Anda di halaman 1dari 138

Om Hro Jahlit

1
Pembaca tentu masih ingat aku bukan? Aku pernah berbagi cerita dalam kisah
terdahulu yang kuberi judul Ritual Nikmat. Aku sangat berterima kasih atas kritik
dan tanggapan dari pembaca semua yang masuk ke alamat e-mailku. Di antara
sekian banyak komentar dan email ada salah satu pembaca yang memintaku untuk
menuliskan pengalamannya untuk berbagi dengan pencinta situs ini. Berikut ini aku
mencoba menceritakan kembali apa yang telah diceritakannya padaku melalui SMS
maupun email. Kali ini aku akan bercerita melalui perspektif yang berbeda, yaitu
perspektif seorang wanita, bagaimana persepsinya terhadap pelecehan dan apa
keinginannya akan coba kutuangkan melalui kisah yang dialaminya. Untuk itu kritik
dan komentar pembaca sekalian kutunggu di e-mailku.
Bagi pembaca yang berminat untuk berbagi pengalaman bisa kirim ke emailku
inyong2011@yahoo.com atau bagi mereka yang ada di Solo dan sekitarnya bisa
juga ketemu langsung dan berkenalan denganku. Sekali lagi aku mohon kritik dan
saran pembaca demi perbaikan di masa mendatang. Selamat membaca sambil
mengkhayal tentang seks tapi awas Jangan sambil onani lho! Memang ada
pepatah yang mengatakan dibuang sayang.. Tetapi bila disimpan malah bikin
meriang!! Jadi dilemma bukan? Selamat membuang atau meriang!
****
Aku adalah seorang gadis lajang. Saat ini usiaku 24 tahun, anak ke-5 dari 5
bersaudara yang semuanya perempuan. Dengan tinggi badan 168 dengan berat
tubuh 56 membuat orang menganggapku sebagai gadis yang seksi dan
menggiurkan. Apalagi aku selalu menjaga kebugaran tubuhku dengan berlatih
fitness secara rutin. Orang bilang wajahku cantik. Padahal aku merasa biasa saja.
Mungkin ini karena kulitku yang putih dan mulus. Rambutku hitam lurus sebahu.
Sebut saja namaku Anna.
Kegadisanku Direnggut Pamanku
Suatu hari tiga tahun yang lalu (entah hari apa aku lupa) saat itu aku sedang tidak
kuliah jadi aku sendirian di rumah. Bokap dan Nyokap seperti biasa ngantor dan
baru sampai di rumah setelah jam 07.00 malam. Kakak-kakakku yang semuanya
sudah menikah tinggal di rumah-masing-masing yang tersebar di Jakarta dan
Bandung, jadi praktis tinggal aku saja sebagai anak bungsu yang masih ada di
rumah. Oh ya Bokap dan Nyokapku selalu mendidik anak-anaknya agar mampu
mandiri, dan mereka tidak pernah menggunakan jasa PRT. Jadi aku selalu
membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri jika liburan.
Karena enggak ada kuliah aku masih malas-malasan di rumah. Sehabis mandi,
hanya memakai celana pendek mini dan kaos you can see aku duduk-duduk di
depan TV sambil nonton acara kegemaranku sinetron telenovela. Rencananya aku
mau mencuci dan memasak setelah hilang rasa malasku nanti. Lagi asyik-asyiknya
nonton sinetron tiba-tiba aku dikejutkan bunyi bel pintu yang ditekan berkali-kali.

Ting-tong Ting-tong Ting-tong!


Sialan juga nih orang!! Mengganggu aja! Siapa sih! makiku dalam hati karena
kesal keasyikanku terganggu.
Dengan malas aku berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Kulihat di
depan pintu ada seseorang yang berpakaian TNI sedang cengangas-cengenges.
Siapa pula orang ini! Keren juga kataku dalam hati.
Aku terkejut setengah mati waktu kubuka pintu. Rupanya itu adik kandung bokapku
yang paling kecil!
Ooh Oom Heru kapan sampai di Jakarta! Kirain monyet dari mana yang nyasar ke
sini teriakku gembira sambil terus menyalaminya.
Rupanya benar itu pamanku yang sudah lama sekali tidak datang ke rumah sejak ia
ditugaskan ke daerah konflik di NAD sana (hampir 1 1/2 tahun). Oh iya aku hampir
lupa, aku tinggal di Jakarta bagian selatan, tepatnya di daerah Mampang.
Oomku ini seorang perwira menengah yang masih muda, ia berpangkat Kapten
waktu itu. Umurnya waktu itu baru 31 tahunan dan ia duda tanpa anak karena
istrinya meninggal saat melahirkan anaknya satu tahun yang lalu. Orangnya tinggi
besar dan gagah seperti papaku. Tingginya mungkin sekitar 175 Cm dengan berat
badan seimbang. Kulitnya agak hitam karena banyak terbakar matahari di daerah
konflik sana.
Baru aja nyampe!! Terus mampir ke sini!.. Lho Anna.. Emang.. Kamu enggak
kuliah? Mana papa dan Mamamu? kulihat matanya jelalatan melihat pakaianku
yang minim ini. Jakunnya naik turun seperti tercekik.
Brengsek juga rupanya! Mungkin di NAD sana enggak pernah lihat cewek pakai rok
mini kali! kataku dalam hati.
Enggak Oom.. Anna enggak ada kuliah kok hari ini! Papa sama Mama kan kerja!
Entar sore baru pulang! jawabku agak jengah juga melihat tatapan mata Oomku
yang jelalatan seolah-oleh hendak melumat dan menelan tubuhku.
Memang Oom Heru sedang cuti? tanyaku untuk mencoba menghilangkan rasa
jengahku.
Lho.. Kamu enggak tahu ya? Oom Heru kan tugasnya sudah selesai dan sekarang
dikembalikan ke pasukan! Jadi mulai minggu depan Oom Heru sudah masuk barak
lagi di Jakarta sini
Matanya makin jelalatan menelusuri seluruh tubuhku, sementara tanganku yang
menyalaminya masih digenggamnya erat-erat seolah ia enggan melepaskan
tanganku. Aku merasakan betapa tangannya begitu kokoh dan kuat menggenggam
jemariku.
Nah daripada nunggu di mess mending Oom Heru ke sini biar ada teman katanya.
Lalu kupersilahkan Oom Heru untuk duduk di sofa ruang tengah dan kubuatkan
minuman.
Oom Anna siapin kamar tamu dulu ya? Silahkan diminum dulu tehnya! Entar
keburu dingin enggak enak lho!
Aku pun membawa tasnya ke kamar yang depan yang biasa dipakai Oom Heru dulu
kalau ia menginap di rumahku. Saat aku sedang membungkuk membenahi seprei
tempat tidur yang dipakainya aku terkejut ketika tiba-tiba dua tangan kekar

memelukku dari belakang. Aku tidak mampu meronta karena dekapan itu begitu
kuat. Terasa ada dengusan napas hangat menerpa pipiku. Pipiku dicium sedangkan
dua tangan kekar mendekapku dan kedua telapak tangannya saling menyilang di
pinggang kanan-kiriku yang ramping. Aku memberontak, namun apalah dayaku.
Tenaganya terlalu kuat untuk kulawan. Setelah kutengok ke belakang ternyata Oom
Heru yang sedang memelukku dan mencium pipiku.
Oom ngapain! Lepasin dong Oom! Aku berteriak agar dilepaskannya.
Karena terus terang aku belum pernah yang namanya dipeluk laki-laki! Apalagi
pakai dicium segala! Tubuhku gemetar ketika tangan kokoh Oom Heru mulai
bergerak ke atas dan mulai meremas payudaraku dari luar kaos singletku.
Bukannya berhenti tetapi justru Oom Heru semakin menggila!
Diam sayang Dari dulu Oom sangat menyayangimu bisiknya di telingaku
membuat aku geli saat ada dengusan nafas hangat menyembur bagian sensitif di
belakang telingaku.
Dekapannya semakin ketat sampai aku merasakan ada semacam benda keras
menempel ketat di belahan pantatku. Aku semakin menggelinjang kegelian saat
bagian belakang telingaku terasa digelitik oleh benda lunak hangat dan basah!
Ooh.. Rupanya Oom Heru sedang menjilati bagian belakang telingaku. Tanpa sadar
aku melenguh.. Ada rasa aneh menjalar dalam diriku! Rupanya Oom Heru sangat
piawai dalam menaklukkan wanita. Ini terbukti bahwa aku yang belum pernah
bersentuhan dengan lelaki merasa begitu nyaman dan merasakan kenikmatan
diperlakukan seperti itu.
Ja.. Jangan Oomhh! Aku mendesis antara menolak dan enggan melepaskan diri.
Bibir Oom Heru semakin menjalar ke depan hingga akhirnya bibirnya mulai
melumat bibirku. Seprei yang tadinya kupegang terlepas sudah. Tanganku sekarang
bertumpu memegang kedua punggung tangan Oom Heru yang sedang sibuk
meremas dan mendekap kedua payudaraku.
Napas Oom Heru semakin menggebu seperti kerbau. Lidahnya mulai bergerakgerak liar menyelusup ke dalam rongga mulutku. Akupun tak tahan lagi.. Tubuhku
seolah mengawang hingga ke awan. Kakiku limbung seolah tanpa pijakan. Sekarang
tubuhku sudah bersandar sepenuhnya bertumpu pada Oom Heru yang terus
mendekapku. Mataku terpejam merasakan sensasi yang baru pertama kali ini aku
alami. Tanpa terasa lidahku ikut menyambut serangan lidah Oom Heru yang
bergerak-gerak liar. Selama beberapa saat lidahku dan lidah oom Heru saling
bergulat bak dua ekor naga langit yang sedang bertarung.
Aku membuka mata, wajah Oom Heru sangat dekat dengan wajahku dan tangannya
merangkul dan meremas kedua payudaraku. Anehnya, setelah itu aku tidak
berusaha menghindar. Aku merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak dan
harus tersalurkan. Kubiarkan saja tangan Oom Heru saat mulai menyusup ke balik
singletku dari bagian bawah.
Aku semakin menggelinjang saat tangannya mulai meraba perutku yang masih
rata. Perlahan namun pasti tangannya mulai merayap ke atas dan ke bawah.
Tangan kanan Oom Heru mulai menyentuh payudaraku yang terbungkus BH tipis
itu, sementara tangan kirinya mulai menyusup ke balik celana pendek ketatku. Aku

tak sadar tanganku bergerak ke belakang dan mulai meremas rambutnya.


Tubuh kami masih berhimpit berdiri menghadap searah. Oom Heru masih tetap
mendekapku dari belakang. Bibirnya melumat bibirku sementara kedua tangannya
mulai meraba dan meremas bagian-bagian sensitif tubuh perawanku. Akupun tak
tinggal diam tanganku tetap meremas-remas rambutnya yang cepak seperti
rambutan sopiyah (memang seperti lazimnya anggota TNI harus berambut
cepak Kalau gondrong soalnya malah dikira preman kali!!)
Untuk beberapa lama, Oom Heru masih melumat bibirku. Aku harus jujur bahwa aku
juga ikut menikmatinya. Bahkan beberapa saat secara tak sadar aku juga membalas
melumat bibir Oom Heru. Aku masih tetap belum menyadari atau mungkin terlena
hingga tak menolak saat tangan Oom Heru mulai menyusup ke dalam BH-ku dan
menyentuh apa yang seharusnya kujaga. Nafasku semakin memburu dan aku mulai
merasakan bagian selangkanganku mulai basah. Apalagi saat ibujari dan telunjuk
Oom Heru mulai mempermainkan puting payudaraku yang sudah semakin
mengeras. Tubuhku semakin bergerak liar hingga benda keras yang menempel
ketat di belahan pantatku kurasakan semakin mengeras.
Desakan aneh semakin kuat mendorong di bagian bawah. Tubuhku semakin
melayang saat tangan kiri Oom Heru dengan lembut mulai memijit-mijit dan
meremas gundukan bukit di selangkanganku. (Namanya Bukit Berbulu!! Kalau Uci
Bing Slamet dulu nyanyinya Bukit Berbunga.. Mungkin waktu ngarang lagu itu
terinspirasi saat bukit berbulunya kepegang lak-laki seperti aku ini!! Ooh indah
sekali!! Lebih indah daripada bukit yang berbunga!! Tul enggak? Munafik kalau
bilang enggak ).
Tubuhku semakin liar bergerak saat jari Oom Heru mulai menyentuh belahan hangat
di selangkanganku. Jari-jarinya terasa licin bergerak menyusuri belahan hangat di
selangkanganku. Rupanya aku sudah begitu basah.. Dan Oom Heru tahu kalu aku
sudah dalam genggamannya. Aku memang sudah menyerah dalam nikmat sedari
tadi. Apalagi aku memang juga mengagumi Oomku yang keren ini.
Tubuhku berkelejat liar seperti ikan kurang air saat jemari Oom Heru
mempermainkan tonjolan kecil di bagian atas bukit kemaluanku. Jarinya tak hentihentinya menggocek dan berputar liar mempermainkan kelentitku.
Akhh.. Oomphf.. desisanku terhenti karena bibirku keburu dikulum oleh bibir Oom
Heru.
Aku sudah merasakan terbang mengawang. Desakan yang menuntut pemenuhan
semakin membuncah dan akhirnya dengan diiringi hentakan liar tubuhku aku
merasakan ada sesuatu yang menggelegak dan aku mengalami orgasme!! Aku
semula tak tahu apa itu orgasme, yang jelas aku merasakan kenikmatan yang amat
sangat atas perlakuan Oom ku itu. Tubuhku terasa ringan dan tak bertenaga
sesudah itu.
Gimana sayang? bisik Oom Heru di telingaku.
Enak sayang? lanjutnya.
Aku hanya terdiam dan ada sebersit rasa malu. Seharusnya ini tidak boleh terjadi,
kataku dalam hati menahan rasa malu dan sungkan yang menggumpal dihatiku.
Tetapi rangsangan dan stimulus yang diberikan Oom ku terlalu hebat untuk

kutahan. Akhirnya aku hanya pasrah saja saat tangan Oom Heru mulai melucuti
pakaianku satu per satu. Mula-mula kaos singletku dilepasnya hingga payudaraku
yang masih kencang terlihat terbungkus BH cream yang seolah-olah tak mampu
menampungnya. Padahal ukurannya sudah 36B.
Tubuh bagian atasku sudah setengah telanjang. Sementara aku yang sudah lemas
tetap berdiri dipeluk Oom Heru dari belakang. Kembali tangannya mengelus perutku
yang putih rata itu. Tanganku menutup bagian dadaku karena malu dan jengah
harus terlihat laki-laki dalam keadaan begini. Lalu dengan terburu-buru Oom Heru
melepaskan pakaian seragamnya hingga aku merasakan rambut dada oom Heru
yang cukup lebat menempel punggungku yang telanjang. Lagi-lagi aku merasakan
sensasi yang lain-daripada yang lain.
Masih dengan setengah telanjang Oom Heru memelukku dari belakang. Aku terlalu
malu untuk membuka mataku. Aku hanya memejamkan mata sambil menikmati
sensasi dipeluk laki-laki perkasa. Dengan tangan mengelus perut dan dadaku Oom
Heru kembali menciumi ku. Kali ini punggungku dijadikan sasaran serbuan bibirnya
yang panas. Kumisnya yang tipis terasa geli saat menyapu-nyapu punggungku yang
terbuka. Aku menggelinjang hebat. Apalagi saat lidah Oom Heru mulai merayap di
tulang belakangku.
Perlahan dari leher bibirnya merayap ke bawah hingga pengait BH-ku. Lalu tiba-tiba
aku merasakan kekangan yang mengekang payudaraku melonggar. Ternyata Oom
Heru telah menggigit lepas pengait bra-ku. Aku tak sempat menutupi payudaraku
yang terbebas karena dengan cepat kedua tangan Oom Heru telah mendekap
kedua payudaraku. Aku hanya pasrah dan membiarkan tangannya meremas dan
mempermainkan payudaraku sesukanya, karena aku memang menikmatinya juga.
Tiba-tiba ada sepercik perasaan liar menyerangku. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin
merasakan kenikmatan yang lebih. Godaan itu begitu menggebu. Lalu tanpa sadar
tanganku memegang tangan Oom Heru seolah-olah membantunya untuk
memuaskan dahagaku.
Dengan bibirnya Oom Heru menggigit tali bra-ku dan melepaskannya hingga jatuh.
Kini tubuh bagian atasku sudah telanjang sama sekali. Hanya celana pendek mini
dan celana dalam yang masih menutupi tubuhku.
Setelah berhasil melepaskan tali bra-ku, bibir Oom Heru kembali menyerbu
punggungku. Ditelusurinya tulang punggungku dengan lidahnya yang panas. Ini
membuat syarafku semakin terangsang heibat. Apalagi tangannya yang kokoh
tetap meremas kedua belah payudaraku dengan gemasnya. Ada rasa sakit
sekaligus enak dengan remasannya itu. Lidahnya terus turun ke bawah hingga ke
atas pinggulku. Hal ini membuatku semakin menggelinjang kegelian.
Ouchh.. Oomm su.. Sudahhh Oommmh aku merintih.
Mulutku bilang tidak tetapi nyatanya tubuhku menginginkannya. Penolakanku
seolah tiada artinya. Lalu tiba-tiba celana pendek miniku digigitnya dan ditarik ke
bawah hingga ke atas lutut. Separuh buah pantatku yang bulat dan mulus terbuka
sudah!! Lidah Oom Heru terus menyerbu buah pantatku kanan dan kiri secara
bergantian. Tubuhku meliuk dan meregang merasakan rangsangan terhebat yang
baru kali ini kurasakan saat lidah Oom Heru yang panas mulai menyusuri belahan

pantatku dan mulai mengais-ngais analku! Luar biasa.. Tanpa rasa jijik sedikitpun
lidah Oom Heru menjilati lobang anusku. Hal ini membuat tubuhku tergetar heibat.
Selang beberapa saat, setelah puas bermain-main dengan lobang anusku tangan
Oom Heru mulai menarik celana pendek sekaligus CD-ku hingga ke mata kaki. Lalu
tanpa sadar aku membantunya dengan melepaskan CD-ku dari kedua kakiku. Kini
aku sudah bugil.. Gil! Oom Heru pun rupanya sedang sibuk melepaskan celananya.
Hal ini kuketahui dari bunyi gesper yang dilepas.
Sekarang tubuhku yang sintal dan putih sudah benar-benar telanjang total
dihadapan Oom Heru. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang dihadapan
laki-lakiorang lain, apalagi laki-laki. Aku tak menduga akan terjadi hal seperti ini.
Dengan Oomku sendiri pula. Tetapi kini, Oom Heru berhasil memaksaku. Sementara
aku seperti pasrah tanpa daya.
Tiba-tiba Oom Heru menarik tanganku sehingga aku terduduk dipangkuan Oom
Heru yang saat itu sudah duduk ditepi tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa dia
langsung mencium bibirku. Aku tidak sempat menghindar, bahkan aku juga
membiarkan ketika bibir dan kumis halus Oom Heru menempel kebibirku hingga
beberapa saat.
Dadaku semakin berdegup kencang ketika kurasakan bibir halus Oom Heru
melumat mulutku. Lidah Oom Heru menelusup kecelah bibirku dan menggelitik
hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti
berdesir, sementara bulu tengkukku merinding. Aku pun terkejut ternyata batang
kemaluan Oom Heru yang sudah sangat kencang terjepit antara perutku dan
perutnya. Aku merasakan betapa besar dan panjang benda keras yang terjepit
diantara kedua tubuh telanjang kami.
Mengetahui besarnya batang kemaluan Oom Heru aku jadi ingat saat aku masih TK
waktu diajari menyanyi guru TK-ku Aku seorang kapiten mempunyai pedang
panjang, kalau berjalan prok-prok prok.. Aku seorang kapiten! Tapi ini Oom ku
seorang kapiten mempunyai peler (bahasa jawa batang kemaluan) panjang
memang Oom ku itu pangkatnya waktu itu sudah Kapten! Cocok bukan?
Akh.., ja.. Jangan oomhh..! kataku terbata-bata.
Su.. Sudah.. Oomhh desisku antara sadar dan tidak.
Oom Heru memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yang
kekar dan kuat masih tetap memeluk pinggang rampaingku dengan erat. Aku masih
terduduk dipangkuannya. Tetapi ia malah mulai menjilati leherku. Ia menjilati dan
menciumi seluruh leherku lalu merambat turun ke dadaku. Aku memang pasif dan
diam, namun nafsu birahi sudah semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Oom
Heru sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleher dan
dadaku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan.
2
Apalagi saat bibir Oom Heru dengan penuh nafsu melumat kedua puting
payudaraku yang sudah sangat keras bergantian. Aku kembali melayang di awan
saat dengan gemas Oom Heru menghisap kedua puting payudaraku bergantian.

Rangsangan yang kuterima begitu dahsyat untuk kutahan. Apalagi benda keras di
selangkangan Oom Heru yang terjepit kedua tubuh telanjang kami mulai tersentuh
bibir kemaluanku yang sudah sangat basah.
Gejolak liar yang berkobar dalam diriku semakin menggila. Hingga tanpa sadar aku
menggoyang pinggulku di atas pangkuan Oom Heru untuk memperoleh sensasi
gesekan antara bibir kemaluanku dengan batang kemaluannya.
Oom Heru sendiri tampaknya juga sudah sangat terangsang. Aku dapat merasakan
napasnya mulai terengah-engah dan batang kemaluannya mengedut-ngedut.
Sementara aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesisdesis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu
tiba-tiba tangan Oom Heru yang kekar mengangkat tubuhku dari pangkuannya dan
merebahkan di atas tempat tidur yang sebenarnya belum selesai kurapihkan itu.
Insting perawanku secara refleks masih coba berontak.
Sudah Oomhh! Jangan yang satu Anna takut.. Kataku sambil meronta bangkit
dari tempat tidur.
Takut kenapa sayang? Oom sayang Anna, percayalah sayang Jawab Oom Heru
dengan napas memburu.
Jang.. Jangan.. Oom.. protesku sengit.
Namun seperti tidak perduli dengan protesku, Oom Heru segera menarik kedua
kakiku hingga menjuntai ke lantai. Meskipun aku berusaha meronta, namun tidak
berguna sama sekali. Sebab tubuh Oom Heru yang tegap dan kuat itu mendekapku
dengan sangat erat.
Kini, dengan kedua kakiku yang menjuntai ke lantai membuat Oom Heru dapat
memandang seluruh tubuhku dengan leluasa.
Kamu cantik dan seksi sekali sayang katanya dengan suara parau tanda bahwa ia
sudah sangat terangsang.
Dengan tubuh telanjang bulat tanpa tertutup sehelai kainpun yang menutupi
tubuhku, aku merasa risih juga dipandang sedemikian rupa. Aku berusaha menutupi
dengan mendekapkan lengan didada dan celah pahaku, tetapi dengan cepat tangan
Oom Heru memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah itu Oom Heru
membentangkan kedua belah pahaku dan menundukkan wajahnya di
selangkanganku. Aku tak tahu apa yang hendak ia lakukan.
Tanpa membuang waktu, bibir Oom Heru mulai melumat bibir kemaluanku yang
sudah sangat basah. Tubuhku menggelinjang hebat. Aku semakin salah tingkah dan
tak tahu apa yang harus kulakukan. Yang jelas aku kembali merasakan adanya
desakan yang semakin menggebu dan menuntut penyelesaian. Sementara kedua
tangannya merayap ke atas dan langsung meremas-remas kedua buah dadaku.
Bagaikan seekor singa buas ia menjilati liang kemaluanku dan meremas buah dada
yang kenyal dan putih ini.
Lidahnya yang panas mulai menyusup ke dalam liang kemaluanku. Tubuhku
terlonjak dan pantatku terangkat saat lidahnya mulai mengais-ngais bibir
kemaluanku.
Akhhh.. Oomhhh Sud.. Sudahh Oommm.. bibirku menolak tetapi tanganku
malah menarik kepala Oom Heru lebih ketat agar lebih kuat menekan

selangkanganku sedangkan pantatku selalu terangkat seolah menyambut wajah


Oom Heru yang tenggelam dalam selangkanganku.
Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang
karena kenikmatan yang amat sangat dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku
menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat ketika bibir
dan lidah Oom Heru menjilat dan melumat bibir kemaluanku.
Aku semakin melayang dan seolah-olah terhempas ke tempat kosong. Tubuhku
bergetar dan mengejang bagaikan tersengat aliran listrik. Aku mengejat-ngejat dan
menggelepar saat bibir Oom Heru menyedot kelentitku dan lidahnya mengais-ngais
dan menggelitik kelentitku.
Akhhh.. Akhhh.. Ohhh dengan diiringi jeritan panjang aku merasakan orgasme
yang ke sekian kalinya. Benar-benar pandai menaklukan wanita Oom ku ini.
Pantatku secara otomatis terangkat hingga wajah Oom Heru semakin ketat
membenam di antara selangkanganku yang terkangkang lebar. Napasku tersengalsengal setelah mengalami beberapa kali orgasme tanpa ada coitus.
Anna sayang.. Sekarang giliran Anna menyenangkan Oom ya.. bisiknya setelah
napasku mulai teratur.
Aku hanya pasrah dan tak mampu berkata-kata. Antara malu dan mau aku hanya
merintih pelan.
Mmhhh..
Oom Heru yang sudah pengalaman rupanya menyadari keadaanku yang masih
hijau dalam hal urusan bawah perut ini. Ia pun lalu membaringkan diri di sisiku.
Tangannya sekarang membimbing tanganku dan diarahkannya ke bawah. Dengan
mata terpejam karena jengah aku ikuti saja apa kemauannya.
Hatiku berdesir saat tanganku dipegangkannya pada benda keras berbentuk bulat
dan panjang. Benda itu terasa hangat sekali dalam genggamanku. Ooh betapa
besarnya benda itu. Tanganku hampir tak muat menggenggamnya. Setelah
terpegang tanganku pun digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah untuk mengocok
benda itu. Oom Heru pun kemudian menarik tubuhku hingga aku berbaring miring
menghadapnya. Kepalaku ditariknya dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu.
Lidahnya mencari-cari lidahku dan tangannya bergerilya lagi meremas-remas
payudaraku.
Aku pun tak sadar ikut mengimbanginya. Lidahku bergerak liar menyambut
lidahnya dan tanganku dengan agak kaku mengocok batang kemaluannya. Aku
belum berani melihat seperti apa kemaluan laki-laki. Aku masih terlalu malu untuk
itu.Mphh jangan keras-keras sayang Sakit itunya bisik Oom ku. Rupanya aku
terlalu keras mengocok batang kemaluannya sehingga Oom Heru merasa kurang
nyaman.
Kemudian setelah beberapa saat berciuman, didorongnya kepalaku ke bawah.
Diarahkannya kepalaku ke dadanya yang bidang. Masih dengan mata terpejam aku
mencoba menirukan apa yang dilakukan Oom Heru padaku. Lidahku mulai menjilat
puting dadanya kiri dan kanan bergantian.
Oohh.. Teruss sayanghhh..
Oom Heru rupanya merasa nyaman dengan perlakuanku itu. Terus didorongnya

kepalaku ke bawah lagi.


Kini bibirku mulai menciumi perut dan pusar Oom Heru. Hal ini membuatnya
semakin meradang. Mulutnya tak henti-hentinya mendesis seperti kepedasan.
Tangannya terus mendorong kepalaku ke bawah lagi. Kini aku merasa daguku
menyentuh benda keras yang sedang ku kocok, sementara bibir dan lidahku tak
henti-hentinya menciumi perut bagian bawahnya. Kemudian ditekannya lagi
kepalaku ke bawah. Rupanya ia menyuruhku menciumi batang kemaluannya!
Dengan malu-malu kupegang batang yang besar dan berotot itu. Lalu aku
memberanikan diri untuk membuka mataku. Lagi-lagi aku berdebar-debar dan
darahku berdesir ketika mataku melihat batang kemaluan Oom Heru. Gila! Kataku
dalam hati besar sekali Bentuknya coklat kehitaman dengan kepala mengkilat
persis topi baja tentara! Sementara itu kantong pelernya tampak menggantung
gagah dan penuh! Seperti ini rupanya batang kemaluan laki-laki. Sejenak aku
sempat membayangkan bagaimana nikmatnya jika batang kemaluan yang besar
dan keras itu dimasukkan ke lubang kemaluan perempuan, apalagi jika perempuan
itu aku. Gejolak liar kembali mengusikku.
Lamunanku terputus saat tangan Oom Heru yang kekar menekan kepalaku dan
didekatkannya ke arah batang kemaluannya. Dengan canggung bibirku mulai
mencium batang kemaluannya. Aku sengaja membuang pikiran jijikku dengan
membayangkan bahwa aku sedang menjilatMagnum (Es Krim yang terkenal besar
dan enaknya itu!!). Dan ternyata aku berhasil!! Dengan membayangkan aku sedang
menikmati magnumku tanpa rasa jijik sekalipun aku mulai menjilati batang
kemaluan Oom Heru. Dari ujung kepala kemaluan yang mengkilat hingga kantung
biji peler yang menggantung penuh tak luput dari jilatan lidahku.
Sambil berjongkok di lantai aku terus menjilati menyusuri seluruh batang kemaluan
Oom Heru yang besar dan panjang itu. Sesekali dengan nakal kusedot biji peler
bergantian membuat pantat Oom Heru terangkat. Sementara kedua kaki Oom Heru
menjuntai ke lantai seperti posisiku tadi waktu selangkanganku dijilati Oom Heru.
Sesekali aku melirik bagaimana reaksinya. Ku lihat mulut Oom Herus terus
menceracau tak karuan.
Terushh sayang.. Oohh nah Terussshh oughhh bagai orang gila Oom Heru terus
menceracau.
Kemudian Oom Heru bangun dan diangkatnya tubuhku. Kali ini aku dibaringkannya
dengan berhadap-hadapan. Kakiku masih menjuntai ke lantai. Ia berdiri di antara
kedua belah pahaku. Kemudian tangannya membimbing batang kemaluannya yang
sudah berlendir dan dicucukannya ke celah hangat di tengah bukit kemaluanku. Aku
tersadar. Antara nafsu dan ketakutan aku menangis. Aku memohon.
Ja.. Jangan Oommhh.. Ja.. Jangan yang itu.
Rupanya superegoku memenangkan pertarungan antara id dan superegoku. Ego ku
mampu menekan gejolak liar ide ku.
Kenapa sayang..? tanya Oom Heru dengan suara parau.
Anna Takut Oomhh To.. Tolong jangan yang itu.. kataku memohon.
Ok.. Okay sayang.. kata Oomku sambil menghela nafas.
Oom tak akan masukkan sayang Cuma diluar Oom janji deh lanjutnya dengan

suara parau karena sudah dikuasai oleh nafsu birahinya.


Jang.. Jangan Oomhh, aku tetap menolak, Anna enggak ingin kehilangan satusatunya yang paling berharga Oom aku merintih antara nafsu dan takut. Saat ia
mulai mencucukkan ujung kepala kemaluannya di celah kemaluanku yang sudah
sangat basah.
Anna sayang.. Apa.. Kamu.. Nggak kasihan padaku sayang.. aku sudah terlanjur
bernafsu.. aku nggak kuat lagi sayang, please aku.. Mohon, kata Oom Heru masih
dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.
Sudah 2 tahun Oom harus menahan ini sejak tantemu meninggal
Tiba-tiba Oom Heru beranjak dan dengan cepat mencucukkan batang kemaluannya
yang sudah sangat kencang di sela-sela bukit kemaluanku. Kini tubuh telanjang
Oom Heru mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang
Oom Heru menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika dada
yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan
lelaki. Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal
lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya
tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang menggesek-gesek bibir
kemaluanku. Ternyata Oom Heru menggesek-gesekkan batang kemaluannya di
sela-sela bibir kemaluanku yang sudah sangat licin. Ia memutar-mutar dan
menggocek-gocekkan batang kemaluannya di sela-sela bibir kemaluanku. Sehingga
aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku.
Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku memutarmuatarkan pantatku. Toh, aku masih mampu bertahan agar benda itu tidak benarbenar memasuki liang kemaluanku.
Oom, jangan sampai masuk, diluar saja..! pintaku.
Oom Heru hanya mendengus dan tetap menggosok-gosokkan batang kemaluannya
di pintu kemaluanku yang semakin licin oleh cairan. Aku begitu terangsang. Aku
tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenimatan
itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Oom Heru yang masih terengahengah.
Kini aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi. Napasku semakin memburu dan
tubuhku kembali berkelejat menahan kenikmatan. Aku harus mengakui kehebatan
Oom Heru untuk yang kesekian kalinya. Karena tanpa penetrasi pun ia telah
sanggup membuatku orgasme berkali-kali.
Akhh.. Oomhh.. Shh Ouchh.. tanpa sadar aku menjerit ketika kurasakan
kelentitku berdenyut-denyut dan ada sesuatu yang menggelegak di dalam sana.
Mataku terbeliak dan tanpa malu-malu lagi aku mengangkat pantatku menyambut
gocekan batang kemaluan oom Heru di bibir kemaluanku agar lebih ketat menekan
kelentitku. Aku berkelejotan, sementara napasku semakin memburu. Gerakanku
semakin liar saat liang kemaluanku berdenyut-denyut. Lalu aku terdiam tubuhku
terasa lemas sekali. Aku tak peduli lagi pada apa yang hendak dilakukan Oom Heru
pada tubuhku. Tulang-belulangku serasa lepas semua.
Setelah itu Oom Heru bangkit dan mengambil body lotion yang ada di meja rias

kamar tamu dan dengan cepat ia menindihku. Dikangkanginya tubuhku. Kali ini ia
benar-benar menguasaiku. Dari kaca meja rias disamping tempat tidur, aku bisa
melihat tubuh rampingku seperti tenggelam dikasur busa ketika tubuh Oom Heru
yang tinggi besar mulai menindihku. Lalu Oom Heru membalur kedua payudaraku
dengan lotion dan melemparkan botol itu setelah ditutupnya kembali. Aku merasa
lega karena setidak-tidaknya ia telah menepati janjinya untuk tidak memasukkan
batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku.
Oom Heru kembali melumat bibirku. Kali ini teramat lembut. Gilanya lagi, aku tanpa
malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga
mulut Oom Heru. Oom Heru terpejam merasakan seranganku, sementara tanganku
kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan dilepas lagi. Bermenit-menit
kami terus berpagutan hingga akhirnya Oom Heru melepaskan bibirnya dari
pagutanku. Ia lalu menempatkan batang kemaluannya di belahan kedua
payudaraku yang sudah dilumuri body lotion. Kedua tangannya yang kekar lalu
memegang kedua buah payudaraku dan dijepitkannya pada batang kemaluannya.
Aku pun ikut membantunya dengan memegang lembut batang kemaluannya.
Setelah batang kemaluannya terjepit kedua payudaraku, ia mulai mengayunkan
pantatnya maju mundur hingga batang kemaluannya yang terjepit payudaraku
bergerak maju mundur. Batang kemaluannya yang begitu panjang membuat ujung
kemaluannya menyentuh-nyentuh bibirku. Lalu untuk membantunya menuntaskan
nafsunya akupun membuka mulutku dan menjilati ujung kemaluan itu setiap kali
terdorong ke atas. Hal itu berlangsung beberapa lama hingga kurasakan ayunan
pantat Oom Heru mulai makin cepat. Gesekan batang kemaluannya yang terjepit ke
dua buah payudaraku pun semakin kencang. Nafasnya semakin mendengus dan
kulihat matanya terpejam seolah sedang menahan sesuatu. Peluh telah membasahi
kedua tubuh telanjang kami hingga kelihatan mengkilap dan licin. Semakin lama
gerakannya semakin cepat disertai dengus nafas yang semakin menderu.
Tiba-tiba ia seolah tersentak kurasakan batang kemaluannya yang terjepit dadaku
mulai mengedut-ngedut. Tubuhnya mengejat-ngejat seperti tersengat arus listrik
dan dari mulutnya keluar geraman dahsyat.
Ugh.. Ugh.. Arghhh.. Akhhh.
Cratt.. Crat.. Cratt.. Cratt Cratt..
Akhirnya dari lubang di ujung kemaluannya menyemburlah cairan putih kental yang
banyak sekali. Sialnya cairan itu sebagian besar tumpah ke mulutku yang sedang
terbuka karena menjilati batang kemaluan itu.
Glk.. Uhuk.. Uhuk.. Uhuk aku hampir muntah karena tersedak cairan itu. Rupanya
sebagian ikut tertelan.
Oom Heru jahat Uhuk.. Uhuk sambil masih terbatuk-batuk aku menangis.
Ini merupakan pengalamanku yang pertama kali. Bau cairan sperma saja sudah
membuatku mual.. Apalagi tertelan! Pembaca bisa membayangkan bagaimana
rasanya.
Sorry sayang Oom tidak sengaja bisiknya menghiba seolah merasa bersalah.
Kemudian dengan tanpa rasa jijik dilumatnya bibirku yang masih penuh cairan air
maninya itu sehingga rasa jijikku sedikit hilang. Lama kami berciuman sampai

akhirnya diambilnya ujung seprei dan dibersihkannya bibirku dari sisa-sisa ceceran
air maninya itu. Aku merasa terharu akan perlakuannya dan rasa sayangku padanya
pun mulai bertambah. Bukan kasih sayang antara kepenakan Eh keponakan dan
paman melainkan rasa sayang sebagaimana layaknya perempuan terhadap lakilaki.
Aku yang sudah merasa lemas akhirnya tak mampu bergerak lagi. Aku lega sejauh
ini aku masih mampu mempertahankan mahkota keperawananku. Aku langsung
tertidur. Mungkin Oom Heru juga ikut tertidur. Karena aku sudah tidak ingat apa-apa
lagi.
Aku bangun ketika aku merasakan geli saat payudaraku ada yang menjilati. Aku
membuka mata dan kulihat Oom Heru sedang sibuk menyedot kedua payudaraku
secara bergantian. Kembali aku harus menggelinjang dan nafsuku perlahan mulai
bangkit.
Tubuh telanjang Oom Heru menindihku. Tubuhnya yang tinggi besar membuat
tubuhku seolah-olah tenggelam dalam spring bed. Tanpa kusadari tanganku pun
mulai bergerak meremas-remas rambut Oom Heu yang sedang sibuk melumat
kedua puting payudaraku bergantian. Tubuh kami sudah mulai basah oleh peluh
kami yang mulai mengucur deras. Dalam posisi seperti itu tiba-tiba kurasakan ada
benda yang kenyal mengganjal diatas perutku. Semakin lama benda yang terjepit di
antara perut kami itu makin mengeras dan terasa panas. Ohh, ternyata benda yang
mengganjal itu adalah batang kemaluan Oom Heru yang mulai mengeras.
Perlahan namun pasti lidah Oom Heru mulai menelusuri setiap lekuk liku tubuhku.
Tanpa rasa jijik dijilatinya ketiakku yang bersih mulus, karena aku memang rajin
mencabuti bulu ketiakku. Rasanya geli luar biasa diperlakukan seperti itu. Lidahnya
yang basah dan panas seolah-olah menggelitik ketiakku. Setelah puas menjilati
kedua ketiakku bergantian, lidah Oom Heru mulai menelusuri tubuhku bagian
samping ke aras bawah. Sekarang pinggangku dijadikannya sasaran jilatannya. Aku
semakin tak mampu menahan diri.
Oshhh.. Ohhh Omm.. Ohh aku hanya mampu merintih.
3
Karena bukan hanya itu rangsangan yang diberikannya. Tangannya yang nakal
ternyata tak tinggal diam. Ditangkupkannya telapak tangannya yang besar ke bukit
kemaluanku lalu dengan gerakan lembut diremas-remasnya bukit kemaluanku.
Beberapa saat kemudian sambil bibirnya menjilati perut bagian bawahku, jari jari
Oom Heru mulai bergerak menyusuri celah hangat di antara bibir kemaluanku yang
sudah sangat basah. Jarinya bergerak sepanjang celah itu dari atas ke bawah
hingga menyentuh lubang analku. Dengan dibantu cairan yang keluar dari liang
kemaluanku jarinya mulai dimasuk-masukkan ke dalam lubang analku hingga
lubang analku kurasakan mengedut-ngedut.
Tiba-tiba Oom Heru membalik posisi tubuhnya. Wajahnya sekarang menghadap ke
selangkanganku dan selangkangannya pun dihadapkannya ke wajahku. Sekarang
aku dapat melihat tanpa malu-malu lagi bentuk kemaluan laki-laki. Batang

kemaluan Oom Heru yang sudah sangat keras menggantung di atas wajahku.
Uratnya yang seperti tali kelihatan menonjol sepanjang batang kemaluannya yang
berwarna hitam kecoklatan. Gagah sekali bentuknya seperti meriam kecil antik
yang banyak kulihat dijual di sekitar candi Borobudur sana.
Aku tidak sempat mengagumi benda itu berlama-lama, karena tiba-tiba kurasakan
batang kemaluan itu mengganjal tepat di bibirku. Rupanya Oom Heru menginginkan
batang kemaluannya kujilati seperti tadi. Aku pun membuka bibirku dan dengan
lembut mulai menjilati ujung batang kemaluannya yang mengkilat. Tubuhku pun
tersentak dan tanpa sadar pantatku terangkat ke atas saat bibir Oom Heru mulai
menciumi bukit kemaluanku. Bibirnya dengan gemas menyedot labia mayoraku lalu
disisipkannya lidahnya ke dalam bibir kemaluanku.
Saking gelinya tanpa sadar kedua kakiku menjepit kepala Oom Heru untuk lebih
menekankan wajahnya ke bukit kemaluanku. Oom Heru pun menekan pantatnya ke
bawah hingga batang kemaluannya lebih dalam memasuki mulutku. Aku hampir
tersedak dan susah bernapas karena batang kemaluan oom Heru yang besar itu
menyumpal mulutku dan ujungnya hampir menyentuh kerongkonganku, sementara
rambut kemaluannya yang sangat lebat menutupi hidungku!!
Aku gelagapan hingga tanpa sadar kucengkeram pantat Oom Heru agar
mengangkat pantatnya. Rupanya tindakanku berhasil karena Oom Heru
mengangkat pantatnya sedikit hingga aku dapat bernapas lega. (Pembaca dapat
membayangkan bagaimana rasanya hidung pembaca tersumpal jembut Eh
rambut kemaluan laki-laki!! Sudah baunya apek Ting kruntel lagi kayak indomie
pula!! Sedangkan mulut tersumpal batang kemaluan!!)
Tubuhku semakin menggeliat liar saat lidah Oom Heru mulai menggesek-gesek
kelentitku. Kelentitku rasanya membengkak dan berdenyut-denyut seolah mau
pecah. Mataku sudah membeliak hampir terbalik. Aku merasa hampir mengalami
orgasme lagi Namun saat desakan di bagian bawah perutku hampir meledak tibatiba Oom Heru menjauhkan bibirnya dari selangkanganku. Aku kecewa sekali
rasanya. Orgasme yang hampir kuperoleh ternyata menjauh lagi. Ternyata ini
memang taktik Oom Heru agar aku penasaran.
Oom Heru mengubah posisi lagi. Kini wajahnya menghadap ke wajahku lagi.
Tubuhnya ditempatkannya di antara kedua pahaku yang memang sudah terbuka
lebar. Kemudian bibirnya mencium bibirku dengan lembut. Akupun membalasnya.
Lidah kami saling berkutat. Sementara itu tubuh bagian bawah Oom Heru mulai
menekan selangkanganku. Hal ini kurasakan dari tekanan batang kemaluan Oom
Heru yang terjepit bibir keamaluanku, walaupun belum masuk ke dalam liang
kemaluanku tentunya!!
Hangat sekali rasanya batang kemaluan itu. Nikmat sekali rasanya gesekangesekan yang ditimbulkannya saat pantatnya bergerak maju-mundur.
Oomhh.. Ja.. Jangan dimasukkan..! kataku sambil tersengal-sengal menahan
nikmat.
Aku tidak tahu apakah permintaan aku itu tulus atau tidak, sebab sejujurnya aku
juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu
masuk ke lubang kemaluanku.

Oke.. Sayang Kalau nggak boleh dimasukkan, Oom gesek-gesekkan di bibirnya


saja ya..? jawab Oom Heru juga dengan napas yang terengah-engah.
Kemudian Oom Heru kembali memasang ujung batang kemaluannya tepat di celahcelah bibir kemaluanku. Aku merasa gemetar luar biasa ketika merasakan kepala
batang batang kemaluan itu mulai menyentuh bibir kemaluanku. Lalu dengan
perlahan digoyangkanya pantatnya hingga batang kemaluannya mulai menggesek
celah bibir kemaluanku. Hal ini berlangsung beberapa saat dengan irama yang
teratur seperti pemain biola yang menggesek biolanya dengan khidmat.
Rupanya Oom Heru tidak puas dengan cara seperti itu (Aku pun juga kurang puas
sebenarnya..! Tapi gengsi dong masak cewek minta duluan!!).
Oom masukkin dikit ya sayang.. bisik Oom Heru dengan napasnya mendengusdengus, tanda kalau nafsunya sudah semakin meningkat. Aku sendiri yang juga
sudah sangat terangsang dan tidak berdaya karena sudah terbakar birahi hanya
diam saja.
Karena aku hanya diam, Oom Heru lalu memegang batang kemaluannya dan
dicucukannya ke celah-celah bibir kemaluanku yang sudah sangat licin. Dengan
pelan didorongnya pantatnya hingga akhirnya ujung kemaluan Oom Heru berhasil
menerobos bibir kemaluanku. Aku menggeliat hebat ketika ujung batang kemaluan
yang besar itu mulai menyeruak masuk. Walaupun mulanya sedikit perih, tetapi
perlahan namun pasti ada rasa nikmat yang baru kali ini kurasakan mulai
mengalahkan perihnya selangkanganku. Seperti janji Oom Heru, batang
kemaluannya yang seperti lengan bayi itu hanya dimasukkan sebatas ujungnya
saja.
Meskipun hanya begitu, kenikmatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir
berteriak histeris. Sungguh batang kemaluan Oom Heru itu luar biasa nikmatnya.
Liang kemaluanku serasa berdenyut-denyut saat menjepit ujung topi baja batang
kemaluan Oom Heru yang bergerak maju-mundur secara pelahan.
Oom Heru terus menerus mengayunkan pantatnya Mamaju-mundurkan batang
batang kemaluan sebatas ujungnya saja yang terjepit dalam liang kemaluanku.
Keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami masih terus
berpagutan.
Sakkith.. Oomhh..? Aku menjerit pelan saat kurasakan betapa batang kemaluan
oom Heru menyeruak semakin dalam.
Namun rasa perih itu perlahan-lahan mulai menghilang saat Oom Heru
menghentikan gerakan batang kemaluannya yang begitu sesak memenuhi liang
kemaluanku. Rasa sakit itu mulai berubah menjadi nikmat karena batang
kemaluannya kurasakan berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.
Lalu aku semakin mengawang lagi saat lidah Oom Heru yang panas mulai
menyapu-nyapu seluruh leherku dengan ganasnya. Bulu kudukku serasa merinding
dibuatnya. Aku tak sadar lagi saat Oom Heru kembali mendorong pantatnya hingga
batang kemaluannya yang terjepit erat dalam laing kemaluanku semakin
menyeruak masuk. Aku yang sudah sangat terangsang pun tak sadar akhirnya
menggoyangkan pantatku seolah-olah memperlancar gerakan batang kemaluan
Oom Heru dalam liang kemaluanku.

Kepalaku tanpa sadar bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang baru kali
ini kurasakan. Liang kemaluanku semakin berdenyut-denyut dan ada semacam
gejolak yang meletup-letup hendak pecah di dalam diriku.
Aku tak tahu entah bagaimana, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar itu
telah amblas semua kevaginaku.
Bless
Perlahan tapi pasti batang kemaluan yang besar itu melesak ke dalam libang
kemaluanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang batang kemaluan Oom Heru
yang sangat-sangat besar itu. Ada rasa pedih menghunjam di perut bagian
bawahku. Oohhh rupanya mahkotaku sudah terenggut.
Akhh.. Sakk Kitthh.. Oomhh.. aku merintih dan tanpa sadar air mataku menetes.
Ada sebersit rasa penyesalan dalam diriku, mengapa aku begitu mudah
menyerahkan mahkotaku yang paling berharga.
Oomh.. Kok dimaassuukiin seemmua.. Ah..? tanyaku.
Maafkan Oom saayang. Oom nggak tahhan..! ujarnya dengan lembut.
Ia pun menghentikan gerakan pantatnya. Air mataku mengalir tanpa dapat kutahan
lagi.
Jangan menangis sayang.. bisik Oom Heru di telingaku, Oom sayang kamu
Ada secercah rasa bahagia saat kudengar bisikan mesranya di telingaku. Aku pun
terdiam dan ia pun terdiam. Kami terdiam beberapa saat. Ooh betapa indahnya..
Dalam diam itu aku dapat merasakan kehangatan batang kemaluannya yang
hangat dalam jepitan liang kemaluanku. Kembali rasa nikmat menggantikan rasa
sakit yang tadi menghentakku. Kurasakan batang kemaluannya mengedut-ngedut
dalam jepitan liang kemaluanku.
Kemudian dengan perlahan sekali Oom Heru mulai mengayunkan pantatnya hingga
kurasakan batang kemaluannya menyusuri setiap inci liang kemaluanku. Nikmat
sekali rasanya. Aku tak sempat mengerang karena tiba-tiba bibir Oom Heru sudah
melumat bibirku. Lidahnya menyeruak masuk mulutku dan mencari-cari lidahku.
Aku pun membalasnya.
Hmmgghh
Kudengar Oom Heru mendengus tanda birahinya sudah mulai meningkat. Gerakan
batang kemaluannya semakin mantap di dalam jepitan liang kemaluanku. Aku
merasakan betapa batang kemaluanya yang keras menggesek-gesek kelentitku.
Aku pun mengerang dan tubuhku bergerak liar menyambut gesekan batang
kemaluannya. Pantatku mengangkat ke atas seolah-olah mengikuti gerakan Oom
Heru yang menarik batang kemaluannya dengan cara menyendal seperti orang
memancing hingga hanya ujung batang kemaluannya yang masih terjepit dalam
liang kemaluanku.
Lalu setelah itu didorongnya batang kemaluannya dengan pelahan hingga ujungnya
seolah menumbuk perutku. Dilakukannya hal itu berulang-ulang. Aku merasa ada
semacam sentakan dan kedutan hebat saat Oom Heru menarik batang
kemaluannya dengan cepat! (Belakangan aku baru tahu kalau itu namanya teknik
sendal pancing setelah Oom Heru menceritakannya! Intinya teknik ini adalah
mendorong secara pelan hingga batang kemaluannya masuk seluruhnya lalu

menarik dengan cepat seperti orang menyendal saat memancing hingga hanya
ujung batang kemaluannya yang masih tertinggal! Wow.. Ternyata teknik inilah yang
kurasakan paling nikmat dan menjadi teknik favoritku!! Pembaca bisa mencobanya
dan wanita ditanggung akan ketagihan deh!!).
Napasku semakin terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin
tak tertahankan. Begitu besarnya batang kemaluan Oom Heru, sehingga lubang
vaginaku terasa sangat sempit. Sementara karna tubuhnya yang berat, batang
kemaluan Oom Heru semakin menyeruak ke dalam liang kemaluanku dan melesak
hingga ke dasarnya. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang kemaluan
Oom Heru menggesek-gesek dinding liang kemaluanku.
Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Oom Heru dengan menggoyang
pantatku. Semakin lama, genjotan Oom Heru semakin cepat dan keras, sehingga
tubuhku tersentak-sentak dengan hebat. Slep slep slep sleep bunyi gesekan
batang kemaluan Oom Heru yang terus memompa liang kemaluanku.
Akhh! Aakhh.. Oomhh..! erangku berulang-ulang. Benar-benar luar biasa sensasi
yang kurasakan. Oom Heru benar-benar telah menyeretku menuju sorga
kenikmatan. Persetan dengan keperawananku. Aku sudah tak peduli apapun.
Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa dari ujung
kepala hingga ujung kemaluanku!! Tubuhku mengelepar-gelepar di bawah genjotan
tubuh Oom Heru. Seperti tidak sadar, aku dengan lebih berani menyedot lidah Oom
Heru dan kupeluk erat-erat tubuhnya seolah takut terlepas.
Ooh.. Oomh.. Akhh..! akhirnya aku menjerit panjang ketika hampir mencapai
puncak kenikmatan. Tahu aku hampir orgasme, Oom Heru semakin kencang
menyendal-nyendal batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku.
Saat itu tubuhku semakin menggelinjang liar di bawah tubuh Oom Heru yang kuat.
Tidak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.
Ooh.. Aauuhh.. Oomh! Jeritku tanpa sadar.
Seketika dengan refleks jari-jariku mencengkeram punggung Oom Heru. Pantatku
kunaikkan ke atas menyongsong batang kemaluan Oom Heru agar dapat masuk
sedalam-dalamnya. Lalu kurasakan liang kemaluanku berdenyut-denyut dan
akhirnya aku seolah merasakan melayang. Tubuhku serasa seringan kapas. Aku
benar-benar orgasme!! Gerakanku semakin melemah setelah kenikmatan puncak
itu. Oom Heru menghentikan sendalannya.
Bagaimana rasanya sayang..! bisik Oom Heru lembut sambil mengecup pipiku.
Aku pun hanya terdiam dan wajahku merona karena malu.
Istirahat dulu ya sayang bisiknya lagi.
Oom Heru yang belum orgasme membiarkan saja batang kemaluannya terjepit
dalam liang kemaluanku. Kami kembali terdiam. Mungkin Oom Heru sengaja
membiarkan aku untuk menikmati saat-saat kenikmatan itu. Aku kembali mengatur
napasku sementara kurasakan batang kemaluan Oom Heru terus mengedut-ngedut
dalam jepitan liang kemaluanku. Tubuh kami sudah mengkilat karena basah oleh
keringat. Memang udara saat itu panas sekali, apalagi kami juga habis bergumul
hebat ditambah kamar itu tidak ber AC, hanya kipas angin yang membantu
menyejukkan ruangan yang sudah berbau mesum itu.

Setelah beberapa saat Oom Heru yang belum orgasme itu mulai menggerakgerakkan batang kemaluannya maju mundur. Kali ini dia bergerak tidak menyendalnyendal lagi. Masih dengan posisi seperti tadi, yaitu kakiku menjuntai ke lantai dan
pantatku terletak di tepi pembaringan. Sedangkan oom Heru tetap posisi setengah
berdiri karena kakinya masih di lantai.
Kembali gejolak birahiku terbangkit. Dengan sukarela aku menggoyangkan
pinggulku seirama dengan gerakan pantat Oom Heru. Rasa nikmat kembali naik ke
ubun-ubunku saat kedua tulang kemaluan kami saling beradu. Gerakan batang
kemaluan Oom Heru semakin lancar dalam jepitan liang kemaluanku. Meskipun
masih ada rasa sedikit ngilu, kubiarkan Oom Heru memompa terus lubang
kemaluanku.
4
Aku yang sudah cukup lelah hanya bergerak mengimbangi ayunan batang
kemaluan Oom Heru yang terus memompaku. Batang kemaluannya yang hitam
kecoklatan dan sudah berkilat karena basah oleh cairan licin yang keluar dari
kemaluanku tanpa ampun menghajar liang kemaluanku. Edan tenan!! Liang
kemaluanku dimasuki batang kemaluan sebesar itu. Kalau akau tak malu ingin
rasanya aku menjerit meneriakkan kata-kata Oom Timbul dalam iklan jamu yang
terkenal Uenak tenaaann!. Memang enak, bagi yang belum pernah merasakan
boleh coba! Ditanggung ketagihan.
Memang kupikir-pikir mendingan enak ngeseks begini daripada ikut-ikutan teman
kuliahku yang sok idealis berdemo panas-panasan!! Memang banyak teman yang
ngajak aku berdemo, tapi aku emoh! Ngapain toh enggak ada untungnya! Palingpaling kita cuman diperalat sama pemimpin demo! (Rupanya ada benarnya juga
pilihan yang kuambil untuk tidak ikut-ikutan berdemo! Soalnya ternyata ketahuan
ada beberapa rekan yang terima duit dari demo itu!)
Oom Heru semakin lama semakin kencang memompakan batang kemaluannya.
Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi dan leherku dan kedua
tangannya meremas kedua buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti
itu nafsuku semakin memuncak kembali. Kurasakan kenikmatan mulai menjalar lagi.
Bermula dari selangkanganku kenikmatan itu menjalar ke putingku lalu ke ubunubunku. Aku lalu balik membalas ciuman Oom Heru, pantatku bergerak memutar
mengimbangi batang kemaluan Oom Heru yang dengan perkasa menusuk-nusuk
lubang kemaluanku.
Gerakan Oom Heru mulai semakin liar. Napasnya mendengus seperti kerbau gila!
(Mungkin kerbau kalau lagi gila begini kali ya?) Pantatku kuputar-putar, kiri-kanan
semakin liar untuk menggerus batang batang kemaluan Oom Heru yang terjepit
erat dalam lubang kemaluanku. Aku pun semakin tak mampu menahan diri. Kusedot
lidah Oom Heru yang menyelusup ke dalam mulutku. Tubuh Oom Heru mengejatngejat seperti orang tersengat listrik karena kenikmatan.
Lalu di saat aku menjerit panjang saat merasakan orgasme untuk yang ke sekian
kalinya. Oom Heru pun mengejat-ngejat.

Ough.. Ugh Ughhh dengan napas yang terengah-engah, Oom Heru yang berada
diatas tubuhku semakin cepat menghunjamkan batang kemaluannya. Lalu
Crrtt.. Crrtt.. Crrttt Crttt Crttt
Aku merasakan betapa batang kemaluan Oom Heru menyemprotkan air maninya
dalam kehangatan liang kemaluanku. Matanya membeliak dan tubuhnya
terguncang hebat. Batang kemaluannya mengedut-ngedut hebat saat
menyemburkan air maninya. Aku merasakan ada semprotan hangat di dalam sana,
nikmat sekali rasanya. Rupanya kami mencapai orgasme yang bersamaan.
Teruss teruss putarrr sayanghhh..! dengus Oom Heru. Aku pun membantunya
dengan semakin liar memutar pinggulku.
Beberapa saat kemudian tubuhnya ambruk hingga menindih tubuhku. Batang
kemaluannya tetap terjepit dalam liang kemaluanku. Sementara aku merasakan ada
aliran cairan yang mengalir keluar dari liang kemaluanku. Napas kami menderu
selama beberapa saat setelah pergumulan nikmat yang melelahkan itu.
Gila, air mani Oom Heru luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang
kemaluanku terasa kebanjiran. Bahkan karna begitu banyaknya, air mani Oom Heru
belepotan hingga ke bibir kemaluanku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan itu
reda. Untuk beberapa saat Oom Heru masih menindihku, keringat kami pun masih
bercucuran. Batang kemaluannya yang sudah mulai melemas secara perlahan
terdorong keluar oleh kontraksi otot liang kemaluanku. Hingga tiba-tiba tubuh kami
berdua seperti tersentak saat batang kemaluan itu terlepas dari jepitan
kemaluanku.
Plop
Seperti tutup botol yang terlepas saat batang kemaluan itu terlepas dari jepitan
liang kemaluanku. Kami tersenyum.
Enak sayang? bisiknya mesra.
Kamu sungguh hebat Anna. Oom sayang sekali sama Anna ia merayu lagi setelah
memperoleh kenikmatan dariku.
Setelah itu ia menggulingkan tubuhnya berguling kesampingku. Mataku
menerawang menatap langit-langit kamar. Ada sesal yang mengendap dihatiku.
Tapi nasi sudah menjadi bubur! Air mani sudah terlanjur mengucur! Biarin deh! Apa
yang terjadi terjadilah. Que sera sera! Demikian pembenaranku.
Maafkan Oom, Anna. Oom telah khilaf bisik Oom Heru lirih.
Aku tidak menjawab, aku duduk dan bermaksud membersihkan ceceran air mani
Oom Heru yang berceceran di bibir kemaluanku. Aku kembali tercenung melihat
betapa cairan mani yang mengalir keluar dari liang kemaluanku sedikit kemerahan
karena darah perawanku. Ya perawanku telah terenggut oleh Oomku! Adik kandung
ayahku sendiri!! Untuk beberapa saat tak ada sepatah kata pun yang keluar dari
mulut kami berdua.
Namun rupanya penyesalanku tidak berlangsung lama. Kenikmatan mengalahkan
rasa sesalku. Hari itu kami melakukannya lagi berulang-ulang seperti layaknya
pengantin baru. Oom Heru mengajariku berbagai gaya yang aneh-aneh! Memang
keadaan sangat mendukung karena kedua orangtuaku baru pulang setelah petang.
Jadi siang itu kami benar-benar mereguk kenikmatan sebebas-bebasnya. Dari

beberapa gaya yang diperkenalkan Oom Heru, hanya gaya sendal pancing itulah
yang paling berkesan bagiku dan menjadi gaya favoritku.
Sejak saat itu aku menjadi kekasih Oom ku sendiri. Tentunya tanpa sepengetahuan
ayahku. Dan setiap ada kesempatan kami selalu melakukannya di manapun dan
kapanpun! Benar pembaca aku menjadi tergila-gila dengan yang namanya seks! I
become addicted to cock since then!!
*****
Demikian kisah dari salah satu pembaca ceritaku. Bagi pembaca yang punya
pengalaman menarik dan ingin diceritakan boleh kirim ke email-ku nanti
kurangkaikan cerita agar bisa dinikmati seluruh pencinta situs ini. Aku sendiri juga
senang berpetualang apalagi dengan wanita yang lebih tua dariku! Mungkin aku
menderita Oedipus Complex.

AKU DAN 2 ANAK SMA


Anak SMU dengan nafsu seks memang bisa membutakan seseorang sehingga rela melakukan
apasaja termasuk ngentot dan menikmati permainan nafsu dua gadis sma yang mupeng di dalam
hutan, simak nafsuku yang membara ini. Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm
dan berat 58 kg. Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu
bersama teman-temanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian
gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian disini. Tadi malam aku bersama teman-temanku
5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak
Lawu jam 6 pagi tadi.
Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman-temanku sudah pada turun gunung semua.
Kuputuskan untuk beristirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar
nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar
gunung Lawu ini.
Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tiba-tiba dari
arah semak belukar arah barat muncul 2 orang cewek dengan baju dan kondisi acak-acakan.
Halo Mas? sapa salah satu cewek itu padaku.
Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris
Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu mirip-mirip bintang
sinetron Bunga lestari.
Halo juga jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tiba-tiba, sempat
terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.
Loh, dari mana, kok berduaan aja? tanyaku coba berbasa-basi.
Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar.. jawab cewek itu sambil duduk di depanku.
Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan muter-muter gak ketemu jalan
sama orang lanjutnya kemudian.
Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan
orang-orang atau rombongan pecinta alam.
Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin? jawabku.

Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung
menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburu-buru,
sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol
minumku dengan santun.
Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewek-cewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat
itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan
sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal
atau peralatan sama sekali.
Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang
kugunakan untuk memasak air.
Mas namanya siapa? tanya cewek yang berambut pendek.
Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina katanya lagi.
Namaku Son jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih.. tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang
sedang memperhatikannya.
Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih jawabku.
Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk
dimasakin mie.
Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruh-nyuruh? godaku pada
Adek.
Tolong deh Mas.. Adek capek banget Nanti gantian deh.. rayu Adek padaku.
Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya? godaku
lebih lanjut.
Maunya tuh.. tapi bereslah.. jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.
Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan
mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina
tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ini. Adek berangkat bersama serombongan pecinta
alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki
gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani
Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan
terpisah dari rombongan.
Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih
saja Adek protes kok tidak ada piringnya.
Emangnya ini di warung kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.
Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.
kamu sakit ya Lin? tanyaku.
Nggak Mas hanya kedinginan katanya pelan.
Butuh kehangatan tuh Mas Son potong Adek sekenanya.
Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar
yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh jangan-jangan sudah mau hujan.
Segera saja kubereskan peralatanku.
Masih pada kuat jalan nggak? tanyaku pada 2 orang cewek ini.
Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar
nggak kehujanan lanjutku.
Baru saja selesai aku bicara, tiba-tiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.
Duer!!

Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintik-rintik air hujan.
Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang kataku sambil mematikan
kompor parafinku.
Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini!
perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.
Aku, Adek, dan Lina segera berdesak-desakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan
semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang
biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam
tenda ini. Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak
deras.
Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.
Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali saranku pada
Lina yang mulai menggigil kedinginan.
Tapi copot sepatunya lanjutku kemudian.
Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam
sleeping bag sambil berpelukan.
Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,
Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya ucapku pada Adek
dan Lina.
Mas Son gak kedinginan.. tanya Lina tiba-tiba.
Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini? jawabku apa adanya.
Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil kataku mencoba bercanda.
Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam
nada omongannya.
Waduh, gak salah denger nih? pikirku.
Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.
Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat kataku cuek sambil membuka
resleting sleeping bagku.
Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remang-remang.
Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada kata-kata atau komentar
apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan.
Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat
mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di
dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.
Badan Mas Son hangat ya Lin? kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku
dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya
kalau dia pas lagi mau tidur.
Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi jawab Lina
pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.
Samar-samar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut
Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.
Ehm.. aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.
Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusiasiakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..
Iseng-iseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai merabaraba kebagian daerah buah dada Adek.

Ehm.. Adek ternyata hanya berdehem pelan.


Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya.
Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya
juga meraba-raba dan mengelus-elus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening
Adek, sementara tanganku terus meremas-remas susunya dengan tempo agak cepat.
Aah.. Mas Son suara Adek terdengar lirih.
Ada apa Dek? tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang
kulakukan.
Kamu masih kedinginan ya? kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.
Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait
BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu,
bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil
dadaku.
Ah.. Mas Son.. katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.
Saat kupermainkan puting susunya, tiba-tiba Adek bangkit.
Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan
mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.
Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek
mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena
diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesek-gesek
kontolku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir
kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar
mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit
bernafas.
Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss ucapku dalam hati.
Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.
Mas sakit Mas pundak Lina kata Lina tiba-tiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.
Oh maaf Lin jawabku dengan terkejut.
Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera
hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan
Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.
Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi kata Adek lirih di telingaku sambil
tangannya sudah bergerilya mengusap-usap kontolku yang masih tertutup rapat oleh celana
jeansku.
Waduh.. bagaimana ini pikirku dalam hati.
Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang
terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku.
Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan
ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan
berusaha membuka bajuku.
Aku yakin walau suasananya remang-remang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami,
bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang
meremas-remas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung,
segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan
berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu

tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat
tinggi.
Ah.. ah.. Mas Son.. gumam Adek lirih.
Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah.. lanjutnya.
Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan
kontolku. Kuremas pantat Adek sambil menggesek-gesekan kontolku pada daerah kemaluan
Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada
di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.
Aaahh.. sshh..
Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil
berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang
sama dengan yang kulakukan tadi.
Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigit-gigit
putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat kontolku semakin
tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina
di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan
pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.
Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan
Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus
mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggelenggelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.
Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li.. ujarku dengan nafas tersengal.
Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan
tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli
lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana
jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil
tanganku tetap memegang tangan Lina.
Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih kontolku yang masih terbungkus celana
dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut
celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar kontolku
kemudian mencium dan menjilat permukaan kontolku.
Aah.. aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum kontolku dan
mengisapnya.
Aargh .. Dek, enak sekali Dek erangku.
Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir gumamku dalam hati.
Saat Adek masih asik berkaraoke dengan kontolku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang
memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada
dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.
Lin, aku ingin cium bibir kamu bisikku perlahan di telinga Lina.
Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku
dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.
Eemh .. suara yang terdengar dari mulut Lina.
Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena
pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat
kontolku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah.

Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku
yang satu mengelus-elus selangkangan Lina.
Aah.. ah.. Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati
permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.
Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta kata Adek tiba-tiba.
Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap
kontolku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.
Adek masukkin ya Mas kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan
kontolku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.
Pelan tapi pasti Adek membimbing kontolku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya.
Kurasakan rasa hangat menjalar dari kontolku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah
basah oleh lendir pelumasnya memudahkan kontolku masuk ke dalamnya.
Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek katanya mendesis sambil
menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.
Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.
Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan
mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan
Adek.
Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas erang Adek memelas.
Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima
perlakuanku seperti kesetanan.
Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni.. katanya bernafsu.
Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.
Eeemhp.. aaah..
Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah
hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.
Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son kata Adek lirih
mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan kontolku masih di dalam liang
senggamanyanya.
Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngos-ngosan
mengenai leherku.
Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya kata Adek pelan.
Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di
sampingku, ternyata tangannya sedang meremas-remas teteknya sendiri dibalik BH berendanya
yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi
push up mendekatkan teteknya kemulutku.
Aah .. Mas Son.. kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.
Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari kontolku, kemudian
berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit
sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremas-remas tetek
Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan
yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulur-julur minta
diisap.
Kubimbing tangan Lina untuk memegang kontolku yang masih tegang dan basah karena cairan
kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat kontolku dan

seperti sudah alami Lina mengocok kontolku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan
lehernya.
Aah .. Mas Son.. geli .. hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.
Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya
kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak
tegang itu.
Aargh.. aah .. Lina mulai menggelinjang.
Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya.
Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian
pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat kontolku, dan tangan kirinya
menekan-nekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke
dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan
sambutan hangat bulu-bulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kuelus-elus sebentar
permukaan liang kawinnya, lalu jari-jariku tak ketinggalan bermain menekan-nekan tempiknya
yang sudah basah oleh lendir kawinnya.
Ah.. Mas.. Son .. aah suara Lina semakin terdengar parau.
Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya.
Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera
menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulu-bulu jembut halus yang jarangjarang.
Ah.. jangan Mas Son .. ah.. kata Lina mendesis.
Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan
tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku
menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai
kedalam-dalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit
kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot
seluruh celana jeans dan celana dalamnya.
Aah .. argh .. desis Lina pelan.
Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral kontolku aku tidak
peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.
Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah .. teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya
pahanya menjepit erat kepalaku dan kontolku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.
Aaah.. Mas .. teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot
dari dalam tempiknya kedalam mulutku.
Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.
Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son.. kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan
pasrah.
Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegal-pegal
kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang
terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kaki-kaki mereka.
Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan kontolku sudah ada yang memegang lagi.
Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina kata Adek
tiba-tiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang kontolku.
Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum kontolku lagi, bahkan kini pantatnya
beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi

aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah.
Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuk-nusuk kedalamnya.
Eeemph .. emmph .. Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan kontolku.
Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan
dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya kontolku bisa
muntah-muntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina
sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesek-gesekan
kontolku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulu-bulu jembut yang berwarna hitam
pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing kontolku untuk masuk ke dalam lubang
kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan kontolku siap untuk menghujam lubang
senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan kontolku mulai dari kepala hingga semuanya masuk
ke dalam tempiknya.
Aaah .. Mas Son .. desis Adek sambil menggoyang pantatnya.
Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat
menjalar di setiap centi dari kontolku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang
kemaluannya.
Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok kata Adek sambil melingkarkan
tangannya ke leherku.
Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ini. Di udara dingin seperti ini terasa
hangat tapi tidak berkeringat.
Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah .. lanjutnya keenakan.
Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat
teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek
sambil meremas-remasnya dengan gemas, sementara pompaan kontolku telah diimbangi
goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apa-apanya.
Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah.. desis Adek histeris.
Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku
dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.
Aaarg .. erangnya keras.
Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat
orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau
aku masih memompanya. Aku segera mencabut kontolku dan mengocoknya sebentar untuk
menumpahkan pejuku ke perut Adek.
Crut.. crut..
Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.
Aaah.. akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.
Adek mengusap-usap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari
celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu
membersihkan pejuku.
Baunya seperti santan ya? komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.
Ya udah. Semua dibereskan dulu kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja
bermain cinta denganku ini.
Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke
bawah atau bermalam disini ya lanjutku kemudian.
Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku
semalam bisa terjebak dalam situasi seperti ini.

Tak kurasa kami bertiga telah bermalam dan sadar pada keesokan harinya, dan berjanji akan
melakukannya lagi nanti sesampainya dibawah dan menginap di hotel terdekat.

aku dikeroyok suruh ngelayanin nafsu hidung belang

aku dikeroyok suruh ngelayanin nafsu hidung belang

Gara-gara terjebak nafsu untuk berselingkuh, malah membuatku ketagihan. Dulu aku
puas ngeseks hanya dengan satu pria. Sekarang, aku lebih puas dengan ngeseks
ramai-ramai. Bukan lagi dengan satu pria tentunya, melainkan lima pria sekaligus, aku
baru puas.
Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku
nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat perkawinan selama tujuh tahun. Aku
nikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.
Suamiku normal-normal saja, demikian juga dengan hubungan seksku. Aku
melakukannya sekitar 2 atau 3 kali seminggu dengan suamiku. Namun semuanya
berubah ketika aku mengalami suatu hal yang tidak kuduga sebelumnya pada tiga
bulan yang lalu. Ternyata kemampuan seksku lebih dari yang kuduga sebelumnya.
Aku biasa dipanggil Ratih. Tinggi badanku sekitar 156 cm dengan berat 49 kg. Ukuran
BH-ku 34C, pinggulku yang agak besar berukuran 100 cm semakin menonjol dengan
pinggangku yang hanya 58 cm itu. Walaupun dari rahimku telah terlahir dua orang
anakku, bodyku sih oke-oke saja. Hampir tidak ada perubahan yang mencolok.

Kembali pada kejadian yang gila. Mula-mula aku bertemu temanku, Merry saat aku
sedang berbelanja di sebuah mall. Ia adalah sobatku sewaktu di SMA dulu. Saat itu ia
bersama dua orang teman laki-lakinya, yang langsung dikenalkannya kepadaku.
Mereka bernama Yanto dan Andi. Mereka ternyata adalah teman-teman yang enak
diajak bicara. Akhirnya kami pun menjadi akrab. Siang itu kami melanjutkan obrolan
sambil makan di sebuah restoran.
Setelah pertemuan itu, ternyata Yanto sering menelepon ke rumahku walaupun ia
sudah tahu bahwa aku ini seorang istri dengan dua orang anak. Dalam pembicaraan
telepon, ia memang sering mengeluarkan rayuan gombalnya kepadaku tapi tetap ia
menjadi teman bicara yang enak.
Ia berusaha mengajakku makan siang dengan gigihnya. Hal itu yang membuatku
menyerah juga. Akhirnya aku menyetujuinya juga. Syaratnya, makan siangnya harus
ramai-ramai.
Aku, Merry, Yanto, dan Andi bertemu di tempat yang sudah kami sepakati bersama.
Bersama kedua teman cowok kami, ikut serta pula tiga orang teman mereka yang lain:
Eko, Benny, dan Adi. Mereka semua rata-rata berusia delapan tahun lebih tua daripada
aku dan Merry.
Kami makan siang bersama di sebuah restoran yang ada fasilitas karaokenya. Kami
makan dengan ramainya sambil berkaraoke. Memang aku pun senang berkaraoke.
Ayo, Rat nyanyi lagi mereka menyemangatiku kala aku melantunkan lagu. Ternyata
kelima cowok keren itu merupakan teman yang enak untuk gaul. Wawasan mereka luas
dan menyenangkan. Akhirnya kami cepat menjadi akrab. Ternyata, baru kusadari nanti
bahwa inilah kekeliruanku.
Seminggu kemudian aku diundang lagi, kali ini oleh Andi, untuk makan siang dan
berkaraoke lagi. Tanpa pikir panjang dan tanya-tanya lagi, aku pun langsung
menyetujuinya. Aku bolos masuk kantor setelah makan siang, lalu pergi ke tempat
karaoke bersama mereka.
Nah, di saat itulah terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Ternyata aku dibawa ke tempat
karaoke yang khusus untuk berkaraoke saja. Bukannya sebuah restoran. Tempatnya
berupa sebuah kamar tertutup dengan kursi panjang. Kali ini Merry pun tidak ikut. Jadi
hanya aku dengan kelima cowok itu.
Karena sudah telanjur masuk ke sana, akhirnya kucoba menenangkan diri. Walaupun
aku agak deg-degan juga pada awalnya. Kenyataannya, akhirnya suasana menjadi
seru ketika secara bergantian kami berkaraoke.
Aku pun dipesankan minuman whisky-cola yang membuat badanku jadi hangat.
Akhirnya mereka meminta berdansa denganku saat salah satu di antara mereka
bernyanyi. Saat melantai itulah, lama-kelamaan mereka berani merapatkan dadanya ke

tubuhku dan menekan serta menggesek-gesek payudaraku.


Anehnya, aku malah diam dan mencoba menikmati apa yang mereka perbuat
kepadaku, yang lama-lama membuatku terbakar dan menikmati permainan ini. Mereka
bergantian berdansa denganku.
Ratih, badanmu hot sekali, ujar Yanto berbisik di telingaku sambil bibirnya mencium
belakang telingaku, membuatku merinding nikmat Tangannya lalu tanpa malu-malu lagi
meremas payudaraku. Aku pun terangsang hebat.
Aahhh jangaaannnn kataku ketika Yanto dengan beraninya membuka kancing blusku
dan menyusupkan tangannya ke dalamnya Tangannya meremas dan memilin puting
payudaraku dengan semakin hotnya Aku sebenarnya masih menyimpan sedikit rasa
malu karena semua aksi kami ditonton oleh yang lainnya dengan tatapan penuh nafsu.
Anehnya, seperti dibius, tubuhku tidak berontak. Tanganku sama sekali tidak berusaha
melepaskan tangan Yanto yang terus menggerayangi payudaraku yang kini terbuka
lebar
Mmmhhh rintihku penuh kenikmatan. Hanya itu yang ternyata sanggup keluar dari
bibirku
Yanto akhirnya mengulum bibirku dan menindih rapat-rapat tubuhku di atas sofa.
Aku benar-benar lupa diri ketika jari-jemari Yanto bergerilya di dalam celana dalamku. Ia
terus menggelitik bibir lubang vaginaku yang sudah basah dan rasanya menebal itu.
Spontan yang lainnya pun ikut-ikutan. Dengan liar akhirnya kelima cowok itu
mengerubuti tubuhku.
Akhirnya, tahu-tahu tubuhku sudah bugil tanpa sehelai benang pun dan digeluti
bersama oleh mereka. Yantolah yang lebih dahulu menusukkan senjatanya ke dalam
lubang kemaluanku. Lalu Adi memasukkan senjatanya ke dalam mulutku. Andi
mengisap puting kiri payudaraku sambil membimbing tangan kiriku untuk mengeluselus senjatanya. Sementara itu Eko mengisap puting yang sebelahnya sambil
melakukan hal yang sama pula terhadap tangan kananku. Terakhir, Benny menggosokgosokkan senjatanya ke wajahku.
Aacchhh. aku mendapat orgasme pertama ketika Yanto sedang asyik-asyiknya
menggenjot tubuhnya di atas tubuhku. Spontan, kedua tanganku meremas penis Andi
dan Eko yang ada dalam genggamanku dengan keras. Aku sendiri tak bisa
mengeluarkan lenguhan kenikmatanku secara lepas karena penis Adi yang hangat itu
dengan serunya terus bermain di mulutku.
Adi yang tahu aku baru saja orgasme hanya menyeringai kepadaku. Tampaknya ia pun
semakin semangat memompa mulutku.

Ratiih desah Yanto menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam lubangku.


Hangat dan terasa kental memenuhi lubang kemaluanku. Dipegangnya pantatku eraterat supaya semua spermanya masuk ke dalam tubuhku. Adi tambah semangat
mengocok senjatanya di dalam mulutku.
Setelah Yanto selesai, posisinya langsung diganti Benny yang sejak tadi hanya
mengosok-gosokkan senjatanya yang panjang dan besar di wajahku.
Langsung ditancapkannya ke dalam lubangku yang hangat, sudah penuh dan licin
dengan cairan milik Yanto. Benny begitu semangatnya menyetubuhiku.
Mmmmphh, aghhh. tubuhku bergetar menggeliat.
Bayangkan payudaraku dihisap putingnya oleh Eko dan Andi seperti dua bayi besar.
Sementara lubang kemaluanku mulai dihunjam oleh senjata Benny dengan ganasnya.
Di mulutku, Adi akhirnya menyemprotkan cairannya dengan deras dan langsung
kuhisap kuat-kuat.
Aaaacchhh. air mani Adi yang terasa hangat asin seperti kuah oyster masuk ke dalam
tenggorokanku.
Bersamaan dengan itu, Benny juga menyemprotkan maninya di lubang vaginaku.
Multiorgasme. Aku sudah mendapatkannya tiga atau empat kali dan masih ada Eko dan
Andi yang belum kebagian menyemprotkan cairannya.
Tubuh Adi dan Benny berkelojotan dan akhirnya terhempas.
Andi menggantikan posisi Adi. Penisnya yang bengkok ke atas terasa penuh di mulutku.
Eko menepis Benny dari atas tubuhku. Untuk yang ketiga kalinya, lubang vaginaku
dimasuki oleh orang yang berbeda. Ternyata senjata milik Eko lah yang paling panjang
dan besar. Aku khawatir kalau penis Eko agak susah untuk masuk ke dalam vaginaku.
Syukurlah, ternyata tak sesulit yang kubayangkan karena lubang vaginaku telah penuh
dengan cairan dari dua orang yang terdahulu.
Benar saja, terasa sangat mantap dan nikmat ketika senjata Eko menggesek lubangku
yang sudah terasa panas dan semakin tebal rasanya. Napasku sampai terengah-engah
dibuatnya
Rat. iseeepp yang kuaaattt. ternyata Andi tidak kuat dengan isapan mulutku. Ia akan
segera mencapai klimaks. Aku pun segera mematuhi perintahnya dengan mengisapnya
lebih kuat lagi.
Penis Andi pun memuncratkan cairan maninya di dalam mulutku. Terasa air mani Andi
lebih strong aromanya, lebih hangat, lebih kental, dan lebih banyak memenuhi mulut

dan tenggorokanku. Aku sampai agak gelagapan karena mulutku jadi penuh dan hampir
tersedak. Namun aku berusaha untuk tenang Pelan-pelan kutelan sperma Andi yang
membludak. Sementara bibirku tetap mencengkram penis Andi supaya tak lepas.
Setelah penis Andi kering benar dan mulai mengkerut, barulah aku melepaskannya. Ia
pun lalu tergeletak di atas kepalaku.
Sekarang tinggal aku dan Eko. Eko pun lalu mengubah posisinya menjadi missionary
position. Sambil penisnya terus mengocok kemaluanku, tubuhnya pun menindih
tubuhku. Wajah kami pun berhadap-hadapan dekat sekali Sambil terus beraktivitas, Eko
tersenyum padaku.
Rat, kamu hebat sekali katanya.
Aku pun tersenyum malu.
Oh, Eko bisikku. Lalu seperti sepasang kekasih, kami pun saling berciuman bibir.
Tak lama kemudian, Eko juga menggeliat menyemburkan cairannya ke dalam lubang
kemaluanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya cairan
Eko. Eko semakin mendorong pangkal pahanya ke pangkal pahaku supaya cairannya
masuk semua ke tubuhku Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eko
menggelepar dan terbaring tepat di samping tubuhku. Kami pun lalu berbaring telentang
sambil berpelukan dan menikmati hasil persetubuhan kami.
Selesailah pertempuran besar antara aku dan kelima cowok siang itu di ruang karaoke.
Walaupun ber-AC, namun udara saat itu tetap terasa panas. Badan kami bercucuran
keringat. Apalagi aku, karena selain basah oleh keringatku sendiri, juga bercampur
dengan keringat kelima cowok yang barusan menyetubuhiku. belum lagi dengan
tumpahan air mani mereka yang berceceran di seluruh bagian tubuhku.
Setelah itu, semuanya terdiam. Tak ada satu pun di antara kami yang saling bercakap.
Beberapa cowok tertidur karena kelelahan. Akhirnya, beberapa puluh menit kemudian,
kami pun berbenah-benah.
Celakanya, di kamar itu tidak ada kamar mandi. Akhirnya, aku hanya mengelap cairan
kelima lelaki yang memenuhi lubang vaginaku dan menetes ke pahaku dengan bra dan
celana dalamku saja. Lalu aku memakai bra dan celana dalamku yang agak basah dan
lengket itu. Disusul dengan blouse, rok serta blazer yang tadinya bertebaran di lantai.
Yang membuatku senang, Eko ikut membantuku berpakaian. Paling tidak, aku merasa
dihargai dan tidak sekedar menjadi pemuas nafsu mereka. Mereka pun segera
memakai kembali baju dan celananya.
Jam lima sore, kami keluar dari karaoke itu. Berarti empat jam sudah kami berada di
dalamnya karena kami masuk pada pukul satu siang. Sedangkan aku sendiri digilir oleh
mereka lebih dari dua jam nyaris non-stop. Waah, aku kagum juga dengan daya
tahanku. walaupun rasanya kakiku pegal-pegal dan ngilu. Begitu juga selangkanganku

dan mulutku.
Waktu melewati meja kasir rasanya aku malu juga. Walaupun kasir wanita itu tidak tahu
apa yang terjadi di dalam tapi wajahku tetap terasa memerah. Make up ku telah
berantakan dan aku bisa dengan jelas mencium kalau minyak wangiku telah berubah
menjadi bau aroma air mani.
Kasir wanita itu tersenyum kepadaku. Mungkin ia bisa mengendus baunya atau malah
mungkin ia sedang membayangkan kejadian yang baru saja kualami. Sementara itu, di
paha dan kakiku terasa mani mereka merembes mengalir keluar dari lubang vaginaku.
Untung sesampainya di rumah, suamiku belum pulang Cepat-cepat aku ke kamar
mandi membersihkan tubuh dan pakaianku.
Ternyata, malamnya suamiku menagih jatahnya juga Untung aku sudah membersihkan
badanku dan menyemprotkan minyak wangi untuk menghilangkan aroma sperma
kelima cowok itu
Walaupun komentar suamiku membuatku deg-degan, mudah-mudahan ia tidak curiga.
Rat, punyamu kok rasanya lain banget tebel bisik suamiku di telingaku
Terima kasih, ya Enak lanjut suamiku setelah ia menyemprotkan cairannya beberapa
menit kemudian. Lalu ia tertidur pulas di sampingku. Ia tidak tahu sudah jadi orang
keenam hari itu yang memuncratkan cairannya untukku.

UMUR 14 PWR KU HILANG


Sahabat forkamer berikut Cerita Dewasa seputar Kehilangan Perawan Umur 14
Tahun, semoga agan2 forkamer menyukainya.
Saya ingin menceritakan pengalaman seks saya 8 tahun yang lalu, sekarang saya
sudah berumur 22 tahun. Cerita ini mengenai mengapa saya kehilangan perawan
saya untuk pertama kali. Semenjak itu, saya menjadi kesal dengan semua laki-laki
tapi bukan berarti saya menjadi lesbi. Saya bukan lesbi tapi saya juga tidak mau
mengenal laki-laki. Tidak tahu lagi apa itu namanya.
Saya adalah cewek yang lumayan cantik karena saya memiliki hidung yang
mancung dengan mata yang kecil dan lentik. Payudara saya cukup besar untuk
cewek berumur 14 tahun saat itu. Saya tidak mempunyai pacar karena saya ingin
belajar giat supaya saya bisa bersekolah di Philadelphia, United States setelah saya
lulus SMA nanti. Saya memiliki kakak laki-laki yang usianya 2 tahun di atas saya.
Namanya adalah Herry Susanto (Nama belakangnya bukan nama keluarga saya
karena nama belakangnya adalah karangan saya saja). Dia satu sekolah dengan

saya sehingga tiap hari Herry selalu menemani saya di sekolah. Saya tidak pernah
berpikir kenapa dia sampai melakukan perbuatan maksiat itu terhadap saya apalagi
saya adalah adik perempuannya satu-satunya.
Saat itu kami berdua sedang libur setelah 2 minggu menjalankan ujian kenaikan
kelas. Saya masih ingat sekali bahwa hari kejadian itu adalah hari senin. Saat itu
saya sedang nonton VCD Donald Duck dan Mickey Mouse. Ketika saya sedang
menonton film tersebut, tiba-tiba saya mau pipis sehingga saya meninggalkan TV
untuk cepat-cepat pergi ke kamar mandi karena saya tidak mau ngompol di sofa di
mana saya sedang tiduran karena saya bisa dimarahi mama nantinya.
Saya lari ke kamar mandi dan langsung pipis. Itulah kesalahan saya yang fatal
karena saya lupa menutup pintu. Sewaktu saya sedang pipis, kakak saya Herry
datang tergopoh-gopoh. Saya yakin sekali bahwa Herry pasti habis memakai putaw
atau jenis drugs yang lain karena saya sering melihat dia teler kalau habis pakai
obat. Herry melihat saya sedang pipis dan saya membiarkan saja ketika dia masuk
ke kamar mandi karena saya tidak ada perasaan curiga pada dia. Ketika dia masuk,
tiba-tiba dia mengunci pintu kamar mandi dan tiba-tiba dia menyerang tubuh saya
yang saat itu sedang pipis. Saya kaget dan hendak berteriak tetapi dengan cepat
Herry menutup mulut saya dan mengancam mau membunuh saya kalau saya
berteriak. Saya langsung menangis karena saya tidak mengerti kenapa kakak saya
tega melakukan perbuatan bejad kepada saya.
Saya cuma menangis saja menyaksikan Herry membuka pakaian dan celana dalam
yang saya kenakan. Setelah saya tidak memakai busana apa-apa lagi, Herry
langsung menciumi puting susu saya dengan ganasnya sementara jari-jarinya
memainkan klitoris saya. Saya masih menangis karena saya masih tidak mengerti
tetapi di lain pihak, saya mulai menikmati permainan kakak saya karena saya
kadang-kadang mendesah di tengah tangisan saya, apalagi saya sempat
merasakan pipis beberapa kali ketika Herry mulai menjilati liang kemaluan saya dan
memainkan lidahnya di dalam lubang kemaluan saya. Saya yakin dia menelan
semua cairan kewanitaan saya. Perasaan saya saat itu tidak karuan karena saya
mulai menyenangi permainannya dan sekaligus benci dengan sikapnya yang telah
memperkosa saya.
Herry terus menjilati kemaluan saya dan saya sudah 2 kali merasakan ingin pipis
tetapi saya tidak mengerti kenapa saya ingin pipis ketika dia menjilati kemaluan
saya, saya merasakan kenikmatan yang maha dasyat. Tiba-tiba saya melihat Herry
mulai membuka pakaiannya dan mulai mempersiapkan batang kemaluannya yang
sudah mengacung sempurna. Herry langsung menciumi saya dan saya cuma bisa
berkata, Jangan.. jangan.., tetapi Herry diam saja dan mulai memasukkan batang
kemaluannya ke dalam liang kenikmatan saya. Saya tahu saya masih perawan
makanya saya meronta-ronta ketika dia mau memasukkan batang kemaluannya.
Saya menampar pipinya tetapi dia malah membalas tamparan saya sehingga saya

menjadi sangat takut waktu itu.


Akhirnya saya cuma diam saja sambil menangis sementara Herry mulai
mengarahkan batang kenikmatannya ke dalam liang kemaluan saya. Ketika batang
kemaluan Herry mulai masuk ke dalam kemaluan saya, saya merasakan sakit yang
amat sangat tetapi saya tidak bisa melakukan apa-apa karena saya sangat
ketakutan apalagi saya tahu dia dalam pengaruh obat, jadinya dia tidak menyadari
bahwa dia sedang menyetubuhi adiknya sendiri.
Di saat Herry mulai memainkan batangannya di dalam lubang kenikmatan saya,
saya merasakan ada cairan darah perawan yang keluar dari liang senggama saya
yang sudah dirobek oleh kakak saya sendiri. Saya tiba-tiba menjadi tidak mengerti
karena saya mulai menyukai goyangan batang kemaluannya di dalam liang
kenikmatan saya karena secara otomatis saya mulai bergoyang-goyang mengikuti
irama batang kemaluan Herry di dalam liang senggama saya walaupun saat itu
saya masih menangis. Herry memeluk tubuh saya sambil terus menggenjot tubuh
saya.
Selama 20 menit Herry tetap menggenjot tubuh saya dengan tubuhnya dan batang
kenikmatannya yang tertanam di dalam liang kemaluan saya. Saya mulai
merasakan bahwa saya ingin pipis tetapi kali ini saya merasakan sesuatu yang
belum pernah saya rasakan sebelumnya tetapi rasanya enak sekali dan saya sama
sekali tidak mengerti apa itu tetapi ketika saya mengeluarkan cairan nikmat saya,
saya berteriak dan memeluk kakak saya erat-erat dan ketika saya memeluknya
erat-erat, rupanya batang kemaluan kakakku sepertinya tertanam lebih dalam lagi
di liang kenikmatan saya sehingga dia sepertinya mengeluarkan cairan dari dalam
batang kelaminnya dan membasahi lapisan kemaluan saya. Setelah itu, herry
melepaskan pelukan saya serta mencabut batang kemaluannya dari dalam liang
kenikmatan saya dan kemudian meninggalkan saya seorang diri.
Saya masih sempat melihat ada cairan bekas Herry yang masih menetes dari dalam
lubang kemaluan saya. Saya hanya diam dan tiba-tiba saya menangis sedih karena
harga diri saya telah dirusak oleh kakak saya sendiri. Sejak saat itu saya mulai
membenci laki-laki, tetapi saya mulai mengenal seks karena ketika saya ingin sekali
merasakan pipis nikmat, saya selalu melakukan masturbasi di kamar mandi atau
bahkan di kamar tidur saya. Tapi tentunya saya selalu melakukannya kalau tidak
ada orang di rumah. Sejak saat itu saya membenci kakak saya dan setiap kali ada
lelaki yang mencoba mendekati saya, saya selalu mengolok-oloknya dengan katakata yang kasar sehingga satu persatu dari mereka menjauhi saya.
Sekarang saya berada di Philadelphia dan banyak teman saya yang mengatakan
bahwa saya ini termasuk cewek bodoh karena saya selalu menolak cowok baik-baik
yang cakap dan pandai dan itu tidak terjadi sekali. Saya memang membenci lakilaki tetapi saya bukan lesbi karena ketika saya menghindari semua laki-laki di

dalam hidup saya, ada seorang lesbi yang mendekati saya dan saya juga
menghindarinya. Akibatnya persahabatan kami menjadi renggang dan dia mulai
meninggalkan saya. Saya hanya dapat mencapai orgasme ketika saya melakukan
masturbasi ketika saya sedang mandi atau sebelum tidur. Jadinya itu membuat saya
berpikir, kenapa saya perlu laki-laki kalau saya bisa memuaskan nafsu saya dengan
swalayan.

JALAN2 AKHIRNYA SEX


Cerita seks yang dimulai dari Suasana meredam kepedihan saatnya di
lakukandengan pergi wisata kulinar asyik juga. Cerita seks yang sekian lama tidak
berkunjung ke salah satu sohipku yang sudah lengket banget boleh dibilang duluk
kayak prangko,nempel mulu.hem! gimana ya keadaannya sekarang apakah sama
seperti tahun sebelumnya atau dia sudah mengalami perubahan yang signifikan,Ah
tak tahu rasa penasaranku semakin menguat,ingin cepat-cepat bertemu dia
pokoknya ,langsung kemas2 ke esokan paginya aku langusng berangkat dengan
Namaku Doni, aku tinggal di kota K. Tanggal 22 Mei 1999 yang lalu aku pergi ke
Surabaya untuk liburan, sambil refreshinglah. Setelah berputar-putar sebentar,
sorenya aku menuju rumah temanku yang sudah sangat akrab di kawasan DK.
Keluarganya sudah sangat akrab dengan keluargaku, sudah seperti satu keluarga
sejak aku lahir. Di rumah ini ada Mas Zani yang umurnya 22 tahun, adiknya (cewek,
masih SMU), sepupunya (cewek sudah sekitar 23 tahun), dan tentu saja kedua
orang tua mereka. Hari itu biasa saja, tidak ada something spesial yang terjadi.
Keesokan harinya, Mas Zani mengajakku pergi makan dan jalan-jalan di mall. Eh..,
ternyata dia mengajak ceweknya. Ternyata ceweknya ini kost cuma sekitar 300
meter dari rumah Mas Zani. Namanya Yeni tapi panggilannya Yeyen. Anaknya cakep
juga, masih kuliah, umurnya 21 tahun. Kulitnya putih kekuningan meskipun
keturunan Jawa tulen, tingginya sekitar 164 cm, beratnya 46 kg, tapi pinggulnya
cukup besar, bodinya asyik juga, dan payudaranya lebih besar dari rata-rata cewek
Indonesia. So, dengan mobil Panther itu Mas Zani dan Yeyen duduk berdua di depan
sedangkan aku yang duduk di bagian tengah dicuekin oleh mereka. Kami berputarputar di Tunjungan Plaza, makan di sebuah restoran sea food sampai kenyang lalu
kembali lagi ke tempat kos Yeyen.
Lalu setelah mobil diparkir, kami bertiga masuk ke tempat kosnya dan langsung
masuk kamarnya. Hmm.., sempat terpikir olehku, sebenarnya itu tempat kos cewek
atau cowok, soalnya ada beberapa ciban (banci) yang nongkrong di situ. Di dalam
kamar Yeyen, aku disetelin sebuah VCD porno, sambil diberi coklat Silver Queen,
sementara Mas Zani dan Yeyen bermesraan berdua, berciuman dan bercumbu. Ah..,
aku juga sempat berkenalan dengan adik Yeyen yang bernama Lenny, yang mondarmandir keluar masuk kamar.

Lenny bertubuh lebih pendek dari Yeyen, lebih coklat kulitnya, dan bodinya lebih
langsing, cuma sayangnya payudara dan pantatnya juga lebih tidak menantang
dibandingkan Yeyen. Cuma yang lebih disayangkan lagi Lenny seorang perokok
berat dan hari itu dia sedang sakit tenggorokan. Setelah selesai menyetel VCD-nya
sampai 45 menit non-stop, Aku matikan TV dan playernya. Eh, tiba-tiba Mas Zani
nyeletuk, Don.., kasih waktu 5 menit, dong..?

Aku sudah mulai merasakan gelagat kurang baik dari pasangan itu. Tapi ya
terpaksa, aku melenggang keluar kamar, tapi baru sampai di pintu, aku lihat di
ruang tamu banyak ciban yang lagi ngobrol dengan Lenny sambil merokok.
kemudian akupun kembali ke kamar Yeyen.
Lalu aku berkata, Ah tidak usah dech, aku di sini saja, lagi tidak mood ngobrol
sama orang-orang itu. Lakuin saja deh, aku tidak ngeliat.
Terus terang saja Mas Zani kaget, Heh! Kon jik cilik ngono kok.. (kamu itu masih
kecil gitu kok).
Kesel juga aku dibilang masih kecil. Lalu aku berusaha meyakinkan mereka, Jangan
kuatir lah.., aku sudah biasa kok ngeliatin ginian..
Akhirnya setelah beberapa perdebatan ringan dan berkat kelihaianku berdiplomasi
mereka mengijinkan juga aku untuk di dalam kamar saja, tapi dengan syarat aku
tidak boleh macam-macam apalagi melaporkan ke orang tuanya. Setelah pintu
kukunci, aku cuma bersandar saja di pintu dengan perasaan gembira.
Mas Zani lalu tidur telentang di ranjang, lalu Yeyen mulai jongkok di atasnya dan
menciumi wajah Mas Zani, sedangkan Mas Zani cuma diam saja, matanya merem,
tangannya mengusap-usap punggung Yeyen. Sesekali Yeyen melihat ke arahku,
mungkin memeriksa apakah aku mulai terangsang, dan memang benar aku
terangsang. Dan juga melihat gerakan Yeyen yang kelihatannya sudah
professional dan ciuman-ciumannya yang ganas seperti di film BF, sepertinya
Yeyen ini bukan pertama kalinya making love. Yeyen mulai menciumi Mas Zani
langsung ke mulutnya, dan beberapa kali mereka bersilat lidah dan terlihat jelas
karena jarakku dan jarak mereka berdua cuma sekitar 3 meter.

Hmmhh.., hmmhh.., mereka berciuman sambil mendesah-desah, membuatku


yang sejak tadi sudah tegang memikirkan hal yang tidak-tidak jadi semakin tegang
saja. Setelah puas melumat bibir dan lidah Mas Zani, Yeyen mulai bergerak ke
bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Mas Zani ketika itu mengenakan T-Shirt

yang di bagian kerahnya cuma ada dua kancing, so karena Mas Zani terlalu besar
badannya (gemuk) maka Yeyen cuma menyingkapkannya dari bawah lalu menciumi
dadanya yang montok dan putih. Mas Zani ini memang WNI Keturunan Cina.
Hmmhh.., aduh Yen nikmat Yen.., begitu rintihan Mas Zani. Yeyen menciuminya
kadang cepat, lalu lambat, cepat lagi, memang sepertinya begitu style anak yang
satu ini. Sedangkan aku semakin tidak tahan saja, kepingin juga dadaku diciumin
oleh cewek, uhh.., tapi aku masih menahan diri dan terus menempel pada pintu.
Ihh.., hmmh.., hh.., ihh.., Mas Zani terus mendesah sementara Yeyen mulai
menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali Mas Zani berteriak kecil kegelian.
Karena aku sangat terangsang, aku mulai meraba-raba diriku sendiri. Sialan!
pikirku, Ngapain juga gitu ahh..
Akhirnya Yeyen mulai membuka risleting Mas Zani, pertamanya pelan sekali, namun
tiba-tiba wrett ditarik dengan cepat sekali sehingga Mas Zani kaget, matanya
terbuka sebentar, lalu tersenyum dan merem kembali, sedangkan kedua tangannya
mengelus-elus rambut Yeyen. Yeyen langsung memegang-megang kemaluan Mas
Zani dan digosok-gosok dengan tangannya dari luar, Ahh.., hh.., Hmmhmh.., Ohh
Yenn.., Mas Zani cuma bisa mendesah. Lalu setelah puas menggosoknya dari luar,
dia mulai menyingkap celana dalam Mas Zani dan tersembullah kemaluan Mas Zani
yang sudah tegang keluar dari sarangnya.
Nylupp!, Kemaluan Mas Zani langsung dikulum oleh Yeyen. Stylenya masih seperti
tadi, kadang pelan, lalu cepat, kadang pelan, lalu cepat, bikin kaget saja ini anak
main seksnya. Sementara Mas Zani sibuk meremas-remas rambut Yeyen saking
enaknya, aku yang tidak kuasa menahan nafsu sibuk meremas-remas kemaluanku
sendiri sambil tetap bersadar di pintu. Ahh.., aku benar-benar merasa serba salah
waktu itu, dan mereka tidak mengacuhkanku sama sekali. Dasar.., Yang
membuataku nyaris tertawa karena kemaluan Mas Zani yang sepertinya keseretan
gara-gara Yeyen tidak melepaskan celana dalam Mas Zani terlalu ke bawah, jadi
seperti tercekik dech.
Ehmm.., Ehmm.. Mungkin sekitar 5 menit Yeyen mengulum kemaluan Mas Zani,
ternyata selama itu juga dia belum keluar sama sekali, Yeyen bilang, Zan..,
sekarang giliran kamu yach? Mas Zani cuma tersenyum, lalu dia bangkit sambil
melepaskan celana panjang dan celana dalamnya, sedangkan Yeyen sekarang yang
ganti tiduran, lalu memejamkan mata. Sedangkan aku benar-benar kebingungan
dan tidak tahu mau berbuat apa, aku benar-benar pingin buka baju dan join dengan
mereka tapi ahh.., kacau sekali pikiranku ketika itu.
Mas Zani mulai melakukan persis apa yang dia lakukan ke Yeyen sebelumnya.
Nyaris persis sama, aku sampai heran apa memang sudah janjian ya mereka. Mas
Zani mulai mencium bibir Yeyen, cuma Mas Zani menciumnya dengan stabil, pelan

terus, berbeda dengan Yeyen yang style seksnya aku akui lumayan unik. Hmmh..,
mymmynm.., Sayang Mas Zani sepertinya tidak profesional, cara menciumnya
walau pelan, terlalu tergesa menuju ke bawah. Yeyen mencoba melepaskan t-shirt
Mas Zani, lalu Mas Zani langsung melepasnya dan meletakkan di sebelahnya. Mas
Zanipun mulai menciumi leher Yeyen. Sementara tangannya meraba-raba payudara
Yeyen yang aduhai, Hmhmhhm.., Hmhmhmh.. Mereka berdua terus mendesah
keenakan. Aduh, pemandangan yang cukup menggelikan sekaligus menggairahkan
itu benar-benar membuatku kewalahan pada diriku sendiri, diam-diam aku mulai
melepaskan t-shirt yang kupakai dan menggerayangi tubuhku sendiri.
Mas Zani mulai tidak sabar dan langsung mencopoti kancing demi kancing yang ada
di kemeja yang dikenakan Yeyen. Tersembullah payudara Yeyen yang begitu aduhai,
putih mulus sekali seperti payudara Chinese, Yeyen segera mengangkat
punggungnya, lalu Mas Zani mencopot kancing BH-nya yang berwarna krem. Wah..,
payudara Yeyen benar-benar besar dan menggairahkan dengan puting susunya
yang tebal dan berwarna coklat tua. Ahh.., Hmm.., Hmm.., Mereka berdua saling
melenguh setiap kali Mas Zani memainkan lidahnya di atas payudara dan puting
susu Yeyen.

Hmmh.., Hmhh.., Setelah puas melumat puting susu Yeyen bergantian, Mas Zani
akhirnya menjilati perut Yeyen dan ingin melepaskan roknya. Yeyen mengangkat
pantatnya, lalu Mas Zani membuka risleting roknya dan pelan-pelan melepaskan rok
yang dipakai Yeyen. Setelah sampai di lutut, Mas Zani berhenti dan langsung
menciumi kemaluan Yeyen yang masih tertutup celana dalam itu dengan cepat dan
ganas.
Ahh.., Ahh.., Yeyen mengerang dan mendesah keras keenakan. Aku yang sejak
tadi terangsang menjadi semakin terangsang mendengar desahan Yeyen yang
sangat menggairahkan, membuatku tidak tahan dan mulai memegangi kemaluanku
sendiri, menggesek-gesekkannya dengan tanganku.
Akhirnya Mas Zani melepaskan celana dalam Yeyen dan langsung menciumi
kemaluannya dengan ganas sekali. Rambut di kemaluan Yeyen cukup tipis,
sehingga memudahkan Mas Zani menjilatinya sepuasnya. Sesekali kudengar
Slurrp.., slurrp.., sepertinya Mas Zani suka sekali menyedot kemaluan Yeyen.
Ahh.., Zan.., Ahh.., Zan.., Enak Zan.., desahan Yeyen semakin keras saja karena
merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar.

Tidak berapa lama kemudian, Mas Zani berhenti lalu bertanya, Yen, boleh
sekarang? Sambil tetap merem, Yeyen cuma tersenyum dan mengangguk.

Pelan-pelan yach.., bisik Yeyen mesra. Kemudian Mas Zani memasukkan penisnya
ke dalam kemaluan Yeyen, Uh.., uhh.., Ahh.., Sedikit kesulitan yang mereka
hadapi, sekarang Mas Zani sudah mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam
vagina Yeyen.
Ahh.., ahh.., aduh.., ahh.., Mereka berdua saling mendesah sambil terus
melanjutkan permainannya. Yeyen masih tetap dengan stylenya, kadang menarikan
pinggulnya pelan-pelan, lalu cepat, pelan lagi.
Ahh.., Ahh.., Ahh.., Mas Zani memaju-mundurkan badannya pelan-pelan
sedangkan Yeyen asyik menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan tempo yang
tidak beraturan. Aku jadi semakin tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan,
aku segera berjalan menuju kamar mandi, langsung kulepas celana panjang dan
celana dalamku dan kugesek-gesek kemaluanku sendiri cepat-cepat.
Ahh.., Hmmh.., Ahh.., Aku mendesah-desah kecil dengan apa yang kulakukan
terhadap diriku sendiri. Lalu.., aahh.., Aku orgasme, spermaku semuanya terjatuh
di lantai kamar mandi. Tubuhku rasanya nikmat sekali beberapa saat, lalu terasa
lemas dan sepertinya aku merasa bersalah telah melakukannya. Aku segera
menyiram ceceran sperma di lantai kamar mandi, melepas seluruh bajuku dan
mandi.
Setelah segar, aku hampir tidak percaya waktu keluar ternyata mereka masih saja
bermesraan bersetubuh. Aku langsung berjalan keluar kamar, sedangkan mereka
tidak menghiraukanku sama sekali, benar-benar gila..!
Di luar, aku duduk-duduk saja di ruang tamu sambil ngobrol dengan Lenny dan
teman-temannya yang kebetulan ciban semua. Mereka menawariku rokok tapi aku
tolak. Setelah beberapa menit melakukan percakapan yang membosankan dan
bikin mual, aku cuek saja dan asyik melihat TV, sambil menunggu Mas Zani dan
Yeyen selesai melakukan aktivitasnya. Menit demi menit berlalu, gila.., lama sekali.

Sekitar satu jam kemudian, muncullah mereka berdua dari pintu kamar Yeyen.
Gilaa.., pikirku, lama sekali mereka begituan. Mas Zani dan Yeyen tersenyum geli
pertama kali melihatku, mungkin mereka menganggap tingkahku di dalam kamar
tadi lucu, lalu Mas Zani bertanya.
Don, kamu mau ikut renang?.
Mau sich.., tapi aku tidak bawa celana renang tuch.., jawabku agak kecewa.

Tidak pa-pa kok, ntar kita bisa pinjam celana renang di sana...
Ya sudah, akhirnya jadi dech.., Setelah berpamitan, Mas Zani dan aku pulang. Di
rumah kami langsung mempersiapkan segala kebutuhan renangnya.

Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30, kami bersiap pergi. Tepat waktu Mas Zani
hendak menyalakan mobil, ada suara teriakan.
Ternyata sepupu Mas Zani, Mobilnya mau dibawa papanya lho.., katanya.
Sial! gerutu Mas Zani. Terus akhirnya Mas Zani telepon taksi, beberapa menit
kemudian datang, lalu kami ke tempat kos Yeyen dulu untuk menjemput Yeyen. Eh,
ternyata tidak hanya Yeyen yang ikut, tapi adiknya, Lenny, diajak serta.
Aku tanya pada Lenny, Lho, kok kamu ikut, katanya sakit tenggorokan. Nanti ikut
renang?.
Iya dong.., tidak Papa, nemenin Yeyen nich.. jawabnya enteng. Wah, nekat juga ini
anak, pikirku.
Taksi kami langsung meluncur ke Graha Residen, di sana ada kolam renangnya yang
cukup besar dan ramai, termasuk para turis. Yeyen, Lenny, dan aku yang belum bisa
berenang cuma berputar-putar saja di pinggiran, sedangkan Mas Zani berkelana ke
sana ke mari dengan bebasnya.

Waktu ada kesempatan, aku tanya pada Mas Zani soal Yeyen. Ternyata dia baru
kenal Yeyen dua minggu, dan pertemuan pertamanya di kolam renang. Seminggu
kemudian mereka langsung pacaran, lalu besoknya mereka melakukan hubungan
badan. Mas Zani baru pertama kali itu bersenggama, sedangkan Yeyen sepertinya
sudah berkali-kali, soalnya kata Mas Zani, Yeyen sudah tidak perawan lagi.
Mas Zani juga bilang, Kata Yeyen tuh si Lenny masih perawan, dianya agak
menyesal juga pacaran sama Yeyen, bukan sama Lenny yang masih perawan.
Aku sempat ngobrol juga sama Lenny, yang sepertinya cuma bersandar saja di
pinggiran. Sekitar jam 19.00 kami selesai renang dalam keadaan menggigil
kedinginan, lalu setelah itu memanggil taksi Zebra, karena entah kenapa, Graha
Residen hanya menyediakan taksi Zebra. Tidak kuduga, ternyata taksinya lama
sekali datangnya, kami ngobrol-ngobrol lama juga. Mas Zani asyik ngobrol dengan

Yeyen, sedangkan Lenny yang kelihatannya dicuekin mulai kuajak ngobrol.


Ternyata Lenny ini masih SMU kelas 2. Selain suka rokok, katanya dia juga suka
minuman keras. Hmm, aku jadi mikir apakah dia juga suka obat-obatan dan.., free
seks. Tapi aku tidak berani menanyakannya, terlalu dini ah. cuma yang aku
perhatikan, Lenny agak tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, dan dia tidak berani
menatapku secara langsung, malah sepertinya menunduk terus. Good sign, pikirku.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian baru taksinya datang. Lama banget sich..
Akhirnya sampai juga, setelah mengantarkan Yeyen dan Lenny, saya dan Mas Zani
pulang. Aku asyik memikirkan pengalamanku barusan, memperhatikan orang
melakukan hubungan seks.
Sekitar jam 20.30, Mas Zani mengajakku pergi, mau mengembalikan VCD. Ya sudah,
aku ikut saja, siapa tahu diajak makan juga, berhubung perutku mulai lapar nich.
Walau naik sepeda motor, kami tidak pakai helm, katanya tempat persewaan VCDnya dekat. Eh, ternyata memang dekat sekali dan tidak melewati jalan raya. Setelah
itu Mas Zani bertanya, Don, aku mau mampir ke tempat Yeyen nich.. Kamu ikut
tidak?. Walau perutku agak keroncongan, berhubung aku kangen juga sama
Lenny, pingin ngerjain gitu, akhirnya aku setuju.
Sesampainya di sana, ternyata banyak orang nongkrong di ruang tamu rumah kos
itu. Uniknya, yang cewek cuma dua, Yeyen dan Lenny, lainnya ciban semua, ada 4
orang. Aneh sekali, pikirku. Begitu sampai, Mas Zani langsung berciuman dengan
Yeyen lalu mereka langsung masuk kamar dan.., klik, Aduh.., mau ngapain lagi
mereka, gila bener..

Terpaksa, karena aku sudah telanjur di sana, aku ngobrol dengan orang-orang di
situ. Aku sebetulnya lebih suka mengobrol dengan Lenny, tapi sayang temantemannya selalu menggangguku.
Ih kamu ganteng dech, kita main seks yuk...
Agak senang juga aku dipuji tapi main seks dengan mereka, mimpi saja tidak.
Lalu akhirnya aku punya ide, aku tanya Lenny, Kamu satu kamar sama Yeyen,
yach?
Tidak tuch, aku sewa kamar sendiri, jawabnya.

Kebetulan, pikirku, Hmm.., di mana tuch, aku lihat dong..


Sesuai perkiraanku, akhirnya dia mau menunjukkan kamarnya. Kamarnya persis di
depan kamar Yeyen, dan lebih tidak rapi dibanding kamar Yeyen. Sambil pura-pura
mengamati kamarnya, aku lalu menutup pintu agar dia tidak curiga, aku langsung
bertanya padanya, Kamu suka tinggal di sini?. Lalu akhirnya kami ngobrol dan
bercanda di atas ranjangnya, bersandar di tembok. Seperti yang kuduga, dia masih
terus menunduk tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, tidak seperti waktu dia
ngobrol dengan teman-temannya, menguatkan istingku kalau sebetulnya dia suka
padaku.

Di tengah-tengah obrolan, aku tanya, Lenny, kamu kan suka ngerokok, apa tidak
dimarahi cowokmu tuh?.
Dia tertawa kecil, lalu menjawab, Suka-suka aku dong, Don, aku belum punya cowo
tuch...
Ahh.., kebetulan sekali, pikirku, lalu aku menggodanya, Ah masa..? Aku tidak
percaya ah.., Kamu kan cantik.., pasti banyak cowok yang ngelirik kamu..
Rupanya dia agak GR juga dengan pujianku, lalu sambil ketawa lirih dia cuma
bilang, Ah kamu...
Iya bener lhoh..
Dia diam sebentar, lalu dia menoleh ke arahku, dan mulai memandangku. Aku
menatapnya, lalu aku tersenyum. Kami berpandangan beberapa saat. Hmm, betapa
cantiknya dia, pikirku.
Merasa ada kesempatan, segera kuarahkan tangan kananku pelan-pelan ke tangan
kirinya, lalu kugenggam dan kuremas pelan-pelan. Dia agak kaget dan menghela
napas panjang, seolah tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pelan-pelan pula,
badanku kuhadapkan ke arahnya dan kutaruh tangan kiriku di pinggangnya, lalu
wajahku mulai mendekati wajahnya. Aku mulai bisa merasakan nafasnya yang
semakin cepat dan tidak beraturan. Akhirnya dia memejamkan mata, lalu kucium
lembut keningnya, lalu pipi kanannya, lalu pipi kirinya. Aku terdiam sebentar.
Matanya masih tetap terpejam. lalu perlahan-lahan kucium bibirnya yang lembut
itu. Dia membalas dengan menggerak-gerakkan mulutnya. Aku memeluknya, lalu
kami saling mengulum bibir, lalu memainkan lidah.., Hmm nikmat sekali.
Beberapa saat kemudian, aku hentikan permainan bibir itu lalu aku terdiam.

Matanya terbuka, tatap matanya serasa seperti bertanya-tanya. Lalu aku menciumi
bibirnya lagi sambil pelan-pelan merebahkannya di atas ranjang. Dia menurut saja,
membuatku semakin bernafsu. Lalu aku cium dia pelan-pelan sedangkan tanganku
meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang cukup besar, Emhh.., Emh..
dia cuma melenguh saja membuat gairahku menjadi semakin naik saja.
Segera kusingkapkan T-Shirt yang dipakainya ke atas, lalu kuciumi dan kujilati
dadanya yang aduhai itu, Ahh.., Emhh.., badannya bergoyang-goyang kecil,
membuat nafsuku semakin naik. Waktu mau kubuka kancing BH-nya, dia
mengangkat badannya sehingga memudahkanku, lalu kujilati putingnya dan
kuhisap-hisap selama beberapa menit, Emhh.., Ahh.., Ahh..
Aku sudah tidak tahan lagi, langsung kubuka celana panjangnya lalu kupelorotkan,
kujilati kemaluannya dari luar sebentar, lalu segera kupelorotkan juga. Hmm..,
ternyata rambut kemaluannya masih lebat, jauh lebih lebat daripada kakaknya,
sedangkan lubang kemaluannya masih sangat rapat. Ahh.., baru percaya aku kalau
dia masih perawan. Kujilati clitoris vaginanya yang sangat menggairahkan itu, dia
terengah-engah, Ahh.., Ahh.., dan sesekali tubuhnya menggelinjang. Kuhisaphisap dan kujilati bagian dalam lubangnya. Hmm.., nikmat sekali, cairan yang keluar
langsung saja kutelan.
Aku sudah tidak sabar lagi, tidak sampai 5 menit aku menjilati vaginanya, segera
kupelorotkan celana panjang dan celana dalamku lalu pelan-pelan kumasukkan
penisku ke dalam lubang senggama Lenny. Uhh.., agak sulit juga tapi berhubung
cairannya sudah cukup banyak, akhirnya masuk juga, kurasakan ada sesuatu yang
menghalangi laju penisku, sepertinya selaput daranya namun kuteruskan saja
pelan-pelan.

Aduh!, pekiknya.
Lenny, sakit ya? Tahan ya.., Aku terdiam sebentar, menunggu agar sakitnya
hilang, lalu mulai kumasukkan lebih dalam lagi pelan-pelan.
Lenny, masih sakit..?.
Iya.., tapi sudah agak.., ahh.., Pelan-pelan sekali kumaju-mundurkan penisku di
dalam vaginanya. Hmm, benar-benar nikmat.., benar-benar rapat sekali vaginanya,
menjepit penisku yang merasa keenakan.
Ahh.., ahh.., hmmhh.. akhirnya dia mulai merasa nikmat, aku jadi berani
mempercepat gerakanku.

Ahh.., Ahh.., Ahh.. Mungkin cuma sekitar 3 menit, dia sudah mulai terangsang
sekali.Ah.., Don.., Ah Don.., Aku sepertinya mau.., ahh.., Sepertinya dia mau
orgasme, akhirnya kupercepat gerakanku dan, Ahh.., Ahh nikmat Don.., aduh
nikmat sekali Don... Aku belum orgasme, lalu kutarik penisku dan kugesek-gesek
sendiri dengan cepat dengan tanganku. Ahh.., akhirnya aku orgasme juga,
spermaku bertebaran di perutnya.

Setelah kami membersihkan spermaku, kami mandi bersama-sama, setelah itu kami
ngobrol-ngobrol juga di atas ranjang, sambil bermesraan layaknya orang pacaran.
Tapi sungguHPun begitu, aku tidak mencintai dia sama sekali dan tidak
menganggapnya sebagai pacar, walaupun sebetulnya aku sendiri juga belum punya
pacar, jahat juga yah aku.
Beberapa puluh menit kemudian pintu diketuk oleh Mas Zani dan akhirnya kamipun
pulang, sampai di rumah sudah sekitar jam 11 malam. Begitu melelahkan.., namun
begitu nikmat. Aku baru bisa tidur sekitar jam 2 pagi, entahlah, membayangkan
macam-macam.
Semenjak itu aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya, pernah aku
mencoba meneleponnya tapi karena ada gangguan Telkom (suara tidak jelas,
crosstalk) maka terpaksa tidak dilanjutkan, dan aku tidak pernah meneleponnya
lagi. Tanggal 26 Mei kemarin aku pulang ke kota K. Mungkin nanti awal Juni aku mau
ke Surabaya lagi, bertemu dengan dia. Ahh.., akan kunantikan saat itu.

MAIN DI RUMAH PAK DE


Cerita Dewasa: Goyangan Tanteku Tidak TerlupakanCerita Dewasa: Goyangan
Tanteku Tidak Terlupakan
Cerita Dewasa: Goyangan Tanteku Tidak Terlupakan
Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Bandung. Di sana aku tinggal
di rumah pamanku. Paman dan bibi dengan senang hati menerimaku tinggal di
rumah mereka, karena paman dan bibiku yang sudah 4 tahun menikah belum juga
punya anak sampai saat itu, jadi kata mereka biar suasana rumahnya tambah ramai
dengan kehadiranku.
Pamanku ini adalah adik ibuku paling kecil, saat itu dia baru berumur 35 tahun.
Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan juga ada lapangan
tenisnya, maklum pamanku adalah seorang pengusaha sukses yang kaya. Selain
bibiku dan pamanku, di rumah itu juga ada 3 orang pembantu, 2 cewek dan
seorang bapak tua berusia setengah umur, yang bertugas sebagai tukang kebun.

Bibiku baru berumur 31 tahun, orangnya sangat cantik dengan badannya yang
termasuk kecil mungil akan tetapi padat berisi, sangat serasi berbentuknya seperti
gitar spanyol, badannya tidak terlalu tinggi kurang lebih 155 cm. Dadanya yang
kecil terlihat padat kencang dan agak menantang. Pinggangnya sangat langsing
dengan perutnya yang rata, akan tetapi kedua bongkahan pantatnya sangat padat
menantang. Wajahnya yang sangat ayu itu, manis benar untuk dipandang. Kulitnya
kuning langsat, sangat mulus.
Kedua pembantu cewek tersebut, yang satu adalah janda berumur 27 tahun
bernama Trisni dan yang satu lagi lebih muda, baru berumur 18 tahun bernama
Erni. Si Erni ini, biarpun masih berumur begitu muda, tapi sudah bersuami dan
suaminya tinggal di kampung, bertani katanya.
Suatu hari ketika kuliahku sedang libur dan paman dan bibiku sedang keluar kota,
aku bangun agak kesiangan dan sambil masih tidur-tiduran di tempat tidur aku
mendengar lagu dari radio.
Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarku, lalu terdengar suara, Den Eric..,
apa sudah bangun..? terdengar suara Trisni.
Yaa.. ada apa..? jawabku.
Ini Den. Saya bawakan kopi buat Aden..! katanya lagi.
Oh.. yaa. Bawa masuk saja..! jawabku lagi.
Kemudian pintu dibuka, dan terlihat Trisni masuk sambil tangannya membawa
nampan yang di atasnya terdapat secangkir kopi panas dan pisang goreng. Ketika
dia sedang meletakkan kopi dan pisang goreng di meja di samping tempat tidurku,
badannya agak merapat di pinggir tempat tidur dan dalam posisi setengah
membungkuk, terlihat dengan jelas bongkahan pantatnya yang montok dengan
pinggang yang cukup langsing ditutupi kain yang dipakainya. Melihat pemandangan
yang menarik itu dengan cepat rasa isengku bangkit, apalagi ditunjang juga dengan
keadaan rumah yang sepi, maka dengan cepat tanganku bergerak ke obyek yang
menarik itu dan segera mengelusnya.
Trisni terkejut dan dengan segera menghindar sambil berkata, Iihh.., ternyata Den
Eric jail juga yaa..!
Melihat wajah Trisni yang masem-masem itu tanpa memperlihatkan ekspresi marah,
maka dengan cepat aku bangkit dari tempat tidur dan segera menangkap kedua
tangannya.
Aahh.. jangaann Deenn, nanti terlihat sama si Erni, kan malu atuu..!
Tapi tanpa memperdulikan protesnya, dengan cepat kutarik badannya ke arahku
dan sambil mendekapnya dengan cepat bibirku menyergap bibirnya yang karena
terkejut menjadi agak terbuka, sehingga memudahkan lidahku menerobos masuk
ke dalam mulutnya.

Dengan segera kusedot bibirnya, dan lidahku kumain-mainkan dalam mulutnya,


memelintir lidahnya dan mengelus-elus bagian langit-langit mulutnya. Dengan
cepat terdengar suara dengusan keluar dari mulutnya dan kedua matanya
membelalak memandangku. Dadanya yang montok itu bergerak naik turun dengan
cepat, membuat nafsu birahiku semakin meningkat. Tangan kiriku dengan cepat
mulai bergerilya pada bagian dadanya yang menonjol serta merangsang itu,
mengelus-elus kedua bukit kembar itu disertai ramasan-ramasan gemas, yang
dengan segera membangkitkan nafsu Trisni juga. Hal itu terlihat dari wajahnya yang
semakin memerah dan nafasnya yang semakin ngos-ngosan.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur dan dengan cepat aku segera
melepaskannya, Trisni juga segera membereskan rambut dan bajunya yang agak
acak-acakan akibat seranganku tadi.
Sambil menjauh dariku, dia berkata dengan pelan, Tuhkan.., apa yang Trisni
katakan tadi, hampir saja kepergok, Adeen genit siih..!
Sebelum dia keluar dari kamarku, kubisikan padanya, Triis, ntar malam kalau
semua sudah pada tidur kita teruskan yah..?
Entar nanti ajalah..! katanya dengan melempar seulas senyum manis sambil
keluar kamarku.
Malamnya sekitar jam 21.00, setelah semua tidur, Trisni datang ke ruang tengah,
dia hanya memakai pakaian tidur yang tipis, sehingga kelihatan CD dan BH-nya.
Eeh, apa semua sudah tidur..? tanyaku.
Sudah Den..! jawabnya.
Untuk lebih membuat suasana makin panas, aku telah menyiapkan film BF yang
kebetulan dapat pinjam dari teman. Lalu aku mulai menyetel film itu dan ternyata
pemainnya antara seorang pria Negro dan wanita Asia.
Terlihat adegan demi adegan melintas pada layar TV, makin lama makin hot saja,
akhirnya sampai pada adegan dimana keduanya telah telanjang bulat. Si pria Negro
dengan tubuhnya tinggi besar, hitam mengkilat apalagi penisnya yang telah tegang
itu, benar-benar dasyat, panjang, besar, hitam mengkilat kecoklat-coklatan,
sedangkan ceweknya yang kelihatan orang Jepang atau orang Cina, dengan
badannya kecil mungil tapi padat, kulitnya putih bersih benar-benar sangat kontras
dengan pria Negro tersebut.
Dengan sigap si Negro terlihat mengangkat cewek tersebut dan menekan ke
tembok. Terlihat dari samping penisnya yang panjang hitam itu ditempatkan pada
belahan bibir kemaluan cewe yang putih kemerah-merahan. Secara perlahan-lahan
mulai ditekan masuk, dari mulut cewe tersebut terdengar keluhan panjang dan
kedua kakinya menggelepar-gelepar, serta kedua bolah matanya terputar-putar
sehingga lebih banyak kelihatan putihnya. Sementara penis hitam si Negro terlihat
makin terbenam ke dalam kemaluan cewenya, benar-benar suatu adegan yang
sangat merangsang. Selang sejenak terlihat pantat si Negro mulai memompa,

makin lama makin cepat, sementara cewe itu menggeliat-geliat sambil setengah
menjerit-jerit.
Aduuh.., Den. Kasian tu cewe, Negronya kok sadis benar yaah..? Iihh.., ngilu
rasanya melihat barang segede itu..! guman Trisni setengah berbisik sambil kedua
bahunya agak menggigil, sedangkan wajahnya tampak mulai memerah dan
nafasnya agak tersengal-sengal.
Wah.., Tris kan yang gede itu enak rasanya. Coba bayangkan kalau barangnya si
Negro itu mengaduk-aduk itunya Trisni. Bagaimana rasanya..? sahutku.
Iih.., Aden jorok aahh..! sahut Trisni disertai bahunya yang menggigil, tapi
matanya tetap terpaku pada adegan demi adegan yang makin seru saja yang
sedang berlangsung di layar TV.
Melihat keadaan Trisni itu, dengan diam-diam aku meluncurkan celana pendek yang
kukenakan sekalian dengan CD, sehingga senjataku yang memang sudah sangat
tegang itu meloncat sambil mengangguk-anguk dengan bebas. Melihat penisku
yang tidak kalah besarnya dengan si Negro itu terpampang di hadapannya, kedua
tangannya secara refleks menutup mulutnya, dan terdengar jeritan tertahan dari
mulutnya.
Kemudian penisku itu kudekatkan ke wajahnya, karena memang posisi kami pada
waktu itu adalah aku duduk di atas sofa, sedangkan Trisni duduk melonjor di lantai
sambil bersandar pada sofa tempat kududuk, sehingga posisi barangku itu sejajar
dengan kepalanya. Segera kupegang kepala Trisni dan kutarik mendekat ke arahku,
sehingga badan Trisni agak merangkak di antara kedua kakiku. Kepalanya kutarik
mendekat pada kemaluanku, dan aku berusaha memasukkan penisku ke mulutnya.
Akan tetapi dia hanya mau menciuminya saja, lidahnya bermain-main di kepala dan
di sekitar batang penisku. Lalu dia mulai menjilati kedua buah pelirku, waahh.., geli
banget rasanya.
Akhirnya kelihatan dia mulai meningkatkan permainannya dan dia mulai menghisap
penisku pelan-pelan. Ketika sedang asyik-asyiknya aku merasakan hisapan Trisni itu,
tiba-tiba si Erni pembantu yang satunya masuk ke ruang tengah, dan dia terkejut
ketika melihat adegan kami. Kami berdua juga sangat kaget, sehingga aktivitas
kami jadi terhenti dengan mendadak.
Ehh.., Erni kamu jangan lapor ke Paman atau Bibi ya..! Awas kalau lapor..!
ancamku.
Ii.. ii.. iyaa.. Deen..! jawabnya terbata-bata sambil matanya setengah terbelalak
melihat kemaluanku yang besar itu tidak tertutup dan masih tegak berdiri.
Kamu duduk di sini aja sambil nonton film itu..! sahutkku.
Dengan diam-diam dia segera duduk di lantai sambil matanya tertuju ke layar TV.
Aku kemudian melanjutkan aktivitasku terhadap Trisni, dengan melucuti semua baju

Trisni. Trisni terlihat agak kikuk juga terhadap Erni, akan tetapi melihat Erni yang
sedang asyik menonton adegan yang berlasung di layar TV itu, akhirnya diam saja
membiarkanku melanjutkan aktivitasku itu.
Setelah bajunya kulepaskan sampai dia telanjang bulat, kutarik badannya ke
arahku, lalu dia kurebahkan di sofa panjang. Kedua kakinya tetap terjulur ke lantai,
hanya bagian pantatnya ke atas yang tergeletak di sofa. Sambil membuka bajuku,
kedua kakinya segera kukangkangi dan aku berlutut di antara kedua pahanya.
Kedua tanganku kuletakkan di atas pinggulnya dan jari-jari jempolku menekan pada
bibir kemaluannya, sehingga kedua bibir kemaluannya agak terbuka dan aku mulai
menjilati permukaan kemaluannya, ternyata kemaluannya sudah sangat basah.
Deen.., oh Deen..! Uuenaak..! rintihnya tanpa sadar.
Sambil terus menjilati kemaluannya Trisni, aku melirik si Erni, tapi dia pura-pura
tidak melihat apa yang kami lakukan, akan tetapi dadanya terlihat naik turun dan
wajahnya terlihat memerah. Tidak berselang lama kemudian badannya Trisni
bergetar dengan hebat dan pantatnya terangkat ke atas dan dari mulutnya
terdengar desahan panjang. Rupanya dia telah mengalami orgasme. Setelah itu
badannya terkulai lemas di atas sofa, dengan kedua kakinya tetap terjulur ke lantai,
matanya terpejam dan dari wajahnya terpancar suatu kepuasan, pada dahinya
terlihat bitik-bintik keringat.
Aku lalu berjongkok di antara kedua pahanya yang masih terkangkang itu dan
kedua jari jempol dan telunjuk tangan kiriku kuletakkan pada bibir kemaluannya dan
kutekan supaya agak membuka, sedang tangan kananku kupegang batang penisku
yang telah sangat tegang itu yang berukuran 19 cm, sambil kugesek-gesek kepala
penisku ke bibir vagina Trisni. Akhirnya kutempatkan kepala penisku pada bibir
kemaluan Trisni, yang telah terbuka oleh kedua jari tangan kiriku dan kutekan
penisku pelan-pelan. Bles..! mulai kepalanya menghilang pelan-pelan ke dalam
vagina Trisni diikuti patang penisku, centi demi centi menerobos ke dalam liang
vaginanya.
Sampai akhirnya amblas semua batang penisku, sementara Trisni mengerang-erang
keenakan.
Aduhh.. eennaak.., ennkk Deen. Eenak..!
Aku menggerakan pinggulku maju mundur pelan-pelan, sehingga penisku keluar
masuk ke dalam vagina Trisni. Terasa masih sempit liang vagina Trisni, kepala dan
batang penisku serasa dijepit dan diurut-urut di dalamnya. Amat nikmat rasanya
penisku menerobos sesuatu yang kenyal, licin dan sempit. Rangsangan itu sampai
terasa pada seluruh badanku sampai ke ujung rambutku.
Aku melirik ke arah Erni, yang sekarang secara terang-terangan telah memandang
langsung ke arah kami dan melihat apa yang sedang kami lakukan itu.
Sini..! Daripada bengong aja mendingan kamu ikut.., ayo sini..! kataku pada Erni.

Lalu dengan masih malu-malu Erni menghampiri kami berdua. Aku ganti posisi,
Trisni kusuruh menungging, telungkup di sofa. Sekarang dia berlutut di lantai,
dimana perutnya terletak di sofa. Aku berlutut di belakangnya dan kedua pahanya
kutarik melebar dan kumasukkan penisku dari belakang menerobos ke dalam
vaginanya. Kugarap dia dari belakang sambil kedua tanganku bergerilya di tubuh
Erni.
Kuelus-elus dadanya yang masih terbungkus dengan baju, kuusap-usap perutnya.
Ketika tanganku sampai di celana dalamnya, ternyata bagian bawah CD-nya sudah
basah, aku mencium mulutnya lalu kusuruh dia meloloskan blouse dan BH-nya.
Setelah itu aku menghisap putingnya berganti-ganti, dia kelihatan sudah sangat
terangsang. Kusuruh dia melepaskan semua sisa pakaiannya, sementara pada saat
bersamaan aku merasakan penisku yang berada di dalam vagina Trisni tersiram
oleh cairan hangat dan badan Trisni terlonjak-lonjak, sedangkan pantatnya bergetar.
Oohhh.., rupanya Trisni mengalami orgasme lagi pikirku. Setelah badannya bergetar
dengan hebat, Trisni pun terkulai lemas sambil telungkup di sofa.
Lalu kucabut penisku dan kumasukkan pelan-pelan ke vagina si Erni yang telah
kusuruh tidur telentang di lantai. Ternyata kemaluan Erni lebih enak dan terasa
lubangnya lebih sempit dibandingkan dengan kemaluan Trisni. Mungkin karena Erni
masih lebih muda dan jarang ketemu dengan suaminya pikirku.
Setelah masuk semua aku baru merasakan bahwa vagina si Erni itu dapat
mengempot-empot, penisku seperti diremas-remas dan dihisap-hisap rasanya.
Uh enak banget memekmu Errr. Kamu apain itu memekmu heh..? kataku dan si
Erni hanya senyum-senyum saja, lalu kupompa dengan lebih semangat.
Den.., ayoo lebih cepat..! Deen.. lebih cepat. Iiih..! dan kelihatan bahwa si Erni
pun akan mencapai klimaks.
Iihh.. iihh.. iihh.. hmm.. oohh.. Denn.. enaakk Deen..! rintihnya terputus-putus
sambil badannya mengejang-ngejang.
Aku mendiamkan gerakan penisku di dalam lubang vagina Erni sambil merasakan
ramasan dan empotan vagina Erni yang lain dari pada lain itu. Kemudian kucabut
penisku dari kemaluan Erni, Trisni langsung mendekat dan dikocoknya penisku
dengan tangannya sambil dihisap ujungnya. Kemudian gantian Erni yang
melakukannya. Kedua cewek tersebut jongkok di depanku dan bergantian
menghisap-hisap dan mengocok-ngocok penisku.
Tidak lama kemudian aku merasakan penisku mulai berdenyut-denyut dengan keras
dan badanku mulai bergetar dengan hebat. Sesuatu dari dalam penisku serasa akan
menerobos keluar, air maniku sudah mendesak keluar.
Akuu ngak tahan niihh.., mauu.. keluaar..! mulutku mengguman, sementara
tangan Erni terus mengocok dengan cepat batang penisku.
Dan beberapa detik kemudian, Crot.. croot.. croot.. crot..! air maniku memancar

dengan kencang yang segera ditampung oleh mulut Erni dan Trisni.
Empat kali semprotan yang kurasakan, dan kelihatannya dibagi rata oleh Erni dan
Trisni. Aku pun terkulai lemas sambil telentang di atas sofa.
Selama sebulan lebih aku bergantian mengerjai keduanya, kadang-kadang
barengan juga.
Pada suatu hari paman memanggilku, Ric Paman mau ke Singapore ada keperluan
kurang lebih dua minggu, kamu jaga rumah yaaa..! Nemenin Bibi kamu ya..! kata
pamanku.
Iya deeh. Aku nggak akan dolan-dolan..! jawabku.
Dalam hatiku, Kesempatan datang niihh..!
Bibi tersenyum manis padaku, kelihatan senyumnya itu sangat polos.
Hhmm.., tak tau dia bahaya sedang mengincarnya.. gumanku dalam hati.
Niatku ingin merasakan tubuh bibi sebentar lagi pasti akan kesampaian.
Sekarang nih pasti akan dapat kunikmati tubuh Bibi yang bahenol..! pikirku dalam
hati.
Setelah keberangkatan paman, malam harinya selesai makan malam dengan bibi,
aku nonton Seputar Indonesia di ruang tengah.
Bibi menghampiriku sambil berkata, Ric, badan Bibi agak cape hari ini, Bibi mau
tidur duluan yaa..! sambil berjalan masuk ke kamarnya.
Tadinya aku mau melampiaskan niat malam ini, tapi karena badan bibi kelihatan
agak tidak fit, maka kubatalkan niatku itu. Kasihan juga ngerjain bibi dalam keadaan
kurang fit dan lagian rasanya kurang seru kalau nanti belum apa-apa bibi sudah
lemas. Tapi dalam hatiku aku bertekad untuk dapat menaklukkan bibi pada malam
berikutnya.
Malam itu memang tidak terjadi apa-apa, tapi aku menyusun rencana untuk dapat
menaklukkan bibi. Pada malam berikutnya, setelah selesai makan malam bibi
langsung masuk ke dalam kamarnya. Selang sejenak dengan diam-diam aku
menyusulnya. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak dikunci.
Sambil mengintip ke dalam, di dalam kamar tidak terlihat adanya bibi, tapi dari
dalam kamar mandi terdengar suara air disiram. Rupanya bibi berada di dalam
kamar mandi, aku pun dengan berjingkat-jingkat langsung masuk ke kamar bibi.
Aku kemudian bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya.
Selang sesaat, bibi keluar dari kamar mandi. Setelah mengunci pintu kamarnya, bibi
mematikan lampu besar, sehingga ruang kamarnya sekarang hanya diterangi oleh
lampu tidur yang terdapat di meja, di sisi tempat tidurnya. Kemudian bibi naik ke
tempat tidur. Tidak lama kemudian terdengar suara napasnya yang berbunyi halus
teratur menandakan bibi telah tertidur. Aku segera keluar dari bawah tempat
tidurnya dengan hati-hati, takut menimbulkan suara yang akan menyebabkan bibi
terbangun.

Kulihat bibi tidur tidak berselimut, karena biarpun kamar bibi memakai AC, tapi
kelihatan AC-nya diatur agar tidak terlalu dingin. Posisi tidur bibi telentang dan bibi
hanya memakai baju daster merah muda yang tipis. Dasternya sudah terangkat
sampai di atas perut, sehingga terlihat CD mini yang dikenakannya berwarna putih
tipis, sehingga terlihat belahan kemaluan bibi yang ditutupi oleh rambut hitam
halus kecoklat-coklatan. Buah dada bibi yang tidak terlalu besar tapi padat itu
terlihat samar-samar di balik dasternya yang tipis, naik turun dengan teratur.
Walaupun dalam posisi telentang, tapi buah dada bibi terlihat mencuat ke atas
dengan putingnya yang coklat muda kecil. Melihat pemandangan yang
menggairahkan itu aku benar-benar terangsang hebat. Dengan cepat kemaluanku
langsung bereaksi menjadi keras dan berdiri dengan gagahnya, siap tempur.
Perlahan-lahan kuberjongkok di samping tempat tidur dan tanganku secara hati-hati
kuletakkan dengan lembut pada belahan kemaluan bibi yang mungil itu yang masih
ditutupi dengan CD. Perlahan-lahan tanganku mulai mengelus-elus kemaluan bibi
dan juga bagian paha atasnya yang benar-benar licin putih mulus dan sangat
merangsang.
Terlihat bibi agak bergeliat dan mulutnya agak tersenyum, mungkin bibi sedang
mimpi, sedang becinta dengan paman. Aku melakukan kegiatanku dengan hati-hati
takut bibi terbangun. Perlahan-lahan kulihat bagian CD bibi yang menutupi
kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya bibi sudah mulai terangsang juga. Dari
mulutnya terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-geliat
perlahan-lahan. Aku makin tersangsang melihat pemandangan itu.
Cepat-cepat kubuka semua baju dan CD-ku, sehingga sekarang aku bertelanjang
bulat. Penisku yang 19 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari
mangsa. Dan aku membelai-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Aku
tahu bahwa puting dan klitoris bibiku tempat paling suka dicumbui, aku tahu hal
tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku yang satu mulai gerilya di daerah
vaginanya. Kemudian perlahan-lahan aku menggunting CD mini bibi dengan gunting
yang terdapat di sisi tempat tidur bibi.
Sekarang kemaluan bibi terpampang dengan jelas tanpa ada penutup lagi.
Perlahan-lahan kedua kaki bibi kutarik melebar, sehingga kedua pahanya
terpentang. Dengan hati-hati aku naik ke atas tempat tidur dan bercongkok di atas
bibi. Kedua lututku melebar di samping pinggul bibi dan kuatur sedemikian rupa
supaya tidak menyentuh pinggul bibi. Tangan kananku menekan pada kasur tempat
tidur, tepat di samping tangan bibi, sehingga sekarang aku berada dalam posisi
setengah merangkak di atas bibi.
Tangan kiriku memegang batang penisku. Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan
pada belahan bibir kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar
itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan bibi. Terdengar suara

erangan perlahan dari mulut bibi dan badannya agak mengeliat, tapi matanya tetap
tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah bibir
kemaluan bibi.
Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan bibi. Dari mulut bibi
tetap terdengar suara mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai
gelisah. Aku tidak mau mengambil resiko, sebelum bibi sadar, aku sudah harus
menaklukan kemaluan bibi dengan menempatkan posisi penisku di dalam lubang
vagina bibi. Sebab itu segera kupastikan letak penisku agar tegak lurus pada
kemaluan bibi. Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku,
kutekan perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku
mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.
Kelihatan sejenak kedua paha bibi bergerak melebar, seakan-akan menampung
desakan penisku ke dalam lubang kemaluanku. Badannya tiba-tiba bergetar
menggeliat dan kedua matanya mendadak terbuka, terbelalak bingung,
memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan
siap untuk berteriak. Dengan cepat tangan kiriku yang sedang memegang penisku
kulepaskan dan buru-buru kudekap mulut bibi agar jangan berteriak. Karena
gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga lagi,
akibatnya seluruh berat pantatku langsung menekan ke bawah, sehingga tidak
dapat dicegah lagi penisku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi
dengan cepat.
Badan bibi tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan,
sedangkan kedua tangannya otomatis mendorong ke atas, menolak dadaku. Dari
mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh bekapan tangan kiriku.
Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..! desahnya tidak jelas.
Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat, kelihatan bibi sangat kaget dan
mungkin juga kesakitan akibat penisku yang besar menerobos masuk ke dalam
kemaluannya dengan tiba-tiba.
Meskipun bibi merontak-rontak, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser
karena tertekan oleh pinggulku dengan rapat. Karena gerakan-gerakan bibi dengan
kedua kaki bibi yang meronta-ronta itu, penisku yang telah terbenam di dalam
vagina bibi terasa dipelintir-pelintir dan seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam
vagina bibi. Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.
Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan kananku yang tadinya bertumpu
pada tempat tidur kulepaskan. Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat
ke atas badan bibi, kepalaku kuletakkan di samping kepala bibi sambil berbisik
kekuping bibi.
Bii.., bii.., ini aku Eric. Tenang bii.., sshheett.., shhett..! bisikku.
Bibi masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena badannya yang

mungil itu teperangkap di bawah tubuhku. Sambil tetap mendekap mulut bibi, aku
menjilat-jilat kuping bibi dan pinggulku secara perlahan-lahan mulai kugerakkan
naik turun dengan teratur.
Perlahan-lahan badan bibi yang tadinya tegang mulai melemah.
Kubisikan lagi ke kuping bibi, Bii.., tanganku akan kulepaskan dari mulut bibi, asal
bibi janji jangan berteriak yaa..?
Perlahan-lahan tanganku kulepaskan dari mulut bibi.
Kemudian Bibi berkata, Riic.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu telah memperkosa
Bibi..!
Aku diam saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggulku makin
kupercepat dan tanganku mulai memijit-mijit buah dada bibi, terutama pada bagian
putingnya yang sudah sangat mengeras.
Rupanya meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah, akan tetapi
reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai
terangsang itu. Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan lagi.
Akhirnya dari mulut bibi terdengar suara, Oohh.., oohh.., sshhh.., sshh.., eemm..,
eemm.., Riicc.., Riicc..!
Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan kedua tanganku
bertumpu pada tempat tidur, sehingga aku sekarang dalam posisi setengah
bangun, seperti orang yang sedang melakukan push-up.
Dalam posisi ini, penisku menghujam kemaluan bibi dengan bebas, melakukan
serangan-serangan langsung ke dalam lubang kemaluan bibi. Kepalaku tepat
berada di atas kepala bibi yang tergolek di atas kasur. Kedua mataku menatap ke
bawah ke dalam mata bibi yang sedang meram melek dengan sayu. Dari mulutnya
tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang sejenak setelah merasa pasti bahwa
bibi telah dapat kutaklukan, aku berhenti dengan kegiatanku. Setelah mencabut
penisku dari dalam kemaluan bibi, aku berbaring setengah tidur di samping bibi.
Sebelah tanganku mengelus-elus buah dada bibi terutama pada bagian putingnya.
Eehh.., Ric.., kenapa kau lakukan ini kepada bibimu..! katanya.
Sebelum menjawab aku menarik badan bibi menghadapku dan memeluk badan
mungilnya dengan hati-hati, tapi lengket ketat ke badan. Bibirku mencari bibinya,
dan dengan gemas kulumat habis. Wooww..! Sekarang bibi menyambut ciumanku
dan lidahnya ikut aktif menyambut lidahku yang menari-nari di mulutnya.
Selang sejenak kuhentikan ciumanku itu.
Sambil memandang langsung ke dalam kedua matanya dengan mesra, aku berkata,
Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Bibi, Bibi sangat cantik lagi ayu..!
Sambil berkata itu kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan perkataanku,
Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman, aku kok merasa sangat
cemburu, seakan-akan Bibi adalah milikku, jadi Bibi jangan marah yaa kepadaku, ini

kulakukan karena tidak bisa menahan diri ingin memiliki Bibi seutuhnya.
Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.
Ciumanku kali ini sangat panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan
belahan jiwanya masuk ke dalam diriku. Ini kulakukan dengan perasaan cinta kasih
yang setulus-tulusnya. Rupanya bibi dapat juga merasakan perasaan sayangku
padanya, sehingga pelukan dan ciumanku itu dibalasnya dengan tidak kalah mesra
juga.
Beberapa lama kemudian aku menghentikan ciumanku dan aku pun berbaring
telentang di samping bibi, sehingga bibi dapat melihat keseluruhan badanku yang
telanjang itu.
Iih.., gede banget barang kamu Ricc..! Itu sebabnya tadi Bibi merasa sangat penuh
dalam badan Bibi. katanya, mungkin punyaku lebih besar dari punya paman.
Lalu aku mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya. Ciumanku mulai dari
mulutnya turun ke leher dan terus kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar
tapi padat itu. Pada bagian ini mulutku melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua
buah dadanya, terutama pada kedua ujung putingnya berganti-ganti, kiri dan
kanan.
Sementara aksiku sedang berlangsung, badan bibi menggeliat-geliat kenikmatan.
Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak hentinya. Aksiku kuteruskan ke
bawah, turun ke perutnya yang ramping, datar dan mulus. Maklum, bibi belum
pernah melahirkan. Bermain-main sebentar disini kemudian turun makin ke bawah,
menuju sasaran utama yang terletak pada lembah di antara kedua paha yang putih
mulus itu.
Pada bagian kemaluan bibi, mulutku dengan cepat menempel ketat pada kedua
bibir kemaluannya dan lidahku bermain-main ke dalam lubang vaginanya. Mencaricari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas
lubang kemaluannya. Segera terasa badan bibi bergetar dengan hebat dan kedua
tangannya mencengkeram kepadaku, menekan ke bawah disertai kedua pahanya
yang menegang dengan kuat.
Keluhan panjang keluar dari mulutnya, Oohh.., Riic.., oohh.. eunaakk.. Riic..!
Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan kutempatkan posisi
badan sehingga bagian pinggulku berada sejajar dengan kepala bibi dan dengan
setengah berjongkok. Posisi batang kemaluanku persis berada di depan kepala bibi.
Rupanya bibi maklum akan keinginanku itu, karena terasa batang kemaluanku
dipegang oleh tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis menerobos
masuk di antara daging empuk yang hangat. Ketika ujung lidah bibi mulai bermainmain di seputar kepala penisku, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari
bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan
kenikmatan dari mulutku.

Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-menjilat


seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain.
Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang di
samping bibi. Kemudian sambil telentang aku menarik bibi ke atasku, sehingga
sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku. Badan bibi dengan pelan kudorong agak
ke bawah dan kedua paha bibi kupentangkan. Kedua lututku dan pantatku agak
kunaikkan ke atas, sehingga dengan terasa penisku yang panjang dan masih sangat
tegang itu langsung terjepit di antara kedua bibir kemaluan bibi.
Dengan suatu tekanan oleh tanganku pada pantat bibi dan sentakan ke atas
pantatku, maka penisku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan
bibi. Amblas semua batangku.
Aahh..! terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut bibi.
Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena kelihatan bahwa bibi
sudah mau klimaks. Bibi tambah semangat juga ikut mengimbangi dengan
menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atasku. Kulihat wajahnya yang
cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang
kedua buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.
Ketika kulihat pada cermin besar di lemari, kelihatan pinggul bibi yang sedang
berayun-ayun di atasku. Batang penisku yang besar sebentar terlihat sebentar
hilang ketika bibi bergerak naik turun di atasku. Hal ini membuatku jadi makin
terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penisku mencari jalan keluar,
hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badanku. Kemudian air
maniku tanpa dapat ditahan menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina
bibi, yang pada saat bersamaan pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya
disertai badannya yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terlonjaklonjak. Kedua tangannya mendekap badanku dengan keras.
Pada saat bersamaan kami berdua mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya
bibi tertelungkup di atas badanku dengan lemas sambil dari mulut bibi terlihat
senyuman puas.
Riic.., terima kasih Ric. Kau telah memberikan Bibi kepuasan sejati..!
Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling
membersihkan diri satu sama lain. Sementara mandi, kami berpelukan dan
berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus dan memijit-mijit
satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi. Dengan
setengah membopong badan bibi yang mungil itu dan kedua tangan bibi
menggelantung pada leherku, kedua kaki bibi kuangkat ke atas melingkar pada
pinggangku dan dengan menempatkan satu tangan pada pantat bibi dan menekan,
penisku yang sudah tegang lagi menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.

Aaughh.. oohh.. oohh..! terdengar rintihan bibi sementara aku menggerakangerakan pantatku maju-mundur sambil menekan ke atas.
Dalam posisi ini, dimana berat badan bibi sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya
yang sedang terganjel oleh penisku, maka dengan cepat bibi mencapai klimaks.
Aaduhh.. Riic.. Biiibii.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Riic..! dengan keluhan panjang
disertai badannya yang mengejang, bibi mencapai orgasme, dan selang sejenak
terkulai lemas dalam gendonganku.
Dengan penisku masih berada di dalam lubang kemaluan bibi, aku terus
membopongnya. Aku membawa bibi ke tempat tidur. Dalam keadaan tubuh yang
masih basah kugenjot bibi yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai aku
orgasme sambil menekan kuat-kuat pantatku. Kupeluk badan bibi erat-erat sambil
merasakan airmaniku menyemprot-nyemprot, tumpah dengan deras ke dalam
lubang kemaluan bibi, mengisi segenap relung-relung di dalamnya.
Semalaman itu kami masih melakukan persetubuhan beberapa kali, dan baru
berhenti kecapaian menjelang fajar. Sejak saat itu, selanjutnya seminggu minimum
4 kali kami secara sembunyi-sembunyi bersetubuh, diselang seling mengerjai si
Trisni dan Erni apabila ada waktu luang. Hal ini berlangsung terus tanpa paman
mengetahuinya sampai saya lulus serjana dan harus pindah ke Jakarta, karena
diterima kerja di suatu perusahaan asing.

ISRTI DIRPERKOSA 3 TEMAN NYA SUAMI


Cerita Pemerkosaan. Sebenarnya aku juga tak pernah membayangkan bahwa aku
aku akan memperkosa istriku sendiri bersama 3 orang lain dan membagi cerita
dewasa ini.
Reni namanya, umur 27 tahun, lima tahun lebih muda dariku, kulitnya putih mulus,
rambut panjang agak bergelombang dan mata yang bulat indah. Ia seorang wanita
yang terkenal alim sejak dulu, santun dalam tingkah laku, selera berpakaiannya pun
tinggi, ia tidak suka mengumbar kemulusan tubuhnya walau dikaruniai body yang
aduhai dengan payudara yang montok. Dari sekian banyak lelaki, akhirnya akulah
yang beruntung mendapatkannya sebagai istri. Aku tahu, banyak lelaki lain yang
pernah menidurinya dalam mimpi atau menjadikannya objek masturbasi mereka.
Tetapi, aku bukan hanya bermimpi.
Aku bahkan betul-betul menidurinya kapanpun aku mau. Ia juga membantuku
masturbasi saat ia datang bulan. Cintaku padanya belum berubah, yang berubah
hanya caraku memandangnya. Tiba-tiba, entah kapan dan bagaimana awalnya, aku
selalu membayangkan Reni dalam dekapan lelaki lain. Entah aku sudah gila atau
bagaimana, rasanya benar-benar excited membayangkan payudara dan vaginanya
dalam genggaman telapak tangan pria lain, terutama yang bertampang kasar dan

status sosialnya di bawahnya.

Setelah melalui beberapa pertimbangan dan pembicaraan-pembicaraan santai yang


makin mengarah ke serius, akhirnya kudapatkan juga tiga orang yang kurasa pas
untuk mewujudkan kegilaanku. Orang pertama, Aldo, adalah office boy di kantor
tempatku bekerja. Orangnya masih berumur 23 tahun, berperawakan kurus tinggi
dengan kumis tipis. Dia sering membantuku dan tugas-tugas yang pernah
kupercayakan padanya pun selalu rapi. Pada jam istirahat atau lembur kami sering
ngobrol dan merokok bersama, dan dalam suatu obrolan lah aku mengungkapkan
ide gilaku padanya. Sifatnya agak pemalu dan pendiam sehingga tidak banyak
teman.Menurut pengakuannya, ia belum pernah berpacaran apalagi main
perempuan.
Ya boleh juga lah Bos, sapa tau seperti kata Bos, bisa bikin saya lebih berani ke
cewek hehehe katanya menanggapi permintaanku.
Orang kedua Bob, seorang temanku di perusahaan tempatku bekerja dulu, seorang
pria berusia 40 tahun lebih. Aku berpikir dia pas untuk tugas gila ini begitu
melihatnya terutama perutnya yang gendut. Aku memang kadang mengkhayalkan
wajah Reni yang lembut dikangkangi seorang lelaki gendut. Bob mengaku tertarik
dengan tawaranku lantaran ia punya seorang karyawati cantik yang belum berhasil
ditaklukannya. Ia memperlihatkan foto gadis itu kepada kami yang memang harus
diakui cantik. Kata Bob, ia sudah berulangkali mencoba merayu gadis itu untuk
melayaninya, tetapi gadis itu selalu menolaknya.
Setelah bermain-main dengan Reni, aku ingin kalian membantuku memperkosa si
Lia ini katanya.
17 tahun, cerita dewasa, Cerita dewasa 17 tahun, live show, cerita panas, cerita
mesum, sopir pribadi, Pemerkosaan, Perkosa,

Orang ketiga bernama Jaelani yang direkomendasikan oleh Bob. Ia adalah sopir
perusahaan di tempat kerja Bob, tubuhnya kekar, kulitnya hitam, kumis di atas
bibirnya menambah sangar wajahnya yang memang sudah seram itu. Melihatnya,
aku langsung membayangkan Reni menjerit-jerit lantaran vaginanya disodok penis
pria seperkasa Jaelanni ini.
Saya udah lima tahun cerai, selama ini mainnya sama perek kampung aja kalau
lagi sange, kalau ngeliat yang cantik kaya istri Abang ini wah siapa ga kepengen
Bang sahutnya antusias ketika kuperlihatkan foto Reni di HP-ku.

OK deh, minggu depan kita beraksi. Silakan kalian puaskan diri dengan istriku.
Nanti hari H min satu kita atur lagi lebih dalam rencananya! kataku mengakhiri
pertemuan.

***
H1

Sehari sebelum hari yang direncanakan tiba, kami berempat berkumpul lagi di
rumah kontrakan Jaelani untuk membahas apa yang harus dilakukan. Akhirnya, ide
Bob yang kami pakai. Idenya adalah menculik istriku dan membawanya ke villa Bob
yang besar dan terletak di luar kota. Bob menjamin, teriakan sekeras apapun tak
akan terdengar keluar villanya itu, selain itu suasananya pun jauh dari keramaian
kota sehingga aman untuk melakukannya. Kami semua sepakat dan mulai membagi
tugas. Aku tak sabar menunggu saatnya mendengar jeritan kesakitan Reni
diperkosa ketiga pria ini.

***
Hari H

Hari yang disepakati pun tiba. Aku tahu, pagi itu Reni akan ke rumah temannya. Aku
tahu kebiasaannya. Setelah aku berangkat kantor, ia akan mandi. Hari itu ia
memakai gaun terusan krem bermotif bunga-bunga. Sebenarnya aku tidak ke
kantor, tetapi ke rumah Bob. Di sana, tiga temanku sudah siap. Kamipun meluncur
ke rumahku dengan mobil van milik Bob. Sekitar sepuluh menit lagi sampai,
kutelepon Reni.
Sudah mandi, sayang ? kataku.
Barusan selesai kok sahutnya.
Sekarang lagi apa?
Lagi mau pake baju, hi hi katanya manja.

Wah, kamu lagi telanjang ya ?


Hi hi iya,
Cepat pake baju, ntar ada yang ngintip lho ! kataku.
Iya sayang, ini lagi pake BH, sahutnya lagi.
Ya udah, aku kerja dulu ya, cup mmuaachh kataku menutup telepon.
Tepat saat itu mobil Bob berhenti di samping rumahku yang tak ada jendelanya.
Jadi, Reni tak akan bisa mengintip siapa yang datang. Bob, Aldo dan Jaelani turun,
langsung ke belakang rumah. Kuberitahu mereka tentang pintu belakang yang tak
terkunci. Aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kulihat Aldo sudah kembali dan
mengacungkan jempolnya. Cepat kuparkir mobil Bob di garasiku sendiri.
Matanya sudah ditutup Do? kataku.
Sudah bos. Mbak Reni sudah diikat dan mulutnya disumpel. Tinggal angkut
katanya.
Memang, kulihat Bob dan Jaelani sedang menggotong Reni yang tengah merontaronta. Istriku yang malang itu kini terikat tak berdaya. Kedua tangannya terikat ke
belakang. Aku siap di belakang kemudi. Kulirik ke belakang, tiga lelaki itu
memangku Reni yang terbaring di jok tengah.
Ha ha step one, success! kata Bob.
Aku menelan liurku ketika rok Reni disingkap sampai ke pinggang. Tangan mereka
saling berebut menjamah pahanya yang putih mulus. Bob bahkan telah
menurunkan bagian dada Reni yang agak rendah sehingga sebelah payudaranya
yang masih terbungkus bra hitam menyembul keluar. Lalu, ia menurunkan cup bra
itu. Mata ketiganya seolah mau copot melihat payudara 34B Reni yang bulat
montok dengan puting coklat itu. Bob bahkan langsung melumat bongkahan kenyal
itu dengna bernafsu embuat Reni merintih-rintih. Gilanya, aku malah sangat
menikmati pemandangan itu.
Udah Bang, sekarang berangkat aja dulu kata Jaelani sambil jarinya mulai
merambahi selangkangan Reni dan mengelusi vaginanya dari luar celana dalamnya.

***

Villa Bob
17 tahun, cerita dewasa, Cerita dewasa 17 tahun, live show, cerita panas, cerita
mesum, sopir pribadi, Pemerkosaan, Perkosa,

Setelah empat puluh menit perjalanan tibalah kami di villa Bob yang besar. Kami
mengikat Reni di ranjang dengan tangan terentang ke atas. Si sopir, Jaelani, tengah
memeluknya dari belakang, meremas payudara dan pangkal pahanya.
Pak Bob merokok kan? Reni benci sekali lelaki perokok. Saya pingin ngelihat dia
dicium lelaki yang sedang merokok. Saya juga pengen Pak Bob meniupkan asap
rokok ke dalam memeknya, bisikku kepada Bob.
Bob mengangguk sambil menyeringai. Aku lalu mengambil posisi yang tak terlihat
Reni, tapi aku leluasa melihatnya. Kulihat Bob sudah menyulut rokoknya dan kini
berdiri di hadapan Reni. Dilepasnya penutup mata Reni. Mata sendunya berkerjapkerjap dan tiba-tiba melotot. Rontaan Reni makin menjadi ketika Bob menjilati
pipinya yang halus. Apalagi, kulihat tangan Jaelani tengah mengobok-obok
vaginanya. Pinggul Reni menggeliat-geliat menahan nikmat.
Bang nggak bosen-bosen mainin memek Mbak Reni, tanya Aldo yang duduk di
sebelahku sambil memainkan penisnya.
Lho, kok kamu di sini. Ayo direkam sana! kataku menepuk punggungnya.
Oh iya. Lupa! kata Aldo sambil cengengesan.
Bob menarik lepas celana dalam Reni yang menyumbat mulutnya.
Lepaskaaaan. mau apa kalian lepaskaaaan! langsung terdengar jerit histeris
Reni yang marah bercampur takut.
Tenang Mbak Reni, kita cuma mau main-main sebentar kok, kata Bob sambil
menghembuskan asap rokok ke wajah cantiknya.
Kulihat Reni melengos dengan kening berkerut.
Ya nggak sebentar banget, Mbak. Pokoknya sampe kita semua puas deh! kata
Aldo.
Ia berjongkok di hadapan Reni. Diarahkannya kamera ke bagian bawah tubuh Reni,
ia mengclose-up jari tengah Ben yang sedang mengobok-obok vagina istriku.

Memek Mbak rapet sih. betah nih saya maenan ini seharian, timpal Jaelani.

Aaakhhh binatanglepaskaaannnngghhhh! Reni meronta-ronta dan menangis


Telunjuk Aldo ikut-ikutan menusuk ke dalam vaginanya. Kulihat Bob menghisap
rokok Jie Sam Soe-nya dalam-dalam. Tangan kirinya meremas-remas payudara
kanan Reni yang telah terbuka
Lepaskaaaan jangaaann.setaan.mmmfff..mmmmfffff.mmmpppfff .
jeritan Reni langsung terbungkam begitu Bob melumat bibirnya dengan buas.
Mata Reni mendelik. Kulihat asap mengepul di antara kedua bibir yang berpagut itu.
Al
mengclose-up ciuman dahsyat itu. Ketika Bob akhirnya melepaskan kuluman
bibirnya, bibir Reni terbuka lebar. Asap tampak mengepul dari situ. Lalu Reni
terbatuk-batuk.
Ciuman yang hebat, Jeng Reni. Sekarang aku mau mencium memekmu, kata Bob.
Reni masih terbatuk-batuk. Wajahnya yang putih mulus jadi tampak makin pucat.
Bob berlutut di hadapan Reni. Jaelani dan Aldo membantunya membentangkan
kedua kaki Reni lebih lebar.
Wow, memek yang hebat, kata Bob sambil mendekatkan ujung rokok yang
menyala ke rambut kemaluan Reni yang tak berapa lebat.
Sekejap saja bau rambut terbakar menyebar di ruangan ini. Bob lalu menyelipkan
bagian filter batang rokoknya ke dalam vagina Reni. Istriku masih terbatuk-batuk
sehingga terlihat batang rokok itu kadang seperti tersedot ke dalam. Tanpa disuruh,
Aldo meng-close-upnya dengan handycam. Bob lalu melepas rokok itu dari jepitan
vagina Reni. Dihisapnya dalam-dalam. Lalu, dikuakkannya vagina Reni lebar-lebar.
Mulutnya langsung merapat ke vagina Reni yang terbuka.
Uhuguhugaaaakkhhh aaaaakkhhh.aaaaakkkhhhh Reni menjerit-jerit
histeris. Bob tentu sudah mengembuskan asap rokoknya ke dalam vagina istriku.
Aaakhhhh panaaassss.adududuhhhh. Reni terus menjerit dan merontaronta. Kulihat Bob melepaskan mulutnya dari vagina istriku.
Sementara Aldo mengclose up asap yang mengepul dari vagina Reni. Reni semakin

menangis ketakutan.

Bob bangkit dan menjilati sekujur wajahnya. Lalu dengan gerak tiba-tiba ia
mengoyak bagian dada istriku. Reni memekik ketika Bob merenggut putus bra-nya
yang telah tersingkap. Ia terus menangis saat Bob mulai menjilati dan mengulum
putingnya. Kulihat Jaelani kini berdiri di belakang istriku. Penisnya yang besar itu
telah mengacung dan siap beraksi. Ia menoleh ke arahku, seolah minta persetujuan.
Aku mengacungkan ibu jari, tanda persetujuan. Tak sabar aku melihat istriku
merintih-rintih dalam persetubuhan dengan lelaki lain. Kuberi kode kepada Aldo, si
office boy, agar mendekat.
Tolong tutup lagi matanya. Gua pengen ingin dia menelan sperma gua soalnya
selama ini dia belum pernah kataku
Al mengangguk dan segera melakukan perintahku. Setelah yakin Reni tak bisa
melihatku, aku pun mendekat.
Aaakkhhh.aaakkkhhh.. jangaaaannn.! Reni menjerit lagi, kali ini lantaran
penis Jaelani yang besar mulai menusuk vaginanya.
Kulihat baru masuk setengah saja, tapi vagina Reni tampak menggelembung seperti
tak mampu menampung penis itu. Kulepaskan ikatan tangan Reni tapi kini kedua
tangannya kuikat ke belakang tubuhnya. Penis si sopir masih menancap di
vaginanya. Jaelani kini kuberi isyarat agar duduk di lantai. Berat tubuh Reni
membuat penis Jaelani makin dalam menusuk vaginanya. Akibatnya Reni menjerit
histeris lagi. Tampaknya kali ini ia betul-betul kesakitan. Aku sudah membuka
celanaku. Penisku mengacung ke hadapan wajah istriku yang cantik ini. Reni
bukannya tak pernah mengulum penisku. Tapi, selalu
saja ia menolak kalau kuminta spermaku tertumpah di dalam mulutnya.
Jijik ah, Mas, katanya berkilah.
Tetapi kini ia akan kupaksa menelan spermaku. Kutekan kepalanya ke bawah agar
penis si sopir masuk lebih jauh lagi sehingga Reni makin histeris. Saat mulutnya
terbuka lebar itulah kumasukkan penisku, jeritannya pun langsung terbungkam. Aku
berharap Reni tak mengenali suaminya dari bau penisnya. Ughhhh rasanya jauh
lebih nikmat dibanding saat ia mengoral penisku dengan sukarela. Kupegangi
bagian belakang kepalanya sambil kugerakkan maju mundur pinggulku. Sementara
Jaelani juga sudah semakin ganas menyentak-nyentak penisnya pada vagina istriku.
Reni mengerang-erang, dari sela kain penutup matanya kulihat air matanya
mengalir deras. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kutahan kepalanya ketika

akhirnya spermaku menyembur deras ke dalam rongga mulut istriku yang kucintai.
Kutarik keluar penisku, tetapi langsung kucengkeram dagunya yang lancip. Di
bawah, Bob dan Aldo menarik kedua puting istriku.
Ayo, telan, banyak proteinnya nih Mbak, sehat loh kata Bob.
Akhirnya memang spermaku tertelan, meski sebagian meleleh keluar di antara
celah bibirnya. Nafas Reni terengah-engah di antara rintihan dan isak tangisnya.
Ben masih pula menggerakkan pinggangnya naik turun.

Aku duduk bersila menyaksikan istriku tengah dikerjai tiga pria bertampang jelek.
Penis Jaelani masih menancap di dalam vagina Reni. Kini Bob mendorong dada Reni
hingga ia rebah di atas tubuh tegap sopir itu. Ia kini langsung mengangkangi wajah
Reni. Ini dia yang sering kubayangkan. Wajah cantik Reni terjepit pangkal paha
lelaki gendut itu. Kuambilalih handycam dari tangan Aldo, lalu kuclose up wajah
Reni yang menderita. Reni menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjerit-jerit.
Tetapi, jeritannya langsung terbungkam penis Bob. Kedua tangan kekar Jaelani
menggenggam payudara Reni. Meremas-remasnya dengan kasar dan berkali-kali
menjepit kedua putingnya. Dari depan kulihat, tiap kali puting Reni dijepit keras,
vaginanya tampak berkerut seperti hendak menarik penis Ben makin jauh ke dalam.
Aldo tak mau ketinggalan. Ia kini mencari klitoris Reni. Begitu ketemu, ditekannya
dengan jarinya dengan gerakan memutar. Sesekali, bahkan dijepitnya dengan dua
jari. Terdengar Reni mengerang-erang, tubuhnya mengejang seperti menahan sakit.
Boleh aku gigit klitorisnya? tanya Aldo padaku sambil berbisik.
Boleh, asal jangan sampai luka, sahutku sambil mengarahkan handycam ke
vagina istriku.
Office boy pemalu ini betul-betul melakukannya. Mula-mula dijilatinya bagian
sensitif itu. Lalu, kulihat klitoris istriku terjepit di antara gigi-gigi Aldo yang tidak
rata. Ditariknya menjauh seperti hendak melepasnya. Kali ini terdengar jerit histeris
Reni.
Aaaaakkhhhh.saakkkkiiiittt rupanya Bob saat itu menarik lepas penisnya
lantaran Jaelani ingin berganti posisi. Jaelani memang kemudian berdiri sambil
mengangkat tubuh Reni pada kedua pahanya. Penisnya yang besar masih
menancap di vagina istriku. Terus terang aku iri melihat penisnya yang besar itu.
Reni terus menjerit-jerit dalam gendongan Jaelani yang ternyata membawanya ke
atas meja. Diturunkannya Reni hingga kini posisinya tertelungkup di atas meja.
Kedua kakinya menjuntai ke bawah dan kedua payudaranya tepat di tepi meja.

Kita teruskan lagi, ya Mbak. Memek Mbak kering sekali, jadi lama selesainya, kata
si sopir
Ia menusukkan dua jari ke vagina Reni sehingga tubuh istriku itu menggeliat.

Sudaaahh. hentikaaankalianbangsat! teriaknya di sela isak tangisnya.


Iya Mbak, maafkan kami yang jahat ini ya? sahut Jaelani sambil kembali
memperkosa istriku.
Suara Reni sampai serak ketika ia menjerit histeris lagi. Tapi tak lama, Bob sudah
menyumpal mulutnya lagi dengan penisnya. Dalam posisi seperti itu, si sopir betulbetul mampu mengerahkan kekuatannya. Tubuh Reni sampai terguncang-guncang.
Kedua payudaranya berayun ke muka tiap kali Ben mendorong penisnya masuk.
Lalu, kedua gumpalan daging kenyal itu berayun balik membentur tepi meja.
Payudara Reni yang putih mulus kini tampak memerah. Jaelani terlihat betul-betul
kasar, mungkin Reni adalah wanita tercantik yang pernah disetubuhinya sehingga
tak heran ia begitu bernafsu. Saat ia terlihat hampir sampai puncak, Bob berseru
kepadanya,
Buang ke mulutnya dulu. Nanti putaran kedua baru kita buang ke memeknya,
kata Bob.
Jaelani mengangguk lalu ia bergerak ke depan Reni. Vagina Reni tampak menganga
lebar, tetapi sejenak saja kembali merapat. Bob dengan cepat menggantikan posisi
Jaelani. Penisnya kini menyumpal mulut Reni. Ia menggeram keras sambil menahan
kepala Reni.
Ayo, telen spermaku ini Uuughhhh.yah. telaaannn.. si sopir meracau.
Jaelani baru melepaskan penisnya setelah yakin Reni benar-benar menelan habis
spermanya. Reni terbatuk-batuk, sopir itu mengusapkan penisnya yang berlumur
spermanya sendiri ke hidung Reni yang mancung.
Uuggghhh.nggghhhhhh.. Reni merintih.
Tak menunggu lama, kini giliran Bob menyetubuhi Reni. Reni tampaknya tak
kesakitan seperti saat diperkosa si sopir. Mungkin karena penis Bob lebih kecil.
Aiaiaiaiiiii. jangaaan. aduhhhh. sakiiit. tiba-tiba Reni mendongak dan
menjerit kesakitan.

Anusmu masih perawan ya ? Nanti aku ambil ya ? katanya.


Ternyata, sambil menancapkan penisnya ke vagina Reni, Bob menusukkan
telunjuknya ke anus Reni.

Kudekati Bob seraya berkata,


Jangan sekarang, pak Bob. Aku juga ingin merasakan menyodominya. Aku belum
pernah memasukkan kontolku ke situ, bisikku.
Oke, setelah suaminya, siapapun boleh kan? sahutnya juga dengan berbisik.
Aku mengangguk. Bob tak mau kalah dengan Jaelani. Ia juga menancapkan
penisnya dengan kasar, cepat dan gerakannya tak beraturan. Bahkan, sesekali ia
mengangkat sebelah kaki Reni dan memasukkan penisnya menyamping. Saat
bersetubuh denganku, biasanya posisi menyamping itu bisa membuat Reni
melolong-lolong dalam orgasme.
Tapi, kali ini yang terdengar adalah rintihan dan jerit kesakitan. Saat aku mulai
merasa kasihan padanya, jeritan itu berhenti. Aldo kini membungkam mulutnya
dengan penisnya. Peluh membasahi sekujur tubuh Reni. Bob sudah menumpahkan
sperma ke dalam mulutnya. Tubuh Reni terkulai lemas karena kelelahan, keringat
bercucuran di tubuhnya yang mulus. Tetapi, kulihat ia masih sadar. Aldo
membopongnya ke kasur busa yang tergeletak di lantai. Reni diam saja ketika
ikatan tangannya dilepas.
Sebentar ya Mbak. Bajunya dilepas aja semua biar lebih enak ngentotnya katanya
sambil melucuti seluruh pakaian yang masih tersangkut di tubuh Reni. Reni kini
berbaring terlentang di kasur busa tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Hanya
arloji Fossil, kalung dan cincin kawin yang masih tersisa di tubuhnya. Ia tampak
terisak-isak. Aldo kemudian mengikat kembali kedua tangan Reni menjadi satu ke
kaki meja. Aku tertarik melihat Aldo yang sikapnya lembut dan agak malu-malu
kepada Reni.
Aduh kasihan, tetek Mbak sampai merah begini, katanya sambil membelai-belai
lembut kedua payudara istriku.
Dipilin-pilinnya juga kedua puting Reni dengan ujung jarinya. Reni menggeliat
merasakan rangsangan menjalar ke seluruh tubuhya dari wilayah sensitif itu.
Siapa yang menggigit ini tadi ? tanya Aldo.

Alaaaa, sudahlah, banyak cingcong amat kau inicepat masukkan kontol kau tuh
ke memek cewek ini, terdengar Bob berseru.
Ah, jangan kasar begitu. Perempuan cantik gini harus diperlakukan lembut. Ya,
Mbak Reni? Al terus membelai-belai vagina Reni yang ditutupi bulu-bulu hitam
lebat.
Kali ini ia menyentil-nyentil puting Reni dengan lidahnya, sesekali dikecupnya.
Biasanya, Reni bakal terangsang hebat kalau kuperlakukan seperti itu dan
tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh kelembutan Aldo setelah sebelumnya
menerima perlakuan kasar.

Unngghhh. lepaskan saya, tolong. Jangan siksa saya seperti ini, mohonnya.
Aldo tak berhenti, kini ia malah menjilati sekujur permukaan payudara istriku.
Lidahnya juga terus bergerak ke ketiak Reni yang mulus tanpa rambut sehelaipun.
Reni menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai
mengganggunya. Aldo mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya. Aku sempat
heran, katanya dia belum pernah menyentuh wanita, tapi kok mainnya sudah ahli
begini, apakah kebanyakan nonton bokep? pikirku
Jangan khawatir Mbak. Bersama saya, Mbak akan merasakan nikmat. Kalau Mbak
sulit menikmatinya, bayangkan saja wajah suami Mbak, kata Aldo sambil
melanjutkan mengulum puting Reni. Kali ini dengan kuluman yang lebar hingga
separuh payudara Reni terhisap masuk.
MMmfff.. ouhhhhh.tidaaakk saya tidak bisa sahut Reni dengan isak
tertahan. Bisa, Mbak Ini suami Mbak sedang mencumbu Mbak. Nikmati saja
Aldo terus
menyerang Reni secara psikologis.
Jilatannya sudah turun ke perut Reni yang rata. Dikorek-koreknya pusar Reni dengan
lidahnya. Reni menggeliat dan mengerang lemah.
Vaginamu indah sekali, istriku kata Aldo sambil mulai menjilati bibir vagina
istriku. Reni mengerang lagi. Kali ini makin mirip dengan desahannya saat
bercumbu denganku. Pinggulnya kulihat mulai bergerak-gerak, seperti menyambut
sapuan lidah office boy itu pada vaginanya. Ia terlihat seperti kecewa ketika Aldo
berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat pemuda itu dengan
pandainya menjilat bagian dalam pahanya. Aku acungkan ibu jari pada Aldo, itu
memang titik sensitifnya. Aldo menjilati bagian dalam kedua paha Reni, dari sekitar

lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Reni merapatkan pahanya
mengempit kepala si office boy dengan desahan yang menggairahkan.
Iya Reni, nikmati cinta suamimu ini,
Aldo terus meracau, direnggangkannya kembali kedua paha Reni. Kini lidahnya
langsung menyerang ke pusat kenikmatan Reni. Dijilatinya celah vagina Reni dari
bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitoris.

Ooouhhhhhh. aahhhh. amphuuunnn. Reni merintih menahan nikmat.


Apalagi, Aldo kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke
dalam sejauh-jauhnya.
Reni makin tak karuan. Kepalanya menggeleng-geleng. Giginya menggigit bibirnya,
tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi Aldo kemudian
dengan intens menjilati klitorisnya.
Ayo Mbak Reni, nikmati. nikmati jangan malu untuk orgasme kata Aldo, lalu
tiba-tiba ia menghisap klitoris Reni. Akibatnya luar biasa. Tubuh Reni mengejang,
dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuh istriku terguncangguncang ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.
Bagus Mbak, puaskan dirimu, kata Al, kali ini sambil menusukkan dua jarinya ke
dalam vagina istriku, keluar masuk dengan cepat.
Aaakkhhhh.aaauuunnghhhhhh Reni melolong, lalu ia menangis merasa terhina
karena menikmati perkosaan atas dirinya.
Aldo memperlihatkan dua jarinya yang basah oleh cairan dari vagina istriku. Lalu ia
mendekatkan wajahnya ke wajah istriku. Dijilatnya pipi istriku.
Oke Mbak, kamu diperkosa kok bisa orgasme ya ? Nih, kamu harus merasakan
cairan memekmu katanya sambil memaksa Reni mengulum kedua jarinya.
Reni hanya bisa menangis. Ia tak bisa menolak kedua jari Aldo ke dalam mulutnya.
Dua jarikupun masuk ke dalam vagina Reni dan memang betul-betul basah. Kucubit
klitorisnya dengan gemas.
Nah, sekarang aku mau bikin kamu menderita lagi, kata Aldo yang lalu
menempatkan dirinya di hadapan pangkal paha Reni.
Penisnya langsung menusuk jauh. Reni menjerit kesakitan. Apalagi Aldo

memperkosanya kali ini dengan brutal. Sambil menyetubuhinya, Aldo tak henti
mencengkeram kedua payudara Reni. Kadang ditariknya kedua putting Reni hingga
istriku menjerit-jerit minta ampun. Seperti yang lain, Aldo juga membuang
spermanya ke dalam mulut istriku. Kali ini, Reni pingsan saat baru sebagian sperma
office boy itu ditelannya. Aldo dengan gemas melepas penutup mata Reni, lalu
disemburkannya sisa spermanya ke wajah cantik istriku.

*******************************
Satu jam kemudian

Reni sudah satu jam pingsan, aku menghampiri tubuhnya yang terkulai lemas dan
sudah berlumuran keringat dan sperma itu.
Biar dia istirahat dulu. Nanti suruh dia mandi. Kasih makan. Terus lanjutkan lagi
kalau kalian masih mau, kataku sambil menghisap sebatang rokok.
Ya masih dong, bos. Baru juga sekali, sahut Jaelani sambil tangannya meremasremas payudara Reni.
Iya, gua kan belum nyoba boolnya timpal Bob sambil jarinya menyentuh anus
Reni. Oke, terserah kalian. Tapi jam dua siang dia harus segera dipulangkan,
kataku.
Tiba-tiba Reni menggeliat. Cepat aku pindah ke tempat tersembunyi. Apa jadinya
kalau dia melihat suaminya berada di antara para pemerkosanya? Kulihat Reni
beringsut menjauh dari tiga temanku yang hanya memandanginya. Rambut
panjangnya yang indah sudah agak berantakan, ia menyilangkan tangan menutupi
tubuh telanjangnya. Tentu itu tak cukup untuk menutupinya malah membuat ketiga
pria itu semakin bergairah padanya. Jaelani berdiri mendekatinya, lalu
mencengkeram lengannya dan menariknya berdiri.
17 tahun, cerita dewasa, Cerita dewasa 17 tahun, live show, cerita panas, cerita
mesum, sopir pribadi, Pemerkosaan, Perkosa,

Jangan saya nggak sanggup lagi. Apa kalian belum puas?! Reni memaki-maki.
Belum ! Tapi sekarang Mbak harus mandi dulu supaya memeknya ini bersih!

bentak sopir itu sambil tangan satunya mencengkeram vagina Reni.


Reni menjerit-jerit waktu pria itu menyeretnya ke halaman belakang. Ternyata
mereka akan memandikannya di ruang terbuka. Kulihat Jaelani menarik selang
panjang dan langsung menyemprotkannya ke tubuh telanjang Reni. Reni menjeritjerit, berusaha menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. Bob
lalu mendekat, menyerahkan sepotong sabun kepada Reni.
Kamu sabunan sendiri apa aku yang nyabunin? tanyanya.
Reni tampak ragu.
Cepat, sabunan Mbak, kan dingin seru Aldo.
Semprotan air deras diarahkannya tepat mengenai pangkal paha Reni. Reni
perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terpaksa menuruti perintah mereka untuk
juga menyabuni payudara dan vaginanya.

Tak tahan hanya menonton saja, Bob akhirnya mendekati istriku.


Begini caranya nyabunin memek! katanya sambil dengan kasar menggosok-gosok
vagina Reni.
Reni menjerit kecil ketika Bob mendekap tubuhnya dan tangannya mulai
menggerayangi tubuhnya yang licin oleh sabun. Mulut pria gemuk itu juga
menciumi pundak dan leher istriku. Tak lama kemudian, acara mandi akhirnya
selesai. Mereka menyerahkan sehelai handuk kepada Reni. Reni segera
menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.
Hey, itu bukan untuk nutupin badanmu. Itu untuk mengeringkan badan, bentak
Jaelani.
Kalau sudah bersih, kita terusin lagi ya Mbak, enak sih! kata Aldo
Aiiihhh Reni memekik karena Aldo sempat-sempatnya mencomot putingnya.
Kalau sudah handukan, susul kami ke meja makan. Kamu harus makan biar kuat,
lanjut Bob sambil meremas bokong Reni yang bundar!
Kulihat Reni telah selesai mengeringkan tubuhnya. Ia mematuhi perintah mereka,
tanpa mengenakan apapun ia melangkahkan kakinya ke ruang makan. Betul-betul

menegangkan melihat istriku berjalan di halaman terbuka dengan tanpa


mengenakan apapun. Sensasinya makin luar biasa karena dalam keadaan seperti
itu ia kini berjalan ke arah tiga lelaki yang tengah duduk mengitari meja makan.
Mereka betul-betul sudah menguasai istriku. Kulihat Reni menurut saja ketika
diminta duduk di atas meja dan kakinya mengangkang di hadapan mereka. Posisiku
di belakang teman-temanku, jadi akupun dapat melihat vagina dan payudara Reni
yang terbuka bebas. Bob mendekatkan wajahnya ke pangkal paha Reni. Kulihat ia
menciumnya.
Nah, sekarang memekmu sudah wangi lagi, katanya.
Reni menggigit bibirnya dan memejamkan mata.
Teteknya juga wangi, kata Aldo yang menggenggam sebelah payudara Reni dan
mengulum putingnya.
Ngghhh kenapa kalian lakukan ini pada saya, rintih Reni.
Mau tahu kenapa ? tanya Bob, jarinya terus saja bergerak sepanjang alur vagina
Reni.
Aku tegang. Jangan-jangan mereka akan membongkar rahasiaku.
Sebetulnya, yang punya ide semua ini adalah Mr X, kata Bob.
Aku lega mendengarnya.
Siapa itu Mr X ? tanya Reni.
Kamu kenal dia. Dia pernah disakiti suamimu. Jadi, dia membalasnya pada
istrinya, jelas Bob.
Tapi Mr X tak mau kamu mengetahui siapa dia. Itu sebabnya tiap dia muncul,
matamu ditutup. lanjut Bob.
Sudah, Bos, biar Mbak Reni makan dulu. Dia pasti lapar habis kerja keras, sela
Ben.

Maaf ya Mbak Reni. Kami nggak punya nasi. Yang ada cuma ini, kata Ben sambil
menyodorkan piring berisi beberapa potong sosis dan pisang ambon. Ben lalu
mengambilkan sepotong sosis.

Makan Mbak, dijilat dan dikulum dulu, seperti tadi Mbak mengulum kontol saya,
katanya.
Tangan Reni terlihat gemetar ketika menerima sepotong sosis itu. Dengan ragu-ragu
ia menjilatinya, mengulumnya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong.
Habis sepotong, Aldo mengupaskan pisang Ambon lalu didekatkannya dengan
penisnya yang mengacung.
Pilih pisang yang mana, Mbak ? goda Aldo, ayo ambil, lanjutnya.
Reni menggerakan tangannya hendak mengambil pisang namun Aldo menangkap
pergelangannya dan memaksa Reni menggenggam penisnya.
Biar saya suap, Mbak pegang pisang saya saja, katanya.
Tangannya lembut banget nih kata Aldo.
Jaelani tak mau kalah, ia menarik sebelah tangan Reni dan memaksanya
menggenggam penisnya yang besar. Sementara Reni menghabiskan sedikit demi
sedikit pisang yang disuapkan Aldo. Sepotong pisang itu akhirnya habis juga. Bibir
Reni tampak belepotan. Bob yang sedang merokok kemudian mencium bibir Reni
dengan bernafsu. Reni mengerang-erang dan akhirnya terbatuk-batuk saat Bob
melepaskan ciumannya.
Sudahuhukkk sudah cukup, kata Reni dengan nafas terengah-engah.
Eee ini masih banyak. Sekarang kita haus nih, Mbak harus temenin kita minum,
kata Bob.
Tapi gelasnya kurang ya? sahut Jaelani sambil merenggangkan paha Reni.
Reni meronta-ronta tetapi Aldo dan Bob memeganginya. Jaelani membuka sebotol
bir lalu menumpahkan seluruh isinya ke tubuh telanjang Reni hingga basah.

Hmmmini baru maknyus namanya! kata Bob sambil mendorong tubuh Reni
hingga terbaring telentang di meja.
Reni terisak-isak, ia merasakan dinginnya bir itu di sekujur tubuhnya, juga jilatanjilatan lidah dan tangan-tangan para pria itu yang merangsang setiap titik di
tubuhnya. Bob menyeruput bir yang tertumpah di vagina gadis itu hingga terdengar
bunyi sruput yang rakus.

Cara baru minum bir, suegerr!!! sahut Jaelani yang asyik menyeruput bir pada
payudara istriku.
Adegan selanjutnya tak urung membuatku kasihan pada Reni. Mereka
membawanya ke halaman belakang dan memperkosanya di atas rumput secara
beramai-ramai. Sperma mereka bercipratan bukan saja di dalam vagina Reni, tapi
juga di tubuhnya. Begitu usai, mereka membaringkan Reni yang sudah tak sadarkan
diri di atas sofa. Kulihat kondisi Reni sudah betul-betul berantakan, bekas-bekas
cupangan terlihat di kulitnya yang putih terutama di payudara, leher dan
pundaknya, sperma berceceran di hampir seluruh tubuhnya mulai dari vagina
hingga wajahnya, rambut panjangnya pun tidak luput dari cipratan cairan kental itu.
Kami mengangkut tubuh telanjang Reni ke kamar mandi dan membersihkannya
dengan shower lalu memakaikan kembali pakaiannya. Reni masih belum sadar
akibat perkosaan brutal tadi. Kami menaikkannya ke mobil dan kembali ke ibukota.
Sampai di Jakarta, Reni mulai bangun, terdengar suara melenguh dari mulutnya.
Matanya masih dalam keadaan tertutup karena aku tidak ingin dia melihatku. Bob
mengancamnya agar tidak menceritakan kejadian hari ini pada siapapun kalau tidak
ingin rekaman perkosaan tadi bocor dan mempermalukan dirinya dan keluarganya.
Reni hanya bisa mengangguk dengan terisak-isak. Kami menurunkannya di depan
rumah lalu aku segera tancap gas menjauhi rumahku.

**************************
Jam sembilan malam

Aku tiba di rumah dan setelah memarkirkan mobil di garasi aku masuk ke rumah
dan memanggil nama istriku, berpura-pura seolah tidak terjadi apapun.
RenRenn!! aku mengeraskan suaraku karena tidak ada yang keluar ataupun
membalas sahutanku
Rennlu dimana! panggilku lagi
Cklik! tiba-tiba kamar mandi lantai satu di sebelahku membuka, Reni keluar dari
sana.
Iya Mas, sori saya sakit perut katanya, O ya mas, hari ini gak sempat masak, tadi
di jalan pulang macet banget, jadi beli makanan di luar, saya panasin sekarang ya
Mas

Kulihat matanya sembab, tapi ia berusaha tersenyum di depanku. Ketika makan


malam ia lebih diam dari biasanya namun berusaha menanggapi obrolanku.
Kupeluk pinggangnya yang ramping ketika ia sedang mencuci piring sehabis makan
dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Biasanya aksi ini berlanjut hingga ke
hubungan intim baik kilat maupun long time. Namun kali ini ia menepisnya.
Jangan Mas, jangan hari ini, saya cape, tolong yaplease! katanya dengan
tatapan memohon.
Akupun mengerti karena tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kupeluk dia dengan
mesra dan kucium keningnya
I love you honey! ucapku dekat telinganya
cerita dewasa, Cerita dewasa 17 tahun,, 17 tahun, live show, cerita panas, cerita
mesum, sopir pribadi, Pemerkosaan, Perkosa,

Sori banget Ren, lu emang istri yang baik, ga mau orang lain ikut cemas dan
susah, gua janji ini ga akan terjadi lagi kataku dalam hati sambil mempererat
pelukanku.

KEKASIH SAUDARAKU YANG HIPER

nama saya sandi... cerita ini adalah pengalaman pribadiku bersama teman2 wanitaku, entah benar
atau kagak yang penting crotz.. begitulah pikiran ku pada waktu itu, begitu ketagihan akan sex...
cerita ini bermula ketika aku berkenalan dengan pacar sodaraku rio yang bernama rina, rina ini
cewe yang berusia sekitar 22 tahun, rambutnya panjang anggun sekali dengan style nya yang
cewe banget, sering make gaun ala korea gitu deh, dan kebetulan dia putih banget, jadi mirip dah
kayak artis korea
rina sering banget ke rumah, karena rio emang satu rumah ma gw, oh ya kita emang beli rumah
di sini biar gak usah ngekos jadi patungan aja beli rumah...
gak jarang aku mendengar desahan rina di kamar rio.. dan saat itu pun aku terangsang oleh
mereka... hmm kapan ya aku dapet cewe yang se liar rina, udah cantik seneng banget ML...
malam hari nya pun rio curhat sama aku....
"boy, gimana ya?" kata rio
"apanya gimana?"
"gw kan mau tugas 1 bulan di batam, lah si rina itu bener2 hiper sex bro, gw cuma takut aja dia
maen sama cowo laen rugi kan gw tar, selain cinta ma dia gua gak rela dia tidur ma cowo laen"
"wah tumben loh"
"beneran nih, tolongin gw donk??lo bisa kan ngawasin dia??"
"hmmm gw kan juga cowo kalo dia tidur ma gw gimana??"

"anjing lo... serius nih gw takut banget..."


"ok sekarang gini aja dia suruh aja tinggal disini, jadi kan gw bisa ngawasin??trus kalo bisa lo
iket dulu, lamar kek or apa"
"cerdas juga lo punya otak.. ok deh"
akhirnya rina pun tinggal di rumah gw, dan si rio pun pergi ke batam untuk melaksanakan tugas
kerjanya...
hari demi hari aku jalani bersama cewe yang aku idam2 kan tanpa melakukan apa2... aku pun
punya firasat ngintip dia tidur, kebetulan pintunya gak di tutup gitu, dia pakai pijama panjang
tapi masi saja sexy, aku pun mengurungkan niat karna tertutup banget,, suatu hari aku
mencobanya kembali, dan apa yang kau lihat, si rina memakai gaun malam tipis sekali berwarna
merah, dan dia mengelus2 vaginanya, sambil mendesah keenakan gitu.. wow.... aku pun
menikmati hal ini, kemudian gara2 pikiranku takut kalo dia tahu trus dia lapor ma rio mati lah
aku... akhirnya aku pun berlari ke kekamar ku,, dan aku putuskan untuk berfantasi sendiri....
entah kenapa saking keasikannya, aku keluar dan sampe basah semua celana ku, aku pun keluar
ke kamar mandi, dengan barang yang masih agak tegak, dan celana basah.. tanpa disengaja aku
bertemu rina yang juga mau kekamar mandi
"sandi.... basah semua??abis ngapain??hayo"tanya rina centil menggodaku
"ehhmmmm.. anuuu... aku ketumpahan air tadi..." gugup aku dibuatnya
rina pun mendekatiku, dia menunduk di depanku semakin berdebarlah jantungku dan tegaklah
senjataku....dia seperti kaget dibuatnya, lalu dia memegang celanaku yang masi licin oleh
spermaku...
"sandi... ini air apa air kenikmatan??"sambil melihat ke atas dan mengelus2 penisku
"jangan rin tar rio tahu gimana......"
"sandi... tenang aja lagi kalo kita ngejaga rahasia pasti dia gak tahu" sambil membuka celanaku
dan
"wooow.... besar banget, sini gua bersihin" tanpa pikir panjang rina mengulum penisku... benar2
cewe hiper
"ahhh rina...." desahku keenakan sambil bersandar di dinding
rina bener2 jago mengulum penisku sampai2 aku keluar
"ahh rriiinnn... crootzzzz...." rina menelan semua cairan spermaku... masi dijilati penisku sampai
kering olehnya
"baru pertama ya san?belum pernah ya sebelumnya??"
"ehhh.. iya rin.." aku bener2 malu
rina pun menarikku untuk berciuman... berciumanlah kita, kemudian rina membuka seluruh
bajuku dan mengarahkan ku pada payudaranya, perlakukan itu seperti kamu minum susu ibu mu
dulu ya..
aku pun menyedot2 payudara rina, dia mengarahkan tanganku untuk meremas2 dan yang satu
nya mengelus klitorisnya....
"ouughhh san.. jilatin donk putingnya.."
aku pun menurutinya, kemudian tidak lama kemudian aku di dorong olehnya kebawah sambil
mengangkagkan kakinya dia menyuruhku menjilati memeknya...
pertama kali aku menjilatnya, dan aku pun pengen muntah...
rina tersenyum "coba saja san... ya sayang" sambil mendorog kepalaku mendekati memeknya
kembali
"oouughhhh trusss sannn,, yang menonjol itu sayang... hisaaapppp...."rina menggeliat sambil
meremas2 rambutku....

5 menit berlalu rina menarikku ke atas ranjang dan dia mendorongku untuk terlentang.. dia pun
menelan sebuah pil... lalu dia mengankangi badanku, digesekkan penisku yang sudah siap
tempur ke vaginanya yang sudah basah...
lalu "ooouugggh saaaannn.. ennaaakk gedeeeeee" masuklah penisku ke dalam mekinya
"ouughh" desahku yang baru merasakan wanita
"ngggiiiiikkkkkk ngiikkkkk" ranjangku berbunyi karna genjotan rina yang keras
rina bener2 sekali menggenjotku...
10 menit berlalu rina berpindah posisi menungging, san masukin kesini sambil menunjuk lubang
mekinya dia mengarahkan penisku masuk... dan "ouughhh" desah rina ketika penisku kembali
menerobos lubangnya
"oouughh san kerasin genjotnya" sambil mendorong pantatku ke dalam
aku pun kerasin genjotanku....
setelah beberapa menit aku pindah rina ke posisi bawah karna aku tahu di film2 bokep
kutindih dia.. ku genjot diaaa
"ooouuughhhh saaannn aku keluar sannnnn"terasa cairan di penisku dan rina menggelinjang ku
kurangi tempo ku karna baru sekali aku liat momen ini
"hayuk lagi san... di arahkan pantatku maju mundur oleh rina
aku pun memperkeras genjotanku.... selama 10 menit aku heran kenapa masi aja belum kluar
aku pun terus menusuk2 kan karna itu aku merasakan enak banget
keras sekali genjotanku dan rina "ooughhh sannnn kamu enak sayaaanggg, aku mauuuu"
dan rina kluar lagi.... aku genjot lagi dengan penuh semangat untuk kepuasanku....
"rina aku mau kluar....."
pantatku ditahan olehnya, dan "crotzzzz... " aku keluar, dan pantatku semakin ditekan oleh
rina.....rina pun menciumku "makasi sayang gak pernah aku sepuas ini sama rio, semoga benih
kamu jadi ya"
"apa????"aku kaget banget sama omongan rina
"hahahaha polos banget sih.... ak kan udah minum pil sayang gak mungkin jadi kok"sambil
memelukku kembali
"besok lagi ya" bisik rina sambil menciumku.... memang bener2 rina yang hiper sex
hari2ku kulalui bersama rina dengan indah hingga rio pulang sepulang rio kami pun sering janji
untuk tidak mengatakan hal ini, dan kita pun sering ketemu tanpa sepengetahuan rio untuk
melampiaskan NAFSU KAMI

PWR KENCUR
Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras
sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah
bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam
keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel
dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu saat,
pada saat aku duduk di kelas 2 SMA, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di
kampung. Dia akan tinggal di sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak. Aku akan
bisa bebas di rumah. Tak akan ada yang memaksa-maksa untuk belajar. Aku juga
bebas pulang sore. Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.

Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali
mengadakan hubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah
betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah orgasme.
Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?
Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas.
Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam
lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi. Kami duduk di sofa. Anton
dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. "Ah.." kurangkul
tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang
mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku. Aku
benar-benar terangsang. Aku sudah bisa merasakan bahwa vaginaku sudah mulai
basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa
daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi
agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin
membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku
sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera
sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang.
Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu
besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua
telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi
tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala
seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan
ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin
bergairah. "Ah.." kumasukkan saja batang itu ke mulutku. Anton melepaskan celana
dalamku lalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya
diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu.
Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku mempermainkan
telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.
"Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!"
Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di
lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satusatunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betulbetul bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan
dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi
terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatanjilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku
dihisapnya, sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara
batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.
"Ton, ayo masukin saja."
"Sebentar lagi Nitt."
"Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!"
Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu..
"Bless.." batang itu masuk dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk
memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju
mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku.
Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.

Tiba-tiba, "Ah.. aku keluar.." Dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di


atas perutku.
"Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah," rungutku dalam hati.
Tapi aku berpikir, "Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada."
Dugaanku meleset. Anton berpakaian.
"Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak
telat nih," dia berpakaian dengan buru-buru. Aku betul-betul kecewa.
"Kurang ajar anak ini. Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu
saja."
Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya.
Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan
kepergiannya, bahkan aku berbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan
ke sandaran sofa.
Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.
"Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali," pikirku. Tapi aku memasang gaya cuek.
Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek.
"Nita!"
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat.
"Ayah!" aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.
"Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan
membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini
harus dilaporkan sama ibumu."
Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, "Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum
apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama," aku menangis
memohon.
Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa. Kulihat wajahnya makin melembut.
"Nit, Ayah tahu kamu tidak puas barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah dengar suarasuara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayah lihat dari balik
pintu, kamu sedang dientoti lelaki itu, jadi Ayah intip aja sampai siap mainnya."
Aku diam aja tak menyahut.
"Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan terbongkar."
"Sungguh?"
Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku. Dijilatinya permukaan
payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku. Sementara tangannya sudah
menjelajahi bagian bawahku yang masih basah. Ayah segera membuka bajunya.
Langsung seluruhnya. Aku terkejut. Kulihat penis ayahku jauh lebih besar, jauh lebih
panjang dari penis si Anton. Tak tahu aku berapa ukurannya, yang jelas panjang,
besar, mendongak, keras, hitam, berurat, berbulu lebat. Bahkan antara pusat dan
kemaluannya juga berbulu halus. Beda benar dengan Anton. Melihat ini saja aku
sudah bergetar.
Kemudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia berlutut di
hadapanku lalu kepalanya berada diantara kedua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidah
hangat sudah menggesek ke dalam vaginaku. Aduh, lidah ayahku menjilati
vaginaku. Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut. Jilatannya dari bawah ke atas
berulang-ulang. Kadang hanya klitorisku saja yang dijilatinya. Dihisapinya, bahkan
digigit-gigit kecil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. "Oh.. oh.. enak, Yah di situ Yah, enak,

nikmat Yah," tanpa sadar, aku tidak malu lagi mendesah jorok begitu di hadapan
ayahku. Ayah "memakan" vaginaku cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan nikmat
yang sangat dahsyat, yang tak pernah kumiliki sebelumnya.
"Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya," aku tiba-tiba merasa lemas. Ayah
mungkin tahu kalau aku sudah orgasme, maka dihentikannya menjilat lubang
kewanitaanku. Kini dia berdiri, tepat di hadapan hidungku, penisnya yang besar itu
menengadah. Dengan posisi, ayah berdiri dan aku duduk di sofa, kumasukkan
batang ayahku ke mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. Kusedot dan kuhisap
lagi. Begitu kulakukan berulang-ulang. Ayah ikut menggoyangkan pantatnya,
sehingga batangnya terkadang masuk terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan
kepala penisnya menyentuh kerongkonganku. Aku kembali sangat bergairah
merasakan keras dan besarnya batang itu di dalam mulutku. Aku ingin segera ayah
memasuki lubangku, tapi aku malu memintanya. Lubangku sudah betul-betul ingin
"menelan" batang yang besar dan panjang.
Tiba-tiba ayah menyeruhku berdiri.
"Mau main berdiri ini," pikirku.
Rupanya tidak. Ayah berbaring di sofa dan mengangkatku ke atasnya.
"Masukkan Nit!" ujar Ayah.
Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke vaginaku. Ah.. sedikit sakit dan agak susah
masuknya, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan.
"Aduh pelan-pelan, Ayah."
Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibat sodokan
ayah tadi. Kugoyang perlahan. Dengan perlahan pula batang itu semakin masuk
dan semakin masuk. Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat. Lubang vaginaku
betul-betul terasa penuh. Nikmat rasanya. Karena dikuasai nafsu, rasa maluku
sudah hilang. Kusetubuhi ayahku dengan rakus. Ekspresi ayahku makin menambah
nafsuku. Remasan tangan ayahku di kedua payudaraku semakin menimbulkan rasa
nikmat. Kogoyang pantatku dengan irama keras dan cepat.
Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah berkata, "Stop! Kita ganti posisi. Kamu
nungging dulu."
"Mau apa ini?" pikirku.
Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala penis di permukaan lubangku kemudian..
"Bless.." batang itu masuk ke lubangku. Yang begini belum pernah kurasakan. Anton
tak pernah memperlakukanku begini, begitu juga Muklis, lelaki yang mengambil
perawanku. Tapi yang begini ini rasanya selangit. Tak terkatakan nikmatnya.
Hujaman-hujaman batang itu terasa menggesek seluruh liang kewanitaanku,
bahkan hantaman kepala penis itupun terasa membentur dasar vaginaku, yang
membuatku merasa semakin nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin keras dan
makin cepat. Perasaan yang kudapat pun makin lama makin nikmat. Makin nikmat,
makin nikmat, dan makin nikmat.
Tiba-tiba, "Auh..oh.. oh..!" kenikmatan itu meladak. Aku orgasme untuk yang kedua
kalinya. Hentakan ayah makin cepat saja, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya.
Seiring dengan itu dicabutnya penisnya dari lubang vaginaku. Dengan gerakan
cepat, ayah sudah berada di depanku. Disodorkannya batangnya ke mulutku.
Dengan cepat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan cepat.
Tiba-tiba kurasakan semburan sperma panas di dalam mulutku. Aku tak peduli.

Terus kuhisap dan kuhisap. Sebagian sperma tertelan olehku, sebagian lagi
kukeluarkan, lalu jatuh dan meleleh memenuhi daguku. Ayah memelukku dan
menciumku, "Nit, kapan-kapan, kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah." Aku tak
menjawab. Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku. Yang jelas
aku pasti mau. Dengan pacarku aku tak pernah merasakan orgasme. Dengan ayah,
sekali main orgasme dua kali. Siapa yang mau menolak?
Sesudah itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi. Sementara mama
masih sering marah, dengan nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin. Biasanya
aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya, yang menjadi ayahku itu, sering
kugeluti dan kunikmati. Beginilah kisah permainanku dengan ayahku yang pendiam,
tetapi sangat pintar di atas ranjang.

LINDA DIPERKOSA BERGILIR


Warung remang-remang yang menjual minuman keras itu , terletak jauh dari
keramaian di pinggir kota . Warung itu selalu buka dan hampir tak pernah tutup .
Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, bandit , rampok ,
pembuat onar. Tempat itu menjadi sarang penjahat .
Sejumlah preman terlihat sedang asik minum-minum. Empat dari mereka bermain
kartu remi yang sudah lusuh . dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Rony.
Mereka sedang merencanakan perampokan terhadap toko emas di kota
Setelah berbicara cukup lama , Rony menyalakan Rokoknya , lalu berjalan ke luar
warung . Matanya menerawang jauh , menatap jalan kecil yang mulai gelap itu .
Sampai matanya agak memicing , karena silau , tersorot lampu mobil .
Suzuki Carry itu tepat berhenti di samping Rony . Perlahan kaca gelap mobil itu
terbuka , dan terlihat sosok gadis muda . malam pak , numpang tanya ,
perumahan cemara indah , dimana pak.. suara gadis itu begitu lembut , membuat
birahi Rony jadi bangkit .
Rony menatap gadis itu , dia tersenyum , di otaknya mencari cara , untuk
memperdaya gadis itu .
sebenarnya bisa lewat jalan ini terus lurus , tapi jalan di depan ada galian kabel ,
jadi harus muter , terus lewat gang kecil di sebelah sana.. kata ronny
membohonginya .
Oh , lewat jalan gang .. yang mana yah pak.. kata gadis itu lagi . wah jalannya
sempit dan rusak , terus agak belok belok.. kata Rony lagi .
Gadis itu diam , sepertinya binggung . begini saja , biar saya antar , saya naik
motor , nanti kamu ikuti motor saya .. kata Rony .
Gadis itu tersenyum , wah , terima kasih , jadi repotin bapak saja nih.. .

Rony tersenyum , jantungnya berdetak lebih cepat , rencananya sudah makin


mendekati ke mangsanya . Rony tersenyum lagi lalu berkata tidak apa apa koq ,
tapi saya mau makan dulu yah.. di warung dalam sana .. kamu tunggu saja
sebentar.. .
Rony berencana , untuk mengepungnya bersama teman temannya dan
membawanya masuk ke warung itu .
Tapi di luar dugaan Rony , gadis itu malah turun dari mobil suzuki carry itu. eh pak
, saya juga agak haus .. saya ingin minum juga.. katanya .
Itu langkah yang salah , gadis itu tak menyadari banyak serigala lapar di dalam
sana
Rony tersenyum sekali lagi , dan menatap gadis itu . Yang berpakaian seksi dan
sensual. Dia mengenakan gaun pesta . Bagian dadanya lumayan rendah membuat
belahan dadanya agak terlihat .
Buah dada gadis itu tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung
walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi
oleh gaun pesta itu.
Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut , membuat
kakinya yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang
ia pakai, gadis itu berjalan perlahan, masuk ke dalam warung itu. Rambutnya yang
berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya.
Setelah gadis itu berada di dalam warung itu , Dia tidak yakin apakah memang
tempat ini yang baik , setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri
harus bertanya beberapa kali kenapa bisa sampai ke tempat ini.
Gadis itu mulai grogi , dia terus dekat Rony yang asik melahap mie instan rebus ,
lalu memutuskan untuk memesan teh botol dan sambil berdiri menunggu sebentar.
Keempat orang yang sedang bermain kartu remi memandanginya dengan mata
melotot penuh nafsu birahi .Gadis itu sendiri merasa merinding ketika matanya
menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu
pandang dengan mereka. Tak lama , suasana semakin memanas .
pak , ayo tolong antarkan saya. kata gadis itu pada Romy . Rony tersenyum
sabar yah , oh iyah nama kamu siapa sih . Gadis itu tak menjawab . Tapi Rony
bertanya lagi eh , nama kamu siapa ? . Linda jawabnya singkat.
Oh nama eloe bagus juga , kata Rony . Linda berkata lagi ayo pak , nanti saya
bayar ongkosnya , tolong bapak antar saya sekarang .
Rony tersenyum sinis , lalu tangannya hinggap di pantat Linda dan merabanya .
Gadis itu tersendak eh.. jangan kurang ajar yah.. katanya . Rony tersenyum
menyeringai he he he baru gitu aja eleo udah marah , gimana kalo gua entot
loe.. .

Nada bicara Rony berubah , yang tadinya lembut ,sekarang jadi kasar . Linda
menyadarinya , ini tidak baik . Segera dia menuju ke pintu , untuk pergi dari sana .
Tapi terlambat , dua orang bandit berada di depan pintu . Mereka berdiri sambil
mengusapi selangkangan mereka .
"Hei Non, gimana kalo loe buka baju eleo , jadi kita bisa senang senang!" seseorang
dari mereka berkata. "Gimana kalo kita nyanyi sama-sama , sambil telanjang Non?"
yang lain menimpali.
Linda mulai panik , minggir , saya mau pergi .. katanya .
Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahunya
serta mendorongnya duduk di kursi sementara preman itu sendiri duduk di sebelah
Linda. Hei , apa apa nih.. kata Linda
Kemudian tanpa aba aba , preman itu menjilat dan mencium telinga Linda .Linda
berontak , dan menjerit apa apa nih , bajingan . Lalu tangan Linda reflek
menampar pipi preman itu . Teman temannya yang lain tertawa tawa .
Tiba tiba , preman itu mencabut belatinya , dan menancap belati itu di kursi kayu
yang di duduki Linda , tepat di antar kedua paha Linda . Untungnya belati itu tak
sampai melukai pahanya .
Linda hanya bisa memandangi belati mengkilap itu dengan mulut terbuka tak
percaya kejadian ini harus menimpa dirinya .
Ketika Linda tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke
dalam gaun Linda, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Linda. Hei , apa
apa nih tolong , jangan . Linda meronta dan memandang sekelilingnya dengan
tatapan memelas mohon pertolongan.
Hei , jangan gangu dia , dia milik gua.. bentak Rony . Dan preman itu melepaskan
tangannya .
Rony segera mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang preman memegang
tangan Linda yang terus berusaha meronta dan menjerit, Tolong.. tolong
lepaskan jangan dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata yah
terus menjerit .. gua suka dengar suara jeritan eleo
Wajah Linda memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk
melepaskan dirinya.
Tapi dua dari preman itu segera menarik tangannya , dan membawanya ke meja
kayu , yang biasa dipakai buat makan . Linda terus meronta . Tangan preman itu
menjambak rambutnya . Akhirnya mereka berhasil membawa dan membaringkan
Linda di meja kayu itu .
Kemudian kedua tangannya di ikat pada kaki meja . Kini tangan linda , terikat
terbuka , satu ke kiri dan satu kekanan . Kini Linda terbaring tak berdaya , dengan
tangan terikat seperti di salib . Hanya kakinya yang bergerak menendang nendang

tanpa arah . Juga jerit tangisnya yang memilu .


Yah , terus berontak , gua suka sekali melihatnya.. kata Rony tertawa . Linda
terus berontak , dan menangis memohon dilepaskan . Tapi Rony hanya tertawa .
eh , eloe orang minggir , liatin gua aja yah , cewek ini punya gua.. kata Rony pada
teman temannya.
Teman temannya hanya tertawa tawa .
Lalu Rony segera merobek gaun Linda , dengan bantuan belatinya . Sekali tarik
gaun itu lepas seluruhnya di sertai jeritan Linda .
Semua mata langsung tertuju pada tubuh Linda yang hanya memakai celana dalam
hitam , dan juga bra yang hitam .
Rony merangkak naik keatas meja . Tapi Linda segera menedangnya . Rony cepat
tanggap ,menangkis tendangannya , lalu memukul keras perutnya , Linda menjerit
kesakitan aduh , ampun jangan pukul .
Rony pun turun lagi , dan mengikat kedua kakinya pada kaki meja itu . Kini Linda
benar benar tak berkutik . Dia terikat diatas meja dengan kaki terbuka lebar. Ha
ha cewek sialan loe , ayo berontak lagi.. kata Rony.
Linda hanya bisa menitikan air mata . Dan Rony pun segera mendekatkan mukanya
pada selangkanan Linda , menciumi aroma vaginanya yang masih terbungkus
celana dalamnya. Linda mengelijing dan memohon tolong hentikan jangan
lakukan ini . Tapi itu sia sia saja .
Rony terus saja menciumi celana dalamnya , dan tak lama dengan belatinya itu dia
merobek celana dalam dan Bra Linda . Kini tubuh Linda terbuka , tanpa sehelai
benang pun . Rony menatap tubuh telanjang gadis itu , demikian juga preman
preman bejat lainnya.
Buah dada Linda yang montok , vaginanya yang kecil dengan sedikit bulu bulu
kemaluannya. Rony segera mendekat ke vaginanya . Dengan dua jarinya dia
membuka lebar bibir vagina Linda . wah , memek eloe masih bagus yah , apa eloe
masih perawan.. kata Rony.
Linda tak menjawab , hanya terisak tangis . Rony pun mejulurkan lidah menjilati
klitorisnya . Linda mengelijing dan meronta sudah tolong hentikan . Rony terus
saja bernafsu melumat vagina Linda . Membuat Linda terus mengelijing .
aghhh jerit Linda , ketika Rony memasukan dua jarinya ke liang wanita Linda .
Jari Rony menyolok nyolok vagina linda dengan cepat . Jerit kesakita Linda , malah
semakin membuat gerakkan jari Rony Liar . Rony mengorek ngorek liang vagina
linda . Lalu menarik jarinya keluar.
Rony mencabut jarinya , menatap jarinya yang basah , menyeringai , lalu kembali
memasukan jarinya di liang vaginanya . rupanya , eloe udah gak perawan yah..
dasar perek ejek Rony .

Kembali jarinya menyodok nyodok vagina Linda , membuat Linda mengeram pedih.
Setelah Rony puas memainkan vaginanya , Rony melepaskan ikatan Linda dan
langsung menariknya turun dari meja kayu itu .Linda tersungkur di lantai , dan Rony
membuka celananya . Penis ngacung keras.
Tiba-tiba, Rony menjambak rambut Linda dan menariknya , Linda menjerit kesakitan
ahhhh , tolong ampun .
Rony memerintahkan Linda untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit
penisnya, ia akan merontokan gigi Linda .
Rony memajukan penisnya mendekati muka Linda , penisnya yang sudah tegang
dan keras, ia menjepit hidung Linda untuk membuat Linda membuka mulutnya.
Linda meronta , tapi Kembali Linda menjerit keras , Ahhhh ketika satu pululan
tepat di mukanya
Ketika Linda kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Rony
segera mendorong penisnya ke dalam mulut Linda. dan mulai mendorong dan
menarik kepala Linda.
Kepala Linda bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Linda
yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika
kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Linda tersedak, tapi Rony tetap
mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Linda.
Air mata mulai meleleh di pipinya . Sambil Linda dipegangi hingga tak bergerak
dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya. Rony kemudian menarik
penisnya keluar , lalu mendorong lagi.
Setelah kira kira 10 menit , Rony menekan masuk penisnya . Linda tersedak , dan
terasa sperma Rony muncrat di tenggorokkannya . Setelah penis itu benar benar
terlepas dari mulutnya , Linda segerah memuntahkan sperma yang memenuhi
mulutnya.
Seorang dengan perut buncit , tangannya penuh tatto segera menghapiri
Linda.Membuka resleting celananya , Tangannya kemudian menjambak rambut
Linda dan mulai mendorong masuk penisnya dalam mulut linda mengantikan Rony
Menggerakan penisnya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar
masuk di mulut Linda. Semua orang dapat mendengar suara dahi Linda yang
menumbuk perut orang itu, dan erangan Linda yang terdengar setiap kali penis itu
masuk jauh ke tenggorokannya.
Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Linda hingga
hidung Linda terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik
nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Linda.
Dan dari sudut mulut Linda sperma menyemprot keluar, mengalir turun,

menggantung di dagu Linda. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti.
Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Linda .Ketika akhirnya ia menarik
penisnya dari mulut Linda, Linda megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk
memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.
Dua orang kemudian memegangi Linda sementara yang lain mulai melepaskan
pakaian mereka. Linda sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia
mengalami shock.
Ketika semuanya telah telanjang bulat, kembali Linda diangkat dan diletakan di atas
meja kayu dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang
memegangi tangan dan kakinya. Kaki Linda terbuka lebar dan tubuhnya telentang.
Rony kembali mendekat dan naik ke atas meja. Perlahan ia menggosokan penisnya
yang besar ke kaki Linda. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Rony
yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan
pertama. Rony memerintahkan orang di dekat kepala Linda untuk mengangkat
kepala Linda hingga Linda bisa melihat ketika penis Rony mulai masuk ke vagina
Linda.
Orang yang memegangi kaki Linda berusaha membuka kaki Linda lebih lebar.
Dengan satu kali dorongan keras, penis Rony dengan keras memasuki vagina Linda.
Linda menjerit sekeras-kerasnya, AaHHHGG . . . dan makin meronta-ronta, tanpa
daya menghentikan Rony memperkosa dirinya.
Rony sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Linda. Ia menyeringai
setiap kali Linda menjerit kesakitan.
Ketika Rony sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Linda dengan
mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh
tubuh Linda.
Mereka mulai dengan memainkan buah dada Linda dan mengisapi puting susunya,
tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Linda terus
menjerit , pilu ahhhggg ampun Ahhhh hentikan tolong. .
Kaki Linda diangkat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan
merabainya, menikmati halusnya kaki Linda.
Cerita Panas - Beberapa menit kemudian jeritan Linda hanya tinggal erangan dan
rintihan tapi Rony tetap memperkosa Linda tanpa henti, terus bergerak makin
cepat. Setelah lama kemudian, Rony menarik penisnya hingga hampir terlepas dari
jepitan vagina Linda, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga.
Kepala Linda terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar
dari mulut Linda AGHHHH. Rony mengejang beberapa saat penisnya
menyemburkan sperma ke dalam vagina Linda. Setelah Rony mencabut penis ,
spermanya pun berhamburan keluar dari liang vagina Linda yang membengkak dan
memar.
Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan Linda dan bertengkar mengenai

giliran siapa selanjutnya.


Linda hanya bisa berbaring , menangis , tubuhnya menjejang kesakitan . kaki dan
tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Ia telah diperkosa ,
dilecehkan, harga dirinya di injak injak .
Eh perek , kenapa nangis , Loe mustinya nikmatin, soalnya masih banyak cowok
yang antri , semua mau cobain memek eloe kita baru aja mulai!" katanya pada
Linda.
Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Rony turun. Sekarang, Linda
dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka kembali dan penis
itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah
Linda, ketika ia merasa tubuhnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.Linda
mengerang lagi aghhh sakit
"Loe jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue
tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!" bentak
orang itu.
Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata.
Linda akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia
tidak punya pilihan sama sekali. Linda hanya bisa menyerahkan dirinya dan
melayani mereka hingga selesai.
Sekarang Linda hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap
tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.
Tak lama preman itu menyemburkan spermanya ke dalam vagina Linda yang sudah
terisi oleh sperma Rony. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu,
kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa
Linda.
Linda tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani
laki-laki itu. Linda lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan
dirinya. Sudah tolong lah Ahhh saya , sudah tak kuat , ahhh sakit .
Tapi Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Linda keras-keras
hingga Linda menjerit kesakitan. AHHGGG sakit hentikan tolong . Dan menarik
puting susunya dengan kuat AGHH sakit ampunnn
"Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!"
bentaknya pada Linda.
Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Linda. Linda
sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata
terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran
memperkosanya.
Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan

penisnya ke muka Linda. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Linda membuka
matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Linda. Sehingga seluruh
sperma itu keluar menyembur dari penis itu.
Ketika orang itu puas ia menarik rambut Linda dan menamparkan penisnya ke
wajah Linda. "satu-satunya yang boleh loe mohon cuma ini tau? Loe sendiri yang
masuk ke sini pake pakaian merangsang kayak perek , dan loe mohon kita berhenti?
Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi!
Ngerti" Orang itu membentak Linda.
Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan
memperlakukan Linda sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme,
mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Linda, dan
memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Linda kemudian
menarik rambut Linda untuk membersihkan penis mereka.
Dan ketika orang yang terakhir selesai Linda berbaring hampir tak sadarkan diri.
Wajah, buah dada, dan puting susu Linda seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu
mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Linda. Linda tidak
bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Linda harus
bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya.
Rambut Linda yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang
mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Linda hanya
berbaring di atas meja , kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari
vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya.
Vagina Linda tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki
sepuluh orang bergantian tanpa henti.
Dua orang menarik tubuh Linda turun dari meja itu dan menyeretnya ke kamar
mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Linda dengan kertas tisu yang kasar
dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Linda melihat
meja tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan.
Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki
telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Linda didorong ke tengah-tengah lingkarang
orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk
mengangkat tubuhnya.
Linda merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendorong
dan mengangkat tubuhnya. Ketika Linda membuka matanya ia melihat seseorang
telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.
Orang itu adalah si Rony, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina
Linda kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Linda
diturunkan mengarah ke penis Rony. Dengan sisa-sisa sperma yang ada, penis itu
dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Linda.

Dan Linda sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit Ahggg Aghh perih
tolong hentikan sudahh..
Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati
mulutnya. Linda dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan
menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke
tenggorokan Linda dan berhenti tak bergerak.
Selanjutnya Linda merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun.
Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Linda panik dan
berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Linda
membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.
"Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!" kata orang yang
memasukan penisnya ke mulut Linda sambil tersenyum.
Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Linda yang
terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di
liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Linda,
kembali menyengat seluruh tubuhnya.
Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Linda
sebelumnya. Pikiran Linda menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa
mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk.
Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama.
Tubuh Linda seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk
di dalam vagina dan anusnya.
Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Linda hingga ia tidak terjatuh ke
samping. Semua lubang di tubuh Linda, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh
mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan.
Kemudian dua orang terkakhir tadi menarik tangan Linda, melingkarkan jari-jari
Linda di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis
mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Linda, dan menarik buah
dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.
Sekarang Linda sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur.
Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Linda untuk
membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Linda sama
sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian
tubuh Linda.
Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Linda. Linda terus
memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu
mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu
segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur
tubuhnya.

Orang di anus Linda lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya
keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama,
ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Linda. Lalu orang di mulutnya
menyemburkan sperma, membuat Linda tersedak tak bisa bernafas, berusaha
sekuat tenaga menelan sperma orang itu.
Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Linda
berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong
penisnya masuk, dan mulai bergerak.
Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus
menahannya di dalam tenggorokan Linda. Linda kemudian merasakan getaran dari
tubuh Rony di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera
setelah itu orang lain menggantikan posisi Rony tadi.
Orang-orang tadi bergantian memperkosa Linda di seluruh lubang yang ada, ia
terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di
depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke
wajah Linda.
Ketika Linda melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap
wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian
sperma kembali masuk ke dalam vagina Linda, dua detik kemudian sperma
menyembur ke anusnya.
Penis lain kembali masuk ke vagina Linda. Linda kembali memejamkan matanya, ia
sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, aghhh aghh aghh . yang
semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya
lagi, Linda melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya.
Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma
menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh
kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.
Sepanjang malam Linda terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya
mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali.
Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Linda, tubuh Linda
tersungkur , terkapar tak berdaya .Linda lalu mengangkat wajahnya berusaha
melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah itu semuanya gelap Linda tak
sadarkan diri.

DIPERKOS KULI DAN MANDOR


ini adalah diceritakan kembali oleh salah seorang korban pemerkosaan. Demi situs
Cerita Sex Indonesia ini agar para pembacanya senang. Yuk kita baca aja cerita sex
seru yang satu ini. Dijamin deh cerita seks yang kami hadirkan tak pernah ada
dalam situs cerita seks manapun . Tomi adalah seorang mandor buruh sebuah
pabrik yang usianya bisa dibilang sudah paruh baya. Garment di kawasan Bandung.

Dia bekerja sebagai seorang pengawas buruh dibagian produksi. Perangainya cukup
sangar sikapnyapun tegas terhadap para buruh-buruh yang bekerja disitu. Dia tidak
pelit dengan kata-kata kasar dan caci maki terhadap para buruh yang melakukan
kesalahan. Bagi para buruh tidak ada pilihan lain selain bekerja dibawah tekanan
mandor Tomi karena memang mencari pekerjaan lain sangatlah sulit.

Tomi diangkat oleh perusahaan sebagai seorang mandor karena dia memiliki latar
belakang kehidupan yang keras, memang dia adalah seorang preman disebuah
kawasan yang rawan kriminal di Bandung. Dengan harapan kedudukan Tomi
sebagai mandor buruh, maka para buruh akan segan dan takut terhadap
perusahaan.
Saat ini ada seorang mahasiswi yang kebetulan sedang tugas magang di pabrik itu
namanya Ani, usianya masih 19 tahun dan dia adalah seorang mahasisiwi Fakultas
Teknik Industri pada sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal di kota Bandung.
Ani cukup lincah dalam bekerja. Gadis cantik itu pintar dan rajin dalam melakukan
tugas-tugasnya. Dia memiliki wajah yang imut-imut dan cantik sekali seperti
mojang-mojang Bandung umumnya yang memiliki kulit putih bersih. Selama bekerja
magang di pabrik itu, Tomi sering memperhatikan Ani. Potongan tubuhnya sintal
padat proporsional dengan tinggi tubuhnya yang sekitar 160-an cukup membuat
Tomi tertarik perhatiannya kepada Ani.
Penampilan Ani memang lain dibandingkan dengan gadis-gadis lainnya. Ani lebih
senang menggunakan celana jeans dan baju yang ketat seperti umumnya
penampilan seorang mahasiswi sehingga lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas. Hal
itulah yang membuat para lelaki dipabrik itu sering memandangi kemolekan tubuh
Ani. Begitu pun dengan Tomi yang selalu mencuri-curi pandang melihat keindahan
dan kemolekan tubuh Ani. Hal ini tidak disadari oleh Ani karena dia lebih serius
untuk menyelesaikan tugas-tugasnya selama magang di pabrik itu.
Sesekali Tomi menyempatkan diri untuk memasang muka ramah dan bercakapcakap dengan Ani hanya sekedar menukmati kecantikan wajah gadis tersebut.
Padahal dengan karyawati atau buruh wanita yang lainnya boro-boro dia memasang
muka ramah yang ada selalu tampang sangar yang diperlihatkannya dan ucapanucapan yang jauh dari keramahan. Singkat kata Tomi telah jatuh hati berat kepada
Ani, mahasiswi cantik itu.
Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa kerja magang Ani di pabrik itu, Tomi
memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. Sore hari itu ditemuinya Ani
disebuah kantin di pabrik itu, dengan rasa percaya diri dan nekat dia utarakan
keinginannya untk menjadi pacar serta pendamping hidup Ani. Namun, pada
akhirnya keadaan berubah dan merupakan titik balik perasaan Tomi, dari rasa
cintanya kepada Ani berubah 180 derajat menjadi benci.
Cinta Tomi ditolak mentah-mentah oleh Ani. Dengan alasan selain perbedaan
agama, usia yang terpaut jauh dimana Tomi saat ini telah berusia 38 tahun
sedangkan Ani baru 19 tahun selain itu juga terdapat beberapa sifat Tomi yang
tidak cocok dengan Ani. Seperti diketahui latar belakang Tomi adalah seorang

preman, pemabok dan penjudi.


Sejak itu hati Tomi menjadi panas, kesal dan marah atas jawaban dari Ani. Didalam
hatinya tiba-tiba muncul rasa dendam terhadap Ani. Dan diapun merencanakan
akan berbuat sesuatu terhadap Ani, Hmmm tunggu tanggal mainnya gadis
sombong puih !!! batinnya.
Seminggu kemudian, pada sebuah Malam disebuah lorong yang gelap tampak
sekelompok orang berjalan mengendap-endap. Mereka ada Tomi berserta beberapa
anggota kelompok premannya. Mereka adalah Asep, Ujang, Cecep dan Afung,
tampang-tampang mereka lusuh-lusuh dan kumal-kumal, tampang khas para
preman.
Sstt sebentar lagi dia lewat kesini, bisik Tomi kepada kawan-kawannya.
Ok kita tunggu aja boss, balas Ujang.
Boss gue udah engga tahan nihh udah pingin nyodok tuh cewek, bisik Afung.
Sstt sabar boy sabarr semua pasti dapat tanda tangan hihihi, balas
Tomi.
Pokoknya gue duluan yang kasih pelajaran tuh cewek, lanjut Tomi.
Malam itu mereka memang tengah menghadang Ani pada suatu tempat didekat
tempat kost Ani. Tempat penghadangan itu memang sepi dan hanya terdapat
beberapa rumah kosong saja dan sebuah lapangan luas yang mengelilingi rumah
kost Ani. Sehingga Tomi dan kawan-kawannya merasa cocok dengan tempat itu
sebagai lokasi penghadangan.
Ani memang lebih memilih untuk tinggal disebuah rumah kost yang sepi, agar
supaya dia bisa lebih serius dalam belajar. Seminggu lamanya sejak Ani tidak lagi
magang di pabrik itu, Tomi menyibukkan diri dengan mencari data-data diri Ani
serta mengamati kegiatan-kegiatan Ani sehari-hari. Termasuk membuntutinya
pulang-pergi dari kost-kostannya menuju kekampus sehingga dia tahu betul
kegiatan serta route-route pulang-pergi Ani. Hingga akhirnya dipilihlah tempat itu
sebagai tempat yang ideal dalam menghadang korbannya.
Nah ini dia, ujar Tomi sambil menunjuk kesebuah bayangan yang mendekat
kearah mereka berkumpul.
Tak salah lagi, tepat pukul 7 malam pasti tuh cewek lewat sini lanjut Tomi sambil
tersenyum melihat sasarannya mendekat.
Tapi sejenak Tomi agak bimbang karena bayangan yang mendekat itu ternyata ada
dua sosok.
Tetapi setelah diamati secara mendalam ternyata kedua-duanya adalah sosok
bayangan wanita dan diyakini salah satu bayangan itu adalah Ani dan satu lagi juga
sosok wanita. Maka tanpa keraguan lagi dia pun mulai memutuskan untuk

menjalankan operasi penyergapan itu.


Ah itu dia pengantin wanitaku, gumam Tomi.
Okjalan kan tugas masing-masing ! awas jangan sampai luput, perintah Tomi
kepada teman-temannya.
Ada dua boss, yang satunya gimana nih ?, tanya Asep.
Ah sikat aja, jawab Tomi.
Tanpa dikomando lagi Asep, Cecep dan Afung bergerak menuju kearah gadis itu
berjalan.
Merekapun menghadang Ani beserta temannya,
Anipun nampak kebingungan mendapati dirinya dihampiri oleh empat lelaki yang
tidak dikenalnya.
Tomi hanya mengamati dari jarak sekitar 10 meter, suasanya hening sejenak. Dari
tempat Tomi berdiri sayup-sayup terdengan pembicaraan serius diantara Asep dan
Ani.
Beberapa detik kemudian suasana berubah, secepat kilat Ani diringkus oleh Cecep
dan Afung yang memiliki tubuh tegap. Sedangkan temannya diringkus oleh Asep
dan Ujang. Ani serta temannya mencoba melawan dan meronta-ronta akan tetapi
beberapa pukulan dilayangkan oleh Cecep dan Afung dan akhirnya Anipun pingsan.
Setelah itu tubuh tak berdaya itu dibopong oleh Cecep.
Sementara itu teman Ani yang juga meronta ronta dibekap dan dipukuli oleh Ujang
hingga akhirnya tak sadarkan diri pula. Lantas tubuhnya digendong oleh Asep.
Beres semuanya boss, ujar Asep kepada Tomi yang kemudian keluar dari
persembunyiannya.
Good good, ayo lekas kita bawa ke rumah kosong itu, perintah Tomi.
Penghadanganpun berjalan dengan sukses, sasaran telah dilumpuhkan dan kini siap
diproses. Didalam rumah kosong itu tubuh Ani dan temannya dibaringkan
disebuah dipan kayu. Kedua tangannya Ani diikat kebelakang.
Setelah lampu diruangan itu dinyalakan, kelima orang yang telah dirasuki nafsu
itupun menggunam terkagum-kagum melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Ani
yang tengah tergolek pingsan. Dia menggunakan kaos lengan panjang serta jeans
birunya yang kesemuanya berukuran ketat sehingga kemolekan tubuhnya terlihat
jelas. Ternyata Tomi mengenali sosok wanita satunya yang juga ikut dilumpuhkan
tadi.
Ah gue inget ini kan si Dina, temannya Ani wah wah sial sekali nasibnya,
ujar Tomi.

Dina memang teman akrab Ani, usianya lebih muda dari Ani yaitu 16 tahun, dan
masih duduk dibangku kelas 2 SMU. Dina adalah keponakan dari pemilik kost
dimana Ani tinggal.
Dina juga memiliki wajah yang manis, tubuhnya mungil namun padat.
OK jatah gue si Ani ini pengantin gue, yang satunya boleh elo sikat, balas Tomi.
Ok sekarang elu-elu pada nyingkir deh, silahkan elo bikin pesat sendiri sama si
Dina itu, dan jangan ganggu malam pengantin gue, OK!, ujar Tomi kepada temantemannya.
Sip boss kita bikin pesta sendiri, ujar Asep. Dan menyingkarlah ke-4 temanteman Tomi sambil membopong Dina.
Hmmm sayangku mari kita nikmati malam pengantin kita sayang, bisik Tomi
kepada Ani yang tengah pingsan.
Dengan senyum kemenangan Tomi memandangi gadis itu yang tengah tergeletak di
sebuah dipan kayu.
Akhirnya aku dapatkan kau ujarnya dalam hati.
Kedua tangannya bergerak meraba Payudara gadis itu. Mulanya pelan-pelan hingga
lama kelamaan semakin keras, bahkan kini kedua tangannya dengan ganas
meremas-remas payudara Ani yang kalau terlentang terlihat membukit.
Setelah puas meremas-remas payudara Ani, kini Tomi mengeluarkan pisau lipatnya
yang memang selalu dibawanya kemana-mana sebagai senjata. Dengan kasarnya
kemudian Tomi merobek-robek baju kaos lengan panjang Ani, hingga tinggal bh
putihnya saja yang menutupi kedua payudaranya. Namun akhirnya diputuskannya
tali bh itu dan dicampakannya bh itu kelantai sehingga kini terlihatlah kedua
gundukan indah payudara Ani. Setelah itu serta merta dengan bernafsu dikulumnya
dan dijilat-jilatnya kedua payudara itu dengan sesekali digigit-gigitnya kedua puting
payudara itu.
Puas dengan bagian payudara kini Tomi melepas celana jeans yang dikenakan Ani,
sreett sekali tarik terlihatlah bagian bawah dari Ani dengan celana dalamnya yang
berwarna putih. Kedua mata Tomi kembali terbelalak melihat pemandangan indah
itu, diusap-usapnya kedua paha putih Ani juga gundukan dipangkal pahanya itu.
Sedang asyik asyiknya mengusap-usap gundukan kemaluan Ani, tiba-tiba terdengar
suara kegaduhan dari ruang sebelah. Tomipun menghentikan aktifitasnya lalu
bangkit seraya berlari mendekati arah suara itu. Sesampainya disuatu ruangan asal
muasal suara itu, matanya kembali terbelalak melihat pemandangan erotis yang
tengah terjadi diruangan itu. Jantungnya berdetak keras, birahinya memuncak
melihat pemandangan diruangan itu. Diruangan itulah Tomi melihat Dina yang
rupanya telah sadar tengah dibantai oleh Asep, Ujang, Afung dan Cecep.

Tubuh Dina yang dengan posisi merangkak nampak tengah disodomi dari belakang
oleh Asep yang memiliki badan yang jauh lebih besar daripada Dina. Asep dengan
sangat keras dan kasarnya mengocok-ngocok batang kemaluannya didalam lobang
anus Dina. Mula-mula Dina meraung-raung ampun-ampunan karena kesakitan,
namun teriakan-teriakannya tidak berlangsung lama karena kemudian dimulut Dina
telah tertanam batang kemaluan Ujang. Ujang memposisikan dirinya didepan Dina,
setelah berhasil menyumpalkan batang kemaluannya didalam mulut Dina kemudian
dengan tangan kirinya yang memegang kepala Dina dia paksa kepala Dina untuk
bergerak maju mundur.
Ujang dan Asep nampak sangat menikmati keadaan itu, mereka mendesah-desah
merasakan nikmatnya bagin-bagian tubuh Dina itu. Tak berapa lama kemudian
merekapun berejakulasi. Asep menyemburkan spermanya didalam lubang anus
Dina dan sejenak kemudian Ujang memuntahkan cairan spermanya didalam mulut
Dina. Nampak Dina megap-megap dibuatnya di saat harus menelan cairan sperma
Ujang yang cukup banyak.
Setelah itu kedua orang tadi menyingkir dan posisinya digantikan oleh Cecep.
Cecep ini baru berusia 23 tahun, namun perawakannya besar dan tinggi, batang
kemaluannyapun nampak telah mengacung membesar dan siap menelan mangsa.
Kini Cecep bersiap-siap menyetubuhi Dina, direntangkannya tubuh Dina yang
kepayahan itu dan langsung ditindihnya. Oouugghhh, Dina melengking disaat
kemaluan Cecep yang besar itu melesak kedalam liang vaginanya. Pemandangan
ini sudah cukup untuk membangkitkan birahi Tomi diapun berjalan meninggalkan
ruangan pembantaian Dina itu dan kembali menghampiri Ani pasangannya.
Tiba-tiba Ani terbangun dan membuka mata. Ani kaget mendapati kedua tangannya
terikat dan keadaan tubuhnya hanya tinggal celana dalam. Dan lebih kaget lagi
ketika dihadapannya melihat Tomi tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan dirinya
yang tak berdaya.
Rasain deh lu, makanya jadi cewek jangan sombong. Jadi terpaksa elu gua kerjain
deh? Tomi berbicara.
Kepaksa, malam ini elo harus bisa memuaskan gue, kekasih elo lanjutnya.
Ani semakin takut karena dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, badannya
mulai gentar, mukanya memucat. Air matanya mulai meleleh seiring dengan katakata ampunan yang keluar dari bibirnya.
Pak Tomi ampun pak jangan sakiti aku, pintanya sambil terisak-isak.
Permohonannya ini nampaknya semakin membuat Tomi terangsang.
Satu persatu dilepaskannya baju dan celananya hingga akhirnya telanjang bulat.
Badan Tomi nampak gemuk dengan perut yang membuncit, beberapa gambar tatto
nampak menghiasi tubuhnya.
Kemaluannya nampak telah menegang keras, ukuran juga besar dengan ujungnya
yang telah basah. Ani semakin merintih-rintih ketakutan, dia pejamkan matanya
sambil terus menangis. Dia sadar akan diperkosa. Tomi kemudian bergerak

mendekati Ani dan meraih kepala Ani. Belum sempat berteriak, mulut Ani tiba-tiba
dijejali dengan batang kemaluannya yang sudah menegang dan membuat gadis itu
tersedak.
Ani berusaha terus menutup mulutnya namun setelah jempol dan jari telunjuk Tomi
menutup lobang hidung Ani, diapun membuka mulutnya sebagai reaksi karena
kekurangan oksigen. Langsung mendapat kesempatan itu dihujamkannya batang
kemaluannya kedalam mulut Ani. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena Tomi
memegang kepala gadis itu. Rasa mual membuat Ani hampir muntah dan berusaha
melepaskan kemaluan Tomi di mulutnya. Tomi gerak-gerakkan batang kemluannya
di mulut gadis itu, maju-mundur dan diputar-putar didalam rongga mulut Ani.
Selama sepuluh menit Tomi menjejali mulut gadis itu dengan batang kemaluannya.
Puas dengan itu kemudian Tomi mengeluarkan kemaluannya dari mulut gadis itu.
Ani langsung mencoba berteriak tapi Tomi cepat-cepat membekap mulutnya dan
berkata, Diem lu, jangan berteriak atau gue bunuh kamu?, sambil menempelkan
pisau lipatnya. Ani terdiam karena takut ancaman itu. Dan hanya bisa menangis
sampai gadis itu kelelahan dan lemas. Setelah sejenak menikmati wajah Ani, kini
Tomi menurunkan celana dalam putih Ani dan melemparkannya ke lantai, Anipun
hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.
Gile, memek elo bagus banget waw indah sekali? bisik Tomi kepada Ani.
Memang gadis seusia Ani memiliki kemaluan yang indah, masih perawan, bulubulunyapun tipis dan halus-halus tumbuh rapih berjajar disekitar lobang vaginanya.
Kedua tangan Tomi kembali meremas-remas payudara gadis itu. Ani menjerit-jerit
ketika Tomi memijat-mijat putting susunya. Kembali Ani berteriak lagi, kembali pula
Tomi ancam Ani Lu bisa diem ngga!?.
Sekarang, Lu harus nyobain kontol gue inipasti nikmat.? Tomi berkata.
Kita jadikan malam ini sebagai malam pengantin kita, hahaha, sambungnya.
Jangaaan pak oouuhh jangaaan, ampuunn pakk ? Ani memelas.
Tapi Tomi tak peduli dengan ucapan gadis itu.
Diapun jongkok didepan Ani, dia angkat pahanya dan melebarkannya. Kepala Tomi
menunduk memperhatikan kemaluannya Ani yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.
Kepalanya bergerak dan mulutnya mulai menjilati kemaluan gadis itu.
Mendapatkan perlakuan itu badan Ani langsung menggeliat-geliat suaranya
terengah-engah merasakan kemaluannya kegelian karena dijilati. Hanya suara
erangan gadis itu saja yang terdengar, Ehhmmhh engghh ouuhhh oohh
dst. Sementara mulut Tomi terus menjilati kemaluan Ani, tangannya bergerak ke
atas dan memijat-mijat payudara Ani serta mempermainkan putting susu gadis itu..
Ani menggeliat antara sakit, geli dan takut.
Tiba-tiba Ani mengangkat pinggulnya dan mendesah lemah. Rupanya Gadis itu

telah orgasme. Dari vagina gadis itu keluar cairan. Ketika melihat bibir vagina gadis
itu telah basah, cepat-cepat Tomi mengarahkan kontolnya yang sudah menegang
dan mendekatkannya ke bibir vagina gadis itu. Sambil memegang pinggul gadis itu,
Tomi melesakkan batang kemaluannya.
DanAahhh sssakittt oouughhh a.. ammpunn pak.. oouhhh, Ani
merintih tajam tubuhnya menegang kaku menahan rasa sakit dipangkal pahanya.
Walaupun dengan susah payah akhirnya Tomi berhasil menanamkan batang
kemaluannya masuk amblas ke dalam lubang kemaluan Ani. Ani menjerit kesakitan,
badannya meregang kesakitan. Sejenak Tomi merasakan kenikmatan hangatnya
lobang kemaluan Ani dan merasakan denyut-denyut dinding kemaluan Ani serasa
memijat-mijat batang kemaluannya.
Akhirnya Tomipun mulai mengerakkan kemaluannya maju mundur. Tangannya
memegang pundak gadis itu sedang mulutnya menciumi bibir dan pipi Gadis itu.
Ani mendesah-desah dan mengerang-erang membuat Tomi semakin bergairah dan
mempercepat gerakan memaju-mundurkan kemaluannya itu. Oohh oouufffh
ooouuh aahh dst, Ani mengerang-ngerang. Tubuh keduanya telah dibanjiri oleh
peluh seolah-olah mereka sedang mandi.
Puas dengan posisi itu kini Tomi mencabut kemaluannya dan membalikkan tubuh
Ani. Dan memposisikan tubuh telanjang gadis itu seperti Anjing. Dari arah belakang
kembali Tomi menghujamkan kontolnya yang kini ke dalam liang dubur gadis itu.
Aaakhhh!!!, Ani kembali memekik kesakitan, badannya kembali mengejang
keras menahan sakit yang teramat sangat ketika liang anusnya dibobol oleh
kemaluan Tomi.
Setelah tertanam, Tomi kembali memompa dengan gerakan yang semakin cepat.
Kedua tangan Tomi yang besar semakin kasar meremas-remas susu gadis itu. Ani
semakin mengerang-ngerang kesakitan. Tapi Tomi tak peduli. Terus saja Tomi maju
mundurkan pinggulnya dengan cepat. Sadar dirinya akan mencapai klimaks, Tomi
mencabut batang kemaluannya dari lobang dubur Ani. Setelah itu dihempaskannya
tubuh Ani hingga kembali terlentang. Kembali Tomi menancapkan batang
kemaluannya didalam liang vagina Ani yang telah dibasahi oleh cairan
kewanitaannya yang bercampur darah perawannya.
Blessbatang kemaluan Tomi menghujam masuk tanpa kesulitan, kembali
digenjotnya tubuh Ani dengan cepat dan kasar, sampai-sampai dada Tomi
menghantam-hantam wajah Ani yang meringis-ringis kesakitan. Kini Tomi
menggoyang tubuh Ani dengan hebat hingga tubuh Ani terbanting-banting disodok
oleh Tomi. Sampai akhirnya saat yang ditunggu-tunggu oleh Tomi, kini tubuh Tomi
mengejang, wajahnya menyeringai menengadah keatas, otot-ototnya mengeras
dan akhirnya dia menyemprotkan spermanya di vagina gadis itu, Croottt crrottt
crrottt jumlahnya banyak sekali.
Oogghhh ahh, Tomi memekik puas sambil terus menyemprotkan spermanya
memenuhi rongga vagina Ani sambil kedua tangannya mencengkram erat pinggul
Ani.

Anipun tiba-tiba mendesah panjang ooouuuuhhgggg, sambil menerima


tumpahan sperma Tomi yang melimpah ruah itu hingga meluber keluar dari sisi-sisi
rongga kemaluannya badannyapun mengejang dan bergetar, sepertinya diapun
mengalami ejakulasi sesuatu yang baru dialaminya seumur hidup.
Beberapa detik kemudian setelah sama-sama mengalami orgasme tubuh kedua
insan itupun melemas, tubuh Tomi jatuh menindih tubuh Ani. Kini hanya suara nafas
kedua insan itu yang saling memburu menghiasi akhir dari pergumulan itu. Setelah
diam selama 15 menit, Tomi kemudian bangkit dari atas tubuh Ani serta
melepaskan kontolnya, Ooohhh, Ani mendesah panjang disaat Tomi mencabut
batang kemaluannya yang beberapa menit lamanya mengisi rongga kemaluannya.
Sayang gimana rasanya ? enak kan ?, tanya Tomi kepada Ani.
Anipun diam seribu bahasa dan memalingkan wajahnya dari pandangan Tomi.
Ayo sini sayang ada lagi tugas buat kamu, ujar Tomi serta meraih dan
mengangkat kepala gadis itu untuk kemudian memaksa Ani menjilati batang
kemaluan Tomi yang masih basah oleh sperma dan darah.
Anehnya Ani hanya pasrah dan menuruti saja perintah Tomi tadi secara perlahanlahan diraihnya betang kemaluan Tomi yang kembali menegang itu dan kemudian
dijilat-jilat serta dikulumnya batang kemaluan Tomi bak makan permen sampai
bersih.
Setelah selesai dan merasa puas, Tomi bangkit dan membiarkan tubuh Ani yang
telanjang itu terjatuh lemas. Tomi bergerak mendekati Ani yang masih lemah dan
membisikkan kata-kata mesra di telinganya
Kamu hebat sayang aku cinta sama kamu.
Karena dilihat Ani terkulai lemas dan sepertinya tertidur karena kecapaian, maka
Tomi memutuskan untuk meninggalkannya dulu. Tomi ingin melihat kegiatan di
ruangan lain dimana tadi terjadi pembantaian itu.
Sesampainya dirungan yang ditujunya mata Tomi terbelalak ketika melihat
pemandangan yang ada diruangan itu. Teman-temannya nampak tidur tiduran
sambil melepas lelah setelah membantai Dina yang tubuh telanjang Dina nampak
tergeletak dengan posisi telentang dilantai, kedua kakinya mengangkang lebar
dengan lutut tertekuk. Setelah diamati dari dekat oleh Tomi ternyata kondisi Dina
sangat mengenaskan dia telah diperkosa secara buat oleh teman-temannya,
mulutnya dipenuhi oleh cairan sperma yang mengental sampai meluber disekitar
mulut dan pipinya. Rupanya oleh teman-temannya Tomi Dina dipaksa melakukan
oral sex dan mereka telah menumpahkan spermanya didalam mulut Dina.
Matanya nampak sayu serta nafasnya terdengar pelan terengah-engah. Kuturunkan
tatapan mataku keseputar payudaranya yang berukuran tidak begitu besar, disitu
terdapat banyak bekas-bekas gigitan dan salah satu putingnya nampak berdarah,
disitu juga terdapat tumpahan sperma yang telah mengering. Dan akhirnya kutatap
kemaluan gadis itu, kondisinya rusak parah, kemaluannya sudah memerah dan

membengkak, banyak ceceran darah dan sperma didaerah itu. Tomi menggelenggelangkan kepalanya melihat kondisi Dina.
Tiba-tiba Asep bangkit dia menyalakan rokoknya dan kemudian menyelipkannya
dibibir kemaluan Dina.
Tomi dan Aseppun tertawa terbahak-bahak, Kasihan dia sudah bekerja keras
memuasin kita-kita orang ini, aku kasih dia rokoklah, ujar Asep.
Eh sebentar gwe mau kencing dulu, ujar Asep berjalan meninggalkan ruangan
pembantaian Dina sambil mengakhiri tawanya.
Diruangan itu pula Tomi bergerak kearah tumpukan pakaian Dina yang berserakan
dilantai, dia rupanya tertarik dengan tas punggung Dina. Dengan rasa penasaran
dia buka-buka isi tas Dina, membaca buku hariannya, membuka-buka dompet Dina,
memerika ponsel milik Dina, kurang lebih 5 menit lamanya dia buka-buka itu
semua. Sedang asyik-asyiknya dia membuka-buka buku Dina, tiba-tiba dia
dikejutkan dengan teriakan diruangan samping. Serta merta dia berlari menuju
kearah situ.
Kembali mata Tomi terbelalak serta menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala
melihat Asep ternyata tengah asyik menyetubuhi Ani.
Sss sorry.. b.. boss.. gwe kagak tahan lihat cewek cantik ini, ujar Asep
sambil terus memompakan kemaluannya didalam kemaluan Ani.
Oouuhhh aaahhh jj jangann kasar kassarr oohh oohh, Ani kembali
merintih-rintih sambil tubuhnya terhempas-hempas sebagai akibat sodokansodokan keras Asep.
D.. diem luh rasain aja.. kontol gue inii aakkhh akhh.. fuck ! ohh
fuck!!, ujar Asep sambil terus menggenjot tubuh Ani.
Akhh oouhhh oh a.. ampunn oohh, Ani merintih-rintih dengan tubuh
yang terhempas-hempas wajahnya meringis menahan rasa ngilu
diselangkangannya.
Sepuluh menit lamanya tubuh Ani disetubuhi oleh Asep, hingga akhirnya Asep
memuntahkan spermanya di lubang kemaluan Ani.
Asep terlihat sangat puas sekali dan diapun kemudian menjatuhkan dirinya disisi
Ani yang kembali tubuhnya melemas. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam
saat mereka tersadar akan waktu yang semakin mepet, tidak terasa sekian lamanya
mereka mengerjain kedua gadis itu serasa waktu berlalu cepat.
Tiba-tiba birahi Tomi bangkit kembali, didekatinya kembali tubuh Ani yang tertidur
kerena kecapaian itu dan dibangunkannya Ani dari tidurnya.
Hoeii bangunnn, bentak Tomi kepada Ani.

Oohhh, Anipun terbangun.


Sayangku layanin aku lagi ya, bisik Tomi dengan tersenyum.
Pedangku udah bangkit lagi nihgara-gara kamu sih yang menggairahkan
sekali, lanjutnya.
Mimik wajah Anipun berubah menjadi cemas, matanya mulai berkaca-kaca.
Pak.. Tomi Ani udah engga kuat pak rasanya sakittt sekali jangann pak..
tolong, ujar Ani dengan suara yang lirih.
Peduli setan , balas Tomi seraya memposisikan dirinya diatas tubuh Ani.
ooohhh oohh, Ani mendesah panjang tatkala Tomi menanamkan kembali
kemaluannya didalam lobang kemaluannya. Kembali tubuh Ani digenjot, disetubuhi
secara kasar oleh Tomi.
Ani hanya bisa pasrah, air matanya berlinangan, tubuhnya lemah hanya mengikuti
irama gerakan dari Tomi yang tengah menyodok-nyodokkan kemaluannya.
Dan setelah beberapa menit lamanya Tomi kembali berejakulasi dilobang kemaluan
Ani cairan hangatnya menyembur membasahi rahim Ani.
Rasa puas nampak di raut wajah Tomi, Hahahaakhirnya aku berhasil
mendapatkanmu gadis cantik.
Gue mau tanya ke elu yang terakhir kalinya, mau engga elu jadi istri gue hah ?
Ani hanya diam membisu sambil menangis.
Kalo elu engga mau, gue suruh temen-temen gue perkosa elu sampai mati !,
ancam Tomi.
Inget memek elu udah gue siram ama peju gue, dan sebentar lagi elu hamil, ujar
Tomi.
Kurang lebih setengah jam lamanya Tomi merayu Ani, kadang terdengar
bentakan-bentakan, kadang Tomi menampar wajah Ani, kadang dengan kata-kata
halus, yang jelas Tomi terus meneror hati Ani.
Rupanya bujuk rayu dari Tomi tak membuahkan hasil sementara waktu sudah
menunjukkan pukul 2 dinihari.
Akhirnya Tomi mempersilahkan teman-temannya untuk mencicipi tubuh Ani.
Rasain tuh kontol-kontolnya temen-temen gue biar mampus elu, cewek
sombong !, ujar Tomi dengan mencibir.
Tanpa membuang waktu lagi keempat teman Tomi mulai menjamah tubuh Ani.

Mereka mulai memperlakukan Ani seperti Dina. Mulai dengan Afung yang langsung
menyodomi Ani setelah itu vagina Ani kembali dihajar oleh kemaluan milik Ujang,
juga mulut Ani dipaksa mengulum batang kemaluannya Cecep dan setelah
berejakulasi menelan spermanya, terakhir ketika Ani telah kepayahan Asep kembali
menyetubuhi Ani. Kini keadaan Ani tidak jauh beda dengan Dina, seluruh wajah
badan dan kemaluannya yang telah membengkak penuh dengan cairan sperma.
Kini waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi, seluruh pemerkosa tadi telah
berpakaian lengkap dan rapi. Sebelum mereka pergi, mereka menggotong tubuh
Ani untuk disatukan dengan Dina. Kedua tubuh yang tak berdaya itu kini tergolek
lemah, keduanya diposisikan terlentang sejajar dengan kondisi tubuh mereka yang
telanjang bulat. Sebelum pergi Tomi mengecup kening Ani dan Asep kembali
menyelipkan sebatang rokok yang menyala dikemaluan Ani juga Dina. Dengan
diiringi tawa serta canda kelima pemerkosa itu pergi meninggalkan rumah kosong
tempat dimana tubuh Ani dan Dina tergolek pingsan.

JANDA SEMPIT
Cerita Dewasa Pengalaman sex ngentot janda ini telah terjadi beberapa tahun
yang lalu. Ini merupakan pengalamanku yang pertama kali berhubungan sex
dengan wanita yang lebih tua dariku. Karena aku biasanya ngentot dengan gadisgadis belia, apalagi dengan cewek-cewek abg yang masih smp pasti hasrat sex dan
nafsu ngentot ku bakal tak terbendung. Karena itu cerita ngentot wanita dewasa
janda ini merupakan pengalaman spesial dan baru bagiku. Simak saja cerita dewasa
berikut ini untuk mengetahui jalan ceritanya.
Aku mempunyai saudara sepupu bernama Monica yang umurnya kurang lebih 45
tahun. Dia sudah menjanda selama tiga tahun. Sekarang dia tinggal di salah satu
perumahan yang tidak terlalu besar maupun kecil. Kebetulan anak dari sepupuku ini
sudah ditempat kost, karena mereka lebih dekat dari tempat kuliahnya. Aku kadangkadang mampir ketempatnya, untuk mengobrol maupun mendengar keluh kesah
dia, karena dari kecil kami sangat akrab.
Suatu saat aku mampir, terlihat beberapa teman sepupuku yang sedang bertamu.
Biasanya aku langsung ke ruang tamu dibelakang, membaca koran, majalah atau
menonton televisi. Karena aku pikir mereka sedang mengobrol seputar cowok atau
mengenai salon. Lalu aku dipanggil oleh sepupuku untuk diperkenalkan kepada
teman-temannya.
Kenalin nich Mbak Rika dan Mbak Nita kata sepupuku.
Aku menjabat tangan satu persatu teman sepupuku ini. Karena mereka sepertinya
sangat santai sekali cara mengobrolnya, aku agak sungkan lalu aku ke belakang
kembali. Kudengar cara mereka bicara seperti anak-anak seumur tujuh belas tahun,
mungkin bila di depan anak-anak mereka, tidak begitu cara mereka berbicara.
Mereka tinggal di perumahan Bintaro, bila dengar cerita sepupuku Mbak Rika baru
enam bulan ini ditinggal oleh suaminya karena kecelakaan pesawat terbang,

sedangkan Mbak Nita adalah seorang istri pejabat yang sering ditinggal suaminya
keluar negeri. Mbak Rika mempunyai tubuh padat, kulit putih, tinggi kurang lebih
165 cm. Sedangkan Mbak Nita agak langsing dengan payudara yang agak lumayan
menonjol serta mempunyai warna kulit yang sama dengan Mbak Rika.
Mon aku pulang dulu yach, tuch sudah dijemput anakku, masalahnya aku mau ke
Bogor ada acara arisan kata Mbak Nita.
Lho aku pulang dengan siapa nich sela Mbak Rika.
Gampang nanti diantar oleh adik gue jawab Monica seraya menepuk bahuku.
Wach enggak ngerepotin nich Mas kata Mbak Rika kembali.
Enggak koq Mbak jawabku.
Lalu aku disuruh menemani Mbak Rika mengobrol, karena sepupuku Monica hendak
mandi. Kulihat Mbak Rika memakai rok hitam serta blazer berwarna pink, duduk
santai dikarpet membaca majalah sambil meluruskan kakinya. Kulihat begitu bening
kulit dipahanya. Lalu kami mengobrol panjang lebar, tapi kulihat dari pandangan
Mbak Rika agak sedikit genit, sehingga membuatku pusing juga. Setelah Monica
selesai mandi, Mbak Rika mohon pamit.
Mas tolongin dong, maklum nich sudah tua sambil minta tolong kepadaku supaya
meraih kedua tangannya untuk berdiri.
Ha ha ha Rika.. Rika.. Makanya minum jamu dong ledek Monica terhadapnya.
Aduch.. Koq begini yach pinggangku jawab Mbak Rika sambil menunduk
memegang pinggangnya.
Nach lho.. Kenapa nich tanya Monica.
Enggak tahu nich jawab Mbak Rika.
Lalu aku tuntun Mbak Rika ke dalam mobil.
Ok. Mon.. Sampai lusa yach bye.. bye..
Dalam perjalanan Mbak Rika duduk di depan, menemaniku membawa mobil, dia
juga minta izin kalau dia mau rebahan sambil menurunkan sandaran jok
kebelakang. Kadang kucuri pandang paha Mbak Rika yang agak tersingkap dari
roknya.
Mas sepertinya pinggangku agak salah urat nich saat duduk di karpet tadi
Wach itu harus cepat-cepat diurut lho.. Mbak kataku.
Tapi mau cari tukang urut dimana, malam-malam begini kata Mbak Rika.
Memang anak-anak Mbak enggak ada yang bisa mengurut Mbak? tanyaku
memancing.
Mereka semua di Jogya Mas, kuliah disana jawabnya.
Yach kalau enggak keberatan, aku bisa sich mengurut pinggang Mbak Rika
pancingku lagi.
Yach udach.. jawabnya mengangguk.
Singkat cerita aku menunggu Mbak Rika diruang tamu, karena dia sedang ganti baju
sambil membuatkan aku teh manis. Mbak Rika keluar dari ruang tengah sambil
membawa cangkir minuman untukku, dengan hanya mengenakan daster yang
amat tipis, sehingga secara samar-samar terlihat BH serta celana dalamnya. Wach

tambah pusing aku dibuatnya.


Minum dulu dech Mas sapa dia.
Lalu aku diajak ke dalam kamar Mbak Rika, untuk diurut.
Mas bagian sini nich sambil Mbak Rika mengangkat dasternya hingga kebahunya
dalam keadaan terlungkup ditempat tidur.
Memang Mbak Rika ini mempunyai tubuh yang padat, hingga kedua belah bagian
pantatnya tampak tersembul ke atas, dan yang lebih gilanya dia memakai celana
dalam yang model belakangnya hanya seutas tali yang menyelip diantara kedua
belah pantatnya. Tak disangka hari ini aku menikmati pemandangan yang luar biasa
indahnya. Lalu aku mengambil minyak dari keranjang yang telah dia sediakan,
didalam keranjang itu juga ada beberapa botol alat-alat untuk mandi. Aku mulai
menggosok bagian pinggangnya dan kadang-kadang tanganku kusentuh pada
bongkahan daging pada kedua belah pantatnya. Dia rupanya sangat menikmati
urutan tanganku dipinggangnya, hingga dia terlelap tidur.
Mbak gimana sudah agak enakan enggak? tanyaku.
Dia kaget terbangun lalu, dia berkata Mas bisa tolong sekalian betis kakiku enggak,
masalahnya agak pegal-pegal juga nich
Yups.. jawabku singkat.
Tampak Mbak Rika agak merenggangkan kedua belah kakinya dan tetap dalam
posisi terlungkup, tampak sekilas kulihat pinggiran lubang vagina Mbak Rika
tersembul diantara celana dalamnya yang memang hanya berbentuk segitiga pada
bagian depannya. Aku lalu menukar minyak gosok dengan body oil dalam keranjang
diatas meja dekat tempat tidur Mbak Rika. Aku mulai menggosok dari betis ke arah
paha dengan melumurkan body oil agak banyak. Terus kuurut kedua belah betis
Mbak Rika hingga sampai kedua belah pahanya.
Mas urutnya agak ditekan sedikit dibagian sini Mas, soalnya pegel amat sich kata
Mbak Rika sambil menunjuk antara paha dan pantatnya dibagian belakang, lalu dia
juga membuka tali dari celana dalamnya dan menariknya lalu ditaruhnya dekat
bantal dikepalanya. Makin jelas sudah kulihat vagina Mbak Rika dari bagian
belakang dan tampaknya bulu-bulu jembutnya dicukur bersih olehnya. Aku mulai
menekan pantatnya dengan kedua jempolku, dan kadang-kadang aku sentuh
lubang anus Mbak Rika dengan sentuhan halus.
Och.. tampak Mbak Rika mulai mendesah.
Aku tuang body oil banyak-banyak dikedua bongkahan daging dipantatnya, lalu aku
mulai menggosoknya turun naik dari kedua pahanya. Lalu Mbak Rika menyuruhku
menaruh body oil ditelapak tanganku, lalu dipegangnya tanganku dan ditaruh
disela-sela lubang kemaluannya.
Mas tolong gosok dibagian ini yach Mas pintanya.
Lalu aku mulai menggosok bibir kemaluannya mulai dari lubang anus Mbak Rika.

Och.. Mas teruskan Mas.. Och..


Kulihat Mbak Rika mulai terangsang oleh sentuhan-sentuhan kelima jariku. Tanpa
buang waktu sambil menggosok body oil kumasukan jari tengahku ke dalam lubang
kemaluannya, terus kulalukan beberapa kali, dan kulihat kedua tangan Mbak Rika
meramas keras sprei ditempat tidurnya. Tiba-tiba Mbak Rika bangun dari tempat
tidurnya lalu menyerangku dengan ciuman dibibirku sambil mempermainkan
lidahnya. Dan dia berbisik.
Mas aku buka bajunya yach
Aku hanya mengangguk tanda setuju. Dilepaskannya baju dan celanaku, hingga tak
selembarpun benang menempel ditubuhku.
Daster Mbak aku buka juga yach
Diapun mengangguk setuju. Aku disuruhnya duduk disamping tempat tidurnya, lalu
disodorkan kedua belah buah dadanya kemulutku, dan aku sambut dengan
melumat kedua belah bongkahan daging kenyal didadanya. Tangan kananku juga
sudah bermain disekitar vagina Mbak Rika, tampaknya bekas body oil yang tadi
sudah bercampur dengan cairan bening dilubang kemaluan Mbak Rika. Dia makin
mendekap kepalaku kedadanya, dan kadang-kadang pinggulnya menghentakhentak ke arahku, saat jari-jariku keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya.
Lalu dia jongkok dihadapanku dan mulai memasukan penisku ke dalam mulutnya,
tampak penisku hilang ditelan oleh gumulan mulutnya hingga masuk menyentuh
tenggorokannya. Rasa nikmat mulai menjalar keubun-ubun kepalaku. Lalu dia
permainkan lidahnya pada ujung bagian bawah penisku. Wach sangat pintar sekali
pikirku Mbak Rika ini cara merangsang laki-laki.
Mas mau khan gantian pintanya.
Aku mengerti bahwa Mbak Rika minta dijilati vaginanya. Lalu dia mengambil handuk
kecil, disemprotnya handuk tersebut dengan minyak wangi, yang kutahu bukan
minyak wangi lokal, lalu dibersihkan selangkangannya dengan handuk tersebut.
Lalu diapun tidur terlentang dengan mengganjal pantatnya dengan dua buah bantal
tidurnya. Maka tampak jelas lubang kemaluan Mbak Rika yang telah mempunyai
bibir disisi kanan kirinya dengan warna merah kecoklat-coklatan. Dan tampak pula
lubang anus Mbak Rika yang sudah berwarna coklat tua, pasti dia pernah bermain
anal sex juga nich pikirku. Dan memang tidak terlihat sehelai rambutpun disekitar
kemaluan dan anusnya.
Lalu aku mulai jilat bibir kemaluan Mbak Rika, dan memang tidak tercium bau yang
aneh-aneh, berarti memang Mbak Rika sangat rajin merawat tubuhnya. Dia mulai
menggelinjang diatas tempat tidurnya, saat kusapu kemaluannya dengan lidahku.
Lalu aku oleskan telunjukku dengan body oil, dan kumasukan pelan-pelan ke dalam
lubang anusnya, berbarengan dengan lidahku mempermainkan kelentitnya.
Och.. Och.. Och..!!

Tampak teriakan Mbak Rika sepertinya tidak menghiraukan akan ada orang lain
yang mendengarkannya.
Teruskan Mas.. Jangan berhenti.. Och.
Terus kupermainkan kedua lubang Mbak Rika, akhirnya dia memintaku untuk
memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. Mas.. Pakai kondom yach..,
itu ambil didalam laci
Ternyata didalam laci kulihat bukan hanya kondom, tetapi ada beberapa penis yang
terbuat dari karet elastis juga terdapat didalamnya. Setelah kupakai kondom,
kumasukan penisku ke dalam kemaluannya, langsung aku hentak keras beberapa
kali lubang kemaluannya. Iapun mengimbangi dengan mengangkat pantatnya
tinggi-tinggi, terus kulakukan permainan keras tersebut selama tiga puluh menit,
hingga kulihat Mbak Rika tidak lagi melakukan perlawanan. Sedangkan penisku
belum ada tanda-tanda mau mengeluarkan pejunya, lalu aku cabut penisku dari
lubang kemaluan Mbak Rika. Perlahan-lahan aku masukan ke dalam lubang anus
Mbak Rika sambil meneteskan body oil dibagian atas penisku.
Pelan-pelan Mas..
Terus aku tekan penisku hingga terpendam habis dilubang anus Mbak Rika, dan
pelan-pelan juga aku tarik, lalu aku masukan kembali, sampai Mbak Rika tidak
membuat reaksi tanda sakit dilubang anusnya. Aku mulai menggenjot tanpa henti
penisku ke dalam lubang anusnya, dan karena tidak selonggar lubang kemaluan
Mbak Rika, pejuku mulai berlomba-lomba ingin keluar.
Dan saat pejuku hendak muncrat kutekan penisku dalam-dalam sambil mencium
bibir dan merangkul tubuh Mbak Rika kuat-kuat. Setelah itu aku terkulai disisi tubuh
Mbak Rika. Dan kulihat Mbak Rika mencabut kondomku lalu membersihkan penisku
dengan handuk kecilnya. Lalu iapun merangkul diriku, sambil berbisik.
Jaga rahasia kita berdua ini yach Mas..
Akupun mengangguk lalu kukecup keningnya, sambil merangkulnya erat-erat.

CWE DUGEM BISPAK


Namaku Tina. Usiaku 16 tahun. Aku sekolah di sebuah SMU swasta terkenal di
Surabaya. Sudah hampir setahun ini hidupku penuh berisi kesenangan-kesenangan
yang liar. Dugem, ineks dan seks bebas. Sampai akhirnya aku terjerumus dalam
ambang kehancuran. Terombang-ambing dalam ketidak pastian. Aku bingung apa
yang kucari. Aku bingung harus kemana arah dan tujuanku. Apa yang selama ini
kulakukan tidak memberikan kemajuan yang positif. Bahkan aku nyaris gila.
Siapakah aku ini?
Sejujurnya aku menyesali kondisiku yang seperti ini. Keterlibatanku dengan narkoba

telah membawaku ke dalam kehidupan yang kelam. Sungguh kejam! Aku jadi
berangan-angan ingin kembali ke kehidupan lamaku dimana aku belum mengenal
narkoba. Saat itu begitu indah. Orang tuaku sayang padaku. Andrew pacarku
dengan setia berada disisiku. Dan dia selalu datang untuk menghibur dan
menemaniku.
Aku jadi ingat pada hari-hari tertentu, teman-teman sekolahku datang main ke
rumah untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar berkumpul. Kalau lagi ada
pacarku, mereka selalu menggoda kami sebagai pasangan serasi. Padahal
menurutku kami bertolak belakang. Aku pemalu dan mudah merajuk. Sedang
pacarku biang kerok di sekolah dan tidak tahu malu. Aku berprestasi dalam
pelajaran tapi kurang menguasai bidang olah raga. Sedangkan dia berprestasi
dalam olah raga namun malas belajar. Tinggiku sedang dan badanku agak kurus.
Sedangkan dia tinggi dan besar. Pokoknya beda banget. Tapi teman sekolah
mengatakan kami pasangan serasi. Entah apanya yang serasi..
Aku masih ingat saat-saat terakhir dia meninggalkan aku untuk sekolah ke Amerika.
Ada setitik firasat bahwa itu adalah saat terakhir aku bersamanya. Aku menangis
tiada henti di bandara seperti orang bodoh. Tidak ada kata yang terucap, hanya
sedu sedan lirih terdengar dari mulutku. Orang tuanya sampai sungkan pada orang
tuaku dan berusaha menghiburku dengan mengatakan bahwa Andrew akan sering
pulang ke Indonesia untuk menengokku. Orang tuaku pun tak kalah dan berjanji
padaku akan menyekolahkan aku ke Amerika selepas SMU.
Kata orang cinta akan lebih terasa saat terpisahkan oleh jarak. Aku tidak sabar
untuk membuka e-mail setiap malam. Telepon internasional seminggu sekali
menjadi pelepas dahaga bila aku rindu suaranya. Setiap malam menjelang tidur,
aku melihat-lihat foto kami berdua. Dan tak lupa aku mendoakan dia.
Kini Andrew tidak akan mau memandangku lagi. Laporan dari teman-temannya
yang melihat aku berkeliaran di diskotik-diskotik dengan lelaki lain membuatnya
murka dan tidak mempercayai aku. Dia mengadili aku yang hanya bisa menangis
dan berjanji akan menghentikan perbuatanku. Tapi apa daya, di belahan dunia lain,
Andrew tidak akan bisa melihat keseriusanku. Dia meminta untuk mengakhiri
hubungannya denganku meski aku menangis meraung-raung di telepon. Aku tak
berdaya. Dia begitu kerasnya tidak mengampuni kesalahanku.
Yah memang semua itu memang salahku. Tapi apakah aku tidak punya kesempatan
untuk memperbaiki kesalahan? Apakah setiap orang tidak pernah khilaf? Apakah
sama sekali tidak ada ampun untukku? Dia dulu mengatakan apa pun yang terjadi
akan selalu mencintaiku. Akan selalu menjagaku. Semakin hari cintanya padaku
akan semakin besar. Ternyata, bohong! Itu semua hanya bohong belaka!
Saat ini aku jadi ceweq bodoh, sering melamun dan mudah stres. Bukan hanya
hubunganku dengan Andrew yang hancur. Hubunganku dengan ayah ibuku juga
memburuk. Mereka sudah menyerah menghadapi aku yang hampir setiap hari
pulang pagi. Mereka bahkan mengancam akan mengusir aku bila terus menerus
seperti ini.

Aku jadi sering membolos sekolah. Prestasiku di sekolah makin hari makin
memburuk. Aku telah kehilangan minat untuk belajar dan meraih ranking tinggi di
sekolah. Hubungan sosial dengan teman sekolahku juga semakin buruk. Aku malas
bergaul dengan mereka. Aku takut mereka mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku
takut mereka menyebarkan tingkah lakuku sebenarnya. Aku takut..
Aku jadi paranoid! Aku jadi mudah curiga dengan semua orang. Aku jadi sulit tidur
dan melamun yang tidak-tidak. Aku jadi sering mimpi buruk dan makin sulit
membedakan mana mimpi dan kenyataan. Lama-lama aku bisa gila!
Aku ingin berhenti menggunakan narkoba dan sesegera mungkin meninggalkan
dunia gemerlap yang selama setahun ini kugeluti. Tapi aku sulit meninggalkannya.
Aku terperangkap di dalamnya!
Ineks! Semua ini gara-gara pil setan itu! Badanku semakin kurus. Mataku cekung
dihiasi garis hitam dibawahnya. Aku tidak mengenali wajahku sendiri di hadapan
cermin. Bahkan Mamaku sudah mengecap aku sebagai wanita nakal.
Yah.. wanita nakal.. aku memang telah jadi wanita nakal. Aku telah melepaskan
keperawananku pada seorang pria yang bukan suamiku. Aku malu pada diriku dan
pada orang tuaku. Diriku bukan Tina yang dulu. Tina yang selalu meraih prestasi di
sekolah. Tina yang selalu membanggakan orang tua. Tina yang rajin ke gereja. Tina
yang lugu dan pemalu. Tina yang selalu jujur dan berterus terang..
Malam itu entah malam keberapa aku ke diskotik dengan Martin. Setelah triping
gila-gilaan bersama teman-teman, aku pulang bersama Martin. Sebenarnya aku
malas pulang karena masih dalam keadaan on berat. Gara-gara Bandar gede dari
Jakarta datang, semua jadi kebanyakan ineks. Badanku terus bergetar tiada henti,
dan rahangku bergerak-gerak ke kiri dan kekanan. Dengan eratnya aku peluk
lengan Martin seakan-akan takut kehilangan dirinya.
Tidak seperti biasanya Martin mengajakku putar-putar keliling kota. Mungkin dia
kasihan melihat aku masih on berat dan tidak tega membiarkan aku sendirian di
rumah. Aku sih senang-senang saja. Kuputar lagu-lagu house music agak kencang,
meski aku tahu akibatnya bisa fatal.
Tak sampai lima menit, lagu house music dan hembusan hawa AC yang dingin
membuat aku on lagi! Aku menggerak-gerakkan badan, kepala dan tanganku di
bangku sebelah. Rasanya asyik sekali triping dalam mobil yang melaju membelah
kota! Martin tertawa melihat aku memutar-mutar kepala seperti angin puyuh.
Untung kaca film mobilku gelap. Jadi aku nggak perlu takut orang-orang melihat
tingkahmu! ujarnya.
Hahaha.. rasanya saat itu aku tidak peduli mau dilihat orang, polisi, hansip atau
siapa pun juga, aku tidak akan peduli! Lagipula ini masih jam 3 pagi.
Setelah setengah jam kami putar-putar kota, akhirnya kami sampai di daerah
sekitar rumah Martin. Martin menyarankan agar aku meneruskan tripingku di
rumahnya. Sebab terlalu riskan bila triping di jalanan seperti itu. Kalau sedang sial

bisa ketangkap polisi. Aku yang sudah tidak bisa berpikir lagi Cuma mengiyakan
semua omongannya.
Sampai di rumahnya, aku langsung diantar ke kamarnya. Sambil meletakkan kunci
mobil, Martin menyalakan ac dan memutar lagu house music untukku. Wah dia
benar-benar ingin membuat aku on terus sampai pagi! Ok, Aku layani! Kurebut
remote ac dari tangannya dan ku setel dengan temperatur paling rendah.
Martin yang sudah drop, begitu mencium bau ranjang langsung hendak
merebahkan badannya yang besar itu ke tempat tidur. Tentu saja aku tidak ingin
tripping sendiri! Kutarik tangannya dan kuajak dia goyang lagi. Martin mengerang
dan tetap menutup wajahnya dengan bantal. Tingkahnya dibuat manja seperti anak
kecil. Tidak habis pikir aku segera mencari koleksi minumannya di mejanya.
Kusambar sebotol Martell VSOP dan kupaksa dia minum.
Mulanya Martin menolak dengan alasan besok harus kerja. Namun aku memaksa
terus hingga dia tak berkutik. Beberapa teguk Martell membuahkan hasil juga.
Martin bangun dan duduk didepanku. Aku segera memeluknya dari belakang dan
menggodanya dengan manja.
Kalau kamu mau nemenin aku tripinng.. hari ini aku jadi milikmu.
Milikku sepenuhnya..? Ehm.. I love it! Balas Martin nakal.
Ya..ehm.. jadi milikmu.. gumamku di dekat telinganya.
Aku memeluknya dari belakang dan menciumi telinganya sampai dia kegelian. Aku
terus menggodanya dengan menciumi leher dan bahunya. Tiba-tiba dia
membalikkan badan dan menyergapku! Aku kaget juga dan berteriak kecil. Martin
mendekapku erat-erat dan balas menciumi wajah, leher dan telingaku. Aku
menjerit-jerit kegelian oleh tingkahnya.
Lama-lama ciuman Martin semakin turun ke bawah. Dia melorotkan tali tank-topku
dan menciumi buah dadaku dengan ganas sambil mendengus-dengus. Aku bergetar
menahan geli dan rangsangan yang hebat. Otot-otot badan dan kakiku terasa kaku
semua.
Tidak puas menciumi dadaku, Martin meloloskan bra yang menutupi dadaku
sehingga kedua buah dadaku tersembul keluar.
Woow.. aku paling suka payudaramu! desisnya.
Aku paling suka kalau keindahan tubuhku dipuji. Dia mengucapkan kata-kata itu
dengan mata berbinar-binar sehingga membuatku tersanjung. Tentu saja aku
langsung menutupi dadaku dengan kedua tanganku seakan-akan melarangnya
untuk melihat.
Sedetik kemudian dia membuka kedua tanganku dan membungkuk kearah dadaku
lalu mendekatkan mulutnya ke puting kananku. Dengusan napasnya yang
mengenai putingku sudah bisa membuatku menggelinjang. Pelan-pelan lidahnya
menjilat putingku sekilas, lalu berhenti dan memandang reaksiku. Aku memejamkan
mata dan mendengus. Perasaanku melambung sampai ke awang-awang! Ketika
kubuka mataku, dia memandangku sambil tersenyum nakal. Aku memukulnya.

Kemudian dia menjilat puting kiriku sekilas. Aku kembali menggelinjang-gelinjang.


Aku merasa detik-detik penantian apa yang akan dilakukan Martin pada putingku
membuat aku makin penasaran. Aku mengerang-erang ingin agar Martin
meneruskan aksinya.
Aku sudah sangat terangsang hingga memohon-mohon padanya agar memuaskan
aku. Martin tersenyum manis sekali lalu mulai memasukan putingku ke mulutnya.
Putingku dipermainkan dengan mulut dan lidahnya yang hangat. Aku bergetar dan
menggelinjang menjadi-jadi. Kepiawaian Martin merangsang dan memuaskan aku
sudah terbukti. Rangsangan yang hebat melupakan segala janji yang pernah
kubuat.
Martin sangat terangsang rupanya. Aku merasa ada yang mengganjal di bagian
bawah perutku dan menyodok-nyodok kemaluanku. Aku membuka kedua kakiku
lebar-lebar dan merubah posisi pinggulku agar kemaluanku bergesekan dengan
penisnya. Tiap kali penisnya menggesek klitorisku aku mengerang dan merenggut
apa saja yang bisa kurenggut termasuk rambutnya. Napas kita yang mendengusdengus bersahut-sahutan bersaing dengan lagu house music yang memenuhi
ruangan.
Martin meneruskan aksinya sambil melepas pakaianku satu persatu hingga aku
telanjang bulat. Aku menatap wajahnya dengan perasaan tak karuan. Lalu dia
membuka pakaiannya sendiri dan mulai menyerangku dengan ganas.
Aku diciumi mulai mulut turun ke leher lalu ke buah dadaku. Kemudian turun lagi
melewati pusar dan bulu kemaluanku. Dia berhenti sesaat sambil melihat aku yang
sudah terangsang berat.
Martin.. cium anuku please.. pintaku terbata-bata.
Hehehe.. Desisnya pelan.
Lalu tanpa menunggu perintah kedua kalinya, dia mulai merubah posisinya agar
mulutnya pas di kemaluanku. Kemudian kakiku dibuka lebar-lebar ke atas sehingga
kemaluanku menyembul di antara pahaku. Aku merasa hawa dingin menerpa
bagian dalam kemaluanku yang merekah. Aku memejamkan mata berdebar-debar
menunggu Martin memulai aksinya.
Martin menciumi sisi luar kemaluanku dengan perlahan. Aku mengerang tertahan
dan mengerutkan dahi. Rasanya geli sekali! Ciumannya bergerak ke tengah dan
berhenti di klitorisku. Klitorisku diciuminya lama sekali seperti kalau dia menciumi
bibirku. Dia mengulum dan kadang menyedot kemaluanku dengan kuat. Aku
mendesah-desah keras sekali. Tak tergambarkan rasanya. Lalu ketika lidahnya ikut
bermain, aku tak kuat menahan lebih lama lagi. Dibukanya bibir kemaluanku
dengan jarinya, lalu lidahnya dimasukan diantaranya. Lidahnya memilin-milin
klitorisku dan kadang masuk ke vaginaku dalam sekali.
Erangan panjang menandakan kenikmatan yang tiada taranya. Aku malu sekali
ketika orgasme dihadapannya. Ritme ciumannya pada kemaluanku perlahan-lahan
mengendur seiring dengan tekanan yang kurasakan. Martin memang hebat. Dia
sudah berpengalaman memuaskan ceweq. Dia bisa tahu timing yang tepat kapan

harus cepat dan kapan harus pelan. Aku jadi curiga apa dia berprofesi sebagai
gigolo yang biasa memuaskan Tante-Tante kesepian. Hehehe..
Lho kok cepat? Udah terangsang dari tadi ya? tanyanya sambil senyum-senyum
mesum.
Mukaku memerah ketika aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku memukulnya
dengan bantal sambil menggodanya. Kamu gigolo ya? Kok hebat banget?
Eh, gigolo! Kurang ajar! Gua ini memang Don Juan Surabaya ya! Belum pernah ada
ceweq yang tidak puas kalau main denganku! katanya pongah.
Teman-temanku sampai menjuluki aku Sex Machine! lanjutnya.
Ngibul! kamu pasti gigolo! godaku sambil memukulnya dengan bantal lagi. Kami
perang mulut selama beberapa saat.
Kemudian Martin mengakhirinya dengan berkata, Enak aja menghinaku! Sebagai
balasannya, nih.. Martin melompat kearahku dan memasukkan kepalanya diantara
kakiku.
Dia langsung melumat kemaluanku dengan mulutnya lebih ganas lagi padahal
kemaluanku masih berdenyut-denyut geli. Aku menjerit-jerit karenanya. Gelinya luar
biasa! Entah apakah kemaluanku sudah sangat basah atau tidak, aku mendengar
bunyi berkecipak di kemaluanku. Rasa geli yang menerpa segera berubah menjadi
nikmat. Aku terhanyut lagi dalam permainan lidahnya.
Aku orgasme untuk yang kedua kalinya. Badanku rasanya lemas semua. Malam itu
aku mudah sekali orgasme. Entah apa mungkin itu karena pengaruh ineks atau
memang aku sudah dalam keadaan puncak, aku tidak tahu..
Kami break sebentar. Martin tidur terlentang. Kulihat penisnya berdiri tegak bagai
tugu monas. Kepalanya yang merah mengkilat karena cairan maninya meleleh
keluar. Aku duduk di dipangkuannya dan memegang penisnya yang keras.
Lho, sejak kapan celana dalammu lepas? Aku kok nggak tahu? tanyaku.
Hehehe.. kamu merem terus dari tadi sampe nggak tahu kalo burungku udah
menunggu-nunggu ditembakkan ke sasaran! candanya.
Aku kasihan padanya. Kuelus-elus penisnya sambil menggodanya. Lalu aku naik ke
atas tubuhnya dan duduk tepat diatas penisnya. Martin tampak terangsang melihat
tindakanku. Kugoyang-goyangkan pinggulku maju mundur diatas penisnya sambil
kuelus-elus dadanya. Martin memejamkan matanya sambil merasakan sentuhansentuhan kemaluanku di penisnya. Aku juga merasa geli-geli nikmat saat penisnya
yang keras dan licin menggeser klitorisku.
Lama-lama Martin tidak kuat menahan rangsangan. Dia bangkit dan memeluk
tubuhku. Kami berciuman. Tanpa mempedulikan bau cairan vaginaku di mulutnya,
aku terus menggoyangkan pinggulku maju mundur. Kemaluanku yang basah

semakin memudahkan penis Martin bergesekan diantar bibir kemaluanku. Gerakan


kami makin lama makin liar, sampai akhirnya pertahananku runtuh!
Penis Martin mengoyak keperawananku! Kepala penisnya selip dan masuk ke
vaginaku. Aku menjerit kaget dan gerakanku terhenti. Untuk sesaat aku merasa
sakit karena ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Martin juga berhenti dan
hendak mencabut penisnya dari vaginaku. Namun aku mencegahnya. Aku benarbenar terhanyut dalam fantasiku sendiri akan kenikmatan persetubuhan.
Kupeluknya erat-erat tubuhnya. Disamping rasa sakit, aku merasakan suatu
kenikmatan yang lain. Aku ingin merasakan lebih lama lagi.
Secara tak sadar aku merendahkan pinggulku perlahan-lahan sampai penis Martin
memenuhi liang vaginaku. Rasanya sungguh luar biasa! Aku memeluk Martin sekuat
tenaga dengan napas terputus-putus. Kucengkeram punggungnya dengan kuku
jariku tanpa peduli dia kesakitan atau tidak. Tak terlukiskan perasaanku saat itu. Aku
mengerang-erang. Rasanya seluruh sarafku terputus dan terpusat di kemaluanku
saja. Martin membiarkanku sesaat menikmati moment ini. Dia pasti juga sedang
menikmati koyaknya selaput daraku.
Perlahan-lahan Martin mulai menggoyangkan pinggulnya. Penisnya bergerak-gerak
perlahan dalam kemaluanku. Aku mendesah mengaduh-aduh menahan nikmat dan
geli. Vaginaku masih sangat sensitif sampai sampai aku tidak tahan ketika penisnya
digerak-gerakkan. Aku menatap sayu pada Martin.
Kenapa aku nggak tahu kalau ML seenak ini? Kalau tahu, aku sudah dari dulu mau
making love sama kamu! kataku parau.
Mendengar perkataanku, sesaat Martin hanya memandangku tanpa ekspresi. Aku
tidak dapat menebak apa yang ada dipikirannya. Lalu dengan pandangan yang
menyejukkan, dia mencium keningku dan pipiku. Aku menjadi tenang dan damai.
Martin, aku sayang padamu, aku sayang padamu, aku sayang padamu. Tak ada lagi
Andrew dalam kamusku. Aku hanya sayang padamu kataku dalam hati. Sex jauh
lebih memabukkan daripada extacy! Aku tak bisa berpikir jernih! Yang ada
dipikiranku hanya terus dan terus.. tanpa akhir..
Martin mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vaginaku. Mulanya perlahan,
lama-lama semakin cepat. Rasanya mau mati saking nikmatnya. Aku tak bisa
berkata apa-apa. Hanya erangan dan desahan yang keluar dari mulutku. Dorongan
penisnya yang menghujam keluar masuk ke dalam vaginaku membuatku tak
berdaya.
Malam itu aku orgasme empat kali. Martin menumpahkan spermanya di perutku
dan terkapar disebelahku. Aku juga terkapar kelelahan. Saking lelahnya aku sampai
tidak kuat untuk bergerak mengambil tissue untuk membersihkan spermanya yang
tumpah di perutku. Ternyata orgasme saat ML jauh lebih nikmat daripada dengan
oral seks. Sungguh berbeda..
Setelah terkapar beberapa saat, Martin membopongku ke kamar mandi dan
memandikan aku. Aku terus menerus memandang wajahnya dan mencari-cari sinar
apa yang terpancar di wajahnya. Apakah dia benar mencintaiku atau aku hanya

salah satu perempuan koleksinya? Aku terus memeluknya saat dia membasuh
tubuhku dengan air hangat dan membersihkan kemaluanku. Kemudian setelah
membersihkan diri, kami tidur kelelahan.
*****
Besoknya saat aku bangun, Martin sudah tidak ada di sebelahku. Kulihat jam
dinding menunjukkan pukul sembilan. Detik berikutnya aku baru sadar kalau tidur
telanjang bulat dan hanya ditutupi selimut. Perlahan-lahan memoriku memutar balik
kejadian tadi malam. Agak susah mengingat kejadian semalam setelah pakai ineks
dan minum minuman beralkohol.
Setelah ingat semua, dengan lunglai aku bangkit dan melihat kemaluanku. Kuraba
dan kupegang kemaluanku. Rasa nikmat dan geli semalam masih terbayang di
pikiranku. Pikiran jelek mulai menggangguku. Aku sudah tidak perawan! Aku sudah
kehilangan keperawananku di usia ke 16 dengan cowoq yang bukan pacarku
maupun suamiku! Edan! Aku lepas kendali!
Kata-kata Ling mulai teringat kembali. Saat dia kehilangan keperawanannya
pertama kali, dia menangis menjadi-jadi semalaman. Namun sekarang dia sudah
biasa dan malah sering making love. Aku teringat saat Ling mengenalkan Martin
padaku, dia memperingatkan Martin agar jangan macam-macam padaku. Berbagai
macam kejadian dari awal aku kenal kehidupan malam sampai saat ini lalu lalang
dalam pikiranku seakan-akan menyindirku. Sekarang semuanya telah terjadi! Aku
tak percaya! Aku jadi seperti Ling!
Aku ingin menangis menyesali semuanya! Namun sudah terlambat! Apalagi saat
aku melihat setitik noda hitam pada sprei. Aku langsung menangis menjadi-jadi. Aku
merasa berdosa! Bayangan wajah Papa Mamaku berkelebat berganti-ganti dalam
benakku. Aku merasa berdosa pada Papaku, pada Mamaku, pada kakakku, pada
seluruh keluargaku!
Aku ke kamar mandi untuk membersihkan diriku! Aku merasa kotor dan hina! Aku
bukan Tina yang dulu lagi! Masa depanku hancur! Siapa yang mau sama aku!
Cowoq mana yang mau menerima ceweq seperti aku! Ceweq yang sudah tidak utuh
lagi! Ceweq murahan! Aku benci diriku sendiri! Aku benci semua orang! Aku
menangis lama sekali di kamar mandi. Kutumpahkan semua perasaanku dalam air
mata yang segera tersapu guyuran air hangat. Hingga akhirnya aku tergeletak
lemas di lantai kamar mandi.
Setelah bosan menangis, aku segera beranjak dari kamar mandi dan mengenakan
pakaian. Kuambil ponselku dan kukirim SMS pada Ling. Aku minta dia menjemputku
di rumah Martin. Ling menyanggupi dan berjanji akan menjemput aku sepulang
sekolah pukul 13.00
Pukul sebelas Martin pulang ke rumah. Tiba-tiba perasanku jadi campur aduk saat
kudengar suara mobil Martin memasuki rumah. Ada perasaan jengkel yang
menggebu-gebu padanya.
Kok berani-beraninya orang segede dia menjerumuskan anak kecil! Dasar hidung

belang! pikirku jengkel.


Aku duduk di ranjang menghadap pintu sambil menunggu dia masuk. Kusiapkan
wajah sesuram mungkin agar dia tahu kalau aku marah padanya. Aku sudah
mempersiapkan diri untuk mendiamkannya selamanya. Pokoknya dia harus tahu
kalau aku marah!
Martin yang sepuluh tahun lebih dewasa tahu bagaimana harus bertindak
menghadapi aku. Dia diam saja saat aku mendiamkannya. Lalu mulai mengajakku
makan. Aku menolak. Dia terus mengajakku bicara dan bercerita kalau dia bangun
kesiangan sehingga terlambat kerja. Dia pura-pura tidak tahu aku marah padanya.
Sejurus kemudian dia mulai memelukku dan mengatakan kalau dia segera pulang
karena khawatir aku belum makan atau kesepian di rumah.
Lama-lama aku kasihan juga padanya. Dia baik padaku. Sebenarnya yang salah aku.
Aku yang memaksanya melakukan itu. Padahal kemarin dia sudah mau tidur, aku
malah merangsangnya habis-habisan. Yah, aku yang salah. Seperti membangkitkan
macan tidur. Aku pun mulai melunak. Aku mulai menjawab pertanyaannya sepatahsepatah sampai akhirnya suasana mulai cair.
Mengerti umpannya mengena, Martin mulai merayuku dan menggodaku. Aku tidak
tahan digoda dan mulai membalas godaannya.
Martin, kamu harus bertanggung jawab! Kamu harus kawin sama aku! serangku.
Jangan kuatir sayang! Aku ini dari dulu juga suka sama kamu. Cuma aku takut
kamu yang nggak mau sama aku karena aku terlalu tua. Hahahaha.. balasnya.
Aku tidak peduli pikirku. Toh aku juga merasa cocok dengan Martin. Dia begitu
dewasa. Dia bisa momong aku. Masalahnya, dia sepuluh tahun lebih tua dari aku.
Apa orang tuaku setuju aku menikah dengannya?
Pikiranku sudah jauh lebih baik sekarang. Martin memelukku erat-erat dan
menghiburku. Aku jadi makin sayang padanya.
Akibat kejadian malam itu, hampir tiap hari aku making love dengannya. Kami
melakukan di rumahnya, di hotel, di kamar mandi, di mobil dan dimanapun kami
mau! Berbagai posisi kami lakukan. Aku benar-benar ketagihan bersenggama!
Bahkan kami pernah menginap seharian di hotel dan tidak keluar kamar sama
sekali. Saat itu aku sampai orgasme sebelas kali waktu making love dengannya!
Benar-benar liar dan tak terkontrol!
Acara tripping selalu dilanjutkan dengan making love. Kesukaan kami adalah triping
sambil telanjang bulat berdua di kamar Martin sambil bercumbu. Asyik sekali
rasanya! Saat pengaruh ineks menurun, kami bersenggama atau melakukan oral
seks untuk membuat on lagi. Setelah benar-benar habis, kami lanjutkan dengan
minum minuman keras. Edan..
Dua bulan terakhir ini aku jarang kontak dengan Martin. Martin sibuk dengan
pekerjaannya, sedangkan aku sibuk diadili oleh keluargaku. Mereka marah besar

padaku dan mengawasiku dengan ketat. Ponselku disita sementara. Telepon


untukku disortir sama orang tuaku. Kemana-mana selalu diantar sopir ayahku.
Pokoknya aku jadi tahanan rumah!
Entah siapa yang salah! Aku tak perlu menyalahkan siapa saja selain diriku sendiri.
Aku sendiri pun menyesal menyadari kondisiku sekarang. Orang luar pada bingung
melihat tingkahku. Aku hidup di dalam keluarga yang harmonis. Orang tuaku sayang
dan perhatian padaku. Tapi kok bisa aku terjerumus jadi seperti ini?
Hahaha.. memang bodoh apa yang kulakukan. Penyesalan sudah tidak ada gunanya
lagi. Entah sampai kapan aku bisa berhenti dari dunia gila ini? Aku pun sudah mulai
bosan..

PACARKU DAN MAMANYA


Didalam cerita pengalaman saya yang pertama yang saya beri judul "Masa kecil
saya di Palembang", saya menceritakan bagaimana saya diperkenalkan kepada
kenikmatan senggama pada waktu saya masih berumur 13 tahun oleh Ayu, seorang
wanita tetangga kami yang telah berumur jauh lebih tua. Saya dibesarkan didalam
keluarga yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya belum pernah terekspos
terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal
persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saya baca didalam cerita-cerita porno
ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMP.
Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun
melihat tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah
membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar di buku
mode-blad punya kakak saya seperti Lana Lobell, dimana terdapat gambar-gambar
bintang film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang memperagakan pakaian
dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi
beberapa kali.

Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika


diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil
wanita seperti Ayu, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita
sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. Dengan hanya
memandang tubuh Ayu yang begitu mulus dan putih saja sucah cukup sebetulnya
untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara
nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya. Apalagi betulbetul melihat kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa mencium dan
mengendus bau kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang
masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya
adalah bisanya saya menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang
seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya.
Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa

yang disebut cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut.


Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita,
mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan
menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah
saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan.
Yang terakhir barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang
sanggamanya yang sudah banjir.
Setelah kesempatan saya dan Ayu untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu
bisa disebut bermain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin
berani dan Ayu dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari,
paling sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk
kedalam kamar tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.
Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan
dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya
dia duduk dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam
payudaranya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya
dilingkari bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar
menurut penilaian saya. Ayu sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya
yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya
segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.
Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada
permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai
klimaks. Untunglah Ayu selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedotnyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan
sampai dua atau tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang
peranakannya, dan setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya
seringkali langsung menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk
ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Ayu bisa
menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan
vaginanya yang seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga
dunia.
Ayu juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang masih belum
bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat dan Ayu sangat sering menggoda
saya dengan menertawakan "kulup" saya, dan setelah beberapa minggu Ayu
kemudian berhasil menarik seluruh kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa
muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik atau
mengupas kulup saya sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan
mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti
memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher
penis saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya
tidak kuat menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat ke hidung dan
matanya.
Kadang-kadang Ayu juga minta "main" walaupun dia sedang mens. Walaupun dia
berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium
vaginanya karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya

hanya memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek
karena darah mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya
saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Ayu,
saya bisa melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya.
Kadang-kadang saya merasa jijik melihatnya.
Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua
sedang telanjang bugil dan Ayu sedang berada didalam posisi diatas menunggangi
saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya
bisa mengisap-isap payudaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan
dengan kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks
saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan pasangan suami isteri
yang tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan
mereka yang baru.
Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari
kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami
klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak
perempuannya yang bernama Efi ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya
dan berkata, "Ibu main kancitan, iya..?" (kancitan = ngentot, bahasa Palembang)
Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang
dipuncak klimaksnya, Ayu diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan
melihat Efi datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami
dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia
duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.
"Hayo, ibu main kancitan," katanya lagi.
Lalu pelan-pelan Ayu menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa
berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut
dan kemaluan saya .
"Efi, Efi. Kamu ngapain sih disini?" kata Ayu lemas.
"Efi pulang sekolah agak pagi dan Efi cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi kancitan
sama Bang Johan," kata Efi tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya.
Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Ayu tenang-tenang saja.
"Efi juga mau kancitan," kata Efi tiba-tiba.
"E-eh, Efi masih kecil.." kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan
dasternya.
"Efi mau kancitan, kalau nggak nanti Efi bilangin Abah."
"Jangan Efi, jangan bilangin Abah.., kata Ayu membujuk.
"Efi mau kancitan," Efi membandel. "Kalo nggak nanti Efi bilangin Abah.."

"Iya udah, diam. Sini, biar Johan ngancitin Efi." Ayu berkata.
Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegupdegup seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Efi bermain-main di
pekarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih
begitu kecil. Dari mana dia mengerti tentang "main kancitan" segala?
Ayu mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya
mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.
"Sini, biar Efi lihat." Ayu mengupas kulit kulup saya untuk menunjukkan kepala penis
saya kepada Efi. Efi datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis
saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi
saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.
Cerita Hot - Tempat tidur saya cukup besar dan Ayu kemudian menyutuh Efi untuk
membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk
dikasur dan melihat tubuh Efi yang masih begitu remaja. Payudaranya masih belum
berbentuk, hampir rata tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih belum
keluar, malahan sepertinya masuk kedalam. Ayu kemudian merosot celana dalam
Efi dan saya melihat kemaluan Efi yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya.
Belum ada bibir luar, hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya
melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Efi
merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa
yang harus dilakukan selanjutnya.
Saya mengelus-elus bukit venus Efi yang agak menggembung lalu saya coba
merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Efi menurut, dan saya berlutut di
antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Efi.
"Ibu, Efi malu ah.." kata Efi sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua
tangannya.
"Ayo, Efi mau kancitan, ndak?" kata Ayu.
Saya mengendus kemaluan Efi dan baunya sangat tajam.
"Uh, mambu pesing." Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya
"keju" yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Efi.
"Tunggu sebentar," kata Ayu yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu
sambil mempermainkan bibir kemaluan Efi dengan jari-jari saya. Efi mulai membuka
pahanya makin lebar.
Sebentar kemudian Ayu datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil.
Dia pun mulai mencuci kemaluan Efi dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan
kemaluan Efi mulai memerah karena digosok-gosok Ayu dengan handuk tadi.
Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Efi. Baunya
tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Efi yang
hanya berbau amis sedikit saja. Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya

dengan menggunakan lidah saya dan Efi-pun merenggangkan pahanya semakin


lebar. Saya sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas.
Bagian samping kemaluan Efi kelihatan sangat lembut ketika saya membuka
belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat
merah.
Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan
kelentitnya dengan ujung lidah saya, Efi menggeliat-geliat sambil mengerang, "Ibu,
aduuh geli, ibuu.., geli nian ibuu.."
Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir
kemaluan Efi dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.
"Aduh, sakit bu..," Efi hampir menjerit.
"Johan, pelan-pelan masuknya." Kata Ayu sambil mengelus-elus bukit Efi.
Saya coba lagi mendorong, dan Efi menggigit bibirnya kesakitan.
"Sakit, ibu."
Ayu bangkit kembali dan berkata,"Johan tunggu sebentar," lalu dia pergi keluar dari
kamar.
Saya tidak tahu kemana Ayu perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun
berlutut didepan kemaluan Efi dan sambil memegang batang penis, saya
mempermainkan kepalanya di clitoris Efi. Efi memegang kedua tangan saya eraterat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.
Cerita Panas - Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya
sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Ayu yang
longgar dan penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah.
Tetapi liang vagina Efi yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Efi
mendorong tubuh saya mundur sambil berteriak, "Aduuh..!" Rupanya tanpa saya
sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Efi masih tetap kesakitan.
Sebentar lagi Ayu datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak
kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga
melumasi kemaluan Efi. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan
menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Efi. Terasa licin memang
dan saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Efi meremas tangan saya sambil
menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak
tahu pasti.
Saya melihat Efi menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang
penis saya pelan-pelan.
"Cabut dulu," kata Ayu tiba-tiba.
Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Efi. Saya bisa melihat

lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Ayu kembali melumasi penis
saya dan kemaluan Efi dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk
masuk kedalam lobang Efi yang sedang menunggu. Saya dorong lagi dengan hatihati, sampai semuanya terbenam didalam Efi. Aduh nikmatnya, karena lobang Efi
betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya
tekan dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Efi. Efi yang
masih kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami
berdua sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Ayu, ibunya sendiri.
Efi belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan
baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat
reaksi dari Efi yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya
merebahkan tubuh saya diatas tubuh Efi yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam
saja.
Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping
Efi. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Ayu sudah terangsang
lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan
mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam
kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas
sehingga penis saya itu mulai menegang kembali.
Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus
yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami
memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Ayu sepuaspuasnya, sementara Efi menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah
katapun. Saya sudah mengenal kebiasaan Ayu dimana dia sering kentut kalau betulbetul sedang klimaks berat, dan saat itupun Ayu kentut beberapa kali diatas wajah
saya. Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan
sayapun melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam
mulut Ayu. "Alangkah lemaknyoo..!" saya berteriak dalam hati.
"Ugh, ibu kentut," kata Efi tetapi Ayu hanya bisa mengeluarkan suara seperti
seseorang yang sedang dicekik lehernya.
Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Efi. Ternyata dia masih belum cukup
dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih anak kecil, dan
pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Ayu
terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali
seminggu. Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah
setiap kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh
saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk
melayani Ayu, tetapi saya selalu saya merasa ingin makan telur banyak-banyak.
Saya sangat beruntung karena kami kebetulan memelihara beberapa puluh ekor
ayam, dan setiap pagi saya selalu menenggak 4 sampai 6 butir telur mentah. Saya
juga memperhatikan dalam tempo setahun itu penis saya menjadi semakin besar
dan bulu jembut saya mulai menjadi agak kasar. Saya tidak tahu apakah penis saya
cukup besar dibandingkan suami Ayu ataupun lelaki lain. Yang saya tahu adalah
bahwa saya sangat puas, dan kelihatannya Ayu juga cukup puas.

Saya tidak merasa seperti seorang yang bejat moral. Saya tidak pernah melacur
dan ketika saya masih kawin dengan isteri saya yang orang bule, walaupun
perkawinan kami itu berakhir dengan perceraian, saya tidak pernah menyeleweng.
Tetapi saya akan selalu berterima kasih kepada Ayu (entah dimana dia sekarang)
yang telah memberikan saya kenikmatan didalam umur yang sangat dini, dan
pelajaran yang sangat berharga didalam bagaimana melayani seorang perempuan,
terlepas dari apakah itu salah atau tidak.

DIPAKAI BERGILIR
Novy adalah seorang mahasiswi berusia 22 tahun di sebuah perguruan tinggi
swasta ternama di Jakarta. Dia mempunyai tubuh yang sangat sempurna dan
terawat. Tingginya 165 cm, dengan berat 55 kg. Rambutnya hitam sebahu dan dia
mempunyai payudara yang sangat indah, bulat dan kencang berukuran 34B.
Kulitnya putih dan wajahnya pun sangat cantik. Novy termasuk mahasiswi yang
berprestasi di kampusnya. Tidak heran banyak sekali teman prianya yang tertarik
kepadanya, namun sampai saat ini Novy masih belum punya pacar.
Pada suatu hari Novy terpaksa harus pulang sendiri agak malam dari kampusnya,
karena ia harusmenyelesaikan tugasnya di laboratorium. Ketika dia sedang
menunggu lift dari lantai 8, tiba-tiba Anto temannya datang.
Hai, Novy.. mau pulang nih..?
Iya..
Bareng yuk turunnya..! ajak Anto.
Boleh.. tanpa rasa curiga Novy mengiyakan.
Nampaknya malam itu benar-benar sepi di kampusnya, hanya tinggal beberapa
orang saja terlihat di tempat parkir di bawah. Ketika pintu lift terbuka, mereka
berdua pun masuk. Saat berada di dalam lift, tiba-tiba sebuah benda keras
menghantam tengkuk Novy dari belakang, membuatnya langsung tidak sadarkan
diri.
Dukk.., Novy terbangun ketika kepalanya terantuk meja.
Dengan mata masih berkunang-kunang, dia melihat bahwa dia sedang berada di
ruang kuliah di lantai 4 kampusnya. Tidak ada orang di situ. Dan ketika dia melihat
jam di dinding, ternyata sudah pukul 10 malam. Ketika Novy mencoba bergerak, dia
baru menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat. Dia mencoba melepaskan diri
namun tidak berhasil. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan muncullah tiga orang
dari pintu itu. Dua pria dan satu wanita. Mereka semua temannya, Anto, Angga dan
Shanty.
Shanty.. tolong gue Shan.., lepasin gue.. apa-apaan sih ini..? Kalian kalo bercanda
jangan keterlaluan dong..! dengan sedikit kesal Novy bicara dengan Shanty.
Elo mau apa sih Nov..? Ini bukan bercanda tau..! teriak Shanty.
Apa maksud elo..? Novy mulai panik.
Kita mau buat perhitungan sama elo, Nov..! Selama ini elo selalu jadi pusat
perhatian, tapi elo terlalu sombong untuk memperhatikan temen elo sendiri. Elo tau

nggak kalo temen-temen tuh banyak yang nggak suka sama elo..! Sekarang
saatnya elo untuk ngasih sesuatu sama mereka..! Shanty mendekati dan kemudian
menampar pipi kiri Novy.
Elo mau apa sih..! jerit Novy.
Gue mau liat elo menderita malam ini, Nov. Karena selama ini elo selalu mendapat
segala yang elo inginkan.. kata Shanty.
Selesai Shanty berbicara, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka kembali dan masuklah
15 orang lagi, 10 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Mereka semua temannya.
Tetapi kelihatannya mereka semua senang melihat Novy terikat tidak berdaya
seperti itu.
Tiba-tiba Shanty berteriak, Teman-teman, inilah saatnya yang kita tunggu-tunggu.
Malam ini kita boleh ngerjain si Novy sepuas kita.
Semua berteriak kegirangan mendengar perkataan Shanty, kecuali Novy. Bulu
kuduk Novy merinding mendengar itu, dia tidak dapat membayangkan apa yang
akan mereka lakukan terhadap dirinya, ketika Anto mendekati dirinya dan
melepaskan ikatannya. Walaupun ikatannya sudah dilepas, namun Novy tidak dapat
berdiri, karena kakinya lemas semua. Dia hanya dapat berlutut.
Shanty mendekati dirinya dan kemudian berteriak di telinga Novy, Sekarang elo
harus buka baju elo satu persatu sampai telanjang di depan kita semua..! Awas kalo
berani melawan..! Gue tusuk perut elo..! ancam Shanty sambil memegang gunting
di tangannya.
Tidak percaya rasanya Novy mendengar itu, namun dia tidak berani menolak
perintah Shanty, apalagi diancam dengan gunting tajam seperti itu. Akhirnya
dengan tubuh gemetar, Novy mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan
melepaskannya ke lantai. Selanjutnya dia mulai membuka kancing celana jeansnya
dan menariknya ke bawah hingga sekarang Novy hanya mengenakan BH dan
celana dalam yang berwarna hitam. Rupanya hari itu Novy memakai BH dan celana
dalam yang sangat seksi. Novy memakai BH tanpa tali yang bagian depannya
hanya menutupi setengah dari payudaranya. Dan celana dalam yang dipakai Novy
lebih mirip dengan sebuah tali yang hanya menutupi belahan vaginanya, sedangkan
pantatnya sama sekali tidak tertutup. Semua laki-laki yang berada di ruangan itu
benar-benar terpesona melihat pemandangan indah di depan mereka itu. Novy
gadis tercantik di kampus itu hampir telanjang bulat, sehingga penis mereka
langsung menegang semua.
Melihat itu Shanty merasa senang dan kembali memerintahkan Novy untuk
membuka BH dan celanadalamnya. Dengan tangan gemetar, Novy meraih kait BH
di belakang punggungnya dan melepaskannya, sehingga BH Novy dengan
sendirinya terjatuh ke lantai. Ketika BH-ya sudah terlepas, payudara Novy yang
bulat langsung mengacung tegak, mengundang decak kagum semua pria di
ruangan itu. Puting payudara Novy berwarna coklat dengan lingkaran di sekitar
putingnya berwarna coklat muda. Dan saat celana dalamnya juga sudah dilepas,
terlihatlah bulu-bulu kemaluan tipis yang tumbuh rapih di sekitar vagina Novy. Novy
memang selalu mencukur bulu-bulu kemaluannya dan merawat vaginanya sendiri.
Baru pertama kali ini Novy telanjang bulat di depan orang lain dan saat ini dia
berdiri dengan tubuh yang gemetar.
Shanty mendekatinya sambil mengacungkan gunting ke arahnya, dan mendorong

Novy hingga jatuh terduduk.


Sekarang elo harus buat seneng kita semua. Elo sekarang harus masturbasi disini.
Cepat, kalo nolak gue potong nanti pentil susu elo..! Sekalian olesin nih badan elo
pake minyak ini..! kata Shanty sambil memberikan baby oil kepada Novy untuk
dioleskan ke seluruh tubuhnya.
Dengan ketakutan Novy menerima botol tersebut dan menuangkannya ke atas
payudara, perut dan juga ke atas vaginanya. Kemudian Novy mulai meraba-raba
tubuhnya sendiri dan meratakan baby oil tersebut ke seluruh tubuhnya sambil tidur
telentang di lantai. Sambil menangis karena takut dan malu, tangan kirinya
memijat-mijat payudaranya sendiri dan memilin-milin puting susunya, sedangkan
tangan kanannya meraba-raba vaginanya yang ditumbuhi oleh rambut tipis.
Lama kelamaan Novy mulai terangsang dan mengeluarkan suara erangan halus
yang tidak dapat diatahan. Sementara itu, semua laki-laki di ruangan itu membuka
bajunya hingga bugil dan mulai mengocok penis mereka sendiri sampai tegang.
Sedangkan yang perempuan, kecuali Shanty meninggalkan ruangan itu. Shanty
malah membawa kamera video untuk merekam kejadian itu dan dia mengancam
Novy kalau dia berani melapor, Shanty akan menyebarkan rekaman itu ke seluruh
kampus, dan bahkan ke luar kampusnya.
Tubuh Novy kini mengkilat karena minyak yang dioleskan ke tubuhnya tadi,
membuat Novy kelihatan sangat seksi, dan ini menjadi pemandangan yang sangat
menggairahkan untuk semua laki-laki di ruangan itu. Saat Novy semakin
terangsang, Angga mendekatinya. Dengan dibantu empat orang lainnya yang
memegang dan menarik kedua tangan dan kaki Novy sehingga tubuh Novy
menyerupai huruf X, Angga berlutut di selangkangan Novy, dan mulai mengeluselus vagina Novy dengan tangannya. Sesekali jari tangan Angga mencoba menusuk
masuk ke dalam vagina Novy, membuat Novy merinding karena rasa geli yang
timbul.
Kemudian Angga mulai menjilati vagina Novy dengan lidahnya. Aroma khas dari
vagina Novy membuat Angga semakin bernafsu menjilati vagina Novy. Sementara
itu kedua orang pria yang memegangi tangan Novy juga ikut menikmati sebagian
tubuh Novy. Laki-laki yang memegang tangan kanan Novy menjilati dan mengisap
puting susu Novy yang sebelah kanan, sementara laki-laki yang memegang tangan
Novy yang sebelah kiri melakukan hal yang sama dengan payudara Novy yang
satunya. Sambil meremas payudara Novy dengan keras, sesekali mereka juga
menggigit dan menarik puting susu Novy dengan giginya, sehingga Novy merasa
kesakitan. Kedua orang itu juga bergantian menciumi bibir Novy dengan kasar dan
memainkan lidahnya di dalam mulut Novy.
Setelah puas menjilati vagina Novy, Angga kembali berlutut di selangkangan Novy
dan mulaimenggosok-gosokkan penisnya di bibir vagina Novy. Sadar bahwa dirinya
akan segera kehilangan keperawanannya, Novy berusaha melepaskan diri sekuat
tenaga, namun dia tidak dapat melawan tenaga keempat orang yang
memeganginya. Melihat Novy yang meronta-ronta, Angga semakin bernafsu dan dia
segera menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Novy yang masih perawan.
Walaupun vagina Novy sudah basah oleh air liur Angga dan cairan vagina Novy
yang keluar, namun Angga masih merasakan kesulitan saat memasukkan penisnya,
karena vagina Novy yang perawan masih sangat sempit. Novy hanya dapat

menangis dan berteriak kesakitan karena keperawanannya yang telah dia jaga
selama ini direnggut dengan paksa seperti itu oleh temannya sendiri.
Sementara itu Angga terus memompa vagina Novy dengan cepat sambil satu
tangannya meremas-remas payudara Novy yang bulat kenyal dan tidak lama
kemudian dia mencapai puncaknya dan mengeluarkan seluruh spermanya di dalam
vagina Novy. Novy hanya dapat diam telentang tidak berdaya di lantai, walaupun
tangan dan kakinya sudah tidak dipegangi lagi, dan membayangkan dirinya akan
hamil karena saat ini adalah masa suburnya. Dia dapat merasakan ada cairan
hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Darah perawan Novy dan sebagian
sperma Angga mengalir keluar dari vaginanya.
Setelah itu Anto maju untuk mengambil giliran. Kali ini Anto mengangkat kedua kaki
Novy ke atas pundaknya, dan kemudian dengan tidak sabar dia segera
menancapkan penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina Novy. Anto tidak
mengalami kesulitan lagi saat memasukkan penisnya, karena vagina Novy kini
sudah licin oleh sperma Angga dan juga cairan vagina Novy, walaupun vagina Novy
masih sangat sempit. Kembali vagina Novy diperkosa secara brutal oleh Anto, dan
Novy lagi-lagi hanya dapat berteriak kesakitan. Namun kali ini Novy tidak berontak
lagi, karena dia pikir itu hanya akan membuat teman-temannya semakin bernafsu
saja.
Tiba-tiba Anto mencabut penisnya dan dia duduk di atas dada Novy. Anto
mendempetkan kedua buah payudara Novy dengan kedua tangannya dan
menggosok-gosokkan penisnya di antara celah kedua payudara Novy, sampai
akhirnya dia memuncratkan spermanya ke arah wajah Novy. Novy gelagapan
karena sperma Anto mengenai bibir dan juga matanya. Setelah itu Anto masih
sempat membersihkan sisa sperma yang menempel di penisnya dengan
mengoleskan penisnya ke payudara Novy. Kemudian Anto menampar payudara
Novy yang kiri dan kanan berkali-kali, sehingga payudara Novy berwarna
kemerahan dan membuat Novy merasa kesakitan.
Selanjutnya dua orang, Leo dan Reza maju. Mereka kini menyuruh Novy untuk
mengambil posisi seperti merangkak. Kemudian Leo berlutut di belakang pantat
Novy dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Novy yang sangat
sempit. Membayangkan kesakitan yang akan dialaminya, Novy mencoba untuk
berdiri, tetapi kepalanya dipegang oleh Reza yang segera mendorong wajah Novy
ke arah penisnya. Kini Novy dipaksa mengulum dan menjilat penis Reza. Penis Reza
yang tidak terlalu besar tertelan semuanya di dalam mulut Novy.
Sementara itu, Leo masih berusaha membesarkan lubang anus Novy dengan cara
menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang anus Novy. Sesekali Leo menampar
pantat Novy dengan keras, sehingga Novy merasakan pantatnya panas. Kemudian
Leo juga berusaha melicinkan lubang anus Novy dengan cara menjilatinya. Novy
merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat lidah Leo
menjilati lubang anusnya. Tidak lama kemudian Novy kembali menjerit kesakitan.
Rupanya pertahanan anusnya sudah jebol oleh penis Leo yang berhasil masuk
dengan paksa.
Kini Leo memperkosa anus Novy perlahan-lahan, karena lubang anus Novy masih

sangat sempit dan kering. Leo merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan yang luar
biasa saat penisnya dijepit oleh anus Novy. Saat Novy berteriak, kembali Reza
mendorong penisnya ke dalam mulut Novy, sehingga kini Novy hanya dapat
mengeluarkan suara erangan yang tertahan, karena mulutnya penuh oleh penis
Reza. Tubuh Novy terdorong ke depan dan ke belakang mengikuti gerakan penis di
anus dan mulutnya.
Kedua payudara Novy yang menggantung dengan indah bergoyang-goyang karena
gerakan tubuhnya. Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya Leo dan Reza
mencapai klimaks hampir secara bersamaan. Leo menyemburkan spermanya di
dalam anus Novy, dan Reza menyemburkan spermanya di dalam mulut Novy. Novy
terpaksa menelan semua sperma Reza agar dia dapat tetap bernafas. Novy hampir
muntah merasakan sperma itu masuk ke dalam kerongkongannya, namun tidak
dapat karena penis Reza masih berada di dalam mulutnya. Novy membiarkan saja
penis Reza berada di dalam mulutnya untuk beberapa saat sampai Reza menarik
keluar penisnya dari mulut Novy.
Kemudian Reza memaksa Novy untuk membersihkan penisnya dari sperma dengan
cara menjilatinya. Leo juga masih membiarkan penisnya di dalam anus Novy dan
sesekali masih menggerak-gerakkan penisnya di dalam anus Novy, mencoba untuk
merasakan kenikmatan yang lebih banyak. Novy dapat merasakan kehangatan
sperma di dalam lubang anusnya yang secara perlahan mengalir keluar dari lubang
anusnya.
Setelah Leo mencabut penisnya dari anus Novy, temannya yang lain, Irvan,
mengambil kursi dan duduk di atasnya. Dia menarik Novy mendekat dan menyuruh
Novy untuk mengangkangi penisnya menghadap dirinya. Irvan kemudian
mengarahkan penisnya ke vagina Novy, dan kemudian memaksa Novy untuk duduk
di atas pangkuannya, sehingga seluruh penis Irvan langsung masuk ke dalam
vagina Novy. Setelah itu, Novy dipaksa bergerak naik turun, sementara Irvan
meremas dan menjilati kedua payudara dan puting susu Novy. Sesekali Irvan
menyuruh Novy untuk menghentikan gerakannya untuk menahan orgasmenya.
Irvan dapat merasakan vagina Novy berdenyut-denyut seperti memijat penisnya,
dan dia juga dapat merasakan kehangatan vagina Novy yang sudah basah. Irvan
tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika
melihat Novy diperkosa oleh teman-temannya yang lain, sehingga dia langsung
memuncratkan spermanya ke dalam vagina Novy. Novy kembali merasakan
kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.
Selanjutnya, Iwan yang mengambil giliran untuk memperkosa Novy. Dia menarik
Novy dari pangkuan Irvan, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Novy
disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Iwan. Kemudian
secara kasar Iwan menarik pantat Novy turun, sehingga vagina Novy langsung
terhunjam oleh penis Iwan yang sudah berdiri keras. Penis Iwan, yang jauh lebih
besar daripada penis-penis sebelumnya yang memasuki vagina Novy, masuk
semuanya ke dalamvagina Novy, membuat Novy kembali merasakan kesakitan
karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Novy merasa
vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Iwan. Iwan memaksa Novy untuk terus
menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Iwan dapat bergerak keluar
masuk vagina Novy dengan leluasa.

Kemudian Iwan menjepit kedua puting susu Novy dan menariknya ke arah dadanya,
sehingga kini payudara Novy berhimpit dengan dada Iwan. Iwan benar-benar
terangsang saat merasakan kedua payudara Novy yang kenyal dan hangat
menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Shanty melepas ikat
pinggangnya dan mulai mencambuk punggung Novy beberapa kali. Walaupun
cambukan itu tidak terlalu keras, namun Novy tetap merasakan perih di
punggungnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa
gerakan Novy terhenti, Iwan marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah
pantat Novy dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai
akhirnya Novy menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks.
Ketika Iwan hampir mencapai klimaks, dia memeluk Novy dan berguling, sehingga
posisi mereka kini bertukar, Novy tidur di bawah dan Iwan di atasnya. Sambil
mencium bibir Novy dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Novy, Iwan
terus menggenjot vagina Novy. Tidak lama kemudian gerakan Iwan terhenti. Iwan
mencabut penisnya keluar dari vagina Novy dan segera menyemprotkan spermanya
di sekitar bibir vagina Novy. Kemudian dia menarik tangan kanan Novy dan
memaksa Novyuntuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan
tangannya sendiri.
Setelah itu, seorang temannya yang lain, Eka, kembali maju mengambil giliran
memperkosa vagina Novy. Hampir sepuluh menit Eka memompa vagina Novy
dengan kasar, membuat vagina Novy semakin terasa licin dan longgar. Sebelum
mencapai puncaknya, Eka mencabut penisnya dari vagina Novy dan memaksa Novy
untuk menadahkan kedua telapak tangannya untuk menampung spermanya.
Setelahitu, Eka memaksa Novy untuk mengusap sperma yang ada di telapak
tangannya ke wajahnya dan meratakannya seperti orang mencuci muka. Semua
temannya tertawa senang melihat itu, sementara Novy menahan jijik dan rasa malu
yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Novy sudah
rata oleh sperma milik Eka.
Kemudian lima orang lainnya secara bergantian memperkosa Novy di vagina, anus
maupun mulut Novy. Mereka juga meremas-remas payudara Novy dan mencubit
serta menggigit puting susu Novy keras-keras. Kini wajah, payudara, perut,
punggung, vagina dan pantat Novy sudah penuh oleh sperma. Bahkan kedua buah
payudara Novy kini berwarna kemerahan karena digigit dan diremas secara kasar
oleh teman-temannya. Di punggung Novy juga tercetak jalur-jalur merah akibat
dicambuk Shanty tadi.
Walaupun telah diperkosa berkali-kali, namun rupanya Novy tidak mencapai
orgasme sama sekali, karena dia berusaha menahannya. Melihat itu Shanty merasa
kesal dan memaksa Novy untuk mencapai orgasme dengan cara bermasturbasi
sendiri.
Gila elo.., lagi diperkosa aja masih sombong nggak mau orgasme. Sekarang elo
harus orgasme.., cepat masturbasi lagi sambil nyukur bulu elo tuh sampai bersih..!
perintah Shanty.
Shanty memberikan pisau cukur kepada Novy dan menyuruhnya untuk mencukur
bulu kemaluannya sendiri sambil bermasturbasi. Novy tidak berani berbuat apa-apa
kecuali menurut. Sambil menutup matanya, tangan kiri Novy mulai meremas-remas

payudaranya sendiri sambil meratakan sperma yang ada di payudara dan perutnya.
Sementara tangan kanannya mulai mencukur bulu kemaluannya pelan-pelan
sampai habis. Novy tidak memerlukan shaving cream lagi, karena vaginanya sudah
licin oleh sperma dan juga cairan vaginanya.
Setelah selesai mencukur bulu kemaluannya sampai habis, Novy mulai
memasukkan gagang pisau cukur itu ke dalam vaginanya dan menggerakgerakkannya keluar masuk perlahan-lahan. Vagina Novy terasa panas dan perih
saat Novy menyentuhnya. Rupanya dengan bermasturbasi sendiri, Novy lebih
terangsang, dan akhirnya lima menit kemudian tubuhnya tiba-tiba mengejang,
kakinya menekuk dan dadanya membusung memperlihatkan kedua payudaranya
mengacung tegak dengan puting susu yang mencuat keluar, menandakan bahwa
Novy sudah sangat terangsang. Novy mengeluarkan erangan yang tertahan sambil
tangan kanannya terus menggosok vaginannya, dan tangan kirinya menjepit puting
susunya sendiri. Akhirnya Novy mengalami orgasme yang luar biasa. Tubuh Novy
kaku merasakan kenikmatan luar biasa yang menjalar di seluruh tubuhnya, dan
cairan vagina Novy mengalir keluar dengan derasnya. Novy tidak dapat menutupi
kenikmatan yang dirasakannya saat itu, sehingga dia pun mengeluarkan suara
mendesah yang keras. Bahkan dia lupa bahwa dia kini sedang diperhatikan oleh
banyak orang dan untuk saat itu dia juga lupa akan kesakitan yang diderita
tubuhnya.
Belum pernah sebelumnya Novy mengalami orgasme sehebat itu, walaupun dia
sering bermasturbasi di rumahnya. Ini karena sebelumnya dia belum pernah
berhubungan badan, dan saat ini dia baru diperkosa beramai-ramai. Dan selama
diperkosa itu, walaupun sebenarnya Novy merasa terangsang, Novy menahan
orgasmenya sekuat tenaga dan akhirnya semua ditumpahkan saat dia
bermasturbasi.
Setelah mengalami orgasme, Novy hanya terdiam kecapaian. Kesadarannya
perlahan mulai kembali lagi dan rasa sakit kembali terasa di seluruh tubuhnya.
Kedua kakinya tertekuk dan mengangkang lebar memperlihatkan vaginanya yang
sudah licin mengkilat tanpa ada bulu kemaluannya sehelai pun sehabis dicukur. Di
sekitar vagina Novy terlihat bercak-bercak merah darah perawan Novy dan juga
sperma. Tangan kanannya menjulur ke samping dan tangan kirinya terlipat
menutupi sebagian payudaranya. Tubuhnya licin dan mengkilat karena keringat
yang membanjiri dan juga karena sperma yang diratakan ke seluruh tubuhnya.
Novy masih menangis pelan karena sakit dan juga karena rasa malu yang
menyerang dirinya. Namun Novy juga tidak dapat menutupi kenikmatan luar biasa
yang baru saja dirasakannya. Novy tidak mampu bergerak lagi.
Namun melihat itu, nafsu teman-temannya kembali muncul dan mereka kembali
maju bersamaan untuk memperkosa Novy lagi. Kali ini Novy tidak mampu berontak
sama sekali, karena dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Dia hanya terdiam dan
tubuhnya mengikuti saja gerakan pemerkosanya. Novy seperti boneka yang sedang
dipermainkan beramai-ramai. Kedua belas temannya kembali memperkosa vagina
dan anus Novy yang sudah terasa lebih longgar setelah dimasuki banyak penis
berkali-kali. Mereka juga memaksa Novy untuk mengulum dan menjilati penis
mereka, dan menelan semua sperma yang disemburkan ke dalam mulutnya.
Bahkan Novy diperkosa oleh tiga orang sekaligus yang memasukkan penisnya ke

mulut, vagina dan anus Novy secara bersamaan, sementara dua orang lainnya
mempermainkan payudara Novy.
Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan
oleh teman-teman Novy terhadap tubuh Novy. Kali ini Novy tidak kuat lagi menahan
orgasmenya, dan dia mengalami orgasme beberapa kali, namun tidak sehebat yang
pertama. Setelah kedua belas orang temannya selesai memperkosa dirinya untuk
kedua kalinya, Novy akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang
menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah
payudaranya. Novy telah diperkosa secara habis-habisan selama tiga jam lebih oleh
dua belas orang temannya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Shanty.
Ketika Novy terbangun, dia menyadari bahwa dirinya terikat ke tiang listrik dalam
keadaan berdiri di tempat parkir kampusnya yang terbuka. Saat itu keadaan masih
gelap dan masih belum ada satupun orang maupun mobil yang datang. Kedua
tangan Novy terikat ke belakang dan kedua kakinya juga terikat ke tiang listrik.
Tubuhnya masih telanjang bulat tanpa selembar benang pun dan dia tidak dapat
bergerak sama sekali. Ketika Novy mencoba berteriak, dia baru sadar bahwa
mulutnya ditutupi oleh lakban, sehingga dia tidak dapat mengeluarkan suara sama
sekali. Vagina dan kedua puting susu Novy juga ditempeli oleh lakban. Di dadanya
tergantung kertas yang bertuliskan Silakan Nikmati Tubuh Saya. GRATIS. Ttd: NOVY.
Novy membayangkan bagaimana malunya dirinya kalau nanti orang-orang datang
dan melihat keadaan dirinya yang telanjang bulat dan belepotan darah serta
sperma kering. Dia bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana kalau nanti
orang yang datang membaca dan menuruti tulisan di kertas itu, kemudian
memperkosa dirinya.
Tidak lama kemudian, dia melihat tujuh orang datang. Rupanya mereka satpam dan
tukang parkir kampusnya. Novy berusaha minta tolong dan mereka akhirnya datang
menghampirinya. Novy sedikit merasa lega, karena dia berpikir pasti mereka akan
menolongnya. Namun ketakutan Novy menjadi kenyataan, karena bukannya
bantuan yang diberikan, ketujuh orang itu malah ingin menikmati tubuh Novy di
tempat parkir itu. Sebelumnya seorang satpam menarik lepas dengan paksa lakban
di vagina, puting susu dan mulut Novy, membuat Novy kembali merasakan
kesakitan. Kini vagina dan puting susu Novy kembali terbuka dan dapat dilihat oleh
orang.
Wah, inikan si Novy, cewek paling cantik di kampus. Ngapain dia telanjangtelanjang begini di tempat parkir..? kata salah satu dari mereka.
Dan orang lainnya menyahut, Gile.., bodinya seksi banget. Gimana kalo kita cicipin
aja bodinya sekalian. Liat tuh.., memeknya bersih nggak ada bulunya.
Iya nih, kita perkosa aja yuk sekalian.. lagian dia yang minta diperkosa, liat aja
tulisan di kertas itu.
Ayo cepet kita perkosa aja.. Gue belum pernah ngerasain punyanya cewek kuliahan
nih..!
Novy hanya dapat menangis dan memohon, Tolong Pak, lepaskan saya.. jangan
perkosa saya lagi, sudah cukup penderitaan saya..
Namun mereka tidak peduli dengan rintihan Novy dan tetap melancarkan aksinya.

Mereka tertawa bahagia dan mulai membuka baju dan celananya masing-masing.
Melihat itu Novy hanya dapat pasrah dan berharap mereka tidak menyakiti dirinya
lagi. Tidak mungkin baginya untuk berteriak minta tolong, karena tidak ada orang
sama sekali di sekitar situ. Kemudian mereka mengambil selang air dan
menyemprot tubuh Novy dengan air dingin sambil menggosok-gosoknya untuk
membersihkan tubuh dan wajah Novy dari darah dan sperma kering yang
menempel di tubuhnya. Disemprot air dingin seperti itu, Novy terkejut dan
menggigil kedinginan. Namun itu tidak lama, karena kemudian dua orang laki-laki
segera melepaskan ikatan Novy, mengangkat tubuh Novy dan mendekapnya dari
depan dan belakang. Novy kini terjepit di antara tubuh dua orang laki-laki. Mereka
mulai memasukkan penis mereka ke dalam vagina dan anus Novy secara
bersamaan. Novy diperkosa di vagina dan anusnya dalam posisi berdiri.
Sementara itu orang yang berada di depan Novy menciumi bibir Novy dengan
paksa, dan orang yang berada di belakang Novy meremas-remas kedua payudara
Novy dari belakang. Beberapa menit kemudian kedua orang itu mencapai klimaks
dan menyemburkan spermanya di dalam vagina dan anus Novy. Orang yang
memperkosa vagina Novy menyemburkan spermanya berkali-kali di dalam vagina
Novy, sehingga Novy dapat merasakan bahwa kini vaginanya dibanjiri oleh sperma
orang itu yang sangat banyak dan tidak dapat tertampung lagi di dalam vaginanya.
Setelah itu, Novy dipaksa berlutut dan harus berkeliling menjilati semua penis lakilaki yang berdiri mengelilinginya secara bergantian. Novy juga terpaksa menelan
sperma semua laki-laki itu satu-persatu. Setelah menjilati semua penis laki-laki
yang ada di situ, Novy kemudian diperkosa lagi di vagina dan juga anusnya. Salah
seorang diantaranya memiliki penis yang sangat besar dan panjang, sehingga
ketika dia memperkosa anus Novy, penisnya hanya dapat masuk setengahnya.
Namun orang itu terus mendorong penisnya masuk ke dalam lubang anus Novy
dengan paksa, membuat Novy meronta-ronta kesakitan.
Selain menyemburkan spermanya di dalam vagina dan anus Novy, mereka juga
menyemburkan spermanya di tubuh Novy dan memaksa Novy untuk meratakannya
dengan tangannya sendiri. Novy tidak pernah membayangkan bahkan dalam mimpi
terburuknya, bahwa dirinya benar-benar dinikmati oleh banyak orang dalam
semalam. Dan kali ini Novy tidak dapat lagi menahan orgasmenya. Dia mencapai
orgasme sampai berkali-kali, mungkin karena satpam-satpam ini lebih
berpengalaman dibandingkan teman-temannya yang memperkosanya sebelumnya.
Setelah ketujuh orang itu kebagian mencicipi vagina, anus dan juga mulut Novy,
Novy kembali diikat di tiang listrik dalam posisi semula, dan kembali ditinggalkan
seorang diri dalam keadaan telanjang bulat. Tubuh Novy kembali belepotan oleh
sperma dan kulit tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Sperma dan cairan
vagina Novy yang tercampur menjadi satu menetes keluar perlahan-lahan dari
vagina dan lubang anus Novy. Dari mulut Novy juga mengalir keluar sperma yang
tidak dapat ditelan lagi oleh Novy.
Novy hanya dapat menggigil kedinginan. Namun penderitaannya belum berakhir
sampai di situ. Novykembali diperkosa secara bergantian oleh orang-orang yang
lewat, satpam, tukang parkir, temannya, dan bahkan dua orang dosennya ikut
memperkosanya. Vagina, anus dan mulutnya dimasuki oleh penis-penis lain, dan dia

dipaksa menelan sperma mereka semua. Sebagian meratakan spermanya di


seluruh tubuh Novy. Ada yang iseng mencoret-coret tubuh Novy dengan spidol
permanen dengan gambar-gambar dan kata-kata jorok. Bahkan orang terakhir yang
memperkosa Novy memasukkan ranting pohon sepanjang 25 cm ke dalam vagina
dan anus Novy sampai berdarah-darah dan meninggalkannya di situ.
Novy tergeletak di tanah dengan tubuh dan wajah yang kembali berlumuran oleh
darah serta sperma, dan ranting pohon yang menancap di anus dan vaginanya.
Payudara dan vagina Novy terlihat memar dan berwarna kemerahan. Bulatan
pantatnya juga terlihat memar dan kemerahan. Novy sudah tidak dapat merasakan
lagi vagina dan lubang anusnya. Akhirnya Novy kembali pingsan karena kesakitan
dan kecapaian.
Total Novy telah diperkosa oleh lebih dari 30 orang dalam semalam, sampai
akhirnya dia ditolong pada jam 05:30 pagi oleh seorang dosen wanita yang melihat
keadaan Novy yang menyedihkan. Saat ditanya siapa yang memperkosa dirinya,
Novy tidak berani menjawab, karena teringat ancaman Shanty yang akan
menyebarluaskan rekaman video Novy yang telanjang bulat sedang bermasturbasi
dan diperkosa oleh banyak orang. Novy lebih memilih bungkam. Dan setelah
kejadian itu, Novy tidak dapat bergerak sama sekali sampai berhari-hari, dan dia
merasa bahwa penderitaannya masih akan terulang lagi di kemudian hari.

GOYANGAN TANTE HOT


Goyangan Tanteku Tidak TerlupakanCerita Dewasa: Goyangan Tanteku Tidak
Terlupakan
Cerita Dewasa: Goyangan Tanteku Tidak Terlupakan
Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Bandung. Di sana aku tinggal
di rumah pamanku. Paman dan bibi dengan senang hati menerimaku tinggal di
rumah mereka, karena paman dan bibiku yang sudah 4 tahun menikah belum juga
punya anak sampai saat itu, jadi kata mereka biar suasana rumahnya tambah ramai
dengan kehadiranku.
Pamanku ini adalah adik ibuku paling kecil, saat itu dia baru berumur 35 tahun.
Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan juga ada lapangan
tenisnya, maklum pamanku adalah seorang pengusaha sukses yang kaya. Selain
bibiku dan pamanku, di rumah itu juga ada 3 orang pembantu, 2 cewek dan
seorang bapak tua berusia setengah umur, yang bertugas sebagai tukang kebun.
Bibiku baru berumur 31 tahun, orangnya sangat cantik dengan badannya yang
termasuk kecil mungil akan tetapi padat berisi, sangat serasi berbentuknya seperti
gitar spanyol, badannya tidak terlalu tinggi kurang lebih 155 cm. Dadanya yang
kecil terlihat padat kencang dan agak menantang. Pinggangnya sangat langsing
dengan perutnya yang rata, akan tetapi kedua bongkahan pantatnya sangat padat
menantang. Wajahnya yang sangat ayu itu, manis benar untuk dipandang. Kulitnya
kuning langsat, sangat mulus.

Kedua pembantu cewek tersebut, yang satu adalah janda berumur 27 tahun
bernama Trisni dan yang satu lagi lebih muda, baru berumur 18 tahun bernama
Erni. Si Erni ini, biarpun masih berumur begitu muda, tapi sudah bersuami dan
suaminya tinggal di kampung, bertani katanya.
Suatu hari ketika kuliahku sedang libur dan paman dan bibiku sedang keluar kota,
aku bangun agak kesiangan dan sambil masih tidur-tiduran di tempat tidur aku
mendengar lagu dari radio.
Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarku, lalu terdengar suara, Den Eric..,
apa sudah bangun..? terdengar suara Trisni.
Yaa.. ada apa..? jawabku.
Ini Den. Saya bawakan kopi buat Aden..! katanya lagi.
Oh.. yaa. Bawa masuk saja..! jawabku lagi.
Kemudian pintu dibuka, dan terlihat Trisni masuk sambil tangannya membawa
nampan yang di atasnya terdapat secangkir kopi panas dan pisang goreng. Ketika
dia sedang meletakkan kopi dan pisang goreng di meja di samping tempat tidurku,
badannya agak merapat di pinggir tempat tidur dan dalam posisi setengah
membungkuk, terlihat dengan jelas bongkahan pantatnya yang montok dengan
pinggang yang cukup langsing ditutupi kain yang dipakainya. Melihat pemandangan
yang menarik itu dengan cepat rasa isengku bangkit, apalagi ditunjang juga dengan
keadaan rumah yang sepi, maka dengan cepat tanganku bergerak ke obyek yang
menarik itu dan segera mengelusnya.
Trisni terkejut dan dengan segera menghindar sambil berkata, Iihh.., ternyata Den
Eric jail juga yaa..!
Melihat wajah Trisni yang masem-masem itu tanpa memperlihatkan ekspresi marah,
maka dengan cepat aku bangkit dari tempat tidur dan segera menangkap kedua
tangannya.
Aahh.. jangaann Deenn, nanti terlihat sama si Erni, kan malu atuu..!
Tapi tanpa memperdulikan protesnya, dengan cepat kutarik badannya ke arahku
dan sambil mendekapnya dengan cepat bibirku menyergap bibirnya yang karena
terkejut menjadi agak terbuka, sehingga memudahkan lidahku menerobos masuk
ke dalam mulutnya.
Dengan segera kusedot bibirnya, dan lidahku kumain-mainkan dalam mulutnya,
memelintir lidahnya dan mengelus-elus bagian langit-langit mulutnya. Dengan
cepat terdengar suara dengusan keluar dari mulutnya dan kedua matanya
membelalak memandangku. Dadanya yang montok itu bergerak naik turun dengan
cepat, membuat nafsu birahiku semakin meningkat. Tangan kiriku dengan cepat
mulai bergerilya pada bagian dadanya yang menonjol serta merangsang itu,
mengelus-elus kedua bukit kembar itu disertai ramasan-ramasan gemas, yang
dengan segera membangkitkan nafsu Trisni juga. Hal itu terlihat dari wajahnya yang
semakin memerah dan nafasnya yang semakin ngos-ngosan.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur dan dengan cepat aku segera
melepaskannya, Trisni juga segera membereskan rambut dan bajunya yang agak
acak-acakan akibat seranganku tadi.
Sambil menjauh dariku, dia berkata dengan pelan, Tuhkan.., apa yang Trisni
katakan tadi, hampir saja kepergok, Adeen genit siih..!

Sebelum dia keluar dari kamarku, kubisikan padanya, Triis, ntar malam kalau
semua sudah pada tidur kita teruskan yah..?
Entar nanti ajalah..! katanya dengan melempar seulas senyum manis sambil
keluar kamarku.
Malamnya sekitar jam 21.00, setelah semua tidur, Trisni datang ke ruang tengah,
dia hanya memakai pakaian tidur yang tipis, sehingga kelihatan CD dan BH-nya.
Eeh, apa semua sudah tidur..? tanyaku.
Sudah Den..! jawabnya.
Untuk lebih membuat suasana makin panas, aku telah menyiapkan film BF yang
kebetulan dapat pinjam dari teman. Lalu aku mulai menyetel film itu dan ternyata
pemainnya antara seorang pria Negro dan wanita Asia.
Terlihat adegan demi adegan melintas pada layar TV, makin lama makin hot saja,
akhirnya sampai pada adegan dimana keduanya telah telanjang bulat. Si pria Negro
dengan tubuhnya tinggi besar, hitam mengkilat apalagi penisnya yang telah tegang
itu, benar-benar dasyat, panjang, besar, hitam mengkilat kecoklat-coklatan,
sedangkan ceweknya yang kelihatan orang Jepang atau orang Cina, dengan
badannya kecil mungil tapi padat, kulitnya putih bersih benar-benar sangat kontras
dengan pria Negro tersebut.
Dengan sigap si Negro terlihat mengangkat cewek tersebut dan menekan ke
tembok. Terlihat dari samping penisnya yang panjang hitam itu ditempatkan pada
belahan bibir kemaluan cewe yang putih kemerah-merahan. Secara perlahan-lahan
mulai ditekan masuk, dari mulut cewe tersebut terdengar keluhan panjang dan
kedua kakinya menggelepar-gelepar, serta kedua bolah matanya terputar-putar
sehingga lebih banyak kelihatan putihnya. Sementara penis hitam si Negro terlihat
makin terbenam ke dalam kemaluan cewenya, benar-benar suatu adegan yang
sangat merangsang. Selang sejenak terlihat pantat si Negro mulai memompa,
makin lama makin cepat, sementara cewe itu menggeliat-geliat sambil setengah
menjerit-jerit.
Aduuh.., Den. Kasian tu cewe, Negronya kok sadis benar yaah..? Iihh.., ngilu
rasanya melihat barang segede itu..! guman Trisni setengah berbisik sambil kedua
bahunya agak menggigil, sedangkan wajahnya tampak mulai memerah dan
nafasnya agak tersengal-sengal.
Wah.., Tris kan yang gede itu enak rasanya. Coba bayangkan kalau barangnya si
Negro itu mengaduk-aduk itunya Trisni. Bagaimana rasanya..? sahutku.
Iih.., Aden jorok aahh..! sahut Trisni disertai bahunya yang menggigil, tapi
matanya tetap terpaku pada adegan demi adegan yang makin seru saja yang
sedang berlangsung di layar TV.
Melihat keadaan Trisni itu, dengan diam-diam aku meluncurkan celana pendek yang
kukenakan sekalian dengan CD, sehingga senjataku yang memang sudah sangat
tegang itu meloncat sambil mengangguk-anguk dengan bebas. Melihat penisku
yang tidak kalah besarnya dengan si Negro itu terpampang di hadapannya, kedua
tangannya secara refleks menutup mulutnya, dan terdengar jeritan tertahan dari
mulutnya.
Kemudian penisku itu kudekatkan ke wajahnya, karena memang posisi kami pada

waktu itu adalah aku duduk di atas sofa, sedangkan Trisni duduk melonjor di lantai
sambil bersandar pada sofa tempat kududuk, sehingga posisi barangku itu sejajar
dengan kepalanya. Segera kupegang kepala Trisni dan kutarik mendekat ke arahku,
sehingga badan Trisni agak merangkak di antara kedua kakiku. Kepalanya kutarik
mendekat pada kemaluanku, dan aku berusaha memasukkan penisku ke mulutnya.
Akan tetapi dia hanya mau menciuminya saja, lidahnya bermain-main di kepala dan
di sekitar batang penisku. Lalu dia mulai menjilati kedua buah pelirku, waahh.., geli
banget rasanya.
Akhirnya kelihatan dia mulai meningkatkan permainannya dan dia mulai menghisap
penisku pelan-pelan. Ketika sedang asyik-asyiknya aku merasakan hisapan Trisni itu,
tiba-tiba si Erni pembantu yang satunya masuk ke ruang tengah, dan dia terkejut
ketika melihat adegan kami. Kami berdua juga sangat kaget, sehingga aktivitas
kami jadi terhenti dengan mendadak.
Ehh.., Erni kamu jangan lapor ke Paman atau Bibi ya..! Awas kalau lapor..!
ancamku.
Ii.. ii.. iyaa.. Deen..! jawabnya terbata-bata sambil matanya setengah terbelalak
melihat kemaluanku yang besar itu tidak tertutup dan masih tegak berdiri.
Kamu duduk di sini aja sambil nonton film itu..! sahutkku.
Dengan diam-diam dia segera duduk di lantai sambil matanya tertuju ke layar TV.
Aku kemudian melanjutkan aktivitasku terhadap Trisni, dengan melucuti semua baju
Trisni. Trisni terlihat agak kikuk juga terhadap Erni, akan tetapi melihat Erni yang
sedang asyik menonton adegan yang berlasung di layar TV itu, akhirnya diam saja
membiarkanku melanjutkan aktivitasku itu.
Setelah bajunya kulepaskan sampai dia telanjang bulat, kutarik badannya ke
arahku, lalu dia kurebahkan di sofa panjang. Kedua kakinya tetap terjulur ke lantai,
hanya bagian pantatnya ke atas yang tergeletak di sofa. Sambil membuka bajuku,
kedua kakinya segera kukangkangi dan aku berlutut di antara kedua pahanya.
Kedua tanganku kuletakkan di atas pinggulnya dan jari-jari jempolku menekan pada
bibir kemaluannya, sehingga kedua bibir kemaluannya agak terbuka dan aku mulai
menjilati permukaan kemaluannya, ternyata kemaluannya sudah sangat basah.
Deen.., oh Deen..! Uuenaak..! rintihnya tanpa sadar.
Sambil terus menjilati kemaluannya Trisni, aku melirik si Erni, tapi dia pura-pura
tidak melihat apa yang kami lakukan, akan tetapi dadanya terlihat naik turun dan
wajahnya terlihat memerah. Tidak berselang lama kemudian badannya Trisni
bergetar dengan hebat dan pantatnya terangkat ke atas dan dari mulutnya
terdengar desahan panjang. Rupanya dia telah mengalami orgasme. Setelah itu
badannya terkulai lemas di atas sofa, dengan kedua kakinya tetap terjulur ke lantai,
matanya terpejam dan dari wajahnya terpancar suatu kepuasan, pada dahinya
terlihat bitik-bintik keringat.
Aku lalu berjongkok di antara kedua pahanya yang masih terkangkang itu dan
kedua jari jempol dan telunjuk tangan kiriku kuletakkan pada bibir kemaluannya dan
kutekan supaya agak membuka, sedang tangan kananku kupegang batang penisku
yang telah sangat tegang itu yang berukuran 19 cm, sambil kugesek-gesek kepala
penisku ke bibir vagina Trisni. Akhirnya kutempatkan kepala penisku pada bibir

kemaluan Trisni, yang telah terbuka oleh kedua jari tangan kiriku dan kutekan
penisku pelan-pelan. Bles..! mulai kepalanya menghilang pelan-pelan ke dalam
vagina Trisni diikuti patang penisku, centi demi centi menerobos ke dalam liang
vaginanya.
Sampai akhirnya amblas semua batang penisku, sementara Trisni mengerang-erang
keenakan.
Aduhh.. eennaak.., ennkk Deen. Eenak..!
Aku menggerakan pinggulku maju mundur pelan-pelan, sehingga penisku keluar
masuk ke dalam vagina Trisni. Terasa masih sempit liang vagina Trisni, kepala dan
batang penisku serasa dijepit dan diurut-urut di dalamnya. Amat nikmat rasanya
penisku menerobos sesuatu yang kenyal, licin dan sempit. Rangsangan itu sampai
terasa pada seluruh badanku sampai ke ujung rambutku.
Aku melirik ke arah Erni, yang sekarang secara terang-terangan telah memandang
langsung ke arah kami dan melihat apa yang sedang kami lakukan itu.
Sini..! Daripada bengong aja mendingan kamu ikut.., ayo sini..! kataku pada Erni.
Lalu dengan masih malu-malu Erni menghampiri kami berdua. Aku ganti posisi,
Trisni kusuruh menungging, telungkup di sofa. Sekarang dia berlutut di lantai,
dimana perutnya terletak di sofa. Aku berlutut di belakangnya dan kedua pahanya
kutarik melebar dan kumasukkan penisku dari belakang menerobos ke dalam
vaginanya. Kugarap dia dari belakang sambil kedua tanganku bergerilya di tubuh
Erni.
Kuelus-elus dadanya yang masih terbungkus dengan baju, kuusap-usap perutnya.
Ketika tanganku sampai di celana dalamnya, ternyata bagian bawah CD-nya sudah
basah, aku mencium mulutnya lalu kusuruh dia meloloskan blouse dan BH-nya.
Setelah itu aku menghisap putingnya berganti-ganti, dia kelihatan sudah sangat
terangsang. Kusuruh dia melepaskan semua sisa pakaiannya, sementara pada saat
bersamaan aku merasakan penisku yang berada di dalam vagina Trisni tersiram
oleh cairan hangat dan badan Trisni terlonjak-lonjak, sedangkan pantatnya bergetar.
Oohhh.., rupanya Trisni mengalami orgasme lagi pikirku. Setelah badannya bergetar
dengan hebat, Trisni pun terkulai lemas sambil telungkup di sofa.
Lalu kucabut penisku dan kumasukkan pelan-pelan ke vagina si Erni yang telah
kusuruh tidur telentang di lantai. Ternyata kemaluan Erni lebih enak dan terasa
lubangnya lebih sempit dibandingkan dengan kemaluan Trisni. Mungkin karena Erni
masih lebih muda dan jarang ketemu dengan suaminya pikirku.
Setelah masuk semua aku baru merasakan bahwa vagina si Erni itu dapat
mengempot-empot, penisku seperti diremas-remas dan dihisap-hisap rasanya.
Uh enak banget memekmu Errr. Kamu apain itu memekmu heh..? kataku dan si
Erni hanya senyum-senyum saja, lalu kupompa dengan lebih semangat.
Den.., ayoo lebih cepat..! Deen.. lebih cepat. Iiih..! dan kelihatan bahwa si Erni
pun akan mencapai klimaks.
Iihh.. iihh.. iihh.. hmm.. oohh.. Denn.. enaakk Deen..! rintihnya terputus-putus
sambil badannya mengejang-ngejang.
Aku mendiamkan gerakan penisku di dalam lubang vagina Erni sambil merasakan
ramasan dan empotan vagina Erni yang lain dari pada lain itu. Kemudian kucabut

penisku dari kemaluan Erni, Trisni langsung mendekat dan dikocoknya penisku
dengan tangannya sambil dihisap ujungnya. Kemudian gantian Erni yang
melakukannya. Kedua cewek tersebut jongkok di depanku dan bergantian
menghisap-hisap dan mengocok-ngocok penisku.
Tidak lama kemudian aku merasakan penisku mulai berdenyut-denyut dengan keras
dan badanku mulai bergetar dengan hebat. Sesuatu dari dalam penisku serasa akan
menerobos keluar, air maniku sudah mendesak keluar.
Akuu ngak tahan niihh.., mauu.. keluaar..! mulutku mengguman, sementara
tangan Erni terus mengocok dengan cepat batang penisku.
Dan beberapa detik kemudian, Crot.. croot.. croot.. crot..! air maniku memancar
dengan kencang yang segera ditampung oleh mulut Erni dan Trisni.
Empat kali semprotan yang kurasakan, dan kelihatannya dibagi rata oleh Erni dan
Trisni. Aku pun terkulai lemas sambil telentang di atas sofa.
Selama sebulan lebih aku bergantian mengerjai keduanya, kadang-kadang
barengan juga.
Pada suatu hari paman memanggilku, Ric Paman mau ke Singapore ada keperluan
kurang lebih dua minggu, kamu jaga rumah yaaa..! Nemenin Bibi kamu ya..! kata
pamanku.
Iya deeh. Aku nggak akan dolan-dolan..! jawabku.
Dalam hatiku, Kesempatan datang niihh..!
Bibi tersenyum manis padaku, kelihatan senyumnya itu sangat polos.
Hhmm.., tak tau dia bahaya sedang mengincarnya.. gumanku dalam hati.
Niatku ingin merasakan tubuh bibi sebentar lagi pasti akan kesampaian.
Sekarang nih pasti akan dapat kunikmati tubuh Bibi yang bahenol..! pikirku dalam
hati.
Setelah keberangkatan paman, malam harinya selesai makan malam dengan bibi,
aku nonton Seputar Indonesia di ruang tengah.
Bibi menghampiriku sambil berkata, Ric, badan Bibi agak cape hari ini, Bibi mau
tidur duluan yaa..! sambil berjalan masuk ke kamarnya.
Tadinya aku mau melampiaskan niat malam ini, tapi karena badan bibi kelihatan
agak tidak fit, maka kubatalkan niatku itu. Kasihan juga ngerjain bibi dalam keadaan
kurang fit dan lagian rasanya kurang seru kalau nanti belum apa-apa bibi sudah
lemas. Tapi dalam hatiku aku bertekad untuk dapat menaklukkan bibi pada malam
berikutnya.
Malam itu memang tidak terjadi apa-apa, tapi aku menyusun rencana untuk dapat
menaklukkan bibi. Pada malam berikutnya, setelah selesai makan malam bibi
langsung masuk ke dalam kamarnya. Selang sejenak dengan diam-diam aku
menyusulnya. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak dikunci.
Sambil mengintip ke dalam, di dalam kamar tidak terlihat adanya bibi, tapi dari
dalam kamar mandi terdengar suara air disiram. Rupanya bibi berada di dalam
kamar mandi, aku pun dengan berjingkat-jingkat langsung masuk ke kamar bibi.
Aku kemudian bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya.
Selang sesaat, bibi keluar dari kamar mandi. Setelah mengunci pintu kamarnya, bibi
mematikan lampu besar, sehingga ruang kamarnya sekarang hanya diterangi oleh
lampu tidur yang terdapat di meja, di sisi tempat tidurnya. Kemudian bibi naik ke

tempat tidur. Tidak lama kemudian terdengar suara napasnya yang berbunyi halus
teratur menandakan bibi telah tertidur. Aku segera keluar dari bawah tempat
tidurnya dengan hati-hati, takut menimbulkan suara yang akan menyebabkan bibi
terbangun.
Kulihat bibi tidur tidak berselimut, karena biarpun kamar bibi memakai AC, tapi
kelihatan AC-nya diatur agar tidak terlalu dingin. Posisi tidur bibi telentang dan bibi
hanya memakai baju daster merah muda yang tipis. Dasternya sudah terangkat
sampai di atas perut, sehingga terlihat CD mini yang dikenakannya berwarna putih
tipis, sehingga terlihat belahan kemaluan bibi yang ditutupi oleh rambut hitam
halus kecoklat-coklatan. Buah dada bibi yang tidak terlalu besar tapi padat itu
terlihat samar-samar di balik dasternya yang tipis, naik turun dengan teratur.
Walaupun dalam posisi telentang, tapi buah dada bibi terlihat mencuat ke atas
dengan putingnya yang coklat muda kecil. Melihat pemandangan yang
menggairahkan itu aku benar-benar terangsang hebat. Dengan cepat kemaluanku
langsung bereaksi menjadi keras dan berdiri dengan gagahnya, siap tempur.
Perlahan-lahan kuberjongkok di samping tempat tidur dan tanganku secara hati-hati
kuletakkan dengan lembut pada belahan kemaluan bibi yang mungil itu yang masih
ditutupi dengan CD. Perlahan-lahan tanganku mulai mengelus-elus kemaluan bibi
dan juga bagian paha atasnya yang benar-benar licin putih mulus dan sangat
merangsang.
Terlihat bibi agak bergeliat dan mulutnya agak tersenyum, mungkin bibi sedang
mimpi, sedang becinta dengan paman. Aku melakukan kegiatanku dengan hati-hati
takut bibi terbangun. Perlahan-lahan kulihat bagian CD bibi yang menutupi
kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya bibi sudah mulai terangsang juga. Dari
mulutnya terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-geliat
perlahan-lahan. Aku makin tersangsang melihat pemandangan itu.
Cepat-cepat kubuka semua baju dan CD-ku, sehingga sekarang aku bertelanjang
bulat. Penisku yang 19 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari
mangsa. Dan aku membelai-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Aku
tahu bahwa puting dan klitoris bibiku tempat paling suka dicumbui, aku tahu hal
tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku yang satu mulai gerilya di daerah
vaginanya. Kemudian perlahan-lahan aku menggunting CD mini bibi dengan gunting
yang terdapat di sisi tempat tidur bibi.
Sekarang kemaluan bibi terpampang dengan jelas tanpa ada penutup lagi.
Perlahan-lahan kedua kaki bibi kutarik melebar, sehingga kedua pahanya
terpentang. Dengan hati-hati aku naik ke atas tempat tidur dan bercongkok di atas
bibi. Kedua lututku melebar di samping pinggul bibi dan kuatur sedemikian rupa
supaya tidak menyentuh pinggul bibi. Tangan kananku menekan pada kasur tempat
tidur, tepat di samping tangan bibi, sehingga sekarang aku berada dalam posisi
setengah merangkak di atas bibi.
Tangan kiriku memegang batang penisku. Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan
pada belahan bibir kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar
itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan bibi. Terdengar suara
erangan perlahan dari mulut bibi dan badannya agak mengeliat, tapi matanya tetap

tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah bibir


kemaluan bibi.
Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan bibi. Dari mulut bibi
tetap terdengar suara mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai
gelisah. Aku tidak mau mengambil resiko, sebelum bibi sadar, aku sudah harus
menaklukan kemaluan bibi dengan menempatkan posisi penisku di dalam lubang
vagina bibi. Sebab itu segera kupastikan letak penisku agar tegak lurus pada
kemaluan bibi. Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku,
kutekan perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku
mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.
Kelihatan sejenak kedua paha bibi bergerak melebar, seakan-akan menampung
desakan penisku ke dalam lubang kemaluanku. Badannya tiba-tiba bergetar
menggeliat dan kedua matanya mendadak terbuka, terbelalak bingung,
memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan
siap untuk berteriak. Dengan cepat tangan kiriku yang sedang memegang penisku
kulepaskan dan buru-buru kudekap mulut bibi agar jangan berteriak. Karena
gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga lagi,
akibatnya seluruh berat pantatku langsung menekan ke bawah, sehingga tidak
dapat dicegah lagi penisku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi
dengan cepat.
Badan bibi tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan,
sedangkan kedua tangannya otomatis mendorong ke atas, menolak dadaku. Dari
mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh bekapan tangan kiriku.
Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..! desahnya tidak jelas.
Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat, kelihatan bibi sangat kaget dan
mungkin juga kesakitan akibat penisku yang besar menerobos masuk ke dalam
kemaluannya dengan tiba-tiba.
Meskipun bibi merontak-rontak, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser
karena tertekan oleh pinggulku dengan rapat. Karena gerakan-gerakan bibi dengan
kedua kaki bibi yang meronta-ronta itu, penisku yang telah terbenam di dalam
vagina bibi terasa dipelintir-pelintir dan seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam
vagina bibi. Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.
Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan kananku yang tadinya bertumpu
pada tempat tidur kulepaskan. Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat
ke atas badan bibi, kepalaku kuletakkan di samping kepala bibi sambil berbisik
kekuping bibi.
Bii.., bii.., ini aku Eric. Tenang bii.., sshheett.., shhett..! bisikku.
Bibi masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena badannya yang
mungil itu teperangkap di bawah tubuhku. Sambil tetap mendekap mulut bibi, aku
menjilat-jilat kuping bibi dan pinggulku secara perlahan-lahan mulai kugerakkan
naik turun dengan teratur.
Perlahan-lahan badan bibi yang tadinya tegang mulai melemah.
Kubisikan lagi ke kuping bibi, Bii.., tanganku akan kulepaskan dari mulut bibi, asal
bibi janji jangan berteriak yaa..?

Perlahan-lahan tanganku kulepaskan dari mulut bibi.


Kemudian Bibi berkata, Riic.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu telah memperkosa
Bibi..!
Aku diam saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggulku makin
kupercepat dan tanganku mulai memijit-mijit buah dada bibi, terutama pada bagian
putingnya yang sudah sangat mengeras.
Rupanya meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah, akan tetapi
reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai
terangsang itu. Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan lagi.
Akhirnya dari mulut bibi terdengar suara, Oohh.., oohh.., sshhh.., sshh.., eemm..,
eemm.., Riicc.., Riicc..!
Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan kedua tanganku
bertumpu pada tempat tidur, sehingga aku sekarang dalam posisi setengah
bangun, seperti orang yang sedang melakukan push-up.
Dalam posisi ini, penisku menghujam kemaluan bibi dengan bebas, melakukan
serangan-serangan langsung ke dalam lubang kemaluan bibi. Kepalaku tepat
berada di atas kepala bibi yang tergolek di atas kasur. Kedua mataku menatap ke
bawah ke dalam mata bibi yang sedang meram melek dengan sayu. Dari mulutnya
tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang sejenak setelah merasa pasti bahwa
bibi telah dapat kutaklukan, aku berhenti dengan kegiatanku. Setelah mencabut
penisku dari dalam kemaluan bibi, aku berbaring setengah tidur di samping bibi.
Sebelah tanganku mengelus-elus buah dada bibi terutama pada bagian putingnya.
Eehh.., Ric.., kenapa kau lakukan ini kepada bibimu..! katanya.
Sebelum menjawab aku menarik badan bibi menghadapku dan memeluk badan
mungilnya dengan hati-hati, tapi lengket ketat ke badan. Bibirku mencari bibinya,
dan dengan gemas kulumat habis. Wooww..! Sekarang bibi menyambut ciumanku
dan lidahnya ikut aktif menyambut lidahku yang menari-nari di mulutnya.
Selang sejenak kuhentikan ciumanku itu.
Sambil memandang langsung ke dalam kedua matanya dengan mesra, aku berkata,
Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Bibi, Bibi sangat cantik lagi ayu..!
Sambil berkata itu kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan perkataanku,
Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman, aku kok merasa sangat
cemburu, seakan-akan Bibi adalah milikku, jadi Bibi jangan marah yaa kepadaku, ini
kulakukan karena tidak bisa menahan diri ingin memiliki Bibi seutuhnya.
Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.
Ciumanku kali ini sangat panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan
belahan jiwanya masuk ke dalam diriku. Ini kulakukan dengan perasaan cinta kasih
yang setulus-tulusnya. Rupanya bibi dapat juga merasakan perasaan sayangku
padanya, sehingga pelukan dan ciumanku itu dibalasnya dengan tidak kalah mesra
juga.
Beberapa lama kemudian aku menghentikan ciumanku dan aku pun berbaring
telentang di samping bibi, sehingga bibi dapat melihat keseluruhan badanku yang
telanjang itu.
Iih.., gede banget barang kamu Ricc..! Itu sebabnya tadi Bibi merasa sangat penuh

dalam badan Bibi. katanya, mungkin punyaku lebih besar dari punya paman.
Lalu aku mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya. Ciumanku mulai dari
mulutnya turun ke leher dan terus kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar
tapi padat itu. Pada bagian ini mulutku melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua
buah dadanya, terutama pada kedua ujung putingnya berganti-ganti, kiri dan
kanan.
Sementara aksiku sedang berlangsung, badan bibi menggeliat-geliat kenikmatan.
Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak hentinya. Aksiku kuteruskan ke
bawah, turun ke perutnya yang ramping, datar dan mulus. Maklum, bibi belum
pernah melahirkan. Bermain-main sebentar disini kemudian turun makin ke bawah,
menuju sasaran utama yang terletak pada lembah di antara kedua paha yang putih
mulus itu.
Pada bagian kemaluan bibi, mulutku dengan cepat menempel ketat pada kedua
bibir kemaluannya dan lidahku bermain-main ke dalam lubang vaginanya. Mencaricari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas
lubang kemaluannya. Segera terasa badan bibi bergetar dengan hebat dan kedua
tangannya mencengkeram kepadaku, menekan ke bawah disertai kedua pahanya
yang menegang dengan kuat.
Keluhan panjang keluar dari mulutnya, Oohh.., Riic.., oohh.. eunaakk.. Riic..!
Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan kutempatkan posisi
badan sehingga bagian pinggulku berada sejajar dengan kepala bibi dan dengan
setengah berjongkok. Posisi batang kemaluanku persis berada di depan kepala bibi.
Rupanya bibi maklum akan keinginanku itu, karena terasa batang kemaluanku
dipegang oleh tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis menerobos
masuk di antara daging empuk yang hangat. Ketika ujung lidah bibi mulai bermainmain di seputar kepala penisku, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari
bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan
kenikmatan dari mulutku.
Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-menjilat
seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain.
Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang di
samping bibi. Kemudian sambil telentang aku menarik bibi ke atasku, sehingga
sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku. Badan bibi dengan pelan kudorong agak
ke bawah dan kedua paha bibi kupentangkan. Kedua lututku dan pantatku agak
kunaikkan ke atas, sehingga dengan terasa penisku yang panjang dan masih sangat
tegang itu langsung terjepit di antara kedua bibir kemaluan bibi.
Dengan suatu tekanan oleh tanganku pada pantat bibi dan sentakan ke atas
pantatku, maka penisku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan
bibi. Amblas semua batangku.
Aahh..! terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut bibi.
Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena kelihatan bahwa bibi
sudah mau klimaks. Bibi tambah semangat juga ikut mengimbangi dengan
menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atasku. Kulihat wajahnya yang
cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang
kedua buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.

Ketika kulihat pada cermin besar di lemari, kelihatan pinggul bibi yang sedang
berayun-ayun di atasku. Batang penisku yang besar sebentar terlihat sebentar
hilang ketika bibi bergerak naik turun di atasku. Hal ini membuatku jadi makin
terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penisku mencari jalan keluar,
hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badanku. Kemudian air
maniku tanpa dapat ditahan menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina
bibi, yang pada saat bersamaan pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya
disertai badannya yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terlonjaklonjak. Kedua tangannya mendekap badanku dengan keras.
Pada saat bersamaan kami berdua mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya
bibi tertelungkup di atas badanku dengan lemas sambil dari mulut bibi terlihat
senyuman puas.
Riic.., terima kasih Ric. Kau telah memberikan Bibi kepuasan sejati..!
Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling
membersihkan diri satu sama lain. Sementara mandi, kami berpelukan dan
berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus dan memijit-mijit
satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi. Dengan
setengah membopong badan bibi yang mungil itu dan kedua tangan bibi
menggelantung pada leherku, kedua kaki bibi kuangkat ke atas melingkar pada
pinggangku dan dengan menempatkan satu tangan pada pantat bibi dan menekan,
penisku yang sudah tegang lagi menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.
Aaughh.. oohh.. oohh..! terdengar rintihan bibi sementara aku menggerakangerakan pantatku maju-mundur sambil menekan ke atas.
Dalam posisi ini, dimana berat badan bibi sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya
yang sedang terganjel oleh penisku, maka dengan cepat bibi mencapai klimaks.
Aaduhh.. Riic.. Biiibii.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Riic..! dengan keluhan panjang
disertai badannya yang mengejang, bibi mencapai orgasme, dan selang sejenak
terkulai lemas dalam gendonganku.
Dengan penisku masih berada di dalam lubang kemaluan bibi, aku terus
membopongnya. Aku membawa bibi ke tempat tidur. Dalam keadaan tubuh yang
masih basah kugenjot bibi yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai aku
orgasme sambil menekan kuat-kuat pantatku. Kupeluk badan bibi erat-erat sambil
merasakan airmaniku menyemprot-nyemprot, tumpah dengan deras ke dalam
lubang kemaluan bibi, mengisi segenap relung-relung di dalamnya.
Semalaman itu kami masih melakukan persetubuhan beberapa kali, dan baru
berhenti kecapaian menjelang fajar. Sejak saat itu, selanjutnya seminggu minimum
4 kali kami secara sembunyi-sembunyi bersetubuh, diselang seling mengerjai si
Trisni dan Erni apabila ada waktu luang. Hal ini berlangsung terus tanpa paman
mengetahuinya sampai saya lulus serjana dan harus pindah ke Jakarta, karena
diterima kerja di suatu perusahaan asing.