Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam 24
jam setelah anak lahir (Rustam Mochtar, 2012).
Hemoragi Postpartum (PPH) adalah kehilangan darah sebanyak 500 ml atau
lebih dari traktus genitalia setelah melahirkan (Modul Kebidanan Nifas : Hemoragi
Postpartum, 2012).
Perdarahan post partum adalah Perdarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi
lahir (Wiknjosastro,2008).
Perdarahan pasca persalinan adalah kehilangan darah lebih dari 500 ml
melalui jalan lahir yang terjadi selama atau setelah persalinan kala III (Yetti, 2010).
Perdarahan pasca persalinan ialah perdarahan lebih dari 500 ml yang terjadi
setelah lahirnya bayi (Achadiyat, 2004).
B. Tanda dan Gejala
Gejala Klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang
banyak (> 500 ml), nadi lemah, pucat,lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah,
letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah,ekstremitas dingin,
mual. Gejala Klinis berdasarkan penyebab:
1. Atonia Uteri, gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek
dan perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan post partum primer).
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut
nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)

2. Robekan jalan lahir, gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar
mengalir segera setelah bayi lahir, kontraksi uteru baik, plasenta baik.
Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah, menggigil.
3. Retensio plasenta, gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30
menit, perdarahan segera, kontraksi uterus baik. Gejala yang kadangkadang timbul: tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversi uteri akibat
tarikan, perdarahan lanjutan.
4. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta), gejala yang selalu ada : plasenta
atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah ) tidak lengkap
dan perdarahan segera. Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus
berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
5. Inversio uterus, gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina
terisi massa, tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir), perdarahan
segera, dan nyeri sedikit atau berat. Gejala yang kadang-kadang timbul:
Syok neurogenik dan pucat.
C. Pemeriksaan Penunjang
a. Golongan darah : menentukan Rh, ABO dan percocokan silang
b. Jumlah darah lengkap : menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan
jumlah sel darah putuih (SDP). (Hb saat tidakhamil:12-16gr/dl, saat hamil:
10-14gr/dl. Ht saat tidak hamil:37%-47%, saat hamil:32%-42%. Total SDP
saat tidak hamil4.500-10.000/mm3. saat hamil 5.000-15.000)
c. Kultur uterus dan vagina : mengesampingkan infeksi pasca partum
d. Urinalisis : memastikan kerusakan kandung kemih
e. Profil koagulasi : peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split
fibrin (FDP/FSP), penurunan kadar fibrinogen: masa tromboplastin partial
diaktivasi, masa tromboplastin partial (APT/PTT), masa protrombin
memanjang pada KID
f. Sonografi : menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan
D. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan perdarahan post partum menurut Khaidir (2008), adalah :
a.

Penatalaksanaan umum

1)

Ketahui secara pasti kondisi ibu bersalin sejak awal

2)

Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman

3)

Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat

4)

Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan

dengan masalah dan komplikasi


5)

Atasi syok jika terjadi syok

6)

Pastikan kontraksi berlangsung baik ( keluarkan bekuan darah, lakukan pijatan

uterus, beri uterotonika 10 IV dilanjutkan infus 20 ml dalam 500 cc NS/RL dengan


tetesan 40 tetes/menit ).
7)

Pastikan plasenta telah lahir lengkap dan eksplorasi kemungkinan robekan jalan

lahir
8)

Bila perdarahan tidak berlangsung, lakukan uji bekuan darah.

9)

Pasang kateter tetap dan pantau cairan keluar masuk

10) Lakukan observasi ketat pada 2 jam pertama paska persalinan dan lanjutkan
pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya.
b.

Penatalaksanaan khusus

1)

Atonia uteri

a)

Kenali dan tegakan kerja atonia uteri.

b)

Sambil melakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan

pengurutan uterus.
c)

Pastikan plasenta lahir lengkap dan tidak ada laserasi jalan lahir.

d)

Lakukan tindakan spesifik yang diperlukan :

1)

Kompresi bimanual eksternal yaitu menekan uterus melalui dinding abdomen

dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang melingkupi uteus.
Bila perdarahan berkurang kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat
kembali berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehatan rujukan
2)

Kompresi bimanual internal yaituv uterus ditekan diantara telapak tangan pada

dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjempit pembuluh darah
didalam miometrium.
3)

Kompresi aorta abdominalis yaitu raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan

kiri, pertahankan posisi tersebut genggam tangan kanan kemudian tekankan pada
daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna
vertebralis, penekanan yang tepat akan menghetikan atau mengurangi, denyut arteri
femoralis.

2)

Retensio plasenta dengan separasi parsial

a)

Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan

diambil.
b)

Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengejan, bila ekspulsi tidak

terjadi cobakan traksi terkontrol tali pusat.


c)

Pasang infus oksitosin 20 unit/500 cc NS atau RL dengan tetesan 40/menit, bila

perlu kombinasikan dengan misoprostol 400mg per rektal.


d)

Bila traksi terkontrol gagal melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta secara

hati-hati dan halus.


e)

Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.

f)

Lakukan transfusi darah bila diperlukan.

g)

Berikan antibiotik profilaksis (ampicilin 2 gr IV/oral + metronidazole 1 g

supp/oral ).
3)

Plasenta inkaserata

a)

Tentukan diagnosis kerja

b)

Siapkan peralatan dan bahan untuk menghilangkan kontriksi serviks yang kuat,

tetapi siapkan infus fluothane atau eter untuk menghilangkan kontriksi serviks yang
kuat, tetapi siapkan infus oksitosin 20 Untuk500 NS atau RL untuk mengantisipasi
gangguan kontraksi uterus yang mungkin timbul.
c)

Bila bahan anestesi tidak tersedia, lakukan manuver sekrup untuk melahirkan

plasenta.
d)

Pasang spekulum Sims sehingga ostium dan sebagian plasenta tampak jelas.

e)

Jepit porsio dengan klem ovum pada jam 12, 4 dan 8 dan lepaskan spekulum

f)

Tarik ketiga klem ovum agar ostium, tali pusat dan plasenta tampak jelas.

g)

Tarik tali pusat ke lateral sehingga menampakkan plasenta disisi berlawanan agar

dapat dijepit sebanyak mungkin, minta asisten untuk memegang klem tersebut.
h)

Lakukan hal yang sama pada plasenta kontra lateralv

i)

Satukan kedua klem tersebut, kemudian sambil diputar searah jarum jam tarik

plasenta keluar perlahan-lahan.


4)

Ruptur uteri

a)

Berikan segera cairan isotonik (RL/NS) 500 cc dalam 15-20 menit dan siapkan

laparatomi.

b)

Lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta, fasilitas pelayanan

kesehatan dasar harus merujuk pasien ke rumah sakit rujukan


c)

Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan,

lakukan operasi uterus.


d)

Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkwatirkan

lakukan histerektomi
e)

Lakukan bilasan peritonial dan pasang drain dari cavum abdomenv

f)

Antibiotik dan serum anti tetanus, bila ada tanda-tanda infeksi.v

5)

Sisa plasenta

a)

Penemuan secara dini, dengan memeriksa kelengkapan plasenta setelah

dilahirkan.
b)

Berikan antibiotika karena kemungkinan ada endometriosisv

c)

Lakukan eksplorasi digital/bila serviks terbuka dan mengeluarkan bekuan darah

atau jaringan, bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa
plasenta dengan dilatasi dan kuret.
d)

Hb 8 gr % berikan transfusi atau berikan sulfat ferosus 600 mg/hari selama 10

hari.
6)

Ruptur peritonium dan robekan dinding vagina

a)

Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber

perdarahan.
b)

Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik.

c)

Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang

dapat diserap.
d)

Lakukan penjahitan luka dari bagian yang paling distalv

e)

Khusus pada ruptur perineum komplit dilakukan penjahitan lapis demi lapis

dengan bantuan busi pada rektum, sebagai berikut :v


f)

Setelah prosedur aseptik- antiseptik, pasang busi rektum hingga ujung robekan.

g)

Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul sub mukosa,

menggunakan benang polyglikolik no 2/0 (deton/vierge) hingga ke sfinter ani, jepit


kedua sfinter ani dengan klem dan jahit dengan benang no 2/0.
h)

Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perineum dan sub mukosa dengan benang

yang sama (atau kromik 2/0 ) secara jelujur.


i)

Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara sub mukosa dan sub kutikuler.

j)

Berikan antibiotik profilaksis. Jika luka kotor berikan antibiotika untuk terapi.

7)

Robekan serviks

a)

Sering terjadi pada sisi lateral, karena serviks yang terjulur akan mengalami

robekan pada posisi spina ishiadika tertekan oleh kepala bayi.


b)

Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan

banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan porsio
c)

Jepitan klem ovum pada kedua sisi porsio yang robekv sehingga perdarahan

dapat segera di hentikan, jika setelah eksploitasi lanjutkan tidak dijumpai robekan
lain, lakukan penjahitan, jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah
luar sehingga semua robekan dapat dijahit.

d)

Setelah tindakan periksa tanda vital, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri dan

perdarahan paska tindakan.


e)

Berikan antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tanda-tanda infeksi.

f)

Bila terjadi defisit cairan lakukan restorasi dan bila kadar Hb dibawah 8 gr%

berikan transfusi darah.

https://mulandari.wordpress.com/2010/12/03/perdarahan-postpartum/
http://tommy-nurse.blogspot.com/2009/05/hemoragie-postpartum-hppatau.html
http://rinidwiyanarosa.blogspot.com/2013/06/perdarahan-post-partum.html
http://himmaafidah.blogspot.com/p/perdarahan-post-partum-sekunder.html

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. W
Umur : 27 tahun
Nikah/ lamanya : 1 kali/ 6 tahun
Suku : Manado
Agama : Islam
Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl.Sea, Lingkungan 9
b. Identitas Penanggung Jawab (Suami)
Nama : Tn. M
Umur : 29 tahun
Nikah/ lamanya : 1 kali/ 6 tahun
Suku : Manado
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Buruh harian.
Alamat : Jl.Sea, Lingkungan 9
2. Data Biologis
1) Keluhan utama : ibu mengatakan merasa mual disertai pengeluaran
darah yang banyak dari jalan lahir.
2) Riwayat keluhan utama:
a. Pengeluaran darah yang banyak mulai dirasakan segera setelah
melahirkan tanggal 18-01-2011 jam : 09.15.
b. Sifat keluhan terus menerus.
c. Ibu merasa demam dan lemah.
3) Riwayat kesehatan dahulu dan sekarang
a. Tidak ada riwayat alergi.
b. Tidak ada riwayat penyakit DM, tumor, hipertensi, PMS, dan TBC.
c. Tidak ada riwayat penyakit yang menyertai kehamilan seperti nyeri
perut hebat, sakit kepala hebat, dan kejang.
d. Tidak ada riwayat ketergantungan obat, alkohol, dan merokok.
e. Ibu memiliki penyakit sindrom nefrotik.
4) Riwayat Reproduksi.
a. Riwayat haid :
- Menarche : 15 tahun
- Siklus haid : 28-30 hari
- Lamanya : 5 7 hari
- Perlangsungan : Normal
- Dismenore : tidak ada
b. Riwayat obstetric
- Ibu mengatakan ini adalah kehamilannya yang ke dua dan tidak
-

pernah keguguran sebelumnya.


ANC > 4 x di puskesmas Bahu.

HPHT : 8-04-2010 HTP : 15 -01-2011.


Selama hamil, ibu tidak pernah merasa sakit perut hebat dan

nyeri kepala.
c. Riwayat gynekologi
- Ibu tidak pernah menderita penyakit kandungan.
d. Riwayat KB
- Ibu pernah menjadi akseptor KB jenis suntikan 3 bulan.
e. Riwayat Persalinan
- Kala I pembukaan :
Ibu masuk dengan pembukaan 3 cm jam 06.00 WITA (18-

01-2011).
Kala II
Pembukaan lengkap 10 cm pu.kul 09.00 WITA.
Bayi lahir tanggal 18-01-2011 Jam:09.15 WITA.
Bayi lahir dengan PBK dan segera menangis.
Jenis kelamin perempuan, BBL :3.400 gram , PB :50 cm.
A/s ;8/10.
Kala III
Penyuntikan oksitoksin dilakukan 2 kali karena setelah 15

menit plasenta belum lahir.


Plasenta lahir lengkap
- Kala IV
Terjadi perdarahan postpartum karena atonia uteri.
5) Riwayat pemenuhan Kebutuhan Dasar
a. Pola nutrisi.
Kebiasaan
- Makan :2 x sehari dengan porsi 1 piring. Menu: nasi ,sayur,lauk
pauk, kadang buah
- Minum : minum air putih 7-8 gelas perhari
- Perubahan setelah partus, Tidak ada.
b. Pola eliminasi.
Kebiasaaan :
- BAB : 1 x sehari, dengan konsistensi padat, warna kuning
-

kecoklatan.
BAK : 3-4 x sehari, warna kuning, bau amoniak.
Perubahan setelah partus: BAB dan BAK belum pernah selama

melahirkan.
c. Personal hygine

Kebiasaan :
Mandi : 2 x sehari.Pakai sabun mandi.
Gosok gigi : tiap setelah mandi dan sebelum tidur, pakai pasta

gigi.
Keramas : 2x seminggu ,pakai shampoo.
Pakaian diganti tiap kali sudah mandi.
Perubahan setelah partus: Ibu belum mandi, gosok gigi, dan

keramas
d. Istirahat :
Kebiasaan :
- Tidur siang : 1 2 jam sehari.
- Tidur malam : 7-8 jam sehari.
- Perubahan setelah partus: Ibu belum pernah tidur.
6) Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum ibu tidak baik.
b. Kesadaran apatis.
c. TTV :
- Tekanan Darah : 100/70 mmHg
- Nadi : 86 x / menit.
- Pernapasan : 36 x/ menit
- Suhu badan : 36 O C.
d. Kepala
- Inspeksi :Rambut hitam lurus,tidak berketombe, tidak rontok.
- Palpasi : tidak ada benjolan dan nyeri tekan
-

1) Wajah
Inspeksi : Ekspresi wajah tampak meringis
Palpasi : tidak ada oedema pada wajah.
2) Mata
Inspeksi : Simetris ki/ka, sklera tampak putih dan konjungtiva
merah muda.
3) Hidung
Inspeksi : Simetris ki/ ka, tidak terdapat polip dan peradangan
4) Gigi dan mulut
Inspeksi : Tampak bersih, tidak ada caries dan gigi

berlubang,bibir tidak pecah pecah.


e. Leher
- Inspeksi : Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid, limfe dan
vena jugularis
f. Payudara

Inspeksi : Simetris ki / ka, putting menonjol,ASI masih

sedikit,tonus otot payudara longgar, putting susu tidak lecet.


Palpasi : tidak ada massa dan nyeri tekan.
g. Abdomen
- Inspeksi :Tidak ada luka bekas oprasi, Tampak strie albicans
-

bersama linea nigra,


Palpasi : kontraksi uterus baik, teraba keras dan bundar, TFU 2

jari di bawah pusat.


h. Genitalia
- Inspeksi : Nampak lokia rubra, varises tidak ada.
i. Tungkai bawah
- Inspeksi :simetris ki/ka, tidak ada kelainan pada jari kaki dan
tangan
- Palpasi : Tidak ada varises dan oedema.
- Perkusi : refleks patella (+).
3. Data Psikologis
a. Ibu dan keluarga sangat senang dengan kelahiran bayinya
b. Ibu tampak tersiksa dengan kondisi yang dialaminya.
c. Anggota keluarga tampak menenangkan anak pertama ibu yang cemas
melihat kondisi ibunya.
d. Keluarga memberikan dukungan moril kepada ibu untuk tenang dan
tidak cemas.
4. Data Ekonomi
a. Pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami.
b. Dalam kehidupan sehari hari, ibu dan keluarga hidup sederhana.
5. Data Spiritual
a. Ibu selalu berdoa agar keadaan ibu, suami, bayinya, dan keluarga
senantiasa sehat.
b. Ibu menganggap bahwa bayinya merupakan anugerah Tuhan.
B. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan
No.
1.

Diagnosa Keperawatan
Kekurangan
volume

Rencana Tindakan
cairan 1) Tidurkan pasien dengan posisi kaki

berhubungan dengan kehilangan

lebih tinggi sedangkan badannya

vaskuler yang berlebihan

tetap terlentang.
R/ Dengan kaki lebih tinggi akan
meningkatkan venous return dan

memungkinkan darah keotak dan


organ lain.
2) Monitor tanda vital.
R/ Perubahan tanda vital terjadi
bila perdarahan semakin hebat
3) Monitor intake dan output setiap 510 menit.
R/ Perubahan output merupakan
tanda adanya gangguan fungsi
ginjal
4) Evaluasi kandung kencing.
R/ Kandung kencing yang penuh
menghalangi kontraksi uterus
5) Lakukan masage uterus dengan
satu tangan serta tangan lainnya
diletakan diatas simpisis.
R/ Massage uterus merangsang
kontraksi uterus dan membantu
pelepasan placenta, satu tangan
diatas

simpisis

mencegah

terjadinya inversio uteri


6) Batasi pemeriksaan vagina dan
rektum.
R/ Trauma yang terjadi pada
daerah

vagina

meningkatkan

serta

rektum
terjadinya

perdarahan yang lebih hebat, bila


terjadi laserasi pada serviks /

perineum atau terdapat hematom


Bila tekanan darah semakin turun,
denyut nadi makin lemah, kecil
dan

cepat,

pasien

merasa

mengantuk, perdarahan semakin


hebat, segera kolaborasi.
7) Berikan infus atau cairan intravena
R/

Cairan

intravena

meningkatkan

dapat
volume

intravaskular .
8) Berikan

uterotonika

(bila

perdarahan karena atonia uteri).


R/

Uterotonika

merangsang

kontraksi uterus dan mengontrol


perdarahan
9) Berikan antibiotik.
R/ Antibiotik mencegah infeksi
yang

mungkin

terjadi

karena

perdarahan
10) Berikan transfusi whole blood
( bila perlu ).
R/ Whole blood membantu
menormalkan
2.

Perubahan

perfusi

volume

cairan

tubuh.
jaringan 1) Monitor tanda vital tiap 5-10

berhubungan dengan hipovalemia

menit.
R/ Perubahan perfusi jaringan
menimbulkan
tanda vital

perubahan

pada

2) Catat

perubahan

warna

kuku,

mukosa bibir, gusi dan lidah, suhu


kulit.
R/

Dengan

vasokontriksi

dan

hubungan keorgan vital, sirkulasi


di

jaingan

perifer

berkurang

sehingga menimbulkan cyanosis


dan suhu kulit yang dingin
3) Kaji ada / tidak adanya produksi
ASI
R/ Perfusi yang jelek menghambat
produksi

prolaktin

dimana

diperlukan dalam produksi ASI


4) Tindakan kolaborasi :
a. Monitor kadar gas darah dan
PH (perubahan kadar gas
darah dan PH merupakan
tanda hipoksia jaringan)
b. Berikan
terapi
oksigen
(Oksigen

diperlukan

memaksimalkan

untuk

transportasi

sirkulasi jaringan ).
3.

Cemas/ketakutan

berhubungan 1) Kaji

respon

dengan perubahan keadaan atau

terhadap

ancaman kematian

persalinan

psikologis

perdarahan

klien
paska

R/ Persepsi klien mempengaruhi


intensitas cemasnya
2)

Kaji

respon

fisiologis

klien

(takikardia, takipnea, gemetar)

R/

Perubahan

menimbulkan

tanda

vital

perubahan

pada

respon fisiologis
3) Perlakukan pasien secara kalem,
empati, serta sikap mendukung
R/ Memberikan dukungan emosi
4) Berikan

informasi

tentang

perawatan dan pengobatan


R/ Informasi yang akurat dapat
mengurangi cemas dan takut yang
tidak diketahui
5) Bantu klien mengidentifikasi rasa
cemasnya
R/

Ungkapan

perasaan

dapat

mengurangi cemas
6) Kaji

mekanisme

koping

yang

digunakan klien
R/ Cemas yang berkepanjangan
dapat dicegah dengan mekanisme
4.

koping yang tepat.


Resiko infeksi sehubungan dengan 1) Catat perubahan tanda vital
perdarahan

R/ Perubahan tanda vital ( suhu )


merupakan

indikasi

terjadinya

infeksi
2) Catat

adanya

tanda

lemas,

kedinginan, anoreksia, kontraksi


uterus yang lembek, dan nyeri
panggul
R/

Tanda-tanda

tersebut

merupakan

indikasi

terjadinya

bakterimia, shock yang tidak


terdeteksi
3) Monitor

involusi

uterus

dan

pengeluaran lochea
R/ Infeksi uterus menghambat
involusi dan terjadi pengeluaran
lokea yang berkepanjangan
4) Perhatikan kemungkinan infeksi
di tempat lain, misalnya infeksi
saluran nafas, mastitis dan saluran
kencing
R/

Infeksi

di

tempat

lain

memperburuk keadaan
5) Berikan perawatan perineal,dan
pertahankan

agar

pembalut

jangan sampai terlalu basah


R/ pembalut yang terlalu basah
menyebabkan kulit iritasi dan
dapat

menjadi

media

untuk

pertumbuhan bakteri,peningkatan
resiko infeksi.
6) Tindakan kolaborasi
a. Berikan
zat
(Anemi

besi

memperberat

keadaan)
b. Beri antibiotika ( Pemberian
antibiotika
diperlukan

yang
untuk

tepat
keadaan

infeksi ).
5.

Resiko shock hipovolemik b/d 1) Anjurkan pasien untuk banyak


perdarahan

minum
R/ Peningkatan intake cairan dapat
meningkatkan
intravascular

volume
sehingga

dapat

meningkatkan

volume

intravascular

yang

dapat

meningkatkan perfusi jaringan.


2) Observasitanda-tandavital tiap 4
jam
R/ Perubahan tanda-tanda vital
dapat

merupakan

indikator

terjadinya dehidrasi secara dini.


3) Observasi

terhadap

tanda-tanda

dehidrasi.
R/ Dehidrasi merupakan terjadinya
shock

bila

dehidrasi

tidak

ditangani secara baik.


4) Observasi intake cairan dan output
R/ Intake cairan yang adekuat
dapat menyeimbangi pengeluaran
cairan yang berlebihan.
5) Kolaborasi dalam:
a.
Pemberian cairan infus /
transfusi
R/ Cairan intravena dapat
meningkatkan

volume

intravaskular

yang

dapat

meningkatkan perfusi jaringan


sehingga

dapat

mencegah

terjadinya shock
b. Pemberian

koagulantia

dan

uterotonika
R/ Koagulan membantu dalam
proses pembekuan darah dan
uterotonika
kontraksi

merangsang
uterus

mengontrol perdarahan.

dan