Anda di halaman 1dari 5

TUGAS GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

PENGARUH PERATURAN PEMERINTAH TERHADAP PENJUALAN BISNIS


MINUMAN BERALKOHOL
Dosen Pengampu: Amalinda Savirani S.I.P,MA., Ph.D

Disusun oleh:
Yayan Fadlanza (14/374030/PEK/19646)

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ISU PERMASALAH

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel melakukan perubahan peraturan perundangan yang


mengatur tentang peredaran dan penjualan minuman beralkohol. Menteri perdagangan
melakukan pembahasan yang dilakukan bersama dengan perwakilan produsen bir asal
Belanda, Heineken, selaku pemegang saham terbesar PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI),
produsen Bir Bintang. Perancangan perundangan ini lebih dimaksudkan untuk melindungi
generasi muda dari konsumsi minuman beralkohol. Selain itu deregulasi ini dimaksudkan
untuk mengurangi angka kriminalitas yang disebabkan oleh pengaruh konsumsi dari minuman
berlkohol.

Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, tapi bir

termasuk dalam daftar minuman populer masyarakat. Banyak minuman beralkohol produk
lokal, termasuk bir Bintang yang sangat terkenal di Indonesia.
Aturan larangan penjualan minuman keras beralkohol bir di minimarket adalah
berdasarkan pada peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 6/2015 tentang
pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran, dan penjualan minuman
beralkohol. Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel melarang penjualan minuman
beralkohol golongan A di minimarket. Minuman alkohol Golongan A merupakan minuman
dengan kadar alkohol kurang dari lima persen yaitu di antaranya bir, bir hitam, dan minuman
ringan beralkohol. Sehingga jenis minuman keras beralkohol yang dilarang di jual di
minimarket adalah seperti yang tercantum diatas yaitu miras alkohol golongan A.
Permendag No.6 tahun 2015 ini merupakan perubahan kedua atas peraturan menteri
perdagangan nomor 20 tahun 2014 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan,
peredaran, dan penjualan minuman beralkohol. Bila dalam permendag sebelumnya yaitu
Permendag Nomor 20/M-DAG/PER/4/2014 diperbolehkan menjual minuman beralkohol
dengan kadar 5%, maka dalam peraturan yang baru ini dilarang penjualan minuman beralkohol
di minimarket.

ANALISIS PERMASALAHAN
Dengan adanya perubahan perundangan peraturan pemerintah yang mengatur
peredaran penjualan minuman beralkohol tentu saja mempengaruhi strategi penjualan bisnis
mnuman beralkohol. Hal ini diakibatkan oleh penjualan minuman beralkohol yang sebelumnya
diijinkan di Minimarket dan ritel, dengan adanya peraturan tersebut maka penjualan hanya
boleh dilakukan di Supermarket ataupun Hipermarket. Di beberapa minimarket kota di
Indonesia sejak beberapa waktu lalu memang sudah tidak menjual minuman beralkohol lagi,
mengantisipasi pelarangan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan. Tapi di Bali,
toko-toko masih menjual minuman beralkohol seperti bir. Aturan itu memang memuat
beberapa pengecualian untuk kawasan dan lokasi pariwisata. Bagi pengelola akomodasi
pariwisata di Bali, seperti hotel, kafe, dan restoran, minuman beralkohol adalah komoditi yang
menguntungkan. Khususnya di Pantai Kuta, Legian, dan Sanur, konsumen minuman
beralkohol adalah wisatawan mancanegara. Dengan adanya pelarangan tersebut maka
penurunan dapat terlihat dengan penurunan omset penjualan mecapai 30%, hal ini diungkapkan
oleh salah satu produsen minuman beralkohol. Kesulitan juga bakal dialami PT Delta Djakarta
Tbk, produsen bir merek Anker, San Miguel, Carlsberg, dan Kuda Putih. Manajemen perseroan
memperkirakan dengan dilarangnya minimarket dan toko pengecer menjual bir, pemasukan
perseroan bisa terganggu sekitar 60% . Hal ini dikarenakan selama ini minimarket membantu
penjualan sekitar 10 persen dan 50 persen lainnya dijual melalui toko pengecer. Aturan yang
disahkan oleh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pada 16 Januari 2015 dan diterapkannya
larangan penjualan bir melalui minimarket dan toko pengecer pada 16 April 2015, membuat
manajemen Delta Djakarta tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyusun ulang strategi
bisnisnya yang sudah mulai berjalan untuk tahun buku 2015. Berbeda cerita jika aturan tersebut
dibuat pada akhir tahun lalu dan diberlakukan mulai awal tahun baru. Setelah aturan ini
dikeluarkan, Saham Delta Djakarta diperdagangkan pada level Rp 279.500 per saham turun
0,18 persen.

KESIMPULAN

1.

Perubahan ketidakpastian keputusan politik mengenai peraturan penjualan minuman


berlkohol oleh Menteri Perdagagan tentu saja mengakibatkan perubahan strategi
penjualan pada PT. Delta Djakarta, Tbk dan juga harga jual saham PT. Delta
Djakarta,Tbk.

2. Dengan adanya penerapan sistem pelarangan penjualan ini saat erat kaitannya dengan

siapa yang menduduki posisi jabatan menteri perdagangan, hal ini dapat dilihat dengan
perkembangan pelaksanaan aturan tersebut saat ini dimana Peraturan Dirjen Dagri
yang mengatur khusus daerah wisata yang ada peraturan daerahnya itu, akan direlaksasi
dan dikembalikan ke kabupaten kota untuk lokasi mana saja yang boleh (menjual), dan
tidak melanggar Permendag yang ada, sehingga nantinya pemerintah yang menentukan
kawasan wisata mana dan daerah mana yang diperbolehkan untuk menjual minuman
beralkohol.

DAFTAR PUSTAKA

CNN.

2013.

Dilarang-pemerintah-alfamart

Tarik

stok

miniman

beralkohol.

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150416102235-92-47038/dilarangpemerintah-alfamart-tarik-stok-minuman-beralkohol/

Liputan 6. 2013. http://news.liputan6.com/read/2214029/bir-mulai-hari-ini-dilarang-beredardi-minimarket :diakses pada tanggal 29 September 2015

Liputan 6. 2013. http://forum.liputan6.com/t/relaksasi-aturan-minuman-beralkohol-masihterus-dikaji/2938 : diakses pada tanggal 28 September 2015