Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya setiap perusahaan, baik perusahaan dagang, manufaktur, maupun jasa
mempunyai tujuan untuk memperoleh laba yang optimal. Laba merupakan selisih jumlah
yang dikeluarkan untuk membeli sumber daya yang menghasilkan produk atau jasa dengan
penerimaan dari hasil penjualan. Akan tetapi, di kalangan perusahaan, perkembangan dan
kemajuan dunia usaha telah membawa ke arah persaingan yang semakin ketat, sehingga usaha
untuk mencapai laba tidaklah mudah.
Dalam mencapai tujuan tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena setiap
perusahaan akan memaksa mereka untuk bersaing keras. Tidak salah bila dikatakan bahwa
perusahaan yang mengabaikan persaingan akan terdesak mundur bahkan akan gulung tikar.
Oleh karena itu, perusahaan harus tetap mengikuti perkembangaan di luar agar bisa bertahan,
minimal meningkatkan kemampuan bersaing, dan meningkatkan kinerja perusahaan sehingga
perusahaan dapat hidup terus dan berkembang (Bambang Riyanto, 2001 dalam Kustatik, 2009).
Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja perusahaan dapat di lihat melalui asset yang di
miliki perusahaan khususnya aktiva tetap yang di pergunakan dalam menunjang kegiatan
perusahaan. Peranan aktiva sangat besar dalam kegiatan operasional perusahaan.
Dana yang di tanamkan dalam aktiva mengalami proses perputaran. Harapan perusahaan
mengadakan investasi dalam bentuk aktiva adalah bahwa perusahaan akan dapat memperoleh
kembali dana yang di tanamkan dalam aktiva tersebut. Permasalahan yang terberat yang di
hadapi oleh perusahaan adalah penurunan kondisi aktiva tetap yang mengakibatkan
produktivitas asset tersebut semakin rendah, akibat dari segala permasalahan tersebut
perusahaan harus melakukan perencanaan dan pengawasan terhadap produktivitas kerja untuk
meningkatkan penjualan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan berdaya guna
tinggi. Agar aktiva dapat terus beroperasi sejalan dengan aktivitas operasi perusahaan seharihari, maka di perlukan suatu pengendalian terhadap penggunaan aktiva tersebut dalam bentuk
perputaran total aktiva.
Pengelolaan dan perputaran investasi terhadap aktiva perlu di lakukan. Dengan adanya
perputaran aktiva di harapkan akan menghasilkan tingkat pengembalian yang menguntungkan
bagi perusahaan atau dengan kata lain akan menghasilkan laba. Dari laba yang di peroleh maka
1

dapat di ukur efisiensi dan efektivitas perusahaan melalui perhitungan tingkat rentabilitas
ekonomi (ROA). Pengelolaan aktiva secara efektif dan efisien sangatlah penting bagi
perusahaan karena dapat meningkatkan tingkat rentabilitasnya.
Agar diperoleh laba sesuai dengan yang dikehendaki, perusahaan perlu menyusun perencanaan
laba yang baik. Hal tersebut ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk memprediksi
kondisi usaha pada masa yang akan datang yang penuh ketidakpastian, serta mengamati
kemungkinan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laba. Ada tiga faktor yang dapat
mempengaruhi laba perusahaan yaitu biaya, harga jual dan volume penjualan atau
produksi (Halim & Supomo, 2009).
Dari beberapa faktor tersebut, biaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besar
kecilnya laba yang diperoleh. Biaya merupakan komponen penting yang harus
dipertimbangkan dalam menentukan harga jual produk atau jasa. Berdasarkan fungsinya biaya
dapat dikelompokkan menjadi biaya produksi dan biaya non produksi. Biaya produksi
merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap
untuk dijual. Biaya ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan
biaya overhead pabrik (Mulyadi, 2012).
Biaya produksi tersebut menjadi penentu besarnya harga jual dari suatu produk atau jasa yang
nantinya akan mempengaruhi besarnya laba yang diperoleh. Seperti yang dikemukakan oleh
Mulyadi dalam bukunya akuntansi biaya, menyatakan bahwa biaya produksi berpengaruh
terhadap laba usaha. Hal ini pernah di katakan oleh peneliti terdahulu yang hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa biaya produksi mempunyai pengaruh korelasi yang kuat terhadap laba
bersih dan biaya produksi mempunyai pengaruh negatif terhadap laba bersih. Artinya semakin
meningkat biaya produksi maka akan semakin menurun laba bersih yang diperoleh atau
sebaliknya.
Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan produksi untuk
mengelola bahan baku menjadi produk jadi. Sudah tentu, perusahaan-perusahaan ini berusaha
untuk mencapai laba yang maksimum. Untuk memperoleh laba yang maksimum, setiap
perusahaan harus dapat meningkatkan kegiatan/volume produksinya. Di sisi lain, jika volume
produksi meningkat, maka akan berpengaruh pada biaya produksi, yang berarti biaya produksi
yang dibutuhkan untuk membuat produk akan lebih besar. Selain itu peningkatan biaya
produksi juga bisa diakibatkan oleh kenaikan harga bahan baku, kenaikan tarif dasar
listrik (TDL), upah minimum provinsi, seperti yang diberitakan di situs rri.co.id tanggal 2
2

maret 2013. Selain itu, kenaikan biaya produksi juga diberitakan dalam situs dunia
industri.com tanggal 13 januari 2013 yang menjelaskan bahwa biaya produksi naik 25%.
Berdasarkan fenomena tersebut, terlihat bahwa biaya produksi mengalami peningkatan dari
tahun sebelumnya. Kenaikan biaya produksi ini, dapat mengakibatkan laba yang diperoleh
menurun. Kenaikan biaya produksi pada perusahaan manufaktur tersebut tidak sepenuhnya
mengakibatkan laba bersih ikut menurun. Beberapa perusahaan tercatat mengalami
peningkatan laba bersih, seperti yang dialami oleh PT Kalbe Farma Tbk sebagaimana
diberitakan di Ciputra News tanggal 28 maret 2013.
Berdasarkan uraian di atas ditambah adanya penelitian terdahulu maka penulis tertarik untuk
meneliti mengenai: Pengaruh Biaya Produksi dan Perputaran Total Asset Terhadap
Perolehan Laba pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah
sebagai berikut :
1. Semua unsur-unsur biaya produksi (yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung,
dan biaya overhead pabrik) dan perputaran total asset pabrik belum tentu mempengaruhi
laba.
2. Besar kecilnya biaya-biaya produksi (yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung,
dan biaya overhead pabrik) dan besar kecilnya nilai perputaran total asset pabrik belum
tentu mempengaruhi laba.
3. Diantar ketiga unsur tersebut; biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik, manakah yang paling menonjol (positif/dominan) yang mempengaruhi
laba.
1.3 Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, penulis membatasi beberapa masalah sebagai
berikut :
1. Penulis melakukan penelitian terhadap semua unsur-unsur biaya produksi (yaitu biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik) dan menganalisis
perputaran total asset.
2. Penulis melakukan penelitian hanya untuk periode tertentu saja.

3. Penulis hanya meneliti berapa besar efek biaya produksi dalam mempengaruhi laba.
4. Penulis menganalisis perputaran total asset untuk mengetahui seberapa efektif dan efisien
penggunaan aktiva.
5. Penulis mengalisis manakah unsur biaya produksi tersebut yang sangat dominan
mempengaruhi laba.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, penulis akan merumuskan permasalahan sebagai
berikut :
1. Bagaimana pengaruh biaya produksi (bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead pabrik) dan perputaran total asset terhadap laba ?
2. Bagaimana nilai perputaran total asset perusahaan ?
3. Dari beberapa unsur biaya produksi tersebut manakah yang paling dominan mempengaruhi
laba ?
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis unsur-unsur biaya produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung, dan biaya overhead pabrik) terhadap laba.
2. Untuk pengetahui perputaran total asset dalam periode tertentu.
3. Untuk mengetahui diantara beberapa unsur biaya produksi tersebut manakah yang paling
dominan mempengaruhi laba.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang di peroleh dari hasil penelitian ini adalah :
1. Penelitian dimaksudkan untuk mengembangkan wawasan keilmuan dan sebagai sarana
penerapan ilmu pengetahuan yang selama ini penulis peroleh dari bangku kuliah terutama
mata kuliah akuntansi biaya.
2. Bagi Mahasiswa, yaitu mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mengetahui sejauh mana
teoriteori yang selama ini diperoleh di perguruan tinggi, khususnya mengenai analisis
mengaruh biaya produksi dan perputaran total asset terhadap laba.
3. Bagi Perusahaan, dari hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber masukan bagi
perusahaan untuk dapat mengetahui unsur (biaya produksi) manakah yang paling dominan
4

dan perputaran total asset dalam mengetahui berapa besar laba bersih perusahaan sehingga
perusahaan dapat menentukan strategi dimasa mendatang.
4. Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang tertarik mengangkat pemasalahan serupa.

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Biaya Produksi
Produksi adalah suatu proses pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Dalam banyak
industri, biaya bahan baku merupakan kegiatan penting dari seluruh biaya produksi.
Sebagian ahli ekonomi kemudian mengatakan bahwa biaya produksi adalah :
Keseluruhan biaya yang dikorbankan untuk menghasilkan produk hingga produk itu
sampai dipasar, atau sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian biaya angkut, biaya
penyimpanan di gudang, dan biaya iklan yang menunjang proses produksi hingga produk itu
sampai ketangan konsumen, dapat dikategorikan biaya produksi.
Sedangkan menurut Sukirno (2002:205) menyatakan bahwa biaya produksi adalah :
Sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh
faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan
barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut.
William K.Carter (2009:40) mengemukakan bahwa :
Biaya produksi biasanya didefinisikan sebagai jumlah dari tiga elemen biaya: bahan
baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.
Berdasarkan uraian di atas, maka biaya produksi adalah :
Keseluruhan biaya yang secara langsung dikorbankan (dikeluarkan) perusahaan untuk
memperoleh faktor-faktor produksi seperti modal dalam bentuk bahan baku, dan tenaga kerja
dalam bentuk tenaga kerja langsung yang akan digunakan untuk menciptakan bahan jadi.
2.1.1.1 Unsur Biaya Produksi
Menurut William K. Carter (2009:40) yang dapat mempengaruhi kenaikan dan penuruanan
biaya produksi terdiri dari : (1) jumlah biaya bahan baku, (2) biaya tenaga kerja langsung dan
(3) biaya overhead pabrik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari penjelasan dibawah ini.

1. Biaya Bahan Baku.


Bahan baku merupakan keseluruhan bahan yang mendukung atas produk jadi yang akan
diproduksi.
Menurut Munandar (2001:25) Pengertian biaya bahan baku adalah :
Biaya yang dikeluarkan (direct material), merupakan biaya yang terdiri dari semua
bahan yang dikerjakan dalam proses produksi, untuk diubah menjadi barang lain yang nantinya
akan dijual.
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Menurut Mulyadi (2005:343) dalam buku Akuntansi Biaya pengertian biaya tenga kerja
langsung adalah :
Merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah
produk. Biaya tenaga kerja langsung adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga
kerja manusia.
3. Biaya Overhead Pabrik.
Menurut Munandar (2001:26) mengemukakan bahwa biaya overhead pabrik adalah :
Semua biaya yang terdapat serta terjadi dalam lingkungan pabrik, tetapi tidak secara
langsung berhubungan dengan kegiatan produksi, yaitu proses mengubah bahan mentah
menjadi bahan yang siap jual.
Berdasarkan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa objek pengeluarannya biaya
produksi terbagi atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
Kategori yang tergolong kedalam biaya overhead pabrik meliputi berbagai item yeng yang
luas, banyak input yang selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung yang diperlukan
untuk membuat suatu produk, misalnya; bahan langsung yang merupakan bagian yang tidak
signifikan dari produk jadi yang umumnya dimasukan dalam kategori overhead.
2.1.1.2 Komponen Biaya Produksi
Menurut Mulyadi (2005:331), biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut :
1. Bahan baku atau bahan dasar, termasuk bahan setengah jadi.
2. Bahan-bahan pembantu atau bahan penolong.
3. Upah tenaga kerja, dari tenaga kerja kuli hingga top manajer.
7

4. Penyusutan peralatan produksi.


5. Bunga modal.
6. Sewa (gedung atau peralatan yang lain).
7. Biaya penunjang, seperti biaya transportasi atau angkutan.
8. Admisnitrasi, biaya listrik dan telepon, pemeliharaan peralatan produksi.
9. Pemeliharaan lingkungan perusahaan, biaya penelitian (laboratorium),
10. Biaya keamanan, dan asuransi.
11. Biaya pemasaran, seperti biaya penelitian dan analisis pasar produk.
12. Biaya angkutan dan pengiriman, dan biaya reklame atau iklan.
13. Pajak perusahaan.
Dari komponen biaya produksi diatas dapat disimpulkan bahwa unsu-runsur produksi meliputi
bahan baku, bahan-bahan pembantu atau penolong, upah tenaga kerja, penyusutan peralatan
produksi, biaya administrasi dan umum, dan pajak perusahaan.
2.1.1.3 Macam-macam biaya produksi
Menurut Haryanto (2002:22), biaya produksi secara lebih luas dalam suatu perusahaan dapat
dibedakan menjadi :
1. Biaya Tetap (Fixed Cost).
2. Biaya Variabel (Variable Cost).
3. Biaya Total (Total Cost).
4. Biaya Rata-rata (Average Cost).
5. Biaya Marginal (Marginal Cost).
Dari biaya-biaya diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Biaya Tetap (Fixed Cost).
Biaya tetap merupakan biaya yang dalam kurun waktu tertentu jumlahnya tetap dan tidak
berubah. Biaya ini tidak tergantung dari banyak sedikitnya barang atau output yang dihasilkan.
Misalnya biaya gaji pegawai tetap, manajer, sewa tanah, penyusutan mesin, bunga pinjaman
bank. Biaya tetap ini dibedakan menjadi dua macam yaitu :
A. Biaya Tetap Total (Total Fixed Cost).
Biaya tetap total merupakan jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam jumlah tetap
dalam jangka waktu tertentu.
8

B. Biaya Tetap Rata-rata (Average Fixed Cost).


Biaya tetap rata-rata merupakan biaya tetap yang dibebankan pada setiap satuan output yang
dihasilkan.
2. Biaya Variabel (Variable Cost).
Biaya variabel merupakan pengeluaran yang jumlahnya tidak tetap atau berubah-ubah sesuai
dengan jumlah output yang dihasilkan. Dalam hal ini, semakin banyak jumlah produk yang
dihasilkan, semakin besar pula biaya variabelnya. Misalnya biaya bahan baku, bahan
pembantu, bahan bakar, dan upah tenaga kerja langsung. Biaya variabel ini dibedakan menjadi
dua macam yaitu :
a. Biaya Variabel Total (Total Variable Cost).
Biaya variabel total merupakan seluruh biaya yang harus dikeluarkan selama masa produksi
output dalam jumlah tertentu.
b. Biaya Variabel Rata-rata (Average Variable Cost).
Biaya Variabel Rata-rata merupakan biaya variabel yang dikeluarkan untuk setiap unit output.
3. Biaya Total (Total Cost).
Biaya total merupakan jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi semua
output, baik barang maupun jasa. Biaya ini dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya tetap
total dengan biaya variabel total.
4. Biaya Rata-rata (Average Cost).
Biaya rata-rata merupakan biaya total yang dikeluarkan untuk setiap unit output.
5. Biaya Marginal (Marginal Cost).
Biaya marginal merupakan kenaikan dari biaya total yang diakibatkan oleh diproduksinya
tambahan satu unit output. Mengaitkan biaya dengan tahapan proses produksi menghasilkan
penggolongan biaya produksi dan non produksi, berdasarkan Modul Akuntansi Manajemen
dan Manajemen Keuangan USAP Review yang diterbitkan oleh Akuntansi Indonesia (IAI)
menyatakan bahwa biaya produksi yaitu biaya yang digunakan untuk memproduksi suatu
barang atau menyediakan jasa terjadi dari material, tenaga kerja, dan biaya produksi tidak
langsung. Biaya yang berkaitan dengan produk dibagi menjadi dua bagian yaitu :

A. Biaya produksi langsung.


Yaitu biaya yang merupakan komponen utama dari dari pembuatan atau menyelesaikan suatu
produk atau biaya yang membentuk bagian integral dari produk sehingga dapat dengan mudah
diidentifikasikan dalam perhitungan biaya produksi, contohnya biaya produksi langsung adalah
material langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
B. Biaya produksi tidak langsung (Overhead).
Yaitu biaya-biaya produksi lainnya (selain material langsung dan tenaga kerja langsung) yang
digunakan untuk menyelesaikan suatu produk tetapi pemakainnya sedikit (tidak material) atau
biaya yang tidak dapat dengan mudah diidenifikasikan secara langsung pada produk yang
dihasilkan, contoh biaya produksi tidak langsung adalah biaya depresiasi gedung peralatan dan
lain-lain.
Berdasarkan beberapa uraian di atas,maka dapat disimpulkan bahwa biaya adalah sesuatu yang
diukur dalam satuan uang yang dapat digunakan untuk memperoleh barang atau jasa yang
bermanfaat dan digunakan untuk mencapai tujuan.
2.1.2 Perputaran Total Aktiva
Menurut Munawir (2002:30) pengertian aktiva adalah :
Sarana atau sumber daya ekonomik yang dimiliki oleh suatu kesatuan usaha atau
perusahaan yang hargan perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif.
Sedangkan Menurut Thompson learning yang diterjemahkan oleh skoussen dkk (2001:131)
pengertian aktiva adalah :
Kemungkinan keuntungan ekonomi di masa depan yang diperoleh atau dikontrol oleh
entitas tertentu sebagai hasil dari transaksi atau kejadian dimasa lalu.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2004:16.2) adalah :
Aktiva adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan
dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahan, tidak dimaksudkan untuk
dijual dalam rangka kegiatan normal perusahan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun.

10

2.1.2.1 Konsep Perputaran Total Aktiva


Menurut Sartono Agus (2001:132) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Keuangan Teori
dan Akuntansi, Rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio) adalah sebagai
berikut :
Rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio) menunjukan bagaimana
efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dan
mendapatkan laba. Tingkat perputaran ini juga ditentukan oleh perputaran elemen aktiva itu
sendiri.
Sedangkan menurut Husnan dan Pudjiastuti (2006:126) dalam bukunya yang berjudul Dasardasar Manajemen Keuangan, menyatakan bahwa :
Rasio ini mengukur seberapa banyak penjualan bisa diciptakan dari setiap rupiah
aktiva yang dimiliki.
Menurut Syafri Sofyan (2008:309) dalam bukunya yang berjudul Analisis Kritis Laporan
Keuangan, mengemukakan bahwa :
Rasio perputaran total aktiva (assets turover) menunjukan perputaran total aktiva
diukur dari volume penjualan dengan kata lain kemampuan semua aktiva menciptakan
penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.
Rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio), dapat diukur dengan rumus sebagai
berikut :
ATR =

Penjualan
Total Asset

*Sumber : Safri Sofyan (2008:309)

2.1.2.2 Faktor-Faktor Perputaran Total Aktiva


A) Aktiva
Berdasarkan pengertian dapat disimpulkan bahwa aktiva adalah sarana yang dimiliki oleh
perusahaan yang harus dikelola dengan baik agar mendapat keuntungan dimasa depan.
dimasukkan dalam neraca dengan saldo normal debit. Aktiva biasanya dikelompokkan menjadi
beberapa kategori, antara lain :

11

1. Aktiva lancar.
Aktiva lancar (Current asset) dalam akuntansi adalah jenis aktiva yang dapat digunakan dalam
jangka waktu dekat, biasanya satu tahun. Contoh aktiva lancar antara lain adalah kas, piutang,
investasi jangka pendek, persediaan, dan beban dibayar di muka. Pada suatu neraca, aktiva
biasanya dikelompokkan menjadi aktiva lancar dan aktiva tidak lancar. Perbandingan antara
aktiva lancar dan kewajiban lancar disebut sebagai rasio lancar. Nilai ini sering digunakan
sebagai tolak ukur likuiditas suatu perusahaan, yaitu kemampuan perusahaan untuk dapat
memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
2. Investasi jangka panjang.
3. Aktiva tetap.
Aktiva tetap dalam akuntansi adalah aktiva berwujud yang memiliki umur lebih dari satu tahun
dan tidak mudah diubah menjadi kas. Jenis aktiva tidak lancar ini biasanya dibeli untuk
digunakan untuk operasi dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali. Contoh aktiva tetap
antara lain adalah properti, bangunan, pabrik, alat-alat produksi, mesin, kendaraan bermotor,
furnitur, perlengkapan kantor, komputer, dan lain-lain. Aktiva tetap biasanya memperoleh
keringanan dalam perlakuan pajak. Kecuali tanah atau lahan, aktiva tetap merupakan subyek
dari depresiasi atau penyusutan.
4. Aktiva tidak berwujud.
Aktiva tidak berwujud (Intangible asset) adalah jenis aktiva yang tidak memiliki wujud fisik.
Jenis utama aktiva tidak berwujud adalah hak cipta, paten, merek dagang, rahasia dagang, dan
goodwill. Aset jenis ini mempunyai umur lebih dari satu tahun (aktiva tidak lancar) dan dapat
diamortisasi selama periode pemanfaatannya, yang biasanya tidak lebih dari 40 tahun.
5. Aktiva pajak tangguhan.
6. Aktiva lain.
B) Penjualan
Penjualan merupakan salah satu fungsi pemasaran yang sangat penting bagi perusahaan dalam
mencapai sebuah tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba untuk menjaga kelangsungan hidup
perusahaan. Beberapa para ahli menegemukakan tentang definisi penjualan antara lain.

12

Menurut M. Narafin (2006:60), menyatakan bahwa :


Penjualan adalah proses menjual, padahal yang dimaksud penjualan dalam laporan
laba-rugi adalah hasil menjual atau hasil penjualan (seles) atau jualan.
Adapun menurut Warren/Reeve/Fess yang diterjemahkan oleh Aria Faramita dkk (2006:300),
menyatakan bahwa :
Penjualan adalah jumlah yang dibebankan kepada pelanggan untuk barang dagang
yang dijual, baik secara tunai maupun kredit.
Sedangkan menurut Kusnadi (2009:300), menyatakan bahwa :
Penjualan (sales) adalah sejumlah uang yang dibebankan kepada pembeli atas barang
atau jasa yang dijual.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
Penjualan adalah suatu proses pembuatan dan cara untuk mempengaruhi pribadi agar
terjadi pembelian (penyerahan) barang atau jasa yang ditawarkan berdasarkan harga yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak yang terkait baik dibayar secara tunai maupun kredit.
2.1.3 Laba Bersih
2.1.3.1 Pengertian Laba Bersih
Penghasilan bersih (laba) seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi
ukuran yang lain seperti imbalan investasi atau penghasilan per saham. Adapun unsur yang
langsung berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih (laba) adalah penghasilan dan
beban.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2008: 13) mendefinisikan penghasilan dan beban sebagai
berikut :
1) Pengahasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi
dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Pengahasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gains).
Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan sedangkan keuntungan (laba)
penghasilan yang mungkin timbul atau tidak dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan biasa.
Laba (profit) merupakan selisih bersih antara pendapatan dengan pengeluaran.
13

2) Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi
dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang tidak
menyangkut pembagian kepada penanam modal.
Sedangkan menurut Baridwan Zaki dalam bukunya Intermediate Accounting (2000:3)
menyatakan bahwa :
Gains (laba) adalah kenaikan modal yang berasal dari transaksi sampingan transaksi
atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi yang
mempengaruhi badan usaha selama satu periode.
Secara umum laba diperoleh setelah pendapatan dikurangi biaya, seperti yang dikemukakan
oleh Soemarso (2005:230), sebagai berikut :
Laba adalah selisih lebih pendapatan atas beban sehubungan dengan kegiatan usaha.
Menurut Carter William K. (2008:129) dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Biaya,
menyatakan bahwa :
Tingkat laba yang diperoleh perusahaan dapat ditentukan oleh volume produksi yang
dihasilkan, semakin banyak volume produksi yang dicapai maka semakin tinggi pula biaya
produksi. Semakin banyak volume produksi yang dicapai maka semakin tinggi pula laba yang
diperoleh.
Apabila pendapatan melebihi biaya yang dikeluarkan berarti perusahaan mendapatkan laba dan
sebaliknya jika biaya melebihi pendapatan berarti perusahaan menderita rugi. Oleh karena itu,
laba adalah hasil pengurangan antara pendapatan dengan biaya, maka manajemen perusahaan
harus dapat menentukan jumlah pendapatan yang akan dihasilkan dan jumlah biaya yang akan
terjadi dalam periode yang bersangkutan.
2.1.3.2 Faktor Yang Mempengaruhi Laba
Besarnya laba yang diperoleh perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai
berikut (Halim & Supomo, 2009: 49) :
1) Biaya
Biaya yang timbul dari perolehan atau mengolah suatu produk atau jasa akan mempengaruhi
harga jual produk yang bersangkutan.

14

2) Harga Jual
Harga jual produk atau jasa akan mempengaruhi besarnya volume penjualan produk atau jasa
yang bersangkutan.
3) Volume Penjualan dan Produksi
Besarnya volume penjualan berpengruh terhadap volume produksi produk atau jasa tersebut,
selanjutnya volume produksi akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi.
2.1.3.3 Kegunaan Laba
Di dalam Standar Akuntansi Keuangan (2004) PSAK No. 25 disebutkan sebagai berikut :
Laporan laba rugi merupakan laporan utama untuk melaporkan kinerja dari suatu perusahaan
selama suatu periode tertentu. Informasi tentang kinerja perusahaan terutama tentang
profitabilitas. Dibuttuhkan untuk mengambil keputusan tentang sumber ekonomi yang akan
dikelola oleh suatu perusahaan dimasa yang akan datang. Informasi tersebut juga sering kali
digunakan untuk memperkirakan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan kas dan
aktiva yang disamakan dengan kas di masa yang akan datang. Informasi tentang kemungkinan
perubahan kinerja juga penting dalam hal ini.
2.1.3.4 Jenis-jenis Laba
Menurut Tuanakotta Theodorus M. (2002:113) dalam buku Teori Akuntansi mengemukakan
jenis-jenis laba dalam hubungannya dengan perhitungan yaitu:
1) Laba Kotor (Gross Profit), yaitu selisih antara penjualan bersih dengan harga pokok
penjualan, disebut laba kotor karena jumlah ini masih harus dikurangi dengan biaya-biaya
usaha.
2) Laba dari operasi , yaitu adalah selisih antara laba kotor dengan total beban operasi. Atau
dengan kata lain selisih antara penjualan dengan seluruh biaya atau beban operasi dan
bukan laba semata-mata yang berasal dari kegiatan utama perusahaan.
3) Laba bersih adalah angka terakhir dalam perhitungan lab rugi dimana untuk mencari laba
operasi ditambah pendapatan lain-lain dikurangi dengan beban lain-lain.

15

2.1.4 Hasil Penelitian Terdahulu


Penelitian terdahulu ini akan dijadikan bahan acuan atau pembanding dalam penelitian ini agar
dapat membandingakan keoriginalitasan penelitian. Adapun penelitian terdahulu yang
berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No

Nama Peneliti

Judul Jurnal

Hasil
Hasil penelitian menunjukkan

Pengaruh Efisiensi

Nakman Harahap dan

Biaya Produksi

Dwi Kumala Vera

Terhadap Laba Bersih

(ISSN 2008).

(Studi Kasus PT
Perkebunan Nusantara
III Persero Medan)

bahwa variabel efisiensi biaya


tenaga kerja langsung dan
efisiensi biaya overhead pabrik
memiliki hubungan yang positif
dan signifikan terhadap laba
bersih.
Berdasarkan hasil penelitian
mengenai pengaruh biaya
produksi dan penjualan terhadap
laba pada PDAM Tirtanadi,
maka dapat di ambil
kesimpulan:

Analisis Pengaruh biaya

1. Variabel biaya sumber

Usman Kusumah dan

produksi dan penjualan

produksi air bersih

Amalia Susanti (ISSN

Air bersih terhadap laba

berpengaruh negatf dan

2009)

Bersih (Studi Kasus PT

signifikan terhadap laba.

PDAM Tirtanadi).

2. Variabel biaya pengolahan


air bersih berpengaruh
negatif dan signifikan
terhadap laba.
3. Variabel penjualan air
bersih berpengaruh positif
dan signifikan terhadap laba.

16

Hasil penelitian menunjukan


Pengaruh Aset dan
Iskandar Rusli
3
(ISSN 2009).

Manajemen Inventory
terhadap Manajemen
Laba.

bahwa quick ratio, inventory


turnover, assets turnover, dan
returns on assets secara parsial
mempunyai pengaruh positif
dan signifikan mempengaruhi
EBIT.

Hubungan CP V (Cost

Jadi terlihat bahwa antara

Widaryati

Volume Profit) dan

perencanaan, analisis CVP dan

(ISSN 2006).

anggaran dalam

anggaran mempunyai hubungan

perencanaan usaha.

yang erat.
Collectively, our results provide

Mohsen Dastgir and

Comprehensive Income

Ali Saeedi Velashani

and Net Income as

(ISSN 2008).

Measures of Firm.

some evidence, although not


strong, that comprehensive
income adjustments improve
ability of income for reflecting
firm performance.

The Financial

Total assets turnover, and return

Characteristics of U.S.

on assets has greater influence

and E.U. Electronic and

on equity returns compared with

Ilhan Meric Jesse H,

Electrical Equipment

financial leverage. Total assets

Harper, Benjamin H.

Manufacturing Firms

turnover is more effective in

Eichhorn, Charles W.

and the Determinants of

boosting asset returns in EU

McCall and Gulser

Asset and Equity

firms than in U.S. firms, and

Meric (ISSN 2008).

Returns.

financial leverage is more


effective in boosting equity
returns in EU firms than in U.S.
firms.

Muhammad Bashir
7

Khan, Imran Sharif


Chaudhry and
Muhammad

Cost-Benefit and The


Analysis of Cotton
Production Processing
by Stakeholders: Case
of Mutlan and

It has been identified that


spinners and ginners have an
incentive in the shape of profit
to raise their production.

17

Hanif Akhtar (ISSN

Bahawalpur Regions.

2011).
We find evidence that suspect
Yasin S Fazeli and
8

Habib A Rasouli
(ISSN 2011).

Real Earnings

firmyears engage in real

Management and the

earnings management, have

Value Relevance of

unusually low cash flow from

Earnings.

operations and high production


costs.

2.2 Kerangka Pemikiran


2.2.1 Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba bersih
Dengan banyaknya perusahaan yang berdiri, baik perusahaan besar, perusahaan menengah,
maupun perusahaan kecil menimbulkan persaingan yang dihadapi perusahaan semakin ketat.
Oleh karena itu setiap pengusaha berlomba-lomba untuk menjadikan produknya lebih unggul
dari produk yang dihasilkan oleh pesaing, baik dalam hal mutu, harga maupun bagian pasar
yang dikuasai. Manajer harus melakukan berbagai macam usaha untuk meminimumkan biaya
yang dibutuhkan agar dapat menghasilkan dan mencapai manfaat untuk saat ini dan masa yang
akan datang. Mengurangi biaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan berarti perusahaan
akan menjadi lebih efisien.
Menurut Mulyadi (2005:11) dalam bukunya berjudul Akuntansi Biaya menyatakan bahwa
biaya produksi berpengaruh terhadap laba usaha adalah sebagai berikut :
Biaya produksi merupakan suatu sumber ekonomi yang dikorbankan untuk
menghasilkan keluaran, nilai keluaran diharapkan lebih besar daripada masukan yang
dikorbankan untuk menghasilkan keluaran tersebut sehingga kegiatan organisasi dapat
menghasilkan laba atau sisa hasil usaha.
Menurut Carter William (2008:129) dalam bukunya Akuntansi Biaya menyatakan bahwa :
Tingkat laba yang diperoleh perusahaan dapat ditentukan oleh volume produksi yang
dihasilkan, semakin banyak volume produksi yang dicapai maka semakin tinggi pula biaya
produksi. Semakin banyak volume produksi yang dicapai maka semakin tinggi pula laba yang
diperoleh.

18

Menurut Nakman Harap (2008) dalam jurnalnya menyatakan bahwa :


Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel biaya produksi yang terdiri dari efisiensi
biaya bahan baku, efisiensi biaya tenaga kerja langsung dan efisiensi biaya overhead pabrik
berpengaruh positif dan signifikan terhadap laba bersih.
Menurut Khan, Chaudhry dan Akhtar (ISSN 2011) dalam jurnalnya menyatakan bahwa :
It has been identified that spinners and ginners have an incentive in the shape of profit
to raise their production.
Dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa biaya tenaga kerja diidentifikasikan insentif
dengan besarnya volume produksi sehingga dapat memaksimalkan keuntungan.
2.2.2 Pengaruh Rasio Perputaran Aktiva Terhadap Laba Bersih
Analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan
berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan
dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan
trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan risiko dan peluang yang melekat
pada perusahaan yang bersangkutan. Makna dan kegunaan rasio keuangan dalam praktek bisnis
pada kenyataannya bersifat subjektif tergantung kepada untuk apa suatu analisis dilakukan dan
dalam konteks apa analisis tersebut diaplikasikan (Helfert,1991).
Menurut Sartono Agus (2008:120) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Keuangan Teori
dan Akuntansi, menyatakan bahwa :
Rasio perputaran total aktiva (assets turover) merupakan rasio keuangan yang
menunjukan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk
menciptakan penjualan dan mendapatkan laba.
Menurut Syafri Sofyan (2008:309) dalam bukunya yang berjudul Analisis Kritis Laporan
Keuangan, mengemukakan bahwa :
Rasio perputaran total aktiva (assets turover) menunjukan perputaran total aktiva
diukur dari volume penjualan dengan kata lain kemampuan semua aktiva menciptakan
penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.

19

Menurut Iskandar (2008) dalam jurnalnya menyatakan bahwa :


Hasil penelitian menunjukan bahwa quick ratio, inventory turnover, assets turnover,
dan returns on assets secara parsial mempunyai pengaruh positif dan signifikan mempengaruhi
EBIT.
Berdasarkan uraian keterkaitan antar variabel diatas tampak jelas bahwa biaya produksi dan
rasio perputaran total aktiva (assets turover) berpengaruh terhadap tinggi rendahnya laba pada
perusahaan.
Adapun berdasarkan uraian tersebut penulis menuangkan kerangka pemikirannya dalam
bentuk bagan kerangka pemikiran sebagai berikut :

Perusahaan

Laporan Keuangan

Neraca

Laporan Laba Rugi

Analisis Laporan Keuangan

Perputaran Total Aktiva

Biaya Produksi

Laba Bersih

HIPOTESIS
Biaya Produksi dan Perputaran Total Aktiva Berpengaruh
terhadap Laba Bersih

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran


20

2.3 Hipotesis
Kata hipotesis berasal dari kata hipo yang artinya lemah dan tesis berarti pernyataan. Dengan
demikian hipotesis berarti pernyataan yang lemah, di sebut sebut demikian karna masih berupa
dugaan yang belum teruji kebenarannya.
Menurut Sugiyono (2009:64), menyatakan bahwa :
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
dimana rumusam masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan.
Berdasarkan penjelasan di atas dan berdasarkan kerangka pemikiran yang ada, maka peneliti
mencoba merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
Biaya produksi dan perputaran total aktiva secara parsial dan simultan berpengaruh
terhadap laba bersih pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
Oleh karena itu penulis merumuskan bahwa variabel yang ada saling berkaitan dan penulis
membuat hipotesis yaitu berpengaruh signifikan antara biaya produksi dan perputaran total
aktiva terhadap laba bersih baik secara parsial maupun simultan.

21

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian yang
yang dilakukan adalah analisis kausal. Hal ini sesuai dengan pendapat (Arikunto 2006:12)
yang mengemukakan penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut
menguakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan hasilnya, sedangkan menurut pendapat Sekaran (2006), analisis kausal adalah
analisis yang dilakukan untuk mendeteksi hubungan sebab akibat diantara dua atau lebih
variabel.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
1) Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan desember 2014. Sebelum penelitian dimulai, peneliti
mengawali dengan observasi untuk menganalisis laporan keuangan, laporan biaya produksi
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
2) Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Indofood Sukses Makmur Tbk Sudirman Plaza Indofood
Tower Lantai 27 Jalan Jenderal Sudirman, Kavling 76-78 Jakarta Selatan. Tempat
penelitian ini dipilih karena berawal dari studi pendahuluan dan karena tempat ini salah satu
perusahaan manufaktur yang besar dalam memproduksi makanan ringan, makanan yang
berbahan dasar tepung, dll, dan juga sudah terdaftar di BEI. Peneliti akan menganalisis laporan
keuangan perusahaan tersebut.
3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi Penelitian
Menurut Arikunto (2006:130) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam
penelitian ini adalah laporan tahunan keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
Pemilihan laporan keuangan sebagai subjek penelitian didasarkan pada beberapa
pertimbangan, antara lain :

22

a) Laporan Keuangan memuat semua Informasi keuangan dari laporan posisi keuangan
sampai dengan catatan atas laporan keuangan.
b) Laporan Keuangan memuat laporan laba kotor sebelum pajak dan laba bersih setelah pajak.
c) Laporan Keangan juga mencatat beban tetap dan beban variabel.
2. Sampel Penelitian
Menurut Arikunto (2006:131) sampel adalah sebagian atau wakil dari jumlah populasi yang
diteliti. Sampel penelitian yang

digunakan adalah sampel bertujuan. Sampel bertujuan

dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah
tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Jadi penelitian ini menggunakan laporan posisi
keuangan (neraca) dan laporan laba rugi sebagai sampel populasi.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara untuk memperoleh data yang diperlukan dalam
penelitian. Untuk memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan tersebut dilakukan
beberapa teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah : .
1) Telaah Dokumen
Telaah dokumentasi bertujuan untuk mengetahui data dari subjek penelitian. Telaah ini
digunakan untuk mencari atau memperoleh data berupa catatan, laporan dan dokumen yang
berkaitan dengan variabel yang diteliti. Dokumen tersebut berupa laporan realisasi dan
anggaran biaya produksi serta laporan laba rugi PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
3.5 Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul, kemudian penulis melakukan analisis data atau pengolahan data.
Analisis data ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan
dalam rumusan masalah. Adapun langkah-langkah atau teknik pengolahan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Menghitung biaya produksi dengan rumus sebagai berikut :
Biaya bahan baku + Biaya tenaga kerja langsung + Biaya Overhead pabrik = Biaya
Produksi

23

2) Menghitung perputaran total asset sebagai berikut :


ATR =

Penjualan
Total Asset

3) Menghitung laba bersih dengan rumus sebagai berikut :


Laba bersih = Pendapatan Beban
4) Uji Linieritas Regresi.
Untuk mengetahui apakah data yang digunakan bersifat linear atau tidak maka digunakan uji
liniearitas. Menurut Budi (2005:244) menayatakan bahwa :
Setiap persamaan regresi linear, hubungan antara variabel independen dan dependen
harus linear.
Untuk itu peneliti menggunakan Aplikasi SPSS versi 13 dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
1. Masuk Program SPSS.
2. Klik variabel view pada SPSS data editor.
3. Pada kolom Name baris pertama ketik X1, kolom Name baris kedua ketik X2 untuk kolom
Name baris ketiga ketik Y.
4. Pada kolom Decimals angka ganti menjadi 0 untuk variabel X1, X2 dan Y dan ketikan
nama variabel pada kolom Label.
5. Pada kolom Label baris pertama (X1) beri label nama Biaya Produksi, pada kolom Label
baris kedua (X2) beri label nama Perputaran Total Asset, dan pada kolom Label baris
ketiga (Y) beri label nama nama Laba Bersih.
6. Buka data view pada SPSS data editor.
7. Terlihat kolom X1, X2 dan Y, ketikan data sesuai dengan variabelnya.
8. Klik Analyze Compare Means Means.
9. Klik variabel terikat (Y) dan masukkan ke kotak Dependen List, kemudian klik variabel
bebas (X) dan masukkan ke Independen List.
10. Klik Options, pada Statistics for First Layer, kemudian ceklis () pada Text for Linearity,
kemudian klik Continue.
11. Klik Ok.

24

Pengujian pada SPSS dengan menggunakan Test for Linearity dengan taraf signifikansi 0,05.
Tiga variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linear bila nilai Deviation from linearitynya lebih dari 0,05 dan Signifikansi Linearitas-nya kurang dari 0,05.
5) Analisis Regresi Linier Berganda.
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh biaya
produksi dan perputaran aseet terhadap laba bersih. Persamaan regresi linier berganda adalah
sebagai berikut :
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + e
Keterangan :
Y = Laba Bersih.
X1 = Biaya Produksi.
X2= Perputaran Total Asset.
b0 b1 b2 = Koefisien Regresi.
Dalam penelitian ini, nilai-nilai dalam persamaan tersebut dicari melalui program SPSS versi
13 dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Masuk Program SPSS.
2. Klik variabel view pada SPSS data editor.
3. Pada kolom Name baris pertama ketik X1, kolom Name baris kedua ketik X2 untuk kolom
Name baris ketiga ketik Y.
4. Pada kolom Decimals angka ganti menjadi 0 untuk variabel X1, X2 dan Y dan ketikan
nama variabel pada kolom Label.
5. Pada kolom Label baris pertama (X1) beri label nama Biaya Produksi, pada kolom Label
baris kedua (X2) beri label nama Perputaran Total Asset, dan pada kolom Label baris
ketiga (Y) beri label nama nama Laba Bersih.
6. Buka data view pada SPSS data editor.
7. Terlihat kolom X1, X2 dan Y, ketikan data sesuai dengan variabelnya.
8. Klik Analyze Regression Linier.
9. Klik variabel terikat (Y) dan masukkan ke kotak Dependen List, kemudian klik variabel
bebas (X) dan masukkan ke Independen List.

25

10. Klik button Statistics, kemudian ceklis () pada Model Fit, R Squared Change, dan Part
and Partial Correlations kemudian klik Continue.
11. Klik Ok.
Pengujian pada SPSS dengan menggunakan Model Fit, R Squared Change, dan Part and
Partial Correlations dengan taraf signifikansi 0,05. Tiga variabel dikatakan mempunyai
hubungan yang Signifikan jika kurang dari 0,05.
3.6 Definisi dan Operasionalisasi Variabel
1) Definisi Variabel
Variabel dapat dikatakan sebagai suatu hal yang menjadi objek pengamatan penelitian atau
sering pula dikatakan sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang
akan diteliti. Sugiyono (2012:2) mengemukakan bahwa :
Variabel penelitian pada dasarnya adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal itu, kemudian
ditarik kesimpulannya.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu :
a) Variabel Independen.
Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa
Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Menurut Sugiyono (2012:4) mengemukakan
bahwa :
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependen/terikat.
Yang menjadi variabel independen/bebas (variabel X) dalam penelitian ini adalah biaya
produksi dan perputaran total asset.
b) Variabel Dependen.
Variabel ini sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa
Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Menurut Sugiyono (2012:4) mengemukakan
bahwa :
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena adanya varibel bebas.
26

Yang menjadi variabel dependen (variabel Y) dalam penelitian ini adalah laba bersih.
2) Operasionalisasi Variabel
Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis indikator, serta skala dari
variabe-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu
statistik dapat dilakukan secara benar sesuai dengan penelitian mengenai pengaruh biaya
produksi dan perputaran total asset terhadap laba bersih, maka variabel-variabel yang terkait
dalam penelitian ini adalah :
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel

Definisi

Indikator

Skala

Biaya produksi
Biaya
Produksi
(X1)

merupakan biaya-biaya
yang dikeluarkan dalam

Biaya Produksi = Biaya bahan baku +

pengolahan bahan baku

Biaya tenaga kerja langsung + Biaya

menjadi produk.

Overhead pabrik (T/V)

Rasio

(Mulyadi, AKBI ed 5)
Rasio perputaran total
aktiva (total assets
turnover ratio)
menunjukan bagaimana
efektivitas perusahaan
Perputaran
Total
Asset (X2)

menggunakan
keseluruhan aktiva untuk

menciptakan penjualan

Rasio

dan mendapatkan laba.


Tingkat perputaran ini
juga ditentukan oleh
perputaran elemen aktiva
itu sendiri. Sartono Agus
(2001:132)

Laba

Laba bersih adalah

Bersih (Y)

selisih lebih pendapatan

Laba bersih = Pendapatan Beban

Rasio

27

atas beban-beban dan


merupakan kenaikan
bersih atas modal yang
berasal dari kegiatan
usaha. (Seomarso SR,
2004: 227).
3.7 Hipotesis Statistik
Pengujian hipotesis dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Uji Keberartian Regresi
Regresi linier berganda sebelum digunakan untuk mengambil keputusan, sebelumnya harus
melakukan uji keberartian terlebih dahulu. Untuk itu dilakukan pengujian F Statistik dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
F

JK (reg ) / 2
JK ( S ) /(n 3)

JK ( R )

JK ( reg ) b1 x1 y b2 x2 y
JK ( S ) JK ( R ) JK ( reg )

Uji F statistik ini digunkan untuk mengetahui keberartian regresi dengan membandingkan
dengan taraf nyata = 0,05, jika pada uji

dengan

keberartian regresi

menunjukkan regresi berarti, barulah dilanjutkan dengan uji t dan sebaliknya. Keputusan
pengujian

untuk mengetahui apakah regresi berarti adalah sebagai berikut :

a) Menentukan Hipotesis
H0 : 1 = 2 = 0 (model regresi tidak berarti)
H1 : Paling sedikit ada satu tanda 0 (model regresi berarti)
b) Kriteria Pengujian
Ho : diterima jika

<

dengan derajat pembilang 2 dan penyebut (n-3) pada pada

taraf signifikansi

28

Ho : ditolak jika

>

dengan derajat pembilang 2 dan penyebut (n-3) pada pada

taraf signifikansi
c) Kesimpulan
2) Uji Keberartian Koefisien Arah Regresi
Uji keberartian koefisien arah regresi ini dilakukan apabila hasil yang ditunjukkan dengan uji
F menunjukkan bahwa regresi berarti. Adapun pengujian ini dilakukan dengan menggunakan
uji t. Uji t ini dilakukan untuk mengetahui apakah koefisien arah variabel X memberikan
pengaruh yang berarti terhadap variabel Y. Hasil yang ditunjukkan dengan menggunakan uji t
ini bisa digunakan untuk menarik kesimpulan dari hipotesis. Rumus yang digunakan untuk uji
keberartian koefisien arah regresi adalah sebagai berikut :

*Sudjana (2003:31)
dimana:

Sb

Keterangan :
b = koefisien regresi
Sb2 = Varians
Langkahnya-langkah sebagai berikut :
a) Menentukan Hipotesis
Ho : 1 = 2 = 0 (model regresi tidak ada pengaruh)
Ha : Paling sedikit ada satu tanda 0 (model regresi ada pengaruh)
b) Level of significant = 0,05
c) Kriteria Pengujian

29

Ho : diterima apabila -

dengan derajat pembilang 2 dan penyebut (n-3)

pada pada taraf signifikansi


Ho : ditolak apabila

>

atau -

dengan derajat pembilang 2 dan penyebut

(n-3) pada pada taraf signifikansi

Distribusi student t, dengan dk = n 3


d) Kesimpulan

30