Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Nyeri atau rasa tidak enak yang menjalar harus diartikan sebagai
perwujudan hasil perangsangan terhadap saraf sensori. Nyeri saraf itu terasa
sepanjang perjalanan saraf tepi. Ia bertolak dari tempat saraf sensorik
terangsang dan menjalar berdasarkan perjalanan serabut sensorik itu ke
perifer. Perangsangan terhadap berkas saraf perifer biasanya berarti
perangsangan pada saraf motorik dan sensorik.
Nyeri pinggang adalah perasaan nyeri di daerah lumbosakral dan
sakroiliakal. Nyeri ini sering disertai dengan perjalanan ke tungkai sampai ke
kaki.
Ischialgia merupakan nyeri menjalar sepanjang N.ichiadicus L4-S2.
Ischialgia yang dirasakan berasal dari vertebra lumbosacralis atau daerah
paravertebralis lumbosacralis dan menjalar sesuai dengan salah satu radiks
yang ikut menyusun nervus ischiadicus.Sebelum terjadi ischialgia selalu di
dahului dengan Low Back pain atau Nyeri Pinggang Bawah itu sendiri seperti
perasaan nyeri, pegal, linu atau terasa tidak enak di daerah pinggang.

1.2.

Tujuan Penulisan
1. Melengkapi syarat tugas Stase Neurologi.
2. Melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Rumah
Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Solok.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Ischialgia
Ischialgia adalah nyeri yang berasal dari regio hip dari pantat sampai ke

bawah pada tungkai. Kondisi ini seringkali disertai dengan low back pain (LBP)
yang terkadang bisa lebih keras atau kurang daripada nyeri pada tungkai.1
Ischialgia adalah nyeri pada daerah tertentu sepanjang tungkai yang
merupakan manifestasi rangsangan saraf sensoris perifer dari nervus iskhiadikus.
Ahli lain berpendapat bahwa iskialgia merupakan salah satu manifestasi dari nyeri
punggung bawah yang dikarenakan adanya penjepitan nervus iskiadikus. Iskialgia
atau sciatika adalah nyeri yang menjalar (hipoestesia, parestesia atau disastesia) ke
bawah sepanjang perjalanan akar saraf iskidikus.2

Gambar 2. Dermatom Sensorik

Ischialgia merupakan nyeri menjalar sepanjang N.ichiadicus L4-S2.


Ischialgia yang dirasakan berasal dari vertebra lumbosacralis atau daerah
paravertebralis lumbosacralis dan menjalar sesuai dengan salah satu radiks yang
ikut menyusun nervus ischiadicus.Sebelum terjadi ischialgia selalu di dahului
dengan Low Back pain atau Nyeri Pinggang Bawah itu sendiri seperti perasaan
nyeri, pegal, linu atau terasa tidak enak di daerah pinggang.2
Nyeri atau rasa tidak enak yang menjalar harus diartikan sebagai
perwujudan hasil perangsangan terhadap saraf sensori. Nyeri saraf itu terasa
sepanjang perjalanan saraf tepi. Ia bertolak dari tempat saraf sensorik terangsang
dan menjalar berdasarkan perjalanan serabut sensorik itu ke perifer. Perangsangan
terhadap berkas saraf perifer biasanya berarti perangsangan pada saraf motorik
dan sensorik.Gangguan sensibilitas yang terasa sepanjang parjalanan saraf tepi
dan biasanya juga disertai gangguan motorik yang di sebut Neuritis. Neuritis di
tungkai dapat terjadi oleh karena berkas saraf tertentu terkena infeksi atau terkena
patologik di sekitarnya.2
2.2

Etiologi Ischialgia
Ischialgia mekanik terbagi atas Ischialgia timbul karena terangsangnya

serabut-serabut sensorik dimana nervus ischiadicus berasal yaitu radiks posterior


L4, L5, S1, S2, S3. Penyebab ischialgia dapat dibagi dalam: 3
1. Ischialgia diskogenik, biasanya terjadi pada penderita hernia
nukleus pulposus (HNP).
2. Spondiloarthrosis defermans.

Spondilolistetik.

Tumor caud.

Metastasis carsinoma di corpus vertebrae lumbosakral.

Fraktur corpus lumbosakral.

Fraktur pelvis, radang atau neoplasma pada alat- alat dalam rongga
panggul

sehingga

menimbulkan

tekanan

pada

pleksus

lumbosakralis.
3. Ischailgia non mekanik (medik) terbagi atas:

Radikulitis tuberkulosa
3

Radikulitas luetika

Adhesi dalam ruang subarachnoidal

Penyuntikan obat-obatan dalam nervus ischiadicus

Neuropati rematik, diabetik dan neuropati lainnya.

Penyebab terjepitnya saraf ini ada beberapa faktor, yaitu antara lain:
kontraksi/ radang otot-otot daerah bokong, adanya perkapuran tulang belakang
atau adanya keadaan yang disebut dengan Herniasi Nukleus Pulposus (HNP).
Untuk mengetahui penyebab pasti perlu dilakukan pemeriksaan fisik secara
seksama oleh dokter, jika perlu dilakukan pemeriksaan tambahan radiologi/
Rontgen pada tulang belakang.4
2.3

Klasifikasi Ischialgia
Menurut Sidharta (1999) iskhialgia dibagi menjadi tiga yaitu:1

1.

Ischialgia sebagai perwujudan neuritis ischiadikus primer


Ischialgia akibat neuritis ischiadikus primer adalah ketika nervus
ischiadikus terkena proses radang. Tanda dan gejala utama neuritis
ischiadikus primer adalah nyeri yang dirasakan bertolak dari daerah sakrum
dan sendi panggul, tepatnya di foramen infra piriformis atau incisura
iskhiadika dan menjalar sepanjang perjalanan nervus ischiadikus dan
lanjutannya pada nervus peroneus dan tibialis. Nyeri tekan ditemukan pada
incisura ischiadika dan sepanjang spasium poplitea pada tahap akut. Juga
tendon archiles dan otot tibialis anterior dan peroneus longus terasa nyeri
pada penekanan. Kelemahan otot tidak seberat nyeri sepanjang tungkai.
Karena nyeri itu maka tungkai di fleksikan, apabila diluruskan nyeri
bertambah hebat. Tanda-tanda skoliosis kompensatorik sering dijumpai pada
iskhialgia jenis ini.
Diagnosa neuritis iskhiadikus primer ditetapkan apabila nyeri tekan pada
otot tibialis anterior dan peroneus longus. Dan pada neuritis sekunder nyeri
tekan disepanjang nervus iskhiadikus, tetapi di dekat bagian nervus
iskhiadikus yang terjebak saja. Timbul nyerinya akut dan tidak disertai
adanya nyeri pada punggung bawah merupakan ciri neuritis primer berbeda

dengan iskhialgia yang disebabkan oleh problem diskogenik. Reflek tendon


archiles dan tendon lutut biasanya tidak terganggu.
2.

Ischialgia sebagai perwujudan entrapment radikulitis atau radikulopati


Pada ischialgia radikulopati merupakan akibat dari tumor, nukleus
pulposus yang masuk ke dalam kanalis vertebralis maupun osteofit atau
peradangan (rematois spondilitis angkilopoetika, herpes zoster, tuberkulosa)
yang bersifat menhgimpit dan mengakibatkan terjadinya radikulopati.
Pola umum ischialgia adalah nyeri seperti sakit gigi atau nyeri hebat
yang dirasakan bertolak dari vertebra lumbosakralis dan menjalar menurut
perjalanan nervus ischiadikus dan lanjutannya pada nervus peroneus atau
nervus tibialis. Makin jauh ke tepi nyeri makin tidak begitu hebat, namun
parestesia atau hipoastesia sering dirasakan.
Pada data anamnestik yang bersifat umum antara lain : nyeri pada
punggung bawah selalu mendahului ischialgia, kegiatan yang menimbulkan
peninggian tekanan intra spinal seperti batuk, bersin dan mengejan
memprofokasi adanya iskhialgia, faktor trauma hampir selamanya dapat
ditelusuri, kecuali kalau proses neoplasmik atau infeksi yang bertanggung
jawab. Adapun data diagnostik non fisik yang bersifat umum adalah : kurva
lordosis

pada

lumbosakral

yang

mendatar,

vertebra

lumbosakral

memperlihatkan fiksasi, nyeri tekan pada salah satu ruas vertebra


lumbosakralis hampir selalu ditemukan, test lasegue hampir selalu positif
pada derajat kurang dari 70, tesr naffziger dan valsava hampir selalu positif.
Data anamnestik dan diagnostik fisik yang bersifat spesifik berarti informasi
yang mengarahkan ke suatu jenis proses patologik atau yang mengungkapkan
lokasi di dalam vertebra lumbosakralis atau topografi radiks terhadap lesi
yang merangsangnya.
3.

Ishialgia sebagai perwujudan entrapment neuritis


Unsur-unsur nervus iskhiadikus yang dibawakan oleh nervi L4, L5, S1,
S2 dan S3 menyusun pleksus lumbosakralis yang berada di fasies pelvina os
sakri. Di situ pleksus melintasi garis sendi sakroiliaka dan sedikit lebih distal
membentuk nervus ischiadikus, yang merupakan saraf perifer terbesar.
Selanjutnya dalam perjalanannya ke tepi nervus ischiadikus dapat terjebak

dalam bangunan-bangunan yang dilewatinya. Pada pleksus lumbosakral dapat


diinfiltrasi oleh sel-sel karsinoma ovarii, karsinoma uteri atau sarkoma
retroperineal. Di garis persendian sakroiliaka komponen-komponen pleksus
lumbosakralis sedang membentuk nervus iskhiadikus dapat terlibat dalam
proses radang (sakroilitis). Di foramen infra piriformis nervus ischiadikus
dapat terjebak oleh bursitis otot piriformis. Dalam hal selanjutnya nervus
ischiadikus dapat terlibat dalam bursitis di sekitar trochantor major femoris.
Dan pada hal itu juga, nervus ischiadikus dapat terganggu oleh adanya
penjalaran atau metastase karsinoma prostat yang sudah bersarang pada tuber
ischii. Simtomatologi entrapment neuritis ischiadika sebenarnya sederhana
yaitu pada tempat proses patologik yang bergandengan dengan iskhiagia.
2.4

Patologi Ischialgia
Vertebrae manusia terdiri dari cervikal, thorakal, lumbal, sakral, dan

koksigis. Bagian vertebrae yang membentuk punggung bagian bawah adalah


lumbal 1-5 denagn discus intervertebralis dan pleksus lumbalis serta pleksus
sakralis. Pleksus lumbalis keluar dari lumbal 1-4 yang terdiri dari nervus
iliohipogastrika, nervus ilioinguinalis, nervus femoralis, nervus genitofemoralis,
dan nervus obturatorius. Selanjutnya pleksus sakralis keluar dari lumbal4-sakral4
yang terdiri dari nervus gluteus superior, nervus gluteus inferior, nervus
ischiadicus, nervus kutaneus femoris superior, nervus pudendus, dan ramus
muskularis. Nervus ischiadicus adalah berkas saraf yang meninggalkan pleksus
lumbosakralis dan menuju foramen infrapiriformis dan keluar pada permukaan
tungkai di pertengahan lipatan pantat. Pada apeks spasium poplitea nervus
ischiadicus bercabang menjadi dua yaitu nervus perineus komunis dan nervus
tibialis. Ischialgia timbul akibat perangsangan serabut-serabut sensorik yang
berasal dari radiks posterior lumbal 4 sampai sakral 3, dan ini dapat terjadi pada
setiap bagian nervus ischiadicus sebelum sampai pada permukaan belakang
tungkai.
2.5

Gejala klinis
Sciatica atau ischialgia biasanya mengenai hanya salah satu sisi. Yang bisa

menyebabkan rasa seperti ditusuk jarum, sakit nagging, atau nyeri seperti

ditembak. Kekakuan kemungkinan dirasakan pada kaki. Berjalan, berlari, menaiki


tangga, dan meluruskan kaki memperburuk nyeri tersebut, yang diringankan
dengan menekuk punggung atau duduk.4
Gejala yang sering ditimbulkan akibat Ischialgia adalah:5
1. Nyeri punggung bawah
2. Nyeri daerah bokong
3.

Rasa kaku/ terik pada punggung bawah

4. Nyeri yang menjalar atau seperti rasa kesetrum, yang di rasakan


daerah bokong menjalar ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki,
tergantung bagian saraf mana yang terjepit.
5. Rasa nyeri sering di timbulkan setelah melakukan aktifitas yang
berlebihan, terutama banyak membungkukkan badan atau banyak
berdiri dan berjalan.
6. Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena mengangkat barang
yang berat.
7. Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan mengakibatkan
kelemahan anggota badan bawah/ tungkai bawah yang disertai
dengan mengecilnya otot-otot tungkai bawah tersebut.
8. Dapat timbul gejala kesemutan atau rasa baal.
9. Pada kasus berat dapat timbul kelemahan otot dan hilangnya
refleks tendon patella (KPR) dan Achilles (APR).
10. Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan
defekasi, miksi dan fungsi seksual. Keadaan ini merupakan
kegawatan neurologis yang memerlukan tindakan pembedahan
untuk mencegah kerusakan fungsi permanen.
11. Nyeri bertambah dengan batuk, bersin, mengangkat
2.6

Diagnosa Banding6
1. Proses Degeneratif, meliputi: spondilitis, HNP, stenosis spinalis dan
oateoarthritis.
2. Penyakit

inflamasi,

meliputi:

arthritisrheumatoid,

spondilitis

angkilopeotika

3. Osteoporotik
4. Kelainan kongenital, abnormal congenital yang diperlihatkan foto rontgen
polos vertebra lumbosakralis.
5. Gangguan sirkulasi, meliputi: aneurisma aorta abdominalis, thrombosis
aorta terminalis
2.7

Pemeriksaan
Untuk mengetahui seorang pasien mengalami ishialgia atau tidak biasanya

ahli fisioterapi memberikan beberapa tes salah satunya terapis mengagkat kaki
yang mengalami nyeri jika nyeri dirasakan bertambah hebat pada sudut 60 70
derajat orang tersebut dikatakjan positif ischialgia. Tes ini disebut Straight Leg
Rising. Adapun pemeriksaan penunjang nya berupa Foto roentgen, lumbosakra,l
Elektromielograf,i Myelografi CT scan, dan MRI.6.
2.8 Penatalaksanaan Ischialgia
Seringkali, nyeri tersebut hilang dengan sendirinya. Istirahat, tidur diatas
kasur yang keras, menggunakan obat-obatan OTC anti peradangan nonsteroidal
(NSAIDs), dan mengompres panas dan dingin kemungkinan pengobatan yang
cukup. Untuk banyak orang, tidur pada sisi mereka dengan lutut ditekuk dan
sebuah bantal diantara lutut menghadirkan keringanan. Meluruskan otot yang
lumpuh secara pelan-pelan setelah pemanansan bisa membantu. Peran fisioterapi
pada kasus ischialgia ini dapat membantu meringankan nyeri yang dirasakan.
Modalitas yang digunakan bisa efektif dengan heating yakni SWD (short Wave
Diathermi),bisa juga ditambah TENS untuk membantu memblokir nyerinya.6
Penatalaksanaan7
1. Obat-obatan: analgetik, NSAID, muscle relaxan, dan sebagainya.
2. Program Rehabilitasi Medik.
Fisioterapi meliputi terapi panas, terapi listrik, terapi latihan /exercise,
okupasi terapi, psikologi, sicial medik dan edukasi. Program fisioterapi
bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan keseimbangan dalam
bergerak. Penguatan otot untuk mencegah pemendekan otot (kontraktur)
memerlukan otot yang spastic, memperlancar aliran darah serta

meningkatkan kemampuan hidup sehari-hari. Psikologi bertujuan untuk


membebaskan

seseorang

dari

masalah

tertentu

yang

dianggap

mengganggu kesehatan jiwa dan diharapkan dapat memperkuat pasien


dalam menghadapi kesulitan. Sosial medik bertujuan untuk membantu
pasien dan keluarganya dalam menjangkau sumber pelayanan yang
optimal dengan kondisi kemampuannya yang mengalami hambatan
karena sakit fisik.
Program Rehabilitasi Medik bagi penderita Ischialgia adalah:
1. Terapi Fisik: Diatermi, Elektroterapi, Traksi lumbal, dan Terapi
manipulasi.
2. Terapi Okupasi: Mengajarkan proper body mechanic.
3. Ortotik Prostetik: Pemberian korset lumbal, alat bantu jalan.
4. Advis
Edukasi untuk penderita Ischialgia:
a. Hindari banyak membungkukkan badan.
b. Hindari sering mengangkat barang-barang berat.
c. Segera istirahat jika telah merasakan nyeri saat berdiri atau berjalan.
d. Saat duduk lama diusahakan kaki disila bergantian kanan dan kiri atau
menggunakan kursi kecil untuk menumpu kedua kaki.
e. Saat menyapu atau mengepel lantai pergunakan gagang sapu atau pel
yang panjang, sehingga saat menyapu atau mengepel punggung tidak
membungkuk.
f. Jika hendak mengambil barang dilantai, usahakan punggung tetap
lurus, tapi tekuk kedua lutut untuk menggapai barang tersebut.
g. Lakukan Back Exercise secara rutin, untuk memperkuat otot-otot
punggung sehingga mampu menyanggah tulang belakang secara baik
dan maksimal.
3.

Operasi Disektomi: dilakukan pada kasus yang berat/ sangat mengganggu


aktifitas dimana dengan obat-obatan dan program Rehabilitasi Medik tidak
dapat membantu.

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1. Identitas pasien
Nama

: Ny. D

Umur

: 40 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan


Pekerjaan

: Pensiunan Guru SD

Agama

: Islam

Alamat

: Tembok

3.2. Anamnesa
1. Keluhan Utama
Datang ke poli untuk kontrol tambah obat.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang wanita datang ke poli neurologi RSUD Solok untuk kontrol
berobat. Pasien mengeluhkan nyeri pinggang menjalar sampai ke kaki sebelah
kanan sejak setelah jatuh di kamar mandi 2 tahun yang lalu. Nyeri dirasakan mulai
dari pinggang, lalu menjalar ke lutut, sampai ke pergelangan kaki sebelah kanan.
Nyeri tersebut dapat timbul saat pasien beraktivitas dan dalam keadaan istirahat,
dan sifat nyeri tersebut dirasakan pasien menetap sehingga pasien harus selalu
menggunakan korset lumbal kecuali saat mandi. Nyeri terasa seperti ditusuk
jarum, kadang juga timbul seperti rasa tersentrum listrik. Sebelumnya, diketahui
bahwa pasien pernah mengalami trauma / terjatuh dengan posisi terduduk dimana
bagian pantat pasien terhempas kelantai sekitar 2 tahun yang lalu, semenjak itu
pasien sudah mulai merasakan nyeri mulai dari pinggang sampai ke kaki sebelah
kanan. Namun pasien mengeluhkan tidurnya pada malam hari sedikit kurang
karena nyeri yang dirasakan dibagian pingang sampai ke kaki kanan pasien kerap
muncul pada malam hari saat beristirahat. Nyeri meningkat saat batuk, bersin dan
mengangkat berat.Pasien bisa berjalan sendiri tanpa dipapah. Mual dan muntah
tidak ada, BAB dan BAK masih dalam batas normal.

10

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah terjatuh dengan posisi terduduk sekitar 2 tahun yang lalu
dan harus dipapah untuk berjalan setelah kejadian itu. Saat itu BAK
dalam batas normal.
Riwayat hipertensi sejak tahun 2005, mengonsumsi obat amlodipin
rutin
Riwayat hiperkolesteronemia sejak tahun 2010 dan telah mendapat obat
simvastatin
Riwayat hiperuricemia sejak tahun 2010 dan telah mendapat obat
alopurinol
Tidak ada penurunan berat badan dalam 3 bulan terakhir
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit tumor dalam keluarga tidak ada
Riwayat infeksi saluran kemih dalam keluarga tidak ada
Riwayat penyakit batu ginjal dalam keluarga tidak ada
Riwayat batuk lama dalam keluarga tidak ada
5. Riwayat Sosial dan Ekonomi
Pasien seorang pensiunan guru SD, pasien memiliki seorang suami yang bekerja
sebagai polisi dengan tiga orang anak, menggunakan air PDAM dan mencuci
pakai mesin cuci. Pasien jarang berolahraga dan jarang menginsumsi serat.
3.3. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum

: baik

Kesadaran

: Compos Mentis Cooperative

Tekanan Darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 66x/i kuat dan teratur

Nafas

: 23x/i

Suhu

: 36,6oC
11

Berat Badan

: 68 kg

Tinggi Badan

: 155 cm

Gizi

: Obesitas Tipe 1

Turgor Kulit

: Baik

Status Lokalisata
Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Kelenjar Getah Bening


Leher

: Tidak teraba pembesaran KGB

Aksila

: Tidak teraba pembesaran KGB

Inguinal

: Tidak teraba pembesaran KGB

Torak
Paru
Inspeksi

: Simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis

Palpasi

: fremitus sama kiri dan kanan

Perkusi

: Sonor dikedua lapangan paru

Auskultasi

: Suara nafas normal vesicular, ronki( - / - ), Wheezing ( -/-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Dalam Batas Normal

Auskultasi

: irama teratur, bising( - )

Abdomen
Inspeksi

: tidak ada sikatrik, venektasi

Palpasi

: nyeri tekan dan nyeri lepas ( - ), hepar dan lien tidak


teraba

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus( + ) normal

Colum Vertebrae :Dalam Batas Normal


c. Pemeriksaan lasseque dan patrick
Lasseque

: +50/+50

Patrick

: +/+

Kontra patrick : +/+

12

d. Pemeriksaan Neurologikus
Glassgow Coma Scale ( GCS )

: E4M6V5 = 15

Tanda Ransangan Meningeal


a. KakuKuduk

: Tidak ada

b. Brudzinki I

: Tidak ada

c. Brudzinki II

: Tidak ada

d. TandaKernig

: Tidak ada

6. Tanda peningkatan TIK


a. Pupil

: Isokor, diameter 3 mm / 3 mm

b. Refleks cahaya

: +/+

c. Muntah proyektil

: tidak ada

7. Pemeriksaan Nervus Cranialis


a. N I

: Olfaktorius

Penciuman
Kanan
Subjektif
Normal
Objektif
dengan Tidak dilakukan

Kiri
Normal
Tidak dilakukan

bahan
b. N II
Penglihatan
Tajam penglihatan
Lapang pandang
Melihat warna
Funduskopi
c. N III
Bola mata
Ptosis
Gerakan bulbus
Strabismus
Nistagmus
Ekso-endotalmus
Pupil
Bentuk
Reflek cahaya
Reflex akomodasi

: Optikus
Kanan
Normal
Normal
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Kiri
Normal
Normal
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

: Okulomotorius
Kanan
Normal
Tidak ada
Bebas kesegala arah
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Kiri
Normal
Tidak ada
Bebas kesegala arah
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Isokor
+
Tidak dilakukan

Isokor
+
Tidak dilakukan
13

Reflex Konvergen

Tidak dilakukan

d. N IV
Gerakan

mata

Tidak dilakukan

: troklearis
Kanan
ke Normal

bawah
Sikap bulbus
Diplopia
e. N V
Motoric
Membuka mulut
Menggerakan rahang
Menggigit
Mengunyah
Sensorik
Divisioptalmika
Reflekkornea
Sensibilitas
Divisimaksila
Reflek masseter
Sensibilitas
Divisi mandibular
Sensibilitas
f. N. VI :
Gerakan mata lateral
Sikap bulbus
Diplopia
g. N.VII:
Raut wajah
Sekresi air mata
Fissura palpebral
Menggerakkan dahi
Menutup mata
Mencibir/bersiul
Memperlihatkan gigi
Sensasi 2/3 depan

Dalam batas normal


Tidak ada

Kiri
Normal
Dalam batas normal
Tidak ada

: Trigeminus
Kanan

Kiri

Normal
Normal
Normal
Normal

Normal
Normal
Normal
Normal

+
Baik

+
Baik

Baik
Baik

Baik
Baik

Baik

Baik

Abdusen
Kanan
Normal
Dalam batas normal
Tidak ada

Kiri
Normal
Dalam batas normal
Tidak ada

Fasialis
Kanan
Simetris
Normal
Simetris
Simetris
Normal
Normal
Normal
Tidak dilakukan

Kiri
Simetris
Normal
Simetris
Simetris
Normal
Normal
Normal
Tidak dilakukan

14

Hiperakustik

Tidak dilakukan

h. N.VIII:
Suara berbisik
Detik arloji
Rinne test
Weber test
Swabach test
Memanjang
Memendek
Nistagmus
Pendular
Vertical
Siklikal
Pengaruh

Tidak dilakukan

Vestibularis
Kanan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Kiri
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
posisi Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

kepala
i. N.IX:

Glossopharingeus
Kanan
1/3 Tidak dilakukan

Kiri
Tidak dilakukan

belakang
Reflek muntah/ Gag Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Sensasi

lidah

reflek
j. N.X:
Arkus faring
Uvula
Menelan
Artikulasi
Suara
Nadi
k. N. XI:

Vagus
Kanan
Simetris
Ditengah
Normal
Normal
Normal
Teratur

Kiri
Simetris
Ditengah
Normal
Normal
Normal
Teratur

Asssesorius

Kanan
Menoleh ke kanan
Normal
Menoleh ke kiri
Normal
Mengangkat bahu ke Normal

Kiri
Normal
Normal
Normal

kanan
Mengangkat bahu ke Normal

Normal

15

kiri
l. N. XII:

Hipoglosus

Kedudukan

Kanan
lidah Simetris

Kiri
Simetris

dalam
Kedudukan

lidah Simetris

Simetris

Simetris

Simetris

dijulurkan
Tremor
Fasikulasi
Atrofi

8. Pemeriksaan koordinasi
Cara berjalan
Romberg test
Ataksia
Rebound phenomen
Tes tumit lutut

Normal
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Disatria
Disfagia
Supinasi-pronasi
Tes jari hidung
Tes hidung jari

Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

9. Pemeriksaan fungsi Motorik


a. Badan
b. Berdiri & berjalan

c. Ekstremitas
Gerakan
Kekuatan
Trofi
Tonus

Respirasi
Duduk
Gerakan spontan
Tremor
Atetosis
Mioklonik
Khorea
Superior
Kanan
Aktif
555
Eutrofi
Eutonus

Normal
Normal

Normal
Normal

Tidak lakukan

Tidak lakukan
Inferior
Kanan
Aktif
555
Eutrofi
Eutonus

Kiri
Aktif
555
Eutrofi
Eutonus

Kiri
Aktif
555
Eutrofi
Eutonus

10. Pemeriksaan Sensibilitas


Sensibilitas taktil
Sensibilitas nyeri
Sensibilitas termis
Sensibilitas
Sensibilitas kortikal
Streognosis
Pengenalan 2 titik

Normal
Normal
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Normal
16

Pengenalan rabaan

Normal

11. Sistem reflex


1.Fisiologi
Kornea
Berbamgki

Kanan
+
Tidak

Kiri
+
Tidak

Biseps
Triceps

Kanan
++
++

Kiri
++
++

s
Laring

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

APR

++

Maseter

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

KPR

++

Dindingper

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

Bulboca

Tidak

Tidak

ut
Atas

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

vernosus
Cremater

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

Tengah

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

Sfingter

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

dilakukan

dilakukan

Bawah

dilakukan
Tidak
dilakukan

dilakukan
Tungkai
Babinski

Chaddok

s
Oppenhe

2. Patologis
Lengan
Hoffman-

Tidak

Tromner

dilakukan

im
Gordon
Schaeffer Klonus
Tidak

Tidak

paha
Klonus

dilakukan
Tidak

dilakukan
Tidak

kaki

dilakukan

dilakukan

ROM

Fleksi

: Terbatas

Ekstensi

: Terbatas

Rotasi

: Terbatas

17

3. Fungsi Otonom

Miksi

: Normal

Defekasi

: Normal

Sekresi keringat

: Normal

Fungsi luhur
Kesadaran
Reaksi bicara

Normal

Tanda dementia
Refleks

Tidak
dilakukan
Tidak

Fungsi

Normal

Glabela
Refleks Snout

Intelektual
Reaksi Emosi

Normal

Refleks

dilakukan
Tidak

memegang
Refleks

dilakukan
Tidak

Palmomental

dilakukan

3.4 Pemeriksaan Penunjang

Foto Rontgen Lumbo-Sakral

MRI Vertebra Lumbal

3.5. Diagnosis
Diagnosis klinik

: Iscialgia Dextra

Diagnosis Topik

: Radix Dorsalis setinggi dermatom vertebrae L4-S1

Diagnosis Etiologi

: Trauma mekanik dan degeneratif

Diagnosis Sekunder : Hipertensi


Hiperuricemia
3.6. Penatalaksanaan
1. Terapi Umum:

kurangi aktifitas fisik yang berat

2. Terapi Khusus
-

NSAID

: meloxicam tablet 2x7,5 mg


18

Muscle Relaxan

: diazepam tablet 3x2 mg

Neutropik

: Mikobalamin

3. Edukasi
-

Jangan berdiri waktu lama, selingi dengan jongkok

Berdiri dengan satu kaki diletakkan lebih tinggi untuk mengurangi


hiperlordosis lumbal

Bila mengambil sesuatu di tanah atau mengangkat benda berat, jangan


langsung membungkuk, tapi regangkan kedua kaki lalu tekuklah lutut dan
punggung tetap tegak dan angkatlah barang tersebut sedekat mungkin
dengan tubuh

Waktu duduk, pilihlah tempat duduk yang, dengan kriteria busa jangan
terlalu lunak, punggung kursi berbentuk huruf S, bila duduk seluruh
punggung harus sebanyak mungkin

Saat olahraga, sebaiknya olahraga renang dan jogging.

3.7.Prognosis
a. Quo at vitam

: Bonam

b. Quo at fungtionam

: Bonam

c. Quo at sanationam

: Bonam

BAB IV
DISKUSI
Seorang pasien wanita berumur 40 tahun yang datang ke poli neurologi
rsud solok dengan diagnosis klinis Ischialgia Dextra ec. Trauma mekanik. Dari
anamnesis didapatkan bahwa nyeri pinggang kanan sejak jatuh setelah 2 tahun

19

yang lalu. Nyeri dirasa menjalar mulai dari pinggang sampai ke kaki kanan hingga
ke pergelangan kaki kanan. Nyeri di rasakan seperti kesemutan dan disentrum
listrik. Nyeri timbul saat pasien beraktivitas dan beristirahat.Intensitas nyeri
diarsakan cukup sering dan bersifat tidak menetap danhilang-hilang timbul.
Dari Pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien di dapatkan hasil
positif pada pemeriksaan tes lasseque, tes patrick dan kontra patrick. KPR dan
APR mengalami penurunan. ROM fleksi, ekstensi, rotasi, terbatas. Sehingga
berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik terhadap pasien didapatkan diagnosa
klinis ischialgia dextra. Untuk memastikan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang diantaranya foto polos lumbosacral serta MRI sebagai standar pasti
untuk penegakkan diagnosis. Disamping itu pemeriksaan mylografi juga dapat
membantu menegakkan diagnosa ischialgia.
Untuk mengatasi nyeri pinggang dialami pasien dapat diatasi dengan
istirahat dan pemberian obat-obatan. Tirah baring pada alas keras dimaksudkan
untuk mencegah melengkungnya tulang punggung. Pada terapi medikamentosa :
NSAID ( meloxicam tablet 2 x 7,5 mg ). Muscle Relaxan ( diazepam tablet 2 mg 3
x 1 ), Neurotropik ( micobalamin x 1). Selain itu dapat juga dilakuakan fisiotrapi
untuk membantu mempercepat pemulihan pasien.

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Ischialgia merupakan nyeri yang terasa disepanjang tungkai atau suatu

keadaan nyeri abnormal yang terasa sepanjang nervus ischiadicus. Ischialgia


dirasakan mulai dari vertebra lumbosakralis dan menjalar sesuai dengan salah satu
radix yang ikut menyusun nervus ischiadicus. Penyebab ischialgia adalah

20

beberapa faktor yaitu kontraksi atau radang otot-otong bokong, adanya


perkapuran tulang belakang atau Herniasi Nukleus Pulposus dan bisa juga oleh
sindrom yang dikenal dengan sindrom stenosis lumbal. Dimana didaerah paha dan
n. Ischiadocus mempersarafi otot-otot hamstring yaitu m. Semimembranosus, m.
Semitendinosus, dan m. Biceps femoris. Gejala yang sering timbul akibat
ischialgia adalah nyeri punggung bawah, nyeri daerah bokong, rasa kaku atau
tertarik pada daerah punggung bawah, nyeri bisa menjalar atau bisa sepert
kesetrum yang dirasakan dari bokong menjalar kedaerah paha , betis, bahkan
sampai kaki. Rasa nyeri sering timbul setelah melakukan aktivitas yang berlbihan
terutama membungkukan badan dan mengangkat barang yang berat. Selain dari
anamnesa dan pemeriksaan fisik pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen,
mielografi, CT Scan dan MRI dapat membantu menegakkan diagnosa ischialgia.
Penatalaksanaan yang dilakukan dapat berupa istirahat, tidur dengan alas yang
keras, menghindari aktifitas yang berlebihan serta beberapa terapi medikamentosa
diantarnya analgetik, NSAID, dan Relaksan otot.

21