Anda di halaman 1dari 109
ANALISIS DAYA SAING PRODUK INDONESIA YANG SENSITIF TERHADAP LINGKUNGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA FANYA TAMARA KARINA H14104104 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN FANYA TAMARA KARINA. Analisis Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (dibimbing oleh YETI LIS PURNAMADEWI) Pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development) telah memunculkan isu baru yaitu kaitan antara perdagangan dan lingkungan. Green Economics adalah konsep baru dari ekonomi yang mengedepankan keseimbangan ekonomi dan ekologi melalui kesinambungan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks ini, keterkaitan aspek lingkungan di dalam perdagangan adalah bahwa lingkungan dan sumber daya alam merupakan salah satu komoditi yang diperdagangkan. Seiring terbukanya akses globalisasi, perdagangan internasional telah menjadi ajang persaingan yang besar diantara negara-negara. Salah satu ukuran terpercaya untuk menghadapi tantangan ini adalah daya saing. Kebijakan lingkungan suatu negara akan berdampak pada akses pasar dan daya saing internasional khususnya pada negara berkembang. Beberapa persyaratan lingkungan yang ditujukan untuk melindungi kepentingan konsumen domestik suatu negara akan menjadi penghambat negara eksportir. Contohnya pada penerapan standarisasi ekolabel dan ISO14000 pada produk berbasis kehutanan yang dikhawatirkan dapat memicu deforestasi besar-besaran. Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa penebangan hutan secara liar/deforestasi merupakan permasalahan lingkungan yang paling utama dan paling memprihatinkan yang terjadi di Indonesia, sehingga produk-produk yang berkaitan langsung dengan permasalahan lingkungan tersebut diklasifikasikan sebagai produk yang mempunyai kadar sensitifitas tinggi terhadap lingkungan yang dalam pengelolaannya diperlukan perhatian lebih agar dapat lebih meminimalisir efek negatifnya terhadap lingkungan (KLH, 2007). Faktanya PDB dari sektor kehutanan relatif besar, sektor industri kayu terutama menyumbangkan devisa yang relatif tinggi. Pada tahun 2006 ekspor produk kayu Indonesia mencapai lebih dari US$ 3 milyar. Sektor ini juga sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja. Menurut Asosiasi Pengusaha Kayu Indonesia, pada tahun 2006 industri sektor kehutanan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak lebih dari 1 juta orang (APKINDO, 2006). Namun bagi negara eksportir khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia, ketentuan tersebut akan menyulitkan karena terkadang tidak sesuai dengan kondisi produk yang dihasilkan. Semenjak diberlakukannya kebijakan ekolabel, rata-rata produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas), Coniferous of Wood (kayu serabut), dan Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) mengalami fluktuasi pada volume ekspornya dari tahun ke tahun dan sebagian besar mengalami penurunan. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah (1) bagaimana posisi daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia? dan (2) faktor apakah yang paling mempengaruhi laju pertumbuhan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia. Penelitian ini menggunakan data sekunder time series sejak tahun 20002006. Metode analisis yang digunakan adalah Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamic (EPD) untuk menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif, dan pendekatan Constant Market Share (CMS) yang digunakan untuk menganalisis faktor yang paling mempengaruhi laju pertumbuhan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia. Berdasarkan analisis daya saing komparatif dan kompetitif, dari empat produk yang dianalisis, hanya satu produk yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang tinggi, yaitu produk Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit). Dua diantaranya lebih memiliki keunggulan komparatif, produk tersebut adalah Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) dan Semibleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas. Sedangkan produk Coniferous of Wood (kayu serabut) tidak mempunyai keunggulan komparatif maupun kompetitif. Hasil analisis CMS berdasarkan studi ini menunjukan bahwa daya saing keempat produk yang dianalisis dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan impor dan faktor komposisi komoditi selama periode 2000-2006, kecuali untuk produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) yang paling dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan impor saja. Bagi para pelaku eksportir disarankan dalam jangka panjang agar mampu meningkatkan daya saing produk yang akan diekspor dengan cara mulai memperhatikan dan menerapkan secara nyata berbagai persyaratan perdagangan yang diajukan oleh pihak importir, baik dari segi kualitas maupun peningkatan penerapan standarisasi terhadap keselamatan lingkungan hidup jika tidak ingin terjadi peralihan pangsa pasar ke negara pesaing. ANALISIS DAYA SAING PRODUK INDONESIA YANG SENSITIF TERHADAP LINGKUNGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA FANYA TAMARA KARINA H14104104 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh, Nama Mahasiswa : Fanya Tamara Karina Nomor Registrasi Pokok : H14104104 Program studi : Ilmu Ekonomi Judul Skripsi : Analisis Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif terhadap Lingkungan dan Faktorfaktor yang Mempengaruhinya dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Menyetujui, Dosen Pembimbing, Ir. Yeti Lis Purnamadewi, M.Sc NIP. 131 967 243 Mengetahui, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Rina Oktaviani, Ph.D NIP. 131 846 872 Tanggal kelulusan : PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor, Januari 2009 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Fanya Tamara Karina lahir pada tanggal 6 April 1986 di Bogor, Jawa Barat. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Dedy Achwandi dan Yulia Risdiani. Jenjang pendidikan penulis dilalui seluruhnya di Kota Bogor. Penulis menamatkan sekolah dasar di SD Pengadilan V Bogor pada tahun 1993. Kemudian melanjutkan SLTP Negeri V Bogor dan lulus pada tahun 2001. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMU Negeri II Bogor dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun 2004, penulis melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan Institut Pertanian Bogor merupakan pilihan yang utama. Penulis masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru dan diterima sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah aktif di berbagai kepanitiaan seperti Economics Contest dan Hipotex-R. Penulis juga pernah menjadi pengurus pada organisasi Himpunan Profesi dan Peminat Ekonomi Studi Pembangunan (Hipotesa). KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan karunia - Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “ Analisis Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya ”. Masalah daya saing produk Indonesia di pasar dunia merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam upaya peningkatan ekspor produk Indonesia khususnya produk yang sensitif terhadap lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhinya pun sangat penting diketahui untuk membantu membuat kebijakan dalam rangka peningkatan daya saing. Keterkaitan itulah yang ingin diteliti. Disamping hal tersebut, skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ir. Yeti Lis Purnamadewi, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah sabar dalam memberikan bimbingan, baik secara teknis maupun teoritis. 2. Widyastutik, M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun bagi kesempurnaan karya ini. 3. Jaenal Effendi, MA sebagai dosen penguji Komisi Pendidikan yang telah memberikan saran mengenai tata cara penulisan yang baik dan benar. 4. Rina Oktaviani, Ph.D dan M. Firdaus, Ph.D atas ilmu yang telah banyak diberikan selama ini. 5. Staf Departemen Ilmu Ekonomi dan staf Fakultas Ekonomi dan Manajemen atas kerjasamanya selama penulis menuntut ilmu di Departemen Ilmu Ekonomi. 6. Keluarga tercinta, HM. Dedy Achwandi dan Hj. Yulia Risdiani, atas segala kasih sayang dan doa’nya untuk keberhasilan penulis dan selalu memberikan dukungan sehingga karya ini bisa terselesaikan juga adik-adik Arsya dan Adli. 7. Teh Lea, Heri dan Indah yang telah banyak memberikan bantuan-bantuan dan kebersamaan selama ini. 8. Teman-teman IE 41, Della, Dilla, Hana, Heni, Rani, Mair, Chai, Dora, Baba, Nisa, Septi, Yeli, Tika, Mamieh, Iyo, Uunk, Abi, Dani, Dado, Islam, Siera, Sigit, Soli, Dewi, Maxy dan IE lainnya yang bukan dilupakan tapi tidak bisa disebutkan satu persatu. 9. Sahabat-sahabatku Rini, Yeni, Asri, Diana, Rere, Minceu, Abs, Tatang. Thank you for our never ending friendship. 10. Untuk semua pihak yang telah membantu dan mengisi hidupku. You may not be written but you’re not forgotten. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang membutuhkan. Bogor, Januari 2009 Fanya Tamara Karina H14104104 DAFTAR ISI DAFTAR ISI ................................................................................................... i DAFTAR TABEL............................................................................................ iv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... v DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... vi I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ............................................................................. 1 1.2. Perumusan Masalah ..................................................................... 8 1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................... 12 1.4. Manfaat Penelitian ....................................................................... 13 1.5. Ruang Lingkup Penelitian.............................................................. 13 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ................... 14 2.1. Tinjauan Pustaka ............................................................................ 14 2.1.1. Ekonomi Versus Lingkungan.............................................. 14 2.1.2. Internalisasi Aspek Lingkungan Hidup dalam Perdagangan 16 2.1.3. Teori Perdagangan Internasional......................................... 18 2.1.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor ...... 22 2.1.5. Konsep Daya Saing ............................................................. 24 Studi Penelitian Terdahulu............................................................. 28 2.2.1. Penelitian Mengenai Daya Saing........................................ 28 2.2.2. Penelitian Mengenai Ekonomi dan Lingkungan ................ 32 Kerangka Pemikiran ..................................................................... 34 III. METODE PENELITIAN.......................................................................... 39 2.2. 2.3. 3.1. Jenis dan Sumber Data... ................................................................ 39 3.2. Metode Analisis dan Pengolahan Data... ....................................... 40 3.2.1. Revealed Comparative Advantage (RCA) .......................... 3.2.2. Constant Market Share Analysis (CMS)............................. 3.2.3. Export Product Dynamic (EPD) ......................................... 41 41 42 IV. GAMBARAN UMUM ............................................................................. 45 4.1. Pertumbuhan Ekspor Indonesia di Pasar Dunia ............................ 45 4.2. Pertumbuhan Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan ................................................................................... 46 4.2.1. 4.3. Pertumbuhan Ekspor Wood and Articles of Wood (Kayu dan Artikel Kayu)................................................. 46 4.2.2. Pertumbuhan Ekspor Pulp (Bubur Kertas) ..................... 50 4.2.3. Pertumbuhan Ekspor Vegetable Fats and Oils (Minyak Nabati) .............................................................. 53 Perkembangan Impor Dunia ......................................................... 56 4.3.1. Perkembangan Impor Plywood Consisting Solely of Sheets (Kayu Lapis) Dunia ............................................ 56 Perkembangan Impor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Dunia ...................................................... 57 Perkembangan Impor Semi Bleached or Bleached Pulp Of Paper (Bubur Kertas) Dunia....................................... 59 Perkembangan Impor Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) Dunia ............................................ 61 V. ANALISIS DAYA SAING PRODUK INDONESIA YANG SENSITIF TERHADAP LINGKUNGAN DAN FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA ......................................................................... 63 4.3.2. 4.3.3. 4.3.4. 5.1. Analisis Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan ................................................................................... 63 5.1.1. Analisis Keunggulan Komparatif (Revealed Comparative Advantage) ......................................................................... 64 5.1.1.1. Analisis Produk Plywood Consisting Solely of Sheets (Kayu Lapis) ........................................... 64 5.1.1.2. Analisis Produk Semi-Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) ............................ 68 5.1.1.3. Analisis Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) .................................................. 70 5.1.1.4. Analisis Produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit)................................... 73 Analisis Keunggulan Kompetitif Produk Ekspor Dinamis (Export Product Dynamic)................................................ 75 Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan ............................ 77 5.2.1. Analisis Pangsa Pasar Konstan (Constant Market Share) 77 5.2.1.1. Analisis CMS Produk Plywood Consisting Solely of Sheets (Kayu Lapis) ........................... 77 5.2.1.2. Analisis CMS Produk Semi-Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) ........... 79 5.1.2. 5.2. 5.2.1.3. Analisis CMS Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) .................................................. 81 5.2.1.4. Analisis CMS Produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) ........................... 84 VI. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 86 6.1. Kesimpulan .................................................................................... 86 6.2. Saran .............................................................................................. 87 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 89 LAMPIRAN ..................................................................................................... 92 DAFTAR TABEL Nomor 1. Halaman Produk Domestik Bruto (PDB ) Sektor Kehutanan Tahun 2000-2006 ................................................................................................ 2 Produk Domestik Bruto (PDB ) Sektor Perikanan dan Perkebunan Tahun 2000-2006 ..................................................................................... 3 Volume Ekspor Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan di Pasar Dunia ($ ‘000)........................................................ 11 4. Matriks Posisi Pasar ................................................................................. 44 5. Estimasi RCA Produk Plywood Consisting solely of sheets (Kayu Lapis) ............................................................................................ 65 Estimasi RCA Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas).......................................................................................... 68 7. Estimasi RCA Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) ................... 71 8. Estimasi RCA Produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) ........................................................................................ 74 Hasil Estimasi Export Product Dynamic (EPD) ...................................... 77 10. Estimasi CMS Produk Plywood Consisting solely of sheets (Kayu Lapis) ............................................................................................ 78 11. Estimasi CMS Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas).......................................................................................... 80 12. Estimasi CMS Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) ................... 82 13. Estimasi CMS Produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) ........................................................................................ 84 2. 3. 6. 9. DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Analisis Keseimbangan Parsial Perdagangan Internasional ................... 22 2. Kerangka Pemikiran................................................................................ 37 3. Perkembangan Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2000-2006...................... 46 4. Perkembangan Nilai Ekspor Wood and articles of wood (Kayu dan Artikel Kayu) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006.. 47 5. Perkembangan Ekspor Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 ........................................... 48 6. Perkembangan Ekspor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 ........................................... 50 Perkembangan Ekspor Pulp Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 .................................................................................... 51 Perkembangan Ekspor Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 .................. 52 Ekspor Vegetable Fats and Oils Indonesia ke Pasar Dunia Tahun 2000-2006 ................................................................................... 54 Perkembangan Ekspor Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006................. 55 Perkembangan Impor Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Dunia Tahun 2000-2006 ......................................................................... 56 Perkembangan Impor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Dunia Tahun 2000-2006 .................................................................................... 58 Perkembangan Impor Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Dunia Tahun 2000-2006 ................................................ 60 Perkembangan Impor Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) Dunia Tahun 2000-2006 ............................................... 61 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Hasil Estimasi Produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) 93 2. Hasil Estimasi Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas)........................................................................................... 93 3. Hasil Estimasi Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) .................... 94 4. Hasil Estimasi Produk Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit) ......................................................................................... 94 5. Kompilasi Data Ekspor Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 ...... 94 6. Kompilasi Data Ekspor Dunia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 ........... 95 7. Kompilasi Data Impor Dunia Tahun 2000-2006 ..................................... 95 I. 1.1. PENDAHULUAN Latar Belakang Pengembangan hasil bumi dan sumber daya alam demi peningkatan ekonomi bukan lagi merupakan suatu sistem pembangunan yang hanya mementingkan keuntungan semata, namun melalui konsep pembangunan yang berkelanjutan, kehidupan di masa yang akan dating pun turut diperhatikan. Pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development) adalah pembangunan yang menitikberatkan pada pembangunan dalam jangka panjang dimana implementasinya sangat erat terkait dengan kesadaran lingkungan. Era globalisasi yang baru dimulai, telah memunculkan isu baru yang berkaitan dengan pembangunan yang berkelanjutan, yaitu isu tentang perdagangan dan lingkungan, dimana tema Green Economics sedang di galakan di dunia internasional. Green Economics adalah konsep baru dari ekonomi yang mengedepankan keseimbangan ekonomi dan ekologi melalui kesinambungan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan. Sektor pertanian sebagai sektor yang berbasis sumber daya alam, merupakan salah satu diantara ketiga sektor utama yang menyumbang perekonomian Indonesia, yaitu sektor pertanian, industri pengolahan dan perdagangan. Bila digabungkan ketiganya mempunyai peran lebih dari separuh dari total perekonomian yaitu sebesar 58.5 persen pada tahun 2004, 56.1 persen (2005), 55.5 persen (2006) dan 55.7 (2007) dengan sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap total perekonomian sebesar 13.8 persen pada tahun (2007). Subsektor kehutanan khususnya, menyumbang perekonomian relatif besar. Terlihat pada Tabel 1 bahwa PDB sektor kehutanan terus meningkat dari tahun 2000-2006 dimana peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar 33 persen dari tahun sebelumnya dan mampu menyumbang devisa lebih dari 30 trilyun rupiah dengan kontribusi terhadap PDB rata-rata sebesar 4 persen per tahun. Tabel 1. Produk Domestik Bruto (PDB ) Sektor Kehutanan Tahun 20002006 No Tahun Produk Domestik Bruto (PDB) Kehutanan (Milyar Rupiah) Persentase Perubahan (%) 1 2 3 4 5 6 7 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 16,343.0 16,962.1 17,602.4 18,414.6 20,290.0 22,561.8 30,017.0 3.78 3.77 4.61 10.18 11.20 33.04 Sumber : Departemen Kehutanan, 2006 Faktanya PDB dari sektor kehutanan sangat besar, sektor industri kayu terutama menyumbangkan devisa yang relatif tinggi. Pada tahun 2006, ekspor produk kayu Indonesia mencapai lebih dari US$ 3 milyar. Sektor ini juga sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja. Menurut APKINDO (Asosiasi Panel Kayu Indonesia), pada tahun 2006 industri sektor kehutanan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak lebih dari 5 juta orang (APKINDO, 2006), bila dibandingkan dengan subsektor lainnya seperti sektor perikanan dan perdagangan. Sektor perikanan mampu hanya mampu menyumbang rata-rata 2.5 persen per tahunnya terhadap total PDB, sedangkan sektor perkebunan menyumbang ratarata 3.5 persen terhadap PDB per tahunnya. Tabel 2. Produk Domestik Bruto (PDB ) Sektor Perikanan dan Perkebunan Tahun 2000-2006 No Tahun Perikanan PDB Kontribusi (MilyarRupiah) PDB (%) 1 2003 20,283.8 2.6 2 2004 25,764.6 2.1 3 2005 28,498.1 2.4 4 2006 29,298.9 2.9 Perkebunan Kontribusi PDB (%) 30,968.3 3.2 32,321.1 3.8 42,675.9 3.7 47,736.8 3.9 PDB (Milyar Rupiah) Sumber : BPS, 2006 Terkait dengan tema Green Economics dan Sustainable Development yang sebelumnya dipaparkan, beberapa produk seperti produk hasil hutan, dan eksplorasi sumber daya alam lainnya, sangat dikhawatirkan kelangsungannya karena kecenderungannya yang sangat tinggi dalam kerusakan lingkungan. Perkebunan kelapa sawit pun mulai dikhawatirkan keberadaannya karena adanya kebijakan pengambilan lahan hutan untuk dialihkan menjadi lahan sawit Di satu sisi, produktifitas dari industri yang berbasis sumber daya alam ini sangat berperan penting dalam peningkatan perekonomian. Di sisi lain, produktifitas dari industri yang berbasis sumber daya alam ini menimbulkan beberapa eksternalitas yang negatif. Kebijakan-kebijakan yang diambil untuk kepentingan dan atas nama perdagangan sering kali berbenturan dengan kepentingan lingkungan. Contohnya, perdagangan untuk produk-produk yang terkait dengan Multilateral Environmental Agreements (MEAs) seperti perpindahan limbah bahan berbahaya dan beracun lintas batas, perdagangan makhluk hidup yang dilindungi, perdagangan bahan perusak lapisan ozon dan sebagainya. Selain itu untuk memacu peningkatan volume perdagangan, sering kali terjadi pengurasan sumber daya alam yang melebihi kapasitas ekosistemnya sehingga terjadi pembangunan yang tidak berkelanjutan (Unsustainable). Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia menyatakan bahwa masalah Lingkungan hidup di Indonesia saat ini adalah penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan, polusi air dari limbah industri dan pertambangan, polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia), asap dan kabut dari kebakaran hutan, kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan dan perambahan suaka alam/suaka margasatwa, penghancuran terumbu kerang, pembuangan sampah. Beberapa data mengenai kondisi lingkungan di Indonesia menunjukan tingginya tingkat pemanfaatan sumber daya alam yang menimbulkan peningkatan kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup adalah sebagai berikut (Rachmawati et. al., 2004): a. Menurut statistik Indonesia 2001, pertambahan penduduk dari tahun 1980 s/d 2000 meningkat cepat. Pada tahun 1980 penduduk Indonesia berjumlah 146,935,000 jiwa bertambah sebesar 1.97 persen menjadi 178,500,000 jiwa pada tahun 1990. Pada tahun 2000 jumlahnya menjadi 205,845,000 jiwa atau naik 1.49 persen dengan kepadatan mencapai 109 jiwa per kilometer persegi. Hal itu telah menyebabkan meningkatnya kebutuhan pangan dan lapangan kerja serta telah mendorong peningkatan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran yang mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan. b. Selain masalah ketersediaan air yang semakin terbatas dari segi volume, pencemaran terhadap air juga menyebabkan semakin berkurangnya kualitas air yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Terutama disebabkan oleh kegiatan industri, pertambangan, pembukaan lahan dan pertanian. c. Pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia menduduki ranking lima terbesar di dunia (WHO, 2001) yang diakibatkan oleh kegiatan transportasi, industri dan kebakaran hutan. d. Lahan kritis di luar kawasan hutan mencapai 15.11 juta hektar dan di dalam kawasan hutan sebanyak 8.14 juta hektar. Hutan rusak dalam areal HPH sudah mencapai 11.66 juta hektar dan lahan eks-HPH yang diserahkan kepada BUMN sebesar 2.59 juta hektar. Areal bekas tebangan dalam areal HPH mencapai 11.09 juta hektar dan eks-HPH yang diserahkan ke BUMN sebesar 2.5 juta hektar. Total hutan yang rusak sudah mendekati angka 57 juta hektar akibat dari illegal logging yang meliputi pencurian, penebangan liar, peredaran serta perdagangan kayu secara illegal. e. Terumbu karang di laut Indonesia kondisinya semakin mencemaskan, sekitar 14 persen dalam kondisi kritis dan 46 persen telah mengalami kerusakan. Hutan mangrove Indonesia diperkirakan tinggal sekitar 3.24 juta hektar dari 4.25 juta hektar. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pertambangan dan eksplorasi minyak di lepas pantai. f. Pengalihan pemanfaatan lahan untuk pembangunan terus berlanjut yang mengakibatkan berkurang atau hilangnya lahan-lahan yang berfungsi sebagai penopang keseimbangan lingkungan. Areal air tawar dari 11.5 juta Ha telah berkurang menjadi 5.1 juta Ha. Danau telah berkurang sekitar 774.000 Ha menjadi 308.000 Ha. Penebangan hutan secara liar/deforestasi merupakan masalah paling utama dan paling memprihatinkan yang terjadi di Indonesia. Dengan laju deforestasi 3.4 juta hektar per tahun yang mengakibatkan berbagai bencana alam seperti banjir, kekeringan dan tanah longsor akibat penggundulan hutan. Produk-produk industri dan perdagangan yang berkaitan langsung dengan permasalahan lingkungan tersebut diklasifikasikan sebagai produk yang mempunyai kadar sensitifitas tinggi terhadap lingkungan yang dalam pengelolaannya diperlukan perhatian lebih agar dapat meminimalisir efek negatifnya terhadap lingkungan (KLH, 2007). Seiring dengan terbukanya akses globalisasi, perdagangan internasional telah menjadi ajang persaingan yang besar diantara negara-negara. Salah satu ukuran terpercaya untuk menghadapi tantangan ini adalah daya saing. Krugman (1996) terkenal menyebut daya saing sebagai obsesi berbahaya pada kritiknya yang ditujukan terhadap kebijakan industri. Sebaliknya, Porter (1990) berpendapat bahwa keunggulan kompetitif sebagai kunci daya saing, baik itu dalam perusahaan, industri, maupun ekonomi secara keseluruhan. Perdagangan secara umum sendiri didefinisikan sebagai proses jual beli atau perpindahan arus barang dan jasa antara penjual dan pembeli. Dalam konteks ini, keterkaitan aspek lingkungan di dalam perdagangan adalah bahwa lingkungan dan sumber daya alam merupakan salah satu komoditi yang diperdagangkan. Contohnya sumber daya alam yang merupakan bahan baku dan komoditi prioritas pada sektor-sektor pertanian, kehutanan, manufaktur, pertambangan dan sebagainya, yang juga merupakan primadona ekspor Indonesia selama ini. Daya saing merupakan suatu konsep dinamis yang berhubungan dengan kebijakan dan lembaga ekonomi yang dibutuhkan oleh suatu negara untuk mempercepat perdagangan dan pertumbuhan ekonominya. Hal tersebut itulah yang memacu terbentuknya pola perdagangan yang sekarang berkembang, yaitu pola perdagangan bebas. Dengan perkembangan perdagangan bebas, aspek lingkungan tidak lagi terisolasi sebagai komoditi, tetapi lebih meluas dan kompleks terkait dengan penyediaan jasa, perjanjian internasional tentang lingkungan maupun kebijakan lingkungan pada tingkat nasional maupun regional. Sesuai dengan sifatnya, lingkungan hidup akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan suatu praktek perdagangan. Kebijakan lingkungan suatu negara akan berdampak pada akses pasar dan daya saing internasional khususnya pada negara berkembang. Beberapa persyaratan lingkungan yang ditujukan untuk melindungi kepentingan konsumen domestik suatu negara sering kali menjadi penghambat negara eksportir. Ekolabel mulai berperan secara penuh di industri dan perdagangan Indonesia semenjak tahun 2000. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) juga berperan sebagai lembaga akreditasi mulai tahun 2000. Setelah sistem sertifikasi selesai dikembangkan, langkah yang dilakukan LEI untuk memperoleh pengakuan di pasar internasional adalah mengembangkan dan mempertahankan hubungan, diantaranya dengan Forest Stewardship Council (FSC), asosiasi-asosiasi perdagangan dan industri di negara-negara pengimpor dan kelompok pembeli produk kayu bersertifikasi (Buyers Group of Certified Wood Products) yang disponsori oleh WWF di berbagai negara (LEI, 2005) Bagi negara eksportir khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia, ketentuan tersebut akan menyulitkan karena tidak sesuai dengan kondisi produk yang dihasilkan. Walaupun untuk mengatasi hal ini negara eksportir dapat meningkatkan daya saing produknya dengan mengadopsi kebijakan dan tindakan-tindakan lingkungan yang tepat yang berlaku secara nasional maupun internasional, misalnya dengan segera menerapkan standar ekolabel untuk produk tertentu, sehingga akan mendorong peningkatan kualitas produk ekspornya. 1.2. Perumusan Masalah Kekhawatiran munculnya perekonomian bebas yang merugikan, melahirkan isu-isu baru yang dihembuskan melalui kampanye-kampanye lingkungan. Kini, pembatasan perdagangan dilakukan dengan penghalang yang lebih beralasan ilmiah seperti dampak kesehatan maupun kelestarian alam. Satu hal yang pasti dalam era perdagangan bebas sekarang ini dan dikemudian hari adalah bahwa, di satu sisi semua hambatan perdagangan dalam bentuk tarif atau bea masuk impor (BMM) akan hilang, namun di sisi lain, hambatan non tarif (NTB) akan semakin banyak. NTB ini secara eksplisit tersirat dalam isu-isu seperti standar lingkungan atau kelestarian (alam maupun binatang). Dalam masalah lingkungan, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa isu ini menjadi salah satu bagian penting dalam setiap kesepakatan perdagangan, baik dalam bentuk bilateral atau multilateral, pada tingkat regional maupun global. Sudah banyak kasus khususnya untuk ekspor komoditas-komoditas pertanian dan kehutanan yang menunjukan kesulitan yang dihadapi oleh Indonesia untuk memenuhi standar yang diminta oleh pihak pembeli. Indonesia juga sering mengalami kesulitan dalam mengekspor produk-produk industri karena isu lingkungan. Misalnya dalam hal industri kayu dan pulp. Sebagai negara tropis, Indonesia seharusnya memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi bahan baku kertas (pulp). Namun tidak mudah bagi Indonesia untuk megekspornya. Praktik pembalakan liar sering kali dipakai oleh negara-negara maju untuk menekan industri pulp dan kayu nasional. Hal itu pun terjadi pada industri lainnya. Dalam masalah standar kualitas, disadari bahwa kualitas sangat penting untuk mendorong daya saing produk Indonesia agar bisa unggul di pasar dunia, sedangkan, di sisi lain, Indonesia sampai saat ini masih mempunyai masalah serius untuk memenuhi persyaratan tersebut. Hingga Agustus 2007, pemerintah Indonesia telah menetapkan 3.200 standar nasional industri (SNI), tetapi baru 215 SNI produk yang diwajibkan. SNI yang diwajibkan itu pun sebagian besar masih berlaku sukarela karena baru 34 SNI produk yang dinotifikasi ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tanpa notifikasi, tidak ada mekanisme pengawasan dan sanksi yang dapat diterapkan (www.menlh.go.id). Produk-produk yang sering kali dipermasalahkan dalam perdagangan internasional adalah produk-produk yang sensitif terhadap isu lingkungan, apalagi semenjak kebijakan ekolabel mulai diperhatikan secara penuh di dunia internasional dan khususnya di Indonesia sejak tahun 2000, Produk tersebut adalah (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached pulp of paper (bubur kertas), (3) Coniferous of Wood (kayu serabut) , dan (4) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit). Dimana produkproduk tersebut mempunyai kecenderungan yang tinggi terhadap hubungannya antara peningkatan volume perdagangan dan kerusakan lingkungan (deforestasi) serta besarnya volume ekspor produk-produk tersebut ke dunia. Terlihat dari Tabel 3, rata-rata keempat produk tersebut mengalami volume ekspor yang sangat berfluktuasi dari tahun ke tahun dan sebagian besar mengalami penurunan. Penurunan volume ekspor terjadi khususnya pada komoditi Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), Semi-bleached or bleached pulp of paper (bubur kertas) dan Coniferous of Wood (kayu serabut), ketiga produk tersebut rata-rata sempat mengalami penurunan ekspor yang sangat signifikan pada rentang waktu 2000-2006. Penurunan tertinggi volume ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) terjadi pada tahun 2004, adalah sebesar US$ 1,178,467,834 di tahun 2004 dan pada tahun berikutnya menjadi US$ 974,424,627 atau turun 17.31 persen. Pada produk Semi-bleached or bleached pulp of paper (bubur kertas), penurunan tertinggi terjadi pada periode 2003-2004 dimana terjadi penurunan volume ekspor sebesar 25.78 persen dari semula US$ 789,079,873 menjadi hanya US$ 585,659,163. Sedangkan untuk komoditi Coniferous of Wood (kayu serabut), penurunan tertinggi terjadi pada periode 2004-2005 dimana penurunan produk tersebut mencapai 97.22 persen dari semula US$ 2,204,895 menjadi US$ 61,235. Tabel 3. Volume Ekspor Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan di Pasar Dunia ($ ‘000) Plywood consisting solely of sheets 2000 1,501,021.458 2001 1,330,285.568 2002 1,289,258.255 2003 1,235,127.450 2004 1,178,467.834 2005 974,424.627 2006 1,011,491.745 Sumber : Comtrade, 2007 Tahun Semi Bleached or Bleached Pulp of paper 706,910.619 561,062.592 705,383.847 789,079.873 585,659.163 886,026.319 1,054,148.869 Coniferous of Wood 7,382.051 10,333.129 6,260.231 13,126.892 2,204.895 61,235 466.209 Palm kernel or babassu oil and frac 169,550.221 111,937.376 200,997.230 206,241.794 385,997.314 448,954.959 506,001.876 Persoalan menyangkut lingkungan memang hal yang rumit. Hal ini terkait salah satunya dengan masalah daya saing. Permintaan eksportir/konsumen negara- negara maju terhadap komoditas ekspor Indonesia terutama yang berbasis sumber daya alam, tidak lagi hanya didasarkan pada kualitas, harga, desain, dan delivery. Bahkan kini perlu diwaspadai adanya hambatan yang mempersoalkan asal-usul bahan baku. Daya saing produk-produk yang sensitif terhadap lingkungan merupakan suatu hal yang sangat krusial bagi keberlanjutan perdagangan produk Indonesia di pasar dunia. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa hambatan non tarif atau NTB seperti isu lingkungan saat ini merupakan isu penting bagi negaranegara maju untuk meng-impor produk-produk tersebut dari negara peng-ekspor. Mengidentifikasi faktor/determinan yang mempengaruhi pertumbuhan ekspornya juga merupakan satu hal penting untuk membantu para pembuat kebijakan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong agar produk-produk Indonesia tersebut dapat bersaing di pasar global dan volume ekspor serta kegiatan produksi di dalam negeri dapat ditingkatkan sehingga mendorong pertumbuhan sektor riil. Maka diperlukan perhatian yang kontinu dalam peningkatan kinerja pengelolaan lingkungan hidup untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Berdasarkan pemaparan yang dilakukan sebelumnya, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana posisi daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia ? 2. Faktor apakah yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia ? 1.3. Tujuan Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan, ada beberapa hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini: 1. Menganalisis posisi daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia, 2. Mengidentifikasi faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia 1.4. Manfaat Hasil penelitian selain berguna untuk kepentingan peneliti juga diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan agar Indonesia dapat turut serta dalam perdagangan dunia secara kompetitif dengan negara lain, dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan. Selain itu juga diharapkan penelitian ini dapat berguna untuk mengantisipasi tuntutan eksportir/konsumen luar negeri dan meningkatkan daya kristis masyarakat (pelaku bisnis, dan pemerintah) terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sehingga ke depan dapat meningkatkan pangsa pasar dan daya saing komoditas ekspor Indonesia. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian ini hanya membahas tentang daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia dan faktor yang mempengaruhinya pada tahun 2000-2006 dan tidak membahas secara khusus dampak langsungnya terhadap lingkungan. Produk-produk yang akan dianalisis dibatasi hanya empat produk (HS 6 Digits) yaitu (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached pulp of paper (bubur kertas), (3) Coniferous of Wood (kayu serabut) dan (4) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit), berdasarkan besarnya nilai ekspor keempat produk tersebut ke dunia serta klasifikasi produk yang mempunyai kadar sensitifitas tinggi terhadap lingkungan khususnya deforestasi (KLH, 2007). II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Ekonomi Versus lingkungan Pembangunan ekonomi yang menitikberatkan pada pertumbuhan sering bertentangan dengan prinsip pelestarian lingkungan, sehingga sering dikatakan bahwa antara pembangunan ekonomi dan lingkungan terkesan kontradiktif. Tapi hal ini tidaklah selalu benar karena antara dua kepentingan ini bisa saling berinteraksi atau diintegrasikan sehingga kepentingan ekonomi dan lingkungan bisa sama-sama tercapai. Kuatnya saling interaksi dan ketergantungan antara dua faktor tersebut memerlukan pendekatan yang tepat bagi kepentingan pembangunan berkelanjutaan atau pembangunan berwawasan lingkungan, yang kita kenal dengan sebutan Sustainable Development. Secara teoritis dan praktis, penilaian ekonomi sumber daya alam dengan berdasarkan biaya moneter dari kegiatan ekstraksi dan distribusi sumber daya saja seringkali mengakibatkan kurangnya insentif bagi penggunaan sumberdaya yang sustainable. Selanjutnya kegiatan konsumsi yang berlebihan terhadap sumber daya untuk kegiatan produksi dapat mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan yang menjadi beban dan biaya lingkungan serta masyarakat. Untuk mendukung pengembangan sumber daya yang sustainable maka biaya lingkungan akibat degradasi itu harus diintegrasikan dalam seluruh aspek kegiatan ekonomi, tidak hanya pada pola konsumsi perdagangan, tetapi juga terhadap sumber daya lainnya. Menurut Lonergan dalam Yakin (1997), untuk menjamin terlaksananya pembangunan yang berwawasan lingkungan, ada tiga dimensi penting yang harus dipertimbangkan. Pertama adalah dimensi ekonomi yang menghubungkan antara pengaruh unsur makroekonomi dan mikroekonomi pada lingkungan dan bagaimana sumber daya alam diberlakukan dalam analisis ekonomi. Kedua adalah dimensi politik yang mencakup proses politik yang menentukan penampilan dan sosok pembangunan, pertumbuhan penduduk, dan degradasi lingkungan pada semua negara. Dimensi ini juga termasuk peranan agen masyarakat, struktur sosial dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Ketiga adalah dimensi sosial dan budaya yang mengkaitkan antara tradisi atau sejarah, dominasi ilmu pengetahuan barat serta pola pemikiran dan tradisi agama. Ketiga dimensi ini berinteraksi satu sama lain untuk mendorong terciptanya pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan, suatu pembangunan di wilayah tertentu dapat berlangsung secara berkelanjutan jika permintaan total manusia terhadap sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan tidak melampaui kemampuan suatu ekosistem untuk menyediakannya dalam kurun waktu tertentu. Permasalahan lingkungan akan muncul jika permintaan manusia terhadap sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan, melebihi kemampuan ekosistem wilayah untuk menyediakan sumber daya alam dan jasa lingkungan tersebut (Yakin, 1997). Perlindungan lingkungan hidup yang bertujuan untuk memperoleh kualitas lingkungan yang baik, sekarang maupun masa yang akan datang, memerlukan usaha yang sungguh-sungguh terutama dalam hal : (1) Inventarisasi situasi lingkungan saat ini, (2) Lembaga serta organisasi yang khusus menangani masalah lingkungan baik di pusat maupun daerah, terutama menentukan penyimpangan, (3) Penyelesaian permasalahan secara ilmiah, terencana dan politis, serta (4) Evaluasi terus menerus terhadap program-program lingkungan serta persyaratan pembangunan proyek yang harus dipenuhi. Selain dampak ekonomi, dampak lingkungan pada proyek juga harus diperhatikan (Suparmoko, 1998). 2.1.2. Internalisasi Aspek Lingkungan Hidup dalam Perdagangan Ditinjau dari kepentingan sektor perdagangan global, aspek lingkungan hidup merupakan bagian yang penting bagi daya saing barang dan jasa (competitiveness dan comparativeness) dan akses pasar. Beberapa contoh dari makin ketatnya persyaratan perdagangan antar negara, antara lain adalah persyaratan lingkungan seperti ISO seri 14001 dan ecolabeling. Agar barangbarang dan jasa dapat bersaing di pasar global dan volume ekspor serta kegiatan produksi di dalam negeri dapat ditingkatkan sehingga mendorong pertumbuhan sektor rill, maka diperlukan perhatian yang kotinu dalam peningkatan kinerja pengelolaan lingkungan hidup untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Untuk mengantisipasi dan merespon perkembangan aspek lingkungan hidup dalam kaitannya dengan perdagangan global, perlu dilakukan (Dewanthi dalam Rachmawati. et. al., 2004) : 1. Liberalisasi di bidang perdagangan dan lingkungan hidup dilaksanakan secara bertahap (progressive liberalization). 2. Liberalisasi, khususnya perundingan di bidang perdagangan dan lingkungan, dilaksanakan dengan mengacu pada tujuan kebijaksanaan nasional antara lain dengan memperhatikan tingkat pembangunan (level of development) Indonesia serta harus diupayakan untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. 3. Penerapan standar lingkungan tidak boleh dijadikan hambatan dalam perdagangan bebas, tidak diskriminatif, transparan dan tidak mempunyai konflik dengan alat perdagangan yang diperlukan untuk perlindungan lingkungan. 4. Peningkatan akses pasar bagi produk-produk Indonesia harus lebih mengarah kepada pengalokasian sumber daya alam yang lebih baik guna membantu perlindungan lingkungan hidup. 5. Penerapan label lingkungan dalam perdagangan bebas dilaksanakan dengan tujuan efisiensi di dalam pemanfaatan maupun penggunaan sumber daya alam. Penerapan tersebut bersifat secara sukarela dan bertahap dengan mengutamakan kepentingan pengelolaan lingkungan hidup. 6. Pendekatan pemanfaatan teknologi didasarkan pada pemilihan teknologi yang tepat guna, yaitu teknologi yang menggunakan metode best applicable technology serta didasarkan pada pertimbangan upaya pencegahan dini (eco-technology). 2.1.3. Teori Perdagangan Internasional Pasal 1 Undang-undang NO. 32 Tahun 1964 tentang peraturan lalu lintas devisa menyebutkan bahwa ekspor adalah pengiriman barang ke luar Indonesia. Dari segi perspektif permintaan, kegiatan ekspor diasumsikan sebagai fungsi dari permintaan pasar internasional terhadap suatu komoditi yang dihasilkan oleh suatu negara, sedangkan kegiatan impor diasumsikan sebagai fungsi permintaan suatu negara terhadap suatu komoditi pasar internasional. Ekspor merupakan penjualan barang yang dihasilkan oleh suatu negara ke negara lain. Suatu negara dapat mengekspor barang-barang yang dihasilkan ke negara lain yang tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang yang dihasilkan oleh negara pengekspor. Dalam perdagangan internasional khususnya, ekspor mempunyai peranan penting yaitu sebagai motor penggerak perekonomian nasional. Sebab ekspor dapat menghasilkan devisa, yang selanjutnya dapat digunakan untuk membiayai impor dan pembiayaan pembangunan sektor-sektor di dalam negeri. Sedangkan impor merupakan pembelian barang yang dilakukan oleh suatu negara ke negara lain yang menghasilkan barang tersebut. Impor terjadi karena suatu negara tidak bisa menghasilkan barang-barang modal dan berbagai jenis barang untuk keperluan negaranya. Jika impor lebih besar daripada ekspor, maka cadangan devisa akan berkurang atau neraca perdagangan akan defisit (Amir, 1995). Ada beberapa faktor yang mendorong timbulnya perdagangan internasional (ekspor impor) suatu negara dengan negara lain, yaitu keinginan untuk memperluas pemasaran komoditi ekspor, memperbesar penerimaan bagi kegiatan pembangunan, adanya perbedaan penawaran permintaan antar negara dan tidak semua negara mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya akibat adanya perbedaan biaya relatif dalam menghasilkan komoditi tertentu. Teori mengenai perdagangan diantara dua negara yang dikenal luas dengan teori keunggulan absolut dikemukakan oleh Adam Smith. Asumsi yang menjadi dasar dalam teori ini adalah perdagangan internasional hanya dapat terjadi pada negara yang memiliki keuntungan absolut. Jika suatu negara lebih efisien atau memiliki keunggulan absolut terhadap negara lainnya dalam memproduksi suatu komoditas, namun kurang efisien dibandingkan negara lain dalam memproduksi komoditi lain, maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing melakukan spesialisasi dalam komoditi unggulan dan menukarkannya dengan komiditi lain yang tidak memiliki keunggulan absolut dalam suatu mekanisme perdagangan internasional (Salvatore, 1997). Kenyataannya dalam forum perdagangan global, fakta menunjukan bahwa tidak semua negara di dunia mempunyai keunggulan absolut dalam perdagangan. Kelemahan teori keunggulan absolut ini dikoreksi oleh David Ricardo melalui buku yang berjudul Principal of Political Economy and Taxation. Teori tersebut dalam perkembangannya disebut sebagai teori keunggulan komparatif. Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun suatu negara kurang efisien (memiliki kerugian absolut) terhadap negara lain dalam memproduksi sebuah komoditas, namun masih terdapat asumsi keunggulan komparatif yang dapat mendasari dalam perdagangan internasional. Asumsi ini diaplikasikan melalui spesialisasi dalam kegiatan produksi produk ekspor dengan kerugian absolut lebih kecil (keunggulan komparatif) dan sebaliknya melakukan impor terhadap komoditas yang memiliki kerugian absolut (kerugian komparatif) yang lebih besar. Beberapa asumsi lain yang dikemukakan oleh Ricardo adalah (1) hanya terdapat dua negara dengan dua komoditas, (2) perdagangan bersifat bebas, (3) Terdapat mobilitas antar dua negara tersebut, (4) biaya produksi konstan, (5) tidak terdapat biaya transportasi, (6) teknologi konstan, (7) menggunakan teori nilai tenaga kerja. Perkembangan dalam teori perdagangan internasional selanjutnya dikemukakan oleh Heckscher-Ohlin (H-O). Menurut Hecksher-Ohlin, terdapat perbedaan opportunity cost suatu produk antar suatu negara dengan negara lain yang disebabkan karena adanya perbedaan jumlah atau proporsi yang dimiliki masing-masing negara. Negara-negara yang memiliki faktor produksi relatif banyak dan murah dalam produksinya akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang tertentu apabila negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif langka dan mahal dalam produksinya (Salvatore, 1997). Analisis penawaran ekspor dan permintaan impor pada pasar internasional dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan konsep dasar fungsi penawaran dan permintaan domestik untuk kasus dua negara dengan suatu komoditi perdagangan tertentu. Misalnya adalah penawaran dan permintaan komoditi i di pasar domestik (Gambar 1), masing-masing adalah SA dan DA di Negara A serta SB dan DB di negara B. Tanpa perdagangan terbuka, keseimbangan I negara A di capai pada kondisi EA dengan volume transaksi QA dan harga PA. Di Negara B keseimbangan dicapai pada kondisi EB dengan volume transaksi QB dan harga PB, dengan asumsi bahwa harga domestik di negara A lebih murah dibandingkan dengan harga domestik yang terjadi di Negara B. Harga diatas PA, produsen di negara A akan menghasilkan lebih banyak daripada yang bersedia di beli konsumen di negara tersebut, jadi penawaran SA di titik EA dapat excess supply function (OEA), di negara A. Sementara untuk harga dibawah harga PB, konsumen di negara B akan meminta lebih banyak daripada yang ingin dihasilkan produsen di negara tersebut. Jadi fungsi permintaan DB dibawah titik EB dapat mencerminkan excess demand function (OEB). Perdagangan internasional dalam hal ini menyeimbangkan antara excess demand dan excess supply, karena besarnya segitiga OAE = segitiga OEB. Selanjutnya, dimisalkan ada perdagangan antara negara A dan negara B, dengan asumsi biaya transportasi adalah nol. Penawaran ekspor pada pasar internasional digambarkan oleh SW yang merupakan excess supply function dari negara A, dan permintaan impor digambarkan oleh DW yang merupakan excess demand function dari negara B, keseimbangan di pasar dunia terjadi pada titik EW yang menghasilkan harga dunia sebesar PW, dimana negara A mengekspor (QA1QA2) yang sama dengan jumlah yang diimpor negara B (QB1-QB2). Jumlah ekspor dan impor tersebut ditunjukan oleh volume perdagangan sebesar QW pada pasar internasional. P P P SA Sw ’ EA PW PA SB PB o EB EW o o Dw DB QA1 QA DA Q A2 Q QW Q QB1 Q QB2 Sumber : Salvatore, 1997 Gambar 1. Analisis Keseimbangan Parsial Perdagangan Internasional 2.1.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor Q Penawaran suatu komoditi merupakan jumlah komoditi yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen dalam suatu pasar pada tingkat harga dan waktu tertentu. Beberapa faktor yang mempengaruhi penawaran suatu komoditi adalah harga komoditi yang bersangkutan, harga faktor produksi, tingkat teknologi, pajak dan subsidi. Ekspor suatu komoditi selain untuk memenuhi permintaan dalam negeri, penawaran suatu komoditas juga dimaksudkan untuk memenuhi permintaan masyarakat luar negeri. Penawaran ekspor suatu komoditi dari suatu negara merupakan selisih antara penawaran domestik dengan permintaan domestik. Di lain pihak, negara lain membutuhkan komoditi tersebut sebagai akibat dari kelebihan permintaan di negara tersebut. Berdasarkan uraian tersebut maka teori penawaran ekspor bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor suatu negara. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut : SXt = Qt – Ct + St-1 ............................................... (2.1.5.1) Dimana : SXt = Jumlah ekspor komoditi periode waktu t Qt = Jumlah produksi domestik periode waktu t Ct = Jumlah konsumsi domestik periode waktu t St-1 = Stok periode waktu sebelumnya (t-1) Dari persamaan 2.1.5.1 dapat terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor pada dasarnya terdiri dari faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, konsumsi dan stok (Lipsey et, al,. 1995). Permintaan ekspor suatu komoditi merupakan hubungan yang menyeluruh antara kuantitas komoditi yang akan dibeli konsumen selama periode tertentu pada suatu tingkat harga. Permintaan pasar suatu komoditi merupakan penjumlahan secara horizontal dari permintaan-permintaan individu suatu komoditi. Namun jika dilihat dari segi permintaan, kegiatan ekspor diasumsikan sebagai fungsi permintaan pasar internasional terhadap suatu komoditi yang dihasilkan oleh suatu negara. Permintan ekspor adalah permintaan pasar internasional atau suatu negara tertentu terhadap suatu komoditi. Teori permintaan ekspor bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ekspor suatu negara. Sebagai sebuah permintaan, ekspor suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya harga domestik negara tujuan ekspor (HDIt), harga impor negara tujuan (HIt), pendapatan perkapita penduduk negara tujuan ekspor (YPIt) dan selera masyarakat negara tujuan (CPIt). Secara keseluruhan fungsi permintaan ekspor suatu komoditi dapat dirumuskan sebagai berikut (Lipsey et, al,. 1995) : PXt = f (HDIt , HIt , YPIt , CPIt) .......................... (2.1.6.1) 2.1.5. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu komoditi untuk memasuki pasar luar negeri dan kemampuan untuk dapat bertahan di dalam pasar tersebut, dalam artian jika suatu produk mempunyai daya saing maka produk tersebutlah yang banyak diminati konsumen. Dilihat dari keberadaannya mengenai keunggulan dalam daya saing, maka keunggulan daya saing dari suatu komoditi dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu (natural advantage) keunggulan alamiah/keunggulan absolut dan (acquired advantage) keunggulan yang dikembangkan Pada saat ini keunggulan alamiah atau keunggulan absolut yang dimiliki oleh suatu negara untuk salah satu komoditinya tidak secara langsung menyebabkan komoditi tersebut akan menguasai pangsa pasar dunia, ini dikarenakan jumlah produsen tidak hanya satu negara, akan tetapi ada beberapa negara yang sama-sama menghasilkan komoditi tersebut dengan kondisi keunggulan alamiah yang sama. Daya saing suatu komoditas dapat diukur dengan menggunakan pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif. Keunggulan komparatif merupakan suatu konsep yang dikembangkan oleh David Ricardo untuk menjelaskan efisiensi alokasi sumberdaya di suatu negara dalam sistem ekonomi yang terbuka. Hukum keunggulan komparatif dari Ricardo menyatakan bahwa sekalipun suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut dalam memproduksi dua jenis komoditas jika dibandingan negara lain, namun perdagangan yang saling menguntungkan masih bisa berlangsung, selama rasio harga antar negara masih berbeda jika dibandingkan tidak ada perdagangan (Lindert dan Kindleberger, 1993) Ricardo menganggap keabsahan teori nilai berdasar tenaga kerja (Labor theory of value) yang menyatakan hanya satu faktor produksi yang penting menentukan nilai suatu komoditas, yaitu faktor tenaga kerja. Nilai suatu komoditas adalah proporsional (secara langsung) dengan jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkannya. Teori keunggulan komparatif Ricardo disempurnakan oleh teori biaya imbangan (opportunity cost theory). Argumentasi dasarnya adalah bahwa harga relatif dari komoditas yang berbeda ditentukan oleh perbedaan biaya. Biaya disini menunjukan produksi komoditas alternatif yang harus dikorbankan untuk menghasilkan komoditas yang bersangkutan. Selanjutnya teori Heckscher Ohlin tentang pola perdagangan menyatakan bahwa komoditi-komoditi yang dalam produksinya memerlukan faktor produksi (yang melimpah) dan faktor produksi (yang langka) diekspor untuk ditukar dengan barang-barang yang membutuhkan faktor produksi dalam produksi yang sebaliknya. Jadi secara tidak langsung faktor produksi yang melimpah diekspor dan faktor produksi yang langka diimpor (Ohlin dalam Lindert dan Kindleberger, 1993). Konsep keunggulan komparatif menurut Sudaryanto dan Simatupang (1993) merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial dalam arti daya saing yang akan dicapai pada perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Keunggulan komparatif tidak stabil dan cenderung berubah seiring berjalannya waktu dan perubahan produksi. Menurut Wilcox, Cochrane dan Hardt dalam Dahl dan Hammond (1977), ada beberapa alasan dalam perubahan keunggulan komparatif, yaitu (1) perubahan sumber daya alam seperti erosi tanah (2) perubahan dalam faktor-faktor biologis seperti peningkatan hama dan penyakit (3) perubahan harga input (4) peningkatan mekanisasi tanah dan (5) peningkatan transportasi yang lebih efisien dan lebih murah yang memberikan lebih banyak kemudahan bagi area jauh dari pasar. Aspek yang terkait dengan konsep keunggulan komparatif adalah kelayakan ekonomi, dan yang terkait dengan keunggulan kompetitif adalah kelayakan finansial dari suatu aktifitas. Sudaryanto dan simatupang (1993) mengemukakan bahwa konsep yang lebih cocok untuk mengukur kelayakan finansial adalah keunggulan kompetitif atau Revealed Competitive Advantage yang merupakan pengukur daya saing suatu kegiatan pada kondisi perekonomian aktual. Untuk dapat bersaing di pasaran dunia maka suatu komoditi harus memiliki keunggulan lain selain keunggulan alamiah, yaitu keunggulan kompetitif. Berbeda dengan konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) yang menyatakan bahwa suatu negara tidak perlu menghasilkan suatu produk apabila produk tersebut telah dapat dihasilkan oleh negara lain dengan lebih baik, unggul, dan efisien secara alami, konsep keunggulan kompetitif adalah sebuah konsep yang menyatakan bahwa kondisi alami tidaklah perlu untuk dijadikan penghambat karena keunggulan pada dasarnya dapat diperjuangkan dan ditandingkan (dikompetisikan) dengan berbagai perjuangan/usaha. Dan keunggulan suatu negara bergantung pada kemampuan perusahaan-perusahaan di dalam negara tersebut untuk berkompetisi dalam menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar (Porter, 1990). Porter (1990) menyatakan bahwa daya saing dapat diidentifikasikan dengan produktifitas, yakni tingkat output yang dihasilkan untuk setiap input yang digunakan. Peningkatan produktifitas ini dapat disebabkan oleh peningkatan jumlah input fisik modal maupun tenaga kerja, peningkatan kualitas input yang digunakan dan peningkatan teknologi. Daya saing suatu industri dari suatu bangsa atau negara tergantung pada keunggulan dari empat atribut yang dimilikinya yang terkenal dengan sebutan Porter’s Diamond, yang terdiri dari (1) kondisi faktor; (2) Kondisi permintaan; (3) industri terkait dan penunjang; (4) strategi, struktur dan persaingan perusahaan. Keempat atribut tersebut secara bersama-sama dan ditambah dengan kesempatan, serta kebijakan pemerintah yang kondusif untuk mempercepat keunggulan dan koordinasi antar atribut tersebut, akan mempengaruhi kemampuan bersaing suatu industri di suatu negara. Menurut Sahin, et.al (2006), daya saing sebuah negara didefinisikan sebagai suatu kemampuan bertahan dalam rangka mendapatkan keunggulan komparatif dalam perdagangan dan investasi. Efisiensi institusi publik, basis pendidikan yang kuat sebagai dasar untuk investasi sumber daya manusia jangka panjang dan pembangunan keterampilan, merupakan faktor-faktor pendukung dan penunjang daya saing. Sedangkan menurut National Competitiveness Council (2006), daya saing didefinisikan sebagai kemampuan untuk menerima keberhasilan sebagai pemimpin pasar untuk memberikan standar kehidupan yang lebih baik untuk setiap orang. Definisi ini kemudian diterangkan melalui sebelas kriteria yang harus dipenuhi dalam membangun daya saing, yaitu performa ekonomi, internasionalisasi, modal, pendidikan, produktivitas, kompensasi tenaga kerja dan biaya tenaga kerja per unit, biaya perusahaan non tenaga kerja, perpajakan, ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi kemasyarakatan, infrastruktur transportasi, serta pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup. Kesebelas kriteria tersebut kemudian dilengkapi dengan dua kriteria krusial lainnya yaitu kondisi regulasi dalam suatu negara dan kualitas kehidupan. Tambahan kedua kriteria tersebut merupakan hal yang tidak mungkin dipisahkan dalam membangun daya saing, karena apalah arti dari sebelas kriteria lainnya jika kondisi regulasi dalam suatu negara dan kualitas kehidupan di dalamnya tidak saling berkesinambungan dengan yang lainnya. 2.1. Studi Penelitian Terdahulu 2.2.1. Penelitian Mengenai Daya Saing Telah banyak dilakukan penelitian-penelitan tentang daya saing, beberapa diantaranya adalah penelitian Meryana (2007) tentang daya saing kopi robusta Indonesia di pasar internasional. Jenis data yang digunakan adalah berupa data sekunder. Dari hasil analisis struktur pasar dengan menggunakan nilai Herfindhal Index dan Concentration Ratio diperoleh hasil bahwa struktur pasar kopi robusta di pasar kopi internasional menunjukan kecenderungan ke arah pasar persaingan dengan dengan bentuk pasar oligopoly. Hasil ini ditunjukan dengan skor Herfindhal Index sebesar 0.2 dan nilai Concentration Ratio dari empat produsen terbesar sejumlah 70 persen. Industri kopi nasional memiliki keunggulan komparatif yang ditunjukan dengan nilai RCA yang lebih besar dari 1 yaitu sebesar 9.70. Akan tetapi, daya saingnya masih rendah dibandingkan dengan negara Pantai Gading dan Uganda yang merupakan negara produsen dan eksportir utama kopi robusta di dunia. Hasil analisis keunggulan kompetitif industri kopi robusta Indonesia adalah bahwa secara keseluruhan atribut seperti faktor sumber daya, kondisi permintaan domestik dan struktur industri kopi dalam negeri mendukung industri ini untuk berkembang.. Penelitian tentang daya saing juga telah dilakukan oleh Koerdianto (2008). Penelitiannya tentang analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas sayuran unggulan, kasus Kecamatan Ciwidey, kabupaten Bandung dan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Menggunakan data primer dan sekunder dengan alat analisis Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil analisisnya menunjukan bahwa Kecamatan Ciwidey dan Kecamatan Lembang memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif untuk menghasilkan komoditas sayuran unggulan tomat dan cabai merah. Berdasarkan kriteria keunggulan komparatif, Kecamatan Ciwidey relatif lebih memiliki keunggulan komparatif untuk tomat dan cabai merah dibandingkan Kecamatan Lembang. Sementara berdasarkan kriteria keunggulan kompetitif, kecamatan Lembang relatif memiliki keunggulan kompetitif untuk komoditas tomat dibanding Kecamatan Lembang. Sedangkan untuk cabai merah, walaupun perbedaannyya tidak signifikan, Kecamatan Ciwidey relatif lebih memiliki keunggulan kompetitif dibanding Kecamatan Lembang. Penelitian Kartikasari (2008) dalam analisis daya saing komoditi tanaman hias dan aliran perdagangan anggrek Indonesia di pasar internasional mengungkapkan bahwa dengan metode RCA, perkembangan industri tanaman hias Indonesia lebih lambat dibandingkan dengan Thailand sebagai kompetitor utama di pasar tanaman hias dunia untuk kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut dilihat dari perolehan nilai ekspor tanaman hias Indonesia selama periode 19962006 jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Thailand. Selain itu pangsa ekspor tanaman hias Indonesia di negara tujuan secara umum lebih rendah dibandingkan dengan Thailand. Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk komoditi tanaman hias di pasar Korea, sementara di pasar jepang, Amerika Serikat dan Belanda, Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif. Hal ini berarti tanaman hias Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di pasar Korea. Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk komoditi tanaman hias di pasar Singapura pada tahun 1996 dan 1999 selanjutnya sampai dengan akhir periode daya saing tanaman hias Indonesia di keunggulan komparatif untuk komoditi tanaman hias pada periode 2004-2006. Sedangkan di pasar Amerika Serikat pada periode 2005-2006. Firdaus (2007) melakukan penelitian tentang analisis daya saing dan faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia di Pasar Amerika Serikat. Untuk menentukan aspek-aspek yang paling signifikan dalam mempengaruhi pertumbuhan ekspor digunakan analisa Constant Market Share. Berdasarkan hasil kalkulasi CMS, pertumbuhan ekspor pakaian jadi, kain lembaran dan benang Indonesia ke Amerika Serikat periode 1999-2005 lebih dipengaruhi oleh efek daya saing dan efek pertumbuhan impor atau efek pangsa makro dari Amerika Serikat. Sedangkan efek komposisi komoditi atau efek pangsa mikro kurang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekspor pakaian jadi, kain lembaran dan benang Indonesia. Adapun penelitian tentang daya saing lainnya dilakukan oleh Suprihatini (2000). Dalam penelitiannya tentang analisis daya saing ekspor teh Indonesia di pasar teh dunia melalui pendekatan Constant Market Share (CMS). Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan ekspor teh Indonesia jauh di bawah pertumbuhan ekspor teh dunia bahkan mengalami pertumbuhan negatif. Kondisi tersebut disebabkan karena (1) Komposisi produk teh yang diekspor Indonesia kurang mengikuti kebutuhan pasar yang tercermin dari angka komposisi komoditas teh Indonesia yang bertanda negatif (-0.032); (2) negara-negara tujuan ekspor teh Indonesia kurang ditujukan ke negara-negara pengimpor teh yang memiliki pertumbuhan import teh tinggi yang tercermin dari angka distribusi yang bertanda negatif (-0.045); dan (3) daya saing teh Indonesia di pasar teh dunia yang cukup lemah yang tercermin dari angka faktor persaingan yang bertanda negatif (0.211) 2.2.2. Penelitian Mengenai Ekonomi dan Lingkungan Penelitian tentang ekonomi dan dampak lingkungan juga telah dilakukan oleh beberapa peneliti, di antaranya adalah Ansahar (2005). Dalam penelitiannya tentang valuasi ekonomi dan dampak lingkungan pada penambangan pasir darat kota Tarakan propinsi Kalimantan Timur, terdapat beberapa dampak yang terjadi akibat penambangan pasir darat di kota Tarakan, yaitu: (1) Penurunan dan kehilangan jumlah pasir darat, (2) Penurunan jumlah dan kualitas air, (3) Erosi pasir, (4) Sedimentasi dan (5) Kerusakan lahan. Menggunakan teknik korelasi Spearmen, didapatkan sejumlah fakta bahwa sebagian besar dari responden memiliki keinginan untuk membayar Rp 2,000/bulan untuk komponen-komponen lingkungan yang terkena dampak penambangan pasir. Keuntungan secara langsung dari penambangan pasir ini adalah sebesar Rp 691,375,000/tahun. Sementara biaya kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir adalah sebesar Rp 80,945,000/ tahun. Rasio antara keuntungan secara langsung dan tak langsung dari penambangan pasir darat di kota Tarakan dengan biaya pengganti (B/C ratio) akibat penambangannya adalah 8.5 (>1). Nilai tersebut berarti penambangan pasir darat di kota Tarakan, masih layak untuk dilakukan secara ekonomi, namun secara dampak lingkungan beresiko negatif untuk dilanjutkan. Hal ini terlihat dari level bahaya erosi yang saat ini masuk kategori sedang, akan berubah menjadi tinggi atau sangat tinggi di tahun-tahun mendatang. Ridwan (2008) dalam penelitiannya tentang analisis usaha tani padi ramah lingkungan dan padi anorganik (Kasus kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor), diketahui bahwa penerimaan total untuk usahatani padi anorganik lebih besar dibandingkan peneriman total usahatani padi ramah lingkungan. Hal ini disebabkan oleh produktivitas padi anorganik lebih tinggi. Pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total petani pemilik padi anorganik lebih besar dibandingkan pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total usaha tani organik. Sedangkan untuk petani penggarap, pendapatan usaha tani padi ramah lingkungan lebih besar daripada pendapatan usahatani anorganik. Hal ini disebabkan karena besarnya biaya yang dikeluarkan oleh petani penggarap. Berdasarkan analisis R/C rasio, usahatani padi ramah lingkungan dan padi anorganik di Kelurahan Situgede sama-sama menguntungkan untuk dilaksanakan karena nilai R/C rasio lebih besar dari satu. Nilai R/C rasio atas biaya tunai untuk petani pemilik usahatani padi ramah lingkungan sebesar 2.392 sedangkan nilai R/C rasio atas biaya tunai untuk petani pemilik usahatani anorganik hanya sebesar 2.275. Artinya dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan petani pemilik usahatani padi ramah lingkungan dapat menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada penerimaan oleh petani pemilik usahatani anorganik. Untuk Petani penggarap nilai R/C rasio atas biaya tunai dan nilai dan nilai R/C rasio atas biaya total usahatani padi ramah lingkungan lebih besar daripada nilai R/C rasio atas biaya tunai dan nilai R/C rasio atas biaya tota usahatani anorganik. Artinya usahatani padi ramah lingkungan lebih layak daripada usahatani anorganik. Perbedaan mendasar penelitian mengenai analisis daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan penelitian-penelitian lainnya adalah pada jenis produk/komoditi yang diteliti. Dimana dalam penelitian ini, produk/komoditi yang diteliti merupakan produk berbasis kehutanan yang berkaitan langsung dengan permasalahan lingkungan (deforestasi), namun tidak membahas dampak langsungnya terhadap lingkungan. Juga pada penggunaan metode analisis penelitian yang menggunakan RCA dan EPD sebagai alat analisis daya saing komparatif dan kompetitif, serta pendekatan pangsa pasar konstan (CMS) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. 2.2. Kerangka Pemikiran Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam yang berlimpah. Tidak mengherankan jika pemerintah Indonesia mengandalkan kekayaan alamnya sebagai salah satu aspek krusial dalam mendorong laju perekonomian. Dependensi performa ekspor Indonesia terhadap produk ekspor berbasis sumber daya alam sangatlah tinggi, terlihat dari volume perdagangan produk eksport tersebut ke pasar dunia yang tidak sedikit. Menjadikan perdagangan produk berbasis sumber daya alam ini sebagai idola bagi pendapatan negara. Munculnya era baru perdagangan bebas, lebih mendorong Indonesia untuk meningkatkan performa ekspor produk Resources based ini. Terlebih lagi karena Indonesia unggul di bidangnya. Dengan munculnya era baru perdagangan yaitu era perdagangan bebas, muncul pula suatu fenomena baru dari hal tersebut, yaitu suatu konsep mengenai pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development), yang mengusung tema Green Economics di dalamnya. Green Economics merupakan konsep terapan dalam pembangunan yang tidak hanya memikirkan keuntungan jangka pendek namun juga sangat memperhatikan keuntungan mengedepankan prinsip jangka panjang, keseimbangan dimana ekonomi dan dalam ekologi hal ini melalui kesinambungan dan kelestarian lingkungan. Konsep ini terbangun akibat dari semakin memprihatinkannya efek dari pertumbuhan ekonomi yang cenderung berbasiskan sumber daya alam dengan cara eksploitasi besar-besaran, yang berujung kepada ketidakpedulian para pelaku ekonomi terhadap kelestarian lingkungan karena hanya mengutamakan keuntungan semata. Konsep tersebut diperkuat dengan diimplementasikannya aspek standarisasi internasional lingkunganan hidup seperti ISO 14000 dan ekolabel, untuk mengurangi dampak negatif dari hasil eksplorasi sumber daya untuk kebutuhan manusia yang pada akhirnya mengarahkan pada produksi yang lebih bersih/Cleaner Production. Penerapan standarisasi tersebut sendiri mulai diberlakukan di Indonesia semenjak tahun 2000. Mengacu kepada permasalahan lingkungan dan kaitannya antara pertumbuhan ekonomi (ekspor) dan kelestarian lingkungan, analisis terhadap daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dirasa perlu untuk mengetahui arah kebijakannya serta mendukung implikasi Green Economics di Indonesia. Produk-produk tersebut mencakup, (1) Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis), (2) Semibleached or bleached pulp of paper (bubur kertas), (3) Coniferous of Wood (kayu serabut) dan (4) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit). Cakupan keempat produk tersebut berdasarkan besarnya volume ekspor ke pasar dunia dan klasifikasi produk yang mempunyai kadar sensitifitas tinggi terhadap lingkungan khususnya deforestasi karena keempat produk tersebut merupakan produk yang berbasis kehutanan maupun perkebunan dengan pengambil alihan lahan kehutanan (KLH, 2007). Walaupun pemerintah telah menerapkan standarisasi internasional tentang keamanan lingkungan hidup dalam kegiatan eksplorasi ekonomi berbasis sumber daya alam, namun terdapat kecenderungan bahwa standarisasi keamanan lingkungan tersebut tidak diaplikasikan dengan semestinya yang mengakibatkan produk-produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan tersebut pada tahun-tahun terakhir mengalami fluktuasi pada volume ekspornya dan sebagian besar mengalami penurunan. Penelitian ini mencakup dua kegiatan utama, yaitu menganalisis daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan dari segi komparatif dan kompetitif dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Identifikasi daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan dari segi keunggulan komparatif adalah dengan menggunakan metode Reaveled Comparative Advantage (RCA). Metode Export Product Dynamic (EPD) digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan dari segi keunggulan kompetitif di pasar dunia. Sedangkan identifikasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya dilakukan dengan menggunakan pendekatan pangsa pasar konstan atau Constant Market Share Analaysis (CMS). Sustainable Development dan Tren Green Economics Memunculkan Standarisasi Lingkungan Hidup (Ekolabel, ISO 14000) Produk yang berkaitan dengan masalah lingkungan (deforestasi) mempunyai kadar sensitfitas tinggi terhadap lingkungan (KLH, 2007). Daya Saing Produk Sensitif Lingkungan Indonesia, mencakup: (1) (2) (3) (4) Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Coniferous of Wood (Kayu Serabut) dan Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit) Terjadi Fluktuasi dan penurunan volume ekspor semenjak diberlakukannya standarisasi lingkungan hidup. Revealed Comparative Advantage (RCA) Export Product Dynamic (EPD) Constant Market Share Analysis (CMS) Analisis posisi daya saing secara komparatif dan kompetitif produk ekspor sensitif lingkungan Indonesia di d i Identifikasi faktor/determinan yang mempengaruhi daya saing produk sensitif lingkungan Indonesia di pasar dunia. Implikasi Kebijakan Penelitian Gambar 2. Kerangka Pemikiran Pendekatan CMS digunakan untuk mengukur dinamika tingkat daya saing suatu industri dari suatu negara. Penggunaan pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa laju pertumbuhan ekspor suatu negara bisa lebih kecil, sama, atau lebih tinggi daripada laju pertumbuhan ekspor rata-rata dunia. Sehingga bisa diketahui secara lebih dalam faktor apa yang paling mempengaruhi laju ekspor Indonesia yang dalam hal ini laju ekspor merupakan benchmark daya saing produk tersebut. Dari hasil penelitian tersebut, dapat terlihat performa daya saing produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan juga faktor/determinan yang mempengaruhinya. Hasil dari estimasinya bisa dituangkan dalam satu bentuk implikasi kebijakan yang diharapkan lebih mengarahkan pada kebijakan yang menerapkan secara penuh konsep Sustainable Development of Green Economics, atau pembangunan berkelanjutan yang menerapkan konsep pertumbuhan ekonomi tanpa mengesampingkan aspek kesadaran dan kelestarian lingkungan hidup di dalamnya. Gambaran lengkap mengenai kerangka pemikiran operasional dapat terlihat pada Gambar 2. III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari data Time Series tahunan. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan UN Commodity and Trade Database. Juga dilakukan pencarian data yang diperoleh dari berbagai macam literatur dan jurnal baik dari media cetak maupun elektronik. Alat analisis yang digunakan untuk melakukan pengolahan data menggunakan bantuan software XAMP, D-Batic, WITS Ver. 6 (World Integrated Trade Solutions) dan Microsoft Excel. 3.2. Metode Analisis dan Pengolahan Data Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode kuantitatif Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamic (EPD), digunakan untuk menganalisis posisi daya saing dan keunggulan komparatif serta kompetitif produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan. Untuk mengetahui faktor/determinan yang mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan, digunakan metode pangsa pasar konstan atau Constant Market Share Analysis (CMS). Pengolahan data dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pengelompokan data. Tahap kedua adalah pengolahan data dalam model analisis. Pada penelitian ini pengolahan data dilakukan dengan bantuan software Microsoft Excel 2003, D-Batic dan XAMP. 3.2.1. Revealed Comparative Advantage (RCA) Revealed Comparative Advantage digunakan dengan obyektif untuk menganalisis keunggulan komparatif atau daya saing suatu komoditi dalam suatu negara, yang cukup sering digunakan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Ballasa pada tahun 1965, yang menganggap bahwa keunggulan komparatif suatu negara direfleksikan atau terungkap dalam ekspornya (Syahresmita dalam Pramudito, 2004). Metode RCA didasarkan pada suatu konsep bahwa perdagangan antar wilayah sebenarnya menunjukkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu wilayah. Variabel yang diukur adalah kinerja ekspor suatu produk terhadap total ekspor suatu wilayah yang kemudian dibandingkan dengan pangsa nilai produk dalam perdagangan dunia. Dengan metode RCA, posisi daya saing dan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia dapat diketahui. Variabel yang diukur adalah kinerja ekspor (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached non-c pulp of paper (bubur kertas), (3) Coniferous of Wood (kayu serabut) , (4) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit), di pasar dunia, dengan menghitung nilai pangsa produk ekspor Indonesia terhadap total ekspor ke luar negeri yang kemudian dibandingkan dengan pangsa nilai ekspor lima produk tersebut di dunia.: Xij / Xit RCA = 1(3.2.1.1) Wj / Wt Dimana : Xij = Nilai ekspor komoditi i Indonesia ke dunia Xit = Nilai total ekspor Indonesia ke dunia Wj = Nilai ekspor komoditi i dunia ke dunia Wt = Nilai total ekspor dunia ke dunia Jika nilai RCA lebih besar dari satu (RCA>1), maka negara tersebut mempunyai keunggulan komparatif dalam produknya. Keunggulan metode Revealed Comparative Advantage adalah mengurangi dampak pengaruh campur tangan pemerintah sehingga kita dapat melihat keunggulan komparatif yang jelas suatu produk dari waktu ke waktu. Sedangkan kelemahannya yaitu : 1. Asumsi bahwa suatu negara dianggap mengekspor semua komoditi. 2. Indeks RCA tidak dapat menjelaskan apakah pola perdagangan yang sedang berlangsung tersebut sudah optimal. 3. Tidak dapat mendeteksi dan memprediksi produk - produk yang berpotensi di masa yang akan datang. 3.2.2. Constant Market Share Analysis (CMS) Penelitian ini menggunakan metode pangsa pasar konstan (Constant Market Share) untuk mengetahui faktor/ determinan yang mempengaruhi pertumbuhan ekspor (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached non-c pulp of papern (bubur kertas), (3) Coniferous of Wood (kayu serabut) , (4) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit),. Pendekatan Constant Market Share (CMS) didasarkan pada pemahaman bahwa laju pertumbuhan ekspor suatu negara bisa lebih kecil, sama, atau lebih tinggi daripada laju pertumbuhan ekspor rata-rata dunia. Variabel yang diukur yaitu efek ekspansi (sisi permintaan) yang terbagi menjadi dua yaitu efek pangsa makro (pertumbuhan impor) dan pangsa mikro (efek komposisi komoditi) kemudian efek persaingan atau efek daya saing (sisi penawaran). Rumusnya adalah sebagai berikut : Xij2 – Xij1 = mXij1 + {(mi - m)Xij1} + {Xij2 – Xij1 – mi Xij1} (1) (2) (3) Dimana: (3.2.2.1) Xij1 = Ekspor komoditi i Indonesia ke dunia tahun ke-(t-1) Xij2 = Ekspor komoditi i Indonesia ke dunia tahun ke-(t) m = Persentase peningkatan impor umum di dunia mi = Persentase peningkatan impor komoditi i di dunia (1) = Efek pertumbuhan impor; (2) = Efek komposisi; (3) = Efek daya saing 3.2.3. Export Product Dynamics (EPD) Pendekatan Export Product Dynamic digunakan untuk mengidentifikasi daya saing/keunggulan kompetitif suatu produk, juga mengetahui apakah suatu produk tersebut merupakan produk dengan performa yang dinamis atau tidak. Walaupun beberapa produk mungkin bukan merupakan bagian yang besar pada ekspor suatu negara, namun terdapat beberapa alasan untuk mengidentifikasi produk yang dinamis (pertumbuhannya cepat) dalam ekspor suatu negara. Jika pertumbuhannya di atas rata-rata secara kontinu selama waktu yang panjang, maka produk ini mungkin menjadi sumber pendapatan ekspor yang penting bagi negara tersebut. Selanjutnya, jika produk dinamis tersebut mempunyai karakteristik produksi yang spesifik, maka hal ini juga menjadi informasi yang penting dalam kesempatan ekspor, dalam hubungannya dengan produk yang serupa. Terdapat ketertarikan untuk mengidentifikasi produk-produk dinamis sehingga negosiasi multilateral atau bilateral untuk mengatasi berbagai hambatan perdagangan beberapa produk di pasar ekspor bisa terfokuskan. Metode yang paling sering digunakan untuk mengidentifikasi produk-produk dinamis adalah dengan memilih produk-produk berdasarkan tingkat pertumbuhannya selama periode yang ditetapkan. Penambahan fungsional indikator pangsa pasar adalah posisi pangsa pasar (Estherhuizen, 2006). Perusahaan-perusahaan dan industri-industri suatu negara dianggap bersaing dalam produk ketika pangsa pasar mereka meningkat. Sebuah produk ekspor dianggap dinamis dalam perdagangan dunia jika pangsa pasarnya meningkat lebih cepat daripada rata-rata pangsa pasar dunia. Posisi pasar ideal bertujuan untuk memperoleh pangsa ekspor tertinggi sebagai “Rising Star”, ditandai dengan negara tersebut memperoleh pangsa pasar untuk produk-produk yang berkembang cepat. “Lost Opportunity” dihubungkan dengan penurunan pangsa pasar pada produk dinamis. “Falling Star” juga tidak diinginkan, terjadi ketika ada peningkatan, tetapi bukan pada produk-produk dinamis. Sementara itu, “Retreat” tidak diinginkan lagi di pasar. Hal ini adalah hal yang paling tidak diinginkan. “Retreat” bisa diinginkan kembali jika pergerakannya jauh dari produk stagnan dan bergerak mendekati peningkatan pada produk dinamis. Tabel 5 menggambarkan empat dekomposisi umum ekspor (berdasarkan posisi pangsa pasar). Empat dekomposisi indikator daya saing perdagangan tersebut diterapkan pada banyak penyusunan indikator kuantitatif. Tabel 4. Matriks Posisi Pasar Share of Product in World Trade Share of country’s export in world trade Rising (Competitiveness) Falling (non-competitiveness) Sumber: Estherhuizen, 2006 Rising (Dynamic) Rising Stars Falling (Stagnant) Falling Stars Lost Opportunity Retreat IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Pertumbuhan Ekspor Indonesia di Pasar Dunia Ekspor merupakan kegiatan transaksi barang dan jasa antara penduduk Indonesia dengan penduduk negara lain, yang meliputi ekspor barang, jasa pengangkutan, jasa asuransi, komunikasi, pariwisata, dan jasa lainnya. Termasuk juga dalam ekspor adalah pembelian langsung atas barang dan jasa di wilayah domestik oleh penduduk negara lain. Ekspor barang dinilai menurut harga free on board (fob), dan kurs dolar Amerika Serikat untuk ekspor dibedakan penggunannya terhadap rupiah. Untuk ekspor, digunakan rata-rata kurs beli dolar AS (dari Bank Indonesia) yang ditimbang dengan nilai nominal transaksi ekspor bulanan (BPS, 2008). Secara kuantitatif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006, data menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan ekspor Indonesia mencapai 8.92 persen. Dari nilai tersebut, pertumbuhan nilai ekspor yang signifkan terjadi pada tahun 2004 hingga 2006, yaitu masing-masing 17,24 persen, 19,66 persen dan 17,67 persen dengan total nilai ekspor untuk masing- masing tahun adalah sebesar US$ 71.584.608.796 pada tahun 2004, US$ 85.659.952.615 pada tahun 2005 dan US$ 100.798.624.280 pada tahun 2006 (Gambar 3). Pertumbuhan nilai ekspor Indonesia pada kurun waktu 3 tahun terakhir dapat disebabkan oleh volume ekspor Indonesia yang meningkat, namun peningkatan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh harga komoditi, terutama komoditikomoditi primer, di tingkat internasional yang mengalami peningkatan. Hal tersebut tentu saja menguntungkan Indonesia mengingat sebagian besar ekspor Indonesia merupakan komoditi primer. Nilai Ekspor (dalam US$) 1,2E+11 1E+11 8E+10 6E+10 4E+10 2E+10 Tahun 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Comtrade, 2007 Gambar 3. Perkembangan Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2000-2006 4.2. Pertumbuhan Ekspor Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan 4.2.1. Pertumbuhan Ekspor Wood and articles of wood (Kayu dan Artikel Kayu) Komoditi hasil hutan terutama jenis kayu, merupakan salah satu ekspor penting bagi Indonesia karena nilainya yang besar. Namun perlu diperhatikan juga eksplorasinya, karena komoditi ini mempunyai kecenderungan tinggi dalam kerusakan lingkungan jika tidak ada pengawasan dan tindakan tegas dari pemerintah. Berdasarkan Gambar 4, tampak bahwa terjadi kecenderungan penurunan nilai ekspor Wood and articles of wood selama periode 2000-2006, hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh semakin merebaknya isu lingkungan dan diterapkannya ecolabeling semenjak tahun 2000, sehingga berdampak pada fluktuasi nilai ekspornya di pasar dunia. Kenyataannya menunjukan bahwa industri kayu sedang menghadapi berbagai permasalahan, yakni disamping langkanya bahan baku berkualitas tinggi, juga hambatan perdagangan, terutama dengan hadirnya negara-negara produsen kayu lapis baru seperti Malaysia. Pada kondisi tersebut dikhawatirkan komoditi Ekspor Wood and articles of wood yang akan datang akan menghadapi persaingan pasar yang lebih berat lagi, baik harga, kualitas maupun jumlah yang dapat diekspor. Nilai Ekspor (dalam US$) 4.000.000.000 3.500.000.000 3.000.000.000 2.500.000.000 2.000.000.000 1.500.000.000 1.000.000.000 500.000.000 Tahun 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Comtrade, 2007 Gambar 4. Perkembangan Nilai Ekspor Wood and articles of wood (Kayu danArtikel Kayu) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 Dalam rentang waktu 2000-2006, pertumbuhan ekspor kayu Indonesia cenderung mengalami pertumbuhan yang negatif dari tahun ke tahun. Penurunan volume ekspor kayu Indonesia yang terbesar terjadi pada tahun 2001, dengan penurunan sebesar 7.80 persen, jumlah ekspor menjadi hanya US$ 3,353,568,000. Di tahun 2004, ekspor kayu Indonesia sempat mengalami pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan sebesar 2.86 persen memang bisa dibilang pertumbuhan yang tidak terlalu besar, namun angka positif pada pertumbuhannya mampu membuat ekspor kayu Indonesia kembali melaju dengan total ekspor pada tahun tersebut sebesar US$ 3,271,420,594. Pertumbuhan yang positif tersebut tidak bertahan lama karena di tahun berikutnya yaitu pada tahun 2005, ekspor kayu Indonesia ke pasar dunia kembali mengalami penurunan sebesar 4.89 persen. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 5. Perkembangan Ekspor Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 Salah satu ekspor kayu terbesar Indonesia ke pasar dunia adalah jenis kayu lapis atau Plywood consisting solely of sheets. Namun dalam kurun waktu 20002006, ekspor produk kayu jenis kayu lapis cenderung mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5. Penurunan volume ekspor kayu lapis Indonesia yang sangat signifikan dialami pada tahun 2001 dan 2005. Pada tahun 2001 terjadi penurunan volume ekspor ke pasar dunia sebesar 11.37 persen dengan jumlah total ekspor pada tahun tersebut adalah US$ 1,330,285.568 dari sebelumnya US$ 1,501,021.458 pada tahun 2000. Penurunan tersebut karena Indonesia baru menerapkan dan mengikuti persyaratan standarisasi perlindungan lingkungan hidup internasional yaitu ecolabelling yang mana baru diterapkan pada tahun 2000. Penurunan tersebut terus terjadi, penurunan terbesar terjadi pada tahun 2005, dimana ekspor Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia mengalami penurunan sebesar 17.31 persen menjadi hanya US$ 974,424.627 pada tahun tersebut. Walaupun pada tahun berikutnya yaitu tahun 2006, ekspor Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia ke pasar dunia mengalami peningkatan sebesar 3.80 persen. Jenis kayu serabut atau Coniferous of Wood juga merupakan salah satu jenis kayu Indonesia dengan nilai ekspor terbesar. Perkembangan ekspor produk kayu jenis ini sangat fluktuatif dari tahun-tahun. Seperti terlihat pada Gambar 6. dimana pada tahun 2000-2001 terjadi peningkatan ekspor sebesar 39.98 persen yang diikuti penurunan ekspor sebesar 39.42 persen pada tahun berikutnya. Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada tahun 2003, dimana peningkatan volume ekspor Coniferous of Wood (kayu serabut) adalah sebesar 109.69 persen menjadi US$ 13,126.892 dibandingkan tahun sebelumnya (US$ 6,260.231). Penurunan terbesar terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 97.22 persen yang pada tahun sebelumnya juga mengalami penurunan cukup besar yaitu 83.20 persen. Penurunan tersebut mengakibatkan volume ekspor Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia ke pasar dunia pada tahun 2005 menjadi US$ 61.235. Penurunan yang signifikan tersebut diperkirakan terjadi karena Indonesia masih belum bisa menerapkan standarisasi lingkungan hidup secara penuh. Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2006, volume ekspor produk ini mengalami peningkatan sebesar 661.34 persen. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 6. Perkembangan Ekspor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 4.2.2. Pertumbuhan Ekspor Pulp (Bubur Kertas) Tidak dapat dipungkiri bahwa peran ekspor Pulp bagi perekonomian Indonesia sangat strategis. Dengan tidak mengimpor pulp dan kertas, yang telah dilakukan sejak tahun 1995 tentu akan menghemat cadangan devisa. Selain itu, industri pulp mampu menciptakan lapangan kerja baru. Namun hal tersebut tentu saja harus turut juga memperhitungkan dampak terhadap lingkungan. Diperkirakan adanya isu-isu lingkungan seperti penerapan ecolabeling dan standarisasi lingkungan hidup lainnya kembali menyebabkan fluktuasi nilai eksport Pulp di pasar dunia (Gambar 7). Nilai Ekspor (dalam US$) 1.200.000.000 1.000.000.000 800.000.000 600.000.000 400.000.000 Tahun 200.000.000 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Comtrade, 2007 Gambar 7. Perkembangan Ekspor Pulp Indonesia ke Pasar Dunia Tahun 2000-2006 Pertumbuhan ekspor Pulp Indonesia di pasar dunia dalam kurun waktu 2000-2006 terbilang sangat fluktuatif. Pada tahun 2001 terjadi penurunan ekspor produk tersebut ke pasar dunia sebesar 17.69 persen, dari sebelumnya total nilai ekspor Pulp Indonesia ke pasar dunia sebesar US$ 714,024,082 di tahun 2000, menjadi US$ 566,732,288 di tahun 2001. Penurunan tersebut tidak berlanjut di dua tahun berikutnya. Di tahun 2004, ekspor Pulp kembali mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 25.53 persen, dan nilai ekspor pada tahun tersebut menjadi US$ 591,032,262. Terjadi peningkatan yang sangat besar pada ekspor Pulp Indonesia di tahun 2005 dan 2006 yaitu sebesar 58.06 persen dan 20.58 persen. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 8. Perkembangan Ekspor Semi Bleached or Bleached Pulp of paper (Bubur Kertas) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 Salah satu jenis pulp dengan nilai ekspor yang terbesar adalah ekspor pulp jenis Semi Bleached or Bleached Pulp of paper. Seperti terlihat pada Gambar 8. nilai ekspor produk ini cukup berfluktuasi dari tahun ke tahun selama periode 2000-2006. Penurunan volume ekspor sempat terjadi pada tahun 2001 dan 2004 dimana penurunan terbesar terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 25.78 persen. Pada tahun tersebut volume ekspor produk Semi Bleached or Bleached Pulp of paper hanya mencapai US$ 585,659.163. Volume ekspor tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan volume ekspor pada tahun sebelumnya yang mencapai US$ 789,079.873. 4.2.3. Pertumbuhan Ekspor Vegetable Fats and Oils (Minyak Nabati) Pada komoditi Vegetable Fats and Oils (minyak nabati), Indonesia mengalami trend pertumbuhan yang sangat terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Rata-rata nilai pertumbuhan ekspor komoditi ini ke pasar dunia yaitu sebesar 26.68 persen, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata ekspor Indonesia secara keseluruhan yang hanya 14.28 persen. Terlihat pada grafik di Gambar 9, ekspor Vegetable fats and oils Indonesia ke pasar dunia secara umum dalam kurun waktu 2000-2006 terus mengalami pertumbuhan yang cukup positif, walaupun sempat terjadi penurunan pada tahun 2001. Terjadi penurunan sebesar 17.69 persen pada tahun 2001, dari yang semula nilai total ekspor Vegetable fats and oils Indonesia adalah sebesar US$ 1,763,577,012 di tahun 2000, menjadi sebesar US$ 1,451,684,096 di tahun 2001 akibat penurunan tersebut. Disinyalir penurunan tersebut diakibatkan karena mulai diberlakukannya standarisasi internasional tentang lingkungan yang secara tegas diterapkan oleh pasar internasional sejak awal tahun 2000, sedangkan produsen Indonesia belum terlalu siap dalam memenuhi persyaratan tersebut. Nilai Ekspor (dalam US$) 7.000.000.000 6.000.000.000 5.000.000.000 4.000.000.000 3.000.000.000 2.000.000.000 Tahun 1.000.000.000 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Comtrade, 2007 Gambar 9. Ekspor Vegetable fats and Oils Indonesia ke Pasar Dunia Tahun 2000-2006 Produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia merupakan jenis produk atau sub produk Vegetable fats and oils (minyak nabati) yang merupakan komoditi unggulan Indonesia dengan volume ekspor yang sangat besar. Di pasar dunia sendiri, Indonesia merupakan pemasok utama komoditi ini yang bersaing ketat dengan Malaysia. Perkembangan ekspor produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia selama periode 2000-2006 cukup fluktuatif. Terlihat pada Gambar 10. penurunan volume ekspor Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia sempat terjadi di tahun 2001 sebesar 33.98 persen dengan nilai volume ekspor sebesar US$ 111,937.376 yang semula sebesar US$ 169,550.221 pada tahun 2000. Penurunan ini diduga terjadi akibat peningkatan pajak ekspor dan penerapan standarisasi perlindungan lingkungan hidup yang merupakan isu penting bagi negara-negara maju yang merupakan negara peng-impor utama komoditi Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) karena seperti yang diketahui, kebanyakan lahan perkebunan kelapa sawit untuk produksi Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) di Indonesia merupakan lahan alih fungsi dari yang semula hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Alih fungsi lahan sebenarnya bisa berlangsung dengan tertib tanpa mengakibatkan eksternalitas negatif jika pada pengalihan fungsinya, hutan yng dijadkan subjek merupakan hutan yang benar-benar difungsikan untuk hutan industri dan bukan merupakan hutan lindung yang dijadikan sebagai kawasan suaka margasatwa. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 10. Perkembangan Ekspor Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 4.3. Perkembangan Impor Dunia 4.3.1. Perkembangan Impor Plywood Consisting Solely of Sheets (Kayu Lapis) Dunia Perkembangan impor dunia atas produk hasil hutan terutama impor kayu jenis kayu lapis atau Plywood Consisting Solely of Sheets selama periode 20002006 relatif mengalami peningkatan. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 11. Perkembangan Impor Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Dunia Tahun 2000-2006 Berdasarkan Gambar 11, dari tahun ke tahun impor dunia akan produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) relatif meningkat. Walaupun pernah terjadi beberapa kali penurunan pertumbuhan impor produk tersebut oleh pasar dunia. Penurunan terjadi pada tahun 2001, dimana terjadi penurunan impor dunia sebesar 9.33 persen dari yang sebelumnya volume impor dunia akan produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) mencapai US$ 2,551,931,382 pada tahun 2000 menjadi US$ 2,334,076,770 di tahun berikutnya, namun penurunan yang terjadi terbilang relatif kecil. Pada periode 2002, 2003 dan 2004, impor dunia produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) terus mengalami peningkatan dengan rata-rata peningkatan sebesar 15 persen. Peningkatan pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada tahun 2004 dimana terjadi peningkatan pertumbuhan impor sebesar 17 persen. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan permintaan dunia akan produk kayu lapis. Namun di tahun berikutnya terjadi penurunan pertumbuhan impor dunia akan kayu lapis sebesar 5.21 persen, walaupun penurunannya tidak sebesar penurunan pertumbuha impor Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) pada tahun 2001. Pada tahun 2006, impor dunia akan produk ini mencapai US$ 4,016,581,698 atau mengalami pertumbuhan sebesar 11.24 persen. 4.3.2. Perkembangan Impor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Dunia Jenis kayu serabut atau Coniferous of Wood merupakan jenis kayu dengan nilai impor yang relatif tinggi terkait dengan jenisnya yang digunakan sebagai bahan baku industri kertas. Namun volume impor dunia akan produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) cenderung berfluktuasi, seperti yang terlihat pada Gambar 12. Selama periode 2000-2006, terjadi peningkatan dan pertumbuhan impor dunia atas produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) secara signifikan. Penurunan pertumbuhan impor terjadi pada tahun 2001 dan 2004, dimana pada tahun 2001 penurunan pertumbuhan impor terjadi sebesar 9.52 persen. Dari total volume impor dunia produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) pada tahun sebelumnya yang mencapai US$ 17,162,695,809 menjadi US$ 15,670,658,961. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 12. Perkembangan Impor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Dunia Tahun 2000-2006 Penurunan pertumbuhan impor tertinggi selama periode 2000-2006 terjadi pada tahun 2004, dimana penurunan impor dunia atas produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) mencapai 7014.52 persen. Dari volume impor dunia yang pada tahun sebelumnya mencapai US$ 17,372,269,788 menjadi hanya US$ 243,547,878 di tahun 2004. Penurunan yang sangat besar tersebut dikarenakan terjadi penurunan nilai ekspor produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) dari negara-negara eksportir ke pasar dunia, yang diakibatkan oleh kenaikan pajak ekspor dan persyaratan perdagangan khususnya standarisasi lingkungan yang diperketat. Penurunan impor dunia akan produk ini tidak berlangsung lama, karena di tahun berikutnya terjadi peningkatan pertumbuhan impor dunia atas produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) sebesar 98.9 persen. Hal ini dikarenakan oleh permintaan pasar dunia atas produk tersebut yang masih besar terkait dengan kepentingan impor produk tersebut sebagi bahan baku industri kertas yang besar pula. Hingga tahun 2006, impor dunia produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) masih terus meningkat hingga mencapai US$ 22,903,112,610. 4.3.3. Perkembangan Impor Semi Bleached or Bleached Pulp of paper (Bubur Kertas) Dunia Selama periode 2000-2006 perkembangan impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) cenderung mengalami peningkatan (Gambar 13), walaupun sempat terjadi penurunan yang relatif besar pada tahun 2001. Terjadi penurunan pertumbuhan impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) sebesar 30 persen. Penurunan pertumbuhan produk tersebut disebabkan oleh kecenderungan antisipasi pasar akibat baru diberlakukannya persyaratan standarisasi perdagangan terkait lingkungan seperti ecolabelling dan ISO. Penurunan pertumbuhan impor dunia pada tahun 2001 tersebut merupakan penurunan yang relatif besar dengan nilai impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) yang hanya sebesar US$ 5,855,162,746 dari nilai impor dunia yang mencapai US$ 7,636,873,112 pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2000. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 13. Perkembangan Impor Semi Bleached or Bleached Pulp of paper (Bubur Kertas) Dunia Tahun 2000-2006 Selama periode selanjutnya yaitu 2002-2006, rata-rata pertumbuhan impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) terus mengalami pertumbuhan sebesar 10 persen dengan pertumbuhan impor yang tertinggi terjadi pada tahun 2004. Pada tahun tersebut impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) mengalami pertumbuhan sebesar 15.20 persen dengan total nilai mimpor dunia mencapai US$ 8,034,214,755. Peningkatan pertumbuhan impor dunia ini lebih disebabkan oleh peningkatan permintaan dunia akan produk ini yang sangat pesat, disamping juga adanya peningkatan kualitas standarisasi lingkungan yang sudah diterapkan para produsen yang lebih memudahkan para eksportir untuk memasarkan produknya di pasar dunia. 4.3.4. Perkembangan Impor Palm kernel or Babassu oil and Frac (minyak sawit) Dunia Selama periode 2000-2006 perkembangan impor dunia atas produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) relatif mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Walaupun sempat terjadi penurunan pertumbuhan impor dunia pada tahun 2001 sebesar 24 persen, namun penurunan tersebut tidak berlangsung lama dan diikuti oleh peningkatan pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya. Sumber : Comtrade, 2007 Gambar 14. Perkembangan Impor Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Dunia Tahun 2000-2006 Peningkatan pertumbuhan impor dunia tertinggi atas produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) terjadi pada tahun 2002. Setelah sempat terjadi penurunan pertumbuhan di tahun sebelumnya, peningkatan impor dunia atas produk tersebut kembali terjadi sebesar 31.80 persen dan mencapai nilai impor sebesar US$ 343,148,244. Peningkatan pertumbuhan terus terjadi selama periode 2002-2006, dengan total nilai impor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) yang mencapai US$ 766,807,103 pada tahun 2006. V. ANALISIS DAYA SAING PRODUK INDONESIA YANG SENSITIF TERHADAP LINGKUNGAN DAN FAKTORFAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 5.1. Analisis Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa produk (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) dan (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas), lebih memiliki keunggulan komparatif daripada keunggulan kompetitif. Sedangkan Produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) merupakan produk yang memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dengan daya saing paling tinggi, terlihat dari nilai RCA (Revealed Comparative Advantage) produk tersebut yang relatif lebih tinggi dibandingkan produk lainnya. Namun hasil estimasi untuk produk Coniferous of Wood (kayu serabut) memperlihatkan bahwa produk tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif maupun kompetitif. Analisis CMS (Constant Market Share) mengindikasikan bahwa faktor pertumbuhan impor dan faktor komposisi komoditi merupakan faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas) dan (3) Coniferous of Wood (kayu serabut). Sedangkan untuk produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit), faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspornya adalah faktor pertumbuhan impor saja. 5.1.1. Analisis Keunggulan Komparatif (Revealed Comparative Advantage) Daya saing suatu negara pada suatu produk atau komoditi dapat diestimasi melalui keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif. Analisis keunggulan komparatif pada penelitian ini menggunakan analisis RCA (Revealed Comparative Advantage). Nilai RCA merupakan gambaran dari kinerja ekspor suatu komoditi. Nilai RCA yang lebih besar dari satu dianggap memiliki kinerja ekspor yang baik. Komoditi dengan nilai RCA lebih dari satu tersebut dapat dikatakan memiliki keunggulan komparatif sehingga disarankan untuk terus dikembangkan dengan melakukan spesialisasi pada komoditi tersebut. Berdasarkan hasil estimasi RCA dapat diketahui bahwa Indonesia mempunyai keunggulan komparatif pada komoditi (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas), dan (3) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit), terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006. Namun produk Coniferous of Wood (kayu serabut) tidak mempunyai keunggulan komparatif, karena hasil estimasi RCA memperlihatkan bahwa produk ini mempunyai nilai estimasi yang selalu kurang dari satu selama periode 2000-2006. 5.1.1.1. Analisis Produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Selama periode 2000-2006, hasil estimasi RCA memperlihatkan bahwa produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) yang merupakan sub produk dari wood and article of wood (kayu dan artikel kayu) memiliki keunggulan komparatif, terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006 dengan rentang nilai RCA 49.74-70.25 (Tabel 5). Tabel 5. Estimasi RCA Produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Year Trade Value in World 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 1,501,021,458 1,330,285,568 1,289,258,255 1,235,127,450 1,178,467,834 974,424,627 1,011,491,745 Trade Value Growth (%) -11.37 -3.08 -4.20 -4.59 -17.31 3.80 RCA Value 66.37 70.24 68.02 70.25 63.15 53.89 49.74 RCA Growth (%) 5.50 -3.25 3.16 -11.24 -17.19 -8.32 Pada tahun 2000, nilai RCA produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) adalah 66.37 dengan total ekspor ke pasar dunia sebesar US$ 1, 501,021,458. Selama periode 2001-2006, ekspor produk kayu lapis Indonesia di pasar dunia terus mengalami penurunan kecuali di tahun 2006. Nilai RCA produk ini pun cenderung mengalami penurunan, karena terjadi kenaikan volume ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) negara-negara pesaing lainnya di pasar dunia disertai kenaikan total ekspor Indonesia di pasar dunia dilihat dari rasio nilai ekspor komoditi I Indonesia ke dunia per nilai total ekspor Indonesia ke dunia (Lampiran 6). Nilai RCA mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2004 dan 2005. Nilai RCA pada tahun 2004 adalah 63.15 atau mengalami penurunan pertumbuhan RCA sebesar 11.24 persen dengan jumlah ekspor Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia di tahun tersebut sebesar US$ 1,178,467,834 yang juga mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 4.59 persen. Pada tahun 2005, nilai RCA produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia adalah 53.89 atau turun sebesar 17.19 persen. Hal ini terjadi karena volume ekspor total Indonesia ke pasar dunia mengalami peningkatan yang sangat signifikan, yaitu US$ 85,659,952,615 dari total ekspor tahun sebelumnya yang hanya US$ 71,584,608,796. Hal ini bisa diartikan bahwa di tahun tersebut, produk-produk Indonesia lainnya lebih mendominasi pangsa ekspor Indonesia di pasar dunia, karena ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia sendiri mengalami penurunan sebesar 17.31 persen. Walaupun tergolong masih mempunyai keunggulan komparatif namun penurunannya adalah yang tertinggi selama periode 2000-2006. Namun sempat juga terjadi kenaikan nilai RCA pada tahun 2001 dan 2003. Pada tahun 2001 terjadi penurunan ekspor produk Plywood consisting solely of sheets Indonesia yang cukup besar yaitu 11.37 persen dari total tahun sebelumnya, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi keunggulan komparatif dari produk ini karena hasil estimasi RCA memperlihatkan bahwa Plywood consisting solely of sheets masih mempunyai daya saing yang cukup bagus dengan nilai RCA yang tumbuh sebesar 5.50 persen menjadi 70.24. Hal tersebut disinyalir terjadi karena adanya penurunan volume ekspor komoditi kayu lapis negaranegara pesaing lainya. Sedangkan penurunan ekspor total negara-negara pesaing di pasar dunia masih lebih kecil dibandingkan penurunan volume ekspor total Indonesia (Lampiran 6), sehingga pada tahun tersebut nilai RCA/daya saing produk kayu lapis Indonesia bisa mengalami peningkatan. Pertumbuhan nilai RCA yang positif juga terjadi pada tahun 2003 dengan nilai 70.25 atau tumbuh sebesar 3.16 persen. Pada tahun 2006, terjadi peningkatan volume ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia sebesar 3.80 persen menjadi US$ 1,011,491,745 dari yang sebelumnnya hanya US$ 974,424,627. Namun peningkatan volume ekspor tersebut tidak disertai dengan peningkatan nilai RCA, nyatanya nilai RCA di tahun 2006 mengalami penurunan sebesar 8.32 persen atau menjadi 49.74. Penurunan pada tahun 2006 tersebut disebabkan oleh adanya rasio kenaikan total ekspor produk Indonesia di pasar dunia disertai peningkatan ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) dan ekspor total negaranegara pesaing lainnya yang proporsinya lebih besar dari pada tahun sebelumnya. Dari hasil deskripsi di atas, terlihat bahwa performa daya saing produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia di pasar dunia cenderung mengalami penurunan di tahun-tahun terakhir. Hal ini yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan pemerintah, seharusnya produk ini mempunyai potensi tinggi untuk terus dikembangkan sebagai produk ekspor jika peningkatan dari segi kualitas terus dipertahankan, karena nyatanya performa daya saing produk ini cenderung mengalami penurunan. Apalagi ditambah bahwa pengembangan produk ini mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk kerusakan lingkungan. 5.1.1.2. Analisis Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Hasil estimasi RCA pada produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas) selama periode 2000-2006 menunjukan bahwa produk ini mempunyai keunggulan komparatif, terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006 dengan rentang nilai RCA 10.60-15.79 (Tabel 6). Tabel 6. Estimasi RCA Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Year Trade Value in World 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 706,910,619 561,062,592 705,383,847 789,079,873 585,659,163 886,026,319 1,054,148,869 Trade Value Growth (%) -20.63 25.72 11.87 -25.78 51.29 18.97 RCA Value 10.60 11.73 14.76 15.18 11.60 15.79 14.85 RCA Growth (%) 9.67 20.52 2.73 -30.90 26.55 -6.34 Pada tahun 2000 total ekspor produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia di pasar dunia mencapai US$ 706,910,619 dengan nilai RCA sebesar 10.60. Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2001, ekspor produk ini ke pasar dunia mengalami penurunan yang cukup besar yaitu sebesar 20.63 persen menjadi hanya US$ 561,062,592. Namun nilai RCA pada tahun tersebut memperlihatkan bahwa produk ini masih mempunyai keunggulan komparatif, terlihat dengan adanya peningkatan sebesar 9.67 persen pada nilai RCA menjadi 11.73. Hal ini dikarenakan adanya penurunan pada volume ekspor total Indonesia dengan proporsi yang cukup besar (Lampiran 6). Penurunan juga diikuti oleh ekspor produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper dan total ekspor negara-negara pesaing lainnya, namun relatif kecil. Pada tahun 2002-2003 nilai RCA produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia terus mengalami pertumbuhan seiring dengan pertumbuhan volume ekspor produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia di pasar dunia, dengan nilai RCA sebesar 14.76 dan 15.18 masingmasing pada tahun 2002 dan 2003. Pada tahun 2004 penurunan ekspor produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia yang sangat signifikan kembali terjadi sebesar 25.78 persen menjadi US$ 585,659,163. Nilai RCA tahun 2004 juga mengalami penurunan sebesar 30.90 persen menjadi 11.60. Walaupun masih tergolong mempunyai keunggulan komparatif karena nilainya masih lebih dari satu, namun tahun 2004 merupakan tahun dengan persentase penurunan nilai RCA terbesar yang diakibatkan oleh penurunan volume ekspor Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia yang begitu besar. Penurunan ekspor tersebut tidak berlangsung lama karena terjadi peningkatan pertumbuhan ekspor Semi-bleached or bleached Pulp of Paper tahun berikutnya, yaitu tahun 2005. Pada tahun 2005 ekspor produk ini tumbuh secara signifikan sebesar 51.29 persen, yang diikuti pula dengan peningkatan nilai RCA sebesar 26.55 persen menjadi 15.79. Pada tahun 2006 Ekspor produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia ke pasar dunia mengalami pertumbuhan sebesar 18.97 persen menjadi sebesar US$ 1,054,148,869 namun nilai RCA produk ini mengalami penurunan sebesar 6.34 persen menjadi 14.85. Hal ini diakibatkan oleh volume ekspor total Indonesia ke pasar dunia mengalami peningkatan yang sangat signifikan menjadi US$ 100,798,624,280 dari total ekspor tahun sebelumnya yang hanya US$ 85,659,952,615. Hal ini bisa diartikan bahwa di tahun 2006, produk-produk Indonesia lainnya lebih mendominasi pangsa ekspor Indonesia di pasar dunia. 5.1.1.3. Analisis Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Hasil estimasi RCA untuk produk Coniferous of wood (kayu serabut) selama periode 2000-2006 memperlihatkan bahwa produk ini tidak mempunyai keunggulan komparatif terlihat dari nilai RCA yang selalu kurang dari satu dengan rentang nilai 0.0003-0.11. Hal ini disinyalir diakibatkan oleh volume ekspor produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia yang relatif masih sangat kecil dibandingkan negara pesaing lainnya (Tabel 7). Pada tahun 2000 hasil estimasi RCA menyatakan bahwa nilai RCA adalah sebesar 0.04 dengan volume ekspor produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia di pasar dunia mencapai US$ 7,382.051. Angka 0.04 disini menunjukan bahwa produk tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif karena nilainya yang kurang dari satu. Tabel 7. Hasil Estimasi RCA Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Year Trade Value in World Trade Value Growth (%) RCA RCA Value Growth (%) 2000 2001 2002 7,382,051 10,333,129 6,260,231 39.98 -39.42 0.04 0.07 0.04 59.66 -40.00 2003 2004 2005 2006 13,126,892 2,204,895 61,235 466,209 109.69 -83.20 -97.22 661.34 0.11 0.01 0.00 0.00 157.69 -88.55 -97.41 593.33 Pada tahun 2000 hasil estimasi RCA menyatakan bahwa nilai RCA adalah sebesar 0.04 dengan volume ekspor produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia di pasar dunia mencapai US$ 7,382.051. Di tahun berikutnya yaitu tahun 2001 total ekspor produk ini ke pasar dunia mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 39.98 persen menjadi US$ 10,333,129 yang diikuti pula oleh peningkatan nilai RCA sebesar 59.66 persen menjadi 0.07. Walaupun terjadi peningkatan nilai RCA namun nilai tersebut masih kurang dari satu yang berarti produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia masih belum mempunyai keunggulan komparatif. Penurunan volume ekspor produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia yang cukup besar terjadi pada tahun 2002, dimana volume ekspor mengalami penurunan sebesar 39.42 persen yang diikuti oleh penurunan nilai RCA sebesar 40.00 persen menjadi 0.04. Setelah mengalami penurunan ekspor yang cukup besar pada tahun 2002, ekspor produk Coniferous of wood Indonesia ke pasar dunia kembali mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 2003 yaitu menjadi US$ 13,126,892 atau meningkat sebesar 109.69 persen dengan nilai RCA yang kembali menguat namun tetap saja masih kurang dari satu yaitu 0.11. Pada tahun 2004 ekspor produk ini kembali mengalami penurunan yang sangat signifikan, ekspor produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia ke pasar dunia menurun sebesar 83.20 persen dari tahun sebelumnya menjadi US$ 2,204,895 yang juga diikuti oleh penurunan nilai RCA sebesar 88.55 persen menjadi hanya 0.01. Penurunan ekspor produk ini terus dialami di tahun 2005, dengan penurunan yang terbesar selama periode 2000-2006 yaitu sebesar 97.22 persen dari tahun sebelumnya menjadi hanya US$ 61,235 pada tahun 2005. Hal ini mengakibatkan nilai RCA yang semakin jauh dari angka satu yaitu di nilai 0.0003. Tahun 2006 terjadi peningkatan ekspor Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia yang cukup signifikan setelah mengalami penurunan yang cukup besar di tahun-tahun sebelumnya. Ekspor produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia di pasar dunia pada tahun tersebut meningkat menjadi US$ 466,209 atau naik sebesar 661.34 persen. Peningkatan nilai ekspor tersebut juga disertai peningkatan pada nilai RCA sebesar 593.33 persen, sehingga nilai RCA di tahun 2006 menjadi 0.002. Namun hal tersebut belum mampu merubah keadaan produk Coniferous of wood (kayu serabut) Indonesia, karena nilainya masih dibawah satu yang berarti produk ini masih belum mempunyai keunggulan komparatif. Dari hasil estimasi tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa selama kurun waktu 2000-2006, produk Coniferous of wood (Kayu serabut) Indonesia tidak mempunyai keunggulan komparatif di pasar dunia, sehingga seharusnya produk tersebut lebih ditinjau kembali jika masih tetap diekspor ke pasar dunia. 5.1.1.4. Sawit) Analisis Produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Terlihat dari hasil estimasi RCA, produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac yang merupakan sub produk dari Palm Oil atau minyak sawit mempunyai kaunggulan komparatif selama periode 2000-2006. Hal tersebut bisa disimpulkan dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu dengan rentang nilai 71.9989.61 (Tabel 8). Nilai RCA produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit) Indonesia adalah nilai RCA yang tertinggi dibandingkan dengan ketiga produk sensitif lingkungan lainnya dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan Indonesia adalah pemasok utama minyak sawit dunia, sehingga volume ekspornya lebih besar dibandingkan negara pesaing lainnya. Selama periode 2000-2006, volume ekspor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit) Indonesia di pasar dunia terus tumbuh dan mengalami peningkatan walaupun persentase peningkatannya tidak begitu besar bahkan cenderung menurun, namun volume ekspor tetap bertambah dari tahun ke tahun, kecuali di tahun 2001 yang sempat mengalami penurunan yang diduga karena adanya peningkatan pajak ekspor untuk komoditi Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit). Tabel 8. Hasil Estimasi RCA Produk Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit) Year 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Trade Value in World 169,550,221 111,937,376 200,997,230 206,241,794 385,997,314 448,954,959 506,001,876 Trade Value Growth (%) -33.98 79.56 2.61 87.16 16.31 12.71 RCA Value 82.31 71.99 83.12 84.30 83.59 81.25 89.61 RCA Growth (%) -12.54 15.45 1.42 -0.84 -2.80 10.29 Pada tahun 2000, ekspor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac Indonesia di pasar dunia adalah sebesar US$ 169,550,221 dengan nilai RCA sebesar 82.31. Tahun berikutnya yaitu tahun 2001, terjadi penurunan ekspor sebesar 33.98 persen menjadi US$ 111,937,376 yang disertai oleh penurunan nilai RCA sebesar 12.54 persen yaitu menjadi 71.99. Penurunan nilai ekspor tersebut tidak bertahan lama, karena pada tahun 2002-2005 ekspor Palm Kernel or Babassu Oil and Frac Indonesia ke pasar dunia terus tumbuh tumbuh dengan kenaikan nilai RCA. Namun kenaikan volume ekspor Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit) Indonesia tidak selalu disertai oleh kenaikan nilai RCA. Pada tahun 2004, ekspor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit) Indonesia tumbuh sebesar 87.16 persen menjadi US$ 385,997,314 dari sebelumnya US$ 206,241,794, namun nilai RCA di tahun tersebut mengalami penurunan sebesar 0.84 persen menjadi 83.59 dari yang sebelumnya 84.30. Hal ini terjadi karena proporsi peningkatan volume total ekspor produk Indonesia dan dunia (negara pesaing lainnya) lebih besar daripada proporsi peningkatan ekspor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit) Indonesia di tahun tersebut yang mengakibatkan nilai RCA melemah (Lampiran 6). Demikian pula yang terjadi pada tahun 2005, dimana terjadi peningkatan ekspor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit) Indonesia di pasar dunia sebesar 16.31 persen namun terjadi penurunan nilai RCA sebesar 2.80 menjadi 81.25. Nilai RCA kembali mengalami peningkatan di tahun 2006 seiring dengan peningkatan ekspor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (minyak sawit) Indonesia di pasar dunia. Nilai RCA di tahun ini mengalami peningkatan sebesar 10.29 persen, dari yang sebelumnya 81.25 menjadi 89.61. 5.1.2. Analisis Keunggulan Kompetitif Produk Ekspor Dinamis (Export Product Dynamic) Export Product Dynamic (EPD) digunakan untuk mengidentifikasi produk yang kompetitif dan dinamis (pertumbuhannya cepat) dalam ekspor suatu negara. Jika pertumbuhannya di atas rata-rata secara kontinu selama waktu yang panjang, maka produk ini mungkin menjadi sumber pendapatan ekspor yang penting bagi negara tersebut. Selanjutnya, jika produk dinamis tersebut mempunyai karakteristik produksi yang spesifik, maka hal ini juga menjadi informasi yang penting dalam kesempatan ekspor, dalam hubungannya dengan produk yang serupa. Terlihat pada Tabel 9, hasil estimasi EPD mengungkapkan bahwa produk (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas) dan (3) Coniferous of Wood (kayu serabut), berada di posisi “Retreat”. Hal ini berarti ketiga produk tersebut tidak diinginkan lagi di pasar dunia. Ini terjadi karena selama periode waktu tertentu, pangsa ekspor ketiga produk tersebut di pasar dunia terus mengalami penurunan. Sehingga bisa dikatakan bahwa produk (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas) dan (3) Coniferous of Wood (kayu serabut), sudah tidak begitu kompetitif untuk dipasarkan kembali di pasar dunia dan diperlukan peninjauan kembali oleh pemerintah jika ketiga produk tersebut masih tetap dipasarkan di pasar dunia. Apalagi ditambah bahwa ketiga produk tersebut merupakan produk berbasis sumber daya alam yaitu kehutanan. Sehingga dikhawatirkan memiliki kecenderungan yang tinggi dalam kerusakan lingkungan jika dalam pengolahannya mengabaikan aspek keselamatan lingkungan. Sedangkan untuk produk Palm Kernel or babbasu oil and frac (minyak sawit), hasil estimasi EPD memperlihatkan bahwa produk tersebut berada di posisi “Rising Star”. Hal ini berarti bahwa produk tersebut mempunyai keunggulan kompetitif di pasar dunia selama periode 2000-2006 dan berada pada pangsa pasar yang ideal dimana terjadi peningkatan yang pesat dan kontinu pada pangsa ekspornya. Sehingga bisa dikatakan bahwa produk Palm Kernel or babbasu oil and frac (minyak sawit) mempunyai daya saing atau keunggulan kompetitif di pasar dunia. Maka produk ini mungkin menjadi sumber pendapatan ekspor yang penting bagi Indonesia. Hal yang terpenting adalah mencegah adanya opportunity cost yang tinggi bagi lingkungan jika Indonesia melakukan eksplorasi pada kedua produk tersebut, dan peran pemerintah untuk memenuhi standarisasi lingkungan hidup internasional sangat bergantung di dalamnya. Tabel 9. Hasil Estimasi Export Product Dynamic (EPD) Produk Posisi Daya Saing Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Retreat Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Retreat Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit) Rising Star 5.2. Retreat Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan 5.2.1. Analisis Pangsa Pasar Konstan (Constant Market Share) Untuk menentukan faktor yang paling signifikan dalam mempengaruhi daya saing produk Indonesia yang sensitif terhahadap lingkungan yang dalam penelitian ini, pertumbuhan ekspor produk-produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan merupakan tolak ukur dari daya saing. Analisis Constant Market Share atau analisis pangsa pasar konstan digunakan dalam pendekatannya untuk mengukur dinamika tingkat daya saing suatu industri dari suatu negara dan efek apa saja yang paling mempengaruhinya. 5.2.1.1. Analisis CMS Produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Berdasarkan hasil estimasi CMS pada produk Plywood consisting solely of sheet (kayu lapis), pada tahun 2001 (Tabel 10) faktor yang paling signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk tersebut adalah faktor pertumbuhan impor di pasar dunia sebesar 2,184.41 persen. Sebaliknya, faktor permintaan produk Plywood consisting solely of sheet Indonesia di pasar dunia atau faktor komposisi produk menekan pertumbuhan ekspor (-2,109.26 persen). Hal ini berarti pada tahun tersebut, Indonesia sebagai negara eksportir Plywood consisting solely of sheet (kayu lapis) mendistribusikan pasarnya ke pusat pertumbuhan permintaan Plywood consisting solely of sheet (kayu lapis) yang tertinggi, diindikasikan dengan nilai faktor pertumbuhan impor yang positif. Sedangkan untuk faktor daya saing tidak memberikan pengaruh yang cukup berarti dilihat dari kecilnya persentase faktor daya saing yaitu sebesar 24.85 persen. Pada tahun 2002-2005, faktor permintaan produk dari pasar dunia atau faktor komposisi komoditi merupakan faktor yang mendominasi dalam pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekspor produk Plywood consisting solely of sheet Indonesia di pasar dunia. Dengan jumlah persentase sebesar 17,442.93 persen untuk tahun 2002, tahun 2003 sebesar 39,981.48 persen, 47,267.95 persen di tahun 2004 dan 8,338.36 persen di tahun 2005. Tabel 10. Estimasi CMS Produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) CMS Year World Import Commodity Value Import Composition Competitiveness ($) (%) Growth (%) (%) 2,551,931,382 2000 2,334,076,770 2001 2,184.41 -2,109.26 24.85 2,749,727,817 2002 -18,020.58 17,442.93 677.65 3,112,309,068 2003 -40,308.74 39,981.48 427.26 3,750,742,368 2004 -47,702.31 47,267.95 534.35 3,565,095,697 2005 -8,309.77 8,338.36 71.41 4,016,581,698 2006 34,025.10 -33,693.62 -231.48 Faktor daya saing mungkin tidak memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada tahun 2002-2005, namun persentasenya jauh lebih besar dibanding tahun sebelumnya, walaupun juga terdapat kecenderungan penurunan pada persentase faktor daya saingnya. Hal tersebut berarti Indonesia sebagai eksportir Plywood consisting solely of sheet (kayu lapis) mengekspor produk tersebut ke negara yang mempunyai pertumbuhan impor Plywood consisting solely of sheet (kayu lapis) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan impor produk lainnya. Sehingga bisa dikatakan dalam periode 2002-2005 terjadi peralihan permintaan ekspor ke negara-negara tujuan untuk produk Plywood consisting solely of sheet (kayu lapis) Indonesia. Pada tahun 2006, faktor permintaan produk di pasar dunia (komposisi komoditi) dan faktor daya saing menekan pertumbuhan ekspor Indonesia dengan persentase sebesar -13,021.98 persen untuk faktor komposisi komoditi dan 231.48 persen untuk faktor daya saing. Namun hal tersebut masih bisa terselamatkan oleh faktor pertumbuhan impor yang merupakan faktor yang paling signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Plywood consisting solely of sheet Indonesia di pasar dunia dengan persentase sebesar 34,025.10 persen. 5.2.1.2. Analisis CMS Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Faktor pertumbuhan impor dunia merupakan faktor yang mendominasi pertumbuhan ekspor Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia di pasar dunia pada tahun 2001. Sedangkan faktor komposisi komoditi dan faktor daya saing ternyata menekan pertumbuhan ekspor dengan persentase sebesar - 11,091.16 persen dan -13.11 persen (Tabel 11). Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia mendistribusikan pasarnya untuk produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper ke pusat pertumbuhan permintaan produk tersebut. Untuk periode 2002-2003, faktor pertumbuhan impor masih mendominasi dalam pertumbuhan ekspornya. Ketergantungan terhadap kebutuhan impor dunia akan produk Semibleached or bleached Pulp of Paper Indonesia sangat jelas terlihat di periode ini. Tabel 11. Hasil Estimasi CMS Produk Semi - bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) CMS Year World Import Commodity Value Import Composition Competitiveness ($) (%) Growth (%) (%) 7,636,873,112 2000 5,855,162,746 2001 1,204.27 -1,091.16 -13.11 6,019,529,197 2002 2,160.76 -2,149.81 89.05 6,813,055,958 2003 14,263.22 -14,152.17 -11.05 8,034,214,755 2004 -2,630.04 2,600.66 129.38 8,685,577,467 2005 2,805.36 -2,789.55 84.19 9,909,850,302 2006 6,820.74 -6,746.46 25.72 Di tahun 2004, faktor pertumbuhan impor dunia menekan laju pertumbuhan ekspor Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia di pasar dunia. Namun hal tersebut tidak begitu berarti karena di tahun yang sama faktor permintaan produk atau komposisi komoditi di pasar dunia memberikan pengaruh besar terhadap laju pertumbuhan ekspor yaitu sebesar 2,600.66 persen. Berarti pada tahun ini, peralihan permintaan ekspor ke negara-negara tujuan untuk komoditi Semi-bleached or bleached Pulp of Paper daripada kelompok produk pulp lainnya merupakan faktor yang paling mempengaruhi, disertai dengan persentase faktor daya saing yang cukup besar pula yaitu sebesar 129.38 persen. Pada tahun 2005 dan 2006, faktor komposisi komoditi produk Semibleached or bleached Pulp of Paper Indonesia di pasar dunia mengalami penurunan bahkan cenderung negatif terhadap laju pertumbuhan ekspornya. Penurunan permintaan produk oleh pasar dunia juga diikuti oleh proporsi faktor daya saing yang semakin menurun di dua tahun terakhir yaitu 84.19 persen pada tahu 2005 dan 25.72 persen pada tahun 2006. Hal tersebut tentunya berpengaruh buruk terhadap laju pertumbuhan ekspor Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia di pasar dunia walaupun faktor pertumbuhan impor paling mempengaruhi laju ekspor pada tahun 2005 dan 2006. Hal ini berarti permintaan dunia akan produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper Indonesia mulai mengalami penurunan. Namun Indonesia masih terselamatkan oleh adanya negara yang menjadi pusat pertumbuhan impor produk Semibleached or bleached Pulp of Paper Indonesia tertinggi yaitu Jepang. 5.2.1.3. Analisis CMS Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Berdasarkan hasil estimasi CMS pada produk Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia (Tabel 12), faktor komposisi produk merupakan faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk tersebut di pasar dunia selama periode 2000-2005, kecuali pada tahun 2006 dimana faktor pertumbuhan impor adalah faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor Coniferous of Wood Indonesia di pasar dunia. Tabel 12. Hasil Estimasi CMS Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) CMS World Import Year Commodity Value Composition Competitiveness Import ($) Growth (%) (%) (%) 17,162,695,809 2000 15,670,658,961 2001 -621.52 599.7 121.82 16,145,554,260 2002 -1,410.11 1,402.40 107.71 17,372,269,788 2003 -40,308.74 39,981.48 427.26 243,547,878 2004 -8,488.45 8,418.94 169.52 22,157,317,265 2005 -1,479.88 1,477.37 102.51 22,903,112,610 2006 195.68 -195.18 99.49 Pada tahun 2001, faktor komposisi produk paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk tersebut dengan persentase sebesar 599.7 persen, sedangkan faktor pertumbuhan impor dunia cenderung menekan pertumbuhan ekspor sebesar -621.52 persen, dan faktor daya saing yang memberikan sedikit pengaruh terhadap pertumbuhan ekspor sebesar 121.82 persen. Persentase faktor komposisi produk yang paling mempengaruhi laju pertumbuhan Coniferous of Wood Indonesia di pasar dunia terus mengalami peningkatan selama periode 2002-2003, dengan persentase terbesar yang terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 39,981.48 persen yang diikuti dengan peningkatan faktor daya saing pada tahun yang sama (427.26 persen). Tahun 2004-2005, faktor komposisi produk masih menjadi faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor Coniferous of Wood Indonesia di pasar dunia walaupun terjadi penurunan persentase pada faktor komposisi produk, dengan persentase sebesar 8,418.94 persen pada tahun 2004 dan 1,477.37 persen pada tahun 2005. Penurunan persentase pada faktor komposisi komoditi atau produk tersebut diikuti pula oleh faktor daya saing yang juga mengalami penurunan, yaitu 169.52 persen pada tahun 2004 dan 102.51 persen pada tahun 2005. Hal tersebut mengindikasikan bahwa selama periode 2000-2005, terjadi peralihan permintaan ekspor ke negara-negara tujuan untuk produk Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia, dimana dengan kata lain Indonesia mengekspor produk Coniferous of Wood (kayu serabut) ke negara yang mempunyai pertumbuhan impor produk tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan impor kelompok produk tersebut lainnya. Sehingga pada periode 2000-2005 faktor yang mempengaruhi daya saingnya adalah faktor komposisi komoditi. Faktor daya saing yang terus mengalami penurunan pada tahun 2006 menjadi hanya 99.49 persen rupanya secara langsung mempengaruhi laju pertumbuhan ekspor Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia di pasar dunia, walaupun pada tahun 2006 faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor pertumbuhan impor sebesar 195.68 persen, yang berarti pada tahun tersebut, faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia adalah masih dibutuhkannya impor produk tersebut oleh negara tujuan yang merupakan pusat pertumbuhan impor Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia. 5.2.1.4. Analisis CMS Produk Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit) Selama periode 2000-2006, faktor pertumbuhan impor dunia adalah faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia di pasar dunia. Terlihat dari hasil estimasi CMS (Tabel 13) dimana faktor pertumbuhan impor selalu menjadi faktor dengan proporsi persentase yang paling besar selama kurun waktu 2000-2006. Sebaliknya, faktor komposisi produk malah menekan laju pertumbuhan ekspor produk ini, namun masih terselamatkan oleh proporsi faktor pertumbuhan impor dunia yang lebih besar. Tabel 13. Hasil Estimasi CMS Produk Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit) CMS Year World Import Commodity Value Import Composition Competitiveness ($) (%) Growth (%) (%) 290,188,602 2000 2001 731.20 -674.23 43.03 234,027,320 2002 698.58 -639.97 41.39 343,148,244 2003 64,854.61 -63,528.13 -1,226.47 461,558,548 2004 2,510.73 -2,451.21 40.48 701,573,953 2005 8,821.24 -8,818.97 97.73 704,189,512 2006 10,185.56 -10,115.58 30.02 766,807,103 Faktor Daya saing pun tidak terlalu memberikan pengaruh yang begitu berarti, karena bila dibandingkan dengan proporsi persentase dari faktor pertumbuhan impor, proporsi persentase faktor daya saing tidak terlalu besar (hanya sedikit berpengaruh), sehingga bisa dikatakan bahwa produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia akan selalu dibutuhkan selama ketergantungan impor dunia akan produk ini terus berlangsung. Persentase faktor pertumbuhan impor terus tumbuh selama periode 20002006, dengan persentase pertumbuhan tertinggi pada tahun 2003, dimana faktor pertumbuhan impor paling mempengaruhi laju pertumbuhan ekspor Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia di pasar dunia sebesar 64,854.61 persen yang berarti masih dibutuhkannya impor produk tersebut oleh negara tujuan yang merupakan pusat pertumbuhan impor Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia (Cina, Belanda, India). Walaupun pada tahun yang sama, efek daya saing malah menekan laju pertumbuhan ekspor produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit), terlihat dari nilainya yang negatif yang berarti Indonesia lemah dalam persaingan minyak sawit dunia. Namun laju ekspor masih terselamatkan oleh kebutuhan dunia yang sangat tinggi akan produk tersebut. VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1. Produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) lebih memiliki keunggulan komparatif, terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006. Sedangkan dari hasil analisis CMS terlihat bahwa faktor pertumbuhan impor dan faktor komposisi komoditi adalah faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia di pasar dunia. 2. Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas) lebih memiliki keunggulan komparatif, yang terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006, namun daya saing produk ini di pasar dunia masih lebih rendah dibandingkan produk-produk lainnya yang terlihat dari nilai RCA yang relatif paling kecil diantara keempat produk yang dianalisis. Analisis CMS memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekspor produk ini paling dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan impor dan faktor komposisi komoditi. 3. Analis untuk produk Coniferous of Wood (kayu serabut) mengindikasikan bahwa produk ini tidak mempunyai keunggulan komparatif maupun kompetitif, terlihat dari nilai RCA yang selalu kurang dari satu selama periode 2000-2006 dan estimasi EPD menunjukan bahwa produk Coniferous of Wood (kayu serabut) berada di posisi “Retreat” yang berarti produk tersebut sudah tidak diinginkan lagi di pasar. Sedangkan dari hasil analisis CMS, terlihat bahwa faktor pertumbuhan impor dan faktor komposisi komoditi.adalah faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia di pasar dunia. 4. Estimasi pada produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) memperlihatkan bahwa produk ini mempunyai keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006 dan estimasi EPD yang berada di posisi “Raising Star” yang berarti terjadi peningkatan yang pesat dan kontinu pada pangsa ekspornya. Daya saingnya pun paling tinggi dibandingkan dengan ketiga produk yang diteliti lainnya, terlihat dari nilai RCA yang lebih tinggi dibandingkan ketiga produk lainnya. Analisis CMS memperlihatkan bahwa faktor pertumbuhan impor merupakan faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia di pasar dunia. 6.2. Saran Bagi para pelaku eksportir Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas), Coniferous of Wood (kayu serabut) dan Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) di Indonesia, dalam jangka panjang harus mampu meningkatkan daya saing produk yang akan diekspor jika tidak ingin terjadi peralihan pangsa pasar ke negara pesaing. Peningkatan daya saing harus dilakukan dari segi peningkatan kualitas dan peningkatan penerapan standarisasi terhadap keselamatan lingkungan hidup untuk memenuhi persyaratan dari negara importir, agar produk-produk tersebut tidak lagi mengalami kesulitan dalam pemasarannya. Berdasarkan implikasi eksplorasi komoditi dan kerusakan lingkungan melalui hasil estimasi, sebaiknya komoditi-komoditi yang dinilai mempunyai performa dan daya saing yang kurang baik harus ditinjau ulang dan dipikirkan kembali apakah memang yang didapatkan dari ekspor komoditi tersebut sesuai dengan apa yang dikorbankan untuk lingkungan. Untuk komoditi-komoditi yang dinilai mempunyai performa dan daya saing yang cukup bagus, diharapkan pemerintah untuk memberikan perhatian lebih karena potensi yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Namun aspek peningkatan standarisasi kesadaran lingkungan harus tetap diperhatikan dan ditingkatkan agar produk-produk Indonesia dapat lebih bersaing di pasar global. DAFTAR PUSTAKA Amir. 1995. Pengetahuan Bisnis Ekspor Impor. PT Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta Ansahar. 2005. Valuasi Ekonomi dan Dampak Lingkungan pada Penambangan Pasir Darat di Kota Tarakan Propinsi Kalimantan Timur. [Thesis]. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Appleyard, D.R. and A.J. Field. 1995. International Economics: Trade Theory and Policy. Irwin Inc, Chicago. Asosiasi Panel Kayu Indonesia. 2006. Tropical Forest and Articles of Woods. http://www.fortunecity.com/oasis/brighton/136/JAVA2000/APKINDO.ht ml. Diakses tanggal 5 Agustus 2008. Aswicahyono, H. and M. Pangestu. 2000. Indonesia’s Recovery: Exports and Regaining the Competitiveness. The Developing Economies. Vol.38 (1): 454-489. Dahl, D.C. and J.W. Hammond. 1977. Market and Price Analysis. The Agriculture Industries. McGraw-Hill Inc. USA. Estherhuizen, D. 2006. Measuring and Analyzing Competitiveness in the Agribusiness Sector: Methodological and Analytical Framework. University of Pretoria. Firdaus, A.H. 2007. Analisis Daya Saing dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia di Pasar Amerika Serikat. [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kartikasari, M.A. 2008. Analisis Daya Saing Komoditi Tanaman Hias dan Aliran Perdagangan Anggrek Indonesia di Pasar internasional. [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2007. Status Lingkungan Hidup http://www.menlh.go.id/archive.php?action=info&id=25. Indonesia. Diakses tanggal 5 Agustus 2008. Koerdianto, E.Z. 2008. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Sayuran Unggulan (Kasus Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung dan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat) [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Krugman, P.R. 1996. Making Sense of the Competitiveness Debate. Oxford Review of Economic Policy. Vol 12(3): 17-25. Krugman, P.R. and M. Obstfeld. 2003. International Economics: Theory and Policy. Addison Wesley, Boston. Lindert, P. H. dan Ch. P. Kindleberger. 1993. Ekonomi Internasional (Alih Bahasa Burhanuddin Abdullah) Edisi Kedelapan. Penerbit Erlangga. Jakarta. Lipsey, R.G., P.N. Courant, D.D. Purvis, dan P.O. Steiner. 1995. Pengantar Mikroekonomi. J.Wasana dan Kirbrandoko. [penerjemah]. Binarupa Aksara, Jakarta. Lembaga Ekolabel Indonesia. 2005. Certification Review Council. http://www.lei.or.id/english/index.php. Diakses tanggal 4 Agustus 2008. Meryana, E. 2007. Analisis Daya Saing Kopi Robusta Indonesia di Pasar Kopi Internasional. [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. National Competitiveness Council. 2006. Annual Competitiveness Report 2006. http://www.forfas.ie/ncc/reports/ncc_annual_06/index.html. Diakses tanggal 20 Juli 2008. Ningrum, A.W.P. 2006. Analisis Permintaan Ekspor Pulp dan Kertas Indonesia [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Porter, M.E. 1990. The Competitive Advantage of Nations. The Free Press, New York. Rachmawati, et, al,. 2004. Bunga Rampai Perdagangan dan Lingkungan. Kementrian Lingkungan Hidup. Jakarta. Ridwan. 2008. Analisis Usaha Tani Padi Ramah Lingkungan dan Padi Anorganik (Kasus kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor). [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Rudianto, Doni. 2003. Analisis Daya Saing dan Efesiensi Pemasaran Komoditas Lidah Buaya (Studi Kasus Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Propinsi Kalimantan Barat). [Skripsi]. Departemem Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sahin, et. al,. 2006. A New Perspective in Competitiveness on Nations. Department of Industrial Engineering, Dogus University Istanbul. Turkey. Salvatore, D. 1997. International Economics. John Wiley and Sons, New Jersey. Sudaryanto, T dan Simatupang. 1993. Arah Pengembangan Agribisnis : Suatu Catatan Kerangka Analisis dalam Prosiding Perspektif Pengembangan Agribisnis di Indonesia. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Suparmoko. 1998. Ekonomi Lingkungan. BPFE – Yogyakarta. Yogyakarta. Suprihatini, R. 2000. Daya Saing Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia. Tinjauan Komoditas Perkebunan. Kelapa Sawit, Karet, Gula, Kopi dan Teh VO.1. September-November 2000. Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (APPI) dan Direktorat Jendral Perkebunan. World Economic Forum. 2007. The Global Competitiveness Report 2007-2008. WEF, Geneva. Yakin, A. 1997. Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan. Teori dan Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan. Akademika Presindo. Jakarta LAMPIRAN Lampiran 1, Hasil Estimasi Produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Year Trade Value ($ '000) in World Growth (%) RCA Import Growth (%) CMS Commodity Composition (%) Competitiveness (%) 2000 2001 1,501,021,458 1,330,285.568 -11.37 66.37 70.24 2,184.41 -2,109.26 24.85 2002 1,289,258.255 -3.08 68.02 -18,020.58 17,442.93 677.65 2003 1,235,127.450 -4.20 70.25 -40,308.74 39,981.48 427.26 2004 1,178,467.834 -4.59 63.15 -47,702.31 47,267.95 534.35 2005 974,424.627 -17.31 53.89 -8,309.77 8,338.36 71.41 2006 1,011,491.745 3.80 49.74 34,025.10 -33,693.62 -231.48 EPD Retreat Lampiran 2. Hasil Estimasi Produk Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) Year 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Trade Value ($ '000) in World 706,910.619 561,062.592 705,383.847 789,079.873 585,659.163 886,026.319 1,054,148.869 Growth (%) -20.63 25.72 11.87 -25.78 51.29 18.97 RCA 10.60 11.73 14.76 15.18 11.60 15.79 14.85 Import Growth (%) 1,204.27 2,160.76 14,263.22 -2,630.04 2,805.36 6,820.74 CMS Commodity Composition (%) -1,091.16 -2,149.81 -14,152.17 2,600.66 -2,789.55 -6,746.46 Competitiveness (%) -13.11 89.05 -11.05 129.38 84.19 25.72 EPD Retreat Lampiran 3. Hasil Estimasi Produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Year 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Trade Value ($ '000) in World 7,382.051 10,333.129 6,260.231 13,126.892 2,204.895 61.235 466.209 Growth (%) 39.98 -39.42 109.69 -83.20 -97.22 661.34 RCA 0.04 0.07 0.04 0.11 0.01 0.00 0.00 Import Growth (%) -621.52 -1,410.11 -40,308.74 -8,488.45 -1,479.88 195.68 CMS Commodity Composition (%) 599.7 1,402.40 39,981.48 8,418.94 1,477.37 -195.18 Competitiveness (%) 121.82 107.71 427.26 169.52 102.51 99.49 EPD Retreat Lampiran 4. Hasil Estimasi Produk Palm kernel or babassu oil and frac (Minyak Sawit) Year 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Trade Value ($ '000) in World 169,550.221 111,937.376 200,997.230 206,241.794 385,997.314 448,954.959 506,001.876 Growth (%) -33.98 79.56 2.61 87.16 16.31 12.71 RCA 82.31 71.99 83.12 84.30 83.59 81.25 89.61 Import Growth (%) 731.20 698.58 64,854.61 2,510.73 8,821.24 10,185.56 CMS Commodity Composition (%) -674.23 -639.97 -63,528.13 -2,451.21 -8,818.97 -10,115.58 Competitiveness (%) 43.03 41.39 -1,226.47 40.48 97.73 30.02 EPD Rising Star Lampiran 5. Kompilasi Data Ekspor Indonesia di Pasar Dunia Tahun 20002006 (US$) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Plywood consisting solely of sheets 1,501,021,458 1,330,285,568 1,289,258,255 1,235,127,450 1,178,467,834 974,424,627 1,011,491,745 Semi Bleached or Bleached Pulp of paper 706,910,619 561,062,592 705,383,847 789,079,873 585,659,163 886,026,319 1,054,148,869 Coniferous of Wood 7,382,051 10,333,129 6,260,231 13,126,892 2,204,895 61,235 466,209 Palm kernel or babassu oil and frac 169,550,221 111,937,376 200,997,230 206,241,794 385,997,314 448,954,959 506,001,876 Total 62,124,016,182 56,320,904,904 57,158,771,616 61,058,246,995 71,584,608,796 85,659,952,615 100,798,624,280 Sumber : Comtrade, 2007 Lampiran 6. Kompilasi Data Ekspor Dunia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006 (US$) Tahun Plywood consisting solely of sheets 2,265,009,228 Semi Bleached or Bleached Pulp of paper 6,679,318,866 Coniferous of Wood 16,956,143,708 Palm kernel or babassu oil and frac 206,304,227 Total 6,222,069,973,732 2,010,386,779 5,075,109,677 15,754,725,990 165,033,354 5,978,059,367,371 2,061,193,746 5,195,949,127 16,299,376,660 262,991,724 6,216,214,042,022 2,088,937,367 6,176,693,008 17,534,461,814 290,674,962 7,254,185,096,343 2,288,625,408 6,194,190,296 21,944,021,285 566,290,813 8,778,885,827,442 2,122,275,553 6,586,700,055 22,486,478,129 619,069,257 10,053,089,185,035 2,316,101,681 8,088,318,809 23,965,408,085 643,176,043 11,481,505,973,544 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber : Comtrade, 2007 Lampiran 7. Kompilasi Data Impor Dunia Tahun 2000-2006 (US$) Tahun Plywood consisting solely of sheets Semi Bleached or Bleached Pulp of paper Coniferous of Wood Palm kernel or babassu oil and frac Total 2,551,931,382 7,636,873,112 17,162,695,809 290,188,602 6,326,360,627,893 2,334,076,770 5,855,162,746 15,670,658,961 234,027,320 6,144,750,827,131 2,749,727,817 6,019,529,197 16,145,554,260 343,148,244 6,419,753,693,007 3,112,309,068 6,813,055,958 17,372,269,788 461,558,548 7,505,994,699,351 3,750,742,368 8,034,214,755 243,547,878 701,573,953 9,142,008,511,185 3,565,095,697 8,685,577,467 22,157,317,265 704,189,512 10,373,222,913,227 4,016,581,698 9,909,850,302 22,903,112,610 766,807,103 11,939,593,097,548 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber : Comtrade, 2007