Anda di halaman 1dari 12

Failure Analysis

Analisis kegagalan adalah langkah-langkah pemeriksaan kegagalan atau kerusakan


pada suatu komponen yang mencakup situasi dan kondisi kegagalan atau
kerusakan tersebut, sehingga dapat ditentukan penyebab dari kegagalan/kerusakan
yang terjadi pada komponen tersebut.
Analisis kegagalan mempunyai tujuan sebagai berikut :

1.

Menemukan penyebab utama kegagalan

2.
Menghindari kegagalan/kerusakan yang sama dimasa yang akan datang
dengan melakukan langkah-langkah penanggulangan
3.

Sebagai bahan pengaduan teknis terhadap pembuat komponen

4.

Sebagai langkah awal untuk perbaikan kualitas komponen tersebut

5.

Sebagai penentuan kapan waktu perawatan (maintenance) dilakukan.

Kegiatan Analisis kegagalan seringkali harus dilakukan oleh berbagai ahli dari
berbagai disiplin ilmu yang bekerja sama sesuai dengan prosedur/tahapan yang
telah ditetapkan. Adapun tahapan/langkah utama dalam melakukan Analisis
kegagalan adalah sebagai berikut :
1.

Melakukan investigasi lapangan, yang meliputi :

Melakukan observasi lapangan

Mengukur dimensi obyek yang diselidiki

Melakukan wawancara/interview terhadap pihak terkait

Mendokumentasikan temuan lapangan (fotografi)

2.

Melakukan uji tidak merusak di lapangan

Menentukan panjang retak aktual

Menentukan derajat kerusakan (damage level determination) dengan cara: uji


kekerasan, uji metalografi in-situ, uji komposisi kimia (dengan portable
spectrometry).
3.

Melakukan uji aspek metalurgis di laboratorium

Pengukuran dimensi dari objek yang diteliti

Dokumentasi fraktografi (makro optik, dan mikro - SEM)

Analisis komposisi kimia dari paduan dan/atau produk korosi

Inspeksi metalografi (sampling, cutting, molding, polishing, etching).

Uji sifat mekanik

4.

Melakukan analisis beban dan tegangan

Perhitungan beban dan tegangan kritis

Perhitungan mekanika retak

5.

Mempelajari aspek desain, operasi dan inspeksi terkini

6.
Melakukan analisis mendalam dan komprehensif terhadap informasi/data
yang telah diperoleh
7.

Mempersiapkan laporan dan presentasi teknik

8.

Mempersiapkan saran untuk perbaikan.

Identifikasi Jenis Kegagalan


Kegagalan dapat didefinisikan sebagai kerusakan yang tidak wajar atau rusak
sebelum waktunya. Adapun penyebab utama kegagalan dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
1.

Kesalahan dalam disain

2.

Kesalahan dalam pemilihan material

3.

Kesalahan dalam proses pengerjaan

4.

Kesalahan dalam pemasangan/perakitan

5.

Kesalahan operasional

6.

Kesalahan perawatan (maintenance)

Secara umum komponen dapat dikatakan gagal apabila masuk dalam kriteria
sebagai berikut:
1.

Komponen tidak dapat beroperasi atau tidak dapat digunakan sama sekali

2.
Komponen dapat digunakan tetapi umur pakainya terbatas (tidak sesuai
dengan umur pakai yang dikehendaki)
3.

Komponen mengalami kelainan dan dapat membahayakan bila digunakan.

Kegagalan suatu komponen biasanya diawali dengan retakan yang menjalar


sehingga menyebabkan suatu cacat. Retakan yang terjadi dapat dikatagorikan atas
ciri-ciri makroskopis, yaitu sebagai berikut :
1.

Patah ulet (Ductile fracture)

2.

Patah getas (Brittle fracture)

3.

Patah lelah (Fatigue fracture)

4.

Retak korosi tegangan (Stress corrosion cracking)

5.

Penggetasan (Embrittlement)

6.

Mulur (Creep) dan Stress rupture

Patah Ulet (Ductile fracture)


Patah ulet adalah patah yang diakibatkan oleh beban statis, jika beban dihilangkan
maka penjalaran retak akan berhenti. Patah ulet ini ditandai dengan penyerapan
energi disertai adanya deformasi plastis yang cukup besardi sekitar patahan,
sehingga permukaan patahan nampak kasar, berserabut (fibrous), dan berwarna
kelabu.

Patah Getas (Brittle fracture)


Patah getas terjadi dengan ditandai penjalaran retak yang lebih cepat dibanding
patah ulet dengan penyerapan energi yang lebih sedikit, serta hampir tidak disertai
dengan deformasi plastis. Permukaan patahan pada komponen yang mengalami
patah getas terlihat mengkilap, granular dan relatif rata.
Patah getas dapat mengikuti batas butir ataupun memotong butir. Bila bidang
patahannya mengikuti batas butir, maka disebut patah getas intergranular,
sedangkan bila patahannya memotong butir maka disebut patah getas
transgranular.

Patah Lelah (Fatigue fracture)


Patah lelah terjadi pada komponen kontruksi dengan pembebanan yang berubahubah atau berulang-ulang, meskipun harga tegangan nominalnya masih dibawah
kekuatan luluh material.
Patah lelah berawal dari lokasi yang mengalami pemusatan tegangan (stress
concentration) dimana apabila tegangan setempat tersebut tinggi bahkan
melampaui batas luluh material, akibatnya di tempat tersebut akan terjadi
deformasi plastis dalam skala makroskopis. Dari lokasi tersebut akan berawal retak
lelah (Crack initiation) yang selanjutnya terjadi perambatan retak (Crack
propagation) sejalan dengan pembebanan yang berfluktuasi. Bila perambatan retak

lelah ini telah jauh, sehingga luas penampang yang tersisa tidak lagi mampu
mendukung beban, maka komponen akan patah. Peristiwa patah tahap akhir ini
disebut patah akhir (Final fracture). Modus patahan pada tahap tersebut adalah
patah statik, yaitu karena tegangan yang bekerja pada penampang yang tersisa
sudah melampaui kekuatan tarik material.

Retak Korosi Tegangan (Stess corrosion cracking)


Peristiwa retak korosi tegangan adalah gabungan antara tegangan tarik dengan
pengaruh lingkungan yang telah mengandung ion-ion ataupun larutan kimia.
Kebanyakan retakannya mengikuti batas butir. Secara makro perambatan retak
korosi tegangan terlihat bercabang seperti akar/ranting pohon, sedangkan secara
mikro dibawah mikrosokop perambatan retakannya dapat transgranular maupun
intergranular (melalui batas butir).

Penggetasan (Embrittlement)
Peristiwa penggetasan ini dapat terjadi pada material yang peka terhadap
penggetasan hidrogen. Atom-atom hidrogen yang larut interstisi dapat bertemu dan
berkumpul membentuk molekul gas hidrogen, sehingga mengakibatkan material
menjadi patah karena tidak tersedianya ruang yang cukup untuk gas tersebut, yang
akhirnya gas yang bertekanan tinggi akan mendesak material menjadi patah.
Masuknya hidrogen ke dalam material ini biasanya terjadi pada proses pengerjaan,
misalnya pada proses pengelasan dan electroplating atau pada operasi di
lingkungan yang banyak hidrogennya.

Mulur (Creep) dan Stress Rupture


Peristiwa mulur yang dimaksud yaitu deformasi yang berjalan dengan waktu, oleh
karena itu mulur selalu ditandai dengan adanya deformasi plastis yang cukup besar.
Peristiwa mulur ini terjadi bila komponen bekerja pada suhu tinggi, yaitu di atas 0,4
atau 0,5 titik cair dari material komponen tersebut dalam Kelvin.
Sedangkan stress rupture selain disertai oleh deformasi plastis juga ditandai oleh
adanya retak intergranular yang banyak ditemui di sekitar patahan.

Jelaskan jenis perpatahan


Berdasarkan jejak perpatahannya (fracture path), maka perpatahan dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:

a. Perpatahan ulet (dimple rupture)


Ciri-ciri: ada deformasi plastis, permukaan kusam/buram dan berserat, tegangan geser dominan
dan bentuk patahan cup & cone 45o dengan maks, nom atau slip.
Aspek struktur mikro: dengan SEM tampak dimple.

Fig. 1 Tensile test fracture surface of a high-purity, coarse-grained Al-4.2 Cu alloy with (a) IG
facets at low magnification (10) and (b) uniform dimples on one facet at higher magnification
b. Perpatahan getas (cleavage rupture).
Ciri-ciri: tidak ada deformasi plastis, permukaan terang dan kristalin, permukaan
patahan utama dan ada chevron marks atau hearing bone marks.

Fig. 2 Macroscopic chevron markings on the fracture


surface pointing back to the fracture origin. ASTM A517H plate. Source: Metals
Handbook, 9th ed., Vol 12, Fractography,1987, p 347
Aspek struktur utama: butir kasar (susunan facet pada permukaan belah atau pola sungai),
terkadang antara ciri-ciri cleavage ada dimple dan pada polifase (perlite + Fe3C) terdapat garis
dan dimple.
Faktor-faktor utama: stress konsentrasi, tegangan tarik dan temperatur relatif rendah.
c. Perpatahan fatik (fatigue rupture)

Ciri-ciri: deformasi plastis sedikit sekali atau hampir tidak ada, perpatahannya progrsif (berawal
dari retak halus yang merambat akibat beban berfluktuatif) dan ada beach marks (deformasi plastis
di ujung retakan) atau rachet marks ( permukaan).
Tahapan perpatahan: inisiasi, perambatan, kemudian patahan akhir.

Fig. 3 Fracture planes that are 45 to the direction of loading. (a) Single-shear plane. (b)
Double-shear plane
d. Perpatahan dekohesif (decohesive rupture)
Perpatahan jenis ini diakibatkan oleh terjadinya pelemahan ikatan pada material, baik sepanjang
batas butir atau memotong batas butir. Pelemahan ini dapat terjadi akibat terdapatnya inklusi,
endapan, void atau bahkan hidrogen.
Jelaskan perbedaan klasifikasi inter & trans-crystalline.
Secara umum, perpatahan transkristalin merupakan perpatahan yang merambat memotong butir.
Sedangan perpatahan interkristalin merupakan perpatahan yang merambat sepanjang batas butir,
akibat terjadinya pelemahan pada batas butir, missal terbentuknya endapan yang getas.
Berdasarkan jenis perpatahannya, perpatahan transkristalin dibagi menjadi:
Perpatahan ulet, terjadi akibat terbentuknya mikrovoid

Perpatahan getas, permukaan patahannya rata


Perpatahan microductile, dapat disebabkan oleh aus, fatik atau korosi
Sedangkan berdasarkan jenis perpatahannya, perpatahan interkristalin dibagi menjadi:
Perpatahan getas, dapat terjadi akibat penggetasan hidrogen, segregasi, presipitat.
Perpatahan ulet, umum terjadi akibat creep.
Jelaskan perbedaan ciri-ciri patah ulet dan patah getas
Patah ulet memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
ada deformasi plastis
permukaan kusam/buram dan berserat
tegangan geser dominan
bentuk patahan cup and cone 45o dengan max
tegak lurus nom atau // slip
dengan pengamatan SEM terdapat dimple pada permukaan patahan
Patah getas memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
tidak ada deformasi plastis
permukaan terang dan kristalin
permukaan patahan tegak lurus utama
terdapat chevron marks atau hearing bone marks
Jelaskan perbedaan dari striasi dan beach marks
Striation:

Karakteristik utama fatik pada tahap propagasi, dimana retak merambat dan meninggalkan
tonjolan (ridge, striation) pada permukaan.
Berukuran kecil dan hanya tampak dengan SEM/TEM
Akibat perambatan retak akibat sekali pembebanan (siklus).
Beach marks:
Merupakan deformasi plastis di ujung retakan
Berukuran cukup besar dan dapat diamati dengan kasat mata
Aspek penyebab: lokasi posisi front retak setelah terhenti.
Beachmarks terdiri dari beberapa striasi.
Jelaskan mekanisme tahapan perpatahan akibat fatik berikut gambar.
Perpatahan fatik terdiri dari 3 tahap, yaitu:
a. Inisiasi retak: pada tahapan ini, terjadi inisiasi retak. Inisiasi retak umum terjadi pada permukaan
material, akibat adanya konsentrasi tegangan, cacat, ketidaksempurnaan permukaan, dll.
b. Perambatan retak: pada tahapan ini, retak yang terjadi pada permukaan akan merambat ke arah
dalam akibat pembebanan fluktuatif. Seberapa cepat perambatan retak tergantung kepada besarnya
pembebanan. Perambatan retak akan menghasilkan beachmarks dan striasi pada permukaan
patahan.
c. Patahan akhir: pada tahapan ini, permukaan material sudah tidak mampu lagi menahan
pembebanan sehingga permukaan material akan patah. Umumnya permukaan patahan yang
dihasilkan pada tahap patahan akhir adalah patahan getas.

Jelaskan beberapa pencegahan agar terhindar dari patah fatik


Kegagalan akibat fatik dapat dicegah dengan beberapa cara, yaitu:
Mengurangi atau mengeliminasi adanya konsentrasi tegangan pada desain komponen.
Hindari terdapatnya permukaan material yang lancip dan tajam.
Mengurang tegangan sisa tensile akibat proses manufaktur
Mencegah perkembangan diskontinuitas pada permukaan selama pemrosesan
Melakukan surface treatment untuk menghambat terjadinya inisiasi retak pada permukaan.
Jelaskan mekanisme patahan akibat perapuhan (embrittleness) & beri beberapa contoh yang
saudara ketahui
Patahan akibat perapuhan (embrittleness) dapat terjadi karena terbentuknya fasa atau endapan
yang getas pada material. Terbentuknya fasa atau endapan yang getas, dapat disebabkan oleh
banyak faktor, seperti lingkungan, pemrosesan, perlakuan panas, dll. Sehingga ketika material
mengalami pembebanan berlebih material akan cepat patah tanpa terjadinya deformasi plastis.
Contoh :
Hydrogen embrittlement: penggetasan terjadi akibat adsorbsi hidrogen ke dalam material.
Strain age embrittlement: penggetasan akibat proses aging pada endapan, sehingga endapan
bersifat brittle.

Quench age embrittlement: penggetasan terjadi akibat terbentuknya endapan karbida.


Tempered embrittlement: penggetasan terjadi akibat terbentuknya karbida atau nitrida pada saat
dilakukan proses tempering. Umum terjadi pada baja perkakas.
Sigma-phase embrittlement: penggetasan terjadi akibat terbentuknya fasa sigma yang getas pada
ferritic stainless steel.
Apakah setiap jenis perpatahan material disebabkan oleh hanya satu jenis perpatahan.
Jelaskan menurut saudara dengan memberikan contoh.
Umumnya perpatahan material bersifat kompleks, dimana perpatahan tidak hanya disebabkan oleh
satu jenis perpatahan. Hal ini dikarenakan pada saat penggunaan, suatu komponen dapat
mengalami banyak jenis pembebanan, misal gabungan beban tarik, tekan, geser, dll. Material logam
yang tidak homogen juga dapat menjadi penyebab terjadinya perpatahan yang kompleks. Hadirnya
cacat, inklusi, endapan, segregasi akan mempengaruhi permukaan patahan. Selain itu, material juga
tidak bersifat 100% ulet atau getas.
Contoh: Suatu komponen yang mengalami kegagalan akibat penggetasan hidrogen. Penggetasan
hidrogen terjadi akibat adanya adsorbsi atom hidrogen ke dalam material, yang kemudian akan
membentuk molekul hidrogen di dalam material. Hadirnya molekul hidrogen di dalam material akan
menimbulkan tekanan internal, dan tempat terjadinya inisiasi retak. Selain itu, hadirnya molekul
hidrogen akan menyebabkan terjadinya diskontinuitas di dalam material yang dapat menyebabkan
perpatahan dekohesif. Namun permukaan patahan yang dihasilkan akan menghasilkan perpatahan
getas. Jadi pada kasus kegagalan akibat penggetasan hidrogen, secara umum terjadi perpatahan
dekohesif dan perpatahan getas.

Ciri Patah Ulet, Patah Getas, dan DBT (Ductile to Brittle Tension)

1. Patah Ulet
Patah ulet adalah patah akibat deformasi berlebih, elastis atau plastis, terkoyak
atau patah geser (tearing or shear fracture)
ciri patah ulet :

terjadi penyerapan energi

adanya deformasi plastis yang cukup besar di sekitar patahan

permukaan patahan nampak kasar ,berserabut (fibrous), dan berwarna


kelabu.

2. Patah Getas
ciri patah getas:

penjalaran retak yang lebih cepat dibanding patah ulet

penyerapan energi yang lebih sedikit

tidak disertai dengan deformasi plastis

permukaan patahan pada komponen yang mengalami patah getas terlihat


mengkilap, granular dan relatif rata.

Patah getas dapat mengikuti batas butir ataupun memotong butir. Bila bidang
patahannya mengikuti batas butir, maka disebut patah getas intergranular,
sedangkan bila patahannya memotong butir maka disebut patah getas
transgranular.
3.DBT (Ductile to Brittle Tension)

Beberapa bahan tiba-tiba menjadi getas dan patah karena perubahan temperatur
dan laju reaksi, walaupun pada dasarnya logam tersebut ulet. Gejala ini disebut
transisi ulet-getas, yang merupakan hal penting ditinjau dari penggunaan praktis
bahan. Bahan yang dapat memberikan patahan getas adalah bcc seperti Fe, W, Mo,
Nb, Ta, dan logam hcp seperti Znserta paduannya, sedangkan fcc tidak bisa sama
sekali. gejala ini juga mudah terjadi pada plastik.
faktor faktor penyebab DBT (Ductile to Brittle Tension):

tegangan 3 sumbu : karena keadaan tegangan menjadi rumit terhadap dua


atau tiga sumbu disebabkan oleh pangkal takikan, maka terjadi peningkatan
yang menyolok dari tegangan mulur dan patah getas mudah terjadi.

laju regangan : peningkatan tegangan mulur yang sangat ditandai oleh


peningkatan laju regangan yang mengakibatkan patah getas.

temperatur : makin rendah temperatur maka semakin mudah terjadi patah


getas.