Anda di halaman 1dari 4

Sajadah Nasrani

Oleh: Ardiansyah Darwis


Mentari pagi memeluk erat bumi, cahayanya pun memantul dari baju abuabumu membuat silau mata. Kamu selalu saja mendekat, mili demi mili namun
pasti. Aku justru menjauh, senti demi senti. Sudah aku bilang, Jangandekatdekat, agamakumelarang. tapi kamu acuh seolah tak mendengar.
Hei! Besok hari minggu. Kamu gak mau ikut ke Gereja di ujung kota
itu? katamu sambil menunjuk tempat peribadatanmu yang megah.
Gak bisa, besok aku ada pengajian sama anak-anak Islam di kota. Anakanak itu butuh pengajaran biar gak beralih di agamamu cetus aku menjawabmu,
sengaja agar kamu mengerti aku takkan berpaling dari agamaku.
Hu.., pengajian terus !Gak capek ?
Kenapa mesti capek ?justru itu yang membuatku semangat, menyebarkan
Islam di NegeriNasrani ini. Walaupun ilmu agamaku masih kurang, setidaknya
aku telah ikut andil
Kamu memonyongkan bibir indahmu. Tampak pelembab tipis, alami nan
cantik. Astagfirullah, segera ku palingkan mukaku. Kamu indah, namun lebih
indah dengan hiasan kain dari kepala sampai dadamu. Sungguh aku selalu
membayangkan dirimu dengan jilbab besar itu. Tapi tak bisa dipungkiri, kamu
penganut Nasrani yang kuat.
Sudah lama aku tau tujuanmu. Mendekat, perlahan tapi pasti untuk
menjeratku dalam agamamu. Sorry! agama aku sudah indah, melebihi indahnya
parasmu. Justru kamu yang harus waspada, aku akan lebih keras mengikatmu
lantas menyeretmu ke agamaku. Walau mungkin sakit, tapi ini demi kebaikanmu
juga.
Yah, kamu begitu mencintai agamamu. Agama yang sudah dikotori
tangan-tangan jail kaum dulu, sudah tak murni. Agamaku dating sebagai pembaru
dan pembenar dari agamamu. Hadir untuk mensucikan kaummu dari kekotoran
yang mereka buat sendiri, lancing mengubah Injil.
Bahkan, kamu rela meninggalkan Negara asal kita Indonesia, ke negeri
Nasrani ini hanya untuk menguatkan agamamu yang Tuhannya di salib itu. Aku
tak akan tinggal diam, wanita secantik kamu sayang kalau tersesat. Sudah
kewajibanku sebagai calonmu (walau kau tak mau) untuk membenarkanmu.
Sebenarnya kita datang kenegeri ini karena beasiswa. Tapi tujuanmu
bukan hanya untuk menganut ilmu modern. Lain dari itu dan lebih serius dari itu.
Aku tau betul tujuanmu Nasrani. Dan kau juga tau betul tujuanku, menyebarkan
agama indahku Islam.

***
Hari ini spesial,cahaya oranye dari benda bulat di langit merebak di selasela daun. Daun-daun kuning malah berguguran, seiring umurku bertambah
menjadi 25 tahun. Aku merenung, belum nikah juga?Mungkin itu yang akan
dikatakan Ayah-Ibuku dikampung. Kalau calon,kusudah punya. Itu kau. Tapi
kamu harus dibuat jera dulu dari agamamu. Aku tak mungkin menikahimu dengan
status Nasrani. Haram!
Aku keluar, iseng membuka kotak surat. Barangkali ada suratmu yang
mengajak jadi Nasrani tulen. Biar beribu-ribu takkan ku respon. Aku menemukan
sesuatu di dalam balok itu. Ada bingkisan. Aku heran siapa yang tahu tanggal
lahirku di Negara ini?
Perlahan aku membukanya. Sajadah! Kata keren sangat cocok untuk
sajadah itu. Aku berusaha mencari identitas pengirim, aku bolak-balikkan sajadah
itu, menelisik dengan harapan menemukan nama. Dapat !Tertulis jahitan boarder
di kain salat itufrom Dina to Adam. Aku heran mengapa sajadah yang kau
berikan ?Bukannya kamu sedang serius-seriusnya mengajakku Nasrani ?
Aku tidak peduli, aku sungguh bahagia waktu itu. Ku peluk erat sajadah
pemberianmu. Semangatku untuk beribadah segera melonjak. Kupercepat
langkahku menuju tempat wudhu, berniat salat untuk mendoakanmu.
Aku telah siap dengan baju putih dan peci hitamku. Seger aku gelar
sajadah pemberianmu itu. Takbir ku lantunkan, tanganbersedekap, doa iftitah
mulai mengalun. Setengah iftitah berlalu mataku tertuju tempat sujud. Apa itu?
Salib! Segera ku hentikan salatku, aku tidak mungkin sujud pada lambing itu.Aku
menjauh dari sajadahi tu. Duduk di samping ranjang.
Air mata mengalir di sela mataku, hamper aku melakukan hal kotor,
hamper kena noda imanku. Aku tidak habis pikir, kamu sudah begitu berlebihan.
Sebelumnya kamu tak seperti ini. Benar-benar. Air mataku semakin menjadi-jadi,
apakah aku telah salah mencintaimu? Sudah-sudah! aku harus menghentikanmu,
aku tidak mau kedepannya kamu lebih bertingkah aneh. Ini menyangkut agama
kebanggaanku.
Langkahku cepat keluar rumah. Mencari taksi untuk menemuimu. Ku
ketuk pintu agak keras dengan denyut cepat. Kamu membuka perlahan pintumu.
Ada apa Dam? Gak usah buru-buru, kado yang kuberikan baguskan ?
kata-katamu begitu lembut teralun diikuti wajah tak bersalahmu.
Apanya yang bagus? Kamu ingin aku pindah agama? Tidak usah senekat
itu. Lihat ini! aku menunjukkan tanda salib pada sajadahmu. Kamu malah diam,
tampak segurat heran pada wajahmu.

Dasar munafik! Janganpura-puragak tau!Akubenarbenarkecewapadamu! sebelumnyaakutidakpernahmarahpadamu, tapi kali


inibenar-benartakdapatkutahan.
Akumelemparsajadahitu di depanmu. Kamumulaimeneteskan air
matabuaya.Munafiksekalilagitertancap di wajahmu. Akuberanjakpergi,
kamumalahberteriakkeras!
Adam! kamuberlarimendekat.
Kamubolehmembenciku,tapitolongsimpansajadahini. Ini
initandacintakupadamuragu-ragukamuberucap,
lalumengulurkansajadahitudenganmukamenahansesuatu, entahtersipuatau air
mata. Sementaraaku, diammematung, terasadarahkuberdesircepat,
jantungtakkaruandenyutnya. Cintakusalingtepuk, tepukandaritanganmu.
Tapiterlambat, tapiakutidaktegamelihatwajahmelasmubiarpunkauberpurapura. Akumengambilnya, lantasmempercepatlangkahkumenjauhdarimu.
Kamumalahberteriakmakinkeras di belakang.
Kamuperlutau !Sajadahiturekomendasidaritemanku di Gereja, akugak tau
tentangsalibitu !Akuberhentimelangkah. Mencobamencernaucapanmu.
Suatusaatkauakanmengetahuinya ucapmu. Hatikubenarbenardikuasaiamarah. Akusudahtakpedulidenganfraseterakhirmu.
Akuterusmelangkahdengan air mata yang terusmenderas, di belakangterdengar
pula rintihanmu. Kejadianitusungguhsedih, pedih. Akumemutuskanpulangke
Indonesia, menjaga agama danimanku.
***
Sekarangakujongkokdepanlemaritempatprasastikita,
lemaricoklatkunodenganukiran yang kuno pula. Sulur-sulurdantanaman liar
tergambarpadaukiranlemarituaitu. Perlahanakumembuka,
berniatmengenangkembalikisahkita. Mengambilprasasti.
Terdengarsuaralangkahmu, jelasaku tau, di rumahinikitacumaberdua.
Tangisanbayibelummengisirumahkita, tapiakan. Akuberbalik, melihatmu.
Kamuterlihatsangatindah, kainbesaritusekarangmenutupikepalasampai di dadamu,
menyisakanwajahcantikmu.Nasranitulenberalihmenjadi Islam sejati.
Akubanggapadamu.
Kamutau ?SajadahNasranimumasihakusimpanrapi di lemariini,
sebagaiprasarticintakita. SajadahNasraniituadalahsaksicintabeda agama.
Menjadipengingatcinta yang membawamumenjadiMuslimahsejati.

04 September 2015

Lab. Komputer-Asrama