Anda di halaman 1dari 21

Peripartum Cardiomyopathy

Disusun oleh:
Komalah Ravendran (11.2013.176)

Pembimbing:
dr. Zainuddin SpJP

Alamat Korespondensi:
komalah15@gmail.com
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

1

PENDAHULUAN
Kesepakatan dari European Society of Cardiology menetapkan definisi dari kardiomiopati
peripartum tersebut sebagai salah satu bentuk kardiomiopati dilatasi dengan tanda-tanda
gagal jantung pada bulan terakhir kehamilan atau dalam 5 bulan pasca melahirkan.
Kardiomiopati peripartum adalah penyakit miokardium idiopatik yang terjadi pertama kali
pada trimester III kehamilan atau 5 bulan setelah melahirkan. Criteria kardiomiopati
peripartum adalah :

terjadi pertama kali antara trimester III kehamilan sampai 5 bulan pertama setelah


melahirkan
etiologi tidak dapat ditemukan
tidak pernah menderita penyakit jantung sebelumnya

Batas waktu yang ketat digunakan dalam kriteria diagnostik dimaksudkan untuk
menyingkirkan penyebab bawaan dan didapat dari kegagalan jantung yang biasanya muncul
pada trimester kedua. Komite lokakarya tentang PPCM merekomendasikan dimasukkannya
gambaran echocardiographic disfungsi ventrikel kiri untuk lebih menegaskan PPCM.
Tambahan kriteria diagnostik Echocardiographic yang menunjukkan disfungsi ventrikel
kiriteria tersebut yaitu:


Fraksi ejeksi <45%
Left ventricular fractional memendek <30%
Left ventricular end-diastolic dimension > 2,7 cm/m2 luas permukaan tubuh

EPIDEMIOLOGI
Kejadian gagal jantung pada kehamilan telah dikenal sejak pertengahan abad ke-19,tetapi
istilah kardiomiopati disebut-sebut mulai sekitar tahun 1930-an. Pada tahun 1971, Demakis
dan kawan-kawan menemukan pada 27 pasien yang pada masa nifas yang menunjukkan
gejala kardiomegali, gambaran elektrokardiografi yang abnormal dan gagal jantung kongesti,
kemudian disebut sebagai kardiomiopati peripartum. Kardiomiopati relative jarang tetapi
dapat mengancam jiwa . Gagal jantung memperngaruhi perempuan pada bulan-bulan terakhir
kehamilan atau puerperium dini. Ini tetap menjadi penyebab signifikan morbiditas dan
mortalitas ibu. 75% kardiomiopati periparum didiagnosis pada bulan pertama postpartum dan
45% pada minggu pertama. Ketika dicurigai, harus segera menetapkan diagnosis. Insiden
PPCM bervariasi di seluruh dunia. Dilaporkan prevalensi PPCM di Negara-negara nonAfrika
berkisar antara 1:3.000-1:15.000 kelahiran hidup. Dalam sebuah pusat rujukan perawatan
2

Selama periode penelitian dari Oktober 2003 hingga September 2007. Penyebab utama kematian perinatal adalah premature dan IUGR dan terkait gagal jantung kongestif pada ibu.780 pengiriman berlangsung di Rumah Sakit Karachi Sipil Gynae Unit-I.kehamilan mutipel.75% dari pasien kardiomiopati peripartum mengalami persalinan pervaginam dan 31% diperlukan operasi Caesar terutama karena alasan obstetric.preeklamsia. I kasus per 1000 kelahiran hidup di Afrika Selatan dan 1 kasus per 350-400 kelahiran hidup di Haiti. 20 perempuan (62. pemeriksaan antenatal yang kurang. 3 kematian ibu terjadi karena alasan tromboemboli.tersier untuk populasi perkotaaan dan pedesaan yang besar. 3 kematian ibu terjadi dengan tromboemboli menjadi penyebab pada 1 pasien. multiparitas.5%) mengembangkan gagal jantung kongestif. Dalam sebuah penelitian 68. terdapat prevalensi 1 per 837 kelahiran hidup. FAKTOR RESIKO Faktor risiko penyebab PPCM yang umum dilaporkan adalah usia tua. dan kondisi sosial ekonomi yang rendah. Pendekatan multi disiplin melibatkan ahli kandungan. Kehamilan kembar tampaknya mempunyai risiko lebih tinggi terkena PPCM. ras kulit hitam. Namun. preeklamsia 3 . Komplikasi pada ibu terutama edema paru dan CCF pada 62. Mengenai hasil neonatal. Penelitian tersebut juga mengamati bahwa IUGR terdapat pada 31% dari ibu hamil sehingga merupakan factor resiko penting.5% penderita.5% penderita dan aritmia pada 12. kokain dan tembakau. sebanyak 26. PPCM telah dilaporkan sebagian besar pada wanita lebih dari 30 tahun. penyalahgunaan alkohol. malnutrisi hipertensi dalam kehamilan. Setelah pengiriman 43. ahli anestesi dan ahli anak. ahli jantung. Hasil membuktikan bahwa usia yang lebih tua ( >32 tahun) dan multiparitas (>3 anak) erat terkait dengan perkembangan kardiomiopati. Dari 14 yang dibutuhkan perawatan intensif akibat dekompensasi gagal jantung parah. obesitas. ditemukan terjadi lebih sering dengan multiparitas. 5 kematian perinatal terjadi. Telah dilaporkan prevalensi 1 kasus per 6000 kelahiran hidup di Jepang. Preeklamsia dan hipertensi telah dikaitkan dengan sejumlah besar kasus PPCM. pada 27 bayi lahir hidup.75% pasein membutuhkan perawatan ICU dibawah pengawasan ahli jantung dan anestesi. Banyak penulis bahkan melaporkan sebagai bentuk gagal jantung hipertensi. Meskipun PPCM telah dilaporkan pada primigravida. tetapi dapat terjadi pada berbagai kelompok umur.25%) diantaranya 5 membutuhkan NICU untuk premature dan respiratori distress. IUGR ditemui pada 10 neonatus (31.

Malnutrisi. dan bukan merupakan penyebab. dalam sebuah studi yang besar.sendiri jarang menyebabkan gagal jantung pada wanita sehat. Eosinofil dikenal memiliki sifat kollagenolitik dan kardiotoksik ditemukan dalam jumlah yang signifikan pada penderita PPCM. Interleukin-6 (IL-6) dan Fas/Apo-1 (sebuah penanda apoptosis) pada pasien PPCM.penggunaan tokolitik berkepanjangan dan defisiensi selenium. dan pemeriksaan antenatal yang kurang juga disebutkan sebagai faktor risiko dalam laporan sebelumnya. Konsentrasi TNF α yang tinggi dapat menyebabkan remodeling ventrikel lebih lanjut melalui reseptor jantung spesifik. Temuan dari studi lain menunjukkan bahwa apoptosis miokard mungkin merupakan penyebab terjadinya PPCM. respon hemodinamik abnormal terhadap perubahan fisiologis pada kehamilan. Penelitian yang lebih besar menargetkan sitokin ini perlu dikembangkan untuk mengetahui peran mereka terhadap terjadinya PPCM. Miokarditis Miokarditis didefinisikan sebagai infiltrasi inflamasi perivaskular limfosit dan makrofag yang menyebabkan nekrosis miosit dengan atau tanpa fibrosis. virus. ETIOLOGI Penyebab pasti PPCM tidak diketahui. alkohol dan tembakau. tetapi korelasi faktor-faktor ini belum ditemukan dalam studi lebih lanjut. Sitokin inflamasi Silwa dkk. Hal tersebut menyiratkan peran eosinofil dalam perkembangan miokarditis di PPCM. faktor autoimun. protein C-reaktif (CRP). Beberapa hipotesis penyebab PPCM seperti miokarditis. Kadar CRP berkorelasi terbalik dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF) dalam studi mereka. menemukan konsentrasi tinggi sitokin inflamasi seperti faktor nekrosis tumor (TNF α). sitokin inflamasi. yang menyebabkan disfungsi ventrikel. 4 . Ada juga laporan tentang faktor resiko yang langka seperti penyalahgunaan kokain. status sosial ekonomi rendah.Tidak adanya perubahan vaskular dan hilangnya hipertensi dan preeklamsia sebelum timbulnya gagal jantung menunjukkan hanya hipertensi yang mungkin terkait dan memperburuk PPCM.EMB dipandu Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada daerah kontras yang lebih tinggi dapat meningkatkan bukti terjadinya miokarditis akut pada tahap awal penyakit.

sedangkan resistensi pembuluh darah sistemik (SVR) menurun selama kehamilan. Faktor lain 5 . dan berpendapat bahwa kardiomiopati virus tidak perlu dimasukkan dalam kriteria penyebab PPCM. Autoantibodi ini mungkin silang bereaksi dengan miokardium dan dapat menyebabkan kardiomiopati. Bultmann dkk. yang mungkin hanya suatu kebetulan daripada menjadi penyebab. Polymerase chain reaction (PCR) dan ekstraksi bahan genom dari EMB dipandu kontras MRI sangat membantu dalam mendeteksi genom virus. dan mungkin tetap beredar untuk waktu yang lama tanpa penolakan. Autoantibodi dapat dibentuk terhadap plasenta. menemukan konsentrasi selenium yang rendah pada pasien PPCM. Pengurangan fungsi ventrikel kiri pada kehamilan lanjut dan awal masa nifas secara khas terlihat. Defisiensi Selenium Cenac dkk. menemukan materi genomik virus dalam spesimen biopsi pasien PPCM. Levander menyatakan bahwa defisiensi selenium menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus. rahim atau janin pada ibu hamil. Dilatasi ventrikel kiri dapat terjadi sebagai respons terhadap peningkatan beban. yang pada gilirannya menyebabkan kardiomiopati. ada beberapa laporan tidak menunjukkan adanya prevalensi infeksi virus pada pasien PPCM. Di duga bahwa PPCM mungkin merupakan eksaserbasi fenomena yang normal tersebut. Sel-sel tersebut dianggap sebagai antigen asing setelah normalisasi kekebalan ibu pascapersalinan dan dapat memicu respon imun.Infeksi Virus Infeksi virus juga terlibat sebagai penyebab miokarditis. Faktor autoimun Telah dihipotesiskan bahwa sel-sel janin dari haplotype ayah masuk ke dalam sirkulasi ibu berkaitan dengan penurunan kekebalan akibat kehamilan. Pada saat yang sama. Pentingnya dilakukan penelitian lanjut yang lebih spesifik untuk membangun hubungan miokarditis virus dan PPCM. Penurunan kekebalan selama kehamilan dapat menyebabkan infeksi virus. Respon hemodinamik abnormal terhadap perubahan fisiologis pada kehamilan Volume darah dan cardiac output (CO) meningkat.

Kerusakan akibat infeksi viral akut pada miokard yang akhirnya mengakibatkan terjadi kardiomiopati dilatasi ini terjadi melalui mekanisme imunologis. Respon inflamasi dan autoimun termasuk pelepasan sitokin dan interleukin yang menghasilkan terjadinya miokarditis dan fungsi kontraktil. Sekitar setengah kasus. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana seseorang akan memiliki predisposisi kardiomiopati dilatasi apabila tidak diketahui riwayat kejadian penyakit ini dalam keluarganya. zat metabolit. atau infeksi. Masalah yang mendasar adalah menghilangnya kontraktilitas miokardium. 6 .Beberapa faktor yang kurang penting yang dapat berkontribusi bagi pengembangan PPCM adalah :   Terapi tokolitik berkepanjangan Namun. Penyakit ini bersifat genetik heterogen tetapi kebanyakan transmisinya secara autosomal dominan. penggunaan kokain dan keadaan takikardia kronik yang tidak terkontrol. penurunan volume sekuncup ventrikel. serta gagal biventrikel. kehamilan (pada 3-4 bulan pertama). Hormon Relaksin. PATOFISIOLOGI Peripartum kardiomiopati adalah salah satu bentuk kardiomiopati dilatasi. yang ditandai dengan menghilangnya kemampuan sistolik jantung. penyakit tiroid. walaupun dapat pula secara autosomal resesif dan diturunkan secara x-linked.Jenis ini diklasifikasikan ke dalam “inflammatory cardiomyopathy” oleh WHO. dapat menyebabkan dilatasi jantung yang berlebihan menyebabkan kardiomiopati. peningkatan volume end-diastolik. pengobatan ini mungkin memperberat penyakit jantung yang sudah ada daripada memainkan peran etiologi. Meskipun sebelumnya terlibat. parasit atau proses autoimun. etiologi kardiomiopati dilatasi adalah idiopatik. dan volume residual. Kardiomiopati dilatasi dapat juga diakibatkan oleh konsekuensi lanjut infeksi virus. Kardiomiopati dilatasi menyebabkan penurunan fraksi ejeksi. namun pada laporan berikutnya estrogen. tetapi kemungkinan besar kelainan ini merupakan hasil akhir dari kerusakan miokard akibat produksi berbagai macam toksin. Pada kardiomiopati dilatasi yang disebabkan oleh penggunaan alkohol. progesteron atau prolaktin tidak mendukung peran apapun dalam etiologi PPCM. hormon utama ovarium. bakteri.sebagaimana juga gejala sleep apnea. Obesitas akan meningkatkan risiko terjadinya gagal jantung. dikatakan kardiomiopati tersebut bersifat reversibel.

Dokter haruslah berhati-hati mendiagnosis kardiomiopati peripartum dan menolak diagnosis-diagnosis yang lain. Gejala gagal jantung bermanifestasi dalam bulan-bulan terakhir kehamilan atau dalam  waktu 5 bulan sebelum melahirkan. Misalnya jika status cairan pasien meningkat. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Evaluasi status kardiovaskular pada wanita hamil lebih baik hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Gejala kardiak terdiri dari adanya irama gallop.Pasien dengan peripartum kardiomiopati adalah mirip dengan pasien lain dengan disfungsi sistolik ventrikel kiri. Adakalanya diperlukan pemeriksaan lain yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan resikonya terhadap wanita hamil dan janin yang dikandungnya. anorexia. batuk. penyakit jantung valvular asimptomatis dapat menjadi simptomatis untuk pertama kalinya. takikardi. Perubahan fisiologis normal ini dapat membuka kedok penyakit jantung subklinis atau kompensasi untuk pertama kalinya. hepatojugular refluks. loud P2 dan rales. yang dapat menyebabkan distensi vena jugularis. Gagal jantung harus bermanifestasi dalam bulan-bulan terakhir kehamilan atau dalam waktu 5 bulan sebelum melahirkan dan ditemukan penyebab lain gagal jantung. hepatomegali. Gejala-gejala umum terdiri dari distensi vena dileher. Pada trimester pertama terjadi peningkatan volume darah.MANIFESTASI KLINIS Kriteria untuk diagnosis peripartum kardiomiopati ditegakkan oleh Demakis et al pada tahun 1971. Tidak ditemukan penyebab lain untuk gagal jantung. dispnea paroksismal nokturnal. Pemeriksaan radiografi mempunyai resiko terhadap organogenesis abnormal pada janin. asites. fraksi ejeksi ventrikel kiri <45%). Pemeriksaan radiografi Semua pemeriksaan radiografi mesti dihindarkan terutama pada awal kehamilan. takipneu. Kriteria diagnostik untuk peripartum kardiomiopati   Ditemukan disfungsi ventrikel kiri (yakni. murmur regurgitasi mitral. fatigue dan edema pedis. Peripartum kardiomiopati bermanifestasi dengan gejala-gejala dyspnea. nyeri dada. Dyspneu dan fatigue juga gejala sering pada kehamilan normal. terjadinya perubahan status mental dan tromboemboli jantung. edema perifer. orthopnea. Selama kehamilan terdapat banyak perubahan fisiologis yang dapat menyerupai gagal jantung. Pada bulanbulan terakhir kehamilan normal sering ditemukan edema pedis. atau 7 .

QRS dan bundle branch blocks. Pemeriksaan ekokardiografi Pemeriksaan ekokardiografi. termasuk Doppler sangat aman dan tanpa resiko terhadap ibu dan janin. fractional shortening < 30% pada skan ekokardiografi Mmode. Pada foto toraks pasien biasanya terdapat pembesaran jantung dan kongesti pulmonal. meskipun mungkin ada fitur flutter /fibrilasi atrium. Kehamilan dapat menyebabkan interpretasi dari variasi gelombang ST-T lebih sulit dari yang biasa. EKG biasanya menunjukkan takikardia sinus. aritmia. mengukur fungsi ventrikel kiri dan memberikan informasi dalam menyokong diagnosis untuk menentukan disfungsi ventrikel kiri. Ekokardiografi adalah standar non invasif untuk mengukur fungsi jantung. deviasi aksis kiri. Pemeriksaan elektrokardiografi Pemeriksaan EKG sangat aman dan dapat membantu menjawab pertanyaan yang spesifik. Kriteria ekokardiografi yang memenuhi dalam mendiagnosis kardiomiopati peripartum yaitu fraksi ejeksi ventrikel kiri < 45%. Depresi segmen ST inferior sering didapati pada wanita hamil normal. dengan gangguan penanda dari penampilan seluruh sistolik. Pergeseran aksis QRS kekiri sering didapati. Pemeriksaan tranesofageal ekokardiografi pada wanita hamil tidak dianjurkan karena resiko anestesi selama prosedur. Ekokardiogram biasanya menunjukkan dilatasi ventrikel kiri. dosis radiasi seminimal mungkin dan perlindungan terhadap janin seoptimal mungkin. atau terdapat 2 kriteria tersebut. hipertrofi atrium dan ventrikel kiri (LVH). Jika pemeriksaan sangat diperlukan sebaiknya dilakukan pada kehamilan lanjut. oleh karena itu.7 cm/m2 dari area permukaan tubuh. dan dimensi akhir diastolik ventrikel kiri > 2. gambaran pada ekokardiografi kardiomiopati peripartum tidak dapat dibedakan dari kardiomiopati dilatasi non-iskemik primer. ekokarkardiografi merupakan instrumen yang penting dalam mendiagnosis kardiomiopati peripartum dan memprediksi prognosisnya. miksoma atrium kiri. kelainan ST-T nonspesifik. low voltage complex. Dilaporkan juga 8 . gelombang Q pada lead anteroseptal dan abnormalitas konduksi sepert perpanjangan interval PR.malignancy pada masa kanak-kanak terutama leukemia. tetapi deviasi aksis kekiriyang nyata (-30°) menyatakan adanya kelainan jantung. dan penyakit perikardium. Secara keseluruhan. Ekokardiografi sangat penting untuk meniadakan penyebab lain dari gagal jantung seperti penyakit katup mitral.

Sensitivitas diagnostik EMB dilaporkan sekitar 50%. melakukan EMB dan angiografi koroner. Biopsi Endomiokardial (EMB) Peran EMB pada pasien PPCM masih kontroversial. Adakalanya pemeriksaan ventilasi pulmonal/perfusi scan atau scan perfusi miokard thallium diperlukan saat kehamilan. Angiografi koroner harus selalu 9 . tetapi indikasinya terbatas pada gagal jantung berat. EMB yang dilakukan pada awal dari proses penyakit memberikan hasil positif yang lebih baik. Sebaiknya pemeriksaan ini dihindarkan.terjadinya supraventricular / ventrikel takikardia. EMB dipandu kontras MRI dapat memberikan hasil yang lebih positif. Magnetic resonance imaging (MRI) Meskipun tidak tersedia informasi mengenai keamanan prosedur MRI pada evaluasi wanita hamil dengan kehamilan. sedangkan spesifisitas sangat tinggi (99%).EKG bahkan mungkin normal. Pemeriksaan radionuklide Beberapa pemeriksaan radionuklide akan mengikat albumin dan tidak akan mencapai fetus. dilaporkan tidak didapati efek fetal yang merugikan bila digunakan pada tujuan yang lain.dan oleh karena itu hanya dipertimbangkan jika pasien tidak membaik setelah dua minggu manajemen konvensional atau ada kecurigaan klinis kuat adanya miokarditis. EMB memiliki hasil negatif palsu yang tinggi dan dapat bervariasi dengan waktu dilakukan biopsi. pemisahan akan terjadi dan eksposure terhadap janin mungkin terjadi. Diperkirakan eksposur terhadap fetua rendah.atau troponin jantung. Pemeriksaan ini mesti dihindarkan pada wanita dengan implantasi pacu jantung atau defibrillator. Pemeriksaan laboratorium Evaluasi laboratorium biasanya menunjukkan sedikit atau tidak ada peningkatan pada kreatinin kinase. denyut prematur dan gambaran infark miokard. Kateterisai akan menunjukkan peningkatan tekanan pengisian jantung dan penurunan CO dan PAH. EMB mempunyai beberapa risiko prosedural. Dalam banyak kasus. perburukan gejala penyakit jantung dan penyakit jantung iskemik (IHD). Kateterisasi jantung Kateterisasi jantung digunakan untuk evaluasi fungsi ventrikel kiri.

kemungkinan jangka panjang mengenai morbidity dan mortalitas. preeklamsia. hiperlipidemia. climbing stairs etc. Presentasi paling umum PPCM adalah dalam periode postpartum ketika sebagian dari gejala ini menghilang. termasuk membicarakan kontrasepsi. NYHA Symptoms Class Cardiac disease. anemia dan tirotoksikosis. e. 10 . penyakit jantung iskemik atau katup. riwayat merokok dan diabetes mellitus. emboli paru. DIAGNOSIS Diagnosis PPCM didasarkan pada pengecualian penyebab umum kegagalan jantung seperti infeksi.g. shortness of breath when walking. Ekokardiografi dan evaluasi laboratorium lain akan memperkuat diagnosis klinis. Harus diingat bahwa komplikasi kehamilan tua (seperti anemia. Fungsional klas dari The New York Heart Association (NYHA) selalu digunakan sebagai tolok ukur untuk meramalkan akibat dari penyakit jantung yang diderita pasien. Menilai resiko pada pasien yang berpenyakit jantung Bila memungkinkan wanita yang mempunyai kelainan jantung harus mendapat nasihat sebelum hamil. resiko maternal dan janin yang dikandungnya saat hamil. sindrom koroner akut. toksemia dan emboli cairan ketuban) memiliki manifestasi yang sama. II Mild symptoms (mild shortness of breath and/or angina) and slight limitation during ordinary activity. Diagnosis dini PPCM mungkin sulit karena banyak kesamaan gejala klinis dengan kehamilan lanjut. but no symptoms and no limitation in ordinary I physical activity. IDCM. toksin dan metabolik.dipertimbangkan pada pasien dengan gambaran klinis dan EKG dari IHD. Diagnosis diferensial PPCM termasuk accelerated hypentension.

stroke  sebelum kehamilan) Aritmia jantung sebelumnya   bradiaritmia yang memerlukan pengobatan) NYHA fungsional klas > 2 atau sianosis Obstruksi outflow tract atau valvular (aortic valve area < 1. Comfortable only at rest. IV Severe limitations.g. terkait dengan kejadian rendah kardiomegali. TINDAKAN NON-FARMAKOLOGIS Bed rest total selama 6 . Setelah gejala klinis membaik dengan manajemen medis. transient ischemic attack. Bed rest total mungkin merupakan predisposisi terjadinya trombosis vena dalam (deep vein thrombosis) dan selanjutnya meningkatkan risiko emboli paru. Pengobatan utama adalah pembatasan cairan dan garam. Experiences symptoms even while at rest. Kehamilan dan menyusui harus selalu menjadi pertimbangan sebelum memilih obat.12 bulan.  Kejadian pada jantung sebelumnya (gagal jantung. digoksin. tetapi hasil yang sama dapat dicapai tanpa istirahat di tempat tidur berkepanjangan. seperti yang telah dianjurkan sebelumnya.vasodilator dan antikoagulan. walking short distances (20–100 m). e. olahraga sederhana sebenarnya dapat meningkatkan perbaikan otot serta tonus arteri. even during less-thanIII ordinary activity. Tabel 1 New York Heart Association (NYHA) Functional Classification Wanita dengan NYHA klas III dan IV akan menghadapi mortality rate sampai 7% dan morbiditas rate lebih dari 30% dan harus mendapat perhatian yang lebih dalam kehamilan. diuretik. Asupan cairan dan garam dan cairan harus 11 .Marked limitation in activity due to symptoms. Mostly bedbound patients. mitral valve area  <2 cm2 atau left ventricular outflow tract peak gradient > 30 mm Hg) Myocardial dysfunction (LVEF < 40% atau restrictive cardiomyopathy atau (symptomatic sustained tachyarrhytmia atau hypertrophic cardiomyopathia) PENATALAKSANAAN Penanganan medis PPCM mirip penanganan pada penyakit gagal jantung.5 cm2. Ada lima factor yang dapat dipakai meramalkan komplikasi jantung pada wanita hamil.

Diuretik diindikasikan untuk mengurangi preload dan mengurangi gejala.dan mengurangi gejala simptomatik. telah terbukti dapat mengurangi gejala. harus hati-hati terhadap dehidrasi iatrogenik yang menyebabkan hipoperfusi rahim dan mengakibatkan gawat janin. Digoksin dalam dosis rendah aman selama kehamilan dan menyusui (dosis tinggi akan meningkatkan sitokin inflamasi) dan kadar digoksin serum harus dimonitor. karena sifat antagonisme aldosteronnya. dan bahkan dapat diberikan pada kehamilan lanjut ketika obat lainnya 12 . Namun. Namun. Penambahan acetazolamide akan mengurangi alkalosis dengan menghilangkan bikarbonat. Loop diuretik Biasa digunakan di rumah sakit.4 gram / hari dan 2 L / hari.12 bulan dapat mengurangi risiko kekambuhan dari PPCM. tapi thiazides dapat digunakan pada kasus-kasus ringan.I) atau Angiotensin Reseptor Blocker II (ARB) sekarang dianggap sebagai manajemen utama dan telah terbukti menurunkan angka kematian pasien gagal jantung secara signifikan. Dapat terjadi alkalosis metabolik akibat dehidrasi yang dipicu oleh diuretik. Vasodilator Vasodilator sangat penting dalam penanganan gagal jantung karena efek menurunkan preload dan afterload. spironolactone mungkin tidak aman pada kehamilan dan sebaiknya dihindari pada periode antepartum. Pengobatan digoksin selama 6 . Vasodilator meningkatkan CO dan keberhasilan pengobatan gagal jantung. tapi harus dipertimbangkan setelah melahirkan.dibatasi masing-masing 2 . frekuensi perawatan di rumah sakit dan kematian pada pasien gagal jantung berat bila dikombinasi dengan manajemen standar. Diuretik Diuretik aman pada kehamilan dan menyusui. ACE-I dan ARB dikontraindikasikan pada kehamilan karena teratogenisitas. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE. terutama bila dikombinasi dengan diuretik. Spironolactone. MANAJEMEN FARMAKOLOGI Digoksin Digoksin bermanfaat sebagai ionotropik. dan juga penting dalam perbaikan gejala.

Calcium channel blocker Awalnya.Tidak ada agen antiaritmia yang benar-benar aman pada kehamilan. tetapi penggunaannya dikaitkan dengan berat badan lahir rendah. Beta blocker Beta bloker tidak dikontraindikasikan pada kehamilan.tidak efektif. Levosimendan telah digunakan pada pasien PPCM dan berhasil menurunkan peningkatan Pulmonary Capillary Wedge Pressure (PCWP) dan selanjutnya meningkatkan CO. dan juga mencegah remodeling ventrikel dan mengurangi ukuran ventrikel.sebuah sensitizer kalsium memiliki efek vasodilatasi dan meningkatkan kontraktilitas jantung pada pasien gagal jantung. Pada pengujian Prospective Randomized Amlodipine Survival Evaluation (PRAISE). SNP mungkin bukan pilihan yang baik pada periode antepartum. Beta blockers dan ACE-I mungkin mempunyai peran tambahan dalam penekanan respon imun. ACE-I diekskresikan melalui ASI sehingga ASI harus dihentikan pada pasien yang membutuhkan ACE-I. Obat dapat dikurangi secara bertahap selam 6 . Quinidine dan Procainamide merupakan pengobatan lini pertama karena profil keamanan yang lebih tinggi dan 13 . Akhir-akhir ini. Karena kurangnya laporan tentang keamanannya. Levosimendan. Karena toksisitas sianida yang tinggi. Beta blockers dengan sifat tambahan blok alpha (seperti carvedilol) juga mengurangi afterload. Carvedilol telah digunakan dengan aman pada kehamilan dan PPCM. amlodipine dapat menurunkan kadar IL-6 dan menunjukkan peran potensial dalam pengelolaan PPCM. obat harus dilanjutkan untuk waktu yang lama. Agen antiaritmia Agen antiaritmia kadang mungkin diperlukan untuk mengobati keluhan simptomatik.12 bulan bila secara klinis fungsi ventrikel dan ekokardiografi kembali normal. penggunaan calcium channel blockers (CCB) pada gagal jantung tidak dapat diterima karena efek kontraktil negatif dan potensi risiko hipoperfusi rahim. levosimendan sebaiknya dihindari pada pasien menyusui. Jika ada bukti disfungsi jantung terus-menerus yang terkait dengan hipertensi atau diabetes. Amlodipine sekarang telah terbukti meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pada pasien kardiomiopati non-iskemik. Infus nitrogliserin dan natrium nitroprusside (SNP) mungkin diperlukan dalam kondisi yang parah.

Amiodarone dapat menyebabkan hipotiroidisme. Interferon 14 . Terapi imunoglobulin Imunoglobulin intravena (IVIG) telah terbukti meningkatkan perbaikan disfungsi ventrikel akibat PPCM. obesitas dan riwayat tromboemboli. Terapi antikoagulan Terapi antikoagulan diberikan pada pasien dengan LVEF <35% dan pasien terbaring di tempat tidur dengan atrial fibrilasi. Saat ini. Pengujian Pengobatan Miokarditis gagal untuk menunjukkan keuntungan dari terapi imunosupresif pada pasien PPCM. mungkin bijaksana untuk mempertimbangkan IVIG pada pasien PPCM yang tidak berespon terhadap pengobatan konvensional.pengobatan harus dilakukan di rumah sakit. Dalam studi lain. Terapi imunosupresif Terapi imunosupresif dengan azathioprine dan prednisolon telah diteliti pada pasien PPCM dengan miocarditis-positif. Melvin dkk. sehingga diperlukan penggunaan heparin dalam antepartum dan heparin atau warfarin dalam periode postpartum.pertama mencatat perbaikan dramatis dalam tiga pasien dengan terapi imunosupresif. tetapi dapat dipertimbangkan bila hasil biopsi terbukti tidak berespon setelah 2 minggu pengobatan standar. tampaknya tidak ada indikasi rutin terapi imunosupresif. Situasi ini dapat bertahan selama enam minggu masa nifas. Warfarin merupakan kontraindikasi pada kehamilan karena efek teratogenik. Namun. retardasi pertumbuhan dan kematian perinatal. Digoksin dapat dipertimbangkan untuk aritmia atrium. dan adenosin juga dapat digunakan dalam keadaan darurat. trombus. sehingga harus dihindari pada trimester pertama dan diberikan hanya pada aritmia berat yang mengancam kehidupan. Keadaan hiperkoagulasi yang biasa terjadi pada kehamilan dan stasis darah karena disfungsi ventrikel membuat pasien PPCM lebih rentan terhadap pembentukan trombus dan komplikasinya.tetapi baik heparin maupun warfarin aman digunakan selama menyusui. 9 dari 10 pasien menunjukkan perbaikan PCWP dan Left Ventricular Stroke Work Index (LVSWI) dengan terapi prednisolon. Mengingat bukti-bukti meningkatnya autoimunitas pada PPCM.

Immunomodulasi Pentoxifylline. Suatu pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter kebidanan. Dokter kebidanan harus memberikan konseling tentang menyusui dan kehamilan berikutnya sebelum pasien dipulangkan.Setelah persalinan. Interferon hanya memperbaiki parameter echocardiografi. MANAJEMEN OBSTETRIK PPCM selama periode antepartum memerlukan pemantauan janin dan ibu yang intensif. Operasi caesar meningkatkan risiko kehilangan darah. MANAJEMEN OPERASI Transplantasi jantung hanya diperuntukkan bagi mereka yang resisten terhadap semua manajemen medis. Namun. sedangkan aplikasi forsep outlet atau alat vakum dapat meminimalkan stres jantung pada kala 2 persalinan. endometriosis dan emboli paru. dan paling baik dilakukan untuk indikasi obstetri serta dalam kondisi dekompensasi berat. tetapi tingkat penolakan lebih besar karena tingginya titer antibodi yang beredar. anestesi dan perinatologist mungkin diperlukan untuk memberikan perawatan yang optimal kepada pasien PPCM. CRP dan Fas/Apo-1. Tidak ada kontrasepsi yang benar-benar ideal untuk wanita dengan penyakit jantung. agen imunomodulasi dikenal untuk mengurangi produksi TNFa. namun tidak menghasilkan banyak manfaat terhadap gejala simtomatik pasien PPCM. telah terbukti dalam penelitian dapat memperbaiki kelas NYHA. ahli jantung. LVEF dan hasil akhir pengobatan pada pasien PPCM bila dikombinasikan dengan pengobatan konvensional. kerusakan end.Interferon telah digunakan bila hasil biopsi membuktikan miokarditis virus.organ minimal dan PPCM onset dini memiliki hasil yang lebih menguntungkan. pasien perlu pemantauan di Unit Perawatan Intensif (ICU) untuk deteksi dini dan pengelolaan autotransfusi uterus yang menginduksi edema paru. dibutuhkan lebih banyak bukti sebelum pentoxifylline dapat direkomendasikan. Analgesia regional akan mengurangi stres jantung akibat nyeri persalinan. Pasien dengan usia muda. karena resiko terjadinya komplikasi seperti thrombosis dan infeksi. Jenis-jenis kontrasepsi :   Barier/ kondom Kurang ideal karena angka kegagalan cukup tinggi ± 12 % Pil oral ontrasepsi 15 .

atrial fibrilasi. Hal tersebut dapat berkaitan dengan gejala yang semakin memburuk atau perkembangan dari bekuan darah / emboli. Jika bekuan darah tersebut terlepas dari jantung dan ikut dalam sirkulasi. Hal ini menyebabkan bekuan darah terbentuk di jantung. meningkatkan napas yang pendek/ sesak nafas. Terjadi ketika otot jantung tidak cukup kuat untuk memompa darah yang cukup untuk seluruh tubuh. riwayat tromboemboli. dan sindroma  Eisenmenger Kontrasepsi bebas estrogen Walaupun efektifitasnya lebih rendah tapi terbukti aman untuk wanita dengan  penyakit jantung IUD Pemakaian harus hati-hati karena adanya resiko infeksi dan reflex vagal yang dapat menimbulkan bradikardia pada saat pemasangan.Angka keberhasilan sangat tinggi tetapi karena ada resiko tromboemboli maka pemakaiannya harus dihindari pada kelainan jantung seperti mitral stenosis. edema tungkai. menyebabkan rasa berdebar-debar. Hal ini mempengaruhi kedua sisi jantung ( kiri dan kanan) menyebabkan gejala sesak nafas. aliran darah yang melewati jantung lebih lambat dari biasanya. Bekuan darah/ Thromboemboli Pada DCM. Beberapa orang memiliki penyakit yang stabil dan kondisi yang agak sedikit buruk. Sementara yang lain memiliki gejala berubah-ubah yang disebut gagal jantung. Atrial fibrillation (AF)/ fibrilasi atrium Merupakan kelainan irama jantung yang paling sering pada DCM. menyebabkan edema di paru-paru dan/ atau jaringan/ perifer.  bendungan vena jugularis dan perut terasa penuh. Selain itu pada pasien yang  memakai antikoagulan ada resiko perdarahan menstruasi yang banyak Tubektomi atau vasektomi Dianjurkan pada pasien yang sudah tidak mengingkan anak KOMPLIKASI Komplikasi dari Kardiomiopati Dilatasi sebagai berikut:  Gagal jantung Merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada DCM. katup jantung prostetik. Denyut jantung ireguler dan cepat. maka dapat menyebabkan kerusakan otak/ 16 . Risiko dari bekuan tersebut diatasi dengan pemberian warfarin yang digunakan untuk mengencerkan  darah jika terjadi fibrilasi atrium. kardiomiopati.

dan dapat ditemukan pada orang normal. Evaluasi klien dengan disritmia. diperlukan pengobatan dengan  warfarin/antikoagulan. Obat-  obatan dan/ atau ICD dapat mengurangi risiko ini. Pada DCM dengan pembesaran jantung. Berkaitan dengan penurunan drastis dari tekanan darah dan gejala dari pusing sesak nafas atau bahkan pingsan. Kelainan yang berat dan serius dari aktivitas elektrik irama jantung. PENCEGAHAN Pencegahan primer     Anjurkan klien untuk mengurangi konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok. Dapat berespon terhadap obat atau ICD/ implantable cardioventer defibrillator. jantung akan menjadi terlalu lambat. tidak berbahaya. Kelainan irama/ rhythm/ aritmia Hal tersebut secara umum menyebabkan pusing. palpitasi dan dapat juga asimtomatik. Dapat menyebabkan kolaps dan bahkan kematian jika tidak  disembuhkan. Heart block Jika sistem konduksi elektrikal jantung dalam jantung gagal untuk berfungsi dengan baik. Tapi dapat juga asimtomatik.  Ventrikular takikardia Merupakan denyut jantung yang sangat cepat. Cegah proses infeksi Monitor terjadinya hipertensi sistemik Monitor keadaan wanita selama masa kehamilan Pencegahan sekunder   Monitor tanda awal dari gagal jantung kongestif. Tidak memerlukan pengobatan. maka diperlukan pacemaker. untuk mencegah pembentukan bekuan darah. Beberapa kelainan irama yang dapat terjadi pada DCM :  Ektopik ventrikular Kadang-kadang ada 1 denyut tambahan di luar denyut jantung.  Ventricular fibrillation (VF)/ fibrilasi ventrikel Jarang terjadi. Pencegahan tersier 17 . Jika terjadi pandangan mata terasa gelap/tidak sadar. Sudden death/ kematian mendadak Terjadi karena aritmia yang berat atau perkembangan bekuan darah yang besar. sesak nafas.stroke.

defek konduksi jantung. penyakit medis sebelumnya dan keterlambatan dalam penangan medis awal memiliki prognosis buruk. kadar antibodi anti-klamidia. LVEF (<45%) pada dua bulan setelah diagnosis juga memiliki prognosis buruk. Pengetahuan yang lebih baik tentang patofisiologi. Dibandingkan dengan postpartum. Akhir-akhir ini. Pemulihan dari PPCM Pemulihan klinis terdiri dari perbaikan gejala dan penghentian pengobatan gagal jantung. disfungsi ventrikel persisten enam bulan setelah melahirkan. Kriteria Prognosis Buruk Umumnya pasien dengan usia dan paritas yang lebih tinggi. 18 . Pemulihan disfungsi ventrikel telah didefinisikan sebagai :  LVEF ≥50% atau perbaikan > 20%  LVFS ≥30% Meskipun sebagian besar pemulihan terjadi dalam 2 bulan pertama. Mortalitas Angka kematian hingga sekitar ˃50% dan sekitar setengahnya meninggal dalam bulan pertama sejak munculnya gejala dan mayoritas dalam tiga bulan pertama dari periode postpartum. TNF dan IgG kelas 3 yang tinggi telah dikaitkan dengan prognosis buruk. pendekatan multimodal dan strategi manajemen invasif dan intensif dapat menurunkan tingkat mortalitas. serta gagal jantung kongestif berat dan aritmia. trombus intrakardiak. Penyebab tertinggi kematian adalah tromboemboli. Tingkat kelangsungan hidup 5tahun 94% pada pasien dengan pemulihan komplit fungsi ventrikel. ras kulit hitam.   Perhatikan petunjuk spesifik pemakaian obat Pertimbangkan untuk dilakukan transplantasi jantung Evaluasi pemberian terapi antikoagulasi untuk mengurangi embolisme sistemik. onset lambat gejala (> 2 minggu pasca persalinan). terjadinya PPCM antepartum dikaitkan dengan prognosis buruk. kehamilan kembar.tapi dapat pula sampai 6 12 bulan. PROGNOSIS Prognosis dilaporkan PPCM bervariasi. tetapi dengan manajemen yang canggih seperti sekarang ini maka prognosisnya menggembirakan.

Kekambuhan gagal jantung berkisar antara 21-80% pada kehamilan berikutnya. Multiparitas meningkatkan risiko kerusakan jantung yang ireversibel pada kehamilan berikutnya. tidak ada penyebab gagal jantung yang ditemukan ( mis infeksi. 19 . penyakit katup. Resiko tertinggi kekambuhan tetap pada pasien dengan disfungsi jantung persisten dan risiko terendah pada mereka yang fungsi jantung telah normal. aritmia atau komplikasi tromboemboli. diuretik. Penyakit ini terbanyak dijumpai pada 3 bulan pertama peripartum (82%) dan lebih jarang pada bulan terakhir kehamilan (7%) Diagnosis kardiomiopati peripartum ditegakkan berdasarkan. Penanganannya berupa penatalaksanaan gagal jantung termasuk istirahat. Belum jelas apakah ini disebabkan eksaserbasi dari kegagalan jantung subklinis sebelumnya atau reaktivasi dari proses penyakit yang sama. ionotropik. dan dobutamin stress test mungkin memainkan peran penting. antikoagulans atau beberapa kombinasi atau pada kasus yang lanjut dengan transplantasi. Merupakan diagnosis ekslusi dan sama dengan idiopathic dilated cardiomyopathy (karena respon autoimun) yang terjadi pada dewasa muda tidak hamil. Setengah kematian terjadi dalam 3 bulan pertama pasca salin dan penyebabnya karena gagal jantung kongesti progresif kronis. Angka kematian kardiomiopati peripartum sebesar 25-50%. medikal terapi dengan penurunan afterload. Kematian karena fenomena emboli ( sistemik dan pulmonal ) 30%. Kekambuhan PPCM juga dapat terjadi pada pasien yang ukuran dan fungsi ventrikel yang telah kembali normal. KESIMPULAN Kardiomiopati peripartum adalah penyakit miokardium idiopatik yang terjadi pertama kali pada trimester III kehamilan atau dalam 5 bulan setelah melahirkan. tidak ada penyakit jantung yang tampak sebelum bulan akhir terakhir kehamilan. Gagal jantung terjadi pada bulan akhir kehamilan atau dalam 5 bulan setelah melahirkan.Oleh karena itu. restriksi garam.RISIKO KEKAMBUHAN DALAM KEHAMILAN BERIKUTNYA Kebanyakan laporan menggambarkan kekambuhan PPCM pada kehamilan berikutnya. kriteria yang digunakan untuk mendeteksi pemulihan fungsi ventrikel berdasarkan ekokardiografi istirahat pada pasien PPCM harus direvisi. tanpa diketahui sebab dan pathofisiologinya. dan gambaran ekokardiografi menunjukan kegagalan ventrikel kiri. penyakit jantung iskhemik). sebagaimana dibuktikan dengan dobutamin stress test.

2271-88. Prima Medika: Jakarta 3. Heart disease and preganancy. 20 . Ueland K. 4. Editor Santosa Budi. McAnulty JH. Leonardo Paskah S. Schlant RC. In Alexander RW. p. Rutherford JD. 9th ed. Fuster V. 1999. Reiltorld SC. Jakarta 2.Engl J Med 2003. Valvular heart disease in pregnancy. N. Majalah Kedokteran Indonesia.Panduan Diagnosis Keperawatan Nanda 2005-2006. Mc Graw-Hilllnternational: New York. 349: 52-9. and Sonnenblick EH. Hurst's The Heart. 2010. Bambang Budi S. Metcalfe J. Kardiomiopati Terkini.DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI. Roberts R. 2006. O'Rourke.

No 4.5. 7. diagnosis. 2006.com 9. Prasad AK. 10. Jakarta. 2001. Cleveland clinic journal of medicine volume 76. “Contemporary Definitions and Classification of The Cardiomyopathies” Circulation. PPDS IPD FKUI/RSCM. andtreatment. Jurnal Dexa Media. Volume 2010 21 . 289-296.Journalof Pregnancy. Lok SI et all. Wells GL and Twomley KM.springerlink. 6. NethHeart J (2011) 19:126 –133. Valvular heart disease and pregnancy. A high index of susupicion is important to reduce risk. 113. 110. 2007. number 5 may 2009. Maron BJ dkk. 1807-1816 8. Ramaraj R and Sorrel VL. Ismail Yusuf. Postgraduate Medicine. Peripartum Cardiomyopathy: A Current Review. Available at: www. Ventura HO. 69-76. Vol 20 Komplikasi Jantung pada Kehamilan dan Preeklampsia Berat. Peripartum cardiomyopathy: the need for a national database. Peripartum cardiomyopathy: Causes.