P. 1
Asal Usul Pisang Batu

Asal Usul Pisang Batu

|Views: 2,005|Likes:
Dipublikasikan oleh Achmad Hidayat
Tiba-tiba sebuah sinar di atas memancar ke arah pohon pisang dewa. Terjadi keajaiban. Pohon pisang dewa itu mendadak dapat mengerti dan berbicara bahasa manusia.
“Ampun Baginda Raja, hamba ingin sekali memiliki kaki agar dapat berjalan-jalan seperti manusia dan binatang,” pohon pisang dewa memohon.
Tiba-tiba sebuah sinar di atas memancar ke arah pohon pisang dewa. Terjadi keajaiban. Pohon pisang dewa itu mendadak dapat mengerti dan berbicara bahasa manusia.
“Ampun Baginda Raja, hamba ingin sekali memiliki kaki agar dapat berjalan-jalan seperti manusia dan binatang,” pohon pisang dewa memohon.

More info:

Published by: Achmad Hidayat on May 14, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

Asal Usul Pisang Batu

Dahulu kala, hiduplah Raja Gadangaji yang sangat sakti. Raja ini sangat gemar menyantap buahbuahan. Ia mempunyai kebun buah yang sangat luas. Segala jenis buah dari berbagai penjuru negeri terdapat di kebun tersebut. Akan tetapi, pisang dewa-lah buah yang paling digemarinya. Pisang dewa memang terkenal sangat lezat. Orang yang memakannya pun tidak akan pernah bosan. Konon, pohon pisang dewa itu adalah hidangan para dewa. Para dewa menghadiahkan pohon pisang itu kepada Raja Gadangaji karena ia berhasil mengalahkan raksasa jahat yang mengamuk. Pada suatu hari, Raja Gadangaji berjalan-jalan di kebun buahnya. Saat tiba di depan pohon pisang dewa, ia berhenti dan memetik sebuah pisang yang sudah masak dari salah satu tandannya. Ketika itu pohon pisang dewa memang berbeda dengan pohon pisang lainnya. Ia berbuah setiap saat dan terdiri dari beberapa tandan sekaligus. Ia juga berbuah berulang kali, sehingga saat buahnya masak, pohonnya tidak perlu ditebang. “Hmm… lezat sekali,” Raja Gadangaji memakan habis pisang tersebut. “Pohon pisang dewa, aku berjanji akan membalas kebaikanmu yang telah memberi santapan lezat setiap hari,” gumam Raja Gadangaji. Tiba-tiba sebuah sinar di atas memancar ke arah pohon pisang dewa. Terjadi keajaiban. Pohon pisang dewa itu mendadak dapat mengerti dan berbicara bahasa manusia. “Ampun Baginda Raja, hamba ingin sekali memiliki kaki agar dapat berjalan-jalan seperti manusia dan binatang,” pohon pisang dewa memohon. Raja Gadangaji sangat terkejut mendengar permintaan yang di luar dugaannya itu. Namun ia sudah telanjur berjanji. Pantang baginya untuk menarik kembali ucapannya tersebut. “Baiklah pisang dewa, aku akan memohon pada para dewa untuk memberimu kaki. Tapi ingat, kamu hanya boleh berjalan-jalan di dalam kebun istana ini!” ujar Raja Gadangaji dengan berat hati. Kemudian Raja Gadangaji komat-kamit memohon kepada para dewa. Sekonyong-konyong seberkas sinar kembali memancar ke arah pohon pisang dewa. Perlahan-lahan pohon itu tercabut dari dalam tanah. Dari akarnya tumbuh sepasang kaki baru. Betapa senangnya pohon pisang dewa. Ia berjalan hilir-mudik dan meloncat-loncat gembira. “Ingat pisang dewa, kamu tidak boleh keluar dari kebun ini!” ucap Raja Gadangaji sambil meninggalkan tempat tersebut. “Baiklah! Terima kasih Baginda Raja!” seru pisang dewa gembira. Sejak itu pisang dewa senang sekali berjalan-jalan mengelilingi kebun istana. Ia memamerkan kaki barunya pada setiap pohon buah yang dilewatinya. Ia tidak peduli jika pohon-pohon tersebut mulai jengkel melihat kesombongannya. Beberapa hari kemudian, pisang dewa merasa bosan hanya berjalan-jalan di dalam kebun istana. Ia ingin sekali melihat-lihat keadaan di luar kebun tersebut. Namun para penjaga melarangnya. Pada suatu malam, diam-diam pisang dewa berhasil menyelinap keluar kebun istana. Saat itu penjaga kebun istana sedang tertidur lelap. “Hahaha, akhirnya aku bisa bebas pergi ke mana saja,” kata pisang dewa sambil menelusuri jalan yang masih sepi dan gelap. Menjelang pagi hari, pisang dewa berpapasan dengan pengembara miskin yang kehabisan bekal. Pengembara itu heran melihat pohon pisang yang dapat berjalan. Saat melihat buah pisangnya yang masak, ia menghampiri untuk memetiknya. Namun pisang dewa segera berlari

menghindar. “Pohon pisang yang baik, berilah aku satu saja buahmu. Kasihanilah aku. Sejak sore perutku belum terisi makanan,” pinta pengembara itu sambil mencoba mengejar dengan sisa-sisa tenaganya. “Huh! Aku ini buah khusus untuk dewa dan raja!” pisang dewa berlari. Di tengah jalan ia berpapasan dengan beberapa pedagang yang hendak pergi ke pasar. Para pedagang tersebut juga merasa heran. “Itu pisang dewa!” seru pengembara yang masih mengejarnya. Para pedagang itu pun ikut-ikutan mengejarnya. Mereka juga ingin merasakan kelezatan buah pisang dewa. Lambat-laun orang-orang yang mengejar pisang dewa semakin banyak. Tetapi karena tidak berhasil juga, mereka semua merasa jengkel. Lalu mulai melempari pohon itu dengan batu kerikil. “Aduh, aduh, ampun!” pisang dewa berlari kesakitan. Untung para prajurit kerajaan segera datang menolong. Mereka memang ditugaskan untuk mencari pohon itu, karena Raja Gadangaji ingin memakan buahnya. Akan tetapi betapa terkejutnya Raja Gadangaji saat menyantap buah pisang dewa. Di dalamnya terdapat banyak biji. Ternyata batu-batu kerikil yang dilempar menembus buahnya, dan berubah menjadi biji. Raja Gadangaji sangat marah. Ia mengusir pohon pisang dewa. Ia juga mengutuk pohon itu sehingga tidak memiliki kaki lagi dan hanya dapat berbuah sekali seperti pohon pisang lainnya. Sejak saat itu penduduk merubah nama pisang dewa menjadi pisang batu atau pisang biji. Diceritakan oleh E. Wahyu Nugroho Dari Pustaka Bobo

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->