Anda di halaman 1dari 16

Simulasi Kasus

INFEKSI CACING TAMBANG DISERTAI ANEMIA


Disusun Guna Memenuhi Sebagian Syarat Untuk Mengikuti Ujian
Ilmu Farmasi Kedokteran

Oleh :
Rahmad Budianto, S. Ked
I1A001058

Pembimbing :
Dr. Agung Biworo, M.Kes

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
LABORATORIUM FARMASI
BANJARBARU

November, 2006BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi cacing tambang merupakan masalah besar yang terjadi di beberapa
negara berkembang.1 Infeksi tersebut diperkirakan dialami oleh 1,3 milyar orang
di seluruh dunia.2 Seringkali, infeksi cacing tambang menyebabkan terjadinya
anemia defisiensi besi. Anemia yang terjadi disebabkan karena cacing tambang
mengambil makanan dari darah dengan cara merusak kapiler darah pada mukosa
usus halus mengakibatkan perdarahan gastrointestinal, hilangnya protein serum,
dan inflamasi pada usus halus. Selain anemia, infeksi cacing tambang juga
menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif pada
anak-anak.3
Spesies cacing tambang yang sering menyebabkan terjadinya infeksi pada
manusia antara lain Ancylostoma duodenale dan Necator americanus.1,2 Necator
americanus cenderung tumbuh di daerah iklim tropis, sedangkan Ancylostoma
duodenale lebih cenderung tumbuh di daerah dengan iklim yang lebih dingin dan
lebih kering. Akan tetapi, distribusi geografis kedua spesies cacing ini sangat luas
dan endemik pada banyak wilayah.2
Penatalaksanaan infeksi cacing tambang ditujukan untuk mengontrol
dampak infeksi cacing tambang tersebut terhadap gangguan nutrisi pada anakanak dikombinasikan dengan terapi antihelmintik dan pemberian suplemen zat
besi. Hal ini dikarenakan terjadinya defisiensi mikronutrien esensial, contohnya

zat besi dapat memicu terjadinya infeksi lain yang disebabkan oleh berbagai virus
atau bakteri patogen.3
Berikut ini akan disampaikan simulasi kasus mengenai infeksi cacing
tambang yang disertai oleh anemia pada seorang anak yang berumur 8 tahun.

1.2 Definisi
Ankilostomiasis adalah infeksi pada usus halus yang disebabkan oleh satu
atau lebih spesies cacing tambang (Ancylostoma duodenale,Necator americanus).4
1.3 Epidemiologi
Cacing tambang diperkirakan menginfeksi lebih dari 1300 juta orang di
seluruh dunia (WHO 2002). Infeksi cacing tambang yang terjadi meliputi populasi
yang hidup di daerah tropis dan subtropis terutama pada iklim dan higiene
lingkungan yang cocok bagi pertumbuhan cacing tambang yang sesuai dengan
daur hidupnya. Di negara-negara maju, infeksi cacing tambang jarang terjadi.
Infeksi biasanya dibawa oleh pengunjung atau imigran yang datang dari negaranegara berkembang maupun negara miskin.4
1.4 Patofisiologi
Hampir semua infeksi cacing tambang disebabkan oleh Ancylostoma
duodenale atau Necator americanus. Parasit ini hidup di usus halus dan
bereproduksi secara seksual. Cacing betina mengeluarkan telurnya ke dalam feses
manusia dan menyebar ke lingkungan di sekitarnya. Pada kondisi iklim yang
sesuai, telur cacing tambang akan menempel di tanah dan menghasilkan larva
yang infektif. Infeksi terjadi melalui penetrasi larva melalui kulit, tetapi pada

spesies A.duodenale juga dapat menginfeksi manusia secara oral. Setelah


penetrasi ke dalam tubuh manusia, larva akan bermigrasi melalui sistem peredaran
darah, termasuk pula ke dalam sistem peredaran darah pulmoner. Hal ini
dikarenakan larva cacing tambang tersebut memasuki pembuluh darah kapiler dan
berpenetrasi ke parenkim paru-paru, kemudian larva memasuki saluran
pernapasan dan tertelan ke saluran pencernaan. Di dalam usus halus, larva
berkembang menjadi stadium dewasa. Waktu yang diperlukan dari tertelannya
telur atau dari saat penetrasi larva hingga menimbulkan infkesi adalah 28-50 hari
untuk A.duodenale dan 40-50 hari untuk N.americanus. Cacing dewasa dapat
berada di saluran pencernaan hingga bertahun-tahun.4
Cacing tambang paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan
Necator americanus. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan
telurnya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Setelah 1-1,5 hari
dalam tanah, larva tersebut menetas menjadi larva rhabditiform. Dalam waktu 3
hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan
bertahan hidup hingga 7-8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, cacing ikut
ke aliran darah, jantung dan lalu paru-paru. Di paru-paru menembus pembuluh
darah masuk ke bronchus lalu trachea dan laring.5
Cacing dewasa berpindah-pindah tempat di daerah usus halus dan tempat
lama yang ditinggalkan mengalami perdarahan lokal. Jumlah darah yang hilang
setiap hari tergantung pada5:
(1) jumlah cacing, terutama yang secara kebetulan melekat pada mukosa
yang berdekatan dengan kapiler arteri
(2) species cacing : seekor A. duodenale yang lebih besar daripada N.
americanus mengisap 5x lebih banyak darah
(3) lamanya infeksi. Gejala klinik penyakit cacing tambang berupa anemia
yang diakibatkan oleh kehilangan darah pada usus halus secara kronik.
Terjadinya anemia tergantung pada keseimbangan zat besi dan protein

yang hilang dalam usus dan yang diserap dari makanan. Kekurangan gizi
dapat menurunkan daya tahan terhadap infeksi parasit. Beratnya penyakit
cacing tambang tergantung pada beberapa faktor, antaza lain umur,
wormload, lamanya penyakit dan keadaan gizi penderita

Gambar 1. Daur hidup cacing tambang6

1.5 Anamnesa/gejala klinis dan Pemeriksaan Fisik


Anamnesa/gejala klinis7,8

Adanya rasa gatal di tempat penetrasi/masuknya larva merupakan gejala awal


yang terjadi.

Batuk dan mengi dapat terjadi setelah satu minggu setelah terpapar cacing
diakibatkan larva yang bermigrasi ke paru-paru.

Rasa tak enak pada perut, kembung, mual, muntah, tidak nafsu makan, sering
mengeluarkan gas (flatus), dan diare merupakan gejala iritasi cacing terhadap
usus halus yang terjadi lebih kurang dua minggu setelah larva mengadakan
penetrasi ke dalam kulit.

Infeksi yang sedang sampai berat dapat menyebabkan hilangnya darah secara
bermakna, yang dapat dimanifestasikan dengan terjadinya melena. Apabila
cadangan zat besi dalam tubuh telah habis, maka gejala anemia akan tampak.
Anemia biasanya akan terjadi 10-20 minggu setelah infestasi cacing dan
walaupun diperlukan lebih dari 500 cacing dewasa untuk menimbulkan gejala
anemia tersebut tentunya bergantung pula pada keadaan gizi pasien.

Pemeriksaan Fisik7
Infeksi akut

Eritema dengan papul atau vesikel kecil akan tampak pada tempat masuknya
larva, seringkali terdapat di kaki. Seringkali terjadi selama 1-2 minggu.

Terdapatnya bekas garukan yang dapat menimbulkan terjadinya infeksi


bakterial sekunder cukup banyak ditemukan.

Wheezing yang jelas dapat terdengar apabila larva telah bermigrasi ke sistem
pulmoner.

Infeksi kronik

Pucat, chlorosis (kulit berwarna kehijauan), takikardi, dan gejala lain


kegagalan cardiac output yang disebabkan oleh anemia.

Edema yang disebabkan oleh hipoproteinemia.

Adanya tanda-tanda malnutrisi.

1.6 Pemeriksaan Penunjang/pemeriksaan laboratorium


Pemeriksaan feses dan sputum
Diagnosis pasti infeksi cacing tambang adalah dengan ditemukannya telur
A.duodenale di dalam tinja pasien. Telur cacing tambang ini biasanya lebih mudah
terdeteksi apabila jumlah di dalam tinja sebanyak 1200 telur/mL atau lebih.
Ukuran telur cacing tambang ini kira-kira sebesar 60x40 m. Metode yang umum
digunakan untuk mengidentifikasi telur cacing ini adalah teknik Kato-Katz.
(Garekar,2005)

Selain dalam tinja, larva dapat juga ditemukan dalam sputum penderita.

(Pohan,1999)

(a)

(b)

(c)

Gambar 2. (a) Telur A.duondenale; (b) Larva A.duodenale; (c) Cacing dewasa
A.duodenale8
Pemeriksaan darah lengkap
Eosinofilia pada darah tepi seringkali mengawali terjadinya infeksi cacing
tambang yang asimptomatik. Hal ini biasanya terjadi ketika larva mulai
bermigrasi ke dalam paru-paru. Selain itu, infeksi cacing tambang memiliki
karakteristik terjadinya anemia defisiensi besi (anemia hipokromik mikrositik).7
1.7 Pengobatan
Tujuan pengobatan pada infeksi cacing tambang antara lain9 :
1. Membasmi keberadaan cacing tambang yang berada di dalam tubuh manusia
2. Memperbaiki keadaan umum penderita yang diakibatkan oleh infeksi cacing
tambang yang terjadi, misalnya dengan memperbaiki anemia yang
ditimbulkan dan pemberian multivitamin.
Obat pilihan pertama untuk infeksi cacing tambang terutama yang
diakibatkan oleh A.duodenale ialah mebendazol. Selain mebendazol, terapi pilihan
yang juga dapat diberikan ialah pirantel pamoat. Antelmintik lain yang juga dapat
diberikan pada infeksi cacing tambang ialah albendazol.8

Berikut adalah antelmintik yang bisa dipakai pada pengobatan infeksi


cacing tambang yang diakibatkan oleh A.duodenale7,8,9 :
1.

Nama obat

Mebendazol

Farmakodinami
k

Mebendazol menghambat kerusakan struktur subselular dan


menghambat sekresi asetilkolinestrase cacing. Obat ini juga
menghambat ambilan glukosa secara ireversibel sehingga
terjadi pengosongan (deplesi) glikogen pada cacing. Cacing
akan mati perlahan-lahan dan hasil terapi memuaskan
setelah 3 hari pemberian obat. Obat ini juga menimbulkan
sterilitas pada cacing tambang sehingga telur gagal
berkembang menjadi larva. Tetapi larva yang sudah matang
tidak dapat dipengaruhi oleh mebendazol.

Farmakokinetik

Mebendazol hampir tidak larut dalam air dan rasanya enak.


Pada pemberian oral absorpsinya buruk. Obat ini memiliki
bioavaibilitas sistemik yang rendah, disebabkan absorsinya
yang buruk dan mengalami first pass hepatic metabolism
yang cepat. Diekskresi terutama lewat urin dalam bentuk
utuh dan metabolit sebagai hasil dekarboksilasi dalam
tempo 48 jam. Juga ditemukan metabolit dalam bentuk
konyugasi yang diekskresi bersama empedu. Absorpsi
mebendazole akan meningkat bila diberikan bersama
dengan makanan berlemak.

Dosis

Dewasa

: 2 x 100 mg selama 3 hari

Anak-anak : 2 x 100 mg selama 3 hari


Efek
samping
dan
kontraindikasi

Mebendazol tidak menyebabkan efek sistemik toksik


mungkin karena absorpsinya yang buruk sehingga aman
diberikan pada penderita dengan anemia maupun
malnutrisi. Mebendazol dikontraindikasikan pada penderita
dengan riwayat hipersensitivitas.

Interaksi

Karbamazepin dan fenitoin menurunkan efek kerja


mebendazol.
Sedangkan
simetidin
meningkatkan
konsentrasi plasma mebendazol.

Perhatian

Tidak direkomendasikan diberikan pada wanita hamil,


terutama pada trimester pertama. Pemakaian dalam jangka
waktu lama dapat menyebabkan peningkatan enzim hati.
(Garekar,2005)

2.

Nama obat

Pirantel pamoat

Farmakodinami
k

Pirantel pamoat menghambat menimbulkan depolarisasi


pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls,
sehingga cacing mati dalam keadaan spastis. Pirantel
pamoat juga berefek menghambat enzim kolinestrase
sehingga meningkatkan kontraksi otot pada cacing.

Farmakokinetik

Pirantel pamoat diabsorpsinya di usus tidak baik dan sifat


ini memperkuat efeknya yang selektif pada cacing. Ekskresi
pirantel pamoat sebagian besar bersama tinja, dan kurang
dari 15% diekskresi bersama urin dalam bentuk utuh.

Dosis

Dewasa

: 10 mg/kgBB selama 3 hari

Anak-anak : 10 mg/kgBB selama 3 hari

3.

Efek
samping
dan
kontraindikasi

Efek samping pirantel pamoat jarang, ringan dan bersifat


sementara, misalnya keluhan saluran cerna, demam, dan
sakit kepala. Penggunaan obat ini pada wanita hamil dan
anak dibawah usia 2 tahun tidak dianjurkan.
Dikontraindikasikan pada penderita penyakit hati, karena
dapat meningkatkan SGOT pada beberapa penderita.

Interaksi

Pirantel pamoat tidak boleh diberikan bersama piperazin


karena efek kerjanya berlawanan.

Perhatian

Hati-hati pada gangguan fungsi hati.

Nama obat

Albendazol

Farmakodinami
k

Obat ini bekerja dengan cara memblokir pengambilan


glukosa oleh larva maupun cacing dewasa, sehingga
persediaan glikogen menurun dan pembentukan ATP
berkurang, akibatnya cacing akan mati. Obat ini memiliki
efek membunuh telur cacing tambang.

Farmakokinetik

Pada pemberian per oral, obat ini diserap dengan cepat oleh
usus. Obat ini dimetabolisir terutama menjadi albendazol
sulfoksida dalam urin.

Dosis

Dewasa

: 400 mg (dosis tunggal)

Anak-anak : 400 mg (dosis tunggal)


Efek
samping
dan
kontraindikasi

Efek samping berupa nyeri ulu hati, diare, sakit kepala,


mual, lemah, insomnia. Pada studi toksisitas kronik dengan
hewan coba ditemukan adanya diare, anemia, hipotensi,
depresi SST, kelainan fungsi hati, fetal toxicity.
Dikontraiindikasikan untuk anak kurang dari 2 tahun,
wanita hamil, dan sirosis hati, serta riwayat
hipersensitivitas.7

Interaksi

Pemberian bersama karbamazepin dapat menurunkan


efektifitas albendazol. Deksametason, simetidin, dan
prazikuantel dapat meningkatkan toksisitas albendazol.
(Garekar,2005)

Kehamilan

Biasanya aman tapi harus dipertimbangkan manfaat-resiko

10

Perhatian

Pasien dengan gangguan fungsi hati harus benar-benar


dievaluasi sebelum diberikan terapi albendazol, sebab
albendazol dimetabolisme di hati dan memiliki efek
hepatotoksik.8

Antianemia
Antianemia yang diberikan pada penderita infeksi cacing tambang ialah
berupa suplemen zat besi. Hal ini dikarenakan infeksi cacing tambang seringkali
mengakibatkan terjadinya penurunan zat besi secara berlebihan.
Sejumlah besar preparat besi tersedia di pasaran. Karena besi dalam
bentuk fero paling diabsorpsi maka hanya garam fero yang digunakan. Fero sulfat,
fero glukonat, dan fero fumarat semua efektif dan tidak mahal serta
direkomendasikan pada pasien. Tambahan vitamin C atau zat makanan lain pada
umumnya tidak perlu. Preparat besi bentuk lepas lambat dan salut enterik jangan
digunakan, karena besi paling baik diabsorpsi di duodenum dan jejunum
proksimal.9
Garam besi yang berbeda menyediakan besi bebas dalam jumlah yang
berbeda-beda. Pada individu yang defisiensi besi, kira-kira 50-100 mg besi dapat
bergabung ke dalam hemoglobin harian, dan kira-kira 25% besi yang diberikan
per oral sebagai garam besi dapat diabsorpsi. Karena itu, 200-400 mg besi bebas
harus diberikan setiap hari untuk memperbaiki defisiensi besi paling cepat.9
Tabel 1. Rekomendasi preparat besi per oral yang paling sering digunakan9
Preparat

Ukuran
tablet

Besi bebas per


tablet

Dosis Dewasa
(tablet per hari)

Fero sulfat, terhidrasi

325 mg

65 mg

3-4

Fero sulfat, terdesikasi

200 mg

65 mg

3-4

11

Fero glukonat

320 mg

37 mg

3-4

Fero fumarat

200 mg

66 mg

3-4

Fero fumarat

325 mg

106 mg

2-3

Pasien dengan besi per oral harus dilanjutkan untuk 3-6 bulan. Ini tidak
hanya memperbaiki anemianya tetapi juga untuk mengisi kembali besi cadangan.
Respons pertama yang dapat diukur sebagai hasil terapi berhasil dapat dilihat
kurang dari seminggu. Efek samping umum dari terapi besi per oral antara lain
mual, rasa tidak enak epigastrium, kejang perut, konstipasi, dan diare. Efek
samping ini biasanya berhubungan dengan dosis dan dapat diatasi dengan
menurunkan dosis harian atau makan tablet segera setelah atau bersama-sama
makanan. Beberapa pasien mengalami efek samping gastrointestinal yang ringan
dengan salah satu garam besi dibandingkan dengan yang lain dan mendapat
keuntungan dengan mengganti preparat.9
1.

Nama preparat besi

Fero sulfat

Indikasi

Anemia defisiensi besi

Dosis

Dewasa : 2-3 x 300 mg selama 6 bulan setelah makan.


(Depkes,2000)

2.

Efek samping

Iritasi saluran cerna, mual, nyeri epigastrik, konstipasi,


tinja berwarna hitam.(Depkes,2000)

Nama preparat besi

Fero fumarat

Indikasi

Anemia defisiensi besi

Dosis

Dewasa

: 3 x 200-400 mg

Bayi

: 0,6 2,4 ml/kg/hr (sirup)

Anak

: 2,5 5 ml/kg/hr (sirup) (Depkes,2000)

Efek samping

Iritasi saluran cerna, mual, nyeri epigastrik, konstipasi,

12

tinja berwarna hitam.(Depkes,2000)


3.

Nama preparat besi

Fero glukonat

Indikasi

Anemia defisiensi besi

Dosis

Dewasa

: 600-800 mg/hr dosis terbagi(Sukarban,1995)

Anak

: 300 mg/hr dosis terbagi (Depkes,2000)

Efek samping

Iritasi saluran cerna, mual, nyeri epigastrik, konstipasi,


tinja berwarna hitam.(Depkes,2000)

Multivitamin
Vitamin B Kompleks
Vitamin B Kompleks menyediakan intake untuk absorbsi vitamin B1, B6,
B12, niasin, asam pantotenat, biotin, kolin, inositol, asam paraamino benzoat, dan
asam folat.8

1.8 Prognosis
Prognosis pada infeksi cacing tambang akan baik apabila terapi
antelmintik dan terapi zat besi diberikan secara tepat. Selain itu, perbaikan anemia
dan malnutrisi yang adekuat juga mendukung perbaikan pada infeksi cacing
tambang ini. Akan tetapi, dilaporkan beberapa kasus penurunan fungsi
intelegensia pada penderita yang mengalami infeksi cacing tambang.10
DAFTAR PUSTAKA

1. Chan MS, Bradley M, Bundy DAP. Transmission patterns and the


epidemiology of hookworm infection. Int J Epidemiol 2008; 26(6):1392-40

13

2. Albonico M, Stolzful RJ, Savioli, Tielsch JM, Chwaya HM et al.


Epidemiological evidence for a differential effect of hookworm species,
Ancylostoma duodenale or Necator americanus, on iron status of children. Int
J Epidemiol 1998; 27:530-7
3. Held MR, Bungiro RD, Harrison LM, Hamza I, Cappello M. Dietary iron
content mediates hookworm pathogenesis in vivo. Am J Clin Nutr 2006;
74(1):289-95
4. Montressor A, Savioli L. Ankylostomiasis. Orphanet Encyclopedia 2004.
(online) Available from: URL:http://www.orpha.net
5. Watson C, Hickey PW. Hookwor infection. eMedicine J 2006. (online)
Available from: URL:http://www.emedicine.com
6. Garekar S, Asmar B. Ancylostoma infection. eMedicine J 2005. (online)
Available from: URL:http://www.emedicine.com
7. Pohan HT. Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1996
8. Sukarban S, Santoso SO. Antelmintik dalam Farmakologi dan Terapi Edisi 4.
Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI, 1995
9. Ries CA, Santi DV. Obat-obat yang digunakan pada anemia; faktor-fator
pertumbuhan hematopoitieik dalam Farmakologi Dasar Dan Klinik edisi 6.
Jakarta: EGC, 1998
10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Sagung
Seto, 2000

14

15

Anda mungkin juga menyukai