Anda di halaman 1dari 32

DOSEN :

Dr. H. Antar Venus, M.A. Comm

OLEH:
Mia Dwianna Widyaningtyas
NPM: 210130150023

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 1
SPEECH ACT THEORY ................................................................................................... 2
A.

Pengantar ................................................................................................................ 2

B.

Terminologi Speech Act .......................................................................................... 3

C.

Teori Speech Act: Dari Aristoteles sampai Searle ................................................... 3

D.

Asumsi Teori Speech Act ......................................................................................... 9

E.

Teori Speech Act versi J.L. Austin .......................................................................... 10


Felicity condition ....................................................................................................... 14

F.

Teori Speech Act Versi John Searle ....................................................................... 15

G.

Aturan Teori Speech Act Searle ............................................................................ 19


1.

Aturan Konstitutif tindak Ilokusi ..................................................................... 19

2.

Aturan regulative dalam tindakan ilokusi ......................................................... 20

H.

Keterkaitan Teori Speech Act dengan Teori Lain ................................................. 20

I.

Posisi Teori Speech Act dalam Tradisi Komunikasi ............................................... 22

J.

Aplikasi Teori Speech Act ...................................................................................... 24

K.

Kritik-Kritik ............................................................................................................ 28

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 30

SPEECH ACT THEORY

A. Pengantar
Komunikasi yang sukses tidak hanya tergantung pada persepsi penerima atas
pesan yang disampaikan dan apresiasi mereka akan fakta bahwa pesan tersebut
adalah untuk mereka, tetapi juga tergantung pada pengakuan para pendengar
mengenai maksud komunikatif pengirim pesan dan menghasilkan respon bahasa
atau perilaku yang berkaitan dengan hal tersebut.
Douglas Brown (1987: 202)dalam (Kaburise, 2011, p. 6) menyatakan
Komunikasi dapat dianggap sebagai kombinasi dari 'tindakan' dengan tujuan dan
maksud. Komunikasi bukan hanya sebuah peristiwa, sesuatu yang terjadi: itu
adalah fungsional, bertujuan , dan dirancang untuk membawa beberapa efek beberapa perubahan--namun halus atau tidak teramati pada lingkungan
pendengar dan pembicara.
Kompetensi dalam bahasa bukan hanya penguasaan bentuk dari bahasa tetapi
penguasaan bentuk untuk mencapai fungsi komunikatif bahasa, seperti, untuk
meminta maaf, untuk menyambut, untuk tidak setuju, menuduh, untuk
memperingatkan dan sebagainya. Dengan demikian

bahasa dapat digunakan

untuk melakukan banyak hal, antara lain berjanji, bertaruh, melakukan peringatan,
menamakan sebuah kapal, membacakan nama-nama dalam suatu nominasi,
memberikan selamat, atau bersumpah terhadap suatu hal. Teori tindak tuturlah
yang akan menjelaskan mengenai hal ini.
Teori ini memandang tindak-tutur merupakan unit dasar bahasa untuk
mengekspresikan makna, ucapan yang mengandung tujuan. Penuturan kalimat
mengandung beberapa tindakan. Banyak tindakan yang dapat dinyatakan dengan
ujaran. Jadi tindakan dan ujaran bukanlah sesuatu hal yang berlawanan sama
sekali.

B. Terminologi Speech Act


Tindak Ujaran merupakan aksi (tindakan) dengan menggunakan bahasa
(Djajasudarma, 1994, p. 63). Bahasa digunakan pada hampir semua aktivitas. Kita
menggunakan bahasa untuk menyatakan informasi (permohonan informasi,
memerintah, mengajukan, permohonan, mengingatkan, bertaruh, menasehati, dan
sebagainya). Kemudian tindak tutur (istilah kridalaksana penuturan atau speech
act, speech event) adalah pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu
maksud dari pembicara diketahui oleh pendengar (Kridalaksana, 1984, p. 154).
Chaer (1995: 65), menyatakan bahwa tindak tutur merupakan gejala individu,
bersifat psikolinguistik dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan
bahasa si penutur dalam mengahdapi situasi tertentu.
Teori tindak tutur adalah cabang dari teori komunikasi, yaitu yang melibatkan
ujaran linguistik, bukan bagian dari teori bahasa. Meskipun ini terdengar sangat
mirip pertentangan

terminologis, hal ini membuktikan konsekuensi serius

mengenai masalah sentral teori tindak tutur.


Tindak tutur sering dipertentangkan dengan ilmu kebahasaan, namun sebenarnya
tidak ada pertentangan antara komunikasi dan linguistic mengenai tindak tutur ini,
karena domain keduanya memang berbeda. Domain linguistik berdasarkan aturan
dan struktur bahasa, dan domain komunikasi berdasarkan prinsip komunikasi itu
sendiri, aturan, dan struktur yang merupakan wilayah yang lebih inklusi dari
interaksi sosial. Speech Act harus dikonstruksi sebagai contoh interkoneksi dua
domain dalam cara tertentu. Dalam istilah sederhana: Sebuah tindak tutur
membuat sebuah ucapan, terutama dengan

makna di dalamnya, yang

menyampaikan akan membuat lebih baik dengan rasa komunikatif.

C. Teori Speech Act: Dari Aristoteles sampai Searle

Selama ini, Teori Tindak Tutur lebih dikenal sebagai hasil pemikiran J.L Austin
dan John Searle. Namun sebenarnya embrio Teori Tindak Tutur ini telah muncul
sejak jaman Plato yang muncul dalam artikulasi pemikiran Aristoteles (384 322
SM). Plato mengajukan ajarannya mengenai dunia ide. Dengan mempertanyakan
hubungan bahasa dan realitas, sekaligus Plato memisahkan keduanya. Pemisahan

bahasa dan realitas dengan memandang bahasa sebagai representasi realitas yang
dirintis Plato mendapat bentuk akhirnya pada pemikiran Aristoteles. Ia
menjelaskan posisi bahasa dalam tatanan ontologis dengan membedakan empat
tataran realitas: (1) benda-benda dalam dunia, yang menimbulkan (2) salinan
internal dalam jiwa manusia berupa konsep, yang pada gilirannya dilambangkan
dalam bentuk (3) tanda eksternal berupa bunyi, yang kemudian dilambangkan lagi
dalam bentuk (4) tulisan. Tataran pertama dan kedua bersifat sama dan universal
bagi semua manusia, yang berbeda-beda adalah pelambangan di tataran ketiga dan
keempat (Borgman, 1974, p. 29) . Dengan pembedaan ini,

Aristoteles

memantapkan tatabahasa dan logika sebagai dua disiplin yang mandiri dengan
objek yang terpisah. Tatabahasa mempelajari bahasa sebagai bagian dunia
material berupa suara atau tulisan, sedang logika mempelajari bahasa sebagai
representasi benda dalam dunia. Dalam kerangka menetapkan objek kajian logika,
Aristoteles juga membedakan kalimat menjadi proposisi dan bukan proposisi.
Proposisi adalah kalimat yang menggambarkan realitas, dan karenanya bisa benar
atau salah. Dengan sifat demikian, proposisi merupakan satu-satunya objek kajian
logika. Sedangkan kalimat bukan proposisi, seperti: pertanyaan, perintah, doa,
dsb., karena tidak bisa benar atau salah, dianggap tidak bermakna atau sekadar
semena. Pada titik inilah, untuk pertama kalinya, dikumandangkan dominasi
logika dan penekanan terhadap proposisi dalam kajian bahasa. (Borgman, 1974, p.
29-31). Dalam chapter pertama De interpretatione, Aristoteles (Smith, 1988)
menulis:
Every sentence is significant [...], but not every sentence is a statement-making
sentence, but only those in which there is truth or falsity. There is not truth or
falsity in all sentences: a prayer is a sentence but is neither true nor false. The
present investigation deals with the statement-making sentence; the others we can
dismiss, since consideration of them belongs rather to the study of rhetoric or
poetry. (17 a 1-5, Edghill translation)

Pemikiran dari Aristoteles itu kemudian dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein


yang merupakan filsuf bahasa. Pemikiran dari Ludwig Wittgenstein mengenai
keterkaitan bahasa dan realitas diungkapkannya dalam dua volume pekerjaan
Philosophical Investigations di tahun 1953. Wittgenstein percaya bahwa makna
dalam bahasa berasal dari cara yang mana hal tersebut sebenarnya digunakan
dalam situasi konkret. Secara jelas tertanam dalam tradisi pragmatis ,ide ini
menangkap mengenai pentingnya orang menggunakan bahasa untuk mencapai
tujuan tertentu dalam situasi di mana mereka bertindak. Wittgenstein menulis
bahwa orang mengikuti aturan dalam rangka mencapai tujuan tertentu,
menjadikan komunikasi sebuah permainan bahasa. Orang-orang tahu bagaimana
memberikan perintah, mengajukan pertanyaan, atau menggambarkan sebuah
pengamatan berdasarkan aturan untuk mencapai hal-hal tersebut. Dengan
demikian, ucapan-ucapan lebih dari sekadar mencerminkan makna yang
dimaksud; mereka membentuk suatu rancangan tindakan untuk menyelesaikan
sesuatu (LittleJohn & Foss, 2009, p. 918)
Pemikiran filsafat analitis Wittgenstein merupakan karya filsafat yang inovatif,
yang dipengaruhi oleh konsep G. . Moore, Bertrand Russell, dan Gottlob Frege.
Salah satu unsur yang penting sekali dalam uraiannya adalah apa yang disebut
picture theory atau teori gambar. Wittgenstein berpendapat bahwa bahasa
mengambarkan realitas dan makna itu tidak lain daripada pengambaran suatu
keadaan factual dalam realitas melalui bahasa.
Pada zaman Wittgenstein, penggunaan logika bahasa dalam menjelaskan suatu
konsep filsafat menimbulkan kekaburan makna, bahkan banyak ungkapan menjadi
tidak bermakna apa-apa. Karenanya, Wittgenstein berfikir bahwa hanya ada satu
kemungkinan cara untuk mengatasi kebingungan bahasa tersebut yaitu melalui
proposisi dan proposisi harus merupakan suatu gambar dan perwakilan dari suatu
realitas fakta. Dalam menjelaskan prinsip teori gambar, Wittgenstein menjelaskan
bahwa proposisi adalah gambaran realitas. Sebuah gambar hanya memiliki ciri
sebagaimana yang dimiliki oleh proposisi. Ia mewakili beberapa situasi yang
dilukiskan melebihi dirinya sendiri dan tidak seorang pun perlu menjeskan tentang
apa yang digambarkan.

Suatu proposisi adalah gambar bukan dalam arti kiasan melainkan secara harfiah.
Wittgenstein berkeyakinan bahwa semua ucapan kita mengandung satu atau lebih
proposisi elementer, artinya proposisi yang tidak dapat dianalisis lagi. Suatu
proposisi elementer menunjuk pada suatu state of affairs dalam realitas. Suatu
proposisi elementer terdiri dari nama-nama. Tetapi nama-nama tersendiri tidak
mempunyai makna. Hanya proposisi yang mempunyai makna. Kalau Wittgenstein
mengatakan bahwa dalam suatu proposisi elementer digambarkan suatu duduk
perkara (state of affairs) dalam realitas, maksudnya adalah bahwa unsur-unsur
dalam proposisi dan unsur-unsur realitas sepadan satu sama lain. Dengan kata
lain, strukutur proposisi sesuai dengan struktur yang terdapat dalam realitas.
Misal: peta kota dengan kota itu sendiri. Pada taraf yang berbeda-beda pola-pola
hubungan antara unsur-unsur tersebut secara formal sama biarpun secara material
sama sekali berlainan. Hanya dengan teori gambarlah, menurut Wittgenstein,
realitas dunia dapat dikatakan. Hanya dengan teori ini pula dapat diterangkan
bahwa bahasa kita bermakna. Proposisi-proposisi dalam tautologi bukanlah
proposisi sejati karena tidak mengungkapkan suatu pikiran, tidak mengatakan
sesuatu, sebab tidak merupakan suatu picture (gambar) dari sesuatu. Tetapi
proposisi ini bukan tidak bermakna.
Salah satu konsekuensi yang harus ditarik dari teori gambar Wittgenstein ialah
bahwa proposisi-proposisi metafisis tidak bermakna. Dalam philosophical
investigation ia menolak terutama tiga hal yang dulu diandaikan begitu saja dalam
dalam teori pertama, yaitu: (Wittgenstein, 1958)
1.

Bahwa bahasa dipakai hanya untuk satu tujuan saja, yakni menetapkan

states of affairs (keadaan dalam faktual).


2.

Bahwa kalimat-kalimat mendapat maknanya dengan satu cara saja,yakni

menggambarkan satu keadaan faktual, dan


3.

Bahwa setiap jenis bahasa dapat dirumuskan dalam bahasa logika yang

sempurna, biarpun pada pandangan pertama barangkali sukar untuk dilihat.


Untuk menjelaskan lebih lanjut bahwa bahasa dipakai dengan berbagai macam
cara

dalam

Philosophical

Investigations

Wittgenstein

meperkenalkan

istilah language games (permainan-permainan bahasa). Ada permainan yang


memakai bola atau kartu ataupun alat yang lain. Sebagaimana terdapat banyak

permainan, demikian juga terdapat banyak permainan bahasa arti kata-kata


hanya bisa dipahami dalam kerangka acuan language games hendak mengatakan
kepada kita bahwa kita harus melihat, membaca dan memahami suatu bahasa
dalam konteksnya masing-masing.
Wittgenstein berkesimpulan bahwa makna sebuah kata adalah penggunaannya
dalam kalimat, makna sebuah kalimat adalah penggunaannya dalam bahasa, dan
makna bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai konteks manusia .
Untuk mempelajari Speech Act Theory , terlebih dahulu harus mengerti tentang
filosofinya dan mempelajari bahasa, teori ini sudah berkembang sejak abad ke-20.
Pedoman dalam mempelajari ilmu bahasa ini pertama kali dikembangkan oleh
Charles Morris pada tahun 1930. Charles Morris mengelompokan ilmu bahasa
kedalam tiga pembelajaran yaitu; semantik, sintaksis, dan pragmatis. Semantik
mempelajari tentang hubugan antara lambang dengan artinya. Sementara sintaksis
mempelajari tentang tata bahasa dan menjelaskan grammar yang digunakan dalam
berbahasa. Selanjutnya, pragmatik menjelaskan tentang tata cara berbahasanya.
Pada awal abad ke-20, ilmu bahasa dan filosofi umumnya berpusat pada
sistem formal. Didalam ilmu bahasa, semantik dan sintaksis menjadi hal yang
diprioritaskan. Ilmu bahasa dalam era sekarang jarang berhubungan dengan
tingkah laku, bahkan tidak pernah. Perubahan ini terjadi pada pertengahan abad,
bagaimanapun dengan perpindahan bahasa yang luar biasa dalam filosofi.
Pendekatan filosofi ini mempertimbangkan penggunaan bahasa, bukan bahasa
yang formal dan sistem steril.
Speech act theory ini muncul dari pengembangan bahasa dan filosofi, merupakan
bagian dari teori pragmatik yang mana mencoba untuk mengatur berbagai macam
permainan bahasa yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi. Namun,
Speech act theory tidak sepenuhnya terlepas dari semantik, sisntaksis, dan skema
sistem tata bahasa formal. Filosofi

dalam teori

ini masih mencoba untuk

mengetahui sistem tentang bagaimana cara mempengaruhi dengan menggunakan


bahasa sehingga komunikasi bisa berhasil.
Speech Act Theory pertama kali dikemukakan oleh J.L Austin pada tahun 1962,
dalam buku How To Do Things With Word dan apa yang kita pikirkan sekarang
mengenai teori ini seluruhnya dikembangkan oleh John R Searle. John Langshaw

Austin lahir di Lancaster pada 26 Maret 1911. Pada tahun 1924 ia memasuki
Sekolah Shrewsbury dengan beasiswa.

John R Searle

J.L Austin

Speech Act Theory mengidentifikasi apa yang terjadi untuk membuat pernyataan
yang berhasil, supaya maksud dapat dipahami. Akan tetapi, Speech Act jarang
berdiri sendiri; mereka biasanya merupakan bagian dari percakapan (LittleJohn &
Foss, 2009, p. 166) . Percakapan yang dilakukan tidak hanya murni menjadi
sebuah percakapan biasa.
Kebanyakan bahasa menggunakan semacam klasifikasi untuk membedakan,
setidaknya, antara deklaratif yang biasa dengan fungsi lainnya seperti melaporkan
fakta,penggunaan interogatif setidaknya untuk membentuk pertanyaan ya / tidak,
dan penggunaan

imperatif untuk menegaskan pernyataan. Beberapa bahasa

mungkin memiliki bentuk kalimat lain, yang secara khusus digunakan untuk
mengekspresikan keinginan, satu untuk membuat janji dan sebagainya.
Beberapa ahli membagi analisis percakapan ini dalam beberapa bagian secara
umum. Pertama tekait pada organisasi percakapan, prinsip ini digunakan oleh
komunikator untuk menghasilkan pengertian kata dan tipe pesan lainnya. Analisis
percakapan melihat bentuk-bentuk sebenarnya cara bicara dan bahasa nonverbal
dari melihat dan mendengar, dan mereka mempelajari arti dari bentuk-bentuk
yang nampak dalam kontex. Beberapa teori melihat bagaimana struktur suatu
pesan bisa membuat pernyataan yang koheren atau masuk akal. Sedangkan teori
lainnya melihat pola bicara antara dua orang dalam suatu percakapan.
Kedua, analisis ini melihat dari tindakan; tindakan adalah cara untuk melakukan
sesuatu, pada umumnya menggunakan kata. Analisis percakapan mengasumsikan
bahwa kita harus tahu bagaimana bahasa itu digunakan, bukan hanya aturan dalam

tatabahasa dalam satu kalimat saja, tetapi juga aturan untuk satuan yang lebih
besar untuk dapat emandang sesuatu menurut kegunaannya (pragmatik) dalam
situasi sosial. Analisis percakapan lebih menarik dalam bagimana seorang
pembicara benar-benarmengorganisasikan pesan untuk menyelesaikan berbagai
hal.
Ketiga, analisis percakapan mencari sebuah prinsip yang digunakan komunikator
dari perspektif komunikator itu sendiri. Ini tidak terkait dengan sifat psikologi
yang tersembunyi atau fungsi otak, tetapi dengan masalah percakapan sehari-hari.
Banyak dari tujuan komunikasi kita terbagi dalam sebelum dan sesudah tingkah
laku kita. Tepat bila kemampuan linguistik terkait dengan peraturan berbahasa,
analisis percakapan terait dengan peraturan transaksi atau pertukaran pesan. Ada
empat riset umum yang berhubungan percakapan ini. Yang pertama adalah
Speech act theory, yang kedua propotional coherence theory, yang ketiga
conversation analysis, dan yang terakhir adalah poststructuralist movement.

1. Secara Ontologis
Permainan bahasa menunjukkan hakekat kehidupan manusia dalam
hubungannya dengan dirinya sendiri, orang lain, masyarakat, alam serta
terhadap Tuhan.
2. Secara Epistimologis
Setiap penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia memiliki
aturannya masing-masing yang sangat beragam serta tidak terbatas.
3. Secara Aksiologis
Penggunaan bahasa adalah sebagai sarana dalam berkomunikasi
mengungkapkan suatu makna.

D. Asumsi Teori Speech Act


Teori tindak tutur dimulai dengan asumsi bahwa unit minimal komunikasi
manusia bukan kalimat atau ekspresi lainnya, melainkan hasil beberapa jenis
tindakan, seperti membuat pernyataan, mengajukan pertanyaan, memberikan
pesanan, menggambarkan, menjelaskan, meminta maaf, berterima kasih, ucapan

selamat, dll.

Secara karakteristik, pembicara melakukan satu atau lebih dari

tindakan ini dengan mengucapkan sebuah kalimat atau beberapa kalimat; tetapi
tindakan itu sendiri tidak harus dibingungkan dengan kalimat atau ekspresi lain
diucapkan . (Searle J. R., 1980, p. vii)

E. Teori Speech Act versi J.L. Austin


Tuturan merupakan sebuah tindakan yang menghasilkan tuturan sebagai produk
tindak tutur. Tindak tutur adalah suatu tindakan bertutur yang memiliki maksud
tertentu yang dapat diungkapkan secara eksplisit maupun implisit.
Austin selanjutanya mengatakan bahwa dalam mengucapkan sebuah tuturan
seorang melakukan tiga peristiwa tindakan sekaligus, yaitu: tindak lokusi,(
lokunary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak perlokusi
(perlockutionary act)
1. Tindak lokusi
adalah tindak tutur yang memiliki arti dan acuan tertentu yang mirip
dengan makna menurut pengertian tradisional (Austin, 1962, p. 109).
Tidak tutur lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk
menyatakan sesuatu; tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna
kalimat sesuai dengan makna kata itu di dalam kamus dan makna kalimat
itu menurut kaidah sintaksisnya . Fokus lokusi adalah makna tuturan yang
diucapkan, bukan mempermasalahkan maksud atau fungsi tuturan itu.
andai si penutur berniat mengatakan sesuatu yang pasti secara langsung,
tanpa keharusan bagi si penutur untuk melaksanakan isi tuturannya,
niatannya disebut tindak tutur lokusi.
Contoh tindak tutur lokusi adalah ketika seseorang berkata badan saya
lelah sekali. Penutur tuturan ini tidak merujuk kepada maksud tertentu
kepada mitra tutur. Tuturan ini bermakna bahwa si penutur sedang dalam
keadaan lelah yang teramat sangat, tanpa bermaksud meminta untuk
diperhatikan dengan cara misalnya dipijit oleh si mitra tutur. Penutur
hanya mengungkapkan keadaannya yang tengah dialami saat itu

10

2. Tindak Ilokusi
Tindak ilokusi adalah tindakan yang dilakukan dengan menuturkan sebuah
tuturan yang memiliki daya (force) tertentu yang menampilkan fungsi
tuturan sesuai dengan konteks tuturan tersebut, seperti memberitahu,
memerintah, melarang, dsb. ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu
Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau
daya tuturan. Pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan tindak ilokusi
adalah untuk apa ujaran itu dilakukan dan sudah bukan lagi dalam
tataran apa makna tuturan itu?.
Bila si penutur berniat mengutarakan sesuatu secara langsung, dengan
menggunakan suatu daya yang khas, yang membuat penutur berntindak
sesuai dengan apa yang dituturkannya, niatannya disebut tindak tutur
ilokusi. Dalam pernyataan lain, tindak ilokusi adalah tindak dalam
menyatakan sesuatu (performatif) yang berlawanan degan tindak
menyatakan sesuatu (konstantif)
Contoh lain, kalimat Suseno sedang sakit. Jika kalimat ini dituturkan
kepada mitra tutur yang sedang menyalakan televisi dengan volume yang
sangat tinggi, berarti tuturan ini tidak hanya dimaksudkan untuk
memberikan informasi, tetapi juga menyuruh agar mengecilkan volume
atau bahkan mematikan televisi.

3. Tindak Perlokusi
Sedangkan yang dimaksud dengan tindak perlokusi adalah tindakan yang
menuturkan sebuattuturan yang menimbulkan efek. Efek tersebut dapat
mempengaruhi persuasi, pikiran dan perilaku penutur, mitra bicara atau
atau orang lain yang terlibat dalam situasi tersebut, seperti rasa cemas,
senang, gembira,dsb (Austin, 1962, p. 101)
Jika si penutur berniat menimbulkan respons atau efek tertentu kepada
mitra tuturnya, niatannya disebut tindak tutur perlokusi. Bila tindak lokusi
dan ilokusi lebih menekankan pada peranan tindakan si penutur, tindak
perlokusi justru lebih menekankan pada bagaimana respons si mitra tutur.
Hal yang disebutkan terakhir ini, menurut Austin, berkaitan dengan fungsi

11

bahasa sebagai pemengaruh pikiran dan perasaan manusia. Kendati


demikian, ketiga tindak tutur tersebut merupakan satu kesatuan yang
koheren di dalam keseluruhan proses tindak pengungkapan bahasa
sehingga seharusnya mencerminkan prinsip adanya satu kata dan tindakan
atau perbuatan.
Efek atau daya tuturan itu dapat ditimbulkan oleh penutur secara segaja,
dapat pula secara tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujaran
dimaksudkan untuk memengaruhi mitra tutur inilah merupakan tindak
perlokusi.
Ada beberapa verba yang dapat menandai tindak perlokusi. Beberapa
verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel,
menakut-nakuti, menyenangkan, mempermalukan, menarik perhatian, dan
lain sebagainya. Contoh tuturan yang merupakan tindak perlokusi:
1. ada hantu!
2. sikat saja!
3. dia selamat, Bu.
Contoh tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi yaitu tuturan shoot her! yang
diucapkan seorang penutur kepada mitra bicaranya. Shoot her adalah tindak
lokusi, tuturan tersebut dapat dipahami berdasarkan kata shoot yang maknanya
tembak (verba) dan kata her yang mengacu kepada dia yang berjenis kelamin
perempuan, yang dalam hal ini sudah jelas wanita mana yang dimaksud. Shoot
her juga merupakan tindak lokusi yang berarti perintah atau nasehat kepada
mitra bicaranya untuk menembak seorang wanita yang dimaksud penutur. Shoot
her pun adalah tindak perlokusi. Tuturan Shoot her tersebut dapat menyebakan
beberapa efek seperti rasa takut bagi wanita yang hendak ditembak, maupun rasa
tertekan atau merasa di bawah tekanan bagi mitra bicara yang diperintahkan untuk
menembak oleh penutur.
Austin mengungkapkan bahwa sebagian tuturan bukanlah pernyataan tentang
sesuatu, tetapi merupakan tindakan (action). Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dikatakan bahwa megujarkan

sesuatu dapat disebut sebagai tindakan atau

aktifitas. Hal tersebut dimungkinkan karena dalam sebuah ujaran selalu memiliki

12

maksud tertentu, maksud inilah yang dapat menimbulkan pengaruh tertentu


terhadap orang lain, seperti halnya mencubit atau memukul. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa Austin mengungkapkan teori tindak tutur yang memiliki
pengertian bahwa tindak tutur adalah aktivitas mengujarkan tuturan dengan
maksud tertentu.
Tindak tutur yang memiliki maksud tertentu tersebut tidak dapat dipisahkan dari
konsep situasi tutur. Konsep tersebut memperjelas pengertian tindak tutur sebagai
suatu tindakan yang menghasilkan tuturan sebagai produk tindak tutur.

Beranjak dari pikiran tersebut, Austin membedakan dua jenis tuturan yakni
konstantif (constantive) dan performatif (performative).
1. Tuturan konstatif adalah tindak tutur yang hanya berisi suatu
pernyataan . Ujaran konstatif merupakan ujaran yang tidak melakukan
tindakan dan dapat diketahui salah-benarnya. Menurut Austin (1962),
ujaran konstantif adalah jenis ujaran yang melukiskan suatu keadaan
faktual, yang isinya boleh jadi merujuk ke suatu fakta atau kejadian
historis yang benar-benar terjadi pada masa lalu. Ujaran konstantif
memiliki konsekuensi untuk ditentukan benar atau salah berdasarkan
hubungan faktual antara si pengujar dan fakta sesungguhnya. Jadi,
dimensi pada ujaran konstatif adalah benar-salah.
Contohnya tuturan John is running (Austin, 1962, p. 55). Tuturan ini
hanya semata-mata menggambarkan suatu keadaan .
2. Sedangkan tuturan performatif adalah tindak tutur yang diucapkan
untuk melakukan suatu tindakan (Austin, 1962, pp. 1-11). Ujaran
performatif, yaitu ucapan yang berimplikasi dengan tindakan si penutur
sekalipun sulit diketahui salah-benarnya, tidak dapat ditentukan benarsalahnya berdasarkan faktanya karena ujaran ini lebih berhubungan
dengan perilaku atau perbuatan si penutur. Semisal: Kamu dipecat!.
Yang dimaksud dengan kalimat performatif adalah kalimat yang berisi
perlakuan. Artinya apa yang diucapkan oleh si pengujar berisi apa yang
dilakukannya. Misalnya, kalau seorang rektor mengatakan, Dengan
mengucapkan Bismillah acara pelatihan ini saya buka, maka makna

13

kalimat itu adalah apa yang diucapkannya. Atau dengan kata lain, apa
yang dilakukannya itu adalah apa yang diucapkannya.
Kalimat performatif dapat digunakan untuk mengungkapkan sesuatu
secara eksplisit dan implisit. Secara eksplisit, artinya, dengan
menghadirkan kata-kata yang mengacu pada pelaku seperti saya atau
kami. Umpamanya, Saya berjanji akan mengirimkan uang itu
secepatnya. Sedangkan kalimat performatif yang implisit adalah yang
tanpa menghadirkan kata-kata yang menyatakan pelaku
Contoh tindak tutur performatif yaitu pada saat seseorang berkata: I
apologize., I promise, I will, atau I name this ship
penuturnya bukan hanya menuturkan sesuatu akan tetapi melakukan
sesuatu, yaitu, meminta maaf, berjanji, menikahi pasangannya, dan
memberi nama sebuah kapal. Tetapi di akhir bukunya Austin
menyimpulkan bahwa semua tuturan termasuk ke dalam jenis
performatif.

Felicity condition

Austin (1983:229) menamakan kondisi atau situasi yang mendukung terciptanya


suatu ujaran atau kalimat performatif dengan felicity conditions. Felicity
conditions harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1

Kondisi dan situasi yang ada haruslah memenuhi prosedur yang


akan menimbulkan suatu efek setelah penutur mengujarkan
kalimat performatif.

Semua kondisi yang melingkupi ujaran haruslah mengikuti


prosedur yang ada.

Prosedurnya haruslah tepat dan menyeluruh.

Orang yang menyuarakan kalimat tersebut haruslah orang-orang


yang mempunyai wewenang yang memang terdapat dalam
prosedur,

14

jika pernyataannya bersifat spesifik, maka orang-orang yang terlibat pun harus
memenuhi persyaratan tersebut.
Jika persyaratan akan kondisi ujaran performatif tidak terpenuhi, maka suatu
kalimat akan gagal dianggap sebagai ujaran performatif. Misalnya ketika ada
ujaran I hereby divorce you yang dinyatakan oleh seorang penduduk negara
Inggris kepada istrinya. Perceraian itu tidaklah akan terjadi, karena ujaran tersebut
tidak memenuhi persyaratan/kondisi untuk terjadinya suatu perceraian di Inggris.
Namun, jika ujaran tersebut diutarakan oleh seorang Muslim, yang memang
menganggap syah adanya pernyataan talak, maka ujaran tersebut dianggap syah,
sehingga perceraian dapat terjadi. Kondisi seperti itulah yang dimaksud Austin
dengan felicity conditions. Contoh lainnya yang tidak memenuhi persyaratan
felicity conditions adalah jika ada seorang pendeta yang membaptis seorang bayi,
namun melakukan kesalahan pada penyebutan nama bayi.
Berdasarkan uraiannya tersebut, Austin menyatakan bahwa konsep performatif
dapat dilihat pada ciri-ciri sbb:
a) ujaran tersebut mengandung aksi tidak hanya berupa perkataan,
b) kalimat-kalimat performatif memiliki keterkaitan yang kuat dengan
prosedur suatu institusi.
c) Tidak seperti halnya kalimat konstantif yang dapat dilihat berdasarkan
benar atau salahnya, namun kalimat performatif hanya dapat dilihat dari
syah atau tidaknya ujaran tersebut.
F. Teori Speech Act Versi John Searle
Teori Tindak Tutur mulai berkembang setelah Searle (1969) menyampaikan
essay berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of language.
(LittleJohn & Foss, 2009). Teori Tindak Tutur (Speech Act) yang dibangun John
Searle dapat membantu kita memahami bagaimana orang mencapai sesuatu
dengan kata-katanya (LittleJohn & Foss, 2009)
Menurut Searle dalam semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia
berpendapat bahwa komunikasi bukan sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi
akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata atau kalimat
yang berwujud perilaku tindak tutur (fire performance of speech acts) (Searle J.

15

R., 1971, p. 39). Pada tahun 1975 Searle mengembangkan teori tindak tutur
menjadi tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif.
Sehingga dikatakan bahwa tindak tutur merupakan inti dari komunikasi. Tindak
tutur merupakan suatu analisis yang bersifat pokok dalam kajian pragmatis.
Pendapat tersebut berkaitan dengan objek kajian pragmatis yang sebagian besar
berupa tindak tutur dalam peristiwa komunikasi. Dalam analisis pragmatis objek
yang dianalisis adalah objek yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam
peristiwa komunikasi, yaitu berupa ujaran atau tuturan yang diidentifikasikan
maknanya dengan menggunakan teori pragmatis.
Teori tindak tutur yang yang dikembangkan Searle dipandang lebih konkret oleh
beberapa ahli. Searle menggunakan ide-ide Austin sebagai dasar mengembangkan
teori tindak tuturnya. Bagi Searle (l969:16), semua komunikasi bahasa melibatkan
tindak. Unit komunikasi bahasa bukan hanya didukung oleh simbol, kata atau
kalimat, tetapi produksi simbol, kata, atau kalimat dalam mewujudkan tindak
tutur. Produksi kalimat yang berada pada kondisi-kondisi tertentu merupakan
tindak tutur, dan tuturan merupakan unit-unit minimal komunikasi bahasa.
Berdasarkan pandangan tersebut, pada awalnya Searle membagi tindak tutur
menjadi empat jenis, yakni
(a) tindak ujaran (utterance act), yaitu kegiatan menuturkan kata-kata sehingga
unsur yang dituturkan berupa kata atau morfem;
(b) tindak proposisional (propositional act), yaitu tindak menuturkan kalimat;
(c) tindak ilokusi (Ilocutionary act), yaitu tindak menuturkan kalimat, tetapi sudah
disertai disertai tanggung jawab penutur untuk melakukan suatu tindakan; dan
(d) tindakan perlokusi (perlocutionary act), yaitu tindak tutur yang menuntut
mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan tertentu.
Dalam perkembangannya, Searle (1975) mengembangkan teori tindak
tuturnya terpusat pada ilokusi. Pengembangan jenis tindak tersebut berdasarkan
pada tujuan dari tindak, dari pandangan penutur. Searle merumuskan jenis
tindakan ilokusi ini ke dalam lima jenis, yaitu:
1. Asertif (Assertives)
pada ilokusi ini penutur terikat pada kebenaran proposisi yang
diungkapkan,

misalnya,

menyatakan,

16

mengusulkan,

membuat,

mengeluh,

mengemukakan pendapat, dan melaporkan. Contoh jenis

tuturan ini adalah: Adik selalu unggul di kelasnya. Tuturan tersebut


termasuk tindak tutur representatif sebab berisi informasi yang penuturnya
terikat oleh kebenaran isi tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab
bahwa tuturan yang diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan di
lapangan bahwa si adik rajin belajar dan selalu mendapatkan peringkat
pertama di kelasnya. Contoh yang lain adalah: Tim sepak bola andalanku
menang telak, Bapak gubernur meresmikan gedung baru ini.
2. Direktif (Directives):
ilokusi ini bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan

yang

dilakukan oleh penutur; misalnya, memesan, memerintah, memohon,


menuntut,

dan memberi nasihat.Tindak tutur direktif disebut juga

dengan tindak tutur impositif. Contoh tuturan direktif adalah Bantu aku
memperbaiki tugas ini. Contoh tersebut termasuk ke dalam tindak tutur
jenis direktif sebab tuturan itu dituturkan dimaksudkan penuturnya agar
melakukan tindakan yang sesuai yang disebutkan dalam tuturannya yakni
membantu memperbaiki tugas. Indikator dari tuturan direktif adalah
adanya suatu tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar
tuturan tersebut.
3. Komisif (Commissives)
Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk
melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya
bersumpah, berjanji, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul.
Contoh tindak tutur komisif kesanggupan adalah Saya sanggup
melaksanakan

amanah

ini

dengan baik.

Tuturan itu mengikat

penuturnya untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini


membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhi apa yang telah ditu
turkannya. Cotoh tuturan yang lain adalah Besok saya akan datang ke
pameran lukisan Anda, Jika sore nanti hujan, aku tidak jadi berangkat ke
Solo.
4. Ekspresif (Expressive)

17

fungsi ilokusi ini ialah mengungkap atau mengutarakan sikap


penutur

terhadap

misalnya:
maaf,

keadaan

yang

tersirat

psikologis

dalam

ilokusi,

mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi

mengecam,

memuji,

mengucapkan

belasungkawa,

dan

sebagainya. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan


penuturnya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang
disebutkan dalam tuturan itu, meliputi tuturan mengucapkan terima kasih,
mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung, memuji, meyalahkan, dan
mengkritik. Tuturan Sudah kerja keras mencari uang, tetap saja hasilnya
tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Tuturan tersebut merupakan
tindak tutur ekspresif mengeluh yang dapat diartikan sebagai evaluasi
tentang hal yang dituturkannya, yaitu usaha mencari uang yang hasilnya
selalu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Contoh tuturan lain
adalah Pertanyaanmu bagus sekali (memuji), Gara-gara kecerobohan
kamu, kelompok kita didiskualifikasi dari kompetisi ini (menyalahkan),
Selamat ya, Bu, anak Anda perempuan (mengucapkan selamat).
5. Deklarasi (Declaration)
Berhasilnya
adanya

pelaksanaan

ilokusi

ini

akan

mengakibatkan

kesesuaian antara isi proposisi dengan realitas, Tindak tutur

deklaratif

dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status,

keadaan, dsb) yang baru. Yang termasuk ke dalam jenis tuturan ini adalah
tuturan dengan maksud mengesankan, memutuskan, membatalkan,
melarang, mengabulkan, mengizinkan, menggolongkan, mengangkat,
mengampuni, memaafkan. Tindak tutur deklarasi dapat dilihat dari contoh
berikut ini:
Ibu tidak jadi membelikan adik mainan. (membatalkan)
Bapak memaafkan kesalahanmu. (memaafkan)
Saya memutuskan untuk mengajar di SMA almamater saya.
(memutuskan).

18

G. Aturan Teori Speech Act Searle


Searle menyatakan bahwa berbicara dengan suatu bahasa melibatkan suatu bentuk
perilaku yang dikontrol oleh aturan (Speaking a language is engaging In a rulegoverned form behavior). (Littlejohn & Foss, 2005, p. 109) . Dalam hal ini
terdapat dua tipe aturan yang penting yaitu aturan konstitutif dan aturan regulatif.
Aturan konstitutif menciptakan permainan, jadi permainan diciptakan atau
dibentuk melalui aturan. Maksud seseorang sebagian besar dipahami oleh orang
lain karena aturan konstitutif ini. Ketika berbicara, aturan konstitutif mengatakan
kepada Anda apa yang diinterpretasikan sebagai janji yang berlawanan dengan
permintaan atau perintah.
1. Aturan Konstitutif tindak Ilokusi

Aturan konstitutif mencakup empat ketentuan sebagai berikut;


a) Aturan Isi pernyataan (proposional content rule).

Aturan yang

menjelaskan kondisi objek yang direferensikan atau dituju. Dalam


suatu janji, misalnya pembicara akan melakukan suatu perbuatan di
masa depan, misalnya membayar utang.
b) Aturan persiapan (preparatory rules) melibatkan prakondisi yang
sudah diperkirakan pihak pembicara dan lawan bicaranya yang
diperlukan agar perbuatan yang dijanjikan dapat dilaksanakan.
Misalnya , pada suatu janji, ucapan pemberi janji tidak akan
memberikan arti apa-apa kecuali lawan bicara lebih menyukai
perbuatan itu dilakukan daripada tidak.
c) Aturan ketulusan hati (sincerity rule) meminta pembicara berniat
untuk memenuhi janjinya. Anda harus tulus menyatakan berniat
membayar utang Anda agar dapat dikategorikan sebagai janji
d) Aturan esensi (essential rule) menyatakan bahwa janji tersebut
menghasilkan kewajiban kontraktual antara pembicara dan lawan
bicaranya
e) Tipe aturan konstitutif ini dipercaya juga berlaku terhadap berbagai
tindakan ilokusioner lainnya seperti: meminta, menyatakan,
menanyakan, berterima kasih, menasihati, mngingatkan, memberi
salam, dan mengucapkan salam.

19

2. Aturan regulative dalam tindakan ilokusi

Aturan regulatif memberikan panduan dalam suatu permainan. Dalam hal


ini sejumlah perilaku sudah diketahui dan tersedia sebelum digunakan
dalam permainan dan perilaku itu mengatakan kepada kita bagaimana
berbicara untuk mencapai maksud tertentu. Misalnya, jika saya
menginginkan sesuatu, maka saya membuat permohonan. Jika saya
memohon sesuatu kepada Anda, maka Anda berkewajiban untuk
menerima atau menolaknya.Tindakan tutur banyak yang bersifat langsung,
namun sebagian dari tindakan tutur adalah bersifat tidak langsung
(indirect).

H. Keterkaitan Teori Speech Act dengan Teori Lain


Teori Speech Act , merupakan teori yang akan selalu berhubungan dengan teori
komunikasi lain, karena inti dari sebuah komunikasi adalah pesan. Namun secara
khusus teori speech act sangat berkaitan dengan beberapa teori berikut:
1. Conversation Analysis Theory (Teori Analisis Percakapan)
Percakapan dipandang sebagai suatu keberhasilan atau prestasi sosial
(social achievement) karena percakapan mensyaratkan peserta percakapan
untuk menyelesaikan sejumlah hal tertentu yang dilakuksan secar
kooperatif (kerjasama) sepanjang percakapan berlangsung.
Peserta percakapan melakukan banyak hal dalam waktu bersaamaan
seperti menajukan dan menjawab pertanyaan , mengatur giliran bicara, dan
kegiatan perlindungan wajah (protecting face). Hal terpenting adalah
mengetahui bagaimana hal tersebut dilakukan dalam bahasa. Perangkat
dan bentuk interaksi seperti apa yang digunakan para pihak untuk
menghasilkan tindakan.

20

Keterkaitan conversation analysis dengan speech act , bahwa dalam


conversation analysis, berbahasa juga bertujuan untuk menghasilkan
sebuah tindakan
2. Coordinated Management of Meaning (CMM)
Teori ini merupakan teori yang mencoba memberikan jawaban terhadap
pertanyaan mengenai hubungan makna (meaning), tindakan (action). Dan
perilaku yang terkoordinasi ( coordinated behavior) dalam percakapan.
Teori CMM dikembangkan oleh Barnett Pearce dan Vernon Cronen .
CMM menyatakan bahwa manusia melakukan interpretasi dan bertindak
atas dasar aturan. Setiap orang yang berada dalam situasi sosial apa pun
ingin memahami apa yang terjadi di sekitarnya dan mereka yang
menggunakan aturan-aturan yang memahaminya. Mereka kemudian
bertindak atas dasar pengertian yang mereka miliki.
Para teoritikus manajemen makna terkoordinasi mengemukakan
enam elemen makna, yaitu:
1)

Isi (content), merupakan langkah awal di mana data mentah

dikonversikan menjadi makna.


2)

Tindak tutur (speech act), merujuk pada tindakan-tindakan yang

kita lakukan dengan cara berbicara termasuk memuji, menghina, berjanji,


mengancam, menyatakan dan bertanya.
3)

Episode (episode), merujuk pada rutinitas komunikasi memiliki

awal, pertengahan dan akhir yang jelas.


4)

Hubungan (relationship), dapat diartikan sebagai kontrak

kesepakatan dan pengertian antara dua orang di mana terdapat tuntunan


dalam berperilaku.
5)

Naskah kehidupan (life scripts), merujuk pada kelompok-

kelompok episode masa lalu atau masa kini yang menciptakan suatu
system makna yang dapat dikelola bersama dengan orang lain.
6)

Pola budaya (cultural pattern), merujuk pada gambaran mengenai

dunia dan bagaimana berhubungan seseorang dengan hal tersebut.Yang


dimaksud koordinasi dalam teori ini adalah proses di mana dua atau lebih
komunikator mengatur makna dan tindakan mereka ke dalam beberapa

21

jenis pola yang masuk akal bagi mereka. ketika salah satu orang bertindak,
orang lain harus menafsirkan tindakan. Orang kedua kemudian akan
bertindak atau merespon atas dasar makna ini. Orang pertama kemudian
harus menafsirkan dan bertindak. Masing-masing pribadi mengajukan
[ertanyaan, Apa tindakan ini berarti, dan bagaimana harus saya
menanggapinya? Jika berhasil, para peserta akan merasa bahwa interaksi
mereka dikoordinasikan atau yang memiliki beberapa jenis pola logis
untuk itu. (LittleJohn & Foss, 2009, p. 202)
Teori Speech Act sangat berkaitan dengan Teori CMM karena adanya
teori ini merujuk pada teori speech act, dan speech act merupakan salah
satu elemen makna yang dikoordinasikan.

I. Posisi Teori Speech Act dalam Tradisi Komunikasi


Speech Act merupakan teori yang masuk dalam tradisi sosiokultural khususnya
berkaitan dengan penyampaian pesan. Pendekatan sosiokultural dalam teori
komunikasi membahas mengenai berbagai pengertian, makna, norma, peran, dan
aturan yang ada bekerja dan saling berinteraksi dalam proses komunikas. Teori
sosiokultural dalam ilmu komunikasi mendalami dunia interaksi dimana di
dalamnya manusia hidup. Teori ini menekankan gagasan bahwa realitas dibangun
melalui suatu proses interaksi yang terjadi dalam kelompok, masyarakat, dan
budaya
Tradisi sosiokultural lebih terfokus pada pola-pola interaksi antar manusia
daripada hal-hal yang terkait dengan sifat atau jiwa yang dimiliki oleh seorang
individu. Interaksi adalah proses dan tempat dimana berbagai makna, peran,
aturan, dan nilai budaya saling bekerja. Para peneliti dalam tradisi sosiokultural
lebih tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara bersamasama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi, dan budaya mereka.
Pemikiran tradisi sosiokultural tertarik pada proses komunikasi yang terjadi pada
situasi yang sebenarnya. Dan bagaimana makna diciptakan dalam interaksi sosial.
Makna dari kata-kata dalam situasi sosial yang sesungguhnya menjadi sangat
penting. (Morissan, 2013)
22

Tradisi sosiokultural berdasar pada premis orang berbicara, mereka membuat dan
menghasilkan kebudayaan. Kebanyakan dari kita berasumsi bahwa kata adalah
refleksi atas apa yang benar ada. Cara pandang kita sangat kuat dibentuk oleh
bahasa (language) yang kita gunakan sejak balita. Kita sudah mengetahui bahwa
tradisi semiotika kebanyakan kata tidak memiliki kepentinganatau keterikatan
logis dengan ide yang mereka representasikan. Para ahli bahasa dalam tradisi
sosiokultural menyatakan bahwa para pengguna bahasa mendiami dunia
yang berbeda. Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorfdari University of Chicago
adalah pelopor tradisi sosio-kultural. Dalam hipotesis penelitian mereka, linguistik
adalah bagian dari struktur bentuk bahasa budaya yang berdasarkan apa yang
orang pikirkan dan lakukan. Dunianyata terlalu luas dan secara tidak sadar
terbentuk pada bahasa kebiasaan (habits) dari kelompok. Teori linguistik ini
berlawanan dengan asumsi bahwa semua bahasa itu sama dan kata hanya sarana
netral untuk membawa makna. Bahasa sebenarnya adalah struktur dari persepsi
kita akan realitas. Teori dalam tradisi ini mengklaim bahwa komunikasi adalah
hasil produksi, memelihara, memperbaiki dan perubahan dari realitas. Dalam hal
ini, tradisi sosio-kultural menawarkan membantu dalam menjembatani jurang
pemisah budaya antara kitadan mereka.
Teori Speech Act (Tindakan/Aksi Bicara) berada dalam kategori sosiokultural
karena kata-kata atau bicara bukan sekadar kata-kata yang tidak bermakna.
Tetapi sebuah kata merupakan hasil dari mind .

mind

society

language

23

J. Aplikasi Teori Speech Act


Menurut Austin (1978:16) bahwa semua komunikasi bahasa melibatkan tindak
tutur, dan produksi kalimat yang berada pada kondisi-kondisi tertentu merupakan
tindak tutur yang unik. Pengaplikasian Speech Act Theory dikembangkan oleh
para ahli bahasa, tetapi aplikasi ini memiliki dampak pengaruh yang besar kepada
ilmu sosial dan umat manusia. Misalnya pada bidang antropologi,pendidikan
kebudayaan, edukasi, kesastraan, etnografi, dan lain-lain. Pengaplikasian ini
meliputi aspek pengembangan kemampuan berbicara, dan penggunaan tata
bahasa. Dalam disiplin ilmu komunikasi, speech act theory digunakan untuk
menjelaskan rangkaian kalimat percakaan, seringkali dalam bidang konjungsi
dengan metode prinsip analisis komunikasi. Contoh pengunaan Speech Act
Theory ini pada Penamaan, kata sapaan, sebutan, kata ganti (untuk benda dan
orang), keterangan tempat atau waktu serta hubungan antara kata-kata tersebut
dengan konteks penggunaannya direfleksikan secara linguistis dalam istilah
deixis. Deixis berasal dari bahasa Yunani yang bermakna menunjukkan, di
dalam bahasa Latin disebut demonstratio. Dalam deixis dibahas bagaimana
bahasa meng-enkodifikasi dan menggramatikalisasi konteks ujaran atau suatu
peristiwa ujaran. Dengan demikian, interpretasi terhadap suatu ujaran sangat
bergantung pada analisa setiap konteks di luar ujaran. Penerapan deixis akan lebih
mudah terlihat dalam face-to-face-interaction.
Teori Speech Act dapat diaplikasikan dalam berbagai situasi. Seperti dalam
beberapa penelitian yang telah dipublish di sejumlah jurnal berikut:

1. Artikel Yunidar Nur : Representasi Kekuasaan dalam Wacana


Politik ( Kajian Etnografi Komunikasi)1
Kekuasaan dalam pelbagai wacana direpresentasikan menggunakan tindak
tutur yang unik dan kontekstual,, dalam komunikasi politik misalnya ,
kalimat atau kata-kata yang digunakan dalam suatu kampanye , pidato,
iklan, ataupun lobby-lobby politik dapat dikaji dengan teori Speech Act.
1

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=167214&val=6118&title=REPRESENTASI%
20KEKUASAAN%20DALAM%20WACANA%20POLITIK%20%28KAJIAN%20ETNOGRAFI%20KOMUNI
KASI%29

24

Yunidar Nur dalam artikel Representasi Kekuasaan dalam Wacana Politik


(Kajian Etnografi Komunikasi) menyatakan bahwa dengan menganalisis
tindak tutur, dapat teridentifikasi jenis-jenis kekuasaan, seperti;kekuasaan
paksaan (coecive power), kekuasaan absah (legitimate power), kekuasaan
hadiah (reward power), dan kekuasaan keahlian (expert power), melalui
strategi dan pola percakapan yang khas digunakan. Penelitian yang
dilakukan terhadap anggota DPRD kota Palu tersebut menunjukkan tindak
tutur dalam wacana politik merupakan sarana komunikasi untuk
merepresentasikan kekuasaan oleh satu atau beberapa orang sebagai
penutur. Bentuk-bentuk kekuasaan yang diwujudkan oleh politisi di
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai wakil rakyat yang
mencerminkan kehidupan demokrasi dalam suatu wilayah politik tertentu.
Studi etnografi komunikasi tentang kekuasaan dalam wacana politik di
DPRD Kota Palu ini, tidak berlatar pada asumsi terjadinya kekesenjangan
antara harapan dan kenyataan politik yang terjadi. Studi ini mengkaji
proses komunikasi yang merepresentasikan kekuasaan dalam wacana
politik, sehingga lebih cenderung berperspektif sosiopolitikolinguistik.
2. Artikel Silvie Valkova mengenai:A Cross-Cultural Approach to
Speech-Act-Sets: The Case of Apologies (Topics in Linguistics Issue 13 June 2014)
Tulisan ini berisi hasil penelitian Valkova mengenai manifestasi salah
satu Speech-act-set, yakni permintaan maaf. Artikel tersebut menunjukkan
dan membahas prosedur yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi,
menganalisis, menjelaskan dan lintas-budaya membandingkan validitas
teori Speec- Act- set

dan memberikan bukti relevansinya dalam

mempelajari antarmuka bahasa Inggris-Ceko dalam domain tertentu dari


interaksi manusia.
Bahwa tuturan Apologies (permintaan maaf) dalam satu bahasa tertentu
dapat diterima berbeda bila diucapkan oleh orang yang berasal dari
bangsa yang berbeda.

25

3. Etsuko Oishi : Evidentials in entextualization (Jurnal Intercultural


Pragmatics 2014; 11(3): 437 462)
Tulisan ini mengkaji fungsi diskursif evidentials dalam kerangka teori
tindak tutur Austinian dan menganalisa bagaimana diskursif tersebut
digunakan dalam artikel koran. Fungsi diskursif evidentials ditetapkan
sebagai

kontribusi

mereka

terhadap

kekuatan

ilokusi.

Dengan

menunjukkan sumber informasi dari situasi / acara / hal di dunia,


pembicara (atau penulis) bersaksi, laporan, dugaan, atau melakukan
tindakan ilokusi yg menerangkan lainnya (Austin [1962] 1975). Sebuah
fitur yang melekat dari ilokusi yang dan efek perlocutionary adalah bahwa
pendengar (atau pembaca) diundang untuk berbagi penafsiran situasi /
acara / hal, dan untuk mengadopsi sikap tertentu ke arah itu. Ketika
tindakan ini berhasil, situasi / acara / hal diimpor ke wacana sebagai isi
dari tindakan, yang menjadi dasar untuk melakukan tindakan lebih lanjut.
Fungsi evidentials ini digambarkan sebagai fungsi entextualization (Fetzer
2011): nilai diskursif informasi yang diberikan ditentukan, di mana
spesifikasi ditandai bahasa. Kata modal memiliki fungsi entextualization
serupa.
4. Alexander Jenkins, Murugan Anandarajan, & Rob DOvidio : All that
Glitters is not Gold: The Role of Impression Management in Data
Breach Notification. (Western Journal of Communication Vol. 78, No.
3, MayJune 2014, pp. 337357)
Pelanggaran data telah menjadi aspek yang tampaknya tidak dapat
dihindari di era informasi ini bagi konsumen dan organisasi. Pelanggaran
memiliki

konsekuensi

nyata,

termasuk

kemungkinan

peningkatan

pencurian identitas bagi konsumen yang melihat informasi pribadi mereka


(PII) dimana PII dikompromikan. Organisasi juga menghadapi isu-isu
tertentu dari pelanggaran data, termasuk merusak reputasi organisasi. Di
Amerika Serikat, organisasi diminta untuk memberitahu konsumen dalam
hal pelanggaran data. Pemberitahuan ini memiliki beberapa aspek yang
diamanatkan oleh negara. Namun, organisasi bisa mengontrol banyak

26

aspek melalui penggunaan perspektif seperti teori tindak tutur dan teknik
manajemen kesan. Dalam artikel ini dua studi meneliti kinerja bahasa
dalam surat yang dikirim untuk memberitahu konsumen dimana PII telah
dipengaruhi oleh pelanggaran keamanan. Penelitian 1, menggunakan
kerangka teori yang terdiri dari teori tindak tutur, felicty condition, dan
presentasi visual, menganalisis s 212 surat dengan elemen tertentu.
Penelitian 2 menggunakan teknki 2x2 antara subyek-desain di mana
peserta menerima surat stimulus sampel untuk mengukur efektivitas teknik
presentasi visual pada konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan teknik manajemen kesan dapat menghasilkan hasil yang
positif ketika organisasi mengirimkan surat pemberitahuan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Speech Act berkaitan dengan teori
dramaturgi, khususnya hal mengenai impression management.
5. Andrew Fisher: Speech-act theory as a new way of conceptualizing the
student experience. (Studies in Higher Education
Vol. 35, No. 5, August 2010, 505512)
Artikel ini memiliki empat tujuan. Yang pertama adalah untuk
mengkarakterisasi fitur kunci dari teori speechact, dan, khususnya, untuk
menunjukkan bahwa ada perbedaan sejati antara suara yang diucapkan
ketika seseorang berbicara (locution), efek ujaran memiliki (perlocution)
dan tindakan berbicara yang berlebihan (illocution ). Kedua, penelitian ini
bertujuan menunjukkan bahwa ilokusi speech act merupakan bagian
integral dari pendidikan tinggi, dan ketiga, untuk menentukan kondisi
khusus di mana agen tidak dapat menampilkan speech act tertentu.
Akhirnya, artikel ini menyatakan bahwa kondisi ini dapat ditemukan
dalam pendidikan tingg dan karenanya mahasiswa dan dosen sering tidak
dapat menunjukkan speech act tertentu. tujuan dari artikel ini bukan untuk
menunjukkan bahwa pembungkaman dan kekuasaan, dipahami dengan
cara ini, ini merupakan "alat" konseptual lengkap untuk memahami
pengalaman siswa.

6. Hetti Waluati Triana dan Idris Aman: Lakuan Tutur Menolak Generasi
Muda Minangkabau: Cermin Budaya Popular Dalam Interaksi Sosial
27

(GEMA Online Journal of Language Studies Volume 11(1) 2011


hal17 -4)
Tindakan tutur menolak sejatinya sarat dengan nilai-nilai budaya.
Tindakan ini tidak hanya terdiri daripada bunyi-bunyi yang teratur dan
bermakna, bahkan juga melibatkan nilai sosiobudaya yang mengatur
perilaku sosial. Kedua-dua aspek ini wujud bersama dalam tindakan tutur
menolak generasi muda Minangkabau modern. Oleh itu, analisis terhadap
tuturan menolak dalam kalangan etnik Minangkabau modern pun dapat
menunjukkan trend generasi muda kini. Dalam era globalisasi, trend
tersebut dikenal sebagai budaya popular. Kajian ini menggunakan
paradigma sosiopragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Speec
act menolak generasi muda Minangkabau secara leksikon, kode, dan
strategi sangat beragam dan keberagaman

itu berhubung erat dengan

konteks sosiobudaya Minangkabau. Hasil ini mengisyaratkan bahwa


tindak tutur menolak bukan hanya merupakan tindakan linguistik, bahkan
juga merupakan tindakan sosial yang boleh mencerminkan tindakan
kolektif generasi ini. Selain itu, hasil juga menunjukkan baawa dalam
interaksi sosial generasi muda Minangkabau modern, terdapat perbedaan
kecenderungan tindak tutur menolak antara lelaki dengan perempuan.
Perbedaan itu dapat terlihat pada leksikon, kode, dan strategi yang dipilih
dalam tindak tutur menolak.
K. Kritik-Kritik
Kritik terhdap teori ini disampaikan oleh Jens Allwood Dept of
Linguistics, Gteborg University 2
Allwood memberikan beberapa catatan mengenai teori Speech Act ini
beberapa catatan umum.
1. Pendekatan Austin dan Searle memiliki kesamaan bahwa mereka
berkonsentrasi pada tindakan komunikatif tunggal. Saya pikir ada bahaya
tertentu yang melekat dalam ini, yaitu bahwa hal itu mudah untuk

In Dahl, (Ed.) Logic, Pragmatics and Grammar. Lund. Studentlitteatur, pp. 53-99.
1977

28

kehilangan perspektif komunikasi secara keseluruhan. Secara keseluruhan,


tindakan komunikatif jarang terjadi dalam isolasi, melainkan berurutan
dalam interaksi. Oleh karena itu mungkin lebih baik untuk mempelajari
potongan yang lebih besar dari komunikasi, studi dimana kami mungkin
menggunakan istilah Wittgenstein, yakni permainan bahasa
2. Yang bahaya di sini bahwa analisis komunikasi menjadi terlalu linguistik
dengan berfokus pada makna verba aktivitas komunikatif tertentu. Analisis
makna tersebut harus dengan jelas dipisahkan dari studi fenomena
komunikasi yang sebenarnya memungkinan. Jika hal ini dapat dicapai,
hasil mungkin akan positif di kedua arah. Tidak sedikit secara bahasa, kita
kemudian akan mendapatkan ide yang lebih baik dari parameter
konseptual yang mendasari bidang leksikal untuk istilah kegiatan
komunikatif.

Apa yang kemudian harus diselamatkan dan dikembangkan lebih lanjut dalam
karya Austin dan Searle? Setidaknya tiga bidang berikut tampaknya menarik :
a. Studi tentang niat komunikatif yang berbeda
b.

Studi tentang berbagai reaksi psikologis dan perilaku yang secara khas
menimbulkan penerimaan selama komunikasi, dan

c.

Studi tentang konsekuanensi sosial dari tindakan komunikasi.

29

DAFTAR PUSTAKA
Austin, J. (1962). How to Do Things With Words. Great Britain: Oxford University Press.
Borgman, A. (1974). The Philosophy of Language. Netherlands: MARTINUS NIjHOFF.
Chaer, A. d. (1995). Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Djajasudarma. (1994). Pragmatik Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Infante Dominic., A. S. (1993). Building Communication Theory, Second edition. 1993.
USA: Daana F. Womc.
Kaburise, P. (2011). Speech Act Theory and Communication : A Univen Study. Newcastle:
Cambride Scholars Publishing.
Kissine, M. (2013). From Utterances to Speech Acts. New York: cambridge university
press.
Kridalaksana, H. (1984). Fungsi Bahsa dan Sikap Bahasa. Bandung: Ganaco.
LittleJohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Encyclopedia of Communication Theory. California:
Sage.
Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2005). Theories of Human Communication. New York:
Thomson West.
Malmkjer, K. (. (2006). The Linguistics Encylopedia. London: Routledge.
Morissan. (2013). Teori Komunikasi Individu hingga Massa . Jakarta: Kencana.
Pratiwi, S. I. (2013). IMPLEMENTASI SPEECH ACT THEORY PADA LOBBYING PT GARUDA
INDONESIA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN HUBUNGAN KERJASAMA DENGAN MITRA,
PARTNER, DAN CORPORATE PARTNER. Retrieved 11 16, 2015, from www.academia.edu:
https://www.academia.edu/8045840/SPEECH_ACT_THEORY_PADA_LOBBYING_PT_GAR

30

UDA_INDONESIA_SEBAGAI_UPAYA_PENINGKATAN_HUBUNGAN_KERJASAMA_DENGAN
_MITRA_PARTNER_DAN_CORPORATE_PARTNER
Searle, J. R. (1998). Mind, Language, and Society_Phiosophy In The Real Word. New York:
Basic Books.
Searle, J. R. (1980). Speech Act Theory and Pragmatics. Holland: Reidel Publishing
Company.
Searle, J. R. (1971). The Philosophy of Language. London: Oxford University of Press.
Smith, B. (1988). Towards a History of Speech Act Theory. Amsterdam.
Wittgenstein, L. (1958). PHILOSOPHICAL INVESTIGATIONS. Great Britania: BASIL
BLACKWELL.

31