Anda di halaman 1dari 27

1

DIABETES MELLITUS
Definisi
Diabetes melitus adalah suata kelompok penyakit yang berhubungan
dengan berbagai macam gangguan metabolik, dimana karakteristik utama dari
diabetes melitus yaitu adanya keadaan hiperglikemia kronis dikarenakan
insufisiensi kerja insulin. Genetik dan juga faktor lingkungan berperan dalam
patogenesis penyakit ini (Seino et al, 2010)
Menurut International Diabetes Federation (IDF) tahun 2013, Diabetes
melitus adalah penyakit kronik yang terjadi karena pankreas tidak dapat lagi
memproduksi insulin atau karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang
diproduksi secara optimal.
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010 diabetes
melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau
kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan
kerusakan jangka panjang, dan disfungsi beberapa organ tubuh, terutama mata,
ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah.
Faktor Risiko Diabetes Melitus
Faktor risiko diabetes sama dengan faktor risiko untuk intoleransi glukosa
yang meliputi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang
dapat dimodifikasi.
-

Faktor risko yang tidak dapat dimodifikasi


1. Ras dan etnik
2. Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes)
3. Umur.

Risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring

dengan meningkatnya umur. Umur > 45 tahun harus dilakukan


pemeriksaan DM.
4. Jenis kelamin
5. Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram atau riwayat
pernah menderita diabetes melitus gestasional (DMG)

6. Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg. Bayi yang
lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding
dengan bayi lahir dengan BB normal
-

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi


1. Overweight/obesitas (IMT > 23 kg/m2)
2. Kurangnya aktifitas fisik
3. Hipertensi (>140/90 mmHg)
4. Dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan atau trigliserida >250mg/dl
5. Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi gula dan rendah serat
akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe-2.

Gejala dan Tanda-Tanda Penyakit Diabetes Melitus


Gejala Umum
Gejala atau keluhan klasik DM berupa poliuria (banyak berkemih),
polidipsi (banyak minum) dan polifagi (banyak makan) serta penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

Keluhan lain yang juga dapat

ditemukan pada pasien diabetes melitus antara lain pasien merasakan lemah, gatal,
kesemutan, pandangan kabur, serta adanya disfungsi ereksi pada pria ataupun
pruritus vulva pada wanita (Perkeni, 2011).

Gejala Klinis
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami diabetes melitus adalah
dengan cara mengukur kadar gula darah dalam tubuh. Dikatakan diabetes melitus
apabila pemeriksaan gula darah puasa 126 mg/dl dan gula darah 2 jam PP 200
mg/dl. Sedangkan dikatakan normal apabila kadar gula darah puasa adalah < 110
mg/dl dan gula darah 2 jam PP < 140 mg/dl (Seino et al 2010).

Klasifikasi Diabetes Melitus


1. Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1)
Diabetes tipe 1 meliputi 5-10% dari semua diagnosis diabetes melitus,
sebelumnya dikenal dengan istilah insulin-dependent diabetes melitus (IDDM)
atau juvenile-onset diabetes, yang merupakan hasil dari destruksi sel pankreas
yang diperantarai oleh mekanisme autoimun (ADA, 2010).
Terdapat tiga mekanisme yang saling kait yang berperan dalam destruksi
sel islet yaitu kerentanan genetik, autoimunitas dan gangguan lingkungan.
Kerentanan genetik berkaitan dengan alel spesifik kompleks histokompabilitas
mayor (MHC) kelas II dan lokus genetik lain yang menyebabkan seseorang rentan
terhadap timbulnya autoimunitas terhadap sel islet. Reaksi autoimun timbul
secara spontan atau dipicu oleh suatu kejadian lingkungan yang mengubah sel
sehingga sel ini menjadi imunogenik. Pengamatan epidemiologis mengisyaratkan
bahwa virus dapat menjadi pemicu. Beberapa virus dilaporkan berkaitan dengan
diabetes tipe 1 termasuk coxsackievirus B, parotitis, campak, dan rubella (Robbins
dan Cotrans, 2009).
Destruksi sel pancreas yang berlangsung terus menerus seringkali
menyebabkan defisiensi absolut insulin. Destruksi tersebut berkembang secara
pesat pada orang muda namun dapat terjadi pada semua kelompok umur (Seino et
al, 2010).
Kurang dari 10% penderita diabetes melitus tipe 1 tidak memiliki bukti
adanya makenisme autoimun pada sel pancreas yang menjelaskan terjadinya
insulinopenia dan ketoasidosis.

Bentuk seperti ini diklasifikasikan sebagai

diabetes tipe 1 idiopatik (Tierney et al, 2007).


2. Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2)
Diabetes tipe 2 mencakup 90-95% dari semua kasus diabetes melitus.
Diabetes tipe 2 sebelumnya dikenal juga dengan istilah noninsulin-dependent
diabetes (NIDDM) atau adult-onset diabetes, yang dialami individu dengan

resistensi insulin dan biasanya memiliki defisiensi relatif insulin. Pada penderita
diabetes tipe 2, tidak dibutuhkan terapi insulin untuk bertahan.

Banyak

kemungkinan penyebab yang berbeda pada diabetes tipe 2. Walaupun penyebab


pastinya tidak diketahui, pada diabetes tipe 2 tidak terjadi destruksi pada sel
yang diperantarai oleh mekanisme autoimun (ADA, 2010).
Diabetes melitus tipe 2 berkaitan dengan banyak faktor genetik yang
menyebabkan penurunan sekresi insulin atau resistensi insulin yang ditambah
dengan kebiasaan gaya hidup seperti pola makan yang berlebih (khususnya diet
tinggi lemak), dan kurangnya latihan yang berperan dalam obesitas, sebagai faktor
lingkungan yang menyebabkan insufisiensi kerja insulin (Seino et al, 2010).
Onset DM tipe 2 ini umumnya terjadi pada umur pertengahan, namun
akhir-akhir ini memperlihatkan bahwa onset dapat terjadi pada anak-anak dan
dewasa muda (Seino et al, 2010). DM tipe 2 ini umumnya terjadi pada umur
dewasa dan cenderung terjadi pada masyarakat yang mengalami perubahan dari
pola hidup tradisional ke pola modern. Diabetes melitus tipe ini biasanya timbul
pada umur diatas 40 tahun dapat juga terjadi pada umur lebih muda. Diabetes
melitus tipe 2 yang terjadi pada remaja dan anak muda menunjukkan adanya
faktor keturunan (WHO, 1998).
Obesitas dan aktifitas fisik adalah faktor risiko utama untuk diabetes tipe
2. Obesitas adalah faktor yang paling penting berperan atas meningkatnya insiden
dan prevalensi diabetes tipe 2 selama 20 tahun terakhir. Kenaikan berat badan dan
kurangnya aktifitas fisik menyebabkan resistensi insulin. Sebaliknya, penurunan
berat badan dan olahraga meningkatkan sensitivitas insulin dan meningkatkan
toleransi glukosa (Handayani, 2012).
Penelitian epidemiologik menunjukkan bahwa diabetes tipe 2 tampaknya
terjadi akibat sejumlah defek genetik, masing-masing member kontribusi pada
risiko dan masing-masing juga dipengaruhi oleh lingkungan.

Dua defek

metabolik yang menandai diabetes tipe 2 adalah gangguan sekresi insulin pada sel
dan ketidakmampuan jaringan perifer berespon terhadap insulin/resistensi
insulin (Robbins dan Cotrans, 2009).
Diabetes melitus tipe 2 dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan ada atau
tidaknya obesitas. Sekitar 15% kasus diabetes tipe 2 adalah diabetes non-obese.

Pada pasien diabetes tipe 2 non-obese penyebab terbesarnya masih idiopatik.


Namun, seiring dengan meningkatnya frekuensi insidensi, abnormalitas banyak
gen diduga sebagai penyebabnya. Diabetes tipe 2 dengan obese meliputi sekitar
85% kasus. Hal ini berkaitan dengan faktor ekstrapankreatik yang menyebabkan
adanya insensitivitas terhadap insulin endogen.

Dengan adanya insensitivitas

tersebut, terjadi defek terhadap produksi insulin sebagai mekanisme kompensasi


tubuh, dan kemudian akan terjadi diabetes ringan non ketotis. Masalah utama
terjadi gangguan pada organ target karena adanya kerja insulin yang tidak
efektif yang juga akan mempengaruhi fungsi sel pancreas. Pada pasien diabetes
tipe 2 dengan obese, resistensi insulin pada jaringan target dipercaya karena
adanya defek pada post-reseptor terhadap kerja insulin. Hal ini menyebabkan
hiperinsulinemia yang lebih jauh dapat meningkatkan resistensi insulin dengan
cara down-regulation reseptor insulin (Tierney et al, 2002).
Kelompok Risiko Tinggi
Kelompok risiko tinggi adalah orang yang memiliki faktor risiko yang
lebih besar untuk menderita diabetes. DM tipe 2 adalah jenis yang paling banyak
di temukan yaitu lebih dari 90%. Orang yang menderita diabetes tipe 2 biasanya
memiliki beberapa faktor risiko, yaitu :
1. Faktor Umur
Faktor risiko diabetes tipe 2 meningkat seiring bertambahnya
umur, terutama setelah umur 45 tahun, sehingga orang yang berumur 45
tahun harus dilakukan pemeriksaan Diabetes Melitus (Perkeni, 2011).
Dalam studi epidemiologi, baik yang dilakukan secara crosssectional maupun longitudinal, menunjukkan bahwa prevalensi diabetes
maupun gangguan toleransi glukosa naik bersama bertambah umur, dan
membentuk suatu plateau dan kemudian menurun. WHO menyebutkan
bahwa setelah seseorang mencapai umur 30 tahun, maka konsentrasi
glukosa darah akan naik 1-2 mg% per tahun pada saat puasa dan akan naik
sekitar 5,6-3 mg% pada 2 jam setelah makan. Berdasarkan hal tersebut
tidaklah mengherankan apabila umur merupakan faktor utama terjadinya

kenaikan prevalensi diabetes serta gangguan toleransi glukosa (Rochmah,


2009).
Pada DM tipe 2 terjadi penurunan progresif jumlah sel beta sebagai
akibat meningkatnya apoptosis sel beta yang melebihi proses replikasi dan
neogenesis sel beta. Pada kondisi normal sekitar 0,5% sel beta mengalami
apoptosis tetapi diimbangi dengan replikasi dan neogenesis.

Seiring

dengan pertambahan umur, jumlah sel beta juga akan menurun karena
proses apoptosis melebihi replikasi dan neogenesis. Hal ini menjelaskan
mengapa orang tua lebih rentan terhadap kejadian DM tipe 2 (Endah dan
Bambang, 2011).
2. Faktor Keturunan (Genetik)
Diabetes tipe 2 adalah suatu penyakit yang dipengaruhi oleh faktor
genetik dan faktor lingkungan.

Di dalam Konsensus tahun 2011

dinyatakan bahwa faktor genetik merupakan salah satu faktor risiko yang
tidak dapat dimodifikasi, sedangkan faktor lingkungan yang berkaitan
dengan gaya hidup seperti asupan nutrisi dan aktivitas fisik termasuk
dalam faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
American Diabetes Association (2013) mengungkapkan bahwa
Diabetes tipe 2 memiliki kecenderungan untuk diwariskan sangat kuat bila
terdapat riwayat keluarga yang menderita diabetes.
Hal ini diperkuat oleh Robbins dan Cotrans (2009) pada diabetes
tipe 2, genetik lebih berperan dibandingkan pada diabetes tipe 1A.
Diantara kembar identik, angka concordance adalah 60% hingga 80%.
Pada anggota keluarga dekat dari pasien diabetes tipe 2 (dan pada kembar
non identik), risiko menderita penyakit ini lima hingga sepuluh kali lebih
besar daripada subjek yang tidak memiliki riwayat penyakit dalam
keluarga.
Diabetes tipe 2 memiliki kaitan dengan riwayat keturunan yang
kuat, dan sedikitnya 50 varian genetic telah dilaporkan berpengaruh dalam
diabetes tipe 2. Pola pewarisan diabetes tipe 2 berkaitan dengan banyak

gen dan sangat beragam. Tetapi berapa banyak gen yang berpengaruh dan
kontribusinya masih belum diketahui secara pasti (Hertel, 2012).
Faktor keturunan merupakan predisposisi terjadinya resistensi
insulin tetapi bersifat multifaktor.

Penyebab resistensi insulin ini

disebabkan oleh mutasi gen dari enzim Glukokinase serta adanya kelainan
pada reseptor insulin. Enzim Glukokinase merupakan enzim khusus pada
sel hati. Adanya resistensi insulin menyebabkan gula darah masuk ke
dalam sel sedikit sehingga sel kekurangan gula darah dan gula darah dalam
pembuluh darah akan meningkat (Quddusi, 2012). Selain itu berkurang
sensitivitas sel pankreas Glukokinase terhadap glukosa darah
menyebabkan gangguan sekresi insulin (Tierney et al, 2002). Hal ini juga
akan berperan dalam meningkatnya kadar glukosa dalam darah.
Menurut The Global Diabetes Community (2013), apabila salah
satu orang tua menderita diabetes tipe 2 maka risiko anak untuk menderita
diabetes meningkat menjadi 15% sedangkan apabila kedua orang tua
menderita diabetes maka risiko anak untuk menderita diabetes meningkat
menjadi 75%.
Selain karena adanya peran genetik, faktor keturunan berpengaruh
terhadap perkembangan diabetes tipe 2 karena dalam keluarga cenderung
memiliki gaya hidup yang sama, baik dari pola makan maupun dari
aktifitas fisik (ADA, 2013).
3. Jenis Kelamin
Pada awalnya prevalensi DM tipe 2 lebih banyak diderita pada
wanita dibandingkan pria, tetapi hal ini mengalami pergeseran sehingga
lebih banyak pria yang di diagnosis DM tipe 2 dibandingkan wanita.
Perubahan ini terutama disebabkan oleh gaya hidup yang ada pada pria
yang menghasilkan adanya peningkatan insidensi obesitas (Kristine,
2013).
Obesitas adalah faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit
diabetes melitus. Distribusi lemak tubuh yang berbeda berdasarkan jenis
kelamin, dimana pada pria memiliki lebih banyak abdominal fat

sedangkan wanita lebih memiliki lebih banyak peripheral fat. Lebih


lanjut lagi, pria cenderung memiliki lebih banyak lemak visceral dan
lemak hepatic dibandingkan dengan wanita, sebaliknya wanita lebih
banyak memiliki lemak subkutan dibandingkan pria.

Berbeda dengan

lemak visceral, lemak subkutan berhubungan dengan meningkatnya


sensitivitas terhadap insulin dan oleh karena itu hal ini berperan dalam
mencegah DM tipe 2 (Kristine, 2013)
Beberapa perbedaan jenis kelamin yang diamati pada komposisi
tubuh, resistensi insulin dan kadar glukosa darah sebagian dipergaruhi oleh
hormone seks. Setelah menopause, sensitivitas terhadap insulin menurun,
hal ini mengindikasikan bahwa estrogen mungkin memiliki pengaruh
terhadap sensitivitas insulin pada wanita. Estrogen diketahui memiliki
pengaruh

terhadap

distribusi

jaringan

adiposa, dengan

demikian

menumpuknya jaringan adiposa pada kompartemen subkutan pada wanita


dibandingkan kompartemen visceral pada pria berhubungan dengan
tingginya kadar estrogen pada wanita daripada pria (Kristine, 2013)
Hal yang berbeda diungkapkan oleh Trisnawati dan Setyorogo
(2013), wanita lebih berisiko mengidap diabetes karena secara fisik wanita
memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar.
Sindroma siklus bulanan (premenstrual syndrome), pasca-menopouse yang
membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi akibat
proses hormonal tersebut sehingga wanita berisiko menderita DM tipe 2.

4. Overweight dan Obesitas


Gaya hidup yang tidak sehat merupakan salah satu faktor
terjadinya diabetes melitus tipe 2, terutama pola makan tidak sehat dan
aktifitas fisik yang kurang.

Kedua hal tersebut dapat menyebabkan

peningkatan glukosa darah (Rahmawati dkk, 2011). Perilaku makan yang


tidak sehat seperti tinggi lemak, kurang sayur dan buah, makanan asin,
makanan manis, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres, serta
minimnya aktivitas fisik merupakan faktor-faktor risiko penyakit
degeneratif, dalam hal ini diabetes (Nuryati dkk, 2009).

Hal senada juga diungkapkan oleh Handayani (2010), obesitas dan


aktifitas fisik adalah faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2. Obesitas
adalah faktor yang paling berperan atas meningkatnya insiden dan
prevalensi diabetes tipe 2 selama 20 tahun terakhir. Kenaikan berat badan
dan kurangnya aktifitas fisik menyebabkan resistensi insulin. Sebaliknya,
penurunan berat badan dan olahraga meningkatkan sensitivitas insulin dan
meningkatkan toleransi glukosa dalam studi nondiabetes dan diabetes.
Pernyataan-pernyataan diatas diperkuat oleh data dari Obesity Society
(2010) yaitu hampir 80%-90% penderita diabetes tipe 2 memiliki berat
badan berlebih (overweight) atau obesitas.
Steyn et al (2004) mengemukakan perubahan secara dramatis akan
prevalensi atau insidensi DM telah diobservasi sebagai akibat perubahan
tipe makan yang dikonsumsi, yaitu dari tipe makanan tradisional menjadi
tipe makanan Western. Dalam penelitiannya juga dinyatakan bahwa
obesitas memiliki frekuensi yang sama dengan diabetes tipe 2, dan banyak
studi menunjukkan peran obesitas sebagai kemungkinan terkuat dalam
perkembangan penyakit tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir frekuensi
obesitas meningkat secara cepat dalam banyak populasi, hal ini
dikarenakan karena adanya interaksi antara genetic dan lingkungan.
Berdasarkan data dari The Nursess Health Study, orang yang memiliki
indeks masa tubuh (IMT) yang rendah (< 21 kg/m2) memiliki risiko yang
rendah untuk menderita diabetes.
Obesitas biasanya berkaitan dengan distribusi lemak pada
abdominal, menghasilkan tingginya rasio lingkar pinggang terhadap
panggul yang abnormal tinggi. Resistensi insulin pada jaringan target
yang terjadi pada pasien obesitas dipercaya karena adanya defek post
reseptor dalam mekanisme kerja insulin.

Keadaan ini disertai dengan

penyimpanan lemak yang berlebihan dan menurunnya kemampuan untuk


membersihkan zat gizi dari sirkulasi sesudah mengkonsumsi makanan.
Hal ini menyebabkan adanya hiperinsulinemia. Lebih lanjut lagi terjadi
hiperglikemia, maka akan ada akumulasi hexosamine di otot dan jaringan

10

lemak yang nantinya dapat menghambat transport glukosa (Tierney et al,


2002).

5. Kurangnya Aktifitas Fisik


Perubahan gaya hidup seperti asupan nutrisi yang seimbang dan
tingginya aktifitas fisik merupakan suatu intervensi yang efektif untuk
orang dengan prediabetes yang ingin mencegah perkembangan menjadi
diabetes. Prediabetes adalah seseorang dengan impaired fasting glucose
(IFG) atau gula darah puasa terganggu, impaired glucose tolerance (IGT)
atau toleransi glukosa terganggu atau keduanya, yang memiliki
peningkatan risiko menderita diabetes tipe 2 (Burr et al, 2010). Menurut
American Diabetes Association (ADA) dikatakan prediabetes apabila IFG
antara 100-125 mg/dl, sedangkan WHO menggunakan nilai antara 110125 mg/dl (Handayani, 2012).
Beberapa

bukti

mendukung

konsep

bahwa

aktifitas

mempunyai kontribusi atau peran dalam pencegah diabetes.

fisik

Pertama,

diabetes tipe 2 berkaitan dengan onset dewasa pertambahan berat badan


dan gaya hidup yang berisiko. Sejalan dengan riwayat keturunan, faktor
predisposisi terkuat untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas. Namun, fisik
yang tidak aktif dapat meningkatkan risiko terkena diabetes yang tidak
berhubungan dengan obesitas.

Sebagai tambahan, fisik yang aktif

memiliki insidensi diabetes yang lebih rendah dibandingkan fisik yang


tidak aktif, dan studi cross sectional telah menunjukkan hubungan yang
berkebalikan antara prevalensi diabetes tipe 2 dengan aktifitas fisik.
Hubungan yang berkebalikan ini memberikan bukti bahwa aktifitas fisik
dapat meningkatkan sensitivitas insulin, meningkatkan toleransi glukosa
dan penurunan berat badan (Myers et al, 2013).
National Heart Foundation of Australia (2006) menyatakan pada
studi internasional bahwa penurunan berat badan 5-7% dan aktiftas fisik
minimal 30 menit per hari (150 menit per minggu) dapat menurunkan
risiko terkena diabetes pada 58% orang overweight yang mengalami
prediabetes.

Pada penderita diabetes tipe 2, aktifitas fisik dapat

11

meningkatkan kontrol glikemik, mencegah dan menurunkan risiko terkena


penyakit jantung dan pembuluh darah serta menurunkan mortalitas.
Dalam studi penelitian kohort prospektif jangka panjang dari
diabetisi Tipe 2 , aktivitas fisik yang lebih tinggi memprediksi morbiditas
dan mortalitas jangka panjang yang lebih rendah dan peningkatan
sensitivitas insulin. Intervensi itu termasuk baik latihan fisik aerobik
seperti berjalan maupun latihan resistensi seperti angkat berat (IDF, 2005).
Latihan fisik aerobik dan latihan resistensi memberikan perubahan yang
menguntungkan dalam insulin signaling pada otot rangka yang
meningkatkan pembuangan glukosa. Hal ini disebabkan karena latihan
dapat meningkatkan masa otot (pada latihan resistensi), GLUT-4, dan
aktifitas glikogen sintetase pada otot yang dilatih (Burr et al, 2010).
Pengukuran Status Gizi
Perkeni (2011) menyatakan bahwa salah satu faktor risiko yang dapat
dimodifikasi dari diabetes melitus tipe 2 adalah overweight/obesitas (IMT >23
kg/m2).
IMT merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi
orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat
badan.

Dengan IMT ini antara lain dapat ditentukan berat badan beserta

risikonya.

Misalnya berat badan kurang dapat meningkatkan risiko terhadap

penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan risiko terhadap
penyakit degeneratif.
Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan
berat badan dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya untuk orang
dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja,
ibu hamil, dan olahragawan (The Indonesian Public Health, 2012).
Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh. Indeks massa
tubuh dapat dihitung dengan rumus yaitu berat badan dalam kilogram (kg) dibagi
tinggi badan dalam meter kuadrat (m2).
Indonesia dewasa adalah sebagai berikut :

Ambang batas IMT untuk orang

12

Table 2.1 Klasifikasi IMT menurut WHO WPR/IASO/IOTF dalam The AsiaPacific Perspective : Redefining Obesity and its Treatment (2000) :
Risiko ko-Morbiditas
Klasifikasi

IMT (kg/m2)

Lingkar perut
< 90 cm (Laki-laki)

90 cm (Laki-laki)

< 80 cm (Perempuan)
Rendah (risiko
meningkat pada
masalah klinis lain)

80 cm (Perempuan)

Sedang

Meningkat

Berat badan kurang

< 18,5

Sedang

Kisaran Normal

18,5-22,9

Berat badan lebih

23

Berisiko

23,0-24,9

Meningkat

Moderate

Obes I

25,0-29,9

Moderate

Berat

Obes II

30

Berat

Sangat berat

Table 2.2 Klasifikasi IMT menurut Depkes RI tahun 1994 dapat dilihat pada
table dibawah ini :
IMT (kg/m2)
< 17.00

Kategori
Kekurangan BB tingkat berat

17.00-18.4

Kekurangan BB tingkat ringan

18.5-25.00
25.1-27.00

Normal
Kelebihan BB tingkat ringan

> 27.00

Kelebihan BB tingkat berat

3. Diabetes Tipe Spesifik Lainnya

Keadaan fisik
Kurus

Normal
Gemuk

13

Defek Genetik Kerja Insulin


Diabetes jenis ini sangat jarang dan jenis ini disebabkan karena mutasi
reseptor insulin (resistensi insulin tipe A) atau juga bisa disebabkan karena
abnormalnya penetapan post-reseptor pada kerja insulin secara genetik.
Metabolisme

abnormal

terjadi

mulai

dari

hiperinsulinemia

sampai

hiperglikemia ringan ke berat (Greenspans, 2007).


Penyakit Eksokrin Pankreas
Proses apapun yang secara menyebar merusak atau memindahkan
paling tidak 2/3 pankreas dapat menyebabkan Diabetes, sekalipun seseorang
dengan predisposisi DM tipe 2 lebih mudah terkena Diabetes dengan derajat
keterkaitan pancreas lebih sedikit.

Penyebabnya dapat berupa trauma,

infeksi, pancreatitis, karsinoma pancreas dan pakreatektomi (Greenspans,


2007).
Karena Obat atau Zat Kimia
Banyak obat yang dihubungkan dengan intoleransi karbohidrat.
Beberapa obat yang mengganggu sekresi insulin oleh sel (Fenitooin,
Tiazid), obat yang merangsang resistensi insulin (glukokortikoid, pil
kontrasepsi), dan beberapa yang menyebabkan destruksi sel seperti racun
tikus dan pentamidin intravena (Greenspans, 2007).
Infeksi
Destruksi sel oleh virus ditemukan pada beberapa percobaan dengan
binatang.

Diabetes juga terjadi pada seseorang yang terinfeksi rubella

kongenital, walau pasien ini memiliki karakteristik DM tipe 1 dengan HLA


dan immune marker. Virus lain yang dapat menyebabkan diabetes antara lain
coxsackievirus B, cytomegalovirus, adenovirus dan mumps (Greenspans,
2007).
Sindrom Genetik Lain yang Berkaitan dengan DM
Banyak sindrom genetik yang menyebabkan peningkatan insidensi DM.
Beberapa abnormalitas kromosom yang dapat menyebabkan DM antara lain
sindrom Down, Klinefelter dan Turner (Greenspans, 2007).

14

4. Diabetes Melitus Gestasion (DMG)


Secara umum DM pada kehamilan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
DM yang memang sudah diketahui sebelumnya dan kemudian menjadi hamil
(Diabetes melitus hamil/ DMH/ DM pragestasional) dan DM yang baru
ditemukan saat hamil (Diabetes melitus gestasional/ DMG). Diabetes melitus
gestasional didefinisikan sebagai suatu intoleransi glukosa yang terjadi atau
pertama kali ditemukan pada saat kehamilan (Adam dan Purnamasari, 2009).
Diabetes melitus gestasional adalah diabetes yang timbul selama
kehamilan, ini meliputi 2-5% dari seluruh diabetes. Jenis ini sangat penting
diketahui karena dampaknya pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan
benar. Adam mendapatkan prevalensi diabetes gestasi sebesar 2-2.6% dari wanita
hamil (Suyono, 2009).
Patogenesis DM tipe 2
Patogenesis Diabetes Melitus tipe 2 jauh lebih sedikit diketahui meskipun
tipe ini merupakan yang tersering ditemukan. Tidak ada bukti bahwa mekanisme
autoimun berperan. Gaya hidup jelas berperan, yang akan jelas jika kegemukan
dipertimbangkan.

Dua defek genetik yang menandai diabetes tipe 2 adalah

gangguan sekresi insulin pada sel beta dan ketidakmampuan jaringan perifer
berespon terhadap insulin atau disebut resistensi insulin (Robbins dan Cotrans,
2009).
Resistensi insulin adalah suatu kondisi di mana terjadi penurunan
senstivitas jaringan terhadap kerja insulin sehingga terjadi peningkatan sekresi
insulin sebagai bentuk kompenasasi sel beta pancreas (Soegondo dan
Purnamasari, 2009).

Pada mereka yang memiliki kerentanan genetik terhadap

diabetes tipe 2, kompensasi ini gagal. Pada perjalanan penyakit selanjutnya,


terjadi kehilangan 20% hingga 50% sel beta, tetapi jumlah ini belum dapat
menyebabkan kegagalan dalam sekresi insulin yang dirangsang oleh glukosa.
Namun, tampaknya terjadi gangguan dalam pengenalan glukosa oleh sel beta
(Robbins dan Cotrans, 2009).

Hal serupa juga dinyatakan oleh Kaku (2010),

lemahnya sekresi insulin dikarakteristikkan dengan rendahnya respon sel beta


pankreas terhadap glukosa.

15

Penelitian terkahir menunjukkan adanya suatu protein mitokondria yang


memisahkan respirasi biokimia dari fosforilasi oksidatif (sehingga menghasilkan
panas, bukan ATP).

Protein ini yang disebut uncoupling protein 2 (UCP2),

diekspresikan sel beta. Kadar UCP intrasel yang tinggi menumpulkan respon
insulin, sedangkan kadar yang kuat memperkuatnya.

Oleh karena itu,

dihipotesiskan bahwa peningkatan kadar UCP2 di sel beta orang dengan diabetes
tipe 2 mungkin menjelaskan hilangnya sinyal glukosa yang khas pada penyakit
ini.
Mekanisme lain kegagalan sel beta pada diabetes tipe 2 dilaporkan
berkaitan dengan pengendapan amiloid di islet. Amilin, komponen utama amiloid
yang mengendap ini, secara normal dihasilkan oleh sel beta pancreas dan
disekresikan bersama dengan insulin sebagai respon terhadap pemberian glukosa.
Hiperinsulinemia yang disebabkan oleh resistensi insulin pada fase awal diabetes
tipe 2 menyebabkan peningkatan produksi amilin, yang kemudian mengendap
sebagai amiloid di islet. Hal ini mungkin menyebabkan sel beta agak refrakter
dalam menerima sinyal glukosa (Robbins dan Cotrans, 2009).
Penyebab resistensi insulin pada Diabetes Melitus tipe 2 juga dipengaruhi
oleh faktor genetik dan faktor lingkungan seperti aktivitas fisik dan obesitas.
Robbins dan Cotrans (2009) menyatakan faktor genetik merupakan penyebab
resistensi insulin yang disebabkan oleh mutasi gen enzim glukokinase. Akibatnya
terjadi peningkatan glukosa yang merupakan pencetus utama insulin sehingga
banyak kadar glukosa dalam darah.

Selain itu juga disebabkan oleh mutasi

reseptor defek, termasuk sintesis reseptor, pengikatan insulin terhadap reseptor


serta aktivasi reseptor tirosin kinase.
Aktivitas fisik yang kurang secara langsung dapat mengganggu proses
translokasi GLUT-4 dengan beberapa mekanisme (Robbins dan Cotrans, 2009).
Pada metabolisme, otot hanya sedikit menggunakan glukosa darah sebagai sumber
energy utama dan menyebabkan kurangnya sensitivitas reseptor insulin.
Akibatnya, aktivasi PI-3K dan MAP kinase juga terganggu sehingga mengganggu
proses translokasi GLUT-4 dari dalam sel. Mekanisme lainnya yaitu aktivitas fisik
yang kurang menyebabkan terhambatnya pembentukan ATP sehingga tidak dapat

16

merangsang AMP kinase yang dapat mengganggu proses translokasi GLUT-4 dari
dalam sel.
Obesitas adalah salah satu faktor risiko lingkungan yang penting dalam
pathogenesis diabetes tipe 2. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa jaringan
lemak bukanlah sekedar tempat penimbunan untuk triglieserida tetapi merupakan
suatu jaringan endokrin aktif yang dapat berdialog dengan otot dan hati. Efek
adiposit jarak jauh ini terjadi melalui zat perantara yang dikeluarkan oleh sel
lemak.
1) Tumor Necrosis Faktor (TNF)
TNF disintesis di adiposit dan mengalami ekspresi berlebihan dalam
sel lemak orang yang kegemukan. TNF menyebabkan resistensi dengan
cara menghambat aktifitas tirosin kinase pada reseptor insulin dan
menurunkan ekspresi glucose transporter-4 (GLUT-4) di sel lemak dan otot
(Rohman, 2007).
2) Asam Lemak Bebas
Peningkatan FFA merusak kemampuan insulin untuk menekan
produksi glukosa hati dan untuk menstimulasi penyerapan glukosa ke otot
rangka, serta menghambat sekresi insulin dari sel beta pancreas .
Mekanisme spesifik kelebihan FFA di dalam jaringan otot dapat
menyebabkan resistensi insulin yang merangsang aktivasi protein kinase C
yang mengganggu jalur sinyal PI-3K dari protein substrat (IRS) sehingga
mengganggu recruitment GLUT (Kahn and Flier, 2000).
3) Leptin
Leptin adalah suatu hormon adiposit yang menyebabkan obesitas
hebat dan resistensi insulin. Leptin dianggap sebagai mediator resistensi
insulin pada obesitas karena kadar leptin plasma berkorelasi dengan total
massa lemak tubuh. Ekspresi leptin lebih banyak ditemukan pada lemak
subkutan. Hiperinsulinemi akut akan menurunkan kadar leptin, sebaliknya
kadar leptin akan meningkat pada resistensi insulin dan hiperinsulinemi
kronik (Merentek, 2006).

4) Resistin

17

Resistin dihasilkan oleh sel lemak.

Penurunan kadar resistin

meningkatkan kerja insulin dan sebaliknya, pemberian resistin rekombinian


meningkatkan resistensi insulin (Robbins dan Cotrans, 2009).
Diagnosis Diabetes Melitus
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan
diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan
glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan
darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan
memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan
oleh WHO.

Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat

dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler (Perkeni,


2011).

1. Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaan penyaring ditujukan pada mereka yang
mempunyai risiko DM namun tidak menunjukkan adanya gejala
DM.

Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan

pasien dengan DM, toleransi glukosa terganggu (TGT) maupun


glukosa

darah

puasa

terganggu

(GDPT),

sehingga

dapat

ditangani lebih dini secara tepat. Pasien dengan TGT dan GDPT
juga disebut sebagai intoleransi glukosa, merupakan tahapan
sementara menuju DM. Kedua keadaantersebut merupakan
faktor risiko untuk terjadinya DM dan penyakit kardiovaskular di
kemudian hari.
Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada semua individu
dewasa dengan indeks masa tubuh (IMT) 25 kg/m 2 dengan
faktor risiko lain sebagai berikut :
a. Aktivitas fisik kurang
b. Riwayat keluarga mengidap DM pada turunan pertama
(first degree relative)

18

c. Masuk kelompok etnik risiko tinggi (African American,


Latino, Native American, Asian American, Pacific Islander)
d. Wanita dengan riwayat melahirkan bayi dengan berat
4000 gram atau riwayat diabetes melitus gestasional (DMG)
e. Hipertensi 140/90 mmHg
f.

Kolesterol HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida 250


mg/dL

g. Wanita dengan sindrom polikistik ovarium


h. Riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa
darah puasa terganggu (GDPT)
i.

Keadaan lain yang berhubungan dengan resistensi insulin


(obesitas, akantosis nigrikans)

j.

Riwayat penyakit kardiovaskular

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar


glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Apabila pada
pemeriksaan penyaring ditemukan hasil positif, maka perlu dilakukan
konfirmasi dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa atau dengan tes
toleransi glukosa oral (TTGO) standar.
Table 2.3 Tabel glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring
dan diagnosis DM (mg/dl).
Bukan DM
Kadar glukosa
darah sewaktu
(mg/dl)
Kadar glukosa
darah puasa
(mg/dl)

Plasma vena
Darah kapiler

< 100
< 90

Belum pasti
DM
100-199
90-199

Plasma vena
Darah kapiler

< 100
< 90

100-125
90-99

DM
200
200
126
100

19

Sumber: Konsensus, 2011. Pengelolahan dan Pencegahan Diabetes Melitus


Tipe 2 di Indonesia. Cetakan keempat. Perkumpulan Endokrinologi.
Jakarta.
Catatan :
Untuk kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan kelainan hasil,
dilakukan pemeriksaan ulangan tiap tahun. Bagi mereka yang berumur > 45
tahun tanpa faktor risiko lain, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3
tahun.
2. Diagnosis
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes.
Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik
DM seperti tersebut di bawah ini.
a. Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polidipsia, polifagia, dan
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
b. Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata
kabur dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada
wanita.
Kriteria diagnosis DM menurut PERKENI, 2006 yaitu bila terdapat
salah satu atau lebih hasil pemeriksaan gula darah dibawah ini :
1. Glukosa darah sewaktu (plasma vena) 200 mg/ dl
2. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) 126 mg/ dl
3. Kadar glukosa plasma 200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa
75 gram pada tes toleransi glukosa oral.
Tabel 2.4 Kriteria Diagnosis DM
1

Gejala klasik DM + glukosa darah sewaktu 200 mg/dl (1,1 mmol/L)


Glukosa sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari
tanpa memerhatikan waktu makan terakhir

Atau
Gejala klasik DM + kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl (7.0
mmol/L)

20

Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan setidaknya 8


jam
3

Atau
Kadar glukosa darah 2 jam pada TTGO 200 mg/dl (1.1 mmol/L)
TTGO dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa
yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrus yang dilarutkan ke
dalam air

Sumber: Konsensus, 2011. Pengelolahan dan Pencegahan Diabetes Melitus


Tipe 2 di Indonesia. Cetakan keempat. Perkumpulan Endokrinologi.
Jakarta.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM,
maka dapat digolongkan ke dalam kelompok toleransi glukosa terganggu
(TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) tergantung dari hasil yang
diperoleh.
a. TGT : Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO
didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 199 mg/dL
(7.8-11.0 mmol/L).
b. GDPT : Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa
plasma puasa didapatkan antara 100 125 mg/dL (5.6 6.9 mmol/L).
American

Diabetes

Association

(ADA)

pada

tahun

2000

merokemendasikan pemeriksaan HbA1C untuk kriteria diagnosis dan


monitoring diabetes. Pemeriksaan dengan cara mengukur persentasi
glikosilasi hemoglobin, atau A1C di darah. Hemoglobin adalah suatu protein
yang ditemukan didalam sel darah merah, yang membawa oksigen dari paru
ke sel-sel dalam tubuh.

Pada diabetes, kadar glukosa yang berlebihan

didalam darah akan melakukan reaksi glikosilasi dengan hemoglobin .


Semakin banyak glukosa di dalam darah, makan makin banyak hemoglobin
yang mengalami glikosilasi. Dengan melakukan persentasi A1C didalam
darah, maka akan didapatkan gambaran rata-rata kadar glukosa darah dalam
2-3 bulan.

21

Keuntungan dari permeriksaan hemoglobin (Hb) terglikosilasi (A1C)


ini pasien tidak diharuskan untuk berpuasa atau meminum apapun. Nilai A1C
5.7% - 6.4% menandakan menderita prediabetes dan memiliki risiko tinggi
menderita diabetes. Diagnosis diabetes ditegakkan jika nilai A1C 6.5%
(WHO, 2011).
Tabel 2.5 Perkiraan rata-rata glukosa darah
A1C%
5

eAGmg/dl
97

5,5

111

126

6,5

140

154

7,5

169

8
A1C%

183
eAGmg/dl

8,5

197

212

9,5

226

10

240

10,5

255

11

269

11,5

283

12

298

Sumber: American Diabetes Association. 2000. Estimated Average Glucose


(eAG).

Available from : (http://www.diabetes.org/living-with-

diabetes/treatment-and-care/blood-glucose-control/a1c/) [Diakses
November 2013]
Bagan 1. Langkah-langkah diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa

22

Sumber: Konsensus, 2011. Pengelolahan dan Pencegahan Diabetes Melitus


Tipe 2 di Indonesia. Cetakan keempat. Perkumpulan Endokrinologi.
Jakarta.

Pilar Penatalaksanaan DM
1. Edukasi
2. Terapi gizi medis
3. Latihan jasmani
4. Intervensi farmakologis
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
selama beberapa waktu (2-4 minggu).

Apabila kadar glukosa darah belum

mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik


oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera
diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi.

Dalam

keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat


badan yang menurun dengan cepat, dan adanya ketonuria, insulin dapat segera
diberikan.
Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri, tanda dan gejala
hipoglikemia serta cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Pemantauan

23

kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan
khusus (Perkeni, 2011).
Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku
telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan
partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi
pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat. Untuk mencapai keberhasilan
perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya
peningkatan motivasi (Perkeni, 2011).
Terapi Nutrisi Medis
1. Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari penatalaksanaan
diabetes secara total. Kunci keberhasilan TNM adalah keterlibatan secara
menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain
serta pasien dankeluarganya).
2. Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TNM sesuai dengan
kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi.
3. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan
anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang
dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu.
Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan
dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan, terutama pada
mereka yang menggunakan OHO atau insulin (Perkeni, 2011).
Latihan Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam
pengelolaan DM tipe 2.

Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar,

menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan. Latihan jasmani selain


untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki
sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan

24

jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan
kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang.

Latihan jasmani sebaiknya

disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang
relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah
mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang
kurang gerak atau bermalas-malasan (Perkeni, 2011).
Terapi Farmakologis
Menurut Konsensus 2011, terapi farmakologis diberikan bersama dengan
pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Berdasarkan cara
kerjanya, obat hipoglikemik oral (OHO) dibagi menjadi 5 golongan :
a.

Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) : sulfonilurea dan glinid

b.

Peningkat sensitivitas terhadap insulin : metformin dan tiazolidindion

c.

Penghambat glukoneogenesis (metformin)

d.

Penghambat absorpsi glukosa : penghambatglukosidase alfa.

e.

DPP-IV inhibitor

1) Sulfonilurea
Obat golongan sulfonilurea bekerja dengan cara :
(a) Menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan (stored insulin).
(b) Menurunkan ambang sekresi insulin.
(c) Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.
Sulfonilurea terikat dengan permukaan reseptor pada membran sel beta
dan menghambat ATP-Sensitive Potassium Channel sehingga mencegah
keluarnya kalium dan terjadilah depolarisasi membran sel.
Depolarisasi membuka voltage-dependent calcium channel akibatnya
kalsium ekstra seluler masuk dalam sel dan akhirnya meningkatkan Calcium
Cytosolic yang merangsang insulin. Golongan sulfonilurea dalam pemberiannya
dapat menyebabkan kegagalan primer yaitu sejak awal pasien tidak memberi
respons yang memuaskan walaupun sudah ditingkatkan dosisnya ke dosis
maksimal. Keberhasilan menurunkan kadar glukosa puasa terbatas hanya 20-30%
penderita. Demikian pula dapat terjadi kegagalan sekunder bila dalam periode
yang lama obat ini sudah tidak memberi hasil yang memuaskan walaupun

25

diberikan dalam dosis maksimal. Kegagalan sekunder dapat terjadi pada sekitar
10% penderita pertahun. Untuk itu diperlukan obat OHO tambahan atau insulin
untuk memperbaiki kontrol glikemik (Henrichs, HR. 1988). Obat golongan ini
diberikan pada penderita dengan berat badan normal dan dipakai pada penderita
yang berat badannya lebih dari normal. Klorpropamid tidak dianjurkan pada
keadaan insufisiensi renal dan orang tua karena resiko hipoglikemia yang
berkepanjangan, demikian juga glibenklamid. Untuk orang tua dianjurkan
preparat dengan waktu kerja pendek (tolbutamid, glikuidon). Glikuidon juga
diberikan pada penderita diabetes mellitus dengan gangguan ginjal atau hati
ringan.
2). Biguanid
Biguanid menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai di bawah
normal. Preparat yang ada dan aman adalah metformin. Metformin adalah
golongan dimetil biguanide merupakan OHO yang dipakai untuk menurunkan
kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe II, penggunaannya
bertujuan untuk menurunkan resistensi insulin dengan memperbaiki sensitivitas
insulin terhadap jaringan. Dengan demikian metformin di indikasikan sebagai
obat pilihan pertama pada pasien diabetes mellitus tipe II gemuk yang mana dasar
kelainannya adalah resistensi insulin. Walaupun cara kerja metformin berbeda
dengan sulfonilurea akan tetapi efek kontrol glikemik sama dengan golongan
sulfonilurea. Metformin dikenal bekerja sebagai anti hiperglikemia sedang
sulfonilurea sebagai obat yang bekerja sebagai hipoglikemik. Mekanisme kerja
metformin menambah up-take (utilisasi) glukosa diperifer dengan meningkatkan
sensitifitas jaringan terhadap insulin, menekan produksi glukosa oleh hati,
menurunkan oksidasi Fatty Acid dan meningkatkan pemakaian glukosa dalam
usus melalui proses non oksidatif. Ekstra laktat yang terbentuk akan diekstraksi
oleh hati dan digunakan sebagai bahan baku glukoneogenesis. Keadaan ini
mencegah terjadinya efek penurunan kadar glukosa yang berlebihan. Pada
pemakaian tunggal metformin dapat menurunkan kadar glukosa darah sampai
20%.
3) Inhibitor glukosidase

26

Obat golongan inhibitor alfa glukosidase (Acarbose) mempunyai


mekanisme kerja menghambat kerja enzim alfa glukosidase yang terdapat pada
brush border dipermukaan membran usus halus. Enzim alfa glukosidase
berfungsi sebagai enzim pemecah karbohidrat menjadi glukosa diusus halus.
Dengan pemberian acarbose maka pemecahan karbohidrat menjadi glukosa di
usus akan menjadi berkurang, dengan sendirinya kadar glukosa darah akan
berkurang.
4). Peningkat sensitivitas terhadap insulin
Tiazolidindion
Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada

Peroxisome Proliferator

Activated Receptor Gamma (PPAR- g), suatu reseptor inti di sel otot dan sel
lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi

insulin dengan

meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan


ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien
dengan gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan
dan juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion
perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala.
*golongan rosiglitazon sudah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya
Komplikasi Akut Diabetes Mellitus

1. Ketoasidosis diabetik (KAD)


Merupakan komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan peningkatan
kadar glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dL), disertai dengan adanya tanda
dan gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat
(300-320 mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap
2. Hiperosmolar non ketotik (HNK)
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (6001200 mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat
meningkat (330-380 mOs/mL), plasma keton (+/-), anion gap normal atau sedikit
meningkat.

27

Catatan:
kedua keadaan (KAD dan HNK) tersebut mempunyai angka morbiditas dan
mortalitas yang tinggi. Memerlukan perawatan di rumah sakit guna mendapatkan
penatalaksanaan yang memadai.
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia dan cara mengatasinya. Hipoglikemia ditandai dengan
menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dL. Bila terdapat penurunan kesadaran
pada penyandang diabetes harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya
hipoglikemia.

Hipoglikemia

paling

sering

disebabkan

oleh

penggunaan

sulfonilurea dan insulin. Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat berlangsung


lama, sehingga harus diawasi sampai seluruh obat diekskresi dan waktu kerja obat
telah habis. Terkadang diperlukan waktu yang cukup lama untuk pengawasannya
(24-72 jam atau lebih, terutama pada pasien dengan gagal ginjal kronik atau yang
mendapatkan terapi dengan OHO kerja panjang). Hipoglikemia pada usia lanjut
merupakan suatu hal yang harus dihindari, mengingat dampaknya yang fatal atau
terjadinya kemunduran mental bermakna pada pasien. Perbaikan kesadaran pada
DM usia lanjut sering lebih lambat dan memerlukan pengawasan yang lebih lama.
Komplikasi Kronik Diabetes Mellitus
Komplikasi diabetes mellitus secara kronik (menahun), yaitu timbul beberapa
bulan atau beberapa tahun sesudah mengidap penyakit diabetes mellitus. Komplikasi
kronik pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh bagian tubuh
(Angiopati diabetik). Angiopati diabetik di bagi menjadi dua yaitu makroangiopati
(makrovaskuler) dan mikroangiopati (mikrovaskuler). Komplikasi kronik diabetes
mellitus : 1) Mikrovaskuler : Ginjal dan mata. 2)Makrovaskuler : Jantung koroner,
pembuluh darah kaki dan pembuluh darah otak. 3) Neuropati : Mikrovaskuler dan
makrovaskuler : mudah timbul infeksi