Anda di halaman 1dari 52

ELEMEN MESIN I

NAMA

: Ilham Romadhona

NIM

: 02858

KELAS

: C1

PEMBIMBING

: Ir. Tarmono M.T.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNya rangkuman ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Rangkuman ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Elemen Mesin I.
Tujuan pembuatan rangkuman ini ialah untuk lebih memperjelas materi dari bab
pertama sampai bab kelima yaitu Satuan, Tegangan, Sambungan Keling, Sambungan Las dan
Sambungan Ulir.
Saya menyadari bahwa rangkuman ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
saran dan kritik sangat saya harapkan demi memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada.
Semoga rangkuman ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, 16 April 2014

Ilham Romadhona

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................................ii
D3 TEKNIK MESIN SEKOLAH VOKASI UGM

DAFTAR ISI........................................................................................................................iii
I.

II.

III.

IV.

V.

SATUAN.....................................................................................................1
a. Pendahuluan.....................................................................................2
b. Standar Satuan Besaran...................................................................3
c. Tambahan.........................................................................................9
d. Istihad dan Alfabet Yunani...............................................................10
TEGANGAN...............................................................................................11
a. Pendahuluan.....................................................................................12
b. Macam-macam gaya (beban)...........................................................12
c. Macam-macam Tegangan................................................................13
i. Tegangan Normal.................................................................13
ii. Tegangan Tarik....................................................................14
iii. Tegangan Tekan...................................................................14
iv. Tegangan Geser Lurus.........................................................15
v. Tegangan Geser Puntir.........................................................16
vi. Tegangan Lentur (Lengkung)..............................................16
d. Modulus Elastisitas..........................................................................17
e. Modulus Geser.................................................................................17
f. Hubungan Modulus Elastisitas dan Modulus Young.......................17
g. Faktor Keamanan.............................................................................18
SAMBUNGAN KELING............................................................................19
a. Pendahuluan.....................................................................................20
b. Metode Pengelingan........................................................................20
c. Bahan Keling...................................................................................21
d. Jenis Kepala Keling.........................................................................21
e. Macam Sambungan Keling.............................................................23
f. Istilah Penting..................................................................................25
g. Kerusakan Sambungan Keling........................................................26
h. Efisiensi Sambungan.......................................................................29
SAMBUNGAN LAS...................................................................................30
a. Pendahuluan.....................................................................................31
b. Tipe Sambungan Las.......................................................................32
c. Perhitungan Kekuatan Las...............................................................33
d. Tegangan Sambungan Las...............................................................35
e. Faktor Konsentrasi Tegangan Las....................................................35
SAMBUNGAN ULIR.................................................................................36
a. Pendahuluan.....................................................................................37
b. Istilah dalam Ulir.............................................................................37
c. Jenis dan Bentuk Ulir......................................................................38
d. Tipe Umum Penyambungan Ulir.....................................................41
e. Bentuk Kepala Mur/Baut.................................................................42
f. Penguncian Mur/Baut......................................................................42
g. Standar Dimensi Ukuran Sekrup.....................................................44
h. Analisis Sambungan Ulir.................................................................46
i. Tegangan Internal................................................................46
ii. Tegangan Eksternal..............................................................48

D3 TEKNIK MESIN SEKOLAH VOKASI UGM

SATUAN
Pendahuluan
Hasil pengukuran selalu mengandung dua hal, yakni: kuantitas atau nilai dan satuan.
Sesuatu yang memiliki kuantitas dan satuan tersebut dinamakan besaran. Berbagai besaran
yang kuantitasnya dapat diukur, baik secara langsung maupun tak langsung, disebut besaran
fisis, misalnya panjang dan waktu. Tetapi banyak juga besaran-besaran yang dikategorikan
non-fisis, karena kuantitasnya belum dapat diukur, misalnya cinta, bau, dan rasa.
Dahulu orang sering menggunakan anggota tubuh sebagai satuan pengukuran,
misalnya jari, hasta, kaki, jengkal, dan depa. Namun satuan-satuan tersebut menyulitkan
dalam komunikasi, karena nilainya berbeda-beda untuk setiap orang. Satuan semacam ini
disebut satuan tak baku. Untuk kebutuhan komunikasi, apalagi untuk kepentingan ilmiah,
pengukuran harus menggunakan satuan baku, yaitu satuan pengukuran yang nilainya tetap
dan disepakati secara internasional, misalnya meter, sekon, dan kilogram. Adanya
kemungkinan perbedaan penafsiran terhadap hasil pengukuran dengan berbagai standar
tersebut, memacu para ilmuwan untuk menetapkan suatu sistem satuan internasional yang
digunakan sebagai acuan semua orang di penjuru dunia. Pada tahun 1960, dalam The
Eleventh General Conference on Weights and Measures (Konferensi Umum ke-11 tentang
Berat dan Ukuran) yang diselenggarakan di Paris, ditetapkanlah suatu sistem satuan
internasional, yang disebut sistem SI (Sistem International). Sampai saat ini ada dua jenis
satuan yang masih digunakan, yaitu:
1) Sistem metrik
2) Sistem Inggris (imperial sistem)
Sistem metrik dikenal sebagai: meter, kilogram, dan sekon (disingkat MKS), system
Inggris dikenal sebagai: foot, pound dan second (disingkat FPS). Dalam Sistem Internasional
dikenal dua besaran yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Besaran pokok adalah besaran
yang satuannya ditetapkan lebih dulu atau besaran yang satuannya didefinisikan sendiri
berdasarkan hasil konferensi internasional mengenai berat dan ukuran. Berdasar Konferensi
Umum mengenai Berat dan Ukuran ke-14 tahun 1971, besaran pokok ada tujuh, yaitu
panjang, massa, waktu, kuat arus listrik, temperatur, jumlah zat, dan intensitas cahaya. Tabel
1.1 menunjukkan tujuh besaran pokok tersebut beserta satuan dan dimensinya.

Tabel 1.1 Besaran Pokok dan Satuannya dalam SI

Dua satuan SI tanpa dimensi adalah Radian (rad) dan Steradian (sr).
Besaran turunan adalah besaran yang dapat diturunkan atau diperoleh dari besaranbesaran pokok. Satuan besaran turunan diperoleh dari satuan-satuan besaran pokok yang
menurunkannya, seperti terlihat dalam Tabel 1.2.
Tabel 1.2. Contoh besaran turunan

Standar Satuan Besaran


1) Panjang
Panjang adalah dimensi suatu benda yang menyatakan jarak antar ujung. Panjang
dapat dibagi menjadi tinggi, yaitu jarak vertikal, serta lebar, yaitu jarak dari satu sisi ke sisi
yang lain, diukur pada sudut tegak lurus terhadap panjang benda. Dalam ilmu fisika dan
teknik, kata "panjang" biasanya digunakan secara sinonim dengan "jarak", dengan simbol "l"
atau "L" (singkatan dari bahasa Inggris length).
Panjang adalah ukuran satu dimensi, sedangkan luas adalah ukuran dua dimensi
(pangkat dua dari panjang) dan volume adalah ukuran tiga dimensi (pangkat tiga dari
panjang). Dalam hampir semua sistem pengukuran, panjang adalah satuan fundamental yang
digunakan untuk menurunkan satuan-satuan lainnya.
Meter
Meter adalah satuan dasar untuk ukuran panjang dalam sistem SI. Satuan ini didefinisikan
sebagai jarak yang ditempuh dalam perjalanan cahaya di ruang hampa (vakum) selama
1/299.792.458 detik. Satuan meter disingkat menggunakan simbol m. Meter bisa ditulis
sebagai metre dalam bahasa Inggris, atau meter dengan ejaan Amerika.
Patut diperhatikan bahwa definisi meter sebagai satuan dasar panjang adalah
bergantung dari definisi detik, seperti yang ditunjukan oleh persamaan di atas.

Penggandaan
Awalan yang sering digunakan untuk kelipatan meter adalah sebagai berikut.
a) 10-12 meter = pikometer (pm, dari picometer)
b) 10-9 meter = nanometer (nm), dari sini muncul istilah nanoteknologi, karena berkaitan
dengan material berukuran dalam kisaran satuan nanometer
c) 10-6 meter = mikrometer (m)
d) 10-3 meter = milimeter (mm)
e) 10-2 meter = sentimeter (cm, dari centimeter)
f) 10-1 meter = desimeter (dm)
g) 101 meter = dekameter (dam, dari decameter)
h) 102 meter = hektometer (hm, dari hectometer)
i) 103 meter = kilometer (km)
j) 106 meter = megameter (Mm)
k) 109 meter = gigameter (Gm)
l) 1012 meter = terameter (Tm)
2. Massa
Massa(berasal dari bahasa Yunani ) adalah suatu sifat fisika dari suatu benda yang
digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau. Dalam kegunaan
sehari-hari, massa biasanya disinonimkan dengn berat. Namun menurut pemahaman ilmiah
modern, berat suatu objek diakibatkan oleh interaksi massa dengan medan gravitasi.
Satuan-satuan massa :
Alat yang digunakan untuk mengukur massa biasanya adalah timbangan. Dalam satuan SI,
massa diukur dalam satuan kilogram, kg. Terdapat pula berbagai satuan-satuan massa lainnya,
misalnya:

gram: 1 g = 0,001 kg (1000 g = 1 kg)

ton: 1 ton = 1000 kg

MeV/c2 (Umumnya digunakan untuk mengalamatkan massa partikel subatom.)

Pada situasi normal, berat suatu objek adalah sebanding dengan massanya. Namun
pembedaan antara massa dengan berat diperlukan untuk pengukuran berpresisi tinggi. Oleh
karena hubungan relativistik antara massa dengan energi, adalah mungkin untuk
menggunakan satuan energi untuk mewakili massa. Sebagai contoh, eV normalnya digunakan
sebagai satuan massa (kira-kira 1,7831036 kg) dalam fisika partikel.

Kilogram

Kilogram (kg), adalah satuan unit SI untuk massa. 1 gram didefinisikan sebagai 1/1000
kilogram.
3. Waktu
Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat
ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu
merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama
berlangsungnya suatu kejadian.
Skala
Skala waktu diukur dengan satuan:

detik (sekon)

menit

jam

hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu)

pekan (minggu)

bulan (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober,
November, Desember)

tahun

windu

dekade (dasawarsa)

abad

milenium (alaf) dan seterusnya.


Detik

Detik atau Sekon adalah satuan waktu dalam SI (Sistem Internasional, lihat unit SI)
yang didefinisikan sebagai durasi selama 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan
dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan ground state dari atom cesium-133
pada suhu nol kelvin.

Dalam penggunaan yang paling umum, satu detik adalah 1/60 dari satu menit, dan
1/3600 dari satu jam.

4. Arus listrik

Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik dalam
sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau
Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang sangat lemah
dalam satuan mikroAmpere (A) seperti di dalam jaringan tubuh hingga arus yang sangat kuat
1-200 kiloAmpere (kA) seperti yang terjadi pada petir. Dalam kebanyakan sirkuit arus searah
dapat diasumsikan resistansi terhadap arus listrik adalah konstan sehingga besar arus yang
mengalir dalam sirkuit bergantung pada voltase dan resistansi sesuai dengan hukum Ohm.
Arus listrik merupakan satu dari tujuh satuan pokok dalam satuan internasional.
Satuan internasional untuk arus listrik adalah Ampere (A). Secara formal satuan Ampere
didefinisikan sebagai arus konstan yang, bila dipertahankan, akan menghasilkan gaya sebesar
2 x 10-7 Newton/meter di antara dua penghantar lurus sejajar, dengan luas penampang yang
dapat diabaikan, berjarak 1 meter satu sama lain dalam ruang hampa udara.
Untuk arus yang konstan, besar arus I dalam Ampere dapat diperoleh dengan
persamaan:

di mana I adalah arus listrik, Q adalah muatan listrik, dan t adalah waktu (time).
Ampere
Dalam fisika, ampere dilambangkan dengan A, adalah satuan SI untuk arus listrik.
Satu ampere adalah suatu arus listrik yang mengalir, sedemikian sehingga di antara dua
penghantar lurus dengan panjang tak terhingga, dengan penampang yang dapat diabaikan, dan
ditempatkan terpisah dengan jarak satu meter dalam vakum, menghasilkan gaya sebesar 2
10-7 newton per meter. Satuan ini diambil dari nama Andr-Marie Ampre, salah satu penemu
elektromagnetisme.
5. Temperatur
Temperatur atau Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi
suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan
energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing
bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran.
Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut. Suhu
juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer. Empat macam termometer yang
paling dikenal adalah Celsius, Reumur, Fahrenheit dan Kelvin. Perbandingan antara satu jenis
termometer dengan termometer lainnya mengikuti:
C:R:(F-32) = 5:4:9 dan
K=C + 273.

Alat Ukur Suhu


Secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu adalah sensasi dingin atau
hangatnya sebuah benda yang dirasakan ketika menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat
mengetahuinya dengan menggunakan termometer. Suhu dapat diukur dengan menggunakan
termometer yang berisi air raksa atau alkohol. Kata termometer ini diambil dari dua kata yaitu
thermo yang artinya panas dan meter yang artinya mengukur (to measure).
Tipe termometer
Beberapa tipe termometer antara lain:

termometer alkohol

termometer basal

termometer merkuri

termometer oral

termometer Galileo

termometer infra merah, dll.


Kelvin

Kelvin (simbol: K) adalah skala suhu di mana nol absolut didefinisikan sebagai 0 K.
Satuan untuk skala Kelvin adalah kelvin (lambang K), dan merupakan salah satu dari tujuh
unit dasar SI. Satuan kelvin didefinisikan oleh dua fakta: nol kelvin adalah nol absolut (ketika
gerakan molekuler berhenti), dan satu kelvin adalah pecahan 1/273,16 dari suhu
termodinamik triple point air (0,01 C).
Rumus konversi suhu kelvin
Konversi dari

Ke

Rumus

Kelvin

Fahrenheit

F = K 1,8 459,67

Fahrenheit

kelvin

K = (F + 459,67) / 1,8

Kelvin

Celsius

C = K 273,15

Celsius

kelvin

K = C + 273,15

Rumus konversi lainnya


Conversion calculator for units of temperature

6. Molekul
Molekul didefinisikan sebagai sekelompok atom (paling sedikit dua) yang saling
berikatan dengan sangat kuat (kovalen) dalam susunan tertentu dan bermuatan netral serta
cukup stabil. Menurut definisi ini, molekul berbeda dengan ion poliatomik. Dalam kimia
organik dan biokimia, istilah molekul digunakan secara kurang kaku, sehingga molekul
organik dan biomolekul bermuatan pun dianggap termasuk molekul.
Dalam teori kinetika gas, istilah molekul sering digunakan untuk merujuk pada
partikel gas apapun tanpa bergantung pada komposisinya. Menurut definisi ini, atom-atom gas
mulia dianggap sebagai molekul walaupun gas-gas tersebut terdiri dari atom tunggal yang tak
berikatan.
Sebuah molekul dapat terdiri atom-atom yang berunsur sama (misalnya oksigen O2),
ataupun terdiri dari unsur-unsur berbeda (misalnya air H2O). Atom-atom dan kompleks yang
berhubungan secara non-kovalen (misalnya terikat oleh ikatan hidrogen dan ikatan ion) secara
umum tidak dianggap sebagai satu molekul tunggal.
Mol
Mol adalah satuan dasar SI yang mengukur jumlah zat. Istilah "mol" pertama kali
diciptakan oleh Wilhem Ostwald dalam bahasa Jerman pada tahun 1893, walaupun
sebelumnya telah terdapat konsep massa ekuivalen seabad sebelumnya. Istilah mol
diperkirakan berasal dari kata bahasa Jerman Molekl. Nama gram atom dan gram molekul
juga pernah digunakan dengan artian yang sama dengan mol, namun sekarang sudah tidak
digunakan. Satu mol didefinisikan sebagai jumlah zat suatu sistem yang mengandung "entitas
elementer" (atom, molekul, ion, elektron) sebanyak atom-atom yang berada dalam 12 gram
karbon-12.
Intensitas cahaya
7. Intensitas Cahaya
Intensitas Cahaya adalah besaran pokok fisika untuk mengukur daya yang
dipancarkan oleh suatu sumber cahaya pada arah tertentu per satuan sudut. Satuan SI dari
intensitas cahaya adalah Candela (Cd). Dalam bidang optika dan fotometri (fotografi),
kemampuan mata manusia hanya sensitif dan dapat melihat cahaya dengan panjang
gelombang tertentu (spektrum cahaya nampak) yang diukur dalam besaran pokok ini.
Intensitas cahaya monokromatik pada panjang gelombang adalah:

di mana

Iv intensitas cahaya dalam satuan Candela,


I intensitas radian dalam unit W/sr,
fungsi intesitas standar.
Intensitas cahaya total untuk semua panjang gelombang menjadi:

Candela
Candela (cd) adalah unit SI yang mengukur kekuatan dari sinar bercahaya yang
memberikan arah dari suatu sumber yang mengeluarkan radiasi monochromatic sebesar
frekuensi 540 x 1012 hertz.

Tambahan
Satuan penting untuk Elemen Mesin
NO
1
2
3
4
5
6

BESARAN
Panjang
Massa
Waktu
Temperature
Sudut
Kecepatan Linier

SIMBOL
L
m
t
T

SATUAN
m
kg
s
K
Rad
m/s

m
2
s

Percepatan Linier

8
9

Kecepatan Sudut
Percepatan Sudut

rad/s
2
rad/ s

10

Massa Jenis

3
Kg/ m

11
12

Gaya,Berat
Tekanan,Tegangan

F,W
p,

N
2
N/ m

13
14

Kerja,Energi,Enthalpi
Daya

W,E,H
P

J
W

Keterangan:
1 Newton

m
=1 kg s 2

1 Joule

=1 N.m

1W

=1

N .m
s

=9.81

m
2
s

Gaya ialah tarikan atau dorongan yang bekerja pada suatu benda dan menghasilkan
perubahan gerak benda atau deformasi benda.
Berat ialah besar gaya yang dibutuhkan untuk menopang sebuah benda terhadap pengaruh
gravitasi bumi.
Gaya(F)

=Massa(m)*pecercepatan(a)

Berat(W)

= Massa(m)*gravitasi(g)

Satu newton(1N) adalah gaya yang dibutuhkan untuk menggerakan massa satu kilogram (1kg)
m
denganb percepatan satu meter per detik kuadrat(1 s 2 )

Alfabet Yunani

TEGANGAN

Pendahuluan
Hukum Newton pertama tentang aksi dan reaksi, bila sebuah balok terletak di atas lantai,

balok akan memberikan aksi pada lantai, demikian pula sebaliknya lantai akan memberikan
reaksi yang sama, sehingga benda dalam keadaan setimbang. Gaya aksi sepusat (F) dan gaya
reaksi (F) dari bawah akan bekerja pada setiap penampang balok tersebut. Jika kita ambil

penampang A-A dari balok, gaya sepusat (F) yang arahnya ke bawah, dan di bawah
penampang bekerja gaya reaksinya (F) yang arahnya ke atas.
Pada bidang penampang tersebut, molekul-molekul di atas dan di bawah bidang penampang
A-A saling tekan menekan, maka setiap satuan luas penampang menerima beban sebesar: F/A

Macam-macam gaya (beban)


a) Beban Statis
b) Beban Dinamis
c) Beban Kejut
d) Beban Impact

Macam-macam Tegangan
Tegangan timbul akibat adanya tekanan, tarikan, bengkokan, dan reaksi. Pada
pembebanan tarik terjadi tegangan tarik, pada pembebanan tekan terjadi tegangan tekan,
begitu pula pada pembebanan yang lain.

1. Tegangan Normal, yang dibagi menjadi 2, yaitu:


a. Tegangan Tarik
b. Tegangan Tekan
2. Tegangan Geser, yang dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Tegangan geser lurus


b. Tegangan geser puntir
3. Tegangan Lentur (Lengkung)
4. Tegangan Variable (Dinamis)
I.

Tegangan Normal
Tegangan normasl terjadi akibat adanya reaksi yang diberikan pada benda. Jika gaya

dalam diukur dalam N, sedangkan luas penampang dalam m2, maka satuan tegangan
adalah N/m2 atau dyne/cm2.

II.

Tegangan Tarik
Tegangan tarik pada umumnya terjadi pada rantai, tali, paku keling, dan lain-lain.

Rantai yang diberi beban W akan mengalami tegangan tarik yang besarnya tergantung pada
beratnya.

III.

Tegangan Tekan
Tegangan tekan terjadi bila suatu batang diberi gaya F yang saling berlawanan dan

terletak dalam satu garis gaya. Misalnya, terjadi pada tiang bangunan yang belum mengalami
tekukan, porok sepeda, dan batang torak. Tegangan tekan dapat ditulis:

IV.

Tegangan Geser Lurus


Tegangan geser terjadi jika suatu benda bekerja dengan dua gaya yang berlawanan

arah, tegak lurus sumbu batang, tidak segaris gaya namun pada penampangnya tidak terjadi
momen. Tegangan ini banyak terjadi pada konstruksi. Misalnya: sambungan keling, gunting,
dan sambungan baut.

Tegangan geser terjadi karena adanya gaya radial F yang bekerja pada penampang normal
dengan jarak yang relatif kecil, maka pelengkungan benda diabaikan. Untuk hal ini tegangan
yang terjadi adalah Apabila pada konstruksi mempunyai n buah paku keling, maka sesuai
dengan persamaan dibawah ini tegangan gesernya adalah

V.

Tegangan Geser Puntir


Tegangan puntir sering terjadi pada poros roda gigi dan batang-batang torsi pada

mobil, juga saat melakukan pengeboran. Jadi, merupakan tegangan trangensial.

VI.

Tegangan Lentur (Lengkung)


Misalnya, pada poros-poros mesin dan poros roda yang dalam keadaan ditumpu. Jadi,

merupakan tegangan tangensial. Gambar 20.Tegangan lengkung pada batang rocker arm.

VII. Modulus Elastisitas


Modulus Elastisitas adalah hubungan antara tegangan dan regangan, dimana bisa
dirumuskan :
=

Dimana :

: Modulus Elastisitas
: Tegangan
: Regangan

VIII. Modulus Geser


Modulus Geser didefinisikan sebagai perbandingan tegangan geser dan regangan geser.
Dirumuskan :
G=

Dimana :

G = Modulus geser
= Tegangan geser

= Regangan geser
IX.

Hubungan Modulus Elastisitas dengan Modulus Geser

G=

2 (1+ )

Dimana :

G = Modulus Geser
= Modulus Elastisitas
= Bilangan Poissons

Adapun Nilai Bilangan Poissons


Baja
Besi Tuang
Aluminium

: 0,25-0,33
: 0,23-0,27
: 0,32-0,36

X.
Faktor Keamanan (SF)
Faktor keamanan didefinisikan sebagai sebagai berikut :
a) Perbandingan antara tegangan maksimum dan tegangan kerja aktual atau tegangan
ijin.

b) Perbandingan tegangan luluh (y) dengan tegangan kerja atau tegangan ijin.

c) Perbandingan tegangan ultimate dengan tegangan kerja atau tegangan ijin.

Dalam desain konstruksi mesin, besarnya angka keamanan harus lebih besar dari 1
(satu). Faktor keamanan diberikan agar desain konstruksi dan komponen mesin dengan tujuan
agar desain tersebut mempunyai ketahanan terhadap beban yang diterima. Pemilihan SF harus
didasarkan pada beberapa hal sebagai berikut :

Jenis beban
Jenis material
Proses pembuatan / manufaktur
Jenis tegangan
Jenis kerja yang dilayani
Bentuk komponen

Makin besar kemungkinan adanya kerusakan pada komponen mesin, maka angka keamanan
diambil makin besar. Angka keamanan beberapa material dengan berbagai beban dapat dilihat
pada Tabel 3.

SAMBUNGAN KELING
Pendahuluan
Keling adalah sebuah batang silinder yanga mempunyai bentuk kepala yang melebar. Bagian
batang silinder dari keling itu sendiri disebut shank atau body, dan bagian bawahnya disebut tail,
seperti yang tampak pada gambar di bawah.
Keling digunakan untuk membuat sambungan secara permanen
antara dua buah plat, yang biasanya untuk plat-plat yang tipis.

Sambungan keling ini juga termasuk sambungan permanen, karena


untuk melepasnya harus merusak sambungan itu sendiri, tidak
seperti sambungan semi permanen yang bisa di lepas dengan
mudah, seperti sambungan ulir (mur-baut)

Metode pengelingan
Fungsi dari sambungan keling adalah untuk membuat hubungan yang kuat dan rapat. Kekuatan
dari sambungan keling itu dibutuhkan untuk menghindari kerusakan sambungan yang disebabkan
karena adanya gaya. Sedangkan kerapatan dibutuhkan untuk menjaga sambungan dari kebocoran,
seperti pada sambungan keling yang terdapat pada kapal boiler, dan mesin bertekanan tinggi yang
lain.

Ketika dua buah plat akan disatukan dengan menggunakan keling seperti pada gambar diatas
bagian (a) kemudian bagian tail keling dipukul menggunakan palu yang berbentuk sebuah
cetakan, maka diameter bodykeling tersebutakan melebar dan memenuhi lubang tersebut, dan
bagian tail akan menjadi point seperti pada gambar (b) (untuk ukuran lubang 1,5mm lebih besar
daripada diameter nominal keling).
Metode pengelingan ini sendiri terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Pengelingan dingin : digunakan untuk penyambungan struktural secara umum
2. Pengelingan panas : digunakan untuk penyambungan yang ditujukan tahan bocor

Bahan keling
Bahan yang secara umum digunakan sebagai komponen pembuatan keling untuk pemakaian
ringan adalah alumunium. Untukpemakaiansedangadalahbajaklasifikasi IS : 1148 1957 dan IS :
1149 1957untukstrukturkonstruksidengangayatariktinggi. Sedangkan untuk pemakaian berat
termasuk yang kedapcairandan gas adalahbajaklasifikasi IS : 1990 1962 seperti yang
digunakanpada mesin boiler.

Jenis-jenis kepala keling


Menurut standar spesifikasi yang ditetapkan oleh India, kepala keling diklasifikasikan menjadi 3,
yaitu :
1. Kepala keling untuk tujuan umum (diameter dibawah 12mm) berdasarkan
IS : 2155 1982

2. Kepala keling untuk tujuan umum (diameter 12mm sampai 48mm) berdasarkan
IS : 1929 - 1982

Beberapa contoh penggunaan keling dengan tipe kepala yang berbeda :


o

Kepala bulat dan jamur digunakan untuk mengeling konstruksi mesin mulai dari pemakaian
ringan sampai berat, seperti pemakaian rumah tangga, jembatan, kereta api, bangunan tingkat

tinggi dan lain-lain.


Kepala rata terbenam digunakan untuk bangunan kedap air dengan permukaan rata, seperti

kapal(laut / terbang).
Kepala bulat terbenam digunakan untuk bangunan-bangunan kedap dan tahan tekanan tinggi

fluida, seperti : ketel, tangki dan lain-lain.


Kepala panci digunakan untuk pemasangan dengan palu tangan.

3. Kepala keling untuk boiler (diameter 12mm sampai 48mm) berdasarkan


IS : 1928 - 1961

Macam Sambungan Keling

Sambungan keling menurut cara penyambungan platnya dibedakan menjadi 2, yaitu :


1. Lap Joint
:
merupakan sambunganyangmenempatkanplat yang
akandisambungsalingberimpitandankedua
plattersebutdisambungdenganpakukeling.
2. Butt Joint
: merupakan sambungan yang menempatkan kedua ujung plat
yang

akandisambungsalingberdekatan,

lalukeduaplattersebutditutupdenganbilah (strap), kemudianmasing-masing


platdisambungkandenganbilahmenggunakanpakukeling. Untuk Butt joint
sendiri masih terbagi menjadi dua macam, yaitu :
a. Single strap riveted but joint : bilah yang digunakan pada sistem
sambungan keling hanya satu sisi saja
b. Double strap riveted butt joint : bilah yang digunakan pada sistem
sambungan keling adalah pada kedua sisinya

Sambungan keling menurut jumlah baris paku yang digunakan dibedakan menjadi 2,
yaitu :
1. Single riveted joint

sambunganyang

menggunakansatubarispaku keling pada sistem sambungan


2. Double riveted joint : sambungan yangmenggunakanduabarispaku
k eling pada sistem sambungan

Istilah penting
Berikut adalah beberapa istilah penting yang harus diketahui dalam hal sambungan keling :
a. Pitch
Merupakan jarak dari pusat keling menuju pusat keling berukuran paralel kepada kampuh.
Biasanya disimbolkan denga huruf p.
b. Diagonal pitch
Merupakan jarak antara pusat-pusat keling dengan garis paku keling saling-silang
yang berdekatan. Biasanya disimbolkan dengan huruf Pd.
c. Back pitch
Merupakan jarak tegak lurus antara garis-garis pusat dari garis-garis yang berturut-turut.
Biasanya disimbolkan dengan huruf Pb.
d. Margin atau Marginal pitch
Merupakan jarak antara pusat lubang keling ke sudut plat yang terdekat. Biasanya disimbolkan
dengan huruf m.

Kerusakan Sambungan Keling


Beberapa kegagalan yang terjadi pada penyambungan keling antara lain :
1. Sobek pada sisi plat
Sebuah sambungan keling dianggap gagal
apabila terjadi sobek pada sisi plat, seperti
yang terlihat pada gambar disamping.
d : diameter keling
(body)

2. Plat sobek pada garis sumbu pengelingan

m : jarak pusat keling ke


ujung plat

Mengacu pada tekanan renggang pada plat utama, yang berakibat merobek plat
melalui garis-garis sumbu keling. Dalam kasus ini, kita hanya memikirkan lebar jarak plat,
karena setiap keling mempunyai jarak yang sudah ditentukan.

Ketahanan yang dimiliki oleh platuntuk melawan sobekan dikenal dengan istilah
ketahanan sobekan atau kekuatan sobekan atau nilai sobekan dari sebuah plat.
Ketahanan sobekan atau tarikan dibutuhkan untuk merobek plat per-lebar jarak
dapat dicari dengan rumus :

Pt =A .t = t ( pd ) t

Keterangan :
Pt

: gaya tarik

(N)

: jarak keling

(mm)

: diameter keling

(mm)

: ketebalan plat

(mm)
: tegangan tarik plat

(N/mm2)

Sambungan akan aman apabila P kurang dari . A( Pt >t )

3. Paku keling yang patah


Plat-plat

dihubungkan

oleh

keling-keling

menggunakan

tekanan renggang

pada keling, dan jika keling tersebut tidak dapat menolak geseran, maka akan
mematahkan keling sebagaimana terlihat pada gambar dibawah

Untuk menghitung kekuatan keling terhadap geseran dapat dicari dengan rumus :
Untuk bidang geser tunggal

2
Ps=n . . d .
4

Untuk bidang geser ganda

Ps=n .2 .

2
.d .
4

Keterangan :
Ps

: gaya geser

(N)

: jumlah paku setiap jarak antar paku

(p)

: diameter paku

(mm)

: tegangan geser yang diijinkan paku

(N/mm2)

4. Deformasi lubang oleh tekanan bidang


Suatu plat yang dikeling memiliki batas tertentu untuk menahan tekanan/tegangan bidang. Jika
besar gaya tekan melebihi yang diijinkan, maka akan terjadi deformasi lubang seperti pada
gambar.
Untuk menghitung besar gaya tekan dapat
digunakan rumus :

Pc =n . d .t . c
Keterangan :
Ps

: gaya tekan bidang

(N)

: jumlah paku setiap jarak antar paku

(p)

: diameter paku

(mm)

: tebal plat

(mm)

: tekanan bidang yang diijinkan antara paku dan plat

(N/mm2)

Efisiensi Sambungan
Suatu efisiensi dari sebuah sambungan keling dapat dihitung menggunakan rumus :

Bebanterkecil yang dapat ditahan


Kekuatan plat tanpa keling

Pt ; Ps ; atau P c (terkecil)
p . t . t
Keterangan :
Pt ; Ps ; Pc

: gaya yang bekerja pada sambungan

(N)

: jarak antar paku

(mm)

: tebal plat

(mm)

: tegangan tarik plat

(N/mm2)

SAMBUNGAN LAS
Sambungan las (welding joint) merupakan jenis sambungan tetap. Sambungan las
menghasilkan kekuatan sambungan yang besar.
Proses pengelasan secara umum dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu :
Las dengan menggunakan panas saja atau Fusion Welding (cair/lebur) yang meliputi
thermit welding, gas welding atau las karbit/las asitelin dan electric welding (las
listrik).
Las dengan menggunakan panas dan tekanan atau Forge Welding (tempa).

Cara kerja pengelasan :


Benda kerja yang akan disambung disiapkan terlebih dahulu mengikuti bentuk
sambungan yang diinginkan.
Pengelasan dilakukan dengan memanaskan material pengisi (penyambung) sampai
melebur (mencair).
Material pengisi berupa material tersendiri (las asitelin) atau berupa elektroda (las
listrik).
Setelah didinginkan maka material yang dilas akan tersambung oleh material pengisi.

Tipe Sambungan Las


A. Lap joint atau fillet joint :
overlapping plat, dengan beberapa cara :
Single transverse fillet (las pada satu sisi) :melintang
Double transverse fillet (las pada dua sisi)
Parallel fillet joint (las paralel)

B. Butt Joint

Pengelasan pada bagian ujung dengan ujung dari plat.


Pengelasan jenis ini tidak disarankan untuk plat yang tebalnya kurang dari 5mm
Untuk plat dengan ketebalan plat (5 12,5) mm bentuk ujung yang disarankan
adalah :
Tipe V atau U.

C. Angle Joint
Pengelasan pada bagian ujung benda dengan permukaan benda lain.
Pengelasannya hingga tegak lurus 90o antara ujung benda dengan permukaan benda
lain.

Perhitungan Kekuatan Las


a. Kekuatan transverse fillet welded joint

Jika :
t
= tebal las

= panjang lasan

Throat thickness digambar ditunjukkan BD (t), maka


t
t
= =0,707 t
sin 45 2

A = Luas area minimum dari las (throat weld), dapat dicari dengan rumus
A= throat thickness x length of weld
A=

t xl
t xl
=
=0.707 t x l
sin 45 2

t = tegangan tarik ijin bahan las.


Tegangan tarik/kekuatan tarik maksimum sambungan las :

Single fillet :
F=

t xl
x t =0,707 t x l x t
2

Double fillet :
F=2

txl
x t=1,414 t x l x t
2

b. Kekuatan las paralel fillet

, maka

c. Kekuatan Butt Joint Weld


Digunakan untuk beban tekan /kompensi
Panjang leg sama dengan throat thickness sama dengan thickness of
plates (t)

Tegangan Sambungan Las


Tegangan pada sambungan las, sulit dihitung karena variabel dan parameter
tidak terprediksikan, misalnya :
Homogenitas bahan las/elektroda
Tegangan akibat panas dari las
Perubahan sifat-sifat fisik.

Dalam perhitungan kekuatan diasumsikan bahwa :


Beban terdistribusi merata sepanjang lasan
Tegangan terdistribsi merata

Faktor Konsentrasi Tegangan Las


Konsentrasi tegangan (k) untuk static loading and any type of joint, k = 1

Konsentrasi tegangan terjadi akibat penambahan material yang berasal dari


material dasar yang mungkin berbeda dengan material utama yang disambung.

SAMBUNGAN ULIR
Sambungan Ulir digunakan pada sambungan yang tidak permanen. Sambungan ulir
adalah sambungan yang menggunakan kontruksi ulir untuk mengikat dua atau lebih
komponen permesinan. Sambungan Ulir merupakan jenis dari sambungan semi permanent
(dapat dibongkar pasang). Sambungan ulir terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu baut dimana
memiliki ulir di bagian luar dan mur dimana memiliki ulir di bagian dalam.
KEUNTUNGAN DAN KERUGAIAN SAMBUNGAN ULIR
Ditinjau dari sisi teknik sambungan ulir memiliki keuntungan dan kerugian sebagai
berikut;
Keuntungan Sambungan Ulir :
a. Mempunyai reliabilitas (kehandalan) tinggi dalam operasi.
b. Sesuai untuk perakitan dan pelepasan komponen.
c. Suatu lingkup yang luas dari sambungan baut diperlukan untuk beberapa
kondisi operasi.
d. Lebih murah untuk diproduksi dan lebih efisien.
Kerugian Sambungan Ulir

A. Konsentrasi tegangan pada bagian ulir yg tidak mampu menahan berbagai


kondisi beban

Istilah-istilah dalam ulir terlihat pada gambar di bawah ini :

Major diameter
Diameter terbesar pada bagian ulir luar atau bagian ulir dalam dari sebuah sekrup. Sekrup
ditentukan oleh diameter ini, juga disebut diameter luar atau diameter nominal.
Minor diameter
Bagian terkecil dari bagian ulir dalam atau bagian ulir luar, disebut juga sebagai core
atau diameter root.
Pitch diameter
Disebut juga diameter efektif, merupakan bagian yang berhubungan antara baut dan
mur.
Pitch
Jarak dari satu ujung ulir ke ujung ulir berikutnya. Juga dapat diartikan jarak yang
ditempuh ulir dalam satu kali putaran.
Crest adalah permukaan atas ulir
Depth of thread adalah jarak tegak lurus antara permukaan luar dan dalam dari ulir.
Flank adalah permukaan ulir
Angle of thread adalah sudut yang terbentuk dari ulir
Slope Ini adalah setengah pitch

JENIS-JENIS DAN BENTUK ULIR


A. British standard whitworth (BSW) threat
Mata Ulir berbentu segitiga. Aplikasi : untuk menahan vibrasi, automobile. Seperti
gambar 5.2.
B. British Association (BA) threat
Mata Ulir berbentuk segitiga dengan puncak tumpul. Aplikasi : Untuk mengulir pekerjaan
yang presisi. Seperti gambar 5.3.

C. American national standard thread.


Standar nasional Amerika dimana memiliki puncak datar. Ulir ini digunakan untuk tujuan
umum misalnya pada baut, mur, dan sekrup. Seperti gambar 5.4.
D. Unified standard thread.
Tiga negara yakni, Inggris, Kanada dan Amerika Serikat melakukan perjanjian untuk
sistem ulir sekrup yang sama yaitu dengan sudut termasuk 60, dalam rangka memfasilitasi
pertukaran mesin. Ulir ini memiliki puncak dan akar yang bulat, seperti ditunjukkan pada
Gambar. 5.5.

E. Square threat
Mata Ulir berbentuk Segiempat. Aplikasi : power transmisi, machine tools, valves.
Seperti gambar 5.6.
F. Acme threat
Mata Ulir berbentuk Trapesium. Aplikasi : cutting lathe, brass valves. Seperti gambar 5.7.

G. Knuckle threat
Mata ulir berbentu bulat, merupakan modifikasi dari ulir persegi. Ulir ini digunakan
untuk pekerjaan kasar, biasanya ditemukan di sambungan gerbong kereta api, dan botol kaca.
Seperti gambar 5.8.

H. Metric threat

Merupakan ulir standar India dan mirip dengan ulir BSW. Ini memiliki sudut 60 . Profil
dasar ulir ditunjukkan pada Gambar. 5.9 dan profil desain mur dan baut ditunjukkan pada
Gambar. 5.10.

I.

Buttress threat

Mata Ulir berbentuk Gergaji Aplikasi : Mentransmisikan daya pada satu arah, bench vices. Seperti
gambar dibawah ini

TIPE UMUM PENYAMBUNGAN ULIR


1. Through bolt
Merupakan jenis penyambungan yang digunakan untuk menyambung dua bagian atau
lebih dengan cara dijepit menggunakan mur dan baut. Lubang material yang akan disambung
harus sesuai dengan ukutan baut sehingga beban yang dapat ditahan oleh baut dapat
maksimal. seperti ditunjukkan pada gambar. 5.10(a).
2. Studs
Merupakan jenis penyambungan dua buah material atau lebih dimana mur diikat langsung
pada material, seperti ditunjukkan pada gambar. 5.10(b).
3. Tap Bolt
Merupakan jenis penyambungan dua buah material atau lebih dimana salah satu ujung
mur mengikat pada material dan ujung lainnya diikat dengan baut, seperti yang ditunjukkan
pada gambar. 5.10 (c).

BENTUK KEPALA MUR/BAUT

PENGUNCIAN MUR/BAUT
Umumnya mur dan baut akan tetap kencang di bawah beban statis, tapi banyak ikatan
mur dan baut menjadi longgar di bawah beban variabel atau ketika mesin mengalami getaran.
Mengendurnya baut/mur ini sangat berbahaya dan harus dicegah. Untuk mencegah hal ini,
sejumlah besar metode penguncian perangkat telah diterapkan, beberapa di antaranya adalah :
1. Jam nut or lock nut.
Perangkat penguncian yang paling umum adalah mengunci mur. Metode ini menggunakan
dua buah mur dimana mur bagian atas adalah sebagai penguncinya. Seperti ditunjukkan pada
gambar 5.12.

2. Castle nut.
Mur berbentuk heksagonal dengan bagian atas berbentuk silinder yang memiliki slot,
seperti ditunjukkan pada Gambar. 5.12. Pin melewati dua slot pada mur dan sebuah lubang
pada baut, biasanya digunakan pada kondisi yang tiba-tiba mengalami guncangan dan getaran
yang cukup besar seperti di industri otomotif.
3. Sawn nut.
Memiliki slot setengah mur, seperti ditunjukkan pada Gambar. 5.13 dimana mur diperkuat
dengan sekrup kecil yang menghasilkan lebih banyak gesekan antara mur dan baut. Hal ini
mencegah mengendurnya mur.

4. Locking with pin.


Mur dapat dikunci dengan menggunakan pin atau pasak lancip melewati tengah mur
seperti ditunjukkan pada Gambar. 5.14. (a). Tapi pin juga sering digunakan diatas dari mur,
yaitu dimasukkan pada lubang baut, seperti ditunjukkan pada Gambar. 5.14. (b).

5. Locking with plate.


Mur bisa disesuaikan dan kemudian dikunci melalui interval sudut 30 dengan
menggunakan plat. Plat penguncian ditunjukkan pada gambar 5.15.
6. Spring lock washer
Mur dapat dikunci dengan menggunakan pegas cincin yang pipih, pegas dapat
meningkatkan ketahanan sehingga mur tidak mudah untuk mengendur seperti ditunjukkan
pada Gambar. 5.16.

Standard Dimensi Ukuran Sekrup Untuk Ulir Kasar dan Halus

ANALISIS SAMBUNGAN ULIR


Jenis jenis tegangan :
Tegangan pada ulir disebabkan karena :
a. Tegangan internal atau tegangan sisa dikarenakan penambahan gaya pada
saat pengencangan ulir
b. Tegangan dikarenakan beban eksternal
c. Kombinasi dari keduanya
A. Tegangan Internal (Internal Stress)
Tegangan internal meliputi tegangan tegangan sebagai berikut :
1. Tegangan tarik dikarenakan pengencangan baut
Bila sampel diberikan beban awal sehingga cukup tegang tetapi tidak mengalami
kemuluran, maka dapat dikatakan bahwa bahan dalam keadaan standard initial tension. Baut
dirancang berdasarkan tegangan tarik langsung dengan faktor keamanan yang besar. initial
tension baut berdasarkan eksperimen, dapat ditemukan melalui hubungan :

Pi=2840 d N (digunakan untuk sambungan pada penggunaan zat cair/pada benda


bertemperature tinggi)
Dimana :
Pi = initial tension baut (N)
d = diameter nominal (mm)
ketika sambungan tidak membutuhkan sekencang ketika untuk sambungan pada
fluida, maka initial tension dalam baut dapat dikurangi menjadi setengah dari nilai di atas,
yaitu :
Pi=1420 d N (digunakan pada sambungan pada pengunaan non zat cair/pada benda
pada umumnya)

Diketahui juga initial tension pada baut :

Baut diameter kecil dapat saja gagal dalam proses pengencangan, sehingga baut
diameter lebih kecil (kurang dari M 16 atau M 18) tidak diperbolehkan digunakan dalam
sambungan pada fluida. Jika baut awalnya pada kondisi tanpa tegangan, maka beban aksial
maksimum yang aman yang dapat diterapkan pada baut adalah :
P = tegangan ijin luas penampang (area tegangan)

Area tegangan dapat diperoleh dari Tabel 5.1 atau dapat juga dicari dengan
menggunakan hubungan :

Dimana :
A = stress area (luas bidang tarik)
t = tegangan ijin (Pa)
dp = diameter pitch (mm)
dc = diameter minor (mm)
2. Tegangan geser torsional
Tegangan geser torsi selama pengencangan dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan
torsi, yaitu :

Dimana :
= tegangan geser torsi,
T = torsi yang diterapkan, dan
dc = diameter minor (mm)
3. Tegangan geser sepanjang ulir.
Tegangan geser pada sekrup (s) diperoleh dengan menggunakan hubungan :

Dimana :
P = beban maksimum
b = lebar ulir
n = jumlah ulir
Tegangan geser pada mur adalah

Dimana d adalah diameter mayor

B. Tegangan Eksternal
Pengaruh beban eksternal menyebabkan timbunya :
tegangan tarik
tegangan geser
kombinasi keduanya
1. Tegangan tarik
Baut biasanya membawa beban searah sumbu baut yang mengakibatkan tegangan
tarik pada baut. Jika
dc = diameter minor, dan
t = tegangan tarik yg dijinkan.
Beban eksternal yang diterapkan adalah,

Jika sambungan menggunakan n baut, maka :

2. Tegangan Geser
Kadang-kadang, baut digunakan untuk mencegah gerakan relative dari dua atau lebih
bagian, seperti dalam kasus kopling flens, sehingga menyebabkan tegangan geser pada baut.
Tegangan geser ini sedapat mungkin untuk dihindari.
Jika
Fs
= gaya geser
d
= diameter mayor baut, dan
n
= Jumlah baut.
Beban geser yang dialami oleh baut adalah :

3. Tegangan kombinasi
Hubungan antara tegangan tarik dengan tegangan geser adalah :
Tegangan geser maksimum :

Tegangan tarik maksimum :