Anda di halaman 1dari 34

PATOLOGI KLINIK II

ANEMIA MEGALOBLASTIK

ANEMIA MEGALOBLASTIC
 Anemia yang disebabkan abnormalitas

hematopoiesis dengan karakteristik
dismaturasi nukleus dan sitoplasma sel mieloid
dan eritrosid akibat gangguan sintesis DNA

Defisiensi Asam folat 2.Faktor lain ( Obat-obatan.Etiologi : 1. Gangguan metabolik) .Defisiensi Vitamin B12 (Kobalamin) 3.

Pemeriksaan Laboratorium :  Gambaran sel makrositer berbentuk oval  Hitung retikulosit rendah  Neutrofil menunjukan hipersegmnetasi (inti >6 lobus)  Sum-sum tulang biasanya hiperseluler dan eritroblast biasanya besar  menunjukkan kegagalan pematangan inti sel dgn pola kromatin kasar .

akantosit dan Limfosit pada peredaran darah tepi.eliptocyte.Keterangan : Tampak tear drop cell. .

Kelainan Leukisit (LEUKEMIA) .

hitung lekosit dalam darah tepi menjadi tinggi dan dapat menginfiltrasi organ-organ lain.LEUKEMIA Definisi : Golongan penyakit yang ditandai dengan penimbunan sel lekosit abnormal pada sum-sum tulang Sel abnormal pada sum-sum tulang dapat menyebabkan kegagalan sum-sum tulang. neutropenia dan trombositopenia . Kegagalan sum-sum tulang dpt dilihat adanya anemia.

Radiasi 2. Bahan Kimia dan Obat2an (antrasiklin) 3. Keturunan (kembar identik) 1. Disfungsi sum-sum tulang . Infeksi terutama virus 4. Defisiensi Imun 3. Faktor Intrinsik : B. Faktor Ekstrinsik 1. Kelainan kromosom (Philadelphia) 2. Etiologi : Penyebab leukemia tdk diketahui tetapi ada faktor 2 pencetus yang dapat mempengaruhi: A.

mematikan. dan memburuk. maka penderita dapat meninggal dalam hitungan minggu hingga hari.Klasifikasi Leukemia dapat diklasifikasikan atas dasar: Perjalanan alamiah penyakit: akut dan kronis Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat. . hingga lebih dari 1 tahun bahkan ada yang mencapai 5 tahun. Apabila tidak diobati segera. Leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama.

maka disebut leukemia mielositik. dan eosinofil. . maka disebut leukemia limfositik. basofil. Ketika leukemia mempengaruhi sel mieloid seperti neutrofil.Tipe sel predominan yang terlibat: limfoid dan mieloid Kemudian. penyakit diklasifikasikan dengan jenis sel yang ditemukan pada sediaan darah tepi : Ketika leukemia mempengaruhi limfosit atau sel limfoid.

Klasifikasi Akut  Leukemia menyerang rangkaian limfoid  Leukemia Limfositik Akut  Leukemia menyerang rangkaian mieloid LNLA (Leukemia NonLimfositik Akut) = LMA (Leukemia Milelositk Akut) = Leukemia Granulositik Akut .

Kronik  Leukemia menyerang rangkaian mieloid CGL Chronic Granulositik Leukemia = Leukemia Mielositik Kronik  Leukemia menyerang rangkaian limfoid  Leukemia Limfositik Kronik .

Leukemia Limfoblatik Akut (LLA) .

lalu menghancurkan dan menggantikan sel-sel yang menghasilkan sel darah yang normal. yang dalam keadaan norma berkembang menjadi limfosit. tetapi kadang terjadi pada usia remaja dan dewasa Sel-sel yang belum matang. berubah menjadi ganas. Sel leukemik ini tertimbun di sumsum tulang. .Leukemia Limfoblatik Akut Malignansi sel darah atau proliferasi sel darah yang dominan untuk seri limfosit yang bersifat akut LLA merupakan leukemia yang paling sering terjadi pad Paling sering terjadi pada anak usia antara 3-5 tahun.

 Gejala klinik: -pembesaran kelenjar limfe -hepatosplenomegali -nyeri pada tulang dan kelainan tulang -Pada fase akhir penyakit ini dapat dijumpai meningitis leukemik. .

Sediaan Apus Darah Tepi  Hampir semua sel berinti adalah sel muda  Sel yang ukurannya kecil mempunyai sedikit sitoplasma  Kromatin halus  Nukleus biasanya satu tetapi susah terlihat Sumsum Tulang  Proliferasi menunjukkan hampir murni dari limfoblas  Eritropoisis terdesak  Trombopoisis terdesak .

Menurut klasifikasi FAB dibagi menjadi 3 sub jenis L1 Populasai sel yang homogen terdiri dari sel-sel yang berukuran relatif kecil dengan sitoplasma sedikit. kromatin halus dan bentuk inti teratur serta anak inti sukar dikenali 3 2 1 Keterangan : 1 : limfoblast 2 : netrofil segmen 3 : eritrosit .

Populasi sel berukuran besar. biasanya berukuran besar Anak inti satu atau lebih. sangat jelas. bentuk inti dan susunan kromatin berbeda. Terdapat satu atau lebih anak inti. Sitoplasma biru dan terdapat vakuolisasi . relatif homogen dengan inti teratur dan kromatin halus. Umumnya sel-sel berukuran besar dengan sitoplasma basofilik.L2 : Populasi sel heterogen dengan ukuran sel.

relatif homogen dengan inti teratur dan kromatin halus. sangat jelas. Anak inti satu atau lebih.L3 : Populasi sel berukuran besar. Sitoplasma biru dan terdapat vakuolisasi .

Banyak banyak Biru muda . Bulatoval Tampak mencolok Sedikit . tidak Besar jelas Sitoplasma Sedikit Warna Sitoplasma Biru muda Vakuolisasi Bervariasi L3 Homogen Teratur.Biru Tua tua Bervariasi Mencolok .JENIS L1 Kromatin Inti Homogen Bentuk Inti Anak Inti L2 Heterogen Teratur/rata Teratur berinti Kecil.

Leukemia Mielositik Akut (LMA) .

000-150. . -Anemia -kecenderungan perdarahan -Infeksi -trombositopenia(50.  90% dewasa.10% pada anak-ANAK.Leukemia Mielositik akut  Malignansi sel darah atau proliferasi sel darah yang di dominasi oleh seri granulosit (mieloid)yang bersifat akut. Gejala Klinik: -kelemahan badan -Lesu dan demam merupakan gejala umum.000/mm3).

Sediaan Apus Darah Tepi  Banyak ditemukan myeloblast  Pada stadium awal masih banyak ditemukan Stab & segmen. tetapi pada stadium akhir Jarang ditemukan Stab dan segmen hampir didominasi mieloblas Sumsum Tulang  Proliferasi menunjukkan hampir murni dari sel mieloblas  Eritropoisis terdesak  Trombopoisis terdesak .

LMA menurut klasifikasi French American British (FAB) dibagi menjadi :  M1 : Lekemia mieloblastik tanpa pematangan  M2 : Lekemia mieloblastik dengan berbagai derajad pematangan  M3 : Lekemia progranulositik  M4 : Lekemia mielo-monositik  M5 : Lekemia monoblastik  M6 : Eritrolekemia  M7 : Lekemia megakariositik .

2.3 : Sel Blast berdiferensiasi minimal .M0: Berdifferensasi minimal 3 2 1 Keterangan : 1.

Kromatin inti halus -  Nukleoli 3-5 Keterangan : 1.1 2 M1 : Semua sel Myelobla - Granula sedikit – tidak ada -  Ditemukan Auer R -  Inti Bulat.2 : Sel mieloblast tanpa granula .

M2 : Lebih dari 50% Myeloblast & Promyelocyt -        Segmentasi inti kurang (Pelger Huet) -        Granulosit dewasa granulanya sedikit Keterangan : 1.2 : Promielosit 3 : neutrofil granules 4 : limfosit 4 1 2 3 .

M3 -  Promyelocyt dominan (bentuk abnormal) -  Ukuran besar.2.Cenderung menimbul kan DIC 1. dengan granula jelas -  Ditemukan Auer Rod Keterangan : .3 : Promielosit hipergranular 1 2 3 .

M4 Serf myeloid  & Monocyt berproliferasi dan berdiferensiasi Lebih dari 20% sel berinti didarah tepi dan atau sumsum tulang dari promonosit. monosit.4.5 : Promielosit 1 4 3 2 5 . paling sedikit 20% terdiri dari mieloblast dan Keterangan : promielosit 1 : Neutrofil Granular 2 : Basofil 3.

kadang-kadang dijumpai adanya tonjolan sitoplasma atau pseupodia 2.M5 Dibagi 2 1. LMoA berdifferensiasi baik Populasi terdiri dari sel2 monositik (lebih dari 80%) dengan predominasi pro monosit dan monosit . LMoA berdifferensiasi buruk Populasi terdiri dari sel-sel monositik (lebih dari 80%) yang berukuran besar sitoplasma banyak.

.

M6 Banyak ditemukan Pronormoblast (>50%) -        Myeloblast sekitar 30% -        Myeloblast & Promyelocyt ditemukan Auer Rod -        6 4 7 5 3 2 1 Keterangan : 1.4 : Polychromic eritroblast 5 : limfosit 6 : eritrosit 7 : mieloblast .2 : Promielosit 3.

M7 Dalam sumsum tulang dijumpai sel-sel seri megakariosit lebih dari 30% yang dibuktikan dengan pemeriksaan “platelet peroxidase” yang dapat dilihat de-ngan mikroskop elektron. Pada Apus darah Tepi Trombosit meningkat Pada sumsum tulang banyak Megakaryosit Keterangan : 1.3 : megakariosit 4 : eritrosit 5 : mieloblast 1 5 2 4 3 .2.