Anda di halaman 1dari 12

UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK BIJI PINANG

(Areca catechu L.) TERHADAP MENCIT JANTAN YANG


DIBERIKAN GLUKOSA
Ikbal Pakaya1,Widysusanti Abdulkadir2, Hamsidar Hasan2
Mahasiswa Farmasi, Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo
2
Dosen Pembimbing Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan dan
Keolahragaan
Email : pakayasiqbal@gmail.com
1

ABSTRAK
Diabetes melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan keadaan
hiperglikemik atau keadaan kadar gula darah diatas normal. Penderita diabetes
mellitus terus meningkat seiring dengan meningkatnya kemakmuran dan gaya hidup
yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antidiabetes ekstrak
biji pinang (Areca catechu L) terhadap mencit jantan yang diberikan glukosa. Hewan
uji menggunanakan 25 ekor mencit jantan yang di bagi dalam 5 kelompok perlakuan.
Metode ekstraksi yang di gunakan yaitu maserasi dengan hasil ekstrak biji pinang
yang digunakan adalah 2% b/v, 4% b/v, 8% b/v. Data kadar glukosa darah tiap waktu
sampling pada tiap kelompok dianalisis secara statistik menggunakan metode One
Way Anava kemudian di lanjutkan dengan uji Duncan bertaraf kepercayaan 99%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antidiabetes ekstrak biji pinang
dengan dosis 2% , 4% dan 8% b/v memberikan penurunan kadar glukosa darah yang
signifikan dibandingkan dengan kelompok control (Na CMC 1%). Pemberian ekstrak
biji pinang dengan dosis 4% b/v meberikan hasil lebih baik terhadap penurunan kadar
glukosa darah dibandingkan dengan dosis 2% b/v, 8% b/v dan acarbose 0.0195%.
Kata Kunci

: Diabetes melitus, glukosa, ekstrak biji pinang

PENDAHULUAN
Indonesia
adalah
negara
kepulauan yang memiliki cakupan luas
yang bervariasi, dari yang sempit
hingga yang luas, dari yang datar,
berbukit serta bergunung tinggi, dimana
di dalamnya hidup flora, fauna dan
mikroba yang sangat beranekaragam.
Berdasarkan
pembagian
kawasan
biogeografi, Indonesia memiliki posisi
sangat penting dan strategis dari sisi

kekayaan dan keanekaragaman jenis


tumbuhan beserta ekosistemnya. Data
IBSAP (2003) memperkirakan terdapat
38.000 jenis tumbuhan (55% endemik)
di
Indonesia
(Walujo,
2011:1).
Sedangkan pada tahun 2013 telah
terungkap bahwa hutan Indonesia
menjadi habitat bagi 30.000 dari sekitar
40.000 jenis tumbuh-tumbuhan obat
yang telah dikenal di dunia. Jumlah
1

tersebut mewakili 90 persen tanawan


obat yang ada dikawasan asia. Lebih
dari 1.000 jenis telah digunakan sebagai
tanaman obat, salah satunya adalah
pinang (Anonim, 2013).
Pinang telah dimanfaatkan sejak
ratusan tahun lalu untuk menyirih.
Budaya
mengkonsumsi
pinang
ditemukan pada masyarakat di Papua,
Nusa Tenggara Timur, Kalimantan,
Nanggroe Aceh Darussalam, dan
Sumatera Barat. Secara empiris, biji
pinang dapat mengatasi berbagai jenis
penyakit salah satunya adalah diabetes.
Senyawa yang dominan pada biji
pinang adalah tanin dan alkaloid.
Kandungan tanin sekitar 15% dan
alkaloid
0,3-0,6%
(Novarianto,
2012:10).
Dieraglobalisasi masa kini, telah
mengubah cara pandang orang dan
melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru.
Berbagai kebiasaan baru yang tidak
sesuai dengan prinsip pola hidup sehat
telah menimbulkan jenis penyakit baru
yang tidak ada sebelumnya, atau
jumlahnya meningkat dibandingkan
dengan era sebelumnya. Misalnya,
kebiasaan
merokok,
minuman
beralkohol, diet makanan berlemak dan
rendah serat, narkoba, kurang gerak,
dan lain-lain(Cahyono, 2008:7).
Semua pola penyakit dulu
didominasi oleh penyakit infeksi dan
kurang gizi. Namun, kini pola penyakit
telah digantikan oleh penyakit modern
yang
bermunculan
akibat
dari
perubahan gaya hidup, salah satu
penyakit yang meningkat di era ini
adalah diabetes melitus (Cahyono,
2008:8). Menurut WHO jumlah
penderita diabetes di Indonesia pada
tahun 2030 akan mencapai 21,3 juta.

Hal ini akan menjadikan indonesia


menduduki peringkat ke-4 dalam hal
jumlah penderita diabetes setelah
Amerika Serikat, Cina, dan India
(Indrasari, 2013:868).
Diabetes melitus adalah istilah
kedokteran untuk sebutan penyakit
yang di Indonesia dikenal dengan
nama penyakit gula atau kencing
manis. Penyakit
ini merupakan
sekumpulan gejala yang timbul pada
seseorang ditandai dengan kadar
glukosa
darah melebihi
normal
(hiperglikemia)
akibat
tubuh
kekurangan insulin baik absolut
maupun relatif (Zuhrotun, 2007:2).
Diabetes tipe 2 merupakan
diabetes yang banyak terjadi pada orang
dewasa. Lazimnya mulai di atas usia 40
tahun dengan insidensi lebih besar pada
orang gemuk (overweight) dan pada
usia lebih lanjut. Disebabkan oleh
proses menua, banyak penderita jenis
ini mengalami penyusutan sel-sel beta
yang progresif. Selain itu, kepekaan
reseptornya juga menurun (Tjay dan
Rahardja, 2007:742).
Salah satu sasaran penelitian ini
yaitu mencari terapi alternatif dalam
mengobati penyakit diabetes mellitus.
Menurut informasi, secara empirik biji
buah pinang dapat menurunkan kadar
glukosa darah. Hal ini telah dibuktikan
melalui penelitian yang menyatakan
bahwa pemberian fraksi alkaloid dari
ekstrak biji pinang terhadap kelinci
yang
diinduksi
dengan
alloxan
menunjukkan efek hipoglikemik yang
signifikan berlangsung selama 4/6 jam
(Amudhan, 2012:4153). Penelitian oleh
Kartika L, (2008:62) mengungkapkan
infusa biji pinang mempunyai efek
hipoglikemik pada dosis 0,51 g/kgBB2

1,72g/kgBB
dengan
presentase
penurunan sebesar 13,69%-25,30%.
Secara in-vitro juga terbukti bahwa
ekstrak biji pinang dapat menghambat
enzim Alfa-glukosidase pada menit ke
30 dan 60 setelah pemberian ekstrak
etanol
biji
pinang
(Amudhan,
2012:4153).
Oleh karena itu berdasarkan hal
tersebut maka dlakukan penelitian
ilmiah untuk menguji efek antidiabetes
ekstrak etanol biji pinang (Areca
catechu L) pada mencit jantan yang
diberikan glukosa.
METODE PENELITIAN
Alat
Rotary evaporator (Heidolf), satu
set alat cek darah otomatis (Easy Touch
GCU : NESCO multicheck), timbangan
analitik (Precisa), timbangan gram
(Ohaus), timbangan hewan (Ohaus).
Bahan
Tablet Acarbose, mencit jantan
galur wistar (Mus musculus) dan serbuk
biji pinang.
Jalannya Penelitian
Pengambilan Biji Pinang
Sampel biji pinang (Areca catechu
L.) diambil di Desa Sangkub IV,
Kecamatan
Sangkub
Kabupaten
Bolaang Mogondow Utara. Waktu
pengambilan sampel dilakukan pagi
hari.
Pengolahan Biji Pinang
Sampel biji pinang yang telah di
kupas dari kulit luarnya disortasi basah
dengan cara memilih biji pinang yang
layak
digunakan,
dicuci
untuk
menghilangkan kotoran, pasir, kerikil
yang melekat pada biji pinang selama

proses pengupasan, setelah itu sampel


dirajang dengan cara di potong-potong
melintang, dan di keringkan dengan
cara di angin-anginkan, setelah kering,
sampel di sortasi kering dan di perkecil
ukurannya lagi menjadi serbuk dengan
menggunakan blender.
Pembuatan Ekstrak Biji Pinang
Serbuk biji pinang ditimbang
sebanyak 500 gram, dimasukkan dalam
bejana maserasi, ditambahkan etanol
sampai semua serbuk terendam
sempurna, campuran serbuk dan pelarut
diaduk beberapa kali selama 24 jam
pada suhu kamar dan ditutup rapat.
Setelah itu disaring dengan kertas
saring, hasil penyaringan pertama
adalah filtrat I, sedangkan residu
simplisia dari biji pinang diekstraksi
lagi hingga mendapatkan filtrat. Hal ini
dilakukan kembali hingga tiga kali.
Setelah itu filtrat yang didapatkan
di kumpulkan dan dipekatkan dengan
rotary evaporator sampai terbentuk
ekstrak kental. Ekstrak kental yang
didapatkan kemudian dihitung persen
rendemen.

Rendemen=
x 100 %

Pembuatan Larutan Glukosa 29.25%
b/v
Sebanyak 29.25 g glukosa yang
telah ditimbang seksama dilarutkan
dalam akuades sampai dengan volume
100 ml.
Pembuatan Suspensi Na-CMC 1%
b/v
Untuk membuat larutan Na-CMC
1%, ditimbang Na-CMC sebesar 1g
yang kemudian dimasukkan sedikitdemi sedikit kedalam 50 mL aquades
3

panas (suhu 70oC) sambil diaduk


dengan pengaduk hingga terbentuk
larutan koloidal dan dicukupkan
volumenya hingga 100 mL dengan
aquades dalam gelas tentukur 100 mL.
Pembuatan
Suspensi
Acarbose
0,0195% b/v
Glibenklamid sebanyak 10 tablet
ditimbang dan dihitung bobot rata-rata.
Setelah itu, semua tablet glibenklamid
dimasukkan ke dalam lumpang dan
digerus sampai menjadi serbuk.
Ditimbang 52,59 mg serbuk acarbose
kemudian disuspensikan dalam NaCMC 1% sedikit demi sedikit sambil
diaduk, dicukupkan volumenya sampai
100 mL.
Pembuatan Suspensi Ekstrak Biji
Pinang
Ekstrak Biji Pinang (Areca
catechu L.) yang digunakan dalam
penelitian ini adalah ekstrak etanol 2%
b/v, 4% b/v, dan 8% b/v dimana
masing-masing sebanyak 2 g, 4 g, dan 8
g dimasukkan kedalam lumpang
kemudian digerus dan ditambahkan
larutan koloidal Na-CMC 1% b/v
sedikit demi sedikit hingga homogen.
Larutan yang homogen kemudian
dicukupkan volumenya dengan larutan
koloidal Na-CMC 1% b/v hingga 100
ml dalam labu tentukur.
Skrining Fitokimia
Larutan ekstrak uji sebanyak 2 ml
diuapkan dalam cawan porselin hingga
di dapat residu. Residu kemudian di
larutkan dengan 5 ml HCl 2 N. Larutan
yang di dapat kemudian dibagi ke
dalam 3 tabung reaksi. Tabung pertama
di tambahkan dengan HCl 2 N yang
berfungsi sebagai blanko. Tabung

kedua
ditambahkan
pereaksi
Dragendorff sebanyak 3 tetes dan
tabung ketiga ditambahkan pereaksi
Mayer sebanyak 3 tetes. Terbentuknya
endapan jingga pada tabung kedua dan
endapan putih hingga kekuningan pada
tabung ketiga menunjukan adanya
alkaloid (Dewi, 2013:2).
Rancangan Percobaan
Mencit jantan (Mus musculus)
yang digunakan dalam penelitian ini
sebanyak 25 ekor dengan umur 12-14
minggu dan berat badan mencit berkisar
25-30. Mencit diadaptasikan terlebih
dahulu selama 7 hari di Laboratorium
Fitokimia Farmasi UNG dengan
dikandangkan dan diberikan pakan
standar. Mencit yang mati atau menjadi
sakit selama adaptasi dikeluarkan dalam
penelitian.
Mencit yang hidup sehat (aktif)
kemudian dipuasakan selama 3-4 jam
setelah itu di timbang berat badannya
dan diukur kadar gula darah (KGD)
puasa. Kemudian, dibagi menjadi 5
kelompok perlakuan yang terdiri dari
kelompok Kontrol Negatif (KN),
Kontrol Positif (KP), Dosis Ekstrak 1
(DE1), Dosis Ekstrak 2 (DE2), Dosis
Ekstrak 3 (DE3) dan masing-masing
kelompok 5 ekor. Adapun pembagian
masing-masing
kelompok
sebagai
berikut :
KN : Mencit diberi suspensi NaCMC 1 % b/v sebanyak 1 mL
KP : Mencit diberi Glibenklamid
dengan konsentrasi 0.0195 % b/v
DE1: Mencit diberi ekstrak biji
pinang dengan konsentrasi 2 % b/v
DE2: Mencit diberi ekstrak biji
pinang dengan konsentrasi 4 % b/v

DE3: Mencit diberi ekstrak biji


pinang dengan konsentrasi 8 % b/v
Setiap kelompok yang telah
diberikan
perlakuan,
30
menit
kamudian diberikan larutan glukosa
29.25 % b/v, setelah itu dilakukan
pengukuran kadar gula darah mencit
pada menit ke 30, 60, 90 dan 120
dengan menggunakan alat glukometer.

Tabel 4.3 Kadar glukosa darah ratarata dari seluruh kelompok uji pada
masing-masing waktu

HASIL PENELITIAN

DE1

Table 4.1 Hasil ekstrak yang


diperoleh

DE2

Berat
sampel
(gram)
1000

Pelarut
etanol (ml)
3000

Berat
ekstrak
(gram)
110.5

Sumber data: Data primer yang diolah, 2015

Tabel 4.1 menunjukkan serbuk


biji pinang sebanyak 1000 gram di
ekstraksi dengan 3000 ml pelarut etanol
dan diperoleh ekstrak kental sebesar
110,5 gram dengan rendamen yang
diperoleh adalah 11.05 %.
Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia
Senyawa

Pereaksi

Hasil uji

keterangan

Alkaloid

dragendroff

Endapan
jingga

Positif

Sumber data: Data primer yang diolah, 2015

Tabel 4.2 menunjukkan hasil uji


alkaloid dimana ekrtrak biji pinang
yang ditambahkan beberapa tetes
pereaksi dragendorff
membentuk
endapan jingga yang berarti positif
mengandung senyawa alkaloid.

Kadar glukosa darah (mg/dl)


Kel.
T0
KN

KP

DE3

70
6.6
7
67
3.8
7
69
3.9
4
65.
84
.15
67.
25
.26

T30

Tg30

Tg60

Tg90

806.
4

307.6
15.9
1

79.2
8.32

205.4
7.7

243.
82
3.48
173
6.2
8

797.
17

189.4
11.5
5

736.
12

183.6
5.51

74.6
3.51

201.4
24.0
2

180
12.8
1
131.
613
.5
145.
410
.41
134.
610
.02
139.
47.
36

170
8
168.
26.
55
175
13.
04

Tg120
136.2
11.12
1049.
11
1149.
54
116.6
8.26
111.8
8.11

Sumber data: Data primer yang diolah, 2015

Keterangan:
T0 :Kadar glukosa darah sebelum
perlakuan
T30 :Kadar glukosa darah setengah jam
setelah perlakuan
Tg30:Kadar glukosa darah setengah jam
setelah pemberian glukosa
Tg60:Kadar glukosa darah satu jam
setelah pemberian glukosa
Tg90:Kadar glukosa darah satu setengah
jam setelah pemberian glukosa
Tg120:Kadar glukosa darah dua jam
setelah pemberian glukosa
KN :Kontrol negative, Na-CMC 1 %
b/v
KP :Kontrol pembanding, suspensi
acarbose
DE1:Dosis ekstrak 1, ekstrak biji
pinang 2% b/v
DE2:Dosis ekstrak 2, ekstrak biji
pinang 4% b/v
DE3:Dosis ekstrak 3, ekstrak biji
pinang 8% b/v.

Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efek antidiabetes ekstrak
etanol biji pinang (Areca catechu L.)
pada mencit jantan yang dibebani
glukosa serta pada kosentrasi berapa
efek ekstrak biji pinang paling efektif.
Penelitian ini menggunakan ekstrak
kental biji pinang (Areca catechu L.)
dimana ekstrak diperoleh dari proses
ekstraksi yang merupakan penarikan
kandungan kimia yang terdapat pada
simplisia. Salah satu kandungan yang
terdapat pada biji pinang (Areca
catechu L.) yaitu alkaloid yang diduga
mampu menurunkan kadar gula darah
tubuh (Amudhan, 2012:4152). Proses
ekstraksi meliputi pembuatan serbuk,
pembasahan,
penyaringan,
dan
pemekatan. Salah satu metode ekstraksi
yang di gunakan pada penelitian ini
yaitu maserasi. Maserasi Merupakan
proses paling tepat di mana sampel
yang sudah halus memungkinkan untuk
direndam dalam pelarut sampai meresap
dan melunakkan susunan sel, sehingga
yang mudah larut akan melarut (Ansel.
2008:607). Metode ini di gunakan
karena merupakan metode yang
sederhana untuk dilakukan dan baik
untuk senyawa-senyawa yang tidak
tahan panas. Penggunaan pelarut etanol
96% didasarkan karena pelarut ini
memiliki indeks polaritas sebesar 5,2
dan pelarut etanol dalam ekstraksi dapat
meningkatkan permeabilitas dinding sel
simplisia sehingga proses ekstraksi
menjadi lebih efisien dalam menarik
komponen polar hingga semi polar.
Selain itu juga penggunaan pelarut
etanol 96% yang didasarkan pada
keamanan, kemudahan menguap dari
pelarut, kemudahan dalam menarik

metabolit sekunder dari simplisia,


kapang sulit tumbuh dalam etanol 20%
ke atas, netral dan absorbsinya baik
(Sharon, 2013 : 116).
Pada penelitian ini, serbuk biji
pinang (Areca catechu L.) sebanyak
1000 gram sebagai sampel diekstraksi
dengan metode maserasi dan diperoleh
ekstrak sebesar 110,5 gram. Ekstrak
selanjutnya diuji skiring fitokimia
terhadap senyawa alkaloid yang diduga
dapat menurunkan kadar gula darah.
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan
ekstrak biji pinang positif mengandung
senyawa alkaloid dengan terbentuknya
endapan jingga yang ditunjukkan. Hal
ini sejalan dengan penelitian Amudhan
(2012:4152) bahwa buah pinang
mengandung senyawa alkaloid.

Gambar 4.3 Reaksi uji alkaloid dengan


menggunakan pereaksi Dragendroff

Penelitian ini menggunakan 25


ekor mencit jantan, dimana mencit
diaklimatisasi terlebih dahulu selama 1
minggu dengan pemberian pakan
standar
yang
bertujuan
untuk
mengadaptasikan
mencit
dengan
lingkungan
sekitarnya.
Pemilihan
mencit sebagai hewan uji karena
memiliki sifat anatomis dan fisiologis
6

yang terkarakterisasi dengan baik.


Selain itu, penanganannya lebih mudah
dan mengingat volume darah yang
dibutuhkan untuk mengukur kadar gula
darah hanya sedikit maka akan lebih
efektif
penggunaan
mencit
dibandingkan hewan uji lainnya seperti
tikus dan kelinci (Malole dan Pramono,
1989 : 88). Penggunaan mencit jantan
karena memiliki sistem hormonal yang
stabil dibandingkan mencit betina.
Menurut Utami (2009 : 219-220)
adanya hormon estrogen pada mencit
betina akan mempengaruhi kadar gula
darah dalam tubuh.
Untuk
membuat
keadaan
hiperglikemik, mencit diberi glukosa
oral dengan dosis toleransi glukosa
29,25% yang diperoleh dari konversi
dosis manusia 75 g (Speicher dan
Smith, 1996 : 269 ). Penggunaan
glukosa ini terbukti tidak merusak sel
pangkreas yang memproduksi insulin
tetapi mampu membuat keadaan
hiperglikemik pada mencit jantan. Hal
ini telah dilakukan penelitian oleh
Harianja
(2011
:
18)
dalam
penelitiannya uji efek ekstrak etanol biji
tumbuhan alpukat terhadap penurunan
kadar gula darah yang diinduksi
glukosa oral. Selain itu, Larasati (2012 :
25) juga telah melakukan penelitiannya
terhadap efek penurunan kadar glukosa
darah kombinasi ekstrak etanol daun
alpukat dan buah oyong pada mencit
jantan yang dibebani glukosa.
Berdasarkan data yang diperolah
dari masing-masing pengukuran kadar
gula darah mencit dapat dilihat pada
lampiran 7. Semua data tersebut
terdistribusi normal dan homogen.
Hasilnya kemudian dirata-ratakan dan
dapat dilihat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Kadar glukosa darah rata-rata


seluruh kelompok perlakuan pada masingmasing waktu

Gambar 4.1 menggambarkan hasil


rata-rata kadar gula darah kelompok
perlakuan pada masing-masing waktu,
setelah pembebanan glukosa yang
sebelumnya diberi perlakuan kelompok
I (kontrol negatif) yang diberikan
suspensi Na-CMC, kelompok II
(kontrol positif) yang diberikan
suspensi acarbose dan kelompok III, IV,
V yang diberi ekstrak biji pinang
masing-masing 2% b/v, 4% b/v, 8%
b/v. Grafik tersebut mengambarkan
kadar gula darah puasa dan setelah
diberikan perlakaun mencit rata-rata
berada dibawah nilai 100. Hasil statistic
ANOVA satu arah pada kadar glukosa
puasa sebelum perlakaun (T0) dan
setelah perlakuan (T30) diamati bahwa
kadar glukosa antara masing-masing
kelompok tidak berbeda bermakna (p >
0,01).
Setelah pemberian glukosa oral
sebesar 29.25% terlihat adanya variasi
kenaikan kadar gula darah pada masingmasing kelompok pada menit ke-30 dan
60 (Tg30 & Tg60). Kadar glukosa darah
kelompok kontrol negatif (suspensi Na7

CMC) mencapai rata-rata 307,6 mg/dL


dan 243,8 mg/dL, peningkatan ini di
karenakan pada setengah jam setelah
pemberian glukosa, sebagian besar
glukosa diserap dari saluran cerna dan
masuk ke dalam darah (Larasati, 2012 :
25). Sedangkan pada kelompok
pembanding kenaikan glukosa darah
mencapai rata-rata 205,4 mg/dL dan
173 mg/dL . Pada semua kelompok
bahan uji, kenaikan glukosa darah lebih
rendah dari kelompok kontrol negatif.
Ini menunjukkan bahwa ekstrak biji
pinang memiliki efek anti diabetes pada
setengah jam pemberian glukosa. Hal
ini sesuai dengan penelitian Amudhan
(2012:4153) yang menyatakan bahwa
ekstrak biji pinang memiliki efek
hipoglikemik.
Berdasarkan gambar 4.1, pada
satu setengah jam dan dua jam setelah
pemberian glukosa (Tg90 & Tg120)
kadar glukosa darah semua kelompok
perlakuan hampir mendekati sama.
Akan tetapi jika dibandingkan dengan
kelompok normal, kelompok masingmasing dosis masih lebih rendah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
semua kelompok masing-masing dosis
masih memiliki efek menurunkan kadar
glukosa darah.
Berdasarkan Uji ANOVA terdapat
perbedaan kenaikan kadar glukosa
darah pada kontrol negatif terhadap
masing-masing kelompok perlakuan,
maka dilakukanlah uji lanjutan Duncan.
Berdasarkan uji lanjutan ini, dapat
dilihat bahwa pada kelompok I
(Kelompok
Pembanding)
yang
diinduksi acarbose, kelompok ekstrak
2%, ekstrak 4% dan ekstrak 8% terletak
pada 1 subset yang sama yang berarti
tidak
terdapat
perbedaan
yang

bermakna atau kenaikan kadar gula


darahnya tidak terlalu berbeda jauh.
Sedangkan kelompok normal (diinduksi
Na-CMC) terdapat perbedaaan yang
nyata terhadap kelompok pembanding,
ekstrak 2%, ekstrak 4%, ekstrak 8%
atau kenaikan kadar gula darah sangat
besar karena terdapat pada satu sabset
lainnya.

Gambar 4.2 Perhitungan % penurunan


kadar glukosa darah pada Tg30 dan Tg60

Dari gambar 4.1 diplot diagram


sehingga terlihat histogram presentasi
penurunan kadar gula darah seperti
pada
gambar
4.2.
Perhitungan
efektivitas penurunan kadar glukosa
darah
dilakukan
dengan
membandingkan penurunan glukosa
darah antara kelompok dosis ekstrak
biji pinang 2%, 4% dan 8% dengan
kontrol pembanding. Efektifitas hanya
dilihat pada Tg30 dan Tg60 karena pada
waktu-waktu tersebut diamati terjadi
perbedaan kenaikan kadar glukosa
darah antar kelompok perlakuan. Hal ini
sesuai dengan penelitian Amudhan
(2012:4153) yang menyatakan bahwa
ekstrak biji pinang dapat menghambat
enzim Alfa-glukosidase pada menit ke

30 dan 60 setelah pemberian ekstrak


etanol biji pinang.
Berdasarkan gambar 4.2 hasil
perhitungan efektifitas menunjukkan
bahwa pada kelompok bahan uji
memiliki efektifitas yang berbeda-beda.
Pada menit ke-30 dan 60 setelah
pembebanan glukosa dosis ekstrak 4%
memiliki efektifitas yang paling tinggi
di
bandingkan
dengan
kontrol
pembanding dan dosis ekstrak lainnya.
Efektifitasnya mencapai 40.32% pada
setengah jam setelah pemberian glukosa
(Tg30) dan 31.01% pada satu jam setelah
pemberian glukosa (Tg60). Hal ini
sejalan dengan dengan penelitian
Amudhan
(2012:4153)
yang
menyatakan bahwa ekstrak biji pinang
dapat menghambat enzim Alfaglukosidase pada menit ke 30 dan 60.
Enzim alfa-glukosidase merupakan
enzim yang mengubah polisakarida
menjadi monosakarida. Penghambatan
ini terjadi dikarenakan senyawa alkaloid
yang terkandung dalam ekstrak biji
pinang, dimana alkaloid ini dapat
merintangi enzim alfa-glukosidase di
mukosa duodenum sehingga reaksi
penguraian
polisakarida
menjadi
monosakarida
terhambat.
Dengan
demikian glukosa dilepaskan lebih
lambat dan absorbsinya ke dalam darah
juga kurang cepat, lebih rendah dan
merata, sehingga puncak kadar gula
darah dihindari (Tjay dan Rahardja,
2007:754). Selain itu juga senyawa
yang terkandung dalam ekstrak biji
pinang yang menghambat penyerapan
glukosa dalam usus yaitu tannin.
Dimana menurut Monica (2006:6)
senyawa tannin memiliki kemampuan
sebagai
astringen,
yang
dapat
mengendapkan atau mepresipitasikan

protein selaput lender dipermukaan usus


halus dan membentuk suatu lapisan
yang melindungi usus, sehingga
menghambat absorpsi glukosa.
Berdasarkan gambar 4.2 pula,
maka dapat disimpulkan bahwa dosis
ekstrak 4% memiliki efek yang paling
bagus dalam menghambat penyerapan
glukosa dibandingkan dengan dosis
ekstrak lainnya. Peningkatan dosis
ekstrak tidak serta merta meningkatkan
efektivitasnya,
namun
dengan
meningkatnya dosis peningkatan respon
pada akhirnya akan menurun, karena
sudah tercapai dosis yang sudah tidak
dapat meningkatkan respon lagi. Hal ini
sering terjadi pada obat bahan alam,
karena komponen yang dikandungnya
terdiri dari berbagai macam senyawa
kimia
yang
saling bekerjasama
menimbulkan
efek.
Sehingga
peningkatan dosis memungkinkan
terjadinya interaksi yang merugikan dan
menyebabkan penurunan efektifitasnya
(Pasaribu, 2012:6).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan,
maka
dapat
diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Ekstrak biji pinang (Areca catechu
L.) dapat menurunkan kadar gula
darah pada mencit jantan yang
diberikan glukosa.
2. Ekstrak biji pinang (Areca catechu
L.) yang paling efektif terhadap
penurunan kadar gula darah mencit
jantan adalah 4% b/v dengan
presentase penurunan sebesar 40.31
%.

DAFTAR PUSTAKA
Amudhan MS., Begum VH., Hebbar
KB., 2012. A Review on
Phytochemical
and
Pharmacological Potential of
Areca catechu L Seed. Int J
Pharm Sci Res. 3(11); 4151-4157.
Anonim, 2013. Indonesia Gudangnya
Habitat Tanaman Obat Dunia.
http://nationalgeographic.co.id/be
rita/2013/09/indonesiagudangnya-habitat-tanaman-obatdunia. 3 April 2014 (19:26)
Ansel. H, 2008. Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi oleh Farida
Ibrahim 1989. Jakarta: UI Press.
Cahyono. SB, 2008. Gaya Hidup dan
Penyakit
Modern.
Kanisius:
Yokyakrta
Dewi, I.D.A.D.Y., Astuti, K.W.,
Warditiani, N.k., 2013. Skrining
Fitokimia Ekstrak Etanol 95%
Kulit Buah Manggis (Garcinia
mangostan L.). Jurnal. Fakultas
Matematika
Dan
Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas
Udayana, Bali.
Harianja. E., 2011. Uji Efek Ekstrak
Etanol Biji Tumbuhan Alpukat
(Persea americana Mill) Segar
Terhadap Penurunan Kadar Gula
Darah Pada Mencit Putih Jantan.
Skripsi.
Fakultas
Farmasi
Universitas Sumatera
Utara,
Medan.
Indrasari. DS, 2013. Hubungan antara
Diabetes Melitus dengan Penyakit
Periodental. Myn Your Dentist
Clinic. Jakarta
Kartika. L, 2008. Efek Hipoglikemik
Infusa Biji Pinang (Areca catechu
L) Pada Tikus Putih Jantan
Terbebani
Glukosa.
Skripsi.

Fakultas Farmasi Universitas


Sanata Dharma. Yogyakarta.
Larasati. PL, 2012. Efek Penurunan
Kadar Glukosa Darah Kombinasi
Ekstrak Etanol Daun Alpukat
(Persea Americana Mill) dan
Buah Oyong (Luffa acutangula
L.) Pada Mencit Jantan yang
Dibebani Glukosa. Universitas
Indonesia. Depok.
Malole, M. B. M. dan C. S. Pramono.
1989. Penggunaan Hewan-hewan
Percobaan
Laboratorium.
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Pusat Antar
Universitas Bioteknologi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Monica. F, 2006. Pengaruh Pemberian
Air Seduhan Serbuk Biji Alpukat
(Persea
Americana
Mill.)
Terhadap Kadar Glukosa Darah
Tikus Wistar Yang Diberi Beban
Glukosa. Universitas Diponegoro.
Semarang.
Novarianto.
H,
2012.
Prospek
Pengembangan Tanaman Pinang.
Balai Penelitian Tanaman Palma:
Manado
Pasaribu, F. 2012. Uji Ekstrak Etanol
Kulit Buah Manggis (Garicinia
mangostana
L.)
terhadap
Penurunan
Kadar
Glukosa
Darah. Journal of Pharmaceutics
dan Pharmacologi (1) : 1-8.
Sharon, N. Anam, S. Yuliet. 2013.
Formulasi Krim Antioksidan
Ekstrak Etanol Bawang Hutan
(Eleutherine palmifolia L. Merr).
Online
Jurnal
of
Natural
Science,Vol 2 (3) :111-122 ISSN:
2338-0950 Desember 2013.

10

Speicher. Smitd, J. 1996. Pemilihan Uji


Laboratorium yang Efektif. EGC.
Jakarta.
Tjay. HT., Rahardja. K., 2007. Obat
Obat Penting Edisi Ke-V. PT Elix
Media Komputindo: Jakarta
Utami, E.T., Fitrianti, R., Mahriani,
Fajariyah, S., 2009. Efek Kondisi
Hiperglikemik terhadap Struktur
Ovarium dan Siklus Estrus Mencit
(Mus musculus L). Jurnal ILMU
DASAR, Vol. 10 No. 2: 219-224.
Walujo. BE, 2011. Keanekaragaman
Hayati Untuk Pangan. Pusat
Penelitian Biologi Lembaga Ilmu
Zuhrotun.
A,
2007.
Aktivitas
Antidiabetes Ekstrak Etanol Biji
Buah Alpukat (Persea americana
Mill.)Bentuk
Bulat.
Skipsi.
Fakultas Farmasi Universitas
Padjadjaran. Jatinangor.

11

12