Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH PERS TERHADAP PENDIDIKAN

Pendidikan adalah investasi jangka panjang, karena hasil dari proses pendidikan akan
dirasakan baik untuk saat ini maupun untuk waktu yang akan datang. Kondisi yang akan
datang dapat dibentuk melalui pendidikan yang sedang kita lakukan sekarang, artinya bahwa
pendidikan harus dapat menyiapkan dan menjawab tantangan dan kebutuhan di masa yang
akan datang.
Disadari atau tidak kita sedang menuju era globalisasi. Pengaruh globalisasi ini
semakin terasa dengan semakin banyaknya saluran informasi dalam berbagai bentuk media.
Media telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita, meskipun dalam derajat yang
berbeda-beda. Di negara yang telah maju, media telah mempengaruhi kehidupan hampir
sepanjang waktu. Waktu yang terpanjang, yang paling berpengaruhi itu adalah waktu yang
digunakan untuk bersekolah (Miarso,1989)
1. Pengaruh Media Terhadap Pendidikan
Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi
belakangan ini. Hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program
acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan
(sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut
terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan
itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi
oleh anak-anak.
Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media
yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton
televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi
perkembangan anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua
program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi
baik, misalnya program Acara Pendidikan. Banyak informasi yang bisa diserap dari
televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan
televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei-survei yang
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anakanak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4
dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh
sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang

mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan


adalah jalan untuk menyelesaikan masalah
Namun di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser,
TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Demikian
pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan
kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang
serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan
dandanan yang "aneh-aneh" tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang
sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak
mendidik.
Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di
sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu. Peranan Orangtua Memang televisi bisa
berdampak kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton
televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi
anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka
tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat
menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu
tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak,
hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan mengonsumsi
televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.
Dampak tayangan televisi, film, dan penyebaran video porno melalui internet juga
menambah terjadinya praktik kekerasan, mistisisme, dan hura-hura ala sinetron. Bahkan
jika semua fakultas psikologi di Indonesia mau dengan sukarela meriset kondisi mental
siswa-siswi di sekolah, pastilah akan didapati banyak sekali anak usia sekolah yang
mengalami depresi dan sakit jiwa. Bahkan dalam bahasa seorang sutradara Peter Weir,
sebagai toxic culture, sebuah tayangan yang terlalu memamerkan kekerasan dan erotisme
sangat tidak mendidik dan dapat menyebabkan kriminalitas di usia muda meningkat,
egoisme tambah menjadi-jadi, bahkan juga dapat merusak lingkungan dan budaya
sekolah ke arah yang tidak sehat (Bennet: 2000; Gidley: 2000). Ketika zaman televisi
masih dimonopoli TVRI, mungkin peran pendidik (gurudan orang tua) tak terlalu berat
dan melelahkan. Di samping jenis tayangan memang masih terbatas, bentuk tayangan
juga masih mempertimbangkan aspek budaya lokal tiap daerah di Indonesia. Tayangan Si
Unyil, drama Losmen, dan serial Aku Cinta Indonesia (ACI) begitu digemari dan menjadi
rujukan para guru di sekolah dan orang tua di rumah.

Dapat

dibayangkan

betapa berat dan sulitnya para guru

dan orang tua untuk

berlomba kreativitas dengan tayangan elektronik ini. Karena itulah, beberapa hasil riset
tentangkekhawatiran

pengaruh

tayangan berbasis teknologi

informasi

terhadap

pendidikan merekomendasikan langkah-langkah metodologis proses belajar-mengajar


agar menggunakan pendekatan holistik, pro-active social skills seperti resolusi konflik
dan metode cooperative learning. Jika hal itu lalai dibangun, keruntuhan citra pendidikan
di Indonesia akan semakin menjadi-jadi; tidak hanya kerusakan di bidang akademis,
tetapi dalam waktu bersamaan juga terjadi kerusakan moral secara masif.
Perlu dipahami bahwa tempat pendidikan paling utama adalah di keluarga, dimana
orangtua adalah yang paling bertanggungjawab di dalamnya. Karena orangtua yang bisa
mengawasi anaknya lebih lama. Orangtua paling dekat anaknya. Dalam keluargalah anak
bertumbuh kembang. Membiarkan anak menonton televisi secara berlebihan berarti
membiarkan tumbuh kembang dan pendidikan anak terganggu. Kewajiban orangtua juga
untuk memantau kegiatan belajar anak di rumah. Perkembangan si anak tidak bisa terlalu
dibebankan pada sekolah.
Dalam kesehariaannya, guru di sekolah tidak akan bisa mengantikan peran orangtua.
Karena itu menjadi suatu keharusan bagi orangtua untuk tetap memperhatikan si anak
selama di rumah. J Drost SJ (2000), seorang ahli pendidikan dari IKIP Sanata Dharma
pernah menulis dalam buku Reformasi Pengajaran: "Penanaman nilai-nilai dalam
pembentukan watak merupakan proses informal. Tidak ada pendidikan formal. Jadi
seluruh pembentukan moral manusia muda hanya lewat interaksi informal antara dia dan
lingkungan hidup manusia muda itu. Maka pendidik utama adalah orangtua."
Pada di era cyberspace atau era global sekarang ini, sumber belajar ada dimana-mana.
Bahkan pengalaman diri sendiri bisa menjadi sumber belajar. Hanya saja, kita sering tak
percaya dengan kemampuan diri, sehingga ketergantungan kita kepada informasi dari
media massa begitu tinggi. Padahal, kita bisa menciptakannya sendiri dengan cara
menulis di blog, dan mensharingkannya di berbagai jejaring sosial seperti facebook, dan
twitter. Dengan aktivitas blogging, kita bisa menjadi seorang blogger handal di era global
Terlepas dari berbagai kepentingan yang melatar belakangi pemunculan suatu
informasi atau pesan yang disajikan oleh media massa, kiranya tidak dapat dipungkiri lagi
bahwa pada masa kini pertemuan orang dengan media massa sudah tidak dapat dielakkan
lagi. Tidaklah berlebihan kiranya apabila abad ke-21 disebut sebagai abad komunikasi
massa (Rakhmat, 1985 : 174). Bahkan dalam pembabakan sejarah umat manusia,
McLuhan (1964) menyatakannya sebagai babak neo-tribal (sesudah babak tribal dan

babak Gutenberg), yakni masa di mana alat-alat elektronis memungkinkan manusia


menggunakan beberapa macam alat indera dalam komunikasi. Adapun Toffler (1981)
menamakannya sebagai The Third Wave.
Sementara itu, seiring dengan pesatnya perkembangan media informasi dan
komunikasi, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), akan
membawa perubahan bergesernya peranan guru sebagai penyampai pesan/informasi. Ia
tidak bisa lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi bagi kegiatan
pembelajaran para siswanya. Siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumberterutama dari media media massa, apakah dari siaran televisi dan radio (media
elektronik), surat kabar dan majalah (media cetak), komputer pribadi, atau bahkan dari
internet. Sehingga sistem pembelajaran yang cocok untuk mengelaborasi itu semua.
Anggota KPI Pusat Bidang kelembagaan, Azimah Subagijo, menjelaskan betapa
fungsi media penyiaran terutama televisi sangat strategis. Frekuensi yang digunakan oleh
media penyiaran adalah ranah publik dan negara mewajibkan agar media penyiaran
menggunakannya untuk kemaslahatan masyarakat banyak.
"Negara berharap banyak terhadap pekerja yang berkecimpung dalam dunia penyiaran
untuk menjaga tujuan dari penyiaran terciptanya watak dan jati diri bangsa, mencerdaskan
kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan membangun masyarakat
mandiri, demokratis, adil dan sejahtera serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

2. Media Massa sebagai sumber Pembelajaran.


Media sangat bermanfaat untuk menunjang proses pembelajaran, manfaat itu adalah
sebagai berikut.

Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh


para siswa. Pengalaman tiap-tiap siswa berbeda. Kehidupan keluarga dan masyarakat
sangat menentukan macam pengalaman yang dimliki oleh siswa. Dua anak yang
hidup di dua masyarakat atau lingkungan yang berbeda, akan mempunyai pengalaman
yang berbeda. Ini disebabkan karena berbedanya kesempatan untuk mengalami
yang

diperoleh

anak-anak.

Ketersediaan

buku,

bacaan-bacaan,

kesempatan

berdarmawisata, dan lain-lain adalah faktor-faktor yang menentukan kekayaan


pengalaman anak-anak. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan-perbedaan
ini jika siswa tidak mungkin untuk dibawa ke objek yang dipelajari, maka objeklah
yang dibawa ke siswa.

Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. Banyak
hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh siswa. Ini
disebabkan oleh:

Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dan


lngkungannya.

Media menghasilkan keseragaman pengamatan. Persepsi yang dimiliki si A berbeda


dengan si B, bila si A hanya pernah mendengar sedangkan si B pernah melihat sendiri
bahkan pernah memegang, meraba, dan merasakannya. Pengamatan yang dilakukan
oleh siswa bersama-sama diarahkan kepada hal-hal yang penting yang dimaksudkan
oleh guru.

Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkret dan realistis. Sering kali
sesuatu yang diterangkan oleh guru diterima sebagai konsepsi yang berbeda oleh
siswa yang berbeda pula. Penggunaan media seperti gambar, film, objek, model,
grafik, dan lain-lain bisa memberikan konsep dasar yang benar.

Media membangkitkan motivasi dan rangsangan anak untuk belajar. Pemasangan


gambar-gambar di papan tempel, pemutaran film, mendengarkan rekaman atau radio
merupakan rangsangan-rangsangan tertentu ke arah keinginan untuk belajar.

Media membangkitkan keinginan dan minat guru. Dengan menggunakan media


pembelajaran, horizon pengalaman anak semakin luas, persepsi semakin tajam,
konsep-konsep dengan sendirinya semakin lengkap. Akibatnya keinginan dan minat
untuk belajar selalu muncul.

Media memberikan pengalaman yang integral atau menyeluruh dari yang konkret
sampai hal yang bersifat abstrak. Sebuah film Candi Borobudur misalnya, dapat
memberikan imaji yang konkret tentang wujud, ukuran, lokasi candi, dan sebagainya.

3. Pengaruh Media Terhadap Pendidikan


Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi
belakangan ini. Hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program
acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan
(sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut
terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan
itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi
oleh anak-anak.

Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media
yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton
televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi
perkembangan anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua
program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi
baik, misalnya program Acara Pendidikan. Banyak informasi yang bisa diserap dari
televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan
televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei-survei yang
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anakanak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4
dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh
sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang
mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan
adalah jalan untuk menyelesaikan masalah
Namun di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser,
TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Demikian
pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan
kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang
serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan
dandanan yang "aneh-aneh" tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang
sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak
mendidik.
Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di
sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu. Peranan Orangtua Memang televisi bisa
berdampak kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton
televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi
anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka
tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat
menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu
tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak,
hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan mengonsumsi
televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.
Dampak tayangan televisi, film, dan penyebaran video porno melalui internet juga
menambah terjadinya praktik kekerasan, mistisisme, dan hura-hura ala sinetron. Bahkan

jika semua fakultas psikologi di Indonesia mau dengan sukarela meriset kondisi mental
siswa-siswi di sekolah, pastilah akan didapati banyak sekali anak usia sekolah yang
mengalami depresi dan sakit jiwa. Bahkan dalam bahasa seorang sutradara Peter Weir,
sebagai toxic culture, sebuah tayangan yang terlalu memamerkan kekerasan dan erotisme
sangat tidak mendidik dan dapat menyebabkan kriminalitas di usia muda meningkat,
egoisme tambah menjadi-jadi, bahkan juga dapat merusak lingkungan dan budaya
sekolah ke arah yang tidak sehat (Bennet: 2000; Gidley: 2000). Ketika zaman televisi
masih dimonopoli TVRI, mungkin peran pendidik (gurudan orang tua) tak terlalu berat
dan melelahkan. Di samping jenis tayangan memang masih terbatas, bentuk tayangan
juga masih mempertimbangkan aspek budaya lokal tiap daerah di Indonesia. Tayangan Si
Unyil, drama Losmen, dan serial Aku Cinta Indonesia (ACI) begitu digemari dan menjadi
rujukan para guru di sekolah dan orang tua di rumah.
Dapat

dibayangkan

betapa berat dan sulitnya para guru

dan orang tua untuk

berlomba kreativitas dengan tayangan elektronik ini. Karena itulah, beberapa hasil riset
tentangkekhawatiran

pengaruh

tayangan berbasis teknologi

informasi

terhadap

pendidikan merekomendasikan langkah-langkah metodologis proses belajar-mengajar


agar menggunakan pendekatan holistik, pro-active social skills seperti resolusi konflik
dan metode cooperative learning. Jika hal itu lalai dibangun, keruntuhan citra pendidikan
di Indonesia akan semakin menjadi-jadi; tidak hanya kerusakan di bidang akademis,
tetapi dalam waktu bersamaan juga terjadi kerusakan moral secara masif.
Perlu dipahami bahwa tempat pendidikan paling utama adalah di keluarga, dimana
orangtua adalah yang paling bertanggungjawab di dalamnya. Karena orangtua yang bisa
mengawasi anaknya lebih lama. Orangtua paling dekat anaknya. Dalam keluargalah anak
bertumbuh kembang. Membiarkan anak menonton televisi secara berlebihan berarti
membiarkan tumbuh kembang dan pendidikan anak terganggu. Kewajiban orangtua juga
untuk memantau kegiatan belajar anak di rumah. Perkembangan si anak tidak bisa terlalu
dibebankan pada sekolah.