Anda di halaman 1dari 49

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nyeri punggung bawah (NPB) adalah suatu gejala berupa nyeri di bagian
pinggang yang dapat menjalar ke tungkai kanan atau kiri. NPB dapat merupakan
nyeri lokal maupun nyeri radikular atau keduanya. Nyeri terasa di antara sudut iga
terbawah dan lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbosakral dan
sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai.
Di Amerika Serikat dilaporkan 60-80% orang dewasa pernah mengalami
NPB, keadaan ini akan menimbulkan kerugian yang cukup banyak untuk biaya
pengobatan dan kehilangan jam kerja. Sekitar 5% dari populasi di Amerika
Serikat mengalami serangan NPB akut, dan menduduki urutan keempat untuk
diagnosis rawat inap. Frekuensi NPB tertinggi terjadi pada usia 35-55 tahun, dan
akan semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Sebuah penelitian di
Kanada melaporkan masalah punggung berada pada urutan tertinggi ketiga yang
menjadi penyebab kronis masalah kesehatan pada umur >65 tahun untuk wanita
dan berada pada urutan keempat tertinggi pada laki laki untuk kategori yang sama.
Spondylolisthesis menunjukkan suatu pergeseran ke depan satu korpus
vertebra bila dibandingkan dengan vertebra yang terletak dibawahnya. Umumnya
diklasifikasikan ke dalam lima bentuk : kongenital atau displastik, isthmus,
degeneratif, traumatik, dan patologis.
Spondylolisthesis mengenai 5-6% populasi pria, dan 2-3% wanita. Kirakira82% kasus isthmic spondylolisthesis terjadi di L5-S1. Spondylolisthesis
kongenital(tipe displastik) terjadi 2 kali lebih sering terjadi pada perempuan
dengan permulaan gejala muncul pada usia remaja.
Etiologi spondylolisthesis adalah multifaktorial. Predisposisi congenital
tampak pada spondylolisthesis tipe 1 dan tipe 2, dan postur, gravitasi, tekanan
rotasional dan stres/tekanan kosentrasi tinggi pada sumbu tubuh berperan penting
dalam terjadinya pergeseran tersebut. Gambaran klinis spondylolisthesis sangat
bervariasi dan bergantung pada tipe pergeseran dan usia pasien. Gejala jarang

berhubungan dengan derajat pergeseran (slippage), meskipun sangat berkaitan


dengan instabilitas segmental yang terjadi. Pasien dengan spondylolisthesis
degeneratif biasanya pada orang tua dan muncul dengan nyeri tulang belakang
(back pain), radikulopati, klaudikasio neurogenik, atau gabungan beberapa gejala
tersebut.
1.2.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian laporan ini adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan

klinik senior Departemen Ilmu Penyakit Saraf RSUP Haji Adam Malik Medan
dan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa tentang nyeri
punggung bawah.
1.3.

Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan laporan ini adalah sebagai sarana untuk

mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai nyeri punggung bawah


berdasarkan teori dan kasus yang ada.

BAB II

LAPORAN KASUS
2.1. STATUS NEUROLOGI
IDENTITAS PRIBADI
NAMA

:M

JENIS KELAMIN

: perempuan

USIA

: 61 tahun

SUKU BANGSA

: Jawa/Indonesia

AGAMA

: Islam

ALAMAT

: Desa sungai swemayang dsn 12 kec sunggal

STATUS

: Menikah

PEKERJAAN

: Ibu Rumah Tangga

TGL. MASUK

: 7 Nopember 2013

TGL. KELUAR

ANAMNESA
KELUHAN UTAMA : Nyeri punggung bawah
TELAAH
-

Hal ini telah dialami os 5 tahun SMRS, nyeri terasa berdenyut di


punggung bagian bawah. Nyeri terasa memberat bila os mengangkat
beban berat. Kebas (-). Demam (-). Riwayat demam (+) 3 hari yang
lalu. Demam tidak terlalu tinggi dan turun dengan obat penurun panas.
Riwayat batuk lebih dari 2 minggu disangkal os. Riwayat penurunan
berat badan (-). Riwayat keringat malam (-). Berat badan os 70 kg,
tinggi badan 160 cm (IMT: 27,5 kg/m2).

RPT

: tidak jelas

RPO

: tidak jelas

ANAMNESA TRAKTUS
Traktus Sirkulatorius

: Tidak dijumpai kelainan, akral hangat,


CRT < 3.

Traktus Respiratorius

: Tidak dijumpai kelainan, sesak (-),

batuk (-).
Traktus Digestivus

: Tidak dijumpai kelainan, BAB (+)

normal.
Traktus Urogenitalis

: Tidak dijumpai kelainan, BAK (+)

normal.
Penyakit Terdahulu dan Kecelakaan : Tidak jelas
Intoksikasi dan obat-obatan

: Tidak jelas

ANAMNESA KELUARGA
Faktor Herediter

: (-)

Faktor Familier

: (-)

Lain-lain

: (-)

ANAMNESA SOSIAL
Kelahiran dan Pertumbuhan : Biasa dan Baik.
Imunisasi

: Tidak jelas.

Pendidikan

: Tamat SLTA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Perkawinan

: Menikah

.
PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan Umum
Tekanan Darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 82 x/menit

Frekuensi Nafas

: 20 x/menit

Temperatur

: 36,5 C

Kulit dan Selaput Lendir

: Dalam batas normal

Kelenjar dan Getah Bening

: Dalam batas normal

Persendian

: Dalam batas normal

Kepala dan Leher


Bentuk dan Posisi

: Bulat dan Medial

Pergerakan

: (+) normal

Kelainan Panca Indera

: Dalam batas normal

Rongga Mulut dan Gigi

: Rongga mulut normal, Gigi lengkap,


higienitas rongga mulut sedang

Kelenjar Parotis

: Dalam batas normal

Desah

: Tidak dijumpai.

Dan lain-lain

: (-)

Rongga Dada dan Abdomen

Rongga Dada

Rongga

Abdomen
Inspeksi

Simetris fusiformis

Sonor pada kedua lap. Paru

Palpasi

SF ka=ki, kesan: normal

Auskultasi

Vesikuler, ronki (-)

Simetris
Perkusi
Timpani

normal
Genitalia
Vaginal Toucher

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Rectal Toucher

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

STATUS NEUROLOGI
Sensorium

Compos Mentis

Bulat

Kranium
Bentuk

Soepel
Peristaltik (+)

Fontanella

Tertutup

Palpasi

Teraba a.temporalis dan a.carotis

Perkusi

Cracked Pot sign (-)

Transiluminasi

Tidak dilakukan pemeriksaan

Kaku Kuduk

(-)

Tanda Kernig

(-)

Tanda Brudzinski I

(-)

Tanda Brudzinski II

(-)

Muntah

(-)

Sakit Kepala

(-)

Kejang

(-)

Perangsangan Meningeal

Peningkatan Tekanan Intrakranial

SARAF OTAK/ NERVUS KRANIALIS


Nervus I

Meatus Nasi Dekstra

Meatus

Nasi

Sinistra
Normosmia

(+)

(+)

Anosmia

(-)

(-)

Parosmia

(-)

(-)

Hiposmia

(-)

(-)

Nervus II

Okuli Dekstra

Okuli

Sinistra
Visus

dalam batas normal

dalam

batas normal
Lapangan Pandang
Normal

(+)

Menyempit

(-)

Hernianopsia

(-)

(-)

(+)
(-)

Scotoma

(-)

(+)

(-)
Refleks ancaman
(+)
Fundus Okuli
Warna

Tidak dilakukan pemeriksaan

Batas

Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekskavasio

Tidak dilakukan pemeriksaan

Arteri

Tidak dilakukan pemeriksaan

Vena

Tidak dilakukan pemeriksaan

Nervus III, IV, VI

Okuli Dekstra

Okuli Sinistra

Gerakan Bola Mata

(+) Normal

(+) Normal

Nistagmus

(-)

(-)

Lebar

3mm

3mm

Bentuk

Bulat

Bulat

Refleks Cahaya Langsung

(+)

(+)

Refleks Cahaya Tidak Langsung

(+)

(+)

Rima Palpebra

7mm

7mm

Deviasi Conjugate

(-)

(-)

Fenomena Dolls Eyes

(-)

(-)

Strabismus

(-)

(-)

Kanan

Kiri

(+)

(+)

Palpasi otot masseter dan temporalis :

(+)

(+)

Kekuatan gigitan

(+)

(+)

Dalam batas normal

Pupil

Nervus V
Motorik
Membuka dan menutup mulut

Sensorik
Kulit

Selaput Lendir

Dalam batas normal

Langsung

(+)

(+)

Tidak Langsung

(+)

(+)

Reflex masseter

(+)

(+)

Reflex bersin

(+)

(+)

Nervus VII

Kanan

Kiri

Refleks Kornea

Motorik
Mimik

(+)

(+)

Kerut Kening

(+)

(+)

Menutup mata

(+)

(+)

Meniup Sekuatnya

(+)

(+)

Memperlihatkan Gigi

(+)

(+)

Tertawa

(+)

(+)

Pengecapan 2/3 depan lidah :

(+)

Produksi kelenjar ludah

Dalam batas normal

Hiperakusis

(-)

Refleks stapedial

(+)

Sensorik

Nervus VIII

Kanan

Kiri
(+)

Auditorius
Pendengaran

(+)

Test Rinne

Tidak dilakukan pemeriksaan

Test Weber

Tidak dilakukan pemeriksaan

Test Schwabach

Tidak dilakukan pemeriksaan

Nistagmus

(-)

Reaksi kalori

Tidak dilakukan pemeriksaan

Ventibularis

Vertigo

Tinnitus

(-)

(-)

(-)

(-)

(-)

Pallatum Mole

Dalam batas normal

Uvula

Medial

Disfonia

(-)

Refleks muntah

(-)

Pengecapan 1/3 belakang lidah

Dalam batas normal

Nervus IX, X

Nervus XI

Kanan

Kiri

(+)

(+)

Fungsi otot sternokleidomastoideus :

(+)

(+)

Mengangkat bahu

Nervus XII
Lidah
Tremor

(-)

Atrofi

(-)

Fasikulasi

(-)

Ujung lidah waktu istirahat

Medial

Ujung lidah sewaktu dijulurkan

Medial

Sistem Motorik
Trofi

:Dalam batas normal

Tonus otot

:Dalam batas normal

Kekuatan Motorik

:ESD :55555/55555

ESS : 55555/55555

EID : 55555/55555

EIS : 55555/55555

10

Sikap (duduk-berdiri-berbaring)

Gerakan spontan abnormal


Tremor

(-)

Khorea

(-)

Ballismus

(-)

Mioklonus

(-)

Atetosis

(-)

Distonia

(-)

Spasme

(-)

Tic

(-)

Dan lain-lain

(-)

Eksteroseptif

(+)

Propioseptif

(+)

Stereognosis

(+)

Pengenalan Dua Titik

(+)

Grafestesia

(+)

Tes Sensibilitas

Fungsi kortikal untuk sensibilitas

Refleks
Refleks Fisiologis

Kanan

Kiri

Biseps

(+)

(+)

Triseps

(+)

(+)

Radioperiost

(+)

(+)

APR

(+)

(+)

KPR

(+)

(+)

Strumple

(+)

(+)

11

Refleks Patologis

Kanan

Kiri

Babinski

(-)

(-)

Oppenheim

(-)

(-)

Chaddock

(-)

(-)

Gordon

(-)

(-)

Schaefer

(-)

(-)

Hoffman-Tromer

(-)

(-)

Klonus Lutut

(-)

(-)

Klonus Kaki

(-)

(-)

(-)

(-)

Lenggang

(+)

Bicara

(+)

Menulis

(+)

Percobaan Apraksia

(+)

Test telunjuk-telunjuk

(+)

Test telunjuk-hidung

(+)

Diadokokinesia

(+)

Test tumit-lutut

(+)

Test Romberg

(+)

Vasomotorik

Dalam batas normal

Sudomotorik

Dalam batas normal

Pilo-erector

Dalam batas normal

Miksi

(+)

Defekasi

(+)

Refleks Primitif
Koordinasi

Vegetatif

Vertebra

12

Bentuk
Normal

(+)

Scoliosis

(-)

Hiperlordosis

(-)

Leher

Dalam batas normal

Pinggang

Nyeri saat digerakkan

Laseque

(+)

Cross Laseque

(+)

Test Lhermite

(-)

Test Naffziger

(-)

Ataksia

(-)

Disartria

(-)

Tremor

(-)

Nistagmus

(-)

Fenomena rebound

(-)

Pergerakan

Tanda Perangsangan Radikuler

Gejala-Gejala Serebelar

Vertigo

Dan lain-lain

(-)
:

(-)

Tremor

(-)

Rigiditas

(-)

Bradikinesia

(-)

Dan lain-lain

(-)

Dalam batas normal

Gejala-Gejala Ekstrapiramidal

Fungsi Luhur
Kesadaran Kualitatif
Ingatan Baru

13

Ingatan Lama

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Orientasi
Diri
Tempat

Dalam batas normal

Waktu

Dalam batas normal

Situasi

Dalam batas normal

Intelegensia

Dalam batas normal

Daya Pertimbangan

Dalam batas normal

Reaksi Emosi

Dalam batas normal

Ekspresif

Dalam batas normal

Represif

Dalam batas normal

Agnosia

Dalam batas normal

Agnosia Visual

Dalam batas normal

Akalkulia

Dalam batas normal

Agnosia jari-jari

Dalam batas normal

Disorientasi kanan-kiri:

Dalam batas normal

Afasia

Apraksia

2.2 KESIMPULAN PEMERIKSAAN


KU

: Nyeri punggung bawah

: Hal ini dialami os 5 tahun ini, nyeri terasa berdenyut di punggung

bawah. Nyeri bertambah berat saat os mengangkat beban berat. Riwayat demam
(+) 3 hari yang lalu. Demam tidak terlalu tinggi dan turun dengan obat penurun
panas.
RPT

: Tidak Jelas

RPO

: Tidak jelas

Status Presens
Sensorium
: CM
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi
: 88 x/i

Status Neurologis
Sens: CM
Tanda Peningkatan TIK

14

Pernafasan
Temp

: 20 x/i
: 36,6oC

Nyeri kepala (-)


Muntah
(-)
Kejang
(-)

Tanda Perangsangan meningeal


-

Kaku kuduk
(-)
Tanda Kernig
(-)
Tanda Brudzinski I/II : (-)

Nervus Kranialis
NI:
Normosmia
Refleks Fisiologis
N II,III :
RC +/+, pupil isokor, OD 3 mm, OS 3 B/T
APR/KPR
mm
N III, IV, VI : Gerak bola mata (+)
Refleks Patologis
NV:
Membuka & menutup mulut
H/T
(+)
Babinski
NVII :
Sudut mulut simetris
N VIII : Pendengaran (+)
N IX, X : Uvula medial
N XI :
Dalam batas normal
N XII :
Lidah dijulurkan medial
Kekuatan Motorik
ESD: 55555/55555
EID: 55555/55555

ESS:
EIS:

55555/55555
55555/55555

DIAGNOSA BANDING:
1. LBP ec spondylolistesis lumbal
2. LBP ec HNP lumbal
3. LBP ec spondilosis lumbal
DIAGNOSA
DIAGNOSA FUNGSIONAL : Low back pain
DIAGNOSA ETIOLOGIK

: Spondylolistesis lumbal

DIAGNOSA ANATOMIK

: Vertebra lumbalis

DIAGNOSA KERJA
PENATALAKSANAAN

IVFD Rsol 20 gtt/i makro


Inj. Ketolorac 1 amp/8 jam
B comp 3 x 1

: LBP ec spondylolistesis lumbal

Ka
+/+
+/+

Ki
+/+
+/+

Ka
-/-

Ki
-/-

15

RENCANA PEMERIKSAAN
- Darah rutin
- Elektrolit
- KGD Ad Random, KGD puasa, KGD 2 jam pp
- RFT
- EKG
- Foto Lumbosacral AP/L
- Foto Thorax
PROGNOSIS
a. Ad vitam

: dubia ad bonam

b. Ad functionam

: dubia ad bonam

c. Ad sanactionam

: dubia ad bonam

HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM


7 Nopember 2013
PEMERIKSAAN
KIMIA KLINIK
METABOLISME KARBOHIDRAT

Glukosa Darah (Sewaktu)

GINJAL

Ureum
Kreatinin

ELEKTROLIT

SATUAN

HASIL

RUJUKAN

mg/dL

375,40

< 200

mg/dL
mg/dL

43,70
2,79

< 50
0,70-1,20

mEq/L
mEq/L
mEq/L

130
4,1
101

135-155
3,6-5,5
96-106

detik
detik

13,00
14,5
1,08

detik
detik

32,0
35,5

detik
detik

16,2
14,6

Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)

FAAL HEMOSTASIS
PT+INR
Waktu Protrombin
Kontrol
Pasien
INR
APTT
Kontrol
Pasien

16

Waktu Trombin
Kontrol
Pasien
HEMATOLOGI
Darah Lengkap (CBC):
Hemogblobin (Hb)
Eritrosit (RBC)
Leukosit (WBC)
Hematokrit
Trombosit (PLT)
MCV
MCH
MCHC
RDW
MPV
PCT
PDW
Hitung Jenis:
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Basofil
Neutrofil Absolut
Limfosit Absolut
Monosit Absolut
Eosinofil Absolut
Basofil Absolut

g%
106/mm3
103/mm3
%
103/mm3
fL
pg
g%
%
fL
%
fL

11,10
4.62
17,23
33,80
237
73,20
24,00
32,80
16,30
10.40
0.25
12,2

11,7-15,5
4.20-4.87
4.5-11.0
43-49
150-450
85-95
28-32
33-35
11.6-14.8
7.0-10.2

%
%
%
%
%
103/L
103/L
103/L
103/L
103/L

78,70
9,70
10,70
0,80
0.100
13,56
1.67
1.85
0.13
0.02

37-80
20-40
2-8
1-6
0-1
2.7-6.5
1.5-3.7
0.2-0.4
0-0.10
0-0.1

17

HASIL FOTO THORAX

Kesimpulan : suspek bronkopnemonia


HASIL FOTO LUMBOSACRAL AP/L

18

Kesimpulan : suspek osteoarthritis vertebra lumbalis dan suspek spondilolistesis


vertebra lumbalis 4-5.

19

9 Nopember 2013
JENIS PEMERIKSAAN
KIMIA KLINIK
Metambolisme karbohidrat
Glukosa darah puasa
Glukosa darah 2 jam PP
Kolesterol total
Trigliserida
Kolesterol HDL
Kolesterol LDL

SATUAN

HASIL

RUJUKAN

Mg/dL
Mg/dL

386
437

70 120
< 200

Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL

140
197
11
76

< 200
40 200
>65
< 150

SATUAN

HASIL

RUJUKAN

Mg/dL
%

139.70
12.9

< 200
4.8-5.9

15 Nopember 2013
JENIS PEMERIKSAAN
KIMIA KLINIK
Metabolisme karbohidrat
Glukosa darah (sewaktu)
Hb-A1c
FOLLOW UP
8 Nopember 2013
KU

: Nyeri punggung bawah

: Hal ini dialami os 5 tahun ini, nyeri terasa berdenyut di punggung

bawah. Nyeri bertambah berat saat os mengangkat beban berat. Riwayat demam
(+) 3 hari yang lalu.
RPT

: Tidak Jelas

RPO

: Tidak jelas

Status Presens
Sensorium
: CM
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi
: 88 x/i
Pernafasan
: 20 x/i
Temp
: 36,6oC

Status Neurologis
Sens: CM
Tanda Peningkatan TIK
-

Nyeri kepala (-)


Muntah
(-)
Kejang
(-)

Tanda Perangsangan meningeal

20

Kaku kuduk
(-)
Tanda Kernig
(-)
Tanda Brudzinski I/II : (-)

Nervus Kranialis
NI:
Normosmia
Refleks Fisiologis
N II,III :
RC +/+, pupil isokor, OD 3 B/T
APR/KPR
mm, OS 3 mm
N III, IV, VI : Gerak bola mata (+)
Refleks Patologis
NV:
Membuka & menutup mulut
H/T
(+)
Babinski
NVII :
Sudut mulut simetris
N VIII : Pendengaran (+)
N IX, X : Uvula medial
N XI :
Dalam batas normal
N XII :
Lidah dijulurkan medial
Kekuatan Motorik
ESD: 55555/55555
ESS: 55555/55555
EID:

55555/55555

EIS:

Ka
+/+
+/+

Ki
+/+
+/+

Ka
-/-

Ki
-/-

55555/55555

Diagnosa : LBP ec spondylolistesis lumbal


Terapi
-

IVFD RL 20 gtt/i
Inj. Ketolorac 1 amp/12 jam
B komp 3 x 1

Ceftriaxone 1 gr/12 jam


Urine rutin
Konsul kardio
Konsul endokrin

R/ :

9 - 16 Nopember 2013
S:

Nyeri punggung belakang

O:

Status presens
Sens

: CM

HR : 100x/i

TD

: 110/70 mmHg

RR : 20x/i

Peningkatan TIK

: tidak dijumpai

R. meningeal

: tidak dijumpai

T : 36,8

21

N. Kranialis

: dalam batas normal

R. fisiologis

: (+)

R. patologis

: (-)

A : LBP ec spondilosistesis
P:
-

IVFD RSOL 20 gtt/i


Inj. Ketolorac 1 amp/8 jam
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
B Komp 3 x 1
Cek urine rutin
Konsul paru
Konsul endokrin
Fisioterapi

17 - 20 Nopember 2013
S:

Nyeri punggung belakang

O:

Status presens
Sens

: CM

HR : 88x/i

TD

: 140/90 mmHg

RR : 20x/i

Peningkatan TIK

: tidak dijumpai

R. meningeal

: tidak dijumpai

N. Kranialis

: dalam batas normal

R. fisiologis

: (+)

R. patologis

: (-)

A : LBP ec spondilosistesis + DM tipe 2


P:
-

IVFD RSOL 20 gtt/i


Ketorolac 1 amp/8 jam
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
B Komp 3 x 1
Paracetamol 3 x 500 mg
Rawat bersama interna
a. Humulin R : 10-10-10
b. Humulin N : 8
Fisioterapi

T : 37

22

23

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.
Nyeri Punggung Bawah (NPB)
3.1.1. Definisi
Nyeri punggung bawah (NPB) adalah suatu gejala berupa nyeri di bagian
pinggang yang dapat menjalar ke tungkai kanan atau kiri 1. NPB dapat merupakan
nyeri lokal maupun nyeri radikular atau keduanya. Nyeri terasa di antara sudut iga
terbawah dan lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbosakral dan
sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai. Nyeri yang berasal dari
daerah punggung bawah dapat dirujuk ke daerah lain atau sebaliknya nyeri yang
berasal dari daerah lain dirasakan di daerah punggung bawah (referred pain)2.
3.1.2. Klasifikasi1,3,4,5,6
NPB disebabkan oleh berbagai kelainan yang mengenai berbagai macam
organ atau jaringan tubuh. Klasifikasinya yaitu sebagai berikut:
a. Viserogenik
NPB yang bersifat viserogenik disebabkan oleh adanya proses patologik
di ginjal atau visera di daerah pelvis, serta tumor retroperitoneal.
b. Neurogenik
NPB yang bersifat neurogenik disebabkan oleh keadaan patologik pada
saraf yang dapat menyebabkan NPB.
c. Vaskulogenik
Aneurisma atau penyakit vaskular perifer dapat menimbulkan NPB atau
nyeri yang menyerupai iskialgia.
d. Psikogenik
NPB psikogenik pada umumnya disebabkan oleh ketegangan jiwa atau
kecemasan, dan depresi, atau campuran antara kecemasan dan depresi.
e. Spondilogenik
NPB spondilogenik adalah nyeri yang disebabkan oleh proses patologik
di kolumna vertebralis yang terdiri dari unsur tulang (osteogenik), diskus

24

intervertebralis (diskogenik), dan miofasial (miogenik), dan proses patologik di


artikulasio sakroiliaka.
NPB juga dapat diklasifikasikan menurut penyebabnya antara lain oleh:
a. Kongenital
1) Faset tropismus (asimetris)
Pada faset tropismus, arah sendi faset yang berlawanan akan membatasi
gerakan dan dapat menyebabkan subluksasi karena degenerasi sendi faset, serta
dapat menimbulkan NPB terutama pada gerakan mendadak.
2) Kelainan vertebra misalnya sakralisasi, lumbalisasi, skoliosis
Pada sakralisasi, vertebra L5 seluruhnya atau sebagian menjadi satu
dengan os sakrum sehingga pergerakan menjadi terbatas (sindrom Bertolotti),
akibatnya setiap pergerakan yang berlebihan atau melampaui batas akan
menimbulkan NPB. Pada lumbalisasi kolumna vertebralis lumbal menjadi lebih
panjang, sehingga tekanan dan tarikan pada otot dan ligamen menjadi lebih besar.
3) Sindrom ligamen transforaminal
Sindrom ligamen transformial merupakan suatu variasi anatomi, berupa
ligamen transformial yang melintang di foramen intravertebralis sehingga
menyempitkan ruang untuk jalannya nervus spinalis hingga dapat menyebabkan
NPB.
b. Trauma dan gangguan mekanik
Orang yang tidak bisa melakukan pekerjaan otot atau sudah lama tidak
melakukannya dapat menderita NPB akut, atau melakukan pekerjaan dengan
sikap yang salah dalam waktu lama akan menyebabkan NPB kronik. Hal yang
sama juga bisa didapatkan pada wanita hamil, orang gemuk, memakai sepatu
dengan tumit terlalu tinggi.
Trauma dapat berbentuk lumbal strain, fraktur, subluksasi sendi faset,
spondilosis dan spondilolistesis.

c. Radang (inflamasi)
1) Artritis rematoid

25

Reumatoid artritis termasuk penyakit autoimun yang menyerang


persendian tulang sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan kemudial sendi
mengalami kerusakan.
2) Spondilitis ankilopetika (penyakit Marie-Strumpell)
kelainan pada artikulus sakroiliaka merupakan bagian dari poliartritis
rematoid yang juga didapatkan di tempat lain. Nyeri pada spondilitis
ankilopoetika timbul akibat terbatasnya gerakan pada kolumna vertebralis,
artikulus sakroiliaka, atrikulus kostovertevbralis dan penyempitan foramen
intervertebralis.
d. Tumor (neoplasma)
Tumor dapat disebabkan oleh tumor jinak seperti osteoma, penyakit
Paget, osteoblastoma, hemangioma, neurinoma, meningioma, atau tumor ganas.
e. Gangguan metabolik
Gangguan metabolik dapat menimbulkan fraktur kompresi atau kolaps
korpus vertebra hanya karena trauma ringan.
f. Degenerasi
1) Hernia nukleus pulposus (HNP)
HNP adalah suatu keadaan dimana sebagian atau seluruh bagian dari
nukleus pulposis mengalami penonjolan ke dalam kanalis spinalis dan paling
sering mengenai diskus intervertebralis L5-S1 dan L4-L5.
2) Stenosis spinal
Pada stenosis spinal terjadi penyempitan kanalis vertebralis yang dapat
disertai penyempitan foramen intervertebralis akibat proses degenerasi dan
penonjolan tulang. NPB yang dirasakan berupa nyeri rujukan somatik yang lebih
sering dirasakan pada waktu berjalan/ klaudikasio intermitens neurogenik.
3.1.3. Epidemiologi
Frekuensi NPB tertinggi terjadi pada usia 35-55 tahun, dan akan semakin
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Sebuah penelitian di Kanada
melaporkan masalah punggung berada pada urutan tertinggi ketiga yang menjadi
penyebab kronis masalah kesehatan pada umur >65 tahun untuk wanita dan
berada pada urutan keempat tertinggi pada laki laki untuk kategori yang sama7.

26

Di inggris dilaporkan prevalensi NBP pada populasi lebih kurang


16.500.000 per tahun, yang melakukan konsultasi ke dokter umum lebih kurang
antara 3-7 juta orang. Penderita NBP yang berobat jalan berkisar 1.600.000 orang
dan yang dirawat di rumah sakit lebih kurang 100.000 orang. Dari keseluruhan
NPB, yang mendapat tindakan operasi berjumlah 24.000 orang per tahunnya. Di
Amerika Serikat dilaporkan 60-80% orang dewasa pernah mengalami NPB,
keadaan ini akan menimbulkan kerugian yang cukup banyak untuk biaya
pengobatan dan kehilangan jam kerja. Sekitar 5% dari populasi di Amerika
Serikat mengalami serangan NPB akut, dan menduduki urutan keempat untuk
diagnosis rawat inap3.
3.1.4. Faktor Resiko3,7,8,9,10
Faktor resiko untuk NPB antara lain adalah usia, jenis kelamin,
obesitas, merokok, pekerjaan, faktor psikososial, dan cedera punggung
sebelumnya.
a. Usia
Usia merupakan faktor yang memperberat terjadinya NPB, sehingga
biasanya diderita oleh orang berusia lanjut karena penurunan fungsi tubuhnya
terutama tulangnya sehingga tidak lagi elastis seperti di waktu muda. Penelitian
telah memperlihatkan bahwa resiko sari NPB meningkatkan pada pasien yang
semakin tua, tetapi sekali waktu ketika mencapai usia sekitar 65 tahun resiko akan
berhenti meningkat.
b. Jenis kelamin
Beberapa penelitian menunjukkan laki-laki lebih besar terkena resiko
untuk terkena NPB, sedangkan penelitian yang lain menunjukkan bahwa
perempuan lebih mungkin untuk terkena NPB. Wanita yang mempunyai dua
kehamilan atau lebih mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terkena NPB.
c. Obesitas
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih, risiko timbulnya
NPB lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat
sehingga dapat memungkinkan terjadinya NPB.
d. Merokok

27

Perokok memiliki resiko 1,5-2,5 kali lebih besar untuk terkena NPB
dibandingkan dengan yang bukan perokok. Diperkirakan hal ini disebabkan oleh
penurunan pasokan oksigen ke cakram dan berkurangnya oksigen darah akibat
nikotin terhadap penyempitan pembuluh darah arteri.
e. Pekerjaan
Pekerjaan dengan kondisi berdiri yang lama, duduk lama, mengangkat
benda berat dan bekerja dengan alat yang bergetar menjadi faktor kontribusi
terjadinya masalah NPB.
f. Faktor psikososial
Berbagai faktor psikologis dan sosial dapat meningkatkan risiko NPB.
Penelitian telah menunjukkan bahwa kecemasan, depresi, stress, tanggung jawab,
ketidakpuasan kerja, mental, stress di tempat kerja dapat menempatkan orang
orang pada peningkatan resiko NPB kronis.
g. Riwayat trauma
Seseorang yang pernah mengalami trauma beresiko untuk mengalami
NPB karena faktor kekambuhan tersebut berlangsung kronis.
3.1.5. Patofisiologi13,14,15
Dinyatakan pada umumnya LBP disebabkan oleh sebuah peristiwa
traumatis akut atau trauma kumulatif dimana berat ringannya suatu peristiwa
traumatis akut sangatlah bervariasi. LBP akibat trauma kumulatif lebih sering
terjadi di tempat kerja, misalnya karena duduk statis terlalu lama atau posisi kerja
yang kurang ergonomis.
Beberapa struktur anatomis elemen-elemen tulang punggung bawah
antara lain tulang, ligamen, tendon, diskus, otot dan saraf diduga memliki peran
yang besar untuk menimbulkan rasa nyeri. Struktur di sekitar diskus
intervertebralis yang sensitif terhadap rasa sakit ialah ligamentum longitudinal
anterior, ligamentum longitudinal posterior, korpus vertebra, akar saraf, dan
kartilago dari facet joint. Banyak dari komponen-komponen tersebut di atas
memiliki persarafan sensoris yang dapat menghasilkan sinyal nosiseptif yang
merupakan reaksi terhadap adanya suatu kerusakan jaringan. Penyebab lainnya
bisa neuropatik, misalkan ischialgia. Kebanyakan kasus LBP kronis merupakan
campuran antara nosiseptif dan neuropatik.

28

Secara biomekanik, pergerakan tulang punggung bawah merupakan


gerakan kumulatif dari tulang-tulang vertebra lumbalis, dengan 80-90%
merupakan gerakan fleksi dan ekstensi lumbal yang terjadi di diskus
intervertebralis L4-L5 dan L5-S1. Posisi gerakan tulang belakang lumbal yang
paling berisiko untuk mengakibatkan nyeri punggung bawah ialah fleksi ke depan
(membungkuk), rotasi (memutar), dan ketika mencoba untuk mengangkat benda
berat dengan tangan terentang ke depan. Pembebanan aksial dengan durasi yang
lebih lama menciptakan tekanan ke anulus fibrosus lebih lama dan mengakibatkan
tekanan menyebar ke endplate. Jika anulus dan endplate dalam keadaan baik,
kekuatan beban dapat dengan baik ditahan. Namun tekanan yang dihasilkan dari
kontraksi otot lumbal dapat bergabung dengan tekanan beban dan dapat
meningkatkan tekanan intradiskal yang melebihi kekuatan serat anular diskus
intervertebralis.
Beban kompresi pada diskus yang berulang-ulang seperti pada gerakan
fleksi dan torsi lumbal saat mengangkat suatu benda, menempatkan diskus pada
risiko untuk mengalami kerobekan anulus fibrosus. Isi anulus fibrosis yaitu
nukleus pulposus dapat menerobos annulus fibrosus yang robek. Serat paling
dalam dari annulus fibrosus ini tidak mempunyai persarafan sehingga bila
mengalami kerobekan tidak menimbulkan rasa nyeri. Tetapi apabila nukleus
pulposus sudah mencapai tepi luar dari annulus fibrosus, kemungkinan akan
menimbulkan rasa nyeri karena tepi aspek posterior dari annulus fibrosus
mendapat persarafan dari beberapa serabut saraf dari nervus sinuvertebral dan
aspek lateral dari diskus dipersarafi pada bagian tepinya oleh cabang dari rami
anterior dan gray rami communicants.
Penyebab kimia juga dapat berperan dalam terjadinya low back pain.
Konsep ini merumuskan bahwa robeknya serat annular memungkin enzim
fosfolipase A2, glutamat dan mungkin senyawa lainnya yang belum diketahui
yang merupakan komponen dari nukleus pulposus, masuk ke ruang epidural dan
menyebar ke Dorsal Root Ganglion (DRG). Komponen dari nukleus pulposus,
yang paling terkenal adalah enzim fosfolipase A2 (PLA2). PLA2 ini dapat
berpengaruh secara langsung pada jaringan saraf, atau mungkin berperan dalam

29

mengatur respons inflamasi kompleks yang bermanifestasi sebagai nyeri


punggung bawah.
Glutamat,

yang

merupakan

transmiter

neuroeksitatorik,

telah

diidentifikasi berada dalam proteoglikan diskus yang mengalami degenerasi dan


telah ditemukan menyebar ke DRG yang mempengaruhi reseptor glutamat.
Substansi P (pain/nyeri) berada di neuron aferen, termasuk DRG, dan dilepaskan
sebagai respon terhadap rangsangan berbahaya, seperti getaran dan kompresi
mekanik saraf. Vertebra yang tidak stabil dan segmen diskus menjadi lebih rentan
terhadap getaran dan beban fisik berlebihan, sehingga mengakibatkan terjadinya
kompresi DRG dan merangsang pelepasan substansi P. Substansi P, pada
gilirannya, merangsang pelepasan histamin dan leukotriene, yang mengarah ke
sebuah perubahan transmisi impuls saraf. Neuron menjadi lebih peka terhadap
rangsangan mekanik, mungkin menyebabkan iskemia, yang menarik sel PMN dan
monosit ke daerah yang memfasilitasi degenerasi diskus lebih lanjut dan
menghasilkan rasa nyeri yang lebih besar.
Pada gerakan fleksi lumbal, ketegangan tertinggi dicatat pada ligamen
interspinosus dan supraspinosus, diikuti oleh ligamen intrakapsular dan
ligamentum flavum. Pada gerakan ekstensi lumbal, ligamen yang mengalami
ketegangan tinggi ialah ligamentum longitudinal anterior. Gerakan fleksi ke lateral
menghasilkan ketegangan tertinggi di ligamen kontralateral. Gerakan rotasi
menghasilkan ketegangan tertinggi di ligamen kapsuler. Pembebanan yang
berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan pada ligamen tersebut dan
menimbulkan rasa nyeri.
Fenomena nyeri timbul karena adanya kemampuan sistem saraf untuk
mengubah berbagai stimuli mekanik, kimia, termal, elektris menjadi potensial aksi
yang dijalarkan ke sistem saraf pusat. Untuk menghantar nyeri, pada jaringan
lunak terdapat ujung saraf aferen sebagai reseptor nyeri (nosiseptor).
Reseptor tersebut bersambung dengan saraf aferen yang terdiri dari saraf
A alfa, delta dan saraf C. Saraf A alfa adalah saraf bermielin yang menghambat
nyeri, saraf A delta adalah saraf bermielin yang menghantar rasa suhu dan nyeri
yang bersifat cepat dan tajam sedangkan C adalah saraf yang menghantar rasa

30

nyeri lambat yang kronik. Saraf A delta dan saraf C meneruskan impuls nyeri
menuju kolumna dorsalis medula spinalis. Saraf aferen A delta masuk ke sel saraf
lamina II dan V. Selanjutnya menyeberang kontra lateral yaitu ke antero medula
spinalis terus berjalan ke atas menuju batang otak dan talamus melalui dua jalur.
Jalur langsung yang melalui spinotalamikus ke korteks somatosensorik sehingga
nyeri mulai bisa dirasakan, sedangkan jalur yang tidak langsung melalui formasio
retikularis ke korteks serebri dan korteks asosiasi sensoris sehingga dapat
dirasakan intensitas, lokasi dan lamanya nyeri. Proses perjalanan diatas disebut
transmisi.
3.1.6. Diagnosa3,12,25
Untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit perlu dilakukan anamnesis,
pemeriksaan umum, pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Mengingat struktur punggung bawah yang sangat berdekatan dengan
organ lain yang terletak di dalam rongga perut serta rongga pelvis, dan juga
mengingat banyaknya faktor penyebab LBP, maka anamnesis terhadap setiap
keluhan LBP akan merupakan sederetan daftar pertanyaan yang harus diajukan
kepada penderita atau pengantarnya. Daftar pertanyaan tersebut diharapkan dapat
mengurangi adanya kemungkinan hal-hal yang terlewatkan dalam anamnesis.
Daftar pertanyaan tersebut diharapkan dapat mengurangi adanya kemungkinan
hal-hal yang terlewatkan dalam anamnesis. Daftar pertanyaan tersebut diharapkan
dapat mengurangi adanya kemungkinan hal-hal yang terlewatkan dalam
anamnesis. Daftar pertanyaan tersebut antara lain apakah terjadi secara akut atau
kronis, disebabkan oleh trauma langsung atau tidak langsung, mengalami
gangguan tidur, menstruasi atau libido, disertai nyeri pada tungkai atau menjalar
ke tungkai, diperberat oleh betuk/bersin, memiliki riwayat tuberkulosis,
keganasan/operasi tumor, kencing batu, klaudikasio intermitten, bekerja dengan
sikap yang salah atau mengejan kuat, memiliki perasaan cemas atau gelisah,
memiliki riwayat demam atau gangguan kencing/berak, atau memiliki rasa
kesemutan pada tungkai.

31

Anamnesis LBP mempunyai kerangka acuan tertentu minimal harus


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
1.

meliputi hal-hal sebagai berikut:


Lokasi nyeri
Penyebaran nyeri
Sifat nyeri
Pengaruh aktivitas terhadap nyeri
Pengaruh posisi tubuh atau anggota tubuh
Trauma
Proses terjadinya nyeri dan perkembangannya
Obat-obat analgeltika yang pernah diminum
Kemungkinan adanya proses keganasan
Riwayat menstruasi
Kondisi mental/emosional
Pemeriksaan umum
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

a.
b.
c.
d.

Inspeksi
Palpasi dan perkusi
Pemeriksaan tanda vital
Pemeriksaan neurologik
Pemeriksaan neurologik meliputi pemeriksaan motorik, sensorik, refleks
fisiologis dan patologis, serta tes-tes untuk menentukan apakah sarafnya ada yang
mengalami kelainan.
2. Pemeriksaan dengan imejing
Pemeriksaan imejing atau tes diagnostik rutin lain tidak dianjurkan pada
pasien dengan nyeri punggung bawah nonspesifik. Pemeriksaan imejing
diagnostik sebaiknya dilakukan pada pasien dengan nyeri punggung bawah bila
tampak adanya defisit neurologis yang berat atau progresif atau disangka
mempunyai kondisi penyebab LBP yang berat berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pemeriksa juga harus mengevaluasi pasien dengan LBP
persisten dan ada tanda dan gejala radikulopati atau stenosis spinal dengan MRI
(lebih dianjurkan) atau CT scan jika pasien tersebut merupakan kandidat untuk
operasi atau injeksi steroid epidural (untuk suspek radikulopati).

32

3.1.7. Penatalaksanaan25
Pada dasarnya dikenal dua tahap terapi LBP, yaitu konservatif dan
operatif. Terapi konservatif meliputi rehat baring (bed rest), medikamentosa dan
fisioterapi.

33

1. Pada rehat baring, penderita harus tetap berbaring di tempat tidur selama
beberapa hari dengan sikap tertentu. Tempat tidur tidak boleh memakai
pegas atau per dengan demikian tempat tidur harus dari papan yang lurus.
2. Setelah tirah baring dianggap cukup, maka dapat dilakukan latihan
tertentu, atau terlebih dahulu dipasang korset. Tujuan latihan ini adalah
untuk mencegah terjadinya kontraktur dan mengembalikan lagi fungsi
otot-otot.
3. Pada medikamentosa, ada dua jenis obat dalam tatalaksana LBP ini, ialah
obat yang bersifat simtomatik dan yang bersifat kausal. Obat untuk nyeri
sebagai lini pertama adalah asetaminofen atau obat anti inflamasi non
steroid (OAINS). Sebelum diberikan obat, lebih baik memeriksa derajat
nyeri dan defisit fungsional dari pasien.
4. Pada fisioterapi, biasanya dalam bentuk diatermi (pemanasan dengan
jangkauan permukaan yang lebih dalam).
5. Terapi operatif dikerjakan apabila dengan tindakan konversatif tidak
memberikan hasil yang nyata, atau terhadap kasus fraktur yang langsung
mengakibatkan defisit neurologik.

34

35

3.1.8. Pencegahan
Pencegahan Primer3,11
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan cara:
a. Memperbaiki sikap badan
1. Berdiri dengan punggung lurus dan kepala menghadap ke depan serta
menghindari sikap membungkuk.
2. Bila bekerja di bangku pastikan bangku tersebut cukup tinggi untuk
menjaga sikap badan tetap baik dan nyaman dalam bekerja.
3. Tinggi meja tulis sebaiknya cukup dan ada ruang cukup untuk kaki
sehingga dapat duduk tegak lurus dan bekerja dengan nyaman.
4. Tidak diam dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama.
b. Mengemudi dengan nyaman
1. Mengemudi dalam waktu lama dengan menahan punggung dalam
posisi membungkuk dapat menyebabkan LBP yang hebat.
2. Menggunakan jok mobil dengan sandaran yang dapat disesuaikan serta
tinggi dan sandaran kursi dapat diubah sesuai tubuh pengemudi.
3. Duduk dengan benar yaitu dengan menghindari duduk di kursi dengan
sandaran tangan yang rendah dan kursi yang menahan punggung
dalam posisi melengkung.
c. Mengangkat dengan benar
1. Menempatkan kaki berjauhan, masing-masing pada sudut yang tepat
dan kaki mengarah ke arah benda yang akan diangkat.
2. Membungkuk, menekuk pinggul dan lutut tetapi tetap menjaga
punggung lurus. Seluruh tulang belakang akan condong ke depan
untuk menghindari punggung menekuk. Pada posisi ini lutut tetap
berjauhan dan benda ditempatkan diantaranya namun tetap dekat pada
tubuh.
3. Setelah tubuh tegak, harus membawa beban dekat pada tubuh tanpa
memutar punggung. Letakkan pelan-pelan, menggunakan prosedur
yang sama secara kebalikannya.
d. Tidur dengan benar
1. Menggunakan tempat tidur ideal yaitu memiliki kasur dan alas yang
kuat dan berpegas baik, walaupun tidak terlalu keras.
2. Pilihan lain adalah dengan meletakkan papan yang kuat di bawah kasur
yang sama panjang dengan tempat tidur, cukup tebal sekitar 3,5 cm
agar tidak melengkung dibawah berat tubuh.

36

3. Tidak tidur menyamping agar tidak menimbulkan lekukan ke samping


yang dapat menimbulkan sakit dan kekakuan yang hebat.
4. Gunakan satu bantal tidur agar dapat berbaring dengan tubuh selurus
mungkin agar kepala dan leher sejajar dengan tubuh ketika berbaring
pada sisi tubuh.
e. Kondisi tubuh yang baik
1. Menjaga berat badan tubuh tetap ideal karena berat badan berlebih
memberikan tambahan ketegangan pada punggung dan juga akan
mempunyai sikap badan yang buruk.
2. Melakukan latihan fisik yang dapat menguatkan otot punggung dan
perut.
Pencegahan Sekunder3
Pencegahan tingkat kedua ini merupakan upaya untuk menghindarkan
komplikasi dan mengurangi ketidakmampuan pada orang yang telah sakit.
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendeteksi penyakit secara
dini dan pengadaan pengobatan yang cepat dan tepat.
Pencegahan Tersier3,12
Pencegahan tersier dimaksudkan untuk mengurangi komplikasi dan
mengadakan rehabilitasi. Rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan fungsi fisik
dan menolong penderita LBP agar lebih memperhatikan cara mengatasi masalah
dan dapat menjalani kehidupan yang lebih normal.
1. Selama masa penyembuhan sebaiknya penderita LBP menghindari
pekerjaan atau aktivitas berat.
2. Menghindari masalah psikis misalnya depresi, kecemasan, atau stres yang
dapat memicu atau memperberat kembali terjadinya LBP.
3. Bagi penderita LBP yang mengalami obesitas sebaiknya melakukan diet
untuk menurunkan berat badan.
3.2.
Spondilolistesis
3.2.1. Definisi
Kata spondylolisthesis berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas kata
spondylo yang berarti tulang belakang (vertebra), dan listhesis yang berarti

37

bergeser. Maka spondilolistesis merupakan istilah deskriptif untuk pergeseran


(biasanya ke anterior) dari vertebra relatif terhadap vertebra yang dibawahnya.16,20
3.2.2. Etiopatofisiologi
Penyebab dari sindrom ini adalah malformasi persimpangan lumbosakral
(kecil bagian belakang dan bagian belakang panggul) yang kecil, sendi facet tidak
kompeten, yang dapat bersifat kongenital (bawaan), disebut sebagai Penyebab
dari sindrom ini adalah malformasi persimpangan lumbosakral (kecil bagian
belakang dan bagian belakang panggul) yang kecil, sendi facet tidak kompeten,
yang dapat bersifat kongenital (bawaan), disebut sebagai spondilolisthesis
displastik, atau mungkin terjadi selama masa remaja karena patah tulang atau
cedera pada salah satu tulang-tulang belakang dari kegiatan olahraga terkait
seperti angkat berat, berlari, berenang, atau sepak bola yang menyebabkan
seseorang memiliki spondilolisthesis isthmic.16,24
Ada lima jenis utama dari Spondilolisthesis dikategorikan oleh sistem
klasifikasi Wiltse:
1. Displatik.
- Sendi facet memungkinkan pergeseran kedepan.
- Lengkungan neural biasanya masih utuh.17
2. Isthmic.
- Lesi dari pars.
- Terdapat 3 subtipe: fraktur stress, pemanjangan dari pars, dan fraktur
pars akut.17
3. Degeratif.
Spondilolisthesis bisa disebabkan oleh penuaan, umum, dan keausan
tulang, jaringan, otot-otot, dan ligamen tulang belakang disebut sebagai
spondilolisthesis degeneratif.17
4. Trauma.
Setelah kecelakaan

besar

atau

trauma

untuk

kembali

menghasilkan kondisi yang disebut spondilolisthesis trauma.17


5. Patologis.
Jenis terakhir Spondilolisthesis, yang juga yang paling langka,
disebut spondilolisthesis patologis. Jenis Spondilolisthesis terjadi karena
kerusakan pada elemen posterior dari metastasis (kanker sel-sel yang
menyebar ke bagian lain dari tubuh dan menyebabkan tumor) atau

38

penyakit tulang metabolik. Jenis ini telah dilaporkan dalam kasus-kasus


penyakit Paget tulang (dinamai Sir James Paget, seorang ahli bedah
Inggris

yang

menggambarkan

gangguan

kronis

yang

biasanya

menghasilkan tulang membesar dan cacat), tuberkulosis (penyakit menular


mematikan yang biasanya menyerang paru-paru tetapi dapat menyebar ke
bagian lain dari tubuh), tumor sel raksasa, dan metastasis tumor.17
Diagnosis yang tepat dan identifikasi jenis atau kategori Spondilolisthesis
adalah penting untuk memahami serta keparahan dari pergeseran yang terbagi
menjadi 5 kelas sebelum pengobatan yang tepat untuk kondisi tersebut dapat
disarankan.17
3.2.3.

Epidemiologi
Insidensi spondilolisthesis tipe ismik berkisar 5% berdasarkan studi

otopsi. Spondilolisthesis degeneratif memiliki frekuensi tersering karena secara


umum populasi pastinya akan mengalami penuaan. Paling sering melibatkan
Insidensi spondilolisthesis tipe ismik berkisar 5% berdasarkan studi otopsi.
Spondilolisthesis degeneratif memiliki frekuensi tersering karena secara umum
populasi pastinya akan mengalami penuaan. Paling sering melibatkan level L4-L5.
Sampai 5,8% pria dan 9,1% wanita memiliki listhesis tipe ini.16,17,23
3.2.4.

Gejala klinis
Presentasi klinis dapat bermacam-macam, tergantung pada jenis

pergeseran dan usia pasien. Selama tahun-tahun awal kehidupan, presentasi klinis
dapat berupa nyeri punggung bawah ringan yang sesekali dirasakan pada panggul
dan paha posterior, terutama saat beraktivitas. Gejala jarang berkorelasi dengan
tingkat pergeseran, meskipun mereka disebabkan ketidakstabilan segmental.
Tanda neurologis seringkali berkorelasi dengan tingkat selip dan melibatkan
motorik, sensorik, dan perubahan refleks yang sesuai untuk pelampiasan akar
saraf (biasanya S1).18
Gejala yang paling umum dari spondylolisthesis adalah:

39

1. Nyeri punggung bawah.


Hal ini sering lebih memberat dengan latihan terutama dengan ekstensi
tulang belakang lumbal.19
2. Beberapa pasien dapat mengeluhkan nyeri, mati rasa, kesemutan, atau
kelemahan pada kaki karena kompresi saraf. Kompresi parah dari saraf
dapat menyebabkan hilangnya kontrol dari usus atau fungsi kandung
kemih.19
3. Keketatan dari paha belakang dan penurunan jangkauan gerak dari
punggung bawah.19
Pasien dengan spondilolistesis degeneratif biasanya lebih tua dan datang
dengan nyeri punggung, radikulopati, klaudikasio neurogenik, atau kombinasi dari
gejala-gejala tersebut. Pergeseran yang paling umum adalah di L4-5 dan kurang
umum di L3-4. Gejala-gejala radikuler sering hasil dari stenosis recessus lateral
dari facet dan ligamen hipertrofi dan/ atau disk herniasi. Akar saraf L5
dipengaruhi paling sering dan menyebabkan kelemahan ekstensor halusis longus.
Stenosis pusat dan klaudikasio neurogenik bersamaan mungkin atau mungkin
tidak ada.19
Penyebab gejala klaudikasio selama ambulasi adalah multifaktorial. Rasa
sakit ini berkurang ketika pasien memfleksikan tulang belakang dengan duduk
atau bersandar. Fleksi memperbesar ukuran kanal oleh peregangan ligamentum
flavum menonjol, pengurangan lamina utama dan aspek, dan pembesaran foramen
tersebut. Hal ini mengurangi tekanan pada akar saraf keluar dan, dengan
demikian, mengurangi rasa sakit.19
3.2.5. Diagnosis
Diagnosis yang tepat dari spondilolistesis meliputi anamnesis dan
pemeriksaan yang sesuai dengan gejala spondilolistesis.1 Namun, pasien dengan
spondilolistesis kadang sulit dinilai berdasarkan pemeriksaan fisik saja.2
Pergeseran ini dapat bersifat asimtomatik atau dapat mennyebabkan nyeri
punggung bawah, rasa tegang pada otot paha bawah, cidera pada akar saraf
(seringnya pada L5), simtomatik stenosis spinal, dan juga dapat menyebabkan

40

Cauda Equina Syndrome (CES) pada kasus berat. Rasa tegang juga dapat
dirasakan pada daerah segmen yang bergeser. Jika parah, dapat juga menyebabkan
tubuh menjadi lebih pendek.18
Spondylolistesis dapat didiagnosa cukup dengan menggunakan foto
polos dengan sinar X. Posisi terbaik yang bisa dilakukan adalah dari posisi
lateral.1Foto yang dilakukan dari posisi samping

atau lateral akan dapat

menunjukkan sebuah ruas tulang belakang yang bergerser ke depan dibandingkan


dengan ruas tulang rusuk yang berdekatan. Berdasarkan persentase pergeseran
ruas dengan ruas tulang belakang yang berdekatan, spondylolistesis dapat dibagi
menjadi 5 derajat:17
1.
2.
3.
4.
5.

Derajat I dengan pergeseran <26%,


Derajat II dengan pergeseran 26%-50%,
Derajat III dengan pergeseran 51%-75%,
Derajat IV dengan pergeseran 76%-100%,
Derajat V dengan vertebra telah tergeser sepenuhnya dari vertebra lainnya
atau spondyloptosis.

Gambar 1. Gambar menunjukkan cara menilai derajat spondilolistesis.


Kedua anak panah menunjukkan jarak pergeseran dan rasio yang dapat dihitung
untuk menunjukkan derajatnya berdasarkan persentase pergeseran.20
Jika pasien masih memiliki keluhan nyeri, kebas, atau lemah tungkai,
pemeriksaan tambahan CT scan atau MRI dapat dilakukan. Keluhan ini dapat

41

disebabkan oleh stenosis atau penyempitan dari celah untuk saraf ke kaki.20 CT
scan dan MRI adalah pilihan terbaik untuk mendeteksi stenosis yang menyertai
spondilolistesis sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kompresi saraf
akibat spondilolistesis.16

Gambar 2. Spondilolistesis, gambaran radiologis menunjukkan sebuah


spondilolistesis derajat 1 pada anak anak.22

Gambar 3. Proyeksi oblik menunjukkan adanya defek pars bilateral,


tanda panah menunjukkan gambaran Scottie Dog with Collar.22

42

Gambar 4. Gambar menunjukkan tampilan proyeksi oblik dengan


komponennya yang menyebabkan terjadinya penampilan Scottie Dog.22

Gambar 5. Gambaran spondilolistesis traumatic derajat 4.22


PET scan juga dapat digunakan untuk melihat keaktifan tulang di dekat
lokasi defek. Ini terutama untuk membantu dalam tatalaksana spondilolistesis ini
sendiri.22
3.2.6. Tatalaksana
Pada

kebanyakan

kasus

spondilolistesis

dapat

diatasi

dengan

menggunakan terapi konservatif. Namun pada pasien pasien tertentu seperti pada
pasien dengan nyeri radikuler, klaudikasi neurogenik, dan pada pasien yang tetap

43

dijumpai abnormalitas postur atau cara berjalan setelah terapi non operatif, makan
proses pembedahan menjadi indikasi. Tujuan dari terapi pembedahan adalah untuk
menstabilkan segmen spinal dan jika diperlukan dilakukan dekompresi elemen
neural.22
Prinsip tatalaksana adalah untuk meredakan gejala dan meliputi:17
-

Modifikasi kegiatan sehari hari, seperti tirah baring selama eksaserbasi

akut,
Analgetik (NSAID),
Pemakaian korset (brace),
Fisioterapi.
Hasil terapi non operatif umumnya memberikan hasil yang memuaskan,

terutama pada pasien yang berusia muda. Indikasi operasi (fusi) yaitu:5
-

Tanda tanda neurologis seperti nyeri radikuler (tidak dapat ditangani

dengan terapi konservatif), myelopati, klaudikasi neurogenik,


Pergeseran derajat tinggi >50%,
Pergeseran tipe 1 dan 2, dengan bukti instabilitas, progresif listhesis, atau

respon tidak baik terhadap perbaikan konservatif,


Spondilolistesis traumatik,
Spondilolistesis iatrogenic,
Listesis tipe 3 (degeneratif) dengan nyeri yang berat,
Deformitas postural dan abnormalitas langkah jalan.

3.2.7. Komplikasi
Progresifitas dari pergeseran dengan peningkatan tekanan ataupun
penarikan (traction) pada saraf spinal, bisa menyebabkan komplikasi. Pada pasien
yang membutuhkan penanganan dengan pembedahan untuk menstabilkan
spondilolistesis, dapat terjadi komplikasi seperti nerve root injury (<1%),
kebocoran cairan serebrospinal (2%-10%), kegagalan melakukan fusi (5%-25%),
infeksi dan perdarahan dari prosedur pembedahan (1%-5%). Pada pasien yang
perokok, kemungkinan untuk terjadinya kegagalan pada saat melakukan fusi ialah
(>50%). Pasien yang berusia lebih muda memiliki resiko yang lebih tinggi untuk
menderita spondilolistesis isthmic atau congenital yang lebih progresif. Radiografi
serial dengan posisi lateral harus dilakukan setiap 6 bulan untuk mengetahui
perkembangan pasien ini.23

44

3.2.8. Prognosis
Pasien dengan fraktur akut dan pergeseran tulang yang minimal
kemungkinan akan kembali normal apabila fraktur tersebut membaik. Pasien
dengan perubahan vertebra yang progresif dan degenerative kemungkinan akan
mengalami

gejala

yang

sifatnya

intermiten.

Resiko

untuk

terjadinya

spondilolistesis degenerative meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dan


pergeseran vertebra yang progresif terjadi pada 30% pasien. Bila pergeseran
vertebra semakin progresif, foramen neural akan semakin dekat dan menyebabkan
penekanan pada saraf (nerve compression) atau sciatica hal ini akan
membutuhkan pembedahan dekompresi.23

45

BAB IV
DISKUSI KASUS
M, usia 61 tahun, datang dengan keluhan nyeri punggung bawah yang
dialami sejak 5 tahun. Setelah hasil pemeriksaan fisik dan radiologi, os
didiagnosis menderita NPB ec spondilolistesis. Nyeri punggung bawah (NPB)
adalah suatu gejala berupa nyeri di bagian pinggang yang dapat menjalar ke
tungkai kanan atau kiri. Banyak penyebab dari NPB, salah satunya adalah
spondiloslistesis. Spondilolistesis adalah istilah yang digunakan untuk merujuk
kepada pergeseran ruas tulang punggung belakang, biasanya pergeseran ke depan,
terhadap ruas yang di dekatnya. Keluhan utama yang dijumpai adalah nyeri
punggung dekat daerah pergeseran, seringnya pada daerah L5-S1 sehingga sering
datang dengan keluhan nyeri punggung bawah.
Dari hasil pemeriksaan fisik yang dijumpai pada pasien ditemukan adanya
gejala yang khas pada spindilolistesis, seperti nyeri radikuler atau nyeri menjalar,
yang dijumpai dari hasil pemeriksaan fisik tes Laseque dan tes cross Laseque.
Penegakan diagnosis utama dari spondilolistesis didapat dari foto lateral
dan AP pada corpus vertebra biasanya lumbosakral. Hasil foto pada pasien ini
menunjukkan pergeseran korpus vertebra L5 terhadap L4. Namun dijumpai juga
pembentukan osteofit pada korpus vertebra lumbal dan penyempitan diskus
intervertebralis L3-L4, sehingga dapat juga menjadi penyebab NPB pada pasien
ini.

46

Tatalaksana pada pasien ini sesuai dengan tatalaksana yang dianjurkan dari
literatur dan jurnal, yaitu tirah baring dan istirahat, hindari mengangkat beban
berat, pemberian obat analgesik supportif dan perencanaan pemasangan korset
pada pasien ini serta penjadwalan fisioterapi. Pemantauan setelah tatalaksana di
atas harus dilakukan terus selama beberapa waktu untuk melihat perbaikan untuk
mempertimbangkan indikasi operasi apabila tidak ada perbaikan pada os.

47

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Ny. M, berusia 61 tahun, dengan keluhan nyeri punggung bawah sejak 5
tahun yang lalu. Nyeri terasa berdenyut di punggung bagian bawah. Nyeri terasa
memberat bila os mengangkat beban berat. Kebas tidak dijumpai. Dari
pemeriksaan fisik dijumpai test Laseque dan Cross Laseque positif. Dari hasil xray lumbosakral posisi AP dan lateral, tampak pembentukan osteofit pada korpus
vertebra lumbal, penyempitan diskus intervertebralis L3-L4, tampak pergeseran
korpus vertebra L5 terhadap L4. Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan
penunjang

disimpulkan

pasien

menderita

nyeri

punggung

bawah

ec

spondilolistesis. Terapi pada pasien ini bersifat simtomatik seperti penghilang rasa
nyeri berupa injeksi ketorolac dan diberikan antibiotik dikarenakan hasil
pemeriksaan leukositnya meningkat.
Saran untuk pasien ini adalah untuk melakukan fisioterapi, menghindari
mengangkat beban yang berat dan mengontrol diet untuk mencapai berat badan
yang ideal.

48

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjahrir, Hasan, 1994. Ilmu Penyakit Saraf. Penerbit Universitas Airlangga.
Surabaya.
2. Mahadewa, T. G. B., dan Maliawan, Sri, 2009. Diagnosis dan Tatalaksana
Kegawatdaruratan Tulang Belakang. Cetakan Pertama. Sagung Seto.
Jakarta.
3. Kelompok Studi Nyeri, 2003. Nyeri Punggung Bawah. Perhimpunan
Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Jakarta.
4. Ngoerah, I., 1991. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Syaraf. Penerbit Universitas
Airlangga. Surabaya.
5. Markam, Soemarmo, 1992. Penuntun Neurologi. Binarupa Aksara.
Jakarta.
6. Nuartha, A. A., 1989. Beberapa Segi Klinik dan Penatalaksanaan Nyeri
Pinggang Bawah. Cermin Dunia Kedokteran No.54. Denpasar.
7. Manchikanti, L, 2000. Epidemiology of Low Back

Pain.

http://www.painphysicianjournal.com/2000/april/2000;3;167-192.pdf.
Diakses 22 November 2013.
8. Department of Medicine & Palliative Care. 2009. Low Back Pain.
http://www.healingchronicpain.org/content/backpain/pfactprs.asp.
Diakses 22 November 2013.
9. Saputra, Rahmat, 2009. Hubungan Lama Berkendara dengan Timbulnya
Keluhan Nyeri Punggung Bawah pada Pengendara Sepeda Motor.
http://etd.prints.ums.ac.id/3960/1/J110070062.pdf. Diakses 22 November
2013.
10. WHO,

2006.

Global

Database

on

Body

Mass

Index.

http://www.who.int/bmi/index.jsp. Diakses 22 November 2013


11. Jayson, Malcomn, 2003. Seri Kesehatan Bimbingan Dokter pada Nyeri
Punggung. Dian Rakyat Jakarta.
12. Harsono, 2003. Kapita Selekta Neurologi. Cetakan keempat. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
13. Everett
C.
Hills,
2010.

Mechanical

Low

Back

Pain,

emedicine.medscape.com/article/310353-overview.
14. Marrio, Maurits van Tulder, 2005. European Guidelines for the
Management of Acute Nonspecific Low Back Pain in Primary Care.

49

15. Guyton A. C., 2004. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology.
11th edition.
16. Sjamsuhidajat R, Jong Wd.2005. Spondilolistesis. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Bedah Edisi ke-2. Jakarta: EGC. 835
17. Word press. 2011. Spondylolisthesis. Diunduh dari
http://www.spondylolisthesis.org/ [Diakses tanggal 22 November 2011].
18. Syaanin, Syaiful. Neurosurgery of Spondylolisthesis. Padang: RSUP. Dr.
M. Djamil/FK-UNAND Padang.
19. Nicrovic, Peter. A. 2009. Back pain in children and adolescents: Overview
of causes. UpToDate Systematic review ver. 17.3
20. Lee, Dennis, 2011. Spondylolisthesis Symptoms. Diunduh dari
http://www.medicinenet.com/spondylolisthesis/page2.htm#symptoms
[Diakses tanggal 22 November 2011].
21. Irani, Z. Spondylolisthesis Imaging. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/396016-overview#showall
[Diakses tanggal 22 November 2011]
22. Shiel Jr, William C. Spondylolisthesis. MedicineNet.com . Diunduh dari :
http://www.medicinenet.com/spondylolisthesis/page2.htm [Diakses
tanggal 22 November 2011]
23. Japardi, I.2002, Spondilolistesis. Dalam USU digital Library. Fakultas
Kedokteran, Bagian Bedah, Universitas Sumatera Utara.
24. Medical Disability Guidelines, 2009. Spondylolisthesis. Didapat dari :
http://www.mdguidelines.com/spondylolisthesis/definition
25. Royal College of General Practitioners, 2009. Low Back Pain: early
management of persistent non-spesific low back pain. Didapat dari: The
National Collaborating Centre for Primary Care.