Anda di halaman 1dari 16

Varisela disebabkan oleh virus Herpes varicela atau disebut juga varicella zoster virus (VZV).

Varicella terkenal juga dengan nama chichen pox atau cacar air. Varicella penyakit virus pada
anak sangat menular
Epidemiologi
Varicella menyerang biasanya pd musim peralihan, antara musim panas ke musim hujan atau
sebaliknya.
Etiologi
Varisela disebabkan oleh herpes virus varicellae atau human (alpha) herpes virus-3 (varicellazoster-virus, VZV) adalah anggota dari kelompok herpesvirus.
Struktur virus, antibodi yang ditimbulkan dan lesi kulit sulit dibedakan dengan herpesvirus
hominis (herpes simplek).
Penularan
Masa inkubasi sekitar 11 21 hr, rata-rata 13 17 hr.
Melalui kontak langsung (cairan vesikel) & droplet.
Laporan KLB di RS, AS menyatakan penyebaran mll udara.
Gejala dan Tanda
Perbedaan dgn herpes zoster adalah lokasi vesikel pd herpes zoster adalah ssi dgn lokasi
susunan syaraf.
Terdapat 2 stadium perjalanan penyakit :
1. Stadium Prodormal
2. Stadium Erupsi
Pengobatan
Pada penderita dgn daya tahan baik akan muncul gejala ringan & sembuh sendiri/self limited.
Penderita klinis dapat diberi:
1. anti histamin /anti gatal,
2. antivirus asiklovir/vidarabin,

3. antibiotik bila ada indikasi infeksi bakterial dan


4. pemberian suportif dengan multivitamin.

Pada dasarnya virus Herpes juga disebut Herpes Simplex Virus dan sering disingkat dengan
HSV.Virus ini dibedakan menjadi dua yaitu HSV1 dan HSV2.Penyebabnya 84% kasus penyakit
kelamin. Perbedaan antar HSV1 dan HSV2 adalah: bagian yang disukai HSV1 yakni pada kulit
dan selaput lendir mukosa di mata atau di mulut, hidung, dan telinga. Sedangkan HSV2 bagian
yang disukai yakni pada kulit dan selaput lendir pada alat kelamin dan perianal.
Bentuk pada kulit HSV1 membentuk bercak verikel verikel kecil, sedangkan HSV2
membentuk verikel verikel besar, tebal, dan terpusat.Secara serologi HSV1 terdapat antibodi
anti HSV1 dan HSV2 terdapat antibodi anti HSV2.
Khusus untuk wanita hamil yang terinfeksi HSV2 harus ditangani secara serius, karena virus ini
dapat menembus plasenta dan menimbulkan kerusakan neonatal, dampak dampak kongenital,
dan kematian janin.
Selain itu, resiko yang dihadapi penderita adalah kematian, tetapi hal ini jarang terjadi.Selama
belum dilakukan pengobatan yang efektif, perkembangan penyakit Herpes sukar diramalkan.Jika
terinfeksi dan segera diobati maka kemungkinan resiko dapat dihindarkan sedini mungkin,
sedangkan infeksi rekurens (berulang-ulang kambuh) hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya.
Gejala klinis yang dapat ditimbulkan infeksi HSV dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Gejala Klinis
Lesu
Gangguan Pernafasan
Bisul Berair
Suhu panas atau dingin
Pendarahan
Hepato megali
Kelainan jaringan syaraf pusat
Kulit kuning
Kulit biru
Radang selaput lendir mata
Korioretinis
Kematian

Prosentase Infeksi Virus


85 %
60 %
60 %
50 %
50 %
50 %
40 %
30 %
20 %
10 %
10 %
70 %

Kemudian, ada jenis penyakit lain yang termasuk dalam kelompok Virus Others (others virus).
Kelompok penyakit ini digolongkan ke dalam penyakit TORCH karena menyebabkan penyakit
dengan gejala yang mirip dengan gejala yang ditimbulkan oleh empat penyebab utama, yakni
Toxo, Rubella, CMV dan Herpes.Sebagian besar virus kelompok others merupakan virus yang
menyerang jaringan syaraf manusia (neurophatic).
Virus yang tergolong kelompok tersebut antara lain :

Virus Coxsactie A1 17
Virus Coxsactie B

Echovirus jenis 2 72

Virus Influenza jenis C

Adenovirus jenis 1 32

Virus virus pemicu Rhinovirus, RSV (Respiratory Syncitial Virus), Measles, Varicella,
dan lain sebagainya.

Herpes labialis adalah lesi/ luka yang terdapat pada wajah di sekeliling bibir dan dalam satu
bagian.Herpes labialis adalah penyakit yang cepat menular, jika kontak langsung dengan
penderita. Penyakit ini kebanyakan menular pada awal 3-4 hari, luka akan berangsur pulih dalam
3-7 hari.

Gejala Herpes Labialis


Gejala yang timbul seperti gatal, kemerahan, meningkatnya sensitifitas,
atau rasa kesemutan yang terjadi selama 2 hari sebelum lukanya tampak. Gajala lainnya:
Kesemutan pada wilayah bibir.
Luka kecil (lecet) pada bibir dan mulut yang tidak terlalu besar, kulit terkelupas, dan
timbul kerak yang berlebihan.

Rasa gatal dan iritasi pada daerah bibir dan mulut.

Rasa sakit/ nyeri pada daerah bibir dan mulut.

Penyebab Herpes Labialis

Beberapa galur yang merupakan virus harpes dapat menyebabkan terjadinya herpes labialis.
Virus harves simpleks tipe I dapat menyebabkan penyakit herpes labialis.
Virus harpes simpleks tipe II menyebabkan harpes pada alat kelamin. Tetapi, beberapa
tipe dari virus ini juga dapat menyebabkan luka pada daerah wajah dan alat kelamin.
Pencegahan Herpes Labialis

Hindari berciuman dan kontak kulit dengan penderita yang terluka pada daerah mulut.
Virus dapat menyebar selama virus berada diluar dari luka tersebut.
Hindari kontak dengan benda-benda seperti peralatan, kain lap dan beberapa benda yang
dapat menyebarkan virus pada saat mengalami luka.

Tangan selalu dalam keadaan bersih. Cuci tangan yang bersih sebelum menyentuh bagian
tubuh yang lain. Mata dan daerah kelamin kemungkinan adalah daerah yang mudah
terinfeksi oleh virus secara khusus.

Gunakan sunblock. Oleskan sunblock pada daerah bibir dan wajah sebelum kontak
langsung dengan matahari untuk membantu mencegah herpes labialis.

Makan secara benar. Herpes labialis dapat terserang walaupun mengkonsumsi sedikit
makanan yang mengandung banyak lisin, diantaranya produk susu seperti (susu,
mentega, dan krim), kentang, dan ragi pada minuman.

Ketenangan. Stres dapat menyebabkan herpes labialis kambuh kembali.

Pengobatan di Rumah

Makan mamakanan yang kaya akan lisin (minuman beragi, kacang-kacangan, susu,
gandum, ikan, dan daging) dan kurangi arginin yang dapat menyebabkan herpes labialis
kambuh kembali.
Panggunaan bahan yang mengandung zink pada kulit dapat mengurangi gejala dan
mencegah gejala. Produk topikal yang mengandung zink dapat dioleskan pada kulit
dibagian yang sakit.

Kompres dingin, berada pada tempat yang sejuk dan gunakan handuk basah pada luka
sebanyak tiga kali sehari selama 20 menit untuk membantu mengurangi kemerahan dan
bengkak.

Preparat topikal yang mengandung emolien dapat mengurangi kekeringan sementara dan
juga fenol dan kamfer yang dapat memberikan efek dingin. Ditambah dengan beberpa
hazel atau alkohol dapat mengurangi rasa terbakar selama penyembuhan.

Penggunaan Obat

Antivirus
dapat digunakan untuk pengobatan infeksi virus herpes simpleks. Antivirus bekerja dengan cara
menghambat reproduksi virus dalam sel tanpa membunuh sel normal.
Obat : Acyclovir dan valacyclover
Carbenoxolone sodium, Deproteinizedcealf blood extract
Dapat mengobati luka ringan pada nyeri.Dioleskan pada kulit dalam jumlah kecil. Obat ini tidak
berinteraksi secara signifikan dengan obat-obatan lain.

Pertanyaan tentang Herpes Labialis


P: Apakah komplikasi dari penyakit harpes?
J: Harpes merupakan penyakit kronik, penyakit infeksi yang dapat kambuh kembali. Gejala awal
muncul dalam 1 sampai 3 minggu setelah terkena virus dan 7 sampai 10 hari untuk luka pada
mulut, 7 sampai 14 hari untuk luka pada alat kelamin. Biasanya jumlah wabah terbesar dalam
tahun pertama lebih tinggi untuk HSV-2 genital lesi daripada HSV-1 oral lesi.Setiap tahun,
jumlah wabah biasanya berkurang dan gejala menjadi semakin berkurang keparahannya.Namun,
virus tetap berada dalam sistem jaringan kulit.

Komplikasi Harpes meliputi:

Herpes kreatitis, merupakan infeksi herpes mata yang mengarah ke dalam jaringan parut
kornea dan mungkin dapat menyebabkan kebutaan.
Infeksi harpes pada kerongkongan.

Infeksi herpes pada hati yang dapat mengakibatkan sirosis (kegagalan hati).

Infeksi paru-paru.

Ensefalitis dan/ atau meningitis.

Eksim herpetiform harpes pada kulit.

Yang Perlu Anda Ketahui tentang Herpes Labialis

Infeksi awal tidak tampak gejala atau bisa juga mulut berbisul. Virus akan tetap berada di
jaringan saraf pada wajah.

Virus herpes dapat menular. Dengan adanya kontak secara langsung, atau melalui alatalat seperti pisau cukur, handuk, piring, dll. Virus dapat juga menyebar ke daerah kulit
sekitarnya dan menyebabkan infeksi bakteri sekunder.

Gejala pertama biasanya muncul antara 1 atau 2 minggu dan berakhir selama 3 minggu,
setelah kontak dengan orang yang terinfeksi. Lesi/ luka pada herpes labialis biasanya
berlangsung selama 7 sampai 10 hari, kemudian mulai hilang. Virus dapat menjadi laten
dan menetap di dalam sel saraf, sehingga menyebabkan gejala timbul kembali.

Penyakit ini dapat kambuh dengan gejala ringan. Hal ini mungkin dipicu oleh menstruasi,
paparan sinar matahari, demam, stres, atau bisa saja tidak diketahui penyebabnya.

Jika Anda terserang herpes labialis, Anda dapat melakukan pengobatan di rumah.Jika lepuhan
tidak menghilang selama 2 minggu, lakukan kosultasi ke dokter spesialis kulit.

Herpes labialis atau "herpes orolabial" adalah infeksi bibir oleh virus herpes simplex.
Wabah biasanya menyebabkan lepuh kecil atau luka pada atau di sekitar mulut umumnya dikenal
sebagai luka lepuh dingin atau demam.
Luka biasanya sembuh dalam 2-3 minggu, tetapi virus herpes tetap tertidur di dalam saraf wajah,
setelah infeksi orofacial, periodik mengaktifkan kembali (pada orang bergejala) untuk membuat
luka di daerah yang sama dari mulut atau wajah di lokasi asli infeksi.
64% orang dewasa di Amerika Serikat adalah pembawa virus yang menyebabkan luka dingin,
dan lebih dari 50 juta orang dewasa di Amerika Serikat mengembangkan gejala episode setiap
tahun. Dingin sakit memiliki tingkat frekuensi yang bervariasi dari episode langka untuk 12 atau
lebih rekurensi per tahun.
Sebagian besar penderita mengalami 1-3 serangan per tahun.
Frekuensi dan keparahan wabah umumnya menurun dari waktu ke waktu.
Virus ini ditularkan dari luka dingin dan juga ketika tidak ada gejala, karena dapat membuat
salinan dari dirinya sendiri pada kulit tanpa adanya melepuh.

Fenomena ini disebut "asimptomatik shedding". 80% -90% dari orang dewasa di bawah usia 50
dengan HSV-1 menangkapnya dari seseorang yang dekat dengan mereka.

Herpes labialis atau "herpes orolabial" adalah infeksi bibir oleh virus herpes simplex.
Wabah biasanya menyebabkan lepuh kecil atau luka pada atau di sekitar mulut umumnya dikenal
sebagai luka lepuh dingin atau demam.
Luka biasanya sembuh dalam 2-3 minggu, tetapi virus herpes tetap tertidur di dalam saraf wajah,
setelah infeksi orofacial, periodik mengaktifkan kembali (pada orang bergejala) untuk membuat
luka di daerah yang sama dari mulut atau wajah di lokasi asli infeksi.
64% orang dewasa di Amerika Serikat adalah pembawa virus yang menyebabkan luka dingin,
dan lebih dari 50 juta orang dewasa di Amerika Serikat mengembangkan gejala episode setiap
tahun. Dingin sakit memiliki tingkat frekuensi yang bervariasi dari episode langka untuk 12 atau
lebih rekurensi per tahun.
Sebagian besar penderita mengalami 1-3 serangan per tahun.
Frekuensi dan keparahan wabah umumnya menurun dari waktu ke waktu.
Virus ini ditularkan dari luka dingin dan juga ketika tidak ada gejala, karena dapat membuat
salinan dari dirinya sendiri pada kulit tanpa adanya melepuh.
Fenomena ini disebut "asimptomatik shedding". 80% -90% dari orang dewasa di bawah usia 50
dengan HSV-1 menangkapnya dari seseorang yang dekat dengan mereka.

Herpes Zoster: Penyakit Kelanjutan Cacar Air


11 September 2010Ditulis oleh dr Salma
Herpes zoster adalah lepuhan kulit yang disebabkan oleh kebangkitan kembali virus variselazoster yang menetap laten di akar saraf. Virus varisela-zoster adalah virus yang juga

menyebabkan cacar air.Siapa pun yang pernah menderita cacar air di masa lalu dapat terkena
herpes zoster.Penyakit ini sangat berbeda dengan herpes genital, yang merupakan salah satu
jenis penyakit menular seksual.
Hampir setiap orang pernah terkena cacar air dalam hidupnya (biasanya saat masih anak-anak).
Virus ini tidak sepenuhnya pergi setelah cacar air Anda menghilang. Sejumlah virus tetap
bertahan di akar-akar saraf.Mereka tidak menimbulkan kerusakan dan gejala. Karena suatu hal,
virus ini kembali berkembang biak dan merangsek menuju kulit sehingga menyebabkan herpes
zoster.
Gejala
Pada permulaannya, herpes zoster akan menyebabkan sedikit demam, pilek, cepat merasa lelah,
lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus.Pada kasus yang lebih berat, bisa
dirasakan nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Nyeri akan terasa di bagian tubuh Anda yang
sarafnya terpengaruh. Nyeri ini berkisar dari ringan sampai berat berupa rasa pegal, terbakar atau
menusuk-nusuk.Kulit di bagian tubuh yang terkena biasanya terasa lunak.
Beberapa hari kemudian timbullah bintik kecil kemerahan pada kulit.Bintik-bintik ini lalu
berubah menjadi gelembung-gelembung transparan berisi cairan, persis seperti pada cacar air
namun hanya bergerombol di sepanjang kulit yang dilalui oleh saraf yang terkena.Bintik-bintik
baru dapat terus bermunculan dan membesar sampai seminggu kemudian.Jaringan lunak di
bawah dan di sekitar lepuhan dapat membengkak untuk sementara karena peradangan yang
disebabkan oleh virus.
Gelembung kulit ini mungkin terasa agak gatal sehingga dapat tergaruk tanpa sengaja. Jika
dibiarkan, gelembung akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya akan
terlepas dan meninggalkan bercak berwarna gelap di kulit (hiperpigmentasi). Bercak ini lamakelamaan akan pudar tanpa meninggalkan bekas. Namun, jika gelembung tersebut pecah
oleh garukan, keropeng akan terbentuk lebih dalam sehingga mengering lebih lama. Kondisi ini
juga memudahkan infeksi bakteri. Setelah mengering, keropeng akan meninggalkan bekas yang
dalam dan dapat membuat parut permanen.
Virus varisela-zoster umumnya hanya mempengaruhi satu saraf saja, pada satu sisi
tubuh.Sesekali, dua atau tiga syaraf bersebelahan dapat terpengaruh.Saraf di kulit dada atau perut
dan wajah bagian atas (termasuk mata) adalah yang paling sering terkena.Herpes zoster di wajah
seringkali menimbulkan sakit kepala yang parah.Otot-otot wajah juga untuk sementara tidak
dapat digerakkan.

Siapa yang dapat terkena?


Herpes zoster dapat terjadi pada siapa pun di usia berapapun. Sekitar 1 dari 5 orang pernah
terkena herpes zoster pada suatu saat dalam hidupnya.Meskipun jarang terjadi, seseorang bisa
terkena herpes zoster lebih dari sekali.Dalam kebanyakan kasus, serangan herpes zoster terjadi
tanpa alasan yang jelas.Kadang-kadang stres atau sakit dapat menjadi pemicunya. Herpes
zoster lebih umum pada orang yang berusia di atas 50 tahun dan yang memiliki sistem kekebalan
lemah, misalnya penderita HIV/AIDS atau mereka yang sistem kekebalannya ditekan untuk
pengobatan kanker.
Bila Anda belum pernah menderita cacar air, Anda akan terkena cacar air bila tertular varisela
zoster dari penderita herpes zoster. (Anda tidak bisa terkena herpes zoster dari penderita herpes
zoster). Virus ini menular melalui kontak langsung dengan kulit yang terkena.Namun,
kebanyakan orang dewasa dan anak-anak yang lebih tua pernah menderita cacar air sehingga
kebal terhadapnya.
Komplikasi
Herpes zoster tidak menimbulkan komplikasi pada kebanyakan orang. Bila timbul komplikasi,
hal-hal berikut dapat terjadi:
1. Neuralgia pasca herpes. Ini adalah komplikasi yang paling umum. Nyeri saraf

(neuralgia) akibat herpes zoster ini tetap bertahan setelah lepuhan kulit menghilang.
Masalah ini jarang terjadi pada orang yang berusia di bawah 50. Rasa nyeri biasanya
secara bertahap menghilang dalam satu bulan tetapi pada beberapa orang dapat
berlangsung berbulan-bulan bila tanpa pengobatan.
2. Infeksi kulit. Kadang-kadang lepuhan terinfeksi oleh bakteri sehingga kulit sekitarnya
menjadi merah meradang. Jika hal ini terjadi maka Anda mungkin perlu antibiotik.
3. Masalah mata. Herpes zoster pada mata dapat menyebabkan peradangan sebagian atau

seluruh bagian mata yang mengancam penglihatan.


4. Kelemahan/layuh otot. Kadang-kadang, saraf yang terkena dampak adalah saraf

motorik dan saraf sensorik yang sensitif. Hal ini dapat menimbulkan kelemahan (palsy)
pada otot-otot yang dikontrol oleh saraf.
5. Komplikasi lain. Misalnya, infeksi otak oleh virus varisela-zoster, atau penyebaran virus

ke seluruh tubuh. Ini adalah komplikasi yang sangat serius tapi jarang terjadi. Penderita
herpes zoster dengan sistem kekebalan tubuh lemah lebih berisiko
mengembangkan komplikasi langka ini.

Pengobatan
Herpes zoster biasanya sembuh sendiri setelah beberapa minggu.Biasanya pengobatan hanya
diperlukan untuk meredakan nyeri dan mengeringkan inflamasi.
1. Pereda nyeri. Salah satu masalah terbesar herpes zoster adalah rasa nyeri. Nyeri ini

kadang-kadang sangat keras. Parasetamol dapat digunakan untuk meredakan sakit. Jika
tidak cukup membantu, silakan tanyakan kepada dokter Anda untuk meresepkan
analgesik yang lebih kuat.
2. Antivirus. Dalam beberapa kasus, obat antivirus seperti asiklovir, famsiklovir, dan
valaciclovir mungkin diberikan. Obat-obat tersebut tidak membunuh virus tapi
menghambat perkembangbiakan virus. Dengan demikian, tingkat keparahan serangan
herpes zoster dapat diminimalkan. Obat antivirus paling berguna pada tahap awal ruam
(dalam 3 hari setelah ruam muncul). Namun, dalam beberapa kasus dokter mungkin tetap
memberikan obat antivirus bahkan setelah 3 hari perkembangan ruam, terutama pada
orang tua dengan herpes zoster parah, atau jika mempengaruhi mata. Obat antivirus tidak
disarankan untuk semua pasien. Misalnya, remaja dan anak-anak yang terkena
herpes zoster di perut seringkali hanya memiliki gejala ringan dan berisiko rendah
terkena neuralgia pasca herpes. Dalam situasi ini obat antivirus tidak diperlukan.
3. Steroid. Steroid membantu mengurangi peradangan dan mempercepat penyembuhan

lepuhan. Namun, penggunaan steroid untuk herpes zoster masih kontroversial. Steroid
juga tidak mencegah neuralgia pasca herpes.
Pencegahan
Herpes zoster hanya dapat dicegah jika Anda tidak pernah memiliki cacar air, atau jika Anda
memiliki kekebalan sangat baik terhadap virus cacar air.Pencegahan yang lebih aktif adalah
dengan imunisasi cacar air.
Tips perawatan
1. Nyeri awal dapat berkurang dengan mengompres bagian badan yang terkena dengan es
batu (yang dibungkus dalam kain atau plastik).
2. Tetaplah mandi seperti biasa, karena bakteri di kulit dapat menginfeksi kulit yang sedang
terkena cacar air.
3. Hindari pecahnya gelembung cacar air agar tidak meninggalkan parut permanen dengan:
o

Tidak menggosoknya dengan handuk terlalu keras setelah mandi.

Memberikan bedak talk yang mengandung menthol atau salisil pada lepuhan
untuk mengurangi gatal.

Menutup lepuhan dengan kain kasa yang lembut.

Memakai pakaian katun yang longgar untuk mengurangi gesekan dengan kulit
yang terkena.

Cuci tangan Anda dengan sabun dan air jika Anda telah menyentuh lepuhan kulit.
Hindari bersentuhan dengan bayi dan anak-anak yang belum menderita cacar air,
wanita hamil, orang yang sakit serius, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh
yang lemah.

4. Konsumsi buah- buahan yang mengandung vitamin C seperti jambu biji, sirsak, pepaya
dan tomat merah meningkatkan kekebalan tubuh dan kelembaban kulit yang
mempercepat penyembuhan.

Coxsackie, Virus Penyerang Balita


Jangankan mengunyah makanan, untuk minum pun, mulut pedih sekali! Ya, itulah salah
satu gejala penyakit mulut, kaki dan tangan (MKT).Repotnya, penyakit ini amat mudah
menular, khususnya bagi balita
Karena tak terlalu membahayakan, penyakit ini memang sering terlewatkan begitu saja.Apalagi,
gejalanya juga tak terlalu istimewa.Dan, entah mengapa, jumlah penderita penyakit ini biasanya
meningkat pada musim pancaroba.
Cirinya: bintil-bintil berair. Umumnya, anak yang kurang sehat akan rewel, mogok makan dan
minum, serta tubuh agak sumang (suhu tubuh agak naik). Namun, bila rewelnya berlanjut dengan
bertambah sulitnya anak makan plus mulutnya sakit sampai keluar air liur (untuk menelan air liur
saja perih, apalagi minum), maka Anda perlu ekstra hati-hati.Bisa jadi, anak Anda bukan
menderita sariawan biasa.
Anda coba perhatikan, apakah ada bintil-bintil berisi air dalam mulut anak dan sebagian di
antaranya mungkin sudah pecah.Kalau ada, ini adalah salah satu gejala dari penyakit MKT.
Memang, bintil-bintil berisi cairan merupakan salah satu gejala khas dari penyakit MKT atau
hand, foot and mouth disease (HFMD) .Tapi jangan samakan ini dengan penyakit kuku dan
mulut pada binatang ternak. Biar namanya mirip, tapi penyakit ini sama sekali berbeda dengan
penyakit kuku dan mulut pada sapi misalnya!

Di Indonesia, kebanyakan virus penyebab penyakit MKT termasuk enterovirus yang dikenal
sebagai virus coxsackie A16 atau enterovirus 71. Virus coxsackie adalah sejenis enterovirus yang
hidup di usus halus. Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, biasanya penyakit ini akan
sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari.
Sekalipun begitu, ini bukan berarti Anda tak harus waspada.Sebab, bisa saja virus yang
menyebabkan penyakit ini berbeda serotipe. Menurut National Center of Infectious Disease ,
Amerika Serikat, virus coxsackie yang masih sekeluarga dengan virus polio ini sangat mudah
bermutasi alias berubah bentuk jadi serotipe yang berbeda.

Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ularcacar api) adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus varicella-zoster.[1] Setelah seseorang menderita cacar air, virus varicella-zoster akan
menetap dalam kondisi dorman (tidak aktif atau laten) pada satu atau lebih ganglia (pusat saraf)
posterior.[2] Apabila seseorang mengalami penurunan imunitas seluler maka virus tersebut dapat
aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke kulit sehingga menimbulkan penyakit herpes
zoster.[2] Di kulit, virus akan memperbanyak diri (multiplikasi) dan membentuk bintil-bintil kecil
berwarna merah, berisi cairan, dan menggembung pada daerah sekitar kulit yang dilalui virus
tersebut.[2] Herper zoster cenderung menyerang orang lanjut usia dan penderita penyakit
imunosupresif (sistem imun lemah) seperti penderita AIDS, leukemia, lupus, dan limfoma.[1]
Daftar isi
1Epidemologi
2Gejala

3Deteksi

4Pengobatan

5Pencegahan

6Referensi

Epidemologi
Herpes zoster ditularkan antarmanusia melalui kontak langsung, salah satunya adalah transmisi
melalui pernapasan sehingga virus tersebut dapat menjadi epidemik di antara inang yang rentan.
Resiko terjangkit herpes zoster terkait dengan pertambahan usia. Hal ini berkaitan adanya
immunosenescence, yaitu penurunan sistem imun secara bertahap sebagai bagian dari proses
penuaan. Selain itu, hal ini juga terkait dengan penurunan jumlah sel yang terkait dalam imunitas

melawan virus varicella-zoster pada usia tertentu. Penderita imunosupresi, seperti pasien
HIV/AIDS yang mengalami penurunan CD4 sel-T, akan berpeluang lebih besar menderita herpes
zoster sebagai bagian dari infeksi oportunistik.[3]
Herpes Zoster bukan Herpes Genital atau Herpes Simplex, oleh karenanya Herpes Zoster yang
merupakan bawaan dari Penyakit Cacar Air atau Varisela Zoster tidak akan menular pada orang
lain menjadi Herpes Zoster juga, kecuali orang tersebut belum pernah terkena Cacar Air, maka ia
bisa terjangkit Cacar Air.[4] Tetapi pada umumnya orang dewasa telah pernah terkena Cacar Air
pada masa kecilnya, sedangkan Balita zaman sekarang yang telah divaksinasi lengkap juga telah
mendapat Vaksinasi Cacar Air (Varisela). Vaksinasi Varisela sebaiknya diberikan pada orang
yang belum pernah terkena Cacar Air, tetapi bagi mereka yang telah berusia di atas 50 tahun
sebaiknya diberikan Vaksinasi Varisela apakah sudah pernah terkena Cacar Air atau tidak sebagai
booster (penguat), sehingga jika timbul Lepuh (singhle) Herpes Zoster tidak parah. Sebagaimana
halnya Vaksinasi MMR yang juga menggunakan Virus yang dilemahkan, maka pasien yang
divaksinasi harus dalam kondisi Fit agar demam akibat vaksinasi minimal.
Gejala
Perkembangan ruam herpes zoster
Hari 1

Hari 2

Hari 5

Hari 6

Pada awal terinfeksi virus tersebut, pasien akan menderita rasa sakit seperti terbakar dan kulit
menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu. Penyebab terjadinya rasa sakit yang
akut tersebut sulit dideteksi apabila ruam (bintil merah pada kulit) belum muncul. Ruam shingles
mulai muncul dari lepuhan (blister) kecil di atas dasar kulit merah dengan lepuhan lainnya terus
muncul dalam 3-5 hari. Lepuhan atau bintil merah akan timbul mengikuti saraf dari sumsum
tulang belakang dan membentuk pola seperti pita pada area kulit. Penyebaran bintil-bintil
tersebut menyerupai sinar (ray-like) yang disebut pola dermatomal. Bintil akan muncul di
seluruh atau hanya sebagian jalur saraf yang terkait. Biasanya, hanya satu saraf yang terlibat,
namun di beberapa kasus bisa jadi lebih dari satu saraf ikut terlibat. Bintil atau lepuh akan pecah
dan berair, kemudian daerah sekitarnya akan mengeras dan mulai sembuh. Gejala tersebut akan
terjadi dalam selama 3-4 minggu. Pada sebagian kecil kasus, ruam tidak muncul tetapi hanya ada
rasa sakit.[5]

Deteksi
Untuk mendeteksi penyakit herpes zoster, dapat dilakukan beberapa macam tes, yaitu;

Kultur virus

Cairan dari unilepuh yang baru pecah dapat diambil dan dimasukkan ke dalam media virus untuk
segera dianalisa di laboratorium virologi.Apabila waktu pengiriman cukup lama, sampel dapat
diletakkan pada es cair. Pertumbuhan virus varicella-zoster akan memakan waktu 3-14 hari dan
uji ini memiliki tingkat sensitivitas 30-70% dengan spesifitas mencapai 100%.

Deteksi antigen

Uji antibodi fluoresens langsung lebih sensitif bila dibandingkan dengan teknik kultur sel. Sel
dari ruam atau lesi diambil dengan menggunakan scapel (semacam pisau) atau jarum kemudian
dioleskan pada kaca dan diwarnai dengan antibodi monoklonal yang terkonjugasi dengan
pewarna fluoresens. Uji ini akan mendeteksi glikoproten virus.

Uji serologi

Uji serologi yang sering digunakan untuk mendeteksi herpes zoster adalah ELISA.

PCR

PCR digunakan untuk mendeteksi DNAvirus varicella-zoster di dalam cairan tubuh, contohnya
cairan serebrospina.[6]
Pengobatan
Pengobatan terhadap herpes zoster terdiri dari tiga hal utama yaitu pengobatan infeksi virus akut,
pengobatan rasa sakit akut yang berkaitan dengan penyakit tersebut, dan pencegahan terhadap
neuralgia pascaherpes. Penggunaan agen antiviral dalam kurun waktu 72 jam setelah terbentuk
ruam akan mempersingkat durasi terbentuknya ruam dan meringankan rasa sakit akibat ruam
tersebut. Apabila ruam telah pecah, maka penggunaan antiviral tidak efektif lagi.Contoh
beberapa antiviral yang biasa digunakan untuk perawatan herpes zoster adalah Acyclovir,
Famciclovir, dan Valacyclovir.[7]
Untuk meringankan rasa sakit akibat herpes zoster, sering digunakan kortikosteroid oral (contoh
prednisone).Sedangkan untuk mengatasi neuralgia pascaherpes digunakan analgesik (Topic
agents), antidepresan trisiklik, dan antikonvulsan (antikejang).Contoh analgesik yang sering
digunakan adalah krim (lotion) yang mengandung senyawa calamine, kapsaisin, dan
xylocaine.Antidepresan trisiklik dapat aktif mengurangi sakit akibat neuralgia pascaherpes

karena menghambat penyerapan kembali neurotransmiter serotonin dan norepinefrin.Contoh


antidepresan trisiklik yang digunakan untuk perawatan herpes zoster adalah Amitriptyline,
Nortriptyline, Nortriptyline, dan Nortriptyline.Untuk mengontrol sakit neuropatik, digunakan
antikonvulsan seperti Phenytoin, carbamazepine, dan gabapentin.[7]
Pencegahan
Untuk mencegah herper zoster, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah pemberian
vaksinasi.[8] Vaksin berfungsi untuk meningkatkan respon spesifik limfosit sitotoksik
terhadap virus tersebut pada pasien seropositif usia lanjut.[8] Vaksin herpes zoster
dapat berupa virus herpes zoster yang telah dilemahkan atau komponen selular virus
tersebut yang berperan sebagai antigen.[6] Penggunaan virus yang telah dilemahkan
telah terbukti dapat mencegah atau mengurangi risiko terkena penyakit tersebut
pada pasien yang rentan, yaitu orang lanjut usia dan penderita imunokompeten,
serta imunosupresi.
Herpangina
a. Definisi dan Etiologi Herpangina
Herpangina adalah infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus Coxackie tipe A lain (tioe
A1-6, A8, A10, A22, B3, dan kemungkinan yang lainnya). Penyakit ini ditularkan melalui saliva
yang terkontaminasi dan terkadang melalui feses yang terkontaminasi.
Herpangina disebabkan oleh beberapa virus Coxackie grup A termasuk A1-6, 8, 10, dan 22.
Penyebab lain termasuk Coxackie grup B (strain 1-4), Echovirus, dan Enterovirus lain.1,2

b.

Patogenesis Herpangina
Lesi ini dimulai dari macula, lalu dengan cepat macula akan menjadi papula & vesikel yang
ada di pharing bagian posterior, tonsil, faucial pillars dan palatum lunak. Lesi ini sedikit
ditemukan padabagina lidah, buccal mukosa dan palatum keras.Dalam 24-48 jam, vesikel akan
rupture membentuk ulserasi 1-2mm.

c. Tanda dan Gejala Herpangina


Herpangina biasanya mewabah, dengan kejadian biasanya pada musim panas atau awal
musim gugur.Lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa.Mereka yang terinfeksi
biasanya memiliki keluhan malaise, demam, dysphagia, dan nyeri kerongkongan setelah periode
inkubasi singkat.Secara intraoral, terdapat tonjolan pada palatum lunak, faucial pillars, dan
tonsil.Faringitis eritema yang difus juga dapat terlihat.

Tanda dan gejala biasanya ringan sampai sedang dan biasanya terjadi kurang dari
seminggu.Terkadang, Coxackie virus yang menjadi penyebab herpangina typical dapat menjadi
penyebab infeksi subklinis atau gejala ringan tanpa bukti lesi faringeal.
Periode inkubasi adalah 2-9 hari.Banyak infeksi yang subklinis. Gejala berupa : ulcer pada
faring, tidak ada gingivitis, cervical lymphadenitis sedang, demam, anorexia dan muntah.1,3
d. Pemeriksaan Penunjang untuk Herpangina
o Kultur virus
Vesikel yang ada didalam mulut diambil kemudian dibawa ke Lab , kemudian diberikan
kepada tikus percobaan kemudian apabila tikus ini bereaksi selama 5-8 hari dan keluar tandaanda klinis seperi herpangina, maka bisa kita sebut herpangina.
e. Perawatan untuk kasus Herpangina
Infeksi Coxackievirus biasanya self-limiting (kecuali komplikasi terjadi karena pasien
imunokompromais), dan manajemen tertuju pada control demam dan sakit pada mulut,
perawatan suportif, dan membatasi kontak dengan orang lain untuk mencegah penyabaran
infeksi. Antiviral efektif untuk Coxackievirus tidak tersedia.
Obat biasanya tidak dibutuhkan.Untuk mengobati sakit dan demam, dapat diberikan
acetaminophen.