Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KEDARURATAN HIPOGLIKEMIA
I. Konsep Dasar Hipoglikemia
A. Pengertian Hipoglikemia
Menurut American Diabetes

Association

(2010),

Hipoglikemia

didefinisikan sebagai keadaan di mana kadar glukosa plasma < 60 mg/dl
disertai adanya gelaja klinis pada penderita.
Menurut Aina Abata (2014), hipoglikemia merupakan penyakit yang
disebabkan oleh kadar gula darah (glukosa) yang rendah. Hipoglikemia
merupakan salah satu komplikasi akut yang dialami oleh penderita diabetes
mellitus.
Adapun batasan hipoglikemia adalah:
1. Hipoglikemia murni : ada gejala hipoglikemi , glukosa darah < 60 mg/dl
2. Reaksi hipoglikemia : gejala hipoglikemi bila gula darah turun mendadak,
misalnya dari 400 mg/dl menjadi 150 mg/dl
3. Koma hipoglikemi : koma akibat gula darah < 30 mg/dl
4. Hipoglikemi reaktif : gejala hipoglikemi yang terjadi 3-5 jam sesudah

makan
B. Penyebab Hipoglikemia
Menurut Sabatine (2004), hipoglikemia dapat terjadi pada penderita diabetes
dan non diabetes, dengan etiologi sebagai berikut :
1. Pada diabetes
a. Overdose insulin
b. Asupan makanan kurang (tertunda atau lupa, terlalu sedikit, output
berlebihan/muntah/diare, diit berlebihan)
c. Aktivitas berlebihan
d. Gagal ginjal
e. Hipotiroid
2. Pada non diabetes

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Peningkatan produksi insulin
Pasca beraktivitas yang berat
Konsumsi makanan yang sedikit kalori
Konsumsi alkohol
Pasca melahirkan
Penggunaan obat-obatan dalam jumlah besar (misalnya : salisilat,
sulfonamide)

D. Tanda dan Gejala Hipoglikemia
Menurut Cryer (2007), tanda dan gejala hipoglikemia terdiri dari dua fase,
yaitu :
1. Fase I : gejala-gejala akibat aktivasi pusat otonom di hipotalamus
sehingga hormon epinefrin masih dilepaskan. Gejala awal ini merupakan
peringatan karena saat itu pasien masih sadar sehingga dapat di ambil
tindakan yang perlu untuk mengatasi hipoglikemia lanjut.
2. Fase II : gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi otak,
karena itu dinamakan gejala neurologis. Gejala neurologis yang muncul
saat

terjadi

hipoglikemia

dapat

dikategorikan

sebagai

gejala

neuroglikopenik dan neurogenik (otonom).
a. Gejala neuroglikopenik merupakan dampak langsung dari defisit
glukosa pada sel – sel neuron sistem saraf pusat, meliputi perubahan
perilaku, pusing, lemas, kejang, kehilangan kesadaran, dan apabila
hipoglikemia berlangsung lebih lama dapat mengakibatkan terjadinya
kematian.

E. hipoglikemia diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tanda dan dan gejalanya : 1. Gejala neurogenik (otonom) meliputi berdebar – debar. gelisah). dan anxietas (gejala adrenergik) dan berkeringat. dan paresthesia (gejala kolinergik). penurunan fungsi rasa. Klasifikasi Hipoglikemia Menurut Soemadji (2006). gangguan konsentrasi. Pemeriksaan Diagnostik . penurunan glukosa merangsang saraf simpatis (tremor. Berat  membutuhkan bantuan orang lain dan terapi glukosa. Probable symptomatic hypoglycemia  Gejala klinis hipoglikemia tanpa disertai pengukuran kadar gula darah plasma 5. 2. Sedang  dapat diatasi sendiri. penurunan daya ingat. Relative hypoglycemia  Gejala klinis hipoglikemia dengan pengukuran kadar gula darah plasma ≥ 70 mg/dl dan terjadi penurunan kadar gula darah F. Documented symptomatic hypoglycemia  Kadar gula darah plasma ≤ 70 mg/dl disertai gejala klinis hipoglikemia 3. tekanan darah menurun). Ringan  dapat diatasi sendiri dan tidak mengganggu aktivitas seharihari. Klasifikasi Hipoglikemia menurut American Diabetes Association Workgroup on Hypoglycemia (2005). Severe hypoglycaemia  Kejadian hipoglikemia yang membutuhkan bantuan dari orang lain 2. rasa lapar. otak mulai kurang mendapat glukosa sebagai sumber energi yang menyebabkan timbulnya gangguan pada SSP (sakit kepala. mual. 3. vertigo. takikardia. serta gangguan koordinasi gerak. penurunan glukosa merangsang saraf parasimpatis (lapar. tremor. erubahan emosional. yaitu : 1. fungsi SSP mengalami gangguan berat : disorientasi. Asymptomatic hypoglycemia  Kadar gula darah plasma ≤ 70 mg/dl tanpa disertai gejala klinis hipoglikemia 4. mengganggu aktivitas sehari-hari.b. serta penurunan kesadaran. kejang.

b. setelah gula darah stabil. Pengkajian Keperawatan 1. 2. H. Hipoglikemi : Beri pisang/ roti/ karbohidrat lain. komplikasi pada hipoglikemia antara lain : 1. Kerusakan otak akut 4. Gangguan neurologis 3. Koma hipoglikemik : Injeksi glukosa 40% IV 25ml. Breathing (pernapasan) . 3. 2. spesimen urin dua kali negatif terhadap glukosa. EKG : Takikardia. infus glukosa 10%. bila gagal beri injeksi efedrin bila tidak ada kontraindikasi jantung dll 25-50 mg atau injeksi glukagon 1mg/IM. 2. Kematian II. Terjadi karena adanya penurunan kesadaran/koma sebagai akibat dari gangguan suplai oksigen ke otak. Penatalaksanaan Medis pada Hipoglikemia Menurut Moore (2004) terapi untuk hipoglikemik adalah sebagai berikut : 1. beri teh gula. Pemeriksaan laboratorium : glukosa serum <50 mg/dl. Prosedur khusus : Untuk hipoglikemia reaktif tes toleransi glukosa postpradial oral 5 jam menunjukkan glukosa serum <50 mg/dl setelah 5 jam. Gangguan tingkat kesadaran yang dapat menyebabkan gangguan pernafasan. bila gagal tetesi gula kental atau madu dibawah lidah. infus glukosa 10% dilepas bertahap dengan glukosa 5% stop. Komplikasi Hipoglikemia Menurut Kedia (2011).1. bila gagal. bila belum sadar dapat diulang setiap ½ jam sampai sadar (maksimum 6x). Pengkajian Primer a. 4. Koma 5. Airway (jalan napas) Kaji adanya sumbatan jalan napas. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Kedaruratan Hipoglikemia A. G. Pengawasan di tempat tidur : peningkatan tekanan darah.

tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita. maupun arterosklerosis. Keluhan Utama Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah. jantung. nadi lemah. hipotermi. rasa raba yang menurun.Merasa kekurangan oksigen dan napas tersengal – sengal . Circulation (sirkulasi) Kebas . jenis yang dikonsumsi. penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya. adanya nyeri pada luka. tekanan darah menurun. karena kekurangan suplai nutrisi ke otak. Pengkajian Sekunder a. penurunan dan peningkatan napsu makan . adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau. obesitas. 2. 2) Riwayat kesehatan dahulu Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. d. b. Riwayat kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang kapan terjadinya luka. sianosis. c. 4) SAMPLE S : tanda dan gejala yang dirasakan klien A: alergi yang dipunyai klien M : tanyakan obat yang dikonsumsi untuk mengatasi masalah P : riwayat penyakit yang diderita klien L : makan minum terakhir. Adanya riwayat penyakit jantung. Disability (kesadaran) Terjadi penurunan kesadaran. 3) Riwayat kesehatan keluarga Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi. keringat dingin. kesemutan dibagian ekstremitas.

keadaan rambut. dehidrase. batuk. adakah pembesaran pada leher. muntah. suhu tubuh d. 5) Sistem gastrointestinal Terdapat polifagi. dan penggunaan otot bantu pernapasan. 3) Sistem pernafasan Adakah sesak nafas. sputum. nadi perifer lemah atau berkurang. Pemeriksaan fisik 1) Kepala dan leher Kaji bentuk kepala. diare. telinga kadang-kadang berdenging. obesitas. lensa mata keruh. tekstur rambut dan kuku. adakah gangguan pendengaran. nyeri dada. peningkatan lingkar abdomen. kemerahan pada kulit sekitar luka. ludah menjadi lebih kental. irama dan kekuatan nadi. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi. adanya luka atau warna kehitaman bekas luka.E : pencetus atau kejadian penyebab keluhan 5) Pengkajian nyeri P : pencetus nyeri Q: kualitas nyeri R: arah perjalanan nyeri S: skala nyeri T: lamanya nyeri sudah dialami klien c. mual. 4) Sistem kardiovaskuler Perfusi jaringan menurun. gigi mudah goyah. perubahan berat badan. 2) Sistem integument Turgor kulit menurun. Tanda tanda vital Tekanan darah. kelembaban dan shu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren. takikardi/bradikardi. apakah penglihatan kabur / ganda. gusi mudah bengkak dan berdarah. aritmia. konstipasi. kardiomegalis. lidah sering terasa tebal. hipertensi/hipotensi. irama kedalaman pernapasan. 6) Sistem urinary . diplopia. polidipsi.

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan penggunaan otot bantu pernafasan dan pernafasan cuping hidung 3. reflek lambat. kacau mental. parasthesia. retensio urine. cepat lelah. disorientasi e. penyebaran masa otot. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan laporan tentang perilaku nyeri/ perubahan aktivitas dan mengekspresikan perilaku nyeri 4. mengantuk. Riwayat psikososial Meliputi informasi mengenai prilaku.Poliuri. B. rasa panas atau sakit saat berkemih. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan keletihan dan ketidaknyamanan setelah beraktivitas . perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita. 8) Sistem neurologis Terjadi penurunan sensoris. anastesia. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah yang dibuktikan oleh kurang kepatuhan pada rencana manajemen diabetes dan pemantauan glukosa darah tidak adekuat 2. 7) Sistem musculoskeletal Penyebaran lemak. adanya gangren di ekstrimitas. inkontinensia urine. lemah dan nyeri. perubahn tinggi badan. letargi.

Untuk memasukkan 3. Untuk terjadinya mencegah gangguan pernafasan/ jalan nafas Ttd . Menjaga jalan nafas pada saat menyalurkan pasien 6. Sakit kepala pasien berkurang Rasional 1. Rasa lelah pasien berkurang. Mengontrol kadar gula 2. Mengelola glukosa glukosa (energi) secara melalui intravena lebih cepat dan tepat 4. Untuk mencegah intravena pasien terjadinya kemacetan 5. 3. Diagnosa Dx Keperawatan 1 Tujuan/NOC Rencana Tindakan/NIC Risiko Setelah diberikan asuhan Hypoglycemia ketidakstabilan keperawatan selama 1x2 Management : kadar glukosa darah jam kadar gula darah pasien meningkat dengan kriteria hasil : NOC: Hypoglycemia severity Blood glucose level 1. Melindungi pasien dari glukosa ke dalam cedera tubuh 5. Memantau tanda dan hipoglikemia pasien gejala hipoglikemia 3. Untuk kondisi mengetahui hipoglikemia pasien 1. Untuk mencegah darah memberatnya kondisi 2.C. Kadar gula darah pasien dalam batas normalnya 2. Intervensi Keperawatan No. Menjaga akses 4.

Auskultasi pernafasan optimal 2. Untuk mengetahui kondisi pernafasan . Untuk suara pernafasan pasien 3.6. Memantau pernafasan 1. Ajarkan batuk efektif kepada pasien pernafasan 4. Irama Airway management memaksimalkan hasil : 1. Agar pasien mengalami baru tidak masalah di dalam penanganan penyakitnya 2 Ketidakefektifan Setelah diberikan asuhan pola nafas keperawatan selama 1x2jam pola nafas pasien normal dengan kriteria Respiratory status Kriteria Hasil : normal 1. Untuk memantau pernafasan pasien 5. Tingkat NIC : status dan penyebab mengetahui terjadinya gangguan pola nafas 3. Untuk membantu pernafasan pasien yang ventilasi pasien NOC: normal 2. Untuk mengeluarkan secret jika ada secret 4. Posisikan pasien untuk 2.

Tidak ada penggunaan Respiratory monitoring adanya gangguan pola otot bantu pernafasan 5. Untuk Vital sign monitoring pernafasan pasien 12. Untuk memastikan kondisi pasien 8. Perhatikan pergerakan dada. dan penggunaan memastikan otot bantu pernafasan pasien 7. nafas pasien memantau . Untuk terganggu 4. Untuk oksigen pasien kondisi pasien secara 9. irama 5. Memantau tingkat. Memantau kadar saturasi 10. Memantau pola nafas pasien nafas serta letak gangguannya 7. Jalan nafas tidak oksigenasi pasien 6. Untuk pernafasan memastikan jumlah oksigen pada pasien 9. Tidak menggunakan pernafasan pasien nasal kanul 6.3. Memastikan kestabilan 10. Untuk penyebab mengetahui gangguan pernafasan pasien mengetahui 8. Auskultasi suara nafas umum 11. kesimetrisan dada. Monitor tekanan darah.

Untuk mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan rasa nyaman 4. suhu dan status 13. pain control. Monitor tingkat memastikan pasien tidak mengalami dan kekurangan oksigen irama pernafasan pasien 12. Agar dapat . Untuk memperkirakan skala nyeri dan tempat karakteristik. Monitor pola nafas pasien 13. Lakukan tingkat Observasi reaksi nonverbal dari nyeri 3. Untuk pernafasan pasien 11. durasi. nyeri penyebab kualitas dan faktor presipitasi Mampu 2. comfort level lokasi.nadi. (tahu secara komprehensif Pain Level. termasuk frekuensi. nyeri 2. Mengetahui berkurang dengan kriteria 1. mengontrol pengkajian nyeri hasil: NOC: 1. Untuk mengurangi rasa nyeri 5. Monitor 3 Nyeri akut Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x2 warna kulit pasien NIC: Analgetic administration Pain management jam nyeri pasien 1.

mencari seperti suhu ruangan. bantuan) 2. Agar obatpasien Kaji tipe dan sumber dari nyeri dan dapat nyeri mengurangi rasa nyeri untuk nyeri) farmakologi: penyebab tersebut 9. 5. faktor menentukan nyeri intensitas. Kontrol memberikan lingkungan nonfarmakologi yang untuk mengurangi mempengaruhi nyeri nyeri. mampu menggunakan tehnik ketidaknyamanan 3.nyeri. Untuk mengurangi rasa tentang non napas dala. manajemen nyeri Mampu mengenali (skala. Mencegah Ajarkan teknik Tanda nyeri mengetahui intervensi 6. nyeri yang dirasakan 7. pencahayaan Melapor kan bahwa berkurang nyeri 4. dapat penanganan yang tepat 6. Kurangi dengan menggunakan obatan 8. kompres normal hangat/ dingin terjadinya syok akibat alergi obat . relaksasi. dan kebisingan dengan menggunakan 3. Untuk mengurangi rasa presipitasi nyeri frekuensi dan tanda 4. vital dalam rentang distraksi.

Observasi 1... Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ……. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali 4 Intolerasi aktivitas Setelah diberikan asuhan NIC : keperawatan selama 1x2 Activity therapy penyebab jam nyeri pasien Energy management dalam beraktivitas berkurang dengan kriteria 1. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri. Untuk Untuk mengetahui hambatan mengetahui .7. berapa nyeri lama akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur 9. 8. adanya 2.

di inginkan diaporesis. Agar pasien mau . menyebabkan mengetahui Monitor nutrisi dan 4. Untuk kecukupan kelelahan aktivitas secara mandiri melakukan yang peningkatan tekanan darah. 2. nadi dan RR penyebab aktivitas Berpartis ipasi dalam aktivitas klien Agar gangguan faktor gangguan pasien mau melakukan aktivitas 7. Mampu melakukan 3. 4. Untuk mengetahui sumber energi yang penyebab adekuat aktivitas Monitor pasien akan 5. Agar pasien mau meningkatkan aktivitas sesuai yang sesak nafas.hasil: pembatasan dalam NOC : Activity Tolerance Endurance 1. pucat. respon kardivaskuler terhadap (takikardi. sehari hari (ADLs) 3. nutrisi dalam beraktivitas berlebihan 5. 8. fisik tanpa disertai 2. Pasien tidak mudah lelah penghambatan dalam Kaji beraktivitas adanya faktor 3. aktivitas disritmia. Mengetahui adanya kelelahan fisik pencetus dan aktivitas emosi Monitor secara 6.

6. Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai 8. perubahan melakukan hemodinamik) dari dalam dirinya Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan 7. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi penguatan diri dan aktivitas .

2014. DAFTAR PUSTAKA Aina Qorry. Ilmu penyakit Dalam. Jawa Timur : Yayasan – Alfurqon . E. Implementasi Implementasi dilakanakan berdasarkan perencanaan keperawatan (intervensi) yang telahditentukan sebelumnya. Evaluasi Evaluasi berdasarkan tujuan dan outcome.D.

W.2013. Chris. Gloria.” Seri Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Endokrin “. USA : Elsevier Mosby Sabatine.Marcs S. Buku Saku Klinis. 2015.American Diabetes Association Workgroup on Hypoglycemia.healthlinkbc. 2007. Nursing Outcomes Classification. Nursing Interventions Classification. 28 November 2015 Pembimbing/CI Mahasiswa . Heni. Available at http://www.ca/kb/cont ent/mini/rt1050html diakses tanggal 24 November 2015. Jakarta: Media Aesculapius FKUI Moore. Hypoglycemia. Diabetes Care Baradero Mary . Defining and reporting hypoglycemia in diabetes. 2004. Gregory. Jakarta : EGC Soemadji. 2009. SPC . Arif. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran. 2013. D. Dove Press Journal Mansjoer. 2011. Diagnosis Keperawatan 2015-2017 edisi 10. Dextrose 10% or 50% in the Treatment of Hypoglycaemia Out of Hospital? a Randomized Controlled Trial.Perpustakaan Nasional Hipokrates. and brain death. 2005. functional brain failure. The Journal of Clinical Investigation Kedia. Treatment of Severe Diabetic Hypoglycemia With Glucagon: an Underutilized Therapeutic Approach. Sue. Thompson. 2005. 2011. Kapita Selekta Kedokteran. Emergency Medical Journal Moorhead. Badung. Jakarta : EGC Bulechek. Budi. 2006 Hipoglikemia Iatrogenic. 2004. Jakarta : EGC. MN. Nitil. USA : Elsevier Mosby Cryer PE. Hypoglycemia (Low Blood Sugar) in People Without Diabetes.

Winarni. SST NIP.198108262006042017 Kadek Aryani NIM. 28 November 2015 Pembimbing/CI Mahasiswa .Kes NIP.. S.Kp.M.196509131989031002 Badung.P07120213020 Pembimbing/CT I Ketut Suardana.

Winarni. SST NIP. 28 November 2015 Pembimbing/CI Mahasiswa .Kes NIP..Kp.196509131989031002 Badung.P07120213020 Pembimbing/CT I Ketut Suardana.M. S.198108262006042017 Kadek Aryani NIM.

. 28 November 2015 Pembimbing/CI Mahasiswa .P07120213020 Pembimbing/CT I Ketut Suardana.Kp.M.Kes NIP.198108262006042017 Kadek Aryani NIM. SST NIP.Winarni. S.196509131989031002 Badung.

198108262006042017 Kadek Aryani NIM. SST NIP.196509131989031002 Badung.Kes NIP.P07120213020 Pembimbing/CT I Ketut Suardana.Winarni. S.Kp..M. 28 November 2015 Pembimbing/CI Mahasiswa .

196509131989031002 Badung.P07120213020 Pembimbing/CT I Ketut Suardana. 28 November 2015 Pembimbing/CI Mahasiswa .M.198108262006042017 Kadek Aryani NIM. SST NIP.Winarni.Kp. S..Kes NIP.

Kp. SST NIP.198108262006042017 Kadek Aryani NIM.M. S.Winarni..Kes NIP.196509131989031002 .P07120213020 Pembimbing/CT I Ketut Suardana.