Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN CKD
(Chronic Kidney Diseas)
DI RUANG RAWAT INAP SERUNI
RSUD WALED KAB.CIREBON

DI SUSUN OLEH :
ANNISA JULIARNI
213.C.0009

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MAHARDIKA
CIREBON
2016

Patofisiologi Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) di duga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). netroperitoneal b. asidosis tubulus ginjal) 6. Nefron-nefron yang utuh hipertropi dan memprouksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR/daya . Etiologi 1. fibrosis. Sedangkan gangguan fungsi ginjal yaitu penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat di golongkan dalam kategori ringan sedang dan berat. struktur uretra. B. Infeksi saluran kemih 2. 2001). menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). C. Penyakit peradangan (Glomerulonefritis) 3. (Nursalam 2006). Gagal ginjal kronik merupakan kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan di tandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau transplatasi ginjal). Definisi Gagal ginjal kronik atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. 2007).SISTEMATIKA LAPORAN PENDAHULUAN A. Gagal ginjal kronik (CGK) adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan irreversible. (Mansjoer. anomaly kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. Nefroati obstruktif a. Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik. Penyakit vaskuler hipertensif 4. Saluran kemih atas : kalkuli neoplasma. Penyakit metabolic (diabetes militus) 5. (Brunner & suddarth. Saluran kemih bawah : hipertropi prostate.

blood - urea nitrogen (BUN) meningkat. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron-nefron yang rusak. Titik dimana timbulnya gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kirakira fungsi ginjal telah hilang 80%-90%.Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal. Fungsi renal menurun. Beban bahan yang harus di larut menjadi lebih bersih dari pada yang bisa di reabsorpsi berakibat uresis osmotic di sertai poliuri dan haus.  Klasifikasi . dan kreatinin serum meningkat Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia  Pathway Etiologi Jumlah nefron fungsional . Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh.saring. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15ml (menit atau lebih rendah itu). pada stadium kadar kreatinin - serum normal dan penderita asimptomatik Stadium 2 : insufiensi ginjal. banyak gejala uremia membaik setelah dialysis. prodk akhir metabolisme protein (yang normalnya di eksresikan ke dalam urin/tertimbun dalam darah. Selanjutnya kerena jumlah nefron yang rusak bertabah banyak oliguti timbul di sertai retensi produk sisa. dimana lebih dari 75% jaringan rusak.

anemia Gangguan nutrisi Kurang dari kebutuhan Kelebihan volume cairan intoleransi aktivitas .Nefron yang terserang hancur 90% nefron hancur Nefron yg masih utuh 75% nefron hancur Tidak dapat mengkompensasi GFR (Ketidakseimbangan cairan ( BUN dan Kreatinin) elektronik) GFR 10% dari normal (BUN dan kreatinin ) Adaptasi Nefron hipertropi kecepatan filtrasi beban solut dipertahankan Adaptasi Kecepatan filtrasi dan Beban solut fungsi ginjal rendah cadangan ginjal Urine isoosmotik Ketidakseimbangan dalam Glomerulus dan tubulus Kegagalan proses filtrasi Oliguria poliuri.fatigue. malaise. nokturi. azotemia Uremia Penumpukan Kristal Urea di kulit Insufiensi ginjal angiotensin Gagal ginjal Retensi Na+ Pruritus Eritopoetin di ginjal Gangguan integritas kulit SDM pucat.

Asidosis metabolic 7.Konfusi/perubahan tingkat kesadaran . fadar kalsium serum rendah.Anoreksia. Pericarditis : efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk sampah uremik dan dialysis yang tidak adekuat 3.Rambut tipis dan kasar 3. Sepsis 9.Nafas berbau ammonia . pericarditis .Kram otot.Friction rub pericardial. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem reninangiotensin-aldosteron 4. sputum kental dan liat . penurunan rentang usia sel darah merah 5.Kelemahan pada tungkai . Dermatologi .Kelemahan dan keletihan . Neuropati perifer 10.Perdarahan saluran cerna 5.Kejang.Warna kulit abu-abu mengkilat.Fraktur tulang.Ulserasi dan perdarahan mulut . kulit kering bersisik .Konstipasi dan diare . Hyperkalemia akibat penurunan eksresi. asidosis metabolic. Komplikasi 1.Perubahan perilaku 6. katabolisme dan masukan diit bertambah 2. edema periorbital . mual. Pulmoner . muntah.Pruritus. tangan. Tanda dan Gejala 1. Reproduktif .Pernafasan kusmaul 4.Krekels. Anemia akibat penrunan eritopotein. Kaediovaskuler .D.Tidak mampu konsentrasi . foot drop 7. Hipeuremia E.Hipertensi. kekuatan otot hilang . Ostedotropi ginjal 8. ekimosis . sacrum(.rasa panas pada telapak kaki .Disorientasi . udema pulmuner. Gastrointestinal . metabolisme vitamin D dan peningkatan kadar alumunium 6.Pitting edema (kaki. Neurologi . Muskuluskeletal . pembesaran vena leher 2. gagal jantung kongestif. Penyakit tulang serta klasifikasi akibat retensi fosfat. cegukan .

renal Biopsi. tanda pericarditis. kandung kemih serta prostale 4. antibody (kehilangan - protein dan immunoglubolin).Laboratorium darah : BUN.Ht. K. Phospat). intravenous pyelography. kekruhan. kreatinin. Transplantasi ginjal H. aritmia. Ph. protein.trombosit. tebal kortes ginjal. G. SDM. protein dan fosfat 2. pemeriksaan rontgen tulang. hipokalsemia) 3.leukosit).TKK/CCT 2.keton.. Pemeriksaan urin : warna. Pemeriksaan radiologi : renogram. Retriksi konsumsi cairan. alumunium hidroksida untuk terapi hiperfostamia. pemeriksaan rontgen dada. MRI. sedimen. hematologi ( HB. retrograde pyelography. protein. glukosa. renal aretiografi dan venografi. Ct scan. Analisa data (KONSEP) No 1 Data-data (subjektif-objektif Ds : Etiologi Jumlah nefron fungsional Do : Nefron yg terserang hancur 90% nefron hancur Tidak dapat mengkompensasi (ketidakseimbangan cairan elektrolit) GFR 10% dari normal Masalah Keperawatan Gangguan integritas kulit .Amenore . Ca. Pemeriksaan USG : menilai besar dan bentuk ginjal. anti hipertensi untuk terapi hipertensi serta di beri obat yang dapat menstimulasi produksi RBC seperti apoetin alfa bila terjadi anemia 3. volume. Pemeriksaan EKG : untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri. Pemeriksaan penunjang 1. elektrolit (Na. foto polos abdomen. Dialysis 4. BJ. Penatalaksanaan medis 1.SDP. Pemeriksaan laboratorium . dan gangguan elektrolik (hiperkalemi. Obat-obatan : diuretic untuk meningkatkan i=urinasi.Atrofi testekuler F.

(BUN dan kreatinin ) Urine isoosmotik Kegagalan proses filtrasi oliguri uremia penumpukan Kristal urea di kulit 2 Ds : pruritus Jumah nefron fungsional Nefron yg terserang hancur Do : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 75% nefron hancur GFR (BUN dan kreatinin ) Adaptasi Kecepatan filtrasi dan beban solut Ketidakseimbangan dalam glomerlus & tubulus Poliuri. anemia Jumlah nefron fungsional Nefron yg masih utuh Do : Adaptasi Nefron hipertropi Kelebihan volume cairan . malaise.nokturi.azotemia Insufiensi ginjal Gagal ginjal Eritopoetin di ginjal SDM 3 Ds : Pucat. fatigue.

Gangguan integritas kult b. beban solut reabsorpsi Keseimbangan cairan elektrolit dipertahankan Fungsi ginjal rendah Cadangan ginjal Insufiensi ginjal Angiotensin 4 Ds : Retensi Na+ Jumlah nfron fungsional Nefron yg terserang hancur Do : 75% nefron hancur GFR (BUN dan kreatinin ) Adaptasi Kecepatan filtrasi dan beban solut Ketidakseimbangan dalam glomerulus dan tubulus Poliuri.malise.fatigue.anemia I.d gangguan permukaam kulit Intoleransi aktifitas . nokturi. Diagnosa keperawatan 1.Kecepatan filtrasi. azotemia Insufiensi ginjal Gagal ginjal Eritopoetin di ginjal SDM Pucat.

d ketidakmampuan untuk mengabsrpsi nutrient 3. Intoleransi aktivitas b. Kelebihan volume cairan b.2.d gangguan mekanisme regulasi 4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelemahan umum .

jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia 4. Jaringan udem lebih cenderung rusak atau tidak 3. kulit utuh vaskuler. Menurunkan tekanan pada udem. Mempertahankan perubahan warna. turgor. Menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit 2. Ubah posisi sesering mungkin 4. Anjurkan klien memakai pakaian katun longgar 5. Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera . Anjurkan klien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritus Rasional 1. Inspeksi area tergantung udem 3. Inspeksi kulit terhadap 1. kemerahan 2. Mencegah terjadinya iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit 5. Mengetahui fungsi kulit pada klien yg mengalami perubahan 2. Gangguan integrutas kulit b.J. Nursing outcome classification Dan nursing intervension classification dan rasionalisasi tindakannya No Diagnosa Keperawatan 1.d gangguan permukaan kulit Tujuan Umum Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24jam diharapkan integritas kulit dapat terjaga Intervensi Khusus Dengan kriteria hasil 1.

Batasi masukan cairan pada 1. Perhatikan adanya mual muntah 3. Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa yg tak sesuai dalam mulut yg dapat mempengaruhi masukan makanan Setelah dilakukan Dengan kriteria hasil 1. Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yg dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi 4. Mengetahui 1. Menunjukkan BB mengkonsumsi kekurangan nutrisi stabil makanan/cairan yang terjadi pada klien 2. Keseimbangan haluaran urin dan diharapkan beat tubuh antara input dan respon terhadap terapi ideal tanpa kelebihan output . Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien Kelebihan volume cairan b. Porsi makanan lebih sedikit tapisering pada klien kecil dapat meningkatkan masukan makanan 3.d gangguan mekanisme regulasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24jam diharapkan klien mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat Dengan kriteria hasil 1. 3. Pembatasan cairan akan tindakan keperawatan 1. Porsi makan bertambah 2.2. Awasi klien dalam 1. Berikan porsi makanan 2. Berikan perawatan pada klien 4. selama 3X24jam 2. Tidak ada edema klien menentukan BB ideal.

Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari.d kelemahan umum 4. Pemahaman keluargatentang pembatasan meningkatkan cairan kerjasama klien dan keluarga dalam pembatasan cairan 4. turgor kulit 2. Mengetahui pemasukan dan keluaran urin oada klien untuk tidak terjadinya kelebihan cairan pada klien 3. Melatih aktivitas kecil aktivitas di atas tempat tidur klien di atas tempat klien tidurnya . Melakukan meningkatkan pergerakkan aktivitas yang dapat di sederhana di 2. Mengetahui hal yang toleransi tempat tidur klien menyebabkan kelelahan sering terjadi kelelahan pada klien pada klien 3. Beritahu keluarga untuk 4. Intoleransi aktivitas b. Jelaskan pada klien dan 3. Pembatasa cairan akan mencatat pemasukan dan menentukan BB ideal pengeluaran cairan pada klien klien Setelah dilakukan Dengan kriteria hasil 1. Kaji faktor yang 2. Anjurkan melakukan 3. Mengetahui aktivitas tindakan keperawatan 1. Pantau klien melakukan 1. Bergerak sedikit aktivitas di atas tempat tidur apa saja yang dilakukan selama 3X24jam tanpa bantuan klien di tempat tidur diharapkan klie dapat 2.cairan 2.

Nutrisi yang adekuat dapat membantu melakukan aktivitas kecil klien di tempat tidur . Pertahankan status nutrisi yang adekuat 4.4.