Anda di halaman 1dari 3
JAKARTA—Pemerintah tengah mematangkan sinkronisasi pelayanan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) antara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kebijakan tersebut diambil untuk menyukseskan program Indonesia Sehat atau yang biasa disebut Kartu Indonesia Sehat (KIS) pada tahun ini. Sejalan dengan hal tersebut, JKN diharapkan mampu memiliki sistem yang terintegrasi dengan KIS. “Intinya, tahun ini, BPJS Kesehatan akan menyukseskan program KIS yang diusung pemerintah baru. Kami akan fokus memperbaiki sistem pembayaran premi dan klaim, sedangkan Kemenkes akan menggenjot ketersediaan fasilitas kesehatan,” ungkap Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris di Jakarta, seperti dikutip Bisnis.com, Selasa (6/1). Sinergi antara BPJS Kesehatan dengan Kemenkes juga tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 12 Tahun 2013 mengenai JKN. Perpres itu mengatur tentang persyaratan fasilitas kesehatan milik pemerintah dan swasta untuk menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Sejalan dengan upaya sinergi yang masif dengan kementerian terkait misalnya Kemenkes, Fahmi optimistis mampu meraih target kepesertaan di segmen individu dan korporasi pada tahun ini. Adapun, BPJS Kesehatan memproyeksi jumlah peserta akan mencapai 168 juta jiwa, dengan 39 juta jiwa di antaranya merupakan peserta dari badan usaha nasional dan swasta. Selain itu, perusahaan yang dulunya bernama Askes ini berupaya untuk menjaga rasio klaim di angka 90% pada tahun ini. Tingginya klaim tersebut merupakan imbas dari banyaknya peserta yang mendaftar ke BPJS Kesehatan dalam keadaan sakit. Berdasarkan data per November tahun lalu, BPJS Kesehatan mencatat jumlah klaim memuncak hingga 99,83%. Kendati demikian, BPJS Kesehatan telah mengantisipasi pembengkakan klaim dengan menyiapkan dana sebesar Rp5,6 triliun pada tahun lalu. Dana itu berasal dari dari pengalihan aset PT Askes sebelum dibubarkan kemudian berubah bentuk menjadi BPJSKesehatan. “Tingginya rasio klaim sudah diantisipasi dan besarannya sesuai dengan Rencana Kerja Anggaran pada 2014,” imbuhnya. Di lain pihak, Nila Farid Moeloek, Menteri Kesehatan menjelaskan peserta BPJS Kesehatan yang akan ditanggung pemerintah bertambah dari 86,4 juta menjadi 97,8 juta jiwa pada tahun ini. Walau bertambah lebih dari 11,4 juta jiwa, pemerintah hanya akan menambah anggaran untuk 2,2 juta jiwa. Sedangkan selisihnya merupakan peralihan dari jaminan kesehatan yang dimiliki oleh daerah. Khusus peserta 2,2 juta ini, pemerintah akan mengucurkan Rp800 miliar dan telah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015. Amanda Kusumawardhani Editor : Mia Chitra Dinisari Sumber: http://finansial.bisnis.com/read/20150107/215/388401/kementerian-kesehatansinkronisasi-layanan-jkn-dengan-bpjs Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menyatakan bakal mencari jalan keluar atas segala permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Salah satunya memicu moral hazard atau jebakan moral terhadap peserta BPJS Kesehatan. Solusi ini, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil akan dikomunikasikan bersama Menteri Kesehatan Nila Moeloek dan Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris hari ini (5/1/2015). Rencananya, koordinasi tersebut berlangsung pada pukul 11.00 WIB di kantor Kemenko Bidang Perekonomian. "Nanti dengan Ibu Menteri Kesehatan akan ngobrol dulu, dilihat apa masalahnya. Bagaimana mengurangi moral hazard yang luar biasa yang nampaknya terjadi di BPJS Kesehatan," ujar Sofyan kepada wartawan di kantornya. Contoh moral hazard yang timbul pada pelaksanaan BPJS Kesehatan, dia menyebut, banyak peserta jaminan kesehatan ini yang baru menyetor iuran dua bulan, langsung mendapat pelayanan operasi dan sebagainya. "Ada orang yang sudah sakit, baru ke sana (mengurus BPJS Kesehatan)," ujar dia. Menurut Sofyan, pemerintah berharap BPJS Kesehatan dapat berjalan sesuai dengan normanorma yang berlaku secara berkesinambungan. "Ini (moral hazard) harus kita workout, kita carikan jalan keluarnya," tuturnya. Sementara Menteri Kesehatan Nila Moeloek masih enggan menjelaskan secara lebih detail mengenai terjadinya moral hazard di BPJS Kesehatan. "Itu urusan BPJS Kesehatan, kami kan pelayanannya. Kalau kartu tanya mereka, kami penyedia pelayanan. Memang mesti sinkron dan ini yang mau coba dilihat," jelasnya. Dari pantauan Liputan6.com, terlihat Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek sudah hadir di kantor Kemenko Bidang Perekonomian. (Fik/Ndw) Liputan6.com, Jakarta Setelah Peraturan baru yang dikeluarkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan nomor 4/2014 tentang tatacara pendaftaran peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menuai kontroversi karena pemberlakuan kartu aktif 7 hari. Kini muncul lagi peraturan Peraturan Direksi BPJS Pusat nomor 211/2014 yang memuat secara teknis tata cara pendaftaran peserta BPJS. Dihubungi Liputan6.com, Senin (8/12/2014), Kepala Humas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Irfan Humaedi menuturkan bahwa peraturan nomor 211 ini dikeluarkan BPJS memang untuk menarik masyarakat yang sehat ketimbang yang sakit. "Banyak yang daftar BPJS itu kan yang sakit. Padahal kami ingin masyarakat yang sehat juga ikut. Peraturan baru ini juga menuliskan beberapa kelonggaran," kata Irfan. Menurut Irfan, di peraturan Direksi nomor 211 tahun 2014, kelonggaran yang diberikan seperti masa aktif kartu yang berlaku 7 hari ditekankan hanya untuk kelas I dan II. Sedangkan golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan kelas III, masa aktif kartu langsung berlaku. Selain itu, masalah status kepesertaan pasien yang masuk Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) atau RS, menurut Irfan, BPJS memberikan kesempatan untuk melakukan pendaftaran dan pembayaran iuran peserta JKN dan selanjutnya menunjukkan nomor identitas peserta JKN selambat-lambatnya 3 x 24 jam hari kerja sejak yang bersangkutan dirawat atau sebelum pasien pulang (bila pasien dirawat kurang dari 3 hari).