Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN METALURGI FISIK

Laporan ini dibuat untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah
Metalurgi Fisik

Oleh,
Nama
NIM

:
:

Yusuf Bagus Z. H.
2112152058

Jurusan Teknik Mesin


Fakultas Teknik

Universitas Jendral Achmad Yani


Cimahi
Januari, 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena atas berkat
dan kasih karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Metalurgi
Fisik
Tujuan dari penyusunan Laporan ini adalah untuk melengkapi salah satu
tugas mata kuliah Metalurgi Fisik, di Universitas Jendral Ahmad Yani.
Dalam pembuatan karya tulis ini penulis menyadari akan adanya
kekurangan baik dari segi penyampaian maupun penulisan yang disebabkan karena
keterbatasan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh penulis, maka pada
kesempatan ini penulis mengharapkan saran serta kritik yang sebesar-besarnya
terutama yang bersifat membangun dengan harapan dapat memperbaiki setiap
kesalahan tersebut di masa yang akan datang, agar terciptanya penambahan
pengalaman dan pengetahuan yang mudah-mudahan dapat berguna kelak.
Akhir kata penulis mengharapkan agar karya tulis ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya, dan menambah wawasan bagi pembaca pada umumnya. Terima
kasih.
Cimahi, Januari 2016

Penulis

ii

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ II
DAFTAR ISI ......................................................................................................... III
BAB I

BAB II

PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1

LATAR BELAKANG MASALAH ...................................................... 1

1.2

TUJUAN PERCOBAAN ................................................................... 3

1.3

ALAT DAN BAHAN ....................................................................... 3

LANDASAN TEORI .............................................................................. 4


2.1

TEORI TAMBAHAN ....................................................................... 5

2.1.1 Proses Karburising ................................................................. 5


2.1.2 Keuntungan dan kerugian karburising: ................................ 11
2.1.3 Hal-hal yang mempengaruhi kekerasan ............................... 11
BAB III

PROSEDUR PERCOBAAN............................................................. 13

BAB IV

ANALISIS PERCOBAAN ............................................................... 15


4.1

ANALISA DATA .......................................................................... 15

4.2

ANALISA TEORITIS ..................................................................... 15

BAB V KESIMPULAN ..................................................................................... 17


DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18
LAMPIRAN ............................................................................................................ 1

iii

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perlakuan panas kimiawi merupakan proses yang digunakan untuk
memperoleh sifat berbeda pada permukaan dan bagian tengah komponen. Kondisi
demikian kadang diperlukan pada komponen yang harus keras permukaannya dan
tahan aus, tetapi bagian tengah lebih ulet dan tangguh. Kombinasi sifat ini
menjamin komponen memiliki ketahanan aus yang cukup untuk memberi umur
pakai lebih lama disamping cukup tangguh terhadap beban impak.
Metode pertama dikenal sebagai proses perlakuan termokimia karena
komposisi kimia permukaan baja diubah dengan difusi atom karbon dan atau
nitrogen (carburizing dan nitriding) dan terkadang dengan elemen lainnya. Metoda
kedua melibatkan transformasi fasa pemanasan dan pendinginan cepat.

Gambar I.1 Pemodelan terjadinya difusi


Karburising merupakan proses penambahan unsur karbon pada baja karbon
rendah secara difusi sehingga karbon dari media karburising akan masuk ke
permukaan baja dan meningkatkan kadar karon pada pemukaan baja karbon rendah
tersebut. Pada bagian baja dengan kadar karbon tinggi (>1% C), jumlah kandungan
karbon pada permukaan baja sudah cukup tinggi sehingga karbon akan sulit
berdifusi ke permukaan substrat. Difusi karbon umumnya dilakukan pada suhu
842C - 953C (Budinski, 1999;304). Terdapat tiga metode karbirising yaitu : gas,
liquid, dan pack karburising.

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

Pada sistem pack karburising , baja (komponen/benda kerja) dimasukan


disekitar serbuk karbon yang saat pemanasan mengeluarkan gas CO2 dan CO. Gas
CO akan bereaksi dengan permukaan baja membentuk atom karbon yang kemudian
berdifusi ke dalam baja mengikuti persamaan :
2 + () +
Gas CO2 ini sebagian akan bereaksi kembali dengan karbon dari media
karburasi.
Membentuk CO dn sebagian lagi akan menguap. Ini berarti bahwa oksigen
harus tersedia cukup dalam kotak agar proses dapat berlangsung dengan baik.
Media karburasi yang berbentuk serbuk akan memunculkan rongga-rongga didalam
kotak. Semakin besar ukuran serbuk maka semakin besar rongganya, namun akan
semakin sedikit kotak antara media karburasi dengan permukaan komponen.
Ukuran serbuk yang besar juga akan mengurangi efektifitas proses karburasi padat,
terutama jika komponen yang dikarburasi memiliki bentuk yang rumit. Di sisi lain,
semakin kecil ukuran serbuk semakin kecil rongganya sehingga ,mengurangi
jumlah oksigen dalam kotak. Bagaimanapun juga rongga ini diperlukan untuk
menjamin pergerakan gas-gas yang muncul selama proses didalam kotak. Oleh
sebab-sebab itu, ukuran butir serbuk yang efektif pada proses karburising padat
perlu ditentukan agar proses menjadi optimal.
Pada permukaan baja karbon rendah, gas CO terurai membentuk atom
karbon yang kemudian terdifusi masuk ke dalam baja. Dengan demikian kadar
karbon pada permukaan baja akan meningkat sehingga meningkatkan kekerasan
permukaan.

Gambar I.2 Pemodelan terjadinya difusi


Kedalaman difusi dan kekerasan yang dihasilkan pada proses karburising
tidak ada batasan secara teknik, tapi dari pengamatan praktis umumnya kedalaman

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

karburising sekiar 0,05in(1,27m). Waktu yang dibutuhkan untuk karburising juga


sangat tergantung pada media, suhu difusi dan jenis paduan logam.

1.2 Tujuan Percobaan


Untuk memperoleh sifat berbeda pada permukaan dan bagian tengah
komponen.

1.3 Alat dan Bahan


1. Satu buah kotak baja untuk proses karburising
2. Baja Karbon Rendah
3. Serbuk kabon
4. Gergaji,kikir,kertas ampelas
5. Tungku muffle
6. Penjepit spesimen
7. Mesin uji kekerasan
8. Mikroskop metalurgi

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

BAB II
LANDASAN TEORI
Karburising merupakan proses penambahan unsur karbon pada baja karbon
rendah secara difusi sehingga karbon dari media karburising akan masuk ke
permukaan baja dan meningkatkan kadar karon pada pemukaan baja karbon rendah
tersebut. Pada bagian baja dengan kadar karbon tinggi (>1% C), jumlah kandungan
karbon pada permukaan baja sudah cukup tinggi sehingga karbon akan sulit
berdifusi ke permukaan substrat. Difusi karbon umumnya dilakukan pada suhu
842C - 953C (Budinski, 1999;304). Terdapat tiga metode karbirising yaitu : gas,
liquid, dan pack karburising.
Pada sistem pack karburising , baja (komponen/benda kerja) dimasukan
disekitar serbuk karbon yang saat pemanasan mengeluarkan gas CO2 dan CO. Gas
CO akan bereaksi dengan permukaan baja membentuk atom karbon yang kemudian
berdifusi ke dalam baja mengikuti persamaan :
2 + () +
Gas CO2 ini sebagian akan bereaksi kembali dengan karbon dari media
karburasi
Membentuk CO dn sebagian lagi akan menguap. Ini berarti bahwa oksigen
harus tersedia cukup dalam kotak agar proses dapat berlangsung dengan baik.
Media karburasi yang berbentuk serbuk akan memunculkan rongga-rongga didalam
kotak. Semakin besar ukuran serbuk maka semakin besar rongganya, namun akan
semakin sedikit kotak antara media karburasi dengan permukaan komponen.
Ukuran serbuk yang besar juga akan mengurangi efektifitas proses karburasi padat,
terutama jika komponen yang dikarburasi memiliki bentuk yang rumit. Di sisi lain,
semakin kecil ukuran serbuk semakin kecil rongganya sehingga ,mengurangi
jumlah oksigen dalam kotak. Bagaimanapun juga rongga ini diperlukan untuk
menjamin pergerakan gas-gas yang muncul selama proses didalam kotak. Oleh
sebab-sebab itu, ukuran butir serbuk yang efektif pada proses karburising padat
perlu ditentukan agar proses menjadi optimal.

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

Pada permukaan baja karbon rendah, gas CO terurai membentuk atom


karbon yang kemudian terdifusi masuk ke dalam baja. Dengan demikian kadar
karbon pada permukaan baja akan meningkat sehingga meningkatkan kekerasan
permukaan.

2.1 Teori Tambahan


2.1.1

Proses Karburising
Pada suatu komponen mesin dari baja adakalanya diperlukan keras dan

tahan aus pada permukaannya saja, sedangkan pada inti atau bagian dalam tetap
dalam keadaan lunak dan ulet. Hal ini akan memberikan kombinasi yang serasi
antara bagian luar atau permukaan benda kerja yang keras dan tahan menerima
beban, serta tahan aus dengan inti yang lunak dan ulet.
Karburising adalah proses menambahkan karbon ke permukaan benda,
dilakukan dengan memanaskan benda kerja dalam lingkungan yang banyak
mengandung karboin aktif, sehingga karbon berdifusi masuk ke permukaan baja
(Wahid Suherman, 1998: 147).
Pada temperature karburising, media karbon terurai menjadi CO yang
selanjutnya terurai menjadi karbon aktif yang dapat berdifusi masuk ke dalam baja
dan menaikkan kadar karbon pada permukaan baja.
Pada proses perlakuan panas, termasuk karburising selalu mengacu pada
diagram fase yang berdasarkan pada karbon dari baja. Baja pada dasarnya adalah
paduan besi dan karbon (Fe-C), besi dan karbon selain dapat membentuk larutan
padat juga dapat membentuk senyawa karbid besi (sementit, Fe3C).
Dalam diagram fase, baja dibedakan menjadi tiga kelompok utama, yaitu :

baja eutectoid

baja hypoeutectoid

baja hypertectoid

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

Gambar II.1 Diagram Fasa

Menurut diagram Fase diatas dapat dibaca bahwa baja eutectoid mempuyai
kandungan karbon sebesar 0,8 %. Mempuayi struktur mikro perlit, apabila
dipanaskan secara ekuilibrium akan mengalami perubahan struktur pada titik S atau
pada titik A1 (723 o C) . pada titik A1 mulai terjadi perubahan struktur dari pelrit
menjadi seluruhnya austenit.
Baja hypoeutectoid memiliki kadar karbon kurang dari 0,8 % dengan
struktur mikro terdiri dari ferit perlit. Apabila dipanaskan secara ekuilibrium akan
mengalami perubahan struktur pada titik A1 (723 oC). Pada titik tadi setelah perlit
habis, dan temperatur makin naik, ferit sedikit demi sedikit mulai bertransformasi
menjadi austenit
Baja hypereutectoid yang memiliki kadar karbon lebih dari 0,8 % dengan
struktur miro terdiri dari perlit yang terbungkus sementit. Apabila dipanaskan
secara ekulibrium akan mengalami perubahan struktur pada titik A1 (723 o C).
Mulai titik ini jaringan sementit akan larut ke dalam austenit dan struktur
seluruhnya akan berubah menjadi austenit pada titik Acm.

1. Karburising Padat (Pack Carburizing)


Karburising padat adalah proses karburisasi pada permukaan benda kerja
dengan menggunakan karbon yang didapat dari bubuk arang. Bahan karburisasi ini

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

biasanya adalah arang tempurung kelapa, arang kokas, arang kayu, arang kulit atau
arang tulang.
Benda kerja yang akan dikarburising dimasukkan ke dalam kotak
karburisasi yang sebelumnya sudah diisi media karburisasi. Selanjutnya benda kerja
ditimbuni dengan bahan karburisasi dan benda kerja lain diletakkan diatasnya
demikian selanjutnya (Wahid Suherman, 1998: 150).

Gambar II.2 Packing benda kerja


Kandungan karbon dari setiap jenis arang adalah berbeda-beda. Semakin
tinggi kandungan karbon dalam arang, maka penetrasi karbon ke permukaan baja
akan semakin baik pula.
Bahan karbonat ditambahkan pada arang untuk mempercepat proses
karburisasi. Bahan tersebut adalah barium karbonat (BaCO3) dan soda abu (NaCO3)
yang ditambahkan bersama-sama dalam 10 40 % dari berat arang (Y. Lakhtin,
1975: 255).
Sebenarnya

tanpa

energiserpun

dapat

terjadi

karburisasi,

karena

temperature yang tinggi ini mula-mula karbon teroksidir oleh oksigen dari udara
yang terperangkap dalam kotak menjadi CO2 (Wahid Suherman, 1998: 149).
Reaksi yang terjadi adalah
2 + () 2

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

Dengan temperatur yang semakin tinggi kesetimbangan rekasi maikn


cenderung ke kanan makin banyak CO.
2 2 + ( )
Dimana C yang terbentuk ini merupakan atom karbon (carbon nascent)
yang aktif berdifusi masuk ke dalam fase austenit dari baja ketika baja dipanaskan.
Besarnya kadar karbon yang terlarut dalam baja pada saat baja dalam larutan pada
gamma fase austenit selama karburisasi adalah maksimal 2 %.
Kotak karburisasi yang dipanaskan harus dalam keadaan tertutup rapat, hal
ini bertujuan untuk mencegah terjadinya reaksi antara media karburisasi dengan
udara luar. Cara yang biasanya ditempuh unutk menghindari hal tadi adalah dengan
memberikan lapisan tanah liat (clay) antara tutup dengan kotak karburisasi.
Menurut Wahid Suherman (1998: 150) bahwa kotak karburisasi
dipanaskan dalam dapur sampai temperatur 825 925 o C dengan segera
permukaan benda kerja akan menyerap karbon sehingga dipermukaan akan
terbentuk lapisan berkadar karbon tinggi sampai 1,2 %. Dan menurut B.H
Amstead (1979: 152) bahwa proses karburisasi padat banyak diterapkan untuk
memperoleh lapisan yang tebal antara 0,75 4 mm.

2. Karburising Cair (Liquid Carburizing)


Karburising proses cair adalah proses pengerasan baja dengan cara
mencelupkan baja yang telah ditempatkan pada keranjang kawat ke dalam
campuran garam cianida, kalsium cianida (KCN), atau natrium cianida (NaCN).
Dengan pemanasan akan terjadi reaksi-reaksi:
2 + 2 2
4 2 + 2 3 + + 2
3 + 2 3 + 2
2 2 +

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

Dari reaksi tersebut tampak bahwa disamping atom karbon, atom nitrogen
ikut juga berdifusi masuk ke dalam baja karbon. Karena nitrogen di dalam baja akan
bereaksi membentuk nitrida. Banyaknya karbon dan nitrogen yang terserap
tergantung pada temperatur pemanasan dan kadar cyanide yang berada di dalam
garam cair. Garam cair atau salt bath untuk liquid carburizing biasanya
mengandung 40% 50% garam cyanide. Selama pemakaian kandungan cyanide
akan berkurang, karena itu komposisi garam cair harus sering sering diperiksa.
Pada garam cair proses difusi berlangusng sangat cepat dan permukaan benda kerja
tetap bersih sehingga dapat langung didinginkan. Hanya saja setelah selesai proses
benda kerja harus dibersihkan dari sisasisa garam untuk menghindari terjadinya
korosi dan selain itu garam cyanide adalah senyawa yang sangat beracun.
Keuntungan dari proses ini adalah dapat mengeraskan baja tetapi tidak lebih
dari 0,5 mm, dapat juga untuk benda kerja yang kecil, dan juga proses oksidasi dan
dekarbonisasi dapat dicegah.

Gambar II.3 Liquid Carburizing


Kadar karbon yang dikarburisasi akan naik dengan semakin tingginya
temperatur dan makin lamanya waktu karburisasi. Bila kadar karbon dipermukaan
terlalu tinggi maka kekerasan tidak begitu tinggi, karena itu baja yang akan di
quenching langsung setelah pemanasan untuk karburisasi hendaknya dipakai
temperatur yang tidak begitu tinggi.
Selama pemakaian konsentrasi cianida dalam salt bath dapat berubah
sehingga tentu saja sifat salt bath dapat berubah, karena itu kondisi salt bath harus
secara rutin diperiksa. Apabila terdapat perubahan yang berarti, harus dilakukan
penambahan garam baru unutk menjaga konsentrasi tetap sebagaimana semula.
Semua cianida adalah senyawa yang sangat beracun, karena itu
pemakaiannya harus sangat hati-hati. Demikian pula pada saat membuang sisa-sisa

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

cairan yang akan terkena garam cianida tersebut harus benar-benar mengikuti
petunjuk dari pihak berwenang.

3. Karburising Gas (Gas Carburizing)


Proses pengerasan ini dilakukan dengan cara memanaskan baja dalam dapur
dengan atmosfer yang banyak mengandung gas CO dan gas hidro karbon yang
mudah berdifusi pada temperatur karburisasi 900 o 950 o C selama 3 jam.
Gas-gas pada temperatur karburisasi itu akan bereaksi menghasilkan karbon
aktif yang nantinya berdifusi ke dalam permukaan baja.
Pada proses ini lapisan hypereutectoid yang menghalangi pemasukan
karbon dapat dihilangkan dengan memberikan diffusion period, yaitu dengan
menghentikan pengaliran gas tetapi tetap mempertahankan temperatur pemanasan.
Dengan demikian karbon akan berdifusi lebih ke dalam dan kadar karbon pada
permukaan akan semakin naik.
Karburising dalam media gas lebih menguntungkan dibanding dengan
karburising jenis lain karena permukaan benda kerja tetap bersih, hasil lebih banyak
dan kandungan karbon pada lapisan permukaan dalam dikontrol lebih teliti.
Menurut B.H Amstead (1979: 153) mengatakan bahwa proses karburisasi media
gas digunakan untuk memperoleh lapisan tipis antara 0,1 0,75 mm.
Pemakaian logam ferrous baik baja maupun besi cor dengan karakteristik
dan sifat yang berbeda membutuhkan adanya suatu penanganan yang tepat sehingga
implementasi dari penggunaan logam tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan yang
ada. Penggunaan baja karbon rendah banyak digunakan karena baja karbon rendah
memiliki keuletan yang tinggi dan mudah dimesin namun kekerasannya rendah dan
ketahanan ausnya rendah.
Baja ini tidak dapat dikeraskan dengan cara konvensional karena kadar
karbonnya yang rendah, sehingga perlu dilakukan proses carburizing. Proses
carburizing sendiri didefinisikan sebagai suatu proses penambahan kandungan
unsur karbon (C) pada permukaan baja. Proses carburizing yang tepat akan
menambah kekerasan permukaan sedang pada bagian dalam tetap ulet. Baja
dipasaran biasanya dijual dalam bentuk baja padat, baik dalam bentuk plat,

10

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

lonjoran, batangan maupun profil. Menaikkan maupun menurunkan prosentase


unsur karbon dari baja padatan tidak semudah dalam keadaan cair, salah satu cara
yaitu dengan proses carburizing.
Carburizing tidak mampu merubah komposisi karbon secara menyeluruh
dari material yang diproses, namun pada daerah kulit atau permukaan baja akan
berubah signifikan. Selain dari itu ada hal yang perlu diperhatikan sebelum
memulai proses pengarbonan (carburizing), yaitu komposisi kimia khususnya
perubahan unsur karbon C akan dapat mengakibatkan perubahan sifat-sifat mekanik
baja tersebut. Proses karburasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu waktu
penahanan atau lamanya proses karburasi, temperatur pemanasan, media karburasi
dan lamanya proses pendinginan. Untuk media karburasi, penggunaan prosentase
bahan karbon aktif dan bahan kimia yang berfungsi sebagai energizer akan
menghasilkan kekerasan yang berbeda pada baja.
2.1.2

Keuntungan dan kerugian karburising:


Keuntungan dari Proses Carburizing adalah:

Mudah mengontrol kedalaman (Depth Control) dengan mengatur


lamanya waktu tunggu/holding time

Baik untuk bentuk kompleks

Biaya rendah terutama untuk produksi massal

Bahan baku Low carbon steel -penghematan

Struktur lebih tangguh daripada baja medium atau high carbon steel

Kerugian dari Proses Carburizing adalah:

2.1.3

Proses ini belum dapat menggunakan suhu yang tinggi.

Biaya mahal

Hal-hal yang mempengaruhi kekerasan

1. Kadar Karbon

11

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

Baja merupakan hasil paduan antara Fe (Besi) dengan karbon yang


relatif lebih lunak. Semakin tinggi kadar karbon yang dikandung maka baja tersebut
akan semakin keras dan getas. Namun dibalik tingginya kadar karbon yang dimiliki
akan menyebabkan keuletan suatu logam akan menurun.

2. Media Pendingin
Media pendingin sangat berpengaruh terhadap struktur mikro suatu
logam. Pada saat logam telah mengalami pemanasan, media pendingin dengan
kecepatan pendingin yang cepat akan menghasilkan kerja yang keras. Namun baja
yang keras akan menyebabkan turunnya keuletan baja tersebut.
3. Temperatur Pemanasan
Temperatur pemanasan dalam tungku akan mempengaruhi struktur
yang terbentuk, dimana tinggi suhu pemanasan akan menyebabkan terbentuknya
strukturil yang lunak karena jaraj antara molekul semakin renggang sehingga
menjadi lunak.

4. Debit
Semakin besar volume massa media pendingin, amak semakin cepat
proses pendinginannya, begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan karena panas
yang dapat diserap oleh media pendingin atau fluida akan lebih banayk
dibandingkan volume yang kecil.

12

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
1. Menyiapkan benda kerja :

Memotong,

Ratakan dan bersihkan spesimen dari semua kotoran yang menempel


dengan kikir dan kertas ampelas,

Berikan tanda pada benda kerja : memoles permukaan spesimen dengan


autosol.

2. Melakukan pengujian kekerasan dengan kekerasan rockwell dan mengamati


struktur mikro permukaan spesimen sebelum di proses karburising.
3. Persiapkan spesimen dan serbuk karbon dalam kotak baja untuk proses
karburising.
4. Mempersiapkan tungku pemanas, memasukan kotak karburising yang telah
diisi spesimen dan serbuk kedalam tungku dan atur suhu kerja 900C.
Lakukan proses karburising selama waktu yang telah ditentukan (1 jam atau
2 jam atau 3 jam atau 4 jam).
5. Mengambil kotak karburising dari dalam tungku dengan alat bantu, buka
tutup kotak dan dinginkan dengan udara bebas.
6. Mengambil spesimen dari kotak, bersihkan dari permukaan spesimen
7. Melakukan pengujian kekerasan permukaan dan amati struktur mikronya.
8. Melakukan proses quenching untuk memperoleh permukaan yang keras
pada spesimen
9. Melakukan pengujian kekerasan permukaan benda kerja setelah karburising
dan amati struktur mikro permukaan spesimen.

13

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

14

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

BAB IV
ANALISIS PERCOBAAN
Data-data Pengamatan :
Bahan spesimen uji : AISI 1020
Tungku yang digunakan : Muffle
Temperatur proses karburising : 900C
Lama waktu proses karburising : 3 Jam
Data hasil pengujian kekerasan :
Metode pengujian kekerasan : Rockwell C
Indentor : intan kerucut
Beban penekenan : 1470 N / 150 kgf

Kekerasan
Sebelum
Karburising
94 HRC
96,5 HRC
93,5 HRC

Kekerasan Rata
Rata
94,6 HRC

Kekerasan
setelah
karburising
(tungku)
94 HRC
93 HRC
96 HRC

Kekerasan
Rata Rata
94,3 HRC

Kekerasan
setelah
quenchhing (oli)
77,5 HRC
74,5 HRC
74,5 HRC

Kekerasan
Rata Rata
75,5 HRC

4.1 Analisa Data

Berdasarkan data diatas maka bisa dilihat bahwa kekerasan setelah diuji
dengan mesin rockwell kekerasan setelah karburising lebih keras, kekerasan tersbut
dikarenakan proses setelah karburising didapatkan dengan mendinginkan pada
tungku, dimana dengan pendinginan ditungku laju pendinginan terhadap materialya
lebih lambat dibandingkan dengan quenching dengan oli. Adapun perbedaan titiktitik kekerasan disebabkan oleh titik uji kekerasan yang diambil berbeda beda,
untuk titik kekerasan yang rendah diambil pada titik tengah bahan uji spesimen.
Yang berarti untuk bagian tengah bahan uji spesimen kekerasannya masih kurang.

4.2 Analisa Teoritis

15

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

Berdasarkan teori kekerasan lebih bagus dengan menggunakan metode


pendinginan dengan menggunakan tungku didapatkan kekerasan yang lebih keras
karena laju pendinginan ditungku terjadi lebih lambat, yang artinya laju
pendinginan lebih merata ke seluruh permukaan bahan. Sementara dengan
menggunakan quenching atau dengan pendinginan oli itu didapatkan pendinginan
yang tidak merata, karena pendinginannya terjadi dengan cepat atau tidak merata.

16

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah kekerasan dengan menggunakan
metode pendinginan di tungku didapatkan kekerasan yang lebih baik karena
pendinginan yang merata dan lambat, sedangkan dengan metode quenching
didapatkan kekerasan getas tapi rapuh karena pendinginannya tidak merata. Pada
praktikum ini pun pada titik tengah materialnya didapati kekerasan materialnya
masih lunak, karena pendinginan pada saat praktikum kurang merata.

17

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

DAFTAR PUSTAKA
Sudarsono., Ferdian, D., dan Soedarsono, J.W., 2003, Pengaruh Media
Celup dan Waktu Tahan Pada Karburasi Padat Baja AISI SAE 1522,
http://arisabadi.blogspot.co.id/2008/09/proses-karburising.html
http://teknik-mesin1.blogspot.co.id/2011/05/karburising.html

18

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

LAMPIRAN

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

LAMPIRAN TUGAS
1. Buatlah gambar skematik siklus proses perlakuan panas yang dilakukan ?
2. Jelaskan apa yang terjadi pada masing masing tahap dalam proses
karburising ?
3. Jelaskan mengapa terjadi perbedaan sifat mekanik (kekerasan) dari
specimen sebelum dan setelah dilakukan proses proses karburising, dan
jelaskan pula perubahan struktur mikronya ?
4. Apa yang terjadi bila baja karbon rendah dilakukan celup cepat setelah
proses karburising, jelaskan.
Jawaban :
1.

Laporan Metalurgi Fisik Yusuf BZH - 2112152058

2. Karburising adalah proses dimana benda akan dikeraskan pada kulitnya


dengan cara penambahan karbon ke permukaan benda, karburising
dilakukan dengan cara memanaskan benda kerja dalam lingkungan yang
banyak mengandung karboin aktif, sehingga karbon berdifusi masuk ke
permukaan baja (Wahid Suherman, 1998: 147). Pada temperature
karburising, media karbon terurai menjadi CO yang selanjutnya terurai
menjadi karbon aktif yang dapat berdifusi masuk ke dalam baja dan
menaikkan kadar karbon pada permukaan kulit baja. Pada proses perlakuan
panas, termasuk karburising selalu mengacu pada diagram fase yang
berdasarkan pada karbon dari baja. Baja pada dasarnya adalah paduan besi
dan karbon (Fe-C), besi dan karbon selain dapat membentuk larutan padat
juga dapat membentuk senyawa karbid besi (sementit, Fe3C). kita ketahui
bahwa carbon memiliki sifat keras tapi getas, sedangkan besi mempunyai
sifat ulet.

3. Perbedaan terdapat pada metode pendinginan masing-masing specimen,


karena dengan pendinginan yang berbeda caranya sifat kekerasan yang
didapatkan pun akan berbeda, misal bahan yang didinginkan dengan tungku
laju pendinginannya akan lebih lambat dan baik terhadap kekerasan
dibandingkan didinginkan dengan menggunakan oli.

4. Pendinginan yang dilakukan secara cepat akan menyebabkan material


memiliki sifat martensite. Martensit merupakan salah satu fasa yang dapat
terbentuk pada struktur logam. Sifat dari sturktur pada fasa martensit adalah
keras dan getas, jadi logam yang berada pada fasa ini cepat mengalami
perpatahan. Untuk mendapatkan struktur dengan fasa martensit, maka
logam haurs melalui proses perlakuan panas dengan laju pendinginan yang
cepat. Untuk laju pendinginan yang cepat, biasanya digunakan air garam
yang memiliki densitas yang sangat tinggi.