Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Traktus urinarius bagian bawah memiliki dua fungsi utama, yaitu: sebagai
tempat untuk menampung produksi urine dan sebagai fungsi ekskresi. Fungsi bulibuli normal memerlukan aktivitas yang terintegrasi antara sistim saraf otonomi dan
somatik. Jaras neural yang terdiri dari berbagai refleks fungsi destrusor dan sfingter
meluas dari lobus frontalis ke medula spinalis bagian sakral, sehingga penyebab
neurogenik dari gangguan buli-buli dapat diakibatkan oleh lesi pada berbagai derajat.3
Retensio Urine merupakan suatu keadaan darurat urologi yang paling sering
ditemukan dan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Retensio Urine adalah
ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urine yang terkumpul di dalam bulibuli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui.1,3,7
Salah satu penyebab retensio urine adalah Benign Prostat Hyperplasia (BPH).
BPH merupakan penyakit yang sering diderita pada pria. Bila mengalami
pembesaran, organ ini dapat menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan
terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. Penyebab hyperplasia prostate erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron dan proses aging (penuaan).1
Prevalensi dari hasil studi otopsi BPH menunjukkan peningkatan kira-kira
sebanyak 20% pada pria dengan usia 41-50 tahun, menjadi 50% pada pria dengan
usia 51-60 tahun dan menjadi >90% pada pria dengan usia >80 tahun. Pada umur 55
tahun sebanyak 25% pria mengeluhkan gejala voiding symtoms (gejala saat
berkemih). Pada usia 75 tahun, 50% dari pasien pria mengeluhkan penurunan dari
pancaran dan jumlah dari pembuangan urine.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI SALURAN KEMIH BAGIAN BAWAH


Sistem urinaria bagian bawah terdiri atas buli-buli dan uretra yang keduanya
harus bekerja secara sinergis untuk dapat menjalankan fungsinya dalam menyimpan
(storage) dan mengeluarkan (voiding) urine.1
2.1.1 BULI-BULI

Buli-buli adalah organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot detrusor yang
saling beranyaman. Di sebelah dalam adalah otot longitudinal, di tengah merupakan
otot sirkuler, dan paling luar merupakan otot longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri
atas sel-sel transisional yang sama seperti pada mukosa pada pelvis renalis, ureter,
dan uretra posterior. Pada dasar buli-buli kedua muara ureter dan meatus uretra
internum membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum.1
Secara anatomik bentuk buli-buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu
1. Permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum
2. Dua permukaan inferiolateral
3. Permukaan posterior
Permukaan superior merupakan lokus minoris (daerah terlemah) dinding bulibuli.

Buli-buli

berfungsi

menampung

mengeluarkannya melalui uretra

urine

dari

ureter

dan

kemudian

dalam mekanisme miksi (berkemih). Dalam

menampung urine, buli-buli mempunyai kapasitas maksimal, yang volumenya untuk


orang dewasa kurang lebih adalah 300 450 ml; sedangkan kapasitas buli-buli pada
anak menurut formula dari Koff adalah:
Kapasitas buli-buli = {Umur (tahun) + 2} x 30 ml

Sumber : Smiths, 2008


Gambar 2.1. Anatomi dan hubungan dari ureter, buli-buli, prostat, vesika
seminalis, dan vas deferens (tampak depan).
Pada saat kosong, buli-buli terletak di belakang simfisis pubis dan pada saat
penuh berada di atas simfisis sehingga dapat dipalpasi dan diperkusi. Buli-buli yang
terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen dan menyebabkan aktivasi
pusat miksi di medula spinalis segmen sacral S2-4. Hal ini akan menyebabkan
kontraksi otot detrusor, terbukanya leher buli-buli dan relaksasi sfingter uretra
sehingga terjadilah proses miksi.1
2.1.2 URETRA
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine ke luar dari buli-buli
melalui proses miksi. Secara anatomis uretra dibagi menjadi 2 bagian yaitu uretra
posterior dan uretra anterior. Pada pria, organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan
cairan mani. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada
perbatasan buli-buli dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada
perbatasan uretra anterior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos
yang dipersarafi oleh sistem simpatik sehingga pada saat buli-buli penuh, sfingter ini

terbuka. Sfingter uretra eksterna terdiri atas otot bergaris dipersarafi oleh sistem
somatik yang dapat diperintah sesuai dengan keinginan seseorang. Pada saat kencing
sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada saat menahan kencing.
Panjang uretra wanita kurang lebih 3-5 cm, sedangkan uretra pria dewasa
kurang lebih 23-25 cm. Perbedaan panjang inilah yang menyebabkan keluhan
hambatan pengeluaran urine lebih sering terjadi pada pria.1

Sumber : Basuki, 2012


Gambar 2.2. A. Bagian-bagian uretra pria, B. Uretra Prostatika
Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu bagian uretra
yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea. Di bagian
posterior lumen uretra prostatika, terdapat suatu tonjolan verumontanum, dan
disebelah proksimal dan distal dari verumontanum ini terdapat krista uretralis. Bagian
akhir dari vas deferens yaitu kedua duktus ejakulatorius terdapat di pinggir kiri dan
kanan verumontanum, sedangkan sekresi kelenjar prostat bermuara di dalam duktus
prostatikus yang tersebar di uretra prostatika.1
4

Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum
penis. Uretra anterior terdiri atas (1) pars bulbosa, (2) pars pendularis, (3) pars
navikularis, dan (4) meatus uretra eksterna. Di dalam lumen uretra anterior terdapat
beberapa muara kelenjar yang berfungsi dalam proses reporoduksi, yaitu kelenjar
Cowperi berada di dalam diafragma urogenitalis dan bermuara di uretra pars bulbosa,
serta kelenjar Littre yaitu kelenjar Parauretralis yang bermuara di uretra pars
pendularis.
Panjang uretra wanita kurang lebih 4 cm dengan diameter 8 mm. Berada di
bawah simfisis pubis dan bermuara disebelah anterior vagina. Di dalam uretra
bermuara kelenjar periuretra, di antaranya adalah kelenjar Skene. Kurang lebih
sepertiga medial uretra, terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot
bergaris. Tonus otot sfingter uretra eksterna dan tonus otot Levator ani berfungsi
mempertahankan agar urine tetap berada dalam buli-buli pada saat perasaan ingin
miksi. Miksi terjadi jika tekanan intravesika melebihi tekanan intrauretra akibat
kontraksi otot detrusor, dan relaksasi sfingter uretra eksterna.1
3

PROSTAT
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli,

di depan rectum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri
dengan ukuran 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram.1
Prostat terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam
beberapa daerah atau zona, yaitu zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona
preprostatik sfingter, dan zona anterior. Secara histopatologik, prostat terdiri atas
komponen kelenjar dan stroma. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos,
fibroblas, pembuluh darah, saraf, dan jaringan penyanggah yang lain.2

Sumber : Smiths, 2008


Gambar 2.3. Anatomi kelenjar prostat
Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari
cairan ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra
posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat
ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan 25% dari seluruh volume ejakulat.1
2.2 FISIOLOGI SALURAN KEMIH BAGIAN BAWAH
2.2.1

Pengisian urine

Pada pengisian buli-buli, distensi yang timbul ditandai dengan adanya


aktivitas sensor regang pada dinding buli-buli. Pada buli-buli normal, tekanan
intravesikal tidak meningkat selama pengisian sebab terdapat inhibisi dari aktivitas
detrusor dan komplian aktif dari buli-buli. Inhibisi dari aktivitas motorik detrusor
memerlukan jaras yang utuh antara pusat miksi pons dengan medula spinalis bagian
sakral. Mekanisme komplian aktif buli-buli kurang diketahui namun proses ini juga
memerlukan inervasi yang utuh mengingat mekanisme ini hilang pada kerusakan
radiks S2-S4. Selain akomodasi buli-buli, kontinens selama pengisian memerlukan

fasilitasi aktifitas otot lurik dari sfingter uretra, sehingga tekanan uretra lebih tinggi
dibandingkan tekanan intravesikal dan urine tidak mengalir keluar.3
2.2.2 Pengaliran urine
Pada orang dewasa yang normal, rangsangan untuk berkemih timbul dari
distensi buli-buli yang sinyalnya diperoleh dari aferen yang bersifat sensitif terhadap
regangan. Mekanisme normal dari berkemih volunter tidak diketahui dengan jelas
tetapi diperoleh dari relaksasi otot lurik dari sfingter uretra dan otot dasar pelvis yang
diikuti dengan kontraksi buli-buli. Inhibisi tonus simpatis pada leher buli-buli juga
ditemukan sehingga tekanan intravesikal diatas/melebihi tekanan intra uretral dan
urine akan keluar. Pengosongan buli-buli yang lengkap tergantung dari refleks yang
menghambat aktifitas sfingter dan mempertahankan kontraksi detrusor selama
berkemih.3

BAB III
PENYEBAB RETENSIO URINE

3.1 Definisi
Retensio urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urine
yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui.
Retensio urine merupakan disfungsi pengosongan buli-buli termasuk untuk memulai
buang air kecil, pancaran lemah, pelan atau aliran terputus-putus, perasaan tidak
tuntas berkemih dan perlu usaha keras atau dengan penekanan pada suprapubik untuk
mengosongkannya.1
3.2 Etiologi
Adapun penyebab dari penyakit retensio urine dapat dibagi menurut letaknya
yang adalah sebagai berikut:1
3.2.1 Supra vesikal
a. Kerusakan pada pusat miksi di medulla spinalis S2 - S4.
b. Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun
seluruhnya.
Beberapa bagian system saraf yang mungkin terlibat diantaranya otak, pons,
medula spinalis dan saraf perifer. Sebuah kondisi disfungsi menghasilkan gejala yang
berbeda, berkisar antara retensio urin akut hingga overaktivitas kandung kemih atau
kombinasi keduanya. Ketidaklancaran urinaria berasal dari disfungsi kandung kemih,
sfingter atau keduanya. Overaktivitas kandung kemih (spastic bladder) berhubungan

dengan gejala ketidaklancaran yang mendesak, sedangkan sfingter tidak beraktifitas


(decreased resistance) menghasilkan gejala stress incontinence.6
Lesi otak
Lesi otak diatas pons merusak pusat kontrol, menyebabkan hilangnya kontrol
ekskresi secara keseluruhan. Refleks ekskresi traktus urinarius bagian bawah, refleks
ekskresi primitif tetap utuh. Beberapa individu mengeluhkan ketidakmampuan
mengendalikan eksresi yang parah, atau spastic buli-buli. Pengosongan buli-buli yang
terlalu cepat atu terlalu sering, dengan kuantitas yang rendah, dan pengisian urin di
buli-buli menjadi sulit. Contoh lesi otaknya stroke, tumor otak, parkinson.
Hidrosepalus, cerebral palsy, dan Shy-Drager syndrome juga dapat menyebabkan hal
tersebut.6
Lesi medula spinalis
Penyakit atau cidera medula spinalis diantara pons dan sakral menghasilkan
spastik buli-buli atau overaktif buli-buli. Orang dengan paraplegic atau quadriplegic
memiliki lower extremity spasticity. Awalnya, setelah trauma medula spinalis,
individu masuk kedalam fase shock spinal dimana sistem saraf berhenti. Setelah 6-12
minggu, sistem saraf aktif kembali. Ketika sistem saraf aktif kembali, menyebabkan
hiperstimulasi organ yang terlibat.6
Cedera sakral
Cedera pada medula sakrum dan akar saraf yang keluar dari sakrum mungkin
mencegah terjadinya pengosongan buli-buli. Jika terjadi sensorik buli-buli
neurogenik, seseorang tidak akan tahu kapan buli-buli nya penuh. Pada kasus motorik
buli-buli neuriogenik, seseorang mungkin merasakan buli-buli penuh, namun otot
detrusor tidak bereaksi, hal ini disebut detrusor arefleksia.6

2. Vesikal
a. Kelemahan otot detrusor karena lama teregang.
Berupa kelemahan otot destrusor karena lama teregang,berhubungan dengan
masa kehamilan dan proses persalinan (trauma obstetrik). Retensio urine post partum
dibagi atas dua yaitu:1,7
-

Retensio urien covert (volume residu urin>150 ml pada hari pertama post
partum tanpa gejala klinis) Retensio urine post partum yang tidak terdeteksi
(covert) oleh pemeriksa. Bentuk yang retensoi urine covert dapat
diidentifikasikan sebagai peningkatkan residu setelah berkemih spontan yang
dapat dinilai dengan bantuan USG atau drainase buli-buli dengan kateterisasi.
Wanita dengan volume residu setelah buang air kecil 150 ml dan tidak
terdapat gejala klinis retensio urine, termasuk pada kategori ini.

Retensio urine overt (retensi urin akut post partum dengan gejala klinis).
Retensio urine post partum yang tampak secara klinis (overt) adalah ketidakmampuan berkemih secara spontan setelah 6 jam proses persalinan.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya retensio urine post partum,

yaitu :8
1. Trauma Intrapartum
Trauma intrapartum merupakan penyebab utama terjadinya retensio urine,
dimana terdapat trauma pada uretra dan buli-buli. Hal ini terjadi karena adanya
penekanan yang cukup berat dan berlangsung lama terhadap uretra dan buli-buli
oleh kepala janin yang memasuki rongga panggul, sehingga dapat terjadi perlukaan
jaringan, edema mukosa buli-buli dan ekstravasasi darah di dalamnya. Trauma
traktus genitalis dapat menimbulkan hematom yang luas dan meyebabkan retensio
urine post partum.8

10

2. Refleks kejang (cramp) sfingter uretra.


Hal ini terjadi apabila pasien postpartum tersebut merasa ketakutan akan
timbul perih dan sakit jika urinenya mengenai luka episiotomi sewaktu berkemih.
Gangguan ini bersifat sementara.8
3. Hipotonia selama masa kehamilan dan nifas
Tonus otot otot (otot detrusor) buli-buli sejak hamil dan post partum tejadi
penurunan karena pengaruh hormonal ataupun pengaruh obat-obatan anestesia
pada persalinan yang menggunakan anestesi epidural.
4. Posisi tidur telentang pada masa intrapartum membuat ibu sulit berkemih
spontan.
b. Atoni pada pasien DM atau penyakit neurologis.
Diabetes mellitus dan AIDS adalah 2 kondisi penyebab periferal neuropaty
yang menyebabkan retensio urine. Penyakit ini merusak saraf buli-buli, distensi dan
tidak nyeri dari buli-buli. Pasien dengan diabetes kronis kehilangan sensasi dari bulibuli, sebelum buli-buli melakukan dekompensata. Serupa dengan cedera pada
sakrum, pasien akan sulit untuk berkemih, mereka mungkin mempunyai
hypocontractile bladder.5,8
c. Divertikel yang besar.
Buli-buli yang kurang aktif biasanya tidak kosong dan meregang sampai
menjadi sangat besar. Pembesaran ini biasanya tidak menimbulkan nyeri karena
peregangan terjadi secara perlahan dan karena buli-buli memiliki sedikit saraf atau
tidak memiliki saraf lokal. Pada beberapa kasus, buli-buli tetap besar tetapi secara
terus menerus menyebabkan kebocoran sejumlah air kemih.Sering terjadi infeksi
buli-buli karena sisa air kemih di dalam buli-buli memungkinkan pertumbuhan
bakteri. Dan bisa terbentuk batu buli-buli, terutama pada penderita yang mengalami
infeksi buli-buli menahun yang memerlukan bantuan kateter terus menerus.2

11

3. Infravesikal

a. Pembesaran prostate.
Proses pembesaran prostat terjadi secara berlahan-lahan sehingga perubahan
pada saluran kemih juga terjadi secara berlahan-lahan. Pada tahap awal terjadi
pembesaran prostat , retistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat,
serta otot detrusor menebal dan mereggang sehingga timbul sakulasi atau diverkulasi.
Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut,
maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak
mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retansio urine yang selanjutnya dapat
menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.1,2,4
Apabila buli-buli menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urine sehingga
pada akhir berkemih masih ditemukan sisa urine di dalam buli-buli, dan timbul rasa
tidak tuntas pada akhir berkemih. Jika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan
terjadi kemacetan total, sehingga penderita tidak mampu lagi berkemih. Karena
produksi urine terus terjadi maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi
menampung urine sehingga tekanan intravesika terus meningkat. Apabila tekanan
vesika menjadi lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan obstruksi, akan terjadi
inkontinensia paradoks.1,2,4
b. Kekakuan atau tumor leher buli-buli
Karsinoma buli-buli yang masih dini merupakan tumor superficial. Tumor ini
lama kelamaan dapat mengadakan infiltrasi ke lamina propria, otot, dan lemak
perivesika yang kemudian menyebar langsung ke jaringan sekitarnya. Di samping itu
tumor dapat menyebar secara limfogen maupun hematogen. Penyebaran limfogen
menuju kelenjar limfe perivesika, obturator, iliaka eksterna, dan iliaka komunis,
sedangkan penyebaran hematogen paling sering ke hapar, paru dan tulang.1

12

c. Striktura uretra
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan
terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. Jaringan sikatrik pada lumen uretra akan
menimbulkan hambatan aliran urine hingga retensio urine.1,7
d. Batu
Batu biasanya berasal dari batu ginjal/ureter yang turun ke buli-buli kemudian
masuk ke uretra. Batu sering terjadi pada pasien yang menderita gangguan berkemih
atau terdapat benda asing di buli-buli. Kateter yang terpasang pada buli-buli dalam
waktu lama, adanya benda asing lain secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam bulibuli seringkali menjadi inti untuk terbentuknya batu buli-buli.1,7
e. Fimosis.
Fimosis adalah prepusium penis yang tidak dapat di retraksi (ditarik) ke
proksimal sampai ke korona glandis. Fimosis di alami oleh sebagian besar bayi baru
lahir karena terdapat adesi alamiah antara prepusium dengan glans penis. Hingga usia
3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan debris yang di hasilkan oleh epitel
prepusium (smegma) mengumpul di dalam prepusium dan perlahan-lahan
memisahkan prepusium dari glans penis.1,2,7
Fimosis menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit berkemih, pancaran
urine mengecil, menggelembung ujung nya prepusium penis saat berkemih, dan
menimbulkan retensio urine. Higieni lokal yang kurang bersih menyebabkan
terjadinya infeksi pada prepusium, infeksi pada glans penis, atau infeksi glans dan
prepusium penis.1,2,7

3.3 Patofisiologi

13

Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan


penyimpanan urine dan pengosongan buli-buli. Hal ini saling berlawanan dan
bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot buli-buli dalam hal penyimpanan dan
pengeluaran urine dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik.1,2,4,7
Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap buli-buli
menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih.
Penyimpanan urine dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas
kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher
buli-buli dan proksimal uretra.
Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan
otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf
parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen
kolinergik.
Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada
ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak.
Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral
spinal. Selama fase pengosongan buli-buli hambatan pada aliran parasimpatis sakral
dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor. Hambatan aliran simpatis pada bulibuli menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan
sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sfingter
eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal.1,2,4,7
Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa
sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin berkemih yang hebat disertai
mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, faktor obat dan faktor lainnya
seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya. 1,2,4,7

14

BAB IV
PENANGANAN RETENSIO URINE
4.1 Bladder training
4.1.1 Pengertian
Bladder

training

adalah

latihan

buli-buli

yang

bertujuan

untuk

mengembangkan tonus otot dan sfingter buli-buli agar berfungsi optimal. Menurut
African Charter on Human adn Peoples Rights (1992), Bladder training adalah
kegiatan melatih buli-buli untuk mengembalikan pola normal berkemih dengan
menghambat atau menstimulasi pengeluaran urine.2
4.1.2 Metode
Terdapat tiga macam metode bladder training, yaitu:2
a. Kegel exercises (latihan pengencangan atau penguatan otot-otot dasar panggul)
b. Delay urination (menunda berkemih)
c. Scheduled bathroom trips (jadwal berkemih).
4.1.3 Cara kerja
a. Memperpanjang waktu untuk berkemih.
b. Meningkatkan jumlah urine yang ditampung dalam buli-buli.
c. Memperbaiki kontrol terhadap pengeluaran urine.
4.1.4 Tujuan
Secara umum bladder training bertujuan untuk mengembalikan pola normal
berkemih dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran urine.
Tujuan khusus:
a. Mengembangkan tonus otot buli-buli sehingga dapat mencegah inkotinensia yang
dapat juga menyebabkan retensio urine.
b. Mencegah proses terjadinya batu urine.
c. Melatih buli-buli untuk mengeluarkan urine secara periodik.
d. Membantu pasien untuk mendapatkan pola berkemih rutin.

15

4.1.5 Prosedur
Prosedur intervensi yang diberikan adalah sebagai berikut:2
a. Memberikan edukasi pada pasien tentang pentingnya eliminasi
berkemih spontan setelah persalinan. Lalu menjelaskan pada
pasien bahwa keberhasilan bladder training didukung oleh kemauan
dan kesadaran klien dalam pelaksanaannya.
b. Memberikan minum air sebanyak 200 ml.
Mengukur tanda vital untuk mengetahui kondisi pasien, apakah
kondisi pasien memungkinkan untuk dilakukan bladder training.
Bladder training dimulai pertama kali pada 2 jam postpartum.
c. Bladder training dilakukan dengan membawa pasien ke toilet untuk
berkemih dengan posisi duduk pada kloset duduk. pasien diminta
untuk menyiram perineum dengan air hangat sebanyak 500 ml
yang disediakan untuk merangsang pengeluaran urine.
d. Kran air dibuka maksimal 15 menit dimulai semenjak pasien
berada di toilet.
e. Mengobservasi apakah pasien berkemih.
f. Bila belum berkemih, bladder training diulang setiap 2 jam.
g. Melakukan evaluasi setelah dilakukan intervensi, dari 2 jam
postpartum sampai 6 jam postpartum, yang dievaluasi adalah
kemampuan pasien berkemih secara spontan baik pada kelompok
perlakuan maupun kelompok kontrol.
4.2 Kateterisasi
Kateterisasi Uretra adalah memasukkan kateter ke dalam buli-buli melalui
uretra1.
4.2.1 Tujuan Kateterisasi
16

Tindakan ini dimaksudkan untuk tujuan diagnosis maupun untuk tujuan terapi.
Tindakan diagnosis antara lain adalah:1
1. Kateterisasi pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urine guna
pemeriksaan kultur urine.
2. Mengukur residu (sisa) urine yang dikerjakan sesaat setelah pasien selesai
berkemih.
3. Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi, antara lain : Sistografi
atau pemeriksaan adanya refluks vesiko-ureter melalui pemeriksaan voiding cystourethrography (VCUG).
4. Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intravesika.
5. Untuk menilai produksi urine pada saat dan setelah operasi besar.
4.2.2 Indikasi kateterisasi
1. Mengeluarkan urine dari buli-buli pada keadaan obstruksi infravesikal, baik yang
disebabkan oleh hiperplasia prostat maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang
menyumbat uretra.
2. Mengeluarkan urin pada disfungsi buli-buli.
3. Diversi urin setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah, yaitu pada
operasi prostatektomi, vesikolitektomi.
4. Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra.
5. Memasukkan obat-obatan intravesika, antara lain sitostatika atau antiseptik untuk
buli-buli.
4.2.3 Kontraindikasi kateterisasi
1. Ruptur uretra,
2. Ruptur buli-buli
3. Bekuan darah pada buli-buli.

17

4.2.4 Tindakan Kateterisasi


a. Pada wanita
Pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan karena uretra
wanita lebih pendek. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara
uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor
uretra / tumor vaginalis / serviks. Untuk itu mungkin perlu dilakukan dilatasi dengan
busi a boule terlebih dahulu.1

b. Pada pria
Teknik kateterisasi pada pria adalah sebagai berikut;1
1. Setelah dilakukan desinfeksi pada penis dan daerah sekitarnya, daerah genitalia
dipersempit dengan kain steril.
2. Kateter yang telah diolesi dengan pelicin / jelly dimasukkan ke dalam orifisium
uretra eksterna.
3. Pelan-pelan kateter didorong masuk dan kira-kira pada daerah daerah sfingter
uretra eksterna akan terasa tahanan; pasien diperintahkan untuk mengambil nafas
dalam supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks. Kateter terus didorong
hingga masuk ke buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urine dari lubang
kateter.
4. Kateter terus didorong masuk ke buli-buli hingga percabangan kateter menyentuh
meatus uretra eksterna.
5. Balon kateter dikembangkan dengan 5-10 ml air steril.
6. Jika diperlukan kateter menetap, kateter dihubungkan dengan pipa penampung
(urinbag).
7. Kateter difiksasi dengan plester di daerah inguinal atau paha bagian proksimal.

18

4.3 Kateterisasi Suprapubik


Kateterisasi Suprapubik adalah memasukkan kateter dengan membuat lubang
pada buli-buli melalui insisi suprapubik dengan tujuan mengeluarkan urine1
Kateterisasi suprapubik ini biasanya dikerjakan pada :
1. Kegagalan pada saat melakukan kateterisasi uretra.
2. Ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan transuretra, misalkan pada ruptur
uretra atau dugaan adanya ruptur uretra.
3. Untuk mengukur tekanan intravesikal pada studi sistotonometri.
4. Mengurangi penyulit timbulnya sindroma intoksikasi air pada saat TUR Prostat.
Pemasangan kateter sistostomi dapat dikerjakan dengan cara operasi terbuka
atau dengan perkutan (trokar) sistostomi.
4.4 Sistostomi Trokar
Kontraindikasi Sistostomi Trokar : tumor buli-buli, hematuria yang belum
jelas penyebabnya, riwayat pernah menjalani operasi daerah abdomen/pelvis, bulibuli yang ukurannya kecil (contracted bladder), atau pasien yang mempergunakan
alat prostesis pada abdomen sebelah bawah.1
Alat-alat dan bahan yang digunakan :
1. Kain kasa steril.
2. Alat dan obat untuk desinfeksi (yodium povidon).
3. Kain steril untuk mempersempit lapangan operasi.
4. Semprit beserta jarum suntik untuk pembiusan lokal dan jarum yang telah diisi
dengan aquadest steril untuk fiksasi balon kateter.

19

5. Obat anestesi lokal.


6. Alat pembedahan minor, antara lain : pisau, jarum jahit kulit, benang sutra (zeyde).
7. Alat trokar dari Campbel atau trokar konvensional.
8. Kateter

Foley

(ukuran

tergantung

alat

trokar

yang

digunakan).

Jika

mempergunakan alat trokar konvensional, harus disediakan kateter Nasogastrik(NG tube) no. 12.
9. Kantong penampung urine (urinebag).
Tindakan ini dikerjakan dengan anestesi lokal dan mempergunakan alat trokar.

Sumber : Sjamsuhidajat, 2012


Gambar 4.1. Sistostomi Trokar

Langkah-langkah Sistostomi Trokar :

20

1. Desinfeksi lapangan operasi.


2. Mempersempit lapangan operasi dengan kain steril.
3. Injeksi (infiltrasi) anestesi lokal dengan Lidokain 2% mulai dari kulit, subkutis
hingga ke fasia.
4. Insisi kulit suprapubik di garis tengah pada tempat yang paling cembung + 1 cm,
kemudian diperdalam sampai ke fasia.
5. Dilakukan pungsi percobaan melalui tempat insisi dengan semprit 10 cc untuk
memastikan tempat kedudukan buli-buli.
6. Alat trokar ditusukkan melalui luka operasi hingga terasa hilangnya tahanan dari
fasia dan otot-otot detrusor.
7. Alat obturator dibuka dan jika alat itu sudah masuk ke dalam buli-buli akan
keluar urine memancar melalui sheath trokar.
8. Selanjutnya bagian alat trokar yang berfungsi sebagai obturator (penusuk) dan
sheath dikeluarkan melalui buli-buli sedangkan bagian slot kateter setengah
lingkaran tetap ditinggalkan.
9. Kateter Foley dimasukkan melalui penuntun slot kateter setengah lingkaran,
kemudian balon dikembangkan dengan memakai aquadest 10 cc. Setelah balon
dipastikan berada di buli-buli, slot kateter setengah lingkaran dikeluarkan dari
buli-buli dan kateter dihubungkan dengan kantong penampung urin (urinbag).
10. Kateter difiksasikan pada kulit dengan benang sutra dan luka operasi ditutup
dengan kain kasa steril.

21

Sumber : Basuki, 2012


Gambar 4.2. Menusukkan alat trokar ke dalam buli-buli

Sumber : Basuki, 2012


Gambar 4.3. Setelah yakin trokar masuk ke buli-buli, obturator dilepas dan
hanya slot kateter setengah lingkaran ditinggalkan.

22

Jika tidak tersedia alat trokar dari Campbell, dapat pula digunakan alat trokar
konvensional, hanya saja pada langkah ke-8, karena alat ini tidak dilengkapi dengan
slot kateter setengah lingkaran maka kateter yang digunakan adalah NG tube nomer
12 F. Kateter ini setelah dimasukkan ke dalam buli-buli pangkalnya harus dipotong
untuk mengeluarkan alat trokar dari buli-buli.

4.4.1

Penyulit

Beberapa penyulit yang mungkin terjadi pada saat tindakan maupun setelah
pemasangan kateter sistotomi adalah:1
1. Bila tusukan terlalu mengarah ke kaudal dapat mencederai prostat.
2. Mencederai rongga / organ peritoneum.
3. Menimbulkan perdarahan.
4. Pemakaian kateter yang terlalu lama dan perawatan yang kurang baik akan
menimbulkan infeksi, ekskrutasi kateter, timbul batu saluran kemih, degenerasi
maligna mukosa buli-buli, dan terjadi refluks vesiko-ureter.
4.5 Sistostomi Terbuka
Sistostomi terbuka dikerjakan bila terdapat kontraindikasi pada tindakan
sistostomi trokar atau bila tidak tersedia alat trokar. Dianjurkan untuk melakukan
sistostomi terbuka jika terdapat jaringan sikatriks/bekas operasi di daerah
suprasimfisis, sehabis mengalami trauma di daerah panggul yang mencederai uretra
atau buli-buli, dan adanya bekuan darah pada buli-buli yang tidak mungkin dilakukan
tindakan per uretram. Tindakan ini sebaiknya dikerjakan dengan memakai anestesi
umum.1
Berdasarkan penyebab terjadi nya retensio urine, ada beberapa tindakan
operatif atau pembedahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi terjadinya retensio
urine, yaitu:
4.6 Penatalaksanaan Benigna prostate Hyperplasia
23

a. Transurethral Resection of the Prostate (TURP)


Dilakukan pada pasien baik dengan LUTS sedang atau pun berat, yang
menginginkan perawatan secara aktif, atau yang mengalami kegagalan terapi
atau tidak menginginkan terapi dengan obat. Menghilangkan bagian
adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan
resektoskop dan elektrokauter.1,4
b. Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)
Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan
ukuran prostat kecil (<30 gram).1,4
c. Open Prostatectomy
Diindikasikan untuk pasien dengan prostat terlalu besar untuk tidak dilakukan
TURP karena takut penyembuhan tidak sempurna, perdarahan yang signifikan,
atau risiko dilusi natremia.1,4
d. Transurethral electrovaporization (TUVP)
Merupakan alternative lain untuk TURP khususnya untuk pasien beresiko tinggi
dengan prostate kecil.
e. Laser Prostatectomy
Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang
dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser
ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.1,4
f. Prostatic stents
Hanya diberikan kepada pasien yang memiliki resiko tinggi, yang ditunjukkan
dengan kekambuhan retensi urin sebagai alternatife kateterisasi, dan bagi
mereka yang tidak dapat menjalani terapi yang lainnya.1,4
4.7 Penatalaksanaan Striktura uretra
Pasien yang datang dengan retensi urin, secepatnya dilakukan sistostomi
suprapubik untuk mengeluarkan urin, jika dijumpai abses periuretra dilakukan insisi
dan pemberian antibiotika.1
24

1. Bougie (Dilatasi)
Bougie bengkok merupakan satu batang logam yang ditekuk sesuai dengan
kelengkungan uretra pria; bougie lurus, yang juga terbuat dari logam, mempunyai
ujung yang tumpul dan umumnya hanya sedikit melengkung; bougie filiformis
mempunyai diameter yang lebih kecil dan terbuat dari bahan yang lebih lunak.
Dilatasi dengan bougie logam yang dilakukan secara hati-hati. Tindakan yang
kasar tambah akan merusak uretra sehingga menimbulkan luka baru yang pada
akhirnya menimbulkan striktur lagi yang lebih berat. Penyulit dapat mencakup
trauma dengan perdarahan dan bahkan dengan pembentukan jalan yang salah
(false passage).1
2. Uretrotomi interna
Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan alat endoskopi yang memotong
jaringan sikatriks uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau Sachse, laser atau
elektrokoter. Otis uretrotomi dikerjakan pada striktur uretra anterior terutama
bagian distal dari pendulans uretra dan fossa navicularis, otis uretrotomi juga
dilakukan pada wanita dengan striktur uretra.
Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi dengan alat Sachse adalah striktur
uretra anterior atau posterior masih ada lumen walaupun kecil dan panjang tidak
lebih dari 2 cm serta tidak ada fistel, kateter dipasang selama 2-3 hari pasca
tindakan.1
3. Uretrotomi eksterna
Tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis kemudian
dilakukan anastomosis end-to-enddi antara jaringan uretra yang masih sehat, cara
ini tidak dapat dilakukan bila daerah strikur lebih dari 1 cm.1
4.8 Penatalaksanaan Batu Saluran kemih
1.

ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)


Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada tindakan ini
digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui tubuh untuk

25

memecah batu. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proximal, atau
menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran
kemih.1
2.

Endourologi
Tindakan
mengeluarkan

endourologi

BSK yang

adalah

tindakan

invasif

minimal

untuk

terdiri atas memecah batu, dan kemudian

mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukan langsung


kedalam saluran kemih. Alat tersebut dimasukan melalui uretra atau melalui
insisi kecil pada kulit (perkutan). Beberapa tindakan endourologi tersebut
adalah:1
a. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) adalah usaha mengeluarkan batu
yang berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukan alat endoskopi ke
sistem kalies melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah
terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.
b. Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukan
alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
c. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi adalah dengan memasukan alat
ureteroskopi per-uretram. Dengan memakai energi tertentu, batu yang berada di
dalam ureter maupun system pelvikalises dapat di pecah melalui tuntunan
ureteroskopi/uretero renoskopi ini.
d. Ekstrasi Dormia adalah mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya
melalui alat keranjang Dormia
BAB V
KESIMPULAN

26

Adapun yang dapat di simpulkan dalam referat penyebab retensio urine dan
penanganannya adalah sebagai berikut:
1. Traktus urinarius bagian bawah memiliki dua fungsi utama, yaitu: sebagai
tempat untuk menampung produksi urine dan sebagai fungsi ekskresi.
2. Retensio Urine merupakan urine dalam buli-buli akibat ketidakmampuan bulibuli untuk mengosongkan buli-buli sehingga menyebabkan distensi buli-buli
atau keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan buli-buli yang tidak
lengkap.
3. Retensio Urine dapat dibagi menjadi 3 lokasi yaitu Supravesikal, Vesikal,
Infravesikal.
4. Retensi urine memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya
kesulitan berkemih, pancaran urine lemah, lambat, dan terputus-putus; ada
rasa tidak puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan
pada suprapubik saat berkemih.
5. Untuk penanganan retensi urine dapat dilakukan Bladder Training,
Kateterisasi, Kateterisasi suprapubik, Sistostomi Trokar dan sistostomi
terbuka.

DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo B.B. Dasar-dasar Urologi. SMF Bedah Fakultas Kedokteran


Universitas Brawijaya. CV.Infomedika : Jakarta. 2003.
27

2. Emil, Tanagho. Smiths General Urology. New York McGraw-Hill Lange.


2008.
3. Ganong. Review of medical Phisiologi. USA. McGraw-Hill companies. 2003
4. Sabiston, David C. Hipertrofi Prostat Benigna, Buku Ajar Bedah bagian 2,
Jakarta : EGC, 2008.
5. Sudoyo, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai
Penerbit FKUI: Jakarta 2007.
6. Mardjono, Mahar. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat: Jakarta. 2008
7. Sjamsuhidajat. De Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi III, FKUI:
Jakarta. 2012.
8. Sarwono, Prawirohardjo. Ilmu Bedah Kebidanan. FKUI: Jakarta. 2000.

28