Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

ASTIGMATISMA MIOPIA COMPOSITUS + PRESBIOPIA


Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Stase Mata
Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan Kepada Yth :

dr. Nur Shani Meida, Sp.M


Disusun Oleh :

NANA SULISTIANI
20100310065

BAGIAN STASE MATA


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Mata memiliki fungsi untuk melihat. Agar fungsi melihat maksimal, maka bayangan
benda harus jatuh tepat di retina pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau isitirahat
melihat jauh. Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri
atas kornea, cairan mata, lensa, badan kaca, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal
susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata seimbang sehingga
bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat didaerah makula lutea. Jika
tidak seimbang maka akan terjadi Ametropia.
Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada retina. Pada
kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik pada mata sehingga menghasilkan
bayangan kabur. Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk mencembung yang terjadi akibat
kontraksi otot silier. Akibat akomodasi, daya pembiasan lensa bertambah kuat. Kekuatan
akomodasi akan meningkat sesuai dengan kebutuhan, makin dekat benda makin kuat mata harus
berakomodasi (mencembung). Kekuatan akomodasi diatur oleh refleks akomodasi. Refleks
akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada waktu konvergensi atau melihat dekat.
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan dan
kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan terkuat
dibanding bagian mata lainnya, sedangkan lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama
pada saat melakukan akomodasi atau apabila melihat benda yang dekat. Panjang bolamata

seserorang berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea atau adanya
perubahan panjang bola mata maka sinar normal tidak dapat terfokus pada makula.
Ametropia dalam keadaan tanpa akomodasi atau dalam keadaan istirahatmemberikan
bayangan sinar sejajar pada fokus yang tidak terletak pada retina, sehingga bayangan tidak
sempurna terbentuk. Bentuk Ametropia ada dua, yaitu :
a. Ametropia Aksial
Terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih panjang atau lebih pendek sehingga
bayangan benda difokuskan di depan atau belakang retina. Pada miopia aksial fokus
akan terletak didepan retina karena bola mata lebih panjang dan pada Hipermetropia
aksial fokus bayangan terletak dibelakang retina.
b. Ametropia Refraktif
Akibat kelainan sistem pembiasan sinar didalam mata. Bila daya bias kuat maka
benda terletak didepan retina (Miopia), atau bila daya bias kurang maka bayangan
benda akan terletak dibelakang retina (Hipermetropia Refraktif).
Ametropia ditemukan dalam bentuk bentuk kelainan. Salah satunya adalah
Astigmatism yaitu kelainan refraksi dimana pada pembiasan berkas sinar tidak
difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina tetapi pada dua garis api yang
saling tegak lurus yang terjadi akibat kelengkungan kornea.

BAB II
LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas Pasien
Nama
: Ny T
Jenis Kelamin
: Wanita
Umur
: 52 tahun
Pekerjaan
: Guru SD
Alamat
: Notoprajan
Status Pernikahan
: Menikah
MRS
: 14 Oktober 2015
Anamnesa
Keluhan Utama :
Kacamata yang lama sudah tidak cocok
Riwayat Pernyakit Sekarang
Pasien perempuan berusia 52 tahun datang dengan tujuan memeriksakan kacamata
yang sudah tidak cocok lagi menurut pasien, pasien mengganti kacamata sudah 5
tahun yang lalu dan sekarang kacamata pasien sudah tidak bisa melihat dengan jelas
lagi. Pasien tidak mengeluhkan keluhan lain.
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Pasien memakai kacamata minus dan silindris sudah sekitar 20 tahun, 5 tahun
-

yang lalu terakhir mengganti kacamata, pasien lupa minus dan silindris berapa.
Riwayat trauma kedua mata (-), DM (-), Hipertensi (-).
Riwayat pemakaian kontak lensa (-), operasi lasik (-).

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Ayah dan Ibu pasien tidak mengalami mata minus dan silindris.
Kakak laki-laki pasien memakai kacamata silindris dan minus

Riwayat Pengobatan :
-

Pasien tidak mengonsumsi obat-obat an dalam jangka waktu lama

Riwayat Sosial :
-

Pasien sehari-hari mengajar di SD

Pemeriksaa Fisik

Status Generalis
-

Keadaan Umum
: baik
Kesadaran
: compos mentis
Vital sign
: tidak diperiksa
Kepala
:
Mata
: *lihat status lokalis
Hidung
: dbn
Telinga
: dbn
Mulut
: dbn
Leher
: tidak diperiksa
Thoraks
: tidak diperiksa
Cor : tidak diperiksa
Pulmo : tidak diperiksa
Abdomen
: tidak diperiksa
Ekstremitas
: tidak diperiksa
Genitalia
: tidak diperiksa.

STATUS OPTHALMOLOGIS

Pemeriksaan
Visus

OD
0,6

OS
0,8

Refraktometri
Koreksi

SPH : -1,75., C: -1,50.,A : 71


SPH : -2,00., C : -1,50., A:71

SPH : -1,50., C: 1,00.,A: 97


SPH : -1,25., C:1,00., A:97

Add : +2,25

Add : +2,25

Inspeksi
Gerakan Bola Mata
Palpebra Superior

OD
Normal kesegala arah
Edema (-)

OS
Normal ke segala arah
Edema (-)

Palpebra Inferior

Nyeri tekan (-)


Edema (-)

Nyeri tekan (-)


Edema (-)

Konjungtiva

Nyeri tekan (-)


Palpebra Hiperemis (-)

Nyeri tekan (-)


Hiperemis (-)

Superior
Konjungtiva

Benjolan (-)
Palpebra Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Inferior
Konjungtiva bulbi
Kornea
COA
Pupil

Iris
Lensa

Injeksi konjungtiva (-)


Jernih
Tidak dangkal
Pupil bulat (+)

Injeksi konjungtiva (-)


Jernih
Tidak dangkal
Pupil bulat (+)

Reflex direk (+)

Reflex direk (+)

Refleks indirect (+)


Sinekia (-)
Jernih

Refleks indirect (+)


Sinekia (-)
Jernih

Pemeriksaan Penunjang

: autorefraktometri

Differential Diagnosis

: Astigmatisme Miopia Compositus + Presbiopia


Astigmatisme Miopia Simpleks + Presbiopia

Diganosis Kerja

: Astigmatisma Miopia Compositus + Presbiopia

Penatalaksanaan

Kombinasi Kacamata sferis + sylindris + Add lensa +

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1. MIOPIA
1.1 Definisi
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki
mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina. Dalam keadaan
ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar yang datang saling
bersilangan pada badan kaca, ketika sinar tersebut sampai di retina sinar-sinar ini
menjadi divergen,membentuk lingkaran yang difus dengan akibat bayangan yang
kabur. Miopia tinggi adalah miopia dengan ukuran 6 dioptri atau lebih.

1.2 Etiologi dan Patofisiologi


Kekurangan zat kimia (kekurangan kalsium, kekurangan vitamin), alergi,
penyakit mata tertentu (bentuk kornea kerucut, bisul di kelopak mata, pasca operasi
atau pasca trauma atau kecelakaan), herediter atau faktor genetik (perkembangan
yang menyimpang dari normal yang di dapat secara kongenital pada waktu awal
kelahiran), kerja dekat yang berlebihan seperti membaca terlalu dekat atau aktifitas
jarak dekat (Israr, 2010), kurangnya faktor atau aktifitas jarak jauh terutama sport
atau aktifitas di luar rumah, pencahayaan yang ekstra kuat dan lama (computer, TV,
game), sumbuatau bola mata yang terlalu panjang karena adanya tekanan dari otot

ekstra okuler selama konvergensi yang berlebihan, radang, pelunakan lapisan bola
mata bersama-sama dengan peningkatan tekanan yang di hasilkan oleh pembuluh
darah dan bentuk dari lingkaran wajah yang lebar yang menyebabkan konvergensi
yang berlebihan (Nasrulbintang, 2008).
Patofisilogi myopia akibat dari bola mata yang terlalu panjang,
menyebabkan bayangan jatuh di depan retina (Wong, 2008).
1.3 Gejala Klinis
Penglihatan kabur untuk melihat jauh dan hanya jelas pada jarak yang dekat,
selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda yang dilihat
pada mata, kadang-kadang terlihat bakat untuk menjadi juling bila ia
melihat jauh, mengecilkan kelopak untuk mendapatkan efek pinhole sehingga
dapat melihat jelas, penderita miopia biasanya menyenangi membaca (Ilyas, 2006),
cepat lelah, pusing dan mengantuk, melihat benda kecil harus dari jarak dekat, pupil
medriasis, dan bilik mata depan lebih dalam, retina tipis (Istiqomah, 2005). Banyak
menggosok mata, mempunyai kesulitan dalam membaca, memegang buku dekat ke
mata, pusing, sakit kepala dan mual (Wong, 2008).
1.4 Penatalaksanaan
Koreksi mata dengan miopia dengan memakai lensa minus/negatif yang sesuai
untuk mengurangi kekuatan daya pembiasan di dalam mata. Biasanya pengobatan
dengan kaca mata dan lensa kontak. Miopia juga dapat diatasi dengan pembedahan
pada kornea antara lain keratotomi radial, keratektomi fotorefraktif (Ilyas, 2006).
2. ASTIGMATISMA
2.1 Definisi
Astigmatisma adalah keadaan dimana terdapat variasi pada kurvatur kornea atau
lensa pada meridian yang berbeda yang mengakibatkan berkas cahaya tidak
difokuskan pada satu titik. Astigmatisma merupakan akibat bentuk kornea yang oval

seperti telur, makin lonjong bentuk kornea makin tinggi astigmat tersebut. Umumnya
setiap orang memiliki astigmat yang ringan.

2.2 Etiologi
Etiologi kelainan astigmatisma adalah :
- adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea tidak teratur.
- Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa.
- Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty
- Trauma pada kornea
- Tumor
2.3 Klasifikasi
Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina Astigmatisma dibagi sbb :
a. Astigmatisme Reguler
- dimana didapatkan dua titik bias pada sumbu mata karena adanya dua bidang
yang saling tegak lurus pada bidang yang lain sehingga pada salah satu bidang
-

memiliki daya bias yang lebih kuat daripada bidang yang lain.
Astigmatisme jenis ini jika mendapat koreksi lensa cilindris yang tepat, akan
bisa menghasilkan tajam penglihatan normal. Tentunya jika tidak disertai

dengan adanya kelainan penglihatan yang lain.


b. Astigmatisme Irreguler
Dimana titik bias didapatkan tidak teratur.
Berdasarkan letak titik vertikal dan horizontal pada retina, astigmatisme
dibagi menjadi :
Astigmatisme Miopia Simpleks
Astigmatisme Hiperopia Simpleks
Astigmatisme Miopia Kompositus
Astigmatisme Hiperopia Kompositus
Astigmatisme Mixtus
2.4 Patofisiologi
Pada mata normal, permukaan kornea yang melengkung teratur akan
memfokuskan sinar pada satu titik. Pada astigmatisma, pembiasan sinar tidak
difokuskan pada satu titik. Sinar pada astigmatisma dibiaskan tidak sama pada semua

arah sehingga pada retina tidak didapatkan satu titik fokus pembiasan. Sebagian sinar
dapat terfokus pada bagian depan retina sedang sebagian sinar lain difokuskan di
belakang retina (American Academy of Opthalmology Section 5, 2009-2010).
2.5 Tanda dan Gejala
Terdapat nilai koreksi astigmatisma kecil, hanya terasa pandangan kabur. Tapi
terkadang pada astigmatisma yang tidak dikoreksi, menyebabkan sakit kepala atau
kelelahan mata, dan mengaburkan pandangan ke segala arah. Pada anak-anak, keadaan
ini sebagian besar tidak diketahui, oleh karena mereka tidak menyadari dan tidak mau
mengeluh tentang kaburnya pandangan mereka (Waluyo, 2007).
2.6 Pemeriksaan
Karena sebagian besar astigmatisma disebabkan oleh kornea, maka dengan
mempergunakan keratometer, maka derajat astigmatisma dapat diketahui (Istiantoro S,
Johan AH, 2004).
Keratometer adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur jari-jari
kelengkungan kornea anterior. Perubahan astigmatisma kornea dapat diketahui dengan
mengukur jari jari kelengkungan kornea anterior, meridian vertical dan horizontal,
sebelum dan sesudah operasi. Evaluasi rutin kurvatura kornea preoperasi dan
postoperasi membantu ahli bedah untuk mengevaluasi pengaruh tehnik incisi dan
penjahitan terhadap astigmatisma. Dengan mengetahui ini seorang ahli bedah dapat
meminimalkan astigmatisma yang timbul karena pembedahan. Perlu diketahui juga
bahwa astigmatisma yang didapat pada hasil keratometer lebih besar daripada koreksi
kacamata silinder yang dibutuhkan (Istiantoro S, Johan AH, 2004).
Cara obyektif semua kelainan refraksi, termasuk astigmatisma dapat ditentukan
dengan skiaskopi, retinoskopi garis (streak retinoscopy), dan refraktometri
(Langston, Deborah pavan, 1996).
2.7 Penatalaksanaan

Kelainan astigmatisma dapat dikoreksi dengan lensa silindris, sering kali


dikombinasi dengan lensa sferis. Karena tak mampu beradaptasi terhadap distorsi
penglihatan yang disebabkan oleh kelainan astigmatisma yang tidak terkoreksi
(American Academy of Opthalmology Section 5, 2009-2010).
3. PRESBIOPIA
3.1 Definisi
Presbiopi merupakan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan
fleksibilitasnya sehingga membuatnya tidak dapat fokus pada benda yang dekat.
Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya
kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.
Presbiopi merupakan bagian alami dari penuaan mata. Presbiopi ini bukan
merupakan penyakit dan tidak dapat dicegah. Presbiopi atau mata tua yang disebabkan
karena daya akomodasi lensa mata tidak bekerja dengan baik akibatnya lensa mata
tidak dapat menmfokuskan cahaya ke titik kuning dengan tepat sehingga mata tidak
bisa melihat yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana
makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya
umur. Biasanya terjadi diatas usia 40 tahun, dan setelah umur itu, umumnya seseorang
akan membutuhkan kaca mata baca untuk mengkoreksi presbiopinya.

3.2 Etiologi
- Terjadi gangguan akomodasi lensa pada usia lanjut
- Kelemahan otot-otot akomodasi
- Lensa mata menjadi tidak kenyal, atau berkurang elastisitasnya akibat
kekakuan (sklerosis) lensa

3.3 Patofisiologi
Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata
karenaadanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul
sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka lensa menjadi
lebih keras (sklerosis)dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung. Dengan
demikian kemampuan melihat dekat makin berkurang.
3.4 Gejala Klinis
- Kesulitan membaca tulisan dengan cetakan huruf yang halus / kecil.
- Setelah membaca, mata menjadi merah, berair, dan sering terasa pedih. Bisa
-

juga disertai kelelahan mata dan sakit kepala jika membaca terlalu lama.
Membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca atau menegakkan
punggungnya karena tulisan tampak kabur pada jarak baca yang biasa (titik

dekat mata makin menjauh)


- Sukar mengerjakan pekerjaan dengan melihat dekat, terutama di malam hari.
- Memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca.
3.5 Klasifikasi
a. Presbiopi Insipien tahap awal perkembangan presbiopi, dari anamnesa didapati
pasien memerlukan kaca mata untuk membaca dekat, tapi tidak tampak kelainan bila
dilakukan tes, dan pasien biasanya akan menolak preskripsi kaca mata baca.
b. Presbiopi Fungsional Amplitud akomodasi yang semakin menurun dan akan
didapatkan kelainan ketika diperiksa
c. Presbiopi Absolut Peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi fungsional, dimana
proses akomodasi sudah tidak terjadi sama sekali.
d. Presbiopi Prematur Presbiopia yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan biasanya
berhungan dengan lingkungan, nutrisi, penyakit, atau obat-obatan.
e. Presbiopi Nokturnal Kesulitan untuk membaca jarak dekat pada kondisi gelap
disebabkan oleh peningkatan diameter pupil.

3.6 Penatalaksanaan .
Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi +3.00 D adalah lensa positif

terkuat yang dapat diberikan pada pasien. Pada kekuatan ini, mata tidak melakukan
akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm, karena tulisan yang dibaca terletak pada
titik fokus lensa +3.00 D

Usia (tahun)

Kekuatan Lensa Positif yang dibutuhkan


40

+1.00 D

45

+1.50 D

50

+2.00 D

55

+2.50 D

60

+3.00 D

Selain kaca mata untuk kelainan presbiopi saja, ada beberapa jenis
lensa lain yang digunakan untuk mengkoreksi berbagai kelainan refraksi yang ada
bersamaan dengan presbiopia. Ini termasuk:
-

Bifokal untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bisa yang mempunyai

garis horizontal atau yang progresif.


Trifokal untuk mengkoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh. Bisa yang

mempunyai garis horizontal atau yang progresif.


Bifokal kontak untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bagian bawah
adalah untuj membaca. Sulit dipasang dan kurang memuaskan hasil

koreksinya.
Monovision kontak lensa kontak untuk melihat jauh di mata dominan, dan
lensa kontak untuk melihat dekat pada mata non-dominan. Mata yang
dominan umumnya adalah mata yang digunakan untuk fokus pada kamera
untuk mengambil foto

Monovision modified lensa kontak bifokal pada mata non-dominan, dan lensa
kontak untuk melihat jauh pada mata dominan. Kedua mata digunakan untuk

melihat jauh dan satu mata digunakan untuk membaca.


Pembedahan refraktif seperti keratoplasti konduktif, LASIK, LASEK, dan
keratektomi fotorefraktif.

BAB IV
PEMBAHASAN
Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
oftalmologis. Dari anamnesis didapatkan pasien tidak bisa melihat benda jauh dan tkabur ketika
membaca sudah sekitar 20 tahun yang lalu dan pasien berusia 52 tahun
Dari pemeriksaan oftalmologi didapatkan adanya visus mata kanan 0,6 dan visus mata
kiri 0,8 dengan hasil refraktometri untuk mata kanan SPH : -1,75., C: -1,50.,A : 71, mata kiri
SPH : -1,50., C: 1,00.,A: 97.
Penatalaksaanaan pada kasus dengan kacamata sferis, sylindris dan tambahan untuk
kacamata baca pasien. Tidak diperlukan obat-obatan karena pasien tidak mengalami keluhan
lain. Tindakan operasi belum diperlukan.

BAB V
KESIMPULAN
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata
tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina.
Astigmatisma adalah keadaan dimana terdapat variasi pada kurvatur kornea atau lensa
pada meridian yang berbeda yang mengakibatkan berkas cahaya tidak difokuskan pada
satu titik.
Presbiopi merupakan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan fleksibilitasnya
sehingga membuatnya tidak dapat fokus pada benda yang dekat. Presbiopi adalah suatu
bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata
sesuai dengan makin meningkatnya umur.
Penatalaksanaan dari miopia, astigmatism dan presbiopia ini bisa dengan kacamata,
kontak lensa atau tindakan operatif jika diperlukan, tapi itu bergantung dari kondisi pasien
dan permintaan kenyamanan pasien untuk lebih memilih mengenakan kacamata atau
kontak lensa bahkan tindakan operatif pada kasus yang berat.

DAFTAR PUSTAKA

1. American Opthometric Assosiation. Opthometric clinical practice guidelines USA,2011


2. Peraturan Mrnteri Kesehatan RI Nomor 5 tahun 2014. Panduan Praktis Klinis Bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
3. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Balai Penerbit FK UI, Jakarta. 2004
4. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika, Jakarta, 2000
5. http://www.emedicinehealth.com/script.main/art.asp?articlekey=58821&page=1
6. http://www.prod.hopkins-abxguide.org/diagnosis/heent/hordeolum_stye_chalazion.html
7. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31485/4/Chapter%20II.pdf
8. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=283499&val=5016&title=Presbiopi
%20pada%20Kelainan%20Refraksi
9. http://www.scribd.com/doc/74682567/Askep-Presbiopi-Edit

Seorang perempuan usia 52 tahun datang ke poliklinik mata dengan keluhan sudah
tidak merasa cocok dengan kacamata yang telah lama ia kenakan, terakhir kali pasien
mengganti kacamata sudah sekitar 5 tahun yang lalu, pasien mengaku memakai
kacamata minus dengan silindris tetapi lupa berapa ukuran nya, pasien juga mengeluh
ketika membaca sudah tidak jelas lagi, pasien tidak mengeluh keluhan lain pada
matanya. Riwayat penyakit dahulu pasien memakai kacamata minus dan silindris sudah
sekitar 20 tahun, riwayat trauma kedua mata tidak ada, DM (-), Hipertensi (-), Riwayat
pemakaian kontak lensa (-), operasi lasik (-). Riwayat penyakit Keluarga : Ayah dan Ibu
pasien tidak mengalami mata minus maupun silindris, kakak kandung laki-laki pasien
memakai kacamat silindris dan minus. Riwayat Pengobatan : pasien tidak
mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu lama. Dari hasil pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum pasien baik, CM. Status Opthalmologis pemeriksaan
autorefraktometri OD : SPH -1,75 C -1,50 A 71., OS : SPH -1,50 C -1,00 A 97.
Pemeriksaan Subjektif OD : SPH -2,00 C -1,50 A 71 Add +2,25., OS : SPH -1,25 C
-1,00 A 97 Add +2,25.
Pemeriksaan Fisik Mata :
Inspeksi

OD

OS
Gerakan bola mata N
N
Palpebra Superior edem(-) benjolan (-) nyeri (-)
benjolan (-) nyeri (-)
Palpebra Inferior
edem(-) benjolan (-) nyeri (-)
edem(-) benjolan (-) nyeri (-)
Konjungtiva Superior
hiperemis(-) benjolan(-)
hiperemis (-) benjolan (-)
Konjungtiva Inferior hiperemis(-) benjolan(-)
benjolan (-)
Konjungtiva Bulbi Inj. Konjungtiva (-)
Konjungtiva (-)
Kornea
Jernih
Jernih
Pupil
Simetris, bulat reflek direk & indirek (+)
bulat reflek direk & indirek (+)Iris
Lensa
Jernih

edem(-)

hiperemis (-)
Inj

Simetris,

Jernih
Kacamata Bifokal dengan koreksi
OD : Sferis -2,00 Silindris -1,50 Axis 71 Add +2,25
OS : Sferis - 1,25 Silindris -1,00 Axis 97 Add +2,25
Nana Sulistiani 20100310065. Program Studi Pendidikan Profesi Dokter. Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UMY. Bagian Ilmu Penyakit Mata RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit I. Pembimbing
dr. Nur Shani Meida, Sp.M