Anda di halaman 1dari 9
TUJUAN 6: MEMERANGI HIV DAN AIDS, MALARIA DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA TARGET 6A MENGENDALIKAN PENYEBARAN DAN MULAI MENURUNKAN JUMLAH KASUS BARU HIV DAN AIDS HINGGA TAHUN 2015 TARGET 6B MEWUJUDKAN AKSES TERHADAP PENGOBATAN HIV DAN AIDS BAGI SEMUA YANG MEMBUTUHKAN SAMPAI DENGAN TAHUN 2010 Acuan Target Indikat Saat ini Stat Sumber dasar MDGs or us 2015 Target 6A: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV dan AIDs hingga tahun 2015 Prevalensi HIV dan AIDS 6.1 0,30% Menurun Kemenkes ▼ (persen) (2011) 2011 dari total populasi 6.2 Penggunaan kondom Perempuan: ▼ 12,8 * BPS, SKRRI pada hubungan seks 35% 2002/2003 (2002/03 Meningkat berisiko tinggi terakhir (2011)** ** STBP, )* Laki-laki: Kemenkes ▼ 14% 2011 Kemenkes, Proporsi jumlah penduduk Riskesdas usia ► 6.3 11,40% Meningkat 2010 15-24 tahun yang memiliki (2010) pengetahuan komprehensif tentang Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV DAN AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010 Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang ► 6.5 84,10% Meningkat Kemenkes memiliki akses pada obat(2011) 2011 Status : obatan ● Sudahanti-retroviral Tercapai ►Akan Tercapai ▼Perlu Perhatian Khusus KEADAAN DAN KECENDERUNGAN Prevalensi kasus HIV di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2013 sebesar 0,43% dari total penduduk. Dalam rangka mengendalikan penyebaran HIV/AIDS perlu upaya penemuan kasus di masyarakat mengingat hal ini seperti “fenomena gunung es”. Penularan HIV dan AIDS disebabkan oleh hubungan seks yang beresiko dengan tidak menggunakan kondom dan pemakaian narkoba melalui jarum suntik. Proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS pada tahun 2011, laki-laki mencapai 14% dan perempuan mencapai 35%. Sedangkan Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan antiretroviral, saat ini sebesar 55,5%, dan ditargetkan pada tahun 2015 sebesar 95%. LAPORAN PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN MILLENIUM (MDG’S) TAHUN 2013 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNANA DAERAH (BAPPEDA) PROVINSI KALIMANTAN TENGAH VI-35 UPAYA PENTING UNTUK PERCEPATAN PENCAPAIAN TUJUAN Upaya yang ditempuh dalam rangka mengendalikan HIV dan AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya adalah : 1. Percepatan akses pelayanan kesehatan bagi penderita HIV AIDS melalui penggalangan kemitraan dengan sektor terkait dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. 2. Peningkatan mobilisasi masyarakat untuk meningkatkan upaya pencegahan, perawatan dan pengobatan HIV/AIDS pada populasi rentan melalui peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pemenuhan pelayanan kesehatan yang bermutu di semua unit pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Poliklinik Kesehatan Desa/PKD) serta unit pelayanan rujukan (Rumah Sakit). 3. Memperkuat sistem informasi dan sistem monitoring dan evaluasi melalui pemantapan komitmen dari penentu kebijakan dan lintas sektor dalam rangka akselerasi implementasi Peraturan Daerah dengan kegiatan. 4. Pengembangan Desa Siaga atau Kelurahan Siaga dalam rangka penanggulangan faktor resiko timbulnya masalah kesehatan di Provinsi Kalimantan Tengah melalui Penggalangan kemitraan dengan sektor terkait dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. 5. Memperkuat pelayanan dalam pencegahan, pengendalian dan pengobatan melalui revitalisasi posyandu dalam meningkatkan cakupan imunisasi 6. Pemantapan komitmen dari penentu kebijakan dan lintas sector melalui akselerasi implementasi Peraturan Daerah melalui optimalisasi pemberdayaan masyarakat dalam rangka pencapaian derajat kesehatan masyarakat. 7. Peningkatan cakupan DOTS pengembangan kompetensi, profesionalisme tenaga kesehatan dan pemenuhan pelayanan kesehatan yang bermutu di 70 semua unit pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Poliklinik Kesehatan Desa/ PKD) serta unit pelayanan rujukan (Rumah Sakit). 8. Peningkatan kapasitas dan kualitas penanganan TB melalui pemantapan komitmen dari penentu kebijakan dan lintas sektor melalui akselerasi implementasi Peraturan Daerah dengan kegiatan. LAPORAN PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN MILLENIUM (MDG’S) TAHUN 2013 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNANA DAERAH (BAPPEDA) PROVINSI KALIMANTAN TENGAH VI-36 TARGET 6C MENGENDALIKAN PENYEBARAN DAN MULAI MENURUNKAN JUMLAH KASUS BARU MALARIA DAN PENYAKIT UTAMA LAINNYA HINGGA TAHUN 2015 Targe Stat Sumbe t us r MDGs jumlah kasus baru Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Indikator 6.6 66.a 6.7 6.8 Acuan dasar Saat ini Angka kejadian dan tingkat kematian akibat malaria Angka kejadian malaria 4,68 1,75% ► Menurun (per 1,000 penduduk) (1990 (2010) ) Proporsi anak balita 16,50% ► Meningkat yang tidur dengan (2010) kelambu Rural: 13,5 berinsektisida % Proporsi anak balita 34,70% dengan demam yang (2010) diobati dengan obat anti malariaStatus yang tepat : ● Sudah Tercapai►Akan Tercapai▼Perlu Perhatian Khusus Kemenkes, 2010 Kemenkes, Riskesdas 2010 Kemenkes, Riskesdas 2010 KEADAAN DAN KECENDERUNGAN Angka kesakitan malaria yang diukur dengan Annual Parasite Incidence (API) di Kalimantan Tengah mengalami penurunan, yaitu 4,47 per 1000 penduduk pada tahun 2010 menurun menjadi 4,06 per 1000 penduduk pada tahun 2011, menurun menjadi 3,93 per 1000 penduduk pada tahun 2012 dan tahun 2013 API sebesar 2,38 per 1000 penduduk. Konsentrasi penderita malaria ditemukan di daerah endemis tinggi di Kabupaten Gunung Mas dan Kapuas. Namun, secara keseluruhan total desa dengan endemisitas tinggi di Kalimantan Tengah sebanyak 158 desa. Pulau Kalimantan ditargetkan mencapai eliminasi (bebas) malaria pada tahun 2020. Pada saat Puncak Peringatan Hari Malaria Sedunia ke 5 di Palangka Raya telah dideklarasikan Percepatan Eliminasi Malaria di Kalimantan Tengah pada tahun 2018. Sehingga telah disusun target pencapaian eliminasi malaria per tahun. Target ini sesuai capaian pada MDGs. Secara Nasional Target MDGs malaria pada tahun 2015 adalah API < 1 per 1000 penduduk. Pada pencapaian target MDGs di Kalimantan Tengah malaria dapat dikatakan perlu mendapatkan perhatian khusus karena penurunan API sejak tahun 2010 - 2013 cenderung MELAMBAT sehingga dikhawatirkan tidak dapat tercapai target pada tahun 2015. Sesuai dengan panduan kebijakan nasional program pengendalian malaria, maka terdapat lima langkah utama. 1. Penemuan penderita wajib melalui pemeriksaan laboratorium baik secara mikroskopis maupun dengan menggunakan RDT (Rapid Diagnostic Test). 2. Pengobatan penderita positif malaria dengan ACT (Artesunate Combination Teraphy) dan primakuin. 3. Perlindungan terhadap masyarakat dari gigitan nyamuk terutama populasi rentan yaitu ibu hamil dan balita di daerah endemis tinggi. 4. Kerjasama lintas sektor dalam forum Gebrak Malaria dan 5. Pemberdayaan masyarakat melalui Posmaldes yang dipadukan dengan desa siaga. Pada tahun 2013 capaian orang yang diperiksa sediaan darahnya sebesar 98 % dari malaria klinis yang ditemukan, pengobatan ACT 87 % dari positif hasil pemeriksaan sediaan darah. Meskipun beberapa indikator program sudah cukup baik capaiannya namun keterlibatan pelayanan sektor swasta belum memadai sehingga diduga masih banyak penderita yang tidak terdiagnosa dan terlaporkan. Untuk daerah dengan akses pelayanan yang rendah, pemberdayaan masyarakat merupakan solusi yang dipilih melalui POSMALDES (Pos Malaria Desa). Sebanyak 31 Posmaldes telah didirikan dan sebagian besar melalui kerjasama dengan LSM Perdhaki, MKKM dan Aisyiyah. UPAYA PENTING UNTUK PERCEPATAN PENCAPAIAN TUJUAN Di Kalimantan Tengah telah didapatkan 8 (delapan) spesies nyamuk Anopheles yaitu An. letifer, An. tesselatus, An. kochi, An. nigerimus, An. brevipalpis, An. maculatus, An. barbirostris dan An. vagus. Sebaran nyamuk penular malaria ini tersebar luas dengan berbagai bionomik. Masalah yang menjadi hambatan dalam program pengendalian malaria adalah banyaknya areal bekas penambangan yang menjadi tempat yang potensial untuk nyamuk berkembangbiak. Berdasarkan data kasus tahun 2013 sebagian besar malaria ditemukan pada pria dengan usia produktif (78%). Hasil penelusuran di lapangan menyatakan bahwa faktor resiko pekerjaan yaitu “menambang” merupakan risiko pekerjaan yang mendapatkan risiko terbesar penularan malaria. Sementara itu diduga masyarakat yang bekerja tambang tidak melakukan upaya preventif dengan maksimal. Upaya pencegahan malaria dengan mendistribusikan kelambu telah dilakukan secara intensif mulai tahun 2010 melalui massal di 7 (tujuh) kabupaten dan secara integrasi program kesehatan ibu dan imunisasi. Sampai sekarang upaya pencegahan ini terus dilakukan dengan mendistribusikan kelambu prioritas pada ibu hamil dan bayi yang telah mendapat imunisasi campak. Pada pertengahan tahun 2014 di desa endemis tinggi malaria akan didistribusikan kelambu secara massal. Dari review yang dilakukan WHO terhadap upaya penurunan kasus di Afrika dan beberapa literatur penelitian dinyatakan bahwa secara epidemiologi dengan cakupan penggunaan kelambu minimal 80% dapat menurunkan jumlah kasus sebesar 41–50 % dalam 1-3 tahun. Pada tahun 2013, di Kalteng telah dibagikan kelambu sebanyak 28.701 lembar kelambu berinsektisida lebih banyak kepada ibu hamil dan bayi imunisasi lengkap. TARGET 6C MENGENDALIKAN PENYEBARAN DAN MULAI MENURUNKAN JUMLAH KASUS BARU MALARIA DAN PENYAKIT UTAMA LAINNYA HINGGA TAHUN 2015 Target Acua Saat MDGs Statu Sumb n ini s er 2015 dasa Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Indikat or 6.9 6.9a 6.9b 6.9c 6.10 6.10a 6.10b Status Angka kejadian, prevalensi dan tingkat kematian akibat Tuberkulosis Angka kejadian 343 189 Tuberkulosis(semua (199 (2011) kasus/100.000 0) Tingkat prevalensi 443 289 Tuberkulosis(per (199 (2011) 100.000 penduduk) 0) Tingkat kematian karena 92 27 Tuberkulosis (199 (2011) 0) (per 100.000 penduduk) Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dan diobati dalam program DOTS Proporsi jumlah kasus 83,48 20,0 Tuberkulosis yang terdeteksi % (2011)* dalam program DOTS (2000) * 90,30 Proporsi kasus Tuberkulosis yang 87,0 diobati dan sembuh dalam % (2011)* program DOTS (2000) * : ● Sudah Tercapai ►Akan Tercapai ▼Perlu Perhatian Khusus Dihen tikan, mulai berku rang ● ● Laporan TB Global WHO, 2011 ● 70,0% ▼ 85,0% ▼ * Laporan TB Global WHO ** Laporan Kemenkes, 2011 KEADAAN DAN KECENDERUNGAN SITUASI CAPAIAN PROGRAM TB DI KALIMANTAN TENGAH Target CNR ada kenaikan 5-15% per tahun tahun 2012 tahun 2013 Capaian program pengendalian TB di Kalimantan Tengah menunjukkan peningkatan walaupun sedikit dimana pada tahun 2011 angka penemuan kasus TB (CDR) 31,7% dan pada tahun 2012 hanya mencapai 32% masih jauh dari target nasional yaitu 70%. Angka kesembuhan pada tahun 2011 mencapai 65% tahun 2012 mencapai 60%, untuk angka keberhasilan tahun 2011 mencapai 87,2% sedangkan tahun 2012 mengalami penurunan yaitu hanya 81%. Pengobatan TB memerlukan waktu sekitar 6-8 bulan sehingga untuk mendapatkan angka keberhasilan pengobatan Succes rate (SR) diperlukan waktu untuk evaluasi selama 9-12 bulan, maka pasien yang berobat pada tahun 2011 baru dapat dilaporkan pada tahun 2012 dan seterusnya. Succes rate (SR) pada tahun 2011 mencapai 87,2% dan tahun 2012 mencapai 81% mengalami penurunan. Rendahnya penemuan kasus TB disebabkan antara lain karena: 1. Penemuan kasus secara pasif dan hanya promosi yang aktif. 2. Belum optimalnya upaya dan komitmen penentu kebijakan dalam penganggaran untuk program pengendalian TB di kabupaten/kota (tidak semua daerah mengalokasi pendanaan untuk program TB). 3. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan pengendalian TB dengan pengobatan yang gratis melalui promosi kesehatan. 4. Belum semua RS, Klinik, maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya (swasta maupun pemerintah) yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah menerapkan strategi DOTS dalam penatalaksanaan pengendalian TB. 5. Belum optimalnya upaya dan layanan petugas kesehatan di beberapa RS maupun klinik (pemerintah dan swasta) dalam menerapkan penatalaksaan pengendalian TB dengan strategi DOTS 6. SDM (terutama analis laboratorium) dengan kuantitas dan kualitas yang belum standar. 7. Dokter praktek swasta (DPS), RUTAN, LAPAS, BAPAS, belum secara maksimal dilibatkan dalam penata laksanaan pengendalian TB dengan strategi DOTS. 8. Turn over petugas yang cukup tinggi di fasilitas layanan kesehatan Sementara itu rendahnya angka kesembuhan dan angka keberhasilan TB disebabkan karena: 1. Kurangnya kepatuhan (Adherence) pasien minum obat/pasien mangkir. 2. Kurangnya peran PMO (pengawas minum obat) saat kedatangan dan dalam pendampingan pasien minum obat 3. Letak geografis sulit dalam pasien menjangkau fasilitas layanan kesehatan 4. Status ekonomi pasien rendah sehingga sulit untuk berkunjung ke fasyankes yang jaraknya jangkauannya jauh. 5. Belum optimalnya komitmen petugas untuk tetap menjangkau dan melacak keberadaan pasien mangkir UPAYA PENTING UNTUK PERCEPATAN PENCAPAIAN TUJUAN Upaya aksi program yang sudah dilaksanakan dalam rangka menurunkan angka kesakitan TB pada tahun 2013 juga mendapat dukungan donor, dimana: hampir 90% didanai dari donor Global found sedangkan dukungan APBD hanya berkisar 10%. Kegiatan yang bersumber dari dana hibah Global found meliputi : a. Pelatihan bagi dokter, paramedis/ pengelola TB dan petugas laboratorium di Puskesmas kab/ kota b. Workshop TB-HIV bagi pengelola program di kab/ kota c. Pelatihan kolaborasi TB-HIV bagi dokter dan paramedis di Puskesmas kabupaten/kota d. Case finding untuk petugas e. Terbentuknya Pos TB Desa di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah f. Koordinasi dg RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya sebagai RS rujukan TB MDR Sedangkan kegiatan yang bersumber APBD dan APBN dilakukan dengan : 1. Melakukan kegiatan OJT (On The Job Training) di 14 kabupaten/ kota dengan sumber APBD dalam rangka memantau, mengevaluasi kegiatan penatalaksanaan pengendalian TB dengan strategi DOTS 2. Melakukan kegiatan pembinaan teknis TB bersumber APBN ke fasyankes kabupaten/ kota Pada tahun 2014 dilaksanakan kegiatan dan aksi program yaitu: 1. Dukungan Global Fund berupa : a. Menyediakan OAT lini ke dua untuk pasien TB MDR b. Pemeriksanaan biakan dan DST c. Pelayanan di fasyankes (biaya suntik, pemeriksaan dokter/ visit dokter, rawat inap kls 3, rawat jalan sesuai dengan tarif pelayanan RS dan Permenkes d. Laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya: laboratorium dan pemeriksaan foto toraks e. Training f. Penyediakan dana bantuan renovasi ruang rawat inap dan rawat jalan pasien TB MDR RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Dan RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya sudah memulai layanan pasien TB MDR sebanyak 1 (satu) pasien sebagai layanan pengobatan lanjutan dari RS Persahabatan Jakarta Timur sejak tanggal 3 Februari 2014 g. Pelatihan bagi petugas juru TB fasyankes h. Case finding bagi petugas i. Kegiatan Monev provinsi Rencana aksi program yang telah direncanakan di tahun 2015 untuk meningkatkan capaian target MDGs yaitu: 1. Advokasi untuk mendapatkan dukungan dan komitmen daerah (penentu kebijakan)dalam pengendalian TB di Kalimantan Tengah 2. Strategi pendekatan pelayanan sampai di tingkat paling bawah (Posyandu, Pustu) dengan cara penyuluhan, membuat spanduk, poster dan leaflet. 3. Mengupayakan alokasikan dana untuk kegiatan penemuan kasus TB atau kunjungan kontak serumah (penemuan kasus TB serumah dengan pasien TB) baik bersumber APBD I maupun APBD II. 2. Peningkatan sosialisasi program TB dengan penatalaksanaan strategi DOTS pada Dokter Praktek Swasta se Kalimantan Tengah. 3. Inisiasi MoU antara DPS se Kabupaten/ kota di Kalimantan Tengah dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/ kota 4. Peningkatan kapasitas SDM pelatihan pengendalian TB bagi dokter, juru TB dan petugas mikroskopis yang bertugas sebagai pengganti petugas yang dipindah tugaskan/ pensiun (purna tugas). 5. Mendorong pemerintah kabupaten/kota agar mengalokasikan pembiayaan untuk kegiatan On The Job Trainning (OJT) bagi petugas TB di kabupaten/ kota. 6. Mengadvokasi penyediaan dana untuk pelatihan tentang TB bagi petugas kesehatan di RUTAN, LAPAS dan BAPAS Kabupaten/ kota 7. Memperkuat keterlibatan RUTAN, LAPAS dan BAPAS dalam penatalaksanaan pengendalian TB dengan strategi DOTS 8. Mengalokasikan dana pada APBD I pengadaan logistik OAT lini pertama dan logistik non OAT.