Anda di halaman 1dari 60

Tax Amnesty Dalam Rangka Rekonsiliasi

Nasional (Bagian 1)
Darussalam, SE, Ak, CA, MSi, LLM Int.Tax
Managing Partner, DANNY DARUSSALAM Tax Center

Rabu, 30 November -0001 | 00:00 WIB


Ikuti

Gedung kantor Pusat Dirjen Pajak (harianaceh.com)

Indonesia memiliki berbagai permasalahan perpajakan yang umumnya juga ditemui di negara
lain, misalnya rendahnya kepatuhan pajak, rendahnya penerimaan pajak, hingga rendahnya
kapasitas lembaga administrasi perpajakan.[2]Di banyak negara, persoalan-persoalan tersebut
diatasi dengan berbagai skema kebijakan, salah satunya dengan melaksanakan tax amnesty.
[3]Bahkan, dalam kurun waktu 1989-2009, hampir 40 negara bagian di Amerika Serikat telah
memberikan tax amnesty dalam berbagai bentuk.[4]
Program tax amnesty telah dilakukan di banyak negara di dunia ini, baik oleh negara maju
maupun negara berkembang dengan berbagai cerita sukses maupun kegagalan. India (1997),
Irlandia (1988), dan Italia (1982, 1984, dan 2001/2002) adalah contoh negara yang sukses
menyelenggarakan program pengampunan pajak. Sedangkan Argentina (1987) dan Prancis (1982
dan 1986) adalah contoh negara yang gagal dalam program pengampunan pajak.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa tax amnesty merupakan sebuah isu yang
kontroversial dalam dunia perpajakan. Asumsi kontroversial yang mendasari tax amnesty adalah
dihapuskannya pokokpajak, sanksi administrasi dan/atau pidanapajak atas ketidakpatuhan yang
telah dilakukan oleh wajib pajak di masa lalu demi peningkatan kepatuhan di masa yang akan
datang. Di satu sisi, tax amnesty dipandang sebagai jalan keluar untuk meningkatkan penerimaan
di masa yang akan datang karena tax amnesty memberikan kesempatan kepada wajib pajak untuk
masuk atau kembali ke dalam sistem administrasi perpajakan yang berdampak pada peningkatan
penerimaan di masa yang akan datang. Namun, di sisi lain, tax amnesty dapat mengurangi tingkat
kepatuhan di masa yang akan datang jika wajib pajak tetap mempertahankan ketidakpatuhannya
setelah program tax amnesty berakhir sembari berharap akan adanya program tax amnesty di
masa yang akan datang.
Tulisan ini akan membahas gambaran umum yang terkait dengan tax amnesty dan perilaku wajib
pajak sebelum dan setelah adanya tax amnesty serta mengkaitkannya dengan kondisi di
Indonesia.
Konsep dan Justifikasi Tax Amnesty
Baer dan LeBorgne, sebagaimana dikutip oleh Mikesell dan Ross, mendefinisikan tax
amnesty sebagai:
a limited-time offer by the government to a specified group of taxpayers to pay a defined
amount, in exchange for forgiveness of a tax liability (including interest and penalties), relating to
a previous tax period(s), as well as freedom of legal prosecution[5]
Sementara, Jacques Malherbe mengartikan tax amnesty seperti berikut ini:
the possibility of paying taxes in exchange for the forgiveness of the amount of the tax liability
(including interest and penalties), the waiver of criminal tax prosecution, and limitations to audit
tax determinations for a period of time[6]
Dari definisi di atas, selain memberikan pengampunan untuk sanksi administrasi, tax
amnesty juga dimaksudkan untuk menghapuskan sanksi pidana. Tax amnesty juga dapat
diberikan kepada pelaporan sukarela data kekayaan wajib pajak yang tidak dilaporkan di masa
sebelumnya tanpa harus membayar pajak yang mungkin belum dibayar sebelumnya. Dalam
menetapkan perlu tidaknya tax amnesty, perlu dipertimbangkan apa yang menjadi justifikasi
dari tax amnesty dan hingga batas mana tax amnesty dapat dijustifikasi.

Pada umumnya, pemberian tax amnesty bertujuan untuk:


1. Meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek
Permasalahan penerimaan pajak yang stagnan atau cenderung menurun seringkali menjadi alasan
pembenar diberikannya tax amnesty.[7] Hal ini berdampak pada keinginan pemerintah yang
berkuasa untuk memberikantax amnesty dengan harapan pajak yang dibayar oleh wajib pajak
selama program tax amnesty akan meningkatkan penerimaan pajak. Meski demikian, peningkatan
penerimaan pajak dari program tax amnesty ini mungkin saja hanya terjadi selama program tax
amnesty dilaksanakan mengingat wajib pajak bisa saja kembali kepada perilaku ketidapatuhannya
setelah program tax amnesty berakhir. Dalam jangka panjang, pemberian tax amnesty tidak
memberikan banyak pengaruh yang permanen terhadap penerimaan pajak jika tidak dilengkapi
dengan program peningkatan kepatuhan dan pengawasan kewajiban perpajakan.[8]
2. Meningkatkan kepatuhan pajak di masa yang akan datang
Permasalahan kepatuhan pajak merupakan salah satu penyebab pemberian tax amnesty. Para
pendukung tax amnesty umumnya berpendapat bahwa kepatuhan sukarela akan meningkat
setelah program tax amnestydilakukan.[9]Hal ini didasari pada harapan bahwa setelah
program tax amnesty dilakukan wajib pajak yang sebelumnya belum menjadi bagian dari sistem
administrasi perpajakan akan masuk menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan. Dengan
menjadi bagian dari sistem administrasi perpajakan, maka wajib pajak tersebut tidak akan bisa
mengelak dan menghindar dari kewajiban perpajakannya.[10]
3. Mendorong repatriasi modal atau aset
Kejujuran dalam pelaporan sukarela atas data harta kekayaansetelah program tax
amnestymerupakan salah satu tujuan pemberian tax amnesty. Dalam konteks pelaporan data harta
kekayaan tersebut, pemberian tax amnestyjuga bertujuan untuk mengembalikan modal yang
parkir di luar negeri tanpa perlu membayar pajak atas modal yang di parkir di luar negeri tersebut.
Pemberian tax amnesty atas pengembalian modal yang di parkir di luar negeri ke bank di dalam
negeri dipandang perlu karenaakan memudahkan otoritas pajak dalam meminta informasi tentang
data kekayaan wajib pajak kepada bank di dalam negeri.[11]
4. Transisi ke sistem perpajakan yang baru
Tax amnesty dapat dijustifikasi ketika tax amnesty digunakan sebagai alat transisi menuju sistem
perpajakan yang baru.[12] Dalam konteks ini, tax amnesty menjadi instrumen dalam rangka

memfasilitasi reformasi perpajakan dan sebagai kompensasi atas penerimaan pajak yang
berpotensi hilang dari transisi ke sistem perpajakan yang baru tersebut.
Walau demikian, keempat tujuan pemberian tax amnesty di atas tidak memperhatikan isu nondiskriminasi antara tax evaders dan honest taxpayers dalam menentukan perlu tidaknya
pemberian tax amnesty. Secara khusus, permasalahan ini dapat dijabarkan menjadi
apakah dishonest taxpayers atau tax evaders memperoleh perlakuan yang lebih baik
daripada honest taxpayers, atau apakah dishonest taxpayers mendapatkan keuntungan dari
perilakunya menggelapkan pajak.
Jika jawaban atas pertanyaan tersebut bernada positif, maka pertanyaan selanjutnya adalah
apakah keuntungan tersebut dapat dijustifikasi?
Untuk menentukan apakah terdapat perlakuan yang berbeda (diskriminasi) antara tax evaders
dan honest taxpayers, perlu diperhatikan seberapa besar insentif yang diberikan kepada tax
evaders atas tindakan mereka melakukan pengungkapansecarasukarela (voluntary disclosure).
Sepanjang tax amnesty hanya menghapus seluruh atau sebagian sanksi administrasi,dan tax
evaders masih harus membayar kewajiban pajak dan bunga atas keterlambatan pembayaran,
maka tax evaders mendapat perlakuan yang sama jika dibandingkan denganhonest taxpayers
karena keduanya menanggung beban pajak yang sama atas kewajiban perpajakan mereka masingmasing.
Pengurangan sanksi merupakan bentuk pemberian tax amnesty atas pengungkapan yang
dilakukan oleh tax evaders terkait penghasilan yang tidak dilaporkannya. Akan tetapi, jika tax
amnesty juga menghapus bunga atas keterlambatan pembayaran dan bahkan juga kewajiban
pajak, maka tax evaders telah mendapat perlakuan yang lebih menguntungkan dibandingkan
dengan honest taxpayers.[13]
Walau tax amnesty memberikan pembebasan atas bunga keterlambatan pembayaran dan
kewajiban pajak daritax evaders, perlakuan yang berbeda dan lebih menguntungkan ini juga perlu
untuk dijustifikasi. Justifikasi atas perlakuan tersebut dapat dibingkai dalam konteks perubahan
sistem pajak dengan meningkatkan kemungkinan terdeteksinya perilaku tax evaders dalam
menyembunyikan penghasilan atau asetnya di masa yang akan datang. Di samping itu, hal ini
dapat dilihat sebagai bantuan kepada tax evaders untuk kembali ke dalam sistem administrasi
perpajakan.
Lebih lanjut, diskriminasi juga dapat dijustifikasi berdasarkan pertimbangan fiskal dan ekonomi.
Dalam hal ini,taxamnesty terjustifikasi karena terlepas dari seberapa banyak tax

evaders berpartisipasi dalam tax amnesty, tax amnesty memberikan perlakuan yang adil
kepadasemuawajibpajakdi masa yang akan datang karena seluruh beban pajak akan dialokasikan
sesuai dengan kemampuan ekonomis dari setiap wajib pajak.
KarakteristikTax Amnesty
Definisi tax amnesty sebagaimana telah disebutkan di atas memberikan gambaran tentang
karakteristik dari suatu program tax amnesty, yaitu:
1. Durasi
Secara umum, program tax amnesty berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu, dan
umumnya berjalan selama 2 bulan hingga 1 tahun.[14] Untuk mendukung berhasilnya
program tax amnesty, hal yang perlu ditekankan adalah luasnya publisitas dan promosi
program tax amnesty serta tersampaikannya pesan bahwa wajib pajak hanya memiliki
kesempatan sekali ini saja untuk memperoleh pengampunan atas pajak yang terutang, bunga,
dan/atau sanksi administrasi.
Menurut Benno Torgler dan Christoph A. Schaltegger,[15] pengampunan pajak sebaiknya
diberikan hanya sekali saja dalam suatu generasi (once per generation). Pengampunan pajak yang
diberikan berkali-kali menyebabkan wajib pajak akan selalu menunggu program pengampunan
pajak berikutnya dan ini akan mendorong wajib pajak untuk tidak menjalankan kewajiban
pajaknya dengan benar. Oleh karena itu, apabila pemerintah akan memberikan tax amnestymaka
tidak boleh ada isu tentang program pengampunan pajak jilid berikutnya.
2. Kelompok wajib pajak
Secara umum, setiap wajib pajak yang belum menunaikan kewajiban perpajakannya
diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam program tax amnesty.[16] Artinya, program tax
amnesty ini ditujukan kepada wajib pajak yang telah berada dalam sistem administrasi perpajakan
dan wajib pajak yang belum masuk dalam sistem administrasi perpajakan.
Perlakuan yang berbeda dimungkinkan ketika wajib pajak yang hendak berpartisipasi dalam
program tax amnesty telah diperiksa atau sedang dalam proses pemeriksaan. Dalam hal ini, wajib
pajak yang telah diperiksa atau sedang dalam proses pemeriksaan tersebut tidak diperbolehkan
berpartisipasi dalam program tax amnestykarena jumlah tunggakan pajaknya telah diketahui oleh
otoritas pajak. Wajib pajak juga dapat diberikan pengampunan jika ketentuan peraturan
perundang-undangan menyatakan wajib pajak yang mengungkapkan kewajiban perpajakan atau

harta kekayaannya secara sukarela berhak mendapatkan penurunan atau penghapusan sanksi
administrasi.
3. Jenis pajak dan jumlah pajak atau sanksi administrasi yang diberikan ampunan
Ketentuan tentang tax amnesty harus menspesifikasi pajak apa saja yang diberikan ampunan.
Pada umumnya, pajak yang diberikan ampunan hanya bersumber dari satu jenis pajak atau satu
kategori subjek pajak saja,[17]misalnya tax amnesty hanya diberikan pada pajak penghasilan
orang pribadi saja tidak termasuk pajak penghasilan badan, atau program tax amnesty hanya
dikhususkan kepada pajak bumi dan bangunan saja.
Perkembangan terkini di beberapa negara menunjukkan program tax amnesty juga diberikan
secara spesifik kepada harta kekayaan yang ditempatkan di luar negeri yang belum dilaporkan
oleh wajib pajak. termasuk harta kekayaan yang direpatriasi ke dalam negeri. Program tax
amnesty yang diberikan secara khusus ini umumnya disertai dengan pembebasan atau
pengurangan pajak atas penghasilan yang belum dilaporkan yang bersumber dari harta kekayaan
di luar negeri tersebut.[18]
Selain itu, jumlah pajak yang belum dibayar dan sanksi administrasi yang diberikan ampunan
harus ditentukan dalam ketentuan tax amnesty. Pada umumnya, jumlah yang diberikan ampunan
dapat berupa:[19]

Seluruh atau sebagian dari jumlah pajak yang terutang;

Seluruh atau sebagian dari jumlah sanksi administrasi;

Pembebasan dari sanksi pidana;

Pemberian fasilitas angsuran.


Secara umum, tax amnesty mensyaratkan wajib pajak untuk tetap membayar seluruh pajak yang
terutang. Walau demikian, perhitungan pajak yang terutang tersebut dapat saja didasarkan pada
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku pada saat program tax
amnesty dilaksanakan.[20] Sementara pemberian ampunan atas sanksi administrasi dan
pembebasan dari sanksi pidana merupakan hal yang umum diberikan di banyak program tax
amnesty.
EfektivitasTax Amnesty

Keberhasilan program tax amnesty bergantung kepadadua hal. Pertama, seberapa cepat dan
menyakinkannya otoritas pajak dalam menjalankan progam tersebut.[1] Dengan kata lain,
program tax amnesty akan efektif apabila dilakukan secara mendadak dan tidak dapat diantisipasi
oleh wajib pajak. Sebagai ilustrasi, jika program ini sudah diketahui misal 1 tahun sebelum
diluncurkan, maka terdapat kecenderungan dari wajib pajak untuk tidak patuh karena menunggu
akan pengampunan.Kedua, kredibilitas dan reputasi administrasi perpajakanatas aspek penegakan
hukum pajak. Untuk mencapai tujuan jangka panjang, ada beberapa kondisi yang perlu dipenuhi
seperti teknologi yang lebih modern (termasuk peningkatan penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi untuk meningkatkan kemampuan petugas pajak untuk melakukan pemeriksaan
pajak), kepemimpinan politik, serta kebijakan dan peraturan pemerintah.
Pada umumnya, sebagian besar ahli perpajakan berpendapat bahwa tax amnesty merupakan cara
yang mujarab untuk meningkatkan kepatuhan pajak. Walau demikian, ada juga kekhawatiran
bahwa tax amnesty dapat melemahkan kepatuhan pajak, terutama jika orang berharap
bahwa tax amnesty mungkin akan datang lagi di masa depan.[2] Untuk alasan ini, banyak ahli
tidak menyarankan pelaksanaan tax amnesty secara berulang dalam waktu yang sangat
berdekatan. Selain itu, kepatuhan pajak juga dapat meningkat selama beberapa prasyarat
terpenuhi, seperti: adanya sanksi yang tegas dan sistem untuk mendeteksi penggelapan pajak.
Prasyarat tersebut berangkat dari model penggelapan pajak yang dibangun oleh Michael G.
Allingham dan Agnar Sandmo (dikenaldengannamaA-S Model)[3]. Pendekatan ekonomi
tradisional tersebut dalam konteks kepatuhan pajak mengasumsikan bahwa wajib pajak
membayar pajak berdasarkan karenaadanyasanksi dan kemungkinan akan terdeteksi apabila
mencoba melakukan penyelundupan pajak.
Dalam ilmu behavioral economics, faktor-faktor seperti keadilan, rasa memiliki (keterikatan), dan
keyakinan bahwa pajak yang diterima oleh pemerintah akan digunakan dengan benar juga
berkontribusi dalam meningkatkan kepatuhan pajak. Jika pemerintah membuat sistem pajak lebih
adil, meningkatkan rasa memiliki pembayar pajak (membangun identitas dengan komunitas yang
lebih besar), dan menunjukkan bahwa uang pajak akan digunakan untuk hal-hal produktif;
kepatuhan pajak akan meningkat tanpa melakukan insentif ekonomi.[4] Dengan demikian, upaya
meningkatkan insentif non-ekonomi -bahkan mengurangi ukuran hukuman- dapat meningkatkan
kadar kepatuhan pajak.
Dari perspektif tradisional dan behavioral economics tersebut, tax
amnesty memilikiargumentasipendukungnya.Di satu sisi, dengan adanya tax amnesty pemerintah
dapat memberikan sinyalemen kepada wajib pajak bahwa ada suatu kepercayaan dan kemauan
untuk mengesampingkan dosa masa lalu dari wajib pajak (sekaligus juga menyiratkan
pengakuan atas kesalahan otoritas pajak di masa lalu). Hal ini dapat mendorong adanya

partisipasi maupun rasa memiliki. Apalagi jika disertai dengan sosialisasi atas pemahaman
penggunaan uang pajak. Berikutnya, adanya penguatan kapasitas administrasi perpajakan yang
bersumber dari kerangka model ekonomi tradisional (A-S Model). Tanpa adanya reformasi di
tubuh otoritas pajak, pemerintah akan membuang kesempatan untuk mempertahankan tingkat
kepatuhan pasca-tax amnesty. Seringkali, tax amnestymemberikan lonjakan partisipasi wajib
pajak, namun tidak mampu dikelola secara berkelanjutan. Dengan adanya perbaikan kapasitas
kelembagaan otoritas pajak, secara tidak langsung, pemerintah mengirimkan pesan bahwa:
setelah tax amnesty, hukum perpajakan akan ditegakkan secara ketat.
Lebih lanjut lagi, manusia sebagai makhluk rasional akan selalu menimbang aspek biaya dan
manfaat dari keputusan untuk patuh terhadap hukum pajak. Setiap manusia akan memaksimisasi
kepuasannya disesuaikan dengan kewajiban membayar pajak dan biaya yang dikeluarkan untuk
patuh. Dengan adanya upaya reformasi dan peningkatan kapasitas kelembagaan otoritas
pajak, tax amnesty akan memberikan (dis)insentif untuk (tidak) patuh.[5]
Kebutuhan Tax Amnesty di Indonesia
Sejak orde baru digantikan dengan orde reformasi, reformasi perpajakan di Indonesia masih
berfokus pada reformasi administrasi perpajakan. Adapun tujuan dari reformasi administrasi
perpajakan tersebut adalah untuk menciptakan trust kepada lembaga Direktorat Jenderal Pajak
(DJP), meningkatkan produktivitas dan akuntabilitas pegawai, serta memperbaiki upaya
kepatuhan perpajakan.
Hasil dari reformasi administrasi perpajakan adalah peningkatan jumlah wajib pajak secara
signifikan. Sunset Policy, program tax amnestyataspenghapusansanksiadministrasi, yang
diberlakukan pada tahun 2008 turut berkontribusi dalam peningkatan jumlah wajib pajak.[6] Pada
saat program Sunset Policy diberlakukan di tahun 2008, terdapat peningkatan jumlah wajib pajak
sebanyak 5.365.128. Sementara tambahan penerimaan pajak dari program tersebut sebanyak Rp
7,46 triliun. Namun demikian, pada tahun 2009, jumlah wajib pajak yang tidak menyampaikan
Surat Pemberitahuan Tahunan mencapai 47,39% dari total wajib pajak sebanyak 15.469.590. Hal
ini menunjukkan rendahnya tingkat kepatuhan dan kemungkinan wajib pajak kembali ke perilaku
ketidakpatuhan.
Pengungkapan ketidakbenaran melalui pembetulan Surat Pemberitahuan dapat dipersamakan
dengan pengungkapan secara sukarela (voluntary disclosure) yang saat ini berdampak pada sanksi
administrasi atas jumlah pajak yang kurang dibayar. Ketentuan tentang besarnya sanksi
administrasi atas jumlah pajak yang kurang dibayar dalam pengungkapan ketidakbenaran melalui

pembetulan Surat Pemberitahuan dapat dipertimbangkan untuk diubah agar dapat mendorong
perilaku wajib pajak menuju kepatuhan melalui pengungkapan secara sukarela.
Otoritas pajak perlu membangun database bagi wajib pajak yang berpartisipasi dalam
program tax amnesty. Informasi wajib pajak yang tersimpan dalam database ini akan berpengaruh
pada aktivitas pengawasan di masa yang akan datang.
Selain itu, faktor lain yang perlu dipertimbangkan antara lain, tax amnesty memerlukan publikasi
yang luas di media. Sebagai contoh, India ketika mengkampanyekan program tax amnesty nya di
tahun 1997 Slogan yang dipakai adalah 30 percent taxes, 100 percentpeace of mind yang
membawa lebih dari 350.000 wajib pajak turut serta dalam program pengampunan pajak dengan
jumlah pemasukan pajak sebesar US $ 2,5 milyar atau saat ini setara dengan Rp 22,5 triliun.[7]
Pada saat negara kita mengadakan program pengampunan sanksi pajak (sunset policy), juga
menerapkan slogan Anda ingin tidur nyenyak? Manfaatkan fasilitas sunset policy sekarang
juga, demikian slogan yang disebarluaskan oleh pemerintah dalam menjaring wajib pajak yang
belum mematuhi kewajiban perpajakannya untuk ikut serta dalam program sunset policy.
Selain itu, Publikasi di media ini harus menekankan rencana-rencana otoritas pajak setelah
program tax amnesty, misalnya peningkatan pemeriksaan pajak setelah program tax
amnesty berakhir. Meskipun peningkatan pemeriksaan akan berdampak pada peningkatan biaya
administrasi, namun hal ini merupakan cara termurah untuk membuat jera tax evaders. Hal ini
juga dapat disebabkan setelah program tax amnesty berakhir,tax evaders mungkin saja kembali ke
tindakan mereka menggelapkan pajak. Untuk melengkapi deteksi kewajiban pajak setelah
program tax amnesty berakhir, periode pemeriksaan atas kewajiban perpajakan dapat saja
diperluas, misalnya dengan memperpanjang kadaluwarsa pidana pajak dan penagihan pajak.
Peningkatan pengawasan kewajiban perpajakan setelah program tax amnesty merupakan kunci
dari suksesnya program tax amnesty. Pengawasan kewajiban perpajakan setelah
program tax amnesty dapat meningkatkan penerimaan negara melalui pemeriksaan atas wajib
pajak yang masih menggelapkan pajak setelah program taxamnesty berakhir. Untuk itu, otoritas
pajak sebaiknya menyampaikan pesan kepada para tax evaders bahwa mereka tidak akan
menerima ketidakpatuhan tax evaders tersebut di masa yang akan datang. Selain itu, hal ini juga
dapat mengubah pendapat wajib pajak bahwa otoritas pajak tidak sepenuhnya melakukan
penegakan hukum pajak. Tax evaders mungkin juga akan mengubah perilakunya di masa yang
akan datang karena besar kemungkinan perilaku mereka akan terdeteksi di kemudian hari.

Selain Sunset Policy, Indonesia juga pernah mengeluarkan program pengampunan pajak yaitu
melalui Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1984 tanggal 18 April 1984. Pengampunan pajak ini
diberikan kepada Wajib Pajak orang pribadi atau badan dengan nama dan dalam bentuk apapun
baik yang telah maupun yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak diberi kesempatan untuk
mendapatkan pengampunan pajak.
Pengampunan pajak tersebut diberikan atas pajak-pajak yang belum pernah atau belum
sepenuhnya dikenakan atau dipungut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun bentuk pengampunannya dikenakan tebusan dengan tarif:
1.

1% (satupersen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung jumlah
pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal ditetapkannya
Keputusan Presiden ini telah memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak Pendapatan/Pajak
Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984;

2.

10% (sepuluhpersen) dari jumlah kekayaan yang dijadikan dasar untuk menghitung
jumlah pajak yang dimintakan pengampunan, bagi Wajib Pajak yang pada tanggal ditetapkannya
Keputusan Presiden ini belum memasukkan Surat Pemberitahuan Pajak Pendapatan/Pajak
Perseroan tahun 1983 dan Pajak Kekayaan tahun 1984.
Kesimpulan
Indonesia dapat mempertimbangkan untuk melakukan tax amnesty dalam berbagai bentuknya
untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Tax amnesty ini juga dapat dipandang sebagai
rekonsilisasi nasional untuk menghapus masa lalu wajib pajak yang tidakpatuh dan perilaku
otoritas pajak yang melanggar aturan.Tax amnesty akan berhasil jika terdapat justifikasi yang
kuat kenapa perlu adanya tax amnesty. Tax amnesty harus dipublikasikan secara masif dengan
pesan agar para penggelap pajak untuk ikut karena setelah tax amnesty akan diberlakukan sanksi
yang tegas bagi mereka yang tidak patuh. Untuk itu, diperlukan juga reformasi kelembagaan DJP
secara bersamaan untuk dapat mendeteksi kecuarangan wajib pajak pasca pemberlakuan tax
amnesty. Disamping itu, untuk membangun kepatuhan sukarela untuk membayar pajak pasca tax
amnesty diharuskan adanya transparansi penggunaan uang pajak (anggaran) serta alokasinya
yang tepat sasaran dan berkeadilan.

[1]

Lihat PeterStella,AnEconomic Analysis of Tax Amnesties, Journal of Public Economics,

Vol. 46, (1989): 338-400.


[2]

Lihat James Andreoni,The Desirability of a Permanent Tax Amnesty, Journal of Public

Economics, Vol 45, (1991): 143-159.


[3]

LihatMichael AllinghamdanAgnarSandmo,Income Tax Evasion: A Theoretical

Analysis, Journal of Public Economics(1972): 323-338.


[4]
[5]

Morris Altman, Behavioral Economics, A Willey Brand, (2012).


Hal inimempertimbangkananalisiskeputusanantar-waktu (inter-temporal)

dariindividuatasadanyatax amnesty. LihatLampiranuntukpenjelasan model.


[6]

Yond Rizal, Lessons from Indonesian Tax Administration Reform Phase 1 (2001-2008):

Does Good Governance Matter?


[7]Benno Torgler dan Christoph A. Schaltegger, Tax Amnesties in Switzerland and Around the
World, Tax Notes International, (Juni 27, 2005): 1194.

Upaya Transisi Menuju Era Transparansi


Perpajakan Global
Darussalam, SE, Ak, CA, MSi, LLM Int.Tax
Managing Partner, DANNY DARUSSALAM Tax Center

Jumat, 10 April 2015 | 06:00 WIB


Ikuti

Kantor Pajak

Lanskap Internasional
Pada tahun 2013, komunitas perpajakan global sepakat untuk mengadopsi perubahan besar dalam
kebijakan perpajakan global yaitu pertukaran informasi perpajakan secara otomatis.
[2] Kesepakatan ini diwujudkan di tahun 2014, di mana OECD merilis standar pertukaran
informasi keuangan secara otomatis. Standar ini mengganti standar pertukaran informasi
sebelumnya yaitu pertukaran informasi berdasarkan permintaan dan menjadi suatuterobosan
dalam menghadapi keterbatasan pada standar pertukaran informasi berdasarkan permintaan.
Standar baru ini mewajibkan institusi keuangan untuk melaporkan informasi akun keuangan yang
dimiliki oleh wajib pajak luar negeri kepada otoritas pajak tempat mereka berdomisili. Otoritas
pajak tempat domisili insitusi keuangan itu kemudian mentransmit informasi tersebut kepada
negara domisili dari pemegang akun.
Rezim transparansi perpajakan global melalui standar pertukaran informasi secara otomatis ini
didukung oleh banyak negara dalam periode yang tergolong singkat. Lebih dari 90 negara
berkomitmen untuk menerapkan standar baru ini, dan pertukaran informasi secara otomatis
diharapkan akan segera terwujud pada tahun 2017 atau 2018.[3] Negara-negara yang
berkomitmen dalam menerapkan standar ini diantaranya, Swiss, Singapura, dan negara-negara
yang terasosiasi dengan Kerajaan Inggris.
Dengan demikian, kini tiba saatnya bagi era baru dalam transparansi perpajakan global di mana
negara-negara akan memperoleh informasi secara rutin dan otomatis atas aset atau penghasilan
milik wajib pajak dalam negeri mereka yang ditempatkan di luar negeri.

"Tawaran tax amnesty yang ditujukan kepada aset dan


penghasilan yang tidak dilaporkan oleh wajib pajak dapat
memfasilitasi kepatuhan dalam jangka panjang dan
mendorong efisiensi dalam rangka peningkatan penerimaan
pajak"
Langkah awal dari pertukaran informasi secara otomatis ini tidak dapat dilepaskan dengan
desakan global untuk mengeliminasi kerahasian bank untuk tujuan perpajakan.[4] Dalam
perkembangannya, forum global untuk pertukaran informasi perpajakan dibentuk, dan Indonesia
terlibat aktif dalam forum tersebut.Sebagai negara anggota G20, Indonesia turut mendukung dan
berkomitmen penuh untuk mengimplementasikan standar pertukaran informasi untuk tujuan
perpajakan secara otomatis tersebut.
Era baru dalam transparansi perpajakan global ini menimbulkan tantangan tersendiri. Tantangan
terbesar adalah upaya apa yang harus dilakukan dalam transisi menuju ke era baru dalam
transparansi perpajakan global.[5] Dengan standar baru ini, aset dan penghasilan yang berada di
luar negeri yang belum pernah dilaporkan akan diketahui oleh otoritas pajak. Tentu saja, timbul
pertanyaan, kapan dan bagaimana aset tersebut dipindahkan ke luar negeri untuk pertama kali.
Karena itu, diperlukan suatu terobosan untuk menyelesaikan kewajiban pajak di masa lalu akibat
tidak dilaporkannya aset dan penghasilan di luar negeri.
Isu tax amnesty untuk mengampuni kewajiban pajak di masa lalu menjadi relevan untuk
dipertimbangkan sebagai jembatan transisi menuju era baru ini.Hal ini penting mengingat
tujuan dari kebijakan transisi ini adalah untuk mendorong wajib pajak yang sebelumnya tidak
patuh menjadi patuh di masa yang akan datang. Kelemahan administrasi perpajakan selama ini
atas informasi aset dan penghasilan di luar negeri merupakan bahan pertimbangan lainnya untuk
menerapkan kebijakan tax amnesty.
Tawaran tax amnesty yang ditujukan kepada aset dan penghasilan yang tidak dilaporkan oleh
wajib pajak dapat memfasilitasi kepatuhan dalam jangka panjang dan mendorong efisiensi dalam
rangka peningkatan penerimaan pajak.[6] Tax amnesty juga dapat ditujukan untuk merepatriasi
aset yang diinvestasikan di luar negeri.[7]
Tren untuk memberikan ampunan atas penghasilan atau aset di luar negeri yang tidak dilaporkan
ini mulai diadopsi oleh beberapa negara.Di India, Perdana Menteri Narendra Modi merencanakan
untuk memberikan pengampunan atas sanksi pidana terhadap aset yang disembunyikan luar
negeri oleh wajib pajak India.[8]Pengampunan hanya diberikan atas sanksi pidana, sehingga
wajib pajak India diwajibkan untuk membayar pajak yang terutang dan sanksi administrasi.

Sementara Italia terakhir menerapkan tax amnesty atas aset yang disembunyikan di luar negeri
pada tahun 2009.[9] Berdasarkan perhitungan Global Financial Integrity, selama tahun 20032012, jumlah illicit financial flows oleh wajib pajak India adalah sebesar USD 439,587 juta.
Sementara itu, menurut perhitungan Global Financial Integrity, selama tahun 2003-2012
Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah illicit financial flows kumulatif terbesar
yaitu sebesar USD 187,844 juta.[10]
Desain Umum Ketentuan Tax Amnesty
Pada umumnya, fitur-fitur dalam desain ketentuan tax amnesty terdiri dari siapa yang menjadi
target dari tax amnesty, pajak apa saja yang termasuk dalam ruang lingkup tax amnesty, apa saja
yang diampuni, prasyarat tax amnesty ke depan, durasi dan dasar hukum tax amnesty. Fitur-fitur
tersebut dapat dijelaskan melalui Tabel 1 di bawah ini.[11]

Desain Ketentuan Tax Amnesty atas Pelaporan Aset dari Luar Negeri Belajar dari Pengalaman
Italia dan Belgia[12]
Tabel 2 berikut ini merupakan contoh desain ketentuan tax amnesty atas pelaporan aset dari luar
negeri yang penulis sarikan dari pengalaman tax amnesty di Italia dan Belgia.

Peluang Tax Amnesty di Indonesia: Tinjauan atas Peraturan Perpajakan


Lantas, bagaimana ketentuan tentang tax amnesty ini diterapkan di Indonesia dengan melihat
peraturan perpajakan yang berlaku saat ini? Berikut ini gambaran atas kemungkinankemungkinan peraturan perpajakan yang dapat terpengaruh oleh ketentuan tax amnesty.
Pertama, sebagai landasan hukum atas tax amnesty berupa penghapusan atau pengurangan sanksi
administrasi, revisi dapat dilakukan dengan menyisipkan ketentuan baru yaitu Pasal 37B UU
KUP. Ketentuan baru ini ditempatkan pada Pasal 37B UU KUP karena sejenis dengan konteks
ketentuan dalam Pasal 37 dan Pasal 37A UU KUP yaitu penghapusan dan penyesuaian sanksi
administrasi berupa bunga, denda administrasi, dan kenaikan.
Kedua, sebagai landasan hukum atas penerapan tarif pajak khusus terhadap pokok pajak yang
diampuni, maka revisi dapat dilakukan dengan menambah pasal baru dalam UU PPh tentang
penerapan tarif pajak khusus yang berlaku selama program tax amnesty.
Atau ketiga, membuat peraturan perundang-undangan tersendiri terkait tax amnesty.
Kesimpulan
Indonesia perlu mempertimbangkan kebijakan tax amnesty sebagai upaya transisi menuju era
transparansi perpajakan global. Desain umum ketentuan tax amnesty diantaranya meliputi: siapa
yang menjadi target daritax amnesty, pajak apa saja yang termasuk dalam ruang lingkup tax
amnesty, apa saja yang diampuni, prasyarattax amnesty ke depan, durasi dan dasar hukum tax
amnesty.
Sedangkan, jika tax amnesty ditujukan pada aset yang disembunyikan di luar negeri, maka fiturfitur dalam ketentuan tax amnesty tersebut adalah:
(i) Penentuan aset apa saja yang masuk dalam ruang lingkup ketentuan;
(ii) Siapa yang terkualifikasi untuk berpartisipasi dalam ketentuan ini;
(iii) Besarnya pajak yang dikenakan;

(iv) Periode pelaporan yang masuk ruang lingkup ketentuan;


(v) Kondisi agar dapat memperoleh fasilitas tax amnesty;
(vi) Jaminan perlindungan atas investigasi; dan
(vii) Mekanisme pelaporan dan pengawasan.
Berdasarkan perbandingan di beberapa negara yang telah menerapkan tax amnesty atas aset di
luar negeri yang tidak dilaporkan, dapat diketahui bahwa tax amnesty diberikan dalam bentuk
penghapusan sanksi administrasi dan pidana, dan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah atas
pokok pajak.
Sedangkan di Indonesia, diperlukan revisi UU dengan cara menyisipkan pasal baru tentang
pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dalam UU KUP, menambah pasal baru untuk
mengatur penerapan tarif pajak khusus atas pokok pajak yang diampuni dalam UU PPh, atau
menyusun peraturan perundang-undangan baru untuk tax amnesty.

[1]Managing Partner, DANNY DARUSSALAM Tax Center


[2] Lihat www.oecd.org/tax/exchange-of-tax-information/automaticexchange.htm
[3]Lihat:http://www.oecd.org/about/secretary-general/global-forum-on-transparency-andexchange-of-information-for-tax-purposes-speech-by-a-gurria.htm dan http://www.oecd.org/abou
t/secretarygeneral/globalforumontransparencyandexchangeofinformationfortaxpurposespressconference.ht
m
Lihat juga Global Forum on Transparency and Exchange of Information: Tax Transparency
Progress Report 2014, dapat diakses
pada http://www.oecd.org/tax/transparency/GFannualreport2014.pdf

[4]LihatNiels Johannesen dan Gabriel Zucman, The End of Bank Secrecy? An Evaluation of the
G20 Tax Haven Crackdown, dalam American Economic Journal: Economic Policy, (2014)
[5] Vokhid Urinov, Tax Amnesties as a Transitional Bridge to Automatic Exchange of
Information, dalamBulletin for International Taxation, Vol. 69 (2015)
[6] OECD, Offshore Voluntary Disclosure: Comparative Analysis, Guidance, and Policy
Advice, (2010): 11-12.
[7] Benno Torgler dan Christoph A. Schaltegger, Tax Amnesties in Switzerland and Around the
World, dalamTax Notes International, (2005): 1193-1203
[8] Lihat http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-03-04/modi-gives-last-chance-for-indiatax-evaders-in-2-trillion-hunt
[9] Jacques Malherbe, Tax Amnesties in the 2009 Landscape, dalam Bulletin for International
Taxation, (2010): 224-241.
[10] Lihat Dev Kars dan Joseph Spanjers, Illicit Financial Flows from Developing Countries
2003-2012, Global Financial Integrity, (2014), 13
[11]Katherine Baer dan Eric Le Borgne, Tax Amnesties: Theories, Trends, and Some
Alternatives, (Washington: IMF Publication Services, 2008), 9
[12] Jacques Malherbe, Tax Amnesties, (Alphen aan den Rijn: Wolters Kluwer Law and
Business, 2011), 17-39, dan 167-172

Globalisasi dan Beberapa Catatan


Mengenai Kebijakan Pajak Internasional
Indonesia (bagian 1)
Darussalam, SE, Ak, CA, MSi, LLM Int.Tax
Managing Partner, DANNY DARUSSALAM Tax Center

Rabu, 06 Mei 2015 | 15:00 WIB

Ikuti

Kantor Pajak

Globalisasi telah mendorong perspektif kebijakan pajak dari domestik ke internasional. Artinya,
kebijakan pajak suatu negara tidak bisa lagi dikaji dalam ruang yang terisolasi, namun perlu
mempertimbangkan efek dari kebijakan pajak di negara lain maupun sebaliknya. Globalisasi juga
telah membuat pemajakan atas korporasi (badan usaha) menjadi semakin sulit.
Beberapa poin di bawah ini merupakan catatan ringkas mengenai perkembangan terkini
perpajakan internasional terkait dengan isu globalisasi dan kaitannya dengan perumusan
kebijakan pajak internasional di Indonesia:
1.

Globalisasi dan Insentif Pajak


Globalisasi ditandai atas beberapa hal, salah satunya adalah arus jasa, barang, dan modal yang
semakin tidak terbatas. Secara tidak langsung hal ini mempengaruhi jumlah dan struktur
penerimaan pajak di berbagai negara. Bagi perusahaan, globalisasi telah memungkinkan mereka
untuk melakukan pengorganisasian bisnis dalam satu komando untuk tujuan bersama yaitu
memaksimalkan laba dan meminimalkan segala macam biaya, termasuk biaya pajak (tax
expense).

"Globalisasi memungkinkan mereka untuk memilih lokasi dan


skema yang memberikan rate of return yang tertinggi"

Globalisasi memungkinkan mereka untuk memilih lokasi dan skema yang memberikan rate of
return yang tertinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan adanya kompetisi untuk menarik
investasi ke dalam masing-masing yurisdiksi. Kompetisi untuk mendapatkan modal (portfolio
investment maupun foreign direct investment) telah menekan berbagai negara untuk menurunkan
tarif pajak korporasi (terutama di negara maju) ataupun pemberian insentif pajak (negara
berkembang).
Terkait Indonesia, pemerintah telah memberikan rezim investasi pajak, mulai dari tax holiday, tax
allowance,pengembangan KAPET, KEK, dan sebagainya. Hal yang sama juga dilakukan oleh
banyak negara berkembang, salah satunya Tiongkok. Lalu, bagaimana tingkat kesuksesan insentif
pajak dalam menarik investasi? Berbagai penelitian empiris yang dilakukan menyatakan bahwa
insentif akan semakin elastis terhadap investasi jika prasyarat lain tersedia, misalkan
infrastruktur, potensi pasar, kestabilan politik, dan sebagainya.
Bagi banyak pihak, insentif pajak di negara berkembang (termasuk Indonesia) ditenggarai tidak
terlalu banyak berpengaruh sebagai faktor utama dan justru menjadi unnecessary tax
expenditure. Oleh karena itu, ada baiknya pemerintah tidak terlalu mengumbar ketentuan tentang
insentif pajak namun tetap fokus pada faktor-faktor lain yang lebih elastis terhadap investasi.
Walau demikian, jika memang arah kebijakan pemerintah tetap berpihak pada insentif, rezim
insentif pajak di Indonesia juga harus mewaspadai dua hal. Pertama, kestabilan rezim insentif
dibutuhkan oleh investor sehingga ketentuan insentif haruslah tidak banyak berubah-ubah, stabil,
dan dapat diprediksi kepastiannya. Kedua, sebaiknya menghindari pemberian insentif pajak yang
berbasis diskresi, namun haruslah disaring dan diuji lewat sistem (rules vs. discretion).
2.

Globalisasi dan Skema Investasi untuk Kepentingan Pajak


Terkait dengan data investasi asing yang masuk ke Indonesia, terdapat hal yang menarik untuk
diamati. Menurut data IMF, CDIS, per 2013 lima negara yang menjadi sumber inward direct
investment di Indonesia adalah: Singapura, Belanda, Jepang, Mauritius, dan United Kingdom.
Memang benar bahwa kita telah sejak lama membina hubungan politik dan ekonomi dengan
negara-negara tersebut. Namun, mengapa negara-negara yang sering dikategorikan sebagai tax
haven atau preferential tax regime seperti Singapura, Belanda, dan Mauritus adalah sumber
investasi asing terbesar? Jika kita perluas lagi hingga 10 besar negara yang menanamkan modal
ke Indonesia, maka kita dapat menemukan nama: Seychelles dan British Virgin Island.

Fakta yang sama juga dapat ditemui jika melihat data di negara berkembang. Investasi asing di
negara-negara seperti Tiongkok, India, Peru ataupun Filipina bersumber terutama dari namanama: Hong Kong, Panama, Cayman Island, Swiss, Luxembourg, dan sebagainya.
Jika ditelaah lebih lanjut, sepertinya tidak terdapat substansi ekonomi yang besar dari negaranegara tersebut. Di sisi lain, mereka justru seringkali menjadi tempat persinggahan aliran dana
global sebelum diinvestasikan ke negara berkembang, terutama untuk motivasi tax saving.
Oleh karena itu, data investasi asing ini harusnya dapat dipahami sebagai indikasi adanya upaya
untuk melarikan pajak, baik dengan caranya yang sederhana maupun dengan skema yang
semakin kompleks. Keterlibatan preferential tax regime dalam global value chain perusahaan
multinational yang beroperasi di Indonesia harus dilihat sebagai risiko bagi penerimaan PPh
Badan. Saat ini upaya memerangi harmful tax competition oleh preferential tax regime sedang
dibangun oleh OECD, lewat BEPS Action Plan 5.
3.

Globalisasi dan Treaty Shopping


Masing-masing negara memiliki suatu kedaulatan untuk menentukan sendiri sistem pajaknya (tax
sovereignty). Interaksi antar satu sistem dan kebijakan pajak antar negara telah menyebabkan
adanya double taxation. Artinya, bisa saja suatu penghasilan residen dari negara A yang
berdomisili di B menjadi hak pemajakan pemerintah di negara A dan B. Adanya konflik atas hak
pemajakan telah mendorong organisasi multilateral semacam: OECD dan UN untuk membuat
semacam model perjanjian penghindaran pajak berganda (bilateral tax treaty).
Model UN -walaupun banyak mengadopsi model OECD- dianggap lebih cocok dipergunakan
untuk negara-negara berkembang, karena adanya keberpihakan kepada hakatas source
country (capital importing countries).
Walau demikian, bagi negara berkembang, pilihan tersebut bukanlah sesuatu yang menjadi fokus
perhatian mereka. Bagi negara berkembang, bilateral tax treaty lebih kepada upaya untuk
memberikan sinyal kepada dunia internasional bahwa pemerintahan mereka pro terhadap
investasi dan tunduk kepada pola permainan yang telah dijadikan konsensus secara global. Atas
nama investasi, maka tidak mengherankan bahwa hingga kini telah lebih dari 2.000 tax
treaties disepakati oleh negara berkembang, di mana sebagian besar di antaranya adalah tax
treaties dengan capital exporting countries (asymmetric tax treaty).
Lalu, apakah manfaat dari tax treaties bagi Indonesia? Manfaat utamanya mungkin hanya terbatas
pada sinkronasi kerangka pemajakan atas penghasilan-penghasilan yang lintas yurisdiksi. Namun,

selain itu manfaat lebih banyak didapatkan oleh negara-negara maju (atau tax haven). Saat
ini, bilateral tax treaties justru banyak dimanfaatkan untuk treaty shopping, yaitu upaya
meminimalkan pajak dengan cara memanfaatkan treaty network yang dimiliki suatu negara
dengan negara lain, terutama jika network tersebut juga melibatkan tax haven.
Indonesia, saat ini memiliki lebih dari 60Perjanjian Penghindran Pajak Berganda (P3B) dengan
negara lain. Suatu jumlah yang besar untuk negara berkembang. Untuk meminimumkan
risiko treaty shopping, maka Indonesia perlu melakukan renegoisasi P3B untuk dapat memasukan
Pasal yang menyangkut pembatasan penggunaan P3B bagi mereka yang melakukan
penyimpangan dari tujuan diadakannya P3B, yaitu Pasal tentang Limitation on Benefit (LoB).
Walau demikian, penting untuk dicatat bahwa renegosiasi P3B memang tidak mudah dan
membutuhkan waktu yang panjang. Saat ini, upaya untuk memasukkan klasul tentang anti-treaty
abusejuga disarankan oleh OECD, dalam BEPS Action Plan 6.
4.

Globalisasi dan International Tax Avoidance


Di sisi lain, interaksi antar sistem perpajakan antarnegara juga telah menyebabkan adanya double
non-taxationataupun tax avoidance. Sebagian skema tax avoidance merupakan base erosion
strategies, yaitu strategi meminimalkan beban pajak dengan cara memanfaatkan perbedaan
ketentuan antarnegara, seperti misalkan:hybrid mismatch arrangement ataupun hybrid financial
instrument. Base erosion strategies tidak sensitive terhadap perbedaan tarif pajak (walaupun
kadang juga dimanfaatkan).

"...interaksi antar sistem perpajakan antarnegara juga telah


menyebabkan adanya double non-taxation ataupun tax
avoidance"
Hal ini memang sangat sulit dipecahkan secara unilateral, atau tergantung dari koordinasi setiap
negara untuk merumuskan definisi ataupun kriteria atas aktivitas, jenis penghasilan, ataupun
subject (transparent or non-transparent, misalkan).
Upaya yang bisadilakukan oleh Indonesia dapat dilihat dari BEPS Action Plan 2 yang sudah
dirilis pada September 2014. Perlu juga diketahui bahwa beberapa negara membedakan antara tax
avoidance yang dibenarkan (acceptable tax avoidance) dan tax avoidance yang tidak dapat
dibenarkan (unacceptable tax avoidance). Untuk itu, Indonesia perlu merumuskan perbedaan
antara unaccetable tax avoidance dan acceptable tax avoidance.
5.

Globalisasi, Profit Shifting, dan Isu Tarif Pajak

Skema tax avoidance yang paling popular adalah profit shifting strategies, yang pada umumnya
bermuara pada 2channels, yaitu: manipulasi transfer price dan debt shifting. Profit shifting
strategies merupakan upaya meminimalkan beban pajak dengan cara mengalihkan laba
perusahaan ke perusahaan afiliasi yang berkedudukan di negara dengan tarif pajak yang lebih
rendah (atau memaksimalkan beban di tempat dengan tarif pajak yang lebih tinggi).
Dengan kata lain, profit shifting strategies sensitif terhadap perbedaan tarif pajak. Berbagai
penelitian empiris, baik secara global, multinasional Amerika, multinasional Jerman, dan di EU
telah memperlihatkan bahwa semakin tinggi perbedaan tarif antara satu negara dengan negara
mitra, akan menyebabkan laba yang dilaporkan oleh perusahan semakin kecil.
Kini tarif PPh Badan di Indonesia sebesar 25% dan telah diturunkan dari level 30% (2008) dan
28% (2009). Angka ini masih di atas rata-rata dunia (23.6%) dan Asia (21.9%). Walau demikian,
perlukah Indonesia menurunkan tarif PPh Badan-nya? Jawabannya, tidak. Argumennya adalah:
selama masih ada preferential tax regime (terutama di kawasan ASEAN, yaitu Singapura); maka
upaya menurunkan tarif PPh Badan tidak akan berakibat banyak bagi upaya menghambat pelarian
laba, namun justru penerimaan pajak dari korporasi semakin mengecil. Penjelasan di atas juga
telah menjawab tidak perlunya pertimbangan untuk menaikkan tarif PPh Badan demi mengejar
target semata.
6.

Globalisasi dan Debt Equity Ratio


Bagi perusahaan multinasional, adanya ketentuan bahwa pembayaran bunga dapat menjadi
pengurang pajak telah mendorong perilaku untuk mendanai afiliasinya lebih banyak
menggunakan utang daripada penyertaan modal (thin capitalization). Di sisi lain, pembayaran
dividen tidak menjadi pengurang pajak. Oleh karena itu, akan sangat menguntungkan jika
komposisi utang semakin besar, terutama jika utang tersebut ditempatkan di negara lokasi afiliasi
yang memiliki tarif pajak tinggi (debt shifting).
Distorsi ini sulit untuk dihilangkan secara unilateral (memperlakukan bunga dan dividen dengan
sama), karena selama negara lain masih memiliki ketentuan tersebut, Indonesia akan dirugikan.

"Oleh karena itu, akan sangat menguntungkan jika komposisi


utang semakin besar, terutama jika utang tersebut ditempatkan
di negara lokasi afiliasi yang memiliki tarif pajak tinggi (debt
shifting)"

Walau demikian, terdapat usulan fundamental untuk menyeimbangkan treatment pajak atas utang
dan dividen yaitu allowance on capital equity (ACE)dan comprehensive business income
tax (CBIT), yang lagi-lagi sangat tergantung dari kemauan untuk koordinasi baik antar negara
maupun dengan sektor finansial. Komposisi utang swasta yang besar juga dapat mempengaruhi
neraca pembayaran pemerintah ataupun kestabilan nilai rupiah.
Bagi Indonesia, upaya yang rasional dalam mengatur praktik excessive debt (yang kemudian
menjadi excessive interest payment) adalah menciptakan aturan penangkal sebagai disinsentif,
atau thin capitalization rule.Indonesia, saat ini tidak memiliki aturan tersebut.
Thin cap rule pada umumnya dapat berupa: ketentuan batas (rasio) antara komposisi utang
dengan modal, ataupun mengacu pada komposisi yang dianggap wajar/arms length(ALP).
Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan.
Debt to equity ratio lebih memberikan kepastian dan biaya kepatuhan-administrasi yang rendah;
namun dianggap tidak adil karena setiap sektor industri memiliki kebutuhan permodalan yang
berbeda. Di sisi lain upaya mengacu pada komposisi yang wajar justru dianggap lebih adil karena
merefleksikan situasi pasar, namun memiliki biaya kepatuhan-administrasi yang lebih besar.
Penelitian empiris yang dilakukan oleh Blouin, Huizinga, et.al (2014) di 54 negara telah
menunjukkan bahwa thin cap rules yang didasarkan pada DER lebih efektif dalam merubah
komposisi struktur pendanaan perusahaan multinasional (utang lebih berkurang). Urgensi untuk
mengatur hal ini harus diwujudkan dalam bentuk peraturan yang berdasarkan pada suatu DER
tertentu (bagi perusahaan finansial mungkin DER bisa lebih tinggi), namun juga
memperbolehkan jika wajib pajak ingin membuktikan kewajaran komposisi pendanaannya
melalui aplikasi arms length principle (model di Tiongkok).
Hal lain yang perlu dipertimbangkan (efek samping) dari peraturan ini adalah dapat terganggunya
rencana pemerintah untuk permodalan berbagai proyek besar (baik publik maupun privat). Thin
capitalization rule(interest limitation rule) juga sedang dikaji oleh OECD dalam BEPS Action
Plan 4.
7.

Globalisasi dan Transfer Pricing


Persoalan profit shifting strategies berikutnya ada pada manipulasi transfer pricing. Hal ini telah
menjadi perhatian OECD sejak lama. Saat ini Indonesia dan hampir seluruh negara berkembang
juga telah memilikitransfer pricing rule (secara global hingga 2011 ada lebih dari 70 negara telah

memiliki ketentuan berbasis ALP dan 54 di antaranya memiliki ketentuan atas kewajiban transfer
pricing documentation bagi perusahaan multinasional).
Banyak penelitian telah menyebutkan angka yang fantastis akibat dari manipulasi TP di berbagai
negara, termasuk Indonesia (misalkan Christian Aid menyebutkan kerugian sebesar Rp 10 triliun
bagi Indonesia selama 2005-2007). Walau demikian, penting untuk dicatat bahwa studi-studi
tersebut tidak andal dan kurang kuat dalam metodologi estimasinya. Terlepas dari hal tersebut,
fakta bahwa 70% dari perdagangan internasional berasal dari transaksi afiliasi maka sudah
sewajarnya transfer pricing menjadi fokus bagi Indonesia.
Pentingnya hal ini juga ditunjukkan oleh banyaknya action plan tentang transfer pricing dalam
OECD BEPS project, yaitu empat. Tiga di antaranya lebih kepada substansi persoalan di transfer
pricing, yaitu alokasi profit yang lebih adil yang mengacu padavalue creation atas:substansi,
risiko, dan intangibles. Hal ini juga terutama untuk menjawab berbagai sengketa transfer
pricing yang selama ini terjadi. Bagi Indonesia, usulan final yang akan diajukan oleh OECD di
September 2015 nanti dapat dipergunakan sebagai acuan dalam merevisi berbagai ketentuan
mengenai transfer pricing, terutama dalam konteks barang tidak berwujud.
Selain itu, rekomendasi OECD akan mencakup juga atas perhitungan ALP atas produk komoditas
yang selama ini belum jelas penerapannya. Klausul safe harbor yaitu nilai rasio margin ambang
batas (bawah atau atas) dari suatu transaksi juga dapat dipergunakan di Indonesia. Selama ini
terdapat beberapa persoalan terhadap sulitnya untuk mencari pembanding, padahal bisa saja
transaksi afilasi yang dilakukan skemanya sederhana dan nilainya kecil; adanya safe harbor akan
memberikan kepastian bagi beberapa industri atau transaksi tertentu.
Walau demikian, hendaknya Indonesia tidak hanya melihat dari output OECD saja, namun juga
melihat output United Nations dalam project transfer pricing. UN memberikan perspektif negara
berkembang, misalkan tentang bagaimana menegakkan peraturan transfer pricing atau
aplikasi arms length principle (ALP) di tengah administrasi pajak yang masih belum sedemikian
baik serta upaya tidak terlalu membebani sektor bisnis di negara mereka.

"UN memberikan perspektif negara berkembang, misalkan


tentang bagaimana menegakkan peraturan transfer pricing
atau aplikasi arms length principle (ALP) di tengah
administrasi pajak yang masih belum sedemikian baik serta
upaya tidak terlalu membebani sektor bisnis di negara
mereka"

Kajian empiris yang dilakukan oleh Heckemeyer dan Overesch (2013),


membuktikanbahwa transfer pricingmerupakan skema utama profit shifting perusahaan
multinasional. Untuk itu, OECD BEPS Action Plan dalam konteks transfer pricing juga tidak
hanya membicarakan masalah substansi, namun juga mengusulkan atas adanya format baru
dokumentasi transfer pricing, yaitu country-by-country reporting (CbCR) dalam BEPSAction
Plan 13.
Dokumentasi transfer pricing adalah alat yang efektif untuk menangkal (disinsentif) bagi profit
shifting strategies via manipulasi transfer pricing. Di sisi lain, dokumentasi juga memberikan
biaya yang tidak sedikit bagi Wajib Pajak (terutama karena prinsip ALP yang mensyaratkan
pembanding).
CbCR pada dasarnya adalah bentuk dokumentasi yang disinergikan dalam grup dan melampirkan
informasi mengenai aktivitas dan laba yang dihasilkan oleh setiap entitas dalam grup. CbCR
berangkat dari pemaksaan transparansi dari sisi perusahaan multinasional. Bagi banyak otoritas
pajak, fakta mengenai aktivitas dan laba afiliasi wajib pajak mereka sangat dibutuhkan untuk
melihat seberapa wajarkah laba yang didapat oleh wajib pajak mereka dalam supply chain grup
perusahaan.
Oleh karena itu, upaya ini harus mendapat dukungan dari pemerintah lewat ketentuan baru.Selain
itu, juga perlu untuk memaksimalkan alternative dispute resolution untuk menekan sengketa yang
ada.
8.

Globalisasi, Kewajiban Disclosure untuk Skema Tax Planning dan Burden of Proof
Adanya keinginan untuk membatasi tax benefit yang didapatkan dari aktivitas penghindaran
pajak juga dapat dilakukan dengan cara kewajiban disclosure perencanaan pajak (tax planning)
perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia. Hal ini juga merupakan salah satu hal
yang sedang dikaji oleh OECD dalam BEPS Action Plan 12. Walau demikian, sebelum terdapat
kewajiban disclosure tersebut, definisi dan batasan mengenai apa yang dimaksud
dengan: defensive tax planning, aggressive tax planning, tax avoidance, abusive tax
planning,ataupun tax saving dan tax benefit perlu untuk diklarifikasikan lebih lanjut dalam
ketentuan yang lebih tinggi, misalkan dalam UU.
Selain itu, dalam konteks terjadinya aggressive tax planning yang transaksinya melibatkan
negara-negarapreferential tax regime perlu untuk membuat aturan tentang burden of proof berada
di wajib pajak.

9.

Globalisasi dan Transparansi untuk Kepentingan Pajak


Transparansi dalam konteks perpajakan internasional juga sedang menjadi isu. Terdapat tiga isu
transparansi yang penting dicermati oleh Indonesia. Pertama, adanya kerjasama ataupun forum
antarnegara untuk dapat bertukar informasi antar otoritas pajak (Tax Information Exchange
Agreement), misalkan atas kekayaan subjek pajak di suatu negara yang disimpan di negara lain.
Kedua, terdapat upaya unilateral, misal yang dilakukan Amerika Serikat untuk mewajibkan setiap
wajib pajak dalam negeri untuk melaporkan dana yang disimpan di luar negeri (Foreign Account
Tax Compliance Act).
Kedua contoh kebijakan tersebut sebenarnya memungkinkan adanya akses informasi yang lebih
luas. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga telah membuat apa yang selama ini menjadi keunggulan
dari preferential tax regime menjadi semakin berkurang. Tekanan global (maupun juga kompetisi
antar offshore financial center dan juga risiko perekonomian negara tax haven yang sangat
tergantung dari financial sector) telah berhasil memaksa negara-negara yang
dikategorikan preferential tax regime untuk membuka diri.
Ketiga yang mana lebih tepat diletakkan dalam kategori domestik- dewasa ini kekuatan
transparansi untuk tujuan perpajakan rasanya jauh mendominasi kekuatan kerahasiaan bank
dan confidentiality. Berbagai negara telah memberikan suatu kewenangan bagi otoritas pajak
untuk dapat mengakses data nasabah bank demi tujuan perpajakan dan tetap menghormati hakhak wajib pajak (Darussalam, Kristiaji, dan Deborah, 2014). Saat ini, kemungkinan tidak
terdeteksinya data kekayaan wajib pajak yang disimpan di negara lain juga semakin kecil
terutama dengan fenomena pertama dalam poin ini (pertukaran informasi). Walau demikian,
kerjasama pertukaran informasi (global maupun lewat tax treaty) seringkali hanya manis di
bibir dan belum banyak memberikan kisah sukses.
10. Globalisasi dan Pemajakan atas Repratriasi Modal
Di tengah upaya untuk mengendalikan neraca pembayaran (defisit) dan juga nilai tukar rupiah,
pemerintah juga mengkaji ide untuk menahan repatriasi modal asing yang biasanya dikembalikan
dalam bentuk dividen. Insentif pajak untuk reinvestasi (yaitu pembebasan pajak dividen atau tax
allowance) sudah sejak 2013 diwacanakan oleh pemerintah, namun baru pada Maret lalu
diluncurkan.
Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan oleh Pemerintah dalam hal ini. Pertama,
repatriasi modal asing pada dasarnya bukan hanya elastis terhadap persoalan pajak (tax expense),

namun juga persoalan mengenai baik buruknya ekspektasi usaha (kestabilan politik, pasar,
korupsi, dan sebagainya).
Kedua, adanya insentif pajak terutama bagi reinvestasi pada sektor-sektor yang berorientasi
ekspor dan padat karya bisa jadi berpengaruh, namun tidak berkelanjutan. Pengalaman di
Amerika Serikat dalam kebijakanrepatriation tax holiday di tahun 2004 dapat dijadikan contoh
(pengenaan tarif hanya sebesar 5.25% jika dividen tidak dialirkan ke luar). Pasca ketentuan
tersebut terdapat lonjakan modal asing yang masuk, reinvestasi, dan dividen ditahan di dalam.
Namun, setelah 2005 neraca pembayaran kembali ke pola semula. Artinya, walau kebijakan ini
cukup dapat menarik dana asing (menahan dana asing ke luar) dalam waktu singkat; namun, tidak
bertahan lama. Kebijakan ini menimbulkan moral hazard di mana mereka menunggu untuk
kebijakan selanjutnya.
Ketiga, menahan repatriasi dividen dalam bentuk insentif pajak juga sangat dipengaruhi oleh
kebijakan pajak negara di mana induk beroperasi, misalkan adanya CFC rule.
11. Globalisasi dan Kajian Dampak Perpajakannya
Di Indonesia, kajian mengenai kebijakan pajak internasional dan bagaimana dampaknya terhadap
perekonomian, perilaku perusahaan multinasional, dan penerimaan pajak masih jarang dilakukan.
Padahal, mengacu pada poin-poin sebelumnya, hal tersebut sangat dibutuhkan.
Apakah kita mengetahui pola penghindaran pajak di Indonesia? Bagaiman efek dari perubahan
tarif pajak dalam kompetisi investasi serta komparasinya dengan ASEAN? Perlukah kita masuk
ke dalam yardstick competition? Bagaimana imbas penandatanganan P3B, apakah lebih banyak
merugikan atau menguntungkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya segelintir dari
ketidaktahuan kita.
Di Indonesia, masih sangat jarang adanya pihak di luar pemerintah yang peduli dengan isu
kebijakan pajak, terlebih isu kebijakan pajak internasional. Untuk itu ke depan, perlu untuk
mendorong kajian-kajian yang menyangkut telaah kebijakan perpajakan internasional dan
dampaknya dalam kontek penerimaan pajak Indonesia.

[1]Managing Partner Danny Darussalam Tax Center


&KetuaBidangPengembanganAkuntansiPajak, KompartemenAkuntanPajak(KAPj),

IkatanAkuntan Indonesia (IAI). Advanced Master International Taxation dari European Tax
College (Tilburg University danKatholiekeUniversiteit Leuven).

Reformasi Pendidikan Pajak (1)


Darussalam, SE, Ak, CA, MSi, LLM Int.Tax
Managing Partner, DANNY DARUSSALAM Tax Center

Selasa, 13 Oktober 2015 | 16:00 WIB


Ikuti

Pendidikan Pajak via www.bppk.kemenkeu.go.id

Dewasa ini, Pemerintah Indonesia semakin bergantung kepada penerimaan perpajakan sebagai
sumber pembiayaan pembangunan negara. Di periode 1970-an, proporsi pendapatan dari sektor
perpajakan hanyalah sebesar 40%, namun kini telah mencapai 85%.
Ketergantungan yang tinggi tersebut tidak dapat dilepaskan dari tidak mampunya sumber-sumber
pendapatan lain terutama dari sektor perdagangan internasional untuk migas dan juga hibah
sebagai penopang pendapatan atau dengan kata lain tidak lagi sustainable.
Liberalisasi perdagangan, menurunnya cadangan minyak, serta lesunya aktivitas negara donor
menjadi faktor-faktor yang mendorong semakin pentingnya sumber pembiayaan dalam negeri
melalui pajak.

Pertanyaannya adalah: Seberapa siapkah Indonesia dalam membiayai pembangunannya dari uang
pajak? Jawaban atas hal tersebut tentu saja dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu (i) aspek
internal yang bisa dikendalikan pemerintah mulai dari kebijakan pajak, peraturan (hukum) pajak,
administrasi pajak, tingkat kepatuhan, kelembagaan otoritas pajak, maupun (ii) aspek eksternal
yang tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah misalnya kondisi perekonomian dunia.
Walau demikian, terdapat satu elemen yang seringkali luput dari observasi kita, yaitu kesiapan
sumber daya manusia dalam sektor pajak. Kesiapan sumber daya manusia bisa menjamin
prasyarat terbentuknya masyarakat pajak (tax society) yang cerdas dan kritis, yang memiliki
keinginan untuk berpartisipasi dalam pembangunan, serta mengetahui hak-hak dan kewajiban
mereka dalam perpajakan.
Dengan demikian, visi pembiayaan pembangunan yang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri)
bukan lagi sebagai suatu utopia semata.

"Dengan demikian, visi pembiayaan pembangunan yang


berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) bukan lagi sebagai suatu
utopia semata"
Kuantitas dan kualitas sumber daya manusiadalam area perpajakan pada hakikatnya bukan hanya
terbentuk dari seperangkat aturan, jargon-jargon atau sosialisasi yang masif, namun terletak pada
bagaimana sistem pendidikan pajak dapat membentuk hal tersebut.[1]
Sistem pendidikan pajak yang baik tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia
yang melek pajak, namun juga ahli-ahli di bidang pajak yang akan menjadi lokomotif reformasi
dan transformasi sistem pajak ke arah yang lebih baik.
Upaya-upaya membangun sistem pendidikan pajak yang baik kerap dikesampingkan, mengingat
bahwa output-nya tidak bisa langsung dinikmati dan membutuhkan proses panjang. Walau
demikian, perubahan arah sektor perpajakan di Indonesia dewasa ini akan berpengaruh secara
langsung pada lonjakan permintaan atas ahli di bidang pajak. Momentum ini seharusnya dapat
dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan pajak, khususnya perguruan tinggi.
Artikel singkat ini berangkat dari suatu pertanyaan besar: bagaimana cara untuk mencapai
penerimaan pajak yang berkesinambungan? Jawabannya terletak di luar arus utama solusi-solusi
yang selama ini kerap terdengar.

Walau terkesan sederhana, pendidikan pajak justru akan memainkan peranan kunci terutama
dalam menghasilkan masyarakat melek pajak serta ketersediaan sumber daya manusia yang
berkualitasdi sektor perpajakan Indonesia.
Sistem pendidikan pajak dalam artikel ini diletakkan dalam arti luas, namun analisisnya lebih
dititikberatkan pada pendidikan tinggi formal (pengajaran pajak di perguruan tinggi).
Pembahasan akan mencakup aspek-aspek terkait kurikulum, fasilitas penunjang, pendekatan
pendidikan pajak yang menyesuaikan dengan tantangan sektor pajak hingga pentingnya
pembekalan kode etik.
Penulis juga akan menyertakan pentingnya matching antara pasar tenaga kerja dan jenis
pendidikan ahli pajak.
1. Arah Perkembangan Pajak Kini dan Masa Mendatang
Membicarakan tentang pendidikan pajak pastilah harus pertama-tama diletakkan dalam konteks
dinamika perpajakan di masa kini dan mendatang. Pemerintah saat ini sangat mengandalkan
pajak sebagai primadona dalam membiayai program-program pembangunan yang
direncanakannya.
Dalam APBN-P 2015, penerimaan pajak ditargetkan mencapai 87% dari seluruh penerimaan
perpajakan.[2]Sementara untuk tahun 2016, Sementara untuk tahun 2016, penerimaan pajak
ditargetkan sebesar Rp 1.368,5 triliun atau naik sebesar 5,7% dari target penerimaan pajak di
tahun 2015.[3] Sementara pada kurun waktu 2017-2019, Pemerintah mentargetkan penerimaan
pajak tumbuh sebesar 15,8% per tahun.
Untuk mencapai target penerimaan tersebut, Pemerintah melaksanakan ekstensfikasi perpajakan
dengan menambah jumlah Wajib Pajak. Dalam kurun waktu 2010-2014, terdapat peningkatan
jumlah Wajib Pajak yang siginifikan, di mana setiap tahunnya terdapat kenaikan rata-rata jumlah
Wajib Pajak sebesar 34% setiap tahunnya.[4]
Tidak hanya itu, perkembangan pajak di Indonesia yang sedemikian cepat dan menarik perhatian
juga mencakup isu-isu seperti berikut ini:

Pemerintah berencana untuk mengubah institusi pemungut pajak menjadi


berbentuk Semi-Autonomous Revenue Authority (SARA)[5] dengan mendirikan Badan
Penerimaan Pajak.

Rezim perpajakan global yang ditandai dengan mekanisme pertukaran informasi pajak
secara otomatis antar negara telah disepakati oleh lebih dari 90 negara,[6] termasuk Indonesia.
Pemerintah Indonesia telah menandatangani konvensi multilateral (Multilateral Convention on
Mutual Administrative Assistance in Tax Matters) sebagai wujud implementasi dari penggunaan
standar transparansi dan pertukaran informasi serta bantuan administratif lainnya, seperti bantuan
penagihan pajak dan pemeriksaan bersama antar otoritas pajak. Pada tahun 2018, Pemerintah
Indonesia telah berkomitmen untuk melaksanakan pertukaran informasi secara otomatis tersebut.
Akses data perbankan secara otomatis mutlak diperlukan untuk mewujudkan kesepakatan
multilateral ini.

Kerjasama kelembagaan untuk pengumpulan informasi perpajakan. Saat ini sudah 61


lembaga, instansi, dan asosiasi yang diwajibkan untuk memberikan informasi perpajakan.[7]

Tax amnesty menjadi terobosan Pemerintah dalam meningkatkan kepatuhan dan


penerimaan negara di masa yang akan datang.[8]

Kerjasama multilateral untuk mencegah praktik penghindaran pajak melalui Base Erosion
and Profit Shifting Project (BEPS) yang diinisiasi oleh negara anggota G20 dan OECD.[9]

Penegakan hukum pajak melalui gizjeling.[10]

Pencegahan praktik offshore tax evasion melalui offshore voluntary disclosure.[11]

Perlindungan hak-hak Wajib Pajak.

Perubahan peraturan perundang-undangan perpajakan.[12]


Seluruh perubahan tersebut pada hakikatnya merupakan hasil dari perubahan lanskap perpajakan
nasional dan global. Pada konteks Indonesia, lanskap pajak terpengaruh oleh kehadiran
demokrasi (baru), desentralisasi, dan globalisasi.[13]
Demokrasi yang ditandai dengan pentingnya partisipasi dan representasi, penghormatan atas hakhak warga negara, serta transparansi telah mengubah peta perpajakan Indonesia secara drastis
menuju tata kelola pemerintahan yang semakin baik, penerapan prinsip pajak yang semakin adil
dan berimbang.
Dalam skala mikro, hal tersebut juga berkontribusi dalam mendorong suatu hubungan saling
percaya dan terbuka antara otoritas pajak dan pembayar pajak (enhanced relationship).
[14] Desentralisasi juga telah mendorong upaya pemenuhan kebutuhan barang publik yang lebih
tepat sasaran yang (diharapkan) dikelola secara mandiri oleh masing-masing pemerintah daerah.

"Desentralisasi juga telah mendorong upaya pemenuhan


kebutuhan barang publik yang lebih tepat sasaran yang
(diharapkan) dikelola secara mandiri oleh masing-masing
pemerintah daerah"
Hal ini membutuhkan skema revenue assignment yang lebih tepat serta peningkatan kapasitas
pemerintah daerah dalam memungut pajak. Terakhir, globalisasi telah menciptakan suatu aktivitas
ekonomi yang tidak dibatasi oleh batas-batas negara. Akibatnya, interaksi sistem pajak
antarnegara kerap terjadi dan menimbulkan persoalan-persoalan baru.
Kehadiran demokrasi, desentralisasi, dan globalisasi, secara langsung maupun tidak, memaksa
Indonesia untuk memiliki suatu sistem perpajakan yang menciptakan adanya kesinambungan
penerimaan. Sistem tersebut paling tidak memiliki tiga prinsip.
Pertama, mencerminkan rasa keadilan (fiscal justice). Keadilan merupakan salah satu konsep
yang rumit dan seringkali trade-off dengan konsep administrative feasibility. Hal tersebut juga
terjadi di Indonesia, sebagai contoh: akibat keterbatasan kapasitas Ditjen Pajak dalam melakukan
pembinaan dan pengawasan atas sektor UKM, maka terbitlah Peraturan Pemerintah Nomor
46/2013 tentang presumptive tax yang berlaku untuk Wajib Pajak yang memilki omzet tidak
melebihi Rp 4,8 miliar selama satu tahun fiskal.
Kedua, memberi kepastian hukum. Menurut Adam Smith, kepastian hukum jauh lebih penting
dari keadilan. Tanpa kepastian misalkan dengan ketentuan yang multitafsir, keadilan yang telah
dirancang dalam sistem perpajakan sulit untuk dicapai. Di berbagai negara, salah satu upaya
menciptakan kepastian hukum terutama dalam self-assessment system adalah dengan adanya
ketentuan tentang advance ruling.[15]
Ketiga, berbiaya rendah atau efisien. Efisien dalam hal ini tidak hanya dari sisi otoritas pajak
(administrative cost) namun juga dari sisi pembayar pajak (cost of compliance). Saat ini, sistem
pemungutan pajak di Indonesia masih berbiaya tinggi, hal ini ditunjukkan misalnya dengan
luasnya objek PPh Pemotongan dan Pemungutan (withholding tax)[16] ataupun semakin
banyaknya sengketa pajak yang menumpuk di pengadilan pajak.
Sistem pajak yang ideal dan berkesinambungan tersebut hanya bisa terwujud dengan adanya
kesadaran masyarakat atas pajak di satu sisi dan ketersediaan ahli-ahli pajak di sisi yang lain. Di
sinilah peran pendidikan pajak memiliki pengaruh yang besar.

"Sistem pajak yang ideal dan berkesinambungan tersebut


hanya bisa terwujud dengan adanya kesadaran masyarakat
atas pajak di satu sisi dan ketersediaan ahli-ahli pajak di sisi
yang lain"
(Bersambung)

[1]

Banyak negara berkembang, saat ini mulai mengembangkan upaya edukasi pajak dalam

rangka menjamin setting lingkungan yang mendukung penerimaan pajak yang


berkesinambungan. Lihat OECD, Building tax Culture, Compliance and Citizenship: A Global
Source Book of Taxpayer Education (Paris: OECD Publishing, 2015).
[2]

Penerimaan pajak ditargetkan sebesar Rp 1.294,26 triliun dari total penerimaan perpajakan

sebesar Rp 1.489,25 triliun. Lihat APBNP 2015.


[3]

Nota Keuangan dan RAPBN 2016.

[4]

Nota Keuangan dan RAPBN 2016.

[5]

Darussalam, B. Bawono Kristiaji dan Hiyashinta Klise, Desain Kelembagaan

Administrasi Perpajakan: Perlukah Ditjen Pajak Terpisah dari Kementerian Keuangan?Inside


Tax Edisi 16 (2013): 6-15, 62-65.
[6]

Lihat juga Global Forum on Transparency and Exchange of Information, Tax

Transparency Progress Report 2014.


[7]

Wawancara dengan Irawan, Direktur Peraturan Perpajakan I Direktorat Jenderal Pajak,

Dukung Program Tahun Pembinaan 2015,Inside Tax Edisi 31, (2015): 34-35.
[8]

Darussalam, Tax Amnesty dalam Rangka Rekonsiliasi Nasional, Inside Tax Edisi 26

(2014): 14-19.
[9]

Ganda Christian Tobing, Lanskap Perpajakan Global Menjelang Finalisasi BEPS

Project, Inside Tax Edisi 33, (2015).

[10]

Hal ini diangkat sebagai tajuk utama Inside Tax Edisi 28, (2015).

[11]

OECD. Voluntary Disclosure Program, (Paris: OECD Publishing, 2015); dan

OECD, Report on Offshore Voluntary Disclosure Program, (Paris: OECD Publishing, 2010).
[12]

Kontan, 13 Februari 2015, Revisi UU Pajak masuk daftar 37 RUU prioritas 2015. Dapat

diakses padahttp://nasional.kontan.co.id/news/revisi-uu-pajak-masuk-daftar-37-ruu-prioritas2015.
[13]

Darussalam, Danny Septriadi, dan B. Bawono Kristiaji, Desain Kebijakan Pajak di

Indonesia dalam Era Demokrasi, Desentralisasi, dan Globalisasi. (Jakarta: DANNY


DARUSSALAM Tax Center, forthcoming).
[14]

Lihat OECD, Co-operative Compliance: A Framework, From Enhanced Relationship to

Co-operative Compliance, (Paris: OECD Publishing, 2013).


[15]

Dienda Khairani, Toni Febriyanto, dan Aprilia Nurjannatin, Advance Ruling:

Memperjelas Ketidakpastian bagi Wajib Pajak, Inside Tax Edisi 23 (2014): 8-11, 40-43.
[16]

Lihat misalkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 141/PMK.05/2015 tentang jenis jasa

lain yang dikenai PPh Pasal 23.


2. Pendidikan sebagai Kunci Penerimaan Pajak yang Berkesinambungan
Perubahan di arena pajak yang semakin cepat dan cenderung berfluktuasi harus diimbangi oleh
pengetahuan dan informasi yang bisa diperoleh dari pendidikan pajak. Pendidikan pajak tidak
dapat hanya diartikan sebagai salah satu strategi keberhasilan pemungutan pajak, program
memperbaiki kesadaran akan pentingnya membayar pajak, atau sebagai upaya memperbaiki tax
morale.
Lebih luas lagi, itu didasarkan pada suatu komitmen untuk kebaikan bersama dengan
menanamkan nilai sosial dari pajak, serta bagaimana hal tersebut dikaitkan dengan belanja
pemerintah.[1]
Dalam kondisi pajak yang sarat dengan persoalan-persoalan fundamental, pendidikan pajak dapat
memainkan peranan penting atas kemampuannya dalam merubah mindset, budaya, serta
mempersiapkan ahli-ahli pajak yang menjadi motor perubahan di kemudian hari. Pada dasarnya
pendidikan pajak dapat dikategorikan menjadi 4 area, sebagai berikut.

Pertama, melalui pendidikan dasar. Pendidikan dasar dapat diartikan sebagai penyebaran
pengetahuan tentang pajak di jenjang pendidikan formal pada tingkat primary,
secondary, dan tertiary (sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas).
Penyebaran pengetahuan tersebut bukan melalui kehadiran mata pelajaran perpajakan, namun
adanya muatan tentang pentingnya pajak.[2] Target dari penyebaran pengetahuan pajak lewat
pendidikan dasar adalah supaya terdapat mental dan kesadaran mengenai pajak sehingga pajak
menjadi hal yang tidak asing lagi.[3]
Dalam pendidikan dasar, sumber daya manusia perpajakan haruslah diletakkan dalam konteks
bahwa setiap warga negara nantinya harus memahami hak-hak dan kewajibannya sebagai
pembayar pajak. Berbagai negara telah memulai pendidikan pajak di usia dini.

"Dalam pendidikan dasar, sumber daya manusia perpajakan


haruslah diletakkan dalam konteks bahwa setiap warga negara
nantinya harus memahami hak-hak dan kewajibannya sebagai
pembayar pajak"
Misalkan di Jamaika, lewat program Schools Tax Education Programme (STEP) yang
dilaksanakan di level sekolah dasar hingga menangah atas pada tahun 2012.[4] Maroko juga
sudah memperkenalkan upaya melek pajak sejak dini pada tahun 2000.[5]
Kedua, edukasi dan sosialisasi pajak. Pada umumnya, hal ini dilakukan oleh pemerintah (atau
lembaga yang bekerjasama dengan pemerintah) secara gratis untuk menyampaikan dan himbauan
tentang segala macam ketentuan pajak yang berlaku.[6]
Pendidikan ini pada umumnya gratis, ditanggung dan sangat tergantung dari daya jangkauan
pemerintah (terutama otoritas pajak) untuk menjamin terlaksananya ketentuan pajak dengan baik.
Sebagai contoh, otoritas pajak di Turki melakukan kampanye secara nasional tentang SPT
elektronik lewat multimedia marketing.[7]
Di Indonesia, upaya edukasi dan sosialisasi pajak sudah banyak dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Pajak, baik melalui media cetak, televisi, radio, baliho-baliho, hingga
acara gathering dengan pembayar pajak. Kunci keberhasilan model pendidikan ini terletak pada
dimilikinya inisiatif oleh pemerintah dan tidak dapat diserahkan kepada pihak lain, semisal
lembaga swadaya pemerintah.[8]

Ketiga, pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal pajak fokus pada upaya pengembangan
keterampilan dan kemampuan peserta pendidikan ataupun sebagai prasyarat dari profesi tertentu,
melalui pelatihan ataupun kursus.
Sifat dari pendidikan non-formal biasanya tidak memiliki sistematika yang baku dan hanya fokus
pada suatu area tertentu (belum tentu mencakup segala aspek dalam perpajakan). Di Indonesia,
sebagian besar pendidikan non-formal di sektor pajak berupa Brevet A hingga C dalam rangka
untuk meraih sertifikasi konsultan pajak.
Terakhir, pendidikan tinggi formal. Pendidikan tinggi pada umumnya berupa pendidikan pasca
sekolah menengah atas yang memiliki sistematika baku dan bertujuan untuk menyiapkan tenaga
ahli di suatu bidang tertentu yang nantinya akan menjadi profesional dan mengembangkan
disiplin ilmu tersebut. Hal ini bisa lewat program vokasi maupun reguler (S-1 dan pasca sarjana).
Pendidikan dasar dan edukasi serta sosialisasi pajak berperan besar dalam membentuk apa yang
disebut sebagai culture of compliance. Akan tetapi, jika upaya pendidikan pajak di Indonesia
hanya terbatas pada upaya membentuk culture of compliance, maka kita hanya memiliki
individu-individu yang mengekor tanpa adanya kritik dan diskursus akademis mengenai suatu
hukum pajak.
Baik pendidikan dasar dan edukasi serta sosialisasi tidak dimaksudkan untuk membentuk
seseorang menjadi ahli dalam hal perpajakan. Ahli di bidang pajak merupakan output dari
pendidikan tinggi formal dan pendidikan non-formal perpajakan.
Terlepas dari peran strategis dari pendidikan dasar serta sosialisasi pajak oleh pemerintah, ahli di
bidang perpajakan akan memainkan peranan yang lebih vital dalam mempengaruhi seluk beluk
sektor perpajakan, baik dari sisi kebijakan, interpretasi, perumusan hukum, advokasi, sengketa
pajak serta hal-hal mengenai upaya memenuhi kepatuhan pembayar pajak.
3. Pasar Tenaga Kerja Ahli Perpajakan: Insentif Pengembangan Pendidikan Pajak
Investasi untuk menjadi ahli perpajakanpada dasarnya sangat terkait dengan (i) ekspektasi atas
ketersediaan tenaga kerja, (ii) bagaimana pekerjaan tersebut dapat menjamin penghasilan ahli
pajak tersebut di masa mendatang, dan juga (iii) bagaimana regulasi pemerintah terkait dengan
pengaturan profesi pajak sebagai kuasa hukum Wajib Pajak. Ketiga hal tersebut merupakan
insentif yang mendorong ketersediaan supply ahli pajak.

Dari sisi ketersediaan lapangan kerja dipastikan bahwa terdapat permintaan yang semakin tinggi
dari pasar tenaga ahli perpajakan, baik untuk sektor publik dan privat. Target tax ratio sebesar
16% di tahun 2019[9] dan di sisi lain terdapat rasio jumlah pegawai pajak dan jumlah penduduk
yang masih rendah[10] akan mendorong pemerintah pusat untuk melakukan rekrutmen tenaga
ahli perpajakan.
Hal tersebut juga didukung oleh rencana transformasi kelembagaan otoritas pajak yang
pengangkatan pegawai pajak nantinya lebih fleksibel dan tidak lagi bergantung dari skema
maupun kuota pengangkatan pegawai negeri.

"Hal tersebut juga didukung oleh rencana transformasi


kelembagaan otoritas pajak yang pengangkatan pegawai pajak
nantinya lebih fleksibel dan tidak lagi bergantung dari skema
maupun kuota pengangkatan pegawai negeri"
Kebutuhan pemerintah pusat juga tidak hanya mencakup pegawai pemungut pajak saja
(pemeriksa atau account representative), namun juga untuk perumus kebijakan, hingga hakim
pengadilan pajak.[11] Tingginya permintaan juga akan didorong oleh kebutuhan pemerintah
daerah untuk membangun kapasitas pemungutan pajak demi meningkatan pendapatan asli daerah
(PAD).
Gambar 1 - Prediksi Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja Ahli di Bidang Pajak

Sumber: direkonstruksi dari George Borjas, Labor Economics, (Boston: McGraw-Hill, 2000),
162
Di sisi lain, perhatian pemerintah juga akan mendorong permintaan jasa ahli pajak dari para
pembayar pajak yang akan digunakan sebagai pegawai perusahaan (in-house) maupun konsultan
pajak (outsource).
Secara bersamaan, meningkatnya perhatian pemerintah juga akan membuka jalan bagi
dibutuhkannya jasa dari lembaga riset perpajakan, pengamat, lembaga swadaya masyarakat, serta
jasa-jasa ahli lainnya yang terkait dengan perpajakan (kuasa hukum, akuntan, dan sebagainya).
Ditinjau dari sisi return yang bisa didapatkan, terdapat kecenderungan semakin meningkatnya
upah di sektor pajak. Kecenderungan ini merupakan hasil melonjaknya permintaan yang tidak
dapat diimbangi oleh supply ahli pajak (lihat Gambar 1).
Sebagai akibatnya, terjadi excess demand yang menciptakan titik keseimbangan baru
(equilibrium) di mana upah meningkat dari WI menjadi W*. Kecenderungan tersebut juga sejalan
dengan biaya yang timbul dari risiko perpajakan (sengketa hingga risiko reputasi)
akibat concern pemerintah yang semakin tinggi.

Telah menjadi rahasia umum, sebelum tahun 2015, renumerasi yang diterima ahli pajak di sektor
swasta jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sektor pemerintah. Sebagai akibatnya, selama ini
kerap terjadi migrasi ahli pajak dari sektor publik ke swasta.
Walau demikian, terdapat tren peningkatan upah ahli pajak di sektor pemerintah, yang
menunjukkan tren meningkat ditunjukkan dengan meningkatnya remunerasi pegawai Ditjen
Pajak di awal tahun ini sebagai tahapan menuju Badan Penerimaan Pajak (BPP).[12]
Kenaikan remunerasi ahli pajak di sektor pemerintah, akan direspon dengan tingginya
tawaran benefit di sektor privat dalam rangka menjaga ketersediaan sumber daya manusia. Oleh
karena itu, pada akhirnya nilai jasa ahli pajak semakin meningkat bukan semata-mata
karena labor supply yang terbatas, namun juga karena lingkungan memberikan value yang lebih
tinggi bagi ahli perpajakan tersebut.

"Oleh karena itu, pada akhirnya nilai jasa ahli pajak semakin
meningkat bukan semata-mata karena labor supply yang
terbatas, namun juga karena lingkungan memberikan value
yang lebih tinggi bagi ahli perpajakan tersebut"
Terkait dengan regulasi pengaturan tentang pihak yang akan menjadi kuasa Wajib Pajak untuk
menjalankan hak dan kewajiban perpajakan di Indonesia mengalami pasang surut dalam
perkembangannya sebagai berikut ini:[13]
1.

Saat berlakunya UU KUP tahun 2000


a.1. KMK-576 Tahun 2000
Gambar 2 - Saat berlakunya UU KUP tahun 2000 Menurut KMK-576 Tahun 2000

a.2. KMK-485 Tahun 2003


Gambar 3 -Saat berlakunya UU KUP tahun 2000 Menurut KMK-485 Tahun 2003

1.

3. PMK-97 Tahun 2005


Gambar 4 - Saat berlakunya UU KUP tahun 2000 Menurut PMK-97 tahun 2005

1.

Saat berlakunya UU KUP Tahun 2007


b.1. Berdasarkan PP 80 Tahun 2007 sebagaimana diganti dengan PP 74 tahun 2011
Gambar 5 - Saat berlakunya UU KUP Tahun 2007 Berdasarkan PP 80 Tahun 2007 sebagaimana
diganti dengan PP 74 tahun 2011

b.2. Berdasarkan PMK-22 Tahun 2008


Gambar 6 - Saat berlakunya UU KUP Tahun 2007 Berdasarkan PMK-22 Tahun 2008

b.3. Berdasarkan PMK-229 Tahun 2014 juncto PMK-111 Tahun 2014


Gambar 7 - Saat berlakunya UU KUP Tahun 2007 Berdasarkan PMK-229 Tahun 2014 juncto
PMK-111 Tahun 2014

Dari Tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa lulusan perpajakan dari perguruan tinggi tidak
diberi prioritas untuk bisa menjadi kuasa Wajib Pajak dibandingkan dengan lulusan non-pajak.
Bahkan dalam PMK-229 Tahun 2014, bagi karyawan yang akan menjadi kuasa Wajib Pajak di
tempatnya bekerja, lulusan D III pajak disetarakan dengan lulusan brevet dari suatu lembaga
kursus perpajakan.

Akan tetapi, dalam PMK-111 Tahun 2014, lulusan S1 di bidang perpajakan bisa mendapatkan
Sertifikat Konsultan Pajak secara langsung tanpa melalui ujian, tetapi sebatas Tingkat A. Untuk
itu perlu perubahan regulasi tentang kuasa Wajib Pajak yang bisa mendorong perguruan tinggi
untuk mengembangkan jurusan perpajakan.
Usulan penulis terkait dengan hal ini adalah menempatkan lulusan perpajakan dari suatu
perguruan tinggi, dengan suatu persyaratan tertentu, untuk dapat langsung mendaftarkan diri
menjadi kuasa wajib tanpa ujian sertifikasi (jalur otomatis). Namun, agar tidak terjadi monopoli
dari lulusan bidang perpajakan, lulusan non-perpajakan dari perguruan tinggi tetap bisa menjadi
kuasa Wajib Pajak melalui jalur penyetaraan. Sedangkan untuk pensiunan pegawai pajak, dapat
menjadi kuasa Wajib Pajak dari jalur penghargaan. Usulan tersebut dapat dirangkum dalam
gambar berikut ini

"Usulan penulis terkait dengan hal ini adalah menempatkan


lulusan perpajakan dari suatu perguruan tinggi, dengan suatu
persyaratan tertentu, untuk dapat langsung mendaftarkan diri
menjadi kuasa wajib tanpa ujian sertifikasi (jalur otomatis)"

4. Persaingan antara Pendidikan Tinggi Formal dan Non-Formal


Tren pasar tenaga kerja ahli pajak kemudian akan merembet pada persaingan antara lembaga
pendidikan tinggi formal dan pendidikan non-formal. Hal ini salah satunya dipicu oleh kriteria
yang dipergunakan untuk menilai siapa yang dapat dianggap ahli pajak yang sayangnya
seringkali disederhanakan hanya sebatas kriteria untuk menjadi kuasa hukum bagi Wajib Pajak
(pembayar pajak). Dalam kasus ini, peran regulasi, kualitas masing-masing pendidikan dan
persepsi pengguna ahli pajak berperan besar.
Pertama, regulasi yang mengatur kriteria yang berhak menjadi kuasa hukum pembayar pajak
sejatinya tidak pernah memihak baik kepada perguruan tinggi maupun pendidikan non-formal.
Sayangnya, ketentuan mengenai sertifikasi kuasa Wajib Pajak, seperti yang dijelaskan di muka,
sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi tetap harus mengikuti ujian sertifikasi.[14]

Akibatnya, daya saing perguruan tinggi sempat menurun karena mengikuti kelas Brevet Pajak
jelas lebih praktis dan menguntungkan di mana seseorang dengan biaya dan waktu lebih sedikit
dapat memiliki kesempatan masuk ke pasar tenaga kerja yang sama. Untungnya, peraturan
tersebut kini telah direvisi. Saat ini orang perseorangan yang telah memiliki ijazah Strata 1 (S-1)
atau Diploma IV program studi perpajakan dari perguruan tinggi berhak memperoleh Sertifikat
Konsultan Pajak tingkat A tanpa harus melalui ujian sertifikasi,[15] akan tetapi ini-pun belum
cukup.
Kedua, persaingan antara kedua jenis pendidikan tersebut juga dipengaruhi oleh kualitas
perguruan tinggi. Berdasarkan pengamatan penulis, pendidikan perpajakan yang dikembangkan
di perguruan tinggi sebagian besar hanya mempelajari teknis perhitungan ketentuan pajak
domestik (hukum positif) Indonesia, dan muatan materi perpajakannya hanya sekitar +/- 60%
dari total materi yang mereka pelajari.
Akibatnya, banyak mahasiswa perguruan tinggi yang ingin berkarir di bidang perpajakan merasa
tidak perlu mengambil program studi perpajakan di perguruan tinggi karena materi yang mereka
terima tidak berbeda jauh dengan program yang ditawarkan oleh kursus-kursus Brevet Pajak.
Di lain pihak, bagi calon mahasiswa yang telah mempunyai dasar-dasar pengetahuan perpajakan
yang ingin memperdalam pengetahuan perpajakannya juga akan ragu-ragu untuk mengikuti
program studi perpajakan tingkat lanjutan karena ilmu yang akan mereka dapatkan juga tidak
akan berbeda jauh dengan praktek keseharian mereka. Singkatnya, kehadiran lembaga pendidikan
pajak non-formal adalah indikasi dari kelemahan perguruan tinggi yang lamban mengikuti
perkembangan keilmuan pajak sekaligus bisnis pendidikan pajak.

"Singkatnya, kehadiran lembaga pendidikan pajak non-formal


adalah indikasi dari kelemahan perguruan tinggi yang lamban
mengikuti perkembangan keilmuan pajak sekaligus bisnis
pendidikan pajak"
Terakhir, hal ini didorong oleh persepsi pengguna jasa ahli pajak mengenai kriteria sebagai ahli
pajak. Sebagai contoh, banyak lowongan pekerjaan di bidang perpajakan hanya dengan
persyaratan sarjana ekonomi jurusan akuntansi plus mempunyai ijazah Brevet Pajak.
Padahal, fakta di lapangan dan pengalaman penulis selama lebih dari 20 tahun bergelut sebagai
aparat pajak, konsultan pajak, manajer yang menangani perpajakan di suatu perusahaan, dan
pengajar pajak di beberapa perguruan tinggi menunjukkan bahwa tidak cukup bagi seorang
jebolan fakultas ekonomi jurusan akuntansi dengan mengambil kursus Brevet Pajak akan mampu

menyelesaikan masalah-masalah praktik perpajakan apalagi masalah yang terkait dengan hukum
dan kebijakan perpajakan.
Persepsi dari pengguna jasa tersebut sulit untuk diubah secara cepat dan tergantung dari
pengalaman mereka atas kiprah dari ahli pajak yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.
Persaingan di antara kedua jenis pendidikan tersebut sebaiknya dimenangkan oleh perguruan
tinggi. Kata kuncinya terletak pada perbaikan kurikulum dan hal-hal lain yang dapat menciptakan
daya saing perguruan tinggi. Jika tidak, permintaan akan lembaga pendidikan pajak justru akan
menghasilkan menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan pajak non-formal dan migrasi calon
ahli pajak ke pendidikan non-formal tidak dapat dihindarkan.
(Bersambung)
[1]

OECD, Building tax Culture, Compliance and Citizenship: A Global Source Book of

Taxpayer Education(Paris: OECD Publishing, 2015).


[2]

Pendapat ini disampaikan oleh Kismantoro Petrus, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan

Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak periode 2011-2014. Lihat Inside Tax Edisi 15 (2013), 14-15.
[3]

Bandingkan misalkan dengan muatan tentang anti-korupsi.

[4]

OECD, Building tax Culture, Compliance and Citizenship: A Global Source Book of

Taxpayer Education(Paris: OECD Publishing, 2015): Bab 12.


[5]

OECD, Building tax Culture, Compliance and Citizenship: A Global Source Book of

Taxpayer Education(Paris: OECD Publishing, 2015): Bab 19.


[6]

Dianggap sebagai bagian dari administrative cost.

[7]

OECD, Building tax Culture, Compliance and Citizenship: A Global Source Book of

Taxpayer Education(Paris: OECD Publishing, 2015): Bab 27.


[8]

Lihat pengalaman di Mauritius. OECD, Building tax Culture, Compliance and

Citizenship: A Global Source Book of Taxpayer Education (Paris: OECD Publishing, 2015).
[9]

Target yang dicanangkan Presiden Joko Widodo untuk membiayai pembangunan.

[10]

Di tahun 2012, rasio jumlah pegawai pajak dengan jumlah penduduk adalah 1 : 7.700,

bandingkan dengan Jepang (1 : 1.818), atau Jerman (1:727). Lihat Gambaran Kondisi Organisasi
Ditjen Pajak: Komparasi dengan Negara Lain, Inside Tax Edisi 18 (2013).
[11]

Tempo.co, 14 Januari 2015, Jumlah Hakim Pajak Terlalu Sedikit

[12]

Kompas, 23 Maret 2015, Tak Naik Gaji 7 Tahun, Pantaskah Tunjangan Triliunan Rupiah

untuk Pegawai Pajak?


[13]

Darussalam dan Danny Septriadi, Ada Apa Dibalik ketentuan Kuasa Wajib

Pajak?, Inside Tax Edisi 05 (2008): 7-10.


[14]

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 22/PMK.03/2008.

[15]

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.03/2014 tentang Konsultan Pajak, Pasal 8,

9 dan 10.
5. Re-desain Kurikulum Pendidikan Pajak di Perguruan Tinggi?
5.1. Gambaran Umum
Di Indonesia, pada umumnya ilmu pajak diajarkan lewat kurikulum yang ada di fakultas hukum
atau fakultas ekonomi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di Belgia.[1] Hingga saat
ini, hanya segelintir perguruan tinggi yang berani membuka program studi khusus perpajakan,
misal di Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, STAN, STIAMI, dan STPI.
Dengan semakin cepatnya perkembangan perpajakan di Indonesia seperti penulis kemukan di
bagian 2 dan semakin tingginya lalu lintas barang, orang, modal, dan jasa antar negara; maka,
apabila perguruan tinggi yang mempunyai program studi perpajakan tidak mereformasi diri
mengembangkan kurikulumnya pasti tidak akan dapat menjawab perkembangan yang terjadi
tersebut.
Tuntutan mahasiswa program studi perpajakan tentunya juga akan berubah sejalan dengan
perkembangan pajak. Tuntutan mereka tidak lagi hanya sekedar tahu apa dan bagaimana
mekanisme hukum pajak domestik Indonesia bekerja untuk memajaki para Wajib Pajak, tetapi
mereka juga ingin tahu hal-hal seperti bagaimana desain sistem perpajakan, konstitusi dan hukum
yang mengatur pengenaan pajak terhadap rakyatnya, aspek pajak internasional, kerangka tax
planning, hingga bagaimana kaitan pajak dengan lingkungan hidup.[2]

"Tuntutan mahasiswa program studi perpajakan tentunya juga


akan berubah sejalan dengan perkembangan pajak"
Dengan mengkombinasikan antara ketentuan pajak domestik dan jawaban atas pertanyaanpertanyaan tersebut di atas, diharapkan program studi perpajakan mempunyai nilai lebih yang
tidak didapatkan di program lain apalagi di kursus Brevet Pajak.
Jadi, tidak ada lagi keraguan dari calon mahasiswa apakah akan masuk fakultas ekonomi jurusan
akuntansi dengan mengambil kursus brevet pajak, atau langsung mengambil program studi
perpajakan.
5. 2. Pemahaman Pajak melalui Pendekatan Baru
Pajak sebagai Multi Disiplin Ilmu
Telaah mengenai pajak perlu menyertakan pendekatan disiplin ilmu lainnya. Oleh McCrudden,
hal ini disebut sebagai a pluralism of methodological approach. Seringkali pendekatan tersebut
ditakutkan justru akan membuat atau justru menjustifikasi bahwa ilmu pajak merupakan ilmu
sosial kelas dua (second tiersocial science). Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar.
Ahli (hukum) pajak justru harus mempelajari maksud dan tujuan dari suatu hukum pajak,
persoalan efisiensi ekonomi, serta dampaknya terhadap perilaku sosial.[3] Pendapat ini juga
didukung oleh Livingston yang mendukung methodological pluralism di mana ahli pajak
haruslah meminjam disiplin-disiplin ilmu lainnya tanpa harus didominasi oleh keilmuan
tersebut.[4]
Ilmu hukum, akuntansi dan ilmu ekonomi sangat berkaitan erat dengan pajak, demikian eratnya
sehingga diungkapkan oleh Wheatcroft: taxation is a subject which forms a bridge between
economists, accountants, and lawyers.[5]
Ilmu politik dan sosiologi juga berkaitan dengan pajak karena setiap negara mempunyai
perbedaan perilaku terhadap pembayaran pajak dan perbedaan metode administrasi pajak, jumlah
pemeriksaan pajak, tingkat korupsi, dan perilaku terhadap perencanaan pajak yang agresif.[6]
Margaret Lamb juga menyarankan bahwa untuk memperkaya hasil penelitian masalah perpajakan
adalah dengan cara menggabungkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.[7] Oleh karena itu
tidak mengherankan jika di Belanda tidak terdapat perbedaan yang besar antara apa yang disebut
sebagai tax lawyers dan tax economists.[8]

"Margaret Lamb juga menyarankan bahwa untuk memperkaya


hasil penelitian masalah perpajakan adalah dengan cara
menggabungkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu"
Studi Perbandingan
Victor Thuronyi, Senior Councel IMF, berargumen bahwa pengetahuan yang paling mendasar
untuk memahami perpajakan adalah dengan melakukan comparative tax. Pendekatan melalui
perbandingan diharapkan dapat menarik perhatian seseorang untuk memahami prinsip-prinsip
dasar mengenai perpajakan dan mengurangi mempelajari hal-hal yang bersifat terlalu teknis
(yang mewarnai pendidikan perpajakan saat ini).
Tax law reformers yang bekerja dengan negara-negara yang berbeda dan sangat berkepentingan
dengan perbaikan kerjasama internasional untuk masalah perpajakan dituntut untuk menguasai
secara baik sistem pajak di negara lainnya. Untuk litigators dan policy analysis, referensi
terhadap keputusan dari pengadilan pajak negara lain dapat memberikan sudut pandang yang
baru.[9]
Salah satu alasan perlunya untuk melakukan perbandingan perpajakan dengan negara lain
menurut Jorg Manfred Mossner, seorang akademisi dari Jerman, adalah untuk membandingkan
jawaban yang berbeda terhadap pertanyaan yang sama, atau suatu masalah tidak hanya sekedar
memberikan pemahaman saja (theoretical aspect), tetapi juga dapat membantu untuk
memperbaiki sistem yang diadopsi oleh suatu negara (de lege ferenda aspect) dengan cara
mencontoh pemecahan suatu masalah yang dialami oleh negara lain.[10]
Kasus-kasus Pajak
Salah satu perbedaan mendasar diantara sistem pendidikan pajak di Indonesia dan di benua
Eropa, Australia, dan Amerika adalah penggunaan kasus-kasus pajak dalam proses pembelajaran.
Kasus-kasus pajak menjadi bagian utama dari sistem pembelajaran pajak di banyak universitas di
benua Eropa, Australia, dan Amerika.[11]
Tidak itu saja, textbook yang menjadi pegangan mahasiswa pajak di negara-negara tersebut
seringkali memuat ringkasan atau intisari dari kasus-kasus pajak sebagai bahan acuan dalam
mempelajari hukum pajak. Diskusi tentang definisi dari suatu terminologi dan konsep dalam
suatu peraturan perundang-undangan dikaitkan dengan putusan pengadilan sehingga hal ini akan
membantu siswa dalam mempelajari penerapan hukum pajak berdasarkan kasus-kasus pajak (law
in actions) dan tidak sekedar berdasarkan hukum positif saja (law in books).

Sementara di Indonesia, kasus-kasus pajak tidak banyak dibahas di kelas-kelas pajak. Metode
pembelajaran yang lebih menekankan pada hukum positif merupakan salah satu penyebab kasuskasus pajak tidak banyak mendapat tempat dalam kelas dant tidak dijadikan bahan acuan dalam
kajian-kajian akademis.

"Metode pembelajaran yang lebih menekankan pada hukum


positif merupakan salah satu penyebab kasus-kasus pajak
tidak banyak mendapat tempat dalam kelas dant tidak
dijadikan bahan acuan dalam kajian-kajian akademis"
Selain itu, akses ke putusan pengadilan yang terbatas hanya pada ringkasan putusan merupakan
penyebab lain dari tidak digunakannya kasus-kasus pajak dalam metode pembelajaran pajak di
kelas-kelas pajak di universitas di Indonesia.[12] Hal ini mengakibatkan siswa hanya dipaksakan
untuk menghafal peraturan tanpa memahami maksud dari tujuan tersebut serta tidak mengetahui
cara menginterpretasikan hukum positif yang sebenarnya bisa diperoleh dari metode
pembelajaran berdasarkan kasus-kasus pajak.
Konsekuensi dari sistem pembelajaran seperti ini bukan hanya berdampak ke sistem pendidikan
pajak saja, tetapi lebih luas lagi ke sistem perpajakan di Indonesia. Hal ini dikarenakan
pertimbangan Hakim Pengadilan sebagai penafsir terakhir undang-undang dalam putusan
pengadilan tidak menjadi cermin perbaikan bagi pembuat undang-undang perpajakan terkait
implementasi peraturan perundangundangan yang disusunnya.
Dalam konteks sistem pendidikan pajak, hal ini menyebabkan siswa tidak memiliki kemampuan
analitikal ketika masuk ke dalam dunia kerja dan berhadapan dengan kasus-kasus nyata
perpajakan.
5.3. Berpikir Kritis dan Berpijak pada Keilmuan sebagai Nilai-nilai yang Diusung
Metode belajar yang lebih banyak menuntut siswa untuk menghafal merupakan penghalang
dalam sistem pendidikan pajak yang efektif. Siswa hanya diajarkan untuk menghafal tarif pajak,
aturan pajak dan implikasi pajak dari suatu transaksi, tanpa adanya suatu analisis atas kebijakan,
hukum, administrasi atau analisis ekonomi dari peraturan perundang-undangan, sehingga siswa
cenderung tidak mengetahui what beyond the rules.
Metode pembelajaran pajak di banyak universitas di Indonesia juga tidak melatih siswa untuk
berpikir kritis terutama terkait efek dari berbagai aturan pajak dan juga mengalami kesulitan
dalam menerapkan peraturan pada berbagai variasi situasi atau kasus yang akan dipecahkan.

Pemahaman atau kemampuan untuk menelaah what beyond the rules juga akan mendorong
setiap ahli di bidang perpajakan untuk berbicara dalam bahasa yang sama yaitu bahasa keilmuan
dan bukan atas dasar kepentingan. Dengan demikian, segala perdebatan, sengketa, serta
interpretasi dapat dikaitkan dengan: (i) sejauh mana hukum pajak telah disusun dan dilaksanakan
sesuai dengan maksud dan tujuannya; serta (ii) sejauh mana hukum pajak telah disusun dan
dilaksanakan sesuai dengan perkembangan aktivitas ekonomi, perkembangan keilmuan dan best
practice di berbagai negara.
Pengalaman di lapangan menunjukkan adanya kecenderungan untuk melakukan interpretasi satu
peraturan perundang-undangan secara subyektif tergantung pada posisi mana ahli pajak tersebut
berpijak.
5.4. Corporate Governance dalam Pajak
Dewasa ini, aktivitas penghindaran pajak ditenggarai semakin meningkat di mana ahli pajak yang
berprofesi sebagai konsultan pajak sering dituding sebagai promotor. Abusive corporate tax
shelters kian berkembang pesat dan menjadi isu yang serius.[13]
Sejatinya, sebagian besar konsultan pajak membantu klien mereka untuk menghindari kesalahan
dan mencegah mereka untuk terlibat dalam kegiatan melanggar hukum atau melakukan kegiatan
yang terlalu agresif.[14]
Namun di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa keahlian yang dimiliki oleh konsultan pajak juga
dapat disalahgunakan untuk membantu klien dalam memanfaatkan peluang untuk melakukan
ketidakpatuhan.[15]
Hal ini sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Sakurai dan Braithwaitemenunjukkan
bahwa terdapat kepatuhan pajak yang lebih rendah dan penggunaan strategi penghindaran pajak
yang lebih agresif ketika Wajib Pajak menggunakan jasa konsultan pajak. Hal ini merupakan
temuan yang mengundang perdebatan, di tengah peran konsultan pajak sebagai agen pemerintah
dalam mengumpulkan pajak atau lebih condong sebagai agen penasihat klien.[16]
Untuk menghindari aktivitas penghindaran pajak yang agresif, calon ahli pajak tidak hanya perlu
dibekali dengan profesionalisme namun juga integritas. Selama ini, tata kelola bisnis (corporate
governance) dan pajak menjadi dua ranah yang terpisah dan belum banyak diperdalam.

"Untuk menghindari aktivitas penghindaran pajak yang


agresif, calon ahli pajak tidak hanya perlu dibekali dengan
profesionalisme namun juga integritas"
Namun, keduanya pada dasarnya saling mempengaruhi, misalkan dalam hal pelaporan keuangan,
perencanaan pajak yang agresif baik yang diperkenankan maupun tidak, hingga menjaga
terpenuhinya goal secara bisnis (laba) maupun secara tata kelola yang baik (kepatuhan pajak).
[17]
Singkatnya, muatan kode etik dan corporate governance menjadi salah satu elemen yang harus
dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi di bidang pajak. Jika tidak, ahli pajak justru akan
memanfaatkan informasi asimetri yang ada di dalam sektor pajak Indonesia dan menciptakan
biaya kepatuhan yang lebih tinggi.[18]
5.5.Staf Pengajar dan Fasilitas Penunjang di Perguruan Tinggi
Atas karena sifatnya mudah berubah-ubah antar waktu, akses informasi mengenai hukum pajak
mutlak dimiliki. Di sinilah suatu ketersediaan data indikator perpajakan, hukum pajak di berbagai
negara, putusan pengadilan pajak dan berbagai literatur tentang pajak menjadi sangat penting.
Hal ini agar kajian dan diskusi mengenai kesesuaian suatu peraturan dengan konteks waktu dan
yurisdiksi semakin kaya dan tidak berhenti di titik tertentu. Perguruan tinggi perlu untuk setidaktidaknya berlangganan database perpajakan dan juga jurnal-jurnal internasional yang kredibel.
[19] Investasi atas kepemilikan informasi akan membentuk perguruan tinggi sebagai garda
terdepan pusat kajian pajak.
Selain itu, komponen yang tidak kalah pentingnya adalah kuantitas dan kualitas staf pengajar. Ini
mungkin menjadi persoalan yang cukup serius mengingat supply dari ahli pajak yang bergerak di
bidang akademis sangatlah terbatas, terutama karena di masa lalu belum banyak perguruan tinggi
yang memiliki progam khusus perpajakan.
Akibatnya, seringkali perguruan tinggi bergantung atas staf pengajar yang berasal dari otoritas,
sehingga materi kuliah minim perspektif dari sudut pandang non-pemerintah.[20] Oleh karena
itu, ada baiknya jika perguruan tinggi harus berburu dan membuka peluang yang luas bagi staf
pengajar dari berbagai profesi serta bidang keilmuan.

Kualitas pengajar harus dijaga dan ditingkatkan dengan program pengembangan keilmuan bagi
mereka. Mereka juga harus dituntut untuk selalu melakukan inovasi dan penelitian dengan
didukung oleh fasilitas, remunerasi, serta ketersediaan dana riset yang sangat memadai.
Penutup
Banyak cara atau terobosan yang bisa dipergunakan untuk mencapai penerimaan pajak yang
berkualitas dan berkesinambungan. Walau demikian, banyak pihak melupakan peranan penting
dari dunia pendidikan pajak.
Pendidikan dapat merubah mindset serta tax morale masyarakat, sehingga dengan demikian dapat
menciptakan masyarakat melek pajak. Pendidikan pajak juga penting untuk mencetak ahli-ahli
pajak yang nantinya dapat berkiprah dalam membentuk sistem perpajakan yang ideal.
Terdapat dua hal yang mendorong permintaan pendidikan pajak, yaitu: (i) lingkungan perpajakan
Indonesia kini telah berubah drastis dan (ii) prospek pasar tenaga kerja ahli pajak.
Masalahnya adalah apakah perguruan tinggi Indonesia bisa menangkap perubahan ini bisa
sebagai suatu peluang untuk mendirikan dan/atau mengembangkan program studi perpajakan
yang berbeda dengan program studi perpajakan yang ada selama ini, yaitu yang masih
berorientasi kepada teknis perhitungan dan terbatas pada ruang lingkup ketentuan perpajakan
domestik. Tanpa adanya suatu jalan baru pendidikan pajak di perguruan tinggi, peluang
tersebut akan diambil oleh lembaga pendidikan non-formal.
Jalan baru tersebut bisa dimaknai dalam berbagai hal. Pertama, mempelajari perpajakan tidak bisa
lagi terkotak-kotak berdasarkan masing-masing disiplin ilmu, mempelajari pajak tidak lagi
sekedar mempelajari ketentuan perpajakan domestik saja.
Sudah saatnya mempelajari pajak dengan pendekatan multi disiplin ilmu, studi perbandingan
dengan negara lain, dan menelaah kasus-kasus pajak. Selain itu, perguruan tinggi juga harus
memegang teguh nilai-nilai etika,corporate governance, berbasis riset dan menjunjung tinggi
kerangka keilmuan.

"Sudah saatnya mempelajari pajak dengan pendekatan multi


disiplin ilmu, studi perbandingan dengan negara lain, dan
menelaah kasus-kasus pajak"

Seluruh hal tersebut harus didukung oleh ketersediaan staf pengajar yang berkualitas serta
infrastruktur yang berupa akses data, literatur, perbaikan remunerasi, dan juga dana riset.

[1]

Jacques Malherbe, Belgium European Tax Education, European Taxation (Maret

1999): 119.
[2]

Lihat Anuschka Bakker, Tax and the Environment: A World of Possibilities, (Amsterdam:

IBFD Publication, 2009).


[3]

C. McCrudden, Legal Research and the Social Science, Law Quarterly Review 122

(2006): 642 645.


[4]

Michael A. Livingston, Reinventing Tax Scholarship: Lawyers, Economists and the Role

of Legal Academy, Cornell Law Review 83 (1998): 406.


[5]

Seperti dikutip dari Andrew Park, Tax Law in and after the Wheatcroft Era dalam R.

Rawlings (ed), Law, Society and the Economy. (Oxford: Clarendon Press, 1997), 131-145.
[6]

Victor Thuronyi, Comparative Tax Law, (The Hague: Kluwer Law International, 2003), 6.

[7]

Margaret Lamb, Taxation: An I

[8]

Rene Niessen, Netherlands European Tax Education, European Taxation Maret 1999:

130.
nterdisciplinary Approach to Research, (Oxford: Oxford University Press, 2004), 4-7.[9]
Victor Thuronyi, Comparative Tax Law, (The Hague: Kluwer Law International, 2003), 1.
[10]

Jorg Manfred Mossner, Why and How to Compare Tax Law, dalam Liber Amicorum

Luc Hinnekens, (2002), 306.


[11]

Li Jin, Teaching Taxation Law in China, Bulletin for International Taxation, (Mei 2008):

189. Lihat juga J.M. Mossner, Tax Avoidance Concepts and European Tax Education: Professor
of Tax Law Hold First Meeting in Onasbruck, European Taxation, (1999): 92-135.

[12]

Lihat Ganda Christian Tobing, Indah Kurnia, dan Cindy Miranti, Menilik Transparansi di

Pengadilan Pajak, Inside Tax Edisi 22, (2014).


[13]

Daniel Shaviro, Disclosure and Civil Penalty Rules in the U.S. Legal Response to

Corporate Tax Shelters, dalam Wolfgang Schon (ed.), Tax and Corporate Governance, (Berlin:
Springer, 2008), 229.
[14]

OECD, Study into the Role of Tax Intermediaries, (Paris: OECD Publishing, 2008), 14.

[15]

Brian Erard, Taxation with Representation An Analysis of the Role of Tax Practitioners

in Tax Compliance, Journal of Public Economics 52 (1993): 163-164.


[16]

Yuka Sakurai dan Valerie Braithwaite, Taxpayers Perceptions of Practitioners: Finding

One Who is Effective and Does the Right Thing? Journal of Business Ethics, (2003): 376.
[17]

Mihir A. Desai dan Dhammika Dharmapala, Tax and Corporate Governance: An

Economic Approach, dalam Wolfgang Schon (ed.), Tax and Corporate Governance, (Berlin:
Springer, 2008), 13-30.
[18]

Lihat B. Bawono Kristiaji, Asymmetric Information and Its Impact on Tax Compliance

Cost in Indonesia: A Conceptual Approach, DDTC Working Paper No 0113 (2013).


[19]

Contohnya adalah: Bulletin for International Taxation, Intertax, Journal of Public Finance,

British Tax Review, dan sebagainya.


[20]

Terutama karena di masa lalu ahli pajak banyak dihasilkan dari sekolah yang dikhususkan

untuk menjadi pegawai pemerintah (STAN).