Anda di halaman 1dari 24

Dipresentasikan oleh

Ristiana Nugrahani (0402514041)


Kelas Khusus PPS S2 Pend. IPA Biologi

Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah penyakit


yang mempunyai prognosis buruk dimana
akan terjadi penurunan fungsi ginjal
secara bertahap. Pada tahap awal
penderita mungkin tidak merasakan
keluhan tetapi setelah beberapa tahun
atau beberapa puluh tahun penyakit
ginjal ini sering berkembang cepat
menjadi gagal ginjal terminal dimana
akan membutuhkan terapi renal seperti
dialisis atau transplantasi untuk
memperpanjang usianya.

Gagal ginjal adalah proses kerusakan


pada ginjal dengan rentang waktu lebih
dari 3 bulan. GGK dapat menimbulkan
laju filtrasi glomerular di bawah 60
mL/min/1.73 mL, atau di atas nilai
tersebut namun disertai dengan
kelainan sedimen urin.

Nilai GFR NORMAL adalah 90 - 120


mL/min/1.73 mL.

Berdasarkan parameter
laboratorium,dialisis perlu dilakukan
jika laju filtrasi glomerulus antara 5
dan 8 ml/menit/1,73 ml (Spiegel,
2005)

Penyebab paling umum dari GGK


diabetes mellitus, hipertensi, dan
glomerulonefritis.
Ketiganya menyebabkan sekitar 75%
dari semua kasus dewasa.

Malnutrisi
disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara asupan dan
kebutuhan nutrisi, diantaranya adalah
kadar vitamin K.
Gejala kekurangan vitamin K dapat
diukur dengan 3 biomarker yaitu
Phylloquinon (Vit K1), Undercarboksilat
Osteocalcin (% ucOC), dan Protein
Independen Vit K faktor 2 (PIVKA II)

Phylloquinone (Vitamin K1) adalah


merujuk pada sekelompok vitamin
lipofilik dan hidrofobik berperan dalam
proses pembekuan darah. Pada
manusia, vitamin K didapat dari nutrisi
asupan makanan dan mikroflora pada
saluran pencernaan.

Protein matriks tulang non-kolagen


yang disintesis oleh osteoblast dewasa.
Manfaat vitamin K yang berhubungan
dengan tulang ini menjaga
keseimbangan demineralisasi dalam
tulang.
Kekurangan Osteocalcin
penyebab
keretakan tulang, disebut
undercarboxylated osteocalcin

Protein diinduksi oleh tidak adanya


vitamin K atau antagonisme faktor II
(PIVKA II) adalah ukuran
underkarbosilat protombin dengan
kadar yang sesuai dengan status
kekurangan vitamin K.

Penyaringan (filtrasi) darah terjadi


pada kapiler glomerulus
Hasil penyaringan di glomerulus berupa
filtrat glomerulus (urin primer) yang
komposisinya serupa dengan darah
tanpa protein.
Pada filtrat glomerulus masih dapat
ditemukan asam amino, glukosa,
natrium, kalium, dan garamgaram
lainnya

Reabsorbsi Meresapnya zat pada


tubulus ini melalui dua cara. Gula dan
asam mino meresap melalui peristiwa
difusi, sedangkan air melalui peristiwa
osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada
tubulus proksimal dan tubulus distal.

Augmentasi Komposisi urin yang


dikeluarkan lewat ureter adalah 96%
air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa
substansi lain, misalnya pigmen
empedu yang berfungsi memberi warm
dan bau pada urin

Sebenarnya proses pencucian darah


dilakukan oleh tabung di luar mesin
yang bernama dialiser. Di dalam
dialiser, terjadi proses pencucian, mirip
dengan yang berlangsung di dalam
ginjal

Penelitian cross-sectional ini menggunakan


44 pasien hemodialisis dengan penyakit
ginjal kronis (kronis kidney disease) diatas
18 tahun. parameter berikut : usia, jenis
kelamin, status merokok, riwayat penyakit
arteri koronaria (CAD), riwayat penyakit
cerebrovascular (CVD), adanya penyakit
pembuluh darah perifer (PVD), riwayat
diabetes melitus (DM), riwayat patah
tulang, etiologi gagal ginjal.

Dari jumlah tersebut 90,9% memiliki


kekurangan vitamin K sub klinis.
Tingkat PIVKA II > 2 nmol/L. PIVKA II
sesuai dengan status vitamin K yang
buruk dikaitkan dengan bertambahnya
usia, penuruan HDL.
Ada kecenderungan hubungan positive
PVD dengan status merokok. Untuk
setiap kenaikan 10 tahun usia tingkat
serum PIVKA II meningkat 0,5 nmol/L.

Perokok memiliki tingkat serum


phylloquinone lebih rendah dari
mantan perokok atau non-perokok.
Konsentrasi phylloquinone meningkat
setiap kenaikan 1,0 nmol/L trigliserid.
Serum phylloquinone meningkat
sebanyak 0,53 nmol/L (P = 0,001).

%ucOC pada 42 pasien adalah 24,5


15,4% kriteria difesiensi vitamin K
pada subklinik didefinisikan sebagai >
20% ucOC pada 21 pasien (51%)
Persen ucOC yang tinggi
menggambarkan status difesiensi
vitamin K
Tidak ada hubungan antara %ucOC,
umur, jenis kelamin,kecukupan dialisis,
dan status merokok.

Dalam studi ini kami menemukan


proporsi yang signifikan untuk kriteria
defisiensi vitamin K pada pasien HD.
Dari biomarker yang diukur PIVKA II
lebih unggul dengan memberikan
ketidak tergantungannya pada fungsi
ginjal atau dyslipidemia

Peristiwa malnutrisi yang salah satunya


adalah defisiensi vit K pada pasien HD
berkaitan dengan proses hemodialisis
dimana pada proses cuci darah
tersebut ada beberapa ion
maupunmineral yang ikut berdifusi
bersama cairan dialisat yang akhirnya
ikut terbuang bersama darah kotor.

Penggunaan antibiotik jangka panjang


akan membunuh mikroflora tubuh yang
menghasilkan vitamin K
Penggunaan obat pengencer darah
Pengobatan dengan hemodialisa

Pemberian antibakteri berspektrum luas


saperti tetrasiklin,kloramfenikol, cefixime
dan ampisilin akan mengubah flora normal
usus, dimana flora normal dalam usus
sangat berperan positif menghasilkan
vitamin K.
Ketika flora normal penghasil vit K dalam
usus tersebut terganggu pertumbuhannya,
maka akan berpengaruh pula terhadap
serapan vitamin K dalam tubuh.

Beberapa antibiotik tersebut tidak


dikeluarkan dalam jumlah yang
signifikan dari sirkulasi dengan
hemodialisis atau dialisis peritoneal.
cefixime mempunyai aktivitas yang
poten terhadap mikroorganisme gram
positif seperti streptococcus sp.,
Streptococcus pneumoniae, dan gram
negatif seperti Branhamella catarrhalis,
Escherichia coli, Proteus sp.,
Haemophilus influenzae.