Anda di halaman 1dari 2

Sistem Air Pendingin Utama Siklus Terbuka

Dalam sistem terbuka, air pendingin dipasok secara kontinyu dari sumber utama dari
sistem pendingin, dalam hal ini digunakan air laut. Letak saluran masuk dan saluran pembuangan
air pendingin harus dibuat terpisah sejauh mungkin. Pemisahan ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya resirkulasi air dari sisi pembuangan mengalir ke sisi masuk.
Sistem Air Pendingin Utama Siklus Tertutup
Sistem pendingin tertutup adalah suatu rangkaian aliran air pendingin bersirkulasi ulang
(tertutup) yang berfungsi sebagai media pendingin alat-alat bantu PLTU, diantaranya adalah
pendingin bantalan mesin putar, pendingin AC (Chiller), pendingin sampel dan sebagainya.
Karena sistem tertutup, idealnya tidak memerlukan penambahan air dari luar, namun pada
prakteknya akan selalu ada kehilangan, sehingga tetap diperlukan penambahan air baru. Air yang
dipakai adalah air murni (bebas mineral) yang diambil dari Condensate Storage Tank (CST), atau
dari sisi keluar pompa condensate sebagai air penambahnya.
Chlorination Plant
System Chlorinasi merupakan suatu sistem perlindungan peralatan pada System
Circulating Water dan Cooling Water. Yaitu melindungi terhadap gangguan makhluk hidup/biota
laut agar tidak sempat hidup/berkembang biak diperalatan System Circulating Water dan Cooling
Water, sehingga proses pertukaran panas pada kedua peralatan tersebut tidak terganggu.
Biota laut tersebut adalah dari jenisjenis mikroorganisme, dimana bila tidak terinjeksi oleh
larutan chlorine hasil produksi Sodium Hypochlorite Generator (pada Sistem Chlorinasi), akan
dapat hidup dan tumbuh berkembang membentuk karang atau kerang-kerangan, sehingga akan
mengganggu aliran air laut yang dipakai sebagai air pendingin, bahkan mungkin dapat
menyebabkan penyumbatan lubang-lubang pipa air
pendingin pada Condenser dan Heat Exchanger. Karena resiko tersebut dapat merugikan bahkan
dapat mempercepat live time peralatan maka Sistem klorinasi sangat diperlukan pada
pembangkitan tenaga listrik.

Didalam air laut banyak mengandung garam Natrium Chlorida (NaCl), Magnesium
Chlorida dan lainlainnya. Karena sifat air laut banyak mengandung garam-garam, maka pada air
laut juga mempunyai sifat elektrolit yang mempunyai sifat menghantarkan arus
listrik. Karena kandungan garam yang terlarut didalamnya cukup besar, maka sifat elektrolit kuat
maka konduktivitas besar dan resistansinya yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan air
tawar. Dengan sifat-sifatnya tersebut maka akan mempermudah untuk dapat dilakukan mengelektrolisasi-kan garam-garam Natrium (Sodium) Chlorida yang terlarut di dalam air menjadi
Sodium (Natrium) Hypochlorite yang terkandung pada air laut.
Elektrolisa air laut adalah suatu proses penguraian komposisi air laut untuk menghasilkan
Sodium hypochlorite (NaOCl). Produk Sodium hypochlorite (NaOCl) sebanding dengan besarnya
arus listrik yang dilewatkan kedalam Sel Generator NaOCl (hypochlorite Generator). Arus
tersebut dapat dikendalikan melalui Power Supply untuk mempertahankan besarnya output
NaOCl, juga temperatur dan alirannya.

Didalam air laut reaksi elektrokimia yang kedua (sekunder) dengan Magnesium dan
Calcium dapat terjadi pada sisi Cathode. Reaksi dengan Magnesium akan menghasilkan
Mg(OH)2, sedang reaksi dengan Calcium membentuk Ca(OH)2. Kedua endapan hydroxide
berkumpul didalam sel generator. Tetapi hal tersebut dapat dibuat dengan desain yang baik.