui lebih tinggi daripada biaya transplantasi. Limpa juga meningkatkan perusakan sel darah merah dan distribusi besi.. d. Biasanya. sehingga melindungi seluruh tubuh dari besi tersebut. dan terapi khelasi yang inefektif sebelum transplantasi dilakukan. Pengobatan agresif dengan antibiotik harus selalu diberikan untuk 30 . Faktafakta ini harus selalu dipertimbangkan sebelum memutuskan melakukan splenektomi. tidak diketahui. splenektomi dibenarkan apabila limpa menjadi hiperaktif. Risiko yang terkait dengan splenektomi minimal. fibrosis portal. menghasilkan lebih banyak akumulasi besi. prosedur ditunda bila memungkinkan sampai anak berusia 4-5 tahun atau lebih. Waktu yang optimal untuk memulai pengobatan tersebut adalah setahun setelah TSSH. menyebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan dan dengan demikian meningkatkan kebutuhan transfusi darah. dan banyak prosedur sekarang dilakukan dengan laparoskopi.

Sebaiknya zat besi tidak diberikan. pasangan tersebut ditawari diagnosis prenatal dan terminasi kehamilan pada fetus dengan thalassemia β berat. e. skrinning populasi dan koseling tentang pasangan bisa dilakukan. o Asam Folat  2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat. Diet talasemia (11) Pasien dianjurkan menjalani diet normal. Bila ibu heterozigot sudah diketahui sebelum lahir. Dosis rendah Aspirin® setiap hari juga bermanfaat jika platelet meningkat menjadi lebih dari 600. ii. Bila populasi tersebut menghendaki pemilihan pasangan. (4) 12. Bila heterozigot menikah. Transplantasi sumsum tulang(4) Transplantasi sumsum tulang untuk talasemia pertama kali dilakukan tahun 1982. kadar Hb A2 (meningkat pada thalassemia-β). SKRINNING Ada 2 pendekatan untuk menghinadari thalassemia: i. 11. 1 dari 4 anak mereka bisa menjadi homozigot atau gabungan heterozigot.setiap keluhan demam sambil menunggu hasil kultur. dilakukan skrinning premarital yang bisa dilakukan di sekolah anak. Alternatif lain bisa juga dilakukan pemeriksaan terhadap setiap wanita hamil berdasar ras. Bila kadarnya normal. pasangannya bisa diperiksa dan bila termasuk karier. Jarang dilakukan karena mahal dan sulit. melalui ukuran eritrosit. pasien dikirim ke pusat yang bisa menganalisis rantai α. Kopi dan teh diketahui dapat membantu mengurangi penyerapan zat besi di usus. Karena karier thalassemia β bias diketahui dengan mudah. dengan suplemen sebagai berikut : o Vitamin C  100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi. PROGNOSIS 31 . Transplantasi sumsum tulang merupakan satu-satunya terapi definitive untuk talasemia. o Vitamin E  200-400 IU setiap hari. dan makanan yang kaya akan zat besi juga dihindari. Penting menyediakan program konseling verbal maupun tertulis mengenai skrinning.000 / μL pasca splenektomi. f.

sedangkan homozigot atau gabungan heterozigot gejalanya lebih berat dari thalassemia α dan β. splenektomi.lesu. gagal tumbuh. conjungtiva anemis. Heterozigot biasanya tanpa gejala. kondisi klinis penderita thalassemia sangat bervariasi dari ringan bahkan asimtomatik hingga berat dan mengancam jiwa. yang nantinya akan dibagi lagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan derajat mutasi (secara genetik) ataupun berat ringannya gejala. Pada pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley. Anak dengan thalassemia dengan transfuse darah biasanya hanya bertahan sampai usia 20 tahun. Masing-masing terapi memiliki kriteria dan efek samping tertentu sehingga perlu 32 . pembesarah lien dan atau hepar.letih. Thalassemia memiliki dua tipe utama berdasarkan rantai globin yang hilang pada hemoglobin individu yaitu Thalassemia-α dan thalassemia-β. Thalassemia diturunkan berdasarkan hukum Mendel.Prognosis bergantung pada tipe dan tingkat keparahan dari thalassemia. tergantung pula pada terapi dan komplikasi yang terjadi. sesak nafas kurang konsentrasi. India sampai Asia Tenggara. Bayi dengan thalassemia α mayor kebanyakn lahir mati atau lahir hidup dan meninggal dalam beberapa jam. lemah. Timur Tengah. Thalassemia ditemukan tersebar di seluruh ras di Mediterania. resesif atau ko-dominan. bentuk tulang yang abnormal. (9) BAB III KESIMPULAN Thalassemia adalah gangguan pembuatan hemoglobin yang diturunkan. Terapi thalassemia antara lain adalah terapi transfusi. dan transplantasi sumsum tulang. Gejala klinis biasa berupa tanda-tanda anemia seperti pucat. infeksi berulang dan perubahan tulang. tidak aktif beraktifitas atau jarang bermain dengan teman seusianya. Seperti dijelaskan sebelumnya. terapi pengikat besi (khelasi). biasanya meninggal karena penimbunan besi. sering pula disertai dengan kesulitan makan.

Wolfson Medical Center. Hemoglobin Abnormal: Talasemia. How I treat thalassemia. U. Hal 1708-1712.medscape.com/article/206490-overview 8. IDG. Konseling mengenai thalassemia sangat diperlukan untuk skrining dan pemahaman terhadap penderita. Kelainan Hemoglobin: Sindrom Thalassemia. Sutaryo. Hal 6484. Rachmilewitz1 and Patricia J. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.medscape. Thalassemias. Israel.com/article/206397-overview 7. 2. Giardina. 5. Kliegman Robert. Arvin Ann M. September at : 27. 2010 33 of Pediatric .. Bleibel. Permono. 2010. Available http://emedicine. Available at : http://emedicine. 4. SA. NY. Jakarta : 2010. Blood Need Prediction Model for Mayor Thalassemia Patients.S Department of Health & Human Services.html.medscape. Available at : http://emedicine.gov/health/dci/Diseases/Thalassemia/Thalassemia_Causes. New York. Thalassemia Alpha. Yaish Hassan M. April 30. Takeshita. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.. Thalassemia: Differential diagnoses & Workup.. DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Ajar Hematologi. 2010. New York Presbyterian Hospital. Edisi ke-15.dipertimbangkan secara seksama. K. Sampai saat ini. Ikatan Dokter Indonesia. Sri Rejeki D. Cetakan ketiga. 2009.medscape. Thalassemia Beta. Jakarta 2010 3. Department of Hematology. Thalassemia. 2001. 6.nih. Ugrasena. Yaish Hassan M. Volume 2.nhlbi. Holon. Available at : http://emedicine.Onkologi Anak. penderita thalassemia yang berat biasanya tidak dapat bertahan hingga mencapai usia dewasa normal meskipun kemungkinan ini tidak tertutup sama sekali. and Division Hematology/Oncology. April 30. Bambang H. Available at: http://www.com/article/958850-diagnosis 9. August 26. 2010.com/article/958850-overview. Behrman Richard E. Eliezer A. Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman.. et al.W.

S. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin. 2010.10. Ryadi Fadil. R. Bandung.. 34 . Hubungan jumlah darah transfusi. Rachmat B. M. Azhali M. pemberian deferoksamin dan status gizi dengan kadar seng plasma pada . Bagian Ilmu Kesehatan Anak.