Anda di halaman 1dari 13

BUKTI AUDIT DAN PENDUKUNGNYA

Tugas mata kuliah Audit Sektor Publik


Angkatan III STAR BPKP Tahun 2014

oleh:

RINA ANDAYANI

1420532047

RIO ALKAUSAR

1420532048

ROBER SENIA

1420532049

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
1

BUKTI AUDIT DAN PENDUKUNGNYA

Bukti audit sangat besar pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor dalam
rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya. Oleh karena itu, auditor
harus mengumpulkan dan mengevaluasi bukti yang cukup dan kompeten agar kesimpulan
yang diambilnya tidak menyesatkan bagi pihak pemakai dan juga untuk menghindar dari
tuntutan pihak-pihak yang berkepentingan di kemudian hari apabila pendapat yang
diberikannya tidak pantas.
Dalam pengauditan, auditor harus mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan dan
mendokumentasikan informasi bukti untuk mendukung hasil audit, dalam hal ini berarti
(Bastin, 2013):
1. Auditor harus mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan sasaran dan ruang
lingkup pekerjaan audit;
2. Bukti audit harus cukup, kompeten, relevan, dan bermanfaat untuk memberikan dasar
bagi temuan-temuan audit, dan penyusunan rekomendasi;
3. Prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti audit harus diseleksi lebih
lanjut, dan dapat dipraktekkan dan diperluas atau diubah bila situasi memungkinkan;
4. Dalam rangka memelihara objektivitasnya dan untuk mencapai sasaran audit,
pengumpulan, penganalisisan, interpretasi dan pendokumentasian bukti audit harus
diawasi;
5. Kertas kerja audit harus disiapkan dan di-review guna mendokumentasikan bukti audit
yang didapatkan.
A. Bukti Audit
Pembahasan tentang bukti audit didasarkan atas standar pekerjaan lapangan yang ketiga yang
berbunyi:
Bukti kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan
keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan yang diaudit
Mulyadi (2002) menekankan bahwa berdasarkan standar tersebut ada empat unsur yang
penting, yaitu (1) bukti, (2) kompeten, (3) cukup, dan (4) sebagai dasar yang layak.
Bukti
Defenisi bukti menurut kamus bahasa Indonesia seperti dikutip dari Reality Publisher adalah
sesuatu yang dijadikan sebagai keterangan nyata, sesuatu yang dipakai sebagai landasan
keyakinan kebenaran terhadap kenyataan, sesuatu yang menyatakan kebenaran peristiwa; hal
yang menjadi tanda perbuatan yang diperlukan untuk penyidikan perkara pidana (Bastian,
2

2013). Bukti audit menurut Mulyadi (2002) adalah segala informasi yang mendukung angkaangka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh
auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya. Arens et. al. (2012) memberikan
defenisi bukti audit sebagai setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan
apakah informasi yang diaudit telah dinyatakan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
Dasar untuk setiap pengauditan adalah bukti yang dikumpulkan dan dievaluasi oleh auditor.
Auditor harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk
mengumpulkan bukti yang meyakinkan dalam setiap pengauditan sesuai dengan standar
profesi.
Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua
informasi penguat yang tersedia bagi auditor (corroborating information). Informasi tersebut
sangat bervariasi sesuai dengan kemampuannya dalam meyakinkan auditor bahwa laporan
keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.
1. Data akuntansi, dibagi menjadi catatan akuntansi berdasarkan laporan keuangan
(contoh: cek dan bukti elektronik hasil transfer, faktur, kontrak, buku besar dan buku
pembantu, jurnal penyesuaian dan pernyataan lain terhadap laporan keuangan yang
tidak mempengaruhi dalam formal jurnal penyesuaian, data seperti worksheet dan
spreadsheet yang mendukung biaya alokasi, perhitungan, dan rekonsiliasi dan
disclosure) dan pengendalian intern.
2. Informasi lain yang menguatkan catatan akuntansi dan mendukung alasan logika
auditor mengenai kebenaran penyajian dalam laporan keuangan, Jenis-jenis bukti audit
ini menurut Arens et. al. (2012) dibagi menjadi beberapa kategori, sebagai berikut:
a) Pemeriksaan fisik, merupakan pemeriksaan atau penghitungan yang dilakukan
oleh auditor atas aset berwujud. Pemeriksaan fisik dianggap sebagai salah satu
bukti audit yang paling andal dan berguna, karena merupakan salah satu bukti
objektif dalam audit;
b) Konfirmasi, merupakan jawaban lisan atau tertulis yang diterima dari pihak ketiga
yang independen untuk melakukan verifikasi atas keakuratan informasi yang
diminta oleh auditor. Konfirmasi juga memiliki keandalan yang tinggi, namun
bukti audit termasuk yang mahal biayanya, karena auditor harus melaksanakan
sejumlah prosedur secara berhati-hati dalam rangka mempersiapkan pengiriman
konfirmasi dan penerimaan kembali serta upaya untuk menindaklanjuti berbagai
konformasi yang tidak menerima tanggapan atau sejumlah pengecualian
konfirmasi;
c) Dokumentasi, merupakan pemeriksaan auditor atas dokumen-dokumen dan catatan
klien untuk membuktikan informasi yang harus (atau sebaliknya) dimasukkan
dalam laporan keuangan. Dokumentasi adalah suatu bentuk bukti yang
dipergunakan secara luas dalam setiap penugasan audit karena pada umumnya
jenis bukti ini telah tersedia bagi auditor dengan biaya perolehan bukti yang relatif
rendah. Seringkali jenis bukti ini merupakan satu-satunya jenis bukti audit yang
layak dan siap pakai;
3

d) Prosedur analitis, menggunakan perbandingan dan keterkaitan untuk menilai


apakah saldo-saldo akun atau data lain yang muncul telah disajikan secara wajar
dibandingkan dengan perkiraan auditor;
e) Tanya jawab dengan klien, merupakan jawaban tertulis atau informasi yang
diperoleh dari klien sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh auditor;
f) Penghitungan ulang, mencakup pengecekan ulang atas contoh-contoh perhitungan
yang dilakukan oleh klien;
g) Pengerjaan ulang, merupakan pengujian yang dilakukan oleh seorang auditor
independen terhadap prosedur pembukuan atau pengendalian yang awalnya
dilakukan sebagai bagian dari pembukuan entitas dan sistem pengendalian
internal;
h) Pengamatan, merupakan penggunaan panca indera untuk menilai aktivitasaktivitas klien;
i) Bukti dari para ahli, Mulyadi (2002) menambahkan bukti dari para ahli sebagai
bukti audit. Ahli/spesialis merupakan orang atau lembaga yang memiliki
keahlian/pengetahuan khusus selain akuntansi dan auditing, seperti: geologist,
appraiser, teknik sipil dan sebagainya.
Kompeten
Berdasarkan standar pekerjaan lapangan yang ketiga auditor diwajibkan untuk mengumpulkan
bukti yang tepat dan memadai (sufficient appropriate evidence) untuk mendukung opini audit
yang akan diberikan (Arens et. al., 2012). Penentu keandalan bukti adalah ketepatan
(appropriateness) dan kecukupan (sufficiency) bukti. Karakteristik untuk menentukan
ketepatan bukti adalah relevansi dan keandalan.
Mulyadi (2002) menyatakan bahwa kompetensi audit berkaitan dengan kualitas dan keandalan
data akuntansi dan informasi penguat. Kompetensi data akuntansi dipengaruhi secara langsung
oleh efektivitas pengendalian intern. Pengendalian intern yang kuat memberikan keandalan
data-data akuntansi dan bukti-bukti lainnya yang dibuat dalam organisasi klien. Sebaliknya,
pengendalian intern yang lemah seringkali tidak dapat mencegah dan mendeteksi kekeliruan
dan kecurangan yang terjadi dalam akuntansi. kompetensi informasi penguat dipengaruhi
beberapa faktor, sebagai berikut:
1. Relevansi, bukti audit harus berkaitan dengan tujuan audit;
2. Sumber, bukti audit yang bersumber dari luar organisasi klien memiliki kompetensi
yang dianggap tinggi;
3. Ketepatan waktu, berkaitan dengan tanggal berlakunya bukti audit yang diperoleh
auditor;
4. Objektivitas, bukti yang bresifat objektif dianggap lebih andal dibandingkan dengan
bukti yang bersifat subjektif;
4

5. Cara perolehan bukti


Cukup
Kecukupan bukti audit berkaitan dengan kuantitas bukti audit yang harus dikumpulkan
auditor, yang membutuhkan pertimbangan profesional auditor. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertimbangan auditor dalam menentukan kecukupan bukti audit, sebagai
berikut (Mulyadi, 2002):
1. Materialitas dan resiko, makin tinggi tingkat materialitas dan resiko audit, makin besar
jumlah bukti audit;
2. Faktor ekonomi, dalam menentukan kecukupan bukti audit auditor harus
mempertimbangkan faktor cost and benefit;
3. Ukuran dan karakteristik populasi, berkaitan dengan sampling bukti audit: makin besar
populasi bukti audit makin besar jumlah sampel, makin heterogen populasi makin
besar jumlah sampel.
Sebagai Dasar yang Layak
Auditor tidak dituntut untuk menjadikan bukti audit yang dikumpulkannya saat pengauditan
sebagai dasar mutlak menentukan opini terhadap kewajaran laporan keuangan yang disajikan
klien. Dasar yang layak berkaitan dengan tingkat keyakinan secara keseluruhan yang
diperlukan oleh auditor untuk menyatakan pendapat (Mulyadi, 2002). Arens et. al. (2012)
menyatakan bahwa opini yang diberikan oleh auditor berdasarkan bukti audit haruslah berupa
opini yang berlandaskan keyakinan yang tinggi (high level of assurance).
Mulyadi (2002) menyebutkan beberapa faktor yang menjadi pertimbangan auditor tentang
kelayakan bukti audit, sebagai berikut:
1. Pertimbangan profesional, merupakan salah satu faktor yang menentukan keseragam
penerapan mutu audit sesuai dengan Pernyataan Standar Auditing (PSA);
2. Integritas manajemen, bukti kompeten akan dibutuhkan apabila auditor merasakan
keraguan atas integritas manajemen;
3. Kepemilikan publik versus kepemilikan terbatas, makin luas kepemilikan organisasi
(contoh: PT yang go public), makin tinggi tingkat keyakinan auditor yang diperlukan,
karena laporan audit akan dipergunakan oleh kalangan yang lebih luas;
4. Kondisi keuangan
Keputusan utama yang dihadapi para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti audit
yang tepat untuk dikumpulkan agar dapat memberikan keyakinan yang memadai bahwa
berbagai komponen dalam laporan keuangan serta dalam keseluruhan laporan lainnya telah
disajikan secara wajar. Hal ini penting karena adanya hambatan biaya dalam menguji dan
mengevaluasi semua bukti audit yang tersedia. Kewajiban auditor untuk mengumpulkan bukti
audit kompeten yang cukup untuk mendukung opini yang akan diterbitkan.
5

B. Transaksi dan Bukti Transaksi


Transaksi merupakan kegiatan merubah posisi keuangan suatu entitas dan pencatatannya,
dimana data/bukti/dokumen pendukung disediakan dalam kegiatan operasi suatu organisasi
sektor publik, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, yayasan, LSM maupun partai politik
(Bastian, 2013). Transaksi pada sektor publik, menurut Bastian (2013) dibedakan menjadi 3
jenis transaksi, yaitu:
1. Kas, transaksi kas menurut Sumadji seperti dikutip Bastian (2013) adalah suatu
transaksi dimana pertukaran dilakukan dengan segera;
2. Kredit, transaksi kredit berarti suatu transaksi dimana pembayaran dilakukan tidak
secara langsung namun dilakukan dalam jangka waktu tertentu;
3. Barter, merupakan transaksi dimana pembayaran dilakukan tidak dengan pengeluaran
uang, tetapi dengan pertukaran barang-barang atau jasa-jasa.
Transaksi yang dilakukan oleh organisasi sektor publik diatur berdasarkan kebijakan
pengelolaan keuangan atau atauran organisasi yang diberlakukan, dapat berupa peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Bukti transaksi merupakan dokumen yang digunakan
sebagai keterangan atau landasan keyakinan kebenaran terhadap kegiatan yang merubah posisi
keuangan suatu entitas dan pencatatannya. Bukti-bukti tersebut sah secara hukum, sebagai
tanda terjadinya suatu transaksi. Ukuran keabsahan (validity) bukti tersebut untuk tujuan audit
tergantung pada pertimbangan auditor independen, bukti audit berbeda dengan bukti hukum
yang diatur secara tegas oleh peraturan perundang-undangan.
C. Pelaku/Pihak Yang Terlibat Dalam Transaksi Keuangan Publik
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara jo
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara jo Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, beberapa pihak yang terlibat dalam transaksi
keuangan Negara, sebagai berikut:
1. Menteri/pimpinan lembaga adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan
keuangan kementerian negara/lembaga yang bersangkutan;
2. Pejabat pengelola keuangan daerah (PPKD) adalah kepala satuan kerja pengelola
keuangan daerah (SKPKD) yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD
dan bertindak sebagai BUD;
3. Pengguna anggaran (PA) adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran
Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD);
4. Kuasa pengguna anggaran (KPA) adalah pejabat yang memperoleh kuasa dari PA
untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab penggunaan anggaran
pada kementerian/lembaga/SKPD yang bersangkutan;

5. Pengguna barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik


Negara/daerah;
6. Bendahara umum negara (BUN) adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan
fungsi bendahara umum negara;
7. Bendahara umum daerah (BUD) adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan
fungsi bendahara umum daerah;
8. Kuasa bendahara umum negara (Kuasa BUN) adalah pejabat yang diangkat BUN
untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan APBN dalam
wilayah kerja yang ditetapkan;
9. Kantor pelayanan perbendaharaan negara (KPPN) adalah instansi vertical direktorat
jenderal perbendaharaan yang memperoleh kuasa dari BUN untuk melaksanakan
sebagian fungsi kuasa BUN;
10. Kuasa bendahara umum daerah (Kuasa BUD) adalah pejabat yang diberi kuasa untuk
melaksanakan sebagian tugas BUD;
11. Pejabat penatausahaan keuangan SKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata
usaha keuangan pada SKPD;
12. Pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang
melaksanakan satu atau beberapa kegiatan suatu program sesuai dengan bidang
tugasnya;
13. Pejabat pembuat komitmen (PPK) adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh
PA/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau melakukan tindakan yang dapat
mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja negara;
14. Pejabat penandatangan surat perintah membayar (PPSPM) adalah pejabat yang diberi
kewenangan oleh PA/KPA utuk melakukan pengujian atas permintaan pembayaran dan
menerbitkan perintah pembayaran;
15. Bendahara penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan,
menyetorkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan
Negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja kementerian
negara/lembaga/pemerintah daerah;
16. Bendahara pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan,
membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan
belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan
kerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah;
17. Tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) adalah tim yang dibentuk dengan keputusan
kepaa daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan
serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka peyusunan APBD yang
7

anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah, PPKD dan pejabat lainnya sesuai
dengan kebutuhan.
D. Syarat Sah Bukti Keuangan Publik
Syarat sah bukti transaksi adalah :
1. Bukti transaksi dibuat oleh penyedia layanan/penjual;
2. Pada bukti transaksi, diberi nama penerima, ditandatangani/diparaf dan dicap oleh
penerima transaksi atau pimpinan organisasi;
3. Tertuis keterangan waktu terjadinya transaksi (tanggal, bulan,tahun);
4. Tertulis barang/jasa apa saja yang ditransaksikan;
5. Tertulis jumlah uang yang ditransaksikan sesuai dengan pertukaran baran/jasa yang
dilakukan;
6. Adanya materai pada jumlah transaksi tertentu, misalnya transaksi diatas
Rp.1.000.000,-, maka pada nota/kuitansi ditempel materai Rp.6000.
Syarat sah bukti transaksi inni berlaku pada seluruh organisasi sektor publik, baik organisasi
pemerintah pusat, pemerintah daerah, yayasan, LSM maupun partai politik.
E. Teknik Verifikasi Bukti Transaksi
Verifikasi adalah satu bentuk pengawasan melalui pengujian terhadap dokumen keuangan
secara administratif dengan pedoman dan kriteria yang berlaku.
Tujuan verifikasi adalah :
1. Mencegah terjadinya penyimpangan yang dapat merugikan negara;
2. Adanya kebenaran formal dan substantif serta kelengkapan dokumen yang dikirimkan
ke kantor pelayanan perbendaharaan negara (KPPN);
3. Mengetahui apakah peraturan perundang-undangan yang berlaku telah ditaati oleh
satuan kerja.
Ruang lingkup verifikasi mencakup aspek-aspek sebagai berikut
a) Aspek ketersediaan dana
Apakah pengeluaran tersebut tersedia dalam jumlah yang mencukupi dalam dokumen
pelaksanaan anggaran.
b) Aspek ketepatan tujuan pengeluaran
1. Apakah tujuan pengeluaran dalam dokumen sesuai dengan dalam kontrak/surat
perjanjian kerja;
2. Apakah tujuan pengeluaran dalam kontrak/surat perjanjian kerja sesuai dengan
dalam dokumen pelaksanaan anggaran;
3. Apakah volume dan jenis pekerjaan/barang dalam dokumen pengeluaran telah
sesuai demean dalam dokumen pelaksanaan anggaran.
c) Aspek kebebanan pembebanan anggaran
8

Apakah pembebanan anggaran dalam dokumen telah sesuai dengan dokumen


pelaksanaan anggaran.
d) Aspek kebenaran tagihan
Menyangkut dipenuhinya persyaratan tanda bukti pengeluaran, prosedur pengadaan,
tarif, potongan.
e) Aspek kelengkapan bukti pengeluaran dan dokumen pendukungnya.
Pelaksanaan verifikasi
1. Verifikasi ketersediaan dana
Dengan mengecek pengeluaran dengan dana tersedia dalam dokumen pelaksanaan
anggaran
2. Verifikasi ketepatan tujuan
Dengan mengecek kesesuaian tujuan pengeluaran dalam dokumen dengan yang
tercantum dalam dokumen pelaksanaan anggaran.
3. Verifikasi kebenaran pembebanan anggaran
Dengan mengecek pembebanan anggaran dalam dokumen pengeluaran apakah sesuai
dengan dokumen pelaksanaan anggaran
4. Verifikasi kebenaran tagihan
Melalui pengecekan atas kebenaran pengisian, perhitungan, dan prosedur pengadaan
barang/jasa dari dari dokemen pengeluaran.
5. Verifikasi kelengkapan bukti pengeluaran
Bukti Transaksi Realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara
Transaksi keuangan merupakan segala kejadian-kejadian atau peristiwa yang mempengaruhi
suatu posisi keuangan negara yang dapat dinilai dengan uang. Sedangkan bukti transaksi
realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara dapat dipahami sebagai dokumen yang
diterbitkan oleh lembaga keuangan yang berwenang atas transaksi realisasi anggaran
pendapatan dan belanja negara berikut nomor transaksinya (contoh nomor tnsaksi penerimaan
negara, nomor transaksi bank, atau nomor transaksi pos). contoh bukti transaksi realisasi
anggaran pendapatan belanja negara antara lain : nota kredit bank, bukti transfer, nota kredit
bank, surat perintah pemindahbukuan, dan lainnya.
Contoh bukti transaksi organisasi sektor publik yakni pemerintah daerah sesuai dengan
ketentuan permendagri No. 13 tahun 2006 jo Permendagri No 59 Tahun 2007 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
1.

Bukti Transaksi dalam Prosedur Akuntansi Keuangan Daerah pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD).
(1) Bukti Transaksi dalam Prosedur Akuntansi Penerimaan/Kas pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD).
a. Surat tanda bukti pembayaran dilengkapi dengan :
(a) Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD); dan/atau
(b) Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD); dan/atau
(c) Bukti Transaksi Penerimaan kas lainnya
b. STS.
9

c. Bukti Transfer
d. Nota Kredit Bank
(2) Bukti transaksi dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas
mencakupi:
a. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D), yaitu dokumen yang digunakan sebagai
dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM., atau
b. Nota Debet Bank., atau
c. Bukti Transaksi Pengeluaran Kas lainnya.
Bukti transaksi dilengkapi dengan :
a. Surat Perintah Membayar (SPM) yaitu dokumen yang digunakan/diterbitkan oleh
Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran untuk menerbitkan SP2D atas
beban pengeluaran DPA-SKPD., dan/atau
b. Surat Penyediaan Dana (SPD), yaitu dokumen yang menyatakan tersedianya dana
untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP dan/ atau
c. Kwitansi Pembayaran dan Bukti Tanda Terima Barang/Jasa.
(3) Bukti Tansaksi dalam Prosedur Akuntansi Aset pada SKPD.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi asset berupa bukti
memorial dilampiri dengan :
a. Berita Acara Penerimaan Barang;
b. Berita Acara Serah Terima Barang;
c. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan;
(4) Bukti Transaksi dalam Prosedur Akuntansi selai Kas Pada SKPD.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas berupa bukti
memorial yang dilampiri dengan :
a. Pengesahan Pertanggungjawaban Pengeluaran (pengesahan SPJ).,
b. Berita Acara Penerimaan Barang.,
c. Surat Keputusan Penghapusan Barang.,
d. Surat Pengiriman Barang.,
e. Surat Keputusan Mutasi Barang (antar SKPD).,
f. Berita Acara Pemusnahan Barang.,
g. BErita Acara Serah Terima Barang.,dan
h. Berita Acara Penilaian.
2.

Akuntansi Keuangan Daerah pada Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD).
1. Bukti Transaksi dalam prosedur akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD.
Bukti Transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas mencakup :
a. Bukti Transfer;
b. Nota Kredit Bank; dan
c. Surat Perintah Pemindahbukuan
Bukti transaksi dilengkapi dengan :
a. Surat Tanda Setoran (STS)
b. Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP-Daerah)
10

c. Surat Ketetapan Retribusi (SKR)


d. Laporan Penerimaan Kas dari Bendahara Penerimaan
e. Bukti transaksi penerimaan kas lainnya.
2. Bukti transaksi dalam Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPKD.
a. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D), yaitu dokumen yang digunakan sebagai
dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM., atau
b. Nota Debet Bank., atau
Bukti transaksi dilengkapi dengan :
a. Surat Penyediaan Dana (SPD), yaitu dokumen yang menyatakan tersedianya dana
untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP;
b. Surat Perintah Membayar (SPM) yaitu dokumen yang digunakan/diterbitkan oleh
Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran untuk menerbitkan SP2D atas
beban pengeluaran DPA-SKPD., dan/atau
c. Laporan pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran;dan
d. Kwitansi Pembayaran dan Bukti Tanda Terima Barang/Jasa.
3. Bukti Tansaksi dalam Prosedur Akuntansi Aset pada SKPKD.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi asset berupa bukti memorial
dilampiri dengan :
a. Berita Acara Penerimaan Barang;
b. Surat Keputusan Penghapusan Barang;
c. Surat Keputusan Mutasi Barang (antar SKPD);
d. Berita Acara Pemusnahan Barang;
e. Berita Acara Serah Terima Barang;
f. Berita Acara Penilaian;
g. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan;
4. Bukti Transaksi dalam Prosedur Akuntansi selai Kas Pada SKPKD.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas berupa bukti
memorial yang dilampiri dengan :
a. Berita Acara Penerimaan Barang.,
b. Surat Keputusan Penghapusan Barang.,
c. Surat Keputusan Mutasi Barang (antar SKPD).,
d. Berita Acara Pemusnahan Barang.,
e. Berita Acara Serah Terima Barang.,dan
f. Berita Acara Penilaian.
g. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan;
Data Survei
Penggalian data pada data survey dapat melalui kuisioner, wawancara, observasi maupun data
dokumen. Penggalian data melalui kuisioner dapat dilakukan tanya jawab langsung atau
melalui telepon, sms, email maupun penyebaran kuisioner melalui surat. Wawancara
dilakukan melalui telepon, video conference maupun tatap muka langsung. Keuntungan dari
survei ini adalah dapat memperoleh informasi dan hasilnya dapat digunakan untuk tujuan lain.
Contoh bukti dari data survei, antara lain:
11

a. Data Badan Pusat Statistik (BPS)


b. Data SUSENAS
c. Data PODES (Potensi Desa)
d. Hasil survei masyarakat/ lembaga survei yang relevan.
Data Dari Laporan Keuangan Lembaga Lain
Sumber data dari laporan keuangan lembaga lain, yaitu:
a. Data dari Perusahaan Negara
b. Data dari Perusahaan Swasta
c. Data dari Bank Sentral
d. Data dari Bank Umum lainnya
e. Data dari Bank Swasta
Contoh Verifikasi Bukti Transaksi: Bukti Transaksi Realisasi Anggaran Pendapatan
Belanja Negara (Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 03/PRT/M /2006 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Verifikasi Pertanggungjawaban Anggaran di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum):
a. Pelaksanaan verifikasi
1) Verifikasi ketersediaan dana. Dengan mengecek pengeluaran dengan dana tersedia
dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran(DIPA)
2) Verifikasi ketepatan tujuan. Dengan mengecek kesesuai tujuan pengeluaran dalam
dokumen dengan yang tercantum dalam DIPA.
3) Verifikasi kebenaran pembebanan anggaran. Dengan mengecek pembebanan anggaran
dalam dokumen pengeluaran apakah sesuai dengan DIPA.
4) Verifikasi kebenaran tagihan. Dengan mengecek atas kebenaran pengisian,
penghitungan dan prosedur pengadaan barang/jasa dari dokumen pengeluaran.
5) Verifikasi kelengkapan bukti pengeluaran. Melalui pengecekan kelengkapan dolumen
bukti pengeluaran dan dokumen pendukungnya dalam SPP untuk menerbitkan SPM
maupun kelengkapan pendukung SPM yang akan disampaikan ke KPPN untuk
penerbitan SP2D dari KPPN.
b. Hasil Verifikasi
1) Nota pengembalian tanda bukti. Bagaimana terdapat temuan berupa penyimpangan
dari ketentuan yang berlaku, bukti pengeluaran dikembalikan kepada rekanan atau
petugas yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut
2) Nota hasil verifikasi. Jika Biro Keuangan mendapatkan temuan berupa penyimpangan
dari ketentuan yang berlaku, Biro Keuangan menyampaikan Nota Hasil Verifikasi
kepada kepala satuan kerja.
3) Laporan hasil verifikasi. Laporan hasil verifikasi bulanan, dibuat oleh Biro Keuangan
dan disampaikan kepada Menteri Pekerjaan Umum. Laporan hasil verifikasi menurut :
i) Jumlah SPM/SP2D yang telah diverifikasi
ii) Jumlah temun hasil verifikasi
iii) Jumlah uang yang harus disetor ke kas negara

12

DAFTAR REFERENSI
Arens, Alvin A., et. al., Jasa Audit dan Assurance: Pendekatan Terpadu (Adaptasi Indonesia),
Jakarta: Salemba Empat, 2012.
Bastian, Indra, Audit Sektor Publik: Pemeriksaan Pertanggung Jawaban Pemerintahan (Edisi
3), Jakarta: Salemba Empat, 2013.
Mulyadi, Auditing Buku 1, Jakarta: Salemba Empat, 2002.

13